Sholat Tarowih Berjamaah Di Awal Malam

📙📓📙📓📙📓📙

Dalil dalil dan atsar atsar dan perkataan ulama terdahulu yang  menjelaskan kapan sholat at tarawih berjamaah di masjid di kerjakan pada zaman Nabi dan pada zaman sholafus Sholih

🍃 Dalil pertama menunjukkan bahwa sholat tarawih itu di kerjakan di awal malam setelah sholat isya

Hadits Rasulullah shalallahu alaihi wa salam

Dari Abu Dzar, ia berkata

‎صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَلَمْ يُصَلِّ بِنَا حَتَّى بَقِىَ سَبْعٌ مِنَ الشَّهْرِ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِنَا فِى السَّادِسَةِ وَقَامَ بِنَا فِى الْخَامِسَةِ حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْنَا لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِنَا هَذِهِ فَقَالَ « إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ ». ثُمَّ لَمْ يُصَلِّ بِنَا حَتَّى بَقِىَ ثَلاَثٌ مِنَ الشَّهْرِ وَصَلَّى بِنَا فِى الثَّالِثَةِ وَدَعَا أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ فَقَامَ بِنَا حَتَّى تَخَوَّفْنَا الْفَلاَحَ. قُلْتُ لَهُ وَمَا الْفَلاَحُ قَالَ السُّحُورُ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.

”Kami pernah berpuasa bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidaklah pernah melaksanakan shalat malam bersama kami hingga tersisa tujuh  hari bulan Ramadhan. Beliau lantas shalat bersama kami (malam ke 23) hingga berlalu sepertiga malam yang pertama (perkiraan sekitar jam 9.30 tambahan pent’). Ketika tersisa enam hari (malam ke 24), beliau tidak shalat bersama kami. Namun ketika tersisa lima hari (malam ke 25), beliau shalat bersama kami hingga berlalu pertengahan malam (sekitar jam 12 tambahan pent’). Kami katakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bagaimana seandainya  kamu lakukan qiyamullail untuk kami
lagi untuk malam yang masih tersisa ini (karena selesai sholatnya beliau sekitar jam 12 lewat, dan para sahabat ingin dari  Rasulullah lanjutkan untuk waktu malam yang tersisa, tambahan pent’)?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya siapa saja yang shalat bersama imam hingga imam itu selesai, maka ia dicatat telah mengerjakan shalat semalam suntuk (semalam penuh).”

Beliau tatkala itu tidak shalat bersama kami (malam ke 26) hingga Ramadhan tersisa tiga hari. Beliau shalat bersama kami pada tersisa tiga hari dari Ramadhan (yaitu malam ke 27). Beliau lantas mengerjakan shalat malam, waktu itu mengumpulkan keluarga dan istri-istrinya hingga kami khawatir dengan “falah”. Aku bertanya padanya, “Apa yang dimaksud falah?” Ia menjawab, “Yaitu waktu sahur.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud,).

Dan telah di keluarkan oleh imam an nasai dan Ibnu Abi syaibah dari Nu’man bin Basyir rodhialloohu Anhu

‎ ” قُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ لَيْلَةَ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ الْأَوَّلِ ، ثُمَّ قُمْنَا مَعَهُ لَيْلَةَ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ ، ثُمَّ قُمْنَا مَعَهُ لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنْ لَا نُدْرِكَ الْفَلَاحَ وَكَانُوا يُسَمُّونَهُ السُّحُورَ ” 

Kami sholat bersama Rasulullah pada bulan romadhon malam ke 23 sampai sepertiga malam yang pertama (sekitar jam 9.30., kemudian kami sholat bersama Rasulullah malam ke 25 sampai pertengahan malam, kemudi kami sholat bersama Rasulullah malam ke 27 sampai kamu menyangka kami tidak akan mendatangkan sahur.

☄ Berkata Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajury hafizhohulloohu ta’ala

Berkata asy syaikh muqbil Rohimahulloh; hadits ini adalah hadits yang Hasan, sementara hadits Abi Dzar kembali kepada hadits Nu’man bin Basyir، sebab penunjukannya lebih jelas

Selesai penukilan dari audio beliau .

☄ Berkata Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajury hafizhohulloohu ta’ala

‎.هذا الحديث حكم فى المسألة على أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى بهم العشاء ثم صلى بهم قيام رمضان فى المسجد الى ثلث الليل الاول ، وإلى شطر الليل ، ..بمعنى أنه يبدأ الصلاة بعد العشاء

”Hadits ini sebagai pemberi hukum dalam permasalahan ini, bahwasanya Nabi sholat bersama para sahabatnya sholat isya kemudian setelah itu,beliau  sholat qiyam romadhon di masjid sampa 1/3 malam yang pertama (malam ke 23), sampai pertengahan malam (malam ke 25), sampai mau menjelang sahur (malam ke 27), ini maknanya bahwasanya Nabi memulai sholat tarawih setelah sholat isya.” Selesai nukilan dari audio Syaikh

🖊 Kemudian dari hadits di atas Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tidak mengabulkan apa yang di minta oleh Abu Dzar untuk di perpanjang sholat sampai menjelang subuh, bersamaan itu, waktu tersebut adalah malam ganjil (ke 25) yang Nabi memerintahkan kepada kita untuk mencari, bersungguh beribadah  dengan harapan mendapatkan malam Lailatul Qadar.

Akan tetapi Nabi kabarkan kepada sahabatnya:  siapa yang sholat tarawih berjamaah sampai imam selesai maka tertulis untuknya mengerjakan sholat semalam suntuk.

‎وان لم يصلوها الى الفجر,وان ناموا بعدها إلى طلوع الفجر

Walaupun mereka tidak sholat tarawih sampai subuh. Walaupun mereka itu tidur setelah jam 12 sampai sahur

📌 Dan jika ada yang mengatakan, “bukankah Nabi sholat di awal malam, di pertengahan malam, di akhir malam maka ini  terdapat  keluasan untuk memilih waktu tarawih“?

Maka dikatakan:..
Akan tetapi Nabi shalallahu alaihi wa salam tidak sholat tarawih bersama manusia berjamaah kecuali di awal malam. Berdasarkan apa yang dilakukan oleh Nabi dalam hadits Abi Dzar,  tiga malam , semuanya dimulai dari awal malam.

👉🏻Dan semua sahabat diatas Sunnah ini dan juga setelah mereka dari kalangan tabi’in dan attabi’u attabi’in.

Karena itulah “Imam Malik rahimahullaahu ta’ala berkata

‎لا يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به اولها، فما لم يكن يومئذ دينا ، لا يكون اليوم دينا

”Tidak akan baik ummat terkakhir ini, kecuali dengan apa yang membuat generasi awal baik dengannya. Apa yang bukan merupakan agama pada hari itu (generasi awal) maka bukan merupakan agama pada hari ini”

🖊 Kemudian suatu perkara untuk di ketahui  , itu kadang di Syariatkan pada suatu tempat pada keadaan tertentu, akan tetapi tidak di Syariatkan pada keadaan yang lain atau pada semua keadaan

🖊Berkata Imam Ibnu Rajab rahimahullaahu ta’ala

‎وليس كل ما كان قربة فى موطن يكون قربة فى كل موطن.وانما يتبع فى ذلك كله ما وردت به الشريعة فى مواضعها …

”Bukanlah semua yang merupakan qurbah (ibadah yang mendekat diri kepada Allah) pada suatu tempat pada satu keadaan  maka ibadah tersebut menjadi qurbah pada seluruh tempat, akan tetapi yang diikuti pada perkara tersebut seluruhnya adalah apa yang telah dari syari’at sesuai pada tempatnya.”
📚Jami’ Ulul wal Hikam hal.60

Memang diluar romadhon,  kadang Nabi melakukan sholat di awal malam, petengahan, dan akhir malam, tapi khusus bulan romadhon beliau sholat qiyam romadhon bersama manusia di awal malam setelah sholat isya.

☄Berkata Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajury hafizhohulloohu ta’ala

‎ولا نقول بأن من يؤخر الصلاة فى اول الليل قد احدث فى دين الله لكن نقول ترك الأفضل فى هذه المسألة ، فمن يصلى فرادى صلى اخر الليل فهو أفضل لعمومات الأدلة ، ومن صلى مع جماعة المسلمين ،فنرى أنه يأخذ بطريقة عمر الذي أقره عليه الناس إي أصحاب رسول الله.

“Dan kami tidak katakan bahwa siapa yang mengakhirkan sholat di akhir malam telah mengadakan perkara baru dalam agama Allah. Akan tetapi kami katakan, dia telah meninggalkan yang lebih utama  pada permasalahan ini

Dan siapa yang sholat sendiri , maka sholatlah diakhir malam, maka itu lebih afdhol, karena masuk dalam  keumuman dari dalil dalil  (seperti sholat di akhir malam di persaksikan, ahkir malam tempat waktu mustajab, Allooh turun ke langit dunia  di sepertiga malam,   dll)

Dan siapa yang sholat bersama jamaah kaum muslimin, maka kami berpendapat: bahwa  dia mengambil sebagaimana jalan nya Umar bin Khattab rodhialloohu Anhu, yang para sahabat seluruhnya menyetujui (menetapkan) akan hal tersebut”
Selesai penukilan dari audio Syaikh .

🍃 Dalil kedua menunjukkan bahwa sholat tarawih itu di kerjakan di awal malam setelah sholat isya

‎عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ, وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ. فَقَالَ عُمَرُ: وَاللَّهِ إِنِّي لَأَرَانِي لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ, فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ. قَالَ: ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ, فَقَالَ عُمَرُ: نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ, وَالَّتِي تَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي تَقُومُونَ, يَعْنِي آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ

Dari Abdurrahman bin Abdil Qaary berkata; aku keluar bersama Umar bin Khatthab di bulan Ramadhan menuju masjid (Nabawi). Sesampainya di sana, ternyata orang-orang sedang shalat secara terpencar; ada orang yang shalat sendirian dan ada pula yang menjadi imam bagi sejumlah orang(jumlah tiga sampai sembilan orang). Maka Umar berkata: “Menurutku kalau mereka kukumpulkan pada satu imam akan lebih baik…” maka ia pun mengumpulkan mereka –dalam satu jama’ah– dengan diimami oleh Ubay bin Ka’ab. Kemudian aku keluar lagi bersamanya di malam yang lain, dan ketika itu orang-orang sedang shalat bersama imam mereka, maka Umar berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini,

akan tetapi saat dimana kalian tidur , itu lebih baik dari pada saat dimana kalian shalat”, maksudnya akhir malam lebih baik dari awal malam..

Dan kemudian Umar berkata

‎وكان الناس يقومون اوله

Dulu manusia (para sahabat) sholat di awal malam. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara muallaq, dan juga datang dari selain Imam Bukhari, secara maushul dengan sanad yang sahih dalam Muwaththo’ Imam Malik)

☄Berkata Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajury hafizhohulloohu ta’ala

Perkataan Umar

‎الناس: كان إجماع

Dulu manusia sholat di awal malam.
Ini adalah ijma’ (kesepakatan para sahabat).
Selesai penukilan dari audio

Dan tidak ada seorang sahabatpun yang mengingkari akan perbuatan Umar radhiyallaahu ta’ala ‘anhu dengan suatu pengingkaran

📌 Dan jika ada yang mengatakan Bukankah sholat di akhir malam lebih afdhol dengan dalil-dalil umum, telah   menunjukkan akan hal tersebut?

✏Maka di katakan :

Hal tersebut adalah suatu perkara yang sudah di ketahui oleh Umar radhiyallaahu ta’ala ‘anhu, karena itulh tatkala beliau mengumpulkan manusia (para sahabat) atas satu imam, Umar mengatakan

‎والتي تنامون عنها افضل من التى تقومون

”Dan saat  yang kalian  tidur untuk sholat di akhir malam itu lebih afdhol dari yang melakukan diawal malam”

Dan para sahabat,  selain dari Umar  juga mengetahui akan hal itu.(sholat di akhir malam lebih afdhol dari awal malam)

‎ولكن لم ير أحد من الصحابة أن تقام صلاة التراويح جماعة فى اخر الليل

Akan tetapi tidak ada seorangpun pun dari sahabat yang berpendapat untuk di tegakkan sholat tarawih berjamaah pada akhir malam

Bahkan perkaranya tetap keadaannya sebagaimana pada zaman Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam

👉🏻Seandainya sholat tarawih berjamaah di masjid di akhir malam, itu adalah  afdhol(lebih utama)

“Akan Timbul pertanyaan

‎لما تأخر عن هذه الفضيلة الصحابة الكرام ,

Kenapa para sahabat terlambat akan keutamaan tersebut, dan kita mendahului mereka?

Sementara yang perlu kita ketahui tentang sahabat

‎1⃣لأنه لو كان خيرا لسبقونا إليه ، لأنهم لم يتركوا خصلة من خصال الخير الا بادروا إليها

Sebab seandainya itu (sholat tarawih  berjamaah diakhir malam itu adalah suatu kebaikan), maka pasti mereka akan mendahului kita atas kebaikan tersebut, sebab mereka tidak meninggalkan satu ciri pun dari kebaikan kecuali pasti mereka akan bersegera atas kebaikan tersebut.
📚Tafsir Ibnu Katsir 4/57

Tapi kenyataannya mereka tidak lakukan  sholat tarawih berjamaah di akhir malam

‎2⃣لانهم أقواهم إيمانا واحرصهم وافقههم ولم يفعلوا ذلك

Sebab mereka paling kuat keimanan dan paling semangat dalam kebaikan dan paling fakih dari kita.
Dan mereka tidak lakukan hal tersebut.

📌 Dan jika ada yang mengatakan
“Diakhirkan sholat malam berjamaah karena mencari waktu yang mustajab

✏Maka dikatakan

‎الصحابة أولى بهذا الفضل لو كان فيه فضلا ، فاين الصحابة والتابعون عن هذا الفقه

Tentunya para sahabat lebih pantas  terhadap keutamaan tersebut, jika di dalamnya ada keutamaan. Maka di mana para sahabat dan tabi’in dari pemahaman fiqh ini (untuk mencari waktu yang mustajabah sehingga diakhirkan waktu sholat tarawih berjamaah di atas pertengahan malam)

🍃 dalil ketiga Sholat tarawih di kerjakan di  awal waktu, itu untuk meringankan jamaah

Dan ketahuilah bahwa sholat tarawih berjamaah asalnya adalah  التخفيف(keringanan)  atas keumuman manusia.

Dan bukan maksud memanjangkan bacaan sampai mendekati waktu sahur, kecuali pada malam ke 27 sebagaimana dalam hadits Abi Dzar, sebagaimana yang dilakukan Nabi hampir-hampir para sahabat luput dari sahur. Atau pada keadaan sholat bersama jamaah pada awal malam yang mana jamaah sepakat dan mencocoki imam dalam sholat mereka (sampai mau  menjelang sahur) sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat pada zaman Umar radhiyallaahu ta’ala ‘anhu

Adapun keumuman manusia,jika kita sholat dengan mereka dengan  memanjangkan bacaan, dan di akhirkan waktunya , maka hal itu

‎مشقة على كثير منهم

Memberatkan atas kebanyakan jamaah.

Sebab pada jama’ah terdapat orang yang mempunyai “hajat, orang yang lemah, dan orang yang tua“.

Dan sungguh Nabi telah bersabda
Dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

‎أَخَّرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَةَ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ ثُمَّ صَلَّى، ثُمَّ قَالَ: قَدْ صَلَّى النَّاسُ وَنَامُوْا، أَمَّا إِنَّكُمْ فِي صَلاَةٍ مَا انْتَظَرْتُمُوْهَا

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan shalat isya sampai pertengahan malam kemudian beliau shalat, lalu berkata, “Sungguh manusia telah shalat dan mereka telah tidur, adapun kalian terhitung dalam keadaan shalat selama kalian menanti waktu pelaksanaan shalat.” (HR. Al-Bukhari  dan Muslim ).

Demikian pula hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu secara marfu’

‎لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ أَنْ يُؤَخِّرُوا الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ أَوْ نِصْفِهِ
“Seandainya tidak memberati umatku niscaya aku akan memerintahkan mereka untuk mengakhirkan shalat isya sampai sepertiga atau pertengahan malam.” (HR. At-Tirmidzi  dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)

Juga hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

‎صَلَّيْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَةَ الْعَتَمَةِ، فَلَمْ يَخْرُجْ حَتَّى مَضَى نَحْوٌ مِنْ شَطْرِ اللَّيْلِ، فَقَالَ: خُذُوْا مَقَاعِدَكُمْ. فَأَخَذْنَا مَقَاعِدَنَا فَقَالَ: إِنَّ النَّاسَ قَدْ صَلُّوا وَأَخَذُوْا مَضَاجِعَهُمْ، وَإِنَّكُمْ لَنْ تَزَالُوْا فِي صَلاَةٍ ماَ انْتَظَرْتُمُ الصَّلاَةَ ،وَلَوْلاَ ضَعْفُ الضَّعِيْفِ وَسَقْمُ السَّقِيْمِ لَأَخَّرْتُ هَذِهِ الصَّلاَةَ إِلىَ شَطْرِ اللَّيْلِ

Kami pernah hendak shalat isya bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam namun beliau tidak keluar dari tempat tinggalnya (menuju ke masjid) hingga berlalu sekitar pertengahan malam. Beliau lalu berkata, “Tetaplah di tempat duduk kalian.” Kami pun menempati tempat duduk kami. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, “Sungguh saat seperti ini orang-orang telah selesai mengerjakan shalat isya dan telah menempati tempat berbaring (tempat tidur) mereka. Dan sungguh kalian terus menerus teranggap dalam keadaan shalat selama kalian menanti shalat. Seandainya bukan karena kelemahan orang yang lemah dan sakitnya orang yang sakit niscaya aku akan mengakhirkan shalat isya ini sampai pertengahan malam.” (HR. Abu Dawud  dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

‎عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ قَالَ
‎قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي لَأَتَأَخَّرُ عَنْ الصَّلَاةِ فِي الْفَجْرِ مِمَّا يُطِيلُ بِنَا فُلَانٌ فِيهَا فَغَضِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا رَأَيْتُهُ غَضِبَ فِي مَوْضِعٍ كَانَ أَشَدَّ غَضَبًا مِنْهُ يَوْمَئِذٍ ثُمَّ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ فَمَنْ أَمَّ النَّاسَ فَلْيَتَجَوَّزْ فَإِنَّ خَلْفَهُ الضَّعِيفَ وَالْكَبِيرَ وَذَا الْحَاجَةِ

Dari Abu Mas’ud berkata, “Seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku terlambat sholat  shubuh berjama’ah disebabkan fulan yang memanjangkan bacaan shalat bersama kami.” Maka Rasulullah  marah, dan aku belum pernah melihat beliau marah sebelumnya melebihi marahnya pada hari itu. Kemudian Beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia, sungguh di antara kalian ada orang yang dapat menyebabkan orang lain berlari memisahkan diri. Maka barangsiapa memimpin shalat bersama orang banyak hendaklah dia melaksanakannya dengan ringan. Karena di belakang dia ada orang yang lemah, orang tua yang lanjut usia dan orang yang punya keperluan.”

1⃣Sisi pendalilan pertama

dari hadits-hadits di atas di pahami bahwa waktu untuk sholat isya, jika diakhirkan sampai 1/3 malam yang pertama (sekitar jam 9:30, atau pertengahan malam (sekitar jam 12 malam) adalah  waktu yang paling utama untuk sholat isya

‎لكنه صلى الله عليه وسلم لم يفعل ذلك

“Akan tetapi Nabi tidak lakukan hal tersebut,”

Karena Nabi khawatir memberatkan umatnya, sebab dalam jamaah ada orang yang lemah, orang yang sakit, dan orang yang tua, dan punya hajat. Ini pada  perkara yang wajib (sholat berjamaah) yang lebih mendekatkan diri kepada Allah dan lebih dicintai dari pada perkara perkara yang Sunnah, maka tentunya sholat tarawih yang hukumnya Sunnah muakkadah lebih utama di kerjakan di awal waktu dengan maksud تخفيفا  meringankan dan رفقا  lemah lembut terhadap jamaah.

2⃣Sisi pendalilan kedua

Dilihat dari kondisi dan maslahah (kebaikan dari jamaah) terkhusus lagi ketika pada zaman sekarang ini, di tambah lagi kebanyakan dari jamaah masjid bukan tholibul ilmu,  di mana mereka keesokan harinya ada yang bekerja sebagai pedagang, pegawai, petani  pelajar dan lain lainnya, tentunya jika di akhirkan sholat tarawih di atas pertengahan malam, ini akan memberatkan mereka. Sehingga yang hadir untuk sholat di akhir malam lebih sedikit.

Atas dasar inilah,  sebagian dari ulama

‎صلاة التراويح بالجماعة فى أول الوقت مع كثرة الجماعة وقلة القراءة افضل من تأخير صلاة الليل إلى فوق نصف الليل مع قلة الجماعة وتطويل القراءة .

Sholat tarawih diawal waktu bersamaan dengan itu banyak jamaah dan sedikit bacaan (pendek bacaan) itu lebih utama dari mengakhirkan sholat tarawih di akhir malam bersamaan dengan sedikitnya jamaah walaupun bacaan panjang

‎قال الإمام الكاساني :
‎” أما في زماننا فالأفضل أن يقرأ الإمام على حسب حال القوم من الرغبة والكسل فيقرأ قدر ما لا يوجب تنفير القوم عن الجماعة؛ لأن تكثير الجماعة أفضل من تطويل القراءة “.
‎[بدائع الصنائع 1/289]

💡 Berkata al Imam al Kaasaaniy rahimahullaahu ta’ala (wafat 587 Hijriyah)

Adapun pada zaman kita (zaman beliau imam  abad ke 5 -pent), maka yang afdhal imam membaca disesuaikan dengan keadaan kaum jama’ah, dari sisi keinginan semangat dan kemalasan

Maka imam membaca disesuaikan dengan apa yang tidak mengharuskan (membuat) lari kaum dari jama,ah. Karena banyaknya jamaah itu lebih afdhol dari panjangnya bacaan.
📚 *Baadaai’u Ashonaa’ii 1/289

Dan ungkapan di atas kita tanyakan kepada para ulama yaman

‎هل هذه العبارة صحيحة اعني :مراعة بكثرة الجماعة فى صلاة التراويح فى أول الوقت بعد صلاة العشاء مع قلة القراءة افضل من تأخيرها فى الثلث الأخير مع قلة الجماعة وكثرة القرءة؟

‎✏الشيخ حسن بالشعيب:
‎ ينظر المصلحة

‎✏الشيخ عبد الحميد الحجوري حفظه الله
‎ لاباس

‎✏الشيخ عبد الغنى العمري حفظه الله

‎الصحيح أن التراويح افضل ان يصلى بعد العشاء، هذا هو الذي درج السلف الصالح رضوان الله عليهم.

Apakah ungkapan ini benar,

Menjaga jama’ah dengan banyaknya yang ikut tarawih di awal waktu dengan sedikit bacaan, itu lebih afdhol dari sedikitnya jama’ah dan dikerjakan di akhir waktu dengan panjangnya bacaan.

✏  Asy Syaikh Hasan Basyyuaib hafizhohulloohu ta’ala
Dilihat bagaimana maslahat kondisi jama’ah

Asy Syaikh Abdul Hamid hafizhohulloohu ta’ala
Ungkapan tersebut tidak mengapa

Asy Syaikh Abdul Ghony al ‘Umary hafizhohulloohu ta’ala
Yang benar bahwasannya tarawih yang afdholnya dilakukan setelah sholat isya, inilah yang sholafushsholeh berjalan diatasnya.

📌 Sekarang lihat kondisi jamaah kita, apakah kebanyakan dari mereka penuntut ilmu sehingga kita tegakkan sholat malam di pertengahan malam?

Dan untuk membantu dalam menjawab ini, tentunya kita harus tahu ukuran :

kapan seorang di katakan penuntut ilmu

Simak jawaban para ulama

‎السلام عليكم ورحمه الله وبركاته

‎احسن الله اليك يا شيخنا

‎هل يقال لرجل هو طالب العلم مع أنه أحيانا فى الأسوع مرة واحدة  يحضر  لمجالس العلم، واكثر وقته طلبا للدنيا والمعيشة ،

‎وما هو الضابط فى تسمية  هذا الرجل على انه   من طلاب العلم؟؟
‎نريد التوضيح يا شيخنا ؟؟؟؟

‎وجزاك الله خيرا
[3/3 1:58 AM]

‎🖊إجابة الشيخ الفقيه  حسن بالشعيب حفظه  الله:

‎ طالب العلم هو مَن كان غالب حاله ووقته الانشغال بتحصيل العلم

[2/3 8:08 PM]

‎🖊الشيــخ فتح القدسي  حفظه  الله

‎ من اجتهد في تقييد العلم وحفظه ومراجعته ولزوم أهل العلم وطلبة العلم فهو طالب علم حتى ولو اشتغل في الدنيا أحيانا

❓Apakah dikatakan pada seseorang dia adalah penuntut ilmu, tapi bersamaan dengan itu kadang-kadang dalam sepekan hanya sekali menghadiri majlis ilmu, dan kebanyakan waktunya untuk mencari dunia dan biaya kehidupan.

Dan apa ukuran dalam penamaan seseorang lelaki bahwa dia termasuk dalam penuntut ilmu? Kami ingin penjelasan wahai syaikh kami

🖊 Jawaban Asy Syaikh Al Faqih Hasan Basy syuaib hafizhohulloohu ta’ala

Penuntut ilmu adalah dia kebanyakan dari keadaannya dan waktunya sibuk untuk mendapatkan ilmu.

🖊Jawaban Asy Syaikh Fathul Qadasi hafizhohulloohu ta’ala

Siapa yang bersungguh-sungguh dalam mengikat ilmu (mencatatnya) dan menghafalkan serta murajaah (mengulang-ngulanginya) dan terus menerusnya (tetapnya) ia bersama ahli ilmu, dan tetapnya ia mencari ilmu maka dia adalah seorang penuntut ilmu sampai walaupun dia tersibukkan dunia kadang kadang.

Selesai.

Maka dari jawaban ulama, maka lihatlah maslahah jamaah. Ini berbeda dengan ikhwah di dammaj, mereka adalah para penuntut ilmu, dan penghafal Al Qur’an  dan sebagian thullab menunggu di masjid dari sholat isya Sampai kedatangan Syaikhuna allamah Al muhaddits  Yahya Al hajury Hafidzhohullooh, mereka tidak kembali kerumah, kamar kamar, dan Mereka bisa mengikuti bacaan Syaikh dengan mentadabburinya dengan ilmu bahasa Arab yang mereka miliki.

🍃 Perkataan ulama salaf yang  menunjukkan bahwa sholat tarawih itu di kerjakan di awal malam setelah sholat isya

☄ Berkata Imam Dawud rahimahullaahu ta’ala

‎قال  الإمام أبو داود رحمه الله تعالى في [المسائل ص62]: ((سمعتُ أحمد – الإمام أحمد بن حنبل – قيل له: يعجبك أن يصلي الرجل مع الناس في رمضان أو وحده؟! قال: يصلي مع الناس. …”، ثم قال أبو داود: “قيل لأحمد وأنا أسمع: يؤخِّر القيام – يعني التراويح – إلى آخر الليل؟! قال: لا، سنة المسلمين أحبُّ إليَّ

Saya mendengar Imam Ahmad bin Hambal dikatakan padanya, Apakah membuatmu senang seorang sholat bersama manusia di bulan romadhon atau sholat sendiri?

Maka Imam Ahmad berkata, Sholat bersama manusia

Dan Imam abu Dawud juga berkata, dikatakan pada Imam Ahmad rahimahullah, Saya dengar, diakhirkan sholat tarawih sampai akhir malam?

Tidak، sunnahnya kaum muslimin lebih aku sukai(di kerjakan di awal waktu setelah isya .

🖊 Bersamaan dengan itu, “sholat di akhir  malam lebih utama dari awal malam, akan tetapi Imam Ahmad mengajak sholat bersama manusia pada awal malam,

“apa sebabnya“??

‎لأنها سنة المسلمين

Sebab itu adalah sunnahnya kaum muslimin
📚Masail hal 62

☄Berkata Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajury hafizhohulloohu ta’ala

‎فذهب أمام احمد إلى أن صلاة اول الليل افضل من الصلاة  آخر الليل، وهذا فى شأن التراويح بالجماعة ..اما اذا يصلى بنفسه منفردا  فى بيته أو زاوية من زوايا المسجد فإن صلاته فى اخر الليل افضل لأحاديث النبي، لكن هذا صارت فضيلته من عمل السلف ولما فيه من الرفق.

”Jadi Imam Ahmad berpendapat bahwa sholat tarawih di awal malam setelah isya itu lebih afdhol dari sholat di akhir malam ,ini pada perkara tarawih berjamaah, adapun jika sholat sendirian , maka dia sholat d akhir malam, itu lebih afdholberdasarkan hadits-hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi ini keutamaannya (tarawih berjamaah di awal waktu) menjadi amalan kaum salaf dan di dalamnya terdapat kelemah-lembutan terhadap jamaah.”

Selesai penukilan dari audio Syaikh .

☄Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaahu ta’ala

قال شيخ الاسلام
‎ ا كما في [ مختصر الفتاوى للبعلي ص81 ] :” والتراويح سنة بعد العشاء ” ، كذا مطلقاً دون تفريق .

”Tarawih sunnahnya adalah setelah sholat isya, demikianlah secara mutlak tanpa ada perbedaan (di sepuluh terakhir di bulan romadhon)”
📚Mukhtasar Al Fatawa Al Bu’ly hal 81

☄Dan juga Syaikhul Islam berkata
 
‎السنة في التراويح أن تصلى بعد العشاء الآخرة كما اتفق على ذلك السلف والأئمة ”

Sunnah dalan tarawih adalah di lakukan setelah sholat isya, sebagaimana kesepakatan salaf dan para imam akan hal tersebut.
📚Majmu’ Fatawa 23/119

☄ Berkata Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajury hafizhohulloohu ta’ala

‎انظر
‎شيخ الإسلام ينقول الإتفاق على انها تكون بعد صلاة العشاء ، ولا تكون بعد منتصف الليل ولا فى غيره من ذلك الاوقات

”lihatlah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahulloh menukil kesepakatan para imam dan ulama salaf bahwa tarawih itu setelah sholat isya, bukan setelah pertengahan malam, dan bukan pula waktu selainnya”

Selesai penukilan dari audio

☄Berkata Imam Ibnul Qayyim rahimahullaahu ta’ala

‎وقال ابن القيم في بدائع الفوائد [4/918 ]  :”واختلف قوله – يعني أحمد –  في تأخير التراويح إلى آخر الليل فعنه إن أخروا القيام إلى آخر الليل فلا بأس به كما قال عمر فإن الساعة التي تنامون عنا أفضل ولأنه يحصل قيام بعد رقدة وقال الله تعالى { إن ناشئة الليل …} الآية 
‎وروى عنه أبو داود لا يؤخر القيام إلى آخر الليل سنة المسلمين أحب إلى وجهه فعل الصحابة ويحمل قول عمر على الترغيب في الصلاة آخر الليل ليواصلوا قيامهم إلى آخر الليل لا أنهم يؤخرونها ولهذا أمر عمر من يصلي بهم أول الليل .
‎قال القاضي :  قلت ولأن في التأخير تعريضا بأن يفوت كثيرا من الناس هذه الصلاة لغلبة النوم القيام ” انتهى 

Dan telah diperselisihan perkataan Imam Ahmad dalam mengakhirkan tarawih di akhir malam, maka dari beliau(imam Ahmad)

Jika mereka mengakhirkan tarawih di akhir malam maka tidak mengapa. Sebagaimana perkataan Umar, karena waktu yang dimana  mereka tidur itu untuk sholat di akhir malam itu lebih afdhol dari sholat awal malam, sebab akan “terwujudkan qiyamullail setelah tidur“.

Dan Allah telah berfirman

”Orang yang berselimut sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan”

Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Imam Ahmad(tentang mengakhirkan tarawih di akhir malam , Tidak , sunnahnya kaum muslimin lebih aku cintai. Sisi pendalilannya adalah karena itu perbuatan sahabat.

Dan adapun perkataan Umar rodhialloohu Anhu (wakty yang dimana kalian tidur untuk sholat di akhir malam lebih afdhol dari sholat di awal malam) itu ada kemungkinan : untuk memberikan dorongan sholat di akhir malam supaya mereka menyambung sholat mereka sampai akhir malam. Bukan maksudnya: “mereka mengakhirkan sholat tarawih di akhir malam“, karena itulah Umar memerintahkan, siapa yang sholat dengan jamaah supaya untuk di kerjakan di awal waktu.

Berkata Al Qodhi, Saya berkata sebab mengakhirkan sholat tarawih mengakibatkan kebanyakan manusia luput dari sholat tersebut karena pulas tidur
📚 Badaai’ Al Fawaaid 4/918

✏Ini adalah pernyataan tegas dari imam Ibnul Qayyim Rohimahulloh bahwa para sahabat melakukan sholat tarawih di awal malam dan tidak membedakan jika di sepuluh akhir malam. Dan maksud dari perkataan Umar rodhialloohu Anhu
Bahwa mereka yang tidur untuk sholat di akhir malam itu lebih afdhol dari yang melakukan diawal waktu, itu di bawa pada kemungkinan : jika ia sholat sendiri.(diakhir malam lebih afdhol)

Dan Imam Al Marwazi Rohimahulloh rahimahullah menyebutkan

‎وذكر المروزي في قيام الليل عن عمران بن حدير رحمه الله : أرسلت إلى الحسن رحمه الله فسألته عن صلاة العشاء في رمضان أنصلي ، ثم نرجع إلى بيوتنا فننام ، ثم نعود بعد ذلك ؟ 
‎ فأبى ، قال : لا ، صلاة العشاء ثم القيام  . 

Tentang qiyamullail dari Imran bin Judair Rohimahulloh, saya di utus ke Hasan Al Basri, maka saya bertanya padanya tentang sholat isya di bulan romadhon, apakah kita akan lakukan sholat tarawih kembali dulu ke rumah rumah kita kemudian tidur kemudian kembali kemasjid setelah itu

Maka beliau (Al Hasan) enggan untuk menjawab, kemudian beliau berkata ; Tidak, sholat isya kemudian tarawih.

📌 Ini menunjukkan bahwa tarawih itu “Setelah sholat isya dan sebelum tidur” dan ini adalah  perbuatan para salaf seluruhnya,

‎خلافا الناس اليوم فى العشر الاواخر

Berbeda dengan manusia pada sekarang ini dengan mengakhirkan sholat tarawih di sepuluh malam terakhir..

🍃 Adapun perkataan ulama yang lain

☄Seperti Asy Syaikh Al Allamah  al Fauzan hafizhohulloohu ta’ala

‎اما تأخيرها كما يقول السائل الى وقت اخر ثم ياتون الى المسجد ويصلون التراويح ، هذا خلاف ماكان عليه العمل ، وفقهاء يذكرون انها تفعل بعد صلاة العشاء وراتبتها ، فلو أنهم أخروها لا نقول إن هذا محرم ، ولكنه خلاف ما كان عليه العمل وهى تفعل اول الليل ، هذا هو الذي عليه العمل

Adapun mengakhirkan tarawih sebagaimana yang di sebutkan penanya sampai pada waktu yang lain, kemudian mereka datang kemasjid dan sholat tarawih, maka ini menyelesihi apa yang merupakan amalan salaf dan ahli fiqh menyebutkan bahwa tarawih itu di lakukan setelah sholat isya dan sholat Sunnah rawatib, seandainya saja mereka mengakhirkan ‘ maka ”Kami tidak mengatakan haram (itu perkara bi’dah)” akan tetapi menyelishi apa amalan kaum salaf berada di atasnya, yaitu dilakukan di awal malam
📚Al Muntaqa Minal Fatawa 3/116

Dan perlu diperhatikan Syaikh Sholeh Al Fauzan tidak sampai membidahkan yang melakukannya.

Walaupun Syaikh Albany agak keras mengingkari orang yang mengakhiri sholat tarawih di akhir malam, dan beliau katakan  sholat tarawih itu di lakukan setelah sholat isya secara langsung sebagaimana dalam kitabnya sholat  at tarawih dan kaset kaset  beliau:

‎مبينا  أن هذا عليه فعل  عمر وان هذا  تدعمه الأدلة والأثار

Menjelaskan bahwa apa yang shalafus Sholih berada di atasnya yaitu apa yang dilakukan oleh Umar dan ”inilah yang dikuatkan oleh dalil-dalil dan atsar”

☄Berkata Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajury hafizhohulloohu ta’ala

‎ وكلامه شديد  فيمن اخر إلى نصف الليل .
‎اما الشيخ بن باز رحمه الله
‎فله الختيار يجوز اول الليل أو اخر الليل وهكذا شيخنا المقبل ، فهذا عليه العمل اغلب المراكز التابعة له سواء فى اليمن أو غير اليمن، وهكذا شيخنا يحي الحجوري حفظه الله تعالى.

‎لكن نحن نحب ما ياخذ عمر رضى الله عنه ولا ينكر عليهم لكن الذي نراه الذي يقربنا الى الله عملا بما دلت عليه الآثار.

”Dan perkataan Syaikh Albany  rohimahullooh sangat keras bagi orang yang mengakhirkan di atas pertengahan malam.

Adapun Syaikh Bin Baz rahimahullaahu ta’ala : Baginya untuk memilih boleh di awal waktu atau di akhir waktu.

Dan juga Syaikh Muqbil dan inilah kebanyakan markiz markiz/pondok yang mengikuti pendapat Syaikh Muqbil sama saja di Yaman atau di luar Yaman.

Dan ini juga pendapat dari guru kami Syaikh Yahya Al Hajury hafizhohulloohu ta’ala

Akan tetapi kami senang apa yang di lakukan oleh Umar dan tidak di ingkari atas mereka yang mengakhirkan. Akan tetapi kami berpendapat yang mendekatkan diri kami kepada Allah adalah amalan yang ditunjukkan atasnya atsar.

Selesai penukilan dari audio

📌 Adapun yang dimaksudkan oleh Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajury hafizhohulloohu ta’ala tentang perkataan Syaikh Albany rahimahullaahu ta’ala diatas ,bahwa perkataan beliau keras

‎ اما صلاة التهجد فلم يرد عن رسول الله ولا عن صحابة رضى الله عنهم أنهم تواعدوا عليها فى مسجد ولا فى غيره

Adapun sholat tahajjud tidak shohih dari Nabi  dan tidak pula para sahabat radhiyallaahu ta’ala ‘anhum bahwasanya mereka saling berjanji untuk sholat pada suatu masjid dan tidak pula pada tempat lain selain dari  masjid
📚 Silsilah Al Huda wa Nur 729

‎قال ابن كثير رحمه الله
‎وأما أهل السنة والجماعة يقولون فى كل فعل وقول لم يثبت عن الصحابة  رضى الله عنهم هو بدعة 
‎تفسير ابن كثير 4/157

Adapun ahlussunah wal jamaah mengatakan setiap perbuatan dan perkataan yang tidak Tsabit (shohih) dari  sahabat nabi maka itu adalah bi’dah

📚 tafsir Ibnu Katsir 4/157

🍃Permasalahan terakhir yang masih tanda tanya kepada sebagian tholibul ilmi

Mana yang lebih afdhol sholat tarawih berjamaah di masjid atau di rumah sendirian

☄ Berkata Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajury hafizhohulloohu ta’ala

‎فلو رجعنا إلى الجمهور المتقدمين نرى قولهم إن الصلاة فى البيت افضل

Seandainya kita melihat jumhur ulama terdahulu, kita melihat pendapat mereka bahwa

‎على أن صلاة فى البيت افضل

Bahwa sholat tarawih di rumah lebih afdhol.

‎وذكر ابن أبي شيبة فى مصنفه عدة من الأثار
Imam ibnu Syaibah menyebutkan dalam Mushonnaf nya beberapa atsar

‎والعمدة حديث من النبي صلى الله عليه و

dan yang paling pokok dalam pembahasan ini adalah hadits Nabi

‎عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: احْتَجَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حُجَيْرَةً مُخَصَّفَةً أَوْ حَصِيرًا، فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِيهَا فَتَتَبَّعَ إِلَيْهِ رِجَالٌ وَجَاءُوا يُصَلُّونَ بِصَلَاتِهِ، ثُمَّ جَاءُوا لَيْلَةً فَحَضَرُوا وَأَبْطَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهُمْ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ، فَرَفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ وَحَصَبُوا الْباب فَخَرَجَ إِلَيْهِمْ مُغْضَبًا، فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَا زَالَ بِكُمْ صَنِيعُكُمْ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُكْتَبُ عَلَيْكُمْ، فَعَلَيْكُمْ بِالصَّلَاةِ فِي بُيُوتِكُمْ، فَإِنَّ خَيْرَ صَلَاةِ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا الصَّلَاةَ الْمَكْتُوبَةَ ”

Dari Zaid bin Tsaabit radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah membuat ruangan yang dibatasi dengan sehelai kain atau tikar di masjid. Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam keluar dan melakukan shalat di dalamnya. Kemudian orang-orang pun datang ikut shalat bersama beliau. Di malam berikutnya mereka datang, namun Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak kunjung keluar. Sambil mengeraskan suara, mereka melempar pintu beliau dengan kerikil. Tidak lama kemudian beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui mereka dalam keadaan marah seraya bersabda: “Masih saja kalian mengerjakannya (shalat sunnah di masjid dengan berjama’ah), hingga aku mengira hal itu akan diwajibkan atas kalian. Hendaklah kalian shalat di rumah-rumah kalian, karena sebaik-baik shalat bagi laki-laki itu di rumahnya, kecuali shalat wajib” Diriwayatkan oleh Al Bukhaari Muslim

Dan juga Rasulullah Sholllahu alaihi wa salam bersabda

‎ اذا قضى أحدكم الصلاة فى المسجد فليجعل في بيته من صلاته نصيبا فإن الله جاعل من صلاته فى بيته خيرا  ، والحديث فى الصحيح

Jika salah seorang kalian telah melakukan sholat wajib di masjid, maka hendaknya ia jadikan bagian (sholat Sunnah) di rumahnya dari sholatnya, sebab Allah menjadikan dari sholatnya di rumahnya kebaikan. Dan hadits dalam ash shohih.

‎فإذا كان هذا الحديث  حث على نوافل العبادة فى البيت نوافل قبلية وبعدية، فعمومه دال كذلك على قيام الليل فى البيت ،لما يحصل من البركة فى البيت الذي يقرأ القرآن ، ويصلى فيه  ويطرد منه الشيطان .

Jika hadits tersebut memberikan semangat untuk melakukan nawafil ibadah (sholat Sunnah)di rumah, Sunnah qabliyah atau ba’diyah, maka keumuman hadits tersebut menunjukkan juga bahwa qiyamullail (tarawih) dirumah, sebab jika dilakukan di rumah akan terwujudkan kerberkahan di rumah yang di baca Al Quran di dalamnya, dan yang di pakai sholat dan syaitan akan terusir dari rumah.

Kemudian Syaikh menyebutkan beberapa  atsar

‎وعن ابراهيم ، لولا معي الا صورة أو الصورتان أن ارددهما أحب إلي من أن أقوم خلف الامامفى شهر رمضان

Dari Ibrohim seandainya tidak ada bersamaku kecuali satu surah atau dua surah yang saya mengulang ulanginya, itu lebih saya sukai dari pada saya berdiri di belakang imam di bulan ramadhan. Ini adalah atsar yang shohih

‎عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ: ” أَنَّهُ كَانَ لَا يَقُومُ مَعَ النَّاسِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، قَالَ: وَكَانَ سَالِمٌ، وَالْقَاسِمُ لَا يَقُومانِ مَعَ النَّاسِ ”

Dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar : “Bahwasannya ia (Ibnu ‘Umar) tidak shalat bersama orang-orang di bulan Ramadhan. Naafi’ juga berkata : “Saalim dan Al-Qaasim tidak shalat bersama prang-orang” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dan ini adalah atsar yang shohih

‎عَنِ الْأَعْمَشِ، قَالَ: ” كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَؤُمُّهُمْ فِي الْمَكْتُوبَةِ، وَلَا يَؤُمُّهُمْ فِي صَلَاةِ رَمَضَانَ “، وَعَلْقَمَةُ وَالْأَسْوَدُ

Dari Al-A’masy, ia berkata : “Ibraahiim (An-Nakha’iy) mengimami mereka dalam shalat wajib, namun tidak mengimami mereka dalam shalat Ramadlaan (tarawih). Begitu juga dengan ‘Alqamah dan Al-Aswad” ini adalah atsar yang  shahih].

Al ‘qomah dan Al Aswad adalah merupakan murid dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu…….

‎ثم قال الشيخ : التراويح فى المسجد مشروعية ولم ينكر ذلك إلا روافض

Dan tarawih di masjid adalah di Syariatkan, tidak ada yang mengingkari kecuali syiah rafidhoh.

Akan tetapi yang menjadi perselisihan ahli ilmi yang mana afdhol di masjid atau di rumah?

Dan Imam al allamah Al muhaddits Al Mu’allimy Rohimahulloh mengeluarkan satu tulisan dan menyebutkan

‎بأنه أفضل القيام، ما اجتمع فيه اربعة شروط

Bahwa seafdhol afdhol qiyamullail adalah apa yang terkumpul padanya empat syarat.

‎1⃣ان يكون فى ثلث الأخير من الليل
Di lakukan pada 1/3 malam terakhir

‎2⃣ان يكثر فيه القراءة
Memperbanyak bacaan di dalamnya.

‎3⃣أن يكون فى البت
Di lakukan di rumah

‎4⃣احدى عشرة ركعة..
Yaitu 11 rakaat.

☄Berkata Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajury hafizhohulloohu ta’ala

‎وعلى هذا القول شيخنا المقبل رحمه الله فإنه كان يصلى فى بيته ويكثر  الصلاة فى بيته،الا اذا شعر من الكسل،خرج وصلى مع الناس فى المسجد ، واستدل بحديث زيد بن ثابت

Atas pendapat imam Mualimiy, Syaikh Muqbil berada diatasnya. Dan beliau dulu sholat di rumahnya dan memperbanyak sholat di rumahnya, kecuali jika beliau merasakan malas maka beliau keluar dan sholat bersama manusia, beliau berdalilkan dengan hadits Zaid bin Tsabit sebagaimana yang telah di sebutkan.

Dan pada thullab berkata pada Syaikh Muqbil pada suatu malam, ya Syaikh kamu berdalilkan atas kami dengan hadits hadits akan dalilnya berjamaah.

Maka Syaikh menjawab hadits Zaid bin Tsabit, adalah sholatul tarawih di bulan romadhon, dan hadits itu sendiri  yang menjelaskan permasalahan ini.

‎صلوا فى بيوتكم فإن افضل صلاة المرء  فى بيته الا المكتوبة

”Wahai sekalian manusia sholatlah kalian di rumah-rumah kalian, sebab seafdhol-afdhol sholat seseorang adalah di rumahnya kecuali sholat wajib.”

Hadits ini pada pembahasan sholat apa???
Sholat tarawih di bulan Ramadhan.

Bersamaan dengan itu sholat tarawih di masjid adalah Sunnah, sebab Nabi telah bersabda

‎وعليكم بسنتي وسنة خلفاء الراشدين

Atas kalian sunnahku dan sunnah khulafa ur rosyidin.

Dan Nabi beberapa hari sholat bersama para sahabatnya di masjid dari hadits abu Dzar (yang telah lewat penyebutannya) dan juga perbuatan Umar yang mengumpulkan manusia di masjid dengan satu imam.

‎وشاهدنا أن الأصل صلاة التراويح فى المسجد قد فعل النبي ،فاصله سنة نبوية، واجتماع الناس عامة وتعميمهم فى المساجد سنة عمرية، وهى نباوية لأن النبي أمرنا أن نأخذ سنة خلفاء الراشدين  فيما لم يخالف الدليل، فعمر جمعهم على هذه السنة ،سنة نبوية وأقره عليها الصحابة ، وصلى الناس بهذه الصلاة ، فلا ينكر مشروعية الصلاة التراويح  الا جاهل أو مكابر أو مبتده ضال

Titik pembahasan kita, pada asalnya sholat tarawih di masjid telah di lakukan oleh Nabi maka asalnya adalah Sunnah Nabawiyah, dan berkumpulnya manusia (para sahabat) secara umum, di masjid adalah Sunnah umariyah, dan itu adalah Sunnah Nabawiyah, sebab Nabi memerintahkan kepada kita untuk mengambil Sunnah Khulafaur Rasyidin pada perkara yang tidak menyelisihi dalil , maka Umar rodhialloohu Anhu mengumpulkan manusia pada Sunnah Nabawiyah, para sahabat menyetujui akan Sunnah tersebut, dan manusia pun sholat dengan sholat ini (tarawih berjamaah di masjid di awal waktu). Dan tidak ada yang mengingkari di Syariatkan sholat tarawih KECUALI orang yang jahil, sombong, ahli bi’dah yang sesat

Diterjemahkan secara ringkas dari audio beliau.

📌Sehingga dari sini jangan kita merasa ujub dengan amalan kita, serta  memandang, meremehkan orang yang sholat tarawih di rumah sendirian di akhir malam, terkhusus lagi di masjid masjid yang melakukan sholat tarawih di awal waktu, ia tidak bisa mendapatkan kekhusyukan dalam sholat, gerakan sholatnya imam yang cepat dan banyak perkara perkara bi’dah yang di lakukan .

Yang terpenting bagi kita sebagai tholibul Ilmi adalah bisa menyikapi perbedaan pendapat dalam masalah ini, dan jangan dijadikan sebagai perselisihan, permusuhan dan dijadikan atas masalah ini Al wala (kecintaan) dengan yang sejalan dengannya dan al bara (kebencian) dengan yang tidak sejalan dengannya, apalagi marah dan ingin mengajak debat dan Ingin menjatuhkan saudaranya karena pendapatnya yang agak keras

Dan bagi seseorang jika telah nampak pendapat yang kuat baginya dengan dalil dalil maka lakukan dan kokoh di atasnya

Sebab kita beramal tentunya telah ada dalil yang kita persiapkan di hadapan Allah

🖊Berkata Imam Ibnu Daqiq Al Ied rahimahullaahu ta’ala

‎” ما تكلمتُ كلمةً ، ولا فعلتُ فعلاً ، إلا وأعددتُ له جواباً بين يدي الله عز وجل “. 
‎« طبقات الشافعية الكبرى » (9 /212) 

Tidaklah aku berucap dengan suatu ucapan atau melakukan suatu perbuatan kecuali telah ku persiapkan untuk ucapan atau perbuatan jawaban (dalil) di hadapan Allah
📚 Thobaqat Asy Syafi’iyah Al Kubro 9/212

Dan kita juga bukan taklid buta bahwasannya Syaikh Fulan, Syaikh Fulan berpendapat seperti ini dan mereka tidak melakukan Sunnah tersebut sehingga pun kita tidak melakukannya, kalau ini yang mau di jadikan dalil atau tolak ukur maka kita katakan

Bagaimana seandainya pada zaman ini hidup Imam Ahmad, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan Imam Ibnu Qayyim, Imam Al Kasaany, Imam Hasan al Bashri yang  mereka berpendapat sunnahnya sholat tarawih berjamaah itu di kerjakan di awal waktu setelah sholat isya⁉

Tapi kita meninggalkan perkataan manusia karena Sunnah Rasulullah dan ingin menghidupkannya. Dan juga melihat dalil dalil serta dari mana sisi pendalilan ulama akan hal tersebut

🖊 Imam Ibnul Mundzir rahimahullaahu ta’ala mengatakan

‎ولا يجوز أن يجعل إغفال من أغفل عن استعمال السنة  أو نسيها او لم يعمل بها حجة على من علمها وعمل بها

Tidak boleh menjadikan kelalaiannya orang orang yang lalai dari mengamalkan Sunnah, atau yang lupa atau yang tidak beramal terhadap sunnah tersebut  sebagai hujjah atas yang mengetahuinya dan beramal dengannya
📚al Awshot 3/29

💥 Dan kita tidak perlu peduli dan jangan menoleh dengan ucapan manusia yang berselisih pendapat dengan kita, sebab  beramalnya kita bukan karena takut akan celaan manusia dan ingin mengharapkan pujian manusia, tapi semata mata mencari  keridhoan Allah. Apalagi ini adalah perkara afdholiyah (mana yang lebih afdhol apa di awal malam atau di akhir malam, apa di kerjakan di masjid berjamaah atau dirumah sendirian)

🖊Berkata Asy Syaikh Al Utsaimin rahimahullaahu ta’ala

‎📌 قـ✒ـال العــــلامہ
‎ محمد بن صالح العثيمين رحمہ الله – :

‎〽 لـو أن الإنسان سمع ما يقول الناس وما يعترضون به ما مشى خطوة ؛

‎لكن أنت أصلح ما بينك و بين الله ولا يهمك أحد ، فالكلام على إرضاء الله عز وجل ،
‎فإذا التمست رضا الله بسخط الناس ، رضي الله عنك وأرضى عنك الناس
‎وكفاك مؤونتهم

‎📓📔شرح اقتضاء الصراط المستقيم ص(١٧٠)

Seandainya seseorang mendengarkan  apa yang  katakan oleh manusia, dan apa yang manusia memperotes denganya

📌 Maka langkahnya tidak akan berjalan

Akan tetapi perbaikilah hubungan antara kamu dengan Allah, maka jangan seorang pun yang membuatmu sedih.

💡 Pembahasan kita atas keridhoan Allah

Maka jika kamu mencari ridho Allah di atas kebencian manusia, maka Allah  akan ridho terhadapmu, dan Allah akan membuat manusia ridho padamu dan Allah akan mencukupkan kamu dari kejahatan mereka
📚Syarh Iqtidho Shirothol Mustaqim hal 170

🖊Dan beliau juga berkata

‎وان كان الناس يزدرونه أو لا يرونه شيئا أو يستنكرون ذلك ،افعل السنة

Walaupun seluruh manusia menghinakannya, atau tidak memandangnya sedikit pun, atau mereka mengingkari perkara tersebut, maka lakukanlah Sunnah tersebut.
📚fatawa nur ala darb /280

Simak perkataan dibawah ini, mudah mudahan kita bisa mengambil pelajaran dan adab yang baik

☄Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan

‎قال العلماء المصنفون في الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر من أصحاب الشافعي وغيره : إن مثل هذه المسائل الاجتهادية لا تنكر باليد ، وليس لأحد أن يلزم الناس باتباعه فيها ؛ ولكن يتكلم فيها بالحجج العلمية ، فمن تبين له صحة أحد القولين تبعه ، ومن قلد أهل القول الآخر فلا إنكار عليه

Para ulama yang mengarang buku tentang amar ma’ruf nahi munkar dari kalangan mazhab Syafi’i dan yang lainnya menegaskan, bahwa masalah ijtihadiyah seperti ini tidak boleh diingkari secara paksa(dengan tangan). Tidak berhak seorangpun untuk memaksa orang-orang mengikuti pendapat yang ia pilih dalam hal ijtihad. Akan tetapi ia berhak menerangkan, berbicara  dengan hujah yang ilmiyah. Siapa yang menemukan pendapat yang paling benar diantara dua pendapat, maka ia pilih pendapat yang benar tersebut. Atau bagi yang mengikuti pendapat yang lain, maka tidak perlu diingkari.”
📚Majmu’ Fatawa 30/48.

📌Ket:

Adapun judul audio dari Syaikhuna Abdul Hamid Al Hajury Hafidzhohullooh

‎✅ الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله أما:
‎فهذه محاضرة في بيان الوقت المختار في صلاة التراويح في شهر رمضان في أوله وآخره بعنوان:

(القول المليح في بيان الوقت المختار لصلاة التراويح)

http://T.me/abdulhamid12

Disusun oleh
Abu Hannan as Sandakany

http://t.me/ilmui

Iklan

Perbedaan Salafy dengan Selainnya

BEDA SALAFIY DENGAN NON SALAFIY

Tanya:
Apa bedanya Salafiy dengan yang lainnya? Adakah perbedaan khusus? Sampai sometimes orang-orang memandang lain?

Jawab:
Perbedaan Salafiy dengan selain Salafiy sangatlah banyak, di antaranya:

Perbedaan pertama:
Salafiy adalah suatu nama penisbatan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang beliau telah menyebutkan penamaan ini sebagaimana di dalam “Shahih Al-Bukhariy” dari hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada putri beliau Fathimah Radhiyallahu ‘Anha:

فَإِنِّي نِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكَ.

“Maka sesungguhnya aku adalah sebaik-baik Salaf bagimu.”

Adapun selain Salafiy maka mereka menisbatkan diri kepada pendiri kelompok mereka atau mereka menisbatkan diri kepada pimpinan-pimpinan atau tokoh-tokoh mereka.

Perbedaan kedua:
Salafiy adalah bentuk kata nisbat yang jama’nya adalah Salafiyyun, mereka adalah jama’ah yang berada di atas jalan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka senantiasa mengikuti beliau dan terus menerus mendakwahkan apa yang telah beliau bawa, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah terangkan di dalam Al-Qur’an:

قُلْ هٰذِهٖ سَبِيْلِيْۤ اَدْعُوْۤا اِلَى اللّٰهِ ۗ عَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَاۡ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ ۗ وَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَاۤ اَنَاۡ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ.

“Katakanlah (wahai Rasul), Ini adalah jalanku, aku berdakwah kepada Allah di atas kejelasan ilmu, demikianlah dakwahku dan orang-orang yang mengikutiku. Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang berbuat kesyirikan.” (Yusuf: 108).
Merekalah yang berada di atas jalan ini, yang dengannya mereka meraih keselamatan, sebagaimana diperjelas di dalam suatu hadits ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya tentang suatu kelompok yang berada di dalam Surga:

وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي.

“Dan siapa kelompok itu wahai Rasulullah? Maka beliau menjawab: “Kelompok yang aku dan para shahabatku berada di atasnya.” Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy. Sekelompok ‘Ulama hadits telah menyatakan bahwa hadits ini adalah shahih dan juga memiliki penguat dari beberapa riwayat. Diperjelas pada riwayat Abu Dawud dan Al-Hakim bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menerangkan tentang kelompok tersebut:

وَهِيَ الْجَمَاعَةُ.

“Kelompok itu adalah Al-Jama’ah.” Hadits ini telah dishahihkan oleh Abul ‘Abbas Ahmad Al-Harraniy Rahimahullah.

Adapun selain Salafiyyun maka sesungguhnya mereka berjalan di atas jalan pendiri kelompok mereka, atau berjalan di atas jalan pimpinan-pimpinan atau tokoh-tokoh mereka, dan mereka lebih mengedepankan pendapat pendiri, tokoh-tokoh atau pimpinan-pimpinan mereka daripada mengikuti kejelasan yang datang dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Perbedaan ketiga:
Salafiyyun senantiasa di atas ilmu, menuntutnya, mempelajarinya, mengamalkannya dan mendakwahkannya sebagaimana diterangkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَلاَ تَزَالُ عِصَابَةٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ عَلَى مَنْ نَاوَأَهُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

“Barangsiapa yang Allah menghendaki kepadanya dengan suatu kebaikan maka Dia memahamkan agama kepadanya, dan akan senantiasa ada sekelompok dari kaum Muslimin yang berjuang di atas kebenaran mereka mengungguli atas orang-orang yang menyelisihi mereka hingga hari kiamat.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dan Muslim, dan ini adalah lafazh Muslim.

Adapun selain Salafiyyun maka mereka berpaling dari ilmu dan mereka lebih condong kepada taklid dan ikut-ikutan.

Perbedaan keempat:
Salafiyyun senang mengamalkan sunnah-sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan senantiasa berpegang teguh kepadanya, dengan sebab itu Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan mereka dalam satu jama’ah mulai dari zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hingga akhir zaman dan di akhirat Allah Subhanahu wa Ta’ala akan jadikan wajah-wajah mereka putih bersinar, sebagaimana telah masyhur disebutkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma:

تَبْيَضُّ وُجُوْهُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْاِئْتِلَافِ.

“Akan putih bersinar wajah-wajah Ahlis Sunnah wal Jama’ah.”

Adapun selain Salafiyyun maka mereka senang mengamalkan bid’ah-bid’ah dan senang dengan apa-apa yang tidak pernah diamalkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dengan sebab itu Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan mereka berkelompok-kelompok sehingga masing-masing mereka bangga dengan apa yang ada pada mereka, dan di akhirat Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan wajah-wajah mereka hitam gelap sebagaimana telah masyhur disebutkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma:

وَتَسْوَدُّ وُجُوْهُ أَهْلِ الْبِدْعَةِ وَالْاِخْتِلَافِ.

“Dan akan hitam gelap wajah-wajah Ahlul Bid’ah wal Furqah.”

Perbedaan kelima:
Salafiyyun menerima dalil yang telah didatangkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mengamalkannya, karena ini yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan:

وَمَاۤ اٰتٰٮكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰٮكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

“Apa saja yang didatangkan oleh Rasul kepada kalian maka terimalah oleh kalian, dan apa saja yang dia larang bagi kalian maka tinggalkanlah oleh kalian. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah adalah sangat keras hukuman-Nya.” (Al-Hasyr: 7).

Adapun selain Salafiyyun maka mereka menerima apa yang didatangkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hanya pada apa yang mencocoki hawa nafsu mereka, jika tidak mencocoki mereka maka mereka tolak atau mereka carikan pendapat yang menyelisihi dalil atau mereka menta’wil dalil dengan ta’wilan salah, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah sebutkan hakekat mereka:

فَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَآءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَآءَ تَأْوِيْلِهٖ.

“Adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyimpangan maka mereka mengikuti dalil-dalil yang tidak jelas untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya.” (Ali ‘Imran: 7).

Mereka itulah yang hendak kita waspadai, karena Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah peringatkan:

فَإِذَا رَأَيْتُمُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ، فَأُولَئِكَ الَّذِينَ سَمَّى اللَّهُ، فَاحْذَرُوهُمْ.

“Jika kalian melihat orang-orang mengikuti dalil yang belum jelas padanya maka mereka itulah yang Allah sebutkan, oleh karena itu waspadalah kalian dari mereka.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dan Muslim dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha.

Semoga di antara apa yang kami sebutkan ini sudah mencukupi untuk menerangkan tentang perbedaan Salafiy dan yang bukan Salafiy. Dan kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala supaya Dia menjadikan kita termasuk dalam kelompok Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para shahabatnya yang telah beliau sebutkan:

مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي.

“Suatu kelompok yang aku dan para shahabatku berada di atasnya.”

(Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di Kemang Pratama Bekasi pada 5 Syawwal 1439).

⛵️ http://t.me/majaalisalkhidhir

Haromnya Demokrasi

💥❎⚠️ HARAMNYA DEMOKRASI DAN PEMILU

📝 Asy-Syaikh Muqbil bin Hâdî Al-Wâdi’i rohimahullôh mengatakan:
دُعَاةُ الدِّمُقْرَاطِيَّةِ يَدْعُونَ إِلَى الشِّرْكِ.
“Para Du’ât (penyeru) demokrasi, adalah orang yang menyeru kepada kesyirikan.” [Lihat “Ghôrotul Asyrithoh” (1/17)].

📝 Beliau rohimahullôh juga mengatakan:
وَمَنْ يَتَبَاهَى بَالدِّمُقْرَاطِيَّةِ، فَوَاللَّهِ إِنَّهَا لَخِيَانَةٌ لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ.
“Barangsiapa berbangga dengan demokrasi maka demi Allôh, hal tersebut adalah pengkhianatan kepada Allôh dan RosulNya.” [Lihat “Ghôrotul Asyrithoh” (1/315)].

📝 Beliau rohimahullôh juga mengatakan:
وَمَنْ دَعَا إِلَى الدِّمُقْرَاطِيَّةِ وَهُوَ يَعْرِفُ مَعْنَاهَا فَهُوَ كَافِرٌ، لِأَنَّهُ يَدْعُو إِلَى أَن يَكونَ الشَّعْبُ شَرِيكًا مَعَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
“Barangsiapa menyeru kepada demokrasi dalam keadaan ia mengetahui maknanya, maka dia kafir. Karena ia menyeru untuk menjadikan rakyat sebagai serikat (tandingan) dengan Allôh azza wa jalla.” [Lihat “Qom’ul Ma’ânid” (221-222)].

📝 Beliau rohimahullôh juga mengatakan:
الدِّمُقْرَاطِيَّةُ طَاغُوتِيَّةٌ.
“Demokrasi adalah Thoghut!.”
[Lihat “Ghôrotul Asyrithoh” (1/354)].

📝 Beliau rohimahullôh juga mengatakan:
الدِّمُقْرَاطِيَّةُ فِيهَا تَعْطِيلُ كِتَابِ اللَّهِ، وَتَعْطِيلُ سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
“Demokrasi terdapat padanya penelantaran terhadap Kitabullôh dan Sunnah Rosulillâh shollallôhu alaihi wa sallam.” [Lihat “Ghôrotul Asyrithoh” (1/485)].

📝 Beliau rohimahullôh juga mengatakan:
أَهْلُ السُّنَّةِ مَا يَتَلَوَّنُونَ نَحْنُ نَقُولُ اليَومَ وَغَدًا وَبَعْدَ غَدٍّ: الإِنْتِخَابَاتُ طَاغُوتِيَّةٌ مُحَرَّمَةٌ.
“Ahlus Sunnah tidaklah berubah-ubah, kita katakan hari ini, maupun esok dan setelah esok bahwa Pemilu adalah Thoghut lagi Harom.” [Lihat “Tuhfatul Mujîb” (401)].

📚 Dicuplik dan diringkas dari kitab: “I’lâmul Ajyâl bi Kalâmil Imâm Al-Wâdi’i fiel Firoqi wal Kutubi war Rijâl”

📎 @Ikhwahngawi
~~~~~~~~~~~~~~~~~

✅ 🄹🄾🄸🄽 🄲🄷🄰🄽🄽🄴🄻 🖌
https://t.me/DarsTanjungPinang

🌾بسم الله الرحمن الرحيم🌾

<em>🔶Soal:</em>
<em>Bagaimana memilih pemimpin dlm satu negara jika demokrasi harom???</em>

<em>🔶Jawab:</em>
Memilih pemimpin atau penguasa di dalam agama islam sangat berlawanan dgn demokrasi. <em>Ada 4(cara) yang telah ditempuh para sahabat sebagai teladan bagi kita..</em>

<em>Dan sebelum kita menyebutkan 4 cara diatas maka wajib bagi kita mengetahui sebagai orang muslim bahwa agama islam adalah agama yang sempurna dan merupakan agama untuk pemerintahan dan kedaulatan.</em>

<em>Tidak butuh dengan demokrasi gaya barat selamanya dan menerima sistem demokrasi sama halnya mengalah dan menuduh bahwa agama islam adalah agama yang tidak sempurna dan ini adalah perkara yang tidak mungkin.</em>

Dan sungguh islam datang dengan kesempurnaannya yaitu mengajarkan dari masalah pemerintahan sampai masalah buang hajat.

<em>Sebagaimana datang salman al-farisiy -رضي الله عنه-:</em>

<em><em>قَالَ لَنَا الْمُشْرِكُونَ إِنِّي أَرَى صَاحِبَكُمْ يُعَلِّمُكُمْ حَتَّى يُعَلِّمَكُمْ الْخِرَاءَةَ فَقَالَ أَجَلْ إِنَّهُ نَهَانَا أَنْ يَسْتَنْجِيَ أَحَدُنَا بِيَمِينِهِ أَوْ يَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ وَنَهَى عَنْ الرَّوْثِ وَالْعِظَامِ وَقَالَ لَا يَسْتَنْجِي أَحَدُكُمْ بِدُونِ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ</em></em>

<em>"Kaum musyrikin berkata kepada kami, 'Sungguh, aku melihat sahabat kalian (Rasulullah) mengajarkan kepada kalian hingga masalah adab beristinja', maka dia berkata, 'Ya. Beliau melarang kami dari beristinja' dengan tangan kanannya atau menghadap kiblat, dan beliau juga melarang dari beristinja' dengan kotoran hewan dan tulang.' Beliau bersabda: "Janganlah salah seorang dari kalian beristinja' kurang dari tiga batu'."</em>
(Riwayat muslim)

<em>Dan tidaklah mungkin sesuatu yang kecil diajarkan kemudian sesuatu yang besar dan penting tidak diajarkan yaitu masalah pemerintahan.. Maka barangsiapa yang memerintahkan untuk menjauhi atau mengambil hukum dari agama islam sungguh dia telah menuduh agama islam kurang dan tidak sempurna..</em>

<em>👉🏻Maka dengan itu kita katakan jalan-jalan yang ditempuh di dalam sunnah dan sirohnya para sahabat ada 4(empat) perkara yaitu:</em>

<em>🎗pertama:</em>
Yaitu mengumpulkan atau terkumpulnya pandangan kaum muslimin atas satu orang untuk di calonkan yang dia bisa jadi solusi dlm pemecahan masalah dan di setujui sebagai kholifah dan di baiat.

Sebagaimana pemerintahan abu bakar
Dulu atas kaum muslimin

<em>🎗Kedua:</em>
Yaitu penguasa lama Memilih penguasa ketika dia mau wafat dan menyerahkan tampuk kepemerintahanya kepadanya karena melihat dia amanah atas itu.

Sebagaimana yang di lakukan abu bakr ketika memilih umar sebagai gantinya -رضي الله عنهما-sepeninggalnya.

<em>🎗Ketiga:</em>
Seorang penguasa menjadikan atau membentuk suatu kelompok dari orang-orang yang punya ilmu yang diberi petunjuk untuk memilih orang yang cocok bagi kaum muslimin sebagai pemberi pandangan.
Yaitu orang-orang yang punya pendapat cemerlang, ilmu, pengertian yang mendalam dan hikmah.

Sebagaimana yang dilakukan umar ketika membentuk atau menjadikan enam orang yang di jamin masuk syurga yaitu orang-orang yang ditinggal oleh rosululloh dlm keadaan beliau ridho kepada mereka. Yang mana mereka bimbang di dlm pilihannya yaitu antara utsman dan ali bin abi tholib -رضي الله عنهما- yang kemudian terpilih utsman sebagai pengganti. Dan ketika utsman terbunuh maka manusia berbait kepada ali -رضي الله عنهم-

<em>🎗Keempat:</em>
Seorang penguasa mengalah kepada penguasa yang lain karena melihat maslahat bagi kaum muslimin.

Sebagaimana yang dilakukan hasan bin ali -رضي الله عنه- ketika mengalah kepada mu'awiyah -رضي الله عنه- karena menjaga pertumpahan darah kaum muslimin.
Dan bersatulah kaum muslimin sehingga pada tahun itu disebut tahun jama'ah.

👉🏻Maka atas syarat-syarat tersebut para sahabat dan yang mengikuti mereka dengan baik sepakat dengan 4 cara tersebut. Maka barangsiapa yang menolak dan enggan atau bahkan menentangnya sungguh dia telah menolak, enggan dan menentang para sahabat rosul -صلى الله عليه وسلم- maka hati-hatilah dengan lisanmu dari kesalahan ini.

⛺Dan yakinlah bahwa 4 jalan ini pasti tidak akan ridho orang-orang pembela demokrasi.

<em>Kenapa??!</em>

1⃣. karena 4 jalan tersebut menyelisihi sistem demokrasi dari cara-caranya dan thoriqohnya.

2⃣. bahwa islam tidak menerima hukum-hukum kafir, sekuler, sosialis dan ahlul bid'ah selamanya karena tidak terpenuhi di dalamnya syarat-syarat kepemimpinan atau pemerintahan.

<em>Al-imam al-mawariy -رحمه الله- telah menyebutkan sebagaimana di kitab al-ahkam sulthoniyyah</em> (1/6)
<em>Bahwa syarat di dalam pemerintahan muslimin ada 7(tujuh) syarat:</em>

1⃣. adil atas semua syarat.
2⃣. ilmu yang dengannya bisa berijtihad dan mengeluarkan dengannya hukum-hukum.
3⃣. selamat dari pendengaran, penglihatan dan lisannya ketika membuktikan lagsung dari apa-apa yang di fahami.
4⃣. selamat dari anggota tubuhnya yang menghalangi dari gerakan dan bersegera dlm menyelesaikan sesuatu.
5⃣. akal yang cemerlang di dalam menyusun rencana utk kebaikan rakyatnya.
6⃣. berani, menanggung beban serta mempertahankan negara dan berjihad dengan musuhnya.
7⃣. nasab. Yaitu dari kalangan quraisy sebagaimana yg ditunjukkan dlm nash yg telah disepakati.

👉🏻Maka apakah akan ridho pembela demokrasi dengan syarat ini??!

<em>Dan disana juga ada 3(tiga) syarat bagi yang akan jadi seorang penguasa negara:</em>

<em>🔶syarat pertama:</em> terpenuhi semua sifat keadilannya dari kejujuran dlm berbicara, bertaqwa,punya rasa takut, waro',mendirikan sholat 5 waktu, menjaga apa-apa yang diharomkan Alloh, menegakkan syi'ar-syi'ar agama, menjauhi dosa-dosa besar dan selainnya.
<em>🔶Syarat kedua:</em> mempunyai ilmu syar'i, dalam jangka waktu tertentu utk mengetahui siapa yang berhak utk dijadikan pengganti yang memenuhi syarat-syarat yang sudah dianggap.

<em>🔶Syarat ketiga:</em> diketahui darinya punya akal yang cemerlang, hikmah dan meletakkan sesuatu pada tempatnya yang benar bisa memberikan nasehat, pemecahan(solusi) dan persetujuan.

👉🏻Maka apakah ridho pembela demokrasi dengan itu?
Maka dengan ini semua telah sempurna pemilihan penguasa negara dengan syarat-syarat yang telah disebutkan di dalam pemerintahan atau kedaulatan.

👉🏻Dan dari semua syarat yang ada tersebut bertentangan dengan demokrasi yang datang dari negara barat tidaklah kecuali dikarenakan utk menghancurkan syarat. -syarat yang ada dalam islam dan muslimin dan supaya hukum tidak bisa tegak.

Dan telah berkata seseorang:
Dan lihatlah orang-orang kafir telah berhukum dengannya?

Maka kami katakan bahwa orang-orang kafir luas caranya dikarenakan mereka tidak berpegang dengan cara islam dengan syarat-syarat yang telah ada. dan mereka dibawah bendera demokrasi.

Akan tetapi kita muslimin maka kita berhukum dengan hukum islam dengan syarat-syarat yang telah disebutkan di dalam syari'at utk mejaga penguasa dan rakyat dari hak-haknya dengan sakinah, tentram dan damai.

Dan dengan itulah agama muhamad itu datang dengan lurus. Yang berkata Alloh -سبحانه و تعالى berkata:

<em><em>"و رضيت لكم الإسلام دينا"</em></em>

<em>"Dan aku ridho bahwa islam menjadi agama bagi kalian".</em>

<em>peringatan:</em>
Bahwa apabila pemimpin itu keluar dari hukum itu(islam) akan tetapi apabila pemerintahan stabil dengannya dan negara aman dari fitnah walaupun yang memerintah seorang abdi dari habasyah. maka kita harus taat dengannya.

Sebagaimana hadits yang datang dari irbad bin syariah -رضي الله عنه-:

<em><em>وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا بَعْدَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقَالَ رَجُلٌ إِنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّهَا ضَلَالَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْهِ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذ</em></em>

_suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberi wejangan kepada kami setelah shalat subuh wejangan yang sangat menyentuh sehingga membuat air mata mengalir dan hati menjadi gemetar. Maka seorang sahabat berkata;

'seakan-akan ini merupakan wejangan perpisahan,lalu apa yang engkau wasiatkan kepada kami ya Rasulullah? ' Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku wasiatkan kepada kalian untuk (selalu) bertaqwa kepada Allah, mendengar dan ta'at meskipun terhadap seorang budak habasyi, sesungguhnya siapa saja diantara kalian yang hidup akan melihat perselisihan yang sangat banyak, maka jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang dibuat-buat, karena sesungguhnya hal itu merupakan kesesatan. Barangsiapa diantara kalian yang menjumpai hal itu hendaknya dia berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham."_
(Riwayat tirmidzi, abu dawud, ibnu majah)

📚 Sumber:
{Durus ilmiyyah}

🍑 Diterjemahkan:
[Abu ayyub muhammad amin -حفظه الله-]

📎 @mp3mtana
~~~~~~~~~~~~~~

✅ 🄹🄾🄸🄽 🄲🄷🄰🄽🄽🄴🄻 🖌
https://t.me/DarsTanjungPinang

Takbir Pakai Micropon Tidak Perlu

💡TAKBIR IED TIDAK PERLU MEMAKAI MICROPHONE

📜 Asy-Syaikh Al-Utsamîn rohimahullôh ditanya takbir memakai microphone di masjid pada hari Ied?:
نَرَى أنَّ هَذَا لاَ يَنْبَغِي؛ لأَنَّ الصَّحَابَةَ -رَضِي الله عنهم- مَا كَانُوا يُكَبِّرُونَ كَمَا يُكَبّرُونَ فِي الأَذَانِ، أي: يَتَقَصَّدُونَ الأَمَاكِنَ المُرتَفِعَةَ ليُكَبِّرُوا مِنْها، بَل كَانُوا يُكَبرون فِي أسْوُاقِهِم، فِي مَسَاجِدِهِم، فِي بيُوتِهِم، فِي مُخَيَّمَاتِهِم فِي مِنى، دُونَ أَن يَتَقَصَّدُوا شَيئاً عَالياً يُكَبِّرونَ عليهَ، فَأخْشَى أَن يكُونَ ذَلكَ مِن بَابِ التنَّطَّعِ الَّذِي قَال فِيه الرَّسُول -صلى الله عليه وسلم-:
(هَلَكَ المُتَنَطِّعُونَ، هَلكَ المُتَنِطِّعُونَ، هَلَكَ المُتَنَطِّعُونَ).
“Aku berpendapat bahwa hal seperti ini tidak sepantasnya, karena para shohabat tidaklah bertakbir sebagaimana bertakbir ketika adzan, dalam artian menyengaja mencari tempat tinggi untuk bertakbir disitu. Bahkan mereka bertakbir dipasar, di masjid, di rumah, di perkemahan Mina mereka tanpa mencari tempat yang tinggi untuk bertakbir disitu. Aku khawatir itu termasuk bentuk tanothu’ yang dimana Rosululloh shollallôhu alaihi wa sallam bersabda: “(celakalah orang yang berbuat berlebih-lebihan, celakalah orang yang berbuat berlebih-lebihan, celakalah orang yang berbuat berlebih-lebihan)” [Liqô Bâb Al-Maftûh (53)]

💡TAKBIR IED BERJAMA’AH TERMASUK BID’AH

📜 Al-‘Allâmah Al-‘Adawi Al-Mâliki rohimahullôh berkata:
وَيُكَبِّرُ كُلُّ وَاحِدٍ وَحْدَهُ فِي الطَّرِيقِ وَفِي الْمُصَلَّى وَلَا يُكَبِّرُونَ جَمَاعَةً ؛ لِأَنَّهُ بِدْعَةٌ.
“Setiap orang bertakbir sendiri-sendiri di jalan, di tanah lapang, dan tidak bertakbir secara berjama’ah karena itu bid’ah.” [Lihat “Hâsyitul ‘Adawi ‘ala Kifâyauth Thôlib”]

💡MAKRUH MELAGUKAN TAKBIR IED

📜 Al-Azhari rohimahullôh berkata:
(وَكَرِهَ التَّطْرِيب) أي التَّغَنِيُّ بِالتَّكبِيرِ
” (Dimakruhkan untuk tathrîb) yaitu melagukan kalimat takbir.” [lihat “Jawâhirul Iklîl” (hal.360)]

📋 Disusun oleh Ustadz Fuad Hasan bin Mukiyi waffaqohulloh
🗓 29 Romadhon 1439

•••━══🍃🌙🍃══━•••

📡 JOIN CHANNEL ⬇️
https://telegram.me/joinchat/CDo99z7cBHhuphwz_mUxKA Ambil faedah2 ilmu syar’inya, Fahami, Amalkan, Dan Dakwahkan dgn BAGIKAN INI kepada saudara2 muslim lainnya

وفقكم الله وبورك فيكم

Tata cara Takbir ied

TENTANG BEBERAP PERMASALAHAN HUKUM SEPUTAR TAKBIRAN DALAM HARI RAYA IDUL FITRI

Masalah (1) : “Mohon dijelaskan, apa hukumnya “takbir” (yakni “takbiran”dalam istilah yang dikenal di negeri kita, edt.) dalam Idul Fithri dan Idul Adha itu ?”

Jawab :

Para ulama telah sepakat, bahwa takbir di Hari Raya Idul Fithri dan Idul Adha itu disyari’atkan.

Hanya saja, salah satu riwayat dari Abu Hanifah dan An-Nakho’i berpendapat : “Tidak disyari’atkan takbir pada Idul Fithri.

Adapun Dawud Ad-Dhohiri berlebih-lebihan dalam masalah ini, sampai mengatakan : “Wajibnya takbir dalam Idul Fithri.”

Dan yang benar adalah bahwa takbir itu disyari’atkan untuk dua hari raya tersebut.

Dalil yang menunjukkan hal itu, adalah hadits Ummu Athiyyah rodhiyallohu ‘anha, yang berkata :

أمرنا أن نخرج العوائق والحيض في العيدين : يشهدن الخير ودعوة المسلمين، ويعتزل الحيض المصلى [ وفي رواية لها زيادة : يكبرن مع الناس ]

“Kami diperintah (oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam) untuk mengeluarkan (yakni menyuruh keluar) para wanita pingitan, dan para wanita yang haid di dua hari raya, agar mereka bisa menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin. Dan untuk wanita yang haid, agar menjauhi tempat sholat (yakni dia berada di tempat yang paling belakang, edt.).”

Dalam riwayat lainnya, juga masih dalam As-Shohihain ada tambahan :

“agar para wanita itu juga ikut bertakbir bersama manusia/orang-orang yang lainnya.”

(HR Imam Al-Bukhori no. 324 dan Imam Muslim no. 890)

Dan tentang takbir di hari raya ini pula, ditegaskan oleh Alloh Ta’ala dalam firman-Nya :

وَلِتُكۡمِلُواْ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ١٨٥

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (yakni menyempurnakan bulan Romadhon tersebut, edt.) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (yakni bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS Al-Baqoroh : 185)

Alloh Ta’ala juga berfirman :

۞وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡدُودَٰتٖۚ ٢٠٣

“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang ditentukan…..” (QS Al-Baqoroh : 203).

Ayat ini adalah perintah Alloh untuk berdzikir (diantaranya dengan bertakbir), yakni mulai pagi hari tanggal 9 Dzulhijjah (hari Arofah) dan berakhir hingga akhir hari Tasyriq (tanggal 13 Dzulhijjah).

Catatan : khususnya ini untuk takbir yang diperintahkan pada Hari Raya Idul Adha.

Demikianlah. Kesimpulannya, bertakbir (takbiran) adalah perkara yang disyari’atkan untuk dikumandangkan/dibaca pada dua hari raya, yakni baik untuk Idul Fithri maupun untuk Idul Adha.

Masalah (2) : “Kapankah waktu dimulainya mengumandangkan takbir tersebut, khusunya untuk Hari raya Idul Fithri ? Dan kapan pula waktu berakhirnya ?”

Jawab :

Tentang takbir untuk Hari Raya Idul Fitri, para ulama berbeda pendapat tentang kapan waktu memulai bertakbir untuk hari raya Idul Fithri tersebut.

Diantaranya adalah sebagai berikut :

Pertama : Imam As-Syafi’i dan para sahabatnya (yakni para ulama madzhab Syafi’iyyah), demikian pula para ulama Hanabilah, mereka berpendapat : “Dimulai takbir itu adalah ketika telah nampak “hilal” Syawal (yakni terbitnya/munculnya bulan sabit tanggal 1 Syawal), dan tenggelamnya matahari di akhir Romadhon.”

Ini juga adalah pendapat dari Sa’id bin Al-Musayyab, Urwah bin Az-Zubair, Abu Salamah, Zaid bin Aslam, dan pendapat yang dipilih juga oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh.

Kedua : Sebagian ulama berpendapat : “Takbir itu dimulai ketika seseorang keluar dari rumahnya di pagi hari menuju ke tanah lapang untuk menunaikan sholat ied.

Ini adalah pendapatnya Imam Malik dan Al-Auza’i rohimahulloh.

Pendapat ini dianggap sebagai pendapatnya Jumhur ulama, tetapi ini tidak benar.

Dari dua pendapat tersebut di atas, mana yang shohih ?

Guru kami, Syaikh Muhammad bin Ali bin Hizam hafidzhohulloh menegaskan :

“Yang insya Alloh shohih (benar) adalah pendapat yang pertama. Hal itu karena Alloh Ta’ala menyebutkan tentang “takbir” setelah selesainya (sempurnanya) puasa Romadhon (sebagaimana di akhir surat Al-Baqoroh ayat 185 yang telah disebutkan di atas).

Yang demikian itu (yakni disyari’atkannya untuk memulai takbir) itu adalah dengan tenggelamnya matahari di akhir Romadhon. Wallohu a’lamu bis showab.

(lihat : Fathul ‘Allam, 2/192)

Hal ini juga sebagaimana yang dirojihkan oleh guru kami, Syaikh Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al-Hajury hafidzhohulloh, sebagaimana beliau sampaikan dalam pelajaran yang pernah kami dengar langsung dari beliau, wallohu a’lam bis showab.

Selanjutnya, tentang waktu akhir bertakbir untuk Idul Fithri, kebanyakan ulama berpendapat : “Berakhirnya adalah dengan ditunaikannya sholat Ied.

Dan dalam masalah ini, tidak ada khilaf (perbedaan pendapat) di antara para ulama, walhamdulillah.

(lihat pembahasan seputar masalah ini dalam : Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (5/41), Al-Ausath (4/250), Al-Mughni (3/255) dan Majmu’ Al-Fatawa (24/221) karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dll)

Masalah (3) : “Kapankah dan dimanakah kita disyari’atkan untuk mengumandangkan takbir (takbiran) tersebut ?”

Jawab :

Dalam masalah ini, Al-Hafidz Ibnu Rojab Al-Hambali rohimahulloh ketika memberikan penjelasan tentang takbir pada hari raya Idul Adha mengatakan sebagai berikut :

“Dzikir (yakni bertakbir) pada hari-hari tersebut, ada dua macam :

Pertama, yang terikat waktunya setelah selesai sholat-sholat fardhu.

Kedua, yang mutlak, boleh dilakukan di sembarang waktu (kapan saja dan dimana saja).

Adapun jenis yang pertama (yakni yang terikat waktunya setelah selesai sholat-sholat fardhu), para ulama bersepakat tentang disyari’atkannya takbir setelah selesai sholat-sholat fardhu pada hari-hari tasyriq tersebut secara global saja, tidak ada dalil hadits yang marfu’ lagi shohih (dalam masalah ini), hanya saja yang ada adalah atsar-atsar dari para sahabat dan orang-orang sesudah mereka. Dan kaum muslimin pun mengamalkannya (sampai hari ini).”

( Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhori, Kitabul Iedain, Bab 12)

Al-Imam An-Nawawi rohimahulloh juga menukilkan adanya Ijma’ (kesepakatan) para ulama tentang masalah tersebut (yakni disyari’atkannya takbir setelah selesai dari sholat-sholat fardhu), sebagaimana dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (5/32).

Akan tetapi, Guru kami, Syaikh Muhammad bin Ali bin Hizam hafidzhohulloh menyatakan :

“Meskipun demikian, yang kami pilih adalah bahwa seseorang itu hendaknya berdzikir setelah sholat fardhu lebih dulu (yakni dengan dzikir-dzikir ba’da sholat seperti biasanya), baru kemudian dia bertakbir sesuai kehendaknya.

Hal itu karena tidaklah tsabit hadits dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bertakbir (secara langsung) setelah selesai sholat-sholat fardhu. Dan sebaik-baik petunjuk itu adalah petunjuk Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.”

( Fathul Allam, 2/195)

Masalah (5) : “Apakah dibolehkan bertakbir setelah menunaikan sholat-sholat sunnah ?”

Jawab :

Dalam masalah ini, Abu Ja’far As-Shodiq dan Imam As-Syafi’i dalam salah satu pendapat beliau yang paling masyhur menyatakan : “Disunnahkan untuk bertakbir setelah sholat sunnah, sebagaimana bertakbir setelah sholat-sholat fardhu.”

Ini juga adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnul Mundzir rohimahulloh.

Adapun mayoritas para ulama, mereka berpendapat : bahwa bertakbir itu hanyalah disunnahkan setelah sholat-sholat fardhu saja.

Dan ini juga pendapat beberapa orang sahabat Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Dan yang insya Alloh benar dalam masalah ini adalah : Tidak ada dalil yang shohih tentang disunnahkannya bertakbir setelah selesai sholat fardhu (sebagaimana penjelasan sebelum ini yang telah disebutkan di atas). Demikian pula setelah sholat-sholat sunnah.

Jadi, bertakbir itu kapan saja boleh, baik yang terikat waktunya setelah selesai sholat, maupun di sembarang waktu. Baik setelah sholat fardhu, maupun setelah sholat sunnah. Wallohu a’lamu bis showab.

(lihat : Al-Ausath (4/308), dan Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhori, dalam Kitabul Iedain, Bab 12)

Masalah (6) : “Bagaimanakah lafazd takbir yang benar itu ? Dan bagaimanakah cara mengumandangkan takbir tersebut, dengan cara berjama’ah (bersama-sama) ataukah dengan membaca sendiri-sendiri ?”

Jawab :

Dalam masalah lafadz/bacaan “takbir”, tidak ada riwayat hadits yang shohih dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam.

Yang ada adalah riwayat-riwayat dari sebagian para sahabat Nabi rodhiyallohu ‘anhum ajma’in dan para ulama salaf lainnya.

Diantaranya adalah sebagai berikut :

Pertama, diantara mereka ada yang memilih untuk mengucapkan :

الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله ، والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد
ً
Telah shohih lafadz takbir ini dari Ali bin Abi Tholib, Ibnu Mas’ud dan Ibnu Umar rodhiyallohu ‘anhum. Hanya saja riwayat dari Ibnu Umar, di dalam sanadnya ada Al-Hajjaj bin Arthoh, dia ini dho’if.

Para ulama yang berpendapat untuk bertakbir dengan takbir ini, diantaranya adalah An-Nakho’i, Ats-Tsaury, Imam Ahmad, Ishaq, An-Nu’man, dan Muhammad bin Al-Hasan.

Kedua, diantara mereka ada yang memilih untuk bertakbir tiga kali :

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر

Ini adalah pendapatnya Imam Malik, Imam As-Syafi’i, dan Al-Hasan Al-Bashri rohimahumulloh.

Ketiga, diantara mereka ada yang memilih untuk mengucapkan :

الله أكبر، الله أكبركبيرا، الله أكبركبيرا، الله أكبر وأجل، الله أكبر ولله الحمد

Ini adalah pendapatnya Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhuma.

Keempat, ada pula yang memilih untuk mengucapkan :

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله لا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد، وهو على كل شيء قدير

Ini adalah pendapat yang diriwayatkan dari Ibnu Umar rodhiyallohu ‘anhuma. Tetapi riwayat tersebut di dalam sanadnya ada Abdulloh bin Umar Al-Umary, dia dho’if.

Kelima, ada pula yang memilih untuk bertakbir dengan mengucapkan :

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر كبيرا

Ini adalah pendapatnya Salman Al-Farisy rodhiyallohu ‘anhu, sebagaimana dikeluarkan riwayat ini dalam Mushonnaf Abdur Rozzaq dengan sanad yang shohih, sebagaimana juga dinyatakan shohihnya sanad tersebut oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolani rohimahulloh dalam Fathul Bari (pada hadits no. 970).

Keenam, sebagian para ulama ada yang berpendapat, bahwa lafadz takbir itu tidak dibatasi oleh bacaan/lafadz tertentu dan jumlah yang tertentu pula.

(Jadi, terserah membaca lafadz takbir yang mana saja, yang penting masuk dalam pengertian bacaan takbir, dan terserah pula berapa kali mengucapkannya.

Hal itu karena tidak ada dalil yang shohih dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan pada kita bacaan lafadz takbir yang tertentu).

Ini adalah pendapat dari Al-Hakam dan Hammad bin Salamah. Bahkan Imam Ahmad bin Hambal rohimahulloh mengatakan : “(huwa waasi’)”, artinya : “ini adalah masalah yang luas.” (yakni banyak peluang untuk berijtihad, dan perlunya saling toleransi dalam menyikapi bermacam-macam ijtihad tersebut, wallohu a’lam).

(lihat : Tafsir Al-Qurthubi)

Ibnul Mundzir rohimahulloh juga menyatakan : “Imam Malik rohimahulloh tidak membatasi masalah ini.” (yakni membolehkan bertakbir dengan lafadz yang mana saja, edt.)

Guru kami, Syaikh Muhammad bin Ali bin Hizam hafidzhohulloh juga menegaskan :

“Dalam masalah ini, pendapat (yang terakhir) inilah pendapat yang benar.” (yakni, bolehnya bertakbir dengan lafadz yang mana saja, selama hal itu adalah takbir, bukan yang selainnya, wallohu a’lamu bis showab, edt.).

(lihat : Al-Ausath (4/303-305), Al-Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah (2/167-168), Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (5/40), Al-Mughni (3/290). Lihat pula : Fathul ‘Allam (2/197) )

Kemudian tentang cara membacanya, kalau kita perhatikan amalan kebanyakan kaum muslimin di hari ini, mereka membacanya dengan cara “berjama’ah” (bersama-sama, dibawah komando satu orang/imam).

Lalu benarkah cara seperti ini ?

Ketahuilah wahai saudaraku kaum muslimin …..

Bertakbir secara berjama’ah dengan satu suara (dan dipimpin/dikomando satu orang imam), hal ini adalah tidak disyari’atkan.

Bahkan hal ini termasuk perkara bid’ah dalam agama kita ini.

Yang insya Alloh benar adalah hendaknya masing-masing orang membacanya sendiri-sendiri dengan mengeraskan bacaan takbirnya, tanpa mesti harus dengan satu suara (bersamaan), karena hal seperti ini tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, dan juga tidak pernah diamalkan oleh para sahabat beliau rodhiyallohu ‘anhum ajma’in.

Sementara itu, kita mengetahui bahwa Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

“Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak (yakni tidak diterima).” (HR Imam Muslim)

(lihat : Fatawa Lajnah Ad-Daimah (8/310 dst), Fathul ‘Allam (2/197-198) )

Wallohu a’lamu bis showab !

Demikianlah beberapa pembahasan tentang permasalahan takbir yang bisa kami sampaikan, semoga bisa menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semuanya, barokallohu fiikum.

Surabaya, Kamis pagi yang sejuk, 29 Romadhon 1439 H / 14 Juni 2018

Akhukum fillah, Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

✅ 🄹🄾🄸🄽 🄲🄷🄰🄽🄽🄴🄻 🖌
https://t.me/DarsTanjungPinang

📎 https://t.me/joinchat/AAAAAESpXea4FOvxr3M0SA

Idul fitri dan hari Jumat

APABILA HARI RAYA BERTEPATAN DENGAN HARI JUMU’AH

Soal:
Jika datang ‘Idul Fithri (hari raya) pada hari Jumu’ah apakah boleh bagiku untuk shalat ‘Id namun aku tidak shalat Jumu’ah, atau sebaliknya?

Jawab : -ringkasan-

Apabila Hari Raya bertepatan dengan hari Jumu’ah maka barangsiapa yang telah menunaikan shalat ‘id berjama’ah bersama imam gugur darinya kewajiban menghadiri shalat Jumu’ah, dan hukumnya bagi dia menjadi sunnah saja. Apabila dia tidak menghadiri sholat Jumu’ah maka tetap wajib atasnya shalat dzuhur. Ini berlaku bagi selain imam.

Adapun imam, tetap wajib atasnya untuk menghadiri sholat Jumu’ah dan melaksanakannya bersama kaum muslimin yang hadir. Sholat Jumu’ah pada hari tersebut tidak ditinggalkan sama sekali.
_
Al-Muntaqa min Fatawa Al-Fauzan VIII/44

Dengan dalil sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud di dalam kitab Sunannya:

Dari Iyas bin Abi Ramlah Asy Syami, beliau berkata: “Aku pernah menyaksikan Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyAllōhu ‘anhu bertanya Zaid bin Arqam radhiyAllōhu ‘anhu: “Apakah kamu pernah bersama Rosūllullōh ﷺ terjadi dua ‘Id terkumpul dalam satu hari?”, ia menjawab: “Iya (pernah)”, Mu’awiyah bertanya: “Bagaimanakah yang beliau lakukan”, ia menjawab: “Beliau (ﷺ) shalat ‘Id kemudian memberikan keringanan untuk shalat Jumu’ah , beliau bersabda: “Barangsiapa yang hendak sholat maka sholat lah ia“.
_
HR. Ahmad (4/372), Abu Daud (1/646, no. 1070), An Nasa-i (3/193, no. 1591), Ibnu Majah (1/415, no. 1310), Ad Darimi (1/378), Al Baihaqi (3/317), Al Hakim (1/ 288), Ath Thayalisi (hal. 94, no. 685) (dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahih Abu Daud, no.1070)

Dan Barangsiapa yang tidak menghadiri shalat ‘Id maka wajib atasnya untuk melaksanakan shalat dzuhur sebagai pengamalan atas keumuman dalil-dalil yang menunjukkan kewajiban shalat dzuhur bagi yang belum melaksanakan shalat Jumu’ah .

Semoga Allōh memberi taufik dan semoga shalawat dan salam selalu kepada Nabi Muhammad ﷺ, para kerabat beliau dan shahabat.


Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’ Fatwa, Soal ke-5 dari fatwa No. 2358

TELEGRAM @isnadnet
bit.do/isnadnet

Sebutan Tsabitin sebaiknya dihindari.

💎 NASEHAT TERKAIT PEMAKAIAN SEBUTAN “TSABITIN”

Dakwah bukan milik syaikh yahya hafidzhahullah wa ra’aahu, membela dakwah yang di sampaikan syaikh yahya merupakan tuntutan yang wajib di lakukan oleh siapa saja yang mengetahui kebenaranya, sebab puncak dari benarnya keislaman seseorang adalah dengan berloyalitas kepada kebenaran dan ahlinya, serta berlepas diri dari kebathilan dan pelakunya. Dalam hal ini kita bersama dengan syaikh yahya karena beliau di atas al haq, semoga Allah mengekalkan nikmat tersebut kepada beliau,,,

Ya ikhwan,,, Nasehat ana jangan kita berbaju dengan pakaian yang bukan milik kita,,, buat apa kita mengaku bagian dari tsabitiyn kalau kita tidak mengerti dan memahami permasalahan yang kita kokoh di atasnya??

Penyebutan tsabitiyn di masa fitnah sangat di perlukan untuk membedakan dan menjelaskan mauqif (sikap keberpihakan -edt) seseorang terhadap alhaq,,

Hanya ada kekhawatiran dari ana kepada sebagian ikhwah menjadi terlena dengan julukan ini tanpa menunjukkan kekokohan dalam manhaj dengan menyibukkan diri menuntut ilmu,,, hanya pengakuan tanpa hakikat ?? mana ada seorang yang tsaabit kalau tidak di atas ilmu,,

Dan jangan sampai kita tergolong seorang yang memuji diri sendiri karena Allah lah yang paling mengetahui

فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
“…maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa”. (QS. An-Najm ayat 32)

الله اعلم بالصواب
والحمد لله رب العالمين

أخوكم فى الله الفقير الى الله والراجي عفو ربه
(Saudara kalian al faqir ilalloh dan yg mengharapkan maaf Robbnya -edt)

فاضل محمد عبد الرحمن الميداني
(Faadhil Muhammad ‘Abdirrohman Al Maydaniy -edt)


Faedah dari Al Ustadz Abu Abdillaah Faadhil Muhammad Almaidaniy حَفِظَهُ اللّٰه di majmu’ah الأخوة الإسلامية

Keterangan :
Beliau -hafidzhohullohu wa roo’ah- sampaikan nasehat ini di WhatsApp majmu’ah (group ) “الأخوة الإسلامية ” pada hari Rabu 20 Robi’ul Akhir 1438 / 18-01-2017 M

Join Channel :
https://t.me/Ghurbatulislam

Di nukil dari channel :
https://t.me/majaalisahlissunnah_audio