Mengenal Utsman Assalimy

Penjelasan Terperinci

Tentang Utsman As Salimi

Dan Bantahan Terhadap Syubuhat Si Utmi

Tentang Markiz Ibu di Fuyusy Al Hizbi

   

Ditulis Oleh Asy Syaikh Al Fadhil:

Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al Amudiy

Al Hadhromiy Al Adaniy

-semoga Alloh menjaga beliau-

 

Diterjemahkan Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo

-semoga Alloh memaafkannya-

di Yaman

 

Judul Asli:

“Al Bayan Li Sui Halis Salimiy ‘Utsman

Wa Firoqi Tilkal Umm Bi Sababi Ma Shona’athu Minal Fusuq Wal ‘Ishyan”

Judul Terjemah Bebas:

“Penjelasan Terperinci Tentang Utsman As Salimi

Dan Bantahan Terhadap Syubuhat Si Utmi

Tentang Markiz Ibu di Fuyusy Al Hizbi”

 

Ditulis Oleh Asy Syaikh Al Fadhil:

Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al Amudiy

Al Hadhromiy Al Adaniy

-semoga Alloh menjaga beliau-

 

Diterjemahkan Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo

-semoga Alloh memaafkannya-

di Yaman

 

Pengantar Penerjemah

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وآله وسلم، أما بعد:

            Sesungguhnya sebagian ikhwah yang mulia dan punya kecemburuan terhadap agamanya menyebutkan bahwasanya Utsman As Salimiy dan Abdulloh Al Mar’iy sedang berceramaah di beberapa tempat di Indonesia. Saudara kita yang mulia tersebut menanyakan pada saya tentang jarh terperinci tentang Utsman As Salimiy.

            Sebenarnya cukuplah bahwasanya Utsman As Salimiy itu menentang hujjah-hujjah ahlul haq tentang kebatilan Mar’iyyun, tanpa sanggup adu hujjah. Bahkan dirinya menjadi pembela dan pendukung para ahli ahwa tersebut.

Al Imam Ash Shon’aniy رحمه الله : “Adapun orang bersikeras di dalam kesalahannya setelah ada penjelasan, maka datang riwayat dari Ibnul Mubarok dan Ahmad Bin Hanbal dan Al Humaidiy dan yang lainnya, maka riwayatnya jatuh dan tidak ditulis, dikarenakan sikap bandelnya di atas kesalahannya tadi membatalkan kepercayaan terhadap perkataannya.  –sampai pada ucapan beliau:- Ibnu Hibban berkata: “Sesungguhnya barangsiapa telah jelas bagi dirinya kesalahannya dan tahu kesalahannya itu tapi tak mau rujuk darinya, dan malah terus-terusan demikian maka dia adalah pendusta dengan ilmu yang shohih.” At Taj At Tibriziy berkata: “Dikarenakan orang yang membangkang itu bagaikan orang yang meremehkan hadits dengan cara melariskan perkataannya dengan kebatilan. Adapun jika pembangkangannya itu karena kebodohannya maka dia lebih pantas untuk jatuh karena dia menggabungkan kepada kebodohannya tadi pengingkarannya terhadap kebenaran.” (“Taudhihul Afkar”/2/hal. 258).

            Bahkan sekalipun si Salimiy itu adalah seorang syaikh dari Ahlussunnah, tapi dia memenuhi undangan para ahli ahwa, maka telah datang nasihat yang benar dari syaikh dia, yaitu Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله untuk jangan menghadiri majelis tersebut.

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata tentang karakter Ikhwanul Muslimin: “… maka mereka berjumpa denganku dan berkata kepadaku: Janganlah Anda menyangka bahwasanya si fulan itu termasuk dari kami, kami mengambilnya hanyalah demi agar kami bisa mengumpulkan orang-orang.” (“Ghorotul Asyrithoh”/1/hal. 542/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله : “Adapun masalah ta’awun (baku tolong) dengan mereka, maka aku menasihati Ahlussunnah untuk memohon pertolongan pada Alloh dan menegakkan kewajiban mereka. kita mengajak orang kapada Alloh. Dan kenyataannya: kita itu tidak sanggup untuk saling bantu dengan sesama saudara kita Ahlussunnah di Yaman, di Sudan, di Haromain, di Najd, Mesir dan di Yordan. Maka kenapa kita pergi dan baku tolong dengan orang-orang yang menganggap Ahlussunnah itu musuh terbesar? Maka jika engkau pergi (dengan mereka) maka itu adalah dalam rangka mereka membidik para pemuda sepeninggalmu. Engkau menyampaikan ceramah, lalu mereka mengambil para pemuda sepeninggalmu.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 11/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

            Manakala sebagian ikhwah minta penjelasan yang lebih rinci tentang Utsman As Salimiy, maka dengan mengucapkan nama Alloh dan memohon pertolongan-Nya saya akan penuhi permintaan tersebut dengan menerjemah risalah Asy Syaikh Al Fadhil Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al ‘Amudiy Al Hadhromiy Al Adaniy حفظه الله , yang beliau tulis sekitar dua tahun yang lalu. Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih mengenal karakter dan penyimpangan orang tadi, dan lebih berhati-hati dalam memilih pengajar.

            Adapun untuk Abdulloh Al Mar’i, maka saya telah menjelaskan panjang lebar buruknya orang itu dalam kandungan risalah “Apel Manalagi Buat Cak Malangi: Mengingat Kembali Kebusukan Abdul Ghofur Al Malangi.”

            Semoga Alloh melimpahkan taufiq-Nya kepada kita semua.

بسم الله الرحمن الرحيم

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهدي الله فهو المهتدي، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلوات الله وسلامه عليه وعلى آله وصحبه وأتباعه وأنصاره إلى يوم الدين، أما بعد:

            Maka sesungguhnya termasuk dari apa yang Alloh karuniakan kepada dakwah yang suci, bersih dan jernih ini adalah: Alloh menjadikannya diistimewakan dari seluruh dakwah-dakwah yang lain, terpisah dari seluruh kesesatan dan hizb-hizb (partai/kelompok).

            Yang demikian itu adalah karunia dari Alloh yang Dia berikan kepada yang dikehendaki-Nya dan dikhususkan dengannya siapa yang dikehendaki-Nya, dan Alloh Maha Memiliki karunia yang besar. Alloh ta’ala berfirman:

{وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا } [الإسراء: 20]

“Dan tidaklah karunia Robbmu itu terlarang.”

Dan berfirman:

وما بكم من نعمة فمن الله. ]النحل: 53[

“Dan kenikmatan apapun yang ada pada kalian, maka itu adalah dari Alloh.”

            Dan termasuk dari akibat dari fitnah yang dahsyat ini adalah bahwasanya dia itu menjadi sebab terfitnah orang-orang yang Alloh kehendaki untuk tertimpa fitnah, dari kalangan orang-orang yang punya hati yang sakit. Yang demikian itu adalah dikarenakan fitnah itu datang dalam bentuk setan dan pergi juga dalam bentuk setan, sehingga hampir-hampir fitnah itu tidaklah melewati hati yang sakit yang terfitnah dengan syubhat atau syahwat atau tergoda oleh keduanya, kecuali hatinya itu condong kepadanya, tergila-gila kepadanya dan melamarnya, sampai akhirnya fitnah tadi menguasai akal-akal mereka dan masuk ke dalam relung hati mereka. Sampai manakala kecintaan kepada fitnah tadi telah mencengkeram di dalam hati mereka, dan meresap ke dalamnya, jadilah hati tadi di belakang fitnah tadi bagaikan orang-orang gila atau orang-orang yang tersihir.

            Dan termasuk dari kayu bakar fitnah ini dan dipatahkan oleh fitnah ini, setelah sebelumnya dia menampakkan sikap rujuk dari Baroatudz Dzimmah Firqoh Hasaniyyah Hizbiyyah (sekte penanda tangan dukungan Untuk Abul Hasan Al Mishriy) yang menggelembung seperti luka bengkak, yang telantar (tidak mendapatkan taufiq) bagaikan mimpi adalah pemuda yang bernama “Utsman kecil bin Abdulloh Al ‘Utmiy”, salah satu pelamar fitnah ini dan yang tergila-gila dengannya. Dia berkata –dan alangkah jeleknya ucapannya- dengan perkataan yang batil dan banyak salahnya yang hina dan tidak ada harganya: “Dammaj itu adalah ayah, sedangkan Fuyusy itu adalah ibu.”

            Ucapan tersebut ada di tempat kumpulan hizbiyyah yang baru tersebut, di klub Fuyusy, tempat menetap Hizb Tajammu’ Al Fuyusiy untuk pengelompokan, perusakan, pengadu dombaan, pembentukan pekerja dan konsentrasi mencari keduniaan.

            Engkau telah rugi wahai Utsman kecil, pada hari di mana engkau menjadikan kepala itu jadi ekor, dan ekor itu jadi kepala.

            Engkau telah mendatangkan kedustaan besar wahai Utsman kecil. Jika ucapan ini datang darimu, maka tidaklah diterima. Dan tidaklah menerima ucapan itu kecuali orang yang membikin bodoh dirinya sendiri. Akan tetapi sebagai bentuk mengalah padamu, aku katakana padamu: “Si ibu ini kondisinya buruk, dan kehidupannya buruk, dia lari dari kebaikan dan merasa asing darinya, pertimbangannya menjadi cacat, akal si ibu ini bertambah lemah, agamanya semakin rapuh, dia tidak lagi senang tinggal di rumahnya yang menjadi tempat kemuliaannya dan tidak lagi senang menyertai suami yang menjaga kehormatan.”

            Dan termasuk dari orang yang hina jiwanya sehingga menjadi ekor bagi para pelaris fitnah ini dan masuk dalam perkara yang tidak penting bagi dirinya, dan memancangkan dirinya sebagai pembela bagi orang-orang yang terfitnah, menjadi hizbiyyin dan zholim terhadap dakwah dan syaikh dakwah ini di tengah-tengah markiz dakwah ini adalah:

UTSMAN BIN ABDILLAH AL ‘UTMIY AS SALIMIY

yang sekarang ini tinggal di masjid As Salaf di kota Dzammar, di desa Jabal Harron.

            Orang ini dulu termasuk dari murid Al Allamah Al Wadi’iy. Dan di awal perkaranya di atas kebaikan dan ketenangan. Dia berpindah di masa hidup Asy Syaikh Muqbil رحمه الله ke desanya dan dibukakan untuknya markiz di wilayah Al Jum’ah di negri ‘Utmah. Dia tinggal di situ di suatu selang waktu, dan dengannya Alloh memberikan manfaat pada penduduk negrinya ketika itu.

Akan tetapi tempat tersebut ada di wilayah pegunungan, jalannya terjal. Dia sering tinggal di situ beberapa hari, lalu keluar untuk dakwah. Dan dia memperbanyak keluar sehingga membikin susah para murid. Dan kebanyakan dari mereka pergi ke Ma’bar karena dekat dengan mereka. Dan sebagian dari mereka pergi ke Dammaj. Manakala dia melihat markiznya mengalami kemunduran, mulailah dia melongok-longok ke tempat yang lebih baik. Dan keadaan ekonomi dia susah.

Maka sebagian orang mengisyaratkan padanya untuk pergi ke Ma’rib ke Abul Hasan agar memberikan padanya jaminan keuangan dan tunjangan bulanan. Maka pergilah dia ke sana. Dan aku termasuk yang menyertainya dalam perjalanan dia bersama akh Muhammad Al Hanasy dan akh Abdulloh bin Ghonim Al Mushonnif dan sebagian ikhwan yang lain di dalam mobil Muhammad Al Hanasy. Ketika kami sampai di Ma’rib, dia duduk dengan Abul Hasan dan akh Abdulloh bin Ghonim. Dan aku tidak tahu apa yang berlangsung di dalam majelis itu, karena majelis itu di dalam rumah Abul Hasan. Kemudian kami kembali ke Shon’a pada hari yang kedua.

Dan mereka pergi ke seseorang yang namanya Yahya yang bekerja bersama Muassasah Al Haromain, tinggal dekat dengan Masjid Ad Dakwah yang di dalamnya ada Abdul Majid Ar Roimiy, dan aku tidak tahu apa yang berlangsung di antara mereka.

Dan manakala berlangsung fitnah Abul Hasan Al Mishriy, Utsman As Salimiy termasuk penolong pertama bagi dirinya dan yang terdaftar dalam Baroatudz Dzimmah. Dan keadaan dia seperti ucapan Syaikh kami Yahya حفظه الله : “Dia tak punya bashiroh (pandangan yang tajam) tentang fitnah-fitnah, dia itu hanyalah pembebek terhadap para masyayikh.”

Dan termasuk perkara yang menguatkan perkataan Syaikh kami Yahya حفظه الله adalah bahwasanya dia pernah pada suatu ketika datang ke Ma’bar di permulaan fitnah Abul Hasan, dan ketika itu Asy Syaikh Muhammad Al Imam membela Abul hasan dan berkata tentangnya: “Abul Hasan adalah imam”, dan berkata: “Semoga Alloh memperbanyak orang-orang semisal beliau.” Maka Utsman As Salimiy membikin ceramah yang di dalamnya sindiran dan tusukan terhadap orang-orang yang mengkritik Abul Hasan dan juga penghinaan terhadap mereka, juga dorongan untuk mengikuti Abul Hasan, membelanya. Termasuk dari ucapan As Salimiy adalah: “Janganlah kalian pergi dan mengumpulkan kesalahan-kesalahan ulama, kenalilah kadar diri kalian sendiri.” Dan dia menggambarkan bahwasanya bantahan pada penyelisih kebenaran itu sebagai jalan yang baru dalam dakwah Ahlussunnah. Dia membebek Muhammad Al Imam dalam masalah itu.

Dan yang menjerumuskan dirinya ke dalam fitnah Abul Hasan adalah perkara-perkara yang Alloh yang paling mengetahuinya, dan di antaranya adalah jaminan tunjangan dari Abul Hasan.

Dan manakala para masyayikh rujuk dari sikap pembelaan mereka untuk Abul Hasan, datanglah dia ke Ma’bar dan menyampaikan ceramah yang bersifat global seputar fitnah, dan mendorong para pelajar untuk bersama Muhammad Al Imam, dan mengambil ucapannya di dalam fitnah. Maka semoga Alloh memerangi hawa nafsu, bagaimana dia menjadikan pengikutnya berbolak-balik khususnya bersama perasaan dan maslahat keduniaan.

Dan bersamaan dengan dirinya menampakkan rujuk dari fitnah Abul Hasan, dia itu tidak ridho pada Syaikh kami Yahya حفظه الله dan saudara-saudara beliau dalam thoriqoh dalam membantah Abul Hasan, bahkan dia sering menampakkan penyelisihan dan tidak ridho dengan perkataan Asy Syaikh Yahya, dan menggambarkan bahwasanya pada diri beliau itu ada kekerasan.

Bahkan saudara kita yang mulia Abdulloh bin Ghonim Al Mushonnif –yang banyak menyertai Utsman As Salimiy- ketika di Utmah, mengabariku: “Asy Syaikh Utsman tidak senang dengan Asy Syaikh Yahya sejak dulu.” Ini dikarenakan pemegangan Utsman As Salimiy terhadap thoriqoh Salaf رضوان الله عليهم rapuh.

Dan termasuk yang memperkuat ucapan tadi adalah bahwasanya setelah usai fitnah Abul Hasan, Utsman As Salimiy dan Abdulloh Al Mushonnif masuk menemui satu orang di kerajaan Saudiy, sebagaimana Al Mushonnif mengabariku dengan itu, dan si orang tadi sangat fanatik dengan Abul Hasan dan mencerca Asy Syaikh Yahya. Akh Al Mushonnif berkata: “Dadaku menjadi sesak dengan ucapan orang tadi dan aku keluar dari kamar itu, sementara As Salimiy diam saja dan menyatu dengan orang itu dalam pembicaraan mereka.”

Dia juga mengabariku bahwasanya para murid As Salimiy menjelek-jelekkan Asy Syaikh Yahya di fitnah yang terakhir ini di hadapan As Salimiy, sementara dia tidak mengingkarinya dan tidak menghardik seorangpun dari mereka.

Bahkan saudara kita Abdurrohman Al Qo’waniy yang dari Jihron, di Ma’bar di toko akh Asy Syarihiy, mengabariku bahwasanya As Salimiy berkata: “Orang yang fanatik untuk Al Hajuriy silakan keluar dari tempatku.” Tanggung jawab berita ini ada di pundak dia.

Dan pada fitnah Abdurrohman Al Adaniy jadilah Utsman As Salimiy menjadi pembalas dendam untuk dia dengan kerasnya, dan berjalan di dalam fitnah itu tanpa bashiroh, dan memasukkan dirinya ke dalam pertemuan-pertemuan para masyayikh, dan membubuhkan tanda tangan bersama para penanda tangan, menyambut orang-orang yang turun di tempat dia dari kalangan orang-orang yang terfitnah, menaungi mereka dan memberikan bantuan pada mereka. Dalam masalah itu di membebek pada Asy Syaikh Muhammad Al Imam هداه الله.

Dan termasuk maftunun yang paling keras ketersia-siannya dan kebodohannya serta kedustaannya adalah Hamud bin Mas’ad Al Khorrom Adz Dzammariy, yang terkadang menyertai Utsman As Salimiy dan menemaninya berkeliling, dan Utsman menilainya sebagai teman khususnya dan teman bermusyawarahnya, padahal orang itu adalah sangat bodoh dan pecinta dunia, meninggalkan rumah dua tingkat yang di Darul Hadits di Dammaj, dan pergi mengobarkan fitnah di Dzammar, dan dia mendapatkan tempat bernaung di markiz As Salimiy yang telantar itu. Dan burung-burung itu hinggap pada yang sejenis dengannya.

Dan As Salimiy juga menaungi orang-orang terfitnah yang lain seperti Hasan bin Nur, Nabil Al ‘Ammariy, Abbas Al Jaunah, Naji An Naqib Al Yafi’iy dan yang sejenis dengan mereka. Dan mereka itu tidaklah datang untuk mengambil ilmu dari As Salimiy, karena mereka itu telah meninggalkan ilmu dan markiz ilmu, akan tetapi Si Salimiy manakala terjatuh ke dalam fitnah dan terdukung dengan harta, maka merekapun menjadikan masjid dia sebagai tempat bernaung dan tinggalnya pemikiran mereka, dan jadilah markiz dia dan beberapa markiz yang lain dibandingkan dengan Dammaj bagaikan orang-orang Haruro berhadapan dengan para Shohabat رضي الله عنهم, dan jadilah markiznya itu tempat bernaung bagi orang-orang yang terfitnah dalam Dakwah Salafiyyah, seperti markiz Ma’bar dan lebih keras lagi.

Dan orang ini –yakni As Salimiy- bersamaan dengan seringnya dia membanggakan dirinya sebagai murid Al Imam Al Wadi’iy yang ‘afif (menjaga kehormatan dari perkara-perkara yang hina- , hanya saja dia itu menyelisihi thoriqoh Al Imam Al Wadi’iy secara khususnya dalam bab ‘iffah terhadap harta orang dan penghinaan diri di hadapan para hartawan. Dia ketika masih di Utmah mengutus saudaranya (Muhyiddin) di Romadhon ke Saudi berumroh lalu mengumpulkan uang dan bantuan-bantuan untuk markiz, dan jika dia sendiri berangkat haji atau umroh dia tinggal sementara di sana berpindah-pindah dari pedagang yang satu ke pedagang yang lain sebagaimana bersaksi tentang itu orang yang menyertainya dan mengetahui sebagian keadaannya.

Si Salimiy seandainya mendapatkan taufiq niscaya tetap tinggal di negrinya mengajar dan mendakwahi orang ke jalan Alloh, karena negrinya itu negri yang menerima dakwah Ahlussunnah Wal Jama’ah, dan penduduknya menyukai kebaikan, dan di situ ada para pelajar yang mulia. Akan tetapi si Salimiy di akhir-akhir menyukai kemewahan yang dicurahkan oleh sebagian pedagang. Ini dari satu sisi, dan dari sisi lain dia suka keterkenalan. Dan pada hakikatnya perkara inilah yang merasuki ratusan orang yang terfitnah oleh fitnah-fitnah terdahulu sehingga dakwah mereka hilang. Maka jauh sekali wahai Salimiy jika engkau tak bisa mengambil pelajaran dari kondisi mereka, karena kami melihat engkau menjadi lebih bersemangat mencari tempat yang lebih mewah, bukannya tempat yang lebih bermanfaat.

            Maka As Salimiy pernah dijanjikan untuk didirikan untuknya markiz di desa Waroqoh, salah satu desa di wilayah ‘Ans, lalu dia didahului oleh ke tempat itu oleh Sholih Al Faqir, salah satu pengikut Abul Hasan. Dan dia didatangi oleh penduduk Baidho, dan mereka berupaya agar dia mau keluar ke tempat mereka, tapi dia tidak mau. Manakala dia diundang ke Dzammar –semoga Alloh memaafkan orang yang mengundangnya- maka dia langsung berangkat dengan cepat, padahal dia tahu bahwasanya di sana sudah ada Asy Syaikh Abdurrozzaq An Nahmiy, Asy Syaikh Abdulloh bin Utsman, Asy Syaikh Sholah Al ‘Imad, Asy Syaikh Abdul Ghoni Al Umariy dan yang lainnya. Manakala dia tahu bahwasanya tempat tersebut telah siap dan didukung oleh seorang pedagang, bergegaslah dia menuju tempat itu karena suatu kebutuhan yang ada di hati si Utsman.

            Orang ini pada hakikatnya lemah, mudah dipengaruhi oleh sebagian teman duduknya. Yang mengherankan, dia itu menjadi rajin dalam fitnah-fitnah. Dan aku sampai sekarang tidak tahu dia punya suatu bantahan terhadap ahli bida’ wal ahwa, para pengikut jam’iyyat dan hizbiyyat meskipun berupa risalah kecil dalam membela kebenaran dan menolak kebatilan, dan bagaimana dia bisa berbuat itu sementara dia setiap kali datang fitnah boro-boro bisa selamat?

            Dan termasuk yang menjelaskan kelemahannya dalam mengetahui manhaj salafiy apa yang ditulisnya dalam kata pengantar kitab “Al Ibanah” karya Asy Syaikh Al Imam yang mana dia berkata: “… maka aku mendapatinya sebagai kitab yang sangat bermanfaat , bahkan di dalamnya ada faidah-faidah yang perlu didapatkan dengan pergi jauh dengan pasti. Di dalamnya beliau menyebutkan kaidah-kaidah dari para ulama dan kriteria-kriteria yang bagus yang menetapkan manhaj salaf dalam jarh wat ta’dil dan kriteria-kriteria hajer (pemboikotan)… dst.”

            Maka aku katakan: Wahai Salimiy, bertaqwalah pada Alloh dalam dirimu sendiri, bagaimana engkau menjadikan kaidah-kaidah kholafiyyah (lawan dari Salafiyyah) yang ditetapkan oleh Abul Hasan dan ahli ahwa yang lainnya sebagai kaidah-kaidah Salaf? Sungguh engkau telah menzholimi Salafush Sholih karena engkau menisbatkan pada mereka perkara yang bukan dari manhaj mereka. Perkara terbaik yang bisa dipakai untuk memberi udzur di sini adalah bahwasanya engkau tidak menampilkan dan tidak mendatangkannya maka engkau tidak berbicara dengan memikirkannya lebih dulu ataupun dengan dasar yang benar, hanyalah engkau di atas anggaran dasar Ghoziyyah (taqlid pada suatu kelompok).

            Kemudian aku berkata padamu dan kepada orang yang terpedaya dengan perkataanmu: bukankah Asy Syaikh Al Imam mengakui bahwasanya di dalam kitabnya itu ada kebenaran, dan dia mengupayakan untuk memperbaikinya? Dan ini adalah setelah dicetaknya kitab itu dan setelah kata pengantar kata pengantar tadi, yang mana pengantar tadi adalah hasil dari perasaan. Maka rujuknya Asy Syaikh Al Imam dari kesalahan-kesalahannya setelah kata pengantar tadi merupakan penjelasan tentang bodohnya kalian dan tidak mendalamnya kalian dalam ilmu dan pengenalan terhadap manhaj Salafush Sholih.

            Dan lihatlah orang yang Alloh sinari mata hatinya dan mengetahui –setelah taufiq dari Alloh untuknya- dengan kekuatan ilmiyyahnya dan pemurniannya untuk mengikuti kebenaran dan menjauhi anggaran dasar Ghoziyyah dan tidak takut di jalan Alloh celaan orang yang mencela, syaikh kami An Nashihul Amin Yahya  -semoga Alloh menjaga beliau dan meluruskan beliau-, bagaimana beliau mengingkari apa yang ada di dalam kitab “Al Ibanah” yang berupa prinsip-prinsip yang menyelisihi manhaj Salafush Sholih. Sejak awal kitab itu diletakkan di tangan beliau dan menjelaskan apa yang ada di dalamnya dengan perkataan ilmiyyah yang ringkas dalam buklet dengan judul “Mujmalut Taqwim Wash Shiyanah”. Dan seperti itu pula saudara-saudara beliau dan murid-murid beliau yang terkemuka seperti akh Sa’id Da’as dalam kitab beliau “Tanzihus Salafiyyah” dan akh Yusuf Al Jazairiy dalam kitab beliau “Mishbahuzh Zholam”.

            Maka wahai Ahlussunnah dari kalangan massyayikh dan pelajar Darul Hadits di Dammaj, alangkah pintarnya Anda semua, maka harapkanlah pahala di dalam menjaga benteng sunnah. Dan di sisi Alloh sajalah pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.

            Dan aku mengatakan ini dengan kebenaran: seandainya Alloh Yang Mahasuci tidak memberikan karunia kepada dakwah ini dengan Asy Syaikh Yahya sepeninggal Al ‘Allamah Al Wadi’iy رحمه الله bisa jadi ada dua kelompok yang mempermainkan dakwah ini, yaitu: para pendendam dan orang-orang yang dibikin lalai, mereka orang-orang yang mempermainkan dakwah. Dan juga niscaya akan tersamarkan bagi manusia kesamaran yang mereka lakukan. Maka hanya milik Alloh sajalah pujian dan karunia.

            Dan kebenaran ini lebih berhak untuk diikuti tanpa mengedepankan perasaan dan metode muwazanah (menimbang kebaikan dan kejelekan untuk melindungi pelaku penyimpangan), karena dengungan ini telah bercokol di kalangan sebagian orang. Mereka berkata: “Bagaimana kalian mengkritik si fulan, padahal dia itu mengajak ke jalan Alloh عز وجل , sholat, puasa, sholat malam, dan menangis jika membaca Al Qur’an?”

            Wahai Ahlussunnah, masalahnya adalah: kebenaran itu harus ditolong, dan kebatilan itu harus ditelantarkan.

            Kemudian perasaan-perasaan yang berhadapan dengan kebenaran ini tidak ada di kalangan Salafush Sholih عليهم رحمة الله.

            Ini dia Aban bin Abi ‘Ayyasy, Ibnu Hibban berkata tentangnya: “Aban termasuk dari kalangan ahli ibadah yang begadang di malam hari dengan sholat, dan melipat siang dengan puasa, …” Akan tetapi dia itu lemah dalam masalah hadits. Bersamaan dengan ini Syu’bah mengkritiknya, sebagaimana dalam biografi Aban di “Mizan”: “Aku lebih suka untuk meminum kencing keledai sampai hilang hausku daripada aku mengatakan: haddatsana Aban bin Abi ‘Ayyasy.”

            Dan Adz Dzahabiy juga menyebutkan atsar dari Hammad bin Zaid yang berkata: “Kami mengajak bicara Syu’bah agar menahan kritikan terhadap Aban bin Abi ‘Ayyasy, karena usia tuanya dan karena keluarganya, maka beliau menjamin untuk melakukan itu. Lalu kami berkumpul di suatu jenazah, maka Syu’bah menyeru dari kejauhan: “Wahai Abu Isma’il, saya telah rujuk dari jaminan tadi, menahan kritikan dari dirinya itu tidak halal, karena perkara ini adalah agama.”

            Dan ini Abdulloh bin Muharror, Ibnu Hibban berkata tentangnya: “Abdulloh ini adalah termasuk para hamba Alloh yang terbaik, akan tetapi dia berdusta dan tidak tahu, dia membalik berita dan tidak memahami, …”

Abdulloh Ibnul Mubarok berkata,”Andaikata aku diberi pilihan antara masuk ke dalam jannah ataukah berjumpa dengan Abdulloh bin Muharror, niscaya aku akan memilih untuk berjumpa dengannya baru kemudian aku masuk Jannah. Ketika aku melihatnya ternyata kotoran hewan lebih aku sukai daripadanya.”

Dan contoh-contoh tentang ini itu banyak. Kemudian yang mengherankan adalah orang yang menisbatkan diri pada Ahli Hadits dalam keadaan dia bodoh terhadap thoriqoh mereka, pembelaan mereka, dan jihad mereka terhadap ahlil ahwa wal bida’.

Kemudian aku mengulangi lagi: bagaimana halal bagi si Salimiy dan yang semisal dengannya untuk menisbatkan thoriqoh mereka kepada thoriqoh Asy Syaikh Muqbil رحمه الله , dan bahwasanya beliau itu demikian dan demikian?

Dan dalam pola pujian pada Asy Syaikh Muqbil رحمه الله itu mereka menyindir untuk mencerca Asy Syaikh Yahya حفظه الله dan bahwasanya beliau itu menyelisihi Asy Syaikh Muqbil رحمه الله dalam metode jarh wat ta’dil, sementara mereka sendiri tidak menempuh jalan para imam yang terdahulu ataupun juga jalan Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله setelah para imam tadi, dalam masalah nasihat, kritikan pada para tokoh, di atas cahaya dalil-dalil dan bukti-bukti.

Lihatlah sebagai contoh: “Al Mushoro’ah”, “Ghorotul Asyrithoh”, “Fadhoih Wa Nashoih”, “Iskatul Kalbil ‘Awi”, “Al Burkan”, “Riyadhul Jannah”, “Sho’qotul Zilzal”, dan kitab-kitab dan risalah-risalah yang lainnya.

Bahkan Asy Syaikh Muqbil رحمه الله berkata bahwasanya mayoritas kitab-kitab beliau adalah bantahan-bantahan.

Dan bacalah wahai kaum, apa yang dikumpulkan oleh Salim Al Khoukhiy yang terfitnah dengan hizbiyyah yang baru, bersama beberapa saudaranya dalam kitab: ”I’lamul Ajyal Bi Kalamil Imamil Wadi’iy Fil Firoq Wal Kutub War Rijal.” Dan diberi kata pengantar oleh sejumlah masyayikh: Asy Syaikh Yahya, Al Wushobiy, Al Imam, adz Dzammariy, Al Buro’iy dan Ash Shoumaliy.

Maka di manakah perbandingan antara serangan syaikh kalian Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله terhadap para penyeleweng, dan pujian kalian kepada beliau itu, dibandingkan dengan dinginnya kalian sekarang ini bersama dengan orang-orang yang membikin fitnah terhadap sunnah dan Ahlussunnah? Bandingkanlah, niscaya kalian akan tergoncang dan tahulah kalian akan sabarnya Asy Syaikh Yahya untuk menegakkan kewajiban ini. Dan semoga hal itu memberikan faidah pada kalian untuk mengetahui keutamaan pemilik keutamaan.

Asy Syaikh Adz Dzammariy berkata dalam kata pengantar beliau: “Dan seandainya kita membandingkan ucapan Asy Syaikh (Muqbil) dengan ucapan Salaf tentang orang-orang semisal mereka (para penyeleweng itu) niscaya kita dapati bahwa ucapan Salaf bisa jadi lebih keras, …”

Dan aku katakan: “Dan seandainya kita membandingkan ucapan Asy Syaikh Yahya حفظه الله dengan ucapan Asy Syaikh Muqbil رحمه الله terhadap ahli ahwa niscaya kita dapati bahwa ucapan Asy Syaikh Muqbil رحمه الله itu lebih keras.”

Maka kenapa mereka itu mengingkari apa yang dijalani oleh syaikh mereka dan baku tolong dengan setiap orang yang membikin fitnah dalam dakwah beliau, dan membikin kekacauan di markiz beliau, dan mencerca pengganti beliau, dan mereka menancapkan diri mereka sebagai pelindung dan pembela para tukang fitnah tadi? Yang wajib bagi mereka adalah menasihat orang-orang tadi untuk bertobat dan menekuni adab kepada syaikh mereka dan untuk menghormati kebenaran dan sunnah serta kebaikan yang mereka terdidik di dalamnya.

Inilah yang Alloh mudahkan bagi saya untuk menasihati si Salimiy هداه الله dan untuk orang yang semoga Alloh memberinya manfaat dengan nasihat ini.

Dan saya tidak menyebutkan secara keseluruhan dari apa yang ada pada orang tadi, karena maksudku pertama adalah nasihat, lalu yang kedua adalah penjelasan secara singkat.

{وَاللَّهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَعْنَتَكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ } [البقرة: 220]

“Dan Alloh mengetahui orang yang membikin kerusakan dari orang yang membikin perbaikan. Dan jika Alloh mengehendaki niscaya Dia bisa menyusahkan kalian. Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha penuh hikmah.”

            Dan aku tidak menyebutkan di sini kecuali sebagian dari apa yang nampak dari keadaannya. Dan hukum berdasarkan lahiriyyah itu adalah perkara yang sangat mendasar sebagaimana dalam “Shohihul Bukhoriy” dari Umar رضي الله عنه.

            Ini adalah kerja keras dari orang yang sederhana, jika aku telah berbuat baik, maka itu adalah dari Alloh Yang Maha memberi karunia. Tapi jika aku berbuat jelek, maka itu adalah dari diriku sendiri dan dari setan. Dan Alloh dan Rosul-Nya berlepas diri dari itu. Dan cukuplah Alloh sebagai penolongku, dan Dialah sebaik-baik Yang mengurusi. Dan tiada upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.

(selesai penerjemahan, pada tanggal 28 Jumadats Tsaniyah 1434 H).

BANTAHAN KAEDAH DZULQORNAIN Al-Makassary -hadahulloh-

BANTAHAN KAEDAH DZULQORNAIN Al-Makassary -hadahulloh-

BANTAHAN KAEDAH DZULQARNAIN

          Berkata Abu Khalifah Abdul Ghafur Al-Lumajangysemoga Allah merahmatinya-:

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله حمدا كثيرا مباركا فيه كما يحب رنا ويرضاه القائل: ﴿وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾. أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله صلى الله عليه وسلم.

أما بعد:

Setelah diperdengarkan kepadaku fatwa Daeng*) kita Dzulqornain ini tentang pembolehan nonton televisi dengan berdalilkan fatwa ‘Ubaid Al-Jabiri yang dibangun atas kaedah:

ارتكاب أخف الضررين

“Memilih paling ringannya (dari) dua madharat” maka aku luangkan sedikit waktu untuk menulis nasihat ini bahwa dia telah salah dalam memahami kaedah dan memakai tidak pada tempatnya. Lanjutkan membaca “BANTAHAN KAEDAH DZULQORNAIN Al-Makassary -hadahulloh-“

Solusi Menghadapi Terorisme

Berikut ini, kami akan mengetengahkan kepada para pembaca, beberapa solusi yang merupakan dasar-dasar penting dalam menanggulangi masalah terorisme dan bagaimana cara menjaga negara dan masyarakat dari bahaya terorisme tersebut.

Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi

Berikut ini, kami akan mengetengahkan kepada para pembaca, beberapa solusi yang merupakan dasar-dasar penting dalam menanggulangi masalah terorisme dan bagaimana cara menjaga negara dan masyarakat dari bahaya terorisme tersebut.

Satu : Menyeru kaum muslimin untuk berpegang teguh terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah dan kembali kepada keduanya dalam segala perkara.

Tidak diragukan bahwa kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah kesejahteraan dan kemulian umat,

“Barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thoha : 123-124)

Dan berpegang teguh kepadanya adalah tonggak keselamatan dan benteng dari kehancuran,

“Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai.” (QS. Ali ‘Imran : 103)

Dan segala masalah yang dihadapi oleh umat akan bisa terselesaikan dengan merujuk kepada Al-Qur‘an dan As-Sunnah,

“Tentang sesuatu apapun kalian berselisih maka putusannya kembali kepada Allah.” (QS. Asy-Syûra : 10)

Al-Qur‘an dan As-Sunnah adalah kebenaran mutlak yang merupakan rahmat dan kebaikan untuk seluruh manusia. Segala kebaikan telah dijelaskan dalam Al-Qur‘an dan As-Sunnah, demikian pula segala kejelekan diterangkan obat dan penyelesaiannya dalam Al-Qur‘an dan As-Sunnah. Siapa-siapa yang berpegang dengannya, maka merekalah yang akan dijayakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana dalam hadits ‘Umar bin Khaththôb radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ لَيَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ

“Sesungguhnya Allah mengangkat (derajat) suatu kaum karena kitab ini dan merendahkan yang lainnya karenanya.” [1]

Dua : Penegasan wajibnya memahami Al-Qur‘an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman Salaf Shôlih.

Para shahabat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik mereka itulah yang disebut Salaf Shôlih. Para shahabat adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah untuk mendampingi Rasul-Nya dalam menyebarkan dan memperjuangkan agama ini. Mereka adalah orang-orang yang paling memahami Al-Qur‘an dan As-Sunnah; kandungan, maksud, penafsiran, penempatan dan pendalilannya. Karena itu telah datang nash-nash yang sangat banyak menjelaskan kewajiban mengikuti jalan mereka dan menempuh agama di atas cahaya mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa keridhaan dan sorga hanyalah didapatkan oleh orang-orang yang mengikuti jalan mereka dengan baik,

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka sorga-sorga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah : 100)

Dan Allah menjadikan keimanan para shohabat sebagai lambang kebenaran dan petunjuk,

“Maka jika mereka beriman seperti apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kalian). Maka Allah akan memelihara kalian dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqorah : 137)

Bahkan Allah ‘Azza Dzikruhu mengancam orang-orang yang menyelisihi jalan para salaf dalam firman-Nya,

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, Kami biarkan ia larut dalam kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa` : 115)

Dan Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam memuji tiga generasi pertama umat ini dalam sabdanya,

خَيْرُ النَاسِ قَرْنِي ثُمَّ الذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah zamanku kemudian zaman setelahnya kemudian zaman setelahnya”. [2]

Bahkan lebih dari itu, Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam menyatakan,

النُّجُوْمُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَإِذَا ذَهَبَتْ النُجُوْمُ أَتَى السَّمَاءُ مَا تُوْعَدُ وَأَنَا أَمَنَةٌ لأَصْحَابِي فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِيْ مَا يُوْعَدُوْنَ وَأَصْحَابِيْ أَمَنَةٌ لأُمَّتِيْ فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِيْ أَتَى أُمَّتِيْ مَا يُوْعَدُوْنَ

“Bintang-bintang adalah kepercayaan bagi langit, bila bintang telah lenyap maka akan datang kepada langit apa yang diancamkan terhadapnya. Dan saya adalah kepercayaan bagi shahabatku, jika saya telah pergi maka akan datang kepada shahabatku apa yang diancamkan terhadapnya. Dan para shahabatku adalah kepercayaan umatku, bila para shahabatku telah pergi, maka akan datang kepada umatku apa yang diancamkan terhadapnya.” [3]

Dan kita diperintah untuk merujuk kepada pemahaman mereka pada saat terjadi perselisihan atau fitnah, sebagaimana dalam hadits ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata,

وَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيْغَةً ذَرِفَتْ مِنْهَا العُيُوْنُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا القُلُوْبُ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُوْلُ اللهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهُدُ إِلَيْنَا فَقَالَ أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى الله وَالسَّمْعَ وَالطَّاعَةَ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ المَهْدِيْيِنَ الرَّاشِدِيْنَ تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“(Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam) menasehati kami dengan suatu nasehat yang sangat mendalam sehingga membuat air mata kami berlinang dan hati-hati kami bergetar. Maka seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat perpisahan, maka apakah yang engkau wasiatkan kepada kami?” Beliau bersabda, “Saya mewasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah, dan agar kalian mendengar dan taat (kepada pemimpin) walaupun yang menjadi (pemimpin) atas kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena sesungguhnya siapa yang hidup di antara kalian setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh kepada sunnahku dan kepada sunnah para khalifah yang mendapat hidayah dan petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dengan gigi-gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah terhadap perkara yang baru dalam agama. Karena sesungguhnya semua perkara yang baru dalam agama adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat.” [4]

Berkata Ibnu Qudamah rahimahullah, “Telah tetap kewajiban mengikuti para ‘ulama Salaf rahmatullahi ‘alaihim berdasarkan Al-Kitab, As-Sunnah dan Ijma’ (kesepakatan di kalangan ulama)…” [5]

[1] Hadits riwayat Muslim no. 817 dan Ibnu Majah no. 218.

[2] Hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary no. 2652, 3651, 6429, 6658, Muslim no. 2533, At-Tirmidzy no. 3868 dan Ibnu Majah no. 2362. Dan dikeluarkan pula oleh Al-Bukhary no. 2651, 3659, 6428, 6695, Muslim no. 2553, Abu Daud no. 2657, At-Tirmidzy no. 2226-2227, 2307 dan An-Nasa`i 7/17 dari ‘Imran bin Al-Hushain radhiyallahu ‘anhu. Dan dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Muslim no. 2534. Serta dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Muslim no. 2536.

[3] Hadits Abu Mûsa Al-Asy’ary radhiyallahu ‘anhu riwayat Muslim no. 2531.

[4] Hadits riwayat Ahmad 4/ 126, Ad-Darimy no. 95, Abu Daud no. 4607, At-Tirmidzy no. 2681, Ibnu Majah no. 42-44, Ibnu Hibban no. 5, Al-Hakim 1/96-97, Ath-Thobarany 18/no. 617-624, 642 dan dalam Al-Ausath 1/no. 66, Al-Baihaqy 10/114, Tammam dalam Fawa`id-nya no. 255, 355, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 5/220-221, 10/114-115 dan dalam Syu’abul Îman 6/66 dan Al-Lalaka`iy dalam Syarah Ushûl I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/74 no. 79. Dishohîhkan oleh Al-Albany dalam Ash-Shohîhah no. 937, 2735 dan Al-Wadi’iy dalam Ash-Shohîh Al-Musnad 2/75-76 (cet. Pertama).

[5] Baca Dzammut Ta`wîl hal. 28-36.

Sumber: http://jihadbukankenistaan.com/terorisme/solusi-menghadapi-terorisme-solusi-1-2.html

Tiga : Komitment terhadap Jama’ah kaum muslimin dan Imam mereka.

Jama’ah kaum muslimin adalah kaum muslimin dibawah kepemimpinan seorang Imam (penguasa) muslim dalam sebuah negara.

Dan sudah merupakan ketentuan Allah Subhanahu wa Ta‘ala bahwa letak kebahagiaan dan kesejahteraan manusia adalah bila mereka bersatu di bawah seorang pemimpin, yang tanpa hal tersebut pasti akan berlaku hukum rimba, dimana yang lemah menjadi mangsa yang kuat. Allah ‘Azza wa Jalla menegaskan,

“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” (QS. Al-Baqarah : 251)

Berkata Ibnul Mubarak (w. 181 H) rahimahullah, “Sebagai rahmat dan kemurahan-Nya, Allah menolak masalah yang rumit dari agama kita dengan penguasa. Andaikata bukan karena penguasa niscaya tidak akan ada jalan yang aman bagi kita, dan yang lemah dari kita pasti menjadi mangsa bagi yang kuat.” [1]

Dan Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam telah menegaskan bahwa komitment terhadap Jama‘ah kaum muslimin dan Imam mereka adalah salah satu jalan keselamatan pada saat terjadi berbagai fitnah yang membahayakan kaum muslimin, sebagaimana diterangkan dalam hadits Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِيْ فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّا كُنَّا فِيْ جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيْهِ دَخَنٌ قَلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِيْ تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا فَقَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِيْ إِنْ أَدْرَكَنِيْ ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجْرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

“Manusia bertanya kepada Rasulullah shollallahu ‘alahi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan saya bertanya kepada beliau tentang kejelekan, saya khawatir kejelekan itu akan menimpaku, maka saya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami dahulu dalam kejahiliyaan dan kejelekan, kemudian Allah mendatangkan kepada kami kebaikan ini, apakah setelah kebaikan ini akan ada kejelekan?” Beliau menjawab, “Iya.” Kemudian saya bertanya, “Apakah setelah kejelekan itu ada kebaikan,” Beliau menjawab, “Iya, dan telah ada asapnya.” Saya bertanya, “Apakah asapnya?” Beliau menjawab, “Suatu kaum yang mengambil petunjuk selain dari petunjukku, ada yang engkau anggap baik dari mereka dan ada yang engkau ingkari.” Kemudian saya bertanya, “Apakah setelah kebaikan itu ada kejelekan.” Beliau menjawab, “Iya, da’i-da’i yang menyeru ke pintu-pintu neraka jahannam, siapa yang menjawab seruan mereka, maka mereka akan melemparkannya ke dalamnya.” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, sifatkanlah mereka kepada kami?” Beliau menjawab, “Mereka adalah dari kulit kita juga dan berbicara dengan lisan-lisan kita.” Saya berkata, “Apa perintahmu kepadaku jika saya mendapati hal tersebut?” Beliau bersabda, “Engkau komitmen terhadap Jama’ah kaum muslimin dan Imam mereka.” Saya berkata, “Jika kaum muslimin tidak mempunyai Jama‘ah dan Imam.” Beliau berkata, “Tinggalkan seluruh firqoh-firqoh (kelompok-kelompok) tersebut, walaupun engkau harus menggigit akar pohon hingga kematian menjemputmu dan engkau di atas hal tersebut.” [2]

Empat : Menanamkan pemaham ketaatan kepada penguasa dalam hal yang ma’ruf.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kalian.” (QS. An-Nisa` : 59)

Dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكَ السَمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْ عُسْرِكَ وَيُسْرِكَ وَمَنْشَطِكَ وَمَكْرَهِكَ وَأَثَرَةٍ عَلَيْكَ

“Wajib atas kamu untuk mendengar dan taat baik dalam keadaan sulit maupun mudah, bersemangat atau terpaksa, walaupun ia berlaku sewenang-wenang terhadap kamu.” [3]

Dan dalam hadits lain, beliau menyatakan,

اسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا وَإِنِ اسْتُعْمِلَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبْشِيٌّ كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيْبَةٌ

“Mendengarlah dan taatlah walaupun dijadikan penguasa atas kalian seorang budak Habasyi seakan-akan kepalanya adalah kismis (anggur kering).” [4]

تَسْمَعُ وَتُطِيْعُ لِلْأَمِيْرِ وَإِنْ ضَرَبَ ظَهْرَكَ وَأَخَذَ مَالَكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

“Kamu mendengar dan taat kepada penguasa walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu, maka dengar dan taatlah.” [5]

Dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda,

إِنَّهَا سَتَكُوْنُ بَعْدِيْ أَثَرَةٌ وَأُمُوْرٌ تُنْكِرُوْنَهَا قَالُوْا : يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ تَأْمُرُنَا ؟ قَالَ : تُؤَدُّوْنَ الْحَقَّ الَّذِيْ عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُوْنَ اللهَ الَّذِيْ لَكُمْ

“Sesungguhnya sepeninggalku akan terjadi kesewenang-wenangan dan banyak perkara yang kalian ingkari. Mereka (shahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah apa yang engkau perintahkan pada kami?” Beliau menjawab, “Tunaikanlah kewajiban atas kalian (terhadap penguasa) dan mintalah hak kalian pada Allah.” [6]

Dan hadits-hadits dalam hal ini mutawatir, diriwayatkan dari puluhan shahabat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam.

Karena itu salah prinsip dasar syari‘at Islam adalah taat kepada penguasa dalam hal yang ma’ruf berdasarkan nash-nash di atas dan kesepatakan para ulama dari dahulu hingga sekarang.

Dan tidak diragukan bahwa prinsip dasar ini merupakan salah satu tonggak kebahagiaan dan kesejahteraan umat manusia. Dan dengannya akan tercipta keamanan dan kejayaan suatu negara.

Sebaliknya, menelantarkan prinsip yang agung ini adalah sebab malapetaka dan kehancuran yang tengah melanda umat pada banyak negara Islam pada hari-hari ini.

Lima : Mendekatkan umat kepada para ulama mereka.

Allah Al-Hakîm Al-‘Alîm mengisahkan tentang Qarun dalam firman-Nya,

“Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, “Celakalah kalian, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang bersabar. Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” (QS. Al-Qashosh : 79-81).

Karena itulah Imam Hasan Al-Bashry (w. 110 H) berkata, “Sesungguhnya bila fitnah itu datang akan diketahui oleh setiap ‘alim (ulama), dan apabila telah terjadi, barulah orang-orang yang jahil mengetahuinya.” [7]

Dan penyelesaian masalah-masalah besar yang menimpa umat adalah kembali kepada ulama,

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri diantara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” (QS. An-Nisa` : 83)

Dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menyatakan,

الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ

“Berkah itu bersama orang-orang tua (ulama) kalian.” [8]

Dan ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menjelaskan suatu hakikat yang telah terbukti di berbagai masa setelahnya,

لاَ يَزَالُ النَّاسُ صَالِحِيْنَ مُتَمَاسِكِيْنَ مَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَمِنْ أَكَابِرِهِمْ فَإِذَا أَتَاهُمْ مِنْ أَصَاغِرِهِمْ هَلَكُوْا

“Manusia masih akan senantiasa sebagai orang yang sholeh lagi berpegang teguh (kepada agamanya) sepanjang ilmu datang kepada mereka dari para shahabat Muhammad shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan orang-orang tua (ulama) mereka. Maka apabila (ilmu) datang kepada mereka dari orang-orang kecil maka binasalah mereka.” [9]

[1] Dibahasakan secara bebas dari dua bait syair beliau yang masyhur dalam buku-buku yang memuat biografi beliau.

[2] Diriwayatkan oleh Al-Bukhary no. 3606, 7084 dan Muslim no. 1847.

[3] Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Muslim no. 1836 dan An-Nasa`i 7/140.

[4] Hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary no. 693, 696, 7142 dan Ibnu Majah no. 2680.

[5] Hadits Hudzaifah radhiyallahu ‘anhuma riwayat Muslim no. 1837 dan Abu Daud no. 4244.

[6] Hadits ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary no. 3603, 7052, Muslim no. 1843 dan At-Tirmidzy no. 2195.

[7] Dikeluarkan oleh Al-Bukhary dalam Tarîkh-nya 4/321 dan Ibnu Sa‘ad dalam Ath-Thobaqat 7/165-166.

[8] Telah berlalu takhrijnya.

[9] Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhud, ‘Abdurrazzaq dan lain-lainnya. Lihat takhrîjnya dalam kitab Madarik An-Nazhor hal. 161 karya Syaikh ‘Abdul Malik Ramadhôny.

Sumber: http://jihadbukankenistaan.com/terorisme/solusi-menghadapi-terorisme-solusi-3-5.html
Enam : Berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah.

Sudah merupakan tabiat dari kehidupan bahwa manusia sangatlah butuh kepada suatu aturan dalam kehidupan mereka agar terbentuk kehidupan yang seimbang dan sejahtera, tanpa ada kekurangan dan kejelekan yang membahayakan mereka. Maka dari hikmah dan rahmat Allah Jalla wa ‘Alaa, diutusnya para rasul dan diturunkannya kitab-kitab suci guna mewujudkan kemashlahatan untuk manusia pada perkara dunia maupun akhirat mereka.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (QS. Al-Hadîd : 25)

Dan Allah Ta’ala berfirman,

“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (QS. Al-Baqarah : 213)

Dan -Al-Hamdulillah- seluruh syari’at Allah Jalla Sya`nuhu penuh dengan keadilan,

“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am : 115)

Masalah apapun yang terjadi, pasti dalam syari’at Allah ada penyelesaiannya, besar maupun kecil masalah tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa‘ : 59)

Dan berpaling dari hukum tersebut adalah sebab terjadinya fitnah dan musibah, sebagaimana dalam firman-Nya,

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa suatu fitnah atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nur : 63)

Tujuh : Menyebarkan ilmu syar’iy di tengah umat.

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah, “Tidaklah alam iini rusak kecuali karena kejahilan, dan tidak ada kemakmuran baginya kecuali dengan ilmu (syari’at). Kapan ilmu itu nampak pada suatu negeri atau suatu tempat maka akan sedikit kejelekan pada para penghuninya, dan kapan ilmu itu tersembunyi padanya, maka akan nampak kejelekan dan kerusakan. Siapa yang tidak mengetahui hal ini, maka ia tergolong orang-orang yang Allah tidak memberikan cahaya kepadanya. Berkata Imam Ahmad, “Andaikata bukan karena ilmu, sungguh manusia seperti hewan-hewan ternak.” Dan beliau juga berkata, “Manusia lebih butuh kepada ilmu ketimbang makan dan minum. Karena makan dan minum dalam sehari hanya dibutuhkan dua atau tiga kali, sedangkan ilmu dibutuhkan pada setiap saat.”.” [1]

Delapan : Menimbang vonis kafir, fasik dan bid’ah dengan ketentuan-ketentuan syari’at.

Menjatuhkan vonis kafir, fasik, bid’ah dan selainnya dari istilah-istilah syar’iy adalah suatu hal yang sangat riskan dan besar tanggung jawabnya di hadapan Allah Ta’ala. Karena itu Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mengingatkan,

أَيُّمَا امْرِئٍ قَالَ لِأَخِيْهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَإِلَّا رَجَعَتْ عَلَيْهِ

“Siapa saja yang berkata kepada saudaranya, “Wahai kafir”, maka kalimat ini harus disandang oleh salah seorang dari keduanya. Kalau memang seperti yang dia katakan, (maka tidak mengapa), dan kalau tidak, maka kalimat itu akan kembali kepadanya.” [2]

Selain dari itu, dibelakang vonis kafir, fasik dan seterusnya akan ada sejumlah hukum yang dibangun di atasnya, berupa membunuh orang-orang yang murtad, memerangi orang-orang kafir, memberi ta’zîr (hukuman pelajaran) kepada orang-orang fasik dan pelaku bid’ah dan sebagainya dari masalah-masalah detail yang hanya dipahami hakikatnya dan akan diletakkan pada tempatnya oleh para ulama.

Dan sebagaimana yang telah dipaparkan bahwa salah satu sebab munculnya ideologi terorisme yang mengatasnamakan agama adalah dibangun di atas vonis-vonis tersebut, maka merupakan suatu hal yang sangat penting untuk mendudukkan makna dan hakikat dari istilah-istilah syar’iy tersebut.

Berikut ini beberapa hal yang mungkin bisa menjadi solusi masalah ini,

1. Meluruskan makna istilah-istilah syar’iy di atas.
2. Menerangkan tentang bahaya ekstrim dalam beragama dan bahaya menjatuhkan tuduhan kepada seorang muslim tanpa ilmu.
3. Menerangkan fatwa-fatwa para ulama berkaitan dengan masalah ini.
4. Mengumpalkan dasar-dasar ideologi yang menyimpang dalam hal ini kemudian membantahnya dengan argument dari Al-Qur`an dan As-Sunnah.
5. Menerangkan tokoh-tokoh yang menyandang dan menyebarkan pemikiran ini di tengah umat.

Sembilan : Meluruskan makna jihad yang hakiki dan pembagian orang-orang kafir menurut kaidah-kaidah Islam.

Meluruskan pemahaman dalam dua masalah ini termasuk solusi dasar dalam menuntaskan masalah terorisme. Dan -Al-Hamdulillah- pada bab kedua dari buku ini telah dijelaskan banyak hal yang merupakan dasar-dasar pijakan syari’at untuk menentukan sebuah jihad yang sesuai dengan tuntunan dan bagaimana sebenarnya pembagian orang-orang kafir dalam timbangan syari’at. Dan ada niat -dengan idzin Allah- untuk menyusun buku khusus merinci seluruh hukum berkaitan dengan jihad dalam sebuah pembahasan lengkap. Semoga Allah memudahkan hal tersebut dan senantiasa mencurahkan ‘inayah dan taufik-Nya. Innahu Walliyyu Dzalika Wal Qôdiru ‘Alahi.

Sepuluh : Menyingkap tabir penyimpangan dan kerusakan paham Khawarij dan yang semisal dengannya dalam garis ekstrim.

Telah dijeleskan dari bab yang telah lalu akan bahaya paham khawarij dan potensinya dalam melahirkan aksi-aksi terorisme. Paham ekstrim ini dan sejumlah pemahaman yang segaris dengannya sangatlah penting untuk diterangkan kepada umat tentang dasar-dasar kesesatan pemikiran mereka dan bahayanya.

[1] I’lamul Muwaqqi’în 2/257.

[2] Hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-Bukhary no. 6104 dan Muslim no. 60. Dan dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary no. 6103.

Sumber: http://jihadbukankenistaan.com/terorisme/solusi-menghadapi-terorisme-solusi-6-10.html

Sebelas : Meluruskan istilah-istilah syari’at yang kerap disalahpahami, seperti pengertian Imamah, ‘Imarah, Bai’at, negeri Islam, negeri kafir, ‘Uhud (perjanjian) dan yang semisalnya.

Istilah-istilah di atas termasuk istilah yang banyak digunakan oleh orang-orang yang terjerumus dalam garis ekstrim. Dan tidak diragukan bahwa menyelewengkan istilah-istilah tersebut dari hakikatnya akan melahirkan berbagai macam kerusakan dan kehancuran bagi umat.

Perhatikan kalimat “Imamah” yang bermakna kepemimpinan. Adalah suatu hal yang sangat penting untuk mengetahui siapa yang dikatakan sebagai Imam (Pemimpin/penguasa) dalam suatu negara, bagaimana ketentuan syahnya sebagai penguasa, konsekwensi yang harus dijalankan oleh rakyat di belakang hal tersebut, dan lain-lainnya. Karena itu wajarlah bila kita menyaksikan sekelompok orang yang tidak mengakui keberadaan penguasa di negaranya, atau mengangkat pimpinan tersendiri dalam kelompok atau jama’ahnya dengan berbagai konsekwensi yang hanya dimiliki oleh seorang pemimpin yang syar’iy menurut timbangan Islam. Kesalahan-kesalahan tersebut muncul karena kurang atau tidak memahami prinsip-prinsip Islam dalam masalah ini.

Dan perhatikan kalimat “Bai’at” yang bermakna sumpah setia atau janji. Bai’at adalah suatu hal yang hanya diperuntukkan terhadap seorang penguasa yang syah dan dibangun dibelakang bai’at itu berbagai hukum. Termasuk kesalahan yang banyak terjadi pada kelompok-kelompok yang menganggap dirinya memperjuangkan Islam adanya bai’at-bai’at kepada para pemimpin mereka, di mana hal tersebut tergolong membentuk jama’ah dalam tubuh Jama’ah kaum muslimin dan hal tersebut terhitung memecah belah Jama’ah kaum muslimin dan siapa yang meninggal di atas hal tersebut maka ia dianggap mati jahiliyah.

Demikian pula menjatuhkan hukum kepada suatu negeri, bahwa ia adalah negeri Islam atau negeri Kafir, dibelakang hukum tersebut ada sejumlah masalah yang hanya diketahui kedetailannya oleh para ulama.

Demikian pula sejumlah istilah syar’iy lainnya.

Maka meluruskan istilah-istilah ini termasuk titik-titik penting dalam menyelesaikan sikap ekstrim atau terorisme. Wallahu A’lam.

Dua Belas : Mendukung kegiatan-kegiatan dakwah yang haq dalam mendekatkan agama yang benar kepada manusia.

Tidak diragukan bahwa menyeru manusia ke jalan Allah termasuk solusi yang sangat bermanfaat dalam menanggulangi segala problematika yang dihadapi oleh manusia dan menciptakan kebaikan untuk mereka dibelakang hal tersebut.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?”.” (QS. Fushshilat : 33)

Dan dakwah di jalan Allah adalah lambang keberuntungan untuk manusia,

“Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. ali-‘Imran : 104)

Maka sangatlah dibutuhkan upaya-upaya untuk menegakkan dakwah yang hak di tengah manusia sesuai dengan tuntunan Al-Qur`an dan As-Sunnah sebagaimana yang dipahami dan diamalkan oleh para ulama salaf dari kalangan shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Seluruh pihak hendaknya punya andil dalam menyebarkan dakwah tersebut, setiap orang sesuai dengan kemampuannya dalam segala bentuk dukungan yang dibutuhkan dalam penyebaran dakwah. Wallahul Muwaffiq.

Tiga Belas : Memberikan peluang dan kedudukan kepada orang-orang yang berilmu dalam mengadakan upaya-upaya perbaikan di tengah umat.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam pernah bersabda,

سَيَأْتِيْ عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ يُصَدَّقُ فِيْهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيْهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيْهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيْهَا الْأَمِيْنُ وَيَنْطِقُ فِيْهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيْلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ يَتَكَلَّمُ فِيْ أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang menipu, (dimana) akan dibenarkan padanya orang yang berdusta dan dianggap dusta orang yang jujur, orang yang berkhianat dianggap amanah dan orang yang amanah dianggap berkhianat dan akan berbicara Ar-Ruwaibidhoh. Ditanyakan : “Siapakah Ar-Ruwaibidhoh itu?” Beliau berkata : “Orang dungu yang berbicara tentang perkara umum.” [1]

Dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam juga mengingatkan,

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ اِنْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقَ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوْا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوْا وَأَضَلُّوْا

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari para hamba akan tetapi Allah mencabutnya dengan mencabut (mewafatkan) para ulama sampai bila tidak tersisa lagi seorang alim maka manusiapun mengambil para pemimpin yang bodoh maka merekapun ditanya lalu mereka memberi fatwa tanpa ilmu maka sesatlah mereka lagi menyesatkan.” [2]

Dua nash hadits di atas sangatlah jelas menunjukkan pentingnya keberadaan para ulama di tengah umat dan hal tersebut merupakan keselamatan dan kesejahteraan mereka, sekaligus menunjukkan bahaya akan menimpa umat ini bila mereka menjadikan orang-orang yang jahil terhadap urusan agama sebagai rujukan.

Empat Belas : Tidak mencampuradukkan antara masalah yang mempunyai dasar-dasar syar’iy seperti Jihad, Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, Al-Wala` wal Barô`, dan lain-lainnya dengan masalah yang merupakan pelanggaran dalam syari’at, seperti pengkafiran tanpa dalil jelas, ekstrim, terorisme dan lain-lainnya.

Sejumlah permasalahan yang banyak dibicarakan pada hari-hari ini adalah tergolong masalah yang mempunyai dasar syar’iy dalam tuntunan agama kita seperti Jihad, Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, Al-Wala` wal Barô` dan lain-lainnya.

Dan ada sejumlah masalah yang sama sekali tidak mempunyai dasar dalam syari’at kita, bahkan tergolong suatu hal yang diharamkan dan amat tercela dalam timbangan agama seperti sikap ekstrim, terorisme, pengkafiran tanpa dalil dan sebagainya.

Maka termasuk kesalahan di kalangan sebagian kaum muslimin yang mencampur adukkan antara dua kutub permasalahan tersebut sehingga kita melihat sebagian dari kaum muslimin menjelekkan sebagian tuntunan agama mereka lantara hal ini.

Jadi membedakan dan mendudukkan antara masalah yang mempunyai dasar syar’iy dengan masalah yang tidak mempunyai dasar syar’iy termasuk hal yang sangat penting dalam menyelesaikan sejumlah problematika yang tengah kita hadapi saat ini.

Lima Belas : Mengadakan pelatihan khusus, seminar, pelajaran terprogram, pesantren kilat dan lain-lainnya, kepada seluruh lapisan masyarakat dari kalangan pemerintah, militer, dan rakyat umum untuk mendalami atau mempertajam prinsip-prinsip agama dan kaidah-kaidahnya atau sejumlah pembahasan penting berkaitan dengan sebab-sebab terciptanya keamanan, kemulian dan kejayaan umat dalam pandangan syari’at, ketaatan kepada para penguasa, hukum-hukum penting dalam agama, bentuk-bentuk ekstrim dan dasar-dasar pemikirannya dan masalah-masalah lainnya yang merupakan tonggak tegaknya suatu negara dan masyarakat.

Enam Belas : Mengadakan upaya maksimal dalam memperbaiki keadaan kehidupan masyarakat dan memenuhi kebutuhan darurat mereka serta menyelesaikan masalah-masalah mereka agar hubungan antara rakyat dan pemerintah semakin erat dan terjalin kepercayaan yang sangat besar antara keduanya.

Tujuh Belas : Melarang tersebarnya buku-buku yang memuat pemikiran menyimpang dan mengawasi ruang lingkup para penganut pemikiran tersebut.

Delapan Belas : Mengarahkan media massa kepada hal yang terbaik dalam pemberitaan.

Termasuk hak dan kewajiban pemerintah untuk mengawasi bidang pemberitaan, karena pemberitaan bukanlah urusan setiap orang, bahkan ia adalah urusan pihak-pihak tertentu yang telah diatur oleh penguasa dan orang-orang yang berilmu di antara mereka.

Maka harus ada langkah yang baik dalam memperbaiki kerusakan pemberitaan dan mengarahkannya kepada hal yang terbaik sehingga tidak menjadi penyebab terjadinya berbagai macam kerusakan dan bahaya yang telah diterangkan. Wallahu Musta’an.

[1] Telah berlalu takhrijnya.

[2] Telah berlalu takhrijnya.

Sumber: http://jihadbukankenistaan.com/terorisme/solusi-menghadapi-terorisme-solusi-11-18.html