MENGENAL LEBIH DEKAT DAARUL HADITS DAMMAJ

       MENGENAL LEBIH DEKAT DAARUL HADITS DAMMAJ

Markiz Terbesar

Salafiyyun Di Dunia

 

PARA PENYUSUN

. Abu Turôb Saif bin Hadhor Al-Jâwî.

. Abu Fairûz ‘Abdurrohmân Al-Jâwî

.Abu Husain Muhammad Al- Jawi

. Abu Arqôm Muslih Zarqoni Al-Jâwî

. Abu ‘Abdillah Imâm Al-Hanafi Al-Balikpapanî.

. Abu Sholeh Dzakwan Al Medani

. Abu Abdillah Muhammad bin Umar Al-Medani

. Abu Abdirrohman Shiddiiq Al- Bugishi

. Abu Zakariyâ Irhâm bin Ahmad Al-Jâwî

. Abul ‘Abbâs Khodhir Al-Mulkî


Editor:

Fuad ibn Mukiyi

Tata Letak:

Aboo Ayyoob

Desain Cover:

Raya Agung grafika

Pencetak:

CV.Raya Agung Ngawi NKRI

Isi diluar tanggungjawab percetakan

Penerbit:

RA Media

Masjid Al-Furqon

Jl.Podang Beran Ngawi

PEDOMAN TRANSLITERASI

 

 

a   أ :    Kh  خ :   Z  ز :     Th  ط :     Q  ق :     W  و :

b  ب :  H  ح :   S    س :  Dh  ظ :      K  ك :   H  ه :

T  ت :  D  د :     Sy  ش :  ’A  ع :      L  ل :     A  ء :

Ts  ث :  Dz  ذ :   Sh  ص :  Gh  غ :   M  م :    Y  ي :

J  ج :    R  ر :     Dh  ض :   F  ف :     N  ن :

 

 

MUQODDIMAH

Nama Dârul Hadîts Dammâj sudah tidak asing lagi bagi salafiyyûn Indonesia merupakan markiz ahlus sunnah terbesar di dunia, markiz dambaan bagi setiap orang yang mencintai ‘ilmu dan ulamânya.

Para tholabul ‘ilmi dari berbagai belahan dunia berusaha menimba ‘ilmu di sana meneguk ‘ilmu di kalangan ‘ulamâ yang sejati untuk membersihkan kesyirikan-kesyirikan, bid’ah, khurofat dan hizbiyyah yang telah menghancurkan dakwah ahlus sunnah di sepanjang masa.

Dammâj harum namanya telah melahirkan puluhan ‘ulamâ kibar dan ribuan du’ât yang menyebar di pelosok dunia, di antara ‘ulamâ tersebut adalah :

Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafizhohulloh-.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhâb Al-Wushôbî. (sekarang telah munharif/menyimpang)[1]

Asy-Syaikh Al Walid Muhammad bin Muhammad Mâni’, -hafizhohulloh-

Asy-Syaikh Muhammad Al-Imâm -hafizhohulloh-.

Asy-Syaikh Abdul Azîz Al-Burô’î -hafizhohulloh-.

Asy-Syaikh Abdullôh bin ‘Utsmân Ad-Dammarî -hafizhohulloh-.

Asy-Syaikh Muhammad Ash-Shoumalî -hafizhohulloh-.

8.   Asy-Syaikh Ahmad ‘Utsmân Al-’Adanî -hafizhohulloh-

Pendiri ma’had terbesar ini adalah Imâm Jarh Wa Ta’dîl Al-’Allâmah Al-Wâlid Asy-Syaikh Muqbil bin Hâdî Al-Wâdi’î -rohimahulloh- seorang tokoh ‘ulamâ besar di dunia yang tidak asing lagi bagi para pembaca.

Beliau membangun da’wah dengan penuh ‘iffah tanpa yayasan dan tanpa minta sumbangan pada seorangpun, beliau tidak mengetahui berapa nilai mata uang real yaman (tentu saja beliau bisa membedakan 20 real dari 100 real. Hanya saja ini sekedar menggambarkan zuhud beliau -rohimahulloh-), tidak memiliki televisi, CD, radio, video. Bahkan rumahnya terbuat dari tanah.

Beliau terkenal waro’ dan zuhud dan penyayang, ketika orang sibuk mencari sumbangan kesana-kemari untuk membangun masjid, markiz dan sebagainya beliau terus mengarang kitab “Dzammul Mas’alah” (tercelanya meminta-minta). Sehingga Asy-Syaikh Robî’ bin Hâdî Al-Madkholî sangat kagum kepadanya.

Asy-Syaikh Muqbil rohimahulloh sering menunjuk Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî hafizhohulloh  mengisi khutbah jum’ah, menjadi imâm, mengutus beliau untuk da’wah di berbagai negara, menggantikan beliau ketika tidak bisa mengajar, bahkan ketika para tamu meminta fatwa kepada Asy-Syaikh Muqbil maka beliau mengarahkan kepada Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî.

Ini jelas bukan pelimpahan mandat yang sepele karena ini permasalahan yang berkaitan dengan umat, namun beliau menyerahkan ini semua kepada Asy-Syaikh Yahyâ. Ini menunjukkan betapa kuatnya keilmuan beliau.

Bahkan Asy-Syaikh Muqbil menyatakan bahwa orang yang paling ‘âlim di Yaman adalah Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî. Sebagaimana perkataan Al- Akh ‘Abdullôh Mâthir: “Dan sungguh saya pernah bertanya kepada Asy-Syaikh Muqbil dan kami demi Allôh Y tidak ada antara saya dan beliau kecuali Allôh Y dan kami berada di kamar beliau di atas tempat tidur beliau yang beliau tidur di atasnya, kemudian kami katakan kepada beliau, ‘Wahai Syaikh kepada siapa ikhwah ahlus sunnah di Yaman mengembalikan urusan-urusan mereka? dan siapakah orang yang paling berilmu di Yaman?’ maka Syaikh Muqbil terdiam sebentar dan berkata : ‘Syaikh Yahya’.”

Ketika Asy-Syaikh Muqbil menyadari bahwa beliau tidak akan bisa hidup lama lagi di dunia yang fana ini maka beliau serahkan markiz terbesar di dunia tersebut kepada anak didiknya yang tercinta, yaitu Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî, seraya beliau memberikan wasiat, “Dan saya wasiatkan kepada mereka (penduduk dammâj) agar bersikap baik kepada Asy-Syaikh Yahyâ dan jangan sampai ridho dengan diturunkannya beliau dari kursinya, karena beliau adalah An-Nâshihul Amîn (penasehat yang terpercaya).”

Bahkan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhâb Al-Wushôbî yang juga punya dakwah besar saat itu juga menyadari bahwa markiz terbesar itu tidak ada yang paling pantas untuk memegangnya kecuali Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî. Sebagaimana perkataan beliau, “Demi Allôh bahwasanya termasuk anugerah dari Allôh Y kepada diriku bahwasanya Asy-Syaikh Muqbil tidak mewasiatkan markiz Dammaj kepadaku. Kalau seandainya beliau mewasiatkan itu kepadaku maka sungguh saya berada di antara dua gunung yang besar yaitu yang pertama adalah wasiat Asy-Syaikh Muqbil dan yang kedua bahwasanya diriku tidak pantas untuk menempati tempat itu (Dammâj) dan sesungguhnya  itu tidak pantas kecuali kepada Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî, dia adalah orang yang ahli dan pantas untuk mendudukinya.”

Asy-Syaikh Muqbil juga mengatakan bahwa Asy- Syaikh Yahyâ adalah orang yang mustafîed dalam berbagai cabang ‘ilmu dan kuat dalam aqîdah sebagaimana perkataan beliau: “Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî Mustafîd di berbagai cabang ‘ilmu dan aku telah mendengar dars-darsnya yang menunjukkan bahwa beliau telah benar-benar mendapatkan faedah dan beliau kuat dalam bidang tauhîd.”

Asy-Syaikh Robî’ sebagai Imam Jarh Wa Ta’dîl juga menyanjung Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî seraya mengatakan: “Asy-Syaikh Yahyâ -hafidhohullôhu ta’âla- akan pantas menjadi imâm di alam ini dengan izin Allôh ta’âla.”

Asy-Syaikh Abûn Nashr Muhammad bin ‘Abdullôh Al-Imâm beliau termasuk kibâr ‘ulamâ Yaman mengatakan bahwa; “Tidaklah mencela Asy-Syaikh Al-‘Allâmah Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî kecuali orang bodoh atau ahlul ahwa (Ahlul Bid’ah)”.

Asy-Syaikh Muqbil sangat yakin bahwa Asy-Syaikh Yahyâ mampu memegang markiz Dammâj yang agung ini.

Berbagai ujianpun datang, fitnah demi fitnah mulai bermunculan, mulai dari makar orang-orang Libia yang berusaha menjatuhkan Asy-Syaikh Yahyâ, disusul dengan makar Abul Hasan Al-Mishrî, disusul lagi dengan makar Shôlih Al-Bakrî, makar Abû Mâlik Ar- Riyâsyî, dan makar Al-Mar’iyain. Namun subhanallôh, Allôh Y membantu perjuangan beliau dengan memberikan pertolongan yang luar biasa sebagaimana firman Allôh Y  :

ô‰s)s9ur ôMs)t7y™ $oYçGuHÍ>x. $tRϊ$t7ÏèÏ9 tûüÎ=y™ößJø9$# ÇÊÐÊÈ öNåk¨XÎ) ãNßgs9 tbrâ‘qÝÁYyJø9$# ÇÊÐËÈ   ¨bÎ)ur $tRy‰Zã_ ãNßgs9 tbqç7Î=»tóø9$# ÇÊÐÌÈ

“Dan sesungguhnya telah tetap janji kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rosul, (yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang.”

{ QS. Ash-Shoffât:171-173 }

Allôh Y berfirman :

$¯RÎ) çŽÝÇZoYs9 $oYn=ߙ①šúïÏ%©!$#ur (#qãZtB#uä ’Îû Ío4quŠptø:$# $u‹÷R‘‰9$# tPöqtƒur ãPqà)tƒ ߉»ygô©F{$# ÇÎÊÈ

“Sesungguhnya Kami menolong rosul-rosul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat),” { QS. Ghôfir:51 }

Asy-Syaikh Muqbil bin Hâdî selaku guru Asy- Syaikh Yahyâ juga mendapatkan ujian dan tuduhan yang luar biasa besarnya, karena beliau memegang dakwah ahlus sunnah di Yaman, beliau dikatakan:

` Sebagai orang yang mutasyaddid (yang sangat keras)

` Tidak tahu fiqhul wâqi’ (kenyataan yang terjadi)

` Hanya memiliki ‘ilmu mustholah dan nahwu

` Mengkafirkan kaum muslimîn

` Tidak mencetak ‘ulamâ sampai syaikhpun dituduh mengharomkan permasalahan yang sepele, seperti mengharomkan sendok dan pisang.

` Semua ini jelas kedustaan yang diada-adakan dan tidak ada realitanya sama sekali.

` Oleh karena itulah tak heran Asy-Syaikh Yahyâ pun juga mendapatkan caci-makian dan tuduhan yang sangat hebat, di antaranya:

` Beliau mencerca para ‘ulamâ.

` Tidak tahu manhaj dan aqîdah.

` Keras kepala.

` Jelek akhlaknya.

` Tidak bisa bahasa ‘arob.

` Tajam lisannya.

` Tidak menjaga kehormatan seseorang, dsb.

Dan di antara makar yang paling dahsyat dalam meruntuhkan markiz Dammâj adalah makar ‘Abdullôh dan ‘Abdurrohmân Al-Mar’iyain, bukti makar tersebut adalah sebagai berikut:

MAKAR ‘ABDURROHMÂN AL ‘ADNÎ:

Telah berkata Amîn Misybah dalam risâlah yang dikirim oleh sebagian ikhwah dan Sa’îd bin Da’âs juga telah membacanya (berisi ucapan ‘Abdurrohmân Al-’Adnî) : “Jangan kamu memberikan salam kepada Asy-Syaikh Yahyâ, karena kamu akan mendapatkan dosa.”

Ketika Kholîl At-Ta’izî memberikan muhâdhoroh (selaku utusan dari Dammâj), ‘Abdurrohmân mengarahkan para hadirin yang ada di masjid untuk keluar dari masjid, maka tidak ada yang tersisa kecuali hanya sedikit.

Meninggalkan pelajaran yang harus diikuti oleh semua santri dengan cara membuat majelis-majelis di luar masjid.

Membikin renggangnya hubungan beliau (Asy-Syaikh Yahyâ) dengan para Masyâyikh seperti, Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jâbirî, Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb Al-Wushôbî, dll. Padahal Asy-Syaikh ‘Ubaid juga telah hadir di Dammâj dan mengisi muhâdhoroh, adapun Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb selalu singgah di Dammâj minimal dua kali dalam setahun,

Mentahdzîr ikhwân yang belajar bersama Akhunal Mustafid Kamâl Al- ‘Adanî, karena dia sangat dekat dengan Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî.

Memperbanyak muhâdhoroh di beberapa tempat padahal ketika di Dammâj ‘Abdurrohmân sering absen ketika mengajarkan kitab “Ad-Darorî” dan “‘Umdatul Ahkâm Kubro”.

Berusaha untuk mengambil masjid-masjid ahlus sunnah yang memiliki hubungan baik dengan Dammâj.

Melarang Asy-Syaikh Ahmad ‘Utsmân Al-’Adanî hafizhohulloh untuk memberikan muhâdhoroh di beberapa tempat, padahal beliau adalah Asy-Syaikh yang dituakan di kota ‘Adn.

Menghasung para pelajar di Markiz Dammaj untuk keluar dan pindah dari Dammaj, dan membeli kapling di ma’had ‘Abdurrohmân Al-’Adanî yang sama sekali belum jadi, dan mendaftar nama-nama mereka, dan menjadikan mereka harus terburu-buru mengambil keputusan karena masa pendaftaran hanya berlangsung empat hari saja. Padahal Abdurrohman masih di Dammâj, dan bangunan ma’had di Fuyusy-Lahj-’Adn belumlah jadi, dan tanpa sama sekali meminta musyawaroh kepada Syaikhud Dar Syaikh Yahya -hafizhohulloh-. Hal ini jelas tidak punya adab kepada Syaikhud Dar, menyelisihi  adab membangun ma’had yang telah berlangsung di kalangan ulama Yaman, dan merupakan tasyabbuh (peniruan) terhadap siasat jahat Sholih Al Bakry[2] untuk merusak Darul Hadits Dammaj (sebagaimana ucapan Syaikh Muhammad Al Imam hafizhohulloh). Dan banyak alamat yang menunjukkan adanya makar untuk meruntuh markiz induk Darul Hadits Dammaj. Dan seluruh masyâyikh di Yaman menyatakan bahwa ‘Abdurrohmân Al-’Adanî bersalah dan mengharuskan untuk menulis pernyataan kesalahannya namun sampai sekarang belum juga menulis.

Menyatakan bahwa Asy-Syaikh Yahyâ pembangkang, sombong, dan munâfiq.

Menyatakan bahwa Asy-Syaikh Yahyâ pembikin makar.

Menyatakan bahwa Asy-Syaikh Yahyâ dungu.

Menyatakan bahwa Asy-Syaikh Yahyâ ghuluw.

Berusaha mendo’akan Asy-Syaikh Yahyâ demi kehancurannya.

Merendahkan usaha-usaha yang dilakukan oleh Asy-Syaikh Yahyâ, dsb.

MAKAR ‘ABDULLÔH Al-MAR’Î:

Berikut ini bagaimana ucapan ‘Abdullôh Al-Mar’î kepada Asy-Syaikh Yahyâ Al-Hajûrî sebelum meledaknya fitnah:

` Asy-Syaikh Yahyâ gila.

` Tidak mengetahui apa yang keluar dari otaknya.

` Tidak memiliki adab.

` Dakwah akan rusak karena ulah Asy-Syaikh Yahyâ.

` Dia tidak menganggap keilmuan dan fatwanya, dsb.

MAKAR SÂLIM BÂ MUHRIZ:

Demikian pula makar Sâlim Bâ Muhriz tidak kalah hebatnya dia mengatakan:

Kita telah selesai dari fitnah Abul Hasan Al-Mishrî giliran berikutnya adalah Al-Hajûrî. (Ini diucapkan pada tahun 1423 H, tiga tahun sebelum fitnah Ibnu Mar’i) Asy-Syaikh Yahyâ dalam penyampaian nasehat menempuh jalan yang tidak diridhoi bahkan itu jalan yang ditempuh oleh Al-Hasanî (Abul Hasan Al-Mishrî)

Yahyâ tidak ahli dalam jarh. [3]

MAKAR LUQMÂN BÂ’ABDUH:

Dan dia ini adalah gembong terbesar orang Indonesia untuk menghancurkan Dammâj dan syaikhnya dengan alasan pembelaan kepada masyâyyikh ahlus sunnah dan mengembalikan Dammâj sebagaimana di zaman Asy-Syaikh Muqbil bin Hâdî Al-Wad’î -rohimahullôhu ta’âla-:

` Melarang ikhwan-ikhwan Indonesia untuk belajar ke Dammâj.

` Menyatakan bahwa setiap alumni Dammâj pada asalnya ditahdzir sampai ada rekomendasi dari asâtidzah atau menunjukkan kebaikan-kebaikannya.

` Menghina Asy-Syaikh Yahyâ dengan kata-kata “ente” padahal kata-kata ini tidak ada di bahasa ‘arob, namun adanya di bahasa kampungan.

` Menyatakan bahwa Asy-Syaikh Yahyâ menjarh tanpa bukti.

` Menyatakan bahwa Asy-Syaikh Yahyâ menghina Rosulullôh dan para shohâbat.

` Menyatakan bahwa Asy-Syaikh Yahyâ mirip dengan Mahmûd Al-Haddâd (fitnah Al-Haddâdiyah) sebagaimana tuduhan Abul Hasan Al-Mishrî terhadap Asy-Syaikh Yahyâ.

` Mengatakan bahwa Asy-Syaikh Yahyâ rusak aqîdahnya.

` Mengatakan (sesuai dengan berita palsu) bahwa Asy-Syaikh Yahya menuduh qodhi Ba Waih luthi (homo), dan Asy-Syaikh Yahya harus dicambuk delapan puluh kali, dan mendapatkan predikat “Kadzdzab” dan “Fasiq”.

` Menghina para masyayikh markiz Dammaj -hafizhohumulloh-

` Semua masalah ini ada saksi dan ada CD rekamannya, telah sampai kepada kami di Dammaj.

` Akan tetapi semua tuduhan Luqmân Bâ’abduh ini sudah dijawab oleh masyâyikh ahlus sunnah di Yaman.

` Fatwa Salah satu ‘ulamâ Yaman Asy-Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Mâni’ dan di antara yang dituakan di kota Shon’â mengatakan :

“Sebagai akhir kata aku ingin mempertegas terhadap suatu perkara yang penting bahwasanya Luqmân ini tidak dapat membedakan antara kritikan yang syar’î dan penjelasan kesalahan, antara celaan dengan kebohongan dan kedustaan, yang demikian itu menunjukkan bahwa dia (Luqmân) bodoh terhadap sunnah dan manhaj salaf. Dan aku ulangi kembali nasehat untuk saudara-saudara kami ahlus sunnah di Indonesia untuk menjauhi siapa yang diketahui seperti orang ini (Luqmân) karena dia bukan orang yang ahli untuk diambil ‘ilmunya, wallôhul musta’ân.

` Asy-Syaikh Muhammad bin Hizâm Al-Ibbî, beliau menyatakan :

“Dan sungguh dia (Luqmân Bâ’abduh) telah banyak mentahdzir Asy-Syaikh kami An-Nâshihul Amîn, meremehkannya dan meremehkan Markiz Dârul Hadîts Dammâj semoga Allôh Y menjaganya dan dia menyebutkan beberapa perkara dusta yang sama sekali tidak ada dasarnya dari kebenaran, maka dengan itu aku mengetahui bahwa orang ini terfitnah dan hatinya berpenyakit.”

` Fatwa Fadhilatusy Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî tentang Luqmân bahwa:

Luqmân Bâ’abduh adalah Hizbî, dan di termasuk dari pengikut hizby baru yang paling jelek.

Jangan sampai Luqmân memecah belah kalian, saya menganggap bahwa kalian (murid-murid Indonesia yang ada di Dammâj) demi Allôh Y di antara kalian lebih berilmu (lebih ‘âlim) dari pada Luqmân

Saya betul-betul jengkel terhadap Luqmân dan orang-orang yang semisal Luqmân yang telah menelantarkan para thullab dari mencari ‘ilmu (belajar Agama di Dammâj) dan menjauhkan mereka dari As-Sunnah.

` Fatwa Asy-Syaikh Abû ‘Amr Al-Hajûrî :

“Luqmân adalah hizbî.”

` Fatwa Asy-Syaikh ‘Abdullôh Al-‘Iryânî :

“Luqmân adalah hizbî.”

6. Fatwa Asy-Syaikh Jamil As-Shulwi : Tidak sepantasnya belajar kepada orang yang menjelekkan Darul Hadits Dammaj seperti orang  ini.

MAKAR ORANG-ORANG MAJHÛL (tidak jelas identitasnya):

Menurut kesepakatan para ‘ulamâ ahlul hadîts bahwa berita-berita yang datang dari orang majhûl tidak bisa diterima kecuali majhûlnya para shohâbat, karena mereka (para shohâbat) adalah orang-orang yang ‘udûl (bisa dipercaya). Allôh Y berfirman :

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä bÎ) óOä.uä!%y` 7,ř$sù :*t6t^Î/ (#þqãY¨t6tGsù ÇÏÈ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fâsik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti.”

{ QS. Al-Hujurôt: 6 }

Namun Luqmân CS lebih percaya ucapan orang majhûl dari pada ucapan Masyâyikh Ahlus Sunnah di Yaman, di antara orang-orang majhûl tersebut:

Al-Barmakî (siapa dia, dari mana asalnya)? Tak seorang pun yang mengetahuinya

‘Abdullôh bin Robî’ As-Salafî (orang mengira bahwa itu putra Imâm Jarh wa Ta’dîl Asy-Syaikh Robî’ bin Hâdî Al-Madkholî, padahal kita tidak tahu apakah dia itu ikhwânî, shûfî, atau syî’î)

‘Abdullôh bin Mubârok (orang mengira bahwa itu Imâm yang terdahulu yang sudah meninggal beratus tahun lamanya)

‘Ammâr As-Salafî (siapa dia, dari mana asalnya? Berapa banyak salafiyyîn yang bernama ‘Ammâr) dsb. [4]

Orang Indonesia pun mulai menggunakan nama majhûl seperti ini :

Abu ‘Umar bin Abdul Hamîd, penulis “nasehat dan teguran guru yang arif dan bijak.” (kita tidak tahu apakah dia itu shûfî, syî’î, atau hizbî, sehingga seluruh beritanya tertolak akan tetapi kami sudah mengetahui dari internet bahwa ini adalah tulisan Luqmân Bâ’abduh)

Abu Mahfûdz ‘Alî bin ‘Imrôn bin ‘Alî Adam Al- Indonisî (kami yang berada di Dammâj tidak mengetahui siapa dia, padahal dia mengaku belajar di Yaman tapi yaman yang mana?)

‘Abdul Ghofûr Malang, siapa dia? Yang namanya Abdul Ghofur di Malang juga sangat banyak.

Wahai orang-orang majhûl kalau kalian ini memang betul-betul lelaki tunjukkan kejantananmu, tunjukkan identitasmu!!!

Kalian sudah belajar ‘ilmu mustholahul hadîts apa belum? kalau sudah dimana letak keilmuan kalian? Atau apakah syaithôn telah menguasai diri kalian! Allôhul musta’ân.

Perlu antum ketahui wahai saudaraku seiman, semoga Allôh memberi taufîq dan hidâyahnya kepada kita semua, bahwasanya ahlul bid’ah betul-betul berusaha untuk memecah-belah Dârul Hadîts Dammâj, karena Dammâj merupakan markiz terbesar bagi Dakwah Ahlus Sunnah di Dunia, dan mereka senantiasa tidak tenang, mereka terus berusaha untuk menimbulkan fitnah.

Bukankah kalian telah melihat bagaimana usaha mereka untuk menguasai Jamî’ah Islâmiyah Madînah yang dulu dirintis oleh Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Azîz bin Bâz murni sebagai dakwah ahlus sunnah wal jama’ah setelah mereka melihat bahwa tauhîd dan sunnah berkembang di Madînah, maka orang hizbiyyûn dari para pengikut Hasan Al-Banna, Sayyid Quthb dsb. berusaha untuk menguasainya, dan kalian lihat kenyataan bagaimana Jamî’ah Islâmiyah Madînah sekarang dikuasai orang-orang hizbiyyûn. Walaupun Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jâbirî menyatakan bahwa Jamî’ah dari dulu sampai sekarang dikuasai ahlus sunnah, tapi ini jelas tertolak karena Asy-Syaikh Robî’ bin Hâdî Al-Madkholî, Asy-Syaikh Muhammad bin Hâdî Al-Madkholî, Asy-Syaikh Muhammad Al-Imâm, Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al- Hajûrî dsb. menyatakan bahwa Jamî’ah Islâmiyah Madînah sekarang dikuasai oleh hizbiyyûn.

Demi Allôh para hizbiyyûn tidak akan tenang ketika melihat Dârul Hadîts di Dammâj, kalau bisa mereka berusaha untuk menguasainya, sungguh mereka akan segera menguasainya sampai Dammâj itu bisa tersia-sia. Bahkan beberapa masyayikhpun telah berfirasat akan datangnya gelombang makar terhadap Markiz induk Dammaj.

(baca Risalah “Fitnah Abdurrohman Al ‘Adani wal Ayadil ‘Amilah minal Khorij.”/Mu’afa bin Ali Al Mighlafi -hafizhohulloh-/5-6)

Tetapi alhamdulillâh setiap ada orang yang berusaha menghancurkan Dammâj Allôh selalu melindunginya, dan mereka akan rugi sendiri.

Demikian pula kita dapatkan bahwa mereka berusaha untuk menimbulkan kedustaan-kedustaan, pemutarbalikan fakta dan menghalangi manusia untuk belajar di Dârul Hadîts Dammâj seperti yang dilakukan oleh Luqmân Bâ’abduh CS.

Telah berkata Ibnul Qoyyim dalam sebuah kitâbnya “Madârij As-Sâlikîn” 2/464 : “Dan tidak ada yang merintangi dari ‘ilmu kecuali mereka adalah para penyamun, wakil-wakil iblîs dan tentaranya.”

Imâm Jarh Wa Ta’dîl Robî’ bin Hâdî Al-Madkhôlî ketika ditanya :

“Di Madînah ada ikhwah dari Al Jazâir, ketika telah datang seorang dari Al Jazâir lainnya yang berusaha untuk melanjutkan ke Dammâj untuk mencari ‘ilmu, lalu mereka berusaha menahannya sampai dia tertahan, dan di sana juga ada ikhwah mereka yang tinggal di Su’ûdy dua tahun lamanya, maka kami minta nasehat untuk mereka yang menjadi penghalang jalan menuju kebaikan, maka Asy-Syaikh Robî’ memberikan jawaban: “Mereka itu sebagaimana ucapan penanya adalah para penyamun, kenapa mentahdzir belajar ke Dammâj tempat yang di sana diajarkan semua ‘ilmu, demi Allôh tidak ada yang mentahdzîr Dammâj kecuali seorang yang merintangi dari jalan Allôh.” (berita dari Abul ‘Abbâs Asy-Syihrî, Abu ‘Abdillâh Al-Baidhônî, Abu ‘Alî ‘Abdullôh Al-Lîbî)

Buku yang ringkas ini sebagai penjelas bagi orang-orang yang menginginkan Al-Haq dengan mencantumkan fatwa ‘ulamâ yang berkaitan dengan fitnah yang ada di Yaman , dan ini adalah cuplikan dari tulisan-tulisan para penuntut ilmu di Damaaj .

Mereka itu adalah:

Abu Turôb Saif bin Hadhor Al-Jâwî.

Abu Fairûz ‘Abdurrohmân Al-Jâwî

Abu Arqôm Muslih Zarqoni Al-Jâwî.

Abu Sholeh Dzakwan Al Medani.

Abu ‘Abdillah Imâm Al-Hanafi Al-Balikpapan

Abu Abdurrahman Shiddieq Al- Bugisi.

Abu Zakariyâ Irhâm bin Ahmad Al-Jâwî

Abul ‘Abbâs Khodhir Al-Mulkî

Dan lainnya yang tidak kami sebutkan namanya satu persatu jazahumulloh khoiron atas uluran tangannya. Mudah-mudahan ringkasan ini bisa memberikan manfaat di dunia dan di akhirat

BAB 1

Sekilas pandang Seputar Dârul Hadîts Dammâj

Penulis :

Abu Turob Saif bin Hadhor Al–Jawi dan dibantu oleh ikhwah yang lain.

SEJARAH RINGKAS.

Dârul Hadîts Dammâj bermula dari dakwah Asy-Syaikh Muqbil bin Hâdî Al-Wâdi’î رحمه الله  sepulang beliau dari menuntut ‘ilmu di negeri Saudi ‘Arabia kurang lebih pada tahun 1400 H, dimulai dengan bangunan masjid terbuat dari tanah yang dibangun oleh karib kerabatnya, untuk mengajari anak-anak Dammaj Al-Qur`an kemudian datanglah penuntut ilmu dari berbagai penjuru Yaman dan juga dari Mesir, akhirnya masjid yang telah ada diperluas. Kemudian dibangunlah masjid baru yang lebih luas tak seberapa jauh dari masjid semula. Dan pada tahun 1419 H dibangunlah masjid yang jauh lebih besar dan pada tahun 1426 H kembali diperluas sampai seperti yang telah terlihat sekarang, setelah melewati pahit getirnya cobaan, gundah gulananya kehidupan dan banyaknya rintangan dan ganjalan.

Beliau -rohimahulloh- mengatakan : Aku tidak pernah bermaksud menjadikan Dammaj sebagai pusat da`wah salafiyah di Yaman, akan tetapi itu semua adalah perkara yang telah Alloh kehendaki, bukan dengan sebab banyaknya ilmuku, bukan pula karena kekuatanku, bukan pula karena keberanianku dalam da`wah, dan bukan pula kehebatanku dalam berpidato, dan bukan pula karena kemapananku dalam berda`wah akan tetapi sesuatu yang telah menjadi ketetapan Alloh ta`ala, dan dalam bab perkataan Alloh  ta`aalaa:

+وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى _ [الأنفال/\\17]

Dan juga tujuan utamaku berada di Dammaj adalah sebagai tempat persembunyianku, akan tetapi kita menghendaki sesuatu sementara Alloh menghendaki yang lain.

(Sumber : “At-Tarjamah”, “Ghoorot Al- Asyritoh” , “Al-Bayaan Al-Hasan Rôhalat Da’wah Asy-Syaikh Muqbil”,)

LETAK GEOGRAFIS DAN KONDISI ALAM DAMMAJ

Dârul Hadîts Dammâj terletak di Dammâj, sebelah barat  provinsi Sho’dah  Republik Yaman. Alamat post: Der El Hadets Dammâj,PO.BOX90070Sa’ada Republic of Yemen.

Dikelilingi oleh bukit berbatu yang kokoh di bawah gunung Barosh. Tanahnya bercampur dengan pasir sehingga tidak semua tumbuhan bisa tumbuh dengan subur. Yang ada adalah pohon anggur, delima, bidara, jeruk dll . Adapun cocok tanam para petani Dammaj adalah tergantung musimnya. Kalau musim dingin, mereka menanami sawah mereka dengan tanaman gandum dan yang sejenisnya. Bila musim panas atau

semi, mereka menunggu buah anggur dan delima.

Ada dua musim di Dammaj:

Musim Panas: agak seimbang dengan musim panas di Indonesia, atau lebih sedikit; tapi memungkinkan untuk orang-orang Indonesia, sehingga merekapun mampu tinggal di musim panas karena panasnya tidak begitu jauh pautannya, hanyasaja pada saat saat tertentu panas sangat menyengat, tapi keadaan itu wal hamdu lillah, tidak berlamaan atau berterusan.

Musim Dingin: demikian juga musim dingin ini berlangsung sekitar 3 bulan, dinginnya juga tidak terlalu, walaupun pada saat-saat tertentu cuaca bisa di bawah nol derajat, ketika itu  – mereka menamai saat saat itu dengan bardul ‘ajuuz  dingin sangat menusuk dan menyengat.

Banyak buah-buahan yang ada di Dammaj, yang mendominasi di Dammaj adalah buah anggur, delima, apel, tin dan lain-lainnya. Adapun tamr (kurma) juga banyak, akan tetapi didatangkan dari Hadhrmaut, Saudi ‘Arabia dan lain-lainnya.

Adapun binatang yang ada, diantara beberapa jenisnya  sebagaimana yang ada banyak di negeri kita , dan ada beberapa yang tidak ada di Indonesia secara bebas seperti onta tapi sekarang sudah agak punah, himar (keledai), dhob`u (sejenis anjing hutan), dhobb (semacam biyawak kerdil).

Karena keadaan hujan yang jarang turun, mereka biasa mengambil air dengan memakai pompa untuk menyedot air yang ada di bawah tanah yang agak dalam mencapai 300-500 meterdi bawah tanah, selanjutnya air tersebut digunakan untuk kebutuhan manusia-hewan serta digunakan untuk pengairan kebun. Dan Alloh telah memberi kemudahan dalam mendapatkan air tersebut  sehingga Dammaj seakan-akan terdapat danau yang tidak pernah kekeringan dan kekurangan air. الحمد لله رب العالمين

Sungguh kebesaran Alloh sangat kita rasakan ketika melihat perbandingan yang sangat jauh antara keadaan negeri  kita dengan negeri Yaman secara umum dan terlebih di Dammaj. Sungguh lisan ini tidak henti-hentinya mengucapkan tasbih dan syukur atas keagungan-Nya, bagaimana tidak? Daerah Dammaj ini, yang jarang sekali disirami air hujan (terjadi kurang lebih 3-5 kali dalam setiap tahun, dan paling seringnya dalam setiap kalinya 2-3 hari), tidak memiliki hasil bumi yang memadai. Jauhnya dari jangkauan kemajuan (terpencil) namun beribu manusia berlomba untuk bisa sampai dan meneguk airnya.Adaapa gerangan di Dammaj???

Tak ada jawaban kecuali fadhilah Alloh yang Dia curahkan di desa ini atas barokah dan karunia Alloh kepada salah seorang hamba-Nya yang Dia cintai berupa ilmu dien yang memadai yaitu Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi`i رحمه الله .

+ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ_[المائدة/54]

Begitu pula kita tidak bisa habis berfikir dari mana mereka memperoleh perbekalan hidup dalam kondisi tidak adanya kesibukan duniawi yang berarti?? Jawabannya adalah firman Alloh:

+ مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُون _ [النحل/97]

“ Barang siapa beramal sholih baik dari laki-laki atua perempuan dan dia beriman, niscaya Kami akan hidupkan dia dengan kehidupan yang baik  dan pasti akan Kami balas dengan pahala dengan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan”.( QS An Nahl:97)

Ketaatanlah yang menjadikan kondisi di Dammaj sebagai tempat idaman setiap orang yang menginginkan ketenangan jiwa di atas kebenaran.

` Kalau kita lihat pada musim dingin di mana pepohonan mengering. Kalau seandainya itu di negeri kita Indonesia tentu telah di tebangi untuk dijadikan  kayu bakar yang tidak bernilai, tetapi di Dammaj begitu musim berganti, kayu yang telah kering kerontang itu tiba-tiba berdaun kembali dan menghijau seakan-akan rohnya kembali dan hidup setelah mati. Maha Benar Alloh dengan firman-Nya:

+ وَاللَّهُ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ_ [النحل/65]

“ Dan Alloh menurunkan hujan dari langit, maka Dia hidupkan dengar air hujan tersebut bumi setelah matinya (gersang), sungguh didalam perkara sebagai bukti yang nyata bagi orang-orang yang mendengar”.

` Sepeninggal Asy-Syaikh Muqbil bin Hâdî pada hari Ahad tanggal 1 Jumadil Ûla 1422 H dirumah sakit King Faishol Saudi ‘Arabia, maka berdasarkan wasiat terakhir beliau yang menggantikan beliau sebagai pengasuh ma’had adalah Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Hafidhohullôh.

METODE BELAJAR MENGAJAR DI DÂRUL HADÎTS DAMMÂJ SERTA SARANA DAN PRASARANANYA

` Dârul Hadîts Dammâj dibangun di atas kesederhanaan yang sangat sederhana, tidak membutuhkan kursi, meja, bangku, ataupun ruang kelas, di manapun ada tempat kosong dan bersih serta layak untuk duduk, baik itu di masjid atau di bawah pohon atau di wadi (lembah yang berpasir sebagai tempat mengalir air bah di musim hujan) atau di manapun tempatnya bisa belajar, mereka belajar di situ dengan riang hati.

` Akan tetapi aktifitas yang paling dominan adalah di masjid karena itulah metode salaf yang berbarokah, Syaikh Yahya sering menekankan kepada Ahlussunnah untuk kembali ke asal mereka dalam kegiatan mereka yakni ke masjid karena Rosululloh r  mengajar shohabat di masjid, memutuskan problematika mereka di masjid, bermusyawarah di masjid, bahkan menyiapkan pasukan perang pun di masjid, dan metode pengajaran di masjid ini merupakan ciri khas ahlussunnah di Yaman, yang mulai digerogoti oleh hizby baru ini, dimana telah tercium niat busuk  mereka dengan menggoyang fitnah ini dalam rangka mendirikan cabang Jami`ah Islamiyah, padahal kata Syaikh Yahya bahwa para Ulama ketika terbukanya pendidikan model Jami`ah (Universitas) dan muslimin meninggalkan masjid mereka menangis sedih karena barokah akan tercabut dengan meninggalkan asal usul mereka.

Bahkan dikisahkan di majelis umum Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh-  bahwasanya seorang ulama Yaman yang terkenal Al Baihany -rohimahulloh- pernah ditanya: “Di manakah Anda belajar?” Maka beliau berkata: “Aku adalah keluaran dari Al Jami’ (masjid jami’) dan bukan keluaran dari Al Jami’ah (bangku perkuliahan). Ada perbedaan antara mudzakkar dan mu’annats”

` Maksud beliau adalah bahwasanya Al Jami’ itu secara bahasa Arob adalah mudzakkar (digunakan untuk jantan). Adapun Al Jami’ah itu adalah mu’annats (digunakan untuk betina). Dan makna yang beliau inginkan itu jelas. Dan ucapan beliau itu jelas dan benar, meskipun beliau itu agak terpengaruh oleh dakwah Ikhwanul Muslimin. Dan beliau hidup sebelum dimulainya dakwah Imam Al Wadi’i -rohimahulloh- dan belum banyak orang yang memahami kebatilan IM.

` Kembali ke pembicaraan semula: Mereka tidak pula membutuhkan kapur tulis atau papan tulis kecuali pada pelajaran faroidh (warisan) atau bagi pemula sewaktu belajar membaca dan menulis.

` Menuntut ‘ilmu di Dârul Hadîts Dammâj sama sekali tidak dipungut biaya, baik biaya pendaftaran, biaya makan, biaya pendidikan, biaya pemondokan dan segala jenis pungutan lainnya.

Karena model pemungutan di atas sering tersalahgunakan bahkan seringnya dalam rangka bisnis, padahal mengajarkan kebaikan dien hendaknya mencontoh para pembawa syari`ah yang bersih seperti para nabi, Alloh ta`ala memberitahu kita  ucapan para nabi ketika mereka menyeru ummat kepada kebenaran dan kebaikan, dengan firmannya ;

+ وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِين_ [الشعراء/109]

“Dan tidaklah aku meminta kalian upah atas da`wah ini sedikitpun, tidaklah ganjaranku kecuali atas Robb semesta alam.”

` Dârul Hadîts Dammâj tidak mengenal sistem masa pendaftaran, kapan saja santri datang maka Insya Allôh akan diterima, tetapi dengan syarat dia itu sunni, rajin dan beradab, hal ini dikarenakan pelajaran terus berlangsung secara kontinyu secara berulang-ulang baik oleh pengajar yang sama atau pengajar yang berbeda. tanpa ada istilah tahun ajaran atau  masa  pelajaran.

Demikianlah metode salaf. Tidak seperti sistem sekolah atau jami`ah, sistem seperti ini di ambil dari apa yang di lakukan oleh rosululloh r , beliau tidak pernah mendaftar orang yang menginginkan ilmu dari beliau.

` Tidak ada batasan umur untuk dapat belajar di Dârul Hadîts Dammâj, siapapun bisa datang dan belajar mulai anak-anak sampai lanjut usia. (1)

Dan diantara keunikan Dârul Hadîts Dammâj adalah tidak adanya rasa gengsi atau malu untuk menimba ilmu, mereka menempatkan diri sesuai dengan kemampuannya tanpa memandang usia , kita dapatkan dalam satu halaqoh berbagai tingkat usia mereka , walaupun pelajaran tersebut pelajaran untuk pemula, misalkan saja pelajaran IQRO` pesertanya dari anak ingusan sampai sampai mereka yang sudah lanjut umur bahkan dalam berjalan memerlukan tongkat penyangga), semua duduk antri menunggu giliran membaca, alangkah indahnya dan betapa menyejukkan mata pemandangan seperti ini.

` Tidak ada istilah libur di Dârul Hadîts Dammâj, terutama pelajaran umum Asy-Syaikh Yahyâ, walaupun hari Jum’at, bulan Romadhôn atau hari ‘Îed sekalipun.

Demikianlah metode salaf, tidak ada masa libur dalam beribadah, dan menuntut ilmu adalah seutama ibadah, adapun metode yang ditempuh oleh para pengelola madrosah atau jami’ah sungguh jauh dari praktek salaf, di mana mereka sangat menghargai waktu agar tidak terbuang percuma sampai-sampai imam Muslim bin Hajjaj -rohimahulloh- pengarang Shohih Muslim ketika merasa penat menyebutkan jalan-jalan sanad suatu hadits beliau menghibur diri dengan ucapan imam Yahya bin Abi Katsir :

لا يستطاع العلم براحة الجسم

Tidak akan memperoleh ilmu dengan bersantai diri.

` Pelajaran umum hanya diliburkan ketika sholat Jum’at atau adanya sholat jenazah. Ketika Asy-Syaikh Yahyâ berhalangan karena sakit atau sedang safar beliau digantikan oleh Masyâyikh lainnya, dan biasanya yang menggantikan beliau adalah Asy-Syaikh Jamîl.

` Tidak ada istilah masa pendidikan atau masa kelulusan bagi penuntut ‘ilmu di Dârul Hadîts Dammâj, Selama apa pun penuntut ‘ilmu ingin belajar di Dârul Hadîts Dammâj maka dia diizinkan selama bersemangat dan menjaga adab-adab.

Demikianlah dilakukan salafussholeh, mereka menyakini bahwa menuntut ilmu adalah ibadah yang sangat mulia sehingga mereka mengharapkan ibadah itu berlanjut sampai ke liang lahat, bahkan tidak ada yang setara dengan tholabu `ilm jika niatnya benar benar sholih dan ikhlas karena Alloh ta`aala,  berikut ini kami cuplikkan ucapan-ucapan salaf dalam bab ini agar menjadi suri tauladan bagi kita semua dan peringatan bagi mereka yang telah melangkah jauh dari petunjuk salaf untuk menengok kembali langkah mereka:

` Ibnu Mubarok رحمه الله  :

قيل لابن المبارك ، إلى متى تطلب العلم ؟ قال : « حتى الممات إن شاء الله » وقيل له مرة أخرى مثل ذلك.

Ibnu mubarok رحمه الله   ditanya : “Sampai kapan anda menuntut ilmu ??” Beliau menjawab : “Sampai mati insya Alloh”, kemudian beliau di tanya ulang maka beliau menjawab seperti itu juga.

` Imam Ahmad رحمه الله  :

قيل لأحمد إلى متى يكتب الرجل قال حتى يموت وقال نحن إلى الساعة نتعلم .

Imam Ahmad di tanya : “ Sampai kapan seseorang terus menulis ilmu ??” beliau menjawab :” Sampai meninggal dunia “ selanjutnya beliau berkata :” Lihatlah kami sampai saat ini masih belajar.”

` Abu `Amr ibnul `Ala رحمه الله   :

ابن مناذر قال : سألت أبا عمرو بن العلاء حتى متى يحسن بالمرء أن يتعلم ؟ فقال : «ما دام تحسن به الحياة. »

Ibnu Munadzir berkata : aku bertanya kepada Abu `Amr bin `Ala: ”Sampai kapan seseorang itu masih layak sebagai penuntut ilmu??” Beliau menjawab : “Selama masih layak untuk hidup”.

` Al Ma`mun رحمه الله  telah terkenal kecerdasannya dan kecintaannya yang amat dalam terhadap ilmu. Akan tetapi sayang sekali halaqohnya kemasukan orang-orang Jahmiyyah sehingga banyak memberikan pengaruh pada beliau.  Di antara kisah yang menarik dalam bab ini:

وقال منصور بن المهدي للمأمون : أيحسن بالشيخ أن يتعلم ؟ فقال : «إن كان الجهل يعيبه فالتعلم يحسن به «

Berkata Manshur bin Mahdi kepada Ma`mun : “Apakah masih layak bagi orang yang sudah lanjut usia untuk belajar??” Maka beliau menjawab : “Kalau kebodohan membuatnya tercela maka belajar tetap layak baginya “.

Demikianlah keadaan salaf yang perlu kita contoh dan kita teladani.

Bahkan sebagian santri banyak yang memboyong keluarganya dengan niat hijroh dan tidak berniat kembali ke negeri asalnya. Terutama santri yang berasal dari negeri-negeri kâfir seperti Amerika atau Eropa.

` Para thullab Darul Hadits Dammaj tidak akan mendapatkan gelar atau ijazah. Karena metode pendidikan di Dârul Hadîts Dammâj dibangun Asy-Syaikh Muqbil bin Hâdi di atas metode salaf.

Bahkan Syaikh Muqbil sendiri ketika beliau memperoleh gelar dan ijazah dari Jami`ah Islamiyah beliau mencampakkan gelar dan ijazah tersebut tanpa memperdulikannya sama sekali, bahkan kebanyakan ulama mengingkari gelar-gelar semacam : doctor, majister dsb , karena gelar-gelar tersebut bukan dari salaf bahkan dikonsumsi dari orang barat.

` Adapun orang yang ikhlas untuk Alloh dan paham benar bahwasanya seluruh urusan itu di tangan Alloh semata, dia tahu bahwasanya Alloh akan mengangkat hamba-Nya yang pantas diangkat meskipun dia tak punya ijazah resmi, dan seluruh dunia berusaha menjatuhkannya. Dan Alloh ta’ala akan menjatuhkan orang yang rusak niatnya meskipun telah memiliki segudang gelar dan ijazah, dan seluruh dunia ingin mengangkatnya.

Al-Imam Ibnu Baaz -rohimahulloh- pernah didatangi sekelompok doctor hizbiyyin seraya berkata,”Wahai Syaikh, kami ingin memberikan syahadah Doktor buat Anda.” Maka beliau berkata,”Aku sudah punya syahadah. ( لا إله إلا الله)”

Asy-Syaikhul ‘Allamah Abdulloh bin Qu’ud -rohimahulloh- pernah dipanggil oleh salah seorang syaikh qiro’ah beliau di Su’udy untuk diberinya ijazah. Maka beliau -rohimahulloh- berkata,”Wahai Syaikh, sesungguhnya saya belajar qiro’ah dari Anda adalah untuk memantapkan bacaan saya, bukan untuk mencari ijazah.”

Maka alangkah terpujinya orang yang mencari ilmu karena Alloh dan dengan tujuan mengangkat kebodohan darinya, untuk beramal dengan ilmu yang Alloh ta`aalaa berikan kepadanya, bukan karena ijazah atau gelar dunia fana, hal ini kami sampaikan karena kami mendengar ada sebagian da`i salafi di negri kita yang mulai melirik model kholafi ini.

` Adapun metode pengajaran di Dârul Hadîts Dammâj adalah dengan cara talqîn, yaitu sang pengajar membacakan kitab dan menerangkannya kepada para santri diselingi dengan tanya jawab. Dan biasanya sebelum dimulainya pelajaran dilakukan murôja’ah (mengulang pelajaran yang telah lewat) dengan cara sang pengajar bertanya kepada para thullab.

`  Tidak  ada sistim semester atau ujian umum, bahkan setiap waktu para thullab mempersiapkan pelajaran yang sedang digeluti sampai benar-benar paham, walaupun harus mengulangi pelajaran tersebut beberapa kali, karena inti dari belajar adalah memahami materi bukan cepat selesai, berbeda dengan metode madrasah dan jami’ah duniawiyah yang hanya mementingkan tercapainya masa kurikulum tanpa mementingkan kondisi thullab.

` Adapun pelajaran umum Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî Hafidhohullôh biasanya dimulai dengan anak-anak yang memperdengarkan hafalannya, baik hafalan Al-Qur’ân, Hadîts atau matan-matan kitab para ‘ulamâ. Setelah itu Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî Hafidhohullôh menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan lewat kertas. Kemudian beliau memulai pelajaran diselingi dengan melakukan pertanyaan-pertanyaan kepada para santri. Terkadang juga pelajaran diselingi dengan pembacaan bait-bait sya’ir atau pemberian fatwa- fatwa atas pertanyaan-pertanyaan dari berbagai daerah dan negara.

Khusus pelajaran “Shohîh Al-Bukhôri” dan “Al-Jâmi’us Shohîh”, ditekankan bagi para santri untuk menghapal hadîts yang telah dibaca pada pelajaran sebelumnya secara berdiri. Biasanya Asy-Syaikh Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî Hafidhohullôh meminta menghapal berdasarkan urutan shof, yakni dari shof terdepan sampai ke belakang. Atau dari timur ke barat dan sebaliknya. Terkadang beliau juga meminta para santri menghapal berdasarkan asal daerah, kabilah atau negara.

` Sebelumnya perlu untuk diketahui bahwa pelajaran yang ada di Dârul Hadîts Dammâj terbagi dua : pelajaran umum dan pelajaran khusus.

Pelajaran umum diajarkan langsung oleh Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Hafidhohulloh, adapun jadwalnya sebagai berikut :

Ba’da Dhuhur : “Tafsir Ibnu Katsîr” (Senin, Rabu dan Sabtu)

Ba’da Dhuhur : “Al-Jâmi’us Shohîh” karya Al-Imam Muqbil bin Hâdi -rohimahulloh- (Selasa, Kamis dan Ahad)

Ba’da Ashar : “Shohîh Al-Bukhôrî” (setiap hari)

Ba’da Maghrib : “Shohîh Muslim”, Fiqih (dari berbagai kitab ulama salaf), “Sunan Sughro” (Karya Al-Imâm Al-Baihaqî), “Iqtidhô’ Shirôthol Mustaqîm” (Karya Syaikul Islâm Ibnu Taimiyah Rohimahullôh)
Pelajaran umum ini wajib diikuti oleh seluruh santri maupun para pengajar di Dârul Hadîts Dammâj.

Karena apa yang disampaikan Syaikh Yahya adalah inti dari seluruh pelajaran khusus yang ada, oleh karena itu walaupun pokok dari mata pelajaran beliau adalah apa yang tertera di atas akan tetapi tidak luput pula semua pelajaran khusus disinggung walaupun sepintas saja, baik itu aqidah, fiqh, nahwu bahkan tidak jarang para mustafied dipanggil ke depan untuk di-test bacaan Al-Qur`annya.

Dan yang lebih penting dari itu semua adalah penjagaan ukhuwah antar syaikh dan thulabnya, karena telah banyak terbukti mereka yang suka membolos dari pelajaran Syaikh menjadi mangsa hizbiyyin atau yang memiliki pemikiran nyleneh (seperti yang terjadi pada beberapa anak Indonesia pada awal fitnah yang dipelopori oleh Hamam Abu Taubah Demak dan Abu Naufal Harits Aceh), sehingga prasangka kita tehadap orang-orang semacam ini kurang positif .

Dan juga dalam majelis ini penuh dengan masalah da`wah dari berbagai sisi yang sangat  penting diketahui oleh da`i dan calon da`i .

Lagi pula apabila kita kembali ke negeri kita yang akan ditanyakan umat adalah kamu murid syaikh  siapa? Syaikhmu siapa? Apa tarjih syaikhmu? Bagaimana akhlaknya? Dan sebagainya, mereka tidak akan menanyakanmu kamu murid mustafied siapa dan seterusnya.

Akan tetapi sangat disayangkan muncul di tengah-tengah kita pemahaman mutakhollifin (istilah orang yang suka membolos dari pelajaran syaikh) yakni : pemahaman bahwasanya dars (materi pelajaran) khusus lebih penting daripada dars umum, bahkan ada slogan mereka : “Cepat selesaikan pelajaran-pelajaran khususmu sebelum para mustafied pergi atau diusir”. Atau ucapan mereka: “Ambillah ilmu-ilmu alat di Dammaj setelah kuat ilmu alatmu kamu pergi ke Saudi untuk menimba ilmu ke kibarul ulama”.

Padahal itu semua adalah tipu daya shaithon untuk mengalihkannya dari kebaikan yang ada di depan matanya.

` Adapun pelajaran khusus diajarkan para Masyâyikh dan para Mustafied, Pelajaran khusus ini tidak diwajibkan bagi setiap santri, masing-masing santri bebas memilih pelajaran yang diinginkan berdasarkan kemauan dan kemampuan.

MATERI-MATERI YANG DI AJARKAN DI DAMMAJ.

` Hampir semua cabang ‘ilmu syar’i diajarkan di Dârul Hadîts Dammâj, seperti : Tauhid, ‘Aqidah, Nahwu, Lughoh, Hadîts, Tafsir, Fiqih, Mustholah Hadits dan lain-lainnya dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi.

Berikut ini kami cantumkan jadwal mata pelajaran yang diajarkan di Dammaj sesuai dengan tahapan-tahapannya :

Pelajaran Aqidah.

` `Aqidah Uluhiyyah.

Al-Utsuluts-Tsalatsah, Al-Wajibat Al-Mutahattimat, Al-Qowaidul Arba`, Al–Utsulus Sittah, Kasyfusy Syubuhat, Kitabut tauhid, Nawaqidul-Islam, Masaa’ilul Jaahiliyyah (ini semua adalah karangan Al Mujaddid As Syaikh Muhammad bin `Abdul wahhab An Najdi rohimahulloh) (1), Fathul Majid , Ad-Durrun Nadhiidh karya Al-Imam Asyaukani -rohimahulloh-, Tathhiirul I’tiqod karya Al Amir As- Sho`ani  Nuuniyah ibnul Qoyyim -rohimahulloh- dan lain-lainnya.

` `Aqidah Asma Wash-Shifaat.

Lum`atul-I`tiqood, Al`Aqidah Al–Wasithiyyah, Al-Qowa’idul Mutsla, Taqrib At-Tadmuriyyah, ‘Aqidatuth Thohawiyyah dengan syarahnya, Al-Hamawiyyah, At-Tadmuuriyyah dll.

` Ilmu Al- Qur`an .

Iqro` Qirooati dan yang sejenisnya, Pelajaran Tajwid (Fann At – Tajwid, Tuhfatul Athfal, Al-Jazariyyah, Fathul Majid Fi Ahkaamit Tajwid), Al – Qiroo – aat -Assab`ah( As-Syatibiyah atau Hirzul Amani, An Nuba`, Attaisir, Budur Az – Zahiroh), Tafsir As-Sa`di, Al Itqoon, Muqoddimah Tafsir karya Syaikhul Islam, Al Qowaid fit Tafsir karya As Sa`di, dll.

` Pelajaran Bahasa.

Durusul Lughoh “Al Madinah” 1-4, Al-Mabadiul Mufidah fi ta`allumil lughoh Al – `Arobiyah, Al Imla`, At- Tuhfatus Saniyyah , Al- Mutamimah, At–Tuhfatul Wasshobiyah, Mulhatul I`rob, Qothrun Nada, Muwashshilut Thullab, Alfiyah Ibnu Malik dengan syarahnya, Laamiyaul Af`aal, Fathul Waduud Fish-Shorf, Al-Balaaghoh, Al `Arudh, Al- Ma`ani.

` Pelajaran Mustholah.

Al – Baiquniyah, Al Mauqidhoh, Al – Ba`itsul Hatsits, Nuzhatun – Nadhor, Muqoddimah Ibnus-Sholah ma`a At Taqyiid wal Iidhoh, Tadribur-Rowi, Dhowabithul- Jarh Wat Ta`diil, Syarh Ilal At Tirmidzi libni rojab, Al Bahts, Tahkrij wa Tahqieq.

` Pelajaran Fiqh

Al- Mabadi Al mufidah, Sifat Wudhuu-i An Nabi r , Sifat Sholaatu An- nabi r, Umdatul Ahkam, Bulugul Maroom, Ad-Darooriyul Mudhiyyah, Ahkamul Janaaiz, Nailul Author, Al –Manasiik, Subulus Salaam, Ahkamul Haidh Wan Nifaas, Al-Farooidh, Ar-Rohabiyah, Ar-Roid, Alf-Faidh dsb.

` Pelajaran Usul fiqh.

Al-Usul fi Ilmil-Ushul, Al-Waroqoot, Al-Mudzakkiroh, Roudhotun- Nadhir, Ar- Risalah , I`laamul- Muwa`qqi`in, Qowaaidul fiqh dll.

` Pelajaran Tarikh.

Zaadul Ma`ad, Al-Bidayah Wan- Nihayah, Siyar `Alamin Nubala, dan lain-lainnya, hanya saja kitab-kitab besar hanya sebagai rujukan dan faedah tambahan .

Dan masih banyak yang belum kami sebutkan, itu semua adalah kitab panduan dan kitab alat, masing-masing pengajar memilki syarah tersendiri . Apabila thullab bisa menguasai semua pelajaran di atas Insya Alloh telah memiliki bekal yang memadai untuk melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi, yakni untuk menjadi muallif (pengarang) atau muhaqqiq, karena setelah melalui tahapan-tahapan di atas maka thullab diajak untuk masuk maktabah (perpustakaan) untuk mempraktekkan ilmu alatnya dan sekaligus menambah faedah dan mentelaah Ilmu salaf, tapi tujuan dari itu semua bagaimana seseorang itu istiqomah dan tsabaat diatas al Haqq dengan berbekal ilmu alkitab dan assunah dengan pemahaman salaf.

Oleh karena itu dianjurkan bagi yang hendak masuk maktabah mereka yang telah memiliki bekal hafalan Al- Qur`an atau matan-matan hadits seperti: Al Arba`in An Nawawiyah, `Umdatul Ahkam, Bulughul Maroom, Riyadh Ash-Sholihin, Shohih Bukhori, Shohih Muslim dsb, karena seseorang apabila telah masuk maktabah biasanya tersibukkan dengan bahtsnya, sehingga melalaikan hafalan, karena membahats sesuatu masalah membutuhkan waktu yang tidak sedikit.

Bagi anak-anak atau tholib baru atau pemula yang diprioritaskan bagi mereka adalah hafalan Al-Qura`n dan bacaannya serta bahasa `Arob bagi yang belum memiliki bekal.

Syaikh Yahya sering mengkritik para da`i  yang kurang perhatiannya dengan Al-Qur`an, padahal Al Qur’an inilah hujjah terkuat dan bekal ilmu terbaik yang penuh berkah, disertai dengan hadits. Dan para hizbiyyin sering mengkritik Ahlussunah dari sisi ini (lemahnya perhatian untuk menghapal Kitabulloh), begitu pula beliau sering memperingatkan para thullab yang sudah sekian lama di Dammaj tapi belum selesai hafalan Al-Qur`annya dan beliau menjulukinya dengan: adh-dhooyi` (orang  yang membiarkan waktunya tersia-sia dan percuma), julukan ini tentunya bagi mereka yang memiliki kemampuan dan waktu luang adapun yang tidak maka kata beliau menukil perkataan Alloh ta`ala : لايكلف الله نفسا إلا وسعها

PENGETAHUAN UMUM

` Pengetahuan umum seperti Sejarah dunia, Fisika, Geografi, Matematika (yang tidak terkait dengan warisan), Bahasa asing selain bahasa Arob dan sebagainya  itu semua tidak diajarkan di Dârul Hadîts Dammâj, karena ilmu seperti itu bisa dipelajari tanpa harus mengkhususkan jam pelajaran, lagi pula ilmu tersebut bukan perkara dhoruri (yang harus di pelajari) karena apabila seseorang tidak mengetahuinya tidak akan ada beban dosa baginya, berbeda dengan ilmu dien, yang mana bila seseorang tidak mengenal Alloh ta`ala atau tidak mengenal perkara-perkara yang harus dilakukan sebagai hamba Alloh, maka terancam dengan dosa dan siksa, juga waktu di Dârul Hadîts Dammâj begitu padat dengan pelajaran-pelajaran yang sangat penting yang barangkali tidak terdapat di tempat yang lainnya sehingga thullab tidak memiliki waktu luang untuk menyibukkan diri dengan ilmu semacam itu, lagi pula tempat ini bukan tempatnya untuk hal semacam itu, adapun ilmu umum yang berkaitan dengan permasalahan dien seperti Al-hisab (matematika dasar) maka ilmu tersebut dipelajari seperlunya.

STAF PENGAJAR DI DAMMAJ

` Pengajarnya sangat banyak, dari kalangan Masyâyikh maupun para mustafîd. diantara para Masyâyikh adalah : Asy-Syaikh Jamîl As-Shilwî, Asy-Syaikh Ahmad Al-Wushôbî, Asy-Syaikh Zâyid Al-Wushôbî, Asy-Syaikh Abû ‘Amr Al-Hajûrî, Asy-Syaikh Abul Hasan ‘Alî Ar-Rôzihî, Asy-Syaikh Muhammad bin Hizâm, Asy – Syaikh `Abdul Hamid Al-Hajuri, Asy-Syaikh Abû Bilâl Al-Hadhromî, Asy-Syaikh Muhammad Al ‘Amudy, dan para mustafîd di antaranya adalah : Abul ‘Abbâs As-Syihrî, Sa‘id bin Da‘as Al-Yafi‘i, ‘Adnân Adz-Dzammari dan banyak lagi yang tidak dapat kami sebutkan semuanya.

` Dan mereka semua mengajarnya bukan karena adanya mandat dari Syaikh Yahya akan tetapi dilandasi ta`awun yang tinggi dari mereka semua, mereka merasa memiliki tanggung jawab di hadapan Alloh untuk mengajari saudaranya yang belum mengerti sebagaimana dahulu mereka bodoh kemudian diberi ilmu oleh Alloh lewat syaikh mereka tanpa pamrih, dan inilah yang ditanamkan di Darul Hadits Dammaj.

` Maka dari metode di atas tidak ada istilah dewan guru, dewan pembina, seksi ini dan itu, guru di bidang ini dan itu yang tidak boleh keluar dari faknya (bahkan ada salah satu pengajar yang mengajar semua bidang), yang mengajar harus yang sudah memiliki ijazah atau predikat ini dan itu, akan tetapi siapapun yang sudah merasa mampu dan menguasai materi yang akan dia ajarkan maka silahkan mengajar dengan syarat tidak keluar dari manhaj yang benar, walaupun biasanya hanya mengajari IQRO` QIROATI, maka itu perlu disyukuri .

` Selain pengajar pria, Dârul Hadîts Dammâj memiliki pengajar dari kalangan wanita juga, di antaranya: Ummu ‘Abdillâh bintu Asy-Syaikh Muqbil, Ummu Salamah As-Salafiyah, Ummu Syu’aib Al-Wâdi’iyah dan lainnya.

` Namun perlu digarisbawahi bahwa mengajarnya mereka bukan karena adanya tanggung jawab (kewajiban) secara syar`i bagi mereka (perempuan) untuk mengajar saudarinya sesama muslimah, akan tetapi mereka mengajar  adalah sekedar menolong saja karena mereka memiliki tugas yang lebih mulia dari itu semua yaitu tho`at kepada suami mereka, sehingga dari kriteria ini bisa dipahami tidak ada perlunya perempuan memiliki lembaga khusus yang ada mudirnya, sekretaris, bendahara , dst, karena pekerjaan mereka mendidik anak-anak suami mereka memerlukan kelonggaran waktu yang tidak sedikit, begitu pula urusan rumah tangganya, membutuhkan waktu relatif banyak, oleh karena itu tidak ada di Dammaj istilah : Mudiroh, Roisah dan yang semisalnya yang lebih mementingkan urusan luar rumah daripada dalam keluarga.

` Juga perlu dikasih catatan, bahwa tidak ada di zaman salaf madrosah atau jami`ah atau TN (menurut istilah Indonesiyun)  yang dikhususkan untuk perempuan, atau ada masjid khusus buat mereka bagaimana  Syaikh Yahya sering menyampaikannya kepada kita, yang ada pada mereka adalah bahwa perempuan salafiyah belajar di rumah salah seorang saudaranya yang mampu mengajari (seperti `A`isyah radhiallohu `anha) atau berkumpul di rumah salah seorang mereka kemudian Rosululloh r mendatangi mereka untuk mengajari mereka, atau salah seorang dari mereka datang ke rumah Rosululloh r bertanya kepada beliau apa yang menjadi problem mereka atau mereka mendengar kajian Rosululloh dari arah belakang masjid yang bersambung dengan masjid laki-laki, atau mendengarnya dari rumahnya apabila rumahnya berdekatan dengan masjid seperti yang dilakukan oleh shohabiyah Ummu Hisyam binti Haritsah bin Nu`man rodhiallohu`anha, bahwa beliau berhasil menghapal surat Qof dengan sebab mendengar khotbah Rosululloh setiap jum`at dari rumahnya, atau mendengarkan khotbah `ied.

` Demikianlah cara yang mereka tempuh untuk mendapatkan ilmu, terbatas sekali tidak seperti kaum Adam, adapun praktek yang sedang semarak di negri kita berupa pendirian pondok khusus untuk wanita dengan praktek yang sudah diketahui bersama, maka kondisi seperti ini tidak diketahui dari kalangan salaf, entah siapa yang pertama kali mengadakannya, makanya Syaikh Yahya dengan tegas menyatakan bahwa praktek model seperti ini adalah muhdats, tak ada salafnya .

` Di samping itu juga bila dilihat dari sisi manfaat dan madhorotnya, maka madhorotnya lebih dominan dibandingkan manfaatnya, baik madhorot secara fisik ataupun secara  maknawi, karena segala sesuatu yang bertentangan dengan sunnah berakibat negatif dan fatal baik dampaknya terbukti sedini mungkin ataupun di belakang hari.

Dari situ, hendaklah para ikhwah yang telah terlanjur menggunakan metode ini untuk segera mengambil langkah perbaikan sebelum datang  masa yang  tidak ada faedahnya penyesalan. (1)

` Perkara lainnya yang perlu dihindari bagi wanita dalam kaitan ini adalah  keluarnya sebagian mereka dari rumah  untuk mengajar atau berda`wah, karena jenis ini pun seperti yang di atas (yakni: muhdats) bahkan lebih besar, karena para mad`unya akan mencontohnya dalam bermudah-mudahan keluar rumah tanpa kepentingan yang mendesak sehingga dosa mereka akibat meniru ustadzahnya ikut menambah dosa ustadzahnya, dan sebagian ulama telah memperingatkan akan masalah seperti ini seperti Syaikh Al-Albani, Syaikh Sholeh Fauzan, Syaikh Yahya dan lainnya dan telah terkumpul fatwa-fatwa mereka dalam sebuah makalah, yang dikumpulkan oleh putri Syaikh Al-Albani, dan di akhir pembahasannya beliau menyeru:”Wahai saudariku kembalilah ke asalmu” .

Lalu bagaimanakah cara para muslimat mendapatkan ilmu dari para pengajar secara langsung? Laksanakanlah praktek dari para shohabiyyat dan yang setelah mereka. Contoh yang paling dekat adalah seperti yang diterapkan di Dammaj. Masing-masing muslimah tinggal di sekitar markiz bersama para suami atau mahrom mereka. Pada saat ada jam dars umum mereka semuanya hadir dan mendengarkannya di musholla muslimat. Lalu mereka menghadiri durus khusus yang diadakan para mudarrisat. Setelah itu masing-masing pulang ke rumahnya sendiri-sendiri di sekitar markiz, bukan di penampungan wanita.

ASAL USUL THULLAB DARUL HADITS, JUMLAH MEREKA DAN TEMPAT TINGGAL MEREKA.

` Thullab Dârul Hadîts Dammâj saat ini berasal lebih dari 40 negara, di antaranya berasal dari: Indonesia, Malaysia, Malonesia, Singapura, India, Belanda, Inggris, Amerika, Jerman, Swedia, Palestina, Mesir, Saudi Arabia, Aljazair, Libia, Magrib, Yordan, Sudan, Ethiopia, Emirat, Jebuti, Prancis, Kenya, Tanzania, Australia, Sinegal, Kazakhstan, Uzbekistan, Trinidad, Somalia dan banyak negara lainnya.

` Bagi mereka yang berasal dari negara kafir dianjurkan untuk berhijrah ke negri muslim, dan tidak ada persyaratan bagi mereka yang telah mampu berdialog dengan bahasa Arob, bahkan banyak di antara mereka yang baru masuk Islam, asalkan mereka beradab dan ada yang memberi tazkiyah atau ada yang mengenalnya dari daerahnya, dan tidak memiliki pemahaman yang nyleneh, atau tidak melakukan tindakan yang melanggar aturan syar`i, kalau sampai melakukannya walaupun dianggap remeh seperti merokok, ngekot, memukul atau berkelahi atau yang lebih besar dari itu maka orang tersebut harus angkat kaki sesegera mungkin, walaupun dia dari luar Yaman.

`Bagi yang berniat untuk rihlah ke Dammaj hendaknya jangan ditunda-tunda, dan ingat sesampai anda disana harus waspada terhadap bisikan-bisikan syaithon yang mengalihkan tujuan utama anda semula, baik dari sisi teman yang jelek yang tidak membantu proses belajar anda karena tersibukkan dengan ini dan itu, atau dari sisi orang yang memiliki misi  jahat terhadap Dammaj seperti mereka yang berada di belakang hizbi Abdurroman atau cabangnya dari Indonesia ( hizbi Luqman Baabduh dan csnya yang masih bersembunyi di Dammaj) ,atau dari sisi kekurangan bekal duniawi yang tidak terpenuhi kebutuhan tersebut di Dammaj atau dengan sebab yang lainnya , hal ini kami sampaikan karena telah kami saksikan  banyak diantara para tholabah yang terputus di tengah jalan akibat problematika di atas, terutama problem hizbi Abdurrohman dan hizbi Luqman.

` Dârul Hadîts Dammâj tidak memilih-milih thullab yang sempurna tubuhnya saja bahkan ada beberapa santri di Dârul Hadîts Dammâj yang memiliki tubuh cacat tetapi memiliki semangat belajar yang tinggi mereka tetap belajar walaupun dalam keadaan mereka buta atau memakai kursi roda atau tongkat.

Yang mengagumkan adalah di antara mereka ada yang telah sampai tingkatan muallif (pengarang) handal karangan mengalir tak henti-hentinya, dan ada pula yang menjadi imam masjid karena hapal Al-Qur`an dan indah bacaannya.

+ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ_ [المائدة/54]

` Alhamdulillâh, Ma’had Dârul Hadîts Dammâj menyediakan tempat tinggal bagi para santri yang tidak mampu membeli kamar (rumah), ada dua ruangan besar yang diperuntukkan sebagi asrama.

Semua santri yang tidak memiliki kamar sendiri, semua sama kedudukannya, tidak ada pengkhususan bagi santri luar Yaman atau dari dalam negri Yaman, semua diajak sederhana dan menerima apa adanya, tidak ada keistimewaan bagi anak pejabat atau orang kebanyakan, atau tentara sekalipun.

` Beberapa waktu lalu syaikh dikabari bahwa ada anak salah seorang pejabat tinggi di Shon`a ingin mondok di Dammaj, maka Syaikh Yahya menyela: Silahkan saja datang tapi dengan syarat anaknya beradab, dan tidak berbuat musykilah (masalah), karena jarang di antara anak pejabat atau orang-orang kaya yang selamat dari pergaulan yang sehat.

Begitu pula para tentara yang mondok di Dammaj harus tunduk dengan aturan ma`had, harus giat belajar dan tidak menjadi mutkhollifiin (pembolos), baru beberapa bulan yang lalu diadakan ujian bagi para tentara, dari bacaan Al-Qur`an  dan sebagainya, dan kebanyakan mereka masih di bawah standar, makanya Syaikh Yahya agak menekan mereka agar lebih giat lagi dalam belajar.

`Adapun makan bagi para santri disajikan tiga kali sehari dengan penuh kesederhanaan, dan mereka dijadwal giliran masak karena  koki ma`had membutuhkan bantuan tenaga untuk menyiapkan hidangan untuk ribuan orang. Semua berjalan dengan ta`awun .

` Adapun jumlah mereka Wallohu a`lam berapa jumlahnya, karena Darul Hadits Dammaj tidak mengenal sensus dan pendaftaran, kalau musim liburan sekolah umum jumlahnya membengkak sampai-sampai masjid tidak bisa menampung lagi, adapun di luar musim libur  berkisar antara 4000 atau lebih, ditambah 2000 kepala keluarga berada di Dârul Hadîts Dammâj.

`Dan pada bulan Romadhon thullab berkurang, karena kebanyakan mereka mudik ke kampung halaman untuk berda`wah dan ini khusus bagi thullab dalam Yaman adapun yang tetap tinggal di Dammaj sekitar separo dari waktu biasanya, adapun pada akhir-akhir ini pada bulan Shofar 1430 H  ketika mulai memanas kembali fitnah Abdurrohman para thullab semakin berdatangan dari segala penjuru karena semakin percaya akan kebenaran yang diemban oleh Darul Hadits Dammaj beserta Syaikhnya, kini hampir-hampir masjid tidak mampu lagi menampung, padahal musim liburan masih kurang tiga bulan lagi.

Bagi thullab yang berkeluarga dan tidak memiliki biaya untuk membeli rumah, maka ma’had memiliki banyak rumah da’wah yang bebas ditempati santri yang membawa keluarga. Akan tetapi biasanya harus menunggu antrian sampai mendapatkan rumah yang siap untuk dihuni, karena pemintanya terlalu banyak, dan persediaannya terbatas .

Untuk nafkah, ma’had insya Alloh memberikan santunan kepada para keluarga setiap bulannya, walaupun jumlahnya tidak terlalu besar. Terkadang juga ma’had membagikan tepung, minyak dan semisalnya bagi para santri yang berkeluarga. Juga kalau datang Ied ada pembagian pakaian baru bagi mereka yang belum berkeluarga atau status membujang sementara.

` Dan para santri juga diijinkan mencari nafkah dengan berdagang, membuka warnet/wartel, menjadi supir, tukang bangunan dll. Selama hal tersebut tidak membuat mereka sibuk dan meninggalkan pelajaran pelajaran.

` Namun apabila pekerjaan mereka itu melalaikan tugas utama mereka maka mereka tidak diberi izin tinggal lagi, dan Syaikh Yahya selalu memperhatikan mereka (para pekerja), dengan menyuruh pengatur pelajaran untuk memberikan jadwal dan pengajar khusus bagi para sopir, atau para pekerja yang tidak banyak memiliki waktu luang, dan mereka tampak semangat, hal itu terlihat ketika kita berangkat dari Son`a  menuju Dammaj, maka para sopir ketika singgah di rumah makan, mereka memuroja`ahi kitab yang akan mereka pelajari sesampainya di Dammaj, dan dalam perjalananpun mereka saling bertanya tentang ilmu, atau hadits dll, sehingga perjalanan mereka penuh dengan barokah, dan begitulah anjuran Syaikh Yahya bagi yang safar untuk selalu memuroja`ahi ilmu selama dalam perjalanan sebagaimana salaf dahulu ada yang sempat mengarang kitab, seperti Ibnul Qoyyim mengarang kitab Zaadul Ma`ad dan beberapa kitab yang lain selama dalam  perjalanan.

 HUBUNGAN DARUL HADITS DAMMAJ DENGAN PEMERINTAH

` Semenjak zaman Asy-Syaikh Muqbil hingga saat ini, hubungan Dârul Hadîts Dammâj dengan Pemerintah Yaman berjalan sangat baik. Bahkan banyak dari kalangan tentara pemerintah Yaman yang juga menjadi santri di Dârul Hadîts Dammâj.

Bahkan pemerintah Yaman mengetahui Dammaj dengan sebenar-benarnya karena Syaikh Muqbil pun masih sekabilah dengan Presiden Ali Abdullah Sholih[5]. Syaikh Yahya sering diminta berkali-kali oleh Presiden untuk hadir di pertemuan khusus. Demikian pula pihak keamanan selalu singgah di Dammaj dan mereka dimuliakan. Bahkan dalam beberapa kesempatan pemerintah Yaman memuji Dammaj karena  membantu pemerintah dalam usaha mereka membasmi orang-orang Syiah yang berusaha menggulingkan Pemerintah Yaman walaupun bukan lewat fisik .[6]

Syaikh Yahya selalu memberi nasehat kepada pemerintah Yaman, baik dalam bentuk tulisan atau lewat lisan atau lewat ceramah umum kalau memang kerusakannya akan berpengaruh ke khalayak ramai, seperti yang terjadi pada bulan kemarin Muharrom 1430 H, di mana mentri penerangan menyebarkan sebuah Film yang motifnya ada penghinaan terhadap sunnah seperti jenggot, baju gamis dan sebagainya, maka mengadakan muhadhoroh umum dalam rangka memperingatkan ummat dari bahaya pelecehan terhadap sunnah dan langsung menyebutkan nama mentri tersebut setelah dinasehati lewat telpon tapi tetap melangsungkan acaranya.

` Dan pemerintah Yaman sangat paham bahwa Ahlussunnah kalau berbicara bukanlah karena politik atau kepentingan kelompok tertentu atau  kepentingan pribadi, akan tetapi berbicaranya mereka adalah karena agama dan di atas kebenaran, demi kebaikan pemerintah dan rakyat, dan telah mempertimbangkan bahwasanya ucapan tadi tidak menyebabkan bergolaknya masyarakat terhadap pemerintah. Makanya pemerintahpun tidak mengambil tindakan agresif terhadap nasihat yang ikhlas dan baik tadi.

Berkaitan dengan thullab Indonesiamaka pemerintah kita telah mengetahuinya dan memahami apa yang mereka cari hal itu terbukti adanya ziaroh  yang dilakukan oleh bapak-bapak dari Kedutaan Besar Republik Indonesiayang berkedudukan di Son’â, mereka berkunjung ke Dârul Hadîts Dammâj beberapa kali untuk melakukan dialog dan pendataan. Bahkan mereka sempat dijamu oleh Asy-Syaikh Yahyâ (1) dan beliau pernah memuji pemerintah Indonesia di majelis umum sebagai pemerintah yang mencintai kebaikan dan mengingatkan bahwa negri Indonesia yang begitu luas membutuhkan jutaan da`i.

Oleh karena itu tidak tepat apabila thullab Indonesia di Dârul Hadîts Dammâj dianggap sebagai pendatang liar tanpa sepengetahuan pemerintah Indonesia.

Memang banyak di antara manusia yang tidak berkenan dengan keadaan Ahlussunnah, bukan karena jelek akhlaq mereka atau karena berbuat keonaran dan keributan akan tetapi karena mereka sering tidak ikut andil dalam acara-acara keduniaan mereka yang bersifat kenegaraan atau adat-istiadat atau lainnya, karena mayoritas acara-acara tersebut berseberangan dengan syariat, oleh karena itu Ahlissunnah lebih memilih keselamatan dien mereka walaupun harus bersinggungan dengan khalayak daripada mengikuti kegiatan-kegiatan mereka.

` Makanya ketika bapak-bapak kedutaan datang untuk mendaftar thullab Indonesia dalam pemilu dan mereka menyodorkan berkas pendaftaran tak satupun dari mereka ada yang mengisi berkas, bahkan dengan terang-terangan mereka maenjelaskan bahwa pemilu dan yang sejenisnya dari acara Demokrasi adalah keluar dari jalur yang lurus apabila ditinjau dari kacamata Islam yang murni.

` Bukan berarti kita menentang dan memberontak pada pemerintah. Justru tidak adanya pemilu itu menguntungkan bagi pemerintah. Silakan Anda (pemerintah) berkuasa sampai mati dan dilanjutkan oleh pengganti yang Anda inginkan tanpa pusing dengan pemilu yang sebenarnya itu merupakan sarana para musuh politik Anda untuk mendongkel kekuasaan Anda. Kami cuma minta Anda tetap menjadi Muslim. Jika ada kesalahan – dan siapa sih yang tidak punya salah? – harus ada upaya untuk saling menasihati semampunya. Jika Anda menerima maka itu merupakan kebaikan untuk Anda sendiri dan umat. Jika tidak diterima, maka kepada Allohlah semuanya akan mempertanggungjawabkan seluruh urusannya. Pemerintahan merupakan amanat, dan di tengah perjalanan banyak cercaan, dan kebanyakan di akhirnya merupakan penyesalan. Kami berlindung kepada Alloh dari ujian sebesar itu.

KEAMANAN DI DAMMAJ

` Dârul Hadîts Dammâj tempat yang nyaman dan aman, proses belajar mengajar mereka tidak terganggu sedikitpun  dengan kejadian yang ada di luar Dammaj  semua berjalan normal, seakan akan tidak ada sesuatu yang terjadi. Ketika terjadinya perang antara pemberontak Rofidhoh dengan pemerintah, kita malah nonton peluru dan bom yang beterbangan di atas kita, karena lokasi perseteruan mereka di sekitar ma`had, akan tetapi kondisi ma`had tak labil sedikitpun, hanya saja orang di luar tidak diizinkan pemerintah sementara untuk masuk ke wilayah peperangan yang otomatis Dammaj ikut terkena imbasnya, namun apabila ada yang lihai dan memiliki jalur aman maka mereka tetap dipersilahkan untuk berkunjung ke Dammaj.

` Makanya banyak orang berkomentar : bahwa yang tinggal di Dammaj seakan-akan tinggal di dunia lain karena nyamannya dan tidak ada kebisingan dan kegaduhan.

Begitu pula dengan isu teroris, Dârul Hadîts Dammâj tidak terkait sama sekali dengan terorisme, baik itu Al-Qaeda atau Usâmah bin Laden atau para khowarij lainnya, bahkan Ahlussunnah adalah yang pertama kali menerangkan kepada ummat akan bahaya mereka sebelum kebanyakan manusia memahami bahayanya teroris .

`  Ini tercermin dari ucapan Asy-Syaikh Muqbil bin Hâdî terhadap Usâmah bin Laden : “(Usâmah bin Laden) termasuk dari orang yang tertipu dan terkelabui” dan beliau juga mengucapkan “Tidak sepantasnya mengambil ‘ilmu dari Usâmah bin Laden atau Al-Misy’âri…” Kemudian perkataan ini disambung lidah oleh semua murid beliau.

LEMBAGA YANG MENAUNGI DARUL HADITS DAMMAJ?

` Markiz induk Dammaj tidak di bawah naungan organisasi atau yayasan apapun, karena praktek model seperti ini tidak dilakukan oleh salafushsholeh, akan tetapi Darul Hadits Dammaj di bawah naungan kitab dan sunnah sesuai dengan pemahaman salaful ummah dengan tawakkal sepenuhnya kepada Alloh ta`aala yang senantiasa menjaga agama-Nya .

KONDISI PENDUDUK DESA DAMMAJ

` Rata-rata mereka sangat memuliakan Thulab Dammaj, terlebih lagi terhadap orang Indonesia yang memiliki akhlak yang baik sehingga mereka sering mengundang makan, mengasih buah anggur, apel, delima, dsb.

Adapun masalah mengambil jodoh dari mereka maka belum ditemukan ada orang luar Yaman yang menikah dengan wanita Dammaj, adapun selain putri Dammaj maka banyak sekali telah banyak dipersunting oleh pria luar Yaman asalkan memiliki modal untuk membayar mahar yang relatif besar untuk kalangan kita, kecuali kalau ada rezeki nomplok.

/////


BAB 2

KEISTIMEWAAN DÂRUL HADÎTS DAMMÂJ DAN KEUNIKANNYA

Darul hadits Dammaj memiliki keunggulan–keunggulan dan keistimewaan-kistimewaan yang tidak dimiliki oleh ma’had lainnya.

DI ANTARA  KEISTIMEWAAN ITU ADALAH :

` Dârul Hadîts Dammâj adalah ma’had ahlus sunnah pertama dan terbesar di Yaman, dan merupakan induk semua ma`had di Yaman maka apabila ada yang menyakitinya atau mengusik ketenangannya seperti apa yang dilakukan oleh Abdurrohman dan hizbinya atau berbuat perkara baru dalam da`wah yang berlawanan dengan  apa telah jelas kemungkarannya seperti apa yang dilakukan oleh Abdulloh Mar`i  ketika berusaha memasukkan jam`iyyah dan kotak-kotak dana ke dalam da`wah ini maka berarti telah menyakiti da`wah.

` Keamanan yang Insya Allôh terjamin dengan sebab perlindungan Alloh ta’ala semata, melalui Kabilah Asy-Syaikh Muqbil bin Hâdî, yaitu Kabilah Al-Wâdi’ah dan juga dengan sebab kearifan pembimbingnya, serta sebab-sebab lain yang hanya Alloh yang tahu. Dan kami tidak berkata sebagaimana talbis (pengkaburan) dari Luqman: “Yayasan merupakan payung dakwah, sebagaimana kekuatan kabilah merupakan payung bagi dakwah yang ada di Yaman.” Alloh ta’ala sajalah menaungi dan melindungi dakwah ini, dengan berbagai macam sebab. Dan silakan seorang hamba untuk mengambil langkah-langkah pengamanan bagi dakwahnya, tapi bukan dengan cara maksiat ataupun muhdatsat.

` Terdapatnya para pengajar handal baik dari kalangan laki-laki atau dari kalangan wanita yang tidak didapatkan di ma’had lainnya, bahkan mayoritas Masyayikh  Ahli Sunnah Yaman dan da`inya adalah alumnus Dârul Hadîts Dammâj.

` Posisi Dârul Hadîts Dammâj yang jauh dari kota kondisi ekonomi mereka yang pas-pasan, karena kondisi demikian itulah yang sangat membantu kesungguhan thullab dalam menuntut ilmu karena mereka tidak disibukkan dengan belanja atau perkara dunia yang lainnya, dan begitulah keadaan salaf.

` Tingginya ta`awun dari para thullab baik dari sisi belajar mengajar atau dalam kepentingan  umum seperti kebersihan lingkungan, kita tidak mendapatkan para pengajar menerima gaji bulanan ataupun tahunan bahkan semua mendapat jatah sama rata bagi mereka yang telah berkeluarga. Adapun bagi bujangan yang telah mampu mengajar  maka jatahnya adalah makan gratis tiga kali sehari.

` Tidak dipungutnya biaya sama sekali dari para penuntut ‘ilmu, baik dalam bentuk uang makan, uang pendidikan atau uang pemondokan. Insya Allôh ma’had selalu menyediakan makanan bagi para penuntut ‘ilmu, sehingga para penuntut ‘ilmu tidak perlu lagi sibuk mencari nafkah.(1)

` Terdapatnya para pengarang yang handal dalam segala bidang ilmu baik dalam bentuk karangan murni ataupun tahqiq kitab yang berbobot, kalau seandainya Darul Hadits mengeluarkan gelar seperti Jami`ah duniawiyah, maka setiap saat akan menelorkan doctor.

Begitu pula para singa mimbar dan orator  Dammaj menjadi sosok yang sangat dinanti-nantikan oleh ummat, tidak kurang dari ratusan da`i keluar keseluruh penjuru Yaman setiap hari Jum’at membawa bendera kitab dan sunnah.

` Dammaj satu-satunya tempat yang bisa dengan leluasa mengamalkan dan mempraktekkan semua sunnah yang diizinkan Syar`i, sunah-sunah yang sudah banyak dilalaikan ummat seperti sholat memakai sandal di masjid, mengakhirkan sholat ‘Isya dalam beberapa kesempatan, menyelenggarakan sholat jenazah di musholla jenazah, dan lain – lain yang akan kami sendirikan dalam bab khusus setelah ini.

` Masjid di Dammaj tidak pernah sepi dari ibadah , duapuluh empat jam , telebih-lebih dibulan romadhon , diseluruh pojok masjid dan di taing-tiangnya tak terkosongkan dari pembaca Al-Qur`an , yang sedang menunaikan sholat , menghafal pelajaran , halaqoh ilmu , ataupun yang sedang istirahat untuk melanjutkan ibadah .

` Dan yang paling menjadi keunggulan Daarul Hadits Dammaj adalah adanya TAMAYYUZ (pemisahan diri) dari ahlul bid`ah, dan semangat tinggi untuk menerangkan secara ilmiyyah kebatilan ahlil bid`ah dan kelompok–kelompok sesat, baik dilakukan langsung oleh Asy-Syaikh Yahya sendiri atau dari para muridnya, dan juga kepedulian mereka atas kondisi rusaknya  ummat. Hal ini bisa dilihat dari ketegasan Syaikh Yahya bahwa siapa saja yang kedapatan menjadi hizbi terselubung atau memiliki pemikiran hizbiyah dan belum tobat darinya maka beliau tidak memberi kesempatan tinggal di Dammaj sekejappun dan harus segera angkat kaki darinya baik itu orang asli Yaman ataupun luar negri Yaman.

` Kemapanan manhaj  jarh watta`dil , sampai-sampai anak kecil sudah ditanamkan sejak dini kecintaan kepada sunnah dan ahlussunnah dan ditanamkan kebencian kepada hizbi dan hizbiyah.

` Ketelitian dalam memilih segala sesuatu yang berkaitan dengan kemurnian da`wah baik dari sisi pemilihan kitab yang akan dimasukkan ke maktabah  (perpustakaan) atau kitab yang ada di toko-toko buku, demikian pula kaset atau CD yang beredar harus dari  ahlussunnah, kalau seandainya harus memasukkan ke dalam maktabah maka dipisahkan ke dalam lemari khusus dinamakan “lemari kitab-kitab sesat”.

/////


SUNNAH-SUNNAH YANG DIHIDUPKAN OLEH SYAIKH MUQBIL DAN DILANJUTKAN DAN DITAMBAH OLEH SYAIKH YAHYA

` Syaikh Muqbil –rohimahulloh- di awal dakwahnya berada di lingkungan Syi’ah dan Rofidhoh, sehingga praktek ibadah yang dilakukan ummat waktu itu jauh sekali dari tuntunan syari’at yang benar. Oleh karena itu, beliau ketika mengamalkan dan menampakkan sunnah yang benar harus mengalami hambatan dan ujian yang tidak ringan, akan tetapi Allohlah yang memiliki dien ini dan Dia pula yang pasti menjaganya dan menolong orang yang ingin menegakkan dien-Nya.

` Maka dengan pertolongan Alloh, beliau berhasil memberikan perobahan total pada masyarakat secara keseluruhan di negeri Yaman. Maka bukanlah berlebihan kalau beliau dijuluki “Mujaddid” atas usaha yang beliau curahkan untuk Islam dan muslimin.

Setelah beliau menghadap Alloh, segala usaha pun dilanjutkan oleh kholifahnya Syaikh Yahya Al-Hajuri dengan tanpa merobah atau mengurangi apa yang telah berhasil ditegakkan bahkan beliau menambah menghidupkan beberapa sunnah yang belum sempat dihidupkan di zaman Syaikh Muqbil.

` Di sini kami paparkan sunnah-sunnah yang Syaikh Muqbil hidupkan dan tambahan-tambahan sunnah yang dihidupkan Syaikh Yahya, kami nukilkan kebanyakan masalah-masalah ini dari kitab Syaikh Abdul Hamid Al- Hajuri yang berjudul “Al–Bayanul-Hasan,” di antara sunnah tersebut terbagi dua bagian:

Bagian pertama masalah Aqidah dan Tauhid.

1)- Memurnikan `Aqidah ummat dari kesyirikan-kesyirikan dan aqidah sesat seperti menyembah kubur dan ekor-ekornya, sehingga sekarang di Yaman hampir-hampir musnah  keyakinan-keyakinan seperti itu.

2)- Musnahnya kubah-kubah di atas kubur dan sesaji-sesaji untuk ahlil kubur.

3)-  Menghapus sumpah atas nama selain Alloh.

4)- Memerangi perdukunan, santet, paranormal, dan yang sejenisnya.

5)- Menghapus nadzar, sesembelihan, atas nama selain Alloh.

6)- Mengajari ummat Tauhid Asma wa Shifat dan mengeluarkan mereka dari Aqidah Jahmiyah, Mu`tazilah dan Asy`ariyyah.

7)- Meyakinkan mereka adanya Syafa`at sebagai bantahan terhadap Mu`tazilah, Jahmiyah, Rofidhoh yang meniadakannya, dan beliau menetapkan bahwa syafa`at tersebut tidak terjadi kecuali dengan izin Alloh.

8)- Menerangkan dan memahamkan uluwwulloh (ketinggian Allah) bahwa Allah beristiwa di atas Arsy.

9)- Membasmi pemahaman muta’awwilah dan jahmiyyah dalam ru’yatullah (Allah bisa dilihat pada hari kiamat).

10)- Membasmi taqlid buta dan menjajah ummat untuk tunduk dan patuh kepada perintah Allah dan Rosul-Nya dengan memurnikan tauhid dan mutaba’ah.

11)- Memuliakan keluarga Nabi dan memujinya sesuai dengan batas dan syarat dengan mengucapkan shalawat dan salam untuk mereka.

12)- Memuliakan Shohabat Nabi keseluruhannya tanpa menyebutkan kejelekannya mereka.

13)- Membebaskan putri-putri Fatimiyyat dari cengkeraman tangan-tangan kotor Rofidhoh, sehingga putri-putri mereka banyak yang mendapatkan jodoh dari Ahlus-Sunnah yang sholeh walaupun bukan dari kalangan ahlul batil.

14)- Mendekatkan jarak antara shof.

15)- Mengeluarkan shof dari sela-sela tiang.

16)- Berlomba menuju shof pertama.

17)-Menyempurnakan shof terdepan kemudian belakangnya.

18)- Tidak mengucapkan suatu ketika.

19)- Sutroh untuk orang yang sholat.

20)- Sholat dengan mengenakan sandal.

21)- Mengangkat tangan untuk takbirotul ihrom dan isyarat dengan telunjuk kearah kiblat ketika tasyahhud.

22)- Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri (sedekap) ketika berdiri sholat.

23)- Do’a iftitah.

24)- Merendahkan suara ketika membaca;

(( بسم الله الرحمن الرحيم ))

dan untuk makmum dan imam.

25)- Melafadhkan “Amiin” setelah fatehah.

26)- Mendahulukan meletakkan tangan ketika sujud.

27)- Al-Ma’mum merendahkan suara takbir di belakang imam dan dibolehkannya mengeraskan (tabligh) kalau diperlukan.

28)- Duduk istirahat sebelum berdiri.

29)- Duduk iq’a yaitu dengan menegakkan kedua telapak kaki dan duduk (meletakkan pantat) di atas kedua tumit di antara dua sujud.

30)- Merapatkan telapak kaki ketika sujud.

31)- Merenggangkan jari-jemari tangan ketika sujud.

32)- Duduk tawarruk di tahiyyat terakhir.

33)- Sunnah tasyahhud.

34)- Bacaan Al-Fatihah di dua rokaat terakhir.

35)- Memanjangkan bacaan dalam sholat.

36)- Memperdengarkan beberapa ayat pada waktu Dhuhur dan Ashar.

37)- Menghadap ke arah makmum bagi imam seusai sholat.

38)- Sunnah dzikir seusai sholat.

39)- Memperdengarkan takbir seusai sholat.

40)- Sunnah sholat dua rokaat sebelum Maghrib.

41)- Bacaan sunnah untuk dua rokaat sebelum Shubuh rokaat pertama surat Al-Kafirun dan kedua surat Al-Ikhlash.

42)- Berbaring sebelah kanan setelah selesai dua rokaat fajar (sebelum Shubuh).

43)- Sholat di atas mimbar dalam rangka pengajaran.

44)- Bolehnya membawa anak kecil ke masjid.

45)- Duduk di tempat sholat sampai terbit matahari.

46)- Menunaikan sholat sunnah di rumah.

47)- Meniup angin (meludah tanpa mengeluarkan air ludah) ke sebelah kiri ketika ada was-was.

48)- Sholat malam sebelas rokaat (batas maksimal).

49)- Tidak perlu mengangkat tangan ketika do’a witir dan mencukupkan dengan do’a yang datang dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam.

50)- Dua rokaat ringan sebelum tarawih atau sholat malam.

51)- Beragam model dalam sholat malam.

52)- Sholat qoshor di safar.

53)- Sholat di atas kendaraan di safar.

54)- Sunnah sholat Dhuha.

55)- Sunnah qunut nazilah.

56)- Menghidupkan adzan yang syar’i.

57)- Mu’adzdzin menoleh ke kanan dan ke kiri ketika adzan mengucapkan حي على الصلاة dan حي على الفلاح.

58)- Adzan tepat waktu.

59( – Iqomah yang syar’i dalam pelafazhan dan waktu.

60) – Menjadikan dua muadzdzin dalam satu masjid.

61) – Satu adzan di hari jum’at.

62) – Menegakkan sholat Jum’at sesuai sunnah.

63) – Ucapan muadzdzin صلوا في رحالكم  ketika turun hujan

64) – Tegaknya makmum perempuan di belakang laki-laki .

65) – Mengutamakan Imam yang paling banyak hafalannya.

66) – Bacaan surat As-Sajadah dan surat Al-Insan pada subuh hari Jum`at.

67) – Sujud tilawah pada tempatnya.

68) – Bersegera untuk berangkat ke masjid di hari Jum`at.

69) – Tak ada batasan jumlah makmum pada sholat Jum`at.

70) – Bolehnya meninggalkan sholat Jum`at bagi yang memiliki udzur.

71) – Mandi, memakai wangi-wangian dan siwak pada hari Jum`at sangat ditekankan.

72) – Imam langsung naik mimbar tanpa menunaikan sholat tahiyatul masjid terlebih dahulu.

73) – Pembukaan khotbah jum`at dengan khotbatul hajat.

74) – Mengarahkan telunjuk jarinya ke langit ketika khotbah.

75) –Memendekkan khotbah dan memanjangkan sholat.

76) – Para makmum mengarahkan badannya ke khotib dengan memutar badannya bagi yang tidak di hadapan imam.

77) – Sholat tahiyatul masjid bagi makmum walaupun Imam sedang berkhotbah.

78) – Imam membaca surat Qoof dari awal sampai akhir dalam khotbah.

79) – Sholat rowatib seusai Jum`ah.

80) – Sholat istikhoroh.

81) – Khotbah `Ied hanya sekali saja tanpa disela-selai  duduk.

82) – Para wanita keluar menuju musholla `ied.

83) – Tidak perlu mengangkat tangan di sela-sela takbir sholat `ied.

84) – Berjalan cepat ketika membawa jenazah.

85) – Mengantar jenazah dengan tenang dan meninggalkan dzikir-dzikir bid`ah.

86) – Pengkafanan jenazah secara syar`i.

87) – Tempat berdiri imam pada sholat jenazah, baik jenazah laki-laki yaitu de arah kepalanya atau perempuan yaitu di arah perutnya.

88) – Tidak perlu mengangkat tangan ketika takbir pada sholat jenazah kecuali di awal takbir saja.

89) – Menunaikan sholat jenazah diwilayah pemakaman bagi yang terlambat.

90) – Meratakan kubur dan tidak meninggikannya dan tidak pula menulisinya.

91) – Doa nabi sebelum beranjak dari lokasi kubur : استغفروا لأخيكم واسألول له الثبات فإنه الآن يسأل.

92) – Haramnya berjalan, duduk, dan membuang hajat di atas kuburan.

93) – Haramnya berjalan di antara kubur dengan memakai sandal.

94) – Sholat ghoib bagi yang belum disholati di negrinya,

95) – Sholat khusuf sesuai dengan syariat.

96) – seruan muadzdzin ketika sholat khusuf : الصلاة جامعة

97) – Bersegara berbuka puasa dan mengakhirkan sahur.

98) – Sunnah–sunnah dalam pembangunan masjid.

99) – Membuat mimbar tiga derajat.

100) – Menghidupkan masjid dengan ta`lim dan halaqoh-halaqoh dzikir.

101) – Mendirikan kemah di masjid bagi para peserta I’tikaf.

102) – Larangan menghiasi masjid.

103) – Ketegasan beliau dalam masalah kubah dan menara masjid.

104) – Haramnya berjabatan tangan dengan wanita yang bukan mahromnya.

105) – Menyebarkan salam siang malam.

106) – Sunnah makan, minum, mengambil, member dan menerima dengan tangan kanan, dan memulai memakai sandal juga dengan kaki kiri.

107) –   Minum dengan duduk.

108) – Bernafas di luar tempat minum tiga kali.

109) – Sunnahnya siwak.

110) – Menyemir rambut dengar pacar selain warna hitam.

111) – Memelihara dan membiarkan jenggot panjang tanpa mencukurnya.

112) – Memanjangkan rambut sampai bahu.

113) – Mengenakan `imamah (sorban).

114) – Memakai rida ( semacam baju besar atau selendang, atau shyal).

115) – Membiasakan bergamis putih.

116) – Memakai sarung atau sirwal dalam gamis di atas mata kaki atau sampai betis.

117) – Syariat berhijab bagi perempuan.

118) – Mencuci telapak tangan ketika bangun tidur sebelum dicelupkan ke dalam bejana.

119) – Mandi junub secara syar`i.

120) – Bertasbih ketika turun dan bertakbir ketika naik (menanjak) dalam perjalanan.

121) – Sunnah memulai safar pada hari Kamis.

122) – Bolehnya berbuka puasa bagi musafir ,menyusui dan hamil.

123) – Doa apabila singgah di suatu tempat.

124) – Doa masuk suatu desa.

125) -  Mu’anaqoh (berpelukan) ketika datang dari safar (bukan ketika mau safar).

126) – Dzikir–dzikir dalam safar.

127) – Adzan di perjalanan.

128) -  Doa لا باس طهور إن شاء الله  ketika menjenguk orang sakit.

129) – Mendoakan orang sakit sesuai syariat.

130) – Banyak shoum bagi yang masih membujang.

131) – Mendidik ummat agar menjadi dermawan.

132) – Meletakkan  telapak tangan di mulut ketika menguap.

133) – Doa kembali dari safar.

134) – Cerai tiga dalam satu majlis dihitung satu.

135) – Mentaati pemerintah yang bukan ma`siat.

136) – Melakukan wudhu atau mandi ketika ada yang terkena `ain. (sejenis sihir melalui pandangan mata dengki)

137) – Mengajari ummat ruqyah yang syar`i.

138) – Menghidupkan manhaj salaf.

139) – Memerangi ahli bid`ah.

140) – Menghidupkan Ilmu jarh watta`dil.

141) – Menghidupkan Ilmu sanad.

Tambahan sunnah yang dihidupkan oleh syaikh Yahya Al-Hajury -hafizhohulloh- (bukan berarti hal itu tidak dilakukan oleh Imam Al Wadi’y -rohimahulloh-).

– Melakukan sholat tarowih seusai sholat Isya` pada malam 27 romadhon.

- Menghidupkan  lafadz sunnah adzan

فمن قعد فلا حرج ketika malam sangat dingin sebagaimana tersebut dalam hadits Nu’aim  An-nahham -rodhiyllohu ‘anhu- di shohih musnad.

- Menghidupkan sunnah sujud tilawah ketika melewati ayat sajadah dalam khotbah.

– Membuat Thobaqot (daftar peringkat para penuntut ilmu dari yang tertinggi sampai ke para mubtadi’ah).

- Menghidupkan system belajar dan mengajarnya perempuan di rumah.

– Anjuran untuk memperbanyak sholat dhuha, bahwasanya sholat dhuha tidak terbatas jumlah rokaatnya, sebagaimana tarjih dari Imam An Nawawy dan sebagian imam yang lain –rohimahumulloh-.

– Perhatiannya yang sangat, dalam Al-Qur`an baik dalam bacaannya atau dalam hafalannya atau dalam tafsirnya atau dalam beramal dengannya.

-  Anjuran beliau untuk tetap duduk di tempat sholatnya sampai selesai dzikir-dzikir yang syar`i (terutama seusai sholat fajar sampai terbit matahari, kemudian sholat dua roka`at atau empat reka’at).

– Anjuran beliau untuk meringankan mahar.

– Tidak menunda nikah bagi  yang telah mampu.

– Menikah ta`addud empat .

– Memisah  tempat tinggal masing-masing istri di rumah tersendiri.

– Berlomba – lomba mencari lailatul qodar.

-  Giat beribadah, baik dalam sholat atau shoum atau yang lainnya.

– Perhatian beliau dalam pendidikan anak-anak.

– Larangan beliau bagi yang masih kuliah di jami`ah ikhthilathiyyah untuk tetap berada di Dammaj.

– Ketegasan beliau dalam larangan jam`iyah (yayasan) dan tasawwul.


KEUNIKAN-KEUNIKAN DI DAMMAJ

# Saingan Shof Pertama.

Tidak ada sepinya saingan shof pertama, terutama di belakang imam, bahkan tidak jarang terjadi baku hantam untuk mendapatkannya. Yang lebih menarik lagi apabila hari Jum’at, sebagian mereka telah mempersiapkan diri untuk jum’atan setelah adzan shubuh kedua. Dan lebih seru lagi kalau malam Romadhon, ada yang duduk di shof pertama 24 jam (dikurangi untuk kebutuhan MCK dsm) agar tidak diambil orang. Yang lucu, suatu malam di bulan Romadhon Syaikh Ahmad Al-Washobi datang lebih dini daripada biasanya. Sementara para pemegang shof pertama masih pulas tidur di shof sembari menunggu saat imam datang. Ketika mereka dikagetkan dengan kedatangan imam yang tak terduga, di antara mereka langsung berdiri di shof tanpa wudhu terlebih dahulu di luar kesadaran mereka karena khawatir shofnya diambil orang. Ketika Syaikh Ahmad melihat hal itu, langsung beliau menegurnya sambil tersenyum: “Ya akhi, antum sudah wudhu apa belum?” Maka orang itu tercengang dan tersadarkan diri, lantas dia pun beranjak sambil tersipu malu.

` Sholat Tarowih di Dammaj.

Bulan Romadhon adalah bulan yang sangat ditunggu-tunggu oleh thullab, karena di bulan itu merupakan bulan yang penuh barokah, dan sangat terasa sekali barokah Alloh yang Dia curahkan kepada kita khususnya tholabatul Ilmu di Dammaj, begitu pula peningkatan ibadah sangat nampak peningkatannya, baik dari sisi tadarrus Al-Qur’an, shodaqoh, sholat tarowih, i`tikaf dll.

Sholat tarowih biasanya kalau di awal-awal bulan dimulai pada pertengahan malam kedua kira-kira jam dua tengah malam hingga menjelang fajar , masing-masing dari Syaikh Yahya dan Syaikh Ahmad membaca satu juz, itu berlangsung sampai tanggal duapuluh, mulai tanggal duapuluh satu di mana para mu`takifin memulai kegiatannya maka sholat tarowihnya meningkat dan dimulai dari jam duabelas, ini kalau malam genap dan biasanya dua imam kita menbaca 4 sampai 5 juz, adapun kalau malam ganjil biasanya dimulai pada pukul sepuluh, dan puncaknya adalah pada pada malam dua puluh tujuh, dimulai langsung habis sholat Isya sampai hampir subuh, tahun ini pada malam itu dua imam kita membaca kurang lebih sebelas juz , di sinilah terjadi keunikan-keunikan yang kami kira tidak terdapat kecuali di Dammaj, peserta sholat tarowih beragam orangnya, ada orang baru, atau orang awam, atau orang iseng, atau hanya sekedar nonton atau ngantar teh dan minuman buat saudaranya, adapun persaingan di shof pertama jangan ditanyakan lagi ketatnya, adapun di shof kedua dan selanjutnya maka biasa-biasa saja, hanya saja orang-orang yang di belakang biasanya yang memang agak minimlah semangatnya; dan tidak terpacu untuk berlomba meraih keutamaan. Hal itu bisa dilihat bahkan ada yang mengaku sendiri bahwa di antara mereka ada memulai masuk shof ketika hampir ruku` atau pas ruku` di roka`at  kedua sehingga nanti menggenapinya tidak terlalu lama, adapula yang ikut dari awal roka`at, akan tetapi setiap kali waktu berdiri langsung duduk kembali sembari menikmati bacaan imam sambil angkat turun kepala saking khusu`nya (ngantuk), adapula yang tetap berdiri tapi untuk menghilangkan kepenatan dan kenyerian ujung kaki dan betis serta pinggang yang linu dia memegang megang jenggotnya yang panjang, atau merapikan imamahnya, atau menyingsingkan baju karena kegerahan, atau menggoyang bahu dan pinggulnya atau menggerakkan tubuh kedepan dan kebelakang dsb, ada pula yang langsung terseguk-seguk menangis karena teringat akhirat, ada pula yang ketika sujud tidak beranjak berdiri sampai salam terdengar darinya suara dengkuran nyaring. Mungkin dia pulas dengan mimpinya. Dan yang sangat menggelikan adalah di antara orang awam yang ikut serta, dia sudah mempersiapkan air minum di sampingnya, sehingga ketika dia kehausan langsung saja tanpa basa-basi dan sungkan meneguk airnya beberapa tegukan lalu melanjutkan sholatnya, dan ada pula di antara mereka yang apabila sudah mendekati waktu usai langsung mengucapkan hamdalah di sela-sela sholat dan masih banyak lagi prilaku orang-orang yang minim pengetahuannya.

# Lho , kok amblass!!!

Daging ayam adalah makanan yang istimewa di Dammaj, terutama bagi para bujangan, dan mereka bisa menikmatinya apabila ada undangan atau pada bulan Romadhon, dan khusus bulan ini menu daging ayam mengalir sebulan penuh, tapi awas hati-hati dan harus cekatan dan jangan kalah sigap kalau berhalaqoh dengan orang sebagian Yaman karena mereka sangat gesit dalam bab ini, suatu saat ada anak Indonesia baru yang belum berpengalaman, coba-coba berhalaqoh dengan mereka dengan alasan ingin praktek bahasa di sela-sela penantian sang petugas mengantar menu istimewa, tak berapa lama datanglah apa yang mereka tunggu, maka terbersit dalam hatinya;” wah nikmat sekali hidangan ini”, karena masih baru dia masih sungkan dan malu-malu ikut berburu, maka dia menunggu sampai terbuka peluang, tak dia sadari ternyata ayamnya telah terbang tanpa meninggalkan bekas, yang ada tinggal nasi kuning penuh minyak, maka dengan terbengong dia mendesah :” Lho kok amblass !!!” maka sejak itu dia tidak lagi bergabung dengan mereka kalau itu menunya. Namun pada tahun ini (1429 H) sudah semakin banyak orang-orang Yaman yang memahami adab-adab makan, sehingga kisah di atas sudah semakin surut.

# Guru Belajar Pada Murid dan Bapak Belajar Pada Anak.

Kecintaan terhadap ilmu sangat ditanamkan di Dammaj, begitu pula rasa tawadhu’ (merendah diri) sehingga kita lihat tidak adanya rasa malu untuk belajar kepada muridnya, kalau muridnya memiliki sesuatu yang tidak dimilikinya. Contohnya, ada salah seorang mustafiedz mengajar fiqh (‘Umdatul Ahkam) dan seusai pelajaran tersebut salah seorang muridnya membuka pelajaran shorof karena sang mustafiedz itu belum menguasai ilmu shorof, Maka dia turun dari kursi guru untuk muridnya yang akan mengajar shorof. Begitu pula banyak di antara anak-anak yang mengajari bapaknya atau menuntun bapaknya membaca dan menulis tanpa ada rasa gengsi sedikitpun.

# Wallohu A’lam.

Biasanya Syaikh Yahya di sela-sela pelajarannya melontarkan pertanyaan bagi yang berdiri untuk keluar karena suatu keperluan, baik seorang ataupun lebih. Suatu saat ada seorang murid baru yang berdiri minta idzin keluar karena keperluan mendesak, maka sebagaimana biasanya Syaikh Yahya sebelum mengidzinkannya melontarkan pertanyaan dengan  mengatakan: عندك يا فلان.) pertanyaan ini untukmu wahai fulan). Belum lagi beliau menyebutkan soal yang akan ditanyakan, anak tersebut dengan tergopoh-gopoh dan dengan suara parau karena grogi menjawab dengan lantang: “Wallohu a’lam!”  semua thullab tertawa geli melihatnya.

Ada pula yang ketika Syaikh menyeru semua yang berdiri utuk menjawab pertanyaan, dia kembali duduk tidak jadi menunaikan hajatnya.

# Salafi Muza’za’.

Orang-orang yang datang ke Dammaj itu memiliki beraneka ragam corak, karakter dan tujuan. Ada yang datang karena benar-benar ingin belajar. Ada yang datang karena ingin makan gratis. Ada yang datang karena ingin cari uang dengan bekerja di toko-toko, bahkan ada yang datang untuk mencuri dan mengumpulkan potongan roti. Ada juga yang sehari-harinya bekerja di suatu tempat, namun saat masuk bulan Romadhon dia masuk ke markiz Dammaj untuk mencuri, pada saat para thullab sibuk beribadah di masjid.

Syaikh Yahya pernah bercerita kepada kita bahwa beliau memiliki murid yang sangat rajin dan cerdas. Ternyata tanpa diketahuinya anak ini diusir oleh hurros (bagian keamanan). Syaikh Yahya merasa keberatan, mengapa orang serajin ini kok diusir. Lantas beliau diberi tahu bahwa orang yang rajin ini dia juga rajin mencuri sandal bagus dan dikoleksi di kamarnya untuk dijual. Setelah dicek ternyata benar, di kamarnya ada beberapa karung sandal bagus ! maka syaikh Yahya menjuluki untuk salafi model ini dengan julukan: ”SALAFI MUZA`ZA`”

Juga Syaikh Yahya pernah dikirimi surat taubat dari Shon’a yang isinya bahwa dia sewaktu di Dammaj sering menyikat baju bagus di jemuran. Namun sesampainya di kampung halamannya dia merasa berdosa, kemudian semua baju hasil curiannya dikirim ke Syaikh Yahya dengan dilampiri sebuah tulisan: “Aku ini pencuri salafi yang telah tobat.” Dan dia meminta Syaikh Yahya untuk mengumumkan kepada pemiliknya.

# No Problem.

Perkara dunia bagi Ahlus Sunnah tidaklah terlalu diperhatikan. Yang penting tidak melanggar syariat. Maka demi prinsip tersebut, kita sering geleng kepala ketika melihat kondisi pakaian para thullab. Ada yang berdandan dengan sepenuh persiapan, mengenakan jambiahnya (senjata khas Yaman), sepatu mengkilap, jenggot rapi dan ‘imamah keren. Dengan gagahnya dia membawa kitab Iqro’ Qiro’ati.

Ada pula yang tidak peduli dengan pakaian yang dikenakannya. Kami pernah melihat ada orang Barat, kaos kakinya berbeda warna dan jenisnya. Yang kanan merah dan yang kiri putih. Dalam hati kami berkata: “Wah, bendera merah putih diinjak-injak!”

Ada pula yang sandalnya selen (kanan kiri beda). Juga ada yang memakai kaos di luar baju atau baju panjang (gamis) di dalam kemeja (balapan).

Anak bayi umur balita memakai jambiah tapi tak pakai celana. bahkan ada yang memakai baju dibalik luar dalamnya. Begitu pula benang jahitannya berbeda warnanya dengan kainnya dan sebagainya. Tentu saja hal ini hanya dilakukan sedikit orang, bukan keumuman thullab.

` Ana fis sholat.

Ada seorang tua renta yang sudah agak pikun yang dikenal dengan panggilan ‘Ammi Qosim, dia agak lucu dan sedikit “kurang”, suatu saat ada saudara kita dari Ambon bernama Ridhwan , dia masuk masjid mendapatkan Ammi Qosim sedang berdiri, maka seperti biasanya akh Ridhwan menyapanya (tanpa memperhatikan apa yang sedang beliau lakukan) : “Kaifa haaluka ya Ammi Qosim ???”. maka sepontanitas beliau menjawab dengan lantang :” Ana Fis Sholat”(aku sedang sholat), tentu saja akh Ridhwan tercengang sambil ngempet ketawa.

# Abu Mahfudz.

Di wilayah ‘uzzab (bujangan) mereka suka memelihara kucing yang terlantar. Karena banyaknya kucing, maka untuk membedakan satu dari yang lainnya mereka menamakan kucing-kucing tersebut dengan nama-nama indah di antaranya kucing milik Ya’qub Brithoni bernama “Clinton”dan “Monica” .

Ada kucing bernama “Badis”, peninggalan orang Al-Jazair yang bernama Badis, Kemudian dia terusir dengan sebab hizbiyyah baru ini . Anak-anak Indonesia tak kalah pula, mereka menamakan kucing mereka dengan nama:“Monyet, Suparmin, Paijo dsb. Ketika sedang ngetren nama penulis gelap nan pengecut Abu Mahfudz, maka salah seorang dari ikhwan kita ingin mengganti nama kucingnya dengan “Abu Mahfudz”.Ada yang nyeletuk: “Bagaimana cara mengenalnya?” Dia menjawab: “Nanti kugantungin di lehernya dengan kartu tertulis “Aku Abu Mahfudz!”

BAB 3

MENGENAL KHOLIFAH SYAIKH MUQBIL رحمه الله تعالى :

ASY-SYAIKH YAHYÂ BIN ‘ALÎ AL-HAJÛRI

حفظه الله تعالى

Biografi Syaikh Yahya bi Ali Al- Hajuri Hafidhohullôh

Ditulis oleh : Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî Hafidhohullôh

(Dinukil dari kitab: “Madza Yanqimu Al Jahiluun `Ala Yahya” karya : Abul-Yaman `Adnan Ad- Damari Hafidhohullôh)

Telah diminta dariku untuk menulis sedikit tentang kelahiran, nama, negeriku, masa pertumbuhanku dan beberapa yang berkaitan dengannya. Dan setelah aku diminta secara berulangkali, maka aku pun memenuhi permintaan mereka (yang aku cintai dan muliakan) dengan menulis beberapa paragraf ini.

Maka aku katakan -Dengan mengharap taufik dari Allôh-:

Adapun namaku : Yahyâ bin ‘Alî bin Ahmad bin ‘Alî bin Ya’qûb Al-Hajûrî, berasal dari Kabilah bani wahan, dari desa Hanjaroh yang berada di bawah gunung Hanjaroh, mudah-mudahan Allôh U muliakan mereka dengan menuntut ‘ilmu Al-Qur’ân dan As-Sunnah Rosûlullôh r.

Kemudian kakekku Ahmad bin ‘Alî bin Ya’qûb pindah dari desanya ke desa lain yang desa itu terpisah jauh dengan desa sekitarnya serta memiliki jarak yang cukup jauh dari desa asalnya, nama desa tersebut jabar qobîlah az zaghobiyyah. Kemudian beliau menikah dengan salah satu wanita dari penduduk daerah itu, jadilah mereka tersebut sebagai kerabatku dari pihak nenek. Ayahku tumbuh di antara sebagian keluarga mereka dan kemudian menikah dengan salah putri mereka yaitu dengan ibuku yang beliau berasal dari keluarga ‘iqol dari desa az-zaghobiyah (semoga Allôh merahmati diantara mereka yang sudah meninggal serta memperbaiki keadaan mereka yang masih hidup) dan di sanalah aku di lahirkan sekitar 40 tahun yang silam, di hari yang terkenal dengan hari Revolusi Republik Yaman.

Ayahku yang (semoga Alloh U selalu menjaganya), sepanjang umurnya digunakan dalam rangka ketaatan kepada Allôh U. Beliau gemar berkebun dan beliau dahulu berkebun di ladang yang cukup luas. Dari kebun itu menghasilkan hasil yang cukup banyak dari gandum, jinten dan yang lainnya. Sampai-sampai sebagian dari orang berhutang gandum dan pakan sapi kepada ayahku ketika musim kemarau. Selain dari itu telah Allôh memberikan kepadanya binatang ternak dari kambing dan sapi. Dan Alhamdulillâh, kehidupan orang tuaku dalam keadaan yang sangat baik.

Kedua orang tuaku mendidik diriku dan saudara-saudaraku dengan pendidikan yang bagus, mereka berdua jauh dari perkara-perkara yang jelek seperti kot (sejenis ganja khas yaman), rokok, syammah (bubuk yang fungsinya yang sama dengan kot tapi lebih keras), dan perkara-perkara mungkar lainnya. Beliau sangat benci dan tidak suka apabila melihat salah satu di antara kami kurang peduli dalam sholat jamâ’ah ataupun sholat sunnah rowâtib.

Dan yang paling beliau impikan adalah kelak ada di antara kami anak-anaknya yang akan menjadi ‘âlim ‘ulamâ. Dalam keadaan tidak ada di daerahku tempat belajar kecuali kepada katâtib (orang yang pintar dalam masalah agama). Maka beliau menaruhku di tempat belajar yang dinamakan ma’lamatusy syaikh yang pengajarnya adalah orang yang terpercaya dan faqîh di desa kami. Beliau juga merangkap sebagai khotîb di desa kami, nama beliau Yahyâ Al-‘Atabî rohimahullôh. Metode belajar di tempat tersebut adalah sebagaimana metode pendidikan tempo dulu (klasik), belajar membaca Al-Qur’ân dengan melihat mushaf dan belajar menulis.

Bagi yang selesai ataupun lulus dari tempat tersebut biasanya akan menjadi orang yang di-faqîh-kan di desanya serta akan dijadikan imâm dan khothîb. Dan dia berkhutbah dengan membaca teks-teks khutbah yang sudah tertulis ataupun dibukukan serta tulisan-tulisan tentang akad-akad dan semisalnya.

Dan Al-Faqîh Al-‘Atabî sangat mencintaiku dibandingkan dengan murid-murid yang lainnya. Tatkala aku lulus dari tempat belajar membaca Al-Qur’ân tersebut serta telah mengetahui sedikit ‘ilmu menulis, maka ayahku berkeinginan keras agar aku pergi belajar ke kotaAz-Zaidiyyah yang kotaini terkenal dengan kota‘ilmu. Mereka terkenal dengan ahli fatwa dalam masalah thalaq, warisan dan perkara yang lainnya.

Ayahku (semoga Allôh U menjaganya) adalah orang yang mencintai ‘ilmu dan agama (‘ibâdah) seperti puasa dan sholat malam. Aku tidak pernah mengetahui beliau memakan harta haram, akan tetapi beliau tidak pernah tahu tentang apa itu shûfiyah, syî’ah dan tidak pula yang lainnya dari firqoh-firqoh sesat. Beliau sangat memuliakan mereka dan mereka pun sering berkunjung kepada ayahku dan siapapun yang mengunjugi beliau dari mereka (firqoh-firqoh sesat) maka beliau sangat memuliakannya.

Allôh U pun menyelamatkanku dari belajar dengan mereka orang-orang shûfiyyah dengan perantara ibuku (semoga Allôh U selalu menjaganya dan semoga Allôh U memberikan kepadanya husnul khotîmah), tatkala beliau menangis menahanku untuk tidak pergi atau tinggal di negeri orang seorang diri tanpa adanya yang akan mencurahkan kasih sayang di negeri tersebut dan saat itu aku masih kecil. Akhirnya ayahku pun memintaku untuk menggembala kambing. Beliau adalah orang yang pertama kali membangun masjid di desa kami yang terbuat dari kayu dan jerami, masjid itu sendiri tergolong kecil dan hanya mampu menampung 40 orang ketika sholat. Ketika itu masjid kami sudah dianggap sebagai masjid jâmi’ (besar) untuk beberapa desa di sekitarnya, tatkala masjid tersebut roboh, maka dibangunlah masjid tersebut dari batu yang luasnya masih seperti yang dulu. Saat itu aku adalah imâm di masjid tersebut ketika dilaksanakannya sholat Jum’at dan ada yang menggantikanku dari tugasku menggembala kambing disebabkan aku harus berkhutbah untuk mereka dengan membaca buku yang isinya adalah khutbah-khutbah tertulis. Aku paling sering menggunakan buku Al-futuhât Ar-Robaniyah yang di tulis oleh Al-Baihânî rohimahullôh, sampai hampir-hampir aku menghafalnya karena terlalu seringnya aku mengulanginya.

Kemudian aku berangkat ke Saudi, di sana aku menghadiri halaqoh iqrô(membaca Al-Qura`n) yang dilaksanakan setelah sholât fajar bersama seorang guru bernama Asy-Syaikh ‘Ubaidillâh Al-Afghônî hafidhohullôh tepatnya di kota Abhâ, aku pun sedikit belajar darinya kitab Shohîh Muslim, dan pelajaran ini (Shohîh Muslim) dimulai sebelum menyimak hapalan kami, kemudian beliau safar dan setelah itu aku pindah ke tempat Asy-Syaikh Muhammad ’Adhom yang mengajarkan Al-Qur’ân di masjid Al-Yahyâ. Aku membaca di sisi mereka berdua sampai pada surat Al-A’rôf, kemudian beliau pun safar juga. Dan aku menyelesailkan hafalan Al-Qur’ân dengan riwayat hafsh dari Âshim di tempat Asy-Syaikh Muhammad Basyîr, Alhamdulillâh.

Bersamaan dengan cintaku yang sangat dalam terhadap ‘ilmu, tidak ada yang menasehatiku untuk duduk belajar di hadapan Asy-Syaikh Al-Imam Ibnu Bâz atau yang lainnya dari kalangan ‘Ulama-‘Ulama kerajaan Saudi ‘Arabia.

Kemudian aku mendengar tentang seorang ‘ulama yang bernama Asy-Syaikh Muqbil bin Hâdî Al-Wâdi’î, beliau adalah seorang ‘ulama salafi yang mengajarkan ‘ilmu Al-Qur’ân dan As-Sunnah Rosulûllôh r di daerah Dammâj, (Semoga Allôh U menjaganya dan memberi taufîq kepada penduduknya dengan menganugerahi kebaikan-kebaikan yang banyak). Dammâj adalah salah satu desa di Provinsi Sho’dah, Yaman. Akupun menemui beliau di rumahnya tepatnya pada tahun 1405 H bersama ayahku, Asy-Syaikh rohimahullôh menasehatiku dengan nasehat yang bagus kemudian beliau pun pergi, setelah itu beliau terus-menerus membantuku dalam menuntut ‘ilmu dari segi harta.

Semenjak itulah aku menuntut ‘ilmu, aku tidak suka bepergian dan tidak pula membuang-buang waktuku sampai akhirnya Allôh U dengan keutamaannya memudahkanku untuk mengambil faedah-faedah dan ‘ilmu yang banyak. Itu semua berkat bimbingan Asy-Syaikh Al-Muhaddits As-Salafî Al-Maimûn Muqbil bin Hâdî Al-Wâdi’î rohimahullôh.

Sebagaimana keadaan Dârul Hadîts Dammâj yang penuh barokah: aku menyandarkan semua dâ’i-dâ’i Salafiyah di Yaman kepada Imâm Al-Wâdi’î (Asy-Syaikh Muqbil bin Hâdî) rohimahullôh. Dan aku mengambil beberapa pelajaran dari pelajaran nahwu, aqîdah, fiqih dengan beberapa masyâyikh yang kami muliakan. Mereka adalah murid-murid senior Asy-Syaikh Muqbil bin Hâdî Al-Wâdi’î dipondoknya dan yang selain dari mereka (semoga Allôh U memberi pahala untuk amalan mereka semua).

Dahulu Asy-Syaikh Muqbil bin Hâdî Al-Wâdi’î (semoga Allôh U menempatkannya di dalam surganya Al-Firdaus yang paling tinggi) memintaku untuk menggantikan beliau mengajar ketika beliau sedang sakit atau bepergian kemudian tatkala beliau telah merasa sudah dekat ajalnya, beliau mewasiatkan kepadaku untuk menggantikan beliau (sebagai pengasuh Dârul Hadîts Dammâj).

Dalam keadaan musuh-musuh ma’had Dârul Hadîts Dammâj memiliki prasangka yang buruk, yaitu setelah meninggalnya beliau, dakwah ini akan sirna dan bangunannya akan dijadikan sebagai tempat makanan hewan ternak atau dijadikan tempat untuk menikmati kot sebagaimana perkara tersebut kami dengar juga selain kami di saat sakitnya beliau dan juga pada waktu-waktu yang sebelumnya.

Dan tatkala Allôh U membuka hati para hamba-Nya untuk menerima kebaikan-kebaikan ini setelah meninggalnya Asy-Syaikh rohimahullôh, ternyata dakwah ini semakin meluas dan menyebar dan penuntut ‘ilmu pun lebih banyak dibanding zaman beliau rohimahullôh masih hidup.

Maka menjadi jengkellah orang-orang yang hatinya terkena penyakit hasad dari kalangan murid-murid beliau rohimahullôh dan juga yang lainnya dari orang-orang yang terfitnah dunia dan hizbiyyah. Maka Allôh U membuat kejelekan mereka tak berarti (bagi dakwah) dan hancurlah makar-makar mereka.

Dan dakwah ini terus berada di atas kebaikan, semua itu sebelum dan sesudahnya adalah keutamaan dari Allôh U, Allôh U berfirman :

+ وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ_ [النحل/53]

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, Maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, Maka Hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.”[7]  

Kita memohon kepada Allôh U  untuk menjaga agama dan da’wah kita dan menjaga kita, negeri kita dan seluruh negeri-negeri kaum muslimin dari fitnah yang ada, baik yang nampak ataupun yang tidak, Alhamdulillâhi Robbil Âlamîn.

Ditulis oleh : Abu ‘Abdirohman, Yahyâ bin ‘Alî bin Ahmad bin ‘Alî bin Ya’qûb Al-Hajûrî
19 Jumadil Awal 1428

Berkata Abul Yaman : Ketahuilah bahwa rutinitas ibadah beliau dan hubungan beliau dengan Alloh tidak diketahui secara persis, karena menyembunyikan ibadah lebih baik daripada menampakkannya, tapi kita bisa melihatnya apa yang nampak saja contohnya adalah di bulan Romadhon beliau mengimami manusia dalam satu malam  1-4 juz bahkan terkadang sampai 8 juz dan 10 juz, terkhusus pada 10 terakhir Romadhon, beliau menjadi imam dan makmum di belakang Syaikh Ahmad Al Wushoby, bahkan beliau meliburkan pelajaran dengan sebab jenazah karena keguguran, pada suatu saat jatuh khotbah jum`at selain beliau maka beliau berangkat cepat ke mesjid di awal waktu dan waktu itu jadwalku untuk mengawalnya, maka beliau membaca Al Qur`an dan aku yang menyimak 9 juz satu dudukan kemudian beliau keluar untuk buang air dan kembali kemudian menyempurnakan 15 juz di hadapan akh selainku, wallohul musta`an. Dan Allohlah yang menolongnya untuk melakukan perkara ini semua, bahkan sewaktu beliau tugas juga bersama rekannya sampai khatam satu Al-Qur`an penuh dalam sehari. Adapun waro`nya ketaqwaannya dan kezuhudannya contohnya banyak sekali dan cukuplah dalam masalah ini persaksian Syaikh Muqbil -rohimahulloh- sebagaimana yang sudah lewat.

Adapun  bantahan-bantahan beliau terhadap para penyelisih manhaj salaf sangatlah terkenal dan sudah dimaklumi bersama bahkan barangkali beliau membantah dalam satu pekan lebih dari satu ahli bid`ah yang menunjukkan betapa besar kecemburuan beliau terhadap agama adapun banyaknya tuduhan-tuduhan kotor dan kedustaan-kedustaan atasnya maka syaikhnyapun telah diperlakukan sedemikian rupa dan orang-orang sholih sebelum keduanya demikian juga halnya perkara ini adalah sunnatulloh terhadap orang-orang yang sudah lewat sebelumnya dan kamu tidak akan bisa mengganti sunnatulloh ini sungguh beliau telah dituduh sebagai haddadi dan dituduh sebagai orang yang terburu-buru dan keras kepala dan dia dituduh juga kalau berbicara karena kepentingan pribadi  dan tuduhan lainnya yang masih banyak maka ini adalah merupakan prasangka buruk terhadap ilmu dan ahlinya dan akan datang bantahan atas tuduhan-tuduhan ini.

KESERASIAN ANTARA SYAIKH MUQBIL DENGAN SYAIKH YAHYA

Hal ini kami utarakan bukan dalam rangka merendahkan Syaikh Muqbil rahimahullohu Ta`ala bahkan sebagai pujian untuk beliau karena berhasil mendidik muridnya yang mewarisi ilmunya dari berbagai sisi, juga sebagai bantahan terhadap para pendusta yang mengatakan bahwa Syaikh Yahya telah merubah markiznya yaitu markiz iman menjadi menara islam Darul hadits Dammaj. Memang benar telah terjadi sebagian perubahan tetapi kepada yang lebih baik dan lebih utama dan saksi yang paling kuat adalah fenomena yang ada sekarang.

` DALAM BERPEGANG TEGUH DI ATAS SUNNAH.

Al Imam Wadi`i rohimahullohu ta`ala adalah penyeru kepada sunnah yang handal di Yaman tidak ada yang semisal dia di Yaman, padahal di Yaman ada yang lebih cerdas, lebih cekatan, dan lebih hapal daripada beliau, akan tetapi beliau lebih mengagungkan sunnah dan sangat giat dalam menyebarkan dan mengamalkan sunnah, dan kelebihan ini merupakan taufiq dari Alloh yang Dia anugrahkan kepada orang tertentu yang Ia kehendaki, dan perkara ini diketahui oleh semua orang kenal dengan beliau, baik yang jauh ataupun yang dekat.

Dan ketahuilah bahwa kholifahnya (penggantinya) yaitu Syaikh Yahya demikian pula halnya, masih tetap bersemangat memperjuangkan sunnah, membelanya, menyebarkannya, tegak kokoh di atasnya, dan sering kali beliau kita dengar mengatakan kepada para thullabnya: “Beramal dengan sunnah adalah barokah, beramal dengan sunnah adalah ketenangan jiwa kita, dan Alloh mensirnakan marabahaya dan kegundahan jiwa kita dengan mengamalkan sunnah”, bahkan beliau sering mengatakan: “Barangsiapa yang mengetahui sunnah yang belum kita amalkan tolong beritahu kami agar kita bisa mengamalkannya, karena dengan itu terangkat martabat seseorang sebagaimana ditegaskan oleh Syakhul Islam : “Alloh akan mengangkat seseorang dengan kadar keteguhan dia dalam memegang sunnah“, dan betapa beliau gembira dan besar sekali pengagungan beliau terhadap  orang yang  memegang sunnah, sebagai bukti kebenaran yang kami katakan adalah apa yang telah kita sebutkan dari sunnah-sunnah yang beliau hidupkan di samping penjagaan sunnah yang telah dihidupkan oleh Syaikh Muqbil رحمه الله .

` DALAM PENYEBARAN ILMU DAN SUNNAH.

Di zaman Syaikh Muqbil رحمه الله  ilmu dan sunnah dengan idzin Alloh tersebar sangat pesat baik di Yaman atau di luar Yaman, di mana tidak terdengar semenjak beberapa abad yang silam tersebarnya ilmu dan sunnah seperti yang terjadi pada zaman beliau.

Begitu pula di masa kholifahnya, ilmu dan da`wah sunnah salafiyah begitu  semaraknya tersebar ke seluruh penjuru dunia, betapa banyak delegasi yang bertandang ingin mengenyam jernih dan segarnya ilmu Dammaj, kenyataan yang ada sekarang adalah sebesar-besar bukti kebenaran apa yang kami katakan dan tidak mengingkarinya kecuali orang yang tertutup mata hatinya.

` KESERASIAN DALAM TAMAYYUZ

Adalah  Syaikh Muqbil رحمه الله  sosok yang sangat kuat dalam memilah antara kebenaran dari kebatilan sebagaimana salaf terdahulu seperti imam Ahmad bin Hambal, Yahya bin Ma`in, Yahya bin Sa`id, Syaikhul Islam  رحمهم الله   dll .

Berapa banyak orang jahat yang beliau usir, dari kalangan ahlul bid`ah, orang hatinya berpenyakit, dan yang sejenis mereka, demi memilah dan mensucikan agar dien ini  juga ma`hadnya bersih dan terhindar dari kekotoran fikroh sesat dan jahat sebagaimana para nabi ada yang mengusir pengacau dari kaumnya (Nabi Musa `Alaihish sholatu wassalam mengusir Samiri), ada yang meninggalkan kaumnya ada yang `uzlah dst.

Begitu pula kholifahnya, mengusir orang-orang yang  berpenyakit jiwa atau berpenyakit bid`ah atau berpenyakit hizbi tanpa basa basi.

` KESERASIAN  DALAM  JARH  WA TA`DIL.

Adapun dalam masalah Jarh wa Ta`dil dan sikap tegas dan keras terhadap ahlul bid`ah maka ini adalah bagian dari agama kita tanpa ada keraguan lagi, dan para ulama telah memberi bagian khusus dalam masalah, baik dalam kitab-kitab mereka atau contoh perilaku mereka secara nyata, dan Imam Al – Wadi`i/  berjalan di atas jalannya para Salafy sebelumnya begitu pula Syaikh Yahya tidak mengurangi bahkan memberikan porsi yang pas tidak keterlaluan dan tidak pula meremehkan lihatlah contohnya dalam kitab “Al Majruhun ‘indal Imam Al Wadi’i” yang disusun oleh Akhuna ‘Adil Ash Shiyagi -hafizhohulloh- dan kitab “Masyru’iatun Nush wat Tahdzir” mlik Syaikh Yahya kamu akan lihat antara Syaikh dan muridnya berjalan bergandengan tangan seakan-akan keduanya menyusu dari satu susuan.

` DALAM PENGEMBANGAN JUMLAH THULLAB

Pada zaman Imam Muqbil/  ketika beliau meninggal jumlah thullab tidak lebih seribu lima ratus sementara dengan rahmat Alloh dan karunia-Nya di zaman kholifahnya telah bertambah berlipat-lipat hingga kini kurang lebih empat ribu thullab, begitu pula bangunan dan tempat tinggal thullab kini telah sampai ke puncak gunung Dammaj dan atap-atap rumahpun tak ketinggalan dibangun karena tidak mendapatkan area untuk dibangun, itu semua karena fadhlulloh dan barokah nasehat, keadilan, tashfiah dan tarbiyah.

` PERSAMAAN  DALAM  KARYA  TULIS.

Adapun karangan-karangan kitab maka pada zaman Imam Muqbil رحمه الله  telah berhasil melahirkan karya-karya ilmiah yang menggembirakan baik dari sisi Syaikh sendiri atau dari para thullabnya, beliau wafat dengan mewariskan lebih dari lima puluh karangan, besar dan kecil, begitu pula di zaman Syaikh Yahya banyak sekali karya ilmiah dari berbagai bidang ilmu, sampai detik ini telah terbit risalah-risalah beliau lebih dari tujuh puluh karangan, besar dan kecil, dan begitu pula karya tulis thullabnya tak pernah surut dari peredaran.

Begitu pula kaset-kaset ceramah beliau dan pelajaran beliau semuanya terekam dan bakal menjadi khazanah ilmiyyah yang bermanfaat untuk ummat insya Alloh ta`aala.

` PERSAMAAN  DALAM PELAJARAN-PELAJARAN.

Zaman Syaikh Muqbil pelajaran-pelajaran terlaksana dengan sebaik-baiknya karena beliau adalah orang yang sangat bersemangat atas terlaksanakannya pelajaran tersebut sehingga beliau tetap menjalankan tugas mengajarnya walaupun dalam keadaan sakit parah dalam keadaan yang sangat penat, dan terkadang beliau beranjak ke majelis pelajaran beliau dalam keadaan capek atau sakit parah dan beliau berkata: (Seandainya aku diberi pilihan untuk menjadi seorang president atau tetap duduk di sini bersama thullab maka aku lebih memilih untuk tetap di sini), demikian pula kondisi Syaikh Yahya hafidzohulloh wa ro`ahu ,dan perkara ini telah banyak diketahui oleh anak kecil, orang besar, kawan ataupun lawan sampai-sampai tidak terlewati setahun ataupun sebulan beliau tidak meliburkan pelajarannya yang ilmiah dan terkadang beliau menelan sekian banyak obat sakit kepala supaya bisa keluar kepelajaran beliau, karena khawatir terputus dari menutut ilmu. Dan terkadang  beliau melepas infus dari badannya  untuk menghadiri pelajaran. Maka kami mohon kepada Allah subahanahu wa ta`ala untuk membalasnya dengan balasan kebaikan dan kami memohon pula agar Alloh merahmati Syaikh dengan rahmat yang luas.

Demikian pula pelejaran-pelajaran yang dibuka di markiz ini yang terkadang bisa mencapai tiga puluh pelajaran dalam sehari, dibuka setiap sepekan atau dalam dua puluh hari, kadang berkurang dan kadang bertambah, dan ini adalah barokah dari  Alloh, maka barang siapa yang menuduh adanya perbedaan antara ma’had di Syaikh Al-Wadi’i dan keadaan ma’had di masa kholifahnya hendaklah dia bertaqwa kepada Allah terhadap ia dirinya sendiri dan untuk menengok kembali apa yang keluar dari mulutnya, maka demi Allah kami tidaklah melihat adanya perbedaaan dan tidak pula adanya penyelisihan, bahkan yang kami lihat keduanya berjalan seiring bahkan barangkali semakin bertambah kebaikannya, dan ini perkara yang bisa saksikan dengan mata kepala kita.

` KESAMAAN DALAM PENJAGAAN ILMU.

Allah telah memberikan taufik kepada Imam Al-Wadi’i / untuk menghafal ilmu dan menjaga sunnah, sehingga barangkali beliau memastikan bahwa sebuah hadits tidak terdapat di “shohihain” atau di “Al Kutubus Sittah”, dan setelah diteliti terbukti kebenarannya, ini menunjukkan betapa kuat telaah dan hafalan beliau demikian pula kholifahnya, Allah memberikan taufik kepada beliau untuk menghafal Al-Qur’an dan sebagian qiroat dan banyak dari sunnah, yang hampir-hampir tidak terluput darinya satupun hadits yang ditanyakan kepada beliau, dan juga beliau hafal “Alfiyyah Ibnu Malik”, “Mulhatul I’rob”, “Lamiatul Af`al”, Matan “Ar Rohabiyyah”, Matan “`Imrithi” dalam ilmu usul ,Matan “Al ‘Aqidatuth Thohawiyyah” dll.

` PERSAMAAN  DALAM  KETAWADHU`AN.

Perkara ini nampak jelas dari keduanya, barangkali Syaikh Muqbil رحمه الله  menyambut tamu dan utusan dan memuliakan mereka, dan mengijinkan kepada anak-anak untuk membaca matan-matan yang mereka hafal sebagai penyemangat, dan berlembut hati kepada mereka dengan penuh kelembutan, menjadikan mereka seakan-akan anaknya sendiri, begitu pula halnya dengan Syaikh Yahya, dan ini perkara yang diketahui oleh semua thullabnya, terutama yang sering melihat beliau secara dekat, adapun yang belum begitu mengenalnya maka kewibawaan beliau lebih dominan menurutnya daripada kelembutan beliau.

` PERSAMAAN DALAM IKATAN UKHUWWAH.

Perkara ini sering dijadikan alat untuk menikam Dammaj dan Syaikh Yahya, mereka mengatakan bahwa di zaman Syaikh Muqbil sangat terjaga pesaudaraan dan ikatan ukhuwwah, sementara semenjak Syaikh Yahya memegang kendali  Dammaj maka berubah total, tak ada lagi keramahan dan saling kasih, ukhuwwah tercabik-cabik adanya cuma saling curiga, caci maki, jarh watta`dil, dan tidak adanya ketenangan dalam belajar.

Kami katakan kepada pembual ini: Datanglah ke Dammaj wahai pembual niscaya kamu akan dapatkan keadaannya  sangat beda dengan apa yang kamu katakan, keadaan tak ada perubahan sama sekali sebagaimana pada zaman Syaikh Muqbil رحمه الله  , kita saling mengikat tali persaudaraan dengan baik dan benar, persaudaraan karena iman dan ketaatan, ukhuwah yang dilandasi  nasihat, bahkan kedekatan kami dengan ikhwah fillah melebihi ikatan kekeluargaan, hal itu terbukti banyak di antara kita yang serasa ketika melihat ada salah seorang dari ikhwah terjatuh kedalam kegelapan masing-masing kita merasa kehilangan dan merasa perlu untuk menasehati, tidak pandang apakah itu satu daerah atau lain daerah, satu Negara atau lain Negara, begitu pula diantara ikhwah yang berkulit putih menikah dengan akhowat yang berbeda warna dengannya, baik dari orang Arab atau orang A`jam, begitu pula kita saling bahu-membahu dan tolong-menolong dalam perkara dunia, maka darimana sebagian orang mengatakan bahwa kini di Dammaj hanya tinggal kenangan ???

Memang bagi mereka yang berpenyakit hati, atau bagi pemalas atau bagi yang tidak memiliki pemahaman salaf yang benar, Dammaj terasa sempit dan sumpek udaranya, sedikit-sedikit menggunjing orang, tahdzir demi tahdzir tak henti-hentinya. Dia tidak tahu  bahwa di balik itu semua terpancar mata air yang jernih yang menghilangkan dahaga, karena semua pekara itu dibangun di atas ketaqwaan dan  kebersihan jiwa, sebaliknya mereka-mereka yang keluar dari Dammaj dengan alasan di atas bahkan menelan kepahitan yang tidak henti-hentinya, karena landasan yang mereka bangun adalah kebobrokan jiwa dan ketidak mapanan mereka ketika melihat alam nyata.

Maka tak ada perbedaan sedikitpun keadaan yang ada sejak zaman syaikh Muqbil sampai saat ini, ukhuwah tetap terpelihara, saling rahmah terus bertambah, ketenangan belajar tak terusik, ni`mat Alloh terus tercurah, mahabbah fillah tak terabaikan, tinggal dari sisi mana seseorang melihat dan memperhatikan.

KATA- KATA MUTIARA  SYAIKH YAHYA

Ini kami nukil di sela-sela pelajaran beliau , sebagai bukti betapa besar keteguhan beliau dalam memegang manhaj ini.

من غلا في شيء فقد بالغ في ذمه.[ ليلة السبت15 ربيع الأول 1429 هـ]

` Barangsiapa yang berlebihan pada sesuatu berarti sama saja dia telah menghinanya dengan sepenuh penghinaan.

من رددنا عليه بالحق و هزم فإنما ذلك  لقوة  الحق  وليس  لقوتنا. [ليلة الأحد 16 ربيع الأول 1429 هـ]

` Siapa saja yang kita bantah dengan bantahan yang benar kemudian dia terjerembab kalah, hal itu karena kekuatan alhaqq yang ada bukan karena kekuatan kita.

كم من إنسان لسانه مثل العسل وعمله أردى من  ريح البصل .[ليلة الاثنين 17 ربيع الأول 1429هـ]

` Betapa banyak orang yang lisannya semanis madu tetapi amalannya lebih busuk daripada aroma  bawang.

قد ضللنا إذا ولسنا من المهتدين   إذا سكتنا عن الخائنين.

` Sungguh kita sesat dan tidak melihat bila kita tetap diam dari para pengkhianat.

الدعوة   لا تنصر بالفتن ولا بالمعاصي ولكن الدعوة تنصر بالعلم والحق ونشر السنة بين  الناس .

` Da`wah ini tidak akan tertolong dengan fitnah dan tidak pula dengan maksiat akan tetapi da`wah akan tertolong dengan ilmu dan kebenaran serta tersebarnya sunnah di kalangan manusia.

من  رد  الخير فلا  يبقى له  الخير ولا يحقر  هذا الخير  إلا من حقره الله.[25 ربيع الأول 1429هـ]

` Barangsiapa menolak kebaikan maka tidak tersisa baginya kebaikan, dan tidaklah menghinakan kebaikan ini kecuali orang yang dihinakan Alloh.

لا جزى   الله خيرا هذه الحزبية .

` Alloh tidak akan memberi balasan yang baik kepada hizbiyah ini.

من تعصب  للباطل رأسه  منكس.[ 27 ربيع الأول 1429 هـ]

` Barang siapa yang fanatik kepada kebatilan maka kepalanya terbalik.

ومهما كان الذكاء بغير توفيق من الله لا يفلح.[28 ربيع الأول 1429 هـ]

` Bagaimanapun kecerdesan seseorang kalau tidak mendapat taufiq Alloh dia tidak akan beruntung.

ينفعك نصحي ولا يضرك تقصيري.[ليلة الأربعاء 3ربيع الثاني 1429 هـ]

`Ambilah manfaat dari nasehatku dan tidak membahayakanmu kekuranganku.

مضادة   دار  الحديث  بدماج  صعبة.[ليلة الجمعة 5  ربيع الثاني 1429 هـ]

` Berlawanan dengan Darul Hadits Dammaj tidaklah mudah.

الكلام الحق وملازمته يزيد الإيمان وكذا الفعل الحق ، والموفق من تحرى الحق في كلامه وأفعاله.[ 6 ربيع الثاني 1429]

` Perkataan yang benar dan menetapinya menambah iman, begitu pula perbuatan yang benar, orang yang mendapatkan taufiq adalah orang teliti dalam mencari Al- haq baik dalam ucapan ataupun perbuatan.

لا تكن سببا في تواثب الناس عليك بل كن سببا في تآخي الناس بينهم ومفتاحا للخير ومغلاقا  للشر. [ 6 ربيع الثاني 1429].

` Janganlah kamu menjadi sebab orang mencabik-cabikmu bahkan jadilah sebab persaudaraan mereka dan pembuka kebaikan sarta penutup kejahatan.

الحزبيون فساق ومبتدعة .[7 ربيع الثاني 1429]

` Al- Hizbiyyun orang-orang fasiq dan termasuk ahli bid`ah.

الذي يريد لنفسه الخير فليستقم.[ 7ربيع الثاني 1429]

`Bagi yang menginginkan pada dirinya kebaikan maka istiqomahlah.

الدراسة في المساجد إحياء للسنة  وفيها البركة.[7 ربيع الثاني 1429].

` Belajar di masjid itu menyebabkan hidupnya sunnah, dan di dalamnya ada barokah.

من أظهر قرنه كسرناه إن شاء الله. [17 ربيع الثاني 1429]

` Siapa yang menampakkan tanduknya kami akan pecahkan dia Insya Alloh.

الباطل  ينبغي  أن يزجر ولا ينشر [ 5 جمادى الأولى 1429]

` Kebatilan hendaknya diredam bukan disebarkan.

القول  الذي  يخالف   الدليل قول هزيل.[7 جمادى الأولى 1429]

` Ucapan yang menyelisihi dalil adalah ucapan yang lemah.

القرضاوي جند من جنود الشيطان وإن كبرت عمامته .[ 14 جمادى الأولى 1429]

` Al–Qordhowi salah satu tentara dari tentara syaithon walaupun sorbannya besar.

القرضاوي ما فيه بركة.(1) [ 14 جمادى الثانية 1429 هـ]

` Al-Qordhowi tidak ada barokahnya.

هذه الدعوة تأتيها الفتن وتزول وإن عظم كيدهم، وما تزول إلا بالدعاء. [16 جمادى الأولى 1429]

` Da`wah ini selalu didatangi fitnah, dan akan sirna fitnah itu walaupun besar tipu muslihatnya, dan tidak akan lenyap kecuali dengan doa.

من أخذ الحق فهو عادل لقوله تعالى :﴿ وممن خلقنا أمة يهدون بالحق وبه يعدلون﴾ [الأعراف : 181] [ 15 جمادى الأولى 1429]

` Barangsiapa mengambil kebenaran dia itulah orang yang adil karena firman Alloh: ”Dan di antara makhluq yang kami ciptakan adalah umat yang mengambil kebenaran sebagai petunjuk dan dengannya dia berbuat adil.

السنة فالسنة لزومها خير وبركة .[15 جمادى الأولى 1429 هـ]

` Assunnah, menetapi sunnah penuh kebaikan dan barokah.

كل من أبغض السنة فهو الأبتر . [ 16 جمادى الأولى 1429 هـ]

` Setiap orang yang menentang sunnah maka dia itu mandul, tak membuahkan hasil.

الأخوة خير من ألف الجمعيات وإن كانت الجمعيات تأتي بالمليارات .[ 16 جمادى الأولى 1429 هـ]

` Al-Ukhuwwah lebih baik dari seribu jam`iyyat sekalipun jam`iyaat mendatangkan uang milyaran.

العراق فتحها سعد بن أبي وقاص وأغلقها صدام، المدبر مدبر حتى على بلده.[28 جمادى الأولى 1429 هـ]

` Wilayah Irak dibuka (dikuasai Muslimin) oleh Sa`ad bin Abi Waqqoosh dan ditutup oleh Shoddam, orang yang jahat dia berbuat jahat sampai kepada negaranya.

من ثمرات العفة الغنى قال الله تعالى: ﴿ وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمُ الله﴾ [النور/33]

` Di antara buah `Iffah adalah rasa kaya dalam jiwa.

نحن لا نفرح بالكثرة ولا نحزن بالقلة .[13 جمادى الثانية 1429 هـ]

` Kami tidak merasa bahagia dengan mayoritas, dan tidak sedih karena minoritas.

من جرحه علماء أهل السنة فهو مجروح فافهموه.[ 17 جمادى الثانية 1429 هـ ]

` Siapa saja yang di-jarh oleh ulama sunnah maka dia itu majruh, fahamilah ini.

من أظهر لنا الجمعية خبطناه . [ 27 جمادى الثانية 1429 هـ]

` Barangsiapa yang berusaha menampakkan jam`iyyah (yayasan) kita akan terkam dia.

الحق أحق أن يتبع من الرجال ، ونحن نعظم الرجال على حسب تعظيمه للدعوة السلفية .[ 2 رجب 1429 هـ]

` Al-Haq lebih berhak untuk diikuti daripada orang bagaimanapun besarnya karena kita mengagungkan karena kadar pengagungan dia terhadap da`wah salafiyah.

لو تركت شأن السنة للعامة لا تقام السنة.[ليلة الخميس 12 شعبان 1429]

` Kalau dipasrahkan perkara sunnah kepada orang awam tidak akan terwujud sunnah.

ألا فلا يضعف أمام أهل الباطل فإنهم أذلهم الله بمعاصيهم.[13 شعبان 1429]

` Ketahuilah, jangan sampai lemah di hadapan ahlul bathil, karena mereka telah dihinakan Alloh karena kema`siatan mereka.

دعوتنا واضحة وفيها بركة .[17 شعبان 1429 هـ]

` Da`wah kita sangat jelas dan di dalamnya penuh barokah.

دين الله أحق بالدفاع من الأشخاص [17 شعبان 1429 هـ]

` Agama Alloh lebih berhak untuk dibela daripada sosok yang ditokohkan.

أن بداية الشر تشبه الخير كهذه الحزبية .[29 شعبان 1429 هـ]

` Bahwa permulaan kejahatan menyerupai kebaikan seperti hizbiyyah ini.

الحزبية إتلاف للبركة .[11 رمضان 1429]

` Hizbiyyah menghancurkan barokah.

الإهمال في العلم إهمال في جوانب كثيرة ، إهمال في السنة وإهمال في الإتباع وإهمال في الحق .[13 رمضان 1429 هـ]

` Meremehkan ilmu merupakan peremehan dalam banyak sisi, dan meremehkan sunnah sama saja meremehkan ittiba` dan meremehkan al- haq.

ولا ينبغي أن ينهزم صاحب الحق أمام صاحب الباطل.[13 رمضان 1429 هـ]

` Tidak sepantasnya ahlul haq bertekuk lutut di hadapan ahlul bathil.

الخير يبرز نفسه والسنة تبرز نفسها ، ومن أراد الخير والسنة وجدهما.[ 13 رمضان 1429 هـ]

` Kebaikan akan nampak sendiri begitu pula sunnah, dan barangsiapa menghendaki kebaikan dan sunnah dia akan mendapatkannya.

كثرة المساس يذهب الإحساس [17 رمضان 1429 هـ]

` Terlalu banyak bersentuhan mematikan rasa.

لا يسلمون من الفتن إلا بالتمسك بالكتاب والسنن [17 رمضان 1429 هـ]

` Tidaklah bisa selamat dari fitnah kecuali dengan berpegang teguh dengan kitab dan sunnah.

لا ينكر الجرح والتعديل إلا أحد الثلاثة: المجروح أو الضال أو الجاهل، قاله شيخنا الوادعي رحمه الله [ 22 رمضان 1429 هـ]

` Tidaklah mengingkari jarh watta`dil kecuali salah satu dari tiga jenis manusia: orang yang majruh atau sesat atau bodoh, demikian kata Syaikh Muqbil رحمه الله .

من ظفر بالسنة فقد ظفر .[26 رمضان 1429 هـ]

` Barangsiapa yang berhasil mendapatkan sunnah maka sungguh dia telah beruntung.

الفقه في الدين يهذب الإنسان .[26 رمضان 1429 هـ]

` Fiqh dalam dien mendidik manusia.

إقامة الحدود سلامة وأمن وأمانة . .[26 رمضان 1429 هـ]

` Penegakan hukum adalah keselamatan, keamanan dan amanah.

من قال قولا باطلا رجع على كاهله.[4 شوال 1429 هـ]

` Siapa yang mengucapkan ucapan bathil kembali ke punggungnya

(menjadi tanggung jawabnya).

إتباع الحسنة بالحسنة دليل على قبولها فهذا هو حقيقة الشكر..[ 4 شوال 1429 هـ]

` Kebaikan diiringi kebaikan sebagai bukti terkabulnya kebaikan itu dan itulah hakikat syukur.

لا تكن أسيرا للتجارة فإن فيه خسارة .[ 8 شوال 1429 هـ]

` Kamu jangan mau menjadi tawanan perniagaan karena akan berakibat penyesalan.

لا تجد منافقًا زاهدًا أبدًا .[8 ذوالقعدة 1429 هـ]

` Kamu tidak akan mendapatkan seorang munafiq yang zuhud selama-lamanya.

مداهنة الشرفاء فساد في الدين. [16 ذو القعدة 1429 هـ]

` “Mudahanah” (basa-basi demi keduniaan dengan mengorbankan sebagian agama) terhadap orang terhormat (pejabat) merusak agama.

وأينما تحقق كثير من أمور التوحيد تحقق كثير من الأحكام الشرعية.[16 ذو القعدة 1429 هـ]

` Di manapun tempat yang terlaksana banyak dari perkara tauhid maka banyak pula dari hukum-hukum syariat yang tertegakkan.

اللجوء إلى الله سبب الهداية. [22 ذو القعدة 1429]

` Bersimpuh di hadapan Alloh sebagai penyebab turunnya hidayah.

وقد رأيت بركة الصمت عن الشر والنطق من الخير.[23 ذوالقعدة 1429 هـ]

` Aku telah melihat barokah diam dari kejahatan (tidak berbicara jahat) dan bicara untuk kebajikan.

إذا رأيت الرجل يلوج في المعاصي فاعلم أنه في شفا هلك.[23 ذوالقعدة 1429 هـ]

` Apabila engkau melihat seseorang bergumul dengan maksiat ketahuilah bahwa dia berada di ambang pintu kebinasaan.

مسكين الذي يجالس أهل البدعة، فإن مجالستهم تشقى ولا تستغفر له  الملائكة .[25 ذو القعدة 1429هـ]

` Malang dan sangat disayangkan orang yang duduk-duduk dengan ahlul bid`ah, karena duduk – duduk dengan mereka membuat celaka dan malaikat tidak mendoakan ampunan untuknya.

الذين يضلون عن سبيل الله إما أن يكون من المنافقين أو المتشبهين بهم .[3 ذوالقعدة 142 هـ]

` Orang–orang yang tersesat dari jalan Alloh bisa jadi dia itu munafiq atau orang yang menyerupai orang munafiq.

بلد لا يسوسه العلماء بلد مُدَهوَر. [3 ذوالقعدة 142 هـ]

` Suatu negri yang tidak dipimpn seorang ulama adalah negri yang kacau balau.

الحق أبلج والباطل لجلج. [ 16 ذوالحجة 1429 هـ]

` Kebenaran itu bercahaya dan  kebatilan itu gelap gulita (arti asli kata-kata (لجلج) adalah orang yang tidak fasih dalam berbicara(.

العالم لا يستدل بعمله بل يستدل لعمله بدليله . [18 ذو الحجة 1429 هـ]

` Perbuatan orang alim itu tidak dijadikan dalil  akan tetapi perbuatannya diambil dengan dalilnya.

مجالس العقلاء مجالس رشيدة ، ما أبرك مجالسهم.[25 ذوالحججة 1429هـ]

` Majlis para cendekiawan adalah mejlis yang penuh petunjuk, dan alangkah penuh barokahnya majlis-majlis mereka.

من ترك بعض السنة فقد جعل للشيطان نصيبا، فإن اتباع السنة إغاضة للشيطان. .[25 ذوالحججة 1429هـ]

` Barangsiapa meninggalkan sebagian sunnah sama dengan memberi peluang kepada syaithon, karena mengikuti sunnah itu membikin marah syaithon.

الاقتصار على القول الصحيح مريح . .[25 ذوالحججة 1429هـ]

` Mencukupkan diri dengan pendapat yang benar itu melegakan hati

من عزم على مناصرة الحق نصره الله .[ 7محرم 1430 هـ]

` Barangsiapa bertekad untuk membela kebenaran Alloh pasti akan menolongnya.

أبو حنيفة فقيه وفقهه هزيل، فهو ضعيف الفقه وضعيف الحديث وضعيف العقيدة .[9 محرم 1430 هـ]

` Abu Hanifah seorang yang faqih tapi fiqhnya dangkal, dia itu lemah dalam fiqh, lemah dalam hadits dan lemah dalam aqidah.

والله ما فتن من فتن ولا ضل من ضل إلا لضعف تعلقه بالله I ، وتهاونه بالعبادة. [10 محرم 1430 هـ]

` Demi Alloh tidaklah seorang yang terfitnah itu sampai terfitnah, dan tidaklah orang yang tersesat itu sampai tersesat kecuali karena lemahnya ketergantungannya kepada Alloh dan peremehannya dalam ibadah.

من رضي العمل بالجهل آثم.[14 محرم 1430 هـ]

` Barang siapa yang ridho beramal dengan kejahilan maka berdosalah dia.

الناس أتباع لكل ناعق وبالأخص العلماء والأمراء. [14 محرم 1430 هـ]

` Kebanyakan manusia hanyalah pengikut setiap orang yang berteriak, terutama teriakan ulama dan umaro.

القرضاوي نجس يستحق الطرد .[22 محرم 1430 هـ]

` Al- Qordhowi najis[8] dan berhak untuk diusir.

الاستقامة هي أساس العز والكرامة.[22 محرم 1430 هـ]

` Istiqomah itulah asas kemuliaan dan kehormatan.

بيان كلمة الحق جهاد عظيم.[25 محرم 1430 هـ]

` Menerangkan kalimat haq adalah jihad yang agung.

إذا ترك الحق ولم يبينه للناس التبس الحق بالباطل.[25 محرم 1430 هـ]

` Kalau kebenaran dibiarkan begitu saja tanpa ada keterangan untuk manusia maka akan terjadi kerancuan antara kebenaran dengan kebatilan.

الدعوة تنصر بالطاعة. [27 محرم 1430 هـ]

` Dakwah ini tertolong dengan ketaatan.

لقد تعلمنا العزة والعفة. [27 محرم 1430 هـ]

` Sungguh kita telah terdidik dengan `izzah dan `iffah.

ما أريد أن يحبني حزبيون أريد أن يجبني الله ويحبني السنيون الصالحون الذي محبتهم على الصواب.[21 صفر 1430 هـ]

` Aku tidak ingin dicintai oleh hizbiyyun, aku ingin dicintai oleh Alloh dan  sunni yang sholih yang kecintaan mereka itu berdasarkan kebenaran.


BAB 5

PUJIAN PARA ‘ULAMA TERHADAP ASY-SYAIKH YAHYÂ BIN ALI AL-HAJÛRÎ

-  (1ASY-SYAIKH MUQBIL BIN HÂDÎ AL-WÂDI’Î ROHIMAHULLÔH :

` Beliau (Asy-Syaikh Muqbil رحمه الله ) berkata dalam muqoddimah kitab “Ahkâmul Jum’ah” :

فقد اطلعت على كتاب الجمعة للشيخ يحيى بن علي الحجوري، فوجدته كتابًا عظيمًا فيه فوائد تشد لها الرحال، والشيخ يحيى ‑ حفظه الله ‑ في غاية من التحري، والتقى، والزهد والورع وخشية الله وهو قوال بالحق، لا يخاف في الله لومة لائم: وهو ‑ حفظه الله ‑ قام بالنيابة عني في دروس دار الحديث بدماج يلقيها على أحسن ما يرام.. ثم قال: ‑ فجزى الله أخانا الشيخ يحيى خيرًا‑ وهنيئًا له لما حباه الله من الصبر على البحث والتنقيب عن الفوائد الحديثية والفقهية فهو كتاب أحاديث وأحكام.

“Aku telah melihat kitab “Al Jum’ah” karya Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuri -hafidhahulloh- maka aku mendapatinya sebagai suatu kitab yang agung. Di dalamnya ada faidah-faidah yang pantas untuk dicari walaupun dengan perjalanan yang sungguh-sungguh. Dan Syaikh Yahya -hafidhahulloh- berada pada puncak kehati-hatian dalam memilih, taqwa, zuhud, wara’, dan takut pada Alloh. Dan beliau adalah orang yang sangat berani dalam mengemukakan kebenaran, tidak takut -karena Alloh- celaan orang yang mencela. Dan beliaulah -hafidhahulloh- yang menjadi penggantiku dalan penyampaian durus (pelajaran-pelajaran) di Darul Hadits di Dammaj, beliau menyampaikannya dengan cara yang terbaik yang kita inginkan … maka semoga Alloh membalas  saudara kita Syaikh Yahya dengan kebaikan. Dan selamat baginya atas apa yang dikaruniakan Alloh padanya berupa kesabaran dalam bahts (penelusuran suatu masalah), penjelajahan faidah hadits dan fiqh. Kitab ini adalah kitab hadits dan fiqh.” (muqoddimah kitab “Al Jum’ah wa Bida’uha”/Fadhilatusy Syaikh An Nashihul Amin Yahya bin Ali Al Hajuri hafidhahulloh-)

` Dan beliau -rohimahulloh- berkata dalam muqoddimah kitâb “Dhiyâ’us Sâlikîn” : “Telah dibacakan kepada saya sebagian dari risâlah safar yang telah ditulis oleh saudara kita Asy-Syaikh Al-Fâdhil Az-Zâhid (yang zuhud) Al-Muhaddits (Ahlul Hadîts) Al-Faqîh (Ahlul Fiqh)…… dan Al-Akh Asy-Syaikh Yahyâ, dia adalah sosok seseorang yang dicintai di kalangan saudaranya ahlus sunnah, karena mereka melihat pada dirinya berupa aqîdah yang baik dan kecintaannya kepada as-sunnah dan kebenciannya terhadap bid’ah dan hizbiyyah yang sangat mudah merubah kepribadian seseorang dan dia memberikan manfaat kepada saudaranya dari kalangan kaum muslimîn dengan fatwa-fatwa yang bersandarkan di atas dalîl.”

` Dan beliau (Asy-Syaikh Muqbil) berkata dalam muqoddimah kitâb “Islâhul Mujtama’” : “…….dan Al-Akh Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî, Alhamdulillâh -berkat keutamaan dari Allôh U- sungguh telah menjadi rujukan dalam pelajaran dan fatwa-fatwa. Saya memohon kepada Allôh U agar membalasnya dengan kebaikan dan agar memberikan berkah dalam ‘ilmunya, hartanya dan keluarganya….”

` Dan beliau (Asy-Syaikh Muqbil) berkata dalam muqodimmah kitâb “Ahkâmut Tayammum” : “Dan saya telah melihat apa yang ditulis oleh Asy-Syaikh Al-Fâdhil Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî dalam permasalahan tayammum, maka saya mendapatinya telah meletakkan di dalamnya faedah-faedah yang pantas bagi seseorang untuk rihlah (menempuh perjalanan) untuk mendapatkan faedah-faedah tersebut, yaitu berupa ucapan beliau tentang hadîts, rijâl sanad (orang-orang yang meriwayatkan hadîts) dan istimbâth (pengeluaran/penarikan hukum) dalam permasalahan fiqih, yang hal tersebut menunjukkan dalamnya ‘ilmu beliau di dalam ‘ilmu hadîts dan ‘ilmu fiqîh. Dan tidaklah berlebihan apabila saya katakan bahwa apa yang dia kerjakan dalam kitâb ini lebih dari apa yang dikerjakan oleh Al-Hâfidh Ibnu Hajar dalam kitabnya “Fathul Bâri” dalam bab ini (tayammum) berupa penjelasan tentang kedudukan hadîts dan tentang derajat (tingkatan) hadîts. dan bukan maksud saya bahwa Al-Akh Al-Fâdhil Yahyâ ‘ilmunya melebihi Al-Hâfidh (Ibnu Hajar) dalam ‘ilmu hadîts, akan tetapi Al-Akh Yahyâ lebih mutqin tentang apa yang dia tulis di dalam kitab syarah yang barokah ini, maksud saya “Syarah Al Muntaqa” karya Ibnu Al-Jarûd, dan barokah dari Allôh U  dan semoga Allôh U membalas semuanya dengan kebaikan.”

` Dan beliau (Asy-Syaikh Muqbil) berkata dalam muqoddimah kitâb “Fathul Wahhâb” :…. dan di zaman ini kita sekarang, para ‘ulamâ yang mereka berdiri di hadapan bid’ah-bid’ah ini, di antara mereka adalah Asy- Syaikh ‘Abdul Azîs bin Bâz, dan Ayah kita Asy-Syaikh Muhammad Nâshiruddin Al-Albânî…. Dan di Yaman sejumlah ‘ulamâ yang diberkahi oleh Allôh U, Asy-Syaikh Abdul ‘Azîs Al-Burô’î,…..(lalu beliau menyebutkan sejumlah ‘ulamâ Yaman)…..dan di antara mereka adalah Asy-Syaikh Al-Fâdhil As-Sunnî As-Salafî yang terus-menerus dars-dars (pelajaran-pelajaran) dan kitâb-kitâb beliau memerangi kebid’ahan, dan sesungguhnya tulisan (kitâbnya) ini berupa penjelasan tentang bid’ahnya mihrob adalah bukti terbesar atas hal itu. Dia adalah Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûri, semoga Allôh U memberkahinya dan usahanya dalam memerangi kesyirikan dan kebid’ahan. Dan semoga Allôh U mencegah terhadap diri kita dan dirinya segala kejahatan dan segala yang dibenci.”

` Dan beliau berkata dalam tarjamah beliau, tatkala beliau menyebutkan murid-murid beliau, dan di antara mereka adalah “Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî, Abu ‘Abdirrohmân termasuk di antara yang hâfidh Al-Qur’ân dan mustafîed dalam berbagai cabang ‘ilmu, dan saya telah mendengar sebagian pelajaran-pelajarannya yang menunjukkan istifâdahnya dan dia kuat dalam tauhîd.”

` Dan beliau berkata dalam muqoddimah kitab “Ash-Shubuhu Asy-Syâriq”: “Saya kagum dengan dia, seorang bâhits (orang yang mempunyai kemampuan dan kesehariannya membahas pemasalahan dari kitâb-kitâb para ‘ulamâ) yang mengumpulkan catatan-catatan faedah, baik dalam fiqih, hadîts dan tafsîr.” Dan maha benar Allôh U tatkala berfirman :

$pkš‰r’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä bÎ) (#qà)­Gs? ©!$# @yèøgs† öNä3©9 $ZR$s%öèù öÏeÿs3ãƒur öNà6Ztã öNä3Ï?$t«Íh‹y™ öÏÿøótƒur öNä3s9 3 ª!$#ur rèŒ È@ôÒxÿø9$# ÉOŠÏàyèø9$# ÇËÒÈ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian bertakwa kepada Alloh, maka Alloh akan menjadikan bagi kalian furqon (untuk membedakan antara yang haq dan yang bathil)” [9]

Dan Allôh U juga berfirman :

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qà)®?$# ©!$# (#qãZÏB#uäur ¾Ï&Î!qߙtÎ/ öNä3Ï?÷sムÈû÷,s#øÿÏ. `ÏB ¾ÏmÏGyJôm§‘ @yèøgs†ur öNà6©9 #Y‘qçR tbqà±ôJs? ¾ÏmÎ/ öÏÿøótƒur öNä3s9 4 ª!$#ur ֑qàÿxî ×LìÏm§‘ ÇËÑÈ

“Wahai orang orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allôh dan berimanlah kepada Rosûl-Nya, maka Allôh akan memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmat-Nya dan menjadikan bagi kalian nur yang kalian berjalan di atasnya.” [10]

Dan Asy-Syaikh Yahyâ, Allôh U bukakan baginya ilmu karena berpegangteguhnya dia dengan kitabullôh dan sunnah Rosûlullôh r.”

` Wasiat Asy-Syaikh Al-Imâm Al-‘Allâmah Al-Mujâhid Muqbil bin Hâdî Al-Wâdi’î: “Dan saya wasiatkan kepada mereka (kerabat beliau dari penduduk Dammâj) terhadap Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî untuk berbuat baik dan agar jangan ridhô dengan diturunkanya beliau dari kursi karena beliau adalah An-Nâshihul Amîn (penasehat yang terpercaya)”

` Dan berkata Al-Akh ‘Abdullôh Al-Mâthir :

سألت الشيخ – يعني الإمام الوادعي- وأنل والله ليس بيني وبينه إلا الله عز وجل, وأنا في غرفبه على سريره الذي ينام عليه. فقلت: يا شيخ إلى من يرجع إليه الإخوة في اليمن؟ ومن هو أعلم واحد في اليمن؟ فسكت الشيخ قليلا ثم قال: الشيخ يحيى. هذا الذي سمعته من الشيخ . وهذا ليس معناه أننا نتنقص علماء اليمن. فإنا نحبهم ونجلهم في الله ..إلخ

“Dan sungguh saya pernah bertanya kepada Asy-Syaikh Muqbil, dan kami demi Allôh U, tidak ada antara saya dengan beliau kecuali Allôh U, dan kami berada di kamar beliau diatas tempat tidur beliau yang beliau tidur di atasnya, kemudian saya katakan kepada beliau: “Wahai Syaikh, kepada siapa ikhwan ahlus sunnah di Yaman merujukkan urusan-urusan mereka dan siapakah orang yang paling berilmu di Yaman?” maka Asy-Syaikh Muqbil terdiam sebentar dan berkata: “Asy-Syaikh Yahyâ.”

Ini yang saya dengar dari Asy-Syaikh Muqbil, dan bukanlah maksud di sini bahwa kami menjatuhkan ‘ulamâ-‘ulamâ Yaman, karena sesungguhnya kami memuliakan dan mencintai mereka karena Allôh U.” [11]

(2 – ASY-SYAIKH ROBÎ’ BIN HÂDÎ AL-MADKHOLÎ HAFIDHOHULLÔH:

` Berkata Asy-Syaikh Robî‘ bin Hâdî yang dinukilkan oleh Asy-Syaikh Abu Hammâm Al-Baidhônî : “Dan keyakinan yang dengan saya beragama kepada Allôh Azza wa jalla adalah bahwasanya Asy-Syaikh Yahyâ adalah seorang ahlut taqwa dan waro’ dan zuhud (dan beliau memuji Asy-Syaikh Yahyâ) kemudian beliau mengatakan : “dan beliau telah memegang dakwah salafiyah dengan tangan yang sangat kokoh dan tidaklah pantas untuk memegangnya kecuali dia dan orang-orang semisalnya. sampaikan salamku kepada Al-Wushôbî (Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb Al-Wushôbî) dan Al-Hajûrî (Asy-Syaikh Yahyâ) dan saudara-saudaranya (ahlus sunnah) dan katakan kepada mereka bahwa walau datang kepadaku siapapun dia, saya tidak akan mendengar kalam tentang mereka, (yang) menjelekkan mereka, sampai-sampai kalaupun mereka datang kepadaku dengan kalam sebesar gunung Makkah, maka saya tidak akan membuka telinga saya untuk itu. Bagaimana bisa saya berbicara terhadap orang yang menginjak dunia dengan kaki-kaki mereka sementara manusia berkumpul pada dunia tersebut, bahkan mereka mengusir jam’iyyah hizbiyyah yang memecah belah umat dan mengusir bid’ah dan kemudian saya berbicara (menyudutkan mereka), ini tidak masuk akal.” [12]

` Mengabarkan kepada kami Asy-Syaikh Abu Hammâm Al-Baidhôni, berkata Asy-Syaikh Al-‘Allâmah Robî‘ bin Hâdî: “Saya tidak mengetahui satu tempatpun yang cocok untuk ‘ilmu seperti Dammâj, hal itu dikarenakan seorang yang shôlih pergi ke Dammâj dan tinggal dalam waktu yang singkat kemudian datang kepada kita dengan ‘ilmu yang banyak.”)

` Kemudian As-Syaikh Abu Hammâm berkata : “Dan sekarang 17 Sya’ban 1428 H beliau Asy-Syaikh Robîmenulis sebuah kitâb tentang para ‘ulamâ besar yang telah terdahulu, bagaimana mereka dahulu menjaga sunnah dan beliau memperlihatkannya kepadaku, kemudian berkata : “Ini saya tulis untuk orang-orang semisal thôlibul ‘ilmi di Dammâj, karena sesungguhnya saya tidak mengetahui ada yang seperti mereka dalam menjaga sunnah.”

Ini beliau (Abu Hammâm) sampaikan lewat tulisan yang dia tulis di tempat pertama dari kitab majmû’ rosâil tulisan Asy-Syaikh Ahmad An-Najmi yang beliau kumpulkan dan bagi-bagikan.

` Berkata Al-Akh Samir sebagaimana dalam Risâlah “Ahlu Jaddah” yang disampaikannya kepada Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî : “Aku berkata kepada Asy-Syaikh Robî’ bahwa pengikut Abul Hasan Al-Mishri mengatakan bahwa di Yaman tidak ada ‘ulamâ, maka Asy-Syaikh Robi’ mengatakan : “Asy-Syaikh Muhammad siapa dia ??? Asy-Syaikh Yahyâ siapa dia ??? dan selain dari keduanya dari saudara-saudara mereka” [13]

` Dan Asy-Syaikh Robi’ -hafidhohullôh-  berkata pada tanggal 11 Syawal 1428 H: “Asy-Syaikh Yahyâ -hafidhohullôh ta’âla- akan pantas untuk menjadi imâm di alam ini dengan seidzin Allôh ta’âla.” [14]

` Dan Asy-Syaikh Robî’ -hafidhohullôh- berkata dua bulan kemudian (Dzul Hijjah/1428 H): “Semoga Allôh membalas dengan kebaikan kepada Asy-Syaikh Yahyâ -hafidhohullôh- yang telah mengusir orang-orang fâjir (jahat) itu.” [15]

3)-ASY-SYAIKH MUHAMMAD BIN ‘ABDUL WAHHÂB AL-WAHOÔBÎ AL-‘ABDALÎ  HADAHULLÔH:

` Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhâb Al-Wushôbî Al-‘Abdalî, sebagaimana hal ini dinukilkan oleh Asy-Syaikh Yahyâ dalam dars beliau, tatkala Asy-Syaikh Muhammad berkata kepada beliau : “Dakwah salafiyah selalu diincar dan engkau wahai Abâ Abdirrôhman (Asy-Syaikh Yahyâ) adalah orang yang pertama diincar.”

` Dan beliau (Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhâb) juga berkata: “….maka semoga Allôh membalas Asy-Syaikh Al-Fâdhil, Al-Muhaddits, Al-Faqîh pengganti Asy-Syaikh Muqbil di markiznya dengan kebaikan atas yang dia berikan untuk dakwah.”

` Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, : “Demi Allôh bahwasanya termasuk anugrah dari Allôh kepada diriku adalah Asy-Syaikh Muqbil tidak mewasiatkan markiz Dammâj kepadaku. Kalau seandainya Asy-Syaikh Muqbil mewasiatkan itu kepadaku, maka sungguh saya berada di antara dua gunung yang besar, yang salah satu dari kedua wasiat tersebut adalah wasiat Asy-Syaikh Muqbil  dan yang kedua bahwasanya diriku tidak pantas untuk menempati tempat ini (Dammâj) dan sesungguhnya (Dammâj) tidak pantas kecuali untuk Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî, beliau adalah orang yang ahli dan pantas untuk mendudukinya.” [16]

4)-ASY-SYAIKH MUHAMMAD AL-IMÂM HAFIDHOHULLÔH:

` Asy-Syaikh Muhammad Al-Imâm berkata : “Tidak seorangpun yang mencela Asy-Syaikh Al-‘Allâmah Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî kecuali dia seorang yang jâhil atau pengikut hawa nafsu.” [17]

` Asy-Syaikh Muhammad Al-Imâm berkata : “Tidaklah pantas untuk melakukan Jarh wa Ta’dil di zaman ini kecuali Asy-Syaikh Robî’ dan Asy-Syaikh Yahyâ” [18]

` ‘Abdullôh Ad-Dhuba’î -hafidhohullôh- pernah mendengar Asy-Syaikh Muhammad Al-Imâm berbicara tentang keluar untuk da’wah. Maka salah seorang hadirin berkata, “Wahai Syaikh, Syaikh Yahyâ tidak keluar dakwah?” Maka Syaikh Muhammad Al-Imâm berkata: “Tunggu dulu, Al-Hajûrî Imâm.” [19]

5)- ASY-SYAIKH ‘ABDUL ‘AZÎS AL-BURÔ’Î HAFIDHOHULLÔH :

`Berkata Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Azîs Al-Burô’î : “Dan Asy-Syaikh Yahyâ adalah salah seorang singa (pahlawan) dari singa-singa sunnah, mahkota di atas kepala ahlus sunnah.” [20]

` Berkata Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Azîs Al-Burô’î : “Dan kami menganggap bahwa barangsiapa yang berbicara terhadap Asy-Syaikh Yahyâ, maka dia telah berbicara terhadap kami (Para ‘ulamâ Yaman) Dan barangsiapa yang berbicara terhadap Dammâj, maka dia telah berbicara terhadap kami semua.” [21]

`Dan beliau (Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Azîs Al-Burô’î) berkata : “Asy-Syaikh Yahyâ adalah  pertanda atau tahi lalat  di wajah ahlussunnah dan mahkota di atas kepala mereka.” [22]

6) -ASY-SYAIKH AHMAD BIN YAHYÂ AN-NAJMÎ ROHIMAHULLÔH :

` Asy-Syaikh Ahmad An-Najmî ditanya : “Apa pendapat Asy-Syaikh tentang orang yang berbicara terhadap para masyâyikh (para ‘ulamâ) berikut ini : Asy-Syaikh Robî’ bin Hâdî Al-Madkholî, Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb, Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî ?” Beliau menjawab : “Barangsiapa yang berbicara terhadap ahlus sunnah dan para pembawa manhaj salafî, maka hal itu adalah dalîl/bukti yang menunjukkan bahwa dia adalah seorang ahlul bid’ah. Dan para ‘ulamâ tersebut, kita meyakini bahwa mereka adalah ahlus sunnah dan bermanhaj salafî, dan tidaklah kita mentazkiyah mereka atas Allôh U. Bahkan kita meminta kepada Allôh U kekokohan dan pemantapan bagi semua untuk setiap kebaikan. Dan kita berdoa kepada Allôh U yang maha agung untuk menjaga mereka dari setiap kejelekan dan dari hal hal yang dibenci.”[23]

7)- ASY-SYAIKH JAMÎL ASH-SHILWÎ -HAFIDHOHULLÔH-   :

Saat mengajar di dars umum beliau berkata: “Orang yang mencela Asy-Syaikh Yahyâ dia itulah yang pantas dicela. Hal itu dikarenakan Asy-Syaikh Yahyâ itu berbicara karena Allôh U dan agama Allôh U. Sementara salah seorang dari kita terkadang tidak berani untuk berbicara tentang sebagian perkara. Dan beliau itu telah Allôh U persiapkan untuk mengurusi perkara ini, mengajar, menulis dan menyelesaikan problem-problem ummat yang sangat banyak. ” [24]

` Sekelompok Ulama Yaman  menyatakan :….Dan perkataan Asy-Syaikh Yahyâ (dalam fitnah ini) bukanlah merupakan pemicu untuk terjadinya perpecahan di tengah-tengah dakwah Salafiyah,…….Kami mensyukuri (berterima kasih) atas apa-apa yang telah dilakukan oleh Asy-Syaikh Yahyâ, berupa khidmat, dan pembelaan beliau terhadap dakwah Salafiyah. Karena beliau (Asy-Syaikh Yahyâ) tidaklah berbicara karena adanya rasa hasad dan tidak pula karena rasa dendam dan tidak pula karena ingin menjatuhkan seseorang dari kalangan Ahlus Sunnah. Akan tetapi yang mendorong beliau untuk berbicara adalah rasa cemburu terhadap Sunnah dan Ahlus Sunnah. (Dan pernyataan ini mereka nyatakan di awal-awal fitnah ‘Abdurrohman yaitu ketika mereka (para ‘ulamâ Yaman) mengadakan pertemuan di Ma’bar)  [25]

8)- ASY-SYAIKH ABU ABDIS SALÂM HASAN BIN QÔSHIM AR- ROIMÎ -hafidhohullôh-

(salah seorang murid Imâm Al-Albânî -rohimahullôh-, penulis kitâb “Irsyâdul Bariyah” dan lainnya) ketika berbicara tentang makar Ibnai Mar’î dan pengikutnya terhadap Syaikh Yahyâ -hafidhohullôh-, beliau berkata: “.. maka mereka menggunakan seluruh yang mereka miliki yang berupa perlengkapan, kekuatan, pengkaburan, penipuan  dan, pemutarbalikan fakta. Mereka dengan  itu semua menginginkan untuk menjatuhkan “Al-Jabalul Asyam” (gunung yang menjadi simbol) tersebut, dan baju besi yang aman -dengan seidzin Allôh- bagi dakwah ini yang ada di Dammâj Al-Khoir, beliau dan para masyâyikh utama yang bersamanya.” [26]

/////

SEBAGIAN KARYA TULIS ASY-SYAIKH YAHYÂ BIN ‘ALÎ AL-HAJÛRI

` Al-Mabâdi Al-Mufîdah fi At-Tauhîd wa Al-Fiqh wa Al-Aqîdah.

` As-Shubuhu Asy-Syâriq fi Ar-Rodd ‘alâ Dholâlât ‘Abdul Majîd Az-Zandâni fî Kitabihî tauhîd Al-Khôliq.

` Al-Hujaj Al-Qôthi’ah ‘alâ anna Ar-Rowâfidh dhiddu Al-Islâm ‘alâ mumar Ad-Duhûr bilâ mudâfa’ah.

` Ahkâm Al-Jumu’ah wa Bida’ihâ.

` Taudhîh Al-Isykâl fî Ahkâm Al-Luqthoh wa Adh-Dhiwâl.

` Ahkâm wa Âdâb Al-Musâfirîn.

` Ahkâm At-Tayammum.

` Hasyd Al-Adillah ‘alâ Anna Ikhtilâth Ar-Rijâl wa An-Nisâ wa Tajnîdihinna min Al-Fitân Al-Mudhillah.

` Fath Al-Wahhâb fi Hukm Al-Bushôq fi Al-Qublah wa hukum Al-Muhârib.

` Kasyf Al-Wa’tsâ bi Zajr Al-Khubtsâ Ad-Dai’în ilâ Musâwât Adz-Dzakar wa Al-Untsâ.

` Al-As ilah Asy-Sya’riyah.

` Ithâf Al-Kirôm bi ajwibah Az-Zakât wa Al-Hajj wa Ash-Shiyâm.

` Fatawâ Haulâ Ad-Dirôsah Al-Ikthilâthiyah.

` Al-Ajwibah As-Saniyah fî Kasyfi ba’dho abâthîl Ash-Shûfiyah.

` Nashîhah littujjâr bilbu’di an Nasyr Al-Adhrôr.

` Ar-Riyâdh Al-Mustathôbah fî Mafârîd Ash-Shohâbah.

` An-Nashîhah Al-Mahtûmah lî Qodhôt As-Su’ wa ‘Ulamâ Al-Hukûmah.

` Al-Lumâ’ ‘alâ Kitâb Ishlâh Al-Mujtama’.

` Kasyf At-Talbîs wa Al-Kadzib fî Qoul Ash-Shûfiyah Lâ Yûjad Syirk fî Jazîrotul ‘Arob.

` Syar’iyyah Ad-Du’â ‘alâ Al-Kafirîn wa Ar-Rodd ‘alâ Al-Qordhôwî Al-Muhîn.

` Iryâsd dzawî Al-Fathon limâ fî Ikhthilâth Al-Jamâ’îy min Al-Fitan.

` Tahdzîr An-Nubalâ min At-Tasyabbuh bi An-Nisâ.

` Tarbiyah Al-Banîn.

` Masyâhidatîy fî Barîthôniyâ.

` Ahkâm Al-Janâiz.

` Ahkâm Al-Hadyu wa Al-Adhôhî.

` Syar’iyyah An-Nush wa At-Tahdzîr min Du’ât At-Taghrîr.

` At-Thobaqôt limâ hashola ba’da maut Al-Wadi’î min Al-Hâlât.

` Al-Wasâil Al-Khofiyyah li Dhorbi Ad-Da’wah As-Salafiyah.

` Ats-Tsawâbit Al-Manhajiyyah.

` Jalsah Sâ’ah fî Ar-Rodd ‘alâ Muftîy Al-‘Idzâ’ah.

` Al-Adillah Az-Zakiyyah fî Bayân Aqwâl Al-Jufrî Asy-Syirkiyyah.

` As-Sail Al-‘Arîdh Al-Jârif li ba’dhi Dholâl Ash-Shûfîy ‘Umar bin Hafîdh.

` Al-Badr At-Tamâm fî Risâ Syaikhul Islâm Muqbil bin Hâdi Al-Wâdi’î Rohimahulloh.

` Al-Hatstsu wa At-Tahrîdh ‘ala Ta’allum Ahkâm Al-Marîdh.

` Tahqîq Muqoddimah Sunan Ad-Dârimî “Al-‘Urf Al-Wardîy”.

` Tahqîq Akhlâq Al-‘Ulamâ lil Âjurî.

` Tahqîq Wushûl Al-Amânîy bi Ushûl At-Tahâni lis As-Suyûthî.

` Al-Arba’ûn Al-Hisân fi Al-Ijtimâ’ ‘alâ Ath-Tho’âm.

` Syarh Kitâb Al-Muntaqô.

` At-Tahdzîr min Aham Ash-Showârif ‘an Al-Khoirôt.

` Qurroh Al-‘Uyanain bi Ajwibah Fatâwâ Ash-Shoyâdîn.

` Al-Ittihâfât bi Talkhîsh Al-Hâwî li As-Suyuthî Rohimahulloh wa Bayân mâ fîhi min Asy-Syathohât.

` Syarh Lâmiyah ibnu Al-Wardiy.

` Fatâwâ Al-Qowwât Al-Muslihah.

` Fatâwâ fi Khurûj Al-Mar ah li Ad-Da’wati ilalloh.

` Fatâwâ Al-Athibbâ wa Athibb.

` Al-Iftâ li As ilah Al-Wâridah min Daula Syattâ.

` Istikhrôj Al-Ahâdîts Al-Mu’allah min As-Sunan Al-Kubrô li Al-Baihâqi.

` Ar-Rodd ‘alâ Ahmad bin Nashrulloh, fî Intiqôdatih ‘alâ kitâb Ash-Shohîh Al-Musnad.

` Fahrosah ‘ilal Ad-Dâroquthni.

` Ikhtishôr Al-Bidâyah wa An-Nihâyah.

` Shôlih Al-Bâkri Al-Maftûn.

` Tahqîq Fath Al-Bâri Syarh Shohîh Al-Bukhorî, ma’â majmû’ah mina thullâb.

` Tahqîq Risâlah mâ lâ yatsbut fîhi hadîts, lil Fairuz Âbadî.

` Tahqîq Sunan Al-Baihâqî Ash-Shughrô.

` Syarh Ushûl Ats-Tsalâtsah.

` Syarh Al-‘Aqîdah Al-Wâsithiyyah.

` Syarh Al-Baiqûnî.

` Syarh At-Taqrîb wa At-Taisîr li Ma’rifah Sunan Al-Basyîr An-Nadzîr.

` Syarh Al-‘Aqîdah Ath-Thohâwiyah.

` Syarh Ar-Risâlah Al-Wâfiyah.

` Syarh Kitâb At-Tauhîd.

` Syarh Mulhah Al-‘Irôb.

` Syarh wa Tahqîq Muqoddimah Sunan Ad-Dârimî.

` Lâmiyah Syaikhul Islâm.

` Syarh Al-Qoiruwâniyah.

` Syarh As-Safârîniyyah.

` Syarh Al-Arba’ûn An-Nawâwiyah.

` At-Tabyîn li Juhhâlât Ad-Duktûr Ahmad bin Nashrulloh.

` Adhrôril Al-Hizbiyyah ‘alâ Al-Ummah Al-Islâmiyyah.

BAB 7

MENGENAL PARA ‘ULAMÂ DÂRUL HADÎTS DAMMÂJ :

Dârul Hadîts Dammâj seakan-akan tanah yang gembur yang selalu menghasilkan buah dan panenan yang memberi manfaat kepada makhluq yang tak henti-hentinya , setiap kali pupus tumbuh lagi yang baru dan seterusnya sebagaimana firman Alloh I:

+ وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ وَالَّذِي خَبُثَ لَا يَخْرُجُ إِلَّا نَكِدًا _ [الأعراف/58]

  “ Dan negri yang baik(subur dan gembur) selalu mengeluarkan tumbuhannya dengan izin Robnya, sedangkan tanah yang jelek (gersang) tidaklah  mengeluarkan hasil kecuali tumbuhan yang jelek.”

Demikianlah halnya Dârul Hadîts Dammâj setiap kali orang yang dianggap mumpuni pergi atau hilang, tumbuhlah yang lainnya yang lebih bagus dan bermanfaat.

Oleh karena itu kami perlu menyebutkan para masyayikh Dârul Hadîts Dammâj sebagai sanggahan kepada para pembual yang jelek prasangkanya terhadap Dârul Hadîts Dammâj bahwa setelah pergi para mustafied atau diusir dari Dârul Hadîts Dammâj, Dammaj akan hilang dan sirna bahkan akan menjadi kandang kambing atau sapi, tidak sadar dia bahwa dien ini milik Alloh dan Dia yang menjaga agamaNya.

Mereka itu  adalah :

` ASY-SYAIKH AHMAD AL-WUSHÔBÎ AL-IMAM HAFIDHOHULLÔH :

Beliaulah –Asy Syaikh Abu Muhammad Ahmad Al Wushoby Al Imam -hafizhohulloh- yang semenjak zaman Asy-Syaikh Muqbil bin Hâdî mengurus segala operasional ma’had Dârul Hadîts Dammâj. Selain itu beliau adalah Imâm tetap Sholat 5 waktu di masjid Dârul Hadîts Dammâj. Beliau adalah termasuk orang yang hapal Al-Qur’ân dan juga kitâb Lu’lu wal Marjân sebagaimana hal itu disebutkan dalam tarjamah Asy-Syaikh Muqbil bin Hâdî. Kesibukan beliau mengurusi kebutuhan ma`had tidak melalaikan hapalan dan ibadah bahkan di sela-sela kesibukan beliau mengurus ma’had, beliau juga terkadang mengajar pelajaran, sebagaimana tahun ini beliau sempat menyelesaikan dua pelajaran yaitu : Lum’atul I’tiqôd dan Syarah Aqîdah Wâsithiyyah.

` ASY-SYAIKH JAMÎL AS-SHULWÎ HAFIDHOHULLÔH :

Beliaulah yang menggantikan Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî Hafidhohullôh dalam pelajaran umum apabila beliau berhalangan untuk mengajar, dan pernah diutus beliau ke negri Habasyah untuk da`wah disana beberapa pekan.

Beliau terkenal dengan sikapnya yang tawâdhu’, tenang, selalu berpakaian rapi dan senang menyebarkan salâm. Asy-Syaikh Yahyâ pernah mengatakan bahwa Asy-Syaikh Jamîl telah mencapai puncak dalam Adab. Asy-Syaikh Yahyâ juga mengabarkan di majelis umum bahwa Asy-Syaikh Jamîl pernah berkata kepada beliau (secara makna): “Seandainya engkau ya Syaikh (Syaikh Yahyâ) memerintahkan kami untuk menyapu jalan, maka akan kami kerjakan.”

Dan Syaikh Yahya pernah berkata di hadapan kami semua:” Wahai syaikh Jamil, di manapun engkau berada orang akan mengambil faedah darimu”. Beliau juga berkata,”Asy-Syaikh Jamil dan Asy Syaikh Muhammad bin Hizam pantas untuk dimintai fatwa.”

Beliau juga mengajar Syarah Aqîdah Thohâwiyah Ibnu Abiel ‘Izz.

Beliau memiliki beberapa karya tulis, di antaranya yaitu :

` Jâmi’us Shohîh fiz Zuhud.

`Fathu Arhâm Rohimin fi Bayân shifatul munafiqîn

`Tahqîq Syarah Aqîdah Wasithiyah, Kholîl Haras.

`Tahqîq Hadîts “Al-Qodariyah, Majûsi Hâdzihil Ummah”.

`Tahqîq Hadîts “Iftiroqul Ummah”.

`Tahqîq Hadîts ” Irbâdh bin Sariyah

Dan karya tulis lainnya.

` ASY-SYAIKH ABU ‘AMR ABDUL KARIM BIN AHMAD  AL-HAJÛRÎ HAFIDHOHULLÔH :

Beliau mumpuni dalam bidang ‘aqidah, manhaj, adab, hadits dan lainnya. Beliau pernah diutus Asy-Syaikh Yahyâ ke negeri India untuk berdakwah dan baru-baru ini bersama Asy-Syaikh Zâyid Al-Wushôbî beliau kembali berangkat untuk berdakwah ke negeri Shomalia dan Djibouti. Asy-Syaikh Yahyâ sendiri mengatakan berulang-ulang, “Apabila ada pertanyaan atau masalah tanyakanlah ke Asy-Syaikh Jamîl, Asy-Syaikh Zâyid atau Asy-Syaikh Abu ‘Amr”.

Karya tulis beliau sangat banyak, kita hanya akan sebutkan beberapa saja :

` Tarbiyatul amânibil ifrodi Shohîh Imâm Bukhôrî.

`Ad-Da’watu salafiyah.

`Tahqîq Lu’lu Wal mârjan.

`Tahqîq ‘Umdahtul Ahkâm.

`Ikhtishor Shohîh Bukhôrî.

`Ikhtishor Shohîh Muslim.

`Jâmi’us shohîh fî tauhîd.

`Aqîdah Islâmiyah Shohîhah.

`Thufan ala ‘ibadhiyyatil ‘Omman

`Ni’matul manân fî tafsir kalimatil qur’ân.

`Al Qô‘idah ila hal masâ‘il ar rô‘id.

`ASY-SYAIKH ZÂYID BIN HASAN AL-WUSHÔBÎ HAFIDHOHULLÔH :

Beliau adalah salah satu pengajar Fiqih di Dârul Hadîts Dammâj, saat ini beliau sedang mengajar kitâb Addarori seusai kitab ‘Umdatul Ahkâm. Beliau sering diutus oleh Syaikh Yahya keluar negri untuk berda`wah. Baru-baru ini beliau berangkat bersama Asy-Syaikh Abu ‘Amr berdakwah ke Negeri Shomalia danDjibouti.

Beliau memiliki beberapa karya tulis, di antaranya :

`Al-Jâmi’ul Ayât wal Al-hadits wal Âtsaril Farô’idh.

`Mukhtasor Shohîh Muslim (bersama Asy-Syaikh Abu Amr)

`Tarjamah Mu`ashirîn (Bersama Asy-Syaikh Abu Amr)

`Ta`liq Addaroori.

`Ta’lîq ‘Umdahtul Ahkâm.

` ASY-SYAIKH ABUL HASAN ‘ALÎ BIN AHMAD AR-RÔZIKHÎ HAFIDHOHULLÔH :

Beliau terkenal dekat dengan santri, waktunya banyak dihabiskan di perpustakaan. Beliau mumpuni dalam beberapa bidang ilmu, terutama dalam mustholah. Beliau sekitar setahun yang lalu juga pernah diutus oleh Asy-Syaikh Yahyâ untuk berdakwah ke negaraEthiopia.

Beliau memiliki puluhan karya tulis, diantaranya :

` Hisnul Muchtâr

` Fathul Latîef

` Taudhîh Nabâ‘ an Muassisasy Syîah Abdulloh bin Saba’

` Jâmiu’us Shohih fi; Ahkâmil Lihyah.

` Al-Hasad wa Qhosos Hâsidîn.

` Tholabatul Jannah.

` Mukhtashor Alfiyah Sûyuthî.

` Syarah Bâitsul Hatsîs.

` Al-Mukhtashor fil Mustholah ahlil Atsar.

` Al-Madkhol ilal ‘ilmi Mustholah. Dan puluhan karya lainnya

` ASY-SYAIKH MUHAMMAD BIN ‘ALÎ BIN HIZÂM AL-BA’DANΠ HAFIDHOHULLÔH :

Usianya masih muda tapi terkenal dengan kecerdasan dan istimbâth yang kuat. Sosoknya pendiam dan tenang tapi kalau sudah bebicara masalah hadits atau fiqh bahkan masalah aqidah maka dialah pakarnya. Telah berkata Asy-Syaikh Yahyâ (secara makna) :Syarah Bulûghul Marôm Asy-Syaikh Muhammad bin Hizâm lebih kuat dari sisi hadîts dan masâil dari Syarah karya Asy-Syaikh Ibnu Jibrîn. Sebelum mengajar Fiqîh beliau pada awalnya mengajar ‘ilmu Mustholah Hadîts, dan saat ini beliau mengajar Fathul Majîd Syarah Kitâbut Tauhîd kemudian dilanjutkan dengan kitab Syarh Aqidah At-Thohawiyyah.

Karya tulis beliau, adalah :

` Tahqîq Bulûghul Marôm.

` Syarah Bulûghul Marôm.

` Tahqîq hadîts Qirô‘atul Sûratul Kahfi fil yaumil Jum’ah.

` Sifat Sholât Nabi.

` Fathul Manân fima shohha minal mansûkh fil qur’ân.

 ` ASY- SYAIKH ABDUL WAHHAB ASY – SYAAMIRI HAFIDHOHULLÔH .

Syaikh faroidl di Dammaj dan Qodhi resmi Dammaj cabang Sho`dah yang mengurusi segala urusan yang berkaitan dengan kemsyarakatan seperti urusan pernikahan, perceraian, surat-menyurat dll. Beliau memiliki karya tulis “Al–Faaidl fi Ilmi farooidh”.

 ` ASY –SYAIKH ABDUL HAMIID AL HAJURI HAFIDHOHULLÔH

Beliau memiliki istimbat yang menakjubkan dalam kitab dan sunnah, dan sikap tegas terhadap ahlul bid`ah, biasanya beliau mengajar aqidah, pernah diutus oleh Syaikh Yahya berda`wah keTanzaniadengan rekannya Husain Al- Khotibi selama empat puluh hari  dan karya tulisnya banyak, di antaranya:

` Tahqiq hadits Asmaulloh ghoiro mahshuroh.

` Al- Bayaan fiima ahyaahu Syaikh Muqbil min assunan.

 ` Al- Khiyanatud da`wiyyah.

` At-Tabyiin fi Akhtho’i man Hashshoro Asma’allohi..

` Risalah fi anna khuthbatil ‘Id Wahidah

` Al ‘ilaqoh bainal Ikhwanil Muslimin wad Dimuqrothiyyah

Dll.

` ASY – SYAIKH ABU BILAL KHOLID AL-HADHROMI AN- NAHWI HAFIDHOHULLÔH.

Beliau mumpuni dalam bidang nahwu sejak zaman Syaikh Muqbil رحمه الله  , suatu saat kami pernah diundang makan dalam acara walimah, di majlis kami waktu itu ada syaikh Jamil dan Syaikh Abu Bilal, ada salah seorang peserta sambil makan bertanya kepada Abu Bilal sebuah hadits yang ada kaitannya dengan nahwu, maka Abu Bilal langsung mengalihkan jawaban kepada Syaikh Jamil beliau berkata: “Syaikh Jamil itu guruku dalam nahwu aku belajar bersama beliau kitab Al – Kawakib”, lantas Syaikh Jamil menyela : “Antum ya Aba Bilal yang menjawab karena antum lebih mendalami masalah ini”.

Syaikh Abu Bilal memiliki karya tulis :

` Syarh Mushil Ath-Thullab

` Naqdhur Roddul Mansyud, dll.

` ASY – SYAIKH ABDUL KHOLIQAL-WUSHOBI HAFIDHOHULLÔH.

Beliau orator dan khotib yang mengagumkan, khotbahnya pendek tapi padat, bacaan AL–QUR’AN nya sangat merdu dan hafalannya sangat kuat, beliau yang menjadi imam tarowih di masjid Mazro`ah bersama Al-Akh Zakariya Al-Yafi`i. Beliau memiliki beberapa karya tulis, di antaranya adalah : Mukholafatusy Syafi`iyyah Lisy-Syaafi`i.

` ASY–SYAIKH MUHAMMAD BIN HUSAIN AL ‘AMUDI HAFIDHOHULLÔH.

Beliau adalah salah seorang pengajar ‘Aqidah dan terkenal rendah hati, murah senyum, cerdas, dikaruniai Alloh kekuatan menulis yang sangat bagus, dan kemampuan adu argumentasi yang tinggi, bersamaan bahwasanya beliau itu tidak banyak bicara.

Di antara karya tulis beliau adalah:

` Ruqyatul Mardho min Hizbiyyah ..

` Silsilatuth Tholi’ah 1-6

` Syarorotul lahab 1-5

` Zajrul ‘Awi 1-3

` Ad Da’watus Salafiyyah bil Yaman

` Iqozhul Wisnan

` Silsilatu Nasyrish Shoha’if.

`  ‘Uqubatut Takhodzil

` Ar Rudud ‘alasy Syaikh ‘Ubaid Al Jabiry dll

BAB 8
PENGAJAR WANITA DÂRUL HADÎTS DAMMÂJ

` UMMU’ ‘ABDILLAH BINTU ASY-SYAIKH MUQBIL BIN HÂDI AL-WÂDI’ÎYYAH -hafizhohalloh-

Pengajar wanita paling senior di Dârul Hadîts Dammâj, sudah tidak asing lagi bagi seluruh salafiyyin di penjuru dunia. Karya tulis beliau di antaranya :

` Shohîhul Musnad fî masâil Muhammadiyah.

` Nashîhatî linnissâ.

` Nubdzah Mukhtashoroh ‘an hayatil Wâlidîy.

` Shohîhul Musnad min Sîroh Nubuwah..

` Al-Jâmi’ fil ilmi wal adab.

` UMMU SALAMAHAL-` ABBASIYAH  -hafizhohalloh-

 Beliau adalah janda mendiang Asy-Syaikh Muqbil, kemudian diperistri oleh Asy-Syaikh Ahmad Al-Wushôbî. Karya tulis beliau :

` Tahdzîr Al Fatâhil Afîfah min Talbîsah A-Zindânî Al-Khobîtsah.

` Ar Rihlatil Akhyaroh li Imâm Jazîroh.

` Al-Jâmi’us Shohîh fil Faroj ba’dasy Syiddah.

` An Nahwu lilmubtadiin.

` Al-Intishôr li Mu’minât.

` UMMU SYU’AIB AL WADI’IYAH -hafizhohalloh-

Beliau juga adalah janda mendiang Asy-Syaikh Muqbil bin Hâdî Al-Wâdi’î, kemudian diperistri oleh Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî. Karya tulis beliau:

` Shohîhul Musnad min Fadhôil ahli baitil Nubuwah.

` Shohîhul Musnad fil Adab.

` UMMU ‘AMR -hafizhohalloh-

Karya tulis beliau :

# Bulûghul Hujjah fi Sitri Wâhidah.

# Shohîhul Musnad minal ahkâmil nisâ’.

# Shohîhul Musnad minal ahâdits nisâ’.

# UMMU ‘ABDILAHAS-SIRÔJIYAH -hafizhohalloh-

Karya tulis beliau :

# Tahqîq “Syarah Aqîdah Wâsitiyah” Asy-Syaikh Yahyâ bin Alî.

# Tarôjim nisâ’il hadits  min Tahdzîb wal Mizân.

# Al Musnadaat Ats Tsabitah fi masailil haidh wan Nifas,

# Al Musnad fi Tarbiyatil Aulad.

# Tahqiq Syarhit Ta’iyyah lisyaikhil Islam Syarh Syaikh Yahya.

# Tahqiq Syarhil Ahaditsidh Dhoi`fah libni Abdil Hadi syarh syaikh Yahya.

 

 

 

 

/////

 


BAB 9

FATWAPARA‘ULAMÂ UNTUK PERGI MENUNTUT ILMU KE DÂRUL HADÎTS DAMMÂJ :

 

# ASY-SYAIKH ROBÎ’ BIN HÂDÎ AL-MADKHOLÎ HAFIDHOHULLÔH:

 

Fatwa Pertama :

Mengabarkan kepada kami Asy-Syaikh Abu Hammâm Al Baidhoni -hafizhohulloh-, berkata Asy-Syaikh Al-‘Allâmah Robî’ bin Hâdî -hafizhohulloh-: “Saya tidak mengetahui satu tempat pun untuk ‘ilmu seperti Dammâj, hal itu dikarenakan seorang yang shôlih pergi ke Dammâj dan tinggal dalam waktu yang singkat kemudian datang kepada kita dengan ‘ilmu yang banyak.”

Kemudian Asy-Syaikh Abu Hammâm berkata : “Dan sekarang 17 Sya’ban 1428 H beliau Asy-Syaikh Robî’ bin Hâdî menulis sebuah kitab tentang para ‘Ulamâ besar yang telah terdahulu, bagaimana mereka dahulu menjaga sunnah dan beliau memperlihatkannya kepadaku, kemudian berkata : “Ini saya tulis untuk orang-orang semisal thôlibul ‘ilmi di Dammâj, karena sesungguhnya saya tidak mengetahui ada yang seperti mereka dalam menjaga sunnah.”

Ini beliau (Abu Hammâm) sampaikan lewat tulisan yang dia tulis di tempat pertama dari kitab “Majmû‘ Rosâil” tulisan Asy-Syaikh Ahmad An-Najmi yang beliau kumpulkan dan bagi-bagikan.

Fatwa Kedua :

Asy-Syaikh Robî’ bin Hâdî ditanya:Apa pendapat Syaikh tentang pergi untuk menuntut ‘ilmu di Dârul Hadîts Dammâj Yaman dan perlu diketahui bahwa saya adalah seorang pemula dalam tholabul ‘ilmi ?

Asy-Syaikh Robî’ menjawab: “Ya, sudah seharusnya bagimu untuk rihlah ke tempat tersebut yang merupakan pusat dari pusat-pusat Islam, salah satu menara dari menara-menara Islam.
Ya, ditempuh perjalanan untuk menuju ke sana dan ditimba ilmu di dalamnya. Dan didapati di dalamnya Insya Alloh U kebaikan yang banyak, dan didapati (juga) di dalamnya as-sunnah dan al-hudâ dan ittiba’ kepada sunnah Nabi r. Maka kami, demi Allôh U, memberikan dorongan dan semangat untuk belajar di tempat tersebut (Dammâj) yang merupakan pusat di antara pusat-pusat sunnah dan dari menara-menara sunnah. Dan di dalamnya didapati orang-orang yang Insya Allôh U dari kalangan ahlus sunnah, ahlul hudâ dan ‘ilmu. Kita berdoa semoga Allôh U mengokohkan mereka diatas sunnah dan agar Allôh U memberikan manfaat melalui mereka dan agar menjadikan mereka termasuk dari para pembawa bendera ahlus sunnah di zaman ini yang penuh dengan bid’ah dan fitnah. Dan kita berlindung kepada Allôh U. Dan Alhamdulillâh, barangsiapa yang menginginkan kebaikan dan petunjuk serta jauh dari fitnah maka dia harus bersama markaz-markaz sunnah. Dan Alhamdulillâh markaz-markaz tersebut sangat banyak terdapat di berbagai negeri khususnya tempat ini (Dammâj) yang saya melihat di dalamnya ada tamayyuz (pemisahan ahlul haq dan ahlul batil) yang terang. Alhamdulillâh. Maka beruntunglah orang yang rihlah kesana dalam rangka mencari Al-Hudâ dari orang atau tempat yang akan memberikannya (kepadanya). Dan sunnah dan kebaikan yang ada di dalamnya. [27]
Fatwa Ketiga :

Segala puji bagi Allôh U, sholawât dan salâm kepada Rosulullôh r, para shohâbat dan orang-orang yang mengikutinya, … adapun selanjutnya.

Saya telah berkunjung ke Al-’Allamah Robi’ bin Hadi Al-Madkholi hafidhohullohu ta’ala ke rumahnya pada tanggal 5 Romadhon (1429 H) waktu itu pada hari Jum’at setelah ashr. Dan sebelum Asy-Syaikh singgah untuk menyampaikan pelajaran saya bertemu dengan temanku dari Jazair dan dia fanatik dengan ‘Abdurrohman Al-Adni, dan dia termasuk orang yang bersama kami di Dammâj dan terjadilah perdebatan panjang antara diriku dengannya sekitar 1 jam berkaitan dengan fitnah yang terjadi di Yaman, dan dia (semoga Alloh U memberi petunjuk padanya) berkata padaku bahwa Asy-Syaikh Robî’ tidak menasehatkan untuk ke Dammâj, maka dengan perkataan ini membawa diriku untuk bertanya kepada Asy-Syaikh Robî’ hafidhohullôhu ta’âla, maka ketika Syaikh sampai pada jam 9 beliau menyampaikan pelajaran yang bermutu dalam bidang tafsîr kepada kami semua kemudian setelah itu muadzin mengumandangkan adzan, lalu Syaikh berdiri mengajak kami untuk makan, saya ucapkan salam padanya dan saya katakan, “Wahai Syaikh, apakah engkau menasehatkan untuk belajar ke Dammâj pada masa sekarang ini?”, maka Syaikh melihatku dengan pandangan yang marah dan berkata, “Aib ! Aib bagimu untuk bertanya dengan pertanyaan seperti ini? Aib bagimu untuk berkata seperti ini! Apakah engkau tidak memiliki pertanyaan selain pertanyaan ini? Bagaimana mungkin aku tidak menasehatkan untuk belajar ke Dammâj!”, Maka aku katakan, “Wahai syaikh, telah nampak pada kami orang-orang yang ada di Yaman, mereka mencela Dammâj dan mentahdzir untuk belajar di dalamnya”, maka beliau (Syaikh Robi’) mengisyaratkan dengan tangannya seraya mengatakan, “Itu adalah kesalahan, yang mentahdzir Dammâj, suatu kesalahan! Jangan engkau benarkan orang-orang yang mentahdzir Dammâj jangan engkau benarkan mereka, akan tetapi saya nasehatkan bagi orang yang telah Allôh U berikan nikmat dan Allôh U berikan taufîq untuk belajar di Dammâj, lebih baik dia menyibukkan diri dengan menuntut ‘ilmu dan tidak terjun dalam fitnah”. Dan saya berkata, “Jazâkallôh khoiron wahai Syaikh.” Selesai pembicaraan. Yang mengimlakan kepadaku Al-Akh Aiman Asy-Syuwâfîy Al-Adnîy. [28]

Fatwa Keempat :

Bahkan telah mengabarkan kepadaku Al-Akh Abu Fidâ’ As-Sudanî bahwasanya mereka bertemu dengan Syaikh kita Al-Muhaddits Al-’Allâmah Robî’ Al-Madkholî hafidhohullôhu ta’âla pada hari pertama hari raya ‘Îdul Fitri yang diberkahi tahun 1429 H mereka bertanya tentang orang-orang yang mentahdzir Dammâj, maka beliau (Asy-Syaikh Robî’) berkata, “INI ADALAH PENGEKOR HAWA NAFSU”, inilah apa yang disampaikan kepadaku melalui telepon sebelum 2 hari, semoga Allôh U memberikan taufiq kepada Syaikh kita dan memanjangkan umurnya dengan sehat wal ‘âfiyat saya memohon kepada Allôh U agar kita selalu kokoh dalam Islâm dan sunnah sampai kita bertemu kepada-Nya. [29]

Fatwa kelima :

Dan telah mengkhabarkan kepada kami Akhûna Ghôzî As-Sulamî As-Su`udî salah seorang murid Asy-Syaikh Robî’  -Hafidhohullôh- bahwa dia mendengar dari Al-Akh Muhammad As-Sâmidîy bahwasanya Al-Akh Yûnus Al-Hudaidîy salah seorang murid beliau berkunjung ke Dammâj pada akhir bulan Syawwâl tahun ini 1429 H membawa pesan Syaikh Robî’ -Hafidhohullôh-: titip salam buat Asy-Syaikh Yahyâ -Hafidhohullôh- dan menyatakan: “Sampaikan kepadanya: Bahwasanya barangsiapa mencela Dammâj maka celalah dia baik kecil ataupun besar. ”

Dan telah mengkabari kami Musthofâ Al-`Adanîy bahwasanya Akhûna Roshôsh Al-Laudarî -Hafidhohullôh- mengunjungi Asy-Syaikh Robî’  -Hafidhohullôh- pada bulan Syawwâl tahun ini 1429 H dan mengkabarkan kepada beliau bahwa Syaikh ‘Ubaid mentahzdir dari Dammâj, maka beliau berkata :” kalau berita ini benar[30] , maka ini termasuk zallatul ‘âlim (ketergelinciran seorang ‘âlim) dan wajib bagi Syaikh ‘Ubaid untuk bertaubat.

Demikian juga di rumah beliau, sebagaimana yang dikabarkan oleh Al-Akh Sa’îd Ad-Dubahî Al-Abyanî kepadaku yaitu Syaikh Robî’ berkata tentang orang-orang yang menghalang-halangi penuntut ilmu untuk pergi ke Dammâj :

“Mereka – sebagaimana yang dikatakan penanya – adalah para penyamun, kenapa mereka mentahdzir dari belajar di Dammâj ?!! tempat yang  padanya diajarkan berbagai ilmu syar’i. Demi Allôh U tidaklah mentahdzir darinya kecuali orang-orang yang ingin menghalang-halangi dari jalan Allôh U, demikian juga Dârul Hadîts yang lain.”

FATWA ULAMA KIBAR YANG LAIN :

 

Demikian pula telah mengkabarkan kepada kita sahabat kita yang bemama Ghozi asli Su’udi Arabia yang di Dammaj, ketika bulan Romadhon 1429 beliau umroh, selanjutnya berkunjung ke Syaikh Shôlih Fauzân dan Syaikh Robî’ bin Hâdî Al-Madkholî, keduanya tetap menyarankan untuk belajar ke Dammâj.

Berikutnya Abdul Hakîm Ar-Roimî yang sering kunjung di Su’ûdi ‘Arabia, akhir-akhir ini berkunjung ke sana menemui Asy-Syaikh Shôlih Fauzân, Asy-Syaikh Robî’ bin Hâdî Al-Madkholî, Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbâd, mereka menganjurkan untuk belajar ke Dammâj, mereka menyatakan bahwa Dammâj dalam keadaan baik.

Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Mani’: “Dan saya menasihatkan kepada saudara-saudara kami untuk menempuh perjalanan menuju ke ‘Ulamâ sunnah, dan ke Dârul Hadîts di Dammâj -harrosahallôh-, yang tempat ini dibangun sejak awalnya di atas sunnah, dan tidak ada yang semisalnya di zaman ini, dari segi tamayyuz (pemisahan diri dari ahlul bathil) dan penetapan aqîdah salafiyyah, dan bantahan terhadap ahlul bid’ah, orang yang sesat dan menyimpang.[31]

BAB 10

KONSPIRASI & MAKAR TERHADAP DÂRUL HADÎTS DAMMÂJ

Penulis:

ABU ZAKARIYÂ

IRHÂM BIN AHMAD AL-JÂWÎ

Muraja’ah:

ABU TURÔB

SAIF BIN HODHOR AL-JÂWÎ

 

بسم الله الرحمن الرحيم

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، وسيئات أعمالنا من يهده الله، فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده روسوله.

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qà)®?$# ©!$# (#qä9qè%ur Zwöqs% #Y‰ƒÏ‰y™ ÇÐÉÈ   ôxÎ=óÁムöNä3s9 ö/ä3n=»yJôãr& öÏÿøótƒur öNä3s9 öNä3t/qçRèŒ 3 `tBur ÆìÏÜム©!$# ¼ã&s!qߙu‘ur ô‰s)sù y—$sù #·—öqsù $¸JŠÏàtã ÇÐÊÈ

أما بعد: فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد r وشر الأمور محدثاتُها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار.

Sesungguhnya Allôh U telah menetapkan bahwa Dia akan menjaga agamanya yang mulia ini, sebagaimana firman-Nya:

$¯RÎ) ß`øtwU $uZø9¨“tR tø.Ïe%!$# $¯RÎ)ur ¼çms9 tbqÝàÏÿ»ptm: ÇÒÈ

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Adz-Dzikr dan Kamilah yang akan menjaganya.” (QS.Al-Hijr :9)

Diantara bentuk penjagaanNya adalah dengan memunculkan para ‘ulamâ Robbaniyyîn, yang mereka merupakan para penjaga agama Allôh U di muka bumi ini, dengan lisan-lisan mereka dan pena-pena mereka, dari rongrongan musuh-musuh Allôh U, baik dari kalangan kaum munâfiq maupun kaum kuffâr. Dan Allôh-pun telah menegaskan bahwa Dia akan menolong para penjaga agama-Nya tersebut dan memenangkannya serta menghinakan orang-orang yang memusuhi dan memerangi mereka, sebagaimana firman-Nya:

$¯RÎ) çŽÝÇZoYs9 $oYn=ߙ①šúïÏ%©!$#ur (#qãZtB#uä ’Îû Ío4quŠptø:$# $u‹÷R‘‰9$# tPöqtƒur ãPqà)tƒ ߉»ygô©F{$#

“Sesungguhnya  Kami akan menolong utusan-utusan Kami dan orang-orang yang beriman di dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya para saksi (hari kiamat)”. (QS.Ghôfir : 51)

Dan juga firmanNya:

* žcÎ) ©!$# ßìÏùºy‰ãƒ Ç`tã tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä 3 ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä† ¨@ä. 5b#§qyz A‘qàÿx.

“Sesungguhnya Allôh akan membela orang-orang yang  beriman. Sesungguhnya Alloh tidak mencintai orang-orang yang berkhianat lagi ingkar”. (QS.Al-Hajj: 38)

Di antara para penjaga agama ini, yang dengan pertolonganNya berhasil menjaga  dan menegakkan perintah-perintah Allôh U serta sunnah-sunnah Rosul-Nya adalah Asy-Syaikh Muqbil bin Hâdî Al-Wâdi’î rohimahullôh. Hal ini telah diketahui oleh orang-orang yang dekat maupun yang jauh, baik di Yaman maupun di luar Yaman. Dengan sebabnyalah -setelah Allôh U - tersebar sunnah-sunnah yang telah lama terlupakan dan tertutup dengan bid’ah-bid’ah Shûfiyah maupun Syî’ah atau bid’ah-bid’ah yang lain.

Bukti nyata tentang keberhasilan dakwah beliau adalah adanya Dârul Hadîts Dammâj yang merupakan induk bagi markas-markas Ahlus Sunnah yang lain di Yaman, markas yang merupakan mercusuar dakwah Salafiyah, yang keluar darinya para ‘ulamâ sunnah dan para dâ’i ilallôh yang siap memerangi siapa saja yang ingin melakukan makar terhadap agama yang haq ini.

Karena besarnya peranan markas ini, para musuh dakwah Salafiyah berusaha sekuat tenaga untuk meruntuhkan dan menghilangkan gigi-giginya. Jika yang satu ini beres maka yang lainnya mudah. Itulah dugaan yang ada di benak mereka. Namun Asy-Syaikh Muqbil dengan pertolongan Allôh U berhasil menanggulangi ujian-ujian tersebut. Markaspun semakin kokoh dengan buah dan bunga-bunga ‘ilmu yang semakin merekah.

Merupakan sunnatullôh yang berlaku bagi hamba-Nya bahwa mereka semua akan dipanggil menghadap-Nya, demikian halnya Asy-Syaikh Muqbil. Maka setelah terasa semakin dekat dengan ajal yang telah ditentukan, Syaikh tidak ingin meninggalkan Markas yang dengan susah payah didirikannya kacau seperti ayam kehilangan induk. Tidak boleh tidak, harus ada orang yang menggantikan kedudukannya, orang yang mapan ke’ilmuannya sehingga bisa membina para Tholâbul ‘Ilmi yang datang dari berbagai Negara, dan orang yang kokoh manhajnya serta pemberani, sehingga tidak gentar untuk melawan siapapun selama dia diatas al-haq. Jatuhlah pilihan Asy-Syaikh Muqbil terhadap muridnya yang telah beliau didik dan persiapkan untuk  menanggung  beban yang berat ini, dialah Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî[32]. Asy-Syaikh Muqbil pun berwasiat kepada kaumnya dengan penuh keyakinan dan kepercayaan terhadap muridnya tersebut: “Aku wasiatkan kepada kalian untuk menjaga Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî dan jangan merelakan siapapun menurunkannya dari kursi, karena sesungguhnya dia adalah An-Nâsihul Amîn (Penasehat yang terpercaya).” Dari sinilah  dikatakan bahwa Asy-Syaikh Yahyâ dan markas merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Penjagaan terhadap markas adalah penjagaan terhadap Asy-Syaikh, dan begitu pula sebaliknya.

Ujianpun mulai bermunculan dengan kenaikan Asy-Syaikh Yahyâ menggantikan gurunya, sebagaimana yang telah Allôh U tetapkan terhadap orang-orang terdahulu dari para pembela agamaNya. Makar dan persekongkolan diadakan untuk menumbangkan Sang Penasehat ini. Akan tetapi Allôh U tidaklah ridhô terhadap kebâtilan. Allôh U Berfirman:

ö@t/ ß$ɋø)tR Èd,ptø:$$Î/ ’n?tã È@ÏÜ»t7ø9$# ¼çmäótBô‰uŠsù #sŒÎ*sù uqèd ×,Ïd#y— 4 ãNä3s9ur ã@÷ƒuqø9$# $£JÏB tbqàÿÅÁs? ÇÊÑÈ

“Sebenarnya kami melemparkan yang haq kepada yang batil maka yang haq itu  menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap.” (QS. Al-Anbiyâ’:18)

Akhirnya semua makar tersebut gagal dan porak poranda, merekapun kembali dengan tangan hampa dan penuh kehinaan. Nama harum Asy-Syaikh Yahyâ semakin dikenang atas jasa-jasa membela dakwah Salafiyah, semoga Allôh U senantiasa menjaga beliau. Di antara makar-makar tersebut adalah:

# PERSEKONGKOLAN ORANG-ORANG LIBYA

Persekongkolan dan makar ini mulai nampak di saat-saat Asy-Syaikh Muqbil terbaring di pembaringannya, menjalani hari-hari akhir kehidupan beliau. Tujuan orang-orang tersebut, dengan pimpinan Abu ‘Ubaidah Al-Mishrôtî & Abu ‘Ubaidah Az-Zâwî adalah untuk menjatuhkan Asy-Syaikh Yahyâ dari kursinya, sebab Asy-Syaikh Yahyâ merupakan batu sandungan yang paling besar bagi mereka dalam menjalankan aksinya. Mereka mengirim kabar-kabar jelek tentang Asy-Syaikh Yahyâ kepada Asy-Syaikh Muqbil, yang semakin menambah kesedihan beliau. Namun keyakinan seorang bapak terhadap sang putra, dan seorang guru terhadap muridnya tidaklah tergoyahkan dengan fitnah para pengkhianat tersebut bahkan semakin menambah kepercayaan dan kecintaan kepadanya. Allôh U telah berfirman:

Ÿwur ß,‹Ïts† ãõ3yJø9$# à×Äh¡¡9$# žwÎ) ¾Ï&Î#÷dr’Î/

“Rencana yang jahat itu tidaklah akan menimpa kecuali kepada orang yang merencanakannya.” (QS. Fâthir : 43)

Setelah wafatnya Asy-Syaikh Muqbil, makar ini terus berlangsung. Namun Alloh U  tidaklah akan menyia-nyiakan hambanya yang bertaqwa. Alloh U singkap makar busuk tersebut dan diusirlah mereka dari markas dalam keadaan hina. Padahal sebelumnya mereka adalah termasuk pengajar senior yang dihormati.

`tBur Ç`Íkç‰ ª!$# $yJsù ¼çms9 `ÏB BQ̍õ3•B 4 ¨bÎ) ©!$# ã@yèøÿtƒ $tB âä!$t±o„ ) ÇÊÑÈ

“Barangsiapa yang Allôh hinakan maka tidaklah ada yang memuliakannya, sesungguhnya Allôh melakukan apa saja yang  dikehendakiNya.” (QS.Al-Hajj: 18)

# MAKAR ABUL HASAN AL-MISHRÎY

Setelah makar orang-orang Libya gagal, tampillah Abul Hasan Musthofâ bin ‘Ismâ’îl Al-Misrî dengan makar dan tipu muslihat yang lebih besar. Ketika Asy-Syaikh Muqbil masih hidup, orang ini menunjukkan sifat yang baik & menampilkan bahwa dia di atas sunnah, sehingga Asy-Syaikh Muqbil menaruh kepercayaan padanya, walaupun tidak sepenuhnya. Hal ini dikarenakan orang ini asal mulanya bermanhaj Jihâdî Takfirî. Waktupun terus berjalan, Abul Hasan menampilkan dakwahnya seolah-olah dakwah ahlussunnah. Orang-orang  pun mulai  memanggilnya dengan sebutan Syaikh.

Setelah Asy-Syaikh Muqbil wafat, orang licik ini mulai menunjukkan kuku-kuku kotornya yang selama ini disembunyikannya seraya berucap penuh kegirangan: “Masa-masa ketakutan telah berlalu”, yakni dengan meninggalnya Asy-Syaikh Muqbil.

Mulai Abul Hasan menunjukkan bahwa dia mempunyai Jam’iyyah, padahal Asy-Syaikh Muqbil sangat keras memerangi Jam’iyyah yang merupakan alat pemecah belah Salafiyyîn. Dia juga mulai menyebarkan pemikiran-pemikiran yang menyimpang. Serangan-serangan untuk meruntuhkan Dârul Hadîts di Dammâj beserta Syaikhnya, Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî mulai dilancarkan. Dia mengatakan Asy-Syaikh Yahyâ sebagai orang hina, haddâdî, dia itu (Yahyâ) di bawah kakiku dan lain-lain yang melebihi cercaan ahlil ahwâ’ sebelumnya. Gemparlah ahlus sunnah dan banyak orang kebingungan. Ditambah lagi karena untuk makar kali ini telah disiapkan uang yang banyak dan bagi para pengikutnya diiming-imingi tanggungan bulanan dan berbagai macam kesenangan dunia. Cara ini digunakan untuk menandingi markas Dammâj, bahkan berusaha untuk membujuk para masyâyikh agar berdiri di barisannya, sehingga Abul Hasan merasa percaya diri bahwa manusia akan berpaling dari Dammâj dan Asy-Syaikh Yahyâ kepadanya.

Namun bagaimanapun usaha Abul Hasan untuk menutupi kebusukannya, suatu saat pasti akan tersingkap. Maka dengan perantara Asy-Syaikh Yahyâ, kelompok makar ini diporak-porandakan. Dengan penuh keyakinan dan keteguhan Asy-Syaikh Yahyâ menjelaskan keculasan dan penyimpangan-penyimpangan Abul Hasan beserta kawan-kawannya. Tantangan yang beliau hadapipun tidaklah kecil. Bahkan boleh dikatakan bahwa pada permulaan fitnah ini Asy-Syaikh Yahyâ menghadapi Abul Hasan seorang diri. Setelah itu semakin jelaslah makar tersebut dan para ‘ulamâ pun tampil membela Asy-Syaikh Yahyâ baik di Yaman maupun di luar Yaman. Di antara mereka adalah Syaikh Robî’ bin Hâdî Al-Madkholî, beliau memegang peranan yang besar dalam usaha menolong Asy-Syaikh Yahyâ pada fitnah Abul Hasan ini. Akhirnya kebusukan dan penyimpangan Abul Hasan dari manhaj Salafî tercium sampai penjuru dunia. Manusia pun meninggalkannya dan tidak menyebutnya kecuali dengan celaan.

z`ƒÏ%©!$#ur (#qç7|¡x. ÏN$t«ÍhŠ¡¡9$# âä!#t“y_ ¥pt¤ÍhŠy™ $ygÎ=÷WÏJÎ/ öNßgà)ydös?ur ×’©!ό ( $¨B Mçlm; z`ÏiB «!$# ô`ÏB 5OϹ%tæ (

“Dan orang-orang yang berbuat kejelekan balasannya adalah kejelekan semisalnya dan mereka akan dilingkupi dengan kehinaan. Tidaklah ada bagi mereka perlindungan dari (azab) Allôh.” (QS.Yûnus : 27)

# MAKAR AL-BAKRÎ.

Usaha-usaha makar terhadap Dârul Hadîts di Dammâj dan Syaikh Yahyâ terus berlanjut. Setelah gagal Abul Hasan dengan makarnya tampillah Shôlih Al-Bakrî bersama Ahmad Asy-Syâibanî At-Ta’izî sebagai penerusnya. Bentuk gerakan mereka adalah dengan mengumpulkan kesalahan-kesalahan Asy-Syaikh Yahyâ yang pada hakekatnya adalah kebohongan dan dusta belaka. Mereka melakukan tahdzîr dan cercaan terhadap markas Dammâj beserta Syaikhnya. Namun Asy-Syaikh Yahyâ dengan kokoh menghadapi semua itu dan dengan pertolongan Allôh U hancurlah makar yang ketiga ini dan para masyâyikh pun sepakat dengan ke-hizbi-annya.

# MAKAR ABÛ MÂLIK AR RIYÂSYÎ.

Makar ini tidaklah ada apa-apanya jika dibandingkan dengan makar-makar lainnya, karena hanyalah sebatas cercaan dan cemoohan[33] dari seorang yang congkak dan bangga terhadap dirinya. Dialah Abû Mâlik, yang membalas kebaikan dengan keburukan, sebagaimana makar-makar sebelumnya. Dia berkata: “Keluarkan Al-Hajûrî dari Dammâj dan kami akan mendatangkan orang sebagai gantinya!” Maka Syaikh pun mengusirnya.

# MAKAR AL MAR’IYYAIN.

Ikhwanî, semoga Allôh U memberikan hidâyah-Nya kepada kita. Lihatlah rentetan makar yang dilancarkan kepada markas Dârul Hadîts di Dammâj dan Syaikhnya, Yahyâ Al-Hajûrî. Orang yang cermat akan mengambil kesimpulan bahwa markas tersebut memang merupakan obyek untuk dibidik dan dirobohkan, kapan mereka lengah…

Maka setelah semua makar tersebut gagal, muncullah makar baru yang lebih besar. Makar ini dipelopori oleh orang yang semula dianggap ‘âlim, tawâddhu’ dan tenang. Dialah ‘Abdurrohmân Al-Mar’î dengan dukungan saudaranya ‘Abdullôh Al-Mar’î. Orang-orang pun banyak terkecoh olehnya. Di antara mereka adalah sebagian besar ikhwah salafiyyîn di Indonesia baik du’ât atau orang-orang ‘awwâmnya, sehingga mereka membela habis-habisan dua bersaudara ini, yang mereka elu-elukan sebagai ‘ulamâ sunnah. Selain itu, mereka juga menentang setiap orang yang menjelaskan tentang kehizbiyyahan mereka dengan segala upaya yang mereka mampui. Inilah yang merupakan sebab penulisan risâlah ini, sebagai pembelaan terhadap perkara yang kami yakini sebagai al-haq dan bentuk pengingkaran terhadap kebâtilan, karena diam terhadap kebâtilan merupakan pengkhianatan terhadap kaum muslimîn. Rosulullôh r bersabda:

« مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ ».

“Barangsiapa melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya, apabila tidak mampu, maka ubahlah dengan lisan dan apabila tidak sanggup, maka ubahlah dengan hatinya dan ini adalah selemah-lemahnya imân.” (HR. Muslim: 219) [34]

Allôh Y berfirman:

$pkš‰r’¯»tƒ z`ƒÏ%©!$# (#þqãZtB#uä bÎ) (#rçŽÝÇZs? ©!$# öNä.÷ŽÝÇZtƒ ôMÎm6s[ãƒur ö/ä3tB#y‰ø%r& ÇÐÈ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian menolong agama Allôh, maka Allôh akan menolong kalian dan mengokohkan kaki-kaki kalian." (QS.Muhammad: 7)

Wahai ikhwah, semoga Allôh Y memberikan keistiqomahan kepada kita. Sebelum kita berjalan lebih jauh untuk melihat apa-apa yang tersembunyi di balik makar ini, maka aku ingatkan kepada diri saya pribadi dan kepada antum sekalian untuk menjernihkan hati-hati kita dan meluruskan niat kita, serta membuang jauh-jauh sikap emosi atau sifat kibr (sombong) serta sifat-sifat ta'asshub (fanatik buta), sebab semua itu akan menghalangi seseorang dari al-haq. Apabila Allôh Y  mengetahui ketulusan seseorang dalam mencari al-haq tentu Allôh Y akan menunjukinya dan memberikan sesuatu yang terbaik baginya, sebagaimana firman Allôh Y :

$pkš‰r'¯»tƒ ÓÉ<¨Z9$# @è% `yJÏj9 þ’Îû Nä3ƒÏ‰÷ƒr& šÆÏiB #“tó™F{$# bÎ) ÄNn=÷ètƒ ª!$# ’Îû öNä3Î/qè=è% #ZŽöyz öNä3Ï?÷sム#ZŽöyz !$£JÏiB x‹Ï{é& öNà6ZÏB öÏÿøótƒur öNä3s9 3 ª!$#ur ֑qàÿxî ÒO‹Ïm§‘ ÇÐÉÈ

"Wahai nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu: "Jika Allôh mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil darimu dan Dia akan mengampuni kamu. Dan Allôh itu Ghafur (Maha Pengampun) lagi Rahim (Maha Penyayang)." (QS. Al-Anfâl: 70)

Wahai ikhwah, marilah kita lihat perjalanan makar baru ini terhadap markas. Setelah usaha-usaha untuk menggulingkan Asy-Syaikh Yahyâ gagal satu persatu dan beliau semakin kokoh dalam pijakannya, jihâd terhadap ahlul ahwâ' terus berlanjut, kitâb-kitâb dan ceramah-ceramah beliau pun semakin banyak.[35] Dakwah berjalan dengan baik, pelajaran-pelajaran berjalan dengan lancar dan semua sibuk dengan ‘ilmu dan ibâdah kepada Pemilik semesta ini. Dalam keadaan yang indah ini, tiba-tiba ‘Abdurrohmân Al-‘Adanî yang semula dikenal sebagai orang yang penuh dengan ketenangan, tampil mengusik keindahan yang ada. Dia mulai menunjukkan perubahan-perubahan pada dirinya, yang semula memuji Asy-Syaikh Yahyâ, menghormati serta bersyukur atas usaha Asy-Syaikh Yahyâ didalam melaksanakan kewajibannya menggantikan Asy-Syaikh Muqbil menjadi sebaliknya. Muncullah cercaan-cercaan dia tentang Asy-Syaikh Yahyâ, di antaranya dia mengatakan bahwa ada pada diri Asy-Syaikh Yahyâ sifat dungu sebagaimana yang dikabarkan oleh Kamâl Al-‘Adanî, Muhammad As-Sûrî, Thôriq Al-Ba’dânî dan yang lainnya. Selain itu dia mulai berdekatan dengan orang-orang yang dulu bertentangan dengannya seperti ‘Alî Hudzaifî dan Yâsin Al-‘Adanî tanpa adanya perkara yang menuntutnya untuk mendekati mereka, seperti adanya taubat dari mereka ataupun ishlâh. Sebab sebelumnya ‘Abdurrohmân berkata tentang Yâsin: “Tidak punya adab dan tidaklah kusangka dia termasuk orang yang diberi taufîq.” Yâsin pun berkata tentang ‘Abdurrohmân: “Dia tidaklah murni seperti susu dan tidak ada apa-apanya, bahkan ada padanya sesuatu.” Adapun ‘Alî Hudzaifî, sebelumnya dia tidaklah menganggap ‘Abdurrohmân sebagai seorang ‘âlim bahkan mengingkari fatwa-fatwanya sebagaimana perkataannya: “Apa yang akan dikatakan ‘ulamâ Saudi jika mereka tahu kalau kita mengatakan bahwa ‘Abdurrohmân Al-‘Adanî adalah seorang ‘âlim dalam keadaan dia berumur muda.”

Kemudian dia memunculkan perkara yang tidak dikenal sebelumnya dalam dakwah salafiyah, yaitu pendaftaran nama-nama yang ingin membeli tanah untuk didirikan di atasnya markas baru bagi ‘Abdurrohmân di Fuyusy. Mulailah timbul gejolak dan perpecahan. Masyâyikh pun berkumpul di Dammâj pada tanggal 14 Rojab 1427 untuk meredam fitnah dan mereka sepakat bahwa ‘Abdurrohmân dalam hal ini salah dan harus segera menghentikan pendaftaran tersebut, serta menjelaskan semua itu di hadapan para thullâbul ‘ilmi. Akan tetapi ‘Abdurrohmân tidak mentaati kesepakatan tersebut dan pendaftaran pun terus berlanjut bahkan dia mengatakan sendiri: “Aku tidak bisa menghentikannya”, sebagaimana yang didengar oleh Shohri ‘Abdul Hafîdz Ad-Duba’î.

Api fitnah pun semakin berkobar. Orang-orang yang tidak suka terhadap Asy-Syaikh Yahyâ menggabungkan diri dengan kelompok ‘Abdurrohmân. Demikian pula orang-orang yang berpura-pura telah bertaubat dari fitnah Abul Hasan kembali menunjukkan permusuhannya. Diadakanlah pertemuan-pertemuan rahasia yang dilakukan oleh orang-orang yang ta’ashub terhadap ‘Abdurrohmân. Pertemuan ini banyak terjadi di saat-saat Syaikh menyampaikan pelajaran umum yang wajib diikuti oleh seluruh muridnya. Dan semua itu telah tertulis dengan lengkap beserta sanadnya dalam kitab “Mukhtashar Al-Bayân.” Tidak berhenti sampai di sini saja, mereka terus melancarkan aksinya dengan menebar fitnah dan kebohongan serta tuduhan keji terhadap Asy-Syaikh Yahyâ dan markas Dammâj. Mereka pun berusaha untuk mengadu domba antara Asy-Syaikh Yahyâ dan para ‘ulamâ lainnya. Namun Syaikh masih terus bersabar dan senantiasa menyampaikan nasehat-nasehatnya agar mereka kembali dan bertaubat. Namun entah syaithôn apa yang merasuki mereka sehingga semua itu mereka tolak mentah-mentah.

Dampak buruk yang timbul dan berpengaruh terhadap dakwah salafiyah pun semakin besar. Akhirnya setelah perkaranya semakin parah dan penyimpangan-penyimpangan mereka semakin jauh Asy-Syaikh Yahyâ pun menghukumi ‘Abdurrohmân Al-‘Adanî sebagai seorang hizbî dan gerakan yang dilakukannya beserta para pengikutnya adalah gerakan hizbiyyah.

Ikhwaniy, semoga Allôh Y melapangkan hati-hati kita dalam menerima al-haq, sebelum kita teruskan lembaran-lembaran buram ‘Abdurrohmân yang didukung oleh para pengikutnya alangkah baiknya kita bahas, apakah sebenarnya hizbiyyah itu dan apa ciri-cirinya?  Sehingga kita bisa mencocokkan dengan keadaan ‘Abdurrohmân ini.

# DEFINISI HIZBIYYAH:

Hizbiyyah secara bahasa, sebagaimana yang dikatakan oleh Shafiyurrahmân Al-Mubârokfurî adalah sekelompok dari manusia yang bergabung untuk suatu kemashlahatan bersama yang direkatkan dengan perekat ‘aqîdah, îmân, kekâfiran, kefâsikan, kemaksiatan atau dengan perekat kebangsaan, kabilah, nasab, profesi, bahasa dan yang lainnya dari perekat-perekat dan sifat-sifat yang manusia terbiasa berkumpul serta bersatu di atasnya. (Ad-Dakwah Baina Tajammu’il Hizbi wa Ta’awun Asy-Syar’i oleh Ali Hasan Abdul Hamid)

Adapun hizbiyyah menurut istilah syar’i adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Asy-Syaikh Muqbil: “Hizbiyyah adalah Al-Walâ’ (loyalitas) dan Al-Barô’ (berlepas diri) yang sempit. Memberikan walâ’ karena kelompoknya dan memusuhi seseorang karena kelompoknya.” (Tuhfatul Mujîb hal. 111-112)

# CIRI-CIRI HIZBIYYAH:

Asy-Syaikh Muqbil berkata: “Hizbiyyah itu dibangun di atas: kedustaan, tipu muslihat, talbîs (menyamarkan antara yang haq dengan yang bâtil), dan pemutar balikan fakta. Oleh karena itu wajib bagi Ahlul ‘ilmi untuk menyingkap kebusukan-kebusukannya dan memperingatkan muslimîn darinya. Sungguh hizbiyyah ini telah mengubah pemuda muslim dan menyia-nyiakan umur mereka, memporak-porandakan kekuatan mereka, serta menjadikan mereka berpecah belah dan berkelompok-kelompok. Hizbiyyah juga menyebabkan kaum muslimîn sibuk dengan diri mereka sendiri dan lalai dengan musuh-musuh mereka.” (Ghorôtul Asyrithoh: 1/15)

Inilah di antara ciri-ciri hizbiyyah yang diungkapkan oleh seorang imâm yang telah menghabiskan umur beliau dalam berjihâd melawannya. Semua ciri-ciri tersebut ternyata ada pada Hizbiyyah Abdirrohman yang sebagai buktinya:

Ta’ashshub yang merupakan pencerminan dari al-wala’ wal bara’ yang sempit.

Hal-hal yang menunjukkan tentang ini begitu banyak, di antaranya adalah:

#   Akh Shuhaib At-Ta’izî seorang tholabatul ‘ilmi di Dammâj pergi menasehati Nâshir Az-Zaidî untuk meninggalkan sikap ta’ashubnya terhadap ‘Abdurrohmân dan meninggalkan fitnah ini. Dia malah menjawab: “Ini adalah ‘aqîdahku yang tidak mungkin aku tinggalkan.”

#  Demikian pula ‘Utsmân Al-Jazâirî ketika dinasehati teman-temannya berkata: “Ini adalah ‘aqîdah dihatiku tidak mungkin aku bisa meninggalkannya.” Sebagian mereka juga mengatakan: “Sampai kapan kita berada di bawah kekuasaan orang-orang utara.”

# ‘Abdullôh Al-Jahdarî berkata: “’Alî bin Sâlim telah mengabarkan kepadaku di awal-awal fitnah bahwa dia menghadiri muhâdhoroh Asy-Syaikh Jamîl As-Shilwî dan sebagian tholabul ‘ilmi dari Dammâj. Kemudian datang para pengikut ‘Abdurrohmân Al-‘Adanî seraya berkata: “Mengapa kalian pergi menghadiri muhâdhoroh ini, padahal mereka itu berasal dari pangkuan Al-Hajûrî.”

Dan masih banyak sekali bukti-bukti ta’ashshub buta mereka, lihat selengkapnya di “Mukhtashor Al-Bayân.” Karena ta’ashshub inilah mereka tolak semua nasehat dan dalîl-dalîl bahwa apa yang mereka berpijak di atasnya adalah sesat.

2) Adanya majelis-majelis rahasia.

‘Umar bin ‘Abdul ‘Azîz rohimahullôh berkata:

إِذَا رَأَيْتَ قَوْمًا يُنْتِجُونَ بِأَمْرٍ دُونَ عَامَّتِهِمْ؛ فَهُمْ عَلَى تَأْسِيْسِ الضَّلاَلَةِ.

“Jika engkau melihat suatu kaum berbicara secara sembunyi-sembunyi dalam perkara agama mereka, tidak menampakkanya kepada khalayak umum, maka ketahuilah bahwa mereka di atas peletakan asas kesesatan.” [36]

Inilah sebagian kecil dari bukti-bukti tentang adanya majelis-majelis rahasia tersebut :

#  Abu Bakar Anwâr bin ‘Alî Al-Wâdi’î berkata salah seorang pelajar dan pengawas di Dârul Hadîts -hafidhohullôh wa ra’âh- berkata: “Di sela-sela kami mengikuti jejak orang-orang yang tidak menghadiri (membolos) dari materi pelajaran umum tanpa alasan, terutama pada saat terjadinya fitnah. Kami dapati beberapa hal (yang mencurigakan) dari orang-orang hizbî itu. Sungguh suatu ketika kami keluar antara Maghrib dan Isyâ’ ke rumah Nâshir Al-‘Adanî -pemilik kedai- sebagaimana diceritakan oleh seseorang bahwasanya mereka sedang berkumpul di rumahnya pada saat berlangsungnya pengajaran umum di masjid. Aku ketuk pintunya, kemudian membukakannya untukku dengan dugaan bahwa aku termasuk salah seorang dari kalangan mereka, dan bertepatan pula kamar tempat berkumpul mereka berada di hadapan pintu masuk, sehingga aku dapati pula mereka bersama sebagian orang-orang Indonesia seperti Abu Taubah yang telah diusir dan beberapa orang lainnya yang telah dikenal (ulahnya dalam fitnah).

#   Salah seorang ikhwah sedang berjalan dan melewati Yâsin Al-‘Adanî yang ada bersamanya sekumpulan manusia di perkebunan, di bawah pohon maka dia berkata: “Sungguh mengherankan, Yâsin yang dulunya senantiasa berkecimpung di atas ‘ilmu sekarang menjadi orang yang suka duduk-duduk.”

3) Mencela ‘Ulamâ Salafî yang Istiqomah di Atas Al-Haq.

Asy-Syaikh Shôlih Al-Fauzân berkata dalam kitâb Al-Ajwibah Al-Mufîdah (hal. 51): “Aku katakan bahwa tidak seorang pun berbicara tentang kehormatan seorang ‘ulamâ yang istiqômah di atas al-haq kecuali dia adalah salah satu dari tiga golongan : “Munafiq yang telah jelas kemunafikkannya atau dia adalah seorang fasiq yang membenci ‘ulamâ karena mereka mencegah dari perbuatan kefasikan mereka atau dia adalah seorang hizbi yang sesat yang membenci ‘ulamâ karena mereka tidak menyetujui kehizbian dan pemikiran-pemikirannya yang menyimpang.”

Bukti-bukti tentang pencelaan mereka terhadap ‘ulamâ Dammâj yang mereka adalah ‘ulamâ yang istiqômah di atas al-haq terlalu banyak untuk ditulis, di antara buktinya adalah:

# ‘Abdurrohmân Al-‘Adanî berkata: “Aku bersumpah dengan nama Allôh Y Al-‘Adhîm bahwa aku tidak mengenal seorang pun semenjak aku menuntut ‘ilmu sampai sekarang yang dia menisbahkan dirinya kepada ‘ilmu dan kebaikan yang lebih fâjir dalam bersengketa dan pendendam, serta lebih besar kebohongannya dan makarnya melebihi Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûri. Dan dia bersamaan dengan sifat-sifat ini sangat hati-hati dalam menyembunyikannya agar tidak nampak pada dirinya perkara-perkara tersebut.”

Ini adalah perkataan ‘Abdurrohmân sendiri yang disebarkan oleh para pengikutnya, yang menunjukkan ketidakadilannya dalam menjarh seseorang, apakah dia tidak mengenal Khumainî, Yûsuf Qordhôwî, Sayid Qutb dan ‘ulamâ sesat lainnya? Apakah Syaikh Yahyâ lebih jahat dari orang-orang tersebut dan lebih pendusta?

Dan sungguh Syaikh Yahyâ sangat bergembira ketika muncul pernyataan ‘Abdurrohmân ini, karena ini menunjukkan tentang ketidakmampuannya dalam membantah bukti-bukti yang menunjukkan tentang kehizbiannya.

# ‘Abdullôh Al-Mar’î berkata tentang Syaikh Yahyâ : “Gila, dungu, tidak tahu tentang apa yang keluar dari kepalanya, tidak beradab, ditakutkan keselamatan da’wah ini dari Syaikh Yahyâ” (Saksi tentang perkataan ini Syaikh Abu Bilâl Al-Hadhromî).

# Yâsin berkata: “Sungguh saya sangat membencinya (Syaikh Yahyâ) dan aku tidak ingin melihatnya” (saksi Syaikh Muhammad Al-‘Amudî).

# Afifuddîn As-Sidawî Al-Indunisî berkata: Syaikh Yahyâ orang yang hasad” (terhadap Syaikh ‘Abdurrohmân). Saksi perkataan ini Khodhir Al-Mulkî.

# Luqmân Bâ’abduh Al-Indunisîy berkata bahwa Syaikh Yahyâ sekedar dâ’i yang tidak tahu manhaj sudah naik pangkat. Afifudîn tertawa terbahak-terbahak ketika mendengar perkataan Luqmân ini (rekaman suaranya sudah tersebar di Dammâj).

Wahai para pencela, demikiankah kalian membalas jasa-jasa guru kalian? Demikiankah kalian diajarkan adab? Ataukah hawa nafsu telah melingkupi kalian sehingga kalian balas semua budi baik dengan caci maki dan cemoohan?

4) Menghalang-halangi Manusia dari Markaz-markaz Da’wah Salafî, Terutama Dârul Hadîts Dammâj.

Hal ini sudah tidak perlu bukti lagi, ibarat matahari di siang bolong, dan inilah yang dilakukan Luqmân Bâ’abduh dan teman-temannya yang sudah diketahui sebagian besar salafiyyûn Indonesia.

5) Memecah Belah Persatuan ‘Ulamâ Salafî.

Telah kami jelaskan secara singkat tentang upaya-upaya mereka dalam memecah belah dan mengadu domba para ‘ulamâ. Sebagai penguat terhadap hal tersebut:

# ‘Abdurohmân dan para pengikutnya menjadikan masalah Jâmi’ah Islâmiyyah sebagai tangga untuk menyerang Syaikh Yahyâ dengan memanas-manasi para ‘ulamâ Saudi.

# Abdul Karîm Roimî mengabarkan bahwa ‘Âdil bin Manshûr yang tinggal di Saudi mengabarkan kepadanya bahwa Syaikh Robî’ bercerita perihal Abul Khotthôb Al-Libbî yang termasuk gembong hizbiyyahnya ‘Abdurrohman. Abul Khotthôb ini menelpon Syaikh Robî’, maka ketika diketahui bahwa orang yang menelponnya ini mencela Syaikh Yahyâ dan ingin mengadu domba antara keduanya, maka Syaikh Robî’ mencercanya dan berkata: “Kabarkan kepada Syaikh Yahyâ untuk mengusir orang ini.” Kemudian dikatakan kepada beliau: “Kemungkinan Syaikh Yahyâ tidak mengusirnya karena khawatir dia (Abul Khotthôb) akan disakiti di negerinya (Libya). Maka Syaikh Robî’ berkata: “Dia disakiti di negerinya dan tidak menyakiti dakwah salafiyah di Yaman yang mengakibatkan fitnah serta keributan pada dakwah salafiyah di Yaman!” Âdil bin Manshûr berkata: “Barangsiapa ingin mengecek lebih lanjut tentang perkataan ini, maka silahkan menelpon sendiri kepada Syaikh Robi’.” [37]

6) Upaya-upaya untuk merebut masjid Ahlussunnah.

Hal ini merupakan cara-cara yang ditempuh oleh hizbiyyah sebelum mereka, baik itu ikhwânul muslimîn, Abul Hasan dan selain mereka.

Bukti-bukti tentang hal tersebut sangat banyak, diantaranya:

# Masjid “Al-Imâm Al-Albânîy” di daerah Lahaj telah dirampas pada tanggal 2 September 2007, mereka meminta bantuan dalam perampasan tersebut dengan mengumpulkan tanda tangan orang-orang ‘awwâm, setelah melengserkan kedudukan imâm masjid.  Namun setelah jelas bahwa nama-nama tersebut dan tanda tangan tersebut palsu orang-orang pun bersegera mengembalikan masjid kepada imâm yang semula (Imâm dari Ahlussunnah).

# Masjid “As-Sunnah” di Mukalla. Berkata Muhammad bin ‘Alî Al-Qusairî: “Berhubungan dengan perkara yang terjadi dengan Akh Yâsir Ad-Duba’î Abu ‘Ammâr dengan Sâlim Bâmuhriz sebagai berikut: Sâlim Bâmuhriz menghentikan pemberian nafkah dan juga menghentikan penyewaan tempat tinggal terhadap Akh Abu ‘Ammâr, padahal nafkah tersebut berasal dari sebagian ikhwah di Imarot, dan Sâlim hanyalah sebagai perantara untuk menyampaikannya kepada Akh Abu ‘Ammâr. Selain itu Sâlim melakukan hal ini tanpa seizin ikhwah yang menginfaqkan uangnya di Imarot dan juga mereka berupaya untuk mempersulit Akh Yâsir (Abu ‘Ammâr) dengan menutup maktabah serta mengganti kunci-kunci pintu. Inilah yang aku ketahui seputar perkara ini”.

7) Upaya-upaya untuk menggagalkan Muhâdhoroh.

Bukti-bukti tentang hal ini di antaranya adalah:

# Asy-Syaikh Ahmad bin ‘Utsmân Al-‘Adanî yang merupakan imâm masjid As-Sunnah di ‘Aden dilarang untuk menyampaikan muhâdhorohnya di seluruh masjid yang terfitnah dengan hizbiyyah ‘Abdurrohmân.

# Akh Kholil At-Ta’izî ketika menyampaikan muhâdhorohnya di masjid Ash-Shobah dengan permintaan imâm masjid tersebut, berdirilah ‘Abdurrohman Al-‘Adanî dan mengisyaratkan orang-orang yang hadir di masjid untuk keluar, sampai-sampai tidak tersisa kecuali sebagian kecil saja.

Lebih menguatkan lagi tentang kehizbian mereka adalah pernyataan-pernyataan para pencetus fitnah ini, yang dengannya diketahui bahwa mereka memang sudah menyiapkan gerakan makar terhadap dakwah Salafiyah jauh-jauh hari sebelum fitnah meletus. Berikut ini adalah bukti tentang hal tersebut:

# Abu ‘Abdillah Muhammad bin Mahdî Al-Qobbâsh Asy-Syabwî menuturkan: “Suatu hari ketika kembali dari menghadiri muhâdhoroh (ceramah) yang diisi oleh ‘Abdurrohmân Al-‘Adanî, hal itu terjadi setelah kepulangan Syaikh Yahyâ –hafidhohullôh- dari kunjungan terakhir beliau ke ‘Adn, Berkatalah Al-Akh Shôdiq Al-Abdînî kepada ‘Abdurrohmân -dia adalah termasuk teman akrab ‘Abdurrohmân Al-‘Adanî -: “Yang menghadiri majelis Syaikh Yahyâ jumlahnya cukup besar. Kita melihat kekuasaan kita akan tegak di sana (yaitu di ‘Aden), maka ‘Abdurrohmân menimpali berkata: “Siapa tahu, wahai akh Shôdiq, kalau markaz atau dakwah ini akan dialihkan ke sana. Karena markaz ini (Dammâj) terancam dari pihak Rôfidhoh.” Hal ini terjadi sebelum terungkapnya fitnah ‘Abdurrohmân dan bergejolaknya fitnah Al-Hutsiyyîn -para pengikut Al-Hutsi dari kalangan Rôfidhoh yang memberontak terhadap pemerintah Yaman.

# Abu Yûsuf Al-Amrikî menuturkan bahwa ‘Abdullôh bin Mar’î pernah berkata kepadanya: “Kelak akan terjadi perselisihan di antara para masyâyikh. Aku dan Syaikh ‘Ubaid beserta saudaraku ‘Abdurrohmân berada di satu pihak sementara para masyâyikh berada di pihak lain.” Ucapan ini pula terungkap beberapa lama sebelum terjadinya fitnah.

# Muhammad bin Sa’îd bin Muflih dan saudaranya Ahmad -keduanya dari penduduk kampung Distimur di pinggiran Hadromaut- mengatakan bahwa Sâlim Bâ Muhriz berkata kepada mereka di pertengahan tahun 1423 H: “Kita sudah selesai dari kasus Abul Hasan dan telah tiba giliran Al-Hajûrî.”

# Abu Bilâl Khôlid bin ‘Abbûd Bâ ‘Âmir Al-Hadhromî berkata: “Sungguh ‘Abdullôh bin Mar’î pernah berkata: “Dikhawatirkan kejelekan terhadap dakwah ini dengan sebab keberadaan Syaikh Yahyâ.” Hal tersebut  dia ungkapkan pada tahun 1422 H, selang empat tahun sebelum terjadinya fitnah.

# Abdul Hakîm bin Muhammad Al-‘Uqoilî Ar-Roimî menuturkan: “Salah seorang dari orang Indonesia pernah datang meminta arahan dari ‘Abdurrohmân Al-‘Adanî ketika dia hendak membeli tanah di kawasan Dammâj dengan harga empat juta real Yaman, berkatalah ‘Abdurrohmân: “Saya menasehatkan kepadamu untuk tidak membelinya.” Kemudian orang tersebut pergi. Kemudian ‘Abdurrohmân berkata kepadaku: “Nasehati orang itu! Ini adalah harta yang banyak, hanya Allôh U yang Maha mengetahui, apakah akan tetap keberadaan Dammâj seperti ini atau tidak? Bahkan bisa jadi akan hilang sia-sia harta orang itu.” Sebagaimana yang dia katakan, hal ini sebelum meletusnya fitnah. Allôh U Maha menyaksikan apa yang aku katakan.

# Abul Khotthôb Thôriq Al-Libî -dia termasuk gembong fitnah ini- pernah berkata kepada Akh Aimân Al-Libî: “’Abdurrohman bin Mar’î Al-‘Adanî akan mendirikan markas besar di ‘Adn dengan segala prasarananya yang memadai dan sokongan yang kuat dan akan dinamakan dengan “Kota ‘Ilmu”. Insya Allôh U akan didapati padanya solusi bagi para pendatang dari luar negeri.” Kemudian Abul Khotthôb berkata : “ Dan tidak ada satu pun pelajar yang akan tersisa di Dammâj ini.”

# Al-Akh ‘Abdullôh Al-Jahdarî -pengatur jadwal pelajaran di Dammâj dan termasuk teman duduk yang dekat dengan ‘Abdurrohmân Al-‘Adanî- menuturkan bahwasanya pernah berkeinginan untuk membeli rumah di Dammâj. Sementara ‘Abdurrohmân menyarankan untuk tidak membelinya seraya berkata kepadanya : “Kita tidak mengetahui bagaimanakah kalau permasalahan-permasalahan itu terjadi dan apa yang akan terjadi di belakang hari?” Hal ini terjadi pada akhir fitnahnya Abul Hasan.

Sungguh benar  pernyataan Al-Imâm Al-Barbahârî –rohimahullôh- sebagaimana tertera dalam kitâb “Thobaqôt Al-Hanâbilah” (1/90):

(( مَثَلُ أَصْحَابُ البِدَعِ مَثَلُ العَقَارِبِ يَدْفُنُوْنَ رُؤُوْسَهُمْ وَأَبْدَانَهُمْ فِي التُّرَابِ وَيَخْرجُوْنَ أَذْناَبَهُمْ فَإِذَا تَمَكَّنُوا لَدَغَوا وَكَذَلِكَ أَهْلُ البِدَعِ هُمْ مُخْتَفُوْنَ بَيْنَ النَّاسِ فَإِذَا تَمَكَّنُوا بَلَغُوْا مَا يُرِيْدُوْنَ ))

“Permisalan para pelaku kebid’ahan adalah bagaikan sekelompok kalajengking yang menyembunyikan kepala dan badannya di dalam tanah dan menampakkan ekornya. Apabila ada peluang yang memungkinkan, mereka akan menyengat. Demikianlah ahlul bid’ah, mereka bersembunyi di tengah-tengah manusia dan apabila mereka mendapatkan peluang yang memungkinkan, mereka akan menyampaikan apa yang mereka inginkan.”

Inilah sebagian ulah yang dilakukan oleh hizbiyyah baru (hizbiyyah ‘Abdurrohmân). Selain itu masih banyak perkara lainnya serta bukti-bukti yang menunjukkan tentang kehizbiyan mereka. [38] Tentunya, ini semua sudah cukup bagi siapa saja yang mengetahui dengan benar prinsip da’wah salafiyah, bahwa Syaikh Yahyâ di dalam fitnah ini berada di atas al-haq, dan ucapan-ucapan beliau terhadap mereka dibangun diatas dalîl dan bukti-bukti yang tidak bisa dipungkiri oleh orang-orang yang punya sikap adil.

ö@è% @@à2 ÖÈÎn/uŽtI•B (#qÝÁ­/uŽtIsù ( tbqßJn=÷ètG|¡sù ô`tB Ü=»ysô¹r& ÅÞºuŽÅ_Ç9$# Äd“Èq¡¡9$# Ç`tBur 3“y‰tF÷d$# ÇÊÌÎÈ

Katakanlah: Masing-masing kita menanti, maka nantikanlah oleh kalian semua! Maka kalian kelak akan mengetahui siapa yang menempuh jalan yang lurus dan siapa yang mendapatkan petunjuk.” (QS. Thôhâ : 135)

/////

BAB 11

BANTAHAN TERHADAP KEDUSTAAN YANG DITUDUHKAN KEPADA SYAIKHUNÂ YAHYÂ AL-HAJÛRÎY

 

Sudah merupakan sunnatullôh bahwa para Nabi dan Rosûl serta orang-orang yang menyampaikan al-haq dituduh sebagai pendusta dan didustakan, Allôh U berfirman:

bÎ)ur š‚qç/Éj‹s3ムô‰s)sù ôMt/Éj‹ä. ×@ߙ①`ÏiB y7Î=ö7s% 4 ’n<Î)ur «!$# ßìy_öè? â‘qãBW{$# ÇÍÈ

“Apabila mereka mendustakanmu maka sungguh para Rosûl sebelummu telah didustakan dan kepada Allôhlah tempat kembali segala urusan”. (QS. Fâthir: 4)

Tujuan dari pendustaan mereka ini adalah untuk menolak serta membantah al-haq yang datang kepada mereka. Selain itu juga untuk melemahkan semangat dan kekuatan pengemban al-haq tersebut. Sebab, tidak ada lagi senjata yang bisa mereka gunakan untuk menghadapi al-haq dan para pembawanya kecuali dengan cara itu. Namun mereka tidak sadar bahwa kedustaan dan pendustaan ini, serta kesabaran dari orang-orang yang membawa al-haq merupakan sebab pertolongan Allôh Y dan kehancuran mereka. Allôh U  berfirman:

ô‰s)s9ur ôMt/Éj‹ä. ×@ߙ①`ÏiB y7Î=ö7s% (#rçŽy9|Ásù 4’n?tã $tB (#qç/Éj‹ä. (#rèŒré&ur #Ó¨Lym öNßg9s?r& $tRçŽóÇtR 4 Ÿwur tAÏd‰t7ãB ÏM»yJÎ=s3Ï9 «!$# 4 ô‰s)s9ur x8uä!%y` `ÏB &“Î*t6¯R šúüÎ=y™ößJø9$# ÇÌÍÈ

“Dan sungguh telah didustakan para rosûl sebelummu akan tetapi mereka bersabar atas pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan terhadap mereka) sampai datang pertolongan Kami kepada mereka”. (QS. Al-An’âm: 34).

Dan Allôh Y  pasti akan membuka tabir kedustaan mereka.

tbqçHs>÷èu‹y™ #Y‰xî Ç`¨B ÛU#¤‹s3ø9$# çŽÅ°F{$# ÇËÏÈ

“Dan kelak mereka akan mengetahui siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi jahat”. (QS. Al-Qomar: 26).

Cara kuno inilah yang juga ditempuh oleh hizbiyyah ‘Abdurrohmân dan para pengikutnya, karena mereka tidak bisa lagi menghadapi dalil dan hujjah yang dikemukakan syaikhuna Yahyâ dan para pembelanya. Mereka pun membuat berita-berita dusta untuk beliau dan berusaha mencari cela-cela sesempit apapun untuk bisa menjatuhkan nama Syaikh Yahyâ dan menghilangkan kepercayaan ummat kepadanya. Selain itu mereka juga berupaya untuk membenturkan perkataan Syaikh Yahyâ dengan perkataan para ‘ulamâ yang lainnya, sehingga timbul kesenjangan di antara mereka.

Inilah ‘Abdullôh bin Robî’ beserta teman-temannya, semisal ‘Ubaidullôh tampil sebagai seorang pahlawan tak dikenal. Dengan mencantumkan gelar As-Salafî di belakang namanya, dia berusaha untuk mengelabui umat. Mereka datang dengan membawa kebohongan atas nama Syaikh Yahyâ dan kedhôliman atas perkataan-perkataan beliau. Sebab mereka menukil perkataan Syaikh Yahyâ dan memotongnya semau perut mereka sendiri. Ibarat seorang berdalil dengan firman Alloh U:

×@÷ƒuqsù šú,Íj#|ÁßJù=Ïj9 ÇÍÈ

“Maka kecelakaanlah bagi orang yang shalat” (Al-Mâ’un: 4), kemudian dia berhenti.

Tahukah kalian siapa Abdullôh bin Robî’ ini? Jangan salah sangka, dia bukanlah Syaikh Abdullôh bin Robî’ Al-Madkholî (putra imâm Jarh wa ta’dîl). Akan tetapi dia adalah seorang yang muncul di tengah-tengah berkobarnya fitnah ini, yang tidak pernah dikenal sebelumnya dalam sejarah da’wah salafiyah!

Apakah kalian akan mengedepankan kabar-kabar bohong dari orang majhûl ini kemudian menolak mentah-mentah hujjah orang yang sudah tidak perlu lagi ditanya jasa-jasanya terhadap da’wah salafiyyah? Di mana ‘ilmu mustholah yang kalian pelajari? Ataukah karena syaithôn telah menguasai kalian sehingga semua ‘ilmu yang telah kalian pelajari tidak berbarokah. Sungguh benar sabda Rosulullôh r yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari shohabat Anas bin Malik, bahwasanya Nabi r bersabda:

))أَنَّ أَمَامَ الدَّجَّال سِنِيْنَ خُدَاعَةٌ يُكَذَّبُ فِيْهَا الصَّادِقُ وَيُصَدَّقُ فِيْهَا الكَاذِبُ وَيُخَوَّنُ فِيْهَا الأَمِيْنُ وَيُؤْتَمَنُّ فِيْهَا الخَائِنُ وَيَتَكَلَّمُ فِيْهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيْلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ : الفُوَيْسِقُ يَتَكَلَّمُ فِيْ أَمْرِ العَامَّة((    )مسند أحمد بن حنبل – (ج 3 / ص 220)(

ٍ          “Sesungguhnya sebelum turunnya Dajjâl ada tahun yang penuh dengan tipu muslihat, orang-orang jujur dianggap pendusta dan orang–orang pendusta dianggap jujur. Orang-orang amanah dianggap pengkhianat dan orang-orang pengkhianat dianggap amanah, dan  para ruwaibidhoh mulai angkat bicara.” Rosûlullôh r ditanya: “Siapakah ruwaibidhoh itu?” Beliau menjawab: “Orang fâsiq hina yang berbicara tentang masalah umat.” (Hadîst dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah) [39]

Di antara kebohongan dan kedhôliman ‘Abdullôh bin Robî’ dan orang-orang yang semisalnya yang telah dibantah dengan tuntas oleh Syaikh Abu Hamzah Muhammad Al-‘Amudî dalam kitâbnya “Zajrul ‘Âwîy ‘Abdillâh bin Robî’” ” (seri 1-3) adalah:

# Syaikh Yahyâ tidak tahu dhôbith hizbiyyah.

Jika beliau tidak tahu dhôbidh hizbiyyah, lalu siapa yang membuka kedok Abul Hasan dan Al-Bakrî dalam fitnah yang telah lalu? Apakah Syaikh Muqbil rela setelah berkecimpung selama bertahun-tahun memerangi hizbiyyah dan menjelaskannya kepada ummat kemudian beliau tinggalkan markasnya dipimpin oleh seorang yang tidak tahu dhôbidh hizbiyyah?!!

# Syaikh Yahyâ tidak punya satu dalîl pun tentang kehizbiyyahan ‘Abdurrohmân.

Orang yang bijak akan langsung menolak tuduhan ini, sebab bukti yang ada beserta dampak-dampak buruk yang ditimbulkannya terhadap dakwah salafiyyah sudah sangatlah jelas. Jika kalian tidak percaya bahwa api itu panas, maka masuklah kalian ke dalam api tersebut sehingga kalian hangus terbakar!!.

# Syaikh Yahyâ mengajak manusia untuk taqlîd kepadanya.

Ini adalah kedustaan yang sangat jelas, sebab kami dengar sendiri dalam pelajaran-pelajaran beliau, bagaimana beliau sangat membenci taqlîd. Inilah bukti tentang hal tersebut, yang berhubungan dengan fitnah ini:

Di saat-saat fitnah ‘Abdurrohmân masih terselubung dan orang-orang belum percaya dengan penjelasan-penjelasan Syaikh Yahyâ, beliau pun terus bersabar dan terus memberikan nasehat kepada ummat seraya berkata: “Pemahaman orang berbeda-beda. Sebagian orang ada yang mengetahui perkara-perkara yang tidak diketahui yang lainnya. Barangsiapa yang belum jelas dalam suatu perkara dan dia diam serta beradab, maka tidaklah dicela.” Namun setelah jelas dengan dalîl dan bukti-bukti yang kuat tentang penyimpangan ‘Abdurrohmân dan para pengikutnya, maka Syaikh hafidhohullôh, dengan tegas menyatakan bahwa dia adalah hizbî. Dan beliau pun menyerukan agar manusia meninggalkan mereka. Dan seruan untuk mengikuti al-haq dan menjauhi Al-Bâthil sama sekali bukanlah seruan untuk taqlîd terhadap dirinya.

# Syaikh Yahyâ mengubah metode dakwah Syaikh Muqbil.

Sudah diketahui bahwa dakwah Syaikh Yahyâ hafidhohullôh dibangun di atas Al-Qur’ân dan As-Sunnah dengan pemahaman salaful ummah, dan ini adalah metode dakwah Syaikh Muqbil dan seluruh ‘ulamâ ahlus sunnah lainnya. Barangsiapa menyangka bahwa di sana ada perubahan, maka datangkanlah buktinya! Adapun tuduhan bahwa Syaikh Yahyâ tidak melaksanakan wasiat Syaikh Muqbil, maka pada hakekatnya kalianlah yang menyelisihinya. Bukankah Syaikh Muqbil telah berwasiat untuk berbuat baik kepada penggantinya? Apakah dengan semua kedustaan ini kalian telah berbuat baik?

# Syaikh Yahyâ banyak melecehkan para ‘Ulamâ.

Sebenarnya hubungan Syaikh Yahyâ dengan para ‘ulamâ Ahlussunnah yang lain ibarat  hati yang satu. Sebab dakwah mereka satu dan tujuannya juga satu, yaitu menyampaikan al-haq kepada ummat. Adapun munculnya khilâf di antara mereka dikarenakan dua sebab:

# Liciknya tipu muslihat para Hizbî, mereka menampakkan sunnah secara dhôhir dan menyembunyikan keculasannya.

# Upaya para Hizbî untuk membenturkan perkataan ‘ulamâ yang satu dengan lainnya serta usaha untuk memecah belah ukhuwah mereka. Sehingga terkadang muncul perkataan dari yang satu dan dibalas oleh yang lain. Akan tetapi, segala puji bagi Allôh U, setelah semakin jelasnya fitnah ini hubungan mereka semakin membaik.

Adapun mengenai Syaikh Muhammad Al-Wushôbî, sebenarnya Syaikh Yahyâ tidaklah berbicara tentang beliau, jika beliau tidak memulai terlebih dahulu. Sebab, pada masa akhir-akhir ini, Syaikh Al-Wushôbî banyak sekali perubahan. Dan Syaikh Yahyâ telah mengirim kepada para Masyâyikh Yaman surat  dalam enam halaman yang berisi tentang perkara-perkara yang berkaitan tentang Syaikh Al-Washôbî, dan meminta mereka untuk menasehati beliau. Bahkan Syaikh Yahyâ sendiri pun telah mengirimkan nasehat secara pribadi kepada beliau. Namun Syaikh Al-Washôbî tetap pada sikapnya. [40]

Demikian pula halnya dengan Syaikh ‘Ubaid Al-Jâbirî, Syaikh Yahyâ berbicara tentang beliau setelah jelas pembelaan buta beliau terhadap ‘Abdurrohmân dan pengikutnya. Di antara bentuk penentangan beliau yang sangat jelas adalah permintaan beliau kepada Syaikh Yahyâ untuk rujuk dari perkataan bahwa di “Jâmi’ah Islâmiyah Madînah” ada hizbînya. Padahal ini sudah bukan merupakan hal yang diragukan lagi, dan kenyataannya memang demikian. Selain itu, Syaikh ‘Ubaid juga telah berlebih-lebihan dalam mencela Syaikh Yahyâ karena Syaikh Yahyâ telah mengucapkan bahwa Ahlussunnah merupakan kelompok yang paling dekat dengan al-haq. Pembahasan permasalahan ini secara rinci pada point selanjutnya. Di antara perkataannya adalah bahwa Syaikh Yahyâ orang yang sangat pendusta, tolol, dsb. Padahal sebelum adanya fitnah ‘Abdurrohmân ini beliau memuji-muji  Syaikh Yahyâ. Pada awalnya Syaikhunâ membalas pernyataan-pernyataan Syaikh ‘Ubaid dengan lemah lembut dan menasehati beliau agar menjauhi ‘Abdirrohmân dan pengikutnya. Namun beliau malah membalasnya dengan jelek dan menyatakan bahwa ‘Abdurrohmân adalah teman-teman khususnya. Dalam penjelasan yang akan datang akan diketahui bahwa Syaikh ‘Ubaid memang dipergunakan sebagai alat untuk memecah belah dakwah salafiyah di Yaman.[41] Wallohu Musta’ân. Oleh karena itulah Syaikh Yahyâ hafidhohullôh berbicara keras tentang beliau berdasar bukti-bukti yang ada. Dan berbicara tentang seseorang berdasar bukti dan dalil bukanlah kedholiman, apalagi jika dibangun di atas usaha untuk membela al-haq.

Syaikh Yahyâ mengatakan: “Ahlus sunnah adalah kelompok yang paling dekat dengan al-haq.”

Memang benar bahwa Syaikh Yahyâ hafidhohullôh mengucapkan kalimat tersebut. Celah yang sempit ini pun dimanfaatkan oleh ‘Abdurrohmân dan para pengikutnya untuk menjatuhkan Syaikh Yahyâ. Maka mereka pun berusaha mencari seorang ‘ulamâ yang bisa dibenturkan ucapannya denga perkataan Syaikh Yahyâ. Jatuhlah pilihan pada Syaikh ‘Ubaid. Merekapun menanyakan kepadanya tentang orang yang mengatakan perkataan tersebut. Maka Syaikh ‘Ubaid menjawab bahwa perkataan tersebut menyelisihi Al-Qur’ân dan As-Sunnah serta Ijmâ’, dan orang yang mengatakan perkataan ini telah berdusta dan layak untuk disebut mubtadi’. Selain itu Syaikh ‘Ubaid pun bersumpah dalam jawabannya tersebut dengan tiga sumpah: “Wallahi, billahi, tallahi, bahwa orang yang mengucapkan kalimat ini tidak boleh untuk diambil ‘ilmunya.” Para hizbiyyûn itupun berjingkrak kegirangan karena jawaban yang dinanti-nantikan telah keluar. Merekapun sebarkan berita gembira ini secara besar-besaran.

Namun apakah perkataan tersebut sebagaimana yang dijawab oleh Syaikh ‘Ubaid?  Syaikh Yahyâ hafidhohullôh telah membantahnya dalam tulisannya yang berjudul “Luthfullôh bil-kholqi min Mujâzafât Syaikh Ubaid.” Beliau menjelaskan dalam bantahannya ini bahwa ucapan beliau: “Ahlus sunnah adalah kelompok yang paling dekat dengan al-haq.” tidaklah keliru. Bahkan para ‘ulamâ terdahulu maupun sekarang telah menggunakan kalimat tersebut. Di antara mereka adalah:

Asy-Syaikh Muqbil Al-Wâdi’i dalam kitâbnya “Riyâdhul Jannah fir-Rad ‘Alâ ‘Adâis-Sunnah” hal. 23 menyatakan: “Dan di antara yang wajib diperhatikan adalah bahwa semua firqoh menyatakan dirinya sebagai firqotun nâjiyah. Akan tetapi Al-Kitâb dan As-Sunnah telah menjelaskan tentang siapakah firqotun nâjiyah ini.” Kemudian beliau berdalîl dengan surat Al-’Ashr dan Al-Mu’minûn ayat 1-11 dan menyebutkan hadits Abû Huroiroh yang diriwayatkan oleh Imâm Al-Bukhôrî :

(( كُلُّ أُمَّتِيْ يَدْخُلُوْنَ الجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى )). قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: ((مَنْ أَطَاعَنِيْ دَخَلَ الجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِيْ فَقَدْ أَبَى ))

“Seluruh umatku akan masuk jannah kecuali orang yang enggan.” Mereka (para shohâbat) bertanya: “Wahai Rosûlullôh, siapakah orang yang enggan itu?” Maka dijawab: “Barangsiapa mentaatiku, maka dia akan masuk jannah dan barangsiapa bermaksiat kepadaku, maka dia sungguh telah enggan (untuk masuk jannah).”  [42]

Kemudian Syaikh Muqbil melanjutkan perkataannya: “Maka siapa saja yang terpenuhi padanya sifat-sifat yang tersebut di dalam surat Al-’Ashr dan Al-Mu’minun serta hadits ini, maka dia termasuk firqotun najiyah, dan orang yang paling dekat dalam mencocoki sifat-sifat tersebut adalah ahlul hadits.”

Asy-Syaikh Al-’Utsaimîn dalam Syarh Aqîdah Al-Wâshitiyyah hal. 500, ketika menjelaskan tentang wajibnya mengikuti jalan As-Sâbiqûnal Awwalûn mengatakan: “Mengikuti jalan mereka adalah manhaj ahlus sunnah wal jama’âh karena mereka adalah orang yang paling dekat dengan kebenaran dan al-haq daripada orang-orang setelah mereka. Semakin jauh seseorang dari zaman kenabian, maka semakin jauh dia dari al-haq dan semakin dekat seseorang dengan zaman kenabian, maka semakin dekat dengan al-haq. Semakin giat seseorang dalam mengetahui sejarah Nabi r dan khulâfa’ur rôsyidîn, maka dia semakin dekat dengan al-haq.”

Asy-Syaikh Shôlih Al-Fauzân dalam Syarh Aqîdah Al-Wâshitiyyah hal. 211, ketika menjelaskan tentang hal yang sama, mengatakan: “Di antara sifat-sifat ahlus sunnah adalah mengikuti jalan As-Sâbiqûnal Awwalûn dari kaum muhâjirîn dan anshôr. Hal ini karena Allôh U telah mengkhususkan mereka dengan ‘ilmu dan pemahaman dibandingkan dengan yang lainnya. Mereka telah menyaksikan turunnya Al-Qur’ân dan mendengarkan tafsîrnya serta mengambil langsung ‘ilmu dari Rosûlullôh r tanpa perantara. Mereka adalah orang yang paling dekat dengan kebenaran dan paling berhak untuk diikuti setelah Rosûlullôh r.”

Al-Lajnah Ad-Dâimah lil Buhûtz wal Iftâ’ yang diantara anggotanya Asy-Syaikh Ibnu Qu’ûd, Asy-Syaikh Ibnu Ghudaiyan, Asy-Syaikh Abdurrozzâq ‘Afîfî dan Asy-Syaikh Ibn Bâz (ketua) menyatakan: “Kelompok Islam yang paling dekat dengan al-haq dan paling bersemangat dalam menerapkan al-haq adalah ahlus sunnah, dan mereka adalah ahlul hadîts.”

Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah dalam Al-Majmû’ul Fatâwâ (4/23) juga menyatakan dengan pernyataan yang senada dengan pernyataan ‘Ulamâ yang tersebut di atas.

Inilah perkataan para ‘ulamâ kita. Apakah kita akan mengatakan bahwa mereka layak untuk disebut sebagai ahlul bid’ah, tidak diambil ‘ilmunya, dan……, sebagaimana fatwa Asy-Syaikh ‘Ubaid? Kita yakin bahwa para ‘ulamâ tersebut dan yang berjalan di atas jalan mereka meyakini bahwa ahlus sunnah wal jamâ’ah di atas al-haq dan kelompok-kelompok lainnya di atas kesesatan. Sedangkan kalimat (paling dekat) tidaklah menunjukkan bahwa ahlus sunnah tidak berada di atas al-haq secara hakiki. Hal ini sebagaimana juga firman Allôh  U :

(#qä9ωôã$# uqèd Ü>tø%r& 3“uqø)­G=Ï9 ÇÑÈ

“Berlakulah adil, karena keadilan itu lebih dekat dengan ketakwaan.” (QS.Al-Mâidah : 8)

Apakah ayat ini menunjukkan bahwa kecurangan termasuk di antara sifat taqwa, akan tetapi sifat adil itu lebih dekat? Tentu jawabannya adalah tidak. Demikian juga firman Allôh U:

Ü=»ysô¹r& Ïp¨Yyfø9$# >‹Í³tBöqtƒ ׎öyz #vs)tGó¡•B ß`|¡ômr&ur WxŠÉ)tB ÇËÍÈ

“Ahlul jannah itu lebih bagus tempat kembalinya dan lebih indah tempat istirahatnya.” (QS.Al-Furqôn: 24)

Apakah ayat ini menunjukkan bahwa penghuni neraka itu mempunyai tempat yang bagus dan indah akan tetapi bagi penghuni jannah lebih bagus dan indah?!

Dari semua penjelasan tersebut jelaslah bahwa perkataan Syaikhunâ Yahyâ hafidhohullôh bahwa Ahlussunnah adalah kelompok yang paling dekat dengan al-haq tidaklah keliru. Hal ini juga menunjukkan tentang pembelaan buta Asy-Syaikh ‘Ubaid  terhadap ‘Abdurrohmân dan para pengikutnya sehingga tanpa sengaja dia telah menuduh para ‘ulamâ besar dengan tuduhan yang keji dan menyatakan bahwa mereka layak disebut mubtadi’ dan tidak layak untuk diambil ‘ilmunya.

# Syaikh Yahyâ Banyak Memiliki Kesalahan Dalam ‘Aqîdah.

Memang dosa jika tidak segera bertaubat akan menyeret seseorang untuk melakukan dosa-dosa lainnya yang lebih besar. Demikian halnya hizbiyyah baru yang semoga Allôh U segera hancurkan mereka, mereka semakin giat dalam merancang kedustaan yang dituduhkan kepada Asy-Syaikh Yahyâ. Di antara kedustaan yang mereka sebarkan adalah:

Asy-Syaikh Yahyâ menyatakan bahwa Fir’aun dan orang-orang kâfir berdakwah kepada tauhîd. Sungguh suatu yang sangat mengherankan jika seorang salafî mempercayai hal ini. Cukuplah kitâb beliau yang berjudul “Syar’iyyatuddu’â ‘Alal Kâfirîn” sebagai saksi atas kedustaan ini.

Asy-Syaikh Yahyâ menyatakan Bahwa Rosûlullôh r keliru dalam metode da’wahnya.

Wahai para pendusta..tunjukkan kepada kami satu bukti saja atas tuduhan kalian ini!!!

Asy-Syaikh Yahyâ menyatakan bahwa orang-orang munâfiq termasuk di antara murid-murid Rosûlullôh r

+كبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا_ [الكهف/5[

“Sungguh besar kalimat yang keluar dari mulut-mulut mereka, tidaklah mereka berkata kecuali kedustaan”.

Asy-Syaikh Yahyâ menyatakan bahwa mencaci para shohâbat Rosûlullôh r hanyalah khilâful afhâm. Kami katakan: Tidakkah kalian dengar ceramah dan fatwâ-fatwâ beliau dalam membantah Syî'ah maupun yang lainnya sebagai pembelaan terhadap para Shohâbat?

Asy-Syaikh Yahyâ menyatakan bahwa pemahaman Murji’ah sudah ada sejak masa Shohâbat. Ini adalah barang dagangan murahan hizbi Abul Hasan di konsumsi lagi oleh hizbi baru ini.

Asy-Syaikh Yahyâ menyatakan bahwa ada Shohâbat yang terlibat dalam kasus pembunuhan 'Ustmân.(1)

+كبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا_ [الكهف/5 [

“Sungguh besar kalimat yang keluar dari mulut-mulut mereka, tidaklah mereka berkata kecuali kedustaan.”

Selain ini, masih banyak kedustaan lainnya yang mereka tuduhkan kepada Syaikh kami. Cukuplah bagi kami firman Allôh U:

ö@è% (#qè?$yd öNà6uZ»ydöç/ bÎ) óOçGZà2 šúüÏ%ω»|¹ ÇÊÊÊÈ

“Katakanlah: Datangkanlah oleh kalian bukti-bukti (akan kebenaran sangkaan kalian) jika kalian termasuk orang yang benar.” (QS. Al-Baqoroh :111)

Dan juga perkataan Syaikh Muqbil rohimahullôh dalam pengantar beliau terhadap kitab Syaikhunâ Yahyâ “Dhiyâus Sâlikîn fî âdâbil Musâfirîn”: “Dan Asy-Syaikh Yahyâ adalah seorang yang dicintai oleh saudara-saudaranya karena bagusnya ‘aqîdah beliau dan kecintaannya kepada sunnah dan kebenciannya kepada hizbiyyah…”

Ikhwanî, semoga Allôh U senantiasa memberikan hidâyah-Nya kepada kita, suatu hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa Dârul Hadîts di Dammâj merupakan salah satu pusat dakwah salafiyah, yang sulit untuk dicari bandingannya di masa ini. Hal ini merupakan persaksian dari para ‘ulamâ. Apakah masuk akal, apabila markas yang berpengaruh besar terhadap dakwah salafiyah dipimpin oleh seorang yang beraqîdah menyimpang, kemudian para ‘ulamâ besar seperti Asy-Syaikh Robî', Asy-Syaikh Shôlih Al-Fauzân, Asy-Syaikh Shôlih Âlu Syaikh, dan masyâyikh Sunnah lainnya mendiamkannya begitu saja? Di mana para ‘Ulamâ tersebut sehingga ‘Abdullôh bin Robî' dan ‘Ubaidullôh harus unjuk gigi?

È@t/ yìt7©?$# šúïÏ%©!$# (#þqßJn=sß Nèduä!#uq÷dr& ΎötóÎ/ 5Où=Ïæ ( `yJsù “ωöku‰ ô`tB ¨@|Êr& ª!$# ( $tBur Mçlm; `ÏiB tûïΎÅÇ»¯R ÇËÒÈ

“Akan tetapi orang-orang yang dhôlim itu mengikuti hawa nafsu mereka tanpa ‘ilmu, maka siapakah yang akan memberikan hidâyah kepada orang yang telah Allôh sesatkan? Dan tidaklah ada bagi mereka itu seorang penolongpun.” (QS. Ar-Rûm: 29)

 

Rosûlullôh r telah bersabda:

(لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ مَرَّتَيْنِ) .

“Seorang mukmin itu tidak akan tersengat dari lubang yang sama dua kali.” [43]  (HR. Al-Bukhôrî dan Muslim)

(وَقَالَ مُعَاوِيَةُ لاَ حَكِيمَ إِلاَّ ذُو تَجْرِبَةٍ) .

Muawiyah berkata : “Tidak disebut sebagai orang yang bijaksana kecuali orang yang berpengalaman” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhory secara Ta’lîqan) [44]

Ikhwanîy, semoga Allôh U senantiasa memberi taufiqnya kepada kita, masih lekat dalam ingatan kita sejarah buram “Laskar Jihad“, yang merupakan ketergelinciran salafiyyîn di Indonesia. Sebab terbesar ketergelinciran tersebut adalah kurangnya ‘ilmu serta masih adanya sikap taqlîd buta terhadap seseorang yang tidak ma’shûm. Apakah kalian akan mengulangi kenyataan pahit tersebut dengan mengikuti semua kemauan Luqmân Bâ’abduh bersama para pengikutnya? Sungguh Luqmân dkk. telah terlalu jauh masuk ke dalam fitnah ini. Sikap ta’ashubnya terhadap “Hizbiyyah Baru”-pun sudah tidak diragukan lagi.  Kedustaan-kedustaannya serta permusuhannya terhadap Dârul Hadîts di Dammâj pun tidak perlu dipertanyakan lagi. Maka setelah jelas bagi kalian tentang kehizbiyan ‘Abdurrohmân beserta pengikutnya, kami serukan kepada ikhwah sekalian untuk berlepas diri dari mereka. Ingatlah firman Allôh U:

 øŒÎ) r&§t7s? tûïÏ%©!$# (#qãèÎ7›?$# z`ÏB šúïÏ%©!$# (#qãèt7¨?$# (#ãrr&u‘ur z>#x‹yèø9$# ôMyè©Üs)s?ur ãNÎgÎ/ Ü>$t7ó™F{$# ÇÊÏÏÈ   tA$s%ur tûïÏ%©!$# (#qãèt7¨?$# öqs9 žcr& $oYs9 Zo§x. r&§t6oKoYsù öNåk÷]ÏB $yJx. (#râ䧍t7s? $¨ZÏB 3 y7Ï9ºx‹x. ÞOÎgƒÌãƒ ª!$# öNßgn=»yJôãr& BNºuŽy£ym öNÍköŽn=tæ ( $tBur Nèd tûüÅ_̍»y‚Î/ z`ÏB ͑$¨Y9$# ÇÊÏÐÈ

“Ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa dan ketika segala hubungan terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti:” seandainya kami dapat kembali (ke dunia) pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allôh memperlihatkan kepada mereka amalan-amalan mereka menjadi penyesalan bagi mereka dan mereka tidak akan keluar dari An-Nâr.” (QS. Al-Baqoroh : 166-167)

 tPöqtƒ Ü=¯=s)è? öNßgèdqã_ãr ’Îû ͑$¨Z9$# tbqä9qà)tƒ !$uZoKø‹n=»tƒ $oY÷èsÛr& ©!$# $uZ÷èsÛr&ur hwqߙ§9$# ÇÏÏÈ   (#qä9$s%ur !$oY­/u‘ !$¯RÎ) $uZ÷èsÛr& $uZs?yŠ$y™ $tRuä!#uŽy9ä.ur $tRq=|Êr’sù gŸx‹Î6¡¡9$# ÇÏÐÈ

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan di neraka mereka berkata:” alangkah baiknya andaikata kami taat kepada Allôh dan taat pula kepada rosul-Nya dan mereka berkata: “wahai Robb kami sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan para pembesar kami lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).” (Al-Ahzâb :66-67)

Demikianlah, semoga bisa bermanfaat bagi para pencari al-haq.

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

وآخِرُ دَعْوَانِيْ أَنِ الحَمْدُ لله رَبِّ العَالمَيْنَ

Dârul Hadîts, 23 Dzulhijjah 1429

Abu Zakariyâ Irhâm bin Ahmad Al-Jâw

 


BAB 12

FATWA PARA ULAMA

TENTANG PEMBUAT MAKAR

TERHADAP DÂRUL HADÎTS DAMMÂJ

 

MENEPIS SYUBHAT HIZBI BARU YANG PALING JELEK & HINA.

MEMBONGKAR MAKAR PARA PENCELA DÂRUL HADÎTS DAMMÂJ & SYAIKH YAHYÂ AL-HAJURÎ.

Telah mengijinkan untuk menyebarkannya :

Asy-Syaikh Al-Muhaddits Al-Faqîh An-Nâshihul Amîn :

Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajurî

(Kholîfah Al-Imâm Al-Wâdi’î di Dârul Hadîts Dammâj)

ÉOó¡Î «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOŠÏm§9$#

NASEHAT FADHÎLATUS SYAIKH YAHYÂ BIN `ALÎ AL-HAJÛRÎ-Hafidhohullôh– KEPADA SELURUH IKHWAH INDONESIA DALAM MENGHADAPI FITNAH LUQMÂN BÂ ‘ABDUH -Hadâhulloh-

 

Ikhwah Indonesia -hafidhohumulloh- jangan menyibukkan diri untuk membantah seorang yang hina!…Yâ Akhî!…siapa Luqmân di sini? Siapa dia Luqmân itu? Dia tidak dikenal dalam kafilah, dan tidak pula dalam kelompok, tidak ma`ruf di sini tidak pula di sana.

Dia berhasil mempengaruhi beberapa orang `ajam di sana, lalu menghalau mereka……menghalau mereka sebagaimana Ja`far menghalau mereka. Dia hendak menyia-nyiakan mereka, demi Allôh orang ini adalah sumber kerugian.

Demi Allôh tiada pada mereka melainkan kerugian belaka, yaitu mereka yang yang tidak menetapi al-khoir (kebaikan) dan ‘ilmu, dan menghalang-halangi orang dari ‘ilmu dan sunnah, dan kemana maunya mereka?!

Apakah si Luqmân ini akan menghasilkan sampai orang yang faham bagaimana dia sholât? Aku tak mengira dia faham sholât sebagaimana Rosûlullôh ج  sholât, jika dia tidak mempelajarinya di sini, maka bagaimana dia akan menghasilkan orang yang faham bagaimana dia sholat terlebih lagi untuk menghasilkan seorang penuntut ‘ilmu. Dalam pepatah dikatakan:

)فاقد الشيء لا يعطيه  (

 (Orang yang tidak punya tidak dapat memberi).

Adapun bantahan dari sini… bantahan untuk siapa? Siapa yang kalian bantah? Luqmân?.. orang yang hina dari orang-orang rendahan?!.. Dia adalah pengikut hizbiyyah baru yang paling jelek … dia yang paling jelek dari mereka … jangan kalian menyibukkan diri dengannya… belajarlah …

Risalah mana saja yang datang kepadaku mengenai perkara Luqmân … Luqmân bukan kewajibanku di sini. Apa Luqmân itu? Siapa dia ini? Sampai pada perkara inipun (fitnah ‘Abdurrohmân Al-Mar`î) kami juga senantiasa menyibukkan diri dengan ‘ilmu dan sunnah. Sudah … di atas ilmu dan sunnah.

‰s% tû¨üt6¨? ߉ô©”9$# z`ÏB ÄcÓxöø9$#

“Telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat”. (QS. Al-Baqoroh : 256)

Bagi semua orang yang punya mata (bashiroh). Pengikut hawa pergi bersama pengikut hawa… itu bukan kewajiban kita, dan orang yang tertipu juga bukan kewajiban kita, kita tetap pada urusan kita, Jazakumullôh khoiron.

Jangan kalian sibuk dengan Luqman! Luqman termasuk orang-orang munharif (menyimpang dari al-haq) yang dunia penuh dengan mereka. Saudara kita Syaikh Muhammad Mâni` telah membantahnya dangan bantahan yang kuat (teguh), membahasnya, dan mentahdzîr darinya. Bantahan itu sesuai pada tempatnya, cukup kalian menerima dan menyebarkan bantahan itu. Bantahan dan tahdziran Syaikh Muhammad Maani` cukup. Orang ini (Luqmân) adalah pengangguran dia telah menelantarkan dan menipu sebagian orang `ajam, kemudian menyia-nyiakan mereka. Jangan kalian menyibukkan diri dengannya! Jazakumullôh khoiron, Yang hendak menuntut ‘ilmu dia akan datang. Demi Allôh da`wah kita tidaklah berdiri disebabkan orang yang datang dari Indonesia, dari awal hari. Dahulunya tiada kecuali Dzulqornain… apa? Ja`far datang mengunjungi tempat ini sekitar tiga bulan kemudian Dzulqornain datang dan aku tidak tahu berapa lama. Dan tinggal sekelompok, kemudian mereka berdatangan dan mendapatkan al-khoir (‘ilmu agama), lalu pulang jadi ustâdz… Al-Ustâdz … di sini belajar sebentar pulang ke Indonesia jadi ustâdz yang melawan tempat mereka belajar padanya (Dammâj). Demi Allôh mereka itu tidak tahu berterima kasih.

((لاَ يَشْكُرُ اللهِ مَنْ لاَ يَشْكُرِ النَّاسِ))

“Tidak dapat mensyukuri Allôh, barangsiapa yang tidak mensyukuri manusia (yang berbuat baik kepadanya)” [45]

Asâtidzah melawan tempat mereka belajar padanya, asâtidzah atas apa?! Mereka bersama para hizbiyîn yang keluar dari saluran comberan, saluran comberan hizbiyah, menjulurkan lidah di belakang jam`iyyah dan harta (cenderung kepada dunia). Ah (celaka) bagi mereka yang keluar dari tempat ini kemudian menjadi lawannya, celaka (mereka), demi Allôh kecelakaan bagi mereka. Dan aku tidak mengira mereka akan beruntung disebabkan ulah mereka ini, dan perlawanan mereka kepada al-haq (kebenaran), karena sesungguhnya perlawanan kepada al-khoir (kebaikan) adalah kebinasaan. Berkata Nabi r:

))مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْب ))

“Barang siapa yang memusuh wali-Ku, maka Aku telah mengumandangkan perang baginya.” [46]

Maka aku tidak mau dengar ada seseorang menyibukkan diri dengan perkara ini… dengan Luqman atau selainnya, yaitu apa? Dari sisi bahwasanya Luqmân mengatakan …. Luqmân melakukan ….

Pengangguran dari orang-orang gelandangan, cukup kalian mentahdzir darinya, dan sudah. Yang Allôh hendaki padanya kebaikan, niscaya dia akan datang menuntut ‘ilmu, adapun yang lebih memilih bersama mereka para pengangguran, dan hizbiyyîn akan tinggal bersama mereka. Apa kewajiban kita dengannya?

Allôh berfirmân kepada NabiNya r :

|MRr’sùr& çn̍õ3è? }¨$¨Z9$# 4Ó®Lym (#qçRqä3tƒ šúüÏZÏB÷sãB ÇÒÒÈ

“Apakah kamu memaksa manusia sampai mereka mau beriman?” (QS. Yûnus:99)

Kita yang memberi orang hidâyah?! Sebagian orang itu buta.

$pk¨XÎ*sù Ÿw ‘yJ÷ès? ㍻|Áö/F{$# `Å3»s9ur ‘yJ÷ès? Ü>qè=à)ø9$# ÓÉL©9$# ’Îû ͑r߉Á9$# ÇÍÏÈ

 “Karena sesungguhnya bukan mata yang buta, tapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada.” (QS. Al-Hajj : 46)

Bisa jadi orang jalanan mempercayaimu, sedangkan ahlul ‘ilmi dan sunnah tidak mempercayaimu… Jangan kalian disibukkan dengan ini! Tinggalkan dia! Tinggalkan! Tinggalkan mereka yang di sana. Tinggalkan mereka terserah apa yang mereka inginkan! Jika mereka ingin menuntut ‘ilmu di atas kitâb dan sunnah, maka itu adalah hal yang baik bagi mereka. Dan jika mereka ingin berguru kepada al-allâmah Luqmân … kepada al-allâmah Luqmân … silakan berguru kepada al-allâmah Luqmân, dan katakan kepada mereka: “Silahkan kalian mengambil faidah darinya.” Demi Allôh tiada yang keluar dari kalian melainkan orang yang buta, hizbî, kurang kerjaan (suka omong kosong), dan gelandangan.

Orang seperti ini (Luqmân) tidak akan mengeluarkan sesuatu (yang bermanfaat). Mereka para pelajar yang keluar dari sini (Dammâj) yang sekarang jadi ASÂTIDZAH ..mereka dipanggil asâtidzah. Padahal sebagian mereka tidak pandai mengucapkan bahasa ‘arob dengan benar, bersamaan dengan itu sesuai kemampuan dan apa yang mereka ketahui… seandainya mereka istiqômah di atas sunnah niscaya Allôh akan mengarahkan hati-hati manusia kepada mereka, dan mereka akan memberi manfa`at. Adapun dalam keadaan mereka yang seperti ini, sungguh mereka akan larut sebagaimana larutnya garam dalam air… Siapa saja yang melawan al-haq.

أعلمه الرماية كل يوم    فلما استد ساعده رماني

“Setiap hari aku mengajarinya menembak (memanah) tatkala dia telah lurus sikunya dia malah membidikku.”

وكم علمته نظم القوافي  فلما قال قافية هجاني

“Dan betapa banyaknya aku mengajarinya menyusun sajak, tatkala dia telah pandai menyusun sajak dia malah menyindirku.”

20 Dzulhijjah 1429 H

Diterjemahkan oleh : Abu Abdirrohmân Shiddîq bin Muhammad Al-Bughisî

NASEHAT SINGKAT UNTUK SAUDARA-SAUDARA KAMI AHLUS SUNNAH DI INDONESIA HAFIDHOHUMULLÔH.

 

Oleh :Asy-Syaikh Muhammad bin Mani hafidhohullôh

Kami menasihatkan kepada saudara-saudara kami agar bertaqwa kepada Allôh U dan berpegang teguh dengan Al-Kitâb dan As-Sunnah di atas pemahaman Salafush Shôlih, kemudian bersemangat dalam mempelajari ‘ilmu agama ini karena Allôh U  berfirman kepada Nabi-Nya :

@è%ur Éb>§‘ ’ÎT÷ŠÎ— $VJù=Ïã ÇÊÊÍÈ

“Dan katakanlah (wahai Rosûlullôh): Wahai Robbku tambahkanlah padaku ilmu.” (QS. Thoha : 114)

Dan Allôh U berfirman pula:

 `yJsùr& ÞOn=÷ètƒ !$yJ¯Rr& tA̓Ré& y7ø‹s9Î) `ÏB y7Îi/¢‘ ‘,ptø:$# ô`yJx. uqèd #‘yJôãr& 4 $oÿ©VÎ) ㍩.x‹tGtƒ (#qä9′ré& É=»t6ø9F{$# ÇÊÒÈ

“Apakah orang-orang yang mengetahui bahwasanya orang-orang yang diturunkan kepadamu itu adalah haqq sama seperti orang yang buta? Hanyalah yang berpikir itu adalah orang-orang yang punya akal.” (QS. Ar-Ro’d : 19)

Menuntut ‘ilmu adalah termasuk kewajiban. Diriwayatkan oleh Al-Imâm Al-Bukhôrî dan Muslim dari Mu’âwiyah rodhiyallôhu ‘anhu bahwasanya Rosûlullôh r :

(( مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ ))

“Barangsiapa yang diinginkan oleh Alloh U kebaikan untuknya Alloh U akan memahamkan kepadanya ‘ilmu agama.” [47]

[(HR. Al-Bukhori (no.71) dan Muslim (no.2386)]

Berkata Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah -rohimahullôh-:

(( وَلازِمُ ذَلِكَ أَنَّ مَنْ لَمْ يُفَقِّهْهُ اللَّهُ فِي الدِّينِ لَمْ يُرِدْ بِهِ خَيْرًا فَيَكُونُ التَّفَقُّهُ فِي الدِّينِ فَرْضًاوَالتَّفَقُّهُ فِي الدِّينِ ، مَعْرِفَةُ الأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ بِأَدِلَّتِهَا السَّمْعِيَّةِ ، فَمَنْ لَمْ يَعْرِفْ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ مُتَفَقِّهًا فِي الدِّينِ  ))

“Dan konsekuensi dari itu adalah bahwasanya barangsiapa tidak diberikan pemahaman terhadap ‘ilmu agama ini maka berarti Allôh U tidak menginginkan kepadanya kebaikan. Memahami ‘ilmu agama ini adalah wajib. Dan memahami ‘ilmu agama itu adalah mengetahui hukum-hukum syari’at dengan dalîl-dalîlnya dari Al-Qur’ân dan As-Sunnah. Maka barangsiapa tidak mengetahui yang demikian itu, maka dia bukan termasuk orang yang paham terhadap agama ini.” [48]

Dan termasuk dari perkara yang telah tetap di kalangan salaf adalah bahwa sesungguhnya ‘ilmu itu tidak diambil dari orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya dan orang-orang yang tercela.

قال الإمام مسلم – رحمة الله تعالى في مقدمة صحيحة :- حَدَّثَنَا مَخْلَدُ بْنُ حُسَيْنٍ عَنْ هِشَامٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ قَال  :((  إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ ))

Al-Imâm Muslim berkata di Muqoddimah shohîhnya: telah menceritakan kepadaku Makhlod bin Husain, dari Hisyâm, dari Muhammad bin Sîrîn yang berkata : “Sesungguhnya ‘ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”

وقال أيضاً – رحمه الله تعالى :- حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ زَكَرِيَّاءَ عَنْ عَاصِمٍ الأَحْوَلِ عَنِ ابْنِ سِيرِينَ قَالَ:

((  لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنِ الإِسْنَادِ فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ قَالُوا سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلاَ يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ ))

Dan beliau berkata pula: telah menceritakan kepadaku Abu Ja’far Muhammad bin Shobbâh, telah menceritakan kepadaku Ismâ’il bin Zakariâ, dari ‘Âshim Al-Ahwal dari Ibnu Sîrîn yang berkata:

“Mereka dahulunya tidak menanyakan tentang isnâd. Maka ketika terjadi fitnah mereka berkata, “Sebutkan kepada kami nama rowi-rowi kalian.” Dilihat jika mereka dari Ahlis sunnah diambillah hadîts mereka. Dan dilihat jika mereka dari ahlul bid’ah tidaklah diambil hadîts mereka.”

Maka kami juga menasihatkan kepada saudara-saudara kami -waffaqohumullôh- agar mereka bersungguh-sungguh dalam menuntut ‘ilmu, karena sesungguhnya kita ini berada di zaman yang penuh dengan fitnah dan syubhât. Barangsiapa yang berpaling dari ‘ilmu dan sunnah maka dia akan terjatuh ke dalam bid`ah: bid`ah tashowwuf, bid`ah tasyayyu’, dan bid’ah tahazzub. Dan keselamatan dan keterjagaan dari terjatuhnya ke dalam kebid’ahan adalah dengan senantiasa berada di atas sunnah dan mempelajari ‘ilmu agama. Sebagaimana Allôh U berfirman:

 ¨br&ur #x‹»yd ‘ÏÛºuŽÅÀ $VJŠÉ)tGó¡ãB çnqãèÎ7¨?$$sù ( Ÿwur (#qãèÎ7­Fs? Ÿ@ç6¡9$# s-§xÿtGsù öNä3Î/ `tã ¾Ï&Î#‹Î7y™ 4 öNä3Ï9ºsŒ Nä38¢¹ur ¾ÏmÎ/ öNà6¯=yès9 tbqà)­Gs? ÇÊÎÌÈ

“Sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah jalan tersebut, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain yang dengannya kalian akan tercerai-berai dari jalan-Nya. Yang demikian itu telah Kami wasiatkan kepada kalian agar kalian bertaqwa.” (QS. Al-An’âm : 153)

Dan saya menasihatkan kepada saudara-saudara kami untuk menempuh perjalanan menuju ke ‘ulamâ sunnah, dan ke Dârul Hadîts di Dammâj -harrosahallôh-, yang tempat ini dibangun sejak awalnya di atas sunnah, dan tidak ada yang semisalnya di zaman ini, dari segi tamayyuz (pemisahan diri dari ahlul bathil) dan penetapan aqîdah salafiyyah, dan bantahan terhadap ahlul bid’ah, orang yang sesat dan menyimpang. Tempat tersebut yang membangunnya adalah Syaikh kami Al-Mujaddid (pembaharu), penolong sunnah, dan penumpas bid’ah Abu ‘Abdirrohmân Muqbil bin Hâdî Al-Wâdi’î -semoga Allôh U merohmatinya dan memuliakan tempat tinggalnya-. Dan tidak asing lagi bahwa tempat tersebut Allôh U telah memberikan manfaat dan hidâyah dengannya kebanyakan manusia, dan menghasilkan darinya para masyâyikh dan penuntut ‘ilmu yang bertebaran di penjuru seluruh dunia sebagai dâ’i yang menyeru kepada tauhîd dan sunnah dan manhaj salaf. Dan terus-menerus -dengan segala pujian untuk Allôh U- tempat tersebut hidup dengan ‘ilmu dan sunnah. Dan setelah Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abu ‘Abdirrohmân Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -semoga Allôh U menjaganya- menggantikan Asy-Syaikh Muqbil dengan wasiatnya, maka beliau mengurusi dakwah ini dengan sebaik-baik pengurusan. Sangat lantang dalam mengemukakan kebenaran, menolong sunnah, memberantas kebid’ahan dan ahlul bid’ah. Semoga Allôh U membalas beliau dengan kebaikan. Syaikh kami berkata -semoga Allôh U merohmatinya- di dalam muqoddimah kitab Asy-Syaikh Yahyâ “Ahkâmul Jum’ah wabida’ihâ”:

فقد أطلعت على كتاب الجمعة للشيخ يحيى بن علي الحجوري فوجدته كتاباً عظيماً فيه فوائد تشد لها الرحال مع الحكم على كل حديث بما يستحقه واستيعاب الموضوع فهو كتاب كافٍ وافٍ في موضوعة كيف لا يكون كذلك والشيخ يحيى حفظه الله في غاية من التحري والتقى والزهد والورع وخشية الله وهو قوال بالحق لايخاف في الله الومة لائم وهو حفظه الله قام بالنيابة عني في دروس دار الحديث بدماج يلقيها على أحسن مايرام

“Aku telah melihat kitab “Al Jum’ah” karya Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidhohullôh- maka aku mendapatinya sebagai suatu kitâb yang agung. Di dalamnya ada faidah-faidah yang pantas untuk dicari walaupun dengan perjalanan yang sungguh-sungguh. Dan Asy-Syaikh Yahyâ -hafidhohullôh- berada pada puncak kehati-hatian dalam memilih, taqwa, zuhud, wara’, dan takut pada Allôh U. Dan beliau adalah orang yang sangat berani dalam mengemukakan kebenaran, tidak takut -karena Allôh U- celaan orang yang mencela. Dan beliaulah -hafidhohullôh- yang menjadi penggantiku dalan penyampaian durûs (pelajaran-pelajaran) di Dârul Hadîts di Dammâj, beliau menyampaikannya dengan cara yang terbaik yang kita inginkan.” [49]

Barangsiapa yang menjadi saksi untuk beliau adalah pakarnya, maka cukuplah itu.

Dan telah mengirimkan kepadaku beberapa ikhwah Indonesia ahlussunnah yang menuntut ‘ilmu di Dammâj sebuah surat yang di dalamnya terdapat beberapa lembaran yang telah ditulis dari hasil rekaman milik seseorang yang bernama Luqmân Bâ ‘Abduh. Dan aku telah membacanya dan kudapati di dalamnya cercaan, kedustaan dan kebohongan terhadap Asy-Syaikh Yahyâ Al-Hajûrî serta terhadap ma’had, yaitu Dârul Hadîts yang orang-orang berakal merasa malu darinya. Dan tidak asing lagi bagi kalian bahwasanya cercaan kepada ‘Ulamâ sunnah itu termasuk tanda-tanda ahlul bid’ah dan penyimpangan.

Imâm Abu Hâtim Ar-Rôzî [50] -rohimahullôh- berkata:

(( عَلامةُ أَهلِ البدَعِ الوَقيعةُ في أَهلِ الأَثَر ))

“Ciri-ciri ahli bid’ah adalah mencela ahlil atsar.” [51]

Imam Ahmad bin Sinân [52] -rohimahulloh- berkata:

(( لَيْسَ فِيْ الدُّنْيَا مُبْتَدِعٌ إِلاَّ وَهُوَ يُبْغِضُ أَهْلُ الحَدِيْثِ؛ وَإِذَا ابْتَدَعَ الرَّجُل نُزِعَ حَلاَوَةُ الحَدِيْثِ مِنْ قَلْبِهِ ))

“Tiada di dunia seorang mubtadi’ pun kecuali dia itu dalam keadaan membenci ahlul hadîts. Dan jika seseorang berbuat bid’ah, dicabutlah darinya manisnya hadîts dari hatinya.” [53]

Dan apabila telah nyata dari perkataan saudara-saudaraku para penuntut ‘ilmu dari kalangan ahlussunnah Indonesia di Dammâj bahwasanya Luqmân ini bukanlah orang yang jujur, Dan sesungguhnya dia itu adalah pendusta terhadap apa-apa yang dikatakan sebagaimana yang dikuatkan oleh Abu Hazim[54] dan selainnya. Maka termasuk perkara yang telah diketahui bersama bahwa persaksian ahlussunnah itu diterima. Bahkan khobar satu orang yang ‘âdil itu diterima di sisi ahlussunnah. Bagaimana jika mereka itu merupakan sekumpulan dari para penuntut ‘ilmu yang mulia? Maka ini cukup dalam menetapkan kebohongan orang tadi. Dan orang pendusta itu tidak dipercaya dan tidak diterima khobarnya.

Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah -rohimahullôh- berkata:

والفَارِقُ بَيْنَ المُؤْمِنِ وَالمُنَافِقِ هُوَ الصِّدْق فَإِنَّ أَسَاسَ النِّفَاق الَّذِي يُبْنَى عَلَيْه هُوَ الكَذِبِ

            “Perbedaan antara seorang mu’min dan munâfiq adalah kejujuran. Karena sesungguhnya landasan dari kemunâfikan itu adalah kedustaan.” [55]

Dan yang terakhir saya ingin mengingatkan kepada suatu perkara yang penting bahwasanya Luqmân ini tidak bisa membedakan antara kritikan yang syar’i dan bagaimana menjelaskan kesalahan, dan bagaimana cercaan yang disertai dengan kebohongan dan kedustaan, yang ini semua menunjukkan bodohnya dia terhadap sunnah dan manhaj salaf.

Al-Hâfidh Ibnul Qoyyim -rohimahullôh- berkata:

مَنْ سَبَّ بِالبُرْهَانِ لَيْسَ بِظَالِمٍ

وَالظُّلْمُ سَبَّ العَبْدُ بِالبُهْتَانِ

“Barangsiapa mencela dengan disertai bukti maka dia itu bukanlah termasuk orang yang dhôlim. Dan kedhôliman itu adalah celaan seseorang dengan kedustaan.”

Asy-Syaikh Al-Harrôsh -rohimahullôh- berkata:

فَإِنَّ مَنْ سَبَّ خَصْماً بِالدَّلِيْلِ لاَ يَكُوْنُ ظَالِماً وَلاَ وَاضِعاً لِلشَّئِ فِي غَيْرِ مَوْضِعِهِ وَلَكِنْ الظُّلْمُ هُوَ سَبُّ العَبْدِ بِالزُّوْرِ وَالبُهْتَانِ.

            “Karena sesungguhnya barangsiapa yang mencela lawan bicaranya dengan dalil maka dia itu bukanlah termasuk orang yang dhôlim, dan bukan termasuk orang yang meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Akan tetapi kedhôliman itu adalah celaan seseorang dengan kepalsuan dan kebohongan.”

["Syarhun Nûniyyah Ibnil Qoyyim" jilid 2 hal. 340]

Dan yang terakhir aku mengulangi nasihat ini kepada saudara-saudara kami ahlussunnah di Indonesia agar menjauhi orang yang diketahui kedustaannya seperti orang ini. Dan tidak pantas orang ini diambil ilmunya. Wallôhul musta’ân.

Penulis:

Saudara kalian fillâh:

Abu Ibrôhim Muhammad bin Muhammad bin Mâni’ Al-‘Ansi (Salah satu pendiri da’wah di Ibukota Son’â -semoga Allôh U menjaganya dari kejelekan orang-orang yang jelek dan tipu daya orang-orang yang jahat-. Pusat Kota Son’â.)

Pesan penerjemah:

Sebagian Masyâyikhus Sunnah telah berbicara tentang kejahatan Luqmân Bâ Abduh, Di antara mereka adalah Syaikhunâ ‘Allâmah Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî hafidhohullôh yang berkata, “Nasihat Asy-Syaikh Muhammad bin Mâni’ sudah bagus dan sesuai pada tempatnya, yang mana beliau membantah Luqmân dan mentahdzirnya, maka sebarkanlah nasihat itu. Luqmân adalah termasuk anggota hizb baru yang paling jelek. Dan dia adalah orang yang hina. Dan tinggalkanlah dia.”

Dan telah ada celaan buat dia dari Asy-Syaikh Abu ‘Amr Al-Hajûrî, Asy-Syaikh ‘Abdul Hamîd Al-Hajûrî, dan Asy-Syaikh Muhammad bin Hizâm, dan Asy-Syaikh Jamîl Ash-Shilwî, dan Asy-Syaikh Abu Bilâl Al-Hadhromî, dan Asy-Syaikh ‘Abdullôh Al-Iryânî, dan Asy-Syaikh Muhammad Al-’Amudîy,-hafidhohumullôh- Maka kami telah selesai dari perkara Luqmân, sebagaimana nasehat dari Syaikhunâ ‘Allâmah Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî hafidhohullôh.

Jika ada perkataan dari para Masyâyikh yang lain akan kami sampaikan dalam kesempatan berikutnya insya Allôh. Dan inipun sudah cukup bagi orang yang berakal karena ucapan mereka berdasarkan dalîl-dalîl. Adapun orang yang hatinya sakit tak akan merasa cukup walaupun yang berbicara adalah Syaikh Robî’ ataupun yang lainnya hafidhohumullôh.

Ÿwur ö/ä3ãèxÿZtƒ ûÓÅÕóÁçR ÷bÎ) ‘NŠu‘r& ÷br& yx|ÁRr& öNä3s9 bÎ) tb%x. ª!$# ߉ƒÌãƒ br& öNä3tƒÈqøóãƒ

“Dan tidaklah bermanfaat bagi kalian nasihatku jika aku ingin menasihati kalian jika Allôh telah menghendaki untuk menyesatkan kalian.”

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك

والحمد لله رب العالمين

Penerjemah:

Abu Abdillah Imam Hanafy Al Balikpapany

‘afallôhu ‘anhu

Markiz Induk Dârul Hadîts Dammâj Yaman

22 Dzul Hijjah 1429 H

NASEHAT ASY-SYAIKH MUHAMMAD HIZAM AL-BA’DANÎ UNTUK SALAFIYYÎN INDONESIA

(Beliau adalah pengajar Fiqh dan Aqîdah di Dârul Hadîts Dammâj-Yaman)

 

ÉOó¡Î «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOŠÏm§9$#

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه ومن والاه اما بعد :

Beberapa ikhwah Indonesia -waffaqohumullôh- menunjukkan kepadaku kaset Luqmân Bâ’abduh –hadahullôh-, yang telah mereka terjemahkan kedalam bahasa ‘Arob, yang terekam di awal bulan Dzulqo’dah tahun 1429 H.

Dan sungguh dia telah banyak mentahdzîr Syaikh kami “An-Nâshihul Amîn”, meremehkannya dan meremehkan Markiz Dâril Hadîts Dammâj -semoga Allôh U menjaganya-, dan dia menyebutkan beberapa perkara DUSTA YANG SAMA SEKALI TIDAK ADA DASARNYA DARI KEBENARAN, maka dengan itu aku mengetahui  bahwa orang ini terfitnah dan hatinya berpenyakit.

Maka saya nasehatkan dengan ikhlas karena Allôh U agar dia bertaubat dari hal itu dan kembali kepada Allôh U dengan bergegas menuju keridhoan-Nya, minta ampun, menjelaskan dan meminta maaf, karena sesungguhnya -demi Allôh-  tidak akan memudhoratkan kecuali dirinya sendiri. Allôh U berkata:

žcÎ) ©!$# ßìÏùºy‰ãƒ Ç`tã tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä 3 ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä† ¨@ä. 5b#§qyz A‘qàÿx. ÇÌÑÈ

“Sesungguhnya Alloh membela orang-orang yang telah beriman, sungguh Alloh tidak menyukai setiap orang yang berkhianat lagi mengingkari ni’mat”. (QS. Al-Hajj: 38).

Dan juga diketahui dalam sunnatullôh di alam ini “Sesungguhnya setiap ada yang menghadang al-haq dan As-Sunnah maka sungguh dia akan dicampakkan dan dibinasakan, selama ia terus-menerus dalam keadaan seperti itu.”

Dan ini untuk diketahui bahwa sesungguhnya masyâyikh Ahlussunnah di Yaman -hafidhohumullôh- belum membebaskan ‘Abdurrohmân Al-’Adanî dari kesalahan dan fitnah, sebagaimana yang telah saya dengar sendiri tatkala saya duduk bersama mereka.

Saya nasehatkan kepada saudara-saudaraku (ikhwah Indonesia) -waffaqahumullôh- untuk mengedepankan tholâbul ‘ilmi dan menjauhkan diri dari fitnah, Nabi r  berkata:

إِنَّ السَّعِيْدَ لَمَنْ جُنِّبَ الفِتَنُ

“Sesungguhnya kebahagiaan itu bagi siapa yang dijauhkan dari fitnah”. [56] (HR. Ahmad, Abu Dawud dari Miqdâd bin Al-Aswad rodhiyallôhu ‘anhu).

Wahai saudara-saudaraku -waffaqokumullôh- sesungguhnya apa yang dilakukan ‘Abdurrahmân Al-’Adanî dan orang-orang yang ta’ashub kepadanya di Dammâj adalah suatu perkara yang kami saksikan sendiri dan kami lihat dengan sebenar-benarnya, kami ketahui dengan seyakin-yakinnya, sungguh mereka telah membuat keonaran (pengacauan) dan peremehan terhadap Syaikh kami “An-Nâshihul Amîn” yang diingkari oleh setiap yang istiqômah (di atas al-haq) dan disenangi oleh orang yang sesat dan yang telah ditinggalkan. Dan kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertaqwa dan sabar, dan barang siapa yang berbuat jelek dan dhôlim maka kesudahannya kepada kesia-siaan dan kebinasaan, kepada Allôh U kita memohon perlindungan.

Saudara-saudaraku -waffaqokumullôh- pentingkanlah ‘ilmu dan da’wah kepada Allôh U dan lingkupilah da’wahmu dengan keikhlasan dan kesucian, manusia lebih membutuhkan siapa yang mengajari perkara agamanya, menasehatinya dan mengarahkan kepada kebaikan.

Saudara-saudaraku (orang-orang Indonesia) aku peringatkan kalian agar ‘Abdurrahmân Al-’Adanî tidak menjadi sebab kalian berbantah-bantahan dan perselisihan dan barangsiapa yang belum jelas keadaan orang ini maka hendaknya diam dan beradab, dan orang yang telah mengetahui merupakan hujjah bagi yang belum mengetahui, Allôh U :

Ÿwur (#qããt“»uZs? (#qè=t±øÿtGsù |=ydõ‹s?ur ö/ä3çt†Í‘ ( š ÇÍÏÈ    

“Janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kalian gentar dan hilang kekuatan kalian”. (QS. Al-Anfâl : 46)

Sesungguhnya da’wah membutuhkan agar kalian bersatu padu di atas kebenaran, dan dalam pembelaannya serta mentahdzîr kebatilan dan menghinakannya, Allôh U berfirman:

 (#qßJÅÁtGôã$#ur È@ö7pt¿2 «!$# $Yè‹ÏJy_ Ÿwur (#qè%§xÿs? 4  ÇÊÉÌÈ

“dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”. (QS. Ali-‘Imrôn: 103)

Demikianlah dan aku nasehatkan, saudara-saudaraku (orang Indonesia) untuk mencegah kehendak Luqmân serta menasehatinya -bagi yang mampu- agar bertaubat kepada Allôh U dan apabila dia tidak mau melakukan dan terus-menerus dalam kesesatannya dan melawan, maka aku nasehatkan agar mereka menjauhinya dan tidak hadir di sisinya hingga bertaubat. Aku nasehatkan untuk mengambil faedah dari saudara-saudara kita yang mendapat petunjuk yang tidak terlibat dalam fitnah yang mengetahui kedudukan dan martabat Asy-Syaikh Yahyâ serta markaz Dârul Hadîts.

Aku mohon kepada Allôh U untuk menunjukkan aku dan kalian kepada kebaikan dan kebenaran serta menjauhkan kita dari kejelekan dan kedurhakaan, dan aku memohon kepada Allôh U  untuk menjauhkan aku dan kalian dari fitnah kehidupan dan kematian.

سبحانك اللهم وبحمدك لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك

Ditulis oleh:

Abu ‘Abdillâh Muhammad bin ‘Alî bin Hizâm Al-Fadhlî Al-Ba’dânî.

Senin 3 Dzul Hijjah 1429 H

Penerjemah:

Abu Arqôm Al-Jâwî


BAB 13

SYUBHAT & BANTAHANNYA

 

# DAMMÂJ BERUBAH!

Apanya yang berubah? Manhajnya masih tetap manhaj yang dulu, ‘ilmunya pun masih seperti yang dulu, dan telah kalian ketahui bahwasanya Dammâj adalah merupakan benteng Salafiyîn yang tidak ada tandingannya di dunia (saat ini). Dan semua ini berdasarkan pengakuan orang-orang yang berakal dan para ‘ulamâ dahulu maupun sekarang, sebagaimana kenyataannya.

Memang sekarang mungkin bangunannya telah mengalami sedikit perubahan dan tempat tinggal atau para murid semakin bertambah jauh lebih banyak dari yang dahulu. Walillâhil hamd, adapun manhaj dan da’wah tidaklah mengalami perubahan sedikitpun.

Cobalah beri tahu kami dari sisi mana perubahan yang kalian maksudkan???

# ASY-SYAIKH YAHYÂ SUDAH DITAHDZIR OLEH ‘ULAMÂ SU’ÛDI!

Bukan hanya Asy-Syaikh Yahyâ, bahkan Asy-Syaikh Muqbil pun juga pernah ditahdzîr oleh sebagian ‘ulamâ Su’ûdi, seperti : Asy-Syaikh Fâlih Al-Harbîy (waktu itu dia masih ahlus sunnah) dan lain-lainnya, akan tetapi apakah tahdziran itu memberikan madhorot kepada Asy-Syaikh Muqbil ? sama sekali tidak!, demikian pula Asy-Syaikh Yahyâ. Itupun kalau berita tahdzirnya benar.

# ASY-SYAIKH YAHYÂ SENDIRIAN DALAM FITNAH!

Ini adalah kedustaan nyata yang dilontarkan oleh Hizbiyyun, lihatlah betapa banyak Masyayikh yang mendukung Asy-Syaikh Yahya, di antaranya:

Asy-Syaikh Abu ‘Abdis Salâm Hasan ibn Qasim Ar Roimy (Murid Asy-Syaikh Al-Albânîy, memegang dakwah di propinsi Ta’z.)

Asy-Syaikh Ahmad ‘Utsmân yang dituakan di kota ‘Aden.

Asy-Syaikh Yâsir Adh-Dhubâ’îy yang ada di Hadhromaut.

Asy-Syaikh Muhammad bin Mâni’ yang ada dikota Shon’â.

Asy – Syaikh Abdur Rozzaq An Nahmi.

Asy-Syaikh Ma’mar Al-Qodasî yang memiliki markas di Shon’â.

Asy-Syaikh Usâmah ‘Athoya yang ada di Saudi ‘Arabia.

Asy-Syaikh Jamîl Ash-Shilwî yang ada di Dammâj.

Asy-Syaikh Ahmad Al-Wushôbîy yang ada di Dammâj. Dan Masyâyikh lainnya.

# BANYAK MURID-MURID KELUAR DARI DAMMÂJ!

Kalau yang dimaksud adalah pendukung Abdurrohman Al-Mar’i adalah benar, karena mereka adalah orang-orang yang berpenyakit. Tapi sebenarnya yang datang ke Dammâj jauh lebih banyak. Terbukti orang indonesia saja sekitar 250 orang. Alhamdulillah dalam waktu dekat ini beberapa thullabul ilmi dari berbagai daerah di Indonesia akan segera rihlah ke Dammâj.

# PARA MUSTAFIDIEN DI DAMMÂJ BANYAK YANG KELUAR!

Ini adalah isu yang tidak benar karena masih banyak ratusan murid senior yang berada di Dammâj, seperti

` Rosyad Al-Hubaisyî, khothîb Ahlus Sunnah hafal Al-Qur’ân, Shohîh Muslim, Shohîh Musnad dan lain-lainnya.

` Syaikh Muhammad bin Hizâm, pengajar fiqih, Aqîdah dan hafal Al-Qur’ân, Shohih Muslim, Shohih Musnad, Bulughul Marom dan lain-lainnya.

` Syaikh Abu ‘Amr Al-Hajurî, pengajar Aqîdah dan manhaj, khothîb Ahlus Sunnah hafal Al-Qur’ân, Shohîh Muslim dan lain-lainnya.

` Mahmud Al-‘Urdunî, hafal Al-Qur’ân, Shohîh Al-Bukhôrî, pengajar manasik haji.

` Asy-Syaikh Qô’id bin Sya’lan, dijuluki oleh Asy-Syaikh Muqbil sebagai Syaikh Nahwu.

` Syaikh Abu Bilâl Al-Hadhromî, Syaikh dalam bidang Nahwu.

` Syaikh Abul Hasan ‘Ali Ar-Rôzikhî, ahli mushtholah hadîts dan pengarang handal.

Dan masih banyak lainnya. Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh-  sering mengulang-ulang firman Alloh ta’ala:

+وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ_ [محمد/38]

“Dan jika kalian berpaling, niscaya Alloh akan mengganti kalian dengan suatu kaum selain kalian dan tidak seperti kalian” (QS Muhammad 38)

Dan syubhat tadi adalah bualan lama sejak fitnah Abil Hasan, mereka mengatakan apabila para mustafid dari Libya pergi maka Dammaj akan runtuh porak poranda, tetapi impian mereka hanyalah sekedar impian belaka, karena Alloh yang menjaga agama-Nya dan lebih mengetahui siapa yang berhak membawa risalah-Nya, maka yang ada adalah seperti dalam pepatah lama: “gugur satu tumbuh seribu”. Buktikan kenyataannya bila tidak percaya.

` KAMAR DAN RUMAH HARGANYA MENJADI MURAH!

Kalau yang dimaksud adalah kamar-kamar dan rumah-rumah orang yang berpenyakit hatinya, maka itu adalah benar. Karena mereka sudah banyak yang hengkang dari Dammâj disebabkan tidak betah di sana.

Dan juga apakah murah dan mahalnya dunia menjadi tolak ukur kebenaran agama??? Kalau yang menilai seorang pedagang kayak Abu Kholid Daryanto atau para pemborong  ya panteslah, tapi kalau yang menilai adalah orang yang memiliki wacana ilmu yang memadai niscaya dia akan mengatakan : ini lawak yang tidak lucu.

` KEADAAN ‘ABDURROHMÂN TIDAK SAMA DENGAN ‘ABUL HASAN AL-MISHRÎ!

Inilah yang digembar-gemborkan oleh Muhammad Afifuddin. Mari kita sebutkan kesamaan ‘Abdurrohmân dan Abul Hasan Al-Mishrî. Contoh kesamaan mereka berdua adalah:

` Membuat permusuhan di antara para masyâyikh salafiyyin.

` Mencerca sebagian ‘ulamâ ahlul hadits yang gigih memerangi hizbiyyin.

` Melarang thullâb untuk pergi ke Dammâj dan menghalang-halangi mereka.

` Berdusta, membuat makar dan tipu daya.

` Membolehkan meminta-minta dan Yayasan.

` Membuat majelis  secara sembunyi-sembunyi. [57]

Kalau penilainnya secara fisik, ini bisa di benarkan, akan tetapi kalau dilihat dari kacamata ilmu dan fenomena yang ada maka maka keduanya tidak jauh berbeda bahkan boleh dikatakan bahwa fitnah Abdurrohman lebih sadis dan licik juga licin dibandingkan fitnah Abul Hasan dengan bukti bahwa ada beberapa ulama yang terpesona dengan lagaknya.

` KAMI TIDAK MELARANG UNTUK PERGI KE DAMMAJ KECUALI DENGAN FATWA SYAIKH ‘UBAID!

Perlu untuk diketahui oleh pembaca bahwasanya tidak ada yang menghalangi untuk pergi Dammâj kecuali dengan fatwanya Asy-Syaikh ‘Ubaid, Dan telah mengkabari kami Musthofâ Al-`Adanî bahwasanya Akhûna Roshôsh Al-Laudarî -hafidhohullôh- mengunjungi Asy-Syaikh Robî’  -hafidhohullôh- pada bulan Syawwâl tahun ini 1429 H dan mengkabarkan kepada beliau bahwa Syaikh ‘Ubaid mentahzdir dari Dammâj, maka beliau berkata: “Kalau berita ini benar [58], maka ini termasuk zallatul ‘alim (ketergelinciran seorang ‘âlim) dan wajib bagi Syaikh ‘Ubaid untuk bertaubat.”

Dan perlu diketahui juga bahwa landasan syaikh `Ubaid mentahdzir Dammaj adalah karena dibangun atas berita dusta yang miring tentang Dammaj yang dihembuskan oleh Abdurrohman dan hizbinya, dan tidak ada kepedulian beliau menerima kabar orang yang mengerti dengan jelas tentang Dammaj secara khusus dan da`wah salafiyah di Yaman secara umum, kalau seandainya beliau menilainya dengan adil tentu tidak akan ada prasangka buruk darinya, kecuali kalau ada sebab yang lain di luar pengetahuan kita.

Dan yang menjadi bukti bahwa tahdziran syaikh Ubaid itu tidak memiliki bobot ilmiah adalah tidak satupun dalil syar’i yang mendukungnya, dan tiada ulama ahlussunnah yang mencocoki pendapatnya, juga bahwa tahdziran tersebut tidak mempengaruhi atau menggoyang sedikitpun kekondusifan Dammaj, bahkan Dammaj semakin bertambah harum dan menambah kepercayaan ummat (kecuali mereka-mereka yang telah tertutup bashirohnya) akan kebesaran Dammaj dengan idzin Alloh ta`ala.

Dan ketahuilah wahai saudaraku bahwa Abdurrohman dan hizbinya sekarang di Yaman tidak memiliki harga yang memadai akibat ulah mereka, dan telah banyak dari mereka yang sempat terpedaya dengan makar mereka kembali kepangkuan Dammaj dengan penyesalan yang mendalam, adapun bagi mereka malu atau memiliki rasa lebih (kesombongan) maka keadaannya seperti para pendahulu mereka, ada yang futur atau jadi ahlu dunia. Bukankah ini fenomena yang menyayat hati !!! اللهم سلم سلم.

 

 

 

 

/////

PERMASALAHAN ISTIWA’ ALLAH DI ATAS ARSY BERSENTUHAN  ATAU  TIDAK BERSENTUHAN?

Disalin oleh : Muhammad bi Umar Al-Acehy.

Sebenarnya permasalahan ini telah selesai dengan baik sekitar enam tahun yang lalu dan telah terkubur, karena semuanya kembali kepada Al Kitab Was Sunnah dan Fahmis Salaf. Akan tetapi selalu saja ada sebagian orang yang berusaha untuk membongkarnya kembali dalam rangka merusak nama baik ahlussunnah dan terutama Syaikhuna Al Muhaddits Al ‘Allamah An Nashihul Amin Asadus Sunnah Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajury –hafidhohumulloh-. Yang mana mereka menuduh bahwasanya beliau telah tergelincir di dalam masalah Istiwa’ Alloh di atas arsy-Nya dengan tidak bersentuhan.

Padahal tuduhan ini tidak benar. Ini adalah kebohongan dan kedustaan yang nyata. Di antara mereka adalah seorang yang pernah belajar di Markiz Induk Darul Hadits Dammaj yang bernama Luqman Ba Abduh –hadahulloh-. Dia berupaya untuk menjelekkan Asy Syaikh Yahya hafidhohulloh dalam rangka pembelaannya terhadap dua orang hizbi Abdurruhman dan Abdulloh ibnai Mar’i.

Dan ini sangat berbahaya baginya dan bagi orang-orang yang seperti dia karena perbuatan ini adalah salah satu ciri-ciri dari ahlil ahwa’ wal bida’.

Dari situ kami nukilkan di sini secara ringkas apa yang sebenarnya terjadi agar menjadi penjelas bagi yang belum memahami dan sebagai bantahan bagi yang pura – pura tidak mengetahui atau terlanjur berburuk sangka kepada Syaikh Yahya حفظه الله  .

Keterangan  Fadhilatusy Syaikhina Yahya Hafidzohullahu Ta’ala berkaitan dengan masalah ini (naskah aslinya berjudul:مسألة المماسة  bisa anda dapatkan di situs aloloom assalafiyah atau yang lainnya karena masalahnya sudah sangat gamblang).

Kalimat syaikh Yahya ini beliau tujukan kepada Syaikh Robi` حفظه الله  untuk memberi tarjih dalam masalah itu,  setelah beliau menyebutkan makalah yang berkaitan dengan perkara di atas, bahwa secara dhohir dari ucapan salaf ada dua pendapat.

بسم الله الرحمن الرحيم

Sebagai puji bagi Allah Robb sekalian  alam. Adapun setelahnya: Sebagian ikhwan kita yang mulia para penuntut ilmu di Daarul Hadits Dammaj -semoga Allah menjaga mereka dan merahmati pendirinya- telah mengumpulkan kesimpulan ini dari pendapat-pendapat salaf kita yang sholeh Rahimahumullah di dalam masalah ini dan kemudian mereka angkat permasalahan ini kepada saya, tatkala dalam permasalahan ini ada perbedaan sebagaimana yang disebutkan saudara-saudara kita hafidzohumullah. Saya isyaratkan kepada mereka agar menyerahkan pentarjihan masalah ini  kepada antum yang mulia (yaitu Syaikh Robi`) semoga Allah memberikan taufiq (kecocokan) kepada antum dengan setiap kebaikan, dan menolak dari kami dan antum setiap kejelekan dan bahaya. Kami akan mengambil faedah darinya dan kami akan berikan faedah tersebut kepada saudara-saudara kami.

Bersamaan dengan itu kami mengharapkan kepada antum yang mulia pengarahan terhadap apa yang antum anggap itu benar dan bermanfaat. Untuk antum kebaikan dari kami dan do’a yang baik dengan kehendak Allah.

Ditulis oleh saudara antum dan anak antum:

Yahya bin ‘Ali Al-Hajury

Pada tanggal 4 Rajab 1423 H

 

PENJELASAN DAN PENGARAHAN

DARI ASY-SYAIKH ROBI’ BIN HADI AL-MADKHOLI HAFIDZOHULLAH

Dari Robi’ bin Hadi ‘Umair Al-Madkholi

Kepada saudaranya fillah Asy-Syaikh Yahya bin ‘Ali Al-Hajuri Hafidzohullah wa Waffaqoh

Telah sampai kepadaku pembicaraan kalian yang kami muliakan, permasalahan yang berkaitan tentang istiwa’ Allah di atas arsy-Nya dan apa-apa yang berkaitan tentang masalah “bersentuhan”. (kemudian Syaikh Robi` حفظه الله  menjelaskan dan memperinci permasalahan yang di perselisihkan dan diakhir pembahasan beliau berkata) :

Yang benar adalah mencukupkan dengan Al-Kitab dan As-Sunnah, dan apa-apa yang berada di atasnya salaful ummah di dalam seluruh permasalahan agama ini terlebih lagi di dalam permasalahan nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala. Kita tidak menetapkan kecuali sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Kitab Allah Ta’ala  dan Sunnah Rasul-Nya Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan tidak kita tiadakan kecuali sebagaimana yang telah ditiadakan oleh Kitab Allah Ta’ala dan Sunnah Rasul-Nya Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ini adalah asas ahlus sunnah, dengannya kita membantah ahli hawa dan ahli bid’ah sebagimana dengannya kita membantah kesalahan-kesalahan para salaf yang mulia seperti dalam masalah ini. Ingatlah ucapan Ummu Salamah, Robi’ah dan Malik -rahimahumulloh-: “Istiwa’-nya Allah telah diketahui maknanya, dan bagaimananya Allah beristiwa’ tidak diketahui, adapun bertanya tentangnya bid’ah“.

Adapun yang terakhir, ambillah ucapan Asy-Syaikh Abdul Lathiif dan Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim dan Asy-Syaikh ‘Utsaimin  Rahimahumulloh dalam masalah ini karena itu benar dan sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah serta manhaj salaf.

Dan saya harapkan dari kalian -yang dimuliakan- untuk berpaling dari masalah ini, dan jangan kalian katakan bahwa ahlus sunnah dari kalangan pendahulu dan yang belakangan ada dua pendapat dalam masalah ini, karena As-Salaf dari orang-orang zaman yang dimuliakan (sahabat, tabi’in dan atba’ut tabi’in), zaman Al-Imam Ahmad  dan yang setingkat beliau (sezamannya), zaman murid-muridnya Imam Ahmad seperti Al-Bukhori, Abu Daud, Abdullah bin Ahmad, Sholeh, Abu Zur’ah, Abu Hatim dan yang semisal mereka dan orang-orang setelah mereka dari imam-imam sunnah dan hadits tidak ada yang berbicara tentang masalah ini hingga setelah menyebarnya Al-Asy’ariyah di alam Islam kemudian masuklah asap ini (kesalahan ini) – sebagaimana yang diisyaratkan oleh Ibnu Taimiyah kepada sekelompok dari ahli fiqh dan hadits, mereka taqlid kepada Ibnu Kullab, Al-Qolanisy dan Al-Asy’ari serta selain mereka dari ahli kalam.

Permasalahan ini tidak ada timbangannya di sisi ahlus sunnah, dan tidak boleh kita katakan bahwa ahlus sunnah ada dua pendapat di dalam masalah ini, karena masalah ini tidak ada nilainya, tidak tegak di atas ilmu, ataupun di atas petunjuk dan kitab yang terang (Al-Qur’an), tidak pernah diangkat untuk dibahas secara luas oleh ahlus sunnah.

Untuk lebih menguatkan bahwa permasalahan ini termasuk dari aqidahnya Asy’ariyah, saya nukilkan untuk kalian ucapan Al-Ghozaly sebagai berikut: katanya: “Di antara konteks peniadaan yang digunakan oleh Asy’ariyah dan Al-Jahmiyyah adalah: “Bahwasanya Allah Ta’ala beristiwa’ di atas arsy-Nya sesuai yang Dia  (Allah Ta’ala) katakan dengan arti yang Dia Ta’ala  inginkan, istiwa’ yang disucikan dari bersentuhan, menetap, menempati, bersatu dan berpindah“. (“Al-Ihya‘” 1/134), disebarkan oleh muassasah Al-Halaby dan serikatnya.

Saya juga berharap agar kalian berusaha dengan sekuatnya untuk menghilangkan syubhat ini dari pikiran murid-murid kalian dan orang-orang yang kalian cintai dan agar kalian dan saudara-saudara kalian menjauhi dari pergolakan seperti masalah ini yang akan mengarah kepada “katanya“ dan  “katanya“ bahkan mengarah kepada fitnah.

Semoga Allah ‘Azza Wa Jalla mengangkat kedudukan kalian dan menolong dengan kami dan dengan kalian agama-Nya dan sunnah Nabi-Nya.

(selesai dari Syaikh Robi’)

Tanggapan Asy Syaikh Yahya Al Hajuri hafidhohulloh terhadap penjelasan Asy Syaikh Robi’ hafidhohulloh:

Pembahasan ini dan juga surat dari kami telah dibaca secara lengkap oleh Asy-Syaikh yang mulia orang tua kita Robi’ bin Hadi -semoga Allah Ta’ala menjaganya-. Dan ini direkam di dalam kaset, kami berpendapat sebagaimana yang telah beliau tetapkan (di dalam masalah ini) dan pendapat beliau ini juga pendapat syaikh kami Al-Wadi’i Rahimahullah (Syaikh Muqbil) pada pertemuan khusus sebagimana yang dikhabarkan oleh saudara yang mulia Ahmad bin Arbash Al-Wadi’i kepada saya. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Syaikh Robi’ حفظه الله , sesungguhnya permasalahan ini tidak ada dalilnya  sebagaimana yang beliau katakan (masalah bersentuhan atau tidak bersentuhan) hanya saja kami segan untuk menyelisihi orang-orang yang disebutkan dalam masalah ini dari imam-imam sunnah, padahal mereka berpendapat bahwa Allah Ta’ala terpisah dari makhluk-Nya dan arsy-Nya adalah makhluk-Nya.

Sampai akhirnya Syaikh Robi’ Hafidzohullah menjelaskan kepada kami bahwa sebagian dari mereka telah tergelincir (salah) di dalam masalah ini (masalah “bersentuhan”) Rahimahumullah, semoga Allah Ta’ala memaafkan kami dan mereka. (Selesai terjemahan).

{lihat secara rinci dalam risalah terjemah : Permasalahan Istiwa’ Allah di atas Arsy-Nya Bersentuhan atau  Tidak Bersentuhan? Diterjemahkan oleh: Abu Abdillah Muhammad bin Umar Al Lansy Al Acehy Al Indonesy ‘afallohu ‘anhu}

Dari penukilan di atas, jelaslah bahwa tuduhan mereka terhadap Syaikh Yahya حفظه الله   bahwa beliau terjatuh kedalam kekeliruan yang fatal dari sisi aqidah, adalah tuduhan yang tidak berpatokan pada sumber yang akurat bahkan bisa dikatakan tuduhan yang semena-mena, landasan tuduhan tersebut adalah suudhdhon (buruk sangka) belaka, dan terpedaya dengan bualan para pendusta.

Oleh karena tidak selayaknya untuk mengangkat permasalah yang sudah nyata keterangan dan kebenarannya, dan tidaklah membuka lagi masalah ini dengan keliru  kecuali orang yang dalam hatinya penuh dengan kekotoran dan kedengkian  terhadap beliau. Wallohul musta`aan.

 

 

/////

 

 

 

 


BAB  14

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Pelecehan Luqmân terhadap Para Masyayikh Dârul Hadîts Dammâj

Hafizhohumullôh

 

Oleh: Abu Fairûz ‘Abdurrohmân Al-Qudsî

 

Luqmân -hadâhullôh- berkata: “Sekedar dâ’i (Syaikh Yahyâ) nggak tahu manhaj sudah naik pangkat.” (‘Afîffudîn tertawa terbahak-bahak) .[59]

Jawaban yang pertama: telah kita lewati bersama pujian yang agung dari para ‘ulamâ untuk Syaikhunâ Yahyâ -hafidhohullôh-,  dan yang demikian itu cukup untuk membantah Luqmân Bâ ‘Abduh.

Jawaban yang kedua: cocok untuk Luqmân ucapan ‘Abdullôh Ibnul Mu’tâz:

العَالِمُ يَعْرِفُ الجَاهِلَ، لِأَنَّهُ قَدْ كَانَ جَاهِلاً، وَالجَاهِلُ لاَ يَعْرفُ العَالِمَ، لِأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ عَالِمَا.

”Orang yang ‘âlim itu mengetahui orang bodoh karena dia dulunya jahil. Orang yang bodoh tidak mengetahui orang ‘âlim karena dia belum pernah jadi orang ‘âlim.” [“Al-Faqîh Wal Mutafaqqih” karya Al-Khothîb Al- Baghdâdî -rohimahullôh- (2 /hal. 365)]

Jawaban ketiga: Cukuplah bagi Syaikhunâ Yahyâ -hafidhohullôh- keutamaan bahwasanya beliau menjadi dâ’i di jalan Allôh, sebagaimana firman Allôh U:

ô`tBur ß`|¡ômr& Zwöqs% `£JÏiB !%tæyŠ ’n<Î) «!$# Ÿ@ÏJtãur $[sÎ=»|¹ tA$s%ur ÓÍ_¯RÎ) z`ÏB tûüÏJÎ=ó¡ßJø9$# ÇÌÌÈ

 “Dan siapakah yang lebih bagus ucapannya dari orang yang menyeru kepada Allôh, dan beramal shôlih, dan berkata : sesungguhnya aku termasuk dari kalangan muslimin. ” (QS. Fushshilat : 33)

Dan firman-Nya :

ö@è% ¾Ínɋ»yd þ’Í?ŠÎ6y™ (#þqãã÷Šr& ’n<Î) «!$# 4 4’n?tã >ouŽÅÁt O$tRr& Ç`tBur ÓÍ_yèt6¨?$# (

 “Katakanlah: Inilah jalanku, aku menyeru kepada Allôh di atas bashîroh -ilmu dan keyakinan-, aku dan orang yang yang mengikutiku. ” (QS.Yûsuf : 108)

Jawaban keempat : Tolong jabarkan kepada kami wahai Ustâdz Luqmân, manhaj apa yang engkau anggap bahwa Syaikhunâ Abu ‘Abdirrohmân Yahyâ bin ‘Alî Al- Hajûrî -hafidhohullôh- tidak mengetahuinya, agar kami mengetahui apakah engkau termasuk dari kalangan orang-orang yang jujur di dalam beranggapan, ataukah engkau termasuk dari kalangan pembohong yang sok tahu.

Jawaban kelima: -dan ini khusus buat temanmu Muhammad ‘Afîfuddîn -hadâhullôh wa iyyâka- yang tertawa terbahak-bahak- : Kamu wahai ‘Afîf, butuh untuk dibacakan padamu firman Robb U :

(#qä3ysôÒu‹ù=sù Wx‹Î=s% (#qä3ö7uŠø9ur #ZŽÏVx. Lä!#t“y_ $yJÎ (#qçR%x. tbqç7Å¡õ3tƒ ÇÑËÈ

“Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis yang banyak, sebagai balasan terhadap apa yang mereka perbuat.” (QS. At-Taubah: 82)

Dan Luqman berkata,”Ini rata-rata yang disebutkan Muhsin rata-rata teman saya belajar di Dammâj kok tiba-tiba muncul syaikh-syaikh baru.” [60]

Jawaban pertama: Allôh U berfirman:

وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا *öÝàR$# y#ø‹x. $oYù=žÒsù öNåk|Õ÷èt/ 4’n?tã <Ù÷èt/ 4 äotÅzEzs9ur çŽt9ø.r& ;M»y_u‘yŠ çŽy9ø.r&ur Wx‹ÅÒøÿs? ÇËÊÈ

“Dan tidaklah pemberian Robbmu itu terhalangi. Lihatlah bagaimana Kami melebihkan sebagian mereka di atas sebagian yang lain. Dan sungguh akhirot itu lebih besar derajatnya dan lebih besar pengutamaannya.” (QS. Al-Isrô’ 20-21)

Anggaplah bahwasanya sebagian tokoh mulia tadi bukan semuanya- dulunya memang teman belajarmu pada tahun-tahun yang telah lampau, apa yang menghalangi Allôh untuk mengaruniakan kepada mereka tambahan ‘ilmu, kemudian mengangkat mereka ke derajat ‘ulamâ karena kejujuraan mereka dalam menuntut ‘ilmu, dan kesabaran mereka dalam bersungguh-sungguh, dan bagusnya tujuan mereka, tawâdhu’nya mereka dalam duduk bersama ‘ulamâ, serta tidak berubah menjadi bersikap buruk terhadap para ‘ulamâ tadi? Dan yang demikian itu adalah dengan karunia Allôh dan Rohmat-Nya. Adapun Luqmân dan semisalnya, maka sungguh mereka itu merosot kepada kehinaan sepulangnya mereka dari Dammâj.

Syaikhunâ Abu ‘Abdirrohmân Yahyâ bin ‘Alî Al- Hajûrî -hafidhohullôh- berkata  beberapa bulan yang lalu, ”Aku khawatir bahwasanya Luqmân akan menjadi lebih hina daripada Ja’far jika dia tidak bertobat.” Atau yang seperti itu. Kemudian beliau -hafidhohullôh- setelah sampainya kaset tersebut berkata,”Luqmân adalah Ja’far kedua. Hanya saja Ja’far lebih pemberani daripada dia.”  “Luqmân membikin para ikhwah tersia-sia di sana.” Demikian kurang lebihnya.

Maka tiada alasan untuk merasa aneh dengan kenaikan para “teman sejawat” tadi ke derajat yang tak terbayangkan di benak Luqmân, karena seluruh urusan adalah milik Allôh, sebelumnya dan sesudahnya. Allôh U berfirman:

+اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَه _ [الأنعام/124[

“Dan Allôh itu lebih tahu di manakah menempatkan risalah-Nya.” (QS. Al-An’âm : 124)

Dan juga berfirman:

óOèdr& tbqßJÅ¡ø)tƒ |MuH÷qu‘ y7În/u‘ 4 ß`øtwU $oYôJ|¡s% NæhuZ÷t/ öNåktJt±ŠÏè¨B ’Îû Ío4quŠysø9$# $u‹÷R‘‰9$# 4 $uZ÷èsùu‘ur öNåk|Õ÷èt/ s-öqsù <Ù÷èt/ ;M»y_u‘yŠ x‹Ï‚­Gu‹Ïj9 NåkÝÕ÷èt/ $VÒ÷èt/ $wƒÌ÷‚ß™ 3 àMuH÷qu‘ur y7În/u‘ ׎öyz $£JÏiB tbqãèyJøgs† ÇÌËÈ

“Apakah mereka itu yang membagikan rohmat? Kamilah yang membagi di antara mereka penghidupan mereka di dalam kehidupan dunia. Dan Kami angkat derajat-derajat sebagian dari mereka di atas sebagian yang lain, agar sebagian dari mereka menjadikan sebagian yang lainnya sebagai ejekan. Dan rohmat Robbmu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Asy-Syûrô : 32)

Jawaban yang kedua: Anggaplah bahwa orang-orang yang mulia tadi bukanlah ‘ulamâ. Akan tetapi mereka mengetahui fitnah Ibnai Mar’î lalu mereka membongkarnya dan menampilkan bukti-bukti yang kuat dan argumentasi yang bercahaya. Dan mereka itu berjalan dengan bimbingan Syaikhunâ Yahyâ bin ‘Alî Al- Hajûrî -hafidhohullôh- yang beliau itu ‘âlim, faqîh, dan berpandangan tajam. Maka apakah engkau menerima berita dari mereka wahai Luqmân? Ataukah engkau akan berkata, ”Tak boleh berbicara tentang ahlul bida’ selain ‘ulamâ”?

Imâm Al-Wâdi’î -rohimahullôh- ditanya: “Apakah berbicara tentang hizbiyyûn atau tahdzîr dari mereka termasuk perkara yang harôm? Dan apakah perkara ini khusus untuk ‘ulamâ dan bukan hak para penuntut ‘ilmu meskipun telah jelas kebenaran bagi para penuntut ‘ilmu tentang orang tersebut?”

Beliau -rohimahullôh- menjawab: “Sudah semestinya untuk dia bertanya kepada ahlul ‘ilmi tentang perkara tersebut. Akan tetapi orang yang melarikan umat dari As-Sunnah, dari Ahlussunnah dan majelis ‘ulamâ, maka umat harus ditahdzîr dari orang itu. Jarh dan ta’dîl harus orang tersebut mengetahui sebab-sebabnya dan harus bertaqwa kepada Allôh U tentang apa yang diucapkannya, karena sesungguhnya asal dari kehormatan seorang muslim adalah terhormat.

Sebagaimana sabda Nabi r :

فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَلَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَام، كَحُرْمَة يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا.

Sesungguhnya darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian adalah harôm, sebagaimana harômnya hari kalian ini di bulan kalian ini dan di negri kalian ini.” [61]

Akan tetapi mubtadi’ah tidak mengapa seorang thôlibul ‘ilmi memperingatkan orang darinya, pada batas-batas yang diketahuinya, secara ‘âdil. Allôh U berfirman:

#sŒÎ)ur óOçFù=è% (#qä9ωôã$$sù

“Dan jika kalian berbicara maka berlaku adillah.” (QS. Al-An’am : 152)

ولا يجرمنّكم شنآن قوم على ألاّ تعدلوا اعدلوا هو أقرب للتّقوى

“Dan jangan sampai kebencian terhadap suatu kaum menjerumuskan kalian untuk berbuat tidak adil. Adillah kalian karena dia itu lebih dekat kepada ketaqwaan.” (QS. Al-Maidah : 8)

¨bÎ) ©!$# ããBù’tƒ ÉAô‰yèø9$$Î/ Ç`»|¡ômM}$#ur

“Sesungguhnya Allôh memerintahkan untuk berbuat adil dan kebaikan.” (QS. An-Nahl : 90)

Dan Nabi r memerintahkan Abu Dzarr untuk mengucapkan yang benar walaupun itu pahit.

Bahkan Allôh U berfirman di kitab-Nya yang mulia:

 * $pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä (#qçRqä. tûüÏBº§qs% ÅÝó¡É)ø9$$Î/ uä!#y‰pkà­ ¬! öqs9ur #’n?tã öNä3Å¡àÿRr& Írr& Èûøïy‰Ï9ºuqø9$# tûüÎ/tø%F{$#ur 4 bÎ) ïÆä3tƒ $†‹ÏYxî ÷rr& #ZŽÉ)sù ª!$$sù 4’n<÷rr& $yJÍkÍ5 ( Ÿxsù (#qãèÎ7­Fs? #“uqolù;$# br& (#qä9ω÷ès? 4 bÎ)ur (#ÿ¼âqù=s? ÷rr& (#qàÊ̍÷èè? ¨bÎ*sù ©!$# tb%x. $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? #ZŽÎ6yz ÇÊÌÎÈ

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian sebagai orang yang menegakkan keadilan, sebagai saksi untuk Allôh walaupun terhadap diri kalian sendiri atau terhadap orang tua dan sanak kerabat. Kalau dia itu orang kaya ataupun miskin, maka Allôh itu lebih utama daripada mereka berdua. Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsu sehingga tidak berbuat adil. Dan jika kalian membolak-balikkan kata (untuk berbohong) atau berpaling maka sesungguhnya Allôh maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. An-Nisa’: 135)

Maka harus ada keadilan ketika berbicara tentang hizbiyyûn. Dan bukanlah aku maksudkan bahwasanya engkau melihat seorang mubtadi’ dan engkau menyebutkan kebaikan dan kejelekan yang ada padanya. Sesungguhnya mubtadi’ itu tidak pantas untuk kau sebutkan kebaikan dan kejelekannya.” (“Tuhfatul Mujib” hal. 187-188)

Juga Imâm Robî’ bin Hâdî Al-Madkholî-hafidhohulloh- ditanya: “Kebanyakan orang menyangka bahwasanya membantah ahlul bida’ dan ahwâ’ akan mematikan proses belajar yang sedang ditempuh oleh penuntut ‘ilmu dalam perjalanannya kepada Allôh. Apakah pemahaman ini benar?”

Beliau -hafidhohullôh- menjawab: “Ini adalah pemahaman yang bâthil. Dan ini termasuk metode ahlul bâthil dan ahlul bida’ untuk memberangus lidah ahlus sunnah. Maka pengingkaran terhadap ahlul bida’ termasuk pintu amr ma’ruf nahyi munkar yang terbesar. Dan tidaklah umat ini punya keistimewaan terhadap seluruh umat kecuali dengan keistimewaan ini.

 öNçGZä. uŽöyz >p¨Bé& ôMy_̍÷zé& Ĩ$¨Y=Ï9 tbrâßDù’s? Å$rã÷èyJø9$$Î/ šcöqyg÷Ys?ur Ç`tã ̍x6ZßJø9$# tbqãZÏB÷sè?ur «!$$Î/ 3

“Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, kalian memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar dan beriman kepada Allôh.” (QS. Âli ‘Imrôn: 110)

Pengingkaran terhadap kemungkaran merupakan penerapan dari ‘ilmu yang telah dipelajari oleh pemuda muslim, yaitu pemahaman dari agama Allôh U dan penelaahannya terhadap kitabulloh dan sunnah Rosûl-Nya yang mulia -’alaihish sholâtu was salâm-.

Maka apabila perkara amr ma’ruf nahyi munkar ini tidak diterapkan, khususnya terhadap ahlul bida’, maka dia bisa jadi masuk ke dalam firman Alloh U:

 šÆÏèä9 tûïÏ%©!$# (#rãxÿŸ2 .`ÏB û_Í_t/ Ÿ@ƒÏäÂuŽó Î) 4’n?tã Èb$|¡Ï9 yŠ¼ãr#yŠ Ó|¤ŠÏãur Ç`ö/$# zOtƒötB 4 y7Ï9ºsŒ $yJÎ/ (#q|Átã (#qçR%Ÿ2¨r šcr߉tF÷ètƒ ÇÐÑÈ   (#qçR$Ÿ2 Ÿw šcöqyd$uZoKtƒ `tã 9x6Y•B çnqè=yèsù 4 š[ø¤Î6s9 $tB (#qçR$Ÿ2 šcqè=yèøÿtƒ ÇÐÒÈ

“Orang-orang yang kafir dari Bani Isroil telah dila’nat dengan lisan Dâwûd dan 'Îsâ bin Maryam. Yang demikian itu adalah karena kedurhakaan mereka dan sikap mereka yang melampaui batas. Mereka dulunya tidak saling melarang dari kemungkaran yang mereka kerjakan. Sungguh jelek apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Maidah :78-79)

Dan jika seseorang melihat kebid’ahan tersebar, ada penyerunya, ada pembawanya, pembelanya, dan ada orang yang memerangi ahlussunnah demi kebid'ahan itu, bagaimana dia diam saja?

Ucapan mereka,”Sesungguhnya membantah ahlul bida' dan ahwa' akan mematikan ‘ilmu” ini bohong. Justru ini bagian dari ‘ilmu dan penerapan ‘ilmu.

Apapun yang terjadi, maka seorang penuntut ‘ilmu itu harus mengkhususkan waktu-waktu untuk memperoleh ‘ilmu. Dan harus bersungguh-sungguh untuk memperolehnya. Tidak bisa dia menghadapi kemungkaran kecuali dengan ‘ilmu. Bagaimanapun keadaannya dia harus memperoleh ‘ilmu dan sekaligus pada waktu yang sama menerapkannya.

Allôh U memberkahi pelajar yang mengamalkan ‘ilmunya ini.

Dan terkadang bisa dicabut keberkahan itu manakala dia melihat kemungkaran di depan matanya tapi dia berkata, ”nggak, nggak, aku belum belajar.” Dia melihat kesesatan dan ahlul bâthil mengangkat syi’ar kebâthilan dan mengajak orang kepadanya dan menyesatkan orang, dia justru berkata, ”Tidak, tidak. Aku nggak mau sibuk dengan perkara-perkara ini, aku akan menyibukkan diri dengan ilmu.” Yaitu latihan untuk berbasa-basi. Semoga Allôh memberkahi kalian.” (“Ajwibatu Fadhîlatusy Syaikh Robî'” hal. 34-35)

Luqmân berkata,”Ana lihat ini pembodohan, ketika ana di telpon ustâdz Abdul Jabbâr dia berkata itu ada syaikh-syaikh baru yang menggelikan sekali. Ustâdz-ustâdz yang lama yang ada di sana itu faham siapa orang-orang ini. Tapi kita kan nggak tahu, sehingga mereka mengatakan ustâdz-ustâdz itu nggak benar. Itu syaikh Yahyâ tidak didukung, itu buktinya didukung.”

Jawaban pertama: Bahkan Abû Hâzim dan yang semisal dengannya -hafidhohumullôh- di dalam fitnah ini ada di atas kebenaran, cahaya dan ‘ilmu serta keyakinan dari Robb mereka, dengan karunia dan rohmat-Nya. Dan mereka itu ada di atas bukti yang nyata dari Robb mereka. Adapun kamu dan para pengikutmu di dalam fitnah ini ada di atas kebatilan, kebutaan, hawa nafsu, kesombongan dan pengolok-olokan. Syaikhul Islâm -rohimahullôh- berkata,”Dan hawa nafsu itu seringnya menjadikan orangnya itu tidak mengenal kebenaran sedikitpun. (”Majmû’ul Fatâwâ” 27 hal. 91)

Jawaban kedua: pelecehan kalian terhadap para masyâyikh itu nyata dan tidak bisa dita’wili lagi. Apakah kalian tidak malu pada Allôh U yang berfirman:

$pkš‰r'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä Ÿw öy‚ó¡o„ ×Pöqs% `ÏiB BQöqs% #Ó|¤tã br& (#qçRqä3tƒ #ZŽöyz öNåk÷]ÏiB

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum itu mengejek kaum yang lain, karena bisa jadi yang diejek itu lebih baik daripada mereka.” (QS. Al- Hujurôt :11)

Jawaban ketiga: Kembalilah kalian -wahai para asâtidzah lama- ke markiz induk Dammâj, dan lihatlah para masyâyikh baru itu -menurut dugaan kalian-, kemudian ukurlah diri kalian dengan mereka dalam masalah ‘ilmu, fiqh, Al-Qur’ân dan hadîts. Abu Bakr -seorang penyair- mengumandangkan syair:

“Kapan saja kukatakan bahwa tuanku itu lebih utama daripada orang-orang itu, berarti aku telah merendahkan orang yang lebih kuutamakan itu. Tidak tahukah engkau bahwasanya pedang ini akan dihinakan oleh anak muda jika dia berkata bahwa pedang ini lebih tajam daripada tongkat?” (“Yatimatud Dahr” karya Ats- Tsa’labî -rohimahullôh- /2/ hal. 224)

Jawaban ketiga: semoga Allôh merahmati seseorang yang mengenal kadar dirinya sendiri dan bersikap rendah hati. Abû Huroiroh rodhiyallôhu ‘anhu berkata: Dari Rosûlullôh r  yang bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِله إِلاَّ رَفَعَهُ الله

“Tidaklah shodaqoh itu mengurangi harta sedikitpun. Dan tidaklah Allôh menambahi seorang hamba dengan kemaafan kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seseorang itu merendahkan diri kepada Allôh U kecuali Dia akan mengangkatnya.” [62]

Luqmân berkata,”Kemudian terjadi juga majelis di depan Yahyâ Al-Hajûrî -yang hasilnya- ada empat perkara: Yang pertama kata Al-Hajuri tentang ‘Abdurrohmân Al-Mar’î : “hadzâ ma’rûf bahwa ini hizbi, mâ yunkiru ahad yukhôlif hadzâ, tidak ada seorangpun yang mengingkari hal ini. Sampai akhirnya dikatakan : “amma Luqmân Bâ’abduh hadzâ jâhil, nggak sepantasnya dijadikan sebab perselisihan antara kalian, hadzâ kaslân, hadzâ….” (Luqmân tertawa).

Jawaban pertama: Lihatlah kepada ejekan Luqmân buat Syaikhunâ Yahyâ -hafidhohullôh-  yang dikatakan oleh Asy-Syaikh Muhammad Al-Imâm, “Tunggu dulu, Al-Hajûrî imâm.” dan berkata, ”Tidak pantas untuk jarh wat ta’dîl pada zaman ini selain Syaikh Robî’ dan Syaikh Yahyâ.” Dan Syaikh Robî’ -hafidhohullôh- berkata, ”Dan tidaklah pantas untuk memegang dakwah tersebut kecuali beliau dan yang semisalnya.

Jawaban kedua: Apakah kau kira -wahai Luqmân- bahwasanya Syaikhunâ -hafidhohullôh- menghukumi Ibnai Mar’î sebagai hizbi, dan juga menghukumi engkau sebagai pemalas, beliau itu menghukumi dengan hawa nafsu dan kengawuran? Para masyâyikh sunnah di Yaman di dalam “Bayan Ma’bar” mereka telah mengakui bahwasanya: “Syaikh Yahyâ itu tidak berbicara berdasarkan hawa nafsunya, dan kami mensyukuri beliau atas besarnya kerja keras dan kecemburuan beliau untuk agama ini.” Dan mereka tidak menertawakan beliau ataupun mengejek beliau -semoga Allôh menjaga beliau dan mereka semua-.

Luqman berkata, ”Yahyâ Al-Hajûrî waktu itu masih muter-muter besi cor di kolong-kolong, dia -yaitu Yâsin Al-Hizbî- sudah ngajar.”

Jawaban pertama: Ini adalah penghinaan yang nyata, yang tidak terselubungi oleh kelamnya malam, apalagi tertutupi oleh potongan ekor. Dan penghinaan tadi merupakan makar untuk melarikan manusia dari seorang syaikh yang sunnî dan penjaga sunnah.

Allôh U berfirman:

 Ÿwur ß,‹Ïts† ãõ3yJø9$# à×Äh¡¡9$# žwÎ) ¾Ï&Î#÷dr’Î

“Dan tidaklah makar yang buruk itu menimpa kecuali pelakunya sendiri”. (QS. Fathir : 43)

Jawaban kedua: Apakah pekerjaan yang halal itu menghalangi seseorang untuk mengajar, menerima ‘ilmu, ataupun ‘ibâdah-‘ibâdah yang lain? Syaikh kami itu telah menggabungkan itu semua. Dan bahkan menjadi orang yang paling ber’ilmu di Yaman -sesuai dengan persaksian Imâm jarh wat ta’dil Muqbil bin Hadi Al Wadi’y -rahimahulloh- dan jadilah beliau Imâm untuk ahlussunnah -dengan persaksian Syaikh Muhammad Al-Imâm hafidhohullôh-.

Adapun Yâsin Al-‘Adanî maka sungguh dia itu terus-terusan di dalam kenistaan. Bahkan syaikhmu -wahai Luqman- ‘Abdurrohmân Al-‘Adanî telah berkata bahwa Yâsin itu “Tidak beradab”, “Fâsiq” dan punya firasat bahwa dia itu “Aku tidak mengira dia itu akan mendapatkan taufîq.”

Pembantu Yâsin yang bernama Ahmad Misybah Al- ‘Adanî -juga teman seperjuangannya dalam hizbiyyah ini- hadâhullôh telah berkata,”Kalaulah kemaslahatan itu ada di kepala anjing pastilah Yâsin akan menjilatnya.” (“Syarorotul Lahab” 2/25 karya Asy-Syaikh Muhammad Al-’Amudî -hafidhohullôh-)

Jawaban ketiga: (Syaikhunâ Abû Bilâl Al-Hadhromî -hafidhohullôh- memberikan catatan kaki terhadap ucapan Luqmân,” Yahyâ Al-Hajûrî waktu itu masih … , dia -yaitu Yâsin Al-Hizbî- sudah ngajar.” Ini merupakan bagian dari kedustaan Luqmân. Syaikhunâ Yahyâ dulu sudah dikenal di kalangan para penuntut ‘ilmu. Dan dulunya beliau merupakan imâm bagi masjid As-Sunnah di Dammâj. Dan mungkin saja hal ini sebelum Yâsin mengenal Dammâj. Kemudian, pengagungan apa ini yang kamu berikan terhadap orang-orang hizbiyyîn yang terlantar, sekaligus upaya untuk menjatuhkan seorang imâm sunnah seperti Syaikhunâ Yahyâ? Ini tidak lain kecuali hizbiyyah yang merusak, wahai Luqman. Barangsiapa yang bersama dengan mereka, diangkatnya dia melebihi kadarnya. Tapi barangsiapa tidak bersama mereka dijatuhkannya meskipun dia merupakan seorang ‘ulamâ. Kita berlindung pada Allôh dari hawa nafsu.

Jawaban keempat: Jika pekerjaan di bidang besi atau semen merupakan kehinaan di sisimu, maka ketahuilah bahwasanya engkau lebih hina.  Sebagian tokoh yang mulia seperti Akhûnâ An-Nabil Yûsuf Al-Jazâ’irî -hafidhohullôh- telah mengabarkan kepada kami bahwasanya engkau dulunya sibuk dengan bidang sampah. Dan Akhûnâ Yâsir Al-Hadhromî -hafidhohullôh- juga mengabarkan kepada kami bahwasanya engkau dulunya sering bepergian. Kau tinggalkan jam-jam pelajaran Imâm Al-Wâdi’î -rohimahullôh- karena sering bepergian ke Shon’â dan Mukalla untuk bisnis madu. Juga Syaikhunâ yang pemberani ‘Abdul Hamîd Al-Hajûrî -hafidhohullôh- mengabarkan pada kami bahwa engkau itu bodoh, banyak bepergian dan sering meninggalkan jam-jam pelajaran Imâm Al-Wâdi’î -rohimahullôh-, dan engkau sibuk dalam bidang sapu-menyapu. Bahkan akhûnâ ‘Abdul Karîm Al-Hadhromî -hafidhohullôh- menceritakan bahwa engkau dulunya pernah memukul seorang pelajar, sampai-sampai Imâm Al-Wâdi’î -rohimahullôh- meneriakimu di waktu pelajaran beliau, ”Wahai Abû ‘Abdillâh, kenapa engkau memukul saudaramu!?” dan dengan hebatnya tipu muslihatmu engkau bisa memberikan berbagai alasan untuk itu semua.

Jawaban kelima: pekerjaan yang dijalani dalam rangka menjaga ‘iffah (harga diri) dan untuk mencukupi nafkah keluarga itu lebih tinggi, lebih terhormat, dan lebih mulia daripada kehinaan mengemis yang kau lakukan, wahai Luqmân. Bahkan engkau telah menghinakan dakwah Salafiyyah -setelah kau hinakan dirimu sendiri- dengan praktek mengemis itu.

Jawaban keenam: Upaya untuk merendahkan para pembela kebenaran merupakan penyakit lama. Allôh U berfirman:

 tA$s)sù _|yJø9$# tûïÏ%©!$# (#rãxÿx. `ÏB ¾ÏmÏBöqs% $tB š1ttR žwÎ) #\t±o $oYn=÷VÏiB $tBur š1ttR šyèt7¨?$# žwÎ) šúïÏ%©!$# öNèd $oYä9ό#u‘r& y“ÏŠ$t ēù&§9$# $tBur 3“ttR öNä3s9 $uZøŠn=tã `ÏB ¤@ôÒsù ö@t öNä3–YÝàtR šúüÎɋ»x. ÇËÐÈ

“Maka para pembesar yang kafir dari kaumnya itu berkata,”Tidaklah kami melihatmu kecuali sebagai orang biasa seperti kami, dan tidaklah kami melihatmu kecuali bahwasanya yang mengikutimu itu hanyalah orang-orang rendahan di kalangan kami, dan tidaklah kami melihat bahwasanya kalian itu memiliki keutamaan di atas kami. Bahkan kami mengira bahwa kalian itu pembohong.” (QS. Hud 27)

Imâm Ibnul Mubârok -rohimahullôh- berkata:

مَنِ اسْتَخَفَّ بِالعُلَمَاء ذَهَبَتْ آخِرَتُهُ، وَمَنِ اسْتَخَفَّ بِالأُمَرَاء ذَهَبَتْ دُنْيَاهُ، وَمَنِ اسْتَخَفَّ بِالإِخْوَان ذَهَبَتْ مُرُوْءَتُهُ.

Barangsiapa meremehkan ‘ulamâ hilanglah akhiratnya. Barangsiapa meremehkan umaro’ sirnalah dunianya. Dan barangsiapa meremehkan saudaranya maka lenyaplah muru’ahnya (kewibawaannya)” (“Siyar A’lâmin Nubalâ” 4/hal. 408)

Al-Hâkim An-Naisâburî -rohimahullôh- berkata:

كُلُّ مَن يُنْسَبُ إِلَى نَوْعٍ مِنَ الإِلْحَادِ وَالبِدَعِ لاَ يَنْظُرُ إِلَى الطَّائِفَةِ المَنْصُوْرَةِ إِلاَّ بِعَيْنِ الحِقَارَة، ..

 ”Setiap orang yang ternisbatkan kepada suatu jenis penyelewengan dan kebid’ahan, dia itu tidak memandang kepada Ath-Thô’ifatul Manshûroh kecuali dengan pandangan mata kehinaan dst.” (“Ma’rifatu ‘Ulûmil Hadîts” 1/hal. 6)

Imâm Al-Wâdi’î -rohimahullôh- berkata:

وَمِنْ عَلاَمَاتِ الحِزْبِيِّيْنَ أَنَّهُمْ يَسْخَرُوْنَ مِنَ العُلَمَاء وَيَزْهَدُوْنَ فِي مَجَالَسَةِ العُلَمَاء وَهَذَا مِمَّا تَقَرَّ بِهِ أَعْيُن أَعْدَاءِ الإِسْلاَمِ بَلْ مِمَّا تَقَرَّ بِهِ أَعْيُنِ الشَّيَاطِيْن وَاللهُ المُسْتَعَان.

”Dan di antara alamat para hizbiyyîn adalah bahwasanya mereka mengejek ‘ulamâ, dan mentazhîd (menjadikan orang merasa tidak butuh) dari duduk-duduk dengan ‘ulamâ, dan ini merupakan perbuatan yang membikin senang musuh-musuh Islâm, dan bahkan merupakan perbuatan yang menyenangkan setan-setan, Wallôhul musta’ân.” (“Ghôrotul Asyrithoh” 1/hal. 579)

Pembelaan Luqmân terhadap Beberapa Penolong Kebâthilan

dan Pelakunya

Luqman berkata, ”Syeikh ‘Ubaid dinyatakan sebagai hizbi. Akhirnya siapa yang tersisa?, Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab -gurunya- dilecehkan.”

Jawaban pertama: Barangkali engkau bersandarkan pada kaset palsu yang dipasok oleh mata-mata hizb baru itu. Dan kaset tersebut telah tersebar di sebagian negri Hijaz. Atau barangkali engkau bersandarkan pada berita-berita dari mata-matamu yang terus bercokol di markiz induk ini. Jika tidak demikian, maka beberkan pada kami sumber perkataan itu. Kami sendiri belum pernah mendengar Syaikh kami -hafidhohullôh- terang-terangan mengatakan bahwa ‘Ubaid Al-Jabiry itu hizbî.

Jawaban kedua: sesungguhnya baku tolong antara ‘Ubaid Al-Jâbirî dengan komplotan hizb baru itu sudah terkenal. Dan usaha dia untuk mengobarkan api fitnah itu nyata. Juga makar dia terhadap da’wah Salafiyyah di Yaman -pada umumnya- dan terhadap Syaikhunâ Yahyâ hafidhohullôh -pada khususnya- itu telah terdeteksi. Juga kedholimannya dalam berdebat itu telah terungkap. Dia juga berusaha untuk mengangkatnya kembali citra Shôlih Al-Bakrî -sang hizbî yang ghuluw-, padahal para Salafiyyûn telah selesai dengan fitnah dia, setelah fitnah Abul Hasan.

Maka tak akan bermanfaat baginya tangisanmu buatnya sedikitpun, karena Allôh telah membongkar ‘aibnya. Semoga Allôh menyusulinya dengan rohmat-Nya yang luas. Kalau tidak begitu, maka dia itu bukanlah orang pertama yang terjatuh di dalam kebathilan di masa tua. Sesungguhnya amalan itu berdasarkan masa penghabisannya.

Jawaban ketiga: Ucapanmu (akhirnya siapa yang tersisa?) sungguh aneh sekali. Apakah ‘ilmu itu hanya terbatas pada ‘Ubaid Al-Jâbirî, dan tidak ada di alam ini satu ‘âlimpun selain dia? Dan apakah jika Syaikhunâ -hafidhohulloh- mengkritiknya dengan apa yang pantas untuk dirinya, berarti beliau telah mengkritik seluruh ‘ulamâ seantero jagad?

Jawaban keempat: Ucapanmu (Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb -gurunya- dilecehkan) sungguh aneh. Telah nampak cercaan Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb Al-Wushôbî -waffaqohullôh- terhadap Imâm Al-Wâdi’î -rohimahullôh-. Dan telah jelas upayanya untuk melunturkan manhaj al-walâ’ (loyalitas) wal barô’ (pemutusan hubungan), sehingga dia bersikap lumer dan lunak terhadap beberapa tokoh Hasaniyyûn. Dan telah tersingkapkan kesombongan dirinya terhadap nasihat para Salafiyyûn. Maka balasan itu sesuai dengan jenis amalannya.

Dan di antara kebatilan Syaikh Muhammad Al- Wushôbî -hadâhullôh- : dia itu mencerca Imâm Al- Wâdi’î -rohimahullôh-. Berikut ini adalah persaksian dari ‘Abdul Hâdî Al-Mathorî yang akan dinukilkan dari tulisan tangannya sendiri: “Dulu kami pernah mengunjungi Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb Al-Wushôbî sekitar tahun 1414 H. setelah kami makan siang bersama Syaikh Muhammad Al-Wushôbî, aku, Husain Al-Mathorî, Hasan Al-Wushôbî dan ‘Alî Adz- Dzârî … Syaikh Muhammad berkata tentang Syaikh kami Muqbil -dan beliau saat itu masih hidup-,”Kitâb-kitâb Syaikh Muqbil itu bersifat harokiyah  (pergerakan) maka sengaja aku katakan: “Bagaimana? “Ash-Shohihul Musnad” “Asy-Syafa’ah” “Ijabatus Sa’il” ? Syaikh Al-Wushobi berkata: “maksudku Al-Makhroj As-Suyuf Al-Baatiroh” dan “Fadho’ih Mudzabdzabin” dan menyebutkan lainnya, kitab-kitab tersebut tidak mengmbil manfa’at darinya penuntut ‘ilmu dan pecinta kebaikan, dan kalau Syaikh Muqbil berjalan sebagaimana Syaikh Ibnu Baz akan menghasilkan kebaikan dan mencakup manfa’at maka akan kamu dapati semua akan mengambil manfa’at darinya, yang akan mengambil manfa’at darinya Ikwani, Awwam, Sururi, hingga Sunni dan selainnya dan lain-lainnya)[63]

(risalah “At Ta’mid wat Tad’im” hal. 17 karya Syaikhunâ Kamâl bin Tsâbit Al-‘Adanî -hafidhohullôh-)

Dan di antara kebâthilannya juga adalah bahwasanya dia mencerca dua Imâm Ahlussunnah pada zaman ini: Asy-Syaikh Shôlih Fauzân dan Syaikh Robî’ Al-Madkholî -hafidhohumallôh-. Dia berkata, ”Sesungguhnya Asy-Syaikh Shôlih Fauzân dan Asy-Syaikh Robî’ itu jawâsis (intel/mata-mata).” Ucapan ini banyak tersebar di kalangan orang-orang yang bermajelis dengan Asy-Syaikh Muhammad Al-Wushôbî -hadâhullôh- di Hudaidah dan daerah lain. Dan orang yang paling banyak menyebarkan ketergelinciran ini adalah Hanî’ Buroik, sebagaimana dipersaksikan oleh orang yang mengetahui ini darinya di Saudi dan tempat yang lain, dan juga ‘Abdullôh bin Mar’î Al-‘Adanî, sebagaimana dipersaksikan oleh akhûnâ Muhammad Al- Kutsairî.

Dan juga Asy-Syaikh Muhammad Al-Wushôbî menuduh Asy-Syaikh Abu ‘Abdissalâm Hasan bin Qôshim Ar-Rôimî -pemilik markiz da’wah di Ta’iz, dan murid Imâm Al-Albanî rohimahullôh- bahwasanya beliau itu jasus (intel). (risâlah “At Ta’mid wat Tad’im” hal. 17)

Dan termasuk dari kebâthilannya juga adalah menyelenggarakan muhâdhoroh bersama Jalâl bin Nâshir yang telah dihukumi sebagai mubtadi’ oleh Imâm Al-Wâdi’î rohimahullôh- dan memberinya kesempatan untuk menyampaikan ceramah di depan para Salafiyyûn. Bahkan Syaikh Muhammad Al- Wushôbî telah memperluas daerah pergaulan sampai pada para ahli jam’iyyât seperti ‘Abdullôh Al-Marfadî yang telah dihukumi sebagai hizbî oleh Imâm Al-Wâdi’î rohimahullôh-. Dan Jamîl Asy-Syujâ’ -tokoh Hasanî- juga berceramah di markiz Syaikh Muhammad Al- Wushôbî. Juga dia berkata,”Sesungguhnya perselisihan di antara kita dengan Ahmad bin Manshûr Al-‘Udainî itu tidaklah besar.” (risâlah “At Ta’mid wat Tad’im” hal. 9-10 dan sumber yang lain)

Maka hendaknya engkau dan si ‘Afîfuddîn merujuk kembali kaset-kaset dan malzamah-malzamah tersebut -yang kalian menghalangi orang-orang untuk menyebarkannya- niscaya kalian akan mendapatkan dalîl-dalîl yang nyata tentang sebagian kebâthilan Syaikh Muhammad Al-Wushôbî -waffaqohullôh- sejak masih hidupnya Imâm Al-Wâdi’î -rohimahullôh-. Dan aku tidak butuh untuk membeberkannya di sini.

Beberapa ‘ulamâ telah menggunakan perkataan Syaikhul Islâm -rohimahullôh- tentang kelompok wihdatul wujûd, untuk menghantam para hizbiyyûn secara umum. Beliau berkata,”Wâjib untuk menghukum setiap orang yang menisbatkan diri kepada mereka, atau membela mereka, atau memuji mereka, atau mengagungkan kitâb-kitâb mereka, atau diketahui bahwasanya dirinya itu saling bantu dan saling tolong dengan mereka, atau tidak menyukai kritikan kepada mereka, atau mulai memberikan udzur untuk mereka, bahwasanya perkataan mereka itu tidak diketahui apa maksudnya, atau tidak diketahui siapakah yang menulis kitâb ini, atau udzur-udzur yang seperti ini yang tidaklah mengucapkannya kecuali orang yang bodoh atau munâfiq. bahkan wâjib untuk menghukum orang yang tahu keadaan mereka dan tidak mau saling menolong untuk menghadapi mereka, karena perjuangan untuk menghadapi mereka merupakan termasuk kewâjiban yang paling agung dst” (“Majmû’ul Fatâwâ” 2/132)

Asy-Syaikh Ahmad An-Najmî -rohimahullôh- berkata tentang ciri-ciri hizbiyyah Qôdhi Ibrôhim bin Hasan Asy-Sya’bî, “Dan di antara yang menunjukkan terperosoknya dirimu ke dalam hizbiyyah adalah pengingkaranmu terhadap diriku, dan pengingkaranmu terhadap perkara-perkara yang kusebutkan tentang para hizbiyyûn.” (“Dahrul Hajmah” hal. 13, dan seperti itu hal. 19)

Asy-Syaikh Robî’ -hafidhohullôh- berkata, ”Maka penulis kitâb “Al-Mi’yar” dan hizbnya berusaha untuk membunuh manhaj salafî dengan cara melumerkannya, dan meremehkan nilainya, dan mencoreng para pembawanya, dan dengan pembelaan mereka terhadap ahlil bida’, dan membalas dendam untuk mereka.” (“Bayân Fasâdil Mi’yar” hal. 82)   Ditulis Oleh: Abû Fairûz ‘Abdurrohmân bin Sukaya Al-Qudsî Al-Indonesi ‘afallôhu ‘anhu .

/////


BANTAHAN TERHADAP

KECEROBOHAN LUQMAN

PENULIS: Abu Turob Saif Bin Hadlor Aljawy

سْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، وسيئات أعمالنا من يهده الله، فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده روسوله.

Membela al-haq dan ahlul haq adalah kewajiban setiap orang yang mengetahui al-haq, begitu pula membela tempat al-haq yang ada didalamnya, Allah Subhanahu Wa Ta’aala berfirman tentang pembelaan-Nya terhadap al-haq dan ahlul haq :

+الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِين_ [البقرة/147] +إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آَمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ _ [غافر/51]

Dan sebaliknya, memerangi kebathilan dan ahlul bathil, tempat bathil dan kebathilan yang ada di dalamnya merupakan kewajiban bagi yang mengetahui kebathilan dan mampu menunaikannya. Allah Ta’ala berfirman:

+قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَق_ [التوبة/29]

Dari dasar di atas ana tergugah untuk ikut serta andil menuangkan tinta ana ketika melihat adanya ketimpangan dan ketidaksesuaian dengan fakta yang ada atas apa yang disampaikan oleh seorang yang disegani dalam dakwah salafiyyah di Indonesia yang bernama Luqman Ba’abduh, ana lihat bahwa perkataannya dilandasi  atas dasar kecurigaan dan ketidakadilan serta kepalsuan berita yang sampai kepadanya, juga karena ada tersirat dendam terhadap nasehat Syaikh Yahya kepadanya, ana berharap apa yang akan ana tulis bisa menguak sedikit apa yang terselubung di dalamnya, sebagai ajakan untuk mengoreksi diri kepada semua yang telah terjerat di dalam jaring-jaring fitnah ini, agar kembali kepada kelapangan jiwa untuk menerima kebenaran yang nyata.

Ana akan menguak beberapa perkara yang menurut pandangan ana perlu , ana bagi dalam beberapa point:

Point pertama

Perkataan Luqman “ Bahwa Abdurrahman dan Abdullah Al-Mar’i adalah termasuk afadhilul ‘ulama dan orang yang… dan seterusnya “.

Sanggahan : Perkataan ini bila dinilai dengan kenyataan yang ada di lapangan dan apa yang telah diperbuat oleh keduanya tidaklah memiliki bobot ilmiah, hal itu terbukti pada beberapa sebab, di antaranya :

Tidak pernah terdengar darinya berbicara masalah manhaj dalam rangka mengokohkan manhaj dengan membantah syubhat-syubhat pengacau manhaj, baik yang telah masyhur apalagi yang masih samar, ini yang kami ketahui selama berada di Dammaj, kalau toh menyebutkan sesuatu, itupun dengan transparan tanpa terang-terangan (sorohah), atau barang kali kalian memiliki bukti yang kuat untuk melemahkan perkataan kami ini tolong kami diberi faedah.

Kelakuan-kelakuannya yang di luar kebiasaan orang yang  berilmu dan orang sholeh, seperti membuat jurang pemisah antara thullab dan syaikhnya, memendam fitnah dan makar untuk menjatuhkan orang lain tanpa haq, melecehkan perbuatan dan usaha baik orang lain, tidak menghargai ijtihadnya orang yang dianggap bukan ulama kibar, berlemah lembut dengan hizbi atau orang-orang yang masih dibicarakan kondisi manhajnya, memusuhi orang-orang yang benar-benar membela sunnah, mengambil atau menguasai mesjid ahlussunnah dengan cara paksa, mengambil alih khutbah orang lain yang bukan jatahnya, bermegah-megah dalam membangun rumah kediamannya, mengelompokkan orang-orang yang bersamanya dan memboikot yang bukan kelompoknya walaupun dahulunya satu jalan, mengadu domba antar ulama dan du’at, meminta dukungan orang terutama para ulama dengan mengatakan kepada mereka bahwa mereka terdzolimi, ….. dst, meremehkan amalan dzohir yang semua orang tahu bahwa perbuatan tersebut kalau ditinggalkan seorang tholibul ‘ilmi merupakan kekurangan dan aib baginya, apalagi bagi seorang yang dianggap ‘alim seperti bermudah-mudahan dalam menunaikan sholat jama’ah pada porsinya, dan sebagainya  yang masih banyak dan terlalu banyak. Itu semua menunjukkan bahwa tidak layak orang yang memiliki sifat-sifat seperti ini untuk dijuluki afadhil ‘ulama Yaman. ( Lihat bukti-bukti nyata ini semua di kitab Mukhtashor Al-Bayan ).

Point kedua

Perkatan Luqman “ Syaikh Abdullah dinyatakan sebagai maling dakwah “.

Maka kami katakan: Tuduhan yang demikian itu bukanlah asal tuduh saja yang tidak berlandaskan bukti nyata, bahkan tuduhan tersebut masih agak ringan daripada apa yang dilontarkan oleh sebagian salaf kepada sahabatnya, seperti perkataan Ibnul Mubarok kepada Ibnu ‘Ulaiyyah dengan sebab menerima tawaran pemerintah untuk menjadi qodhi:

يصــــطاد أموال المساكين يا جاعل العـــــلم له بازيا
بحيلة تــــــذهب بالدين احتلت للــــــدنيا ولذاتها
كنــــــت دواء للمجانين فصرت مجنـــونا بها بعد ما

Wahai orang yang menjadikan ilmu sebagai pakaian.

Untuk sekedar memburu harta orang-orang miskin.

Engkau membuat hiilah (tipu muslihat) untuk tercapainya kelezatan dunia yang memusnahkan agamamu.

Engkau telah menjadi orang gila dengan sebab dunia.

Padahal sebelumnya engkau sebagai panyembuh orang-orang gila.

Kita lihat betapa pedasnya ungkapan Ibnul Mubarok, padahal perbuatannya sebagai qodhi adalah atas perintah pemerintah yang apabila dikerjakan dengan baik akan membuahkan pahala yang besar, dan tentunya Isma’il bin ‘Ulaiyyah berbuat sesuai dengan ilmu, karena beliau termasuk ulama mereka, dan setelah mendapat nasehat tersebut beliau pun meninggalkan pekerjaannya sebagai qodhi untuk keselamatan diennya.

Adapun syaikh kita ini, bukannya pemerintah yang menugaskannya dalam suatu urusan kenegaraan mereka, akan tetapi mengatasnamakan dakwah dan umat untuk menggalang dana dengan berbagai macam cara, yang barangkali orang ahli dunia tidak serakus dan secanggih dia dalam usaha ini.

Contohnya :

Menarik iuran dari para nelayan dengan penyesuaian hasil mereka berburu ikan setiap pekan atau bulannya.

Menarik iuran santri terutama santri manca negara.

Mendirikan stan-stan seperti toko buku, tasjilat, pabrik es batu dan lain-lain.

Mendirikan pasar khusus buat akhowat/ummahat.

Mengadakan import dan jual burung elang.

Menyelundup ke wilayah terlarang untuk mencuri telur-telur penyu demi memberi makan elang-elangnya. Betul-betul nama “Syaikh”nya dipertaruhkan untuk itu.

Dan masih banyak lagi usaha dunianya, dari sekian banyak usaha-usaha di atas masih juga menawarkan diri kepada muhsinin lewat apa saja yang bisa mendatangkan dana, sampai lewat internet bahwa ma’hadnya siap menerima uluran tangan mereka, dan lebih parahnya hasil dari itu semua  menyebabkan hutang dakwah semakin bertumpuk yang akhirnya mau tidak mau harus mengemis kesana kemari untuk menutupinya. Maka pantaslah kalau dijuluki sebagai “Maling Dakwah“. Semua penukilan tersebut telah tertulis dalam sebuah buku yang berjudul At-Tajawwul Wa At-Tasawwul karangan Muhammad Baroidy Al-Hadhromy. Buku tersebut diperjelas dengan saksi dan bukti nyata, silahkan dicek dengan cermat.

Point ketiga

Adapun ucapan Luqman “ Bahwa kedua syaikh itu memiliki musuh-musuh islam sufi, sururi dan seterusnya …..”.

Maka kami katakan “ Itu hanyalah omong kosong belaka, buktinya di sekeliling ma’had Abdullah orang-orang sufi berkeliaran tanpa adanya pengingkaran yang cukup memadai, bahkan telah bercerita kepada kami beberapa ikhwah dari Syihr ( lokasi ma’had Abdullah ), bahwa suatu saat Abdullah bekerja sama dengan salah seorang sufi untuk menghalau ahlussunnah “.

Adapun Abdurrohman itu sudah menjadi rahasia umum di kalangan salafi di Yaman kelemahannya dari sisi ini, bahkan menjadi incaran para hizbiyyin, dan tamu yang ditunggu-tunggu oleh mereka, seperti apa yang di katakan  Abul Hasan kepada pengikutnya ketika mulai tercium bau busuknya: “Bergembiralah kalian karena akan datang tamu baru kepada kita.”

Begitu pula hizbi ikhwanul muflisin senantiasa menanti kedatangannya dan menawarkan  budi baiknya kepadanya. Ini terbukti ketika beberapa antek mereka dari Su’udi datang ke Dammaj yang pertama dituju adalah Abdurrohman, seperti yang dituturkan oleh Ghozi Assulamy Assu’udy di hadapan seluruh santri.

Point keempat

Pelecehan  Luqman terhadap Syaikh Yahya dengan perkataannya “Dia itu sekedar da’i yang tidak tahu manhaj sudah naik pangkat “.

Maka kami nasehatkan: “Ya Luqman bukankah Allah mengatakan:

+وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ_ [فصلت/33]

“Dan ucapan siapakah yang lebih baik dari orang yang berdakwah kepada Allah dan beramal sholeh dan dia berkata bahwa sungguh aku termasuk dari kaum muslimin  “

Dan Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا. [  رواه مسلم - (ج 17 / ص 250) عن أبى هريرة t]

“ Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk maka baginya seperti pahala yang mengikutinya “.

Mengapa kamu meremehkan perkara yang Allah dan Rosul-Nya anggap besar, bukankah julukan tersebut adalah julukan yang mulia di sisi Allah ??? “.

Adapun ucapanmu “ tidak tahu manhaj “.

Maka kami katakana: “Manhaj apakah yang kamu inginkan???, karena kalau tidak tahu manhaj al-haq maka julukan tersebut lebih pantas kamu yang menyandangnya. Adapun Syaikh Yahya maka tidak perlu dita’dil oleh orang-orang seperti kita, coba bandingkan ucapan kotormu ini dengan pujian-pujian para ulama, seperti yang telah lewat di atas.

Apakah pantas bagimu wahai Luqman untuk berbicara seperti pembicaraan orang yang tidak sadar apa yang keluar dari kepalanya.

Adapun kamu wahai Afifuddin   ( ittaqillah ) mengapa kamu tertawa terbahak-bahak yang menunjukkan keridhoanmu atas tuduhan kotor Luqman, padahal kamu tahu persis siapa syaikhmu ini, keilmuannya, kezuhudannya, ketabahannya, sikap kerasnya terhadap ahlul bid’ah dan hizbiyyin, ataukah sekarang kamu telah menyamakan Syaikh Yahya dengan guru-gurumu sebelumnya seperti ‘Ainur Rofiq dan Ja’far ‘Umar Tholib, alangkah tidak pantasnya perbuatanmu ini. Tub – ilallooh (bertobatlah pada Alloh)!!!

Point kelima

Perkataan Luqman “Syaikh Abdullah mengatakan bahwa Syaikh Yahya sangat berbahaya sekali terhadap dakwah di Yaman “.

Maka kami katakan: “Benar, bahwa beliau sangat berbahaya sekali terhadap dakwah sesat dan bathil di Yaman bahkan di dunia secara umum, beliau sangat berbahaya terhadap roofidhoh, ikhwanul muflisiin, sururiyyiin, quthbiyyiin, hizbiyyah Abul Hasan, hizbiyyah Abdurrahman, hizbiyyah ashhabul jam’iyaat. Akan tetapi untuk ahlussunnah maka beliau seperti apa yang disebutkan oleh Syaikh Abdul Aziz Al-Buro’i hafidzohullahu ta’ala:

 فالشيخ يحيى شامة في وجوه أهل السنة وتاج على رؤوسهم.

“Syaikh Yahya adalah tahi lalat di wajah ahlussunnah dan mahkota di atas kepala mereka.” (“Madza Yanqimuna Min Yahya?”/Adnan Adz Dzammari/hal. 6, dan “Jalsah Ahli Qushoi’ar Ma’asy Syaikh Abdul ‘Aziz Al Buro’i “/”Muammarotul Kubro”/Abdul Ghoni Al qo’syami/hal. 24)

Syaikh Muhammad Al Imam -hafidhahulloh- berkata:

لايطعن في الشيخ العلا مة يحيى الحجوري إلا جاهل أوصاحب هوى. أو بمعناه..

“Tidaklah mencela Asy Syaikh Al Allamah Yahya Al Hajuri kecuali orang bodoh atau pengekor hawa nafsu.” (“Madza Yanqimuna Min Yahya?”/Adnan Adz Dzammari/hal. 6)

Juga berkata -hafidhahulloh-:

لا يصلح للجرح والتعديل في هذا العصر إلا الشيخ ربيع والشيخ يحيى

“tidak pantas untuk jarh wat ta’dil pada zaman ini selain Syaikh Rabi’ dan Syaikh Yahya.” (“Al Barohinul Jaliyyah”/Mu’afa bin Ali Al Mighlafi/hal. 14)

Abdulloh Ad Duba’i -hafidhahulloh- pernah mendengar Syaikh Muhammad Al Imam berbicara tentang keluar dakwah. Maka salah seorang hadirin berkata,”Wahai Syaikh, Syaikh Yahya nggak keluar dakwah”. Maka Syaikh Muhammad Al Imam berkata:

انتظر الحجوري إمام.

“Tunggu dulu, Al Hajuri imam.”(“Muammarotul Kubro”/Abdul Ghoni Al qo’syami/hal. 24)

Point keenam

Perkataan Luqman “Kalau di Yaman ada perkataan kami bersama ulama. Jawaban seperti ini dan dia berada di Dammaj sangat berbahaya, bagi dia siap-siap divonis sebagai orang yang marid, orang yang berpenyakit qolbunya dicap sebagai orang hizby berpenyakit. Siap-siap kalau ada yang menyatakan mauqifi ma’al ulama.

Kami katakan “ Julukan tersebut tidaklah tanpa landasan yang kuat, karena kebanyakan mereka yang punya fikroh semacam ini memiliki qorinah kuat untuk dicap sebagai orang yang sakit hatinya, di antaranya :

Tidak adanya kepedulian mereka terhadap kenyataan yang ada, seperti terjadinya kudeta kecil-kecilan dari hizbinya Abdurrahman seperti Yasin, Misybah dan lain-lain, dan kondisi tersebut didepan mata mereka, akan tetapi seakan-akan mereka buta dan tuli atas perkara itu semua, maka ketika mereka ditegur atau diingatkan, mereka berkata “Kami bersama para ulama “. Coba dibayangkan kalau ada pencuri masuk rumahmu dan seenaknya dia mengambil barang-barang rumah dan kamu melihat dengan mata kepalamu terus kamu biarkan saja, maka ketika kamu diingatkan atau disalahkan dengan seenaknya kamu menjawab “Saya menunggu polisi karena polisi lebih tahu maling daripada saya“, bukankah ini lawak yang tidak lucu, dan bukankah orang yang diam begitu saja tanpa peduli dengan keadaan di sekitarnya, tidak terlepas dari dua kemungkinan ??? Imma (bisa jadi) dia sakit badannya sehingga lemah dan takut terhadap maling tersebut, atau sakit jiwa dan hatinya.

Kebanyakan yang punya fikroh seperti itu adalah orang-orang yang tidak memiliki kecemburuan terhadap keberlangsungan Ma’had Daarul Hadits Dammaj.

Ungkapan mereka itu hanya sekedar tameng untuk menutupi telinga dari menerima nasehat, padahal sebenarnya mereka tidak rela kalau Abdurrahman divonis hizbi.

Bukti konkritnya mereka dengan bertendensikan bersama ulama adalah memojokkan Syaikh Yahya dan yang bersamanya dalam upaya mereka membongkar kebathilan-kebathilan Abdurrahman, dan perkara memojokkan orang yang berada di atas al haq  tidaklah terjadi -  baik sejak dahulu kala ( zaman nabi ) ataupun sekarang- kecuali perbuatan orang yang sakit hatinya. Allah Subhanahu wa ta’ala berkata:

+ وَقَالُوا قُلُوبُنَا فِي أَكِنَّةٍ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ وَفِي آَذَانِنَا وَقْرٌ وَمِنْ بَيْنِنَا وَبَيْنِكَ حِجَابٌ فَاعْمَلْ إِنَّنَا عَامِلُونَ _ [فصلت/5]

Mereka adalah orang yang tidak konsekwen dengan fikrohnya, buktinya setelah para ulama menegaskan tidak bolehnya mencela Daarul Hadits Dammaj karena ia merupakan induk dakwah salafiyyah di Yaman merekapun tidak mematuhi para ulama, bahkan terus menghalang-halangi orang ke sana, baik dengan terang-terangan ataupun sindiran, dan ini tidaklah dilakukan kecuali oleh orang-orang yang sakit hatinya.

Bahkan tidak jauh kemungkinan bahwa orang-orang yang berfikroh “Kami bersama para ulama“ adalah jaasus (mata-mata) hizbinya Abdurrahman dan para pengekornya seperti yang terjadi pada Syaikh Luqman ini ketika menyebutkan kedustaan-kedustaanya tentang Syaikh Yahya dalam masalah yang  sedang menghangat ini, dari mana tahunya Si Luqman perkara-perkara itu kecuali dari jasus-jasusnya di Dammaj. Akan tetapi sayangnya jasusnya kurang begitu faham bahasa Arab sehingga yang sampai kepadanya hanyalah berupa kedustaan dan kebohongan belaka, dan perbuatan semacam ini tidaklah dilakukan oleh orang yang sehat hatinya.

Point ketujuh

Perkataan Luqman “ Sangat terpuji mauqif kita bersama ulama “.

Kami katakan “ Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata :

+ وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ _ [الكهف/29]

“Dan katakanlah bahwa kebenaran itu dari Robmu“.

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman :

+فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ_ [النساء/59]

“Dan apabila kalian bertikai dalam suatu masalah maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul “.

 Yang terpuji adalah yang mengikuti al- haq walaupun dari satu orang.

Dan kaidah :

جرح مفسر مقدم على تعديل مبهم

“Jarh yang terperinci didahulukan atas ta’dil mubham “. Ini adalah kaidah yang kuat dan tidak memungkirinya kecuali orang jahil atau penentang.

Bukankah hujjah yang kuat dari seorang saja dari ulama yang berlandaskan Al-Qur’an dan sunnah itu lebih didahulukan daripada ucapan jumhur, sejak kapan ada kaidah bahwa bernaung di bawah ulama  untuk menolak dalil dan kebenaran yang nyata ??? , bukankah mereka juga diajak untuk mengikuti dalil dan kebenaran dari sumbernya ???.

Lihatlah apa yang dikatakan oleh  imam jarh wa ta`dil zaman ini Syaikh Robi` Al –Madkholi semasa fitnah Abul Hasan ketika kebanyakan mereka berhujjah dengan argument di atas: “Kalau toh ada 1oo orang semisal Syaikh Fauzan, atau yang lainnya bahkan kalau imam Ahmad dibangkitkan kemudian dia menolak kehizbiyyahan Abul Hasan maka aku tidak peduli, al haq itu di ambil dengan hujjahnya bukan banyak dan sedikitnya pengikut”. (kurang lebih demikian apa yang beliau sampaikan, sebagaimana yang kami dengar dari Syaikh Yahya ketika beliau membaca tulisan Al-Akh Abu `Ali  Al Libi yang langsung mendengar dari Syaikh Robi` pada waktu itu.)

Point kedelapan

Perkataan Luqman “ Tak seorangpun dari ulama Yaman menerima tahdzir ……. “.

Maka kami katakan “Juga tak seorangpun dari mereka (yang belum terpengaruh dengan makarnya Abdurrahman) yang menolak atau membantah bukti-bukti yang diterangkan oleh Syaikh Yahya dan thullabnya, karena mereka menempatkan diri dengan posisi berhati-hati, karena mereka tahu bahwa apa yang terjadi di Dammaj merupakan sebuah makar, akan tetapi mereka tidak langsung melihat dengan mata kepala mereka sendiri, oleh karena itu mereka terus mengawasi  tanpa komentar buruk terhadap Dammaj ataupun terhadap Syaikh Yahya, bahkan mereka murka kepada siapa yang berusaha menghalang-halangi orang untuk berangkat menimba ilmu di Dammaj, yang menunjukkan bahwa mereka tidak menganggap Syaikh Yahya keliru dalam tindakannya,  apalagi sampai terlontar dari mereka kata-kata kotor yang ditujukan kepada Syaikh Yahya, karena mereka merasakan betapa beratnya beban yang dipikul oleh beliau, perbuatan mereka tidak seperti perbuatan Luqman dan teman-temannya yang sefikroh dengannya, mereka mengaku beserta para ulama akan tetapi kelakuannya melampaui jauh batasan ulama “.

Point kesembilan

Perkataan Luqman “ Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab an Najdi pengarang kitab Tauhid dinyatakan dhoif fil hadits laisa lahu yadun thowilah fil hadits, Allohu akbar. “.

Sanggahan: Selama ana berada di Dammaj tidak pernah ana dengar dari Syaikh Yahya melontarkan kritik sekeras apa yang kamu tuduhkan, bahkan yang kami dapatkan setiap kali beliau menyebutkan biografi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab An-Najdi, beliau selalu memuji dengan pujian yang harum dan mengatakan bahwa kitab-kitabnya penuh barokah dan faedah walaupun kecil bentuknya. Bahkan kitab-kitab beliau menjadi mata pelajaran yang diprioritaskan dalam masalah tauhid dan aqidah. Tolong beri tahu kami kapan beliau berkomentar demikian ???, adakah kasetnya ???, kalau tidak ada ana berharap jangan ceroboh dalam menukil berita.

 Begitu pula ucapanmu setelah itu bahwa: “Al Hajuri menuduh ulama Madinah hanya sekedar pegawai, persis seperti ucapannya Usamah bin Laden“. Itu merupakan kalimat besar yang perlu dipertanggungjawabkan kebenarannya, karena kalau tidak itu semua di punggungmu kelak di kemudian hari.

+ وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا_  [الإسراء/36]

Point kesepuluh

Perkataan Luqman “  Hadza ……… pemikiran takfiri “.

Tanggapan: “Benar, memang kita sering mendengar dari  beliau bahwa pada Imam Al-Barbahari dalam bukunya  Syarh As-Sunnah  terdapat tasarru` dalam masalah ini, dan perkara ini bukanlah aneh atau pelecehan terhadap keimaman Al-Barbahari, betapa banyak komentar Syaikhul Islam terhadap ulama-ulama yang ada ketergelinciran kakinya di dalam aqidah dan itu semua bukan pelecehan akan tetapi sebagai bentuk nasehat kepada umat agar berhati-hati dalam masalah yang dikritik secara ilmiah.

Perkara kebenaran bahwa Al-Barbahari memiliki ijtihad semacam itu walaupun sekilas, itu memang kelihatan sekali pada ungkapan-ungkapannya, seperti pada point ke tiga:

“Maka janganlah kamu mengikuti sesuatu apapun dengan hawa nafsumu sehingga kamu keluar dari Islam”.

Dan maklum bahwa kemutlakan perkataannya menimbulkan pengertian takfir, walaupun kita harus mengedepankan husnuzhzhon kepadanya, dan bukan kesana arahnya dengan kemutlakannya itu, akan tetapi bagi mereka yang tidak memahami tujuannya, akan terpengaruh dengan hal itu kalau tidak di beri tanbih terlebih dahulu.

Begitu pula perkataannya:

“ Maka barang siapa yang menyelisihi sahabat-sahabat nabi pada sesuatu dari perkara dien ini maka sungguh ia telah kafir “. Demikian juga pada point ke lima:

واحذر صغار المحدثات من الأمور فإن صغار البدع تعود حتى تصير كبارا وكذلك كل بدعة أحدثت في هذه الأمة كان أولها صغيرا يشبه الحق فاغتر بذلك من دخل فيها ثم لم يستطع المخرج منها فعظمت وصارت دينا يدان بها فخالف الصراط المستقيم فخرج من الإسلام.

“Dan berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru walaupun kecil, karena kecilnya bid`ah yang diulang-ulangi akan membesar, demikianlah  setiap bid`ah yang ada pada umat ini awalnya kecil menyerupai kebenaran sehingga tertipu dengannya orang yang masuk ke dalamnya kemudian setelah tidak mampu keluar darinya, dan semakin membesar dan jadilah sebagai agama yang diikuti dan ditunduki yang pada akhirnya dia menyelisihi Shirotol mustaqim dan yang mengakibatkan keluar dari Islam.”

Ungkapan-ungkapan yang mutlak itu menunjukkan perkara di atas walaupun masih bisa dibawa kepada perkara yang lebih ringan daripadanya yakni kufrun duuna kufrin, akan tetapi kemujmalannya menimbulkan makna lain, oleh karena itu kebanyakan pensyarah kitab ini mengatakan ketika melewati point – point di atas :

هذا ليس على إطلاقه

“Ini tidaklah mutlak demikian”

Maka dari itu tidak pantas kalau perkara ini dijadikan sebagai tuduhan Luqman terhadap Syaikh Yahya bahwa beliau menuduh sembarangan terhadap Al-Barbahari rahimahullahu Ta’ala atau barang kali Luqman belum pernah mengkaji kitab tersebut kepada ahlinya sehingga merasa aneh atas perkara yang sangat gamblang ini“.

Point kesebelas

Perkataan Luqman “ Kita ini para tholibul ‘ilmi bukan orang pasar, siapa pendahulu ente “.

Kami katakan: Afwan ya Luqman, kamu sering sekali mengulangi kata-kata “ente“, ini bahasa tholibul ‘ilmi ataukah bahasa orang pasar ???, karena yang ana ketahui itu adalah bahasanya orang Betawi Abangan yang digunakan untuk plesetan dan penghinaan serta bukan bahasa orang-orang terpelajar, apalagi bahasa Arab yang fasih. Selama ana di Dammaj dan bergaul dengan orang-orang Yaman dan juga selain orang Yaman yang berbahasa Arab asli, mereka tidak mengenal bahasa “ente“ ini, bahkan salah seorang mereka ketika ana suruh melafadzkannya merasa sangat kerepotan sekali, dan juga ana buka di Lisaanul ‘Arob dan kamus-kamus yang lain, tidak seorang pun di antara mereka yang menyebutkan bahwa “anta“ dibaca dengan “imalah“, atau mungkin Luqman memiliki kamus tersendiri yang dinukil dari orang-orang pasar atau pernah mendapatkannya dari orang-orang Badui Arab.

Point kedua belas

Perkatan Luqman “ Yahya Al-Hajuri waktu itu masih muter-muter besi cor dikolong-kolong, dia ( Yasin ) sudah mengajar “.

Sanggahan: Rupa-rupanya Luqman ini ingin membongkar Syaikh Yahya dari akarnya, akan tetapi sayangnya  akarnya terlalu dalam dan pembongkarnya terlalu lemah dan tidak berpengalaman tapi sok kuat, thoyyib mari kita sama-sama bandingkan antara Da’i Yahya (menurut bahasanya Luqman) dengan Syaikh Luqman (menurut bahasa penggemarnya).

Syaikh Yahya datang ke Dammaj setelah mendapatkan ijazah hafal Al-Qur’an dari Syaikh Ubaidillah Al-Afghoni ulama terkenal dalam qiro’ah di Saudi Arabia dengan derajat mumtaz, ini dari pengakuan banyak orang di antaranya Ayah Syaikh Yahya sendiri waktu ana tanya beliau latar belakang pendidikan Syaikh Yahya. Dan setibanya di Dammaj langsung disambut dengan baik oleh Syaikh Muqbil rahimahullahu Ta’ala karena ayahnya langsung mewasiatkannya kepada beliau, dan tak berapa lama kemudian, beliau dijadikan imam di mesjid mazro’ah.

 Adapun Syaikh Luqman  (menurut penggemarnya), ana tidak tahu apakah dia sudah hafal juz ‘amma waktu datang ke Dammaj ataukah belum dan ana pun tidak tahu apakah sekembalinya dia ke Indonesia setelah sekian lama di Dammaj berhasil menghafal seperempat Al-Qur’an dengan benar, kalau toh sudah pernah hafal barangkali dia kurang muroja’ah karena disibukkan dengan “ngalor ngidul“ (afwan bahasa jawa) sehingga ketika beristidlal ia banyak terpeleset bahkan terjengkang, seperti kabar yang sampai kepada kita di kertas ini.

Saikhuna Yahya sebagaimana penuturan beliau sendiri dan juga kesaksian rekan-rekannya , bahwa beliau sejak pertama di Dammaj sampai saat ini belum pernah berekreasi ke atas gunung ataupun yang lainnya di sekitar Dammaj, yang beliau ketahui hanyalah sebatas maktabah, rumah dan mesjid, kecuali kalau ada keperluan dakwah di luar, ini semua menunjukkan bahwa beliau sangat menjaga waktunya agar tidak terbuang percuma.

 Adapun Syaikh Luqman ini (menurut penggemarnya) seperti yang disaksikan oleh orang banyak terutama Al-Hadhromiyyun, mereka menjulukinya denagan “ashhabus safariyyat“ baik ke luar Dammaj ataupun ke atas bukit batu dan sebagainya untuk menghilangkan penat dan membuang waktu.

Sepeninggal Syaikh Muqbil rahimahullooh Syaikh Yahya diwasiati beliau untuk menempati kedudukannya untuk mengurusi thullab, bahkan sebelum beliau meninggal sewaktu dalam usaha pengobatan dan kalau beliau sakit maka Syaikh Yahya yang menggantikan Syaikh Muqbil, karena Syaikh Muqbil dengan firasatnya yang baik, sangat faham dengan siapa yang mampu menempati kedudukan tersebut baik secara ilmiah ataupun ketegaran jiwa, karena beliau tahu tidaklah bisa menempati kedudukannya kecuali orang yang benar-benar tangguh.

 Adapun Syaikh Luqman (menurut penggemarnya): sekembalinya dari Dammaj langsung menempati posisi wakil panglima Ja’far dalam acara jihad yang banyak memakai gaya khowarij itu. Dan setelah lengsernya Ja’far dan bubar acara jihad, dialah yang menempati kedudukannya dalam keadaan yang tidak jauh dari keadaan panglima sebelumnya.

Pelecehan Syaikh Luqman (menurut penggemarnya) terhadap Syaikh Yahya, “bahwa waktu itu dia masih di kolong-kolong besi cor sementara Akh Yasin sudah mengajar“. Perkataan ini memang ada sedikit benarnya, memang betul bahwa Syaikh Yahya punya pekerjaan ngecor besi dalam rangka memenuhi kebutuhan rumah tangganya, walaupun demikian beliau tidak pernah meninggalkan durus bahkan tetap rajin dan semangat, sedangkan pekerjaan ngecor itu sekedar sambilan belaka untuk bekal ttholabul ‘ilmi.

Adapun Syaikh Luqman (menurut penggemarnya) ini seperti yang diberitakan ikhwah senior bahwa dia selalu sibuk mengurusi urusan anak-anak Indonesia dan sibuk sebagai mas’ul pembuangan sampah dan yang sejenisnya yang banyak menyita waktunya dari durus, baik durus ‘aam ataupun khos.

Dari sedikit perbandingan di atas para pembaca tentunya faham berapa nilainya Luqman dan berapa keunggulan Syaikh Yahya, padahal tidak sepantasnya untuk dibandingkan di antara keduanya “.

Point ketigabelas

Tuduhan Luqman terhadap Syaikh Yahya bahwa  “ beliau kotor mulutnya dan seronok berbicara porno dan tak punya malu “

Maka kami katakan “Ini merupakan tuduhan yang semena-mena dan tidak memiliki bobot sama sekali dari berbagai sisi :

Cerita Syaikh Yahya perkara tersebut adalah dalam rangka ibroh dan menyebutkan betapa bobroknya kehidupan orang-orang kafir, bukan karena senangnya beliau melihat pemandangan yang seronok tersebut.

Penuturan beliau tersebut sebagai bukti di antara kebenaran firman Allah bahwa orang kafir itu lebih sesat dibandingkan dengan anjing atau binatang ternak.

Penyampaian perkara itu sebagai bentuk rasa syukur atas ni’mat Allah  yang Dia anugrahkan kepada kaum muslimin terutama di Yaman lebih-lebih di Dammaj, di mana Allah telah menyelamatkan mereka dari kekotoran-kekotoran di atas.

Tidak ada dari kalangan hadirin waktu itu yang memahami seperti apa yang difahami oleh Luqman, padahal yang mendengarkan ucapan tersebut di antaranya adalah Syaikh Muqbil -rohimahulloh- karena beliaulah yang mempersilahkan Syaikh Yahya untuk berbicara dan setelah selesai, tidak ada tanbih dari Syaikh Muqbil رحمه الله   atas kekeliruannya, padahal semua tahu kecemburuan Syaikh Muqbil dalam masalah yang mungkin lebih ringan dari masalah ini.

Perkara yang secara perasaan dianggap risih dan aib, kalau memang itu adalah dalam bab ilmu syar’i dan perkara penting untuk diketahui maka bukanlah hal yang tabu atau pantang apabila penyampaiannya dalam bentuk ta’lim ataupun ibroh ataupun kesaksian, contoh konkritnya adalah para fuqoha menyebutkan hal-hal tersebut secara rinci dalam kitab-kitab mereka,  yang mungkin boleh dikatakan terlalu kotor menurut perasaan kita. Dari perkara-perkara di atas jelaslah bahwa tuduhan Luqman tidak pada tempatnya.

Kemudian kita ingin meminta keterangan darinya ketika melarang anak-anak yang belum dewasa dari belajar perkara haidh dan mandi junub, adakah pendahulunya ??? bukankah pada zaman Rasulullah Shalallahu ‘Alahi Wa Sallam para sahabat juga ada anak kecil, bujangan dan orang-orang yang telah berkeluarga, pernahkah Rasulullah melarang Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, Abu Sa’id Al-Khudri, Anas bin Malik,‘Aisyah dan lainnya yang dianggap masih belum dewasa,  dari majlis beliau karena beliau Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam sedang membahas masalah haidh dan mandi junub ???, bahkan larangan Luqman semacam itu menimbulkan  prasangka buruk “ mengapa dilarang“, sejauh mana pembahasannya sampai-sampai anak kecil tidak boleh tahu, bukankah mereka juga kelak akan dewasa yang membutuhkan ilmu haidh dan mandi junub, bahkan Imam Nawawi, syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan yang semisalnya dalam keadaan  mereka hidup membujang, akan tetapi ketika mereka berbicara masalah haidh dan mandi janabah maka mereka lebih pandai dan terperinci menjelaskannya dari orang yang memiliki istri, maka dari manakah bisa seperti itu ??? tentu jawabannya dari belajar dan mendalami masalah tersebut. Oleh karena itu wahai Luqman kamu jangan sok merasa malu dari perkara-perkara yang telah jelas dalilnya sementara tidak merasa malu kalau ucapan-ucapamu  yang kotor itu membuat rasa jijik orang-orang sholih. Benar apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam:

“إذا لم تستح فاصنع ما شئت”

“ Apabila kamu tidak malu berbuatlah sekehendak hatimu “.

Point keempatbelas

Perkataan Luqman “ maka tidak heran ……… kayak ini “.

Sanggahan: Ya Luqman terus kamu muridnya siapa ???, kalau kamu katakana: “Aku muridnya Syaikh Muqbil“ ini sangat mengherankan sekali, karena Syaikh Muqbil menganggap Syaikh Yahya sebagai seorang syaikh yang ‘alim sementara kamu memvonisnya hanya sebagai seorang da’i. Syaikh Muqbil tidak merendahkan Syaikh Yahya sedangkan kamu mencaci makinya, Syaikh Muqbil sangat menghargai orang yang tekun beribadah, rajin balajar, sibuk dalam berdakwah sedangkan kamu mencemoohnya, Syaikh Muqbil tidak memiliki jam’iyat dan tanpa tasawwul (meminta-minta) dalam dakwahnya sedangkan kamu pembela jam’iyah (mu’assasah) dan tasawwul (meminta-minta) atas nama dakwah, lantas mana atsar (bekas) belajarmu dengan Syaikh Muqbil ya Luqman ??? “.

Point kelimabelas

Perkataan Luqman: “Sayapun menyampaikan dalam keadaan malu“

Komentar: “Perkataan ini ya Luqman mengingatkan kita atas perbuatan sekelompok Khawarij Irak di mana mereka datang kepada Ibnu Umar radiyallahu anhu menanyakan tentang darah nyamuk yang mereka bunuh, berdosakah itu ??? akan tetapi tidak merasa perkara besar, ketika membunuh cucu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, makanya Ibnu Umar pun langsung menghardik mereka“.

Ana tidak mengatakan bahwa Luqman itu Khawarij  akan tetapi perbuatannya ini menyerupai perbuatan mereka, dia sok malu berbicara perkara haidh dan mandi janabah ataupun hubungan suami istri, yang perkara tersebut kalau diuraikan secara ilmiah dan pada porsinya, tidak menimbulkan fitnah, akan tetapi dia tidak merasa malu kepada Allah dan kepada hamba-hamba-Nya yang sholeh ketika menjelek-jelekkan orang yang tidak sepantasnya untuk diperlakukan seperti itu, yang mana barangkali perkataan seperti itu tidak pernah dia lontarkan kepada  seorang jahatpun“.

Point keenambelas

Perkatan Luqman: “ummat dididik seperti ini “

Kritikan: “Ya Luqman kamu ngomong kesana kemari, mencaci maki dan merendahkan orang orang yang tak sepantasnya untuk direndahkan, menuduh tanpa bukti dan lain-lainnya, apakah perbuatanmu ini di luar pendidikan atau dalam rangka mendidik umat ??? “.

Adapun nasehat wahai Luqman, telah berapa lama sih berjalannya fitnah Abdurrahman ini ??? Bukankah telah sampai kepadamu nasehat dari ikhwah yang pulang agar kamu tidak melarang orang untuk belajar ke Dammaj, nasehat untukmu agar tidak meminta-meminta, nasehat untukmu agar kamu banyak beristighfar atas apa  yang telah terjadi semasa  Lasykar Jihad, nasehat agar kamu membubarkan jam’aiyah, yayasan dan yang semisalnya, nasehat untuk membubarkkan SDIP dan yang sejenisnya, nasehat agar kamu mementingkan ilmu dan rajin belajar, baik nasehat tersebut secara terang-terangan ataupun berupa pengiriman fatwa lewat malzamah dan kaset, bukankah itu semua bentuk nasehat, akan tetapi apa yang kamu perbuat dengan itu semua, kamu tetap membela mati-matian jam’iyah (Di negri kita berbentuk yayasan) dan ngemis kepada muhsinin juga terkadang kamu masih melakukan tindakan-tindakan model Lasykar Jihad. Kamu tidak membubarkan SDIP, kamu melarang beredarnya buku-buku ikhwah yang tidak ada kaitannya dengan kesalahan manhaji ataupun aqidah, hanya sekedar silang pendapat, kamu melarang tersebarnya kaset atau malzamah yang berkaitan dengan fitnah Abdurrahman padahal isinya adalah nasehat kepada umat agar tidak terjerumus ke dalam kesesatan, kamu halang-halangi orang ke Dammaj dengan berbagai alasan yang tidak bermutu.

Point ketujuhbelas

Penukilannya dari kalam Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Memang benar Syaikh Muhammad mengatakan demikian, karena memang beliau terus dikerumuni dan dikelabuhi atau dikibuli oleh Abdurrahman dan Abdullah beserta antek-anteknya sehingga beliau banyak terpengaruh dengan gaya memelasnya mereka, begitu pula Syaikh Ubaid, sudah beliau ada kekurangan pada pandangannya sementara para penggembiranya dari pihak Abdurrahman dan kakaknya pendusta, intinya bahwa ucapan Syaikh Muhammad tidak bisa diterima oleh orang Yaman secara umum apalagi thullabul ‘ilmi lebih-lebih para masyaikh, hal itu terbukti setelah adanya bantahan dari Syaikh Yahya atas ketergelinciran Syaikh Muhammad, semua masyaikh Yaman langsung bergegas menuju Hudaidah di kediaman beliau dan mereka menasehati Syaikh Muhammad dari kesalahannya, setelah itu mereka datang ke Dammaj memohon agar Syaikh Yahya memaafkan Syaikh Muhammad atas kesalahannya dan Syaikh Yahya pun memaafkannya di hadapan ribuan manusia dengan suatu syarat.

Point kedelapanbelas

Perkara yang disebutkan Luqman bahwa Syaikh Robi’ telah menulis kesalahan Syaikh Yahya dalam masalah “ mumaasah “.

Itu adalah sampahnya pendukung Abul Hasan untuk menjatuhkan Syaikh Yahya, setelah tidak ada gunanya maka dicampakkan di tong sampah, kamudian dipulung oleh Sholih Al-Bakri di masa fitnahnya dan sama pula hasilnya, ternyata Luqmanlah sekarang yang mengais-ngais kembali sampah tersebut setelah dicampakkan oleh dua kelompok yang lebih memiliki bobot daripada Luqman. Lebih anehnya lagi Si Afifuddin, bukankah dia mengetahui persis masalah ini karena ketika sedang santernya fitnah Al-Bakri dan masalah ini diangkat dia masih di Dammaj, Ya Luqman tolong tanya sama Afif apa sih sebenarnya yang terjadi, agar kamu tidak seenaknya menuduh orang dengan perkara besar ini, kalau toh kamu tidak mau tanya sama Afif ataupun tidak tahu atau pura-pura tidak tahu atau sudah lupa karena terlalu banyak urusan dakwah, maka telah kami kirimkan apa yang telah diusahakan oleh sebagian ikhwan dalam masalah ini, yang intinya bahwa Luqman tidak mengerti kenyataan yang sebenarnya akan tetapi sok tahu dan terburu-buru melemparkan busur kapasnya.

Point kesembilanbelas

Tuduhan Luqman bahwa Syaikh Yahya termakan pemikiran haddady.

Maka perkara ini seperti perkara di atas, senjata tumpulnya Abul Hasan Cs, kemudian diasah oleh Al-Bakri dan semakin tambah tumpul selanjutnya diminyaki oleh Luqman setelah karatan, akan tetapi minyaknya minyak bekas, malah semakin karatan dong ……. !.

Itu semua menunjukkan bahwa Luqman tidak mengikuti perkembangan dakwah salafiyyah yang sebenar-benarnya dan tidak memiliki pondasi yang kokoh dalam melihat suatu permasalahan, nampaknya dia cuma comot sana comot sini, apa yang dikatakan orang tentang lawannya langsung di “iya“ kan padahal tong kosong nyaring bunyinya.

Ya Luqman ulama sunnah siapa yang kamu taqlidi dalam tuduhan ini …???

Point keduapuluh

Ucapannya “ Ada sms dari abu Mas’ud ( Salam syaikh robi’ ).

Pertanyaan “Ini abu Mas’ud siapa ??? kalau Abu mas’ud temannya Muhammad Irwan di Lamongan maka itu adalah dusta, karena ada salah seorang ikhwan di sini  yang bernama Abdul A’la langsung telpon dengannya menanyakan masalah ini, dia katakan bahwasanya tidak pernah sedikit pun berhubungan dengan Luqman di akhir-akhir ini, kalau memang selainnya tolong diperjelas karena setahu ana  yang namanya Abu Mas’ud di Indonesia waktu dulu, adalah yang tadi itu dan satu lagi Abu Mas’ud penjual beras, tetapi yang ini ana kira bukan tipenya untuk berhubungan dengan Syaikh Robi’.

Point keduapuluh satu

Perkataan Luqman “Bahwa Abdurrahman divonis hizbi hanya karena sekedar ingin mendirikan ma’had baru“

Ini menunjukkan bahwa Luqman tidak memahami dengan sungguh-sungguh permasalahan yang ada, akan tetapi sayangnya sudah terburu-buru menyimpulkan dan kesimpulannya salah lagi. Ya Luqman ketahuilah bahwa Syaikh Yahya hafizhohulloh tidaklah seceroboh dan sebodoh kamu dalam mengecap seseorang keluar dari manhaj salaf, yang kamu anggap terburu-buru dalam memvonis tanpa melalui tahapan-tahapan dan ketentuan-ketentuan ilmu yang ada, dari mengamati, mencermati, mentatsabbuti, menasehati dengan lembut dan yang terakhir memperingatkan umat darinya.

Dalam keadaan tahapan-tahapan itu itu telah dilalui semua, bahkan mungkin kalau kamu yang menghadapinya kamu sudah langsung ambil langkah sergap seperti yang terjadi di zaman Lasykar Jihad. Kalau kamu memang belum tahu maka bacalah kitab “Muktashor Al-Bayan“ yang sudah kita kirimkan juga dan insya Allah sebentar lagi akan ada terjemahannya, tetapi kalau kamu sudah tahu, lantas apa faedahnya sih menyembunyikan ilmu dan sok blo’on tanya-tanya sama orang-orang yang tidak mengerti hizbi atau bukan hizbi.

Point keduapuluh dua

Masalah Tasawwul (Meminta-minta)

Ini merupakan keanehan yang tidak lucu, bagaimana mungkin masalah tasawwul dikatakan sebagai tolak ukur penilaian manhaj baru, bukankah Allah langsung yang menyuruh hamba-Nya untuk “ ‘Iffah “ dan memuji muta’affif. Allah Subhanau Wa Ta’ala berfirman :

+ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا_ [البقرة/273]

“Mereka tidak meminta-minta manusia  dengan memelas“

Dan Allah telah menyebutkan bahwa semua para nabi adalah orang yang memiliki ‘iffah dari harta kaumnya:

+وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ_ [الشعراء/109]

“Katakanlah bahwasanya aku tidak meminta balasan dari kalian atas perkara ini“. Bahkan kita diperintahkan untuk mengikuti orang-orang yang ber’iffah:

+ اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ﴾ [يس/21]

“Ikutilah orang-orang yang tidak meminta balasan dari kalian“.

Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam mendidik para sahabatnya untuk menjadi A’iffa’ dan membai’at mereka untuk tidak meminta-minta, demikian pula para ulama, mengajar umat untuk ‘iffah, bukankah kamu tahu bahwa nilai seorang muhaddits yang mengambil upah ketika menyampaikan hadits kurang nilainya dibandingkan dengan mereka yang tidak mengambil upah, padahal ini jauh lebih mending atau ringan dibandingkan dengan tasawwul (Meminta-minta) yang dilakukan oleh yayasan atau pengelola pondok, karena mereka (para muhaddits) melakukannya dalam keadaan terpaksa (Mudhthor) dan memang tidak ada sama sekali, adapun para pengemis di yayasan bukanlah orang semacam itu bahkan mungkin lebih mampu dari yang dimintai.

Apakah itu semua kamu lupakan sehingga kamu katakan bahwa  masalah tasawwul adalah mizan baru dalam timbangan dakwah, terus apa faedahnya syaikhmu ya Luqman mengarang kitab Dzammul Mas’alah dan apa faedahnya kamu bertahun-tahun belajar didepan ulama yang akhirnya menghasilkan pengemis dan pembela para pengemis??? di mana air muka rasa malumu di hadapan Allah??? kamu letakkan di mana hadits-hadits larangan mengemis???.

Yang lebih menyakitkan lagi adalah ucapanmu “bahwa yang tidak mengemis akan kesulitan berdakwah“, maka ini adalah merupakan buruk sangka terhadap orang yang ingin menegakkan sunnah yang mulia ini dan pelecehan terhadap syari’at, juga menunjukkan lemahnya tawakkal kepada Allah, ya Luqman mana aqidahmu???

Apa komentar ataupun keteranganmu ketika melewati hadits seperti hadits:

فإذا سألت فاسأل الله وإذا استعنت فاستعن بالله

“Maka apabila kamu meminta, mintalah kepada Allah dan apabila kamu memohon pertolongan, maka mintalah pertolongan dari Allah “.

Dan hadits  Qobishoh  ت:

يا قبيصة إن المسألة لا تحل إلا لأحد ثلاثة رجل تحمل حمالة فحلت له المسألة حتى يصيبها ثم يمسك ورجل أصابته جائحة اجتاحت ماله فحلت له المسألة حتى يصيب قواما من عيش – أو قال سدادا من عيش – ورجل أصابته فاقة حتى يقوم ثلاثة من ذوى الحجا من قومه لقد أصابت فلانا فاقة فحلت له المسألة حتى يصيب قواما من عيش – أو قال سدادا من عيش – فما سواهن من المسألة يا قبيصة سحتا يأكلها صاحبها سحتا.

  juga hadits:

عبد الله بن عمر – رضى الله عنه – قال قال النبى – صلى الله عليه وسلم – « ما يزال الرجل يسأل الناس حتى يأتى يوم القيامة ليس فى وجهه مزعة لحم “[رواه البخاري ومسلم]

Dan hadits:

عن سمرة عن النبى -صلى الله عليه وسلم- قال « المسائل كدوح يكدح بها الرجل وجهه فمن شاء أبقى على وجهه ومن شاء ترك إلا أن يسأل الرجل ذا سلطان أو فى أمر لا يجد منه بدا ».[في سنن أبى داود - (ج 5 / ص 190) قال الشيخ مقبل رحمه الله في الصحيح المسند :هذا حديث صحيح رجاله رجال الصحيح إلا زيد بن عقبة الفزاري وقد وثقه النسائي]

Dan hadits:

عن سهل ابن الحنظلية قال قدم على رسول الله عيينة بن حصن والأقرع بن حابس فسألاه فأمر لهما بما سألا وأمر معاوية فكتب لهما بما سألا فأما الأقرع فأخذ كتابه فلفه فى عمامته وانطلق وأما عيينة فأخذ كتابه وأتى النبى -صلى الله عليه وسلم- مكانه فقال يا محمد أترانى حاملا إلى قومى كتابا لا أدرى ما فيه كصحيفة المتلمس. فأخبر معاوية بقوله رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فقال رسول الله -صلى الله عليه وسلم- « من سأل وعنده ما يغنيه فإنما يستكثر من النار ». وقال النفيلى فى موضع آخر « من جمر جهنم ». فقالوا يا رسول الله وما يغنيه وقال النفيلى فى موضع آخر وما الغنى الذى لا تنبغى معه المسألة قال « قدر ما يغديه ويعشيه ». وقال النفيلى فى موضع آخر « أن يكون له شبع يوم وليلة أو ليلة ويوم ». وكان حدثنا به مختصرا على هذه الألفاظ التى ذكرت.[ في سنن أبى داود  (ج 5 / ص 177) قال الشيخ مقبل رحمه الله في الصحيح المسند هذا حديث صحيح ورجاله رجال الصحيح]

Dan hadits:

عن ثوبان قال وكان ثوبان مولى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم- «من تكفل لى أن لا يسأل الناس شيئا وأتكفل له بالجنة ». فقال ثوبان أنا. فكان لا يسأل أحدا شيئا. [في سنن أبى داود - (ج 5 / ص 195وهو في الصحيح المسند(

Dan hadits:

عن حكيم بن حزام - رضى الله عنه - عن النبى - صلى الله عليه وسلم - قال « اليد العليا خير من اليد السفلى ، وابدأ بمن تعول ، وخير الصدقة عن ظهر غنى ، ومن يستعفف يعفه الله ، ومن يستغن يغنه الله" [متفق عليه]

Dan hadits:

عن أبى ذر قال قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم- « كيف أنت يا أبا ذر وموتا يصيب الناس حتى يقوم البيت بالوصيف ». يعنى القبر قلت ما خار الله لى ورسوله – أو قال الله ورسوله أعلم – قال « تصبر ». قال «كيف أنت وجوعا يصيب الناس حتى تأتى مسجدك فلا تستطيع أن ترجع إلى فراشك ولا تستطيع أن تقوم من فراشك إلى مسجدك ». قال قلت الله ورسوله أعلم أو – ما خار الله لى ورسوله – قال « عليك بالعفة ».[ في سنن ابن ماجه - (ج 12 / ص 101)وهو في الصحيح المسند]

`Afwan ya ustadz ana nggak mengartikan hadits-hadits di atas karena kamu lebih bisa mengartikannya daripada ana dan lebih pandai memoles.

Agama ini adalah milik Allah dan Dia yang menjaganya sementara kemaksiatan tidaklah memberi barokah dalam dakwah, tidak sampai fikiran ana kalau kamu sampai berkata bahwa yang tidak mau tasawwul akan mengalami kesulitan dalam berdakwah, kalau itu adalah perkataan orang pasar  atau businessman atau ahlu dunia maka bisa dimaklumi karena dangkalnya aqidah dan tawakkal mereka, akan tetapi ini Luqman yang berbicara, Ya Subhanallah.

Point keduapuluh tiga

Perkatan Luqman” Imma jadi hizbi kayak kita “

Sanggahan:  “Ya Luqman, perkataan kayak begini walaupun kamu ungkapkan dengan nada sindiran ataupun olok-olokan ataupun kecongkakan atau sekedarnya saja, tetapi itu tidak menutup kemungkinan di hadapan Allah mengandung nilai yang barangkali waktu itu bertepatan dengan waktu di mana Allah meng’ijabahi (mengabulkan) do’a,  maka tidak mustahil hal itu terjadi pada diri yang mengucapkannya, dan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bukanlah mengajari kita dengan kejujuran walaupun dalam bab bercanda, dan beliau melarang untuk mengucapkan kata-kata yang berakibat buruk seperti dalam hadits :

عن بريدة مرفوعا :من قال هو بريء من الإسلام فإن كان كاذبا فهو كما قال وإن كان صادقا لم يعد إلى الإسلام سالما“[ رواه أحمد والنسائي وابن ماجه صححه الألباني]

“Barangsiapa yang mengatakan dirinya berlepas diri dari islam , maka sekalipun dia  bohong  maka ucapan itu mengenainya, dan apabila dia sungguh–sungguh, maka dia tidak kembali ke dalam Islam dalam keadaan selamat”.

Berkata Al-Yazidi:

إن البـــــلاء موكل بالمنــــــطق   احفظ لسانك لا تقول فتبتلي

كما في تاريخ بغداد  ترجمة الكسائي- (ج 11 / ص 408(

Penutup :

Ini semua ana tulis, bukanlah karena ada permusuhan sebelumnya dengan Luqman, akan tetapi karena kondisinya mengharuskan untuk berbicara walaupun dengan nada yang agak pedas dan tandas, akan tetapi itu semua dalam rangka nasehat lillah dan fillah, yang ana berharap dengan itu akan ada perubahan dan perbaikan, kalaupun tidak, ana sudah pasrahkan segala urusan kepada Allah dan ridho dengan taqdir-Nya.

Agama adalah agama Alloh, dan da`wah adalah da`wah-Nya.

فالدين دينه والدعوة دعوته.

+أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِص_ [الزمر/3]

+إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُون_ [الحجر/9]

+يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ * وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ * ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ * أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ دَمَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلِلْكَافِرِينَ أَمْثَالُهَا * ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ مَوْلَى الَّذِينَ آَمَنُوا وَأَنَّ الْكَافِرِينَ لَا مَوْلَى لَهُمْ_ [محمد/7-11]

+وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ * هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُون_ [التوبة/32، 33]

Subhanaka Allahumma Wa Bihamdik Asyhadu Alla Ilaha Illa Anta Astaghfiruka Wa Atuubu Ilaik Walhamdulillhi Rabbil ‘Alamin.

Di tulis oleh: Abu Turob Saif bin Hadhor Al- Jawy.

 

 

 

 

/////

 


 

KESAKSIAN- KASAKSIAN

Kesaksian Abul ‘Abbâs Khodir:

Berkata Khodhir :

Tulisan ini kami susun sebagai bentuk pertanggungjawaban atas apa yang telah kami katakan sebelumnya yang mungkin sudah tersebar.

ÉOó¡Î «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOŠÏm§9$#

إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ. وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.

Sudah merupakan sunnatullôh, bahwa yang namanya al-haq dan al-bâthil akan sentiasa berseteru. Di tengah-tengah upaya berdiri bersama al-haq dalam menghadapi kebâthilan yang ada belum usai bangkit pula kebâthilan yang tersamarkan keberadaannya, yang muncul dari dalam sendiri, maka sebagai seorang mu’min hendaknya ketika dia berhadapan dengan kebâthilan, hendaknya dia tidak memilih-milih, walaupun yang bersama kebâthilan itu adalah temannya, sanak kerabatnya atau orang yang paling dia cintai sekalipun tetap dia tegak dan menyuarakan kebenaran. Sebagaimana Rosûlullôh r berdiri berkhutbah, beliau r bersabda:

»إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا يُقِيمُونَ الْحَدَّ عَلَى الْوَضِيعِ ، وَيَتْرُكُونَ الشَّرِيفَ ، وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ فَاطِمَةُ فَعَلَتْ ذَلِكَ لَقَطَعْتُ يَدَهَا«

Sesungguhnya telah sesat orang-orang sebelum kalian, sesungguhnya mereka apabila telah mencuri orang yang mulia, maka mereka menggugurkan (hadnya), dan apabila telah mencuri orang lemah mereka tegakkan had atasnya, demi Allôh, Seandainya Fâtimah bintu Muhammad telah mencuri maka Muhammad akan memotong tangannya” [64](HR. Al-Bukhôrî, dari ‘Âisyah rodhiyallôhu ‘anha)..

Kemudian dari pada itu:

Agama adalah nasehat merupakan suatu prinsip yang sangat agung sangat utama, yang telah diletakkan oleh Rosûlullôh U dalam mengatur tatanan kehidupan umatnya. Apabila seseorang memahami dan kemudian mau merealisasikan segala konsekwensi dari prinsip tersebut maka dadanya akan selalu lapang, Allôh U berkata:

`yJsù ϊ̍ムª!$# br& ¼çmtƒÏ‰ôgtƒ ÷yuŽô³o„ ¼çnu‘ô‰|¹ ÉO»n=ó™M~Ï9

Barangsiapa yang Allôh menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (mengikuti) Islam “. (Al-An’âm: 125).

Jika dia terjatuh pada penyimpangan atau suatu kesalahan dan kemudian diingatkan maka dia akan bergegas sadar dan kembali kepada kebenaran, bila dia berada pada pendapat yang marjûh kemudian diingatkan maka dia akan segera mengambil pendapat yang rôjih dan berpegang dengannya dengan pegangan yang kokoh. Namun apabila seseorang tidak mau memahami prinsip tersebut dan juga tidak mau tahu dengan konsekwensinya, maka hatinya akan selalu sempit dan emosi, kebencian dendam akan dia tebarkan terhadap siapa saja yang menyelisihinya walaupun orang yang menyelisihinya tersebut di atas kebenaran, yang memiliki hujjah yang sangat kokoh yang tak tergoyahkan. Allôh U berkata:

 `yJsù ϊ̍ムª!$# br& ¼çmtƒÏ‰ôgtƒ ÷yuŽô³o„ ¼çnu‘ô‰|¹ ÉO»n=ó™M~Ï9 ( `tBur ÷ŠÌãƒ br& ¼ã&©#ÅÒムö@yèøgs† ¼çnu‘ô‰|¹ $¸)Íh‹|Ê %[`tym $yJ¯Rr'Ÿ2 ߉¨è¢Átƒ ’Îû Ïä!$yJ¡¡9$# 4 šÏ9ºx‹Ÿ2 ã@yèøgs† ª!$# }§ô_Íh9$# ’n?t㠚úïÏ%©!$# Ÿw šcqãZÏB÷sムÇÊËÎÈ

“Dan barangsiapa yang dikehendaki Allôh kesesatannya, niscaya Allôh menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah dia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allôh menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman". (Al-An’âm: 125).

Jika seperti ini keadaannya, dia pun mengunggulkan pendapatnya dan meremehkan serta merendahkan dalîl-dalîl dari Al-Qur’ân maupun As-Sunnah.

Berikut ini kami sebutkan persaksian kami terhadap fitnah ini:

‘AFÎFUDDÎN KATAKAN SYAIKH YAHYÂ HASAD?!

Dalam kitâb Mukhtashar Al-Bayân (buku yang membongkar hizbinya ‘Abdurrohmân/’Abdullôh) nama ‘Afîfudîn telah ada, dia berkata: “Syaikh Yahya hasad.” Ketika para pembelanya membacanya: Mereka berkata: Tidak mungkin ‘Afîfuddîn berkata begitu kepada mantan gurunya! mana buktinya? Ini tidak ada sanadnya!

Maka kami akan menguatkan apa yang telah disebutkan dalam kitab tersebut. Kami tegaskan kabar tentang ucapan ‘Afîfuddîn ini sudah mutawâtir, dan banyak yang menyaksikannya, Dan kami saksikan langsung pada hari jum’at seusai sholat ashar, [Biasanya ‘Afîfuddîn setiap Jum'at ba’da ashar mengajar Kitâb Al-Adabul Mufrad di Mushollâ Graha IPTEKDOK FK UNAIR Surabaya, namun pada hari itu, dia tidak bisa hadir karena Mushollâ UNAIR mulai hari itu telah dilarang untuk dipakai ta’lîm oleh ‘Afîfuddîn dkk-nya]. Pada hari itu dia mengumpulkan santri-santrinya untuk membahas fitnah yang telah terjadi, dia mengatakan “Bahwa fitnah ini tidak bisa disamakan dengan fitnah Abul Hasan Al-Mishrî, syaikh ‘Abdurrohmân tidak bisa disamakan dengan Abul Hasan,  karena Abul Hasan jelas hizbinya.”

Dan saat itu kami saksikan dan dengar langsung dengan telinga kami, dia juga mengatakan bahwa yang memicu fitnah ini adalah Abû Hâzim dan Muhammad Irwan, [Ini persis dengan pernyataan sururiyyûn ketika mereka mengadakan dauroh masyâyikh dengan mengundang ‘Abdurrohmân Abdulkhôliq, ketika Ja'far (semoga Allôh beri dia hidayah dan semoga dia kembali duduk belajar di majelisnya ‘ulamâ, dengan kurangnya ‘ilmu padanya) tidak setuju dengan dauroh itu, kemudian Ustâdz Muhammad As-Sewwed ikut Ja’far, maka para sururiyyîn kemudian menyatakan persis seperti ‘Afîfuddîn: Bahwa pemecah belah, pengacau, pembuat fitnah adalah Ja’far dan As-Sewwed. Semoga Allôh mudahkan kami untuk menulis kitab Fitnatu 'Abdairrohmân (Fitnah ‘Abdurrohmân Abdulkhôliq dan ‘Abdurrohmân Al-'Adanî Terhadap Da’wah Salafiyah di Indonesia).

Dan dia juga mengatakan penghizbian terhadap ‘Abdurrohmân adalah dilakukan oleh orang-orang yang hasad dan iri. Selanjutnya dia berkata: Apakah saya harus iri kalau murid-murid saya (santri Al-Bayyinah) pindah ke Ma’had Dârul Âtsâr (Ma’had Kholîf)?”, maka dari ucapan ini jelas bahwa ‘Afîfuddîn telah memvonis syaikh Yahyâ iri terhadap ‘Abdurrohmân.

Dan sebelumnya di Ma’hadnya tersebar perilaku berbaik sangka terhadap ‘Abdurrohmân Al-‘Adanî, kami berbicara dengan beberapa ikhwah santri ‘Afîfuddîn, dan dikatakan kepada kami: Masa langsung menghizbikan syaikh ‘Abdurrohmân karena buka markaz baru, kita itu berbaik sangka dengan syaikh ‘Abdurrohmân, mungkin dia mau buka markaz baru itu dengan membuat persyaratan-persyaratan juga menunjuk orang-orang tertentu untuk ikut dia, karena mungkin markaznya kecil (tidak bisa nampung kalau banyak yang ikut), sehingga dengan berita yang ‘Afîfuddîn sampaikan tersebut salah seorang santrinya yang bernama Abu Usâmah Zaid (saudara kami dari Ambon), berkata kepada kami: “Ana mungkin gak jadi ke Yaman, saya belajar ke Saudi saja, karena fitnah besar di Yaman.” Padahal saudara kami ini awalnya sangat semangat untuk ke Dammâj, sejak dari Makassar sudah beliau tanamkan tekadnya untuk ke Yaman, hingga akhirnya batal.

Maka kami katakan: Kenapa begitu luar biasa baik sangkanya ‘Afîf hanya terhadap gurunya (‘Abdurrohmân), kenapa dia tidak baik sangka kepada Syaikh Yahyâ?

Dan lebih mengherankan lagi adanya pihak-pihak yang sengaja menyebarkan berita, bahwa fitnah di Dammâj semisal fitnah di Zaman Imâm Al-Bukhôrî dahulu, mereka terlalu baik sangkanya terhadap ‘Abdurrohmân mereka berani identikkan kalau ‘Abdurrohmân itu seperti Al-Imâm Al-Bukhôrî adapun syaikh Yahyâ semisal Al-Imâm Muhammad bin Yahyâ Ad-Dzuhlî, yang dikatakan hasad, wallôhul musta'ân, ‘Abdurrohmân (seorang hizbi) mau disamakan dengan Al-Imâm Abu ‘Abdillâh Al-Bukhôrî (seorang imâm, seorang amîrul mu'minîn fil hadîts), Innâ lillâhi wa innâ ilahi rôji’ûn, hâdzihî mushîbah.

Ketika tersebar bahwa ma’had Al-Bayyinah Gresik dibangun atas dasar uang minta-minta dan disebutkan para peminta-mintanya, maka bangkitlah para pembela dan simpatisannya membantah ini tidak benar, kita santri sana tidak melihat atau mendengarkan hal itu, ini jelas tidak benar.

Maka kami katakan: Terus siapa yang telpon di Lantai dua Ma’had Al-Bayyinah sebelum jadi pembangunan masjid Al-Bayyinah itu! Yang tidak punya rasa malu meminta! Dan terus siapa ketika mengadakan halaqoh di Bojonegoro kemudian ada yang tanya Ustâdz bangun ma'had seperti itu besarnya dari mana dananya? Dengan bangga dengan penuh percaya diri sambil tertawa, ‘Afîfuddîn menjawab: Kan tinggal sms !!! Apa ini bukan minta-minta?

Terus atas ide siapa yang meletakkan kotak infaq di ruang tamu Ma’had Al-Bayyinah, yang ruang tersebut di bawah masjid Al-Bayyinah (yang ketika itu masjidnya belum jadi), dan kotak infaqnya dari kardus dan tertuliskan dengan warna hitam “INFAQ BANGUNAN”?

Ini jelas tidak beradab terhadap sunnah Nabi r yang menyarî’atkan umatnya untuk memuliakan tamu, ini justru malah mau menyinggung perasaan tamu, bagaimana tidak, tamu butuh untuk dijamu malah diketuk hatinya dengan diminta-mintai, apakah para pengasuh/pengurus Al-Bayyinah itu lupa dengan hadîts Nabi r:

“من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يؤذ جاره ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه”

Barangsiapa yang beriman kepada Allôh dan hari akhir maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam, Barangsiapa yang beriman kepada Allôh dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tetangganya, Barangsiapa yang beriman kepada Allôh dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya".[65] (HR. Al-Bukhôrî & Muslim, dari Abû Huroiroh).

Tidak heran jika kemudian ketika telah berdiri dua asrama Al-Bayyinah berlantai (semisal Hotel), muncullah pembahasan dari peminta-minta dengan tema: “Adab-adab Berinfaq” lebih pantasnya dinamai pembahasan tersebut dinamai dengan “Adab-adab Mengemis”.

Dan soal minta-minta ini tersebar ke seluruh penjuru, sampai-sampai Kholîfah (ya’ni Kholîful Hâdî) ketika pindah dari Ma’had Umar bin Al-Khoththôb Lamongan menempuh metode minta-minta pula, kalau tentang Kholîfah ini bagi kami tidak perlu lagi menjelaskan penyimpangannya, karena terang dan jelasnya kesalahannya, tidak butuh lagi kami menyalakan lampu di siang hari yang sangat terang dengan cahaya matahari yang ada.

Direktur ma’had Al-Bayyinah Agus Su’aidi dengan penuh semangat buta berani berkata: “Syaikh Yahyâ majrûh, dan tidak (dianggap/diterima) jarh-nya”. Kabar ini dikutip dari Agus Su’aidi dari Rozi dan diceritakan ke  Abû Mas’ûd dan kemudian disampaikan ke Dammâj, dan kami diceritakan oleh Akhûna Affân dan juga kami dengarkan dari  Abu Arqôm.

Hal ini sama persis yang disampaikan Abdussalâm (Ambon), ketika membalas sms akhûna Ridwan, dia berkata: “Ana bukan tipe pentaqlîd terhadap syaikh ‘Abdurrohmân, dan tidak ada ‘ulamâ yang menjarh beliau, tapi justru Syaikh Yahyâ yang di jarh ‘ulamâ.”

Dua orang ini entah tahu dari mana pernyataan seperti itu? Apakah mereka pernah ke Dammâj atau apakah mereka pernah duduk menimba ‘ilmu di hadapan para ‘ulamâ yang mengajarkan kepada keduanya perkataan seperti itu? Mushîbah! Ataukah syaithôn dari mana yang membisikkan mereka dengan perkataan ini?

KAMI MEMPERTANYAKAN TAUBATNYA LUQMÂN DARI PENYIMPANGAN SELAMA JADI PANGLIMA LJ?

         

         Telah tersebar pernyataan kami yang mempertanyakan taubatnya Luqmân, maka kami perjelas lagi: Kalau seandainya dia (Luqmân) benar-benar taubat dari penyimpangannya dari wakil panglima LJ yang mengerikan itu, maka tentu dia tidak akan mungkin mau menggunakan cara-caranya yang dulu!, sekadar contoh pembelaannya terhadap ‘Abdurrohmân & ’Abdullôh persis pembelaannya terhadap Ja’far Umar Thôlib, siapa saja yang menjelaskan kesalahan Ja’far dan LJ maka langsung mendapat tahdziran dari wakil panglima berikut dari kawan-kawannya.

Juga di antara dari sekian cara-cara yang dia masih pakai adalah menebar dusta dan meluncurkan kelicikan, dan ini telah terkumpul data-datanya pada kami.

Di antara kelicikannya Luqmân  berpura-pura menerjemahkan nasihat syaikh Robî’ ke dalam bahasa Indonesia agar berdiri di tengah-tengah, namun ternyata dia menghimbau agar ikhwah berangkat belajar ke Syihr dan dia berani melarang ikhwah agar tidak ke Dammâj.

Dan dia meluncurkan kelicikan dengan menghina syaikh Yahyâ, berikut ini kami sebutkan kelicikannya:

Luqmân Bâ’abduh berkata: Sekedar dâi (syaikh Yahyâ, ed) nggak tahu manhaj sudah naik pangkat (‘Afîfuddîn tertawa terbahak-bahak).

Tanggapan:

Ittaqillah ya Luqmân! Renungkan dan pikirkan ini! Ya ‘Afîfuddîn betapa riang gembiranya anta sehingga bisa tertawa berbahak-bahak seperti itu!. Apakah itu bukan penghinaan dan pelecehan serta pembodohan terhadap syaikh Muqbil, apakah mungkin syaikh Muqbil mengangkat kholîfahnya dengan orang tidak tahu manhaj? Masya Allôh syaikh Muqbil dengan mantap mengakui kebaikan dan bagusnya manhaj syaikh Yahyâ, sehingga menunjuknya jadi penggantinya tiba-tiba tampil beda, Luqmân Bâ’baduh merasa lebih pintar,  Innâ lillâhi wa innâ ilahi.

Seharusnya Luqmân bercermin (muhâsabah), syaikh Abu ‘Abdirrohmân Yahyâ Al-Hajûrî naik pangkat (‘afwân menggunakan istilah Luqmân) diridhoi oleh para ‘ulamâ ketika itu, termasuk syaikh Muqbil dan bahkan syaikh Muqbil memberikan laqob kepada beliau An-Nâshihul Amîn, namun anta Ya Luqmân naik pangkat siapa yang ridhoi? Paling-paling para simpatisanmu, anta naik pangkat sederet dengan Al-Ustadz Muhammad As-Sewed di Yayasan Asy-Syarî’ah (sebagai penasehat majalah), bahkan anta plus dijadikan rujukan utama ketika ada musykilah, ‘ulamâ siapa yang meridhoimu? Ketika beberapa Ustâdz mentahdzir umat dari penyimpangan panglima dan anta (wakil panglima), kemudian anta bangkit sebagai pahlawan balas mentahdzîr dengan yang lebih mengerikan, setelah jelas padamu penyimpangan tiba-tiba anta bangkit bersegera, langsung mentahdzîr panglima sehingga dia benar-benar jatuh kemudian anta pun terangkat setinggi langit!.

Kalau Ja’far jelas penyimpangannya sangat dan amat fatal, namun dia pernah dipuji dan dikatakan dâ’i kibâr Indonesia oleh Asy-Syaikh Muqbil, masih mending dia dipuji ‘ulamâ daripada Luqmân, adapun Luqmân ‘ulamâ siapa yang memujinya? Paling-paling hanya pujian dari pecinta Madrasah Al-Manshûrah Ambon (Abdussalam) atau Direktur Ma’had Al-Bayyinah (Agus Su’aidi), atau para simpatisannya.

(‘Afîfuddîn tertawa berbahak-bahak) hadzâ bukti kalau ‘Afîfuddîn membeo ke Luqmân, Luqmân di mata dia adalah seolah-olah sebagai ‘ulamâ, kalau ‘Afîfuddîn mau kembali ke fitrohnya sebagai seorang Sunnî Salafî, tentu ketika dia menghadapi perkara besar seperti ini, dia akan berhubungan dengan ‘ulamâ, baik lewat telpon atau datang langsung ke ‘ulamâ semisal Syaikh Mujâhid Robî’ bin Hâdî Al-Madkholî, namun sifat membeo telah lengket padanya.

2) Luqmân berkata: Omongan-omongan kotornya itu, Subhânallôh, persis Al-Hajûrî.

Tanggapan:

Anta katakan begitu kepada syaikh Yahyâ Al-Hajûrî, kenapa tidak katakan kepada temanmu sendiri yang bernama Kholîfah (Direktur Ma’had Dârul Âtsâr Gresik), ketika membaca bukunya (Adzakhiroh An-Nafîsah) pada kajian bâb nikâh, sampai mengupas sangat vulgar dengan bahasa kampungan, yang dibaca ba’da maghrib, padahal banyak anak-anak dan yang akibatnya menyebabkan banyak santri yang bergegas untuk menikah, sehingga ada salah seorang langsung pulang ke daerahnya untuk menikah  sesampainya di daerahnya malah futur.

3) Luqmân berkata: Dia (syaikh Yahyâ, ed) menceritakan bahwa dia di Inggris dia berjalan-jalan yang di sana dipenuhi dengan orang-orang homo. Ana lewat jalan-jalan penuh dengan wanita yang ‘uryanin, subhânallôh. Yang satu dengan pacarnya, wa perempuan dengan anjingnya, (Luqmân berkata): Ana mau pergi tapi ini masjid.

Tanggapan:

Ini ada dua pelajaran penting yang perlu dipetik:

Pertama: Pelajaran tentang masalah ahkâm.

Kedua: Pelajaran tentang masalah manhaj.

Pertama: Pelajaran tentang masalah ahkâm

Sungguh benar-benar ‘Afîfuddîn telah benar-benar membeo kepada Luqmân dengan sebesar-besar pembeoan, kenapa ‘Afîfuddîn diam? Bukankah ketika anta isi kajian di Mushollâ Graha IPTEKDOK FK UNAIR ketika membahas hadîts:

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ إمْرَأَةً

“Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusannya kepada seorang wanita”. [66] Kemudian ‘Afîfuddîn berkomentar: “…..ia memang kalau lihat dari segi dunia atau bangunannya serba maju, seperti Inggris, namun di sana itu lebih jelek, perempuan di jalan-jalan telanjang, ada yang main dengan anjingnya, ada yang……. Kok tahu? Kebetulan Syaikhunâ Yahyâ Al-Hajûrî pernah da’wah ke sana .

Di sini ‘Afîfuddîn tidak sedikitpun berprasangka jelek kepada Syaikh Yahyâ!

Adanya keinginan Luqmân untuk pergi meninggalkan majelis karena didasari anggapan bahwa apa yang diceritakan oleh Syaikh Yahyâ adalah bâthil, tidak sepantasnya diceritakan. Maka kami katakan ini sangat jelas bertentangan dengan nash.

Sekarang jawab pertanyaan kami: Apakah Allôh U senang dan ridhô terhadap para wanita yang thowâf di Ka’bah dengan telanjang? Apakah ketika Rosûlullôh r menyampaikan wahyu tersebut ikut senang dan ridhô? Apakah ketika empat orang saksi mendapati orang yang sudah menikah berzina, anta katakan mereka senang? Kalau seandainya menurut sangkaan busuk anta seperti itu jika mereka senang tentu mereka tidak akan sampaikan ke hakim tapi justru mereka akan ikut antri.

Rosûlullôh U berkata:

كَانَتْ بَنُوْ إِسْرَائِيْلُ يَغْتَسِلُوْنَ عُرَاةً يَنْظُرُ بَعْضُهُم إِلَى سَوْأَةِ بَعْضٍ وَكَانَ مُوْسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ يَغْتَسِلُ وَحْدَهُ فَقَالُوا وَاللهِ مَا يَمْنَعُ مُوْسَى أَنْ يَغْتَسِلَ مَعَنَا إِلَّا أَنَّهُ آدَرُ قَالَ فَذَهَبَ مَرَّةً يَغْتَسِلُ فَوَضَعَ ثَوْبَهُ عَلَى حَجْرٍ فَفَرَّ الحَجَرُ بِثَوْبِهِ قَالَ فَجَمَعَ مُوْسَى بِإِثْرِهِ يَقُوْلُ ثَوْبِي حَجَرُ ثَوْبِي حَجَرُ حَتَّى نَظَرَتْ بَنُوْ إِسْرَائِيْلَ إِلَى سَوْأَةِ مُوْسَى.

“Adalah Banî Isrôil (kebiasaan) mereka mandi (dalam keadaan) telanjang, sebagian mereka melihat aurat sebagian yang lainnya, dan adalah Mûsâ ‘alaihis salam mandi sendirian (ke tempat yang lain), maka mereka (banî Isrôil) berkata: Demi Allôh, tidaklah yang menghalangi Musa ‘alaihis salam untuk mandi bersama kita melainkan karena dia memiliki kelainan (penyakit kulit), Rosûlullôh U berkata: Suatu waktu Mûsâ pergi mandi, dan meletakan pakaiannya di atas batu, tiba-tiba batu berjalan (membawa lari) pakaiannya, Rosûlullôh U  berkata: Maka Mûsâ menelusuri jejaknya, Mûsâ berkata: Bajuku (wahai) batu, bajuku (wahai) batu, sehingga Banî Isrôil melihat aurat Mûsâ…” (HR. Muslim, dari Abû Huroirah rodhiyallôhu ‘anhu).[67]

Jika Luqmân mau katakan: Syaikh Yahyâ ridho dan senang karena ketika ceritakan sambil tertawa, maka kami tanya: Bagaimana komentar anta terhadap ahli ‘ibâdah (Juraij) yang ketika diseret kehadapan para pelacur Juraij tersenyum! Apakah anta berani katakan dia senang dengan para pelacur? Kenapa anta tidak tanya ke Syaikh Yahyâ, sebagaimana Banî Isrôil bertanya kepada Juraij? Apa anta tidak pernah lewati kisahnya? (Silahkan baca dan hafal hadîtsnya di Kitâb Al-Adabul Mufrad, bab Birrul wa Lidain karya Al-Imâm Al-Bukhôri). [68]

Dan ingatlah wahai Luqmân dan para pembeo: Kalau Asy-Syaikh An-Nâshih Al-Amîn Yahyâ hafidhohullôh senang dan ridho tentu beliau akan terus-menerus keluar da’wah ke Inggris atau negara-negara selainnya, sebagaimana keluarnya kalian untuk da’wah ke kampus-kampus atau tempat-tempat lainnya, yang kalian senang dengannya sehingga terus menerus ke sana!

Kedua: Pelajaran tentang masalah manhaj.

Kalau seandainya Luqmân bermanhaj yang lurus, tentu ketika dia mendapati orang-orang yang berkata dengan perkataan bâthil, maka ada dua pilihan baginya, imma dia membantahnya atau imma dia berpaling (meninggalkannya). Kalau Luqmân menyangka apa yang diceritakan oleh Syaikh Yahyâ adalah bâthil, maka seharusnya dia membantah atau berpaling dari majelisnya, hal ini dalam rangka melaksakan perintah Allôh U :

 #sŒÎ)ur |M÷ƒr&u‘ tûïÏ%©!$# tbqàÊqèƒs† þ’Îû $uZÏF»tƒ#uä óÚ͏ôãr’sù öNåk÷]tã 4Ó®Lym (#qàÊqèƒs† ’Îû B]ƒÏ‰tn ¾ÍnΎöxî 4 ÇÏÑÈ

“Dan apabila kamu melihat orang-orang yang mengolok-olok (melecehkan) ayat-ayat Kami, maka berpalinglah kamu dari mereka, sampai mereka berkata dengan perkataan yang lain”. (QS. Al-An’âm: 68).

Ini merupakan prinsip Ahlussunnah yang paling penting, dan merupakan manhaj Ahlussunnah, Luqmân diperintahkan untuk berpaling (meninggalkan majelis) karena dia meyakini syaikh Yahyâ di atas kesalahan, tapi dia tetap duduk maka dari sini sungguh benar perkataan syaikh Yahyâ: “Luqmân adalah orangnya plin-plan.”

Dan kalau apa yang diyakini Luqmân bahwa Syaikh Yahyâ di atas kesalahan karena menceritakan kisah da’wahnya ke Inggris, tentu ketika itu langsung para ‘ulamâ di Dammâj mengkritik atau menasehati Syaikh Yahyâ, tapi semua ‘ulamâ mendiamkan, kemudian muncul Luqmân dengan berpenampilan beda.

4) Luqmân berkata: Ana bilang kepada yang baru pulang dari Yaman itu satu diantara dua kemungkinan, immâ komitmen dan akan mengalami kesulitan dalam berda’wah, atau mereka akhirnya hizbi kaya kita, tasawwul pondoknya kurang dananya akhirnya kirim ke muhsinîn, telpon kepada muhsinîn, inikan sudah hizbi, ini tasawwul, imma jadi hizbi kaya kita, wa imma sulit berda’wah, pilih salah satu!.

 

      Tanggapan:

Apakah Syaikh Muqbil (yang anta berdiri di balik namanya; yang anta mengaku muridnya) kesulitan da’wahnya karena tidak minta-minta? Apakah orang yang anta hina (Asy-Syaikh An-Nâshih Al-Amîn Yahyâ Al-Hajûrî) sulit da’wah karena tidak minta-minta? Adapun Ma’had As-Salafî Jember (yang diasuh Luqmân dkk), begitu juga Ma’had Al-Bayyinah Gresik dan yang lainnya sudah minta-minta, belum lagi uang sarana prasarana (uang muka), SPP dll, tapi tetap masih terus minus.

Apakah Luqmân dkk tidak malu mati-matian mengaku muridnya Syaikh Muqbil dalam keadaan Syaikh Muqbil sangat murka dengan minta-minta?

5)   Luqmân berkata: Imma jadi hizbi kaya kita!

         Tanggapan:

Kami bersyukur kepada Allôh U karena kami belum mengatakan kepada kalian hizbî, namun kalian telah mendahului kami mencap diri-diri kalian sebagai hizbî, maka kami katakan: Bertobatlah kalian dari pengakuan seperti itu, walaupun main-main atau pelecehan/olok-olokkan.

Penulis

Abul ‘Abbâs Khodhir Al-Mulkî

Dammâj, 2 Dzulhijjah 1429 H

` Kesaksian Muhammad Asnur

Berkata Muhammad Asnur:

Ba’da ‘Ashr di veteran Jogjakarta ketika dauroh masyâyikh bulan 8 tahun 2008 saya dan Hasan Rosyîd bertemu Luqmân Bâ’abduh bersamanya ada Idral Hârits, ‘Abdul Muthi dan ‘Asykarî, saya tabayyun ke dia,”Apa betul antum melarang ikhwah ke Dammâj?” dia bilang :”Betul ana larang ikhwan ke Dammâj, karena setiap ada yang datang dipanggil Abû Turôb dan Abû Salmân[69] dan ditegaskan jangan berpihak ke Ibnu Al-Mari’yaini.” Kemudian ana balik bertanya: “Ya Ustâdz, kita ke Dammâj bukan untuk belajar sama Abû Turôb dan Abû Salmân tapi ke Syaikh Yahyâ, Syaikh-Syaikh lainnya dan para Mustafidîen?” Pertama dia diam kemudian menjawab dengan jawaban mutar-mutar dan tidak fokus.

` Kesaksian beberapa thullâbul ‘ilmi Dammâj:

 

Pada tanggal 2 Dzulhijjah 1429 H kami (Abû Fairuz, Abû Turôb, Abû Yûsuf, Subhi, Âdam, Muslih, Habibî Aceh, dll) menelepon Asy-Syaikh Abû Hammâm Al-Baidhônî (murid rutin Asy-Syaikh Robî’ bin Hâdî Al-Madkholî di Makkah) hafidhohumullôh.

Abû Turôb berkata, ”benarkah Asy-Syaikh Robî’ bin Hâdî Al-Madkholî berkata, ”Silahkan kalian berbicara tentang Syaikh Yahyâ sebebasnya karena dia semakin tak bisa dikendalikan.”

Beliau menjawab, “tidak benar, tidak benar, tidak benar”

Abû Turôb berkata, ”Karena tersebar di Indonesia bahwasanya Asy-Syaikh Robî’ berkata, ”Silahkan kalian berbicara tentang Syaikh Yahyâ sebebasnya karena dia semakin tak bisa dikendalikan.”

Beliau menjawab: ”Itu adalah ucapan bathil” [70]

Abû Turôb berkata: ”Jadi Asy-Syaikh Robî’ tetap memuji Syaikh Yahyâ?”

Beliau menjawab,”Benar, benar, benar”

Kemudian pembicaraan beralih ke perkara lain.

Selesai.

/////
MASALAH JAMIYYAH DAN MUASSASAH

 

Penulis  : Abu Turob Al-Jawy.

Jam’iyyah (dalam istilah bahasa kita yayasan) : adalah suatu istilah yang bersifat sosial politik yang umumnya digunakan untuk menamai suatu perkumpulan dari beberapa orang, dengan tujuan menjaga kemashlahatan mereka bersama atau mencapai cita-cita bersama di bawah aturan-aturan tertentu yang jelas.

Beberapa undang-undang dalam mendefinisikan istilah jam’iyyah menentukan tidak adanya tujuan untuk mengambil laba dan tidak ditentukan kapan mulainya perkumpulan tersebut. (Undang-undang tersebut) di antaranya Undang-Undang Perancis, Belgia, Italia, Spanyol dan negara-negara latin lainnya. Juga Undang-Undang Jam’iyyat yang dikeluarkan di Lebanon pada masa Daulah Utsmaniyyah tanggal 3 Agustus 1909M, yang tertera pada pasal pertama: “Jam’iyyah adalah suatu perkumpulan yang terdiri dari beberapa orang dengan tujuan menyatukan pikiran dan usaha mereka dengan bentuk yang berkesinambungan dan tidak adanya tujuan untuk mengambil laba.[71]

Dalam kamus Mu’jam Al-Wasith, pada kata جمع  : Jam’iyyah adalah perkumpulan yang terdiri dari bagian-bagian dengan tujuan tertentu dan kesatuan pendapat. Masuk di dalamnya Lembaga Sosial Islami, Lembaga Dakwah Syar’iyyah, badan kerjasama dan lembaga ilmu dan adab (muhdats). Orang-orang yang datang kemudian lebih memperluas  istilah Jam’iyyah, mereka mempergunakan istilah tersebut apa yang dinamakan mu’assasah (yayasan), syirkah (badan usaha), muntadayat dan semisalnya. Hal ini karena yang menjadi tolak ukur adalah apa yang dinamai dan hakikatnya, bukan nama dan penampilannya, harap diperhatikan.[72]

SEJARAH  JAM’IYYAH

Sejarah menyebutkan bahwa metode yang paling awal yang digunakan oleh Yahudi untuk menyebarkan paham mereka yang beratur yaitu Al-Maasuuniyyah sampai berhasil adalah dengan perantaraan jam’iyyah Al-Ittihad wat Taraqqi di Turki yang didirikan tahun 1898M/1316H untuk mengakhiri kerajaan Islam Al-Utsamaniyyah. Jam’iyyah ini memiliki cabang di sebagian besar Negara-negara Arab.[73]

Kemudian fikroh ini diambil oleh Jamaluddin Al-Afghani dan orang-orang yang semisalnya lalu disebarkan di tengah-tengah muslimin. Kemudian diambil oleh muridnya Muhammad Abduh, sampai-sampai dia dan para seterunya bangkit untuk mendirikan Jam’iyyah Al-Khairiyyah Al-Islamiyyah dan dialah yang menetapkan peraturan dan tujuannya, di antaranya mendidik anak-anak dengan tujuan menjaga aqidah, adab, akhlak dan pengamalan mereka. Jam’iyyah tersebut dijadikan sarana untuk menopang kehidupan anak-anak tersebut dan sarana untuk mencari rezki.[74] Kemudian diikuti oleh muridnya: Muhammad Rasyid Ridha, ditegaskan hal tersebut dalam kitabnya Al-Mannar.[75]

Dari sinilah hizbiyyun seperti Ikhwanul Muslimin dan selain mereka mengambil istifadhah, dan menerapkannya di kalangan mereka, sampai sebagian orang yang menisbatkan diri kepada sunnah dan salafiyyah terpengaruh oleh pemikiran ini dan melakukan seperti yang mereka (para hizbiyyun) lakukan, dengan harapan meraih mashlahat darinya dan menyangka bahwa hal tersebut baik, padahal sebenarnya itu adalah salah satu keburukan dari keburukan-keburukan hizbiyyah dalam usaha memecah belah dakwah, melemahkan para pengikutnya bahkan sampai hilang semangat sebagian besar dari mereka, wallahul musta’an.

Dari sejarah di atas jelaslah bahwa jami`yah dan yang sejenisnya tidaklah berasal dari Islam akan tetapi dari non Islam bahkan dari musuh Islam dalam rangka untuk menghancurkan keutuhan kemurnian Islam dan pemeluknya, walaupun ada sebagian perkara telah dipoles sedemikian rupa agar memikat untuk mengelabuhi kaum muslimin seperti : Kerja sama dalam bidang sosial, Membantu orang-orang yang membutuhkan dari para fakir miskin, anak-anak yatim dan lain-lainnya.

Padahal kenyataan yang ada di lapangan hanyalah sekedar memakmurkan anggota yayasan tersebut, kalau toh ada yang tersalurkan kepada yang berhak, hanyalah sebagian kecil saja karena memang semua di bangun di atas kepentingan duniawi belaka.

` KEMAKSIATAN-KEMAKSIATAN YAYASAN

Berikut ini kami sebutkan beberapa point dari kebobrokan-kebobrokan yayasan secara syari`at agar menjadi peringatan bagi yang telah terjerumus ke dalamnya, dan sebagai  perhatian bagi yang belum menjalankannya.

` YAYASAN ITU ADALAH BID`AH DALAM DIEN.

Hal itu sangat  jelas sekali bagi yang melihatnya dengan kacamata syar`i dan perbuatan para salaf dalam da`wah, kalau kita tanya kepada mereka: Yayasan apa milik rosululloh r? apa namanya? siapa sekertarisnya? siapa bendaharanya? siapa seksi dananya? kapan didirikannya?

Begitu pula bila kita alihkan pertanyaan tadi kepada  keadaan shohabat nabi r  dan juga para tabi`in? tentu tak satupun dari pertanyaan tersebut yang terjawab dengan jawaban yang pasti dan benar. Maka kalau itu tidak ada di zaman nabi r dan juga di zaman para salaf sementara dipergunakan dalam sarana da`wah maka tidak syak lagi bahwa itu adalah muhdats atau bid`ah, sebagaimana kata Syaikhuna Yahya حفظه الله .

Dan kita telah tahu semua akibat apa yang akan terjadi di balik bid`ah bila terdapat dalam suatu ibadah yang paling parah adalah tercabutnya sunnah dan nikmatnya menegakkan sunnah.

Maka cukuplah satu kerusakan ini yang merusak semua yang ada di dalamnya, karena kalau pondasinya sudah rapuh maka semua yang berkaitan dengannya rusak pula.

Syikhuna Yahya حفظه الله  berkata : ketahuilah bahwa jam`iyah adalah muhdats (bid`ah), hendaknya orang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir, dan yang marah ucapan ini yang menjadi hakim antara kita dengannya adalah kitaabulloh dan sunnah rosululloh r : من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فو رد

“Barang siapa yang mengadakan perkara baru dalam perkara kami ini yang bukan darinya  maka dia tertolak”.

 ` TASYABBUH DENGAN ORANG BARAT.

Tasyabbuh ini sangat nampak dari berbagai sisi :

Asal dari perkara ini adalah dari mereka.

AD – ART nya adalah dari mereka walaupun ada yang dirubah.

Program kerja dan tata laksana tak jauh berbeda.

Tujuan utama juga mirip sekali yakni ketentraman duniawi belaka.

Dan sudah sama-sama kita ketahui bahwa tasyabbuh merupakan dosa yang tidak boleh diremehkan, bagaimana kalau dosa ini sebagai sarana cari pahala ?? bisakah ??

` TUNDUK DI BAWAH UNDANG-UNDANG BUATAN ORANG .

Hal itu terbukti dari keharusan mendaftarkan diri dengan persyaratan yang mereka tetapkan, walaupun tidak semua persyaratan harus terpenuhi tetapi mesti ada salah satu persyaratan yang tidak boleh ditinggalkan yang itu mesti bertentangan dengan syar`i karena memang landasan aslinya adalah bukan syariat, kalau mereka mengatakan itu sekedar formalitas dan bukan suatu kelaziman maka memenuhinya hanyalah basa-basi, maka kami katakan berarti kalian telah melakukan kedustaan atas nama da`wah, padahal da`wah tidak akan berbarokah dengan kedustaan, berarti kalian telah membangun da`wah di atas podasi yang rapuh.

Juga dengan pendaftaran tersebut kita ikut andil melestarikan dan mengembangkan apa yang menjadi program mereka yang sudah sama-sama kit ketahui landasan utamanya.

` ADANYA KEPEMIMPINAN DI LUAR SAFAR.

Padahal Rosululloh r  tidaklah mengijinkan adanya amir dalam pemerintahan kecuali kalau dalam perjalanan (safar) adapun pimpinan yayasan terbentuk bukan dalam safar, dan ini telah bertentangan dengan perintah nabi r , kalau mereka berhujjah seperti hujjah di atas berarti kedustaannya berlipat.

` ADANYA SISTEM PEMILU WALAUPUN LOKAL ATAU KECIL-KECILAN.

Hal itu terbukti adanya pemilihan ketua yayasan, sekertaris, bendahara dst yang semua itu adalah dalam kandungan kaidah pemilu dan demokrasi, walaupun mungkin ada perubahan sedikit pada tatacara pemilihan, akan tetapi pokok aslinya adalah dari tatanan pemilu, karena lucu dong yayasan tanpa kepala, dan juga kalau ketuanya mengundurkan diri atau terjadi perselisihan yang berakibat morat-maritnya yayasan karena kurang bijaksananya sang ketua atau dengan sebab lain, mereka akan bermusyawarah untuk memilih atau bahasa halusnya menunjuk ketua baru, dan kaidah ini adalah murni kaidah pemilu. Dan kita telah tahu semua hukum pemilu.

` MENETAPKAN ATURAN-ATURAN MUHDATS.

Tentunya masing-masing yayasan memiliki aturan yang tidak dimiliki oleh yayasan lain, yang apabila anggota atau pengurus yayasan ada yang menyelisihi aturan tersebut akan terkena tuntutan dari yayasan, padahal barangkali yang menyelisihi itu lebih mencocoki syariat, akan tetapi merugikan yayasan maka yang berlaku adalah aturan yayasan, padahal kita semua paham bahwa semua hukum dan perkara harusnya  dikembalikan kepada syari`at (alkitab dan assunnah), maka dengar berdirinya yayasan ini seolah-olah mengenyampingkan kaidah syari`ah.

` SERING TERJADI PERTEMUAN –PERTEMUAN RUTIN .

Yang berakibat adanya pertemuan-pertemuan rahasia hizbiyah dengan alasan laporan pertanggunganjawaban atau mengefaluasi hasil kerja selama masa jabatan atau musyawarah dalam rangka memungut dana dsb, dan ini semua tak terjadi pada zaman salaf.

Lagipula kalau ada pertemuan–pertemuan di atas, permasalahan  yang  paling dominan dibahas adalah masalah dunia belaka, maka barokah apa yang bisa dipetik dari majlis yang cuma membicarakan dunia.

Padahal kepentingan urusan da`wah yang dipikul Rosululloh r sangatlah banyak dan berat dan memerlukan banyak rapat akan tetapi belum kita dengar bahwa beliau melakukan rapat-rapat model jami`yat atau yayasan.

` TAKALLUF (memaksakan diri atau membebani diri)

Kalau seandainya da`wah dibangun di atas sunnah dan da`inya penuh ketawakalan kepada Alloh, tidak perlu terlalu capek memikirkan kebutuhan ummat dari sisi dunia ummat, karena semua makhluq telah ditetapkan batasannya oleh Pemberi rezki, dan bukan menjadi kewajiban da`i untuk memenuhi kebutuhan ummat dalam sisi ini atau  memikirkan fasilitas mereka, kalau memang ada yang mampu dan sedia mengulurkan tangannya untuk membantu meringankan beban mereka tanpa adanya ikatan-ikatan semacam yayasan dan sejenisnya sebagaimana yang dilakukan rosululloh r  dan para sahabatnya, maka itu merupakan amal sholih yang bisa diharapkan berlipat pahalanya bila dibarengi dengan keikhlasan dari pelakunya.

Adapun dengan terbentuknya yayasan maka terjadilah pemaksaan diri dari pengurus untuk memikirkan ini dan itu dalam rangka memenuhi kebutuhan anggota yayasannya atau yang di bawah kelolaannya, padahal mereka bukanlah orang yang mampu pada asalnya dan bukan pula atas kepedulian pribadi.

Bukankah melakukan perkara yang dimampui dan dengan kerelaan jiwa lebih sehat dan bersih dibandingkan dengan pemaksaan diri yang terkadang melampaui kekuatannya.

` MELETAKKAN SESUATU BUKAN PADA POSISINYA.

Urusan da`wah dan ummat dalam bidang ilmu dan penyampaian adalah tugas yang mulia, bukan sembarang manusia diberi karunia Alloh untuk menempati posisi ini, Alloh  I berfirman :

+ اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ_  [الأنعام/124]

“Alloh lebih mengetahui di mana Dia meletakkan risalah-Nya.”

Adapun dalam kaidah yayasan siapa yang lihai dalam organisasi dunia (karena dia orang pernah belajar di bidang keorganisasian atau banyaknya pengalaman) walaupun tidak begitu mempuni dalam bidang dien bahkan mungkin orang yang kosong sama sekali dia bisa menempati posisi elit dan bisa mengatur urusan da`wah, begitu pula orang yang memiliki kantong tebal akan cepat menduduki posisi bidang pendanaan walaupun tidak memiliki bekal cukup untuk mengatur hartanya sesuai ilmu, karena tidak ada ceritanya kalau bendahara yayasan itu orang yang di bawah standar, dari sini jelas terlihat betapa jauhnya kondisi ini dengan kondisi salaf, jaman rosululloh  r yang mengurusi urusan ekonomi adalah shahabat Bilal bin Robah ت , beliau tidak terkenal memiliki harta banyak akan tetapi memiliki ilmu kuat dan ketawakkalan tinggi, dan mengurusinya pun dengan penuh kesederhanaan.

Dari kondisi yang ada pada yayasan demikian adanya, akhirnya sulit bagi yang memiliki kewajiban amar ma`ruf dan nahi mungkar untuk melakukan operasinya, bila yang terjatuh ke dalam kemungkaran adalah orang gede di yayasan tersebut seperti yang pernah disampaikan kepada kami bahwa salah seorang pejabat teras yayasan masih belum bisa meninggalkan rokok atau televisi atau nyimpan uang di bank atau yang lainnya dari kemaksiatan, maka penasehat yayasan tidak bisa untuk membuka mulut dan mengucapkan kata-kata sindiran atas kesalahannya karena khawatir terhadap keutuhan yayasannya.

` MEMINTA-MINTA BUKAN KARENA TERPAKSA.

Dan masalah ini bukan menjadi rahasia umum lagi bahkan kenyataan yang ada menunjukkan bahwa inilah di antara tujuan utama mendirikan yayasan, untuk memudahkan mencari dana, atau mempermudah urusan sosial, memberi kepercayaan kepada ummat  bahwa mereka dengan yayasan ini tidak menyia-nyiakan harta yang mereka tampung karena yang mengelola bukan satu orang saja, dst.

Akhirnya karena mereka memiliki wadah resmi untuk meminta-meminta, tidak sungkan-sungkan dan tidak merasa malu lagi untuk melakukan operasi ngemis dengan berbagai cara seperti: kotak amal, proposal, badan penerimaan zakat dll, bahkan kebanyakan mereka merasa bangga dan percaya diri bahwa amalan ini penuh pahala.

Tidak tahunya bahwa syari`at tidak memberi keluasan izin dalam masalah meminta-meminta, bahkan sangat amat sempit pintunya, seperti dalam hadits Qobishoh ت di shohih(1) , padahal kita semua tahu bahwa perbuatan pengemis yayasan tidak termasuk salah satu dari tiga golongan yang mendapat izin syar`i.

Oleh karena harta hasil usaha ngemis yayasan adalah suhktun (kotor, harom) sesuai dengan hadits Qobishoh ت  ini. Lalu bagaimana da`wah yang mulia ini dibangun di atas keharoman, atau paling minim syubhat ??

Wahai para pengelola yayasan!! kalian letakkan di mana pelajaran `iffah ??, kalian letakkan di mana ilmu waro` dan zuhud ??  mana rasa malumu terhadap Alloh I  dan Rosul-Nya r dan hamba-hambaNya yang sholih?? Apakah hanya dengan syubhat bolehnya memberi syafa`at atau pandainya seseorang mengolah kata atas dasar istihsaan, kalian tinggalkan hadits rosululloh r  ini ??? Atau karena ada keuntungan duniawi yang tak seberapa kalian berani melanggar ancaman-ancaman  Alloh I  ?? atau karena ada salah seorang alim yang tergelincir dalam kekeliruan, atau karena adanya fatwa yang miring dari kebenaran kalian campakkan fatwa rosululloh r ??

Bertaqwalah kalian kepada Alloh atas kesalahan kalian yang tidak ringan ini, dan kembalilah ke jalan yang murni dan tengoklah kembali keberadaan kalian di dunia ini sebagai hamba yang seharusnya tunduk kepada aturan Yang telah menetapkan perkara dengan penuh hikmah dan arti.

 ` BERMUDAH-MUDAH DALAM BERHUBUNGAN DENGAN BANK RIBAWI.

Satu pintu maksiat kalau sudah terbuka akan merambah ke mana-mana , apalagi kalau pelakunya merasa berada di atas jalan yang berpahala, dan dia tidak akan mengetahui bahwa perbuatan itu dosa kecuali dengan hidayah Alloh I lewat Rosul-Nya dan para pengemban syariat-Nya.

Apa yang sedang kita bicarakan adalah contoh kongkrit dan bukti akurat akan kebenaran kaidah di atas.

Setelah berusaha sekuat tenaga dan banting tulang memeras keringat untuk mendapatkan dana yayasan, dan tentunya sedikit banyak akan membuahkan hasil , bahkan sangat minim kalau yayasan agama ketika mengobralkan proposalnya memperoleh hasil yang tidak memadai, karena kebanyakan orang menganggap bahwa pengeluaran semacam itu adalah dalam rangka shodaqoh jariyah, akhirnya mereka tidak enggan-enggan mengeluarkan koceknya untuk yayasan agama, maka dari itu, setelah terkumpul dana yang lumayan besar akhirnya mereka diwaswasi shaithon atau diberi bayangan –bayangan yang berpandangan jauh seperti bisikan: harta sebanyak ini jangan langsung dihabiskan, karena barangkali bulan depan donatur sedang pailit dan tidak bisa lagi menyumbang, atau bisikan lainnya: agar lebih berbarokah dan lebih besar faedahnya bagaimana kalau dana ini untuk usaha dulu? Bisikan berikutnya: demi keselamatan harta ummat dari kehancuran entah itu hilang dicuri atau disikat perampok atau sebab yang lainnya maka lebih amannya kalau kita titipkan dibank dengan fatwa ulama fulan, karena kondisi ini mendesak, tentunya kita tidak mengambil bunganya karena itu kan harom.

Ya miskin begitu rapuhnya  iman kalian !!! sudah salah kalian  dalam mengumpulkan dunia kalian tambah lagi kerunyaman dengan memsukkannya ke dalam tempat terlaknat, pekerja terlaknat, saksi terlaknat , sekertaris terlaknat , pelanggan terlaknat , dan semua yang berkaitan dengan riba terlaknat.

Apa kalian kira bahwa yang terlaknat cuma pemakan riba belaka ?? camkan benar-benar hadits ini :

Dari Jabir ت berkata:

لعن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- آكل الربا وموكله وكاتبه وشاهديه وقال هم سواء. . [رواه مسلم ]

“Rasulullah telah melaknat para pemakan riba, dan orang-orang yang memberi makan orang lain dengan harta riba, dan yang menulisnya (pencatatnya), serta saksi-saksinya kemudian beliau bersabda ” mereka semua adalah sama ” (HR. Muslim).

Ketahuilah sesungguhnya orang-orang yang mendapat laknat pada hadits di atas bukanlah hanya pemakan ribanya saja bahkan termasuk (mendapat laknat) orang-orang yang memberi makan orang lain dengan harta riba, sebagaimana dalam musnad Imam Ahmad dengan lafadz (wa muth’imuhu) artinya “Dan orang-orang yang memberi makan orang lain dengan harta riba”.  Maka dari manakah makan atau gaji para pegawai dan penjaga bank tersebut?! sudah tentu jawabannya “Dari para nasabah dan orang-orang yang bermu’amalah dengan bank tersebut, baik itu orang-orang yang menabung, menyimpan, menukar dan seterusnya dari kalangan orang-orang yang punya hubungan dengan bank.” Allohumma sallim sallim.

` PENYALURAN HARTA TIDAK PADA TEMPATNYA.

Dari Khoulah Al Anshoriyyah  لbahwa Rosulloh r bersabda:

” إِنَّ رِجَالاً يَتَخَوَّضُونَ فِى مَالِ اللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ ، فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “

“Sungguh banyak orang yang menghamburkan harta Alloh dengan tanpa haq (bukan pada jalan yang benar), maka mereka akan mendapatkan adzab neraka pada hari kiamat.” ]HSR : Bukhori(3118)[

Agaknya hadits ini sangat tepat diletakkan pada bab ini, karena banyak orang terjatuh kedalam kegelapan ini tanpa disadari, dan kelompok yang paling terdepan masuk urutan ini adalah ashabul jamiyyat (para pengelola yayasan) yang tidak bertaqwa kepada Alloh, adapun yang masih memiliki rasa takut akan ancaman Alloh maka lebih jauh dari hal itu walaupun tidak menutup kemungkinan terkena imbasnya.

Bukti nyatanya adalah dari awal mula mereka melakukan kegiatan ini adalah adanya unsur kedustaan, contohnya: mereka menetapkan anggaran dalam proposalnya melebihkan  target asalnya (istilahnya: “Mark up”) dengan alasan kebutuhan tak terduga, setelah itu memberi persenan  bagi tenaga kerja baik di lapangan atau intern dengan alasan a`amil, selanjutnya mereka tidak menghabiskan semua harta tersebut  sesuai isi permohonan, dengan alasan sebagai persediaan untuk kepentingan yang lebih penting, dan sebagainya.

Begitu pula gambaran di atas bisa terlihat pada perkara dibawah ini yaitu: kalau terjadi perselisihan antar pengurus (dan ini sangat mungkin terjadi) yang mengakibatkan keluarnya salah seorang dari mereka dari yayasan, yang barangkali keluarnya dia menjadi sebab hancurnya yayasan, lantas kalau bubar yayasan tersebut dikemanakan  harta yayasan ??? , siapa yang bertanggung jawab atas harta ummat ??, siapa pengelolanya setelah itu ?? siapa yang menanggung hutang yayasan kalau memiliki hutang ??  mana janji muluk mereka kepada donatur ?? mana bukti kejujuran mereka ??

Maka alangkah jauhnya apa yang dilakukan oleh rosululloh r  dengan apa yang dilakukan oleh para pengelola yayasan,  seperti dalam hadits Bilal bin Robah ت  dalam hadits yang panjang, didalamnya:

“Dan Rosulullohpun bermalam di masjid dan tidak masuk kedalam rumah, sampai terbagi seluruh harta yang datang kepada beliau, karena khawatir bila sampai ajalnya belum terbagi semuanya.” ]Hadits ini  di ٍShohih Musnad[

` KESIBUKAN YAYASAN SERING MENGALAHKAN IBADAH DAN SUNNAH.

` Sungguh  suatu kerugian besar apabila waktu banyak terbuang percuma untuk sesuatu perkara yang  tak menghasilkan pahala di sisi Alloh, walaupun tidak terkait dengan dosa, tentu lebih merugi bila yang menyita waktu kita adalah perkara dosa atau yang menjurus kepada dosa seperti urusan yang sedang kita bahas ini.

Di mana telah terbukti bahwa kebanyakan pengurus yayasan habis waktu mereka untuk perkara yang telah kita sebutkan di atas kebobrokan-kebobrokannya.

` Mereka mengganti waktu menimba ilmu dengan meminta-minta atau rapat ini dan itu, atau membangun ini dan itu, padahal masalah ilmu tidak ada yang bisa menandingi keutamaannya menurut salaf.

` Mereka ganti waktu munajat dengan rihlat dan mencari hajat.

` Mereka ganti waktu ibadah dan menyerahkan perkara kepada Alloh dengan mondar-mandir mencari sesuatu yang tidak berbarokah.

` Berapa banyak para pengurus yayasan yang bertahun–tahun tinggal di tempat menuntut ilmu namun tidak mendapatkan siraman ilmu yang mencukupi atau sepantar dengan masa tinggalnya di tempat itu, berbeda dengan yang tidak memiliki kesibukan seperti kesibukan mereka, bukankah ini merupakan kerugian yang sangat besar.

` Ketahuilah wahai para pengurus yayasan, keberadaanmu seperti itu membuat nilai ilmiyahmu sangat melorot dan tidak memiliki bobot di hadapan ummat, karena ummat tidak akan menimba ilmu kepada ketua yayasan fulan, atau sekretaris yayasan fulan dst, dan merekapun akan lari ketika ditanya suatu  masalah ringan dalam masalah dien karena merasa dirinya kosong dari ilmu dan tidak mampu memenuhi kebutuhan ummat dalam sisi ini, bukankah kedokmu terbongkar  wahai pengurus  ketika berhadapan dengan masalah ini, ummat di kampungmu menunggu ilmu dan fatwamu akan tetapi harapan mereka tinggalah harapan,  karena kamu terlalai dan terlena dengan kenikmatan mengurusi yayasan.

` Kami kira perkara-perkara yang kami sebutkan di atas sangat jelas dan gamblang dan juga hal yang bukan asing lagi kebenarannya bagi yang menilainya dengan kejujuran dan tanpa tendensi hawa nafsu, adapun yang dihatinya penuh syubhat dan ketidakadilan dalam menilai masalah ini sesuai dengan kenyataan yang ada atau memandangnya tanpa pandangan syar`i  tentu  akan berkelit dan mencari-cari syubhat baru untuk membantahnya.

Adapun syubhat-syubhat yang mereka buat-buat seperti:

`Yayasan hanyalah sekedar payung dan benteng untuk melindungi dakwah dari tuduhan dakwah sesat.

`Yayasan hanyalah hanya  formalitas di depan pemerintah.

`Yayasan cuma wasilah untuk memudahkan urusan.

`Yayasan sekedar untuk mengenalkan kepada ummat akan dakwah ahlussunnah.

`Yayasan adalah kewajiban dan kelaziman yang dibebankan oleh pemerintah kepada rakyatnya dan kalau kita tidak mentaati mereka berarti kita telah keluar dari dari tho`at kepada pemerintah.

`Yayasan memiliki faedah yang besar dalam penyebaran dakwah.

`Yayasan  menjadikan dakwah kita kuat dari rongrongan orang luar yang ingin menghancurkan dakwah karena telah memiliki hukum kuat  di pemerintahan.

`Yayasan memberi kemudahan untuk peningkatan para pelajar kejenjang yang lebih tinggi karena sekarang tidak bisa belajar ke jami`ah (Perguruan Tinggi) atau belajar keluar negri kecuali kalau di bawah naungan suatu lembaga seperti yayasan.

`Kami mendirikannya karena adanya fatwa dari para ulama.

Semua syubhat di atas adalah sekadar prasangka-prasangka rendahan dan kehawatiran-kehawatiran semu yang telah didustakan oleh yang orang-orang yang pernah terjun langsung bergelut dengan mereka.

Adapun bantahan  secara ilmu syar`i sebagai berikut :

` Alasan mereka bahwa yayasan sekedar payung yang menaungi untuk kesinambungan da`wah maka jawabannya adalah firman Alloh I  :

+ وَكَفَى بِاللَّهِ وَلِيًّا وَكَفَى بِاللَّهِ نَصِيرًا_ [النساء/45]

“Dan cukuplah Alloh sebagai wali dan cukuplah Alloh sebagai penolong”

Dakwah ini adalah perintah Alloh kepada hamba-Nya, maka Dialah Yang akan menolong dakwah-Nya, kita hanyalah diperintahkan untuk menyampaikan syariat Alloh saja sesuai dengan tuntunannya, dan tidak perlu merekayasa cara baru demi dakwah, dan kalau kita telah menjalani tata cara yang telah  digariskan Alloh pasti Alloh akan menolong kita walaupun tidak spontanitas datangnya pertolongan Alloh sebagaimana yang telah dijalani oleh para Rosul, mereka tidak cari jalan lain ketika melihat ummat tidak menerima dakwahnya atau bahkan minta perlindungan kepada mereka agar dakwah tetap berjalan, sama sekali itu bukanlah metode para nabi dalam mengemban tugas berat ini.

Dikhawatirkan orang-orang yang menjadikan yayasan sebagai payung dan pelindung dakwah terjatuh kepada syirik walaupun kecil, karena ketawakkalan mereka dengan perkataan itu tergores dan turun derajatnya dari kesempurnaan.

Maka bagaimana kondisi mad`u kalau keadaan da`inya demikian adanya, tidakkah dia mendengar ketegaran para nabi ketika ditekan kaumnya:

+ وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ نُوحٍ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُمْ مَقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآَيَاتِ اللَّهِ فَعَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوا إِلَيَّ وَلَا تُنْظِرُونِ * فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَمَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِين_ [يونس/71، 72]

“Dan bacakanlah kepada mereka berita nabi Nuh ketika dia menyeru kaumnya: wahai kaumku jikalau kedudukanku dan peringatanku dengan ayat-ayat Alloh memberatkan kalian, maka ketahuilah bahwa hanyalah bertawakkal kepada Alloh, maka kumpulkanlah seluruh perkara dan serikat kalian semua kemudian perkara kalian tidak perlu disembunyikan, setelah itu tunaikanlah rencana kalian kepadaku dan tidak perlu menunggu-nunggu (untuk menunaikannya), adapun apabila kalian berpaling (dari dakwahku) maka ketahuilah bahwa aku tidaklah meminta upah kepada kalian, gaanjaranku hanyalah aku mohon kepada Alloh, dan aku diperintahkan untuk menjadi golongan orang yang memasrahkan diri (kepada Alloh).”

Dan berkata Nabiyyulloh Hud r :

+قَالَ إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ * مِنْ دُونِهِ فَكِيدُونِي جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنْظِرُونِ * إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آَخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ * فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ مَا أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَيْكُمْ وَيَسْتَخْلِفُ رَبِّي قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّونَهُ شَيْئًا إِنَّ رَبِّي عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ_  [هود/54-57]

“Aku bersaksi kepada Alloh dan saksikanlah oleh kalian semua bahwa berlepas diri dari apa yang kalian sekutukan dari selain Alloh, maka buatlah tipu daya untukku semua kemudian jangan kalian tunggu-tunggu (untuk menunaikannya), jikalau kalian berpaling maka aku telah sampaikan kepada kalian apa yang aku diutus untuk menyampaikannya kepada kalian, dan Robbku akan mengganti suatu kaum selain kalian, dan tidaklah (penolakan kalian) membahayakan Alloh sedikitpun, sesungguhnya Robku Hafidh (Penjaga) atas segala sesuatu.”

Lihatlah betapa tegarnya nabi Nuh r dan nabi Hud r    dalam menghadapi sikap keras kaumnya, tidak seperti para pengelola yayasan, belum apa-apa sudah nyerah dan tunduk dengan aturan mereka padahal belum ada secuil ancamanpun dari pihak mereka.

Demikian pula nabi-nabi yang lain sampai nabi Muhammad r , tidak ada yang ciut hati menghadapi keganasan ummatnya yang berakibat meminta perlindungan atau payung pelindung dari mereka, bukankah meminta perlindungan kepada musuh menunjukkan kelemahannya.

Kami katakan bahwa “mereka itu musuh” secara umum saja, dari sisi ketidakcocokan mereka dalam menegakkan syariat bukan musuh secara fisik.

Dari situ jelaslah bahwa alasan mereka sekedar menjadikan yayasan sebagai payung dakwah adalah salah kaprah dan tidak masuk dalam kaidah dakwah yang berbarokah.

` Alasan mereka bahwa yayasan hanyalah hanya  formalitas di depan pemerintah dan cuma wasilah untuk memudahkan urusan.

Jawabannya adalah : perkara dakwah adalah ibadah dan ajakan kepada semua sifat mulia dhohiron wa bathinan, kalau kalian berkata yayasan hanyalah sekedar formalitas berarti telah melanggar tatanan syariat dari sisi kejujuran, karena seakan-akan kalian mengelabuhi pemerintah bahwa dakwah ini kayak begini di hadapan mereka adapun prakteknya tidaklah demikian, bukankah diterimanya dakwah Rosululloh r  karena kejujuran beliau, lantas apa hasilnya kalau sang da`i begitu bermudah-mudah dalam berbohong???

Adapun ucapan kalian yayasan adalah sekedar wasilah itu adalah keliru sekali, karena wasilah haruslah yang sesuai syar`i, dan kami kira kita sependapat kalau wasilah dakwah itu tauqifiyah[76], lantas wasilah tauqifiyah apa yang kalian inginkan, karena sebagaimana telah lewat di atas bahwa tidak ada model yayasan di zaman Rosululloh sebagai sarana dan wasilah dakwah.

+هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ_ [البقرة/111]

` Alasan mereka bahwa yayasan sekedar untuk mengenalkan kepada ummat akan dakwah ahlussunnah.

Maka jawabannya: Alloh I berfirman :

+ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا _ [النساء/]

“Dan cukuplah Alloh sebagai saksi.”

Bukankah kita berdakwah karena mengharap wajah Alloh semata dan cukup Allohlah yang mengetahui bahwa kita telah menyampaikan dakwah-Nya sesuai dengan perintah-Nya, apakah jika kita berdakwah tanpa yayasan kemudian tidak diketahui masyarakat lantas dakwah itu salah, atau kalau suatu dakwah dengan yayasan dan dikenal masyarakat atau diidzinkan dan terdaftar di pemerintahan secara otomatis sebagai dakwah yang benar dan baik ?? Sejak kapan kaidah ini diterapkan dalam menentukan kebenaran dan kesalahan suatu perbuatan ??

` Alasan mereka bahwa yayasan adalah kewajiban dan kelaziman dari pemerintah.

Maka jawabannya adalah hadits ‘Aisyah :ب

قام رسول الله – صلى الله عليه وسلم – على المنبر فقال ” ما بال أقوام يشترطون شروطا ليست فى كتاب الله من اشترط شرطا ليس فى كتاب الله فليس له ، وإن اشترط مائة شرط “

Rosululloh r  berdiri di atas mimbar seraya berkata : “ Kenapa ada beberapa kaum yang menetapkan syarat-syarat yang tidak terdapat di kitabulloh ??? barang siapa menetapkan suatu syarat yang tidak terdapat di kitabulloh maka tidak ada hak baginya untuk melaksanakannya (dalam suatu riwayat dengan lafadz : maka dia itu bathil) sekalipun seratus syarat ». (HSR Al Bukhori (2735))

Itupun kalau khabarnya benar bahwa bahwa pemerintah melarang melakukan kegiaatan rohani (agama) kecuali harus di bawah wadah yang menaungi, akan tetapi pada kenyataanya tidaklah demikian, buktinya berapa banyak kajian-kajian dien yang dilakukan oleh kiayai-kiyai kampung atau pondok-pondok klasik (tradisional) atau da`i-da`i masjid di kampung bahkan di kota tak memiliki yayasan yang menaunginya  tetap saja eksis dan berjalan tanpa ada hambatan, karena yang menginginkan kajian tersebut adalah masyarakat sendiri, demikian pula mereka yang suka hilir mudik menenteng panci dan kompor keliling dunia untuk berdakwah kepada kejahilan (JABLEG alias Jamaah ndableg) tak satupun mereka memiliki wadah model yayasan ketika menjalankan aksinya walaupun mungkin di pusat kegiatannya ada semacam wadah, itu semua menunjukkan bahwa prasangka mereka bahwa pemerintah melazimkan adanya yayasan bagi sebuah lembaga dakwah adalah kekhawatiran yang dibuat-buat, hasil dari dangkalnya ketawakkalan da`i, apa kalian rela wahai para ustadz salafi bila dikatakan lebih penakut dan terlalu banyak was-was serta terlalu menggantungkan keselamatan dakwah kepada yayasan di bawah pemerintah daripada jamaah sesat di atas ???

Kami ingin bertanya: Apa hukum mendirikan yayasan secara syar`i ?? wajibkah atau sunnahkah atau sekedar mubah (boleh) ?? ataukah  lebih baik ditinggalkan atau ketidakadaannya lebih baik daripada adanya ?? kalau itu wajib berarti mereka yang mendirikan yayasan berdosa dong karena meninggalkan perkara  yang wajib, kalau jawabannya sunnah berarti para salaf semua meninggalkan sunnah, kalau mubah ngapain kita sibuk dengan perkara yang tidak berpahala bahkan meninggalkan sebagian sunnah yang berpahala. Kalau memang utamanya ditinggalkan kenapa kita mati-matian membela yang sebaiknya ditinggalkan dan tidak berusaha untuk mengambil yang afdhol dan membuang jauh-jauh yang tidak afdhol, maka tidak ada pilihan lain kecuali harus mengikuti salaf kalau kita ingin mendapatkan barokah dakwah.

` Alasan mereka bahwa yayasan memiliki faedah yang besar dalam penyebaran dakwah.

Sanggahannya: Itu benar yang memiliki sudut pandang duniawi belaka, adapun yang melihatnya dengan kacamata ilmu dan kejujuran serta meninjaunya dari segala sisi,  baik dari sisi manfaat atau dari  sisi madhorrot seperti yang telah kita paparkan sebagiannya niscaya dia akan mengatakan sebagaimana Alloh I  mengatakan tentang khomr dan judi:

+ يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا _ [البقرة/219]

“ Mereka bertanya kepadamu tentang khomr dan judi , jawablah : bahwa didalam keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia , akan tetapi dosa yang terkandung didalamnya lebih besar daripada manfaatnya”.

Bahkah boleh dikatakan bahwa satu saja dari madhorrot-madhorrot yang tersebut di atas tidak bisa ditebus dengan manfaat besar yang diduga ada dalam yayasan, karena asal-usulnya saja sudah muhdats dan perkara muhdats itu sebagai penghambat terkabulnya amalan, belum lagi kabair–kabair lainnya seperti tasawwul dan tasyabbuh, itu semakin membuat sirnanya faedah yang terkandung didalam yayasan.

Dari situ jelaslah kesalahan fatal ucapan Askari dalam judul makalahnya: ”Mendulang Berkah dengan membuat yayasan salafiyah” , barokah apa yang bisa didulang dari perkara bid`ah dan salah lagi penuh maksiat dan sejak kapan ada yayasan salafiyyah ?? sahabat siapa ? tabi`in siapa ?? imam mujtahid siapa ?? pada tahun berapa mereka memulainya ?? Hati-hati wahai ustadz menisbatkan kepada salaf hal  yang tidak ada pada mereka.

` Anggapan mereka bahwa yayasan menjadikan dakwah kita kuat dari rongrongan orang luar yang ingin menghancurkan dakwah karena telah memiliki hukum kuat  di pemerintahan.

Bantahannya  : Telah lalu jawabannya pada soal pertama, dan sebagai  tambahan dari apa yang telah lewat, bahwa itu sama sekali tidak menjamin keutuhan dakwah karena kemaksiatan tidak akan menjadikan keadaan aman dan tentram bahkan menjadikan kondisi runyam, taruhlah sekarang pemerintah mengidzinkan yayasan tersebut berdiri karena sedang mencocoki kemauan mereka yang bertentangan dengan syariat, akan tetapi tidak menutup kemungkinan keadaan akan berbalik karena aturan mereka telah berubah atau ada salah satu sebab yang membuat pemerintah berang kepada yayasan tersebut dan dengan mudahnya pemerintah akan menutupnya dan memblokirnya karena merasa memiliki kuasa, atau kalau tidak ya mengancamnya dengan ancaman dan memberi tambahan syarat sehingga dakwah lewat yayasan ini menjadi sangat hina dan tak memiliki `izzah, lain halnya dengan dakwah yang tidak terikat dengan aturan–aturan manusia bahkan semua perkaranya dipasrahkan keapada Alloh dan dikembalikan permasalahannya kepada kitab dan sunnah maka akan terhindar dari tekanan-tekanan aturan mereka, dan Alloh yang akan menjaganya, kalau toh terjadi sesuatu pada dirinya semua dikembalikan kepada Alloh dengan tanpa menambah dosa dan hina.

Kalau negara saja bisa hancur kapan saja Alloh menghendaki, apalagi sekedar yayasan yang berlindung pada Negara. Kalau memang dakwah kalian adalah Salafiyyah, ikutilah salaf dengan murni dan konsekuen, baik dari segi metodenya, maupun dari pemurnian tawakkal dan berlindung pada Alloh Al ‘Azizul Qohhar.

` Anggapan mereka bahwa yayasan memberi kemudahan untuk peningkatan para pelajar ke jenjang yang lebih tinggi karena sekarang tidak bisa belajar ke jami`ah (Perguruan Tinggi) atau belajar keluar negri kecuali kalau di bawah naungan suatu lembaga seperti yayasan.

Jawabannya : ini alasan yang tidak memiliki bobot ilmiyah salafiyah, dan bukti yang paling kuat adalah betapa banyak mereka diberi ilmu oleh Alloh dan berbarokah ilmunya tanpa melewati model yayasan,  atau jam’iyyah, atau jami`ah, bahkan ilmu mereka lebih mumpuni dan mendapat kepercayaan lebih dari ummat daripada yang melewati model yayasan, karena dia langsung dididik oleh seorang yang syaikh tanpa campur tangan dari pemerintah. Dan lebih berbarokah karena jauh dari kungkungan muhdatsat, maksiat dan tasyabbuhat atau yang lain, dan juga karena belajarnya benar-benar  karena mengharap wajah Alloh semata  dan ilmu yang bermanfaat, sementara mereka yang belajar lewat model yayasan, kebanyakan karena adanya tujuan duniawi yang menyertainya baik itu ijazah atau pangkat atau masa depan yang cerah, di mana sekembalinya dia dari menuntut ilmu sudah disiapkan area oleh yayasan.

Adapun alasan bahwa dengan yayasan memudahkan para pelajar untuk meningkatkan keilmuannya dengan rihlah ke luar negri maka itu adalah alasan yang dibuat-buat , buktinya Dammaj, tidak ada syarat-syarat yang mereka sebutkan dan sangat mudah sekali untuk sampai ke sana, asalkan dia itu sunni beradab dan semangat belajar maka silakan datang bagi yang mampu tidak perlu lewat yayasan atau yang sejenisnya.

` Alasan mereka : Kami mendirikannya karena adanya fatwa dari para ulama dan juga ada sebagian ulama yang memiliki yayasan.

Jawabannya : Alloh I berfirman :

+ اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ _ [الأعراف/3]

« Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian oleh Rob kalian dan janganlah mengikuti dari selainnya sebagai para wali (yang di ikuti). »

Dan Rosululloh r bersabda :

ليس أحد إلا يؤخذ من قوله ويترك، إلا النبي صلى الله عليه وسلم.

” Tidaklah seorangpun diambil dan ditinggalkan perkataannya kecuali Rosululloh . ( Hadits Shohih secara marfu kepada Nabi dari Ibnu ‘Abbas diriwayatkan oleh Thabrani di Mu’jamil Kabir (1/33 ), dari jalan Ibnu Dinaar dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas marfu’an dari Nabi ﷺ . Dan dari perkataan Mujahid di Hilyatul Auliya’ (2/31 ))

Dan bukankah ulama juga diperintahkan mengikuti dalil, dan mereka bukan ma`shum suatu saat benar dan pada saat lain keliru.

Dan juga fatwa yang mereka sampaikan adalah sebatas pertanyaan yang terlihat dan terpahami pada dhohirnya, adapun pada hakekat sebenarnya bisa jadi tidak sesuai dengan apa yang di tanyakan, contohnya saja dalam masalah yang sedang kita bahas, adakah si penanya menyebutkan secara rinci yayasan yang ditanyakan, baik dari sisi madhorrot atau manfaat, dan sudahkah ulama yang ditanya diberitahu  gambaran kegiatan yang dilakukan oleh yayasan dengan rinci , atau AD/ART nya, agar membuahkan jawaban yang seeuai dengan syari`at ???

Kami yakin kalau mereka mengetahui secara pasti sepak terjang yang dilakukan yayasan atau akibat yang terlahir darinya dan kemaksiatan yang muncul darinya tentu tidak akan jauh fatwanya dengan jawaban ulama yang melarangnya .

Adapun alasan mereka bahwa ada ulama yang memiliki yayasan maka jawabannya adalah : perbuatan seseorang selain nabi bukanlah hujjah yang kuat kalau munculnya dari ijtihad mereka karena perbuatan mereka harus ditinjau pada dalilnya bukan dalil yang harus menyesuaikan ulama.

Lagi pula kita sangat husnuzhzhon kepada mereka (kalau ada yang memiliki yayasan) bahwa sistim kerjanya dilakukan dengan bimbingan ilmu mereka  yang memadai, walaupun bukan suatu hal yang tabu kalau mereka bisa dan mungkin tergelincir dari jalan yang benar walaupun tetap mendapatkan satu pahala atas ijtihadnya, adapun para pengurus yayasan yang ada sekarang adalah seperti yang telah lewat dalam pembahasan yakni orang yang sangat minim dalam ilmu dien atau mereka yang masih banyak terpengaruh dengan ilmu lamanya sebelum mengikuti pemaham salaf, sehingga tidak ragu lagi bahwa aturan dan metode kerjanya sangat berlawanan dengan tatanan syariat yang benar.

(lihat lebih rinci dalam kitab : “Al Jam`iyaat Harokaat Bila barokat” karya : Abul Husain Muhammad Al – Jaawy yang insya Alloh akan segera terbit)

SOLUSI

` Kalau memang dakwah dengan memakai yayasan tidak ada salafnya bakan terlalu banyak salahnya lantas bagaiman mereka berdakwah, dan apa solusinya ketika kita membutuhkan terwujudnya suatu pondok umpanya atau majlis ta`lim secara umum ??

Adapun metode dakwah salaf adalah sangat sederhana sekali yaitu menyampaikan ilmu yang dia kuasai kepada yang menginginkannya dengan ikhlash tanpa menarik upah, tanpa ikatan dinas tanpa pamrih tanpa harapan terkenal tanpa mengorbankan kemuliaan diri di hadapan pemerintah.

Yang mereka inginkan adalah agar semua manusia bisa beribadah kepada Alloh dengan benar dan terhindar dari kesesatan.

` Adapun solusi dari masalah yayasan dan semua masalah adalah firman Alloh  I :

+ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا _ [الطلاق/2، 3]

Dan firman Alloh I :

+ فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُم_ [التغابن/16]

` Ajari manusia semampu kita, karena tidak harus memiliki pondok atau harus memiliki masjid sendiri, kalau memang diberi kemampuan oleh Alloh untuk memilikinya tanpa ini dan itu maka banyak bersyukurlah, dan kalau memang tidak diberi kemampuan maka teruslah berdakwah dengan sarana yang telah Alloh mudahkan seperti lewat tulisan, lewat surat menyurat, lewat kaset, lewat telpon lewat internet dst yang tidak menyelisihi syariat.

Mulailah dalam dakwah dari keluarga kita terlebih dahulu, anak, istri, bapak, ibu, kakak, adik, dan semua keluarga dekat atau jauh, kemudian beranjak ke tetangga dan masyarakat sekeliling kita dan kepada siapa saja bisa didakwahi .

` Ajari mereka di masjid kalau memungkinkan, kalau tidak ya di manapun tempat bisa berdakwah, di rumah, di kebun, di ladang, di sawah, di lapangan, di pinggir jalan, di rumah sakit, di mobil , di pasar, kalau ada yang berziarah ke rumah, kalau ada hubungan dagang atau lainnya, yang jelas di manapun ada kesempatan dan memungkinkan untuk menyampaikan ilmu maka sampaikanlah dengan penuh hikmah dan rohmah, dan jangan sering memutus pelajaran.

Ajari mereka tauhid, aqidah shohihah, kitabulloh dan sunnah, didik mereka dengan adab syar`i dan tatanan-tatanan dien hanief.

` Semangati mereka untuk menghafal Al-Qur`an, menghafal sunnah, memahami pelajaran, dan menyampaikannya bila telah mampu.

` Beri mereka contoh dalam beramal dengan sunnah dan ilmu, ajak mereka sholat berjamaah, menyebarkan salam, berpakaian secara syar`i, berbicara denga jujur dan benar, berakhlaq mulia, bersabar menghadapi ujian dengan terus memohon kepada Alloh taufiq dan hidayah-Nya.

` Jauhkan majlis kalian dari pembicaraan masalah dunia kecuali seperlunya, dan jangan sampai kamu menengadahkan muka dan tanganmu kepada harta mereka, jaga ‘izzahmu (kemuliaanmu) dengan iffah (penjagaan diri dari meminta-minta dsb).

` Hindari penyebutan perkara wanita dan yang menjurus ke sana kecuali dalam batasan ilmu, hindari menyebutkan masalah pemerintah yang mengarah kepada huru-hara .

` Tegakkan amar ma`ruf nahi mungkar dengan penuh hikmah dan ketegasan di majlis kalian, dan banyak dzikrulloh dan sholawat kepada nabi r agar barokah, sakinah dan malaikat rohmah turun di majlis.

` Jauhi sekuat mungkin bermujalasah dengan ahli bid`ah, hizbi, ahlul maksiat, ahlu dunia, para pengangguran, penguasa, dan orang-orang yang tidak mementingkan perkara dien karena mereka adalah teman duduk yang bisa membuat penyakit hati.

` Banyak berdoa kepada Alloh untuk keselamatan dienmu, dan keluargamu, untuk hidayah mad`umu dan kokohnya mereka dalam dien, banyak bertobat atas dosa-dosamu dan kesalahan–kesalahanmu.

` Jangan merasa gengsi untuk rujuk dari kesalahan atau mengatakan secara jujur kalau tidak menguasai suatu masalah dengan mengatakan «Allohu A`lam»  atau «aku tidak tahu» , atau «aku tidak paham» karena itu semua adalah menunjukkan sifat  ketawadu`anmu.

` Jangan merasa bangga bila dakwahmu mendapat respont baik dari ummat, karena itu semua adalah karunia Alloh semata bukan karena kepandaian dan kehebatanmu dalam berdakwah, bahkan banyaklah bersyukur dan memuji Alloh atas nikmat ini.

` Dan jangan merasa sedih serta kecil hati apabila mereka tidak begitu menanggapi dakwahmu selama kamu berada di atas jalan yang lurus, karena Alloh tidak akan mensia-siakan usahamu, dan cukuplah pahala Alloh yang kamu raih, karena Alloh tidaklah meridhoi kecuali yang benar dan ikhlash bukan sekedar banyak pengikutnya, bahkan kalau ada yang mengikutimu walaupun beberapa gelintir tetapi mereka istiqomah di atas al-haq, kamu sungguh telah sukses dalam berdakwah, bahkan sekalipun yang berdakwah di atas al-haq tidak memiliki pengikut sama sekali dan dia bertemu Alloh dalam istiqomah sungguh telah beruntung.

` Dan  awas jangan mencari jalan pintas demi mencari paras dengan meninggalkan nash, karena mereka bila sampai mengikutimu dalam keadaan  lepas, bisa menyebabkanmu di akherat  menjadi orang yang nasibnya paling memelas.

` Ketahuilah bahwa dien ini milik Alloh dan Dialah yang akan menjaganya, maka pasrahkanlah segala perkaramu kepada-Nya dan jangan sampai terluputkan sedikitpun bergantung kepada-Nya.

Semoga solusi ini bisa memberi siraman hati dan menjadi pemacu untuk lebih berhati-hati dalam meniti jalan ilaahi. Wallohul muwaffiq.

/////


MAROJI’

 

Mukhatashor Al-Bayân Lihizbiyyatil ‘Adani ‘Abdirrohmân (Pengantar Syaikh Yahyâ Al-Hajûrî).

Mu’amaratul Kubrô ‘Alâ Markiz Dammâj, oleh Abul Basyâr ‘Abdul Ghonî.

Zajrul ‘Âwi Abdillôh bin Robî’ (Silisilah 1-3), oleh Asy-Syaikh Abu Hamzah Muhammad bin Husein Al-Amûdî.

Ruqyatul Mardhô min Hizbiyyati ‘Abdirrohmân Al-‘Adani, oleh Asy-Syaikh Abu Hamzah Muhammad bin Husein Al-Amûdî.

Al-Barâhîn Al-Jaliyyah fî Bayâni Ma ‘Inda Atbâ’i Abdirrohman minal Hizbiyyah, oleh Mu’âfa Al-Mighlâfîy

Luthfullôh bil Kholqi min Mujazafât Syaikh ‘Ubaid, oleh Asy-Syaikh An-Nâshih Al-Amîn Yahyâ Al-Hajûrî.

Kaset “Isyarâtuth Ta’kîd” (1-4), oleh Asy-Syaikh An-Nâshih Al-Amîn Yahyâ Al-Hajûrî.

Mâ Farqu Baina ‘Abdurrohmân wa Abul Hasan karya Abu ‘Abdirrohmân Shôlih bin ‘Abdul Qodir As-Sa’dî Al-‘Adanî.

Semua malzamah bisa didapat di Dammâj, juga dapat diakses di situs http://www.aloloom.net dan harap bersabar dalam mengakses, agar tidak terburu-buru memvonis di situs http://www.aloloom.net tidak ada burhân dan bayân sebagaimana pernah disampaikan salah seorang dâ’i yang terkena syubhat hizbi baru ini. Wallahul Musta’an.

 


 

 

 

PENUTUP

Demikianlah apa-apa yang Alloh Ta’ala mudahkan bagi kami untuk menyusun buku ini.Tak lupa di akhir buku ini kami lampirkan beberapa kesaksian thullabul ilmi al afadhil terhadap perkara ini. Semoga apa yang kami susun cukup bagi salafiyun untuk membentengi diri dari fitnah hizbiyyah baru ini.Hasbunallah wa ni’mal wakil

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Hal ini tak boleh ditutup-tutupi lagi, mengingat kuatnya para hizbiyyun dalam menyandarkan diri dengan fatwa-fatwanya untuk menyerang Darul Hadits Dammaj dan Asy-Syaikh Yahya – hafidzahulloh -. Akan datang penyebutannya insya Alloh. Asy-Syaikh Yahya hafizhohulloh menghukuminya sebagai orang yang telah menyimpang, dan melarang thullab dari menghadiri majelisnya. Dan Asy-Syaikh Yahya, siapa beliau? Asy-Syaikh Muhammad Al-Imâm berkata : “Tidaklah pantas untuk melakukan Jarh wa Ta’dil di zaman ini kecuali Asy-Syaikh Robî’ dan Asy-Syaikh Yahyâ”

[2] Yang merancang makar terhadap dakwah Salafiyyah di Yaman, seusai fitnah Abul Hasan Al Mishri.

[3] Lihat semua permasalahan ini dalam Mukhtashor Al-bayân hal. 12-38.

[4] Lihat Muhtashor Al-Bayân 69-70.

(1) Akan tetapi bagi anak-anak yang di bawah umur diharuskan adanya wali seperti orang tua, kakak, paman atau siapapun yang mampu untuk bertanggung jawab terhadap anak tersebut.

(1) Ini semua sebagai bantahan atas kecerobohan Luqman yang  menuduh bahwa Syaikh Yahya mendiskreditkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab An – Najdi.

(1)  Ada perkara yang menggelikan dalam masalah ini, sebagian mereka telah mengumumkan bahwa telah dibuka  pendaftaran TN dengan syarat ini dan itu, dan di antara apa yang tertulis di proposal tersebut adalah : Dan pondok ini siap menerima ustadzah dengan syarat lulusan ini dan itu, belum menikah dan siap di tempatkan di asrama putri . Ya subhanalloh di mana nilai ilmu dan ahlinya dan di mana nilai sunnah yang mereka gembar-gemborkan ???

[5]  Nama kabilah Al-Imam Al-Wadi’y -rahimahulloh- adalah Wadi’ah. Dan nama kabilah bapak Presiden adalah Hasyid. Dan kedua kabilah ini bertemu di dalam kabilah besar Hamdan (faidah dari Sulaiman Al Ambony – hafidzahulloh -)

[6] Adapun secara resmi, maka Asy Syaikh Yahya – hafidzahulloh – mengatakan, “Tiada perang fisik antara kami dan orang Syi’ah –mengingat besarnya fitnah mereka-, namun kami akan menjaga perbatasan kami. Jika mereka coba-coba masuk ke wilayah kami, maka akan kami sikat.” demikian kurang lebihnya ucapan beliau. Dan pemerintah sangat membantu beliau dalam mengamankan wilayah ini, karena memang para pemberontak Syi’ah sangat bernafsu untuk menghabisi Ahlussunnah, terutama yang di markiz induk Dammaj. (catatan dari Abu Fairuz Al-Indonesy ‘afallohu ‘anhu)

(1)  Pada kesempatan itu salah seorang dari delegasi tak sadar minum dengan tangan kiri, maka Syaikh Yahya langsung menyuruh kami untuk mengingatkannya dengan lembut bahwa rosululloh r melarang makan dan minum dengan tangan kiri, maka kami sampaikan teguran Syaikh kepada dia, dia tersadarkan diri dan berterima kasih atas tegurannya, dan sejak itu dia selalu ingat akan teguran Syaikh, sehingga ketika datang kedua kalinya dia tidak lagi berbuat kekeliruan bahkan mengingatkan rekan-rekannya untuk berhati-hati.

(1)            Kalau ada yang bertanya , dari mana  Dârul Hadîts Dammâj , memperoleh dana yang sangat besar untuk membiayai semua thullaab, padahal tidak memiliki yayasan penggalian dana atau donatur tetap atau memiliki usaha ??? Jawabnya adalah firman Alloh taa`la:  + وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ_ [الذاريات/22]Dan di langit rizkimu dan apa yang dijanjikan untuk kalian. Dan kami sering bertanya kepada Asy-Syaikh Ahmad Al-Wushobi -hafizhohulloh- imam masjid  Dârul Hadîts Dammâj apa yang beliau lakukan apabila dana pondok sedang menipis atau kosong sama sekali , apakah menghubungi pedagang, atau mengontak donatur atau usaha apa yang bisa mendatangkan dana ??? semua itu beliau jawab dengan : « tidak » ,kami katakan : terus bagaimana ?? beliau menjawab : Alloh yang menjamin rezki mereka.

Ini adalah jawaban orang yang benar-benar memiliki tawakkal yang sangat tinggi dan jawaban orang yang memiliki ilmu, karena memang Al-Imam Muqbil رحمه الله  telah menanamkan rasa tawakkal yang tinggi dan `iffah kepada murid-muridnya, dan mengajari mereka untuk menjaga kemurnian da`wah dan kemuliaannya  dengan tidak merendahkan diri mereka di hadapan ahli dunia, dan ini pula yang kami dapatkan dari kholifah beliau As-Syaikh Yahya, namun sangat disayangkan banyak di antara ikhwah kita -baik yang sudah terjun di medan da`wah atau yang masih menimba ilmu di Dârul Hadîts Dammâj-  tidak  bisa mengambil pelajaran yang sangat berharga ini dengan berbagai alasan yang tidak sepantasnya untuk dijadikan alasan bagi yang telah mengenyam ilmu dien terutama mereka yang telah mereguk segar dan jernihnya mata air ilmu Dârul Hadîts Dammâj. Wallohulmusta`an.

[7] Surat (16) An-Nahl ayat 53.

(1)  قال بعض الإخوة : القرضاوي كالجمعية حركة بلا بركة.

[8] Telah banyak kalimatul kufr yang terlontar dari mulutnya dan diajarkannya, hingga dikafirkan oleh Imam Ibnu ‘Utsaimin -rohimahulloh-.

[9] Surat (8) Al-Anfal ayat 29.

[10] Surat (57) Al-Hadîd ayat 57

[11] Dinukil dari “Asy-Syaikh Yahyâ fi suthûr wa makânitihi ‘inda imâm wâdi’I” hal 4.

[12] ucapan ini disampaikan oleh Asy-Syaikh Abu Hammâm Al-Baidhôni kepada Al-Akh Abu Bilâl Al-Hadromî melalui telepon. dan kasetnya ada di maktabah as-salafiyyah di Al-Hâmî. dan jawaban Asy-Syaikh Robî ini terjadi beberapa bulan lalu pada tahun ini (1428 H)

[13] Nukilan dari “Inbâ‘il Fudhola”, Sa’îd bin Da’âs Al-Yâfi’î -hafizhohulloh- .

[14] Berita ini dari Al-Akh Anis Al-Hadhromî dari Abdul Hakîm Ar-Roimî dan Abu Hammâm Al-Baidhônî dari Al-Imâm Robî’ bin Hâdî Al-Madkholî -hafidhohumullôh-.

[15] Berita ini dari Al-Akh Anis Al-Hadhromî dari Abdul Hakîm Ar-Roimî dan Abu Hammâm Al-Baidhônî dari Al-Imâm Robî’ bin Hâdî Al-Madkholî –hafidhohumullôh. Dan juga dari Asy-Syaikh Yahyâ -hafidhohullôh-  saat menjawab soal dari ahlul Baidho’ sempat menukilkan perkataan Asy-Syaikh Robi’ -hafidhohullôh-di atas)

[16] sebagaimana dinukilkan dari http://www.aloloom.net

[17] Dinukil dari risâlah, “madzâ yanqimûna yahyâ” hal. 6

[18] Dinukil dari “asy-syaikh yahyâ fi suthur wa makânitihi ‘inda imam wadi’î” hal 5.

[19] Dinukil dari “Muammarotul Kubrô” Abdul Ghôni Al-Qo’syâmî, hal. 24.

[20] Dinukil dari kaset “jilsah ashâbul qushôi’ar” dan kasetnya ada di tasjilat Dârul Âtsâr Dammâj Yaman.

[21] Dinukil dari kaset “jilsah ashâbul qushôi’ar” dan kasetnya ada di tasjilat Dârul Âtsâr Dammâj Yaman.

[22] Dinukil dari “Madza Yanqimûna Min Yahyâ karya Adnân Adz-Dzammari”, hal. 6, dan “Jalsah Ahli Qushôi’ar Ma‘asy Syaikh ‘Abdul ‘Azîz Al-Burôî ”, dan “Muammarotul Kubrô”, Abdul Ghôni Al-Qo’syâmî, hal. 24

[23] sebagaimana dalam kitâb “Al-fatâ Al jaliyah ‘anil manâhij ad da’awiyah.”

[24] Juga tercantum dalam “Muammarotul Kubro“ karya Abdul Ghônî Al-Qo’syâmi,hal. 24.

[25] Lihat “Mukhtashorul Bayân

[26]  Lihat “Al-Haqô’iq Waqi’iyyah” hal. 20 karya beliau -hafizhohulloh- .

[27] Fatwa ini ditanyakan kepada Asy-Syaikh Robî’ pada tanggal 25 Romadhôn 1424 H. Dinukil oleh Abu ‘Abdillâh Al-Madani, Khôlid bin Dhohawî Adh-Dhufairî)

Sumber : Sahab.net

[28]  Lihat http://www.aloloom.net, Majlis Ar-Rudud Al-‘Ilmiyyah,hal 9.

[29] Lihat http://www.aloloom.net, Majlis Ar-Rudud Al-‘Ilmiyyah,hal 6.

[30]Lihat Imbi’ats At-Tanabbuh, hal.74, Ini benar-benar terjadi sebagaimana yang telah tersebar di Internet dan lain-lain. Inilah yang digunakan hujjah oleh luqmân cs untuk menjatuhkan kredibilitas Dammâj dan para ‘ulamânya.

[31]  Lihat Nasehat ringkas Asy-Syaikh Ibnu Mani’.

[32]  Yang belajar dan menyertai beliau dengan setia lebih dari lima belas tahun lamanya (tambahan dari Abu Fairuz ‘afallohu ‘anhu)

[33]  Dia dulunya dipanggil oleh para pelajar asing dengan sebutan “Syaikh”. Dan telah terbongkar juga bahwasanya dirinya meminta-minta dana bantuan dari Su’udiyyah atas nama darul hadits Dammaj, lalu hasilnya dinikmati sendiri. Dan setelah itu semua terbongkar di depan umum, dan dia terusir, datanglah surat permohonan maaf darinya. Maka Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh- berkata,”Seluruh perkara yang terkait dengan diriku, sudah aku maafkan. Adapun yang terkait dengan dakwah, maka itu antara kamu dengan Alloh ta’ala.” (tambahan dari Abu Fairuz ‘afallohu ‘anhu)

[34] Shohih. Muslim dalam kitab Al-Iman (1/296/no.49) Abu Dawud dalam kitab Sholat (1/491/no.1140) Ibnu Majah dalam kitab Sholat (1/227/no.1275) An-Nasa’i dalam kitab Al-Iman wa Syaro’ihi (4/448/no.5024) At-Tirmidzi dalam kitab Al-Fitan (4/217/no.2172) Ahmad dalam Musnad (10/34/no.11015) Shohih Ibnu Hibban (no.306) Al-Baghowi dalam Syarhus Sunnah (14/349/no.4157).

[35] sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya, karangan beliau sudah mencapai lebih dari 70 buah buku. Bahkan pada 1429 H beliau menulis sebuah syarah yang bermutu pada bidang Mushtholah.

[36] Diriwayatkan oleh Imâm Ad-Dârimî: 307 dan Abdullah bin Ahmad di Zawâid Musnad: 1699 sanadnya shohîh sampai Al-Auza’î dari ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azîz.

[37] Lihat Mukhtashar Al-Bayân hal. 23

 ([38])Penyelisihan ‘Abdurrohmân dan teman-temannya terhadap manhaj Salaf:

a) Mereka berkeyakinan bahwa sebagian permasalahan kekinian tidak disyaratkan padanya pendahulu (Salaf).

b) Mereka membatasi rujukan hanya kepada Kibârul ‘ulamâ (dari segi ke’ilmuan dan umur).

c) Mereka memiliki manhaj yang luas (mencakup ahlussunnah dan ahlul bida’) dan tamyiî’ (membikin orang tidak kokoh pada satu prinsip) dan meruntuhkan manhaj Al-Walâ’ wal Barâ’ yang syar’i dan manhaj At-Tashfiyah (pemurnian).

d) Tuntutan mereka -para pengkhianat- kepada Salafiyiin untuk melakukan Tatsabbut  ala Hizbiyîn dan meruntuhkan kaidah menerima berita satu orang tsiqoh (terpercaya).

e) Mereka menganggap tidak sepantasnya -bagi Salafiyiin- memperbanyak manhaj kritik (tegur kesalahan).

f)  Anggapan mereka bahwa sikap keras terhadap Ahlul bid’ah sebagai penyelisihan terhadap manhaj Salaf.

g) Mereka mensyaratkan adanya ijmâ’ (kesepakatan seluruh para ‘ulamâ) atau adanya jumlah yang besar dalam menghukumi Ahlul Bâthil.

h) Mereka memiliki sikap keluar dari jalur yang dipertikaikan.

i)  Terlihatnya pada mereka sebagian ciri khas orang Hizbiyîn. Seperti :

  1. Adanya kotak infaq.
  2. Meminta-minta (proposal) dan Talasshush (korupsi) dan larut ke dalam dunia atas nama dakwah.
  3. Adanya pasar amal. Sifatnya: Diminta kepada para wanita untuk mendatangkan -ke pasar amal tersebut- makanan atau barang dagangan lainnya sebagai sedekah, kemudian barang-barang ini diletakkan di tempat khusus untuk wanita. Lalu  para wanita diajak untuk membeli barang-barang tersebut, kemudian untung hasil penjualan barang-barang tersebut disalurkan untuk proyek-proyek kebaikan seperti pembangunan ma’had khusus wanita dan yang semisalnya.Metode yang sedemikian rupa adalah metodenya orang-orang Ikhwanul Muslimiin. Metode yang seperti ini tidak pernah dikenal dikalangan Salaf. Wal Hâshil : ini adalah metode yang bid’ah . [Ini kesimpulan dari fatwa Syaikh Ahmad bin Yahyâ An-Najmî -rohimahullôh- dan Syaikh Shôlih Al- Fauzân -hafidhohullôh- juga menganjurkan untuk supaya meninggalkan metode (dagang) yang bid'ah ini !!. ]
  4.  Adanya ancang-ancang untuk menjalin hubungan dengan Jam’iyyah dan langkah-langkah menuju ke sana (membentuk Jam’iyyah)

Hubungan manis ‘Abdurrohmân dengan Hizbiyîn (orang-orang yang fanatik kepadanya).

Dia senantiasa bersama mereka baik ketika safar ataupun tidak, bahkan dia memuji-muji mereka. Padahal mereka-mereka itu adalah orang-orang yang mencela Dammâj dan Syaikh Yahyâ – hafidhohullôh-, bahkan Syaikh Robî’ -Hafidhohullôh- pun telah mentahdzîr dan menyatakan mereka sebagai fajaroh (para penjahat) dan menyampaikan pesan kepada Syaikh Yahyâ – hafidhohulloh- agar mengusir mereka dari Dammâj !!.

Perhatian : Kejadian-kejadian ini seluruhnya, sangatlah cukup untuk menghukumi Hizbiyah dan fitnah ‘Abdurrohmân Al-Adanî dan para pengikutnya!!! [ Lihat "Mukhtashorul Bayân"].

[39] Sanadnya Hasan. Ahmad dalam Musnad dengan tahqiq Hamzah Ahmad Az-Zain (11/141/no.13231) dikarenakan Muhammad bin Ja’far Al-Bazzaz Abu Ja’far Al-Mada’ini, dia diperbincangkan dan Muhammad bin Ishaq telah melakukan ‘An’anah.

Dan salah satu gembong ruwaibidhoh di Indonesia adalah Hizby baru  Luqman ba ‘Abduh –hadahulloh- yang telah digelari oleh Syaikh Yahya –hafidhohulloh- sebagai “Ja’far kedua, hanya saja Ja’far lebih pemberani dari dia !!!.

[40] Adapun buku yang diterbitkan oleh Al-Ghurobâ’ dengan judul “Nasehat Dan Teguran Guru Yang ‘Arif dan Bijak Terhadap Murid Yang Tidak Beradab Dalam Berucap Dan Bertindak” sebuah nasehat dari Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhâb Al-Wushôbiy adalah nasehat yang sudah berlalu sekitar 8 bulan yang lalu sekarang baru diterjemahkan, ini merupakan berita yang sudah kadaluarsa dan tidak sesuai dengan arahan Asy-Syaikh Robî’ yang beliau (Syaikh Robî’) tetap memuji Dârul Hadîts Dammâj beserta Asy-Syaikh Yahyâ dan Asy-Syaikh Robî’ menyatakan bahwa orang yang mencela Dârul Hadîts Dammâj adalah SHÔHIBUL HAWA (Pengekor Hawa Nafsu), apalagi nasehat Asy-Syaikh Al-Wushôbî sudah banyak tercampur komentar penerjemah.

Seluruh Masyâyikh Yaman telah menyalahkan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhâb Al-Wushôbî dan beliau sudah dinasehati oleh para ‘ulamâ Yaman sampai-sampai para ‘ulamâ Yaman datang ke Dammâj untuk memohon kepada Asy-Syaikh Yahyâ –hafidhohullôh- agar sudi mema’afkan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhâb Al-Wushôbî, akhirnya Asy-Syaikh Yahyâ pun mema’afkan, akan tetapi dengan syarat agar Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhâb Al-Wushôbî jangan ikut campur lagi dalam fitnah ‘Abdurromân Al-‘Adanî.

Sekarang Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhâb Al-Wushôbî titip salam untuk Asy-Syaikh Yahyâ dan ribuan murid-muridnya, dan ini disaksikan oleh orang-orang yang hadir dalam dars umum Asy-Syaikh Yahyâ. (tapi tidak lama kemudian berubah lagi dan semakin memburuk manhajnya. (tambahan dari Abu Fairuz))

Mereka mengambil berita orang-orang majhûl seperti : ‘Abdullôh bin Robî’, Abu ‘Abdil Wahhâb, ‘Ubaidillâh As-Salafî dan  sebagainya. (lihat Mukhtashor Al-Bayân hal.69) padahal berita orang-orang majhûl (kita tidak tahu) semuanya tertolak kecuali majhûlnya Shohâbat, karena mereka ‘udûl.

Sama dengan penerjemah “Nasehat Dan Teguran Guru Yang ‘Arif dan Bijak Terhadap Murid Yang Tidak Beradab Dalam Berucap Dan Bertindak” bernama Abu ‘Umar bin ‘Abdil Hamîd juga majhûl (kita tidak tahu) apakah dia shufî, syi’î atau hizbî, sehingga seluruh beritanya tertolak.

[41] Asy-Syaikh ‘Ubaid -hadââhulloh- telah tergelincir dalam beberapa permasalahan yang tidak sepele, di antaranya adalah:

a)     Ucapan beliau tentang Al-Jâmi’ah Al-Islâmiyah bahwasanya Jâmi’ah tersebut sekarang isinya adalah para Salafiyyîn kecuali segelintir orang saja. Dan beliau tetap bersikeras menyalahkan Asy-Syaikh Yahyâ yang menyatakan bahwasanya di Jâmi’ah Islâmiyah itu terdapat banyak orang-orang Hizbî. Dan telah kalian ketahui dan akui bahwa perkataan Asy-Syaikh Yahyâlah yang benar tanpa ada keraguan sedikitpun.

b)     Dan perkara lainnya adalah : pelecehannya terhadap Imâm besar Syu’bah bin Hajjâj.

c)     Dan yang ketiga : tuduhan keji terhadap orang yang mengatakan bahwa “Ahlus Sunnah Lebih dekat kepada al-haq daripada yang selainnya”, padahal perkataan ini adalah perkataan para muhaqqiqîn seperti Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyah dan Al-Imâm Ibnu Bâz dan Al ‘Allâmah Ibnu ‘Utsaimîn dan selain mereka yang -semoga Allôh merahmati mereka-, bukan hanya perkataan Asy-Syaikh Yahyâ semata. Akan tetapi, dia tetap saja mempertahankan pendiriannya, dan tetap memojokkan Asy-Syaikh Yahyâ demi untuk membela temannya (‘Abdurrohmân Al ‘Adanî)

d)  Perkara keempat yang lebih parah lagi adalah apa yang dia sebarkan baru-baru ini tentang anjuran dia kepada ahlussunnah untuk mengikuti pemilu dan menegaskan mereka agar ada yang duduk di pemerintahan dengan model itu.

Dan Syaikh Yahyâ telah membantahnya dengan bantahan yang cukup meyakinkan dan membuat dia tidak berkutik dan membungkamnya.

Demikian pula di antara yang membuat tidak berbobotnya perkataan Asy-Syaikh ‘Ubaid -hadâhullôh- dalam permasalah ini dikarenakan berita-berita yang sampai kepadanya penuh dengan kedustaan dan dibuat-buat yang datang dari sebagian para pendusta, sementara beliau menganggap berita-berita itu adalah benar, sehingga sampai menjerumuskannya kedalam beberapa penyelisihan dan kedustaan dan penentangan terhadap dakwah Salafiyah dan tidak mau mendengar nasehat para penasehat agar menjauhi perbuatan-perbuatan  tersebut ! .

Dan tak seorang ‘Ulamâ pun yang menyetujuinya dalam mentahdzîr  Dammâj.

[42] Shohîh. Al-Bukhori dalam kitâb “Al-‘Itishom bil kitâb was sunnah” (4/398/no.7280) Ahmad dalam “Musnad” (8/401/no.8713).

(1)  Seperti yang di propagandakan sang hizibi Luqman ketika mendoktrin mangsanya, padahal selama kami di Dammaj sejak meninggalnya Syaikh Muqbil belum pernah mendengar masalah itu, bahkan yang kami dengar adalah sebaliknya, seperti ketika beliau membaca kisah terbunuhnya Utsman ت  dari kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah, di situ disebutkan bahwa di antara yang masuk ke rumah `Utsman adalah `Abdurrohman bin Abi Bakr putra Abu Bakr dari Asma` binti  `Umais sahabat kecil yang lahir pada tahun Haji Wada` , namun dia tidak ikut andil karena malu terhadap `Utsman setelah adanya teguran darinya maka diapun keluar mengurungkan niatnya.

Dan baru beberapa pekan Syaikh Yahya  ada yang bertanya kepada beliau di dars umum berkaitan dengan tuduhan mereka dalam masalah ini maka beliau menegaskan bahwa beliau berlepas diri dari tuduhan tersebut bahkan beliau menyebutkan keutamaan – keutamaan shohabat dengan rinci, maka kalau memang tuduhan mereka benar (padahal tidak) maka ungkapan beliau yang terakhir ini merupakan penghapus apa yang diisukan sebelumnya, dan tidak tepat kalau perkaranya diangkat kembali.

[43] Shohihain. Al-Bukhori dalam kitab “Adab” (4/131/no.6133) Muslim dalam kitab “Az-Zuhd wa Ar-Roqiq” (no.2998) Abu Dawud dalam “Adab” (4/2075/no.4862) Al-Baghowi dalam “Syarhus Sunnah” (13/87-88/no.3507) semuanya dari jalur Az-Zuhriy dari Sa’id bin Al-Musayyib dari Abu Huroiroh secara Marfu’.

[44]Diriwayatkan oleh Al-Bukhôrî dalam kitab Adab, atas hadits no.6133.

[45] Dari shohabat Abû Huroiroh riwayat Al-Imam Abû Dâwud (no.4811) Al-Bukhôrî dalam Âdabul mufrod (no.218) Silsilah Al-Ahâdîts Ash-Shohîhah no.416

[46]  Hadîts Qudsi riwayat Al-Bukhôrî (no.2502) Abu Nu’aim dalam “Al-Hilyah” (1/4) Al-Baihaqi dalam “Az-Zuhd” (no.690) dalam sunan (3/346) Al-Baghowi dalam “Syarhus Sunnah” (no.1248) dari shohabat Abû Huroiroh.

[47] Shohihain. Hadits ini dikeluarkan dari beberapa Shohâbat, di antaranya adalah Mu’âwiyah bin Abî Sufyân, Abû Huroiroh, Ibnu ‘Abbâs, ‘Umar bin Al-Khoththôb.

a) Hadits Mu’âwiyah diriwayatkan oleh Al-Imâm Al-Bukhôrî (1/32/no.71) Muslim (4/137/no.1037) Ibnu Mâjah (1/56/no.221) Ad-Dârimî (1/70/no.224) Ibnu Hibbân (no.89) Ath-Thohâwî dalam “Al-Musykil” (2/278) Al-Baghowî dalam “Syarhus Sunnah” (1/284/no.131) Shohîh Jîmi’ Bayân Al-‘Ilmu wa Fadhlih (1/25/no.39) Mâlik dalam Al-Muwaththo’ (1/395/no.1611) Ath-Thobarônî dalam “Al-Kabîr” (no.782) Ahmad (13/177/no.16780) sanad dalam riwayat Ahmad hasan dikarenakan Ma’bad bin Khôlid Al-Juhhanî, dia shodûq akan tetapi Qodariy dan dikatakan juga bahwasanya dia orang yang pertama kali berbicara tentang Qodr di Bashroh.

b) Hadits Abû Huroiroh diriwayatkan oleh Ibnu Mâjah (1/56/no.220) Shohîh Jâmi’ Bayân Al-‘Ilmu wa Fadhlih (1/25/no.37) Ahmad dalam “Musnad” (7/41/no.7193) Ath-Thobarôni dalam “As-Shoghîr” (no.167).

c) Hadits ‘Abdullôh bin ‘Abbâs diriwayatkan oleh At-Tirmidzî (4/453/no.2645) Ahmad dalam “Musnad” (3/241/no.2791) Ad-Dârimî (1/70/no.225) Al-Baghowî dalam “Syarhus Sunnah” (1/285/no.131)

d) Hadits ‘Umar bin Al-Khoththôb diriwayatkan oleh Ath-Thohâwî dalam “Al-Musykil” (2/281) Shohîh Jâmi’ Bayân Al-‘Ilmu wa Fadhlih (1/25/no.36)

[48]Lihat “Majmû’ Fatâwâ Ibnu Taimiyyah” jilid 3 hal. 198

[49] Muqoddimah kitâb “Al-Jum’ah wa Bida’uha” hal.7, karya Fadhilatusy Syaikh An-Nâshihul Amîn Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî –hafidhohullôh-)

[50] Beliau adalah Muhammad bin Idrîs bin Al-Mundzir bin Dâwud At-Tamîmî Al-Handholî Abu Hâtim Ar-Rôzî, salah satu dari Aimmah Huffadh. Beliau dilahirkan pada tahun 195 H, beliau mulai menulis hadîts pada tahun 209 H, kemudian beliau rihlah untuk mencari hadîts di ‘Irôq, Syam dan Mesir. kemudian beliau meninggal pada bulan Sya’bân 277 H.

[51] Aqîdatus Salaf Ashâbil Hadîts, Ash-Shobunî, no. 167.

[52]  Beliau adalah Ahmad bin Sinân bin Asad Al-Wâshithî Al-Hâfidh Al-Hujjah Abû Ja’far Al-Wâshithî, berkata Abû Hâtim: Tsiqoh dan terpercaya dan berkata ‘Abdurrohmân bin Abû Hâtim: beliau Imâm di zamannya.

[53]  Aqîdatus Salaf Ashâbil Hadîts, Ash-Shobunî, no. 163.

[54] Beliau adalah Al-Ustadz Abû Hâzim Muhsin bin Muhammad Bashorî, Pengasuh Ma’had ‘Ittibâ’us Sunnah Magetan, salah satu murid dari Asy-Syaikh Muqbil Al-Wâd’î dan Asy-Syaikh Yahyâ Al-Hajûrî, beliau belajar di Dammâj lebih dari 9 tahun dan menjadi Muadzin di Dammâj bersama Al-Ustâdz Abû Turôb, beliau telah menguasai ‘ilmu Qirô’ah Sab’ah dan telah hafal Al-Qur’ân, Riyâdhus Shôlihîn, ‘Umdatul Ahkâm. [Ath-Thobaqôt : 736]

[55] “Majmû’ Fatâwâ Syaikhul Islâm” jilid 2 hal. 72.

[56] Hadîts ini diriwayatkan oleh Abûwud (4/1823/no.4263) lihat Ash-Shohîhul Musnad (2/197/no.1140) dan Asy-Syaikh Muqbil berkata : Hadits Hasan Atas Syarat Muslim, dan berkata Asy-Syaikh Al-Albânî : Sanad Ini Shohîh atas Syarat Muslim. Ash-Shohîhah (2/667/no.975) : riwayat Abul Qôsim Al-Hannâ’î (1/82) dan dari ‘Abdullôh riwayat Ath-Thobarônî “Mu’jam Al-Kabîr” (20/252-253) dan darinya (‘Abdullôh) riwayat Abu Nu’aim dalam “Al-Hilyah” (1/175)

[57]  Silakan lihat permasalahan ini pada malzamah “Mâ Farqu Baina ‘Abdurrohmân wa Abul Hasan” karya Abu ‘Abdirrohmân Shôlih bin ‘Abdul Qôdir As-Sa’dî Al-‘Adanî.

[58]  Ini benar-benar terjadi sebagaimana yang telah tersebar di Internet dan lain-lain.

[59] Tidak ada pengingkaran dari ‘Afîfuddîn tentang penghinaan Luqmân kepada Syaikh Yahyâ, padahal dia telah menimba ‘ilmunya kurang lebih 4 tahun.

[60]  Padahal dalam tulisan itu ada Asy-Syaikh Abu Abdissalâm Hasan Ibn Qôshim Ar-Roimî, Asy-Syaikh Ahmad ‘Utsmân Al- ‘Adanî, Asy-Syaikh Yâsir Ad-Duba’î, Asy-Syaikh Muhammad Mâni’, Asy-Syaikh Ma’mar Al-Qodasî, Asy-Syaikh Jamîl As-Shilwî, Asy-Syaikh Ahmad Al- Wushôbî. (Catt. Abu Hazim)

[61]  Shohîhain. Al-Bukhôrî (no.67) Muslim (no.2699) dari Abû Bakroh.

[62] HR. Muslim (no.2588)

[63]  Telah diperiksa dan dikoreksi langsung oleh Abû Fairûz.

[64] Hadits diriwayatkan oleh Al-Bukhô (3/25/no.3733) Muslim (6/201/1688) Abû Dâwud (4/1870/no.4373) An-Nasâî dalam “Al-Kubrô” (no.7382) At-Tirmidzî (no.2547) Ibnu Mâjah, Ahmad (6/162) Ad-Dârimî (2/173) Al-Baihaqî (8/442) Al-Baghowî dalam “Syarhus Sunnah” (no.2603) Abdur Rozzâq (10/201) Ibnu Abî Syaibah (6/462) :

إنماَ هَلَكَ الَّذِيْنَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيْهِمْ الشَّرِيف تَرَكُوهُ؛ وَإِذَا سَرقَ فِيْهِمْ الضَّعِيْف أَقَامُوا عَلَيْهِ الحَدّ؛ وايم اللهِ لَو كَانَتْ فَاطِمَة بِنْتَ مُحَمَّد سَرَقَتْ لَقَطَعَتْ يَدَهَا

[65]Shohih. Riwayat Al-Bukhori, Muslim.

[66]  Hadits riwayat Al-Bukhôrî dalam “kitab Al-Fitan” (no.7099) dari Abû Bakroh.

[67] Shohîhain. Diriwayatkan oleh Al-Imâm Al-Bukhôrî “kitâb Ghusli” (no.278) Muslim dalam kitâb “Al-Haidh” (no.339)

[68] Shohihain. Al-Bukhori dalam shohihnya kitab Al-Anbiya’ (no.3436) dalam Adabul Mufrod (no.33/shohih no.25) Muslim dalam kitab Al-Birr wa Shilah (no.2550)

[69] Padahal Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh-  berkata tentang Abu Salman: “Orang ini punya syubuhat” Kalimat ini di ucapkan syaikh Yahya dihadapan banyak orang di ruang tamu ba`da Asyar ketika mendamaikan antara Abdurrohman DK dan Anwar Al-Ambony , disaksikan oleh semua yang hadir dari kedua belah pihak diantaranya adalah Muhammad bin Umar,Anwar . Juga berkata -hafizhohulloh-,”Abu Salman itu hatinya dingin. Bagaimana dia bisa diam saja padahal tahu adanya serangan-serangan Luqman yang seperti itu, mungkin kalau di Indonesia dia sudah terfitnah .” Ucapan ini beliau ucapkan diruang perpustakaan beliau ba`da dars Subul. Saksi : Abu Turob.

[70] Maka runtuhlah makar orang-orang yang mencela Asy-Syaikh Yahya berdasarkan arahan Asy-Syaikh Robi’ sebagaimana yang tercantum dalam buku “Nasehat dan Teguran”

[71] Al-Mausu’at Al-Muyassarah fi Al-Adyan wa Al-Madzahib wa Al-Ahzab Al-Mu’asharah, terbitan An-Nadwah Al-‘Alamiyyah li Asy-Syabab Al-Islamiyyah (juz 2 hal. 1048).

[72] Syaikhuna Al-‘Allamah Abu Abdurrahman Yahya bin Ali Al-Hajury telah ditanya tentang masalah ini. Si penanya berkata: “Kami mempunyai yayasan yang dibangun untuk menopang dakwah. Setelah kami tahu bahwa hal itu bid’ah, kami ingin mengingkarinya, tetapi kami berbeda pendapat tentang metode dalam mengingkari kemungkaran tersebut. Sebagian dari kami berkata: “Kita tangguhkan perkara ini sampai kita mempelajari bagaimana cara mengingkarinya dan mempelajari metode dakwah. Kemudian bila kita sudah kembali ke negeri kita, akan kita dakwahi mereka dengan cara yang paling baik.” Yang lainnya berkata: “Menunda penjelasan pada saat diperlukan hukumnya haram, bahkan sebaliknya kita harus mengirimkan kepada mereka kaset-kaset, risalah-risalah dan perkataan para ulama’, karena kita tidak tahu kapan datangnya maut yang dengannya putuslah kesempatan.” Kami mohon ditunjukkan mana cara yang paling tepat.” Dijawab oleh beliau –hafidhahullah-: “Apabila kalian telah mengetahui kemungkaran-kemungkaran padanya yang berkaitan dengan syari’ah, maka ingkarilah itu sebelum kepulangan kalian atau setelahnya. Lafadz mu’assasah adalah lafadz yang umum, terkadang berarti persekutuan mereka namakan perserikatan, karena didirikan dari para serikat. Tetapi penggunaan kata mu’assasah untuk da’wah bid’ah, tidak ada pada zaman dahulu mu’assasah Sufyan Ats-Tsauri, mu’assasah Ibnul Mubarak, mu’assasah fulan dan fulan, sama sekali. Mereka menamakannya dakwah, qaul, ra’yu, madrasah ahli ra’yi, daar dan sebagainya. Ini (mu’assasah) adalah salah satu dari kalimat umum yang dimasukkan ke dalam dakwah. Mereka menamakannya mu’assasah, padahal yang mereka maksudnya adalah jam’iyyah. Mereka memaksudkan ini dan itu. Maka apabila kamu mendapati kemungkaran, ingkarilah dengan pengingkaran yang sesuai dengan syari’at selagi kalian ada di tempat tersebut atau setelah kalian pergi, untuk melepas tanggung jawab.

Oleh karena itu, Syaikh Muqbil rahimahullah menamakan ma’hadnya “Darul Hadits” dan tidak menamakannya “yayasan” sejak dulu, tidak pula “jam’iyyah” tetapi beliau menamakan “Darul Hadits” dan “Markazul Hadits” dan semisalnya. Mereka (para hizbiyyun) berusaha menarik ahlus sunnah kepada mereka walaupun dalam hal nama. Mereka berusaha menarik ahlus sunnah kepada mereka walaupun hanya dengan menggunakan kata-kata yang bermakna global, sehingga apabila kamu ingkari mereka, kamu katakan: “Pada kalian ada jam’iyyah.” Mereka akan menjawab: “Pada kalian ada yayasan, itu juga tergolong jam’iyyah. Yayasan adalah lembaga yang didirikan jam’iyyah juga demikian.” Hal yang seperti ini tidak benar. Apabila kalian mengungkapkan, ungkapkanlah dengan kata jam’iyyah, tinggalkan kata yayasan, kata yang terbuka dan luas maknanya. Kalau itu jam’iyyah katakanlah jam’iyyah, kalau syirkah berserikat di dalamnya orang-orang dalam jual beli mobil, toko, makanan kaleng dan semisalnya. Tidak apa kalau dinamakan yayasan atau dinamakan dengan lainnya, akan tetapi umumnya semua ini dinamakan jam’iyyah. Apabila mereka ingin menyamarkannya mereka katakan yayasan, padahal hakikatnya jam’iyyah. Mereka menginginkan dengannya untuk memperindah penampilan. Dahulu ada yayasan Al-Haramain dan itu adalah jam’iyyah. Mereka menamakannya yayasan, padahal hakikatnya jam’iyyah, hartanya disimpan di bank-bank dan padanya ada hal-hal yang telah diketahui bersama. Di banyak tempat, apabila gagal dalam hal jam’iyyah, mereka ganti nama yayasan, apabila nama yang sudah menjadi mungkar di kalangan manusia tidak membuahkan hasil, mereka mengatakan: “Ganti nama!” padahal tujuannya satu. (Fatwa ini direkam pada malam Senin tanggal 19 Ramadhan 1428H)

[73] Al-Mausu’ah Al-Muyassarah (juz 1 hal . 500).

[74] Manhaj Al-Madrasah Al-Aqliyyah.

[75] Jamaluddin dan Muhammad Abduh, keduanya berpaham Masuuny. Adapun Muhammad rasyid Ridha, dia tergelincir dari kebenaran, kitabnya “Al-Mannar” lebih dekat kepada kesalahan. Lihat “Tuhfatul Mujib” (hal. 211) dan “Al-Majruhiin ‘inda Al-Imam Al-Wadi’i” (hal. 64).

(1)  Qobishoh ت  berkata “Suatu ketika aku terbebani suatu tanggungan, kemudian aku pergi menemui Rasulullah meminta bantuan untuk menutupinya, maka beliaupun bersabda “Tinggallah dulu di sini sampai nanti datang shodaqoh, agar kami berikan untukmu“. dia berkata, kemudian Rasulullah bersabda lagi:  “Wahai Qobishoh, sesungguhnya meminta-minta itu tidak dihalalkan kecuali bagi salah satu di antara tiga orang:

Yang pertama: seseorang yang memiliki beban  yang sangat berat maka boleh baginya untuk meminta-minta sampai dia terbebaskan dari tanggungan tersebut, kemudian berhenti dari meminta-minta,

 Yang kedua: seseorang yang tertimpa mushibah besar sehingga mengakibatkan hartanya habis, maka boleh baginya meminta-minta sampai dia mampu menutupi kebutuhannya atau hajatnya,

Yang ketiga: seseorang yang tertimpa kefakiran dan disaksikan oleh tiga orang dari pembesar kaumnya maka boleh baginya meminta-minta, sampai tertutupi kebutuhannya, maka adapun yang selain mereka wahai Qobishoh adalah harom, dan yang melakukannya adalah memakan harta yang harom,” (hadits riwayat Muslim).

[76] Sampai-sampai kalian dan kita semua mempopulerkan kitab “Al Hujajul Qowiyyah ‘ala Anna Wasa’ilad da’wah Tauqifiyyah” karya Syaikh Abdul Karim bin barjas -rohimahulloh-, alhamdulillah.

7 comments
  1. sungguh indah cara pembelajaran yang dirintis syaikh muqbil, mengenyam ilmu seperti itu seperti zaman rasul saja ….

  2. Abu Utsman said:

    Bismillah,
    ALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘ALAMIIN
    Telah tampak Al Haq dan maka sirnalah kebatilan

  3. maman suryaman said:

    afwan…,bisa tidak ana minta no Tlp tulab yang ada di damaj atau alamat Emailnya, agar ana bisa berkonsultasi..,atau alamat markij ahlussunnah di Sudan,kalau bisa mohon kirim ke Email ana: yamansuryaman62@yahoo.com, atas kesediaan bantuannya jazaakallohu khoiron katsiro.

  4. maman suryaman said:

    afwan..,bisa tidak ana minta no Hp atau Email salah satu tulab yg ada di yaman agar ana bisa berkonsultasi,atau alamat markij ahlussunnah yg ada di Sudan, kalau bisa mohon kirim ke Email: yamansuryaman62@yahoo.com ,jazaakallohu khoiron katsiro..

  5. maman suryaman said:

    assalamu’alaikum warahmatullohi wabarakatuh, ya akhie…sebelumnya ana minta maaf bila ini kurang berkenan, Alhamdulillah ana sekarang bisa berada di Sudan untuk belajar bahasa Arob,sebagai persiapan sebelum memasuki bangku perkuliahan dan setelah persiapan bahasa Arob selesai ana akan memasuki perkuliahan syari’ah di jami’ah,sementara dalam hati ana tidak ingin belajar di Unniversitas, ana ingin sekali kedammaj untuk menimba ilmu dari para masyaikh yg ada di sana tapi tersiar kabar bahwa yaman sedang tidak aman, kalau akhie bersedia, ana mohon bantuannya bagaimana agar ana bisa berangkat ke dammaj dari negara Sudan dan bagaimana agar memperoleh visa dr kedutaan Yaman yg ada di Sudan,sebelumnya jazaakallohu khoiron katsiro…

    • Sa'iid Abu Ibrohiim said:

      wa’alaikum salam warahmatullohi wabarakatuh antum cari travel yg terpercaya d sudan yg bisa mengantarkan antum ke dammaj, wallohu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 94 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: