Hukum Qunut Subuh

Pertanyaan :

Salah satu masalah kontraversial di tengah masyarakat adalah qunut Shubuh. Sebagian menganggapnya sebagai amalan sunnah, sebagian lain menganggapnya pekerjaan bid’ah. Bagaimanakah hukum qunut Shubuh sebenarnya ?

Jawab :

Dalam masalah ibadah, menetapkan suatu amalan bahwa itu adalah disyariatkan (wajib maupun sunnah) terbatas pada adanya dalil dari Al-Qur’an maupun As-sunnah yang shohih menjelaskannya. Kalau tidak ada dalil yang benar maka hal itu tergolong membuat perkara baru dalam agama (bid’ah), yang terlarang dalam syariat Islam sebagaimana dalam hadits Aisyah riwayat Bukhary-Muslim :

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَد ٌّ. وَ فِيْ رِوَايَةِ مُسْلِمٍ : ((مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمُرُنَا فَهُوَ رَدَّ

“Siapa yang yang mengadakan hal baru dalam perkara kami ini (dalam Agama-pent.) apa yang sebenarnya bukan dari perkara maka hal itu adalah tertolak”. Dan dalam riwayat Muslim : “Siapa yang berbuat satu amalan yang tidak di atas perkara kami maka ia (amalan) adalah tertolak”.

Dan ini hendaknya dijadikan sebagai kaidah pokok oleh setiap muslim dalam menilai suatu perkara yang disandarkan kepada agama.

Setelah mengetahui hal ini, kami akan berusaha menguraikan pendapat-pendapat para ulama dalam masalah ini.

Uraian Pendapat Para Ulama

Ada tiga pendapat dikalangan para ulama, tentang disyariatkan atau tidaknya qunut Shubuh.

Pendapat pertama : Qunut shubuh disunnahkan secara terus-menerus, ini adalah pendapat Malik, Ibnu Abi Laila, Al-Hasan bin Sholih dan Imam Syafi’iy.

Pendapat kedua : Qunut shubuh tidak disyariatkan karena qunut itu sudah mansukh (terhapus hukumnya). Ini pendapat Abu Hanifah, Sufyan Ats-Tsaury dan lain-lainnya dari ulama Kufah.

Pendapat ketiga : Qunut pada sholat shubuh tidaklah disyariatkan kecuali pada qunut nazilah maka boleh dilakukan pada sholat shubuh dan pada sholat-sholat lainnya. Ini adalah pendapat Imam Ahmad, Al-Laits bin Sa’d, Yahya bin Yahya Al-Laitsy dan ahli fiqh dari para ulama ahlul hadits.

Dalil Pendapat Pertama

Dalil yang paling kuat yang dipakai oleh para ulama yang menganggap qunut subuh itu sunnah adalah hadits berikut ini :

مَا زَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا

“Terus-menerus Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa a lihi wa sallam qunut pada sholat Shubuh sampai beliau meninggalkan dunia”.

Dikeluarkan oleh ‘Abdurrozzaq dalam Al Mushonnaf 3/110 no.4964, Ahmad 3/162, Ath-Thoh awy dalam Syarah Ma’ani Al Atsar 1/244, Ibnu Syahin dalam Nasikhul Hadits Wamansukhih no.220, Al-Ha kim dalam kitab Al-Arba’in sebagaimana dalam Nashbur Royah 2/132, Al-Baihaqy 2/201 dan dalam Ash-Shugro 1/273, Al-Baghawy dalam Syarhus Sunnah 3/123-124 no.639, Ad-Daruquthny dalam Sunannya 2/39, Al-Maqdasy dalam Al-Mukhtaroh 6/129-130 no.2127, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no.689-690 dan dalam Al-’Ilal Al-Mutanahiyah no.753 dan Al-Khatib Al-Baghdady dalam Mudhih Auwan Al Jama’ wat Tafr iq 2/255 dan dalam kitab Al-Qunut sebagaimana dalam At-Tahqiq 1/463.

Semuanya dari jalan Abu Ja’far Ar-Rozy dari Ar-Robi’ bin Anas dari Anas bin Malik.

Hadits ini dishohihkan oleh Muhammad bin ‘Ali Al-Balkhy dan Al-Hakim sebagaimana dalam Khulashotul Badrul Munir 1/127 dan disetujui pula oleh Imam Al-Baihaqy. Namun Imam Ibnu Turkumany dalam Al-Jauhar An-Naqy berkata : “Bagaimana bisa sanadnya menjadi shohih sedang rowi yang meriwayatkannya dari Ar-Rob i’ bin Anas adalah Abu Ja’far ‘Isa bin Mahan Ar-Rozy mutakallamun fihi (dikritik)”. Berkata Ibnu Hambal dan An-Nasa`i : “Laysa bil qowy (bukan orang yang kuat)”. Berkata Abu Zur’ah : ” Yahimu katsiran (Banyak salahnya)”. Berkata Al-Fallas : “Sayyi`ul hifzh (Jelek hafalannya)”. Dan berkata Ibnu Hibban : “Dia bercerita dari rowi-rowi yang masyhur hal-hal yang mungkar”.”

Dan Ibnul Qoyyim dalam Zadul Ma’ad jilid I hal.276 setelah menukil suatu keterangan dari gurunya Ibnu Taimiyah tentang salah satu bentuk hadits mungkar yang diriwayatkan oleh Abu Ja’far Ar-Rozy, beliau berkata : “Dan yang dimaksudkan bahwa Abu Ja’far Ar-R ozy adalah orang yang memiliki hadits-hadits yang mungkar, sama sekali tidak dipakai berhujjah oleh seorang pun dari para ahli hadits periwayatan haditsnya yang ia bersendirian dengannya”.

Dan bagi siapa yang membaca keterangan para ulama tentang Abu Ja’far Ar-R ozy ini, ia akan melihat bahwa kritikan terhadap Abu Ja’far ini adalah Jarh mufassar (Kritikan yang jelas menerangkan sebab lemahnya seorang rawi). Maka apa yang disimpulkan oleh Ibnu Hajar dalam Taqrib-Tahdzib sudah sangat tepat. Beliau berkata : “Shoduqun sayi`ul hifzh khususon ‘anil Mughiroh (Jujur tapi jelek hafalannya, terlebih lagi riwayatnya dari Mughirah).

Maka Abu Ja’far ini lemah haditsnya dan hadits qunut subuh yang ia riwayatkan ini adalah hadits yang lemah bahkan hadits yang mungkar.

Dihukuminya hadits ini sebagai hadits yang mungkar karena 2 sebab :

Satu : Makna yang ditunjukkan oleh hadits ini bertentangan dengan hadits shohih yang menunjukkan bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tidak melakukan qunut kecuali qunut nazilah, sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ لاَ يَقْنُتُ إِلاَّ إِذَا دَعَا لِقَوْمٍ أَوْ عَلَى قَوْمٍ

“Sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa a lihi wa sallam tidak melakukan qunut kecuali bila beliau berdo’a untuk (kebaikan) suatu kaum atau berdo’a (kejelekan atas suatu kaum)” . Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah 1/314 no. 620 dan dan Ibnul Jauzi dalam At-Tahqiq 1/460 dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 639.

Kedua : Adanya perbedaan lafazh dalam riwayat Abu Ja’far Ar-Rozy ini sehingga menyebabkan adanya perbedaan dalam memetik hukum dari perbedaan lafazh tersebut dan menunjukkan lemahnya dan tidak tetapnya ia dalam periwayatan. Kadang ia meriwayatkan dengan lafazh yang disebut di atas dan kadang meriwayatkan dengan lafazh :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ فٍي الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Nabi shollahu ‘alahi wa alihi wa sallam qunut pada shalat Subuh”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf 2/104 no.7003 (cet. Darut Taj) dan disebutkan pula oleh imam Al Maqdasy dalam Al Mukhtarah 6/129.

emudian sebagian para ‘ulama syafi’iyah menyebutkan bahwa hadits ini mempunyai beberapa jalan-jalan lain yang menguatkannya, maka mari kita melihat jalan-jalan tersebut :

Jalan Pertama : Dari jalan Al-Hasan Al-Bashry dari Anas bin Malik, beliau berkata :

قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَأَبُوْ بَكْرٍ وَعُمْرَ وَعُثْمَانَ وَأَحْسِبُهُ وَرَابِعٌ حَتَّى فَارَقْتُهُمْ

“Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa alihi wa Sallam, Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman, dan saya (rawi) menyangka “dan keempat” sampai saya berpisah denga mereka”.

Hadits ini diriwayatkan dari Al Hasan oleh dua orang rawi :

Pertama : ‘Amru bin ‘Ubaid. Dikeluarkan oleh Ath-Thohawy dalam Syarah Ma’ani Al Atsar 1/243, Ad-Daraquthny 2/40, Al Baihaqy 2/202, Al Khatib dalam Al Qunut dan dari jalannya Ibnul Jauzy meriwayatkannya dalam At-Tahqiq no.693 dan Adz-Dzahaby dalam Tadzkiroh Al Huffazh 2/494. Dan ‘Amru bin ‘Ubaid ini adalah gembong kelompok sesat Mu’tazilah dan dalam periwayatan hadits ia dianggap sebagai rawi yang matrukul hadits (ditinggalkan haditsnya).

Kedua : Isma’il bin Muslim Al Makky, dikeluarkan oleh Ad-Da raquthny dan Al Baihaqy. Dan Isma’il ini dianggap matrukul hadits oleh banyak orang imam. Baca : Tahdzibut Tahdzib.

Catatan :

Berkata Al Hasan bin Sufyan dalam Musnadnya : Menceritakan kepada kami Ja’far bin Mihr on, (ia berkata) menceritakan kepada kami ‘Abdul Warits bin Sa’id, (ia berkata) menceritakan kepada kami Auf dari Al Hasan dari Anas beliau berkata :

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى فَارَقْتُهُ

“Saya sholat bersama Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa alihi wa Sallam maka beliau terus-menerus qunut pada sholat Subuh sampai saya berpisah dengan beliau”.

Riwayat ini merupakan kekeliruan dari Ja’far bin Mihron sebagaimana yang dikatakan oleh imam Adz-Dzahaby dalam Mizanul I’tidal 1/418. Karena ‘Abdul Warits tidak meriwayatkan dari Auf tapi dari ‘Amru bin ‘Ubeid sebagaiman dalam riwayat Abu ‘Umar Al Haudhy dan Abu Ma’mar – dan beliau ini adalah orang yang paling kuat riwayatnya dari ‘Abdul Warits-.

Jalan kedua : Dari jalan Khalid bin Da’laj dari Qotadah dari Anas bin M alik :

صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَخَلْفَ عُمَرَ فَقَنَتَ وَخَلْفَ عُثْمَانَ فَقَنَتَ

“Saya sholat di belakang Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam lalu beliau qunut, dan dibelakang ‘umar lalu beliau qunut dan di belakang ‘Utsman lalu beliau qunut”.

Dikeluarkan oleh Al Baihaqy 2/202 dan Ibnu Syahin dalam Nasikhul Hadi ts wa Mansukhih no.219. Hadits di atas disebutkan oleh Al Baihaqy sebagai pendukung untuk hadits Abu Ja’far Ar-Rozy tapi Ibnu Turkumany dalam Al Jauhar An Naqy menyalahkan hal tersebut, beliau berkata : “Butuh dilihat keadaan Khalid apakah bisa dipakai sebagai syahid (pendukung) atau tidak, karena Ibnu Hambal, Ibnu Ma’in dan Ad-Daruquthny melemahkannya dan Ibnu Ma’ in berkata di (kesempatan lain) : laisa bi syay`in (tidak dianggap) dan An-Nasa`i berkata : laisa bi tsiqoh (bukan tsiqoh). Dan tidak seorangpun dari pengarang Kutubus Sittah yang mengeluarkan haditsnya. Dan dalam Al-Mizan, Ad Daraquthny mengkategorikannya dalam rowi-rowi yang matruk.

Kemudian yang aneh, di dalam hadits Anas yang lalu, perkataannya “Terus-menerus beliau qunut pada sholat Subuh hingga beliau meninggalkan dunia”, itu tidak terdapat dalam hadits Khal id. Yang ada hanyalah “beliau (nabi) ‘alaihis Salam qunut”, dan ini adalah perkara yang ma’ruf (dikenal). Dan yang aneh hanyalah terus-menerus melakukannya sampai meninggal dunia. Maka di atas anggapan dia cocok sebagai pendukung, bagaimana haditsnya bisa dijadikan sebagai syahid (pendukung)”.

Jalan ketiga : Dari jalan Ahmad bin Muhammad dari Dinar bin ‘Abdillah dari Anas bin Malik :

مَا زَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْصُبْحِ حَتَّى مَاتَ

“Terus-menerus Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa a lihi wa Sallam qunut pada sholat Subuh sampai beliau meninggal”.

Dikeluarkan oleh Al Khatib dalam Al Qunut dan dari jalannya, Ibnul Jauzy dalam At-Tahq iq no. 695.

Ahmad bin Muhammad yang diberi gelar dengan nama Ghulam Khalil adalah salah seorang pemalsu hadits yang terkenal. Dan Dinar bin ‘Abdillah, kata Ibnu ‘Ady : “Mungkarul hadits (Mungkar haditsnya)”. Dan berkata Ibnu Hibba n : “Ia meriwayatkan dari Anas bin Malik perkara-perkara palsu, tidak halal dia disebut di dalam kitab kecuali untuk mencelanya”.

Kesimpulan pendapat pertama:

Jelaslah dari uraian diatas bahwa seluruh dalil-dalil yang dipakai oleh pendapat pertama adalah hadits yang lemah dan tidak bisa dikuatkan.

Kemudian anggaplah dalil mereka itu shohih bisa dipakai berhujjah, juga tidak bisa dijadikan dalil akan disunnahkannya qunut subuh secara terus-menerus, sebab qunut itu secara bahasa mempunyai banyak pengertian. Ada lebih dari 10 makna sebagaimana yang dinukil oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar dari Al-Iraqi dan Ibnul Arabi.

1) Doa

2) Khusyu’

3) Ibadah

4) Taat

5) Menjalankan ketaatan.

6) Penetapan ibadah kepada Allah

7) Diam

8 ) Shalat

9) Berdiri

10) Lamanya berdiri

11) Terus menerus dalam ketaatan

Dan ada makna-makna yang lain yang dapat dilihat dalam Tafsir Al-Qurthubi 2/1022, Mufradat Al-Qur’an karya Al-Ashbahany hal. 428 dan lain-lain.

Maka jelaslah lemahnya dalil orang yang menganggap qunut subuh terus-menerus itu sunnah.

Dalil Pendapat Kedua

Mereka berdalilkan dengan hadits Abu Hurairah riwayat Bukhary-Muslim :

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ حِيْنَ يَفْرَغُ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ مِنَ الْقِرَاءَةِ وَيُكَبِّرُ وَيَرْفَعُ رَأْسَهُ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ثُمَّ يَقُوْلُ وَهُوَ قَائِمٌ اَللَّهُمَّ أَنْجِ اَلْوَلِيْدَ بْنَ الْوَلِيْدِ وَسَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ وَعَيَّاشَ بْنَ أَبِيْ رَبِيْعَةَ وَالْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنَ الْمُُؤْمِنِيْنَ اَللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ وَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ كَسِنِيْ يُوْسُفَ اَللَّهُمَّ الْعَنْ لِحْيَانَ وَرِعْلاً وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ عَصَتِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ ثُمَّ بَلَغَنَا أَنَهُ تَرَكَ ذَلِكَ لَمَّا أَنْزَلَ : (( لَيْسَ لَكَ مِنَ الأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوْبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُوْنَ ))

“Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam ketika selesai membaca (surat dari rakaat kedua) di shalat Fajr dan kemudian bertakbir dan mengangkat kepalanya (I’tidal) berkata : “Sami’allahu liman hamidah rabbana walakal hamdu, lalu beliau berdoa dalaam keadaan berdiri. “Ya Allah selamatkanlah Al-Walid bin Al-Walid, Salamah bin Hisyam, ‘Ayyasy bin Abi Rabi’ah dan orang-orang yang lemah dari kaum mu`minin. Ya Allah keraskanlah pijakan-Mu (adzab-Mu) atas kabilah Mudhar dan jadianlah atas mereka tahun-tahun (kelaparan) seperti tahun-tahun (kelaparan yang pernah terjadi pada masa) Nabi Yusuf. Wahai Allah, laknatlah kabilah Lihyan, Ri’lu, Dzakw an dan ‘Ashiyah yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian sampai kepada kami bahwa beliau meningalkannya tatkala telah turun ayat : “Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim”. (HSR.Bukhary-Muslim)

Berdalilkan dengan hadits ini menganggap mansukh-nya qunut adalah pendalilan yang lemah karena dua hal :

Pertama : ayat tersebut tidaklah menunjukkan mansukh-nya qunut sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Qurthuby dalam tafsirnya, sebab ayat tersebut hanyalah menunjukkan peringatan dari Allah bahwa segala perkara itu kembali kepada-Nya. Dialah yang menentukannya dan hanya Dialah yang mengetahui perkara yang ghoib.

Kedua : Diriwayatkan oleh Bukhary – Muslim dari Abu Hurairah, beliau berkata :

وَاللهِ لَأَقْرَبَنَّ بِكُمْ صَلاَةَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ يَقْنُتُ فِي الظُّهْرِ وَالْعِشَاءِ الْآخِرَةِ وَصَلاَةِ الْصُبْحِ وَيَدْعُوْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَيَلْعَنُ الْكُفَّارَ.

Dari Abi Hurairah radliyallahu `anhu beliau berkata : “Demi Allah, sungguh saya akan mendekatkan untuk kalian cara shalat Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam. Maka Abu Hurairah melakukan qunut pada shalat Dhuhur, Isya’ dan Shubuh. Beliau mendoakan kebaikan untuk kaum mukminin dan memintakan laknat untuk orang-orang kafir”.

Ini menunjukkan bahwa qunut nazilah belum mansu kh. Andaikata qunut nazilah telah mansukh tentunya Abu Hurairah tidak akan mencontohkan cara sholat Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam dengan qunut nazilah .

Dalil Pendapat Ketiga

Satu : Hadits Sa’ad bin Thoriq bin Asyam Al-Asyja’i

قُلْتُ لأَبِيْ : “يَا أَبَتِ إِنَّكَ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وآله وسلم وَأَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيَ رَضِيَ الله عَنْهُمْ هَهُنَا وَبِالْكُوْفَةِ خَمْسَ سِنِيْنَ فَكَانُوْا بَقْنُتُوْنَ فيِ الفَجْرِ” فَقَالَ : “أَيْ بَنِيْ مُحْدَثٌ”.

“Saya bertanya kepada ayahku : “Wahai ayahku, engkau sholat di belakang Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam dan di belakang Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum di sini dan di Kufah selama 5 tahun, apakah mereka melakukan qunut pada sholat subuh ?”. Maka dia menjawab : “Wahai anakku hal tersebut (qunut subuh) adalah perkara baru (bid’ah)”. Dikeluarkan oleh Tirmidzy no. 402, An-Nasa`i no.1080 dan dalam Al-Kubro no.667, Ibnu Majah no.1242, Ahmad 3/472 dan 6/394, Ath-Thoy alisy no.1328, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf 2/101 no.6961, Ath-Thohawy 1/249, Ath-Thobarany 8/no.8177-8179, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihs an no.1989, Baihaqy 2/213, Al-Maqdasy dalam Al-Mukhtarah 8/97-98, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no.677-678 dan Al-Mizzy dalam Tahdzibul Kam al dan dishohihkan oleh syeikh Al-Albany dalam Irwa`ul Gholil no.435 dan syeikh Muqbil dalam Ash-Shohih Al-Musnad mimma laisa fi Ash-Shoh ihain.

Dua : Hadits Ibnu ‘Umar

عَنْ أَبِيْ مِجْلَزِ قَالَ : “صَلَّيْتُ مَعَ اِبْنِ عُمَرَ صَلاَةَ الصُّبْحِ فَلَمْ يَقْنُتْ”. فَقُلْتُ : “آلكِبَرُ يَمْنَعُكَ”, قَالَ : “مَا أَحْفَظُهُ عَنْ أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِيْ”.

” Dari Abu Mijlaz beliau berkata : saya sholat bersama Ibnu ‘Umar sholat shubuh lalu beliau tidak qunut. Maka saya berkata : apakah lanjut usia yang menahanmu (tidak melakukannya). Beliau berkata : saya tidak menghafal hal tersebut dari para shahabatku”. Dikeluarkan oleh Ath-Thohawy 1246, Al-Baihaqy 2213 dan Ath-Thabarany sebagaimana dalam Majma’ Az-Zawa’id 2137 dan Al-Haitsamy berkata :”rawi-rawinya tsiqoh”.

Ketiga : tidak ada dalil yang shohih menunjukkan disyari’atkannya mengkhususkan qunut pada sholat shubuh secara terus-menerus.

Keempat : qunut shubuh secara terus-menerus tidak dikenal dikalangan para shahabat sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Umar diatas, bahkan syaikul islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa berkata : “dan demikian pula selain Ibnu ‘Umar dari para shahabat, mereka menghitung hal tersebut dari perkara-perkara baru yang bid’ah”.

Kelima : nukilan-nukilan orang-orang yang berpendapat disyari’atkannya qunut shubuh dari beberapa orang shahabat bahwa mereka melakukan qunut, nukilan-nukilan tersebut terbagi dua :

1) Ada yang shohih tapi tidak ada pendalilan dari nukilan-nukilan tersebut.

2) Sangat jelas menunjukkan mereka melakukan qunut shubuh tapi nukilan tersebut adalah lemah tidak bisa dipakai berhujjah.

Keenam: setelah mengetahui apa yang disebutkan diatas maka sangatlah mustahil mengatakan bahwa disyari’atkannya qunut shubuh secara terus-menerus dengan membaca do’a qunut “Allahummahdinaa fi man hadait…….sampai akhir do’a kemudian diaminkan oleh para ma’mum, andaikan hal tersebut dilakukan secara terus menerus tentunya akan dinukil oleh para shahabat dengan nukilan yang pasti dan sangat banyak sebagaimana halnya masalah sholat karena ini adalah ibadah yang kalau dilakukan secara terus menerus maka akan dinukil oleh banyak para shahabat. Tapi kenyataannya hanya dinukil dalam hadits yang lemah.

Demikian keterangan Imam Ibnul qoyyim Al-Jauziyah dalam Z adul Ma’ad.

Kesimpulan

Jelaslah dari uraian di atas lemahnya dua pendapat pertama dan kuatnya dalil pendapat ketiga sehingga memberikan kesimpulan pasti bahwa qunut shubuh secara terus-menerus selain qunut nazilah adalah bid’ah tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para shahabatnya. Wallahu a’lam.

Silahkan lihat permasalahan ini dalam Tafsir Al Qurthuby 4/200-201, Al Mughny 2/575-576, Al-Inshof 2/173, Syarh Ma’any Al-Atsar 1/241-254, Al-Ifshoh 1/323, Al-Majmu’ 3/483-485, Hasyiyah Ar-Raud Al Murbi’ : 2/197-198, Nailul Author 2/155-158 (Cet. Darul Kalim Ath Thoyyib), Majm u’ Al Fatawa 22/104-111 dan Zadul Ma’ad 1/271-285.

Penulis: Abu Muhammad

Sebuah Tinjauan Syari’at

Sebuah Tinjauan Syari’at
MEREKA ADALAH HIZBIYYUN

Sebagai Sumbangsih Positif
Dalam Mengikis Kedustaan dari Lisan
Luqman bin Muhammad Ba’abduh

Ditulis oleh:
Abul ‘Abbas Khadhir bin Nursalim Al-Mulky

Muroja’ah:
Abu Turab Saif bin Hadhar Al-Jawi

PENGANTAR PENULIS

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

إِنَّ الحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهِ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102] .
{ يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا } [النساء: 1] .
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].
أما بعد:
أَمَّا بَعْدُ : فَإِنَّ خَيْرَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٍ ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٍ ، وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النّارِ.
Tulisan ini merupakan salah satu bentuk sumbangsih positif kami untuk umat dalam melaksanakan perkataan Allôh subhanahu wa ta’ala:
 وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ 
“Dan hendaklah ada diantara kalian sekelompok umat yang menyeru kepada yang ma’ruf (kebaikan) dan mencegah dari yang mungkar, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”.
dan perkataan Rosûlullôh Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam:
}مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يُغَيَّرَهُ بِيَدِهِ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَان{
“Barang siapa melihat kemungkaran maka hendaknya dia merubahnya dengan tangannya, jika tidak sanggup merubah dengan tangannya maka dengan lisannya, bila tidak sanggup maka dengan qolbunya, dan demikian itu selemah-lemahnya iman”. (HR. Muslim, no, 49) Yang kami beri judul: “Sebuah Tinjauan Syari’at MEREKA ADALAH HIZBIYYÛN Sebagai Sumbangsih Positif dalam Mengikis Kedustaan dari Lisan Luqmân bin Muhammad Bâ’abduh” ketika dalam proses perencanaan (sebelum penyusunan) kami menentukan judulnya: “Sebuah Tinjauan Syari’at DIA ADALAH HIZBΔ yang kami maksudkan adalah Luqmân bin Muhammad Bâ’abduh Al-Hizbî, namun ketika kami melakukan tinjauan dan mencermati kembali ternyata kami dapati bahwa dia hanyalah satu pemain handal dalam menebarkan fitnah hizbiyyah, dan di belakang dia ternyata banyak para pemain yang akan kami sebutkan disertai data-data dan bukti-bukti pada lembaran-lembaran berikutnya.
Ketika kami mengangkat nama-nama (orang yang akan disebutkan nanti), ada yang menyampaikan usulan agar dipastikan dulu; Apakah mereka masih jadi pengekor Luqmân Al-Hizbî ataukah sudah meninggalkannya, khawatir jika disebutkan namanya akan semakin membuatnya futur dan tidak jadi mau taubat.
Maka kami tegaskan: Kalau seandainya benar mereka punya keinginan untuk mau taubat maka mereka dituntut untuk menyatakan (mengumumkan) taubatnya dan meminta maaf kepada masyâyikhnya di Dârul Hadîts Dammâj baik secara tulisan (surat) atau secara lisan (telpon langsung), kalau sudah benar-benar mereka taubat dengan membuktikan taubatnya maka tentu mereka tidak mempermasalahkan namanya walaupun termaktub di dalam tulisan kami ini, dan kalau benar telah terbukti taubatnya namun tetap tidak senang karena namanya ada di tulisan kami ini, maka itu menunjukkan tentang bodohnya dia terhadap sunnah, mungkin ia belum pernah baca atau melewati kisah shohâbat yang mulia Hâthib bin Abî Balta’ah yang telah disebutkan oleh Al-Imâm Al-Bukhôri dalam “Shôhîh”nya (no, 6939), juga disebutkan oleh Al-Imâm Al-Bazzâr dalam “Kasyful Astâr” (juz: 3, hal. 255) yang dishohîhkan oleh Al-Imâm Al-Wâdi’î dalam “Ash-Shohîhul Musnad mimma Laisa fî Shohîhain”, ketika shohâbat yang mulia tersebut menulis surat untuk keluarganya di Mekkah dengan memberitahukan rencana kaum mu’minîn, yang pada akhirnya ‘Umar bin Al-Khaththôb Rodhiyallohu ‘anhu mengatakan bahwa beliau telah khianat terhadap Allôh, Rosûl-Nya dan kaum mu’minîn. Dan apa yang dilakukan oleh shohâbat yang mulia Hâthib Rodhiyallohu ‘anhu tersebut telah dibaca oleh umat secara turun temurun, apakah dengan disebutkan keadaannya mengurangi kemuliaannya? Wallâhi tidak sama sekali, justru beliau Rodhiyallohu ‘anhu tetap mulia dan termasuk salah satu shohâbat yang mendapat jaminan Jannah hal itu disebabkan kejujurannya dalam memikul beban syarî’at dan beliau juga termasuk Ahlul Badr. Dan juga kisah shohâbat yang mulia Mu’âdz bin Jabal Rodhiyallohu ‘anhu sebagaimana dalam “Shohîh Ibnu Hibbân” (Juz: 6, hal. 155), ketika Rosûlullôh menghardik beliau dengan keras:
}أَفَتَّانٌ أَنْتَ يَا مُعَاذ أَفَتَّانٌ أَنْتَ يَا مُعَاذ {
“Apakah kamu pembuat fitnah ya Mu’âdz?!” dan masih banyak lagi kisah yang semisal itu.
Kemudian dari pada itu, mengingat perkataan Allôh Subhaanahu wa Ta’ala:
}لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ {
“Jikalau kalian bersyukur tentu akan Aku tambah kepada kalian namun jika kalian kufur (ingkar) maka sesungguhuya adzab-Ku sangatlah pedih” (Ibrôhîm:7).
dan perkataan Rosûlullôh sebagaimana dalam “As-Silsilah Ash-Shohîhah” (Juz:1 hal:415):
{لاَ يَشْكُرُ اللهِ مَنْ لاَ يَشْكُرِ النَّاسِ}
“Tidaklah bersyukur kepada Allôh siapa saja yang tidak bersyukur kepada manusia”.
Maka pada kesempatan ini kami haturkan ucapan syukur kepada Allôh Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan kemudahan kepada kami untuk menyusun tulisan yang sederhana ini, kemudian ucapan terima kasih kepada para masyaikh kami di Dârul Hadîts Dammâj yang telah membimbing kami, juga kepada kawan-kawan kami seperjuangan dalam membela al-haq dan menepis al-bâthil –semoga Allôh menjaga kami dan mereka semua-, tidak lupa pula ucapan terima kasih kepada saudara kami yang mulia Abû Turôb bin Hadhor Al-Jâwî yang bersedia meluangkan waktunya ditengah-tengah kesibukannya untuk memurôja’ah tulisan ini, juga kepada Abû ‘Abdirrohmân Shiddîq Al-Bugisî dan Abû Fairûz ‘Abdurrohmân Al-Jâwî yang bersedia meminjamkan Laptop untuk mengetik tulisan ini, begitu pula teman murôja’ahku yang banyak memberi nasehat yang bermanfaat Abû Nu’aim ‘Alî Al-Jâwî –semoga Allôh menjaga kami dan mereka semua-.
Semoga sholawât dan salam selalu terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam, keluarga dan para shohâbatnya.

Di tulis oleh:
Abul ‘Abbâs Khodhir bin Nursalim Al-Mulkî
di Dârul Hadîts Dammâj-Yaman
20 Rabiul Awwal 1430 H

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Seiring dengan kemajuan zaman, kita dapati perubahan terjadi diberbagai macam sisi dan segi pada kehidupan umat manusia, tidak kalah canggihnya para hizbiyyin ikut tampil dari berbagai macam sisi dan segi, mereka berupaya untuk mengolah cara berfikirnya sedemikian rupa, sehingga ketika diarahkan kepada mereka kata “hizby” mereka pun tidak terima dengan beribu-ribu alasan, tidak heran kalau kemudian Luqmân bin Muhammad Bâ’abduh mengatakan dalam “Penghinaan Luqmân Bâ’abduh Kepada Syaikhunâ” (hal. 9): “Ooh mau mendirikan ma’had baru dikatakan hizbî ya, ini ada satu faedah baru, yang baru muncul dalam mizan manhaj”. Demikianlah cara berfikirnya Luqmân Bâ’abduh untuk menolak kalau dia dan ‘Abdurrohman Al-Adanî bukan hizbî.
Sebagian yang lain menegaskan pula, bahwa menuduh seorang hizbî itu harus faham tentang apa itu hizbî? Sebagaimana ini yang dikatakan oleh pendiri sekaligus mudir ma’had Dârul Atsâr Gresik yang bernama Kholîful Hâdî, ketika dia pernah dituduh oleh sebagian pengikut Luqmân bin Muhammad Bâ’abduh dan mempertanyakan kesalafiyannya dia berkata: “Dengan mudahnya menuduh orang hizbî, emangnya apa itu hizbî? Apa pengertiannya? ‘Ulamâ siapa yang mendefenisikannya? Dalam kitâb apa? Halaman berapa?” (Perkataan ini dia katakan setelah sholât dzuhur ketika membaca “Kitâbul ‘Ilmi” karya Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimîn pada peresmian Ma’had Dârul Atsâr Gresik yang ditandai dengan dauroh Nahwu sebulan, dan dia bertanya kepada peserta dauroh namun tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan tersebut).
Demikian pula jika kita mau mengamati kebanyakan manusia maka kita akan dapati mereka telah ditipu, sehingga akhirnya mereka pun ikut mengatakan kepada salafî sebagai hizbî, orang jujur sebagai pendusta, pendusta dicap sebagai orang jujur, tidak menutup kemungkinan mereka akan ikut mengatakan Luqmân Bâ’abduh itu orang yang paling jujur, buktinya dia memiliki buku “Menebar Dusta Membela Teroris-Khawarij”, karena mereka ditipu sehingga merekapun mengatakan kepada ‘ulama yang Allôh sebutkan sifat para ‘ulamâ:
}إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ{
“Hanyalah yang takut kepada Allôh adalah para ‘ulamâ'” (Fâhtir: 28).
Mereka berani mengatakan kepada para ‘ulamâ pendusta dengan tanpa membuktikan tuduhan mereka dengan data-data yang akurat, pasti dan ‘ilmiah, namun hanya data yang tidak jelas yang datangnya dari manusia bertopeng, sungguh betapa benarnya apa yang diriwayatkan oleh Al-Imâm Ahmad dalam “Musnad”nya (juz: 3 hal. 220, no. 13322), beliau berkata:
حَدَّثَنَا أَبُوْ جَعْفَرٍ المَدَائِنِيُّ وَهُوَ مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ العَوَّامِ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْن المُنْكَدِرِ عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: }إِنَّ أَمَامَ الدَّجَّال سِنِيْنَ خَدَّاعَةٌ يُكَذَّبُ فِيْهَا الصَّادِقُ وَيُصَدَّقُ فِيْهَا الكَاذِبُ وَيُخَوَّنُ فِيْهَا الأَمِيْنُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيْهَا الخَائِنُ وَيَتَكَلَّمُ فِيْهَا الرُّوَيْبِضَةُ{ قِيْلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَة؟ قَالَ: }الفُوَيْسِقُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ العَامَّةِ {
“Telah menceritakan kepada kami Abû Ja’far Al-Madâ’inî dia adalah Muhammad bin Ja’far, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Abbâd bin Al-‘Awwâm, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishâq, dari Muhammad bin Al-Munkadir, dari Anas bin Mâlik Rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata: Rosûlullôh berkata: “Bahwasanya sebelum muncul Dajjâl, (akan ada) masa-masa yang penuh dengan tipu daya, didustakan orang yang jujur, dan dibenarkan orang yang dusta, pengkhianat dicap orang yang terpercaya, dan orang yang terpercaya dicap sebagai pengkhianat, dan ar-ruwaibidhoh mulai angkat bicara. Ada yang tanya: Apa itu ar-ruwaibidhoh? Rosûlullôh berkata: “Orang fâsiq (kelas) rendah yang berbicara tentang urusan umat (orang banyak)”.
Berkata Al-Imâm Al-Wâdi’î dalam “Al-Jâmi’ Ash-Shohîh” (Juz 4, hal. 584-585): “Ini adalah hadîts hasan….”
Demikianlah beberapa fenomena yang ada, maka dari sinilah membuat kami untuk sedikit meluangkan waktu kami, untuk menulis permasalahan ini, dan juga yang berkaitan dengannya.
Ketika kami bertekad untuk memulai menyusun tulisan ini, tiba-tiba ada saudara-saudara kami seiman -yang mencintai kami karena Allôh- menyampaikan harapan mereka agar kami tidak mewujudkan tekad kami, dengan alasan: Luqmân Bâ’abduh dan para pengekornya atau orang yang sefaham dengannya akan membalas dengan yang lebih mengerikan yaitu mencari-cari ‘aib atau kesalahan-kesalahan kami yang dahulu. Namun mengingat dari sisi yang lain yang membuat kami untuk tetap mewujudkan tekad kami adalah disebabkan karena kejahatan mereka; mengajak orang untuk diam dengan memanfaatkan fatwa atau nasehat Asy-Syaikh Robî’ -hafidzohullôh- namun ternyata mereka terus gencar melakukan upaya liciknya dengan “pergerakan di bawah tanah” baik dengan bentuk larangan kepada siapa saja yang mau ke Dammâj dengan cara menebarkan tiga rukun hizbiyyah ke tiap-tiap telinga (penyebaran isu-isu ke person-person yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi) hingga berujung pada celaan, hinaan dan pengkhianatan terhadap para ‘ulamâ di Dârul Hadîts Dammâj, Allôhul musta’ân.
Dan salah satu yang membuat kami untuk tetap mewujudkan tekad kami menyusun tulisan ini mengingat perkataan Allôh Subhaanahu wa Ta’ala:
} يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لاَ تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لاَ تَفْعَلُونَ (3) {
“Wahai orang-orang yang beriman kenapa kalian mengatakan sesuatu yang kalian tidak melakukannya. Amat besar kebencian di sisi Allôh bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan”.
Dengan melihat keberadaan mereka (Luqmân, cs) sudah meng’ilmui (baca; belajar) dari Dârul Hadîts Dammâj, sudah mempelajari berbagai macam disiplin ‘ilmu syar’i, namun dari pengamalan ‘ilmu tersebut mereka abaikan. Mereka dituntut untuk berlaku jujur namun ternyata mereka berdusta, mereka sudah naik-turun mimbar mengajak manusia kepada kebaikan namun mereka yang melakukan kejelekan, mereka memperingatkan manusia untuk menjauhi yang harôm namun ternyata mereka mendekati yang harôm dan menikmatinya (baca; minta-minta), mengajak orang untuk meninggalkan ribâ namun ternyata mereka mengamalkan ribâ (baca; Bank), sampai sangat memalukan ada rekening a.n. ust….semisal proposal pembangunan ma’had dan pemukiman salafî Solo, dengan rekening a.n. ust. Fauzan sebagaimana termuat dalam “Majalah Asy-Syari’ah” kalau dulu di “Majalah Salafy” sering muncul a.n. ust. Ja’far ‘Umar Thôlib, Allôhul musta’ân*.
Seandainya Luqmân dan para pengekornya atau yang setipe dengan mereka berupaya untuk membuat makar dengan mencari-cari kejelekan kami dahulu, maka kami katakan: “Sesungguhnya kejelekan yang dahulu tidak akan menghapus kebaikan yang sekarang dan yang akan datang”, tidak akan merendahkan dan menghinakan Al-Imâm Fudhoil bin ‘Iyâdh kalau seandainya Luqmân dan orang-orang yang setipe dengannya mengatakan Al-Imâm Fudhoil bin ‘Iyâdh adalah perampok! Kami tegaskan: Benar Al-Imâm Fudhoil bin ‘Iyâdh awalnya (sebelum tinggal dan menuntut ‘ilmu di sisi Ka’bah) adalah seorang perampok, tapi sungguh Allôh telah memuliakan beliau disebabkan kejujurannya dalam mewujudkan taubatnya dengan tinggal di sisi Ka’bah dan sibuk menuntut ‘ilmu dan mengamalkan ‘ilmunya. Adapun para pengkhianat, pengacau dan penjahat semisal Luqmân Bâ’abduh dan orang-orang yang setipe dengannya, sebelum ke Dammâj sudah dalam keadaan jelek dan penuh dengan kejahatan ketika balik dari Dammâj pun masih tetap dalam keadaan jelek dan jahat serta terus mengaplikasikannya seperti semula, maka kami katakan: “Silahkan mencicipi hidangan menu yang telah kami sediakan ini, semoga dengannya akan semakin tampak siapa diantara kalian yang puas (kenyang) dan siapa yang tidak puas!”.

1.2 Maksud dan Tujuan
Tulisan “Sebuah Tinjauan Syari’at MEREKA ADALAH HIZBIYYÛN” bukanlah suatu kajian yang menyangkut keseluruhan hizbiyyun, namun disini hanya memuat “Hizbiyyah Berkedok Salafiyyah” yang dikhususkan kepada mereka para dâ’î keluaran Dârul Hadîts Dammâj dan orang-orang yang memiliki jaringan bersama mereka. Dan perlu diketahui bahwa Dârul Hadîts Dammâj telah mampu mencetak para dâ’î, dengan banyaknya para dâ’î tersebut ternyata tidak semuanya konsisten di atas manhaj Ahlussunnah bahkan sebagiannya ikut berpartisipasi dalam melakukan upaya jahat terhadap Dârul Hadîts Dammâj dan para masyâyikhnya, dan upaya-upaya jahat yang digencarkan lebih menonjol adalah upaya yang diprakarsai oleh penulis buku “Sebuah Tinjauan Syari’at MEREKA ADALAH TERORIS” Luqmân bin Muhammad Bâ’abduh.

BAB II
AL-HIZBIYYAH

2.1 Pengertian Hizbiyyah
Al-Imâm Muqbil Al-Wâdi’î berkata sebagaimana dalam “Tuhfatul Mujîb” (hal. 111-112: “Hizbiyyah adalah al-walâ’ (loyalitas) dan al-barô’ (berlepas diri) yang sempit. Memberikan walâ’ karena kelompoknya dan memusuhi seseorang karena kelompoknya.”
Mengenal hizbiyyah ini merupakan sesuatu yang mesti bagi seseorang yang berakal karena khawatir terjatuh kepada hizbiyyah, hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Hudzaifah ibnul Yaman yang diriwayatkan oleh Al-Imâm Al-Bukhôrî dalam “Shôhîh”nya (no. 3606):
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ قَالَ حَدَّثَنِى ابْنُ جَابِرٍ قَالَ حَدَّثَنِى بُسْرُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ الْحَضْرَمِىُّ قَالَ حَدَّثَنِى أَبُو إِدْرِيسَ الْخَوْلاَنِىُّ أَنَّهُ سَمِعَ حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ يَقُولُ كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِى. فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِى جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ، فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ، فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ }نَعَمْ{. قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ }نَعَمْ، وَفِيهِ دَخَنٌ{. قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ }قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِى تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ{. قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ }نَعَمْ دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ، مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا{. قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ِفْمهُمْ لَنَا فَقَالَ }هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا، وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا{ قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِى إِنْ أَدْرَكَنِى ذَلِكَ قَالَ }تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ{. قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ قَالَ }فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا، وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ {
“Telah menceritakan kepada kami Yahyâ bin Mûsâ, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Walîd, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Ibnu Jâbir, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Busr bin ‘Ubaidillah Al-Hadhromî, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Idrîs Al-Khoulânî, bahwasanya dia telah mendengar Huzaifah Ibnul Yaman, dia berkata: Dahulu manusia bertanya kepada Rosûlullôh tentang kebaikan sementara aku bertanya kepadanya tentang kejelekan karena aku khawatir kejelekkan itu menimpaku, Aku berkata: Wahai Rosûlullôh sesungguhnya kami dahulu di zaman Jahiliyah penuh dengan kejelekkan, kemudian Allôh mendatangkan kepada kami kebaikan ini. Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan lagi? Rosûlullôh menjawab: “Iya” Aku bertanya lagi: Apakah setelah kejelekan tersebut ada lagi kebaikan? Rosûlullôh menjawab: “Iya tapi terdapat dakhn”. Aku berkata: Apa itu dakhn? Rosûlullôh menjawab: “Suatu kaum yang mengambil petunjuk bukan dengan petunjukku, kamu mengetahui mereka dan kamu mengingkari. Aku bertanya lagi apakah setelah kebaikan tersebut terdapat kejelekan lagi? Rosûlullôh menjawab: “Iya, ada dâ’î-dâ’î yang menyeru kepada pintu-pintu Jahannam, barang siapa yang menyambut ajakan dâ’î tersebut maka akan menjerumuskannya ke dalam Jahannam. Aku berkata: Wahai Rosûlullôh sebutkan kepada kami cirri-ciri dâ’î-dâ’î tersebut? Rosûlullôh berkata: “Mereka dari kalangan kita, dan berucap dengan ucapan kita”. Aku berkata: Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku mendapati mereka? Rosûlullôh berkata: “Engkau komitmen dengan jama’ah kaum muslimin dan imam mereka”. Aku berkata: Bagaimana kalau aku tidak mendapati jama’ah dan imam? Rosûlullôh berkata: “Kamu tinggalkan semua kelompok sampai kamu menggigit akar kayu, walaupun kematian menjemputmu, dan kamu dalam keadaan demikian (istiqomah)”.
Sebagaimana pula seorang penyair berkata:
عَرَفْتُ الشَّرَّ لاَ لِلشَّرِّ لَكِنْ لِتَوَقِّيْهِ
وَمَنْ لَمْ يَعْرِفُ الشَّرَّ مِنَ الخَيْرِ يَقَعْ فِيْهِ
“Aku mengetahui kejelekkan bukan untuk berbuat kejelekan akan tetapi untuk menghindarinya. Dan barang siapa yang tidak mengetahui kejelekkan itu dari pada kebaikan maka dia akan terjatuh ke dalamnya”.
Hizbiyyah merupakan bentuk loyalitas yang sempit pada suatu perkara yang tidak ada dasarnya dari Al-Kitâb dan As-Sunnah yang wajib untuk dijauhi.

2.2 Rukun-rukun Hizbiyyah
Al-Imâm Muqbil Al-Wâdi’î berkata sebagaimana dalam “An-Nashîhatu wal Bayân” (hal. 116): Rukun hizbiyyah ada tiga:
Pertama: Dusta,
Kedua: Tipu muslihat, dan
Ketiga: Talbîs (menyamarkan antara yang al-haq dengan yang al-bâthil).
Beliau berkata sebagaimana dalam “Ghôrotul Asyrithoh” (1/15): “Oleh karena itu wajib bagi Ahlul ‘ilmi untuk menyingkap kebusukan-kebusukannya dan memperingatkan muslimîn darinya. Sungguh hizbiyyah ini telah mengubah pemuda muslim dan menyia-nyiakan umur mereka, memporak-porandakan kekuatan mereka, serta menjadikan mereka berpecah belah dan berkelompok-kelompok. Hizbiyyah juga menyebabkan kaum muslimîn sibuk dengan diri mereka sendiri dan lalai dengan musuh-musuh mereka”.

2.3 Wasilah Hizbiyyah
Para hizbiyyah dengan kepandaiannya dalam menjalankan opini mereka, tidak segan-segan melakukan tipu daya dengan memutar balikkan fakta yang ada, mereka menjadikan bid’ah menjadi sunnah, yang haram menjadi halal, wasilah hizbiyyah menjadi wasilah salafiyyah, sebagaimana ini dilakukan oleh salah seorang dâ’î yang dianggap ustâdz kibâr yang bernama Asykary bin Jamal Al-Bugisy, dia dengan penuh semangat buta mengatakan: “Mendulang Berkah dengan Membikin Yayasan Salafiyah”, dia merasa bangga dengan ucapannya seperti itu walaupun sangat bertolak belakang dengan perkataan orang yang mulia, yang orang tersebut dia mengakuinya sebagai gurunya, sungguh Al-Imâm Abû ‘Abdirrôhman Al-Wâdi’î telah berkata:
جمعيات هذه يا إخوان هي وسيلة, وكذا الصندوق أي نعم, الطريق إلى حزبية والوسيلة إلى الحزبية.
“Yayasan ini, ya ikhwah adalah sarana, demikian pula kotak infaq, na’am, ini jalan menuju hizbiyyah” (disadur dari Kaset Pertanyaan Bani Bakr tahun 1421 H, setahun sebelum wafatnya beliau ).
Asykari merasa seolah-olah ia lebih ‘âlim dari pada Al-Imâm Al- Wâdi’î , apakah Asykari akan berani mengatakan bahwa Al-Imâm Al- Wâdi’î tergesa-gesa dalam menfatwakan yayasan? Anggaplah Asykari menilai yayasan hanyalah wasilah dan tergantung tujuannya, kalau tujuannya baik seperti dapat menghadirkan para masyâyikh hingga orang yang tidak bisa ke markaz mereka bisa belajar dari mereka, maka kami katakan kepadanya: memandang amrod juga adalah wasilah kepada perbuatan kaum Nabi Luth, apakah Asykari akan mengatakan tidak apa-apa memandang mereka dengan tujuan supaya tidak memandang wanita atau Asykari mau mengatakan tidak apa-apa terjatuh pada perbuatan kaum Luth yang penting tetap belajar atau da’wah?.
Bila Asykari mau mengatakan tidak bisa dibuat permisalan yayasan dengan memandang amrod, maka kami katakan bisa, karena yayasan adalah harôm dan mengantarkan pada hizbiyyah yang jelas keharomannya, sedangkan memandang amrod dengan sengaja adalah harôm dan mengantarkan kepada perbuatan harôm yang lebih besar*.

BAB III
AN-NÂSHIHUL AMÎN PETIR BAGI AHLU AHWÂ’

Dârul Hadîts Dammâjmerupakan salah satu markaz Ahlussunnah yang terbesar di dunia, dengan keberadaan markaz tersebut dengan idzin Allôh telah mencetak banyak dâ’î -hanya Allôh yang tahu jumlahnya, semoga Allôh merohmati pendirinya (Asy-Syaikh Al-‘Allâmah Muqbil ), dengan sebab upaya dan kesungguhannya da’wah Salafiyyah Ahlussunnah tersebar luas di Yaman khususnya dan dunia pada umumnya.
Semasa hidup beliau telah menentukan penggantinya yaitu Asy-Syaikh Yahyâ Al-Hajûrî, hal ini sebagaimana telah dicontohkan oleh Rosûlullôh , menunjuk Abû Bakr t sebagai penggantinya ketika mengimami manusia dalam sholât, dan ini sebagai isyarat bahwa memang yang pantas untuk menjadi pengganti Rosûlullôh adalah Abû Bakr Ash-Shiddîq, dan sebelum Abû Bakr menjabat sebagai pengganti Rosûlullôh (semasa hidup Rosûlullôh ) Rosûlullôh memberinya gelar Ash-Shiddîq, dan tidaklah ada yang mengingkari gelar tersebut melainkan oleh para khowârij, syî’ah dan para pengkhianat Islâm. Dan begitu pula sebelum meninggalnya Asy-Syaikh Muqbil beliau telah menulis wasiatnya bahwa yang menggantikannya adalah Asy-Syaikh Yahyâ Al-Hajurî -hafidzohullôh ta’âlâ-, dan beliau memberikan gelar kepadanya An-Nashih Al-Amin, dan tidaklah ada yang mengingkari gelar tersebut sepeninggal Syaikh Muqbil melainkan para hizbiyyîn dan pengkhianat dakwah salafiyyah semisal Luqmân bin Muhammad Bâ’abduh dan atau Abû ‘Umar bin ‘Abdul Hamîd.
Dengan diangkatnya Abû Bakr Ash-Shiddîq sebagai kholîfah berdasarkan adanya isyarat dari Rosûlullôh yang kaum Muhâjirîn dan Anshôr sepakat atas kepemimpinannya dalam waktu yang tidak lama (semasa kepemimpinannya) muncul berbagai pengkhianatan dan pengacauan terhadap kholîfah Rosûlullôh (Abu Bakar Ash-Shiddiqt), yang sebelumnya para pengacau ini ketika Rosûlullôh masih hidup mereka tidak berani menampakan sikap mereka, namun ketika Rosûlullôh wafat mereka mulai menampakan keadaan yang sesungguhnya, dengan berbagai macam warna dan model.
Bukan suatu yang aneh kalau kemudian di zaman ini sepeninggal Asy-Syaikh Muqbil bermunculan para pengkhianat terhadap Asy-Syaikh An-Nâshih Al-Amîn Yahyâ Al-Hajûrî, keberadaan para pengkhianat itu memang sudah merupakan suatu yang terwarisi dari kaum terdahulu.

MUNCULNYA PENGKHIANATAN DI DÂRUL HADÎTS DAMMÂJ

Ketika Rosûlullôh wafat dan Abû Bakr Rodhiyallohu ‘anhu diangkat sebagai penggantinya, para pengkhianat mulai membuat opini, dan kemudian mereka realisasikan opini tersebut, ada yang bertopeng kenabian dan ada yang tidak mau merealisasikan rukun dari rukun-rukun Islam, diantaranya muncul sekelompok kaum yang tidak mau mengeluarkan zakat, maka Abû Bakr Rodhiyallohu ‘anhu memberikan peringatan kepada mereka namun mereka enggan, maka Abû Bakr Ash-Shiddîq memerangi mereka, hal ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Imâm Al-Bukhôrî dalam “Shohîh”nya (no. 1399):
حَدَّثَنَا أَبُو اليَمَانِ الحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ أَخْبَرَنَا شُعَيْبُ بْنُ أَبِيْ حَمْزَةٍ عَنِ الزُّهْرِيُّ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُوْدٍ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ t قَالَ: لمَاَّ تُوُفِّيَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَكَانَ أَبُوْ بَكْرٍ t وَكَفَرَ مَنْ كَفَرَ مِنَ العَرَبِ فَقَالَ عُمَرُ t كَيْفَ تُقَاتِلُ النَّاسِ ؟ وَقَدْ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم }أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسِ حَتَّى يَقُوْلُوْا لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ فَمَنْ قَالَهَا فَقَدْ عَصَمَ مِنِّي مَالَهُ وَنَفْسَهُ إِلاَّ بِحَقِّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ { . فَقَالَ وَاللهِ لَأُقَاتِلَنَّ مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ الصَّلاَةِ وَالزَّكَاةِ فَإِنَّ الزَّكَاةَ حَقُّ المَالِ وَاللهِ لَوْ مَنَعُوْنِيْ عِنَاقًا كَانُوْا يُؤَدُّوْنَهَا إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم لَقَاتَلْتُهُمْ عَلَى مَنْعِهَا. قَالَ عُمَرَ t فَوَاللهِ مَا هُوَ إِلاَّ أَنْ قَدْ شَرَحَ اللهُ صَدْرَ أَبِيْ بَكْرٍ t فَعَرَفْتُ أَنَّهُ الحَقُّ.
“Telah menceritakan kepada kami Abul Yamân Al-Hakam bin Nâfi’, ia berkata: Telah mengkhabarkan kepada kami Syu’aib bin Abî Hamzah dari Az-Zuhrî, ia berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidillâh bin ‘Abdillâh bin ‘Utbah bin Mas’ûd bahwasanya Abû Huroiroh t berkata; Ketika Rosûlullôh wafat dan Abû Bakr t menjadi penggantinya, maka kafirlah orang orang kafir dari kalangan Arab. Maka ‘Umar t berkata (kepada Abû Bakrt): Bagaimana bisa engkau membunuh manusia sementara Rosûlullôh telah berkata : “Aku diutus untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allôh dan barangsiapa mengatakan tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allôh maka sungguh aku menjamin harta dan jiwanya kecuali dengan hak dan bagi Allôh hisab (perhitung)annya”. Abû Bakr berkata: Demi Allôh sungguh aku akan memerangi siapa saja yang membedakan antara sholât dengan zakat, sesungguhnya zakat adalah hak harta, dan demi Allôh seandainya mereka menahan anak onta dariku yang dahulunya mereka serahkan kepada Rosûlullôh maka aku akan perangi mereka karena mereka menahan (tidak mengeluarkan)nya. Berkata ‘Umar t: Tidaklah hal itu (dilakukan oleh Abû Bakr), melainkan aku melihat bahwa Allôh telah melapangkan dada Abû Bakr untuk memerangi mereka, dan aku berpendapat bahwa beliaulah yang benar.
Dari hadîts tersebut dapat diambil suatu faedah permisalan yang bagus, kalaulah seandainya para pengekor hawa nafsu itu, mau bertanya kepada Asy-Syaikh An-Nâshih Al-Amîn sebagaimana bertanyanya ‘Umar kepada Abû Bakr t maka tentu tidaklah tergesa-gesa menyerang ‘ulama di Dârul Hadîts Dammâj. Disaat Asy-Syaikh An-Nâshih Al-Amîn Abû ‘Abdirrohmân Yahyâ -hafidzohullôh ta’âlâ- berupaya semaksimal mungkin untuk membersihkan Dârul Hadîts Dammâj dari virus-virus dakwah hizbiyyah Abul Hasan (sepeninggal Al-Imâm Al-Wâdi’î ), mulailah ada indikasi dari sebagian pihak yang berlindung di bawah kolong Markaz Dârul Hadîts Dammâj, yang menunjukkan ketidak sukaan terhadap Asy-Syaikh Yahyâ Al-Hajûrî, belakangan ini kemudian tampak dengan jelas dan gamblang siapa saja yang menendam kebenciannya terhadap Asy-Syaikh Yahyâ -hafidzohullôh ta’âlâ-, diberbagai negri ikut mengambil andil masuk ke dalam fitnah, tidak mau ketinggalan di Indonesia pun menggambil posisi dalam menebarkan fitnah terhadap Dârul Hadîts Dammâj dan para masyâyikhnya, yang apabila dicermati kebanyakan mereka adalah alumnus Dârul Hadîts Dammâj, ketika ‘Abdurrohmân Al-Hizbî diusir dari Dârul Hadîts Dammâj dan para komplotannya, maka dengan kejadian tersebut melahirkan berbagai komentar dari para komentator yang mereka tanpa bertanya kepada para ‘ulamâ di Dârul Hadîts Dammâj, kalaulah mereka tidak bergantung kepada satu sumber yakni dari sumber orang yang terfitnah dengan ‘Abdurrohmân, maka tentu mereka akan menilai dengan timbangan syar’î, atau titik akhirnya mereka diam dan tidak lancang serta berani memojokkan markaz yang dahulunya mereka mencari ‘ilmu padanya.
Asy-Syaikh An-Nâshih Al-Amîn Yahyâ hafidzohullôh ta’âlâ berkata (ketika menjelaskan hadîts tersebut, pada pelajaran “Shohîh Al-Bukhôrî” ba’da Ashr): “Bahwa orang-orang yang keluar dari kemimpinan Abû Bakr Ash-Shiddiq kebanyakan dari mereka pada zaman Rosûlullôh adalah orang-orang munâfiq, yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran”
Dari faedah tersebut dapat ditarik kesimpulan, bahwa yang ikut andil bermain dalam fitnah ‘Abdurrohmân diantaranya adalah orang-orang yang memang sudah berpengalaman keluar masuk fitnah, ada yang awalnya dari mereka pernah mencicipi hidup sebagai haroki atau lebih dari itu (baca; khowârij) walau hanya beberapa tahun.
Bila ada yang berkata itu masalah dulu yang mereka sudah taubat darinya! Maka kami tegaskan; apa orang yang taubat seperti itu keadaannya? Orang yang taubat itu sebagaimana Al-Imâm Fudhoil bin ‘Iyâdh , beliau membuktikan taubatnya dengan duduk belajar dan mengamalkan ‘ilmunya, kalau mereka ini taubatnya lain dari pada yang lain, sudah tersesat kemudian tampil seolah-olah tidak bermasalah, ikut bermain lagi dalam fitnah!.

BAB IV
BINGKISAN ATAU OLEH-OLEH YANG DI BAWA DARI DÂRUL HADÎTS DAMMÂJ

Sangat disayangkan mereka yang dahulunya penuntut ‘ilmu di Dârul Hadîts Dammâj beberapa lama kemudian pulang ke Indonesia dengan membawa beberapa bingkisan atau oleh-oleh, yang apabila oleh-oleh tersebut dilihat dari luarnya sangat cantik dan menawan namun ketika dibuka isinya hanya benda murahan.
Berikut ini mereka yang membawa bingkisan itu:

1. Luqman bin Muhammad Ba’abduh
Dia ini hanya beberapa tahun di Dârul Hadîts Dammâj, mungkin karena sudah terbiasa hidup senang ketika masih belajar di Dârul Hadîts Dammâj yang sibuk usaha (baca; bisnis), kemudian ke Indonesia dengan membawa oleh-oleh berupa ucapan aneh, sebagaimana dia katakan dalam “Penghinaan Luqmân Bâ’abduh Kepada Syaikhunâ” (hal. 9): “Ana bilang kepada yang baru pulang dari Yaman itu satu diantara dua kemungkinan, imma komitmen dan akan mengalami kesulitan dalam da’wah atau mereka akhirnya hizby kaya’ kita.”
Tanggapan:
Demikian keadaan Luqmân, dia tidak mau merasakan atau menanggung beban da’wah, padahal Al-Imâm Al-Wâdi’î berkata sebagaimana dalam “As-Sahâm Al-Wâd’iyyah” (hal. 38): “….akan tetapi dakwah Ahlussunnah walaupun mereka memakan tanah, dan mereka bersabar dengan (hanya memakan) kurma dan (hanya meminum) air, bila mendapat kurma, atau mereka bersabar dengan sepotong roti. Mereka keluar dan berda’wah kepada Allôh Subhanahu wa Ta’ala, manusia percaya dengan dakwah ahlus sunnah dengan puncaknya keyakinan.”
Jika seseorang mau menelusuri kegiatan Luqmân bin Muhammad Bâ’abduh ketika belajar di Dârul Hadîts Dammâj maka pasti akan mengetahui keadaan dia, yang selalu hidup diwarnai dengan keenakan dan tidak merasa puas dengan hidup seadanya di Markaz, namun dia menjalankan usaha (baca; bisnis) untuk menggapai maksud dan keinginan hawa nafsu dan perutnya, tidakkah dia membaca, mencermati dan membuka matanya tentang perjuangan salafush shôlih dalam menuntut ‘ilmu dan dakwah di jalan Allôh?
Upaya Luqmân ini untuk bisa hidup mewah dan bisa keliling kemana-mana, dia rela menerjang hukum-hukum Allôh, yayasan pun dia adakan, minta-mintapun dia jalankan, sebagaimana telah dia gambarkan sendiri dalam “Penghinaan Luqmân Bâ’abduh Kepada Syaikhunâ” (hal. 9): “Ana bilang kepada yang baru pulang dari Yaman itu satu diantara dua kemungkinan, imma komitmen dan akan mengalami kesulitan dalam berda’wah, atau mereka akhirnya hizby kaya’ kita, tasawwul pondoknya kurang dananya, akhirnya kirim ke muhsinîn, telpon kemuhsinîn…”.
Demikian itu menunjukkan salah satu kebodohannya dalam berfikir, dia menganggap bahwa orang yang mau komitmen pasti akan mengalami kesulitan dalam berdakwah. Orang semacam Luqmân ini perlu disekolahkan di tahfîdz Al-Qur’ân atau perlu di diklat khusus pada permasalahan taqwa, sehingga dia bisa membaca, menghafal atau minimal bisa melewati ayat berikut ini:
} وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (3) {
“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allôh, maka niscaya Allôh akan beri baginya jalan keluar. Dan memberikan rezki kepadanya dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa bertawakkal kepada Allôh maka niscaya Dia memberikan kecukupan kepadanya. Sesungguhnya Allôh akan melaksanakan urusan-Nya. Sungguh Allôh telah menjadikan ketentuan bagi segala sesuatu.” (Ath-Thalaq: 2-3).
Bisa jadi murid-muridnya yang ada di ma’had tahfîdz As-Salafî Jember akan berkata: Masa guru kita di suruh masuk ke tahfîdz?.
Maka kami sampaikan kepada mereka (anak-anak) tahfîdz As-Salafî Jember: Biarkanlah guru kalian masuk belajar bersama kalian, untuk menghafal Al-Qur’ân dan murôja’ah bersama kalian, kalau dia tidak mau atau malas-malasan maka pegang tangannya, ajak dia dan berikan mushaf Al-Qur’ân, karena kalau tidak demikian maka apakah kalian tidak malu ketika guru kalian ceramah atau memberi nasehat baca ayat dalam keadaan salah? [Lihat “Penghinaan Luqmân Bâ’abduh Kepada Syakhunâ Yahyâ” (hal. 7-8)]. Cegah dia dari berdakwah kepada umat, karena dia itu adalah orang yang banyak keluar masuk fitnah dan selalu di atas kesalahan dan penyimpangan, sungguh benar perkataan salah seorang ‘ulamâ di Dârul Hadîts Dammâj: “Luqmân Bâ’baduh adalah ruwaibidhoh (orang dungu atau orang fasiq (kelas rendah) yang berbicara urusan ummat)”. Dan khuwatirlah kalian dengan perkataan salah seorang ‘ulamâ di Dârul Hadîts Dammâj: “Luqmân Bâ’abduh adalah orang bodoh dan tidak ada yang tertipu dengannya kecuali orang-orang bodoh semisal dia”.

2. Mukhtâr alias Helga Lafirlas
Dia ini hanya beberapa tahun di Dârul Hadîts Dammâj, kemudian balik ke Indonesia dengan membawa oleh-oleh istimewa yaitu menghafal “Mukhtashar Shohîh Muslim”, kemudian menghinakan dirinya di hadapan Luqmân bin Muhammad Bâ’abduh dengan membakar api fitnah dan memperpanas keadaan, sungguh amat mustahil Mukhtâr ini akan bisa menghafal “Mukhtashar Shohîh Muslim” di pangkuan Luqmân bin Muhammad Bâ’abduh, dia berani menyampaikan apa yang dia dengar dari khutbah Asy-Syaikh Yahyâ hafidzohullôh ta’âlâ (sebagaimana disebutkan oleh Luqmân dalam “Rekaman Saifullôh Tanya mufti Luqmân”, dia (Mukhtâr) berani mencari keridhoan Luqmân dengan mengundang kemurkaan Allôh Subhanahu wa Ta’ala.
Ketika kami mendengar bahwa Mukhtâr ini salah satu yang membawa berita tentang fitnah di Yaman, maka kami mencoba menghubunginya lewat telpon (ketika itu kami masih di Ambon, sedang mengurus pasport), kami bertanya kepadanya tentang fitnah, dia katakan: “Hubungi ‘Afîfuddîn beliau lebih tahu!”. Subhanallôh.
Begitu pula ketika kami berangkat dari Ambon ke Surabaya (untuk ke Dammâj-Yaman) sampai di Surabaya pada malam Sabtu dan pagi harinya kami ke Masjid Abû Bakr Ash-Shiddîq Surabaya dan bertemu dengan Abû Ahmad Agus (pengurus masjid tersebut), dan kami bertanya kepadanya kapan kamu ke Yaman? Dia menjawab: Belum pasti, karena belum cukup uang untuk ke Yaman, tapi ana tujuannya ke markaz Syaikh ‘Abdurrohman Al-Adanî (tidak ke Dammâj-pen), karena di Dammâj semakin goncang, Syaikh Yahyâ tetap tidak mau diam. Kami bertanya dari mana kamu dapat sumbernya? Dia menjawab: dari Ustâdz Qomar (di Jogja) dan Ustâdz Usâmah Mahrî serta Ustadz Ahmad Khodim (di Malang)”. Sangat disayangkan Usâmah Mahrî, Ahmad Khodim dan Qomar ikut bermain dalam fitnah ini.
Betapa ruginya Luqmân, kalau seandainya dia tidak tertipu dengan apa yang disampaikan oleh Mukhtâr ini maka mungkin saja dia tidak jadi hizbî sebagaimana sekarang ini. Sungguh betapa kasihannya Luqmân ini, dia merasa senang ketika ada beberapa orang dari Dammâj memberikan berita tentang Dammâj kepadanya, tidakkah terpikirkan dibenakmu ya Luqmân bahwa itu kamu sedang diperalat, mereka membisikanmu berita dalam keadaan mereka ketakutan, mereka tidak berani katakan dihadapan umat melainkan melaluimu, maka kamulah yang merasakan akibatnya.

3. Muhammad ‘Afîfuddîn bin Husnunnuri As-Sidawî
Dia hanya beberapa tahun di Dârul Hadîts Dammâj kemudian datang ke Indonesia dengan membawa oleh-oleh berupa persaksian bahwa “Pusat dakwah salafiyyah terbesar di dunia adalah di Dammâj”, yang kemudian pusat dakwah tersebut dia jadikan seolah-olah seperti Ma’had Ihyâ’us Sunnah Degolan, maka kami katakan: Anda telah keliru, walaupun anda berupaya semaksimal mungkin untuk menjatuhkan Asy-Syaikh An-Nâshih Al-Amîn Yahyâ di Semarang (pada saat daurohmu) atau anda keliling keseluruh pelosok Nusantara untuk menjatuhkan dan masyâyikh di Dârul Hadîts Dammâj serta membatalkan persaksianmu itu, maka ketahuilah apa yang dikatakan oleh Asy-Syaikh An-Nâshih Al-Amîn Yahyâ Al-Hajûrî bahwa Syaikh ‘Ubaid Al-Jâbirî adalah dajjâl, dajjâl dan dajjâl adalah sesuatu perkara yang tidak akan diingkari oleh orang yang faham manhaj dan mengerti perkara al-jarhu wat ta’dîl dan juga tidak akan dipungkiri oleh orang yang punya mata hati, dan yang punya telinga. Apakah ‘Afifudîn dan kawan-kawannya akan berani mencela dan menjelek-jelekan Ibnu ‘Abbâs karena beliau mengatakan kepada Naufan Al-Bikalî: “Telah berdusta musuh Allôh”, tidaklah Ibnu ‘Abbâs mengatakan seperti itu melainkan karena Naufan Al-Bikalî melakukan kesalahan, dan kesalahannya adalah mengingkari bahwa yang bersama Nabi Khodhir itu adalah bukan Nabi Musa, tapi Musa yang lain (Lihat kisahnya dalam “Shohîh Al-Bukhôrî”, pada “Kitâbul ‘Ilmi dan Kitâbut Tafsîr surat Al-Kahfi”). Kira-kira mana yang lebih ngeri ucapan Dajjâl ataukah Kadzaba ‘aduwwallôh (telah berdusta musuh Allôh)?.
Tidak terimanya mereka terhadap perkataan Asy-Syaikh Yahyâ terhadap Syaikh ‘Ubaid secara otomatis mereka juga menolak perkataan Al-Imâm Al-Wâdi’î, beliau berkata sebagaimana dalam “Al-Majrûhûn”: “Dia (‘Aid Al-Qorni) berkata: Aku kagum dengan fatwa-fatwa Hasan At-Turobî, ini Iblis kedua”. Beliau juga berkata kepada ‘Abdullôh bin Mahfûdz sebagaimana dalam “Al-Majrûhûn” (hal. 49): “Dia Dajjâl, sesat, shûfî, mubtadi’, menyimpang dan menyeleweng.”
Kalau seandainya Al-Imâm Al-Wâdi’î masih hidup kita tidak tahu apa yang akan beliau katakan kepada Syaikh ‘Ubaid, yang mana Syaikh ‘Ubaid melarang orang untuk ke Dammâj dan juga membolehkan intikhobat (pemilu) dan ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan perempuan). Ingatlah ketika Safar Al-Hawalî membolehkan intikhobat dan menyimpang maka Al-Imâm Al-Wâdi’î sebagaimana dalam “Al-Majrûhûn” (hal. 40) melarang untuk mendengarkan kaset-kasetnya dan menghadiri majelis-majelisnya.
Tidakkah mereka pernah membaca kitab Al-Majrûhûn ‘inda Al-Imâm Al-Wâdi’î? ataukah mereka akan berani mengatakan sebagaimana perkataan Luqmân: “Tidak heran kalau kemudian melahirkan seorang murid semisal ini.”
Syaikh ‘Ubaid ini awalnya memuji dan menganjurkan untuk ke Dammâj dan terakhirnya melarang penuntut ‘ilmu untuk ke Dârul Hadîts Dammâj dengan alasan ta’âwun di atas permusuhan dan dosa, sementara para ‘ulamâ Sunnah semisal Asy-Syaikh Robî’ bin Hâdî Al-Madkholî tetap memuji Dammâj dan menyarankan untuk ke Dammâj, begitu pula Asy-Syaikh Ahmad An-Najmî sebelum wafatnya didatangi oleh orang-orang ‘ajm (non Arab) meminta fatwanya untuk ke Dammâj, maka beliau langsung menegaskan kepada mereka untuk tetap berangkat ke Dammâj. Dan ketika Asy-Syaikh Yahyâ hafidzohullôh ta’âlâ naik haji dan menyempatkan diri untuk menziarahi Asy-Syaikh Ahmad An-Najmî, dan ketika Asy-Syaikh Yahyâ datang maka Asy-Syaikh Ahmad An-Najmî menyambutnya dan berkata: “Telah datang Imâm Dammâj.”
Dan salah satu diantara sekian ‘ulamâ yang sezaman dengan Asy-Syaikh Yahyâ yang paling disenangi oleh Asy-Syaikh Yahyâ adalah Asy-Syaikh Ahmad bin Yahyâ An-Najmî, sampai salah satu buku Syaikh Yahyâ ketika membantah ahlu bid’ah dikirimkan ke Asy-Syaikh Ahmad An-Najmî untuk memurôja’ah dan memberikan muqoddimah, namun kemudian muncul orang aneh bin ajaib yang bernama Luqmân Bâ’abduh dan atau Abû ‘Umar bin ‘Abdul Hamîd dengan membuat onar dan menebarkan kedustaan bahwa Asy-Syaikh An-Nâshih Al-Amîn Yahyâ Al-Hajûrî menjelek-jelekan Asy-Syaikh Ahmad An-Najmî sebagaimana dalam “Rekaman Saifullôh Tanya Mufti Luqmân” atau tipu muslihat Abû ‘Umar sebagaimana dalam buku “Nasehat dan Teguran” (hal. 54): “Ketika beliau ditanya tentang ucapan Al-Hajûrî” atau pertanyaan kepada Syaikh Fauzân Alu Fauzân sebagaimana dalam “Rekaman Saifullôh Tanya Mufti Luqmân” dengan bentuk umum kemudian dipukulkan ke Asy-Syaikh Yahyâ, tindakan Luqmân Bâ’abduh dan atau Abû ‘Umar ini dalam mengotak-atik pertanyaan persis pertanyaan JT (jamâ’ah tablîgh) yang diajukan kepada Samâhatusy Syaikh Bin Bâz : Bagaimana menurut Syaikh tentang orang-orang yang mengajak manusia untuk keluar sholat ke Masjid? Syaikh Bin Bâz menjawab: “Itu perbuatan yang bagus”, JT senang dan gembira dengan fatwa Syaikh Bin Bâz. Namun ketika ada pertanyaan yang diajukan ke Syaikh Bin Bâz sebagaimana dalam “Aqwâl ‘Ulamâ Assunah fii Jamâ’ah At-Tablîgh” (hal. 13-14): Apakah Ikhwânul Muslimîn (IM) dan JT termasuk dari 72 golongan yang akan masuk neraka? Syaikh Bin Bâz menjawab: “Iya…”, JT pun marah dan sangat benci Syaikh Bin Bâz, dan mereka berkata sebagaimana terucap dari mulut salah seorang anggota JT di Makassar: Bukan Syaikh Bin Bâz, tapi Syaikh Bin Buss.
Dan ada kejadian yang lucu sebagaimana dalam “Rekaman Luqmân Tanya Syaikh Ahmad An-Najmî” ketika Luqmân dan Usâmah Mahrî keduanya telpon Asy-Syaikh Ahmad bin Yahyâ An-Najmî dalam rangka meminta fatwa tentang Ahmad Surkati (pendiri organisasi Ali Irsyad Indonesia), Luqmân telpon dan Syaikh Ahmâd An-Najmî bertanya: Ini siapa? Luqmân menjawab: Luqmân Abû ‘Abdillâh. Namun ketika Luqmân berkata: Ana alumnus Dammâj (murid Syaikh Muqbil) langsung Asy-Syaikh Ahmad An-Najmî senang dan menyambutnya. Dengan kejadian itu mungkin membuat kepalanya Luqmân besar, karena sudah dikenal oleh ‘ulamâ kibâr.

4. Abû Bakar
Hanya beberapa tahun di Dammâj, kemudian ke Indonesia dan ikut merendahkan dirinya di hadapan Luqmân, dan merendahkan Syaikhnya dengan tanpa rasa syukur sedikitpun terhadap Dârul Hadîts Dammâj dan syaikhnya sekedar mendapat pujian dan takut akan penghinaan Luqmân, ikut masuk dalam fitnah. Ini merupakan ketergesa-gesaannya, dia berani membuka diri kalau dia adalah benar-benar orang rendahan, ketika di mengisi dauroh di Masjid Abû Bakr Ash-Shiddîq kampung Kisar Ambon dengan penuh kejantanan menegaskan “Masalah ‘ulamâ adalah urusan ‘ulamâ” dan perkataannya “fitnah yang terjadi dikalangan ‘ulamâ biarkan ‘ulamâ yang selesaikan”, namun kemudian dia menghinakan dirinya sebagaimana Mukhtâr, apakah kalian masih trauma atau mengira sekarang seperti zaman LJ dulu? Sehingga apa yang dikatakan oleh panglima atau wakil panglima siap tunduk dan patuh?

5. Saifullôh
Orang ini beberapa tahun di Dammâj, kemudian ke Indonesia ikut menjadi pengekornya Luqmân, dan menghinakan dirinya di Luqmân serta bertanya tentang suatu pertanyaan yang bisa dibilang pertanyaan anak-anak TK, orang yang sudah berpendidikan di ma’had-ma’had salafî di Indonesia saja sudah bisa tahu hukumnya, apakah Saifullôh tidak pernah membaca ayat-ayat syar’iyyah dan mencermati ayat-ayat kauniyyah? Sampai kamu bisa bertanya kepada Luqmân Al-Hizbî sebagaimana dalam “Rekaman Saifullôh Tanya Mufti Luqmân” Apa hukum wanita muslimah berhijab ikut lomba tarik tambang atau lari karung sesama wanita pada hari raya? Apakah kamu pernah mendengar cerita para shohâbiyyah ikut lomba tarik tambang atau lari karung? Apakah ketika kamu ke Dammâj melihat para ummahât penduduk Dammâj yang kebiasaan mereka bekerja di ladang-ladang mereka, kemudian pada hari raya adakah dari mereka mengadakan lomba lari karung atau lomba-lomba yang semisalnya?
Dan yang lebih bodoh lagi adalah orang yang ditanya yaitu mufti Luqmân bin Muhammad Bâ’abduh menganggapnya boleh dengan mengkiaskan Rosûlullôh lomba lari dengan ‘Aisyah <, kami tanya kamu wahai mufti Luqmân: Apakah ketika Rosûlullôh lomba dengan ‘Aisyah < pada hari raya? Atau ‘Aisyah < pernah adakan lomba pada hari raya antara sesama wanita dari kalangan Muhâjirîn dan wanita dari kalangan Anshôr? Ataukah ketika Aisyah < melihat anak-anak muda bermain-main pedang dengan sesama pemuda lainnya Aisyah < terus memanggil wanita sesamanya untuk main-main pedang? Apakah mufti Luqmân ketika keliling ke Saudi-Yaman pernah melihat atau mendengar adanya lomba seperti itu kepada wanita mu’minah yang berhijab? Ternyata kini Luqmân sudah mulai menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginan hawa nafsunya.
Dengan melihat keadaan Saifullôh yang begitu jeleknya maka salah seorang teman menghubunginya lewat sms agar mau menyadari kesalahannya dengan bertanya kepada seorang hizbî, ternyata dengan penuh congkak dan angkuh dia berkata: “Jangan memaksa aku masuk ke dalam fitnah”.
Kami katakan: Sungguh sangat mengherankan Saifullôh ini, sudah masuk fitnah katakan tidak masuk fitnah, apakah bukan dikatakan masuk fitnah dengan bertanya kepada yang bukan ahlinya? lagi pula yang ditanya adalah seorang hizbî tulen dan yang ditanyakan juga tentang fitnah akhirnya dalam waktu sekitar setengah jam Saifullôh tersengat bisanya Luqmân, sehingga dia ikut membenarkan bahwa Syaikh Yahyâ telah salah fatal dan Syaikh Fauzân menfatwakan untuk tidak boleh belajar ke Syaikh Yahyâ. Dan tanpa malu mengucapkan cintanya kepada seorang hizbî ternama Luqmân bin Muhammad Bâ’abduh karena Allôh, begitu sebaliknya Luqmân ucapkan cintanya. Ternyata Saifullôh ini sudah krisis manhaj sehingga kini mengganti manhajnya dengan manhaj “Ale Rasa Beta Rasa”, kalau Luqmân sudah hizbî, Saifullôh ikut mau merasakan hidup jadi hizbî. Kemana Luqmân masuk dia ikut masuk. Allôhul musta’ân.
Dan telah tersebar di Ambon bahwa Syaikh Yahyâ di atas kesalahan karena tidak didukung oleh ‘ulamâ Su’udi, maka kami katakan: Demikianlah para hizbiyyîn yang memiliki pandangan dan penilaian yang sangat sempit, siapa saja yang berbuat atau berkata yang apabila tidak didukung oleh ‘ulamâ Su’ûdi di dalamnya maka dianggap bâthil, Asy-Syaikh An-Nâshih Al-Amîn dianggap salah karena tidak ada dari ‘ulamâ Su’ûdi yang mendukungnya, sehingga layak dan pantas bagi mereka untuk mencaci, mencela dan menghina serta menjelek-jelekkannya. Apakah mereka juga akan lancang mencaci, menghina, dan mencela Al-Imâm Al-Albânî dikarenakan beliau berpendapat bahwa menutup muka (cadar) bagi wanita adalah sunnah (bukan wajib) dan beliau memegang pendapat tersebut sampai wafat, yang ketika itu para ‘ulamâ Su’ûdi tidak setuju dengan fatwanya dan mereka membantah Al-Imâm Al-Albânî dengan hujjah yang kokoh. Apakah Luqmân Bâ’abduh dan orang-orang yang setipe dengannya ikut mau mengambil andil dalam masalah tersebut?
Ketika kami menyindir Saifullôh, ‘Abdussalâm dan para pengekor Luqmân yang ada di Ambon, tiba-tiba ada yang menyampaikan bahwa mereka akan mengangkat kaki dari Ambon (pindah), maka kami katakan: Silahkan! Mau angkat kaki kah atau mau angkat tangan atau mau angkat apa saja yang bisa diangkat silahkan! Tidak ada ruginya, melainkan mereka sendiri yang rugi dari dunianya.

6. Muhammad Sarbini Al-Makasary
Dia ini beberapa tahun di Dammâj kemudian ke Indonesia dengan membawa oleh-oleh istimewa yaitu menghafal kitab “Bulûghul Marôm” kemudian oleh-oleh itu lenyap darinya, sebagaimana kami diceritakan oleh Abû Jauhar Mushtofâ alias Adam: Sarbini berkata ketika masih mengajar di Ma’had Riyâdhus shôlihîn Pangkep: “Ana dulu ketika di Dammâj hafal “Bulûghul Marôm”, sekarang sudah lupa. Tapi masih ana tahu letak-letak atau tempat-tempat hadîtsnya”.
Sarbini ini sejak sebelum terjadi fitnah memang sudah tidak senang dengan Dârul Hadîts Dammâj sebagaimana ia pamerkan sendiri, ketika Abû Zakaria Irhâm (salah satu mantan penuntut ‘ilmu di Ma’had Minhajus Sunnah Muntilan) mau ke Dammâj dia berkata: “Jangan ke Dammâj tapi tunggu Syaikh ‘Abdurrohmân bangun markaz baru setelah itu antum ke markaznya.” Dan ucapan ini dia ucapkan sekitar setahun sebelum pengusiran ‘Abdurrohmân dari Dârul Hadîts Dammâj. Dan Abû Zakaria ke Dammâj masih mendapati ‘Abdurrohmân di Dammâj. Maka orang yang masih punya pandangan dan daya fikir tentu akan menilai: “Memang fitnah ini adalah upaya yang sudah direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya.”
Begitu pula ketika Musthofâ alias Adam Al-Ambonî menceritakan kepada kami bahwa ketika beliau mau ke Dammâj, Sarbini memperingatkannya agar hati-hati dari Abû Turôb dan Abû Fairûz, dan menyuruhnya agar berteman dengan Ayip Safrudin cs. Kemudian Adam memegang betul ucapan tersebut namun sesampainya di Dammâj dia merasa heran dengan akhlaq Ayip Safrudin yang aneh. Tidak lama kemudian beliau meninggalkan Abû Salman dan Ayip Safrudin.

7. Asykari bin Jamal Al Bugisy
Dia ini beberapa tahun di majlis Abul Hasan kemudian kabur ke Dammâj, dan di Dammâj sekitar setahun kabur ke Indonesia, sesampainya di Indonesia mendapat sambutan hangat dan dianggap sebagai ustadz kibar baik di Yayasan Asy-Syarî’ah Yogyakarta atau di Ma’had Ibnul Qoyyim Balikpapan, kalau seandainya dia tahu keadaan dirinya yang sesungguhnya tentu dia tidak akan sibuk dengan urusan besar (masuk keluar fitnah) tapi dia menyibukkan diri dengan banyak taubat, istighfar dan banyak menyibukan diri dengan beribadah –dan Asykari lebih tahu tentang status dirinya-.
Sungguh dia telah berpengalaman keluar masuk fitnah, setiap fitnah yang dia masuki keluar selalu di atas kerendahan, apakah Asykari mau ingin tambahan? Sehingga kini telah masuk fitnah yang besar? Belum lama membantah lawannya karena berdalil dengan ‘ulamâ kibar, ternyata setelah dia merasa meruntuhkan lawannya dan hujjah lawannya tersebut terbuang di tempat sampah kemudian Asykary mengambilnya lalu menjadikannya dalil untuk menyerang Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ- dan Dârul Hadîts Dammâj.

8. ‘Abdul Jabbâr
Dia ini hanya beberapa tahun di Dammâj kemudian ke Indonesia dan menampakkan kejengkelannya kepada para masyâyikh di Dârul Hadîts Dammâj, sebagaimana yang dikatakan oleh Luqmân dalam “Penghinaan Luqmân Bâ’abduh kepada Syaikhunâ” (hal. 2): Ketika ana ditelpon ustadz ‘Abdul Jabbâr dia berkata: Itu ada syaikh-syaikh baru yang menggelikan sekali.”
Tanggapan:
Sungguh keberadaan para masyâyikh di Dârul Hadîts Dammâj yang mereka anggap syaikh-syaikh baru ternyata membuat mereka jengkel dan menggelikan sekali, ini persis dengan perbuatan Yahudi, mereka mengharapkan nabi muncul dari kalangan mereka, namun ketika nabi yang mereka damba-dambakan tersebut ternyata muncul dari kalangan ‘Arob (Quraisy) akhirnya mereka jengkel dan murka, yang ujung-ujungnya mereka menolak kebenaran dan tidak hanya itu bahkan mereka juga mengumumkan permusuhan, Allôh Y berkata:
ْ }وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ {
“Dan pada awalnya mereka meminta pertolongan dalam (menghadapi) orang-orang kafir, maka tatkala muncul kepada apa yang telah mereka ketahui, merekapun mengingkarinya, maka la’nat Allôh tehadap orang-orang kafir” (Al-Baqarah: 89).
Syaikh Abû ‘Amr ‘Abdul Karîm Al-Hajûrî -hafidzohullôh- berkata dalam “Ni’matul Mannan bin Tafsîr wa Bayân Kalimat Al-Qur’ân” (hal. 34-35): “Ayat ini turun kepada orang-orang Yahudi yang dahulunya mereka sebelum memeluk Islam, mengkhabari orang-orang Anshôr akan diutusnya Rosûlullôh , dan bila diutus Rosûlullôh mereka beriman kepadanya dan memerangi orang-orang Anshôr. Akan tetapi tatkala Rosûlullôh diutus (karena bukan dari kalangan mereka) mereka pun mengingkarinya” (Diriwayatkan oleh Ibnu Ishâq dalam “As-Sirah”).
Syaikhul Islam Ibnu Taimyyah berkata dalam “Iqtidhô’ Ash-Shirôth Al-Mustaqîm” (hal. 25): “Ayat-ayat tersebut menyifatkan orang-orang Yahudi yang pada awalnya mereka mengetahui al-haq sebelum muncul Rosûlullôh yang beliau membicarakan al-haq tersebut dan mendakwahkanya. Maka tatkala muncul Nabi berbicara tentang al-haq tersebut yang beliau bukan dari kalangan mereka merekapun tidak menerimanya. Dan sesungguhnya tidaklah mereka menerima kecuali hanya pada kalangan mereka yang memiliki hubungan nasab, bersamaan itu mereka tidak mau mengkuti apa yang Nabi mewajibkan mereka untuk meyakininya.”

9. Muhammad Barmen
Dia ini hanya beberapa tahun di Dammaj kemudian ke Indonesia dan ikut-ikutan menghinakan dirinya di hadapan Luqmân Bâ’abduh, dengan berani angkat bicara sebagaimana dalam “Mukhtashar Bayan” (hal. 42): “Syaikh Yahyâ terfitnah dengan kursy (kedudukan)”, atau yang semakna dengan itu yang kami dapatkan ketika di Indonesia: “Mentang-mentang sudah menjadi pemimpin Dârul Hadîts Dammâj berbuat seenaknya, nantang mubahalah lagi! .”

10. Ayip Safrudin
Dia ini beberapa tahun di Dammâj, dan ketika ke Dammâj sangat diprihatinkan oleh Luqmân Bâ’abduh tentang keberadaannya, sampai Luqmân pernah mencelanya, sebagaimana ketika Luqmân bersama ‘Umar Jawas dan teman-temannya yang lain naik satu mobil dari Jakarta (sebelum vonis tahdzîr terhadap Ja’far ‘Umar Thôlib), Luqmân mengeluarkan vonis terhadap Ayip Safrudin bahwa Ayip Safrudin adalah SETAN LASKAR JIHAD, namun ketika dilihat mendukung dia, dia pun manfaatkan dan memuji-mujinya, Subhanallôh.
Kalau Ayip dikatakan setan LJ, kalau Luqmân apanya? si Lu mannya LJ atau Dajjâlnya atau apanya? yang kira-kira pantas untuk Luqmân yang dia statusnya sebagai wakil panglima? Ucapan vonis “setan” ini mungkin di mata Luqmân lebih sopan, santun dan lembut dari pada vonis Dajjâl, maling Dakwah atau bodoh atau yang semisalnya.
Sangat disayangkan ternyata kemudian Ayip Safrudin termasuk salah satu penolong Luqman Ba’abduh sebagaimana dikatakan sendiri oleh Luqmân dalam pengantar buku “Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij”. Tidak diragukan lagi bahwa penerbit Al-Ghuraba’ Solo sangat berdekatan dengan Ma’had Ayip Safrudin, lagi pula pengurus (karyawan) dan direkturnya bisa dibilang murid-murid atau mad’u Ayip Safrudin, namun ketika buku “Nasehat dan Teguran” terbit Ayip diam seribu bahasa, ataukah Ayip ikut andil dengan terbitnya buku itu atau tidak? Allôhu a’lam.

11. Abû Taubah Hammâm
Dia ini di Dammâj sekitar sepuluh tahun, sehingga ketika melakukan pengkhianatan di Dârul Hadîts Dammâj dan diketahui makarnya, maka Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ- mengusirnya dari Dammâj, diapun menangis-nangis dan meminta syafa’at keorang-orang yang dia anggap bisa memberikan syafa’at kepadanya, namun telah diputuskan dia sebagai seorang yang terusir dari Dammâj, dia pun ke Indonesia dalam keadaan hina dan rendah.

12. Abû Khôlid alias Slamet Daryanto
Dia ini beberapa tahun di Dammâj, awalnya dia bertekad seumur hidup di Dammâj, namun kemudian dia tidak betah dan kepanasan telinganya ketika mendengarkan tahdzîran Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ- terhadap para hizbiyyin dengan hujjah yang sangat kokoh yang tak tergoyahkan, Abû Khôlid bergegas ke Indonesia sambil mengangkat suara, supaya dia tidak mendengarkan suara Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ- dan untuk menyaingi suara Syaikh Yahya, dia ini permisalannya seperti setan katika mendengar seruan adzân sebagaimana hadîts Abû Huroirah t bahwa Rosûlullôh berkata:
}إِذَا نُودِىَ بِالصَّلاَةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لاَ يَسْمَعَ الأَذَانَ {
“Jika dikumandangkan adzân untuk sholât, syaithôn lari menjauh hingga terkentut-kentut, sampai tidak mendengar adzân tersebut.” (HR. Al-Bukhôrî, no. 1231 dan Muslim, no. 389 dan ini lafadz Al-Bukhôrî). Yang kemudian Abû Khôlid berkata sebagaimana dalam “Mukhtashor Bayân” (hal. 42): “Syaikh Yahyâ bukan orang alim” berkata pula: “Syaikh Yahyâ pendusta”, kemudian dia kabur ke Indonesia.

13. ‘Abdul Mu’thi
Dia ini beberapa tahun di Dammâj, kemudian ke Indonesia dan termasuk salah satu kawannya Luqmân Bâ’abduh, disaat Luqmân Bâ’abduh dan para pengekornya mengatakan bahwa Syaikh Yahyâ dan orang-orang yang bersamanya menvonis ‘Abdurrohmân Al-Adanî sebagai hizbî tidak bisa membawakan bukti, maka ketika ada ikhwan menerbitkan buku dan menyebarkan sebagian bukti-bukti tentang hizbinya ‘Abdurrohmân Al-Adanî maka bangkitlah ‘Abdul Mu’thi dalam posisi mengingkari penyebaran tersebut, dengan alasan membuat perpecahan, berkata kepada kami Abû Arqôm Mushlih, dia berkata: “’Abdul Mu’thi melarang ikhwah menyebarkan malzamah-malzamah, dan dia menyebutkan ikhwah yang menyebarkan tersebut pemecah belah.” (perkataan semisal itu juga kami dengarkan dari Abû Yûsuf ‘Abdul Malik Al-Amboniy, beliau dikhabarkan lewat sms oleh ikhwah di Magetan). Sementara pihak Luqmân Bâ’abduh semisal penerbit Al-Ghuraba’ Solo ikut menyebarkan kedustaan Abû ‘Umar bin ‘Abdul Hamîd dengan menerbitkan buku, ‘Abdul Mu’thi mendiamkannya, begitu pula ketika Luqmân Bâ’abduh menebar dusta terhadap Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ- tidaklah kami dapati sedikitpun pengingkaran dari ‘Abdul Mu’thi.

14. Ja’far ‘Umar Thôlib
Dia ini beberapa bulan di Dammâj kemudian ke Indonesia, dan dia yang pertama kali membuka jalan dari Indonesia ke Dammâj serta memberi petunjuk jalan kepada orang-orang Indonesia yang mau ke Dammâj, dan namanya sangat harum di mata Al-Imâm Al-Wâdi’î, sampai dia dijuluki dâ’î kibâr salafî di Indonesia, dan orang-orang pun menyebut dia bapak salafî Indonesia. Namun kemudian dia bersama Ayip Safrudin ikut masuk dalam politik bebas aktif, yang Asy-Syaikh An-Nâshih Al-Amîn pada dars kitâb “Shohîh Al-Bukhôrî” ba’da ashar menyinggung mereka dan menyebut mereka dengan harokiyyîn.
Muhammad ‘Afîfuddin bin Husnunnuri As-Sidawî ketika ngisi ta’lîm di Musholla Graha IPTEKDOK UNAIR Surabaya pada hari Jum’at, ba’da ashar menerangkan Ja’far ‘Umar Thôlib ini awalnya terangkat namanya setinggi langit (karena ada beberapa orang Ambon) ‘Afîfuddîn berkata: Seng ada lawan (para hadirin tertawa), ‘Afîfuddîn melanjutkan: Kemudian jatuh, Afîf mengatakan: Pak de’ pak de’ sudah mulai berjatuhan, satu demi satu berjatuhan, pak de’ Aunur Rofiq jatuh, pak de’ Ja’far ‘Umar Thôlib jatuh. Kemudian ‘Afîfuddîn menasehatkan kepada para hadirin untuk bersemangat dalam menuntut ‘ilmu sehingga kalau pak de’ pak de’ berjatuhan ada para penggantinya.
Setelah selesai dars kami bersama al-akh Fajar berangkat ke masjid Abû Bakar Ash-Shiddîq, di tengah-tengah perjalanan al-akh Fajar berkata kepada kami: Itu tadi nasehat ustâdz mantap sekali, apa tidak sebaiknya antum mondok saja (berhenti dari kuliah), kami terdiam tidak bisa menjawab.
Apa yang dikatakan oleh ‘Afîfuddîn sekarang baru bisa kami jawab, kami katakan: Di Dârul Hadîts Dammâj sekitar 200 orang ikhwah Indonesia Insya Allôh telah siap menjadi pengganti dan pembaharu dakwah jelek kalian.
Untuk al-akh Fajar, afwan baru sekarang kami sampaikan jawabannya. Al-Hamdulillâh kami sekarang sedang mondok di markaz yang penuh berkah.

15. Kholîful Hâdî alias Kholîfah
Dia di Dammâj hanya beberapa tahun, ketika di Dammâj dia disibukkan dengan masalah fiqh dan lughoh dan dia meremehkan tentang masalah manhaj; ketika Al-Imâm Al-Wâdi’î berbicara tentang fitnah-fitnah di masa itu baik fitnah Yayasan Ihyâut Turôts dan fitnah ‘Abdurrohmân ‘Abdul Khôliq beserta orang-orang yang setipe dengannya, Kholîfah ini merasa santai saja, dia seolah-olah tidak mendengar masalah itu semua, dia disibukan dengan keluar masuk maktabah membahas fiqh dan lughoh. Tidak berapa lama kemudian dia ke Indonesia, ternyata sesampainya di Indonesia malahan bergabung dengan salah satu jaringan Yayasan Ihyâut Turôts yaitu Ma’had Al-Furqôn Gresik, yang awalnya memang dia dari sana dan berangkat dari ke Yaman dari sana, dan tidak ada komentar sedikitpun darinya ketika itu terhadap ‘Abdurrohmân ‘Abdul Khôliq dan Yayasan Ihyâut Turôts, padahal Al-Imâm Al-Wâdi’î yang Kholîfah tanpa malu mengakui beliau sebagai gurunya telah menjelaskan secara mendeteil dan gamblang tentang keadaan mereka dan kejahatan dakwah mereka terhadap dakwah Ahlussunnah. Ketika Al-Ustâdz Abû Mas’ûd As-Salafî -hafidzohullôh- mengkritik dan tidak setuju dengan keputusan Ma’had Al-Furqôn karena menjalin hubungan dengan yayasan-yayasan Sururiyyîn semisal Yayasan Ash-Sofwa Jakarta, maka Al-Ustâdz Abû Mas’ûd diusir oleh ‘Aunur Rofiq Ghufrôn atas dorongan dari Yazîd Jawwaz, Kholîfah mau tidak mau juga harus diusir karena dianggap sebagai teman Al-Ustâdz Abû Mas’ûd As-Salafî. Setelah Kholîfah ini diusir sudah mulai menampakan diri kalau dia seorang salafî, berkata kepada Kami ‘Abdul A’lâ, Abû Nu’aim dan Abû ‘Amr Syaukani: “Kholîf ketika masih di Ma’had ‘Umar bin Al-Khoththôb Lamongan tegas, dia tidak membolehkan da’wah dengan yayasan dan (proposal) minta-minta.” Namun ketika sudah rencana untuk membangun ma’had baru di Gresik, Kholîfah ini sudah mulai condong pada penyimpangan, proposal yang tadinya dia harômkan kemudian dia jalani, berkata kepada kami Abû ‘Amr Syaukani: “Antum ketika ke Lamongan dulu tahu kalau Kholîf rencana bangun ma’had baru, dia suruh Abû Mûsâ untuk ketik proposalnya dengan bahasa ‘Arob untuk dikirim ke Saudi. Abû Mûsâ ketiknya di maktabah ma’had ‘Umar bin Al-Khoththôb”.
Telah kami saksikan dan kami dengar begitu pula kawan-kawan kami yang pernah mondok di Ma’had Umar bin Al-Khoththôb bahwa pembangunan ma’had Dârul Atsâr Gresik itu dikarenakan ketidak sukaan Kholîfah terhadap Al-Ustâdz Abû Mas’ûd, terbukti dengan pembangunan itu dilakukan dengan ngebut (baca; cepat) hanya dalam waktu beberapa bulan kemudian sebagian santri ma’had ‘Umar bin Al-Khoththôb ikut Kholîfah (pindah), dan dalam proses pindah tersebut dilakukan serentak dan tanpa minta izin ke Al-Ustâdz Abû Mas’ûd. Ketika beberapa orang Riau santri ma’had Dârul Atsâr Gresik yang awalnya mereka dari ma’had ‘Umar bin Al-Khoththôb Lamongan minta izin ke Kholîfah untuk balik (pindah) ke ma’had ‘Umar bin Al-Khoththôb Lamongan, Kholîfah melarang mereka, dengan memberikan alasan bahwa di ma’had ‘Umar bin Al-Khoththôb Lamongan setelah dia pindah sudah tidak bagus proses belajar mengajarnya, sebagaimana dia katakan pula ketika baru dari Madura pada sore hari menjelang maghrib ada seorang santri mau membeli madu di rumahnya, Kholîf berkata: “Ana sangat kasihan sama ma’had ‘Umar bin Al-Khoththôb Lamongan, setelah ana pindah kesini sekarang anak-anak yang ada disana sudah pada berkeliaran kesana kemari, pelarajarannya sudah tidak seperti dulu ketika ana masih di sana.”
Ada sebuah kisah yang sangat lucu, ketika al-akh Abû Nu’aim ‘Alî mengatakan kepada Kholîfah: Ana mau ke Dammâj bersama kami, dan mau hubungi travel di Jakarta, Kholîf berkata kepada Abû Nu’aim ‘Alî (tepatnya di depan pintu rumahnya, ba’da sholat Isya’): “Biar ana saja yang telpon pemilik travelnya mungkin dia masih kenal ana”. Abû Nu’aim pun ke Asrama mengambil uang untuk isi pulsa, ketika Abû Nu’aim pergi ke Asrama, Kholîfah berkata kepada kami: “Ana coba telpon pemilik travel, siapa tahu dia mau membantu kita untuk membangun pondok ini.” Besoknya sebelum Dzuhur ba’da dars kitab “Qothr Nada'”, Abû Nu’aim memberikan Hp-nya kepada Kholîfah supaya telpon pemilik travel tersebut, Kholîfah pun telpon dan memperkenalkan dirinya dan mengatakan ana yang dulu ngantar adik ana ke travelmu untuk ke Yaman itu, tapi pemilik travel sudah tidak kenal dia, dia pun berbicara dan memanggil pemilik travel dengan ustadz, Subhanallah kami dan ‘Alî tercengang, dalam hati kami berkata: “Wah tukang bisnis kok dianggap ustâdz, kalau guru matematika dipanggil ustâdz mungkin masih mending, ini tukang bisnis”. Dan kejadian telpon ini disaksikan pula oleh kawan-kawan yang ikut dars waktu itu termasuk al-akh Abû ‘Amr Syaukani. Tidak sekali atau dua kali Kholîfah menyebut pemilik travel ustâdz, bahkan berulang-ulang, belum sampai akrab dan asyik berbincang-bincang pemilik travel langsung menutup Hp-nya, sehingga Kholîfah tidak sempat mengutarakan keinginannya untuk mengetuk hati sang pemilik travel. Kemudian Kholîfah mulai membuat gambaran yang membuat gambaran tentang keadaan Dammâj, yang akhirnya membuat al-akh Abû Nua’im patah semangatnya, dan dia akhirnya ragu-ragu jadi ke Dammâj ataukah tidak?
Ketika kami melihat keadaan Kholîfah yang semakin aneh seperti itu, kami minta izin ke Kholîfah dan pamitan ke kawan-kawan untuk ke Cirebon sambil menunggu jawaban dari keluarga apa kami jadi ke Dammâj ataukah tidak? Walhamdulillah ternyata Allôh beri kami kemudahan sehingga sekarang telah berada di Dammâj yang kami damba-dambakan.

16. Abû Qotâdah
Dia ini beberapa tahun di Dammâj, ketika masih di Dammâj dia sudah menggelari dirinya dengan Syaukah, yang dia maksudkan kalau nanti dia ke Indonesia akan menjadi duri bagi ahlu bid’ah, dia sangat percaya diri, namun ternyata sesampainya di Indonesia dia ikut menempuh wasilah hizbiyyah hingga pada akhirnya dia cemplung ke dalam perangkap sururiyyîn dan kemudian bergabung dengan para sururiyyîn semisal Yazîd Jawwaz, ‘Abdul Hakîm Abdat, ‘Aunur Rofiq Ghufrôn, Mubârok Bamu’allim, ‘Abdurrohmân At-Tamîmî, para redaktur majalah As-Sunnah dan para redaktur majalah Al-Furqôn serta bergabung dengan orang-orang yang memiliki jaringan bersama mereka.

BAB V
SERANGAN BERTUBI-TUBI

5.1 Serangan dengan Lisan (Dusta)
Salah satu dari sekian sebab dibubarkannya LJ (Laskar Jihad) karena menghalalkan dusta dengan alasan perang adalah tipu daya, hal ini sebagaimana dikatakan oleh Abû Ibrôhim Muhammad bin ‘Umar As-Sewed yang termaktub dalam pengantar buku “Meredam Amarah Penguasa”, dan praktek dusta ini tidak hanya pada selebaran buletin “Al-Jihad” atau Koran “Laskar Jihad”, namun terucapkan pula pada sebagian lisan-lisan Al-Jihâd. Suatu kebahagian tersendiri dengan bubarnya LJ dan forumnya karena bisa dikatakan telah lenyap satu perangai jelek ini, namun sayang dan amat disayangkan pembesar atau mantan panglima LJ yang bernama Luqmân bin Muhammad Bâ’abduh tidak bisa menghilangkan perangai “dusta” dari lisannya, sungguh syarî’at yang indah ini telah mencela perangai jelek tersebut dan para pelakunya, sebagaimana Allôh Subhaanahu wa Ta’ala berkata:
}يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ {
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah:119).
dan Al-Imâm Muslim berkata dalam “Shohîh”nya (no. 6803):
حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَعُثْمَانُ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ وَإِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا وَقَالَ الآخَرَانِ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِى وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم }إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ كَذَّابًا {
“Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan ‘Utsmân bin Abî Syaibah dan Ishâq bin Ibrôhîm, berkata Ishâq, telah mengkhabarkan kepada kami- dan berkata Zuhair dan ‘Utsmân-: Telah menceritakan kepada kami Jarîr, dari ‘Manshûr, dari Abî Wâil dari ‘Abdillâh, dia berkata: Rosûlullôh berkata: “Wajib atas kalian untuk menetapi kejujuran. Karena kejujuran itu mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan itu mengantarkan kepada al-jannah. Seseorangnya itu senantiasa jujur dan berupaya serius untuk jujur sampai akhirnya ia ditulis di sisi Allôh sebagai orang yang jujur. Hati-hati kalian dari dusta. Karena kedustaan itu mengantarkan kepada kefajiran, dan kefajiran mengantarkan kepada an-nâr. Seseorang itu senantiasa berdusta dan berupaya untuk dusta, sampai akhirnya ia ditulis di sisi Allôh sebagai seorang pendusta.

Al-Imâm Al-Bukhôrî berkata dalam “Shohîh”nya:
حَدَّثَنَا قَبِيصَةُ بْنُ عُقْبَةَ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنِ الأَعْمَشِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُرَّةَ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ } أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا ، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ {
“Telah menceritakan kepada kami Qobîshoh bin ‘Uqbah, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sufyân, dari A’masy, dari Abdillâh bin Murroh, dari Masrûq, dari ‘Abdillâh bin ‘Amr bahwasanya Nabi juga menyebutkan ciri-ciri orang munâfiq: Empat (sifat), barangsiapa yang memilikinya maka dia menjadi seorang munafiq tulen, barangsiapa memiliki salah satu sifatnya, maka padanya ada sifat munafiq sampai ia meninggalkannya: Apabila dipercaya ia berkhianat, apabila berbicara dia berdusta, apabila berjanji ia melanggarnya, dan apabila berselisih/berdebat maka ia berlaku fujur (melampui batas)”.
Para hizbiyyîn dengan kepandaian mereka dalam berdusta maka manusiapun tertipu akhirnya menilai sesuatu bukan pada tempatnya, Rosûlullôh telah menyebutkan masalah ini, Rosûlullôh berkata:
} سَيَأْتِيْ عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَةٌ يُصَدَّقُ فِيْهَا الكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيْهَا الصَّّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيْهَا الخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيْهَا الأَمِيْنُ وَيَِنْطِقُ فِيْهَا الرُّوَيْبِضَةُ { قِيْلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ ؟ قَالَ: }الرَّجُلُ التَّافِهُ يَتَكَلَّمُ فِيْ أَمْرِ العَامَّةِ {.[ عن أبي هريرة  رواه ابن ماجة – (ج 9 / ص 36) وهو في السلسلة الصحيحة – (ج 4 / ص 386رقم :1887)
“Akan tiba kepada manusia, tahun-tahun yang penuh dengan tipu daya, yang pada tahun-tahun tersebut dibenarkan para pendusta dan didustakan orang-orang yang jujur, dan dianggap amanah orang-orang yang penghianat, dan dianggap berkhianat orang-orang yang amanah, dan ketika itu ruwaibidoh mulai angkat bicara, Beliau ditanya: apa itu ruwaibidoh? Beliau berkata: “Orang dungu yang berbicara tentang urusan orang banyak” [HR. Ibnu Mâjah (juz: 9, hal. 36) dalam As-Silsilah Ash-Shohîhah (Juz: 4, hal. 386, no. 1887, dari Abû Huroirah Rodhiyallohu ‘anhu).

5.1.1 Kedustaan Luqmân bin Muhammad Bâ’abduh
Dengan penyebutan Luqmân bin Muhammad Bâ’abduh sebagai seorang pendusta maka tidak menutup kemungkinan para pengikutnya akan berkata: Tidak mungkin al-ustâdz al-fâdhil Luqmân pendusta, kenyataannya dia membantah orang dusta dengan menulis buku “Menebar Dusta Membela Teroris”?. Maka sebelum beranjak dari pembahasan ini kami akan sebutkan diantara kedustaannya:
1. Menyambut baik nasehat Asy-Syaikh Robî’ -hafidzohullôh- untuk diam dari fitnah, dan ikut berpartisipasi dengan menerjemahkan nasehat tersebut, namun kemudian dia dustakan dengan melakukan upaya licik, lincah dan liar serta menebarkan opini dalam menjelek-jelekkan Asy-Syaikh An-Nâshih Al-Amîn Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ- dan Dârul Hadîts Dammâj, dan melarang ikhwah salafiyyah untuk ke Dammâj dengan bahasa yang berwarna “rayuan gombal” supaya ke markaz ‘Abdullôh Al-Mar’î di Hadromaut.
2. Menyebarkan tuduhan bahwa Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ- telah salah fatal dalam masalah ‘Aqîdah, diantaranya Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ- berpendapat bahwa Allôh beristiwa’ nempel ke ‘Arsy-Nya.
3. Memberitakan bahwa Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ- tidak didukung oleh ‘ulamâ.
4. Menyatakan Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ- tidak tahu manhaj.
5. Menyebarkan berita bahwa Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ- pendusta.
6. Yang membuat fitnah adalah Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ-.
7. Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ- mengatakan bahwa sunnah sebagian besarnya adalah wahyu.
8. Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ-mengatakan bahwa Nabi telah salah dalam wasilah dakwah, maka beliau dibenarkan dan diberi pelajaran oleh Robbnya.
9. Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ- mengatakan bahwa Nabi dan orang yang di bawah beliau tingkatannya tidak bisa diterima ucapannya kecuali dengan dalîl yang jelas.

Dan salah satu ciri khas LJ (Laskar Jihad) yang masih diterapkan oleh Luqmân atau pengikutnya adalah memajhul (menyamar)kan nama, seperti Abû ‘Umar bin ‘Abdul Hamîd, dan Abû Mahfûdz atau yang semisal mereka berdua.
Kalau Abû ‘Umar dengan tulisannya pada pengantar “Nasehat dan Teguran…”, isinya persis dengan pembicaraan Luqmân dalam beberapa rekaman dan gaya penulisannya seperti dalam buku “Mereka adalah Teroris” atau dalam buku “Menebar Dusta Membela Teroris”. Bagi kami Abû ‘Umar ini Luqman atau selain Luqman tetap keduanya sama kelakuannya, sungguh Allôh Y telah sebutkan sifat mereka, Allôh Y berkata:
}وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آَتَيْنَاهُ آَيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ (175) وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (176) {
“Dan bacakanlah kepada mereka, berita orang-orang yang telah Kami berikan ayat-ayat Kami kepadanya, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaithôn (sampai dia tergoda) maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir”. (QS. Al-A’raf:176).
Atau juga keduanya bagaikan Babi hutan yang mana Babi hutan, yang mana Babi hutan ini apabila belum luka dia akan terus lari dari suara manusia namun ketika sudah luka maka tidak peduli siapa saja yang bersuara dia menyerangnya dan sekalipun dia harus jadi korbannya, demikian realita Babi hutan di Pulau Seram (Maluku) yang tentu mantan wakil panglima LJ sudah pernah ke sana.
Demikian perumpamaan Luqmân atau Abû ‘Umar “Semakin jelas dustanya semakin berani berdusta”, sebagaimana Abû ‘Umar berdusta dalam “Nasehat dan Teguran” (hal. 9): “Bahkan Al-Hajury tidak segan-segan untuk berdusta….”.
Dan Abû ‘Umar juga berkata sebagaimana dalam “Nasehat dan Teguran” (hal. 8): “(Syaikh Yahyâ-pen) Sering muncul istilah-istilah aneh dan jorok dari lisannya, yang terkadang orang awam pun tidak kuasa untuk mengucapkannya.”
Kami katakan: Tidak perlu kalian mempromosikan diri dan menganggap diri sebagai orang yang berkata lembut, sopan, dan halus. Tidak usah memakai nama orang ‘awwâm, sungguh orang ‘awwâm telah tahu siapa kalian yang sesungguhnya? Wallâhi orang ‘awwâm telah menvonis kalian sebagai: Kambing, kebanjiran, teroris, gerombolan (pemberontak) dan sesat. Mereka juga menyebut akhwat-akhwat berjubah hitam sebagai: Setan, kemah berjalan dan perempuan-perempuan yang berpakaian panjang hitam-hitam tanpa celana dalam, dan ucapan yang semisal itu. Apakah ucapan-ucapan tersebut menurut Abu ‘Umar dan atau Luqman Ba’abduh mustahil diucapkan oleh mereka?

5.1.2 Kedustaan Muhammad ‘Afîfuddîn bin Husnun- nuri As-Sidawî
Begitu pula Muhammad ‘Afîfuddîn bin Husnunnuri As-Sidawî tidak segan-segan untuk berdusta sebagaimana ketika dia menulis surat kepada al-akh ‘Abdullôh Al-Jahdarî -hafidzohullôh- dengan dua lembar kertas buku, empat halaman, dengan tinta biru, dia berkata: “Ma’hadku telah membangun tiga lantai, thullâbnya sekitar 300 orang (jumlah keseluruhan), dibangun dengan TANPA YAYASAN DAN MINTA-MINTA.”
Demikian itu menunjukkan kalau dia sudah tahu hukum yayasan dan minta-minta, padahal itu dia berdusta, dia ingin temannya senang dan memuji dia karena bisa bangun markaz besar, sungguh mengherankan mencari pujian manusia dengan mengundang kemurkaan Allôh Subhanahu wa Ta’ala.
Ada yang berkata: Mungkin ketika dia kirim suratnya, waktu itu belum ada yayasannya. Jika dia berkata seperti itu maka itu menunjukkan semakin dusta dia, bagaimana mungkin mau dikatakan ketika itu belum ada yayasannya, padahal dia sudah katakan ma’hadnya sudah bangun tiga lantai, sedangkan tiga lantai Al-Bayyinah dibangun setelah adanya program kelas Dieniyyah dan Lughowiyyah angkatan pertama, dan santri-santrinya telah memiliki kartu santri yang di atasnya tertulis nama yayasan.

5.1.3 Kedustaan Saifullôh
Orang ini patut untuk dikasihani, sudah ditipu oleh Luqmân bahwa Syaikh Fauzân melarang orang-orang untuk belajar ke Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ- karena beberapa kesalahan, berikut ini kami sadurkan fatwa Syaikh Fauzan:

FATWA TERBARU ASY-SYAIKH AL-FAUZAN 5 – 3 – 1430 H
Asy-Syaikh Shôlih Al-Fauzân Membantah Kesalahan Al-Hajûrî!
Masih lekat pada ingatan kita, jawaban Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah sekitar 6 tahun lalu ketika beliau ditanya tentang beberapa kesalahan yang diucapkan oleh Al-Hajuri. Maka beliau melarang untuk belajar kepada orang yang demikian kondisinya.
Berikut pertanyaan yang diajukan kepada Asy-Syaikh Al-’Allamah Shalih Al-Fauzan hafizhalullah pada tanggal 5 Rabi’ul Awwal 1430 H, tentang beberapa kesalahan yang diucapkan oleh Al-Hajuri dan sudah terlanjur tersebar di tengah-tengah kaum muslimin, yang kemudian kesalahan tersebut dibela dengan tanpa malu oleh orang-orang jahil.
Maka kali ini dengan tegas Asy-Syaikh Al-Fauzan menjawab :
“Ini adalah ucapan yang buruk, ucapan yang jelek, tidak boleh mendengarnya dan tidak boleh diam atas (kebatilan)nya.”
Segala puji bagi Allah, yang telah memunculkan di tengah umat ini ‘ulama yang tampil kesesatan tersebut, agar umat tidak tertipu dengannya.
Berikut transkrip tanya jawab bersama Al-’Allamah Shalih Al-Fauzan hafizhahullah :
Semoga Allah memberikan kebaikan kepada engkau wahai Samahatul Walid. Seorang penanya berkata: Bagaimana hukum orang yang mengatakan bahwa sunnah sebagian besarnya adalah wahyu? Dan mengatakan juga bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam telah salah dalam wasilah dakwah, maka beliau dibenarkan dan diberi pelajaran oleh Rabbnya. Dan mengatakan juga bahwa Nabi dan orang yang di bawah beliau tingkatannya tidak bisa diterima ucapannya kecuali dengan dalil yang jelas.
Apa hukum perkataan tersebut dan apa hukum belajar pada orang tersebut?
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjawab :
“Ini adalah ucapan yang buruk, ucapan yang jelek, tidak boleh mendengarnya dan tidak boleh diam atas (kebatilan)nya. Ucapan tersebut telah menghina Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam.
Allah Jalla wa ‘Ala telah berfirman tentang beliau “Tidaklah dia berbicara dengan hawa nafsunya. Tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan.” [An-Najm : 3-4]
Sementara orang ini berani menyalahkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dalam urusan agama. Padahal urusan agama merupakan wahyu dari Allah.
Adapun urusan dunia, urusan dunia maka Rasulullah bermusyawarah dengan para shahabatnya dalam urusan-urusan dunia, bukankah demikian?
Dalam urusan dunia beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam biasa bermusyawarah dengan para shahabatnya. Adapun urusan syari’at, maka itu bersifat tauqifiyyah, wahyu dari Allah Jalla wa ‘Ala : “Tidaklah dia berbicara dengan hawa nafsunya. Tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan.” [An-Najm : 3-4].”

Tanggapan:
Luqmân Bâ’abduh dan para pengekornya telah menempuh cara-cara licik dengan tanpa menyebutkan kalau yang berkata seperti itu adalah Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ-, jika disebutkan nama Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ- tentu Syaikh Fauzân tidak akan langsung berfatwa dan menghukumi, tapi justru Syaikh Fauzân akan tabayun (mengecek dulu) apakah itu benar perkataan Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ- atau kah bukan? Ini Syaikh Fauzân, ‘ulamâ besar bukan orang rendahan seperti Luqmân Al-Hizbî dan komplotannya, beliau tidaklah tergesa-gesa dalam menghukumi sesuatu apalagi menghukumi ‘ulamâ yang semisalnya., karena sangat mustahil seorang ‘ulamâ yang konsisten akan berkata seperti itu, dan kalaulah benar Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ- berkata seperti itu tentu para ‘ulamâ yang ada di Dârul Hadîts Dammâj dan ‘ulamâ yang sering menziarahi Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ- yang ada di Yaman akan lebih dulu meninggalkan Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ-. Tidaklah seorang ‘ulamâ menfatwakan untuk meninggalkan seorang ‘ulamâ yang lain dari belajar kepadanya melainkan ‘ulamâ tersebut benar-benar di atas kesalahan, dan kalau benar Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ- di atas kesalahan sebagaimana difatwakan sekitar enam tahun yang lalu maka tentu sekitar dua tahun yang lalu ketika Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ- naik haji Syaikh Fauzân tidak akan mungkin mau mengundang Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ- ke rumahnya, tapi justru realitanya Syaikh Fauzân telah mengutus seorang Indonesia untuk mendatangkan Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ- ke rumahnya, apakah ada ceritanya dalam siroh Salafush Shôlih bahwa seorang ‘ulamâ sunnah pernah mengundang orang yang terjatuh dalam kesalahan ke rumahnya setelah dia mentahdzîr umat dari kesalahannya?
Adapun perkataan: “Sunnah sebagian besarnya adalah wahyu” atau perkataan bâthil yang semisal itu, kami katakan: Ini tidak punya dasar sama sekali untuk disandarkan kepada Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ-, pernah ada yang bertanya kepada Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ- pada dars antara maghrib dan isya’ tentang perihal kelompok Qur’âni, maka Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ- berkata: “Mereka itu adalah kelompok yang menolak Sunnah dan mencukupkan hanya dengan Al-Qur’ân, padahal tidaklah Rosûlullôh itu berkata, melainkan karena apa yang diwahyukan kepadanya, Allôh Yberkata:
}وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4) {
“Tidaklah dia (Rosûlullôh ) berkata dengan hawa nafsunya. Tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan.” (QS. An-Najm: 3-4).
Dan kami sungguh pernah mendengarkan dengan telinga kami dan menyaksikan dengan mata kepala kami serta kami telah tulis di dalam kitab lembaran kedua dari kitab “Shohîh Muslim” yang kami miliki bahwa Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ- pada dars antara maghrib dan isya’ berkata: “Al-Qur’an adalah wahyu dan As-Sunnah adalah wahyu, semuanya dari sisi Allôh Y. Allôh Y berkata:
}وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4) {
“Tidaklah dia (Rosûlullôh ) berkata dengan hawa nafsunya. Tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan.”
Adapun perkataan yang disandarkan kepada Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ- “bahwa Nabi telah salah dalam wasilah dakwah, maka beliau dibenarkan dan diberi pelajaran oleh Robbnya. Dan mengatakan juga bahwa Nabi dan orang yang di bawah beliau tingkatannya tidak bisa diterima ucapannya kecuali dengan dalîl yang jelas”.
Kami katakan: Bahwa ini termasuk kedustaan yang diada-adakan atas nama Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ-, sungguh perbuatan Luqmân Al-Hizbî dan para pendukungnya telah menempuh cara-cara hizbiyyûn semacam ini, ini diantara salah satu kelicikan mereka sekaligus bukti bahwa “Mereka adalah Hizbiyyûn”. Sungguh telah kami dengar perkataan Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ- pada dars antara maghrib dan isya’ ketika membaca kitâb “Iqtidhô’ Ash-Shirôtil Mustaqîm” beliau berkata: “Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi “. Beliau juga berkata: “Sebaik-baik metode dakwah adalah metode dakwah yang dicontohkan oleh Rosûlullôh dan para shohâbatnya”. Beliau juga berkata: “Rosûlullôh adalah orang yang tidak pernah berbuat salah dan keliru.” Dan beliau berkata pula: “Semua orang bisa diambil dan ditolak perkataannya kecuali Rosûlullôh :
}ليس أحد إلا يؤخذ من قوله ويترك، إلا النبي صلى الله عليه وسلم{
“Tidaklah seorangpun diambil dan ditinggalkan perkataannya kecuali Rosûlullôh “. (Riwayat ini adalah Shohîh secara marfû’ dari Ibnu ‘Abbâs diriwayatkan oleh Ath-Thobarônî dalam “Mu’jamil Kabîr” (Juz: 1, hal. 33), dari jalan Ibnu Dinâr dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbâs secara marfû’ dari Nabi .Dan dari perkataan Mujâhid dalam “Hilyatul Auliya'” (Juz: 2, hal. 31).
Apakah Luqmân Al-Hizbî dan para pengekornya mengira di Dârul Hadîts Dammâj ini hanyalah orang-orang dungu dan bodoh seperti mereka, sehingga semua meyakini dan membenarkan ucapan buruk dan jelek seperti itu? Kalau benar Asy-Syaikh Yahyâ Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ- mengucapkan seperti itu, tentu para masyâyikh yang sekarang sibuk mengajar di Dârul Hadîts Dammâj begitu pula para mustafîd akan bergegas meninggalkan Dammâj satu demi satu, tentu pula Asy-Syaikh Robî’ bin Hâdî Al-Madkholî -hafidzohullôh- akan lebih dulu mengangkat suara, karena ini bukan masalah remeh tapi ini masalah manhaj dan ‘aqîdah Ahlussunnah.
Belum lama manusia aneh semacam ‘Abdussalâm menyebarkan pula bahwa Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ- mencela shohâbat, kami katakan: Ya ‘Abdassalâm, salafiyyûn di Dammâj tidak sebodoh sepertimu! Orang yang baru kenal salafî sudah faham bahwa mencela shohâbat itu perbuatan orang-orang sesat, semisal Quthubiyyîn dan kelompok sesat yang lainnya, apalagi sampai mencela, menghina dan berkata jelek kepada Rosûlullôh ..
Saifullôh ternyata berani pula menebarkan kedustaan dengan mendatangi ikhwah Ambon dengan penuh percaya diri berkata sebagaimana dalam “Sms Salah Seorang Ikhwan Ambon ke Abû Yûsuf”: Saifullôh berkata: Syaikh Yahyâ masih banyak kesalahan yang lain” Ikhwân Ambon tadi berkata: “Dia (Saifullôh) memberi waktu satu atau dua hari supaya ana ruju'”.
Demikian cara-cara Saifullôh sudah mulai bermain paksa, ini persis cara-cara kuno (tahun 2000-2002). Saifullôh mendapat dorongan dari Luqmân lewat telpon sebagaimana dalam “Rekaman Saifullôh Tanya Mufti Luqmân” untuk menyebarkan berita dusta tentang Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ-, kemudian dengan semangat butanya, dia sebarkan dan mendatangi ikhwah Ambon dengan memperdengarkan suara berbau Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ- dengan harapan salafiyyun Ambon agar ikut seperti mereka dalam mengumumkan permusuhan terhadap Asy-Syaikh Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî -hafidzohullôh ta’âlâ-. Begitu pula Abû ‘Umar bin ‘Abdul Hamîd berkata sebagaimana dalam “Nasehat dan Teguran” (hal. 38): “Bahkan Al-Hajûrî dalam kaset Daf’ul Irtiyab mengingkari bahwa dirinya telah mengucapkan kata-kata tersebut terhadap hasil ijtima’ Ma’bar.”
Mereka memaksa-maksakan diri melemparkan tuduhan, padahal Rosûlullôh telah memberikan bimbingan yang sangat bagus, beliau berkata:
}الْبَيِّنَةَ عَلَى الْمُدَّعِى وَالْيَمِينَ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ{
“Yang menuduh membawakan bukti, yang dituduh diminta sumpah”. (Shahih, HR. At-Tirmidzi).
Sedangkan bukti yang mereka bawakan pun masih perlu dipertanyakaan dan diteliti lagi, karena sebagaimana yang dikatakan oleh Abû ‘Umar dalam “Nasehat dan Teguran”: “Asy-Syaikh Yahya Al-Hajury mentarbiyah ribuan muridnya”, dengan ribuan murid tersebut tentu yang rekam suara Syaikh Yahyâ tidak hanya satu dua orang, tapi banyak orang, namun anehnya hanya satu rekaman (yang kemudian diperbanyak) yang beda dengan yang lainnya. Bagi para tasjilat tentu mudah untuk memotong suara, menyisipkan suara atau mengubah suara dan ini diakui oleh teman kami yang biasa bekerja di tasjilat, bahwa itu adalah perkara yang mudah dan gampang, mungkin Luqmân akan berkata: “Kalau begitu ana juga tidak katakan seperti itu kepada Asy-Syaikh Yahya, rekaman itu diubah, ditambah dan dikurangi”. Maka kami katakan: Celaan, penghinaan dan makian Luqmân terhadap Syaikh Yahyâ banyak sumbernya, bukan hanya rekaman tapi juga dalam bentuk yang lain, seperti laporan (berita) dari ikhwah dan ada yang berbentuk malzamah dan buku, sebagaimana buku “Nasehat dan Teguran” telah mencocoki perkataan dan perbuatan Luqmân Bâ’abduh. Dan para saksipun telah membuktikannya, maka kedustaan Luqmân Al-Hizbî adalah perkara sudah mendunia ketenarannya.
Kalau Luqmân bersilat lidah dan bersikeras dengan tidak mau mengakui bukti yang ada dan dia merasa di atas kebenaran dan berani bersumpah maka solusi terakhir dia menerapkan apa yang pernah dia ketahui, sebagaimana perkataannya dalam “Penghinaan Luqmân” (hal. 8): “Di Yaman Hajury nantang mubahalah”. Tentu kalau dia faham dan yakin di atas kebenaran maka tentu dia akan berani menyambut ketika ditantang mubâhalah, tidak hanya berkata sebagaimana dalam “Penghinaan Luqmân” (hal. 8-9): “Muhsin nantang ana mubahalah di daurah semarang kata Nurwahid dan Muhaimin”. Memang benar kata orang Luqmân ini berjiwa penakut, tidak sama dengan Ja’far ‘Umar Thôlib (yang dulu) ketika ditantang dengan mubahalah dia sambut, demikian itu karena kebenaran ketika itu ada padanya, dia faham akan perkataan Allôh Y:
}الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُنْ مِنَ الْمُمْتَرِينَ (60) فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ (61) {
“Kebenaran itu dari Robbmu maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. Siapa yang membantahmu tentang kebenaran itu sesudah datang ilmu kepadamu, maka katakanlah: Marilah kita mengajak anak-anak kami dan anak-anak kalian, istri-istri kami dan istri-istri kalian, diri kami dan diri kalian. Kemudian marilah kita bermubahalah maka kita meminta supaya la’nat Allôh ditimpakan kepada orang-orang yang berdusta”. (Ali Imrôn: 60-61).

5.1.4 Kedustaan Kholîful Hâdî
Dalam penantian pemberangkatan ke Dammâj, kami sempat dua pekan di Muntilan, pada suatu malam ba’da sholat Isya’, kami mencoba menelpon Kholîfah untuk menyampaikan masukan kepadanya, karena telah tersebar bahwa Kholîfah mentahdzîr Al-Ustâdz Abû Mas’ûd sekaligus keluarganya, maka kami menelponnya dan menyampaikan permasalahan tersebut, sebelum telpon ditutup Kholîfah berkata kepada kami: “Begitu ana dinasehati, ana itu masih bodoh dan butuh nasehat, ntar kalau antum balik dari Yaman ana dinasehati!, itu saja ya, karena ana mau ngantar ibu pulang ke rumahnya”. Ternyata besoknya langsung dia katakan kepada Abû Nu’aim: “Khidir tadi malam telpon ana, sekarang dia terkena fitnah dunia luar”. Allahul musta’an.
Begitu pula ketika dia ditelpon dari Semarang untuk mengisi dauroh di Semarang, ini tepatnya pada waktu Dhuha’ ba’da dars “Al-Ushul min Ilmil Ushul” dia berkata: “Ana disini saja, ana tidak bisa meninggalkan ma’had, lagi pula ana takut keenakan, ana tidak bisa menjaga niat, apalagi kalau sudah keluar-keluar itu makannya enak-enak, makannya sate dan yang enak-enak…..afwan ana tidak bisa jaga niat, ana di sini saja, kerja di sawah, nyangkul tanah….kalau antum mau suruh saja murid-muridmu kesini ana akan ajarin.
Perhatikanlah ucapannya: “Ana disini saja, kerja di sawah, nyangkul tanah….” Padahal telah diketahui di di Gresik tidak punya sawah, kalau di Lamongan dulu memang benar pernah dia kerja di Sawah miliknya Al-Ustâdz Abû ‘Abdirrohmân Nûrul Yaqîn, demikianlah keberadaan dia, menampakan sikap terpuji yang tidak ada pada dirinya.
Disamping berdusta ternyata Kholîfah ini ingin mau menjadi ahli firasat, ketika kami dan Abû Nu’aim sudah mendaftar ke travel untuk ke Dammâj, al-akh Abû ‘Amr Syaukani minta izin pulang ke Sumatra untuk mengurus berkas-berkas (surat-surat) untuk ke Dammâj, ternyata Kholîfah dengan mengandalkan firasatnya melarangnya untuk pulang, sehingga al-akh Abû ‘Amr menjelaskan bahwa beliau benar akan ke Dammâj, karena sudah diberitahu oleh Abû ‘Abbâs (bapaknya Abû Hanîfah), Kholîfah tetap bersikeras melarang, yang terakhir ucapannya mengatakan: “Menurut firasatku, antum disuruh pulang supaya tinggal di rumah, itu bukan untuk ke Yaman, itu hanya politiknya Abû Mas’ûd, ‘Abdul Ahad dan politik bapaknya Abû Hanîfah.”

5.2 Menindak Lanjuti Rencana Jahat
Ditengah-tengah api fitnah semakin bergejolak, para penggemar fitnah terus menjalankan misi dengan mengeluarkan segala daya fikir mereka untuk bisa menggapi keinginan mereka, kedustaan mereka tebarkan, ketika pecinta al-haq berupaya mengikis dan menepis kedustaan dan syubhat mereka, maka mereka marah dengan kemarahan yang menyala-nyala, sampai ada yang memberitahu kami bahwa ada dari pembela Luqmân atau pembela para pengekornya berkata: “Kalau orang-orang itu (yakni pecinta/pembela al-haq) pulang ke Indonesia maka akan kita pukul”. Ada juga yang berkata: “Saya sikat (bunuh)”.
Maka kami tantang dengan lisan: “Sungguh ternyata keberadaan kalian di Dârul Hadîts Dammâj bagaikan suatu benda anti air, bila dicelupkan ke dalam air kemudian diangkat maka tidak didapati bekas air yang membasahi benda tersebut”. Sungguh kalau begitu telah sia-sia waktu dan harta kalian ketika di Dârul Hadîts Dammâj, padahal Al-Imâm Al-Wâdi’î dan Asy-Syaikh An-Nâshih Al-Amîn -hafidzohullôh- telah membacakan banyak hadîts yang menyebutkan hina dan joroknya perbuatan yang sedang direncanakan itu, ataukah ketika keduanya membacakan hadîts, mereka bolos dari dars, melamun atau tidur ditengah-tengah jalannya dars? Betapa kasihannya kami kepada mereka, maka berikut ini kami kutipkan diantara hadîts-hadîts yang kedua syaikh tersebut bacakan:
• Al-Imâm Ahmad berkata dalam “Musnad”nya (no. 17278):
حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَمْرٍو – يَعْنِى ابْنَ دِينَارٍ – عَنْ أَبِى نَجِيحٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ قَالَ تَنَاوَلَ أَبُو عُبَيْدَةَ رَجُلاً بِشَىْءٍ فَنَهَاهُ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ فَقَالَ أَغْضَبْتَ الأَمِيرَ. فَأَتَاهُ فَقَالَ ِنِّى لَمْ أُرِدْ أَنْ أُغْضِبَكَ وَلَكِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ }إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَاباً يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَشَدُّ النَّاسِ عَذَاباً لِلنَّاسِ فِى الدُّنْيَا {
Telah menceritakan kepadaku Sufyân bin ‘Uyainah dari ‘Amr –yakni- Ibnu Dînâr, dari Abî Najîh, dari Khôlid bin Hakîm bin Hizâm, dia berkata: Abû ‘Ubaidah memberi pelajaran (menyakiti) seorang laki-laki dengan sesuatu, maka Khôlid bin Wâlid melarangnya dan dia berkata: Kamu membuat marah al-amir, maka dia mendatanginya dan berkata: Aku tidak ingin memarahimu karena aku mendengar Rosûlullôh berkata: “Sesungguhnya orang yang paling pedih adzabnya pada hari kiamat adalah orang yang mengadzab orang lain dengan adzab yang pedih ketika di dunia”.
Al-Imâm Al-Wâdi’î berkata dalam “Ash-Shohîh Al-Musnad” (Juz: 1, hal. 267-268): “Ini adalah hadîts Shohîh…”
• Al-Imâm Ahmad berkata dalam “Musnad”nya (no. 3915):
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَابِقٍ حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ عَنِ الأَعْمَشِ عَنْ شَقِيقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم }أَجِيبُوا الدَّاعِىَ وَلاَ تَرُدُّوا الْهَدِيَّةَ وَلاَ تَضْرِبُوا الْمُسْلِمِينَ{
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sâbiq, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami: Isrô’il, dari Al-A’masy, dari Syaqîq, dari ‘Abdillâh bin Mas’ûd, dia berkata: Rosûlullôh berkata: “Penuhilah oleh kalian undangan, dan janganlah kalian menolak hadiah dan janganlah kalian memukul orang-orang muslim”.
Al-Imâm Al-Wâdi’î berkata dalam “Ash-Shohîh Al-Musnad” (Juz: 1, hal. 643-644): “Ini adalah hadîts shohîh….”
Dengan keterangan tersebut kalau mereka berani melanjutkan rencananya berupa menyikat (membunuh), maka tidak ragu lagi bahwa mereka kembali kepada keadaan mereka yang dahulu, yang dari pasukan jahat kembali menjadi penjahat, yang dari preman kembali menjadi preman atau yang lebih jelek dari itu. Dengan perbuatan seperti itu (jika mereka lakukan) semakin tidak ada keraguan lagi bahwa “Mereka adalah Teroris “. Silahkan mencermati buku “Mereka adalah Teroris” karya Luqmân bin Muhammad Bâ’abduh supaya tahu ciri-ciri teroris? Apa balasan bagi yang membunuh teroris? Dan apa ganjaran bagi orang-orang yang dibunuh oleh teroris?
Berikut ini kami sampaikan suatu peringatan, berkata Al-Imâm Ahmad bin Hanbal dalam “Musnad”nya (no. 226368):
حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنِ عِيَاضٍ قَالَ سَمِعْتُ صَفْوَانَ بْنَ سُلَيْمٍ يَقُوْلُ : دَخَلَ أَبُوْ أُمَامَةَ البَاهِلِيُّ دِمَشْقَ فَرَأَى رُؤُوْسَ حَرُوْرَاءَ قَدْ نُصِبَتْ فَقَالَ كِلاَبُ النَّارِ كِلاَبُ النَّارِ ثَلاَثًا شَرًّ قَتْلَى تَحْتَ ظِلِّ السَّمَاءِ خَيْرُ قَتْلَى مَنْ قَتَلُوْا ثُمَّ بَكَى فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ، فَقَالَ يَا أَبَا أُمَامَةَ هَذَا الَّذِيْ تَقُوْلُ مِنْ رَأْيِكَ أَمْ سَمِعْتُهُ قَالَ اِنِّى إِذَا لَجَرِيْءٌ كَيْفَ أَقُوْلُ هَذَا عَنْ رَأْيِ قَالَ قَدْ سَمِعْتُهُ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ قَالَ فَمَا يُبْكِيْكَ قَالَ أَبْكِي لِخُرُوْجِهِمْ مِنَ الإِسْلاَمِ هَؤُلاَءِ الَّذِيْنَ تَفَرَّقُوْا وَاتَّخَذُوْا دِيْنَهُمْ شِيَعًا.
Telah menceritakan kepada kami Anas bin ‘Iyâdh, dia berkata: Aku mendengar Shofwân bin Sulaim, dia berkata: “Telah masuk Abû Umâmah Al-Bâhilî di Dimasyq, maka beliau melihat kepala orang-orang Harûrî (Khowârij) yang telah terpajang, dan beliau berkata: “(Mereka itu adalah) anjing-anjing neraka –diucapkan tiga kali- (dan) sejelek-jelek orang yang terbunuh di bawa kolong langit. Dan sebaik-sebaik orang yang terbunuh adalah orang-orang yang dibunuh oleh mereka”. Kemudian Abû Umâmah menangis, maka berdirilah kepada seorang laki-laki lalu berkata: “Ya Abâ Amâmah! Yang kamu katakan itu apakah menurut pendapatmu ataukah kamu mendengarkannya (dari Rosûlullôh ). Beliau berkata: Sungguh aku telah lancang kalau aku mengatakan itu dari pendapatku!. Beliau berkata lagi: Aku mendengarkannya (dari Rosûlullôh ) bukan hanya sekali atau dua kali”. Laki-laki tadi berkata (kepadanya): Lantas apa yang membuatmu menangis? Beliau menjawab: Aku menangis karena mereka keluar dari Islam, mereka itu berpecah-belah dan mereka menjadikan agama mereka berbilang-bilang”.
Berkata Al-Imâm Al-Wâdi’î dalam “Ash-Shohîh Al-Musnad” (Juz: 1, hal. 410): “Ini adalah hadîts jayyid……”.
Hadîts tersebut menerangkan adanya ancaman bagi para teroris-khowârij, apabila mereka melakukan pembunuhan gagal dan malahan mereka yang terbunuh, maka mereka adalah sejek-jelek bangkai di bawah kolong langit. Dan hadîts tersebut juga memberikan khobar gembira bagi orang-orang yang dibunuh oleh mereka.
Jika mereka yang melakukan rencana jahat itu tidak mau dikatakan khowârij atau teroris dengan alasan mereka hanya pembunuh biasa, maka kami berikan satu ayat dari Al-Qur’ân untuk mereka sebagai balasan atas kejahatan mereka, Allôh Y berkata:
}وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا{
“Barang siapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja maka balasan baginya adalah jahannam, dia kekal di dalamnya. Allôh murka kepadanya dan mela’natnya, serta menyediakan baginya adzab yang besar”. (An-Nisâ’: 93).

BAB VI
SYUBHAT DAN BANTAHANNYA

Syubhat pertama:
Wahai saudaraku, ingat tujuanmu hanya untuk menuntut ‘ilmu! Jangan membicarakan fitnah, karena fitnah itu akan berlalu dengan sendirinya, ingatlah perkataan Rosûlullôh :
}سَتَكُوْنُ فِتَنٌ القَاعِدُ فِيْهَا خَيْرٌ مِنَ القَائِمِ وَالقَائِمُ فِيْهَا خَيْرٌ مِنَ المَاشِى وَالمَاشِى فِيْهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِى وَمَنْ تُشْرِفْ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ وَمَنْ وَجَدَ فِيْهَا مَلْجَأً أَوْ مُعَاذًا فَلْيَعُذْ بِهِ{
“Akan terjadi fitnah-fitnah, orang yang duduk (darinya) lebih baik dari pada orang yang berdiri, orang yang berdiri darinya lebih baik dari pada orang yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik dari pada orang yang berlari, barang siapa yang menceburkan diri (dalam fitnah tersebut) maka dia akan tercebur, dan barang siapa mendapati tempat perlindungan maka hendak berlindung darinya”. (al-hadits).

Tanggapan:
Syubhat ini tampak seolah-olah sebagai wasiat dan nasehat yang memikat, namun jika ditinjau lagi, maka tampak sekali sebagai suatu upaya yang sangat berbahaya akibatnya, perlu diketahui bahwa penuntut ‘ilmu itu wajib mengamalkan ‘ilmunya, jika fitnah di depan mata dan dia melihat ada kemungkaran maka wajib baginya untuk mengingkarinya sebatas kemampuannya, Rosûlullôh :
}مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يُغَيَّرَهُ بِيَدِهِ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَان {
“Barang siapa melihat kemungkaran maka hendaknya dia merubahnya dengan tangannya, jika tidak sanggup merubah dengan tangannya maka dengan lisannya, bila tidak sanggup maka dengan qalbunya, dan demikian itu selemah-lemahnya iman”.
Adapun hadîts “Akan terjadi fitnah-fitnah, orang yang duduk (darinya) lebih baik dari pada orang yang berdiri……… diriwayatkan oleh Al-Imâm Al-Bukhôrî dalam “Shohîh”nya (no. 7081), hadîts tersebut tidak bisa dijadikan hujjah untuk mendiamkan para penuntut ‘ilmu dari kejahatan fitnah hizbiyyah, bahkan hadîts tersebut adalah penjelasan, arahan dan bimbingan ketika menghadapi fitnah, Al-Hafidz Ibnu Hajar mengutip perkataan Al-Imâm Ath-Thobarî ketika menjelaskan hadîts tersebut dalam “Fathul Bârî” (juz 13, hal. 40): “Yang benar, bahwasanya fitnah asalnya adalah balâ’ (bencana, ujian…..), dan mengingkari kemungkaran wajib bagi siapa saja yang memiliki kemampuan padanya, barang siapa yang menolong (bersama) kebenaran maka dia di atas kebenaran dan barang siapa menolong (bersama) yang salah maka dia di atas kesalahan”.
Penjelasan tersebut merupakan hujatan terhadap orang yang mengetahui fitnah, mengetahui keberadaan hizbî namun dia diam dan tetap tidak mau berbicara, dan sekaligus hujatan kepada orang-orang yang mengkhianati syaikhnya, ketika menasehatinya untuk menjelaskan fitnah yang ada, amat disayangkan ketika sampai di negrinya (Indonesia) malah dia tutupi dengan berbagai pertimbangan dan alasan yang tidak karuan. Jikalau benar alasannya: “Karena bila dijelaskan akan terjadi perpecahan dikalangan ahlussunnah”. Maka kami Tanya: Apakah dengan diamnya kalian sekarang ini semakin mengokohkan ukhuwah dikalangan salafiyûn ataukah malah membuat mereka jengkel kepada kalian (setelah mereka tahu) keadaan yang sebenarnya?
Ada juga dari mereka yang beralasan: Kita tidak terangkan (diam) karena ketika perang Jamal sebagian shohâbat seperti Abû Bakroh diam, patahkan pedangnya dan lari ke gunung (tidak mau masuk fitnah).
Maka kami katakan: benar Abû Bakroh tidak ikut pertempuran, namun apakah beliau diam? Apakah beliau khianat? justru beliau setelah melihat suatu pasukan yang dipimpin oleh Ummul Mu’minîn ‘Aisyah < beliau ingkari karena mengamalkan sunnah Rosûlullôh , sebagaimana Al-Imâm Al-Bukhôrî menyebutkan dalam “Shohîh”nya (no. 4425):
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ حَدَّثَنَا عَوْفٌ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ أَبِى بَكْرَةَ قَالَ لَقَدْ نَفَعَنِى اللَّهُ بِكَلِمَةٍ سَمِعْتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَيَّامَ الْجَمَلِ ، بَعْدَ مَا كِدْتُ أَنْ أَلْحَقَ بِأَصْحَابِ الْجَمَلِ فَأُقَاتِلَ مَعَهُمْ قَالَ لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى قَالَ « لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً »
“Telah menceritakan kepada kami ‘Utsmân bin Al-Haitsam, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Auf dari Al-Hasan dari Abî Bakroh, dia berkata: Allôh telah memberikan manfaat kepadaku pada perang Jamal dengan kalimat (hadîts) yang saya mendengarkannya dari Rosûlullôh , setelah saya hampir bergabung dengan pasukan Jamal (yang dipimpin ‘Aisyah) untuk berperang, ketika sampai berita kepada Rosûlullôh “Bahwasanya penduduk Faris telah mengangkat Putri Kisra sebagai ratu, maka Rosûlullôh berkata: “Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusannya kepada seorang wanita.”
Demikianlah Abû Bakroh Rodhiyallohu ‘anhu keadaannya, beliau tetap meriwayatkan hadîts ditengah-tengah berkecamuknya fitnah, beliau tidak mengkhianati Rosûlullôh .
Sungguh betapa beraninya kalian mengkhianati syaikh kalian karena melindungi hizbiyyah. Maka sebagai peringatan Allôh Subhaanahu wa Ta’ala berkata:
}يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ {
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allôh dan Rosûl-Nya dan (juga) janganlah kalian mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepada kalian, sedang kalian mengetahui.” (Al-Anfâl: 27).
Dan Allôh Subhaanahu wa Ta’ala juga berkata:
}مُذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَلِكَ لا إِلَى هَؤُلاءِ وَلا إِلَى هَؤُلاءِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلا{
“Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.” (An-Nisâ’: 143).
Apakah mereka akan membeli kejelekkan dengan mengabaikan petunjuk, Allôh Y berkata:
}أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلالَةَ بِالْهُدَى {
“Mereka itulah.yang membeli kesesatan dengan petunjuk” (Al-Baqarah: 16).
Berkata ahli tafsir: أخذوا الضلالة وتركوا الهدى “Mereka mengambil kesesatan dan meninggalkan petunjuk”. Dan Allôh Y perjelas lagi:
} يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ {
“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allôh dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka dan tetap Allôh mengokohkan cahaya-Nya meskipun orang-orang yang kufur itu membencinya.” (Ash-Shof: 8).
Mereka takut menyuarakan al-haq dengan banyak pertimbangan untuk mengatakan al-haq padahal Rosûlullôh telah memberikan ketegasan sebagaimana perkataannya:
}لاَ يَمْنَعَنَّ ﺃَحَدُكُمْ هَيْبَةَ النَّا سِ ﺃَنْ يَقُوْلَ فِي حَقٍّ ﺇِذَا رَﺃَهُ ﺃَوْ شَهِدَهُ ﺃَوْ سَمِعَهُ{
“Janganlah rasa segan salah seorang kalian kepada manusia, menghalanginya untuk mengucapkan kebenaran jika melihatnya, menyaksikannya, atau mendengarnya.” (HR. Ahmad, 3/50, At-Tirmidzi, no. 2191, Ibnu Majah no. 4007. Dishohîhkan oleh Al-Albânî dalam “Silsilah Ash-Shohîhah”: 1/322).
Cukuplah perbuatan mereka itu sebagai bukti atas kebenaran perkataan Rosûlullôh , yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asâkir, beliau berkata sebagaimana dalam “Kanzul ‘Umal” (no. 31525):
عَنْ أَنَسٍt قَالَ : قِيْلَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ مَتَى نَدَع الائْتِمَار بِالمَعْرُوْفِ وَالنَّهْي عَنِ المُنْكَرِ قَالَ : } إِذَا ظَهَرَ فِيْكُمْ مَا ظَهَرَ فِى الأُمَمِ قَبْلكُمْ : المَلَكُ فِى صِغَارِكُمْ وَالعِلْمُ فِى رذَالِكُمْ وَالفَاحِشَةُ فِى خِيَارِكُمْ {
“Dari Anas t, dia berkata: Ada yang bertanya: Wahai Rosûlullôh kapan kami meninggalkan perintah kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran? Rosûlullôh berkata: “Jika telah tampak pada kalian apa-apa yang tampak pada umat-umat sebelum kalian (yaitu): Kekuasaan berada pada orang rendah (kecil) kalian, ‘Ilmu ada pada orang kecil (rendah) kalian dan perbuatan dosa ada pada orang-orang besar kalian.”

Syubhat Kedua:
Salafî di Indonesia awalnya bersatu, namun kemudian ketika Abul ‘Abbâs (Khodhir) ke Dammâj dan sesampainya di Dammâj bersama teman-temannya membuat perpecahan dan kerusakan, padahal Allôh Subhanahu wa Ta’ala berkata:
}وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا {
“Dan berpegang teguhlah kalian dengan agama Allôh, dan janganlah kalian berpecah belah”. (Ali Imrôn: 103).

Tanggapan:
Sungguh mereka yang berkata demikian telah menipu diri mereka sendiri dan menipu orang lain, apakah air dengan api akan bisa menyatu? Sungguh tidaklah kami memisahkan diri dari mereka melainkan setelah kami melihat banyaknya kejelekkan dan penyimpangan pada mereka, dan tidaklah kami memisahkan diri dari mereka melainkan setelah adanya hujjah kepada mereka. Dan sudah merupakan ketentuan bahwa kebenaran tidak akan pernah bersatu dengan kesesatan, dari Ibnu ‘Umar dia berkata: Berkata Rosûlullôh :
} لاَ يَجْمَعُ اللهُ هَذِهِ الأُمَّةُ عَلَى الضَّلاَلَةِ أَبَدًا { وَقَالَ : } يَدُ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ {
“Allôh tidak akan menyatukan umat ini di atas kesesatan selama-lamanya”. Dan beliau berkata: “Tangan Allôh bersama al-jama’ah”.
Ini adalah hadîts Shohîh, sebagaimana terdapat dalam “Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shohîhain lil Hâkim” (Juz: 1, hal. 348) dan dalam “Ash-Shohîh Al-Musnad” (Juz: 1, hal. 514).
Allôh Subhanahu wa Ta’ala juga berkata:
}فَذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ { [يونس/32]
“Maka (Dzat yang demikian) itulah Allôh Rabb kalian yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimana kalian dipalingkan (dari kebenaran) .” (Yûnus: 32).

Syubhat Ketiga:
Mereka (Abul ‘Abbâs dkk) ketika di Indonesia diam, bahkan bersama kita, ikut mengirim tulisan, ketika sampai di Dammâj langsung berbicara. Dan ada yang berkata: Sampai di Dammâj berani mentahdzîr ustâdz-ustâdz, baru tadi sore sudah tahdzîr-tahdzîran, ‘ilmu masih seperti tahi kuku, apa tidak pernah baca Kitabul ‘Ilmi? Tanpa nasehat langsung tahdzîr.

Tanggapan:
Diamnya kami ketika di Indonesia adalah patut kami syukuri, karena ketika itu kami belum tahu keadaan yang sebenarnya dan ini salah satu bentuk pengamalan As-Sunnah Ash-Shohîhah, dari Abû Huroirah t, Rosûlullôh berkata:
}وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ{
“Dan barang siapa beriman kepada Allôh dan hari Akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam” (HR. Al-Imâm Al-Bukhôrî hadits no. 6089 dan Al-Imâm Muslim hadîts no. 46 dari Abû Huroirah), Walhamdulillâh sesampainya kami di Dammâj jelaslah perkaranya, dan jangan mengeluh atau menyayangkan karena setelah itu kami membantah kalian, itu disebabkan oleh ulah kalian sendiri, yang tidak tahu masalah ikut berbicara atau yang sudah tahu masalah ikut bermasa bodoh. Apakah pantas melakukan pertemuan-pertemuan khusus membicarakan Syaikhnya? Apakah terpuji melakukan upaya untuk menjatuhkan syaikhnya? Apakah pernah ‘Afifuddîn, Sarbini atau Luqmân tabayyun ke para masyâyikh di Dârul Hadîts Dammâj? Tidak! tidak sama sekali, tapi justru tabayunnya hanya pada hizbiyyîn, dan bahkan tetap ingin mengangkat hizbî semisal ‘Abdurrohman Al-Adanî dengan diundang ke Indonesia untuk mengisi dauroh Nasional, Wallôhul musta’ân, apakah ini suatu sikap yang adil? Apakah ini salah satu adab wahai para komentator?
Kami Tanya kepada kalian wahai para komentator: Apa penilaian kalian terhadap shohâbat yang mulia Salmân Al-Fârisî, ketika baru masuk Islam langsung menceritakan kejelekan bapaknya yaitu menipunya bahwa agama yang paling benar hanya agama Majusi dan kejelekan salah satu gurunya (sang Uskup) yaitu mengajak manusia bersedekah ternyata hasil sedekah dia kumpulkan untuk dirinya sendiri? [lihat Kisahnya dalam “Ash-Shohîhul Musnad” (Juz: 1, hal. 367-372, no. 440)], Apakah kemudian kalian akan berani katakan: Apa itu Salmân Al-Fârisî! baru tadi sore masuk Islam, ‘ilmunya masih tahi kuku sudah tahdzîr-tahdzîran? -Kami berlindung kepada Allôh dari keyakinan dan ucapan jelek kepada para shohâbat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Syubhat Keempat:
Abul ‘Abbâs (Khodhir) adalah orang yang paling pendusta, sebelum ke Dammôj ia di Cikarang tiga bulan, tapi ia bilang ada di Jakarta.

Tanggapan:
Dengan tuduhan seperti itu malah menunjukkan betapa bodohnya mereka tentang realita yang ada. Keberadaan kami di Cikarang (dalam penantian ke Dammâj) hanya dua bulan lebih (tidak sampai tiga bulan), namun mereka yang menyebarkan ini menyebutnya tiga bulan. Subhanallôhu entah mereka belajar ‘ilmu pergenapan dari mana? Kebiasaan orang ‘Arob jika hitungan semisal dua bulan lebih maka dianggap hanya dua bulan saja, sebagaimana ketika Rosûlullôh mendakwahkan tauhîd di Mekkah selama tiga belas tahun, maka sebagian menyebutnya sepuluh tahun, padahal tiga belas tahun maka kebiasaan penyebutan dengan genap (sepuluh tahun) bukan suatu kesalahan atau kedustaan. Begitu pula Asy-Syaikh An-Nâshih Al-Amîn dengan judul kitabnya “Arba’ûn Ihsân”, yang selayaknya isinya empat puluh hadîts namun ternyata lebih dari empat puluh hadîts maka penyebutan seperti ini adalah suatu kebiasaan hanya dengan penyebutan genap. Kemudian jika kami dihubungi keluarga atau kawan-kawan dan kami ditanya dimana? Maka kami katakan di Cikarang, mereka bertanya Cikarang itu dimana? Maka tentu kami menjawab di Jakarta, dan penyebutan seperti ini adalah perkara yang dimaklumi, namun para penggemar (intel fitnah) menyebarkan bahwa kami telah berdusta dengan sebesar-besar dusta, karena kami di Cikarang berkata di Jakarta. Begitu pula kami berasal dari pulau Seram (Maluku), ketika ada yang tanyakan tentang kami orang mana? Maka di jawab orang Ambon, dan telah tersebar bahwa kami orang Ambon, tapi itu adalah perkara tidak bermasalah bagi kami. Memang pernah kami dihubungi berkali-kali oleh kawan-kawan atau keluarga dan tepatnya ketika kami dihubungi kami berada di Jakarta, karena pada hari ahad kami berada di Masjid Al-I’tisham Jakarta mengikuti ta’lim, maka apakah kami di masjid tersebut ketika menulis atau sms mengatakan ada di Jakarta adalah suatu kedustaan?

Syubhat Kelima:
Orang yang belajar di Dârul Hadîts Dammâj tersibukan dengan fitnah!

Tanggapan:
Demikian upaya jahat terus digencarkan setelah mereka mencoba dengan cara melarang ke Dârul Hadîts Dammâj gagal, mereka mulai menebarkan berita buruk. Maka kami katakan: Benar kami sekarang menyibukan diri dengan fitnah, setiap hari kami sibuk menghafal hadîts dan melewati banyak hadîts yang membicarakan tentang fitnah, baik fitnah harta (baca; minta-minta), fitnah dunia (baca; yayasan) dan fitnah wanita (baca; TN). Ketika kami di Indonesia tidak mampu mengahafal hadîts, namun sampai di Dârul Hadîts Dammâj –walhamdulillâh- Allôh beri kami kemudahan kepada kami dalam menghafal hadîts, begitu pula menghafal Al-Qur’ân, ketika di Indonesia sulit sekali menghafal namun di Dârul Hadîts Dammâj Allôh mudahkan kami menghafal Al-Qur’ân. Demikianlah nikmat belajar di Dârul Hadîts Dammâj yang patut kami syukuri, sebagai hujatan bagi para pengkhianat yang mengkufuri nikmat. tidaklah kami mengisahkan melainkan karena Allôh Subhanahu wa Ta’ala telah berkata:
}وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ {
“Adapun ni’mat dari Robb-mu maka kisahkanlah” (Adh-Dhuha: 11).
Amat disesalkan ternyata orang-orang yang membawakan syubhat ini sudah berpengalaman keluar masuk fitnah, diantara mereka ada teman-temannya terfitnah dengan isi perutnya, ketika selesai menjalankan usaha (baca; bisnis) mengadakan acara-acara di atas gunung, potong kambing, ada pula yang baca puisi berbau porno di atas gunung, ada pula dari mereka mengadakan acara-acara setiap malam Jum’at yang diikuti dengan cerita film cina, ada pula cerita film Wiro Sableng yang berepisode pada malam Jum’at berikutnya, dan ada dari mereka pandai main Gem, ketika datang temannya tidak tahu main Gem dikatakan: “Makanya jangan jadi salafy cepat-cepat”, namun ketika balik di Indonesia dijadikan dâ’î ulung atau dâ’î kibâr.

BAB VII
PENUTUP

Al-Hamdulillâh Luqmân Bâ’abduh terbongkar kedoknya
Bila berkata penuh dengan tipu muslihat yang dihiasi dusta
Cerita dan perkataan Syaikh Yahyâ ditalbîs lalu dijadikan senjata
Datang orang-orang ke Dammâj dianggap membahayakan dia
Entah kenapa ‘Abdurrohmân sudah hizbî Luqmân masih tetap bela
Fahami masalahnya dulu baru kau berkata dan membela
Gerakannya Luqmân Bâ’abduh ini persis ular berbisa
Hampir setiap yang mendekat seperti Saifullôh terkena bisanya
Incaran dan opininya terus menjelajah dan merajalela
Jika diselidiki pergerakannya akan terbuka dan terdata
Kengerian hizbinya telah menyebar luas dimana-mana
Luqmân Bâ’abduh mengira pergerakannya sudah luar biasa
Mu’minûn yang sejati tak kan pernah tertipu dan tergoda
Nuansa Islam, Iman dan Ihsan telah menghiasi mereka
Omongan mereka penuh hikmah, serius, tegas dan bijaksana
Persatuan mereka di atas As-Sunnah yang selalu jaya
Qodarullôh yang pisah dari mereka tersengat ular berbisa
Rembulan yang indah nan menawan terus memancarkan cahaya
Sinar mentari senantiasa menerangi penjuru jagat raya
Tapi kegelapan hizbiyyah terus membuta dan menggulita
Unit Gawat Darurat untuk para pasien hizbiyyûn telah tersedia
Ventilasi udara untuk pengunjung hizbiyyîn ada di ruang terbuka
Wejangan praktek berupa tubuh hizbî terpajang di atas meja
X-ray radiology melepas dan memancarkan radiasinya
Yang dungu dipancarkan radiasi di dada, yang gila di kepala
Zaman terus berlalu penyakit hizbiyyah tetap terasa.

DAFTAR RUJUKAN

Al-Qur’an dan Tafsir:
1. Al-Qur’ânul Karîm
2. Al-Qur’ân dan Terjemahannya/Khodim Al-Haromain Asy-Syarifain
3. Ni’matul Mannan Fii tafsîr Wabayân Kalimatil Qur’ân/Syaikh Abû ‘Amr ‘Abdul Karîm bin Ahmad Al-Hajûrî/Dârul Atsâr/Cet. I/tahun 2008.

Kitab-Kitab Hadits:
4. Shohîh Al-Bukhôrî/Al-Imâm Abû ‘Abdillâh Al-Bukhôrî/Dârul Kitab Al-‘Arabî/tahun 1428.
5. Fathul Bârî Syarh Shohîh Bukhôrî/Al-Hâfidz Ibnu Hajar Al-Asqolânî.
6. Shohîh Muslim/Al-Imâm Abul Husain Muslim/Dârul Kitâb Al-‘Arabî.
7. Al-Jâmi’ush Shohîh mimma Laisa fii Shohîhain/Al-Imâm Al-Wâdi’î/Dârul Atsâr Shon’â-Yaman/Cet. 3/tahun 1429 H-2008 M.
8. Ash-Shôhîhul Musnad mimma Laisa fii Shohîhain/Al-Imâm Al-Wâdi’î/Dârul Atsâr Shon’â-Yaman/Cet.

Kitab-kitab Manhaj:
9. An-Nashîhatu wal Bayan lima ‘Alaihi Hizbu Al-Ikhwân/Syaikh ‘Abdul Hamîd Al-Hajûrî/Dârul Kitâb wa Sunnah/Cet. I/tahun 2007.
10. Al-Majruhûn inda Al-Imâm Al-Wâdi’î/Abû Usâmah Adil bin Muhammad As-Siyâghî/Dârul Kitâb wa Sunnah/Cet. I/tahun 2007.
11. Iqtidhô’ Ash-Shirôthil Mustaqîm fî Mukhôlafati Ash-Shahâbil Jahîm/Syaikhul Islâm Ahmad bin Taimiyyah/Dârul Kitâb Al-‘Arabî/tahun 2005.
12. Nasehat dan Wasiat untuk Salafiyin Indonesia/Abû Turôb Al-Jâwî.
13. Aqwâl ‘ulamâ As-Sunnah fî Jamâ’ah At-Tablîgh/Asy-Syaikh Al-Allâmah Al-Muhaddits Robî’ bin Hâdî Al-Madkhalî/Dârul Imâm Ahmad/Cet. I/tahun 2007 M.
14. As-Sahâmu Al-Wâdi’iyyah Nahuri Aqthôb Al-Jam’iyyât Al-Hizbiyyat/Syaikh Abû ‘Abdissalâm bin Qôsim bin Muhammad Ar-Rimî.

Foto Copiyan:
15. Mukhtashor Al-Bayân
16. Selebaran Perintah untuk Berlepas Diri dari Pembela Syaikh Yahyâ/Ustâdz Muhaimin, ustâdz Nurwahid dan Ustâdz Luqmân Bâ’abduh/Semarang 3 Syawal 1429 H.
17. Penghinaan Luqmân Bâ’abduh Terhadap Syaikhunâ Yahyâ.
18. Nasehat dan Teguran Guru yang Arif dan Bijak/Abû ‘Umar bin ‘Abdul Hamîd/Al-Ghuroba’.

Rekaman:
19. Tanya Mufti Luqman Ba’abduh/ Ustadz Saifullah.
Dan lain-lain:
20. Maktabah Syamilah.

Hukum Merayakan Maulid

Bismillaahirrohmaanirrohiim

 

Hukum Merayakan Maulid


Syaikh Abdullah Bin Abdul Aziz Bin Baz

Segala puji bagi Allah, semoga sholawat dan salam selalu terlimpahkan kepada junjungan kita Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para sahabatnya, serta orang orang yang mendapat petunjuk dari Allah.

Telah berulang kali muncul pertanyaan tentang hukum upacara (ceremoni ) peringatan maulid Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam ; mengadakan ibadah tertentu pada malam itu, mengucapkan salam atas beliau dan berbagai macam perbuatan lainnya.

Jawabnya : Harus dikatakan, bahwa tidak boleh mengadakan kumpul kumpul / pesta pesta pada malam kelahiran Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan juga malam lainnya, karena hal itu merupakan suatu perbuatan baru (bid’ah ) dalam agama, selain Rasulullah belum pernah mengerjakanya, begitu pula Khulafaaurrasyidin, para sahabat lain dan para Tabi’in yang hidup pada kurun paling baik, mereka adalah kalangan orang orang yang lebih mengerti terhadap sunnah, lebih banyak mencintai Rasulullah dari pada generasi setelahnya, dan benar benar menjalankan syariatnya.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
” من أحـدث في أمـرنا هذا ما ليس منـه فهـو رد “، أي مـردود.
“Barang siapa mengada adakan ( sesuatu hal baru ) dalam urusan ( agama ) kami yang ( sebelumnya ) tidak pernah ada, maka akan ditolak”.

Dalam hadits lain beliau bersabda :
” عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين بعدي، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة “.
“Kamu semua harus berpegang teguh pada sunnahku (setelah Al qur’an) dan sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk Allah sesudahku, berpeganglah dengan sunnah itu, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian sekuat kuatnya, serta jauhilah perbuatan baru ( dalam agama ), karena setiap perbuatan baru itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat” ( HR. Abu Daud dan Turmudzi ).

Maka dalam dua hadits ini kita dapatkan suatu peringatan keras, yaitu agar kita senantiasa waspada, jangan sampai mengadakan perbuatan bid’ah apapun, begitu pula mengerjakannya.

Firman Allah ta’ala dalam kitab-Nya :
] وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا واتقوا الله إن الله شديد العقاب [
“Dan apa yang dibawa Rasul kepadamu, maka terimalah ia, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah ia, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah keras siksaan- Nya” ( QS. Al Hasyr 7 ).

] فليحـذر الذين يخالفـون عن أمـره أن تصيبـهم فتنة أو يصيبـهم عذاب أليم [
“Karena itu hendaklah orang orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau adzab yang pedih” ( QS. An Nur, 63 ).

] لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا [
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang orang yang mengharap (rahmat ) Allah, dan ( kedatangan ) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah” ( QS. Al Ahzab,21 ).
] والسابقون الأولون من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسان رضي الله عنهم ورضوا عنه وأعد لهم جنات تجري تحتها الأنهار خالدين فيها أبدا ذلك الفوز العظيم [

“Orang orang terdahulu lagi pertama kali (masuk Islam ) diantara orang orang Muhajirin dan Anshor dan orang orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan itu, Allah ridho kepada mereka, dan merekapun ridho kepadaNya, serta Ia sediakan bagi mereka syurga syurga yang disana mengalir beberapa sungai, mereka kekal didalamnya, itulah kemenangan yang besar” ( QS, At taubah, 100 ).

] اليوم أكملت لكم دينكـم وأتممت عليكـم نعمتي ورضيت لكـم الإسلام دينا [
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’matKu, dan telah Kuridlai Islam itu sebagai agama bagimu” ( QS. Al Maidah, 3 ).

Dan masih banyak lagi ayat ayat yang menerangkan kesempurnaan Islam dan melarang melakukan bid’ah karena mengada-adakan sesuatu hal baru dalam agama, seperti peringatan peringatan ulang tahun, berarti menunjukkan bahwasanya Allah belum menyempurnakan agamaNya buat umat ini, berarti juga Rasulullah itu belum menyampaikan apa apa yang wajib dikerjakan umatnya, sehingga datang orang orang yang kemudian mengada adakan sesuatu hal baru yang tidak diperkenankan oleh Allah, dengan anggapan bahwa cara tersebut merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tidak diragukan lagi, bahwa cara tersebut terdapat bahaya yang besar, lantaran menentang Allah ta’ala, begitu pula ( lantaran ) menentang Rasulullah. Karena sesungguhnya Allah telah menyempurnakan agama ini bagi hamba-Nya, dan telah mencukupkan ni’mat-Nya untuk mereka.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan risalahnya secara keseluruhan, tidaklah beliau meninggalkan suatu jalan menuju syurga, serta menjauhi diri dari neraka, kecuali telah diterangkan oleh beliau kepada seluruh ummatnya sejelas jelasnya.

Sebagaimana telah disabdakan dalam haditsnya, dari Ibnu Umar rodhiAllah ‘anhu bahwa beliau bersabda
” ما بعث الله من نبي إلا كان حقا عليه أن يدل أمته على خير ما يعلمه لهم وينذرهم عن شر ما يعلمه لهم “.
“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi, melainkan diwajibkan baginya agar menunjukkan kepada umatnya jalan kebaikan yang telah diajarkan kepada mereka, dan memperingatkan mereka dari kejahatan ( hal hal tidak baik ) yang telah ditunjukkan kepada mereka” ( HR. Muslim ).

Tidak dapat dipungkiri, bahwasanya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi terbaik diantara Nabi Nabi lain, beliau merupakan penutup bagi mereka ; seorang Nabi paling lengkap dalam menyampaikan da’wah dan nasehatnya diantara mereka itu semua.

Jika seandainya upacara peringatan maulid Nabi itu betul betul datang dari agama yang diridloi Allah, niscaya Rasulullah menerangkan kepada umatnya, atau beliau menjalankan semasa hidupnya, atau paling tidak, dikerjakan oleh para sahabat. Maka jika semua itu belum pernah terjadi, jelaslah bahwa hal itu bukan dari ajaran Islam sama sekali, dan merupakan seuatu hal yang diada adakan ( bid’ah ), dimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan kepada umatnya agar supaya dijauhi, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam dua hadits diatas, dan masih banyak hadits hadits lain yang senada dengan hadits tersebut, seperti sabda beliau dalam salah satu khutbah Jum’at nya :

” أما بعد، فإن خير الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها، وكل بدعة ضلالة “.

“Adapun sesudahnya, sesungguhnya sebaik baik perkataan ialah kitab Allah (Al Qur’an), dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan sejelek jelek perbuatan ( dalam agama) ialah yang diada adakan (bid’ah), sedang tiap tiap bid’ah itu kesesatan” ( HR. Muslim ).

Masih banyak lagi ayat ayat Al Qur’an serta hadits hadits yang menjelaskan masalah ini, berdasarkan dalil dalil inilah para ulama bersepakat untuk mengingkari upacara peringatan maulid Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan memperingatkan agar waspada terhadapnya.

Tetapi orang orang yang datang kemudian menyalahinya, yaitu dengan membolehkan hal itu semua selama di dalam acara itu tidak terdapat kemungkaran seperti berlebih lebihan dalam memuji Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, bercampurnya laki laki dan perempuan (yang bukan mahram), pemakaian alat alat musik dan lain sebagainya dari hal hal yang menyalahi syariat, mereka beranggapan bahwa ini semua termasuk bid’ah hasanah padahal kaidah syariat mengatakan bahwa segala sesuatu yang diperselisihkan oleh manusia hendaknya dikembalikan kepada Al Qur’an dan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman :
] يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ذلك خير وأحسن تأويلا [
“Hai orang orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri ( pemimpin) diantara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah ( Al Qur’an ) dan Rasul ( Al Hadits), jika kamu benar benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama ( bagimu ) dan lebih baik akibatnya” ( QS. An nisa’, 59 ).

] وما اختلفتم فيه من شيء فحكمه إلى الله ذلكم الله ربي عليه توكلت وإليه أنيب [
“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah ) kepada Allah ( yang mempunyai sifat sifat demikian ), itulah Tuhanku, Kepada -Nya- lah aku bertawakkal dan kepada –Nya- lah aku kembali” ( QS. Asy syuro, 10 ).

Ternyata setelah masalah ini (hukum upacara maulid Nabi) kita kembalikan kepada kitab Allah ( Al Qur’an ), kita dapatkan suatu perintah yang menganjurkan kita agar mengikuti apa apa yang dibawa oleh Rasulullah, menjauhi apa apa yang dilarang oleh beliau, dan (Al Qur’an ) memberi penjelasan pula kepada kita bahwasanya Allah subhaanahu wa ta’ala telah menyempurnakan agama umat ini.

Dengan demikian upacara peringatan maulid Nabi ini tidak sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia bukan dari ajaran agama yang telah disempurnakan oleh Allah subhaanahu wa ta’ala kepada kita, dan diperintahkan agar mengikuti sunnah Rasul, ternyata tidak terdapat keterangan bahwa beliau telah menjalankannya, (tidak) memerintahkannya, dan (tidak pula) dikerjakan oleh sahabat sahabatnya.

Berarti jelaslah bahwasanya hal ini bukan dari agama, tetapi ia adalah merupakan suatu perbuatan yang diada adakan, perbuatan yang menyerupai hari hari besar ahli kitab, Yahudi dan Nasrani.
Hal ini jelas bagi mereka yang mau berfikir, berkemauan mendapatkan yang haq, dan mempunyai keobyektifan dalam membahas ; bahwa upacara peringatan maulid Nabi bukan dari ajaran agama Islam, melainkan merupakan bid’ah bid’ah yang diada adakan, dimana Allah memerintahkan RasulNya agar meninggalkanya dan memperingatkan agar waspada terhadapnya, tak layak bagi orang yang berakal tertipu karena perbuatan perbuatan tersebut banyak dikerjakan oleh orang banyak diseluruh jagat raya, sebab kebenaran (Al Haq) tidak bisa dilihat dari banyaknya pelaku (yang mengerjakannya), tetapi diketahui atas dasar dalil dalil syara’.
Sebagaimana Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman tentang orang orang Yahudi dan Nasrani :
] وقالوا لن يدخل الجنة إلا من كان هودا أو نصارى تلك أمانيهم قل هاتوا برهانكم إن كنتم صادقين [
“Dan mereka ( Yahudi dan Nasrani ) berkata : sekali kali tak (seorangpun ) akan masuk sorga, kecuali orang orang yang beragama Yahudi dan Nasrani. Demikian itu (hanya) angan angan mereka yang kosong belaka ; katakanlah : tunjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu orang orang yang benar” ( QS. Al Baqarah, 111 ).

] وإن تطع أكثر من في الأرض يضلوك عن سبيل الله إن يتبعون إلا الظن وإن هم إلا يخرصون [
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang orang yang berada dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah ; mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak lain hanyalah menyangka-nyangka” ( QS. Al An’am, 116 ).

Lebih dari itu, upacara peringatan maulid Nabi ini – selain bid’ah –tidak lepas dari kemungkaran kemungkaran, seperti bercampurnya laki laki dan perempuan ( yang bukan mahram ), pemakaian lagu lagu dan bunyi bunyian, minum minuman yang memabukkan, ganja dan kejahatan kejahatan lainya yang serupa.

Kadangkala terjadi juga hal yang lebih besar dari pada itu, yaitu perbuatan syirik besar, dengan sebab mengagung agungkan Rasulullah secara berlebih lebihan atau mengagung agungkan para wali, berupa permohonan do’a, pertolongan dan rizki. Mereka percaya bahwa Rasul dan para wali mengetahui hal hal yang ghoib, dan macam macam kekufuran lainnya yang sudah biasa dilakukan orang banyak dalam upacara malam peringatan maulid Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam itu.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
” إياكم والغلو في الدين، فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو في الدين “.
“Janganlah kalian berlebih lebihan dalam agama, karena berlebih lebihan dalam agama itu telah menghancurkan orang orang sebelum kalian”.
” لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم، إنما أنا عبد، فقولوا عبد الله ورسوله ” رواه البخاري في صحيحه من حديث عمر رضي الله عنه.
“Janganlah kalian berlebih lebihan dalam memujiku sebagaimana orang orang Nasrani memuji anak Maryam, Aku tidak lain hanyalah seorang hamba, maka katakanlah : hamba Allah dan Rasul Allah” ( HR. Bukhori dalam kitab shohihnya, dari hadits Umar, Radliyallahu ‘anhu ).

Yang lebih mengherankan lagi yaitu banyak diantara manusia itu ada yang betul betul giat dan bersemangat dalam rangka menghadiri upacara bid’ah ini, bahkan sampai membelanya, sedang mereka berani meninggalkan sholat Jum’at dan sholat jama’ah yang telah diwajibkan oleh Allah kepada mereka, dan sekali kali tidak mereka indahkan. Mereka tidak sadar kalau mereka itu telah mendatangkan kemungkaran yang besar, disebabkan karena lemahnya iman kurangnya berfikir, dan berkaratnya hati mereka, karena bermacam macam dosa dan perbuatan maksiat. Marilah kita sama sama meminta kepada Allah agar tetap memberikan limpahan karuniaNya kepada kita dan kaum muslimin.

Diantara pendukung maulid itu ada yang mengira, bahwa pada malam upacara peringatan tersebut Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam datang, oleh kerena itu mereka berdiri menghormati dan menyambutnya, ini merupakan kebatilan yang paling besar, dan kebodohan yang paling nyata. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan bangkit dari kuburnya sebelum hari kiamat, tidak berkomunikasi kepada seorangpun, dan tidak menghadiri pertemuan pertemuan umatnya, tetapi beliau tetap tinggal didalam kuburnya sampai datang hari kiamat, sedangkan ruhnya ditempatkan pada tempat yang paling tinggi (‘Illiyyin ) di sisi TuhanNya, itulah tempat kemuliaan.

Firman Allah dalam Al Qur’an :
] ثم إنكم بعد ذلك لميتون ثم إنكم يوم القيامة تبعثون [
“Kemudian sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian pasti mati, kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan ( dari kuburmu ) di hari kiamat” ( QS. Al Mu’minun, 15-16 ).

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
” أنا أول من ينشق عنه القبر يوم القيامة، وأنا أول شافع وأول مشفع ”

“Aku adalah orang yang pertama kali dibangkitkan / dibangunkan diantara ahli kubur pada hari kiamat, dan aku adalah orang yang pertama kali memberi syafa’at dan diizinkan memberikan syafa’at”.

Ayat dan hadits diatas, serta ayat ayat dan hadits hadits yang lain yang semakna menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan mayat mayat yang lainnya tidak akan bangkit kembali kecuali sesudah datangnya hari kebangkitan. Hal ini sudah menjadi kesepakatan para ulama, tidak ada pertentangan diantara mereka.

Maka wajib bagi setiap individu muslim memperhatikan masalah masalah seperti ini, dan waspada terhadap apa apa yang diada adakan oleh orang orang bodoh dan kelompoknya, dari perbuatan perbuatan bid’ah dan khurafat khurafat, yang tidak diturunkan oleh Allah subhaanahu wa ta’ala. Hanya Allah lah sebaik baik pelindung kita, kepada-Nyalah kita berserah diri dan tidak ada kekuatan serta kekuasaan apapun kecuali kepunyaan-Nya.

Sedangkan ucapan sholawat dan salam atas Rasulullah adalah merupakan pendekatan diri kepada Allah yang paling baik, dan merupakan perbuatan yang baik, sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an :
] إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما [
“Sesungguhnya Allah dan Malaikat malaikatNya bersholawat kepada Nabi, hai orang orang yang beriman, bersholawatlah kalian atas Nabi dan ucapkanlah salam dengan penghormatan kepadanya” ( QS. Al Ahzab, 56 ).

Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
” من صلى علي واحدة صلى الله عليه بها عشرا “.
“Barang siapa yang mengucapkan sholawat kepadaku sekali, maka Allah akan bersholawat ( memberi rahmat ) kepadanya sepuluh kali lipat.”

Sholawat itu disyariatkan pada setiap waktu, dan hukumnya Muakkad jika diamalkan pada ahir setiap sholat, bahkan sebagian para ulama mewajibkannya pada tasyahud ahir di setiap sholat, dan sunnah muakkadah pada tempat lainnya, diantaranya setelah adzan, ketika disebut nama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, pada hari Jum’at dan malamnya, sebagaimana hal itu diterangkan oleh hadits hadits yang cukup banyak jumlahnya.

Allah lah tempat kita memohon, untuk memberi taufiq kepada kita sekalian dan kaum muslimin, dalam memahami agama Nya, dan memberi mereka ketetapan iman, semoga Allah memberi petunjuk kepada kita agar tetap kosisten dalam mengikuti sunnah, dan waspada terhadap bid’ah, karena Dialah MahaPemurah dan MahaMulia, semoga pula sholawat dan salam selalu dilimpahkan kepada junjungan besar Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

(Dikutip dari الحذر من البدع Tulisan Syaikh Abdullah Bin Abdul Aziz Bin Baz, Mufti Saudi Arabia. Penerbit Departemen Agama Saudi Arabia. Edisi Indonesia “Waspada terhadap Bid’ah”)

Bid’ah Menabuh Beduk dan Puji-pujian Sebelum Shalat

Apa yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula diketahui dikerjakan oleh para shahabat radhiyallahu ‘anhum maka hendaklah kita berhenti. Janganlah kita mengamalkan apa-apa yang tidak ada dalilnya dari mereka agar tidak terjerumus kepada perbuatan bid’ah yang telah dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Apa yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula diketahui dikerjakan oleh para shahabat radhiyallahu ‘anhum maka hendaklah kita berhenti. Janganlah kita mengamalkan apa-apa yang tidak ada dalilnya dari mereka agar tidak terjerumus kepada perbuatan bid’ah yang telah dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Pembaca yang budiman, berikut adalah amalan-amalan yang mengiringi pelaksanaan shalat lima waktu yang sering dijumpai di masjid-masjid kaum muslimin yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

Menabuh Bedug Sebelum Adzan

Termasuk amalan jelek yang membudaya di negeri kita adalah menabuh bedug sebelum adzan. Apakah belum sampai kepada mereka hadits Abdullah bin Zaid yang melihat dalam tidurmya seseorang yang membawa genderang/lonceng lalu berkata:

“Ya Abdullah (ya fulan) apakah kau jual loncengmu? Dia jawab untuk apa lonceng itu, saya katakan untuk mengajak shalat, dia bilang apakah tidak aku tunjukkan padamu yang lebih bagus dari lonceng itu, saya bilang iya, dia bilang ucapkan: Allahu Akbar Allahu Akbar.” (HR. Abu Dawud 421, Tirmidzi 174, dll)

Belum cukupkah kaum muslimin dengan ajaran Allah dan Nabi-Nya padahal Allah telah menyempurnakan agama ini? Ini adalah perbuatan tasyabbuh (meniru-niru) dengan orang-orang Nashara tatkala mengumpulkan orang-orang mereka membunyikan lonceng dulu. Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang kita mengikuti orang-orang Yahudi dan Nashrani atau menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin kita, sebagaimana firman Allah:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yahudi dan nashrani sebagai pemimpin/orang yang dicintai, sebagian mereka adalah wali/pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kalian menjadikan mereka sebagai pemimpin/orang yang dicintai maka sungguh orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang dzalim.” (Al Maidah: 51)

Menabuh bedug termasuk mengikuti ajaran mereka. Sunggug benar keadaan kaum muslimin yang digambarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Sungguh kalian akan mengikuti orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai pun ketika mereka masuk lubang biawa kalian akan mengikutinya. Para shahabat mengatakan: Yahudi dan Nashara ya Rasulullah? Beliau menjawab: lalu siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (HR. Muslim 4822 dari Ibnu Mas’ud)

Kesimpulan hadits:

1. Bahwa kaum muslimin akan mengikuti jejak orang-orang kafir baik yahudi maupun nashrani.

2. Lubang biawak sangat berliku-liku. Sangat sulit untuk mencarinya. Ini adalah suatu ibarat bahwa bagaimanapun sulit dan berliku jalan yang ditempuh oleh kaum yahudi dan nashrani, kaum muslimin akan mengikutinya.

Kaum muslimin tidak boleh mengikuti perilaku, tatacara, tutur kata atau ibadah lainnya seperti puasa, shalat dsb [1]. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berusaha menyelisihi orang-orang kafir, baik kaum musyrikan maupun ahlu kitab. Wallahul musta’an.

Membunyikan Sirene Sebelum Adzan [2]

Begitu jauhnya kaum muslimin dari syariat Islam, sehingga suara adzan tidak bisa mereka dengar. Kokok ayam di samping rumah pun tidak bisa menggugah mereka untuk segera bangkit menegakkan shalat. Akhirnya mereka membunyikan sirine yang diharapkan bisa terdengar dan bisa membangunkan orang di segenap penjuru kampung. Ketahuilah, sirine termasuk bid’ah dalam agama. Adapun ayam jago, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Janganlah kalian mencerca ayam jantan sebab sesungguhnya ia mengajak shalat.” (HR. Ahmad, 20690 dari Zaid bin Khalid Al Juhani)

Oleh sebab itu daripada menggunakan sirine lebih baik memelihara ayam jago yang banyak sehingga seorang lebih mudah terbangun dengan suaranya yang bersahutan.

Puji-pujian Sebelum Iqamat

Ini yang paling banyak melanda kaum muslimin di Indonesia. Mereka sangat gemar melakukan puji-pujian sebelum shalat jama’ah dengan keyakinan bahwa amalan ini merupakan bentuk taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah. Lafadz yang sering dilantunkan di antaranya:

1. Allahumma shalli shalaatan kamilatan wa sallim salaman… [3]

2. Tombo ati iku lima ing wernane, siji maca Qur’an ngerti ing maknane, kapindhone shalat wengi lakonono, kaping telu… (dengan bahasa Jawa)

3. Atau lafadz puji-pujian yang kontroversial yang muncul ketika Gus Dur jadi presiden, “Presidene Gus Dur, rakyate adil makmur.”

Berikut ini dampak negatif yang timbul dari puji-pujian:

1. Orang yang melakukan shalat sunnah sangat terganggu dengan suara-suara itu sehingga shalatnya tidak khusyu’.

2. Pelakunya hanya akan senda gurau dengan amalan ini, sesuai dengan namanya ‘puji-pujian’ (menunjukkan ketidaksungguhan dalam memuji Allah). Padahal waktu antara adzan dan iqamah adalah waktu yang sangat mustajab. Sebagaimana sabdi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Doa yang tidak akan ditolak: antara adzan dan iqamah.” (HR. Ahmad dari Anas bin Malik)

3. Hal ini persis dengan amalan Nashrani berupa lagu-lagu gereja yang dinyanyikan sebagai ibadah (menurut mereka) padahal syariat Islam melarang kaum muslimin untuk bertasyabbuh (meniru) perbuatan orang-orang kuffar.

Membunyikan Kaset Bacaan Qur’an Sebelum Adzan

Amalan ini sudah menjadi adat yang dihidupkan hampir di setiap daerah. Konon tujuan mereka adalah sebagai pertanda bagwa waktu shalat sudah dekat. Sehingga diharapkan dengan ini kaum muslimin melakukan segala persiapannya untuk menegakkan shalat berjama’ah. Amalan ini adalah amalan bid’ah yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang beramal dengan sesuatu yang tidak pernah kami ajarkan maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)

Di antara dampak negatif yang timbul dari amalan ini adalah menghalangi seseorang yang shalat sunnah di saat tersebut untuk khusyu’ dalam shalatnya. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang kita untuk saling mengangkat suara di dalam masjid (baik dengan bacaan Qur’an, dzikir, lebih-lebih senda gurau atau amalan-amalan bid’ag yang tidak disyari’atkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda:

“Janganlah kalian mengeraskan suara satu dengan yang lainnya karena masing-masing sedang bermunajat dengan Rabb-nya.” (HR. Ashhabus Sunan dari Abu Sa’id Al Khudry)

Demikianlah sebagian dari amalan-amalan bid’an yang sering dilakukan masyarakat karena jauhnya mereka dari ilmu yang haq. Semoga Allah menambah petunjuk bagi kita serta melindungi kaum muslimin dari amalan-amalan bid’ah yang tidak pernah dituntunkan oleh Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Wallahu a’lam bish-shawab.

[Diambil dari buku “Adzan Keutamaan, Ketentuan dan 100 Kesalahannya” karya Al Ustadz Abu Hazim Muhsin bin Muhammad Bashori, penerbit: Daarul Atsar, hal. 110-120, dengan sedikit perubahan]

____________________
[1] Di antara ajaran beliau yang menunjukkan penyelisihan dari adat/budaya orang yahudi/nashrani adalah:

1. Memerintahkan untuk memelihara jenggot.

2. Memerintagkan untuk menyemir rambut apabila rambutnya sudah putih dan melarang pakai semir hitam.

3. Memerintahkan umatnya untuk shalat pakai sandal.

4. Melarat umatnya dalam mengiring jenazah dengan api unggun, dsb.

[2] Termasuk juga penggunaan sirene sebagai tanda berbuka di bulan puasa. Ini adalah bid’ah, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan bahwa tanda berbuka puasa yaitu dengan tenggelamnya bulatan matahari di ufuk barat.

[3] Ini dinamakan shalawat nariyah. Shalawat ini mengandung kesyirikan yang nyata.

Al-Isra wa Al-Mi’raj

Abu Muawiah

Definisi Isra` dan Mi’raj
Isra` secara bahasa berasal dari kata ’saro’ bermakna perjalanan di malam hari. Adapun secara istilah, Isra` bermakna perjalanan Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- bersama Jibril dari Mekkah ke Baitul Maqdis (Palestina) pada malam hari dengan mengendarai Buroq.
Mi’raj secara bahasa isim alah (kata yang menunjukkan alat) dari kata ‘aroja’ yang berarti naik menuju ke atas. Sehingga maknanya secara bahasa adalah suatu alat yang dipakai untuk naik, baik berupa tangga maupun yang lainnya. Adapun secara istilah, Mi’raj bermakna tangga khusus yang Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- naik dengannya pada malam hari dari Baitul Maqdis ke langit.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa beliau berkata, “Maka saya mendapati 2 tangga, salah satunya dari emas dan yang lainnya dari perak”. Wallahu A’lam

Faidah:
Mi’roj (alat yang dipakai oleh Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- untuk naik ke atas langit) adalah alat yang berperan sebagai tangga, akan tetapi tidak diketahui bagaimana bentuknya. Hukumnya sama seperti perkara ghoib lainnya, wajib kita imani tanpa sibuk membicarakan dan mengkhayalkan bentuknya.
[Lihat: Mu’jam Alfazhil Qur`an karya Ar-Raghib Al-Ashfahany, Syarh Lum’atil I’tiqod hal. 102 karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, dan Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thohawiyah hal. 223 karya Ibnu Abil ‘Izz]

Isro` dan Mi’raj dengan Jasad dan Ruh dalam Keadaan Terjaga
Ini adalah pendapat jumhur (kebanyakan) ulama, muhadditsin, dan fuqoha, serta inilah pendapat yang paling kuat di kalangan para ulama.
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Al-Isra` : 1)
Sedangkan kata ‘hamba’ digunakan untuk ruh dan jasad secara bersamaan. Inilah yang tsabit dalam hadits-hadits Al-Bukhary dan Muslim dengan riwayat yang beraneka ragam bahwa beliau -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- melakukan Isra` dan Mi’raj dengan tubuh beliau.
Imam Ibnu Qudamah –rahimahullah- berkata dalam Lum’atul I’tiqod, “… Contohnya hadits Isra` dan Mi’raj, beliau dalam keadaan terjaga, bukan dalam keadaan tidur, karena (kafir) Quraisy mengingkari dan bersombong terhadapnya (peristiwa itu), padahal mereka tidak mengingkari mimpi”.
Juga Imam Ath-Thohawy –rahimahullah- berkata dalam ‘Aqidahnya, “Mi’raj adalah benar. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- telah melakukan Isra` dan Mi’roj dengan tubuh beliau dalam keadaan terjaga ke atas langit …”.
[Lihat pembahasan selengkapnya dalam Syarh Ath-Thohawiyah karya Ibnu Abil ‘Izz -rahimahullah- atau syarah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ar-Rojihy (1) dan Syaikh Sholih bin ‘Abdil ‘Aziz Alu Asy-Syaikh (2) -hafizhohumallah-]

Kisah Isra` dan Mi’raj
Secara umum, kisah yang menakjubkan ini sebagaimana yang disebutkan oleh Allah -’Azza wa Jalla- dalam Al-Qur`an:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Al-Isra` : 1)
Juga dalam firman-Nya:
وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى. مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى. وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى. عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى. ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى. وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَى. ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى. فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى. فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى. مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى. أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى. وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى. عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى. عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى. إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى. مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى. لَقَدْ رَأَى مِنْ ءَايَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى.
“Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar”. (QS. An-Najm : 1-18)

Faidah:
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Ar-Rojihy –hafizhohullah- berkata dalam Syarh Ath-Thohawiyah, “Jadi, barangsiapa yang mengingkari Isra`, maka dia kafir. Karena dia berarti menganggap Allah berdusta. Barangsiapa yang mengingkari Mi’roj maka tidak dikafirkan sampai ditegakkan padanya hujjah serta dijelaskan padanya kebenaran”.

Adapun rincian dan urutan kejadiannya, maka Syaikh Al-Albany –rahimahullah- dalam kitab beliau yang berjudul Al-Isro` wal Mi’roj menyebutkan 16 shahabat yang meriwayatkan kisah ini (3). Mereka adalah: Anas bin Malik, Abu Dzar, Malik bin Sho’sho’ah, Ibnu ‘Abbas, Jabir, Abu Hurairah, Ubay bin Ka’ab, Buraidah ibnul Hushoib Al-Aslamy, Hudzaifah ibnul Yaman, Syaddad bin Aus, Shuhaib, Abdurrahman bin Quroth, Ibnu ‘Umar, Ibnu Mas’ud, ‘Ali, dan ‘Umar -radhiallahu Ta’ala ‘anhum ajma’in-.
Berikut terjemahan kisahnya, kami sarikan dari Shohih Al-Bukhary dan Shohih Muslim, dan bagi yang ingin melihat teks aslinya silahkan merujuk kepada keduanya.
Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- bersabda, “Atap rumahku terbelah ketika saya berada di Mekkah dalam keadaan antara tidur dan terjaga, lalu turunlah Jibril -’alaihis salam- dan membelah dadaku. Kemudian dia mencucinya dengan air zamzam, lalu dia datang dengan membawa sebuah baskom dari emas yang penuh berisi hikmah dan iman dan menuangkannya ke dalam dadaku, kemudian dia menutupnya (dadaku). Kemudian didatangkan kepadaku Buroq –yaitu hewan putih yang panjang, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghol, dia meletakkan telapak kakinya di ujung pandangannya (4)-. Maka sayapun menungganginya sampai tiba di Baitul Maqdis, lalu saya mengikatnya di tempat para nabi mengikat (tunggangan). Kemudian saya masuk ke mesjid dan sholat 2 raka’at kemudian keluar. Kemudian kami naik ke langit (pertama) dan Jibril minta izin untuk masuk, maka dikatakan (kepadanya), “Siapa engkau?” Dia menjawab, “Jibril”. Dikatakan lagi, “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab, “Muhammad” Dikatakan, “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab, “Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Adam. Beliau menyambutku dan mendo’akan kebaikan untukku. Kemudian kami naik ke langit kedua, lalu Jibril berkata, “bukalah (pintu langit)”. Penjaganya menanyakan seperti yang ditanyakan oleh penjaga langit pertama –lalu beliau menyebutkan bahwa beliau bertemu dengan Nabi ‘Isa dan Yahya di langit kedua, Nabi Yusuf di langit ketiga, Nabi Idris di langit keempat, Nabi Harun di langit kelima, Nabi Musa di langit keenam dan Nabi Ibrahim di langit ketujuh-. Beliau bersabda, ”Maka saya bertemu dengan Ibrahim dan dia sedang bersandar ke Baitul Ma’mur, dan dia adalah (mesjid) yang dimasuki oleh 70.000 malaikat setiap harinya sedang mereka tidak kembali lagi (5). Lalu dia (Jibril) membawaku ke Sidratul Muntaha. Ternyata daun-daunnya seperti telinga-telinga gajah dan buahnya seperti tempayan besar. Tatkala dia diliputi oleh perintah Allah, diapun berubah sehingga tidak ada seorangpun dari makhluk Allah yang sanggup mengambarkan keindahannya. Juga diperlihatkan kepadaku empat sungai, dua sungai di dalam dan dua sungai di luar, maka saya berkata, “Apa kedua sungai ini, wahai Jibril?”. Dia menjawab, “Adapun dua sungai yang di dalam, maka itu adalah 2 sungai dalam surga. Adapun yang di luar maka dia adalah Nil dan Furoth”. Kemudian Jibril -’alaihis salam- datang kepadaku dengan membawa sebuah bejana yang berisi khamar dan bejana yang berisi susu, lalu sayapun memilih susu. Maka Jibril berkata, “Engkau telah memilih fitrah”. Kemudian kami terus ke atas sampai saya tiba pada jenjang yang padanya saya mendengar goresan pena. Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan. Maka Allah mewajibkan atasku 50 sholat sehari semalam. Kemudian saya turun kepada Musa -’alaihis salam-. Lalu dia bertanya, “Apa yang diwajibkan Tuhanmu atas ummatmu?”. Saya menjawab, “50 sholat”. Dia berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya. Sesungguhnya saya telah menguji dan mencoba Bani Isra`il”. –Beliau bersabda-, “Maka sayapun kembali kepada Tuhanku seraya berkata, “Wahai Tuhanku, ringankanlah atas ummatku”. Maka dikurangi dariku 5 sholat. Kemudian saya kembali kepada Musa dan berkata, “Allah mengurangi untukku 5 sholat”. Dia berkata, “Sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”. Maka terus menerus saya pulang balik antara Tuhanku -Tabaraka wa Ta’ala- dan Musa -’alaihis salam-. Sampai pada akhirnya, Allah berfirman, “Wahai Muhammad, sesungguhnya ini adalah 5 sholat sehari semalam, setiap sholat (pahalanya) 10, maka semuanya 50 sholat. Barangsiapa yang meniatkan kejelekan lalu dia tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis (dosa baginya) sedikitpun. Jika dia mengerjakannya, maka ditulis(baginya) satu kejelekan”. Kemudian saya turun sampai saya bertemu dengan Musa -’alaihis salam- seraya aku ceritakan hal ini kepadanya. Dia berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”, maka sayapun berkata, “Sungguh saya telah kembali kepada Tuhanku sampai sayapun malu kepada-Nya”. Kemudian saya dimasukkan ke dalam surga, ternyata di dalamnya ada gunung-gunung dari permata dan debunya adalah Misk” (6).
Fawa`id (Faedah-Faedah) yang Terdapat dalam Kisah di Atas.
1.    Isra` dan Mi’raj ini termasuk sebesar-sebesar tanda yang menunjukkan kebesaran dan kemuliaan Allah -Tabaraka wa Ta’ala-.
2.    Peristiwa ini juga menunjukkan keutamaan Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- di atas seluruh nabi dan rasul -’alaihimus sholatu wassalam-.
3.    Isra` dan Mi’raj terjadi dengan jasad dan ruh beliau, dalam keadaan terjaga sebagaimana yang telah berlalu penegasannya.
4.    Keutamaan air zamzam
5.    Penetapan akan ketinggian Allah -Jalla wa ‘Ala- dengan ketinggian dzaty (7) dengan sebenar-benarnya sesuai dengan keagungan Allah -Jalla wa ‘Ala-, yakni Allah -Jalla wa ‘Ala- tinggi berada di atas langit ketujuh, di atas ‘arsy-Nya. Ini merupakan aqidah kaum muslimin seluruhnya dari dahulu hingga sekarang.
6.    Mengimani perkara-perkara gaib yang disebutkan dalam hadits di atas, seperti: Buroq, Mi’roj, para malaikat penjaga langit, adanya pintu-pintu langit, Baitul Ma’mur, Sidrotul Muntaha beserta sifat-sifatnya, surga, Qolam (pena) yang menuliskan takdir, dan selainnya.
7.    Diwajibkan meminta izin sebelum masuk ke rumah orang lain.
8.    Ketika pemilik rumah bertanya kepada orang yang minta izin masuk dengan pertanyaan, “siapa?” Maka orang tersebut harus menyebutkan namanya dan tidak menjawab dengan ucapan, “saya”.
9.    Penetapan tentang hidupnya para Nabi di kubur-kubur mereka. Akan tetapi dengan kehidupan barzakhiah, bukan seperti kehidupan mereka di dunia (8).
Imam Al-Baihaqy telah mengarang satu kitab khusus berjudul Hayatul Anbiya`i fii Quburihim [“Hidupnya Para Nabi di Kubur-Kubur Mereka”].
Syaikh Sholih Alu Asy-Syaikh menyebutkan dalam Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thohawiyah beliau bahwa Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dalam Mi’roj menemui ruh para Nabi kecuali Nabi Isa, karena beliau belum wafat.
10.    Banyaknya jumlah para malaikat dan tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali Allah.
11.    Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- juga adalah kalimur Rohman (Orang yang diajak bicara langsung oleh Ar-Rahman).
12.    Allah -’Azza wa Jalla- memiliki sifat kalam (berbicara) dengan pembicaraan yang sebenar-benarnya.
13.    Tingginya kedudukan sholat wajib yang lima.
14.    Kasih sayang dan perhatian Nabi Musa -’alaihis salam- terhadap ummat Islam.
15.    Penetapan adanya nasakh (penghapusan hukum) dalam syari’at Islam, serta bolehnya menasakh suatu perintah walaupun belum sempat dikerjakan sebelumnya.
16.    Rahmat dan kemurahan Allah -Subhanahu wa Ta’ala- atas ummat ini.
17.    Surga dan neraka sudah ada sekarang, karena Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- telah memasuki keduanya ketika Mi’raj.
18.    Bolehnya mengakhirkan penjelasan sampai kepada waktu yang dibutuhkan. Di sini Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- baru diberikan kewajiban sholat lima waktu secara umum, tapi belum diberitahu tentang rukun-rukunnya, syarat-syaratnya, serta waktu-waktunya.
Hikmah Terjadinya Isra`
Termasuk perkara yang dibahas oleh para ulama dalam masalah ini adalah, apakah hikmah terjadinya Isra`, kenapa Mi’raj ke langit tidak langsung dari Mekkah?
Mereka menyebutkan beberapa hikmah terjadinya Isra`, yaitu:
1.    Untuk menampakkan kejujuran dan semakin memperkuat hujjah terhadap pengakuan beliau -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- bahwa beliau melakukan Isra` dan Mi’raj dalam satu malam. Hal ini nampak ketika orang-orang kafir Quraisy bertanya kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- tentang sifat Baitul Maqdis untuk menguji apakah beliau betul-betul ke sana tadi malam atau tidak. Maka beliau menjawab dan menggambarkan sifat-sifatnya dan mereka (Quraisy) membenarkannya. Akan tetapi mereka tetap mengingkari peristiwa Isra dan Mi’raj ini.
2.    Agar beliau mendapatkan keutamaan berupa melihat kedua kiblat dalam satu malam.
3.    Untuk menampakkan hubungan yang sangat erat antara Mekkah dan Baitul Maqdis yang keduanya merupakan kiblat kaum muslimin.
4.    Karena Baitul Maqdis adalah tempat berhijrahnya kebanyakan nabi sebelum beliau, sehingga tatkala beliau melakukan perjalanan ke sana, maka beliau tidak tertinggal dari amalan keutamaan yang dilakukan oleh para nabi sebelum beliau.
5.    Untuk menampakkan keutamaan beliau di atas para nabi selain beliau, tatkala beliau berjumpa dengan mereka di Baitul Maqdis lalu beliau sholat mengimami mereka.
[Lihat: Syarh Ath-Thohawiyah oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ar-Rojihy serta Syaikh Sholih bin ‘Abdil ‘Aziz Alu Asy-Syaikh -hafizhohumallah-]
Kapankan Isra` dan Mi’raj?
Para ulama berselisih pendapat tentang kapan terjadinya kejadian yang besar ini. Secara umum, ada 2 pendapat yang disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar –rahimahullah-, yaitu:
a.    Terjadinya sebelum beliau diangkat menjadi nabi. Ini adalah pendapat yang sangat lemah.
b.    Terjadi setelah beliau menjadi nabi. Mereka sepakat bahwa hal itu terjadi sebelum hijrah, akan tetapi mereka berselisih dalam penentuannya menjadi belasan pendapat. Di antaranya:
1.    Al-Baihaqy meriwayatkan dari Az-Zuhry dan ‘Urwah bahwa hal itu terjadi setahun sebelum hijrah, yakni pada bulan Rabi’ul Awwal karena hijrahnya Nabi -Shollallahu alaihi wasallam- terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal. Ini dikatakan oleh Ibnu Sa’ad dan selainnya, dan inilah yang dipastikan oleh Imam An-Nawawy.
2.    8 bulan sebelumnya, yakni pada bulan Rajab. Pendapat ini dihikayatkan oleh Ibnul Jauzy dan merupakan pendapat sekelompok pakar sejarah. Pendapat ini adalah pendapat yang sangat lemah.
Imam Abu Syamah berkata dalam Al-Ba’its ‘ala Ingkaril Bida’ wal Hawadits hal. 171, “Sebagian tukang cerita (arab: Al-Qoshshosh) menyebutkan bahwa Al-Isra` terjadi di bulan Rajab, dan hal ini adalah suatu kedustaan di sisi (para ulama) ahli ta’dil dan jarh”.
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata di dalam kitabnya Tabyinul ‘Ajab hal. 11, “Sebagian tukang cerita (arab: Al-Qoshshosh) menyebutkan bahwa Al-Isra` terjadi di bulan Rajab, dan hal ini adalah suatu kedustaan”.
3.    6 bulan sebelumnya, yakni pada bulan Ramadhan. Pendapat ini dihikayatkan oleh Abur Robi’ bin Salim.
4.    11 bulan sebelumnya, tepatnya pada tanggal 27 Rabi’ul Awwal. Ini yang dipastikan oleh Ibrahim Al-Harby dan yang dikuatkan oleh Ibnul Munayyir.
5.    Diriwayatkan dengan sanad yang terputus dari Ibnu ‘Abbas dan Jabir bahwa hal itu terjadi pada Senin malam tanggal 12 Rabi’ul Awwal, tanpa menyebutkan tahunnya.
6.    Setahun 2 bulan sebelumnya. Pendapat ini dihikayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr.
7.    Setahun 3 bulan sebelumnya. Pendapat ini dihikayatkan oleh Ibnu Faris.
8.    Setahun 4 bulan sebelumnya, yakni pada bulan Qzul Qo’dah.
9.    Setahun 5 bulan, yakni pada bulan Syawwal. Ini adalah pendapat As-Suddy.
10.    18 bulan sebelumnya, yakni pada bulan Ramadhan. Ini adalah pendapat Ibnu Abi Sabroh dan juga dihikayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr.
11.    Tiga tahun sebelum hijrah. Pendapat ini dihikayatkan oleh Ibnul Atsir.
12.    Lima tahun sebelum hijrah. Pendapat ini dihikayatkan oleh ‘Iyadh -dan diikuti oleh Al-Qurthuby dan An-Nawawy- dari Az-Zuhry.
13.    Ada yang mengatakan: 6 tahun sebelum hijrah.
14.    Ada yang mengatakan: pada hari Sabtu tanggal 17 Ramadhan, 8 tahun sebelum hijrah.
15.    Dan ada yang mengatakan: 5 tahun setelah beliau menjadi Rasul.
[Lihat: Fathul Bary (7/203), Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an (10/210), Syarh Muslim (2/209) dan Tafsirul Qur`anil ‘Azhim (3/22)]

Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdil ‘Aziz At-Tuwaijiry -rahimahullah- berkata setelah menyebutkan perbedaan pendapat para ulama dalam penentuan kapan terjadinya Isra` dan Mi’raj, “Maka semua yang telah berlalu dari perkataan para ulama dan apa yang mereka sebutkan berupa perbedaan pendapat dalam masalah (kapan) malam Isra` dan Mi’raj, (semua ini) merupakan pembenaran terhadap ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- [bahwa tidak ada satupun dalil jelas yang tegak (menjelaskan) bulannya, tidakpula pekannya dan tidakpula harinya. Bahkan penukilan (yang ada) terputus dan berselisih, tidak ada satupun di antaranya yang bisa dipastikan (9)]”. -selesai dengan maknanya dari Al-Bida’ Al-Hauliyah-
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz –rahimahullah- berkata dalam risalah beliau yang berjudul Hukmul Ihtifal bil Mawalid wa Nahwiha, “Adapun malam Isra` dan Mi’raj, maka yang benar menurut para ulama adalah bahwa malam itu tidak diketahui, dan sesuatu yang datang menetapannya dalam hadits-hadits, maka semuanya adalah hadits-hadits yang lemah, tidak shohih dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Barangsiapa yang menyatakan bahwa malam itu adalah malam 27 Rajab maka dia telah keliru, karena dia tidak memiliki dalil syar’i yang menguatkan perkataannya”.
‘Uqail bin Muhammad bin Zaid Al-Muqthiry -hafizhohullah- berkata dalam kitabnya Izhharul ‘Ajab fii Bayani Bida’i Syahri Rojab hal. 43 -setelah membawakan perbedaan pendapat di kalangan para ulama dalam masalah ini-, “Maka jelaslah dengan hal ini, batilnya apa yang diakui (baca: disangka) oleh sebagian orang bahwa Isra` dan Mi’raj adalah pada malam ke 27 Rajab. Maka yang benarnya, bahwa (Isra` dan Mi’raj) tidak diketahui pada hari apa terjadinya dan tidak pula pada bulan apa terjadinya. Lagipula, tidak terhasilkan sedikitpun faidah keagamaan dengan mengetahuinya, seandainya ada faidahnya maka pasti Allah akan menjelaskannya kepada kita, wallahu Ta’ala A’lam”.

Hukum Mengadakan Perayaan Isra` Mi’raj
Berkaca dari penjelasan di atas, nampak jelas bagi kita bahwa perayaan Isra` Mi’raj tidak boleh dikerjakan, bahkan dia adalah perkara bid’ah karena dua hal :
1.    Malam Isra` Mi’raj tidaklah diketahui secara pasti sebagaimana yang ditegaskan oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz dan Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdil ‘Aziz At-Tuwaijiry -rahimahumallah- di atas. Banyaknya perselisihan di kalangan para ulama, bahkan para sahabat dalam penentuan kapan terjadinya Isra` dan Mi’raj, merupakan dalil yang sangat jelas menunjukkan bahwa mereka tidaklah menaruh perhatian yang besar tentang waktu terjadinya, wallahu A’lam.
2.    Dari sisi syari’at, perayaan ini juga tidak memiliki landasan. Karena, seandainya dia adalah bagian dari syari’at Allah, maka pasti akan dikerjakan oleh Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- atau beliau sampaikan kepada ummatnya. Seandainya beliau mengerjakannya atau menyampaikannya, maka hal itu wajib terpelihara karena Allah -Ta’ala- berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (QS. Al-Hijr : 9)
Jadi, tatkala tidak ada sedikitpun keterangan tentang hal tersebut,  diketahuilah bahwa dia bukan bagian dari agama Allah, dan jika dia bukan bagian dari agama Allah, maka tidak boleh bagi kita untuk beribadah dan bertaqarrub kepada Allah -‘Azza wa Jalla- dengannya.

Berikut beberapa fatwa para ulama dalam masalah ini:
1. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah-.
Beliau berkata dalam Majmu’ Al-Fatawa (25/298), “Adapun menjadikan suatu hari raya, selain dari hari raya yang syar’iy, seperti beberapa malam dalam bulan Rabi’ul Awwal yang dikatakan bahwa itu adalah malam maulid atau beberapa malam dalam bulan Rajab atau pada tanggal 18 Dzul Hijjah atau Jum’at pertama dari bulan Rajab atau tanggal 8 Syawal yang disebut oleh orang-orang jahil dengan ‘Iedul Abror (10), maka semua ini adalah termasuk dari bid’ah-bid’ah yang tidak pernah disunnahkan dan dikerjakan oleh para ulama salaf, Wallahu Subhanahu wa Ta’ala A’lam”.
2. Imam Ibnun Nuhhas -rahimahullah-.
Beliau berkata dalam Tanbihul Ghofilin, hal. 379-380, “Sesungguhnya merayakan malam ini –yakni malam Isra` Mi’raj- adalah suatu bid’ah yang besar dalam agama dan suatu perkara baru yang dimunculkan oleh saudara-saudara setan”.
3. Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh -rahimahullah-.
Beliau berkata, “Sesungguhnya perayaan memperingati Isra` dan Mi’raj adalah perkara yang batil, perkara bid’ah dan merupakan penyerupaan terhadap Yahudi dan Nashara dalam mengagungkan hari-hari yang tidak pernah diagungkan oleh syari’at”. Lihat Fatawa wa Rosa`il (3/103)
4. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz -rahimahullah-.
Beliau berkata dalam risalah beliau yang berjudul Hukmul Ihtifal bi Lailatil Isra` wal Mi’roj, “Malam ini, yang di dalamnya terjadi peristiwa Isra` dan Mi’raj, tidak datang penetapan waktunya dalam hadits-hadits yang shohih, tidak pada bulan Rajab dan tidak pula selainnya. Semua yang datang dalam penentuannya, maka hal itu tidaklah shohih dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- di sisi ahlil ‘ilmi dan hadits, dan hanya milik Allah hikmah yang mendalam dibuat lupanya manusia. Seandainyapun waktu kepastian (terjadi)nya shohih, maka tidak boleh bagi kaum muslimin untuk mengkhususkannya dengan ibadah-ibadah, serta tidak boleh bagi mereka untuk merayakannya karena Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- dan para sahabat beliau -radhiallahu ‘anhum- tidak pernah merayakannya, dan mereka tidak pernah mengkhususkannya dengan sesuatu apapun (berupa ibadah). Seandainya merayakannya adalah perkara yang disyari’atkan, maka tentunya Rasul -Shallallahu ‘alaihi wasallam- akan menjelaskannya kepada ummat, baik melalui ucapan (beliau) maupun perbuatan. Andaikan perkara ini (perayaan Isra` Mi’raj) terjadi (di zaman mereka), maka tentunya akan diketahui dan masyhur, serta tentu para sahabat -radhiallahu ‘anhum- akan menukikannya kepada kita” (11).
5. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Alu Asy-Syaikh -hafizhohullah-.
Beliau ditanya -sebagaimana dalam Fatawa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Alu Asy-Syaikh, kumpulan kelima, pertanyaan pertama dari Majalah Ad-Da’wah- dengan konteks pertanyaan sebagai berikut:
Apa hukumnya memakan makanan yang dimasak dalam acara tertentu, seperti perayaan maulid Nabi atau malam ke 27 bulan Rajab (Isra` Mi’raj)? Semoga Allah memberkahimu.
Beliau menjawab, “Pada hakekatnya, asal pembuatannya (makanan tersebut) adalah bid’ah dan kesalahan. Maka tidak boleh bagi manusia untuk menghadirinya dan membuat bangga orang yang membuatnya (dengan memakannya). Akan tetapi suatu makanan, jika dimasak lalu diambil dan dibagikan kepada orang-orang fakir, maka ini baik pada tujuannya. Adapun hadir dan menjawab (undangan maulid), maka tidak boleh. Karena dia adalah bid’ah dan tidak boleh bagi seorang muslim untuk menolong suatu bid’ah, Allah -Subhanahu- berfirman :
وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan kedustaan dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya”. (QS. Al-Furqan : 72)
6. Syaikh Muqbil bin Hady Al-Wadi’iy -rahimahullah-.
Beliau ditanya tentang hukum perayaan maulid dan Isra` Mi’raj, apakah dia adalah bid’ah atau sunnah yang baik.
Beliau menjawab, “(Semuanya adalah) bid’ah, semua ini tidak pernah ada di zaman Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- …”. Lalu beliau membawakan beberapa dalil tentang haramnya berbuat bid’ah (12).
7. Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin -rahimahullah-.
Beliau berkata, “Adapun menampakkan kegembiraan (mengadakan perayaan-pent.) pada malam 27 Rajab, atau malam Nishfu Sya’ban, atau hari ‘Asyuro`, maka semua ini tidak ada asalnya dan terlarang. Tidak boleh seseorang untuk menghadirinya jika diundang berdasarkan sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, “Hati-hatilah kalian dari setiap perkara yang baru, karena sesungguhnya semua bid’ah adalah sesat”. Lihat Majmu’ Fatawa beliau pada no. pertanyaan 1131.
8. Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hady Al-Madkhaly –hafizhohullah-.
Dalam Al-Ajwibah As-Sadidah (hal.265), beliau berkata ketika menjelaskan tentang kesesatan seorang yang bernama Sa’id Hawwa :
“Bid’ah yang pertama: Perayaan maulid Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Bid’ah yang kedua: Perayaan hari hijrahnya beliau (Tahun Baru Islam). Bid’ah yang ketiga: Perayaan hari pembebasan Quds (Masjid Aqsha) dari tangan para salibis pada tanggal 27 Rajab. Bid’ah yang keempat: Merayakan peristiwa Isra dan Mi’raj. Bid’ah kelima: Seruan Sa’id Hawwa’ kepada seluruh keluarga muslim untuk menyelenggarakan bid’ah-bid’ah ini di rumah-rumah mereka -disamping merayakannya di mesjid-mesjid- dengan tartib (metode) shufy”.
9. Syaikh ‘Abdurrahman bin Jibrin -hafizhohullah-.
Beliau ditanya –di sela-sela pelajaran beliau mensyarh kitab Al-Ibanah Ash-Shugro- tentang maulid Nabawy dan Isra` Mi’raj, apakah termasuk bid’ah padahal dia adalah amalan kebaikan dan terkadang para pelakunya menangis di dalamnya.
Setelah beliau menjelaskan akan bid’ahnya perayaan maulid serta orang yang pertama kali merayakannya, beliauberkata, “Demikian pula halnya dengan perayaan malam Isra` Mi’raj  semuanya adalah termasuk bid’ah. Seandainyapun seseorang itu menangis, namun bila tangisannya tersebut bukan di atas petunjuk, maka tangisannya tidak akan bermanfaat baginya. Terkadang seseorang itu menangis sedangkan dia di atas kekafiran sehingga tangisannya tidak bermanfaat baginya, tangisannya tidak menambahkan baginya kecuali semakin jauh (dari Allah -Subhanahu wa Ta’ala-).
Tidakkah engkau membaca firman Allah -Ta’ala-:
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ. عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ. تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً. تُسْقَى مِنْ عَيْنٍ ءَانِيَةٍ
“Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka), diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas”. (QS. Al-Ghasyiah : 2-5)
[“Banyak muka pada hari itu tunduk terhina”] tunduk lagi rendah. [“bekerja keras”] dia beramal, sibuk siang dan malam dengan sholat dan puasa, tetapi tidak di atas ilmu, tidak sesuai dengan syari’at lagi berbuat syirik. [“Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan”] lelah dalam beribadah dan beramal, akan tetapi bersamaan dengan itu [“memasuki api yang sangat panas (neraka), diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas”] yaitu amat panas, dahsyat panasnya yang telah sampai pada puncak didih dan dia diberikan minum darinya. Kita memohon keselamatan dan ‘afiat kepada Allah. Jadi, tidak semua orang yang menangis berarti di atas kebenaran. Seorang kafir bisa menangis, padahal dia di atas kebatilan. Kita memohon keselamatan dan ‘afiat kepada Allah”.
________

1. Salah seorang murid senior dari Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah.
2. Menteri Agama Saudi Arabiah sekarang.
3. Yakni tanpa memperhatikan antara yang shohih dengan yang lemah.
4. Maksudnya langkah Buroq sejauh pandangannya.
5. Maksudnya para malaikat yang masuk ke dalamnya untuk beribadah lalu mereka keluar, mereka tidak akan masuk lagi ke dalamnya untuk kedua kalinya. Sehingga hari ini -misalnya- masuk ke dalamnya 70.000 malaikat selain dari yang telah masuk kemarin dan demikian seterusnya setiap hari.
6. Ini adalah ringkasan dan gabungan dari hadits-hadits tentang peristiwa ini dalam Ash-Shohihain. Untuk lebih lengkapnya, silahkan merujuk ke Shohih Al-Bukhary no. 2968 dan 3598 dan Shohih Muslim no. 162-168 dan juga kitab-kitab hadits selainnya yang menyebutkan kisah ini.
7. Penting: Kata ‘dzat’ bukanlah termasuk nama-nama ataupaun sifat-sifat Allah, akan tetapi sebagian para ulama menggunakannya untuk Allah hanyalah sebagai bentuk pengkhabaran, dan ini adalah perkara yang boleh sebagaimana yang disebutkan dalam kitab-kitab yang berbicara tentang tauhid Asma` wash Shifat.
8. Oleh karena itulah, di sini tidak ada dalil yang membolehkan seseorang untuk berdo’a, bertawassul, atau meminta syafa’at kepada para Nabi dengan alasan mereka masih hidup.
9. Lihat Zadul Ma’ad (1/57)
10. Di Indonesia dikenal dengan nama Lebaran Ketupat.
11. Lihat juga risalah beliau yang berjudul Hukmul Ihtifal bil Mawalid wa Nahwiha, Al-Qowadih fil ‘Aqidah, dan Bida’un fii Syahri Rojab.
12. Lihat kitab beliau Ijabatus Sa`il no. pertanyaan 166, lihat juga pertanyaan no. 167 serta kitab Tuhfatul Mujib no. pertanyaan 42

Perkataan Ulama Salaf Dalam Mencela Bid’ah

1. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata:

اَلْإِقْتِصَادُ فِي السُّنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الْإِجْتِهَادِ فِي الْبِدْعَةِ

Sederhana dalam melakukan sunnah lebih baik daripada bersungguh-ungguh dalam melaksanakan bid’ah”. (Riwayat Ad-Darimi)

dan beliau juga berkata:

اِتَّبِعُوْا وَلاَ تَبْتَدِعُوْا فَقَدْ كُفِيْتُمْ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Ittiba’lah kalian dan jangan kalian berbuat bid’ah karena sesungguhnya kalian telah dicukupi, dan setiap bid’ah adalah kesesatan”. (Riwayat Ad-Darimi no. 211 dan dishohihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam ta’liq beliau terhadap Kitabul Ilmi karya Ibnul Qoyyim)

2. ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata:

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

Setiap bid’ah adalah sesat walaupun manusia menganggapnya baik”. (Riwayat Al-Lalika`i dalam Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah)

3. Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu berkata:

فَإِيَّاكُمْ وَمَا يُبْتَدَعُ, فَإِنَّ مَا ابْتُدِعَ ضَلاَلَةٌ

Maka waspadalah kalian dari sesuatu yang diada-adakan, karena sesungguhnya apa-apa yang diada-adakan adalah kesesatan”. (Riwayat Abu Daud no. 4611)

4. Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma pernah berkata kepada Utsman bin Hadhir:

عَلَيْكَ بِتَقْوَى اللهِ وَالْإِسْتِقَامَةِ, وَاتَّبِعْ وَلاَ تَبْتَدِعْ

“Wajib atasmu untuk bertaqwa kepada Allah dan beristiqomah, ittiba’lah dan jangan berbuat bid’ah”. (Riwayat Ad-Darimi no. 141)

5.Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ

Barang siapa yang menganggap baik (suatu bid’ah) maka berarti dia telah membuat syari’at”.

6. Imam Ahmad rahimahullah berkata dalam kitab beliau Ushulus Sunnah:

أُصُوْلُ السُّنَّةِ عِنْدَنَا اَلتَّمَسُّكُ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وعلى آله وسلم وَالْإِقْتِدَاءُ بِهِمْ وَتَرْكُ الْبِدَعَ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Pokok sunnah di sisi kami adalah berpegang teguh dengan apa-apa yang para shahabat Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam berada di atasnya, meneladani mereka serta meninggalkan bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan”.

7. Sahl bin ‘Abdillah At-Tasturi rahimahullah berkata:

مَا أَحْدَثَ أًحَدٌ فِي الْعِلْمِ شَيْئًا إِلاَّ سُئِلَ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ, فَإِنْ وَافَقَ السُّنَّةَ سَلِمَ وَإِلاَّ فَلاَ

Tidaklah seseorang memunculkan suatu ilmu (yang baru) sedikitpun kecuali dia akan ditanya tentangnya pada hari Kiamat ; bila ilmunya sesuai dengan sunnah maka dia akan selamat dan bila tidak maka tidak”. (Lihat Fathul Bari: 13/290)

8. Umar bin Abdil Aziz rahimahullah berkata:

أَمَّا بَعْدُ, أُوْصِيْكَ بِتَقْوَى اللهِ وَالْإِقْتِصَادْ فِي أَمْرِهِ, وَاتِّبَاعِ سُنَّةَ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ, وَتَرْكِ مَا أَحْدَثَ الْمُحْدِثُوْنَ بَعْدَ مَا جَرَتْ بِهِ سُنَّتُهُ

Amma ba’du, saya wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan bersikap sederhana dalam setiap perkaraNya, ikutilah sunnah NabiNya Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam dan tinggalkanlah apa-apa yang dimunculkan oleh orang-orang yang mengada-adakan setelah tetapnya sunnah beliau Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam”. (Riwayat Abu Daud)

9. Abu Utsman An-Naisaburi rahimahullah berkata:

مَنْ أَمَّرَ السُّنَّةَ عَلَى نَفْسِهِ قَوْلاً وَفِعْلاً نَطَقَ بِالْحِكْمَةِ, وَمَنْ أَمَّرَ الْهَوَى عَلَى نَفْسِهِ قَوْلاً وَفِعْلاً نَطَقَ بِالْبِدْعَةِ

Barang siapa yang menguasakan sunnah atas dirinya baik dalam perkataan maupun perbuatan maka dia akan berbicara dengan hikmah, dan barang siapa yang menguasakan hawa nafsu atas dirinya baik dalam perkataan maupun perbuatan maka dia akan berbicara dengan bid’ah”. (Riwayat Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah : 10/244)

Sikap Para Shahabat dan Tabi’in Terhadap Ahli Bid’ah

http://sunniy.wordpress.com/2010/01/07/sikap-para-shahabat-dan-tabiin-terhadap-ahli-bidah/

Syaikh Rabi’ bin Hadi al Madkhali

Ibnu Umar berkata mengenai pengikut Qadariyah: “Beritahukan kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku.”

Abu Qilabah berkata: “Janganlah kamu duduk dengan ahli ahwa’ -atau ia berkata ahli membuat pertikaian- karena aku khawatir mereka akan menenggelamkanmu dalam kesesatan mereka, menampakkan kepadamu sebagian apa yang kamu ketahui.”

Salah seorang dari ahli bid’ah berkata kepada Ayub As Sikhtiyani: “Wahai Abu Bakar! Aku bertanya kepadamu tentang sebuah kata?” Maka ia berpaling seraya berkata: “Meskipun kamu bertanya tentang setengah kata (aku tidak akan menjawabnya, penerj.) .” [1]

Hal itu dilakukan karena Allah sebab sikap wala’ yang sebenarnya hanya karena Allah dan Islam.

Seandainya para Ulama Sunnah bergaul dengan ahli bid’ah pada zaman sekarang ini, hal itu adalah pergaulan yang bersifat mengikat (mengisolir) niscaya bid’ah-bid’ah akan mati dalam sarangnya dan penerbit tidak bisa mencetak kitab-kitab mereka. Sebab tidak ada yang mendukung ahli bid’ah (semuanya ini berbahaya). Apa lagi jika kitab-kitab tersebut dicetak untuk membela mereka. Maka bid’ah-bid’ah tersebut membakar para pemuda Salaf seperti tikar yang berada di atas api!!

Anda melihat bagaimana para shahabat, tabi’in dan para Imam Islam bersikap terhadap ahli bid’ah yang tidak sedikitpun melihat kebaikan mereka?!

Yang demikian itu merupakan sikap tegas mereka dalam mencegah kebatilan serta menunjukkan pemahaman mereka terhadap tujuan-tujuan Islam di antaranya adalah: “Menghindari kerusakan lebih diutamakan daripada mengambil maslahat”.

[Dinukil dari kitab Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah fi Naqdir Rijal wa Al Kutub wa Ath Thawaif, Edisi Indonesia Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah Dalam Mengkritik Tokoh, Kitab, dan Aliran, Penulis Syaikh Rabi’ bin Hadi Umair al Madkhali]

____________
Footnote:

[1] Syarhus Sunnah karya Imam Al Baghawi Rahimahullah 1/227.