Rukun Islam Termasuk Iman

Rukun Islam termasuk Iman

 بسم الله الرحمن الرحيم

 Berkata Alloh ta’ala:

 إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ (٥٥)

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” (Al-Maaidah: 55) Continue reading “Rukun Islam Termasuk Iman”

DIMANA ALLAH?

Firman Allah subhanahu wa ta’ala (terjemahnya): “Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. Dialah Allah, tidak ada yang berhak disembah melainkan Dia. Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik),” (QS. Thaahaa:1-8)

Dimana Allah?

Bila anda ditanya dimana Allah?

Maka katakanlah Allah Yang Maha Tinggi di atas langit, Istiwa’ diatas Arsy, Dan Ilmunya meliputi segala sesuatu Continue reading “DIMANA ALLAH?”

MENGENAL KITAB SESAT AL-BARZANJY

Kitab ini oleh sebagian orang seakan memiliki kemualiaan, pahala bagi yang membacanya, bahkan dapat memberikan keselamatan dan kebahagiaan dunia serta menolak marabahaya/ bencana bagi pengamalnya.

MENGENAL

KITAB AL-BARZANJY

  

  1. Nama Kitab.

 

Kitab yang masyhur di kalangan kaum muslimin dibanyak tempat menjadi kitab adat masyarakat, dianjurlkan untuk dibaca, bahkan didakwahkan (disebar luaskan) dan tidak segan-segan diperjuangkan dihadapan orang yang menentangnya. Continue reading “MENGENAL KITAB SESAT AL-BARZANJY”

IKHLASH

IKHLASH 

Bila anda ditanya apa itu Ikhlash?

Maka katakanlah Ikhlash adalah memurnikan ibadah hanya kepada Allah atas dasar cinta kepada-Nya, mengharap rahmat surga-Nya dan takut akan siksa neraka-Nya bukan beramal karena dunia, pujian atau mengharap balasan dari manusia.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (terjemahnya): Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS. Al-Baqarah: 165) dan firman Allah ta’ala yang menyebutkan sifat penghuni surga ketika beramal di dunia (terjemahnya): “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (dan berkata) “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.”  Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. (QS. Al-Insaan: 8-11)

juga firman Allah ta’ala tentang orang-orang sholeh yang disembah kaum musyrikin (terjemahnya): “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (QS. Al-Israa’: 57) dan firman Allah ta’ala (terjemahnya): “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Huud: 15-16)

Dan dalam Hadits dari Anas radhiallaahu ‘anhu, dari Nabi Shallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ada tiga hal yang barang siapa ada pada (diri)nya, maka ia dapat menemukan manisnya iman, (1) siapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari pada yang selain keduanya, (2) dan ia mencintai temannya tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, (3) dan ia benci kembali ke dalam kekufuran setelah Allah menyelamatkannya  sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam neraka. (HR. Al-Bukhary no. 15 cet. lain no. 16, dan Muslim Rahimahumallaah no. 60 cet. lain no. 43)

Kesimpulan: IKHLASH adalah memurnikan ibadah hanya kepada Allah atas dasar cinta kepada-Nya, mengharap rahmat surga-Nya dan takut akan siksa neraka-Nya bukan karena dunia, pujian atau balasan dari manusia.

 

SYARAT DITERIMANYA IBADAH

SYARAT DITERIMANYA IBADAH

Jika anda ditanya apa syarat diterimanya ibadah?

Maka katakanlah syarat diterimanya ibadah ada dua:

1) Ikhlash (jauh dari segala bentuk kesyirikan), dan

2) Sesuai dengan tuntunan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya (jauh dari bid’ah).

Dalil tentang syarat yang pertama yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala (terjemahnya): Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu.Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Azzumar: 65) dan firman Allah ta’ala (terjemahnya): “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlashkan (memurnikan ketaatan kepada-Nya) dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah: 5) juga firman Allah ta’ala (terjemahnya): “Katakanlah (Wahai Nabi): Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya sembahan kamu itu adalah sembahan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan dalam beribadat kepada Tuhannya dengan seorangpun.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Dalil syarat yang kedua; Allah ta’ala  berfirman: (terjemahnya) “Katakanlah (Muhammad): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. Ali ‘Imran: 31), dan firman Allah ta’ala: (terjemahnya) “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin (para sahabat), Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-nisaa’: 115)

Dan dalam Hadits dari ummul mukminin ‘Aaisyah Radhiallaahu ‘anha berkata “Rasulullaah Shallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Siapa yang mengadakan (hal baru) dalam urusan (agama) kami ini apa yang tidak termasuk darinya maka hal itu tertolak.” (HR. Al-Bukhaary Rahimahullaah no. 2499, cetakan lain no. 2697) Dalam Riwayat Muslim Rahimahullaah juga dari ‘Aaisyah Radhiallaahu ‘anha berkata: “Rasulullaah Shallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “siapa yang beramal (ibadah) dengan suatu amalan yang tidak ada atasnya perintah kami maka hal itu tertolak” (HR. Muslim Rahimahullaah no. 3243, cetakan lain no 1718).

Kesimpulan: Syarat diterimanya ibadah ada dua: 1) Ikhlash (jauh dari segala bentuk kesyirikan), dan 2) Sesuai dengan tuntunan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya (jauh dari bid’ah).



BINGKISAN BERHARGA

BINGKISAN BERHARGA
BUAT PAMAN-PAMAN DAN PARA TETANGGA

Buah tulisan Abul Abbas Khidhir Al-Mulkiy -semoga Allah menjadikannya selalu terjaga-

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله رب العالمين والعاقبة للمتقين ولا عدوان إلا على الظالمين. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ولا إله سواه، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله الذي اصطفاه واجتباه وهداه، صلى الله عليه وعلى آله وسلم تسليماً كثيراً إلى يوم الدين. أما بعد:
Ini merupakan salah satu dari tulisan-tulisan kami, pada tulisan ini kami maksudkan sebagai nasehat dan wasiat serta peringatan untuk siapa saja yang menginginkan kebaikan, walaupun pada judul tulisan teruntuk paman-paman 1) dan para tetangga namun yang kami inginkan adalah untuk semua pihak yang memiliki keinginan untuk meraih kebahagian abadi.
Semoga apa yang kami tuliskan ini dapat memberi manfaat untuk kami dan untuk siapa saja yang mau menerimanya.
وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم والحمد لله رب العالمين.
Ditulis oleh hamba yang faqir atas Robbnya Abul ‘Abbas Khadhir bin Nursalim Al-Limboriy Al-Mulkiy. Di Masjid As-Sunnah Darul Hadits Dammaj-Yaman pada 4 Muharram 1432 Hijriyyah.

BAGIAN PERTAMA
Berkaitan dengan semaraknya fitnah dan kejelekan yang melanda negri-negri kaum muslimin maka kami pada kesempatan yang berharga ini sengaja membuat suatu bingkisan yang isinya berkaitan dengan wasiat, nasehat dan peringatan. Dan diantara peringatan yang patut untuk kami sampaikan adalah peringatan dari kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan, yang mana para nabi dan rasul telah memperingatkan hal tersebut dari umat-umatnya. Dan bahkan diakhir hayat mereka pun masih terus mewasiatkan untuk meninggalkan itu semua dan terus senantiasa mereka tekankan untuk merealisasikan agama tauhid, Allah Ta’ala berkata tentang hal yang demikian itu di dalam surat Al-Baqarah:
وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آَبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ. الآية.
“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) kematian, ketika beliau berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kalian sembah sepeninggalku?” mereka menjawab: “Kami akan menyembah Sesembahanmu dan Sesembahan bapak-bapakmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Sesembahan Yang Maha Satu dan kami hanya tunduk kepada-Nya”.
Bila seseorang menjaga tauhidnya dan menjauhi segala macam bentuk penyelisihan terhadap tauhid baik itu penyelisihannya berupa kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan maka Allah Ta’ala telah menjanjikan untuk mereka bahwa mereka akan di jadikan sebagai penghuni Jannah (surga), di dalam “Shahih Muslim” dari hadits Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
«مَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ».
“Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun maka dia akan masuk jannah. Dan barangsiapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun maka dia masuk neraka”.
Dan barangsiapa yang kokoh tauhidnya dan mewujudkan konsekwensi kalimat tauhid dengan tidak melakukan kesyirikan baik kesyirikan itu berupa menyembelih untuk selain Allah, memohon pertolongan kepada selain Allah 2), menyembah berhala, bertapa di tempat-tempat keramat, memakai jimat-jimat atau yang semisalnya maka dia akan diberi kemantapan hidup baik di alam dunia, alam kubur dan di alam akhirat Allah Ta’ala berkata di dalam surat Ibrahim:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ. الآية.
“Allah menokohkan 3) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang kokoh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat”.
Dan Allah Ta’ala juga memberikan jaminan keamanan, ketentraman dan kebahagian bagi siapa saja yang merealisasikan tauhid, Allah Ta’ala berkata dalam surat Al-An’am:
الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ. الآية.
“Orang-orang yang beriman yang mereka tidak mencampur adukkan keimanan mereka dengan kezhaliman 4) maka mereka itulah orang-orang mendapatkan keamanan dan mereka adalah orang-orang yang diberi petunjuk”.

BAGIAN KEDUA
Tak ada wasiat yang indah yang akan kusampaikan malainkan wasiat sebagaimana yang Allah Ta’ala wasiatkan di dalam Al-Qur’an pada surat Maryam:
وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا. وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا. الآية.
“Dan Dia mewasiati (memerintahkan)ku untuk (menegakkan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka”.
Dari ayat tersebut kami mewasiatkan kepada paman-paman dan para tetangga serta siapa saja yang mau menerima nasehat untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat dan berbakti kepada kedua orang tua, sungguh indah apa yang dikatakan oleh Abul ‘Abbas:
Paman-pamanku yang pandai dan berpemahaman
Pahamilah bahwa dunia ini pasti kita akan tinggalkan
Pelaksanaan shalat lima waktu adalah suatu kewajiban
Persembahkanlah shalatmu hanya kepada Ar-Rahmaan
Perbaikilah amalan supaya dapat pahala dan kebaikan
Paman-pamanku yang baik hati lagi dermawan
Pandai-pandailah berinfaq karena itu menguntungkan
Perbanyaklah berinfaq terkhusus di bulan Ramadhan
Pengeluaran untuk infaq tidaklah membuat kemiskinan
Perlu diketahui bahwa itu justru penambah kekayaan
Pengeluaran infaq dan zakat hukumnya ada dua rincian
Pengeluarannya sebelum shalat ied fithri adalah kewajiban
Pengeluarannya tidak terikat waktu adalah disunnahkan
Paman-pamanku tentu saja menginginkan kebahagiaan
Perbaiki hubungan kekeluargaan adalah kunci kebahagiaan
Perlu diketahui kebahagiaan itu didapat dengan pengorbanan

MENEGAKAN SHALAT
Perintah untuk menegakan shalat di dalam Al-Qur’an sangatlah banyak, diantaranya dalam surat Luqman Allah Ta’ala mengisahkan tengang wasiat Luqman Al-Hakim kepada putranya:
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاة. الآية.
“Wahai putraku tegakanlah shalat”.

BERSEDEKAH
Orang yang suka bersedekah baik itu berupa sedekah yang wajib (zakat fithri atau zakat harta yang sudah mencapai ketentuannya) atau sedekah yang sunnah maka mereka akan mendapatkan ketenangan hidup di dunia ini, Allah Ta’ala memberikan keberkahan kepada harta mereka, dan di akhirat kelak Allah Ta’ala berikan kenikmatan berupa Jannah (surga), Allah Ta’ala berkata di dalam Al-Qur’an pada surat Al-Baqarah:
إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ. الآية.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang mengerjakan amal shalih, orang-orang yang menegakkan shalat dan yang menunaikan zakat, mereka itu mendapat pahala di sisi Robb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.
Allah Ta’ala juga berkata di dalam Al-Qur’an pada surat An-Nisa’:
لَكِنِ الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ مِنْهُمْ وَالْمُؤْمِنُونَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَالْمُقِيمِينَ الصَّلَاةَ وَالْمُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالْمُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ أُولَئِكَ سَنُؤْتِيهِمْ أَجْرًا عَظِيمًا. الآية.
“Tetapi orang-orang yang dalam keilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Quran), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar”.
Allah Ta’ala juga berkata di dalam Al-Qur’an pada surat Al-Maidah:
وَقَالَ اللَّهُ إِنِّي مَعَكُمْ لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلَاةَ وَآَتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَآَمَنْتُمْ بِرُسُلِي وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَلَأُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ فَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ. الآية.
“Dan Allah berkata: “Sesungguhnya aku bersama kalian, sesungguhnya jika kalian menegakkan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kalian membantu mereka dan kalain pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya aku akan menutupi dosa-dosa kalian. dan sesungguhnya kalian akan Aku masukkan ke dalam jannah yang mengalir didalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antara kalian sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus”.
Dan bahkan Allah Ta’ala telah membuat perumpamaan yang sangat indah untuk orang-orang yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah, Allah Ta’ala berkata di dalam surat
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (261) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ. الآية.
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah adalah Al-Waasi’ (Yang Maha Luas) lagi Al-‘Aliim (Yang Maha mengetahui). Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Robb mereka. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.
Sebagai penghibur maka Abul Abbas menyampaikan beberapa untaian kata dengan judul:
DERMAWAN
Dari Abul ‘Abbas untuk orang yang suka berbuat kebaikan
Di awal nasehat kuingatkan untuk terus menjaga keikhlasan
Dengan keikhlasan seseorang akan terus di atas ketenangan
Di dalam surat Al-Bayyinah 5) ada satu ayat tentang keikhlasan
Di dalam hadits ‘Umar 6) ada penekanan untuk menjaga keikhlasan
Disaat ini telah tersebar berbagai macam kejelekan
Dari luar Islam ada dua serangan secara bersamaan
Dua serangan itu tujuannya untuk merusak keislaman
Dari salah satunya ada penyerangan dengan persenjataan
Dan yang lainnya ada penyerangan dengan pemikiran
Dari dalam Islam juga ada dua bentuk penyerangan
Dari dua itu yang paling dahsyatnya dengan pemikiran
Dai-da’i hizbiyyah bangkit menebarkan kerancuan
Diantaranya Luqman Ba’abduh yang bikin keonaran
Di Ambon ada Abdussalam yang sudah kecanduan
Dia kecanduan karena menguras harta-harta yayasan
Dai gadungan bernama Ismail Buton ikut bela yayasan
Di Dammaj dia berposisi sebagai thulaib gelandangan
Duduknya ketika taklim di sisi Abu Abayah Batman
Dia termasuk kawan Batman yang suka pengangguran
Dikalangan hizbiyyin dijadikan ustadz lalu ditenarkan
Dahulu si homoseks juga ikut diangkat lalu dikibarkan
Dasar hizbiyyin yang bego yang tak punya akal pikiran
Dari mereka sering mengemis ke orang dermawan
Datang mengemis dengan bahasa yang menyedihkan
Di Ambon ada dermawan yang suka berbuat kebaikan
Dia memperhatikan penuntut ilmu dengan beri bantuan
Dia membantu orang-orang yang mendalami keislaman
Dia berakhlaq mulia dan berwibawa serta dermawan
Dia meneladani Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam kebaikan
Diantara pengikut Rasul yang tak mampu dia beri bantuan
Doaku semoga hartanya diberkahi dan diberi tambahan

BERBUAT BAIK KEPADA ORANG TUA
Allah Ta’ala memerintahkan umat manusia untuk berbakti kepada kedua orang tua, dan perintah ini juga telah dijalankan oleh generasi terdahulu, di dalam surat Luqman Allah Ta’ala berkata:
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ. الآية.
“Dan Kami perintahkan kepada manusia untuk (berbuat baik) kepada kedua orangnya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kembalimu”.
Bahkan Allah Ta’ala memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua setelah perintah untuk menegakkan shalat, di dalam “Ash-Shahihain” berkata Abu ‘Amr Asy-Syaibaniy: “Telah menceritakan kepada kami pemilik rumah ini sambil memberi isyarat ke rumah Abdullah bin Mas’ud, beliau berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
أَىُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ «الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا». قَالَ ثُمَّ أَىُّ قَالَ «ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ». قَالَ ثُمَّ أَىُّ قَالَ «الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ». قَالَ حَدَّثَنِى بِهِنَّ وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِى.
“Amalan apa yang dicintai oleh Allah? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Shalat pada waktunya” Beliau bertanya lagi: “Kemudian apa?” Rasulullah menjawab: “Kemudian berbuat baik kepada kedua orang tua” Beliau bertanya lagi: Kemudian apa? Rasulullah menjawab: “Jihad di jalan Allah”. Berkata Ibnu Mas’ud: Beliau (Rasulullah) menceritakan tentang itu semua, kalaulah aku meminta tambah maka tentu beliau memberiku tambahan”.
Wahai paman-paman dan para tetanggaku –semoga Allah memperbaiki keadaan kalian- berbaktilah kepada kedua orang tua kalian bila kalian tidak berbuat baik kepada kedua orang tua kalian maka dikhawatirkan kalian akan menderita, hina dan sengsara di dunia dan akhirat, di dalam kitab “Shahih Muslim” dan “Al-Adabul Mufrad Lil Imam Al-Bukhariy” dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
«رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ». قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ «مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ»
“Kehinaan, kehinaan, kehinaan” ada yang bertanya: Siapa (yang engkau maksud) wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab: “Siapa saja yang mendapati orang tuanya ketika sudah lanjut usia, salah satu atau keduanya namun tidak (menjadikannya sebab) masuk jannah”.

SILATURRAHMI (MENGHUBUNGKAN TALI PERSAUDARAAN).
Wahai paman-paman dan para tetanggaku –semoga Allah memberikan hidayah kepada kalian- bila ada diantara kalian ada suatu kesenjangan atau perselisihan dan adanya saling benci-membenci satu dengan yang lain maka bersegeralah untuk saling berbaik-baikan, hubungkanlah kembali tali kekeluargaan!. Bila kalian melakasanakan wasiat ini maka Allah Ta’ala memberikan jaminan kepada kalian diantaranya dibukakan pintu rezqi dan dipanjangkan umur-umur kalian, di dalam “Ash-Shahihain” dari hadits Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
«مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ».
“Barangsiapa yang suka untuk dilapangkan baginya rezqinya dan dipanjangkan baginya umurnya maka hendaklah dia bersilaturahmi (menghubungkan tali kekeluargaan)nya”.
Ingatlah wahai paman-paman dan para tetanggaku, bila kalian terus tidak berbaik-baikkan dan saling memutus hugungan kekeluargaan maka sangat dikhawatirkan di dunia ini kalian akan menderita dan di akhirat kelak kalian termasuk orang-orang yang merugi, di dalam “Ash-Shahihain” dari hadits Jubair bin Muth’im Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau berkata:
«لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ».
“Tidak akan masuk Jannah orang yang memutus hubungan (kekeluargaan)”.

PENUTUP
Jika kalian wahai paman-paman dan para tetanggaku –semoga Allah menjaga kalian- ingin kebahagian baik di dunia ini maupun di akhirat kelak maka aplikasikanlah wasiat-wasiat Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, diantara wasiat-wasiat tersebut adalah:
1. Mentauhidkan Allah Ta’ala.
2. Menegakan shalat (shalat wajib dan shalat sunnah).
3. Bersedekah (sedekah yang wajib dan yang sunnah).
4. Berbakti kepada kedua orang tua.
5. Menyambut hubungan silaturahmi.
Bila wasiat-wasiat tersebut paman-paman dan para tetanggaku mengamalkannya maka Allah Ta’ala akan menjadikan kepada kalian ketenangan hidup di dunia ini dan di akhirat kelak, Allah Ta’ala berkata dalam surat An-Nahl:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ. الآية.
“Barangsiapa yang melakukan perbuatan yang baik (shalih), baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.
Allah Ta’ala juga berkata dalam surat An-Nisa’:
وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا. الآية.
“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal shalih, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam jannah (surga) dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun”.
Allah Ta’ala juga berkata dalam surat Ghafir:
مَنْ عَمِلَ سَيِّئَةً فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُونَ فِيهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ. الآية.
“Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalasi melainkan sebanding dengan kejahatan itu. dan barangsiapa mengerjakan perbuatan yangbaik (shalih) baik dia itu laki-laki ataupun perempuan sedang dia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezqi di dalamnya tanpa hisab”.
Selesai kami tulis pada hari Jum’at menjelang ‘Ashar pada tanggal 4 (empat) Muharram 1432 (seribu empat ratus tiga puluh dua) Hijriyyah di Masjid As-Sunnah Darul Hadits Dammaj-Sho’dah-Yaman.

———————

1) Penggunaan paman di sini bukan kami khususkan untuk saudara bapak atau saudara ibu kami, namun kami gunakan di sini sebagai keumuman yaitu siapa saja yang umurnya sudah tua dari kami, sebagaimana kebiasaan orang-orang Arab bila seseorang melihat orang lain yang umurnya jauh lebih tua dari dia maka dipanggil dengan ‘ami (paman), di dalam “Ash-Shahihain” dari hadits Aisyah Radhiyallahu ‘Anhu berkata Ummul Mukminin Khadijah Radhiyallahu ‘Anha kepada anak pamannya yang bernama Waraqah bin Naufal Radhiyallahu ‘Anhu:
يَا ابْنَ عَمِّ اسْمَعْ مِنَ ابْنِ أَخِيكَ. فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ يَا ابْنَ أَخِى مَاذَا تَرَى
“Wahai anak pamanku, dengarlah dari anak saudaramu”. Lalu Waraqah berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Wahai anak saudaraku apa yang kamu lihat?”.
Dari hadits tersebut diketahui bahwa Waraqah bukan saudara kandung Abdullah bin Abdul Muthalib namun Waraqah Radhiyallahu ‘Anhu hanyalah anak dari paman Ummul Mukminin Khadijah Radhiyallahu ‘Anha. Wallahu A’la wa A’lam.
2) Seperti memohon pertolongan kepada Walisonggo, Kanjeng, Abdul Qadir Al-Jailaniy atau memohon kepada orang-orang yang syudah meninggal dunia.
3) Yaitu kalimatut tauhid:
لا إله إلا الله
“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah”.
4)Yang dimaksud kezhaliman pada ayat tersebut adalah kesyirikan sebagaimana dalam surat Luqman ketika Luqman Al-Hakim berkata kepada putranya Radhiyallahu ‘Anhuma:
يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ. الآية.
“Wahai putraku janganlah kamu berbuat syirik kepada Allah. Sesungguhnya syirik adalah kezhaliman yang paling besar”.
5) Allah Ta’ala berkata:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ. الآية.
“Padahal mereka tidak diperintah kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan agama (memurnikan ketaatan) kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka menegakkan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus”.
6) Di dalam “Ash-Shahihain” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
«إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى».
“Sesungguhnya amalan tergantung niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang tergantung apa yang dia niatkan”.

Keutamaan Tauhid

Barangsiapa yang mati, sedangkan ia mengetahui bahwa tidak ada ilah yang patut diibadahi kecuali Allah, maka ia akan masuk surga (HR. Muslim)

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Keutamaan Tauhid

وَاعْبُدُوا اللهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan–Nya dengan sesuatupun.” (An-Nisa: 36)

Maka diantara keutamaan Tauhid yaitu,

1. Tauhid adalah persaksian dan ilmu yang paling agung,

Ali- Imron/3:18. Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

firman Allah ta’ala:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. [محمد:19]

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada yang berhak disembahi kecuali Allah …. (Muhammad: 19)

2. Tauhid sebab diciptakannya Jin dan manusia,

Adz-Dzariyat/51:56. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah (hanya) kepada-Ku.

3. Tauhid adalah misi diutusnya para Rosul,

An-Nahl/16:36. Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

4. Tauhid adalah sebab persatuan,

Ali-Imron/3:64. Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.

5. Tauhid adalah dasar islam,

Al-Bayyinah/98:5. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

Dari Abu Abdirrohman Abdulloh bin Umar bin Khoththob rodhiyallohu ‘anhuma, dia berkata “Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: ’Islam itu dibangun di atas lima perkara, yaitu: Bersaksi tiada sesembahan yang haq kecuali Alloh dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Alloh, menegakkan sholat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke Baitulloh, dan berpuasa pada bulan Romadhon.”(HR.Bukhori dan Muslim)

6. Tauhid sebab diampuninya dosa dan dikabulkannya do’a.,

Al-Anbiyaa’/
21:87. Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”

21:88. Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.

7. Tauhid menunjukkan Husnul Khotimah,

Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ كَانَ آخِرَ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang akhir perkataannya Laa Ilaaha illallah, dia masuk surga,” (HR. Abu Dawud, Al-Hakim, Ibnu Mandah dalam At-Tauhid, dan Ahmad. Hadits ini dinyatakan oleh Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani sebagai hadits hasan, lihat Irwa`ul Ghalil hadits no. 687, hal. 149-150)

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ. (رواه مسلم عن عثمان بن عفان)

Barangsiapa yang mati, sedangkan ia mengetahui bahwa tidak ada ilah yang patut diibadahi kecuali Allah, maka ia akan masuk surga (HR. Muslim)

8. Tauhid sebab terlindungi harta dan darah,

dalam hadits:

مَنْ قالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُوْنِ اللهِ حَرَّمَ مَالُهُ وَدَمُّهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ. (رواه مسلم)

Barangsiapa yang berkata لا إله إلا الله dan mengingkari terhadap apa-apa yang diibadahi selain Allah, maka haram harta dan darahnya. Adapun perhitungannya ada pada sisi Allah (HR. Muslim).

9. Tauhid sebab mendapatkan syafa’at,

dalam hadits:

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إَلاَّ اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ. (رواه البخاري)

Manusia yang paling berbahagia dengan syafa’atku di hari kiamat adalah seseorang yang berkata لاَ إِلَهَ إَلاَّ اللهُ dengan ikhlas dari lubuk hatinya. (HR. Bukhari)

10. Tauhid sebab menyelamatkan dari api neraka,

sabda Nabi Shalallahu ‘alahi wassalam :

مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمّدًا رَسُوْلُ اللهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ . (رواه البخاري)

Tidaklah dari salah seorang di antara kalian yang bersaksi bahwasanya tidak ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah dengan jujur dari lubuk hatinya, kecuali Allah akan mengharamkannya dari api neraka. (HR. Bukhari)

11. Tauhid sebab mendapatkan surga,

sebagaimana disebutkan dalam hadits:

مَنْ لَقِيْتُ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبَهُ فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ. (رواه مسلم عن أبي هريرة)

Barangsiapa yang menemui-Ku dari balik tabir ini yang bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang patut diibadahi kecuali Allah dengan yakin terhadapnya dalam hatinya, maka berilah kabar gembira kepadanya dengan surga. (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ. (رواه مسلم عن عثمان بن عفان)

Barangsiapa yang mati, sedangkan ia mengetahui bahwa tidak ada ilah yang patut diibadahi kecuali Allah, maka ia akan masuk surga (HR. Muslim)