Mengenal Utsman Assalimy

Penjelasan Terperinci

Tentang Utsman As Salimi

Dan Bantahan Terhadap Syubuhat Si Utmi

Tentang Markiz Ibu di Fuyusy Al Hizbi

   

Ditulis Oleh Asy Syaikh Al Fadhil:

Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al Amudiy

Al Hadhromiy Al Adaniy

-semoga Alloh menjaga beliau-

 

Diterjemahkan Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo

-semoga Alloh memaafkannya-

di Yaman

 

Judul Asli:

“Al Bayan Li Sui Halis Salimiy ‘Utsman

Wa Firoqi Tilkal Umm Bi Sababi Ma Shona’athu Minal Fusuq Wal ‘Ishyan”

Judul Terjemah Bebas:

“Penjelasan Terperinci Tentang Utsman As Salimi

Dan Bantahan Terhadap Syubuhat Si Utmi

Tentang Markiz Ibu di Fuyusy Al Hizbi”

 

Ditulis Oleh Asy Syaikh Al Fadhil:

Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al Amudiy

Al Hadhromiy Al Adaniy

-semoga Alloh menjaga beliau-

 

Diterjemahkan Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo

-semoga Alloh memaafkannya-

di Yaman

 

Pengantar Penerjemah

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وآله وسلم، أما بعد:

            Sesungguhnya sebagian ikhwah yang mulia dan punya kecemburuan terhadap agamanya menyebutkan bahwasanya Utsman As Salimiy dan Abdulloh Al Mar’iy sedang berceramaah di beberapa tempat di Indonesia. Saudara kita yang mulia tersebut menanyakan pada saya tentang jarh terperinci tentang Utsman As Salimiy.

            Sebenarnya cukuplah bahwasanya Utsman As Salimiy itu menentang hujjah-hujjah ahlul haq tentang kebatilan Mar’iyyun, tanpa sanggup adu hujjah. Bahkan dirinya menjadi pembela dan pendukung para ahli ahwa tersebut.

Al Imam Ash Shon’aniy رحمه الله : “Adapun orang bersikeras di dalam kesalahannya setelah ada penjelasan, maka datang riwayat dari Ibnul Mubarok dan Ahmad Bin Hanbal dan Al Humaidiy dan yang lainnya, maka riwayatnya jatuh dan tidak ditulis, dikarenakan sikap bandelnya di atas kesalahannya tadi membatalkan kepercayaan terhadap perkataannya.  –sampai pada ucapan beliau:- Ibnu Hibban berkata: “Sesungguhnya barangsiapa telah jelas bagi dirinya kesalahannya dan tahu kesalahannya itu tapi tak mau rujuk darinya, dan malah terus-terusan demikian maka dia adalah pendusta dengan ilmu yang shohih.” At Taj At Tibriziy berkata: “Dikarenakan orang yang membangkang itu bagaikan orang yang meremehkan hadits dengan cara melariskan perkataannya dengan kebatilan. Adapun jika pembangkangannya itu karena kebodohannya maka dia lebih pantas untuk jatuh karena dia menggabungkan kepada kebodohannya tadi pengingkarannya terhadap kebenaran.” (“Taudhihul Afkar”/2/hal. 258).

            Bahkan sekalipun si Salimiy itu adalah seorang syaikh dari Ahlussunnah, tapi dia memenuhi undangan para ahli ahwa, maka telah datang nasihat yang benar dari syaikh dia, yaitu Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله untuk jangan menghadiri majelis tersebut.

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata tentang karakter Ikhwanul Muslimin: “… maka mereka berjumpa denganku dan berkata kepadaku: Janganlah Anda menyangka bahwasanya si fulan itu termasuk dari kami, kami mengambilnya hanyalah demi agar kami bisa mengumpulkan orang-orang.” (“Ghorotul Asyrithoh”/1/hal. 542/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله : “Adapun masalah ta’awun (baku tolong) dengan mereka, maka aku menasihati Ahlussunnah untuk memohon pertolongan pada Alloh dan menegakkan kewajiban mereka. kita mengajak orang kapada Alloh. Dan kenyataannya: kita itu tidak sanggup untuk saling bantu dengan sesama saudara kita Ahlussunnah di Yaman, di Sudan, di Haromain, di Najd, Mesir dan di Yordan. Maka kenapa kita pergi dan baku tolong dengan orang-orang yang menganggap Ahlussunnah itu musuh terbesar? Maka jika engkau pergi (dengan mereka) maka itu adalah dalam rangka mereka membidik para pemuda sepeninggalmu. Engkau menyampaikan ceramah, lalu mereka mengambil para pemuda sepeninggalmu.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 11/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

            Manakala sebagian ikhwah minta penjelasan yang lebih rinci tentang Utsman As Salimiy, maka dengan mengucapkan nama Alloh dan memohon pertolongan-Nya saya akan penuhi permintaan tersebut dengan menerjemah risalah Asy Syaikh Al Fadhil Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al ‘Amudiy Al Hadhromiy Al Adaniy حفظه الله , yang beliau tulis sekitar dua tahun yang lalu. Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih mengenal karakter dan penyimpangan orang tadi, dan lebih berhati-hati dalam memilih pengajar.

            Adapun untuk Abdulloh Al Mar’i, maka saya telah menjelaskan panjang lebar buruknya orang itu dalam kandungan risalah “Apel Manalagi Buat Cak Malangi: Mengingat Kembali Kebusukan Abdul Ghofur Al Malangi.”

            Semoga Alloh melimpahkan taufiq-Nya kepada kita semua.

بسم الله الرحمن الرحيم

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهدي الله فهو المهتدي، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلوات الله وسلامه عليه وعلى آله وصحبه وأتباعه وأنصاره إلى يوم الدين، أما بعد:

            Maka sesungguhnya termasuk dari apa yang Alloh karuniakan kepada dakwah yang suci, bersih dan jernih ini adalah: Alloh menjadikannya diistimewakan dari seluruh dakwah-dakwah yang lain, terpisah dari seluruh kesesatan dan hizb-hizb (partai/kelompok).

            Yang demikian itu adalah karunia dari Alloh yang Dia berikan kepada yang dikehendaki-Nya dan dikhususkan dengannya siapa yang dikehendaki-Nya, dan Alloh Maha Memiliki karunia yang besar. Alloh ta’ala berfirman:

{وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا } [الإسراء: 20]

“Dan tidaklah karunia Robbmu itu terlarang.”

Dan berfirman:

وما بكم من نعمة فمن الله. ]النحل: 53[

“Dan kenikmatan apapun yang ada pada kalian, maka itu adalah dari Alloh.”

            Dan termasuk dari akibat dari fitnah yang dahsyat ini adalah bahwasanya dia itu menjadi sebab terfitnah orang-orang yang Alloh kehendaki untuk tertimpa fitnah, dari kalangan orang-orang yang punya hati yang sakit. Yang demikian itu adalah dikarenakan fitnah itu datang dalam bentuk setan dan pergi juga dalam bentuk setan, sehingga hampir-hampir fitnah itu tidaklah melewati hati yang sakit yang terfitnah dengan syubhat atau syahwat atau tergoda oleh keduanya, kecuali hatinya itu condong kepadanya, tergila-gila kepadanya dan melamarnya, sampai akhirnya fitnah tadi menguasai akal-akal mereka dan masuk ke dalam relung hati mereka. Sampai manakala kecintaan kepada fitnah tadi telah mencengkeram di dalam hati mereka, dan meresap ke dalamnya, jadilah hati tadi di belakang fitnah tadi bagaikan orang-orang gila atau orang-orang yang tersihir.

            Dan termasuk dari kayu bakar fitnah ini dan dipatahkan oleh fitnah ini, setelah sebelumnya dia menampakkan sikap rujuk dari Baroatudz Dzimmah Firqoh Hasaniyyah Hizbiyyah (sekte penanda tangan dukungan Untuk Abul Hasan Al Mishriy) yang menggelembung seperti luka bengkak, yang telantar (tidak mendapatkan taufiq) bagaikan mimpi adalah pemuda yang bernama “Utsman kecil bin Abdulloh Al ‘Utmiy”, salah satu pelamar fitnah ini dan yang tergila-gila dengannya. Dia berkata –dan alangkah jeleknya ucapannya- dengan perkataan yang batil dan banyak salahnya yang hina dan tidak ada harganya: “Dammaj itu adalah ayah, sedangkan Fuyusy itu adalah ibu.”

            Ucapan tersebut ada di tempat kumpulan hizbiyyah yang baru tersebut, di klub Fuyusy, tempat menetap Hizb Tajammu’ Al Fuyusiy untuk pengelompokan, perusakan, pengadu dombaan, pembentukan pekerja dan konsentrasi mencari keduniaan.

            Engkau telah rugi wahai Utsman kecil, pada hari di mana engkau menjadikan kepala itu jadi ekor, dan ekor itu jadi kepala.

            Engkau telah mendatangkan kedustaan besar wahai Utsman kecil. Jika ucapan ini datang darimu, maka tidaklah diterima. Dan tidaklah menerima ucapan itu kecuali orang yang membikin bodoh dirinya sendiri. Akan tetapi sebagai bentuk mengalah padamu, aku katakana padamu: “Si ibu ini kondisinya buruk, dan kehidupannya buruk, dia lari dari kebaikan dan merasa asing darinya, pertimbangannya menjadi cacat, akal si ibu ini bertambah lemah, agamanya semakin rapuh, dia tidak lagi senang tinggal di rumahnya yang menjadi tempat kemuliaannya dan tidak lagi senang menyertai suami yang menjaga kehormatan.”

            Dan termasuk dari orang yang hina jiwanya sehingga menjadi ekor bagi para pelaris fitnah ini dan masuk dalam perkara yang tidak penting bagi dirinya, dan memancangkan dirinya sebagai pembela bagi orang-orang yang terfitnah, menjadi hizbiyyin dan zholim terhadap dakwah dan syaikh dakwah ini di tengah-tengah markiz dakwah ini adalah:

UTSMAN BIN ABDILLAH AL ‘UTMIY AS SALIMIY

yang sekarang ini tinggal di masjid As Salaf di kota Dzammar, di desa Jabal Harron.

            Orang ini dulu termasuk dari murid Al Allamah Al Wadi’iy. Dan di awal perkaranya di atas kebaikan dan ketenangan. Dia berpindah di masa hidup Asy Syaikh Muqbil رحمه الله ke desanya dan dibukakan untuknya markiz di wilayah Al Jum’ah di negri ‘Utmah. Dia tinggal di situ di suatu selang waktu, dan dengannya Alloh memberikan manfaat pada penduduk negrinya ketika itu.

Akan tetapi tempat tersebut ada di wilayah pegunungan, jalannya terjal. Dia sering tinggal di situ beberapa hari, lalu keluar untuk dakwah. Dan dia memperbanyak keluar sehingga membikin susah para murid. Dan kebanyakan dari mereka pergi ke Ma’bar karena dekat dengan mereka. Dan sebagian dari mereka pergi ke Dammaj. Manakala dia melihat markiznya mengalami kemunduran, mulailah dia melongok-longok ke tempat yang lebih baik. Dan keadaan ekonomi dia susah.

Maka sebagian orang mengisyaratkan padanya untuk pergi ke Ma’rib ke Abul Hasan agar memberikan padanya jaminan keuangan dan tunjangan bulanan. Maka pergilah dia ke sana. Dan aku termasuk yang menyertainya dalam perjalanan dia bersama akh Muhammad Al Hanasy dan akh Abdulloh bin Ghonim Al Mushonnif dan sebagian ikhwan yang lain di dalam mobil Muhammad Al Hanasy. Ketika kami sampai di Ma’rib, dia duduk dengan Abul Hasan dan akh Abdulloh bin Ghonim. Dan aku tidak tahu apa yang berlangsung di dalam majelis itu, karena majelis itu di dalam rumah Abul Hasan. Kemudian kami kembali ke Shon’a pada hari yang kedua.

Dan mereka pergi ke seseorang yang namanya Yahya yang bekerja bersama Muassasah Al Haromain, tinggal dekat dengan Masjid Ad Dakwah yang di dalamnya ada Abdul Majid Ar Roimiy, dan aku tidak tahu apa yang berlangsung di antara mereka.

Dan manakala berlangsung fitnah Abul Hasan Al Mishriy, Utsman As Salimiy termasuk penolong pertama bagi dirinya dan yang terdaftar dalam Baroatudz Dzimmah. Dan keadaan dia seperti ucapan Syaikh kami Yahya حفظه الله : “Dia tak punya bashiroh (pandangan yang tajam) tentang fitnah-fitnah, dia itu hanyalah pembebek terhadap para masyayikh.”

Dan termasuk perkara yang menguatkan perkataan Syaikh kami Yahya حفظه الله adalah bahwasanya dia pernah pada suatu ketika datang ke Ma’bar di permulaan fitnah Abul Hasan, dan ketika itu Asy Syaikh Muhammad Al Imam membela Abul hasan dan berkata tentangnya: “Abul Hasan adalah imam”, dan berkata: “Semoga Alloh memperbanyak orang-orang semisal beliau.” Maka Utsman As Salimiy membikin ceramah yang di dalamnya sindiran dan tusukan terhadap orang-orang yang mengkritik Abul Hasan dan juga penghinaan terhadap mereka, juga dorongan untuk mengikuti Abul Hasan, membelanya. Termasuk dari ucapan As Salimiy adalah: “Janganlah kalian pergi dan mengumpulkan kesalahan-kesalahan ulama, kenalilah kadar diri kalian sendiri.” Dan dia menggambarkan bahwasanya bantahan pada penyelisih kebenaran itu sebagai jalan yang baru dalam dakwah Ahlussunnah. Dia membebek Muhammad Al Imam dalam masalah itu.

Dan yang menjerumuskan dirinya ke dalam fitnah Abul Hasan adalah perkara-perkara yang Alloh yang paling mengetahuinya, dan di antaranya adalah jaminan tunjangan dari Abul Hasan.

Dan manakala para masyayikh rujuk dari sikap pembelaan mereka untuk Abul Hasan, datanglah dia ke Ma’bar dan menyampaikan ceramah yang bersifat global seputar fitnah, dan mendorong para pelajar untuk bersama Muhammad Al Imam, dan mengambil ucapannya di dalam fitnah. Maka semoga Alloh memerangi hawa nafsu, bagaimana dia menjadikan pengikutnya berbolak-balik khususnya bersama perasaan dan maslahat keduniaan.

Dan bersamaan dengan dirinya menampakkan rujuk dari fitnah Abul Hasan, dia itu tidak ridho pada Syaikh kami Yahya حفظه الله dan saudara-saudara beliau dalam thoriqoh dalam membantah Abul Hasan, bahkan dia sering menampakkan penyelisihan dan tidak ridho dengan perkataan Asy Syaikh Yahya, dan menggambarkan bahwasanya pada diri beliau itu ada kekerasan.

Bahkan saudara kita yang mulia Abdulloh bin Ghonim Al Mushonnif –yang banyak menyertai Utsman As Salimiy- ketika di Utmah, mengabariku: “Asy Syaikh Utsman tidak senang dengan Asy Syaikh Yahya sejak dulu.” Ini dikarenakan pemegangan Utsman As Salimiy terhadap thoriqoh Salaf رضوان الله عليهم rapuh.

Dan termasuk yang memperkuat ucapan tadi adalah bahwasanya setelah usai fitnah Abul Hasan, Utsman As Salimiy dan Abdulloh Al Mushonnif masuk menemui satu orang di kerajaan Saudiy, sebagaimana Al Mushonnif mengabariku dengan itu, dan si orang tadi sangat fanatik dengan Abul Hasan dan mencerca Asy Syaikh Yahya. Akh Al Mushonnif berkata: “Dadaku menjadi sesak dengan ucapan orang tadi dan aku keluar dari kamar itu, sementara As Salimiy diam saja dan menyatu dengan orang itu dalam pembicaraan mereka.”

Dia juga mengabariku bahwasanya para murid As Salimiy menjelek-jelekkan Asy Syaikh Yahya di fitnah yang terakhir ini di hadapan As Salimiy, sementara dia tidak mengingkarinya dan tidak menghardik seorangpun dari mereka.

Bahkan saudara kita Abdurrohman Al Qo’waniy yang dari Jihron, di Ma’bar di toko akh Asy Syarihiy, mengabariku bahwasanya As Salimiy berkata: “Orang yang fanatik untuk Al Hajuriy silakan keluar dari tempatku.” Tanggung jawab berita ini ada di pundak dia.

Dan pada fitnah Abdurrohman Al Adaniy jadilah Utsman As Salimiy menjadi pembalas dendam untuk dia dengan kerasnya, dan berjalan di dalam fitnah itu tanpa bashiroh, dan memasukkan dirinya ke dalam pertemuan-pertemuan para masyayikh, dan membubuhkan tanda tangan bersama para penanda tangan, menyambut orang-orang yang turun di tempat dia dari kalangan orang-orang yang terfitnah, menaungi mereka dan memberikan bantuan pada mereka. Dalam masalah itu di membebek pada Asy Syaikh Muhammad Al Imam هداه الله.

Dan termasuk maftunun yang paling keras ketersia-siannya dan kebodohannya serta kedustaannya adalah Hamud bin Mas’ad Al Khorrom Adz Dzammariy, yang terkadang menyertai Utsman As Salimiy dan menemaninya berkeliling, dan Utsman menilainya sebagai teman khususnya dan teman bermusyawarahnya, padahal orang itu adalah sangat bodoh dan pecinta dunia, meninggalkan rumah dua tingkat yang di Darul Hadits di Dammaj, dan pergi mengobarkan fitnah di Dzammar, dan dia mendapatkan tempat bernaung di markiz As Salimiy yang telantar itu. Dan burung-burung itu hinggap pada yang sejenis dengannya.

Dan As Salimiy juga menaungi orang-orang terfitnah yang lain seperti Hasan bin Nur, Nabil Al ‘Ammariy, Abbas Al Jaunah, Naji An Naqib Al Yafi’iy dan yang sejenis dengan mereka. Dan mereka itu tidaklah datang untuk mengambil ilmu dari As Salimiy, karena mereka itu telah meninggalkan ilmu dan markiz ilmu, akan tetapi Si Salimiy manakala terjatuh ke dalam fitnah dan terdukung dengan harta, maka merekapun menjadikan masjid dia sebagai tempat bernaung dan tinggalnya pemikiran mereka, dan jadilah markiz dia dan beberapa markiz yang lain dibandingkan dengan Dammaj bagaikan orang-orang Haruro berhadapan dengan para Shohabat رضي الله عنهم, dan jadilah markiznya itu tempat bernaung bagi orang-orang yang terfitnah dalam Dakwah Salafiyyah, seperti markiz Ma’bar dan lebih keras lagi.

Dan orang ini –yakni As Salimiy- bersamaan dengan seringnya dia membanggakan dirinya sebagai murid Al Imam Al Wadi’iy yang ‘afif (menjaga kehormatan dari perkara-perkara yang hina- , hanya saja dia itu menyelisihi thoriqoh Al Imam Al Wadi’iy secara khususnya dalam bab ‘iffah terhadap harta orang dan penghinaan diri di hadapan para hartawan. Dia ketika masih di Utmah mengutus saudaranya (Muhyiddin) di Romadhon ke Saudi berumroh lalu mengumpulkan uang dan bantuan-bantuan untuk markiz, dan jika dia sendiri berangkat haji atau umroh dia tinggal sementara di sana berpindah-pindah dari pedagang yang satu ke pedagang yang lain sebagaimana bersaksi tentang itu orang yang menyertainya dan mengetahui sebagian keadaannya.

Si Salimiy seandainya mendapatkan taufiq niscaya tetap tinggal di negrinya mengajar dan mendakwahi orang ke jalan Alloh, karena negrinya itu negri yang menerima dakwah Ahlussunnah Wal Jama’ah, dan penduduknya menyukai kebaikan, dan di situ ada para pelajar yang mulia. Akan tetapi si Salimiy di akhir-akhir menyukai kemewahan yang dicurahkan oleh sebagian pedagang. Ini dari satu sisi, dan dari sisi lain dia suka keterkenalan. Dan pada hakikatnya perkara inilah yang merasuki ratusan orang yang terfitnah oleh fitnah-fitnah terdahulu sehingga dakwah mereka hilang. Maka jauh sekali wahai Salimiy jika engkau tak bisa mengambil pelajaran dari kondisi mereka, karena kami melihat engkau menjadi lebih bersemangat mencari tempat yang lebih mewah, bukannya tempat yang lebih bermanfaat.

            Maka As Salimiy pernah dijanjikan untuk didirikan untuknya markiz di desa Waroqoh, salah satu desa di wilayah ‘Ans, lalu dia didahului oleh ke tempat itu oleh Sholih Al Faqir, salah satu pengikut Abul Hasan. Dan dia didatangi oleh penduduk Baidho, dan mereka berupaya agar dia mau keluar ke tempat mereka, tapi dia tidak mau. Manakala dia diundang ke Dzammar –semoga Alloh memaafkan orang yang mengundangnya- maka dia langsung berangkat dengan cepat, padahal dia tahu bahwasanya di sana sudah ada Asy Syaikh Abdurrozzaq An Nahmiy, Asy Syaikh Abdulloh bin Utsman, Asy Syaikh Sholah Al ‘Imad, Asy Syaikh Abdul Ghoni Al Umariy dan yang lainnya. Manakala dia tahu bahwasanya tempat tersebut telah siap dan didukung oleh seorang pedagang, bergegaslah dia menuju tempat itu karena suatu kebutuhan yang ada di hati si Utsman.

            Orang ini pada hakikatnya lemah, mudah dipengaruhi oleh sebagian teman duduknya. Yang mengherankan, dia itu menjadi rajin dalam fitnah-fitnah. Dan aku sampai sekarang tidak tahu dia punya suatu bantahan terhadap ahli bida’ wal ahwa, para pengikut jam’iyyat dan hizbiyyat meskipun berupa risalah kecil dalam membela kebenaran dan menolak kebatilan, dan bagaimana dia bisa berbuat itu sementara dia setiap kali datang fitnah boro-boro bisa selamat?

            Dan termasuk yang menjelaskan kelemahannya dalam mengetahui manhaj salafiy apa yang ditulisnya dalam kata pengantar kitab “Al Ibanah” karya Asy Syaikh Al Imam yang mana dia berkata: “… maka aku mendapatinya sebagai kitab yang sangat bermanfaat , bahkan di dalamnya ada faidah-faidah yang perlu didapatkan dengan pergi jauh dengan pasti. Di dalamnya beliau menyebutkan kaidah-kaidah dari para ulama dan kriteria-kriteria yang bagus yang menetapkan manhaj salaf dalam jarh wat ta’dil dan kriteria-kriteria hajer (pemboikotan)… dst.”

            Maka aku katakan: Wahai Salimiy, bertaqwalah pada Alloh dalam dirimu sendiri, bagaimana engkau menjadikan kaidah-kaidah kholafiyyah (lawan dari Salafiyyah) yang ditetapkan oleh Abul Hasan dan ahli ahwa yang lainnya sebagai kaidah-kaidah Salaf? Sungguh engkau telah menzholimi Salafush Sholih karena engkau menisbatkan pada mereka perkara yang bukan dari manhaj mereka. Perkara terbaik yang bisa dipakai untuk memberi udzur di sini adalah bahwasanya engkau tidak menampilkan dan tidak mendatangkannya maka engkau tidak berbicara dengan memikirkannya lebih dulu ataupun dengan dasar yang benar, hanyalah engkau di atas anggaran dasar Ghoziyyah (taqlid pada suatu kelompok).

            Kemudian aku berkata padamu dan kepada orang yang terpedaya dengan perkataanmu: bukankah Asy Syaikh Al Imam mengakui bahwasanya di dalam kitabnya itu ada kebenaran, dan dia mengupayakan untuk memperbaikinya? Dan ini adalah setelah dicetaknya kitab itu dan setelah kata pengantar kata pengantar tadi, yang mana pengantar tadi adalah hasil dari perasaan. Maka rujuknya Asy Syaikh Al Imam dari kesalahan-kesalahannya setelah kata pengantar tadi merupakan penjelasan tentang bodohnya kalian dan tidak mendalamnya kalian dalam ilmu dan pengenalan terhadap manhaj Salafush Sholih.

            Dan lihatlah orang yang Alloh sinari mata hatinya dan mengetahui –setelah taufiq dari Alloh untuknya- dengan kekuatan ilmiyyahnya dan pemurniannya untuk mengikuti kebenaran dan menjauhi anggaran dasar Ghoziyyah dan tidak takut di jalan Alloh celaan orang yang mencela, syaikh kami An Nashihul Amin Yahya  -semoga Alloh menjaga beliau dan meluruskan beliau-, bagaimana beliau mengingkari apa yang ada di dalam kitab “Al Ibanah” yang berupa prinsip-prinsip yang menyelisihi manhaj Salafush Sholih. Sejak awal kitab itu diletakkan di tangan beliau dan menjelaskan apa yang ada di dalamnya dengan perkataan ilmiyyah yang ringkas dalam buklet dengan judul “Mujmalut Taqwim Wash Shiyanah”. Dan seperti itu pula saudara-saudara beliau dan murid-murid beliau yang terkemuka seperti akh Sa’id Da’as dalam kitab beliau “Tanzihus Salafiyyah” dan akh Yusuf Al Jazairiy dalam kitab beliau “Mishbahuzh Zholam”.

            Maka wahai Ahlussunnah dari kalangan massyayikh dan pelajar Darul Hadits di Dammaj, alangkah pintarnya Anda semua, maka harapkanlah pahala di dalam menjaga benteng sunnah. Dan di sisi Alloh sajalah pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.

            Dan aku mengatakan ini dengan kebenaran: seandainya Alloh Yang Mahasuci tidak memberikan karunia kepada dakwah ini dengan Asy Syaikh Yahya sepeninggal Al ‘Allamah Al Wadi’iy رحمه الله bisa jadi ada dua kelompok yang mempermainkan dakwah ini, yaitu: para pendendam dan orang-orang yang dibikin lalai, mereka orang-orang yang mempermainkan dakwah. Dan juga niscaya akan tersamarkan bagi manusia kesamaran yang mereka lakukan. Maka hanya milik Alloh sajalah pujian dan karunia.

            Dan kebenaran ini lebih berhak untuk diikuti tanpa mengedepankan perasaan dan metode muwazanah (menimbang kebaikan dan kejelekan untuk melindungi pelaku penyimpangan), karena dengungan ini telah bercokol di kalangan sebagian orang. Mereka berkata: “Bagaimana kalian mengkritik si fulan, padahal dia itu mengajak ke jalan Alloh عز وجل , sholat, puasa, sholat malam, dan menangis jika membaca Al Qur’an?”

            Wahai Ahlussunnah, masalahnya adalah: kebenaran itu harus ditolong, dan kebatilan itu harus ditelantarkan.

            Kemudian perasaan-perasaan yang berhadapan dengan kebenaran ini tidak ada di kalangan Salafush Sholih عليهم رحمة الله.

            Ini dia Aban bin Abi ‘Ayyasy, Ibnu Hibban berkata tentangnya: “Aban termasuk dari kalangan ahli ibadah yang begadang di malam hari dengan sholat, dan melipat siang dengan puasa, …” Akan tetapi dia itu lemah dalam masalah hadits. Bersamaan dengan ini Syu’bah mengkritiknya, sebagaimana dalam biografi Aban di “Mizan”: “Aku lebih suka untuk meminum kencing keledai sampai hilang hausku daripada aku mengatakan: haddatsana Aban bin Abi ‘Ayyasy.”

            Dan Adz Dzahabiy juga menyebutkan atsar dari Hammad bin Zaid yang berkata: “Kami mengajak bicara Syu’bah agar menahan kritikan terhadap Aban bin Abi ‘Ayyasy, karena usia tuanya dan karena keluarganya, maka beliau menjamin untuk melakukan itu. Lalu kami berkumpul di suatu jenazah, maka Syu’bah menyeru dari kejauhan: “Wahai Abu Isma’il, saya telah rujuk dari jaminan tadi, menahan kritikan dari dirinya itu tidak halal, karena perkara ini adalah agama.”

            Dan ini Abdulloh bin Muharror, Ibnu Hibban berkata tentangnya: “Abdulloh ini adalah termasuk para hamba Alloh yang terbaik, akan tetapi dia berdusta dan tidak tahu, dia membalik berita dan tidak memahami, …”

Abdulloh Ibnul Mubarok berkata,”Andaikata aku diberi pilihan antara masuk ke dalam jannah ataukah berjumpa dengan Abdulloh bin Muharror, niscaya aku akan memilih untuk berjumpa dengannya baru kemudian aku masuk Jannah. Ketika aku melihatnya ternyata kotoran hewan lebih aku sukai daripadanya.”

Dan contoh-contoh tentang ini itu banyak. Kemudian yang mengherankan adalah orang yang menisbatkan diri pada Ahli Hadits dalam keadaan dia bodoh terhadap thoriqoh mereka, pembelaan mereka, dan jihad mereka terhadap ahlil ahwa wal bida’.

Kemudian aku mengulangi lagi: bagaimana halal bagi si Salimiy dan yang semisal dengannya untuk menisbatkan thoriqoh mereka kepada thoriqoh Asy Syaikh Muqbil رحمه الله , dan bahwasanya beliau itu demikian dan demikian?

Dan dalam pola pujian pada Asy Syaikh Muqbil رحمه الله itu mereka menyindir untuk mencerca Asy Syaikh Yahya حفظه الله dan bahwasanya beliau itu menyelisihi Asy Syaikh Muqbil رحمه الله dalam metode jarh wat ta’dil, sementara mereka sendiri tidak menempuh jalan para imam yang terdahulu ataupun juga jalan Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله setelah para imam tadi, dalam masalah nasihat, kritikan pada para tokoh, di atas cahaya dalil-dalil dan bukti-bukti.

Lihatlah sebagai contoh: “Al Mushoro’ah”, “Ghorotul Asyrithoh”, “Fadhoih Wa Nashoih”, “Iskatul Kalbil ‘Awi”, “Al Burkan”, “Riyadhul Jannah”, “Sho’qotul Zilzal”, dan kitab-kitab dan risalah-risalah yang lainnya.

Bahkan Asy Syaikh Muqbil رحمه الله berkata bahwasanya mayoritas kitab-kitab beliau adalah bantahan-bantahan.

Dan bacalah wahai kaum, apa yang dikumpulkan oleh Salim Al Khoukhiy yang terfitnah dengan hizbiyyah yang baru, bersama beberapa saudaranya dalam kitab: ”I’lamul Ajyal Bi Kalamil Imamil Wadi’iy Fil Firoq Wal Kutub War Rijal.” Dan diberi kata pengantar oleh sejumlah masyayikh: Asy Syaikh Yahya, Al Wushobiy, Al Imam, adz Dzammariy, Al Buro’iy dan Ash Shoumaliy.

Maka di manakah perbandingan antara serangan syaikh kalian Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله terhadap para penyeleweng, dan pujian kalian kepada beliau itu, dibandingkan dengan dinginnya kalian sekarang ini bersama dengan orang-orang yang membikin fitnah terhadap sunnah dan Ahlussunnah? Bandingkanlah, niscaya kalian akan tergoncang dan tahulah kalian akan sabarnya Asy Syaikh Yahya untuk menegakkan kewajiban ini. Dan semoga hal itu memberikan faidah pada kalian untuk mengetahui keutamaan pemilik keutamaan.

Asy Syaikh Adz Dzammariy berkata dalam kata pengantar beliau: “Dan seandainya kita membandingkan ucapan Asy Syaikh (Muqbil) dengan ucapan Salaf tentang orang-orang semisal mereka (para penyeleweng itu) niscaya kita dapati bahwa ucapan Salaf bisa jadi lebih keras, …”

Dan aku katakan: “Dan seandainya kita membandingkan ucapan Asy Syaikh Yahya حفظه الله dengan ucapan Asy Syaikh Muqbil رحمه الله terhadap ahli ahwa niscaya kita dapati bahwa ucapan Asy Syaikh Muqbil رحمه الله itu lebih keras.”

Maka kenapa mereka itu mengingkari apa yang dijalani oleh syaikh mereka dan baku tolong dengan setiap orang yang membikin fitnah dalam dakwah beliau, dan membikin kekacauan di markiz beliau, dan mencerca pengganti beliau, dan mereka menancapkan diri mereka sebagai pelindung dan pembela para tukang fitnah tadi? Yang wajib bagi mereka adalah menasihat orang-orang tadi untuk bertobat dan menekuni adab kepada syaikh mereka dan untuk menghormati kebenaran dan sunnah serta kebaikan yang mereka terdidik di dalamnya.

Inilah yang Alloh mudahkan bagi saya untuk menasihati si Salimiy هداه الله dan untuk orang yang semoga Alloh memberinya manfaat dengan nasihat ini.

Dan saya tidak menyebutkan secara keseluruhan dari apa yang ada pada orang tadi, karena maksudku pertama adalah nasihat, lalu yang kedua adalah penjelasan secara singkat.

{وَاللَّهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَعْنَتَكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ } [البقرة: 220]

“Dan Alloh mengetahui orang yang membikin kerusakan dari orang yang membikin perbaikan. Dan jika Alloh mengehendaki niscaya Dia bisa menyusahkan kalian. Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha penuh hikmah.”

            Dan aku tidak menyebutkan di sini kecuali sebagian dari apa yang nampak dari keadaannya. Dan hukum berdasarkan lahiriyyah itu adalah perkara yang sangat mendasar sebagaimana dalam “Shohihul Bukhoriy” dari Umar رضي الله عنه.

            Ini adalah kerja keras dari orang yang sederhana, jika aku telah berbuat baik, maka itu adalah dari Alloh Yang Maha memberi karunia. Tapi jika aku berbuat jelek, maka itu adalah dari diriku sendiri dan dari setan. Dan Alloh dan Rosul-Nya berlepas diri dari itu. Dan cukuplah Alloh sebagai penolongku, dan Dialah sebaik-baik Yang mengurusi. Dan tiada upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.

(selesai penerjemahan, pada tanggal 28 Jumadats Tsaniyah 1434 H).

Iklan

Pernyataan Syaikh Muhammad bin Hady Al-Madkholy Tentang Dammaj

Pernyataan Syaikh kita Muhammad bin Hady Al-Madkholy Tentang Dammaj

Debu al-Barroqoh untuk Dajjal dan Keledai Bersepatu Merah Jambu

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji (hanya) bagi Alloh , sholawat dan salam bagi Rosululloh , keluarga-nya , sahabat-nya , dan siapa yang mencintainya , adapun setelah itu Lanjutkan membaca “Pernyataan Syaikh Muhammad bin Hady Al-Madkholy Tentang Dammaj”

UNTAIAN KATA-KATA MUTIARA

Berikut ini nukilan-nukilan kata mutiara syaikh Muqbil / dalam da’wah salafiyah,sebagai pendorong dan suri tauladan para dai dalam melakukan kiprahnya dalam medan da’wah dan sebagai bantahan dan bukti kesalahan beberapa kelompok yang mengaku sebagai anak didik beliau, padahal kenyataaan di lapangan sangat bertolak belakang dengan pengakuan mereka.

UNTAIAN KATA-KATA MUTIARA
Penyusun
Abu Turob Saif bin Hadhor Al – Jaawy

Darul Hadits
DAMMAJ
بسم الله الرحمن الرحيم
MUQODDIMAH
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، وسيئات أعمالنا من يهده الله، فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده روسوله.
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾ [آل عمران:102] .﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً﴾[النساء:1] .﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً﴾[الأحزاب: 70-71].
أما بعد:
فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد ﷺ وشر الأمور محدثاتُها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار.

Berikut ini nukilan-nukilan kata mutiara syaikh Muqbil / dalam da’wah salafiyah,sebagai pendorong dan suri tauladan para dai dalam melakukan kiprahnya dalam medan da’wah dan sebagai bantahan dan bukti kesalahan beberapa kelompok yang mengaku sebagai anak didik beliau, padahal kenyataaan di lapangan sangat bertolak belakang dengan pengakuan mereka. Lanjutkan membaca “UNTAIAN KATA-KATA MUTIARA”

MENGENAL LEBIH DEKAT DAARUL HADITS DAMMAJ

Nama Dârul Hadîts Dammâj sudah tidak asing lagi bagi salafiyyûn Indonesia merupakan markiz ahlus sunnah terbesar di dunia, markiz dambaan bagi setiap orang yang mencintai ‘ilmu dan ulamânya.

Para tholabul ‘ilmi dari berbagai belahan dunia berusaha menimba ‘ilmu di sana meneguk ‘ilmu di kalangan ‘ulamâ yang sejati untuk membersihkan kesyirikan-kesyirikan, bid’ah, khurofat dan hizbiyyah yang telah menghancurkan dakwah ahlus sunnah di sepanjang masa.

       MENGENAL LEBIH DEKAT DAARUL HADITS DAMMAJ

Markiz Terbesar

Salafiyyun Di Dunia

 

PARA PENYUSUN

. Abu Turôb Saif bin Hadhor Al-Jâwî.

. Abu Fairûz ‘Abdurrohmân Al-Jâwî

.Abu Husain Muhammad Al- Jawi

. Abu Arqôm Muslih Zarqoni Al-Jâwî

. Abu ‘Abdillah Imâm Al-Hanafi Al-Balikpapanî.

. Abu Sholeh Dzakwan Al Medani

. Abu Abdillah Muhammad bin Umar Al-Medani

. Abu Abdirrohman Shiddiiq Al- Bugishi

. Abu Zakariyâ Irhâm bin Ahmad Al-Jâwî

. Abul ‘Abbâs Khodhir Al-Mulkî Lanjutkan membaca “MENGENAL LEBIH DEKAT DAARUL HADITS DAMMAJ”

BINGKISAN BERHARGA

BINGKISAN BERHARGA
BUAT PAMAN-PAMAN DAN PARA TETANGGA

Buah tulisan Abul Abbas Khidhir Al-Mulkiy -semoga Allah menjadikannya selalu terjaga-

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله رب العالمين والعاقبة للمتقين ولا عدوان إلا على الظالمين. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ولا إله سواه، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله الذي اصطفاه واجتباه وهداه، صلى الله عليه وعلى آله وسلم تسليماً كثيراً إلى يوم الدين. أما بعد:
Ini merupakan salah satu dari tulisan-tulisan kami, pada tulisan ini kami maksudkan sebagai nasehat dan wasiat serta peringatan untuk siapa saja yang menginginkan kebaikan, walaupun pada judul tulisan teruntuk paman-paman 1) dan para tetangga namun yang kami inginkan adalah untuk semua pihak yang memiliki keinginan untuk meraih kebahagian abadi.
Semoga apa yang kami tuliskan ini dapat memberi manfaat untuk kami dan untuk siapa saja yang mau menerimanya.
وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم والحمد لله رب العالمين.
Ditulis oleh hamba yang faqir atas Robbnya Abul ‘Abbas Khadhir bin Nursalim Al-Limboriy Al-Mulkiy. Di Masjid As-Sunnah Darul Hadits Dammaj-Yaman pada 4 Muharram 1432 Hijriyyah.

BAGIAN PERTAMA
Berkaitan dengan semaraknya fitnah dan kejelekan yang melanda negri-negri kaum muslimin maka kami pada kesempatan yang berharga ini sengaja membuat suatu bingkisan yang isinya berkaitan dengan wasiat, nasehat dan peringatan. Dan diantara peringatan yang patut untuk kami sampaikan adalah peringatan dari kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan, yang mana para nabi dan rasul telah memperingatkan hal tersebut dari umat-umatnya. Dan bahkan diakhir hayat mereka pun masih terus mewasiatkan untuk meninggalkan itu semua dan terus senantiasa mereka tekankan untuk merealisasikan agama tauhid, Allah Ta’ala berkata tentang hal yang demikian itu di dalam surat Al-Baqarah:
وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آَبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ. الآية.
“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) kematian, ketika beliau berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kalian sembah sepeninggalku?” mereka menjawab: “Kami akan menyembah Sesembahanmu dan Sesembahan bapak-bapakmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Sesembahan Yang Maha Satu dan kami hanya tunduk kepada-Nya”.
Bila seseorang menjaga tauhidnya dan menjauhi segala macam bentuk penyelisihan terhadap tauhid baik itu penyelisihannya berupa kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan maka Allah Ta’ala telah menjanjikan untuk mereka bahwa mereka akan di jadikan sebagai penghuni Jannah (surga), di dalam “Shahih Muslim” dari hadits Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
«مَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ».
“Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun maka dia akan masuk jannah. Dan barangsiapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun maka dia masuk neraka”.
Dan barangsiapa yang kokoh tauhidnya dan mewujudkan konsekwensi kalimat tauhid dengan tidak melakukan kesyirikan baik kesyirikan itu berupa menyembelih untuk selain Allah, memohon pertolongan kepada selain Allah 2), menyembah berhala, bertapa di tempat-tempat keramat, memakai jimat-jimat atau yang semisalnya maka dia akan diberi kemantapan hidup baik di alam dunia, alam kubur dan di alam akhirat Allah Ta’ala berkata di dalam surat Ibrahim:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ. الآية.
“Allah menokohkan 3) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang kokoh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat”.
Dan Allah Ta’ala juga memberikan jaminan keamanan, ketentraman dan kebahagian bagi siapa saja yang merealisasikan tauhid, Allah Ta’ala berkata dalam surat Al-An’am:
الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ. الآية.
“Orang-orang yang beriman yang mereka tidak mencampur adukkan keimanan mereka dengan kezhaliman 4) maka mereka itulah orang-orang mendapatkan keamanan dan mereka adalah orang-orang yang diberi petunjuk”.

BAGIAN KEDUA
Tak ada wasiat yang indah yang akan kusampaikan malainkan wasiat sebagaimana yang Allah Ta’ala wasiatkan di dalam Al-Qur’an pada surat Maryam:
وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا. وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا. الآية.
“Dan Dia mewasiati (memerintahkan)ku untuk (menegakkan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka”.
Dari ayat tersebut kami mewasiatkan kepada paman-paman dan para tetangga serta siapa saja yang mau menerima nasehat untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat dan berbakti kepada kedua orang tua, sungguh indah apa yang dikatakan oleh Abul ‘Abbas:
Paman-pamanku yang pandai dan berpemahaman
Pahamilah bahwa dunia ini pasti kita akan tinggalkan
Pelaksanaan shalat lima waktu adalah suatu kewajiban
Persembahkanlah shalatmu hanya kepada Ar-Rahmaan
Perbaikilah amalan supaya dapat pahala dan kebaikan
Paman-pamanku yang baik hati lagi dermawan
Pandai-pandailah berinfaq karena itu menguntungkan
Perbanyaklah berinfaq terkhusus di bulan Ramadhan
Pengeluaran untuk infaq tidaklah membuat kemiskinan
Perlu diketahui bahwa itu justru penambah kekayaan
Pengeluaran infaq dan zakat hukumnya ada dua rincian
Pengeluarannya sebelum shalat ied fithri adalah kewajiban
Pengeluarannya tidak terikat waktu adalah disunnahkan
Paman-pamanku tentu saja menginginkan kebahagiaan
Perbaiki hubungan kekeluargaan adalah kunci kebahagiaan
Perlu diketahui kebahagiaan itu didapat dengan pengorbanan

MENEGAKAN SHALAT
Perintah untuk menegakan shalat di dalam Al-Qur’an sangatlah banyak, diantaranya dalam surat Luqman Allah Ta’ala mengisahkan tengang wasiat Luqman Al-Hakim kepada putranya:
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاة. الآية.
“Wahai putraku tegakanlah shalat”.

BERSEDEKAH
Orang yang suka bersedekah baik itu berupa sedekah yang wajib (zakat fithri atau zakat harta yang sudah mencapai ketentuannya) atau sedekah yang sunnah maka mereka akan mendapatkan ketenangan hidup di dunia ini, Allah Ta’ala memberikan keberkahan kepada harta mereka, dan di akhirat kelak Allah Ta’ala berikan kenikmatan berupa Jannah (surga), Allah Ta’ala berkata di dalam Al-Qur’an pada surat Al-Baqarah:
إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ. الآية.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang mengerjakan amal shalih, orang-orang yang menegakkan shalat dan yang menunaikan zakat, mereka itu mendapat pahala di sisi Robb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.
Allah Ta’ala juga berkata di dalam Al-Qur’an pada surat An-Nisa’:
لَكِنِ الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ مِنْهُمْ وَالْمُؤْمِنُونَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَالْمُقِيمِينَ الصَّلَاةَ وَالْمُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالْمُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ أُولَئِكَ سَنُؤْتِيهِمْ أَجْرًا عَظِيمًا. الآية.
“Tetapi orang-orang yang dalam keilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Quran), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar”.
Allah Ta’ala juga berkata di dalam Al-Qur’an pada surat Al-Maidah:
وَقَالَ اللَّهُ إِنِّي مَعَكُمْ لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلَاةَ وَآَتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَآَمَنْتُمْ بِرُسُلِي وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَلَأُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ فَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ. الآية.
“Dan Allah berkata: “Sesungguhnya aku bersama kalian, sesungguhnya jika kalian menegakkan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kalian membantu mereka dan kalain pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya aku akan menutupi dosa-dosa kalian. dan sesungguhnya kalian akan Aku masukkan ke dalam jannah yang mengalir didalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antara kalian sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus”.
Dan bahkan Allah Ta’ala telah membuat perumpamaan yang sangat indah untuk orang-orang yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah, Allah Ta’ala berkata di dalam surat
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (261) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ. الآية.
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah adalah Al-Waasi’ (Yang Maha Luas) lagi Al-‘Aliim (Yang Maha mengetahui). Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Robb mereka. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.
Sebagai penghibur maka Abul Abbas menyampaikan beberapa untaian kata dengan judul:
DERMAWAN
Dari Abul ‘Abbas untuk orang yang suka berbuat kebaikan
Di awal nasehat kuingatkan untuk terus menjaga keikhlasan
Dengan keikhlasan seseorang akan terus di atas ketenangan
Di dalam surat Al-Bayyinah 5) ada satu ayat tentang keikhlasan
Di dalam hadits ‘Umar 6) ada penekanan untuk menjaga keikhlasan
Disaat ini telah tersebar berbagai macam kejelekan
Dari luar Islam ada dua serangan secara bersamaan
Dua serangan itu tujuannya untuk merusak keislaman
Dari salah satunya ada penyerangan dengan persenjataan
Dan yang lainnya ada penyerangan dengan pemikiran
Dari dalam Islam juga ada dua bentuk penyerangan
Dari dua itu yang paling dahsyatnya dengan pemikiran
Dai-da’i hizbiyyah bangkit menebarkan kerancuan
Diantaranya Luqman Ba’abduh yang bikin keonaran
Di Ambon ada Abdussalam yang sudah kecanduan
Dia kecanduan karena menguras harta-harta yayasan
Dai gadungan bernama Ismail Buton ikut bela yayasan
Di Dammaj dia berposisi sebagai thulaib gelandangan
Duduknya ketika taklim di sisi Abu Abayah Batman
Dia termasuk kawan Batman yang suka pengangguran
Dikalangan hizbiyyin dijadikan ustadz lalu ditenarkan
Dahulu si homoseks juga ikut diangkat lalu dikibarkan
Dasar hizbiyyin yang bego yang tak punya akal pikiran
Dari mereka sering mengemis ke orang dermawan
Datang mengemis dengan bahasa yang menyedihkan
Di Ambon ada dermawan yang suka berbuat kebaikan
Dia memperhatikan penuntut ilmu dengan beri bantuan
Dia membantu orang-orang yang mendalami keislaman
Dia berakhlaq mulia dan berwibawa serta dermawan
Dia meneladani Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam kebaikan
Diantara pengikut Rasul yang tak mampu dia beri bantuan
Doaku semoga hartanya diberkahi dan diberi tambahan

BERBUAT BAIK KEPADA ORANG TUA
Allah Ta’ala memerintahkan umat manusia untuk berbakti kepada kedua orang tua, dan perintah ini juga telah dijalankan oleh generasi terdahulu, di dalam surat Luqman Allah Ta’ala berkata:
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ. الآية.
“Dan Kami perintahkan kepada manusia untuk (berbuat baik) kepada kedua orangnya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kembalimu”.
Bahkan Allah Ta’ala memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua setelah perintah untuk menegakkan shalat, di dalam “Ash-Shahihain” berkata Abu ‘Amr Asy-Syaibaniy: “Telah menceritakan kepada kami pemilik rumah ini sambil memberi isyarat ke rumah Abdullah bin Mas’ud, beliau berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
أَىُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ «الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا». قَالَ ثُمَّ أَىُّ قَالَ «ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ». قَالَ ثُمَّ أَىُّ قَالَ «الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ». قَالَ حَدَّثَنِى بِهِنَّ وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِى.
“Amalan apa yang dicintai oleh Allah? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Shalat pada waktunya” Beliau bertanya lagi: “Kemudian apa?” Rasulullah menjawab: “Kemudian berbuat baik kepada kedua orang tua” Beliau bertanya lagi: Kemudian apa? Rasulullah menjawab: “Jihad di jalan Allah”. Berkata Ibnu Mas’ud: Beliau (Rasulullah) menceritakan tentang itu semua, kalaulah aku meminta tambah maka tentu beliau memberiku tambahan”.
Wahai paman-paman dan para tetanggaku –semoga Allah memperbaiki keadaan kalian- berbaktilah kepada kedua orang tua kalian bila kalian tidak berbuat baik kepada kedua orang tua kalian maka dikhawatirkan kalian akan menderita, hina dan sengsara di dunia dan akhirat, di dalam kitab “Shahih Muslim” dan “Al-Adabul Mufrad Lil Imam Al-Bukhariy” dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
«رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ». قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ «مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ»
“Kehinaan, kehinaan, kehinaan” ada yang bertanya: Siapa (yang engkau maksud) wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab: “Siapa saja yang mendapati orang tuanya ketika sudah lanjut usia, salah satu atau keduanya namun tidak (menjadikannya sebab) masuk jannah”.

SILATURRAHMI (MENGHUBUNGKAN TALI PERSAUDARAAN).
Wahai paman-paman dan para tetanggaku –semoga Allah memberikan hidayah kepada kalian- bila ada diantara kalian ada suatu kesenjangan atau perselisihan dan adanya saling benci-membenci satu dengan yang lain maka bersegeralah untuk saling berbaik-baikan, hubungkanlah kembali tali kekeluargaan!. Bila kalian melakasanakan wasiat ini maka Allah Ta’ala memberikan jaminan kepada kalian diantaranya dibukakan pintu rezqi dan dipanjangkan umur-umur kalian, di dalam “Ash-Shahihain” dari hadits Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
«مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ».
“Barangsiapa yang suka untuk dilapangkan baginya rezqinya dan dipanjangkan baginya umurnya maka hendaklah dia bersilaturahmi (menghubungkan tali kekeluargaan)nya”.
Ingatlah wahai paman-paman dan para tetanggaku, bila kalian terus tidak berbaik-baikkan dan saling memutus hugungan kekeluargaan maka sangat dikhawatirkan di dunia ini kalian akan menderita dan di akhirat kelak kalian termasuk orang-orang yang merugi, di dalam “Ash-Shahihain” dari hadits Jubair bin Muth’im Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau berkata:
«لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ».
“Tidak akan masuk Jannah orang yang memutus hubungan (kekeluargaan)”.

PENUTUP
Jika kalian wahai paman-paman dan para tetanggaku –semoga Allah menjaga kalian- ingin kebahagian baik di dunia ini maupun di akhirat kelak maka aplikasikanlah wasiat-wasiat Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, diantara wasiat-wasiat tersebut adalah:
1. Mentauhidkan Allah Ta’ala.
2. Menegakan shalat (shalat wajib dan shalat sunnah).
3. Bersedekah (sedekah yang wajib dan yang sunnah).
4. Berbakti kepada kedua orang tua.
5. Menyambut hubungan silaturahmi.
Bila wasiat-wasiat tersebut paman-paman dan para tetanggaku mengamalkannya maka Allah Ta’ala akan menjadikan kepada kalian ketenangan hidup di dunia ini dan di akhirat kelak, Allah Ta’ala berkata dalam surat An-Nahl:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ. الآية.
“Barangsiapa yang melakukan perbuatan yang baik (shalih), baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.
Allah Ta’ala juga berkata dalam surat An-Nisa’:
وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا. الآية.
“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal shalih, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam jannah (surga) dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun”.
Allah Ta’ala juga berkata dalam surat Ghafir:
مَنْ عَمِلَ سَيِّئَةً فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُونَ فِيهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ. الآية.
“Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalasi melainkan sebanding dengan kejahatan itu. dan barangsiapa mengerjakan perbuatan yangbaik (shalih) baik dia itu laki-laki ataupun perempuan sedang dia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezqi di dalamnya tanpa hisab”.
Selesai kami tulis pada hari Jum’at menjelang ‘Ashar pada tanggal 4 (empat) Muharram 1432 (seribu empat ratus tiga puluh dua) Hijriyyah di Masjid As-Sunnah Darul Hadits Dammaj-Sho’dah-Yaman.

———————

1) Penggunaan paman di sini bukan kami khususkan untuk saudara bapak atau saudara ibu kami, namun kami gunakan di sini sebagai keumuman yaitu siapa saja yang umurnya sudah tua dari kami, sebagaimana kebiasaan orang-orang Arab bila seseorang melihat orang lain yang umurnya jauh lebih tua dari dia maka dipanggil dengan ‘ami (paman), di dalam “Ash-Shahihain” dari hadits Aisyah Radhiyallahu ‘Anhu berkata Ummul Mukminin Khadijah Radhiyallahu ‘Anha kepada anak pamannya yang bernama Waraqah bin Naufal Radhiyallahu ‘Anhu:
يَا ابْنَ عَمِّ اسْمَعْ مِنَ ابْنِ أَخِيكَ. فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ يَا ابْنَ أَخِى مَاذَا تَرَى
“Wahai anak pamanku, dengarlah dari anak saudaramu”. Lalu Waraqah berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Wahai anak saudaraku apa yang kamu lihat?”.
Dari hadits tersebut diketahui bahwa Waraqah bukan saudara kandung Abdullah bin Abdul Muthalib namun Waraqah Radhiyallahu ‘Anhu hanyalah anak dari paman Ummul Mukminin Khadijah Radhiyallahu ‘Anha. Wallahu A’la wa A’lam.
2) Seperti memohon pertolongan kepada Walisonggo, Kanjeng, Abdul Qadir Al-Jailaniy atau memohon kepada orang-orang yang syudah meninggal dunia.
3) Yaitu kalimatut tauhid:
لا إله إلا الله
“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah”.
4)Yang dimaksud kezhaliman pada ayat tersebut adalah kesyirikan sebagaimana dalam surat Luqman ketika Luqman Al-Hakim berkata kepada putranya Radhiyallahu ‘Anhuma:
يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ. الآية.
“Wahai putraku janganlah kamu berbuat syirik kepada Allah. Sesungguhnya syirik adalah kezhaliman yang paling besar”.
5) Allah Ta’ala berkata:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ. الآية.
“Padahal mereka tidak diperintah kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan agama (memurnikan ketaatan) kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka menegakkan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus”.
6) Di dalam “Ash-Shahihain” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
«إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى».
“Sesungguhnya amalan tergantung niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang tergantung apa yang dia niatkan”.