Keutamaan bersiap siaga dan berperang dijalan Alloh ta’ala

“ Ribath (bersiap siaga) satu hari di jalan Allah lebih baik dari dunia dan apa saja yang ada diatasnya dan tempat cambuk seorang dari kalian di surga lebih baik dari pada dunia dan apa saja yang ada diatasnya dan berangkat pada awal hari (pagi) atau berangkat pada akhir hari (siang) untuk berperang di jalan Allah lebih baik dari pada dunia dan apa saja yang ada diatasnya “

Iklan

بسم الله الرحمن الرحيم
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُنِيرٍ سَمِعَ أَبَا النَّضْرِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رِبَاطُ يَوْمٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا وَمَوْضِعُ سَوْطِ أَحَدِكُمْ مِنْ الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا وَالرَّوْحَةُ يَرُوحُهَا الْعَبْدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ الْغَدْوَةُ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا

Lanjutkan membaca “Keutamaan bersiap siaga dan berperang dijalan Alloh ta’ala”

Asmaaul husna dan Dalil-Dalilnya

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau berkata:
«إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلاَّ وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ إِنَّهُ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ».
“Sesungguhnya Allah memiliki 99 (sembilan puluh sembilan) nama, 100 (seratus) kurang satu, barang siapa menghafal [dan menjaganya] maka akan masuk jannah, dan sesungguhnya Allah Al-Witr dan dia menyukai al-witir (yang ganjil)”. (HR. Al-Bukhariy, no. 6410 dan Muslim, no. 2677 dan ini adalah lafadz beliau).

ذكر أسماء الله الحسنى بأدلتها

Menyebut Nama-nama Allah Yang Indah dengan disertai Dalil-dalilnya

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau berkata:
«إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلاَّ وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ إِنَّهُ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ».
“Sesungguhnya Allah memiliki 99 (sembilan puluh sembilan) nama, 100 (seratus) kurang satu, barang siapa menghafal [dan menjaganya] maka akan masuk jannah, dan sesungguhnya Allah Al-Witr dan dia menyukai al-witir (yang ganjil)”. (HR. Al-Bukhariy, no. 6410 dan Muslim, no. 2677 dan ini adalah lafadz beliau). Lanjutkan membaca “Asmaaul husna dan Dalil-Dalilnya”

MENGINGATKAN AHLUS SUNNAH

Dari `Abdillah bin `Amr Rodhiyallohu ‘anhu berkata:
أقبل علينا النبي صلى الله عليه و سلم فقال: يا معشر المهاجرين خمس إذ ابتليتم بهن, وأعوذ بالله أن تدركوهن: لم تظهر الفاحشة في قوم قط حتى يعلنوا بها إلا فشا فيهم الطاعون, والأوجاع التي لم تكن مضت في أسلافهم الذين مضوا, ولم ينقصوا المكيال و الميزان إلا أخذوا بالسنين و شدة المؤنة و جور السلطان عليهم, ولم يمنعوا الزكاة إلا منعوا القطر من السماء, ولولا البهائم لم يمطروا, و لم ينقضوا عهد الله و عهد رسوله إلا سلط عليهم عدوهم من غيرهم و أخذوا بعض ما كان في أيديهم و ما لم يحكم أئمتهم بكتاب الله إلا ألقى الله بأسهم بينهم
“Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap kepada kami, kemudian berkata: “Wahai kaum muhajirin! Lima perkara jika kalian diuji dengannya, dan saya berlindung kepada Allah semoga perkara ini tidak menimpa kalian, tidaklah nampak perzinaan pada suatu kaum sampai mereka terang-terangan melakukannya, kecuali akan tersebar pada mereka tho`un (wabah penyakit) dan kelaparan yang belum pernah ditimpakan kepada ummat sebelum mereka. Dan tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan kecuali akan ditimpakan atas mereka musim kemarau yang panjang, dan kekurangan bahan pangan, dan kelaliman pemerintah. Dan tidaklah mereka enggan menunaikan zakat harta mereka, kecuali akan ditahan hujan dari langit. Seandainya kalau bukan karena binatang niscaya tidaklah diturunkan hujan atas mereka, dan tidaklah mereka melanggar perjanjian Allah dan Rosul-Nya, kecuali Allah akan menguasakan atas mereka musuh dari selain mereka, merampas apa yang mereka miliki. Dan tidaklah para pemimpin mereka enggan berhukum dengan kitabulloh dan enggan memilih dari apa yang diturunkan oleh Allah, kecuali Allah akan jadikan keganasan di antara mereka.”

MENGINGATKAN AHLUS SUNNAH
DI MANA AL-HAQ DAN HUJJAH
DI SITULAH berkah DAN JAMA’AH
DI SISI PARA SALAFUL UMMAH ulama besar ahlus sunnah

Muroja’ah:
Abu Turob saif bin hadhor al-jawi
&
Abu Fairuz Abdurrohman bin sukaya Al-qudsi
Hafidzahumallah

Oleh:
Abu Abdirrohman
Shiddiq bin Muhammad al-bugisi
Hafidzahullah

Darul hadits dammaj
harosahallah

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على سيد المرسلين ومن تبعه بإحسان إلى يوم الدين, أما بعد:

Telah terbit dua buku yang di tulis oleh dua personil ‘hizbiyyah baru’ cabang Indonesia yang pertama bertema “Mendulang Berkah….” (baca; Membuang Barokah Dengan Mendirikan Yayasan Yang Dilumuri Ma’siah) milik Abu Karimah Askari Al-Bugisi, kemudian di susul buku bertema “Meraih Berkah….” (baca; Meraih Kehinaan Dengan Taklid Tanpa Hujjah Dan Burhan) milik Abu ‘Abdillah As-Sarbini Al-Makassari di dalam buku yang kedua ini, ia menukil ucapan pembesarnya Asy-Syaikh Al-Maftun Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushobi sang penyeru kepada taklid murni dalam pembelaannya terhadap tuan besar mereka ‘Abdurrohman Al-Adeni Al-Fajir Al-Hizbi.
Berhubung para ‘hizbiyyah jadidah’ ini menggembar gemborkan permasalahan barokah, seakan-akan merekalah yang berada di atas berkah yang hakiki, maka kami hendak sedikit membahas seputar berkah yang sebenarnya dan menjelaskan betapa jauhnya mereka dari berkah yang hakiki tersebut; Lanjutkan membaca “MENGINGATKAN AHLUS SUNNAH”

Antara Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan Wahhabiyyah

Al-‘Alim Al-Imam Robi’ bin Hadi –hafidzohulloh- berkata: ”Orang-orang kafir, Nashara dan Yahudi menginginkan kaum muslimin murtad dari agama mereka dan pada ahlul bid’ah bagian yang besar dari niat yang jelek ini. Begitu pula niat yang jelek bagi ahlul khoir. Maka dari sini, wajib bagi kita untuk sangat berhati-hati dari mereka.” (Al-Mauqifus Shohih min Ahlil Bida’)

Antara

Ahlus Sunnah wal Jama’ah

dan

Wahhabiyyah

Ditulis oleh:

Abu ‘Amr Ridwan bin Zaki Al-Ambuny

Al-Indunisiy

 

 

Darul Hadits Dammaj

harosahalloh

1432

ijk

           إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.  وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.

قال الله تعالى:﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

﴿يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا الله الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أما بعد,

              Sesungguhnya diantara musibah terbesar yang menimpa umat Islam adalah timbulnya perpecahan di antara mereka. Perpecahan seperti ini akan melemahkan kekuatan umat Islam, menyenangkan hati musuh-musuh Islam dan membuat peluang bagi mereka untuk mencabik-cabik persatuan umat Islam yang dengannya mereka dapat menjalankan misi mereka untuk memerangi umat Islam. Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam yang sangat menginginkan kebaikan kepada umatnya telah memperingatkan umatnya akan hal ini agar mereka menjauhinya sebagaimana sabda beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh ‘Irbath bin Sariyah rodhiallohu ‘anhu: Lanjutkan membaca “Antara Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan Wahhabiyyah”

Bid’ah Menabuh Beduk dan Puji-pujian Sebelum Shalat

Apa yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula diketahui dikerjakan oleh para shahabat radhiyallahu ‘anhum maka hendaklah kita berhenti. Janganlah kita mengamalkan apa-apa yang tidak ada dalilnya dari mereka agar tidak terjerumus kepada perbuatan bid’ah yang telah dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Apa yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula diketahui dikerjakan oleh para shahabat radhiyallahu ‘anhum maka hendaklah kita berhenti. Janganlah kita mengamalkan apa-apa yang tidak ada dalilnya dari mereka agar tidak terjerumus kepada perbuatan bid’ah yang telah dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Pembaca yang budiman, berikut adalah amalan-amalan yang mengiringi pelaksanaan shalat lima waktu yang sering dijumpai di masjid-masjid kaum muslimin yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

Menabuh Bedug Sebelum Adzan

Termasuk amalan jelek yang membudaya di negeri kita adalah menabuh bedug sebelum adzan. Apakah belum sampai kepada mereka hadits Abdullah bin Zaid yang melihat dalam tidurmya seseorang yang membawa genderang/lonceng lalu berkata:

“Ya Abdullah (ya fulan) apakah kau jual loncengmu? Dia jawab untuk apa lonceng itu, saya katakan untuk mengajak shalat, dia bilang apakah tidak aku tunjukkan padamu yang lebih bagus dari lonceng itu, saya bilang iya, dia bilang ucapkan: Allahu Akbar Allahu Akbar.” (HR. Abu Dawud 421, Tirmidzi 174, dll)

Belum cukupkah kaum muslimin dengan ajaran Allah dan Nabi-Nya padahal Allah telah menyempurnakan agama ini? Ini adalah perbuatan tasyabbuh (meniru-niru) dengan orang-orang Nashara tatkala mengumpulkan orang-orang mereka membunyikan lonceng dulu. Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang kita mengikuti orang-orang Yahudi dan Nashrani atau menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin kita, sebagaimana firman Allah:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yahudi dan nashrani sebagai pemimpin/orang yang dicintai, sebagian mereka adalah wali/pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kalian menjadikan mereka sebagai pemimpin/orang yang dicintai maka sungguh orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang dzalim.” (Al Maidah: 51)

Menabuh bedug termasuk mengikuti ajaran mereka. Sunggug benar keadaan kaum muslimin yang digambarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Sungguh kalian akan mengikuti orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai pun ketika mereka masuk lubang biawa kalian akan mengikutinya. Para shahabat mengatakan: Yahudi dan Nashara ya Rasulullah? Beliau menjawab: lalu siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (HR. Muslim 4822 dari Ibnu Mas’ud)

Kesimpulan hadits:

1. Bahwa kaum muslimin akan mengikuti jejak orang-orang kafir baik yahudi maupun nashrani.

2. Lubang biawak sangat berliku-liku. Sangat sulit untuk mencarinya. Ini adalah suatu ibarat bahwa bagaimanapun sulit dan berliku jalan yang ditempuh oleh kaum yahudi dan nashrani, kaum muslimin akan mengikutinya.

Kaum muslimin tidak boleh mengikuti perilaku, tatacara, tutur kata atau ibadah lainnya seperti puasa, shalat dsb [1]. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berusaha menyelisihi orang-orang kafir, baik kaum musyrikan maupun ahlu kitab. Wallahul musta’an.

Membunyikan Sirene Sebelum Adzan [2]

Begitu jauhnya kaum muslimin dari syariat Islam, sehingga suara adzan tidak bisa mereka dengar. Kokok ayam di samping rumah pun tidak bisa menggugah mereka untuk segera bangkit menegakkan shalat. Akhirnya mereka membunyikan sirine yang diharapkan bisa terdengar dan bisa membangunkan orang di segenap penjuru kampung. Ketahuilah, sirine termasuk bid’ah dalam agama. Adapun ayam jago, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Janganlah kalian mencerca ayam jantan sebab sesungguhnya ia mengajak shalat.” (HR. Ahmad, 20690 dari Zaid bin Khalid Al Juhani)

Oleh sebab itu daripada menggunakan sirine lebih baik memelihara ayam jago yang banyak sehingga seorang lebih mudah terbangun dengan suaranya yang bersahutan.

Puji-pujian Sebelum Iqamat

Ini yang paling banyak melanda kaum muslimin di Indonesia. Mereka sangat gemar melakukan puji-pujian sebelum shalat jama’ah dengan keyakinan bahwa amalan ini merupakan bentuk taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah. Lafadz yang sering dilantunkan di antaranya:

1. Allahumma shalli shalaatan kamilatan wa sallim salaman… [3]

2. Tombo ati iku lima ing wernane, siji maca Qur’an ngerti ing maknane, kapindhone shalat wengi lakonono, kaping telu… (dengan bahasa Jawa)

3. Atau lafadz puji-pujian yang kontroversial yang muncul ketika Gus Dur jadi presiden, “Presidene Gus Dur, rakyate adil makmur.”

Berikut ini dampak negatif yang timbul dari puji-pujian:

1. Orang yang melakukan shalat sunnah sangat terganggu dengan suara-suara itu sehingga shalatnya tidak khusyu’.

2. Pelakunya hanya akan senda gurau dengan amalan ini, sesuai dengan namanya ‘puji-pujian’ (menunjukkan ketidaksungguhan dalam memuji Allah). Padahal waktu antara adzan dan iqamah adalah waktu yang sangat mustajab. Sebagaimana sabdi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Doa yang tidak akan ditolak: antara adzan dan iqamah.” (HR. Ahmad dari Anas bin Malik)

3. Hal ini persis dengan amalan Nashrani berupa lagu-lagu gereja yang dinyanyikan sebagai ibadah (menurut mereka) padahal syariat Islam melarang kaum muslimin untuk bertasyabbuh (meniru) perbuatan orang-orang kuffar.

Membunyikan Kaset Bacaan Qur’an Sebelum Adzan

Amalan ini sudah menjadi adat yang dihidupkan hampir di setiap daerah. Konon tujuan mereka adalah sebagai pertanda bagwa waktu shalat sudah dekat. Sehingga diharapkan dengan ini kaum muslimin melakukan segala persiapannya untuk menegakkan shalat berjama’ah. Amalan ini adalah amalan bid’ah yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang beramal dengan sesuatu yang tidak pernah kami ajarkan maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)

Di antara dampak negatif yang timbul dari amalan ini adalah menghalangi seseorang yang shalat sunnah di saat tersebut untuk khusyu’ dalam shalatnya. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang kita untuk saling mengangkat suara di dalam masjid (baik dengan bacaan Qur’an, dzikir, lebih-lebih senda gurau atau amalan-amalan bid’ag yang tidak disyari’atkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda:

“Janganlah kalian mengeraskan suara satu dengan yang lainnya karena masing-masing sedang bermunajat dengan Rabb-nya.” (HR. Ashhabus Sunan dari Abu Sa’id Al Khudry)

Demikianlah sebagian dari amalan-amalan bid’an yang sering dilakukan masyarakat karena jauhnya mereka dari ilmu yang haq. Semoga Allah menambah petunjuk bagi kita serta melindungi kaum muslimin dari amalan-amalan bid’ah yang tidak pernah dituntunkan oleh Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Wallahu a’lam bish-shawab.

[Diambil dari buku “Adzan Keutamaan, Ketentuan dan 100 Kesalahannya” karya Al Ustadz Abu Hazim Muhsin bin Muhammad Bashori, penerbit: Daarul Atsar, hal. 110-120, dengan sedikit perubahan]

____________________
[1] Di antara ajaran beliau yang menunjukkan penyelisihan dari adat/budaya orang yahudi/nashrani adalah:

1. Memerintahkan untuk memelihara jenggot.

2. Memerintagkan untuk menyemir rambut apabila rambutnya sudah putih dan melarang pakai semir hitam.

3. Memerintahkan umatnya untuk shalat pakai sandal.

4. Melarat umatnya dalam mengiring jenazah dengan api unggun, dsb.

[2] Termasuk juga penggunaan sirene sebagai tanda berbuka di bulan puasa. Ini adalah bid’ah, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan bahwa tanda berbuka puasa yaitu dengan tenggelamnya bulatan matahari di ufuk barat.

[3] Ini dinamakan shalawat nariyah. Shalawat ini mengandung kesyirikan yang nyata.