FATWA BID’AHNYA MAULID

FATWA BID’AHNYA MAULID

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

“Menjadikan suatu hari raya selain dari hari raya yang disyari’atkan, seperti sebagian malam di bulan Rabi’ul Awwal yang disebut dengan malam Maulid, atau sebagian malam di bulan Rajab, atau hari ke-18 di bulan Dzul Hijjah, atau hari Jum’at pertama di bulan Rajab, atau hari ke-8 bulan Syawwal yang dinamakan ‘îdul abrâr oleh orang-orang bodoh, maka semua itu termasuk bid’ah yang tidak pernah dianjurkan dan tidak pernah dilakukan oleh para ulama Salaf. Wallâhu a’lam.”

Syaikhul Islam Ahmad bin ‘Abdil Halim Ibnu Taimiyah -rahimahullah- :

a. Beliau berkata dalam Majmu’ Al-Fatawa (25/298),

“Adapun menjadikan suatu hari raya, selain dari hari-hari raya yang syar’i, seperti beberapa malam dalam bulan Rabi’ul Awwal yang dikatakan bahwa itu adalah malam maulid atau beberapa malam dalam bulan Rajab atau pada tanggal 18 Dzul Hijjah atau Jum’at pertama dari bulan Rajab atau tanggal 8 Syawal yang disebut oleh orang-orang bodoh dengan ‘Iedul Abror [Di Indonesia lebih dikenal dengan istilah “Lebaran Ketupat”], maka semua ini adalah termasuk di antara bid’ah-bid’ah yang tidak pernah disunnahkan dan tidak pernah dikerjakan oleh para ulama salaf, Wallahu -Subhanahu wa Ta’ala- A’lam”.

b. Beliau berkata dalam Al-Iqhtidho` (hal. 295),

“… Karena sesungguhnya hal ini (yaitu perayaan maulid) tidak pernah dikerjakan oleh para ulama salaf, padahal ada faktor-faktor yang mendukung (pelaksanaannya) dan tidak adanya faktor-faktor yang bisa menghalangi pelaksanaannya.

Seandainya amalan ini adalah kebaikan semata-mata atau kebaikannya lebih besar (daripada kejelekannya) maka tentunya para salaf -radhiyallahu ‘anhum- lebih berhak untuk mengerjakannya daripada kita, karena mereka adalah orang yang sangat mencintai dan mengagungkan Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dibandingkan kita, dan mereka juga lebih bersemangat dalam masalah kebaikan daripada kita.

Sesungguhnya kesempurnaan mencintai dan mengagungkan beliau hanyalah dengan cara mengikuti dan mentaati beliau, mengikuti perintahnya, menghidupkan sunnahnya secara batin dan zhohir, dan menyebarkan wahyu yang beliau diutus dengannya, serta berjihad di dalamnya dengan hati, tangan, dan lisan. Inilah jalan orang-orang yang terdahulu lagi pertama dari kalangan Muhajirin dan Anshor serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik”.

Imam Tajuddin Abu Hafsh ‘Umar bin ‘Ali Al-Lakhmy Al-Fakihany -rahimahullah-.

Beliau berkata di awal risalah beliau yang berjudul Al-Mawrid fii ‘Amalil Maulid,

“Saya tidak mengetahui bagi perayaan maulid ini ada asalnya (baca: landasannya) dari Al-Kitab, tidak pula dari Sunnah, dan tidak pernah dinukil pengamalannya dari seorangpun di kalangan para ulama ummat ini yang merupakan panutan dalam agama, yang berpegang teguh dengan jejak-jejak para ulama terdahulu. Bahkan ini adalah bid’ah yang dimunculkan oleh orang-orang yang tidak punya pekerjaan (baca: kurang kerjaan) yang dikuasai oleh syahwat jiwanya dan bid’ah ini (hanya) disenangi oleh orang-orang yang suka makan”.

Syaikh ‘Abdul Lathif bin ‘Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Alu Asy Syaikh -rahimahullah-.

Beliau berkata ketika menerangkan tentang dakwah Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab,

“Beliau -yakni Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab- mengingkari apa yang terdapat pada manusia di negeri-negeri itu dan selainnya, berupa membesarkan/mengagungkan maulid-maulid dan hari-hari raya jahiliyah yang tidak pernah diturunkan (oleh Allah) hujjah tentang pengagungan tersebut. Tidak datang tentangnya hujjah syar’iyah dan tidak pula argument sedikitpun, karena di dalamnya ada penyerupaan kepada orang-orang Nashrani yang sesat dalam hal hari-hari raya mereka, baik yang berupa waktu maupun tempat. Dia adalah kebatilan dalam syari’at pimpinannya para Rasul”

[Lihat Majmu’atur Rosa`il An-Najdiyyah -cet. Al- Manar- (4/440) dan Ad-Durar As-Sunniyyah (4/409)]

Muhammad bin Muhammad Ibnul Haj Al-Maliky -rahimahullah-.

Beliau berkata dalam Al-Madkhal (2/2),

“Termasuk perkara yang mereka munculkan berupa bid’ah -bersamaan dengan keyakinan mereka bahwa itu termasuk sebesar-besar ibadah dan dalam rangka menampakkan syi’ar-syi’ar (Islam)- adalah apa yang kerjakan dalam bulan Rabi’ul Awwal berupa maulid. Acara ini telah menghimpun sejumlah bid’ah dan perkara-perkara yang diharamkan”.

Al-Imam Ibrahim bin Musa Al-Lakhmy Asy-Syathiby -rahimahullah-.

Dalam kitab beliau yang penuh faidah, Al-I’tishom (1/53) tatkala beliau menyebutkan sisi-sisi penyelisihan bid’ah terhadap syari’at. Beliau berkata,

“Di antaranya adalah komitmen di atas kaifiat-kaifiat dan cara-cara tertentu, seperti berdzikir secara berjama’ah di atas satu suara, menjadikan hari kelahiran Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- sebagai hari raya, dan yang semisalnya”.

Al-Imam Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukany -rahimahullah-.

Beliau berkata,

“Saya tidak menemukan satupun dalil yang membolehkannya. Orang yang pertama kali mengada-adakannya adalah Raja Al-Muzhoffar Abu Sa’id pada abad ke tujuh [Tentang orang yang pertama kali melaksanakannya telah kami jelaskan di akhir bab Sejarah Munculnya Perayaan Maulid] dan kaum muslimin telah bersepakat bahwa itu adalah bid’ah”. Lihat kitab Al-Mawrid fii Hukmil Ihtifal bil Maulid karya ‘Uqail bin Muhammad bin Zaid Al-Yamany hal. 37.

 

Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh, Mufti Saudi Arabia -rahimahullah-.

a. Beliau berkata dalam Al-Fatawa war Rosa`il (3/34) ketika menjawab pertanyaan tentang hukum perayaan maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-,

“Segala puji hanya milik Allah, perayaan hari-hari maulid (ulang tahun), peringatan hari-hari [Seperti perayaan tahun baru, hari Ibu dan yang semisalnya], kejadian-kejadian [Seperti Isra` Mi’raj, Nuzulul Qur`an, hari Pahlawan, dan yang semisalnya], dan peristiwa-peristiwa tertentu [Seperti hari AIDS, peringatan Tragedi Tri Sakti, dan yang semisalnya], adalah termasuk di antara perkara-perkara yang disyari’atkan oleh orang-orang Nashrani dan Yahudi.

Sedangkan kita telah dilarang untuk merayakan hari-hari raya ahlul kitab dan orang-orang asing (non muslim), karena di dalamnya ada bentuk perbuatan bid’ah dalam agama dan penyerupaan terhadap orang-orang kafir.

Semua perkara yang dimunculkan berupa hari-hari raya dan peringatan-peringatan adalah kemungkaran dan perkara yang dibenci, walaupun di dalamnya tidak ada penyerupaan terhadap ahli kitab dan orang-orang asing karena semuanya termasuk dalam kategori bid’ah dan perkara-perkara baru. Bahkan walaupun perayaan itu untuk memperingati maulid Rasul -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-, karena asal (landasan) bagi seluruh ibadah adalah tidak disyari’atkan kecuali yang disyari’atkan oleh Allah -Ta’ala-”.

b. Beliau juga berkata dalam menjawab pertanyaan yang semakna dengannya,

“Tidak ada keraguan bahwa perayaan maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- adalah termasuk bid’ah-bid’ah yang dimunculkan dalam agama setelah tersebarnya kebodohan di alam Islam, ketika penyesatan, kesesatan, kesalahan, dan prasangka menjadi medan yang membutakan pandangan-pandangan, kekuatan taqlid buta menguat di dalamnya, dan kebanyakan manusia tidak merujuk kepada apa yang ada dalil pensyari’atannya. Akan tetapi, mereka hanya merujuk kepada sesuatu yang dikatakan oleh si anu dan diridhoi oleh si anu. Bid’ah yang mungkar ini tidaklah memiliki satupun atsar yang disebutkan dari sisi para sahabat Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- tidak pula dari sisi tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka”.

Lalu beliau berkata,

“Jika perayaan-perayaan ini adalah murni kebaikan atau kebaikannya yang lebih mendominasi maka tentunya para salafushsholih lebih berhak untuk mengerjakannya daripada kita, karena sesungguhnya mereka lebih besar kecintaan dan pengagungannya kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dibandingkan kita dan mereka lebih bersemangat untuk mengerjakan kebaikan (daripada kita)”

[Lihat (3/38-39) dari kitab yang sama]

 

c. Pada (3/40) beliau ditanya dengan pertanyaan yang sama, maka beliau menjawab,

“Segala puji hanya milik Allah. Perayaan maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- bukanlah perkara yang disyari’atkan dan tidak dikenal di kalangan salafushsholeh -ridwanullahi ‘alaihim-.

Mereka tidak mengerjakannya, padahal ada faktor-faktor yang mengharuskan (pelaksanaannya) dan tidak adanya faktor-faktor penghalang (dalam pelaksanaannya). Seandainya hal itu adalah kebaikan maka pasti mereka telah mendahului kita dalam mengerjakannya karena mereka lebih berhak atas suatu kebaikan daripada kita, lebih mencintai Rasul -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dan sangat mengagungkan beliau (dibandingkan kita).

Merekalah yang telah berhijrah bersama beliau, mereka meninggalkan kampung, harta, dan keluarga mereka. Mereka telah berjihad bersama beliau sampai terbunuh di dalamnya dan mereka menebus (baca : membela) beliau dengan jiwa dan harta mereka -radhiyallahu ‘anhum wa ardhohum-.

Tatkala hal ini tidak dikenal di kalangan salafushsholeh dan mereka tidak pernah mengerjakannya -padahal mereka adalah (manusia yang hidup di) zaman-zaman yang penuh keutamaan-, maka ini menunjukkan bahwa dia adalah bid’ah yang diada-adakan”.

Syaikh ‘Abdullah bin Muhammad bin Humaid, anggota Hai`ah Kibarul ‘Ulama (Majelis Ulama Besar) Saudi Arabiah -rahimahullah-.

Beliau berkata ketika membantah orang-orang yang mengatakan bahwa merayakan maulid adalah suatu bentuk menampakkan kesyukuran kepada Allah -‘Azza wa Jalla- atas terciptanya Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-,

“Tidak diragukan bahwa beliau adalah pimpinan seluruh makhluk, manusia yang paling agung dan paling afdhol sepanjang masa. Akan tetapi kenapa tidak ada seorangpun dari kalangan para sahabat, tabi’in, para imam ahli ijtihad, dan tidak pula orang-orang yang hidup di 3 abad pertama -yang mereka dipersaksikan oleh Rasul -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dengan kebaikan- yang tegak melaksanakan kesyukuran seperti ini [Yakni dengan mengadakan perayaan maulid]?!

Padahal mereka lebih besar kecintaannya kepada beliau dibandingkan kita, lebih bersemangat kepada kebaikan, dan lebih mengikuti beliau dibandingkan kita. Bahkan kesempurnaan kecintaan dan pengagungan kepada beliau adalah dengan mengikuti beliau, mentaati beliau, mengikuti perintah beliau, menjauhi larangan beliau, menghidupkan sunnah beliau secara zhohir dan batin, menyebarkan syari’at yang beliau bawa, serta berjihad atas semua hal itu dengan hati, tangan dan lisan.

Inilah cara orang-orang yang terdahulu lagi pertama dari kalangan Muhajirin dan Anshor dan yang mengikuti mereka dengan baik, bukan dengan cara mengadakan perayaan-perayaan bid’ah yang merupakan sunnah-sunnah Nashrani”.

[Lihat Ar-Rosa`ilul Hisan fii Fadho`ihil Ikhwan hal. 39]

 Syaikh Muhammad bin ‘Abdis Salam Asy-Syuqoiry -rahimahullah-.

Beliau berkata dalam kitabnya As-Sunan wal Mubtada’at Al-Muta’alliqah bil Adzkar wash Sholawat, hal. 138-139,

“Pada bulan ini (Rabi’ul Awwal) beliau -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dilahirkan dan pada bulan ini pula beliau diwafatkan, maka kenapa mereka bergembira dengan kelahiran beliau dan tidak bersedih dengan kematian beliau?!

Jadi, menjadikan hari kelahiran beliau sebagai hari raya dan peringatan adalah bid’ah yang mungkar dan sesat, tidak dibawa (baca: diterangkan) oleh syari’at maupun akal.

Seandainya di dalamnya ada kebaikan maka bagaimana mungkin Abu Bakar, Umar, Utsman, dan ‘Ali -ridhwanullahi ‘alaihim- serta seluruh sahabat, tabi’in, orang-orang yang mengikuti mereka, para imam, dan yang mengikuti mereka bisa lalai darinya?!”.

Syaikh Hamûd bin ‘Abdillah at-Tuwaijiri rahimahullah berkata:

“…Dan hendaklah juga diketahui bahwa memperingati malam Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjadikannya sebagai peringatan tidak termasuk petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi ia adalah perbuatan yang diada-adakan yang dibuat setelah zaman beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah berlalu sekitar enam ratus tahun. Oleh karena itu, memperingati perayaan yang diada-adakan ini masuk dalam larangan keras yang Allah Azza wa Jalla sebutkan dalam firman-Nya,

“…Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.” [an-Nûr/24:63]

Jika dalam acara maulid yang diada-adakan ini ada sedikit saja kebaikan maka para Shahabat telah bergegas melakukannya…”

Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rohimahulloh, ditanya tentang hukum perayaan maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- .

Syaikh bin Baaz-rahimahullah- menjawab, “Tidaklah dibenarkan seorang merayakan hari lahir (maulid) Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dan hari kelahiran lainnya, karena hal tersebut termasuk bid’ah yang baru diada-adakan dalam agama. Padahal sesungguhnya Rasul -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , para Khalifah Ar-Rasyidin dan selainnya dari kalangan sahabat tidak pernah melakukan perayaan tersebut dan tidak pula para tabi’in yang mengikuti mereka dalam kebaikan di zaman yang utama lagi terbaik. Mereka adalah manusia yang paling tahu tentang Sunnah, paling sempurna cintanya kepada Nabi dan ittiba’-nya (keteladanannya) terhadap syariat beliau dibandingkan orang-orang setelah mereka.

Telah shahih (sebuah hadits) dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, beliau bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِناَ هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang membuat-buat perkara baru dalam agama ini yang bukan bagian dari agama ini, maka hal itu tertolak”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (2697) dan Muslim(1718)]

Beliau juga bersabda, “Wajib atas kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah para khalifah ar rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku. Peganglah ia kuat-kuat dan gigit dengan gigi geraham. Berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru yang diada-adakan, karena semua perkara baru itu adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.” [Abu Dawud (4617), At-Tirmidziy (2676), dan Ibnu Majah (42). Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Shahih Al-Jami’ (2546)]

Jadi, dalam dua hadits yang mulia ini terdapat peringatan yang keras dari berbuat bid’ah dan mengamalkannya. Allah -Ta’ala- berfirman,

“Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah; dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. Al-Hasyr :7).

Allah -Ta’ala- berfirman,

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS.An-Nur :63).

Allah -Ta’ala- berfirman,

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”(QS.Al-Ahzab :21).

Allah -Ta’ala- berfirman,“Pada hari Ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS.Al-Maidah :3).

Membuat perkara baru -semacam maulid- ini akan memberikan sangkaan bahwa Allah -Ta’ala- belum menyempurnakan agama untuk umat ini, dan Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- belum menyampaikan kepada umatnya apa yang pantas untuk mereka amalkan, sehingga datanglah orang-orang belakangan ini membuat-buat perkara baru dalam syariat Allah apa yang tidak diridhoi Allah, dengan sangkaan hal tersebut bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah. Padahal perkara ini –tanpa ada keraguan- adalah bahaya yang sangat besar, termasuk penentangan kepada Allah dan Rasul-Nya. Padahal sungguh Allah telah menyempurnakan agama ini bagi hamba-Nya; Allah telah menyempurnakan nikmat-Nya atas mereka dan Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sungguh telah menyampaikan syariat ini dengan terang dan jelas. Beliau tidaklah meninggalkan suatu jalan yang bisa mengantarkan ke surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali beliau telah sampaikan kepada umatnya, sebagaimana dalam hadits yang shahih dari sahabat Abdullah bin Amer -radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِيْ إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ, وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ

“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, kecuali wajib atasnya untuk menunjukkan kebaikan atas umatnya apa yang ia telah ketahui bagi mereka, dan memperingatkan mereka dari kejelekan yang ia ketahui bagi mereka.” [HR.Muslim dalam Shohih-nya (1844)]

Suatu hal yang dimaklumi bersama, Nabi kita -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah Nabi yang paling utama, penutup para nabi dan yang paling sempurna penyampaiannya dan nasihatnya. Andaikata perayaan maulid ini termasuk agama yang diridhoi Allah, niscaya Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- akan jelaskan kepada umatnya atau pernah melaksanakannya atau setidaknya para sahabat pernah melakukannya. Akan tetapi, tatkala hal tersebut tidak pernah sama sekali mereka lakukan, maka diketahuilah hal tersebut bukanlah dari Islam sedikit pun juga, bahkan dia termasuk dari perkara-perkara baru yang telah diperingatkan bahayanya oleh Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sebagaimana dalam dua hadits yang tersebut di atas. Hadits-hadits lain yang semakna dengannya telah datang (dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-), seperti sabda beliau dalam khutbah jum’at:

أََمَّا بَعْدُ, فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-sebaik petunjuk adalah petunjuk Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, sejelek-jeleknya perkara adalah yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat.” [HR.Muslim Shohih-nya (867)]

(Majmu’ Fatawa As-Syaikhbin Baz (1/183), dan Al-Bida’ wal Muhdatsat (hal 619-621)).

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz juga ditanya, “Apa hukum menyampaikan nasihat atau ceramah pada hari maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-?

Syaikh bin Baaz menjawab, ”Amar ma’ruf nahi mungkar, memberikan bimbingan dan arahan kepada manusia, menjelaskan kepada mereka tentang agama mereka, dan memberikan nasihat kepada mereka dengan sesuatu yang bisa melembutkan hati mereka adalah perkara yang disyariatkan pada setiap waktu, karena adanya perintah untuk perkara tersebut datang secara mutlak, tanpa ada pengkhususan waktu tertentu.

Allah -Ta’ala-berfirman,

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.”(QS.Al-Maidah : 104).

Allah -Ta’ala- berfirman,

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.An-Nahl :125).

Allah juga menjelaskan keadaan orang-orang munafik dan sikap para da’i (penyeru) di antara mereka,

“Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri. Kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka dengan perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.” (QS. An-Nisa’: 61-63); dan ayat-ayat lain.

Jadi, Allah memerintahkan untuk berdakwah dan memberikan nasihat secara mutlak, tidak mengkhususkannya pada waktu tertentu. Sekalipun nasihat dan bimbingan ini semakin dianjurkan ketika ada tuntutan kepadanya, seperti khutbah Jum’at dan hari Ied, karena warid (datang)-nya hal tersebut dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- .Demikian pula ketika melihat suatu kemungkaran, ini berdasarkan sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ, فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ, وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ, وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

“Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Jika dia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika dia tidak mampu, maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” [HR.Muslim (49)]

Adapun pada hari maulid, maka di dalamnya tidak boleh ada suatu pengkhususan dengan suatu ibadah tertentu yang bisa mendekatkan diri kepada-Nya, adanya nasihat, bimbingan, pembacaan kisah maulid, karena Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tidak pernah mengkhususkan hal tersebut dengan perkara-perkara tersebut. Andaikan hal tersebut baik, niscaya Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah orang yang paling pantas untuk (melakukan) hal tersebut. Akan tetapi nyatanya beliau tidak pernah melakukannya. Menunjukkan bahwa adanya pengkhususan-pengkhususan tersebut dengan ceramah, pembacaan kisah maulid atau selainnya termasuk perkara-perkara bid’ah. Telah shahih dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bahwa beliau bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِناَ هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang membuat-buat perkara baru dalam agama ini yang bukan bagian dari agama ini, maka hal itu tertolak”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (2697) dan Muslim(1718)]

Demikian pula halnya para sahabat, mereka tidak pernah melakukan hal tersebut, padahal mereka adalah manusia yang paling tahu tentang Sunnah dan paling bersemangat untuk mengamalkannya”. [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah (5591), dan Al-Bida’ wa Al-Muhdatsat wa ma laa Ashla lahu (628-630)] Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, Mufty Saudi Arabia -rahimahullah-.

a. Beliau berkata dalam risalah beliau yang berjudul At-Tahdzir minal Bida’, (hal. 7-8),

“Tidak boleh merayakan maulid Rasul -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dan tidak pula maulid (ulang tahun) selainnya, karena hal itu adalah termasuk di antara bid’ah-bid’ah yang dimunculkan dalam agama. Rasul -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- tidak pernah mengerjakannya, tidak pula para khalifah beliau yang mendapatkan petunjuk, tidak pula selain mereka dari kalangan para sahabat -ridhwanullahi ‘alaihim-, dan tidak pula orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik pada zaman-zaman keutamaan. Padahal mereka adalah manusia yang paling mengetahui tentang sunnah, lebih sempurna kecintaannya kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-, dan lebih mengikuti syari’at beliau dibandingkan orang-orang setelah mereka”.

b. Pada hal. 47-48 beliau ditanya tentang sebagian perayaan, seperti maulid Nabi, Isra` Mi’raj, dan Tahun Baru Hijriah, maka setelah beliau menjelaskan bahwa Allah telah menyempurnakan agama Islam ini dan Dia telah melarang dari berbuat bid’ah di dalamnya, beliau berkata,

“Perayaan-perayaan ini -yang disebutkan dalam pertanyaan- tidak pernah dikerjakan oleh Rasul -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-. Padahal beliau adalah manusia yang paling fasih, paling tahu tentang syari’at Allah, paling bersemangat dalam memberikan hidayah kepada ummat dan memberikan tuntunan kepada mereka menuju perkara yang mendatangkan manfaat bagi mereka dan yang diridhoi oleh Maula (Penolong) mereka (yakni Allah -Subhanahu wa Ta’ala-).

Hal ini juga tidak pernah dikerjakan oleh para sahabat beliau -radhiyallahu ‘anhum-, padahal mereka adalah manusia yang terbaik, paling berilmu setelah para nabi, dan yang paling bersemangat dalam (mengerjakan) kebaikan. Hal itu juga tidak pernah dilakukan olah para imam yang berada di atas hidayah di zaman-zaman keutamaan.

Bid’ah ini tidaklah diada-adakan kecuali oleh sebagian orang-orang belakangan berlandaskan ijtihad dan sangkaan baik, tanpa dalil. Kebanyakan mereka berlandaskan taqlid kepada orang-orang yang telah mendahului mereka dalam perayaan ini. Yang wajib atas seluruh kaum muslimin adalah hendaknya mereka berjalan di atas jalan yang dipijak oleh Rasul -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dan para sahabat beliau -radhiyallahu ‘anhum- serta harus waspada terhadap perkara-perkara yang diada-adakan oleh manusia dalam agama Allah sepeninggal mereka, inilah jalan yang lurus dan manhaj yang kokoh”

Lihat juga Fatawa beliau (4/280-282)

c. Beliau berkata pada hal. 50-51 ketika beliau ditanya tentang merayakan hari-hari maulid (hari lahir/ulang tahun),

“Perayaan hari-hari maulid (ulang tahun/milad) adalah tidak ada landasannya dalam syari’at yang suci ini, bahkan dia adalah bid’ah …”.

Lalu beliau berkata,

“Telah diketahui bahwa Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- tidak pernah merayakan hari maulid (ulang tahun) beliau sepanjang hidup beliau, tidak pula pernah memerintahkan untuk mengerjakannya, dan tidak pula pernah mengajarkannya kepada para sahabat beliau.

Demikian pula para khalifah beliau yang mendapatkan petunjuk dan seluruh sahabat beliau, mereka semua tidak pernah mengerjakannya. Padahal mereka adalah manusia yang paling mengetahui sunnah beliau, manusia yang paling mencintai Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dan manusia yang paling semangat untuk mengikuti apa saja yang dibawa oleh beliau.

Seandainya perayaan maulid beliau -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- disyari’atkan, maka pasti mereka telah bersegera untuk melaksanakannya. Demikian pula para ulama di zaman-zaman keutamaan, tidak ada seorangpun di antara mereka yang mengerjakannya dan tidak pula menyuruh untuk mengerjakannya”

[Lihat juga Al-Fatawa (4/285)]

d. Beliau juga berkata pada hal. 54-55,

“Tidak ada keraguan bahwa Allah -Subhanahu wa Ta’ala- telah mensyari’atkan untuk kaum muslimin dua hari raya, yang mereka berkumpul di dalamnya untuk berdzikir [Tapi bukan dzikir secara berjama’ah. Namun maksudnya berkumpul dalam satu tempat, lalu masing-masing berdzikir sendiri menurut apa yang mereka kehendaki. (ed)] dan melaksanakan sholat, keduanya adalah: ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adh-ha sebagai pengganti hari-hari raya jahiliyah.

Dia telah mensyari’atkan hari-hari raya yang mengandung berbagai bentuk dzikir dan ibadah, seperti hari Jum’at, hari ‘Arafah, dan hari-hari Tasyriq. Allah -Subhanahu wa Ta’ala- tidak pernah mensyari’atkan untuk kita hari raya maulid (hari lahir/ulang tahun), baik maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-, maupun maulid selainnya.

Bahkan dalil-dalil syari’at dari Kitab dan Sunnah telah menunjukkan bahwa perayaan-perayaan maulid termasuk di antara perkara-perkara bid’ah yang dimunculkan dalam agama serta termasuk tasyabbuh kepada musuh-musuh Allah dari kalangan orang-orang Yahudi, Nashrani, dan selain mereka”.

[Lihat juga Al-Fatawa (4/286-288)]

e. Pada hal. 58, beliau berkata,

“Tidak boleh bagi kaum muslimin untuk mengadakan perayaan maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- pada malam 12 Rabi’ul Awwal dan tidak pula pada malam selainnya. Sebagaimana halnya tidak boleh bagi mereka untuk mengadakan perayaan terhadap hari lahir siapapun selain beliau -‘alaihish sholatu wassalam-, karena perayaan-perayaan maulid (hari lahir) adalah termasuk bid’ah yang diada-adakan dalam agama.

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- tidak pernah merayakan hari maulid beliau sepanjang hidup beliau -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-, padahal beliau adalah penyampai agama dan pemberi syari’at dari Tuhannya -Subhanahu- dan beliau tidak pula pernah memerintahkan untuk mengerjakannya. Juga tidak pernah dikerjakan oleh para khalifah beliau yang mendapatkan petunjuk, tidak pula para sahabat beliau seluruhnya, dan tidak pula orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik pada zaman-zaman keutamaan. Maka diketahuilah bahwa itu adalah bid’ah”

[Lihat Al-Fatawa (4/289)]

Ulama’ bermadzhab Syafi’iyyah, Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah (11/127) berkata,

“Sesungguhnya pemerintahan Al-Fathimiyyun Al-Ubaidiyyun yang bernisbah kepada Ubaidillah bin Maimun Al-Qoddah, seorang Yahudi yang memerintah di Mesir dari tahun 357 – 567 H, mereka memunculkan banyak hari-hari raya. Di antaranya perayaan maulid Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-”.

Syaikh ‘Abdullâh bin ‘Abdul ‘Azîz bin Bâz rahimahullâh berkata:

“Tidak diperbolehkan melaksanakan peringatan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan peringatan hari kelahiran selain beliau karena hal itu merupakan bid’ah dalam agama. Sebab, Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukannya, tidak juga para Khulâfâ-ur Râsyidîn, dan tidak pula para Shahabat lainnya, dan tidak juga dilakukan oleh orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik pada generasi-generasi yang diutamakan. Padahal mereka adalah manusia yang paling mengetahui Sunnah, paling mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan paling mengikuti syari’at dibandingkan orang-orang setelah mereka…”

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

“Pertama: bahwa malam kelahiran Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diketahui secara pasti, bahkan sebagian ahli sejarah menetapkan bahwa malam kelahiran Rasul adalah malam ke-9 Rabi’ul Awwal, bukan malam ke-12. Dengan demikian, menjadikannya malam dua belas bulan Rabi’ul Awwal tidak memiliki dasar dari sudut pandang sejarah.

 

Kedua: dari sudut pandang syari’at maka peringatan ini tidak memiliki dasar. Karena jika ia termasuk syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukannya atau menyampaikannya kepada umatnya. Seandainya beliau telah melakukannya atau telah menyampaikannya maka hal itu pasti terjaga karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan pasti Kami pula yang memeliharanya.” [al-Hijr/15:9]

Karena tidak ada sesuatu pun yang terjadi dari hal itu maka dapat diketahuilah bahwa Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak termasuk agama Allah. Jika tidak termasuk agama Allah maka kita tidak boleh beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah dengannya. Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala telah meletakkan jalan tertentu agar dapat sampai kepada-Nya yaitu apa yang dibawa Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka bagaimana bisa kita selaku hamba Allah diperbolehkan untuk membuat jalan sendiri yang mengantarkan kepada Allah ? Ini merupakan kejahatan terhadap hak Allah Azza wa Jalla, yaitu mensyari’atkan dalam agama Allah sesuatu yang bukan bagian darinya. Juga hal ini mengandung pendustaan terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya : “…Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu…” [al-Mâidah/5: 3]” [31]

Syaikh Shâlih bin Fauzân bin ‘Abdullâh al-Fauzan hafizhahullâh berkata:

“Melaksanakan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bid’ah. Tidak pernah dinukil dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak dari para Khulafâ-ur Râsyidîn, dan tidak juga dari generasi yang diutamakan bahwa mereka melaksanakan peringatan ini. Padahal mereka adalah orang yang paling cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan paling semangat melakukan kebaikan. Mereka tidak melakukan suatu bentuk ketaatan pun kecuali yang disyari’atkan Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya sebagai pengamalan dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang maknanya : “…Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah…” [al-Hasyr/59:7]

Maka ketika mereka tidak melakukan peringatan maulid ini, dapat diketahuilah bahwa perbuatan itu adalah bid’ah…

Kesimpulannya bahwa menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk perbuatan bid’ah yang diharamkan yang tidak memiliki dalil baik dari Kitabullâh maupun dari Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam…”

Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (Majlis Fatwa Kerajaan Saudi Arobia) no. 6524, 3/38

Pertanyaan:

Bolehkah seseorang menghadiri perayaan yang bid’ah seperti perayaan maulid nabi, isro’ mi’roj, malam nishfu sya’ban, namun ia tidak meyakini bahwa perayaan-perayaan tadi disyari’atkan, ia cuma bertujuan menjelaskan kebenaran?

Jawaban:

Pertama, perayaan yang disebutkan dalam pertanyaan di atas adalah perayaan yang tidak boleh dirayakan bahkan perayaan yang bid’ah yang mungkar.

Kedua, jika memang kita bermaksud untuk menghadiri perayaan-perayaan tersebut dalam rangka menasehati dan mengingatkan bahwa perayaan tersebut termasuk bid’ah (perkara yang diada-adakan dalam agama), maka itu adalah suatu hal yang disyari’atkan, lebih-lebih lagi jika yakin memiliki argumen yang kuat dan yakin selamat dari fitnah. Namun jika menghadirinya tidak dalam rangka demikian, hanya bersenang-senang saja, maka seperti itu tidak dibolehkan karena termasuk dalam berserikat dengan mereka dalam hal yang mungkar dan malah menambah tersebar serta semakin meriahnya bid’ah mereka.

Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa aalihi wa shohbihi wa sallam

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah ditanya sebagai berikut:

Apakah boleh menghadiri perayaan-perayaan mereka (orang-orang kafir), misalnya hari-hari ulang tahun dan selainnya?

Jawab: “Tidak boleh! Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَالَّذِينَ لاَ يَشْهَدُونَ الزُّورَ

“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan kedustaan”.  [QS. Al-Furqan : 72]

Bahkan walaupun kaum muslimin sendiri, jika mereka mengadakan maulid atau merayakan malam 27 Rajab atau malam nishfusy sya’ban (pertengahan Sya’ban) atau hari raya Hijrah (Tahun Baru) atau hari kemerdekaan atau hari ibu atau hari pepohonan dan selainnya dari hari-hari raya jahiliyah, maka semua ini tidak boleh dihadiri”.  [Tuhfatul Mujib karya Syaikh Muqbil no. pertanyaan 42]

Diolah dari berbagai sumber.

30 comments
  1. Bismillahiwabihamdih, As.Wr.Wb ‘ Sebagai hamba Allah yang beriman ….janganlah saling hujjah sesama…Yanga tidak rayakan mulud/maulidan …silahkan …Jangan hancurkn Islam ini dengan faham-faham yang membingungkan….oke…

    Suka

    • Admin kebenaranhanya1 (thetruthonly1) said:

      Yang paling berhak diiuti adalah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.

      Suka

  2. Sirotalfauzi said:

    Bukannya hadis2 tersebut untuk siyah dan ahmadiyah ya?

    Suka

  3. Anonim said:

    ثمّ تمخّض الجبل فولد فأرا فاذا علم الوهّابيين محصور في حديث واحد “كل بدعة ضلالة

    Suka

  4. Anonim said:

    nur latifi norak gw orang NU aja mendukung wahabi karena ulama wahabi emang yahuud bukan kata ustad atau habib yang cuma turunan atau sok2 ngaku tetapi langsung dari sumbernya alquran dan assunnah

    Suka

  5. anti WAHABi said:

    Buat yg ngaku ahlussunnah wal jamaah…… tp WAHABI !! dalil quran/hadis yg dmuat semua benar. Tp pemahaman nt yg salah terlalu memaksakan kehendak nt alangkah dholimnya mengats namakan ayat/hadis yg bukan pd t4nya. NT anti bidah tp golongan NT juga buuuanyak skali mlakukn bid’ah, contoh dakwah via internet, radio,tv,ceramah pake spiker, & msh bnyk lg ketidak konsistenan NT ttg bidah. Kalo semua bid’ah itu sesat ? cara NT berdakwah itu jg sesat !!

    Suka

  6. Musliem said:

    hmm… percuma berdebat dgn ahlul bid’ah, sebab pelaku bid’ah slalu merasa benar walau salah… mgkn mereka ga ngerti yg namanya dalil ato hadits.., coba kalian yg menyepelekan bid’ah, BELAJAR tuntut ilmu yg benar! jgn cuma bisanya mencaci tanpa ilmu,.

    Suka

  7. Anonim said:

    ambil gampangnya aja deh, yang ngomong bid’ah ttg maulid dll, dah hapal hadts berapa sih,? hapalnya cuma hadits tentang bid’ah xxxx ngaji dulu yang bener, kalau ngajinya ke guru wahabi ya,,,begitulah….

    Suka

    • abu abdirrohman said:

      Bismillah
      Yang ngomong bid’ahnya maulid, adlah ulama yang telah diketahui ketinggian ilmunya tentang agma islam, mulai ulama zaman dulu hingga zaman skrang. Masalah hafalan haditst, yang jelas para ulama tersebut lebih banyak hafalannya dan lebih paham daripada kita. Tentang definisi bid’ah, bukankah bid’ah itu brasal dari bahasa arob, dan para ulama yg berfatwa tentang bid’ahnya maulid nabi tersebut sehari-hari berbicara mnggunakn bhsa arob, dan lebih paham dg makna BID’AH yg DILARANG oleh rosul shollollohu’alaihi wasallam. Wabillahit taufiq

      Suka

  8. Anonim said:

    orang yang hanya suka menyalahkan atau mengatai orang bikin onar, biasanya kembali pada dirinya sendiri

    Suka

  9. allahhuakbar,…!!!

    Suka

  10. Pitung - Klender said:

    @Nur Latifi : ente pasti syi’ah khan? dari nama ente ajah dah jelas kalo ente punya nama Syiah…coba liat deh Latifi di wikipedia….
    ane mau tanye bung syiah…eh Latifi…
    1. pernah baca sejarah ato tariikh kagak? kalo pernah, coba cari deh riwayat ….pernah kagak Khalifah Abu Bakar ngerayain Muludan/ maulid ?
    2.pernah kagak Khalifah Umar Ibn Khatab ngerayain Muludan/ maulid
    3.pernah kagak Khalifah Ustmant Ibn Affan ngerayain Muludan/ maulid 4.pernah kagak Khalifah Ali Ibn Abu Tholib ngerayain Muludan/ maulid
    Mereka adalah umat-umat terbaik di dunia ini setelah Rasululloh shallallohi alaihi wa sallam….kalo ente nemuin riwayat mereka ngerayain Muludan …pasti ane ucapin selamat buat ente bahwa ente bener dan punya ilmu. Tapi kalo ente gak nemuin riwayat apapun …maka Tobatlah sebelum ajal menjemput ente…jangan lagi menyelisii Sunnah !!!

    Suka

  11. abu abdirrohman said:

    bismillah. alhamdulillahi ta’ala yang telah menciptakan segala sesuatunya dengan berpasang-pasangan. Alloh ta’ala berfirman:
    ”Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” Qs. yaasin:36
    dan firmanNya:”Yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi.” QS. azzukhruf :12
    dan firmanNya:”segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” QS. adz-dzariyat:49
    diantara ciptaan Alloh ta’ala yang berpasangan adalah sunnah dan bid’ah, ahlus sunnah dan ahlul bid’ah. sunnah lawannya adalah bid’ah, maka ahlus sunnah lawannya adalah ahlul bid’ah. saya yakin seluruh kaum muslimin ingin menjadi ahlus sunnah(terbukti setiap hizb atau kelompok2 islam mengaku sebagai ahlus sunnah) dan tidak ingin dikatakan sebagai ahlul bid’ah. dari sini kita sudah dapat menyimpulkan, bahwa sunnah identik dengan kebaikan, adapun bid’ah adalah sebaliknya. untuk itu setiap kita yang ingin menjadi ahlus sunnah, pelajarilah sunnah(yakni definisinya, dan amalan yang termasuk kedalamnya), jangan lupa pelajari apa itu bid’ah? amalan apa saja yang tergolong sbg bid’ah?. itulah pentingnya ilmu sebelum berkata dan beramal. karena jika kita hanya mempelajari sunnah tanpa mengetahui apa itu bid’ah, dikhawatirkan kita akan terjerumus kedalam bid’ah tsb. sedangkan rosullulloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    “…sesungguhnya setiap yang diada-adakan(dalam perkara agama islam)adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.” H.R. muslim
    sedangkan lawan dari sesat adalah selamat. rosul shallallahu’alaihi wasallam menganggap setiap bid’ah adalah sesat, maka keselamatan hanya ada pada sunnah beliau shallallahu’alaihi wasallam.
    jadi kami, yang yakin bahwa maulid itu adalah bid’ah, adalah karena kami mencukupkan diri dengan sunnah rosulillah shallallahu’alahi wasallam, dan berhati-hati dari segala sesuatu yang tidak ada dalam sunnah beliau shallallahu’alaihi wasallam.
    dan karena firman Robb yang telah mengutus beliau:
    “Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang
    dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (Al-Hasyr:7).
    Beliau shallallahu’alaihi wasallam telah memberikan kepada kita sunnah beliau, dan telah melarang kita dari perbuatan bid’ah(dalam agama).
    dan tak ada satupun dalil yang menunjukan rosululloh shallallahu’alaihi wasallam pernahn merayakan hari kelahiran beliau, begitupun para shohabat nabi(yang kita diperintahkan untuk mengikuti mereka). wabillahittaufiq

    Suka

  12. Nur Latifi said:

    Dasar wahabi…na’udzubillahi min dzaalik, coba tanya sama gurumu, Allah ada dimana?

    Suka

    • Pitung - Klender said:

      @Nur Latifi : Alloh ada di Langit…bersemayam di Arasy…
      ente pasti syi’ah khan? dari nama ente ajah dah jelas kalo ente punya nama Syiah…coba liat deh Latifi di wikipedia….
      ane mau tanye bung syiah…eh Latifi…
      1. pernah baca sejarah ato tariikh kagak? kalo pernah, coba cari deh riwayat ….pernah kagak Khalifah Abu Bakar ngerayain Muludan/ maulid ?
      2.pernah kagak Khalifah Umar Ibn Khatab ngerayain Muludan/ maulid
      3.pernah kagak Khalifah Ustmant Ibn Affan ngerayain Muludan/ maulid 4.pernah kagak Khalifah Ali Ibn Abu Tholib ngerayain Muludan/ maulid
      Mereka adalah umat-umat terbaik di dunia ini setelah Rasululloh shallallohi alaihi wa sallam….kalo ente nemuin riwayat mereka ngerayain Muludan …pasti ane ucapin selamat buat ente bahwa ente bener dan punya ilmu. Tapi kalo ente gak nemuin riwayat apapun …maka Tobatlah sebelum ajal menjemput ente…jangan lagi menyelisii Sunnah !!!

      Suka

  13. Nur Latifi said:

    WAH HEBAT…KALO NGOMONGIN DALIL BIAR SAMPE NGILER2 DIBELAIN, MAKLUM AJA PENDEKAR LULUSAN DARI “PADEPOKAN SILAT LIDAH” HE HE HE, WONG IKUT MAULID ITU NIKMAT KOK MALAH DIBILANG BID’AH…LUCU INI ORANG…

    Suka

  14. Elang said:

    Allah lah yang maha tau,bukan fatwa,bukan perdebatan,bukan pergunjingan,….kalian yang mengaku golongan ahlu sunnah wal jama’ah harusnya tidak bicara seperti ini,..ini termasuk dalam unsur SARA,.harusnya kalian para Habib,Syaikh mungkin,.mengikuti para aulia pendahulu kalian yang benar dan sakhi mengikuti rasul,..sama saja kalian termasuk kaum syi’ah,..apa kalian memang syaikh atau habib dari kaum syi’ah?????

    Suka

  15. Anonim said:

    betul.betul.betul ujar ipin&upin. .! hidup bid’ah hasanah .mukeloe yang dholalah.jangan cuman menggurui kerjanyata.sadar.sadar sadar bleh!

    Suka

  16. Misionaris memprediksi bahwa Islam akan bangkit di Asia Tenggara, khususnya Indonesia. . Dengan demikian, mereka (Misionaris, JIL) mencoba untuk memecah belah Umat Islam, di Indonesia, dengan cara apa? Ya, ini dia caranya… Qunut vs. gak Qunut, Tahlil vs. gak Tahlil, Maulid vs. GAM (Gerakan Anti Maulid), Bid’ah-bid’ah yang Dianggap Sunnah vs. Sunnah-sunnah yang Dianggap Bid’ah, dsb.
    Sebagai Umat Islam harus kita menyadari, kita sedang diadu domba, sedang dipecah belah… Marilah kita bersama-sama bergandeng tangan, berikan kontribusi positif untuk Islam, bukan sebatas kata-kata… Talk Less Do More for Islam…
    Alangkah baiknya, saat ini kita bergotong royong untuk bagaimana caranya agar Islam bisa berjaya, agar semua Umat Islam Bersatoe… Sambil menunggu datangnya Imam Mahdi (Muhammad bin Abdullah) yang akan mengembalikan kejayaan Islam…
    Let’s Do it…

    Suka

    • Admin kebenaranhanya1 (thetruthonly1) said:

      Baca juga https://kebenaranhanya1.wordpress.com/2011/05/13/syarat-diterimanya-ibadah/

      Suka

      • Nur Latifi said:

        Capek deeeeehhh…

        Suka

  17. noor ihsanudin said:

    Subhanalloh! Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wassalam berkata :” Kullu bid’atin dholalah’ kok banyak yang protes… katane cinta Rasul.. muji rasul .. harusnya ya… manut. dan menyadari kekurangan diri…. Baraokumullahu fikum

    Suka

    • Nur Latifi said:

      Hei bung, pelajari betul apa itu bid’ah pelajari bahasa arab dgn benar apa makna “kullu” berarti semua atau sebagian, kalo semua bid’ah itu pasti dolalah, gak usah ngomongin yg jauh2, celana dalam yg kita pake itu jg bid’ah, masak iya gara orang pake celana dalam dihukumi bid’ah dolalah dan masuk neraka? Pelajari yg bener!

      Suka

      • Sudar.S.S said:

        Kesalahan Umat Islam adalah merasa cukup dengan apa yang di pelajarinya saja dan merasa paling benar sesuai dengan hawa nafsunya. Sementara untuk memahami apa itu “BID’AH” pun tidak pernah belajar dan sangat sedikit ulama yang mau menjelaskan secara mendetail tetang bid’ah. Akibatnya kebanyakan umat Islam menganggap bahwa bid’ah itu adalah apa saja yang tidak ada pada jaman Nabi Muhammad SAW. seperti Jam dinding, kendaraan, peralatan rumah tangga mungkin juga teknologi yang berkembang saat ini. Padahal para Ulama telah menjelaskan secara gamblang, salah satunya adalah :
        yang dikatakan Bid’ah adalah masalah ibadah yang disyari’atkan. karena Hukum wal ibadah adalah haram sampai ada syari’at yang memerintahkan dari Al-Qur’an atau dari Al-Hadits,Contoh : Cara sholat, berdo’a, cara berdzikir, bershalawat, dll .Tetapi masalah dunia itu semua mubah sampai ada larangannya . Contoh pakaian yang membuka aurat. Maka oleh sebab itu akhi wa ukhti. untuk mementukan apa itu bid’ah atau bukan harus digolongkan terlebih dahulu masalah ibadah atau masalah dunia. bila sudah bisa dikategorikan, barulah bisa ditentukan. apakah perara tersebut ‘BID’AH atau TIDAK’

        semoga mafhum

        Suka

  18. Anonim said:

    ketimbang ngomongin bid’ah lebih baik belajar dzikir…

    Suka

  19. @Umar :
    “Barangsiapa yang beramal dengan amalan yang tiada untuknya perintah (contoh) dari kami, maka amalan tersebut TERTOLAK”

    H.R. Muslim

    Hadits inilah yang menjadi dasar pokok bagi mereka. Dan yang dimaksud dengan bid’ah itu adalah berhubungan dengan ibadah, bukan seperti “muke lo” yang merupakan muamalah. Jangan cuman tertawa aja! Buktiin kalo antum memang lebih benar daripada ulama2 tersebut.

    Suka

    • Nur Latifi said:

      Sekarang coba ente keluarin hadits tentang perintah dari Rosululloh SAW agar al-qur’an ditulis. Ayo keluarin dalilnya!

      Suka

  20. Umar said:

    Hahaha…. Salafi banget…. memang semuanya bid’ah termasuk muke lo juga bid’ah karena jaman nabi dan salafuss shalih ndak pernah ada… adanya cuman jaman sekarang… hahaha

    Suka

    • Nur Latifi said:

      Bukan salafu shalih bung, yang bener wahabi salafi tukang bikin onar…

      Suka

      • Sudar.S.S said:

        Astagfirullah. masak sesama muslim kok saling hujat.
        pernah baca qur’an daaak. kalo pernah baca. pahami ndak perlu ribut, hehehehehehe

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: