Ijma salaf, Siapa yang mendapatkan imam ruku’ maka telah mendapatkan satu roka’at.

بسم اللــــه الرحمـــــــــن الرحيم

Fatwa Syaikh Muhammad bin Hizam, 

Ijma salaf, Siapa yang mendapatkan imam ruku’ maka telah mendapatkan satu roka’at.
📩 الســــــــــــــؤال :- 
يقول السائل: من أدرك الركوع ولم يقرأ الفاتحة هل تحسب له ركعة أم لا ؟
📝 الإجـــــــــابة :- 
هذه المسألة قد تكلمنا عليها كثيراً والصحيح فيها أن من أدرك الإمام راكعاً تعد له ركعة كما في صحيح البخاري عن أبي بكرة رضي الله عنه أنه أدرك النبي صلى الله عليه وسلم وهو راكع فأسرع حتى دخل معه في الصف وركع دون الصف ليلحق الركعة فقال له النبي صلى الله عليه وسلم  زادك الله حرصاً ولا تعد – أي لا تعد إلى الجري والإسراع ولم يأمره أن يزيد ركعة – وما فائدة جريه إذا لم تعد ركعة !!! وما فائدة الإسراع وحرصه على إدراك الركوع !!! ، والفتوى عند الصحابة على ذلك  فقد ثبت بأسانيد صحيحة عن عبد الله بن الزبير وابن عمر وابن مسعود أنهم كانوا يعدونها ركعة – وجاء أيضاً عن أبي بكر بإسناد منقطع – حتى نقل إجماعاً في المسألة من السلف – الإمام أحمد يرى أن هذا إجماعً من السلف أنها تُعد ركعة ويعرض بأن الخلاف لم يكن معهوداً عند السلف وإنما بدأ الخلاف في عهد علي بن المديني والبخاري والظاهرية وإلا فالصحابة لم يكن بينهم في ذلك خلاف على الصحيح، وما نقل عن أبي هريرة من الخلاف في إسناده نظر وقد جاء عن أبي هريرة أيضاً القول بما يوافق الصحابة، وأما حديث لاصلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب – فهو مخصوص بهذه الصورة – مخصوص في هذه الحالة وهي إدراك الإمام في حال الركوع، فمن أدرك الإمام في حال الركوع فقد أدرك الركعة ويكون مخصوصاً من عموم حديث لاصلاة لمن يقرأ بفاتحة الكتاب .


للاشتراك في قناة :-

فتاوى الشيخ الفقيه محمد بن حزام

على التلجرام :-  @ibnhezam

على الواتس اب :- 00967772778999
Berkata Penanya, siapa yang mendapatkan ruku’ tapi tidak membaca Alfatihah apakah dihitung mendapatkan satu rokaat atau tidak?
Jawaban:

Masalah ini telah banyak kami bicarakan, yang benar dalam hal ini siapa yang mendapatkan imam dalam keadaan ruku’ terhitung padanya satu rokaat sebagaimana dalam Shohih Bukhory dari Aby bakroh rodhiallohu anhu bahwasanya dia mendapati nabi shollallohu alaihi wa sallam dalam keadaan ruku’ maka dia mempercepat langkahnya sampai masuk bersamanya didalam shof dalam keadaan ruku’ sebelum shof untuk mendapatkan satu roka’at maka (setelah sholat) Nabi shollallohu alaihi wa sallam berkata, “semoga Alloh menambah pada kamu semangat tapi jangan ulangi lagi,” yaitu jangan ulangi lagi berlari dan bercepat-cepat dan (dia) tidak diperintahkan untuk menambah satu rokaat. Dan apa faedahnya larinya dia jika dia tidak mendapat satu rokaat!?, dan apa faedah cepatnya dia dan semangatnya dia untuk mendapatkan ruku’!?, dan fatwa dari para sahabat menetapkan hal tersebut maka sungguh telah tsabit dengan sanad-sanad yang shohih dari Abdulloh bin zubair, juga dari Ibnu Umar, juga dari Ibnu Masud bahwa sesungguhnya mereka telah menghtiung satu roka’at (dengan mendapatkan ruku’), dan juga datang dari Abu Bakar dengan sanad yang terputus, -sampai-sampai dinukil adanya ijma’ dari para salaf dalam masalah ini -, Imam Ahmad menilai ijma ini dari salaf bahwa mereka menghitung satu rakaat dan dijelaskan bahwasanya khilaf (dalam masalah ini) tidaklah terjadi di masa salaf (para sahabat) dan sesungguhnya permulaan khilaf di masa Ali bin Almadiny, dan Albukhory, dan (madzhab) Dzohiry, dengan demikian yang shohih para sahabat tidak terjadi diantara mereka perselisihan dalam hal ini. Dan apa yang dinukil dari Abu Huroiroh dalam khilaf maka pada sanadnya dilihat lagi, dan sungguh telah datang dari Abu Huroiroh juga perkataan yang mencocoki para sahabat lainnya, Dan adapun hadits “tidak ada sholat bagi yang tidak membaca Alfatihah”, – maka dia dikhususkan dalam bentuk ini-, khusush dalam keadaan ini yaitu mendapatkan imam dalam keadaan ruku’, maka siapa yang mendapatkan imam dalam keadaan ruku’ maka dia mendapatkan satu roka’at, maka dia khusus dari kumuman hadits “tidak ada sholat bagi siapa yang tidak membaca Alfatihah”.

Terjemah oleh admin grup: https://chat.whatsapp.com/BP0NTSBs677J2D80xLgXRa

Iklan

Isa Bukan Tuhan yang berhak disembah.

Al-Ma’idah ayat 72
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Alloh ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Alloh Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Alloh, maka pasti Alloh mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.

Makan Rumput Kering

📒UJIAN SALAF DALAM MENUNTUT ILMU

➖➖➖➖➖➖

 Umar bin Hafsh Al-‘Asyqor -rohimahulloh- berkata :
📒 “Dulu kami pernah bersama Al-Bukhori di Bashroh menulis (menuntut ilmu). Kami sempat kehilangan dia beberapa hari. 
 Akhirnya kami menemukannya di suatu rumah dalam keadaan tak berbaju karena kehabisan bekal. 
💡Maka kami mengumpulkan sejumlah uang dirham dan kami belikan pakaian untuknya.”

➖➖➖➖
🍃 Muhammad bin Abi Hatim Al-Warroq -rohimahulloh- berkata :
“Aku mendengar Al-Bukhori berkata : 

Aku berangkat (belajar) menuju Adam bin Abu Iyas, namun bekalku tertinggal, sehingga terpaksa aku memakan rumput kering dan aku tidak menceritakannya kepada siapapun. 
💡Ketika memasuki hari ketiga, datanglah seseorang yang tidak aku kenal kemudian memberiku sekantong uang dinar dan mengatakan : “Gunakanlah (uang ini) untuk menutup kebutuhanmu.”
📒 (Taariikh Baghdaad 2/11,12,13, As-Siyar 12/448)

https://t.me/markiz_silale

4 Bulan Harom

Diriwayatkan dari Abu Bakroh rodhiallohu ‘anhu , bahwa Nabi

shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

…)) ﺍﻟﺴَّﻨَﺔُ ﺍﺛْﻨَﺎ ﻋَﺸَﺮَ ﺷَﻬْﺮًﺍ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺃَﺭْﺑَﻌَﺔٌ ﺣُﺮُﻡٌ ﺛَﻼَﺛَﺔٌ ﻣُﺘَﻮَﺍﻟِﻴَﺎﺕٌ ﺫُﻭ ﺍﻟْﻘَﻌْﺪَﺓِ ﻭَﺫُﻭ ﺍﻟْﺤِﺠَّﺔِ ﻭَﺍﻟْﻤُﺤَﺮَّﻡُ ﻭَﺭَﺟَﺐُ ﻣُﻀَﺮَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺑَﻴْﻦَ ﺟُﻤَﺎﺩَﻯ ﻭَﺷَﻌْﺒَﺎﻥ ((.

“Setahun terdiri dari dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram, tiga berurutan, yaitu: Dzul-Qa’dah, Dzul-Hijjah dan Al-Muharrom, serta Rojab Mudhor yang terletak antara Jumada dan Sya’ban . “ ( Al-Bukhory no. 3197 dan Muslim no. 1679/4383).

https://chat.whatsapp.com/BP0NTSBs677J2D80xLgXRa

​Dialog Singkat Tentang Hukum TN (Tarbiyyatun Nisa)

Dialog Singkat Tentang Hukum TN (Tarbiyyatun Nisa)

ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ

Dialog Singkat Tentang Hukum TN (Tarbiyyatun Nisa)

Oleh:

Abu Abdirrohman Shiddiq Al Bughisiy

Dikoreksi dan ditambahi oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman Al Jawiy

dan Abu Turob Saif bin Hadhor Al-Jawiy

-semoga Alloh mengampuni mereka-

Editor: ISNAD.net

Pertanyaan: Assalamu Alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Afwan ada sedikit yang ingin ana pertanyakan sehubungan dengan ma’had TN, yang ana pahami dari jawaban Syekh tidak bolehnya membuat TN dengan berbagai pelanggaran didalamnya, yang ana tanyakan apakah nama yang dihukumi atau hakikat penamaan itu..!!!,

Jawab: Wa’alaikumsalamwarohmatullohiwabarokatuh. Hukum itu berlaku pada hakikat dzatnya, bukan semata-mata penamaannya. Dan hukum itu tidak berubah karena perubahan nama. Dan semakin banyak bahaya yang ditimbulkan sebesar faktor yang menyebabkan terlarangnya terlarangnya perkara tersebut. Adanya markiz khusus untuk wanita yang mana para wanita tidur di situ, tidak bersama mahromnya, adalah perkara muhdats, tidak dilakukan oleh Rosululloh ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺳﻠﻢ ataupun para As Salafush Sholih. Inilah salah satu jawaban Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy

ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ .

Pertanyaan: Yang mana ana ketahui bahwasanya terlarangnya ma’had TN disebabkan banyaknya penyelisihan syariat didalamnya misal; – adanya wanita yang datang dari jarak safar tanpa mahram, – adanya pengumuman penerimaan santri, – dan yang lain-lainnya. Maka kalau penamaanya yang dihukumi, maka tahfidz Qur’an untuk nisa tidaklah terlarang padahal mayoritas tahfidz Qur’an nisa itu sama hakikatnya TN hanya nama saja yang berubah.

Jawab: banyaknya penyelisihan terhadap syariat memang salah satu sebab pengingkaran terhadap markiz nisa’iy. Masih ada sebab yang lain yang paling asasi, yaitu: membentuk suatu perkara baru dalam agama ini. Dan ini merupakan penyelisihan terhadap satu prinsip dari prinsip-prinsip Ahlussunnah. Kita diwajibkan untuk merasa cukup dengan contoh Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ dan jalan Salaf, dan tidak merasa lebih tahu daripada mereka –baik dengan ucapan atau perbuatan- akan maslahat dan mafsadah.

Pertanyaan: dan ana pernah mendengarkan bahwa Syekh Abdullah Al Iriyani dan Syekh Abu ‘Amr (Afwan, mungkin bisa dipertanyakan kembali kepada syekh Abu ‘Amr) ketika datang berkunjung ke magetan dan sempat memberikan nasehat kepada Ust. Abu Hazim mengenai TN/tahfidz Nisa beliau membolehkannya dengan beberapa syarat : – tidak boleh adanya wanita tanpa mahram ( artinya mahramnya harus mukim ditempat tersebut ),

Jawab: benarkah antum dengar sendiri beliau berdua bilang demikian? Ataukah antum dengar dari orang lain? Asy Syaikh Abu Amr terang-terangan menyalahkan Abu Hazim dan menyatakan bahwasanya perbuatannya itu adalah muhdats . Beliau juga bilang pada kami: “Bagaimana Abu Hazim ini?! Dia mengatakan bahwasanya Abdulloh Iryaniy membolehkah markiz nisa’iy, sementara ana tanya langsung ke Iryaniy, dia jawab: “Ana tidak membolehkan markiz nisa’iy.”.”

Kemudian, syarat bolehnya bukan cuma bahwasanya perempuan itu bermukim di situ saja, tapi wajib ada mahramnya seperti bapak atau semisalnya. Sementara bukti dan persaksian ikhwah dari Magetan menyatakan masih banyak yg tidak punya mahram dan tinggal di situ dalam satu tempat yg mereka namakan TN.

Pertanyaan: tidak bolehnya ada pengumuman untuk penerimaan santri, tidak adanya kurikulum sebagaimana yang banyak pada TN maupun Tahfidz Qur’an Nisa. dan semua itu dijalankan oleh Ust. Abu Hazim, sehingga yang ana ketahui sampai sekarang masih adanya mahad untuk nisa di magetan…(ini yang ana ketahui Wallahu A’lam). Dan ana pernah menyaksikan tahfidz Qur’an Nisa dan Ummahat yang ada di Saudi (Riyad) yang mana mereka datang ketika waktu pelajaran dimulai dan mereka pulang masing-masing kerumahnya ketika sudah selesai darsnya. dan mereka memiliki sebuah tempat atau ma’had Nisa, dan anapun dapat khabar bahwasanya di dammaj pun ada tempat belajar khusus wanita atau biasa disebut masjid Nisa (afwan, Ust. lah yang lebih paham keadaan Dammaj sekarang ini),

Jawab: na’am masjid nisa’ untuk belajar nanti kembali kerumah masing-masing dengan suami atau bapak atau mahram lain dan inilah yang kami nasihatkan kepada Abu Hazim untuk melakukan seperti di sini tanpa penyelisihan yang ada di TN-nya, tidak tinggal rame-rame di situ . diurus sama mahramnya bukan di urus sama pengurus atau istri ustadz kemudian keperluannya di belikan oleh santri atau ustadznya sendiri yg bukan mahramnya.

bagaimana kalo dia sakit siapa yang bawa ke Rumah sakit? Yamg terjadi di TN Abu Hazim: yang sakit dengan satu atau lebih akhwat ditemani sopir yang bukan mahramnya dalam mobil ke Rumah sakit (karena orang tuanya berada di pulau lain) dan ini persaksian langsung dari sopirnya

Pertanyaan: Jadi …. kalo ada perkampungan salafiyyin dimana disana ada masjid dan banyak kepala keluarga yang mukim disana dan mereka mempunyai anak2 gadis dan mereka membuat tempat khusus wanita dimana mereka bisa kumpul disana dan belajar disana dan tidak adanya penyelisihan syariat Allah (sebagaimana yang terjadi di kebanyakan TN/Tahfidz Nisa) dan mereka menamai tempat/bangunan tersebut dengan nama Tahfidz, TN, atau penamaan yang lain, maka apakah ini boleh atau tidak boleh…..?, Jazakallah khairan,

Jawab: iya, seperti itu, jika selesai dars, para wanita itu pulang ke rumah masing-masing di kampung tersebut. Dulu para Salafiyyat belajar ke ‘Aisyah ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ atau ke para mu’allimat, lalu pulang ke rumah masing-masing. Tidak ada pola markiz nisa’iy seperti yang dipraktekkan oleh sebagian du’at yang melakukan istihsanat fiddin , padahal zaman dulu tiada HP dsb. Skrng amat memungkinkan bagi wanita untuk mendapatkan ilmu dengan berbagai sarana canggih tanpa melakukan kemaksiatan kepada Alloh dengan muhdatsat dsb.

Pertanyaan: afwan kalo ana mempertanyakan ini sebab kurangnya dan sangat minimnya ilmu pada ana sehingga satu permasalahan kadang ana harus berulang kali mempertanyakannya agar ana benar2 memahami permasalahan.

Jawab: barokallohu fikum wawaffaqokumulloh. Tidak apa-apa, kita saling memberikan faidah dan nasihat serta perbaikan dengan hujjah dan adillah, bukan dengan taqlid dan ro’yu. walhamdulillah

-selesai-

Berikut ini adalah beberapa pertanyaan dan sanggahan yang masuk ke ISNAD yang disampaikan oleh saudara kita -waffaqahullohu- tentang fatwa syaikh Yahya seputar “Tarbiyyatun Nisa” pada bulan robi’ul awwal 1433H ( baca disini )

Dari No.Ponsel 08523259766* (di Surabaya) pada 24 Robi’ul Awwal 1433H

Bismillah…ditanyakan kepada Syeikh Muqbil Rahimahullahu ta’ala: seorang wanita berkeinginan untk belajar di makkah, perlu diketahui bahwa abinya cuma mengantarkannya kemudian meninggalkanya (di makkah), maka apa boleh bagi dia untuk tinggal menetap sendjri (di makkah) dan menuntut ilmu dan perlu diketahui disana ada tempat tinggal khusus bagi wanita (TN ISTILAH KITA) ? beliau -rahimahulloh- menjawab: ” jika dia tinggal (di makkah) tidak ber-ikhtilath (campur baur laki-laki perempuan;ed ) dengan ajanib dan bila telah selesai masa belajarnya lalu abinya datang menjemputnya untuk safar (kembali kekotanya) karena tidak halal bagi wanita untuk safar kecuali dengan mahram dan dia belajar kitabullah dan sunnah rasul maka aku berharap hal tersebut tidak mengapa sebab yg terlarang adalah ber-khalwat (tidak ada orang ke-3 saat berduanya seseorang dengan yang bukan mahromnya ;ed ) dan juga yang terlarang safar tanpa mahram. (gharatul asyrithoh 2/220-221) dan disebutkan pula dikumpulan fatwa mar’atul muslimah lil-imaamil waadi’i begitu judulnya hal. 71 kitabul ilmi bab laa tusaafirul mar’aati lil-ilmi biduuni mahram. Tolong tampilkan fatwa ini kita jangan seperti luqmaniyyun dan Ashabul ‘Adani yakni jika ada kabar yang menguntungkan mereka sebarluaskan serta menta’liqnya sesuai kemauan mulut & hawa nafsu tapi kalau kabar yg tidak mnguntungkan ditutup-tutupi bahkan disembnyikan

sehingga antum (ISNAD.net ;ed ) harus adil dan amanah jika memang antum tidak berat sebelah atau curang dalam menyampaikan alhaq-nas’alullaha tsabat wal istiqomah wal amanah maka tampilkan fatwa syeikh tersebut dan kami akan melihat bagaimana mauqif-mu sebenarnya.. -selesai-

Berkata Abu Fairuz -semoga Alloh menjaganya- “ ta’liq apa yg ana berikan pada lembaran fatwa syaikh Yahya kemarin ( baca disini ;ed ) ? hizbiyun tampilkn fatwa batil dan sembunyikan fatwa yang haq. bilanglah terus terang bahwa kami seperti itu. yang berikutnya: mana dalil bahwa kalam syaikh Muqbil dll

(fatwa yang dibawakan oleh saudara kita diatas ;ed ) tersebut adalah haq ? al haq dinilai dengan Qur’an, Sunnah dan Fahmussalaf. Antum sanggup jawab ??

Beberapa tahun yang lalu beberapa malzamah telah ditulis tentang batilnya markiz nisa’iy, lengkap dengan hujjah dan fatwa. Mana malzamah kalian untuk membantahnya? jangan seperti umumnya hizbiyun yang tidak sanggup bantah al-Haqq, tapi tidak mau tunduk dan tobat, bahkan membandel dengan alasan: “ini fatwa fulan dan fulan. ” bawa sini malzamah (bantahan ;ed ) kalian, ana berikan ke syaikh Yahya -insyaAlloh- ana sejak dulu telah berusaha menyadarkan mereka dari bid’ah taqlid , tapi asap hawa nafsu masih halangi mereka dari kesembuhan. mereka tidak sanggup ikut salaf dalam cara berpkir dan ibadah..” -selesai- pada 25 robi’ul awwal 1433H

Berkata Abu Turob -semoga Alloh menjaganya- ” Ada bantahan Syaikh Yahya untuk Muhammad bin Abdul Wahhab

tentang keluarnya perempuan untuk mengajar da’wah. Juga tulisan Sukainah bintu syaikh Albani tentang keluarnya perempuan utk da’wah, dan untuk bantah mereka yang berpendaoat bahwa syaikh Albani taroju’ dari pendapat

muhdats-nya yg tercantum di ash-Shohihah. waffaqokallooh ” -selesai- pada 25 robi’ul awwal 1433H

Berkata Abu Turob -semoga Alloh menjaganya- ” Da’wah Ahlussunnah adalah da’wah ilal kitab was sunnah ‘ala fahmis salaf ash-Sholih. BUKAN DA’WAH KE AQWALIN NAAS WA LAA AARO IHIM. Apakah antum -waffaqokumullooh- lupa apa kata-kata pertama syaikh muhammad bin abdulwahab annajdi di ushul ats-tsalatsah: …. .… ﻭﻣﻌﺮﻓﺔ ﺩﻳﻦ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺑﺄﻷﺩﻟﺔ . ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﺑﻪ

Apakah antum waffaqokumullooh lupa per kataan imam Ahmad sebagaimana di kitabut tauhid:

ﻋﺠﺒﺖ ﻟﻘﻮﻡ ﻋﺮﻓﻮﺍ ﺍﻹﺳﻨﺎﺩ ﻭﺻﺤﺘﻪ ﻳﺬﻫﺒﻮﻥ ﺇﻟﻰ ﺭﺃﻱ ﺳﻔﻴﺎﻥ . ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻳﻘﻮﻝ : ﻓﻠﻴﺤﺬﺭ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺨﺎﻟﻔﻮﻥ ﻋﻦ ﺃﻣﺮﻩ ﺃﻥ ﺗﺼﻴﺒﻬﻢ ﻓﺘﻨﺔ ﺃﻭ ﻳﺼﻴﺒﻬﻢ ﻋﺬﺍﺏ ﺃﻟﻴﻢ . ﺃﺗﺪﺭﻱ ﻣﺎ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ؟ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ﺍﻟﺸﺮﻙ . ﻟﻌﻠﻪ ﺇﺫﺍ ﺭﺩ ﺑﻌﺾ ﻗﻮﻟﻪ ﺃﻥ ﻳﻘﻊ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻪ ﺷﻲﺀ ﻓﻴﻬﻠﻚ

Dan apakah antum lupa -waffaqokumullooh- qoulAlloh ta’ala:

ﻗﻞ ﻫﺬﻩ ﺳﺒﻴﻠﻲ ﺃﺩﻋﻮ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺑﺼﻴﺮﺓ ﺃﻧﺎ ﻭﻣﻦ ﺍﺗﺒﻌﻨﻲ ﺍﻵﻳﺔ

, dengan bashiroh ya akhi bukan dg hawa nafsu, dmkn itulah yg dbawa Rosulullooh Shollalloh ‘Alaihi Wasallam “ ﻭﻣﺎ ﻳﻨﻄﻖ ﻋﻦ ﺍﻟﻬﻮﻯ ﺇﻥ ﻫﻮ ﺇﻻ ﻭﺣﻲ ﻳﻮﺣﻰ ”

juga perkataan Alloh ta’aala:

“ ﻓﻼ ﻭﺭﺑﻚ ﻻ ﻳﺆﻣﻨﻮﻥ ﺣﺘﻰ ﻳﺤﻜﻤﻮﻙ ﻓﻴﻤﺎ ﺷﺠﺮ ﺑﻴﻨﻬﻢ ﺛﻢ ﻻ ﻳﺠﺪﻭﺍ ﻓﻲ ﺃﻧﻔﺴﻬﻢ ﺣﺮﺟﺎ ﻣﻤﺎ ﻗﻀﻴﺖ ﻭﻳﺴﻠﻤﻮﺍ ﺗﺴﻠﻴﻤﺎ “

Sekarang kita lihat dari fatwa-fatwa yang ada, mana yg lebih dekat dengan al-haqq mana yg lebih dekat dengan dalil, mana yang lebih dekat dengan pemahaman salaf, kita kembali ke sunnah rosululloh shollalloh ‘alaihi wasallam, dan yang demikian tidak cukup, bahkan harus dengan lapang dada dan tidak sempit dada terhadap apa yg diputuskan beliau dan harus menerima dengan sebenar-benarnya penerimaan. jika tidak maka sungguh Alloh telah berkata ” ﻓﻼ ﻭﺭﺑﻚ “, tidak takutkah engkau ya akhi waffaqokumulloh wa ashlahakum -selesai- pada 25 robi’ul awwal 1433H

http://al-manshurah.blogspot.co.id/2012/05/dialog-singkat-tentang-hukum-tn.html?m=0

Perumpamaaan Dunia

Yunus ayat 24
إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالْأَنْعَامُ حَتَّىٰ إِذَا أَخَذَتِ الْأَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلًا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَنْ لَمْ تَغْنَ بِالْأَمْسِ ۚ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir.

Diantara keutamaan shof awal

بسم اللــــه الرحمـــــــــن الرحيم
📩 الســــــــــــؤال :- 
يقول السائل: ماحال حديث إن الله وملائكته يصلون على أصحاب الصفوف الأُول ؟
Berkata penanya :

Bagaimana status hadits 
 إن الله وملائكته يصلون على أصحاب الصفوف الأُول ؟

“Sesungguhnya Allooh dan para malaikat bersholawat kepada orang-orang mendapatkan shof- shof awal
📝 الإجـــــــــابة :- 
حديث صحيح – أخرجه بعض أصحاب السنن عن البراء بن عازب رضي الله عنه .
Hadits shohih – dikeluarkan oleh sebagian pengarang kitab sunan dari sahabat Al-Baro’ bin ‘Azib رضي الله عنه 


Selesai.
Diterjemah oleh :

  ☄ Al Akh Abu Abdillah Wahyu Al Malangy حغظه الله تعالى ☄

Sumber Fatwa: Chanel Telegram @ibnhezam 

📃 Baca fatwa lainnya di

⤵️⤵️⤵️

https://telegram.me/bin_hizam_indonesia

t.whatsapp.com/BP0NTSBs677J2D80xLgXRa