Fatwa Ulama Untuk Berpuasa Bersama Penguasa Muslim Yang Berru’yat Hilal

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

صُوْمُوْا لِِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِيْنَ

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal, dan berbukalah (berhari raya) karena melihatnya. Jika ada mendung di atas kalian, maka sempurnakanlah jumlah (Sya’ban) 30 hari”.

Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah (no. 10973)

Soal , ” Ada sekelompok orang yang multazim, dan berjenggot di negeri kami; mereka menyelisihi kami dalam sebagian perkara, contohnya puasa Romadhon. Mereka tak puasa, kecuali jika telah melihat hilal (bulan sabit kecil yang muncul di awal bulan) dengan mata kepala. Pada sebagian waktu, kami puasa satu atau dua hari sebelum mereka di bulan Romadhon. Mereka juga berbuka satu atau dua hari setelah (masuknya) hari raya…”  Lanjutkan membaca “Fatwa Ulama Untuk Berpuasa Bersama Penguasa Muslim Yang Berru’yat Hilal”

Mengenal Ahlussunnah wal Jama’ah

Jadi Ahlus Sunnah wal Jama’ah, adalah mereka yang berpegang teguh pada sunnah Nabi Muhammad SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WA SALLAM, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti jejak dan jalan mereka, baik dalam hal ‘aqidah, perkataan maupun perbuatan, juga mereka yang istiqamah (konsisten) dalam ber-ittiba’ (mengikuti Sunnah Nabi SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WA SALLAM) dan menjauhi perbuatan bid’ah. Mereka itulah golongan yang tetap menang dan senantiasa ditolong oleh Allah sampai hari Kiamat. Oleh karena itu mengikuti mereka (Salafush Shalih) berarti mendapatkan petunjuk, sedang berselisih terhadapnya berarti kesesatan.

Pengertian as-Sunnah Secara Bahasa (Etimologi)

As-Sunnah  secara bahasa berasal dari kata: “sanna yasinnu”, dan “yasunnu sannan”, dan “masnuun” yaitu yang disunnahkan. Sedang “sanna amr” artinya menerangkan (menjelaskan) perkara.

As-Sunnah juga mempunyai  arti “at-Thariqah” (jalan/metode/pandangan hidup) dan “as-Sirah” (perilaku) yang terpuji dan tercela. Seperti sabda Rasulullah SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WA SALLAM, Lanjutkan membaca “Mengenal Ahlussunnah wal Jama’ah”

Antara Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan Wahhabiyyah

Al-‘Alim Al-Imam Robi’ bin Hadi –hafidzohulloh- berkata: ”Orang-orang kafir, Nashara dan Yahudi menginginkan kaum muslimin murtad dari agama mereka dan pada ahlul bid’ah bagian yang besar dari niat yang jelek ini. Begitu pula niat yang jelek bagi ahlul khoir. Maka dari sini, wajib bagi kita untuk sangat berhati-hati dari mereka.” (Al-Mauqifus Shohih min Ahlil Bida’)

Antara

Ahlus Sunnah wal Jama’ah

dan

Wahhabiyyah

Ditulis oleh:

Abu ‘Amr Ridwan bin Zaki Al-Ambuny

Al-Indunisiy

 

 

Darul Hadits Dammaj

harosahalloh

1432

ijk

           إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.  وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.

قال الله تعالى:﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

﴿يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا الله الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أما بعد,

              Sesungguhnya diantara musibah terbesar yang menimpa umat Islam adalah timbulnya perpecahan di antara mereka. Perpecahan seperti ini akan melemahkan kekuatan umat Islam, menyenangkan hati musuh-musuh Islam dan membuat peluang bagi mereka untuk mencabik-cabik persatuan umat Islam yang dengannya mereka dapat menjalankan misi mereka untuk memerangi umat Islam. Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam yang sangat menginginkan kebaikan kepada umatnya telah memperingatkan umatnya akan hal ini agar mereka menjauhinya sebagaimana sabda beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh ‘Irbath bin Sariyah rodhiallohu ‘anhu: Lanjutkan membaca “Antara Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan Wahhabiyyah”

MENGENAL LEBIH DEKAT DAARUL HADITS DAMMAJ

Nama Dârul Hadîts Dammâj sudah tidak asing lagi bagi salafiyyûn Indonesia merupakan markiz ahlus sunnah terbesar di dunia, markiz dambaan bagi setiap orang yang mencintai ‘ilmu dan ulamânya.

Para tholabul ‘ilmi dari berbagai belahan dunia berusaha menimba ‘ilmu di sana meneguk ‘ilmu di kalangan ‘ulamâ yang sejati untuk membersihkan kesyirikan-kesyirikan, bid’ah, khurofat dan hizbiyyah yang telah menghancurkan dakwah ahlus sunnah di sepanjang masa.

       MENGENAL LEBIH DEKAT DAARUL HADITS DAMMAJ

Markiz Terbesar

Salafiyyun Di Dunia

 

PARA PENYUSUN

. Abu Turôb Saif bin Hadhor Al-Jâwî.

. Abu Fairûz ‘Abdurrohmân Al-Jâwî

.Abu Husain Muhammad Al- Jawi

. Abu Arqôm Muslih Zarqoni Al-Jâwî

. Abu ‘Abdillah Imâm Al-Hanafi Al-Balikpapanî.

. Abu Sholeh Dzakwan Al Medani

. Abu Abdillah Muhammad bin Umar Al-Medani

. Abu Abdirrohman Shiddiiq Al- Bugishi

. Abu Zakariyâ Irhâm bin Ahmad Al-Jâwî

. Abul ‘Abbâs Khodhir Al-Mulkî Lanjutkan membaca “MENGENAL LEBIH DEKAT DAARUL HADITS DAMMAJ”

MENGENAL KITAB SESAT AL-BARZANJY

Kitab ini oleh sebagian orang seakan memiliki kemualiaan, pahala bagi yang membacanya, bahkan dapat memberikan keselamatan dan kebahagiaan dunia serta menolak marabahaya/ bencana bagi pengamalnya.

MENGENAL

KITAB AL-BARZANJY

  

  1. Nama Kitab.

 

Kitab yang masyhur di kalangan kaum muslimin dibanyak tempat menjadi kitab adat masyarakat, dianjurlkan untuk dibaca, bahkan didakwahkan (disebar luaskan) dan tidak segan-segan diperjuangkan dihadapan orang yang menentangnya. Lanjutkan membaca “MENGENAL KITAB SESAT AL-BARZANJY”

BANTAHAN ILMIYYAH YANG BERKAITAN DENGAN JÂMI’AH ISLÂMIYYAH

Judul Asli

التوضيح

لما جاء في تقريرات العلمية والنقد الصحيح

BANTAHAN ILMIYYAH

YANG BERKAITAN DENGAN

JÂMI’AH ISLÂMIYYAH


KARYA

Abu ‘Abdirrohman

Yahya bin ‘Ali Al Hajuri

Hafidzohulloh Ta’ala

 

“Disertai Bantahan Untuk Sarbini Seputar Permasalahan Ini” Lanjutkan membaca “BANTAHAN ILMIYYAH YANG BERKAITAN DENGAN JÂMI’AH ISLÂMIYYAH”

Iman Kepada Taqdir

Penjelasan dasar-dasar Iman

Keyakinan tentang Al-Qadar

Syaikh – Muhammad Sholeh AlUtsaimin

Al-Qadar adalah ketetapan Allah terhadap makhluk-Nya menurut Kehendak-Nya dan diharuskan sesuai Kebijaksanaan-Nya.

Keyakinan kepada Al-Qadar terdiri dari empat macam:

Pertama: Keyakinan bahwa Allah تعالى tahu segala sesuatu secara keseluruhan dan secara detil yang terjadi di masa lalu dan sedang atau akan terjadi di masa depan dan selamanya, apakah hal itu berkaitan dengan Tindakan-Nya atau tindakan-Nya Ibaad (makhluk )

Kedua: Keyakinan bahwa Allah menulis (segala sesuatu yang berkaitan dengan pengetahuan-Nya) dalam Al-Lauhulmahfudz.88 tentang ini terdapat dua aspek (pengetahuan dan penulisan) Allah تعالى berfirman:

(ألم تعلم أن الله يعلم ما فى السماء و الأرض, إن ذلك فى كتاب إن ذلك على الله يسير) (الحج, 70)

Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lohmahfuz) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.
(Qura’an 22:70)

Dalam Shahih Muslim dari jalan Abdullah bin Amar bin ‘Al’As رضى الله عنهما, yang berkata “: aku mendengar utusan Allah berkata”:

“كتب الله مقادير الخلائق قبل أن يخلق السموات و الأرض بخمسين ألف سنة” – رواه مسلم

‘Allah telah menulis taqdir penciptaan, lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi “82

Ketiga: Keyakinan bahwa segala sesuatu diciptakan dan tidak terjadi sesuatu kecuali dengan kehendak Allah تعالى  apakah itu berhubungan dengan-Nya atau dengan yang ada pada makhluk yang diciptakan. Allah تعالى berbicara tentang apa yang berkaitan dengan tindakan-Nya:

(و ربك يخلق ما يشاء و يختار) (القصص, 68)

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.. (Qura’an 28-68)

(يفعل ما يشاء) (إبراهيم, 27)

Dan Allah melakukan apa yang Ia kehendaki. (Qura’an 14:27)

(و هو الذى يصوركم فى الأرحام كيف يشاء) (آل عمران, 6)

Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana Dia kehendaki. (Qura’an 3:6)

Berkaitan dengan tindakan yang dibuat. Dia Allah تعالى berkata:

(ولو شاء الله لسلطهم عليكم و فلقاتلوكم) (النساء, 90)

Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. (Qura’an 4:90)

(و لو شاء الله ما فعلوه فذرهم و ما يفترون) (الأنعام, 137)

Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.
(Qura’an 6:137)

Keempat: Keyakinan bahwa semua makhluk diciptakan oleh Allah termasuk Thawaatiha (diri mereka), sifat/kehendak mereka dan gerak perbuatan mereka. Allah تعالى berkata:

(و الله خالق كل شىء و هو على كل شىء وكيل) (الزمر, 62)

Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. (Qura’an 39:62)

(و حلق كل شىء فقدره تقديرا) (الفرقان, 2)

dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (Qura’an 25:2)

Dia mengatakan tentang Nabi-Nya Ibrahim bahwa ia mengatakan kepada kaumnya:

(و الله خلقكم و ما تعملون) (الصافات ,95-96)

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. (Ashshoffat: 96)

Uraian di atas tentang kepercayaan kepada Al-Qadr tidak meniadakan kehendak dan kemampuan hamba yang dilakukan secara sukarela, karena keduanya dibuktikan secara Assyar’i dan Kenyataan.

Adapun secara syar’i, Allah تعالى mengatakan tentang kehendak (dari hamba ini ‘):

(فمن شاء إلى ربه مآبا) (النبأ, 39)

Maka barang siapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya. (Qura’an 78:39)

(فأتوا حرثكم أنى شئيتم) (البقرة, 223)

maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. (Qura’an 2:223)

Allah mengatakan tentang Al-Qudrah (kemampuan manusia):

(فاتقوا الله ما إستطتم و اسمعوا و اطيعوا) (التغابن, 16)

Maka bertakwalah kepada Allah sesuai yang kamu bisa; dengarlah dan taat. (Qura’an 64:16)

(لا يكلف الله نفسا إلا وسعها لها ما كسبت و عليها ما إكتسبت) (البقرة, 286)

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Qura’an 2:286)

Adapun menurut kenyataan, setiap orang tahu bahwa ia memiliki kehendak dan kemampuan yang dengannya ia bertindak atau melepaskan, dan bahwa ia dapat membedakan antara apa yang ia sengaja lakukan, seperti berjalan, dan apa yang terjadi tidak sengaja, seperti kecelakaan. Namun, kehendak dan kemampuan hamba terjadi dibawah kehendak dan kekuasaan Allah. Dia تعالى berkata:

(لمن شاء منكم أن يستقيم * و ما تشاءون إلا أن يشاء الله رب العالمين) (التكوير ,28-29)

(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.
(Qura’an 81:28-29).

Dan karena seluruh alam semesta milik Allah تعالى, maka tidak ada yang akan datang ada di dalam kerajaan-Nya tanpa kehendak-Nya.

Juga kepercayaan tentang taqdir seperti dijelaskan di atas, tidak memberikan hamba alasan untuk meninggalkan dari kewajiban maupun ketidaktaatan yang telah dilakukan. Oleh karena itu, pembenaran (maksiat), dengan mengambil Al-Qadar sebagai alasan, tidak sah oleh sebab berikut:

Pertama: Allah mengatakan:

(سيقول الذين أشركوا لو شاءالله ما أشركنا و لا آباؤنا و لا حرمنا من شىء كذلك كذب الذين من قبلهم حتى ذاقوا بأسنا قل هل عندكم من علم فتخرجوه لنا إن تتبعون إلا الظن و إن أنتم إلا تخرصون) (الأنعام, 148)

Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apa pun”. Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?” Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta. (Qura’an 6:148)

jika ada alasan bagi mereka pada takdir, tentu Allah tidak akan menjatuhkan hukuman atas mereka.

Kedua: Allah berkata:

(رسلا مبشرين و منذرين لئلا يكون للناس على الله حجة بعد الرسل و كان الله عزيزا حكيما) (النساء, 165)

(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(Qura’an 4:165)

Jika AlQadar menjadi alasan valid untuk mereka yang menentang (Rasul), maka alasan itu tentu tidak dinafikan dengan diutusnya rasul, karena pertentangan akan terjadi, dengan kehendak Alloh, bahkan setelah mengirim mereka.

Ketiga: Hadits dari oleh Ali bin Abi Thalib dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di mana nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam berkata:

ما منكم من أحد إلا قد كتب مقعده من النار أو الجنة فقال رجل من القوم الا نتكل يا رسو الله قال لا أعملوا فكل ميسر ثم قرأ (فأما من أعطى و إتقى) الآية * و فى لفظ لمسلم “فكل ميسر لما خلق له”.

“Tidak ada di antara kamu kecuali tempatnya telah ditetapkan di neraka atau Al-Janaah.” Seorang pria dari kalangan orang-orang berkata “mengapa kita tidak bergantung padanya saja (dan menyerah tidak melakukan segala perbuatan)? Dia mengatakan “beramallah melakukan (perbuatan baik) bagi setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan perbuatan ke tempat ditakdirkan untuk mana ia telah dibuat.” (Dan kemudian Nabi membacakan firman Allah:

(فأما من أعطى و إتقى) الآية.

Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. (Qura’an 92:5-10) 0,86

Nabi Muhammad memerintahkan untuk melakukan perbuatan baik dan melarang bergantung pada Al-Qadr.

Keempat: Allah تعالى memerintahkan Hambanya'(untuk melakukan yang halal) dan melarang kepadanya (dari yang tidak halal) dan tidak membebankannya terhadap apa yang dia tidak mampu lakukan. Allah تعالى berkata:

(فاتقوا الله ما إستطعتم) (التغابن, 16)

Bertakwalah kepada Allah sesuai kemampuan kalian. (Qura’an 64:16)

(لا يكلف الله نفسا إلا وسعها) (البقرة, 268)

Allah tidak membebani seseorang kecuali apa yang mampu diusahakannya. (Qura’an 2:268)

Jika seseorang dipaksa untuk bertindak, maka ia akan dibebani dengan hal-hal tdk dimampunya. Hal ini tentunya salah. Itulah sebabnya jika ia melakukan sesuatu yang salah karena lupa, ketidaktahuan atau di bawah paksaan maka tidak ada dosa atas dirinya karena ia dimaafkan.

Kelima: Al-Qadr Allah تعالى  tersimpan rahasia yang tidak diketahui sampai terjadinya apa yang ditakdirkan. niat hamba adalah dasar dari apa yang ia mendahului tindakannya dan dengan demikian dia tidak mendasarkan perbuatannya pada pengetahuan lebih dulu tentang Qadar Allah. pada saat itu, alasan tentang Al-Qadar ditiadakan, karena seseorang tidak mendasarkan melakukan sesuatu pada apa yang ia tidak tahu.

Keenam: Kita melihat bahwa manusia jika ingin mendapatkan apa yang cocok untuk dia dari hal-hal duniawi (dia melakukannya). Dia meninggalkan untuk yang tidak cocok dengan dia, dan kemudian tidak menyalahkan tindakannya di atas Al-Qadar. Mengapa dalam urusan agama ia berpaling dari apa yang bermanfaat baginya kepada hal-hal yang menyebabkan dia merugikan dan beralasan dengan Al-Qadar untuk pembenaran? seharusnya Tidak begitu, bahwa berurusan dengan kedua hal harus satu.

Berikut ini adalah contoh yang menjelaskan masalah ini: Apabila ada dua jalan di depan orang: satu menuju ke sebuah kota yang sarat dengan kenakalan, gangguan, pembunuhan, penjarahan, kelaparan rasa takut, dan segala bentuk pelecehan seksual dan moral, yang kedua membawanya ke sebuah kota menikmati ketertiban, keamanan, dan tenang, rezeki melimpah dan hidup yang baik, dan yang hidup, kehormatan dan harta benda dihormati, jalan mana yang akan Anda suka?

Tentu saja ia akan mengambil jalan yang membawanya ke kota ketertiban dan keamanan. Tidak ada orang berakal sehat yang akan memimpin jalan ke kota kekacauan dan ketakutan dan kemudian mengambil Al-Qadar sebagai dalih. Mengapa kemudian ketika datang ke masalah akhirat dia mengambil jalan ke neraka (neraka) bukan cara untuk Al-Jannaah dan kemudian menggunakan Al-Qadar sebagai argumen?

Contoh lain: Kita melihat bahwa ketika seorang pasien diperintahkan untuk mengambil obat yang diresepkan, ia mengambil itu sementara dirinya sendiri tidak menyukainya. Dan ketika dilarang dari mengambil makanan yang membahayakan jiwanya, ia meningalkan sementara keinginan dirinya itu. Dia melakukan semua ini mencari obat dan aman. Hal ini agak tidak mungkin bahwa ia menahan diri dari minum obat atau makan makanan yang berbahaya bagi dia menggunakan Al-Qadar sebagai alasan! Mengapa laki-laki, dengan sebab itu, meninggalkan perintah Allah dan Rasul-Nya atau melakukan apa yang Allah dan Rasul-Nya melarang dan mengambil Al_Qadar sebagai alasan?

Ketujuh: Jika orang yang mengambil Al-Qadar sebagai alasan (untuk membenarkan) apa yang telah ditinggalkan dari kewajiban2 atau apa yang telah berkomitmen dari dosa, diserang oleh seseorang yang menghancurkan miliknya atau melanggar kehormatannya dan kemudian mengatakan kepadanya ” : Jangan salahkan aku! aku menyerang  Anda adalah karena takdir Allah’ (yaitu sesuatu yang telah ditakdirkan Allah) “, dia tidak akan menerima argumennya! Bagaimana datang lalu bahwa dia tidak menerima Al-Qadar sebagai alasan untuk membenarkan serangan lain seseorang di saat dia mengambil itu sebagai argumen untuk agresi melawan hak Allah?

Dikatakan bahwa Amir Al-Mu’miniin89 Umar bin Al-Khataab memerintahkan untuk memotong tangan seorang pencuri pada siapa yang melakukannya sesuai aturan syari’at. Pencuri itu berkata: “Tunggu wahai amir ulmukminin! Saya melakukan pencurian karena takdir Allah (yakni dia menyalahkan pada Al-Qadar) ‘Umar menjawab: “Dan kami juga memotong (tangan) tidak lebih daripada takdir Allah”.

Keyakinan kepada Al-Qadar membawa Manfaat Besar, Diantaranya:

Pertama: Allah تعالى Tergantung pada saat menggunakan alat (dengan sebuah hal yang dibawa sekitar) sehingga tidak tergantung pada cara sendiri, dengan alasan bahwa setiap hal yang ditakdirkan oleh Allah tindakan yang tepat un.

Kedua: Menyimpan orang dari memiliki pendapat yang tinggi tentang dirinya sendiri atas pencapaian tujuan, karena pencapaiannya adalah nikmat dari Allah تعالى mengingat apa yang telah ditakdirkan dari sarana yang mengarah pada apa yang baik dan sukses. kejemawaan Nya membuatnya lupa bersyukur kepada Allah untuk nikmat-Nya.

Ketiga: Mengamankan keadaan damai dan ketenangan mengenai apa yang menimpa orang dari apa yang menimpa orang dari apa yang telah ditakdirkan oleh Allah تعالى. Dia khawatir belum berakhir gagal untuk mencapai apa yang dicintai atau atas terjadinya apa yang tidak disukai, karena – semua ini sesuai dengan Al-Qadar Allah – kepada siapa milik langit dan bumi – dan itu tak terelakkan untuk mengambil tempat. Allah berfirman mengenai hal ini:

(ما أصاب من مصيبة فى الأرض و لا فى أنفسكم إلا فى كتاب من قبل أن تبرأها إن ذلك على الله يسير * لكيلا تأسوا على ما فاتكم و لا تفرحوا بما آتاكم و الله لا يحب كل مختال فحور) (الحديد, 22-23)

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lohmahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,
(Qura’an 57:22)

Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: “عجبا لأمر المؤمن إن أمره كله خير و ليس ذاك لاحد إلا للمؤمن إن أصابته سراء شكر فكان خيرا له ز إن أصابته ضراء صبر فكان خيرا له” – مسلم رواه.

“Bagaimana menakjubkan adalah masalah percaya! Ada yang baik dalam setiap urusan-Nya, dan ini tidak terjadi dengan orang lain kecuali dalam kasus orang percaya: jika Sararaa90 ada menimpa dia, dia memberikan berkat (untuk Allah) sehingga ada baik baginya di atasnya. Dan jika seorang Darraa91 menimpa dia, dan pengunduran diri menunjukkan (dan bertahan dengan sabar) ada yang baik baginya di dalamnya “92.

aliran yang menyimpang Mengenai Al-Qadar: –

Salah satunya adalah Al-Jabriyyah [75] yang menyatakan bahwa manusia dipaksa untuk melakukan apapun yang dia lakukan dan bahwa ia tidak memiliki kekuasaan maupun kemauan untuk bertindak.

Yang lain adalah Al-Qadariyyah [76] yang mengatakan bahwa apapun manusia melakukan itu adalah sepenuhnya dari kemampuannya sendiri dan kehendak bebas, dan bahwa Allah itu Mashee’ah (akan) dan Qudr’ah (Kemampuan) tidak berpengaruh pada apa yang manusia tidak .

Respon terhadap sekte pertama (Al-Jabriyyah) menurut Al-Shara’a dan Realitas:

Seperti pada l-Shara’a, dapat dipastikan bahwa Allah تعالى telah affimed bility n nd akan bebas untuk abd ‘dan hs ttributed perbuatan kepadanya juga. Dia تعالى berkata:

(منكم من يريد الدنيا و منكم من يريد الآخرة) (آل عمران, 152)

Antara kamu adalah beberapa yang menginginkan dunia ini dan beberapa yang menginginkan akhirat. (Qura’an 3:152)

(و قل الحق من ربكم فمن شاء فليؤمن و من فليكفر إنا أعتدنا للظالمين نارا أحاط بهم سرادقها) (الكهف, 29)

Dan Katakanlah: “. Yang benar adalah dari Anda Rabb (Allah)” Maka barang siapa menghendaki, biarkan dia percaya, dan barang siapa menghendaki, biarlah ia kafir. Sesungguhnya, Kami telah menyiapkan forr yang Thalimeen (musyrik dan-orang yang lalim, dll) api yang akan wlls di sekitar mereka. (Qura’an 18:29)

Dia juga mengatakan:

(من عمل صالحا فلنفسه و من أساء فعليها و ما ربك بظلام للعبيد) (فصلت, 46)

Barang siapa tidak ighteous perbuatan baik itu untuk (kepentingan) diri sendiri, barang siapa melakukan yang jahat, itu adalah aginst sendiri, nd Anda Rabb tidak t semua tidak adil untuk (Nya) budak. (Qura’an 41:46)

Sebagai setuju dengan kenyataan, diketahui bahwa setiap orang menyadari adanya perbedaan antara perbuatan sukarela seperti makan, minum, jual beli dan yang menimpa dia melawan pilihannya sendiri, seperti tremor berhubungan dengan demam dan seperti gagal dari atap. Dalam kasus pertama ia bertindak dengan kehendak bebasnya sendiri dan tanpa paksaan, sedangkan pada situasi kedua baik dia memiliki pilihan juga tidak ingin apa yang telah menimpa dia.

Respon ke Sekte kedua Menurut As-Shara’a, dan Rasional:

Adapun As-Shara’a, dapat dipastikan bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan segala sesuatu ada oleh kehendak-Nya. Allah تعالى berkata:

(لوشاء الله ما إقتتل الذين من بعدهم من بعد ما جاتهم البينات و لكن اختلفوا فمنهم من آمن و منهم من كفلر و لو شاءالله ما إقتتلوا و لكن الله يفعل ما يريد) (البقرة, 253)

Jika Allah menghendaki, generasi berikutnya tidak akan berperang melawan satu sama lain, setelah Maka Kami tindak yang jelas telah datang, tetapi mereka berbeda – beberapa dari mereka percaya dan lain-lain kafir. Jika Allah menghendaki, mereka akan tidak bertentangan satu lain, tetapi Allah melakukan apa yang Ia suka. (Qura’an2: 253)

(و لو شئنا لآتينا كل نفس هداها و لكن حق القول منى لأملأن جهنم من الجنة و الناس أجمعين) (السجدة, 13)

Dan kalau Kami menghendaki, pasti! Kami akan memberikan bimbingan evey orang, tetapi Dunia dari Aku mulai berlaku (tentang pelaku kejahatan), bahwa Aku akan mengisi neraka dengan jin dan manusia bersama-sama. (Qura’an 32:13)

Adapun rasional, jelas bahwa seluruh alam semesta milik Allah, dan karena manusia adalah bagian dari alam semesta ini, akibatnya dia menjadi milik Allah. Ini bukan hak yang dimiliki untuk membuang bebas milik Pemilik kecuali dengan meninggalkan yang terakhir dan akan.

88 Al-lauhul Almahafoudh: tablet diawetkan

82 Shahih Muslim, V.4, hadits # 6416

83 Ibrahim adalah mengacu pada berhala bahwa umatnya digunakan untuk menyembah: (قال أتبعدون ما تنحتون * و الله خلقكم و ما تعملون) (الصافات, 95-96). Dia Ibrahim berkata kepada umat-Nya: Penyembahan ibadah Anda bahwa yang Anda (dirimu) mendambakan? Sementara Allah telah menciptakan kamu dan apa yang Anda buat! (Qura’an, menandakan ayat-ayat 95-96 dari Saarat Al-Saafaat # 37.. {TN}

84 Allah menggambarkan istri sebagai Harth: Pengolahan tanah bagi suami mereka. Dia berkata: (نساؤكم حرث لكم فأتوا حرثكم أنى شئيتم) (البقرة, 223) Istri-istrimu adalah sebagai hasil panen untuk Anda, sehingga pergi ke ladangmu Anda, kapan atau bagaimana Anda akan. (Qura’an 2:223). “Pergilah ke ladangmu Anda berarti memiliki hubungan seksual hukum dengan istri Anda.

85 Al-Husna berarti si deklarasi: laa ilaaha lah illa: tidak ada berhak disembah kecuali Allah, atau hadiah dari yaitu Allah Allah akan memberikan kompensasi dia untuk apa yang dia akan menghabiskan di Jalan Allah atau memberkati dia dengan Al-Janaah { TN}

86 Lihat Shahih Al-Bukhari, ay.9, hadits # 642

87 Yang berarti bahwa ia tidak harus berpaling dari apa manfaat dia dan menyalahkan Al-Qadar. {TN}

88 Al-Wajibaat: Hal-hal Wajib Deen

89 Ameer Al-Mukminin: The Pemimpin beriman

90 Sarraa ‘: Kesejahteraan, berada di sebuah sumur-to-do negara, kehidupan kemudahan, keberhasilan dalam bentuk ketaatan kepada Allah dalam urusan Deen

91 Daraa ‘: sebuah kemiskinan, penyakit, kesulitan, masalah, jejak dll

92 HR Muslim. Lihat Shahih Muslim, V.4, hadits # 7138

[75] Al-Jabriyyah (dari paksaan kata Arab Jabr ‘) yang diselenggarakan determinisme melawan will.These bebas adalah pengikut Jahm bin Safawan (d.128 Hj/45) doktrin mereka adalah keselamatan yang ditentukan dan bahwa manusia, dalam efek tidak bisa bekerja baik untuk, atau kepada keselamatan manusia Menurut klaim itu adalah seperti bulu melayang di udara.. {TN}

[76] Al-Qadriyyah, Predestinarianism, yang ekstrim berlawanan dengan Al-Jabiryyah. Mengklaim bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri dengan kemampuan dan kehendaknya. “Membuat” pencipta selain Allah! Itulah mengapa nabi Muhammad disebut mereka Majoos-nya umat, karena klaim Majoos bahwa Setan menciptakan hal-hal jahat dan berbahaya, pembuatan Setan sebuah “pencipta” selain Allah. Jauh adalah Allah atas apa sekte-sekte mengucapkan.

Abu Dawud terkait terhadap uthority Abdullah bin Ummar bahwa nabi Muhammad sid: “Al-Qadiryyah adalah Majoos dari umat ini, jika mereka sakit tidak mengunjungi mereka, dan ketika mereka mati mereka tidak menyaksikan (pemakaman mereka)”. Syaikh Albanee mengatakan  hadits adalah hassan (otentik) dengan cara riwayat gabungan. Lihat AtTahawiyyah, P.273and As-Sunnh oleh Asim V.1/149. {TN} ‘Abbe’

http://islaambasics.wordpress.com/2010/11/23/the-belief-in-al-qadar