Hukum Sholat di Masjid yang ada Kuburannya

Bolehkah shalat di masjid yang didalamnya terdapat kuburan, disebabkan tidak ada pilihan lain lagi, karena tidak ada masjid selainnya. Artinya jika tidak melakukan shalat di masjid tersebut maka tidak dapat melakukan shalat berjamaah dan shalat jum’at?

Iklan

al Lajnah ad Daimah li al Buhuts al ‘Ilmiyyah wa al Ifta

Bolehkah shalat di masjid yang didalamnya terdapat kuburan, disebabkan tidak ada pilihan lain lagi, karena tidak ada masjid selainnya. Artinya jika tidak melakukan shalat di masjid tersebut maka tidak dapat melakukan shalat berjamaah dan shalat jum’at?

Jawab

Wajib memindahkan kuburan yang terdapat di dalam masjid ke pekuburan umum atau yang semacamnya. Dan tidak boleh shalat di masjid yang terdapat satu atau lebih kuburan. Bahkan wajib mencari masjid lain semampunya yang tidak terdapat didalamnya kuburan untuk shalat Jum’at dan jamaah.

———————

Pertanyaan:

Apa hukumnya shalat di masjid yang terdapat kuburan ?


Jawab

Tidak diperbolehkan bagi setiap muslim untuk shalat didalam masjid yang terdapat didalamnya kuburan. Dalilnya sebagaimana terdapat riwayat dalam Ash-shahihain dari Aisyah radiallahu-anha bahwa Ummu Salamah menyebutkan kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam adanya gereja yang dia lihat di negri Habasyah dan didalamnya terdapat gambar-gambar, maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda,

إِنَّ أُولَئُِكَ إِذَا كَانَ فِيْهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا، وَصَوَّرُوْا فِيْهِ تِلْكَ الصُّوَرَ، فَأُولَئِكَ شِرَارُ الخَلْقِ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ القِيَامَةِ

“Apabila ada di kalangan mereka itu seorang shalih meninggal dunia, mereka membangun masjid di atas kuburannya, kemudian mereka membuat gambar orang shalih tersebut di dalam masjid yang dibangun. Mereka itu adalah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 427, 434, 1341, 3878 dan Muslim no. 528)

Di antara dalil yang lain adalah apa yang diriwayatkan Ahlussunan dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhuma dia berkata,

لعن رسول الله زائرات القبور والمتخذين عليها المساجد والسرج

“Rasulullah melaknat para wanita yang menziarahi kuburan dan yang membangun masjid diatas kuburan serta meletakkan penerangan (lampu)“.

Terdapat juga dalam Ash-Shahihain (riwayat Bukhari dan Muslim) dari Aisyah radiallahu ‘anha bahwa dia berkata: Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda,

لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani karena mereka menjadikan kuburan para nabinya sebagai masjid“.

[Dinukil dari terjemah فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء, Kumpulan Fatwa al Lajnah ad Daimah li al Buhuts al ‘Ilmiyyah wa al Ifta, Lembaga tetap pengkajian ilmiah dan riset fatwa Saudi Arabia. P.O. Box 1419 Riyadh 11431]

Pertolongan Tidak Akan Didapatkan Oleh Orang-Orang yang Sujud di Kuburan

Syaikh Abdul Malik Ibnu Ahmad Ramadhani

Perkara yang paling besar yang perlu disiapkan orang-orang yang beriman agar memiliki kekuatan atas musuh-musuhnya adalah hendaknya mereka senatiasa berhubungan dengan Allah Subhanahu wata’ala melalui tauhid, mahabbah (kecintaan), pengharapan, takut, inabah (kembali padanya), khusyu’, tawakkal dan selalu berada di sisinya serta mencukupkan dari selainnya. Allah Ta’ala telah menjelaskan dalam kitabnya bahwa orang-orang yang berhak untuk menjadi pemimpin di bumi-Nya adalah yang didalam hati mereka terdapat al khouf (takut) dari kedudukannya dan takut dari ancamannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِرُسُلِهِمْ لَنُخْرِجَنَّكُمْ مِنْ أَرْضِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ لَنُهْلِكَنَّ الظَّالِمِينَ. وَلَنُسْكِنَنَّكُمُ الأرْضَ مِنْ بَعْدِهِمْ ذَلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ

Orang-orang kafir berkata kepada Rasul-rasul mereka: “Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami”. Maka Rabb mewahyukan kepada mereka: “Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zalim itu, dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) ke hadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku”. (QS. Ibrahim:13–14).

Mereka adalah ahli tauhid yang murni, yang mereka telah dijanjikan Allah Ta’ala dengan pertolongan, keteguhan, keamanan dan khilafah (kepemimpinan). Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. (QS. An-Nur : 55).

Apakah kaum muslimin telah memperhatikan satu syarat yang agung ini

يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا

· Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku ?

· Apakah pertolongan akan didapatkan oleh orang-orang yang menggantungkan harapannya pada batu ?

· Apakah pertolongan akan didapatkan oleh orang-orang yang beristighotsah pada orang yang telah mati ?

· Apakah pertolongan akan didapatkan oleh orang-orang yang sujud di kuburan?

· Apakah pertolongan akan didapatkan oleh orang-orang yang thawaf di kuburan seorang yang shalih ?

· Dan apakah pertolongan akan didapatkan oleh orang-orang yang menjadikan perkara lahir dan batinnya di tangan wali ? atau, oleh yang bersumpah atas seorang nabi?

Mereka semua tidak akan mendapatkan pertolongan, dan sejenis mereka pada kalangan kita banyak, bahkan mayoritas. Imam Ahmad telah meriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Berilah kabar gembira pada umat ini dengan sanjungan, dan dien, ketinggian, pertolongan, dan keteguhan di muka bumi, barangsiapa di antara mereka yang beramal dengan amalan akhirat untuk tujuan dunia tidak akan mendapatkan bagiannya di akhirat.”

Maka kabar gembira itu nyata, dan janjinya pun benar. Tidak ada keraguan di dalamnya. Akan tetapi perhatikanlah syarat ikhlas, dalam sabdanya,

“Barangsiapa di antara mereka yang beramal dengan amalan akhirat untuk tujuan dunia.”

Yakni sifat amalan tersebut adalah baik. Tetapi tujuan darinya adalah dunia dan perhiasannya yang murahan. Oleh sebab itu maka tidak akan ditolong lalu bagaimana dengan seseorang yang amalannya bukan amalan akhirat yakni tanpa disertai dengan ta’at kepada Allah azza wa jalla?!

[Dinukil dari kitab As Sabil ilal ‘Izzi wal Tamkin, Edisi Indonesia Jalan Meraih Kemuliaan, Penerjemah Ustadz Abu Hamzah Yusuf As-Salafi, Penerbit Pustaka Ats-TsiQaatPress, Judul asli Bagian 1: Tauhid]