Melemah Menghadapi Jin Yang Jahat?

بسم الله الرحمن الرحيم

Pertanyaan:Bagaimana Menasihati Kawan Yang Dimasuki Oleh Jin Dan Dia merasa tidak mampu melawannya?

Jawaban dengan pertolongan Alloh: Hendaknya antum dan si pasien saling menolong, jangan melemah. Tetaplah beri nasihat dengan lembut, dan tanamkan keyakinan bahwasanya Alloh akan melindungi hamba yang berserah diri kepada-Nya.

Alloh ta’al berfirman:

﴿من يتوكل على الله فهو حسبه﴾ ]الطلاق: 3[

“Dan barangsiapa bertawakkal pada Alloh maka Dia akan mencukupinya.”

Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata: Dan tawakkal itu termasuk sebab yang terkuat yang dengannya hamba bisa menolak perkara yang tidak disanggupinya yang berupa gangguan para makhluk, kezholiman dan permusuhan mereka. dan dia itu termasuk sebab yang terkuat dalam masalah itu karena sesungguhnya Alloh yang mencukupinya. Dan barangsiapa Alloh sebagai pencukupnya dan pelindungnya, maka musuhnya tak ada harapan terhadapnya dan tak bisa membahayakannya kecuali gangguan ucapan saja yang memang harus ada seperti cuaca panas, dingin, lapar, dan haus. Adapun untuk membahayakan dirinya dengan sesuatu yang mencapai darinya keinginannya, maka tak akan terjadi selamanya. Maka Alloh membedakan antara gangguan yang dia itu secara lahiriyyah adalah gangguan untuknya padahal dia itu pada hakikatnya adalah kebaikan untuknya dan bahaya untuk pelakunya sendiri, dengan bahaya yang musuhnya merasa puas dengannya. Sebagian salaf berkata: “Alloh ta’ala menjadikan untuk setiap amalan itu balasan sesuai dengan jenisnya, dan menjadikan balasan tawakkal kepada-Nya itu kecukupan-Nya untuk hamba-Nya. Alloh berfirman:

﴿من يتوكل على الله فهو حسبه﴾ ]الطلاق: 3[

“Dan barangsiapa bertawakkal pada Alloh maka Dia akan mencukupinya.”

Dan tidak berfirman: “Kami akan memberinya pahala begini dan begitu” sebagaimana berfirman terhadap amalan-amalan. Bahkan Dia menjadikan diri-Nya yang suci sebagai pencukup dan pelindung hamba-Nya yang bertawakkal pada-Nya. Andaikata sang hamba bertawakkal pada Alloh ta’ala dengan sebenar-benar tawakkal dan langit dan bumi beserta seluruh yang di dalamnya membikin tipu daya untuknya,pastilah Alloh akan menjadikan untuknya jalan keluar dari yang demikian itu, mencukupinya dan menolongnya.

(selesai dari “Badai’ul Fawaid”/2/hal. 464-465).

http://maktabahfairuzaddailamiy.blogspot.co.id/2016/07/melemah-menghadapi-jin-yang-jahat.html

Tidak Merapatkan Tumit Ketika Sujud

Ustadz bagaimana posisi tumit saat sujud, apakah tegak dengan merapatkan keduanya atau merenggangkannya?

Jawab: Riwayat yang menjadi landasan merapatkan kedua tumit ketika sujud ialah dari jalur Sa’id bin Abi Maryam berkata, telah mengabarkan kepadaku Yahya bin Ayyub, telah menceritakan kepadaku ‘Umarah bin Ghaziyah, aku mendengar Abu Nadhrah berkata, aku mendengar ‘Urwah, ia berkata ‘Aisyah berkata:

 فَقَدْتُ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَكَانَ مَعِي عَلَى فِرَاشِي. فَوَجَدْتُهُ سَاجِدًا رَاصَّا عَقِبَيْهِ مُسْتَقْبِلاَ بِأَطْرَافِ أَصَابِعِهِ الْقِبْلَةَ

“Aku kehilangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sewaktu beliau tidur bersamaku di atas tempat tidurku. Lalu aku mendapati beliau sedang sujud dengan merapatkan kedua tumitnya, dan ujung jari-jari kaki beliau menghadap ke arah kiblat.” (HR. Ibnu Khuzaimah 654, Ibnu Hibban 1933, Ath-Thahawi dalam “Syarh Ma’anil Atsar” 1/234 dan dalam “Musykilul Atsar” hal. 111, Al-Hakim 1/228, Al-Baihaqi dalam “Al-Kubra” 2/116, Ibnu ‘Abdil Barr dalam “At-Tamhid” 23/248 – “Laa Jadida Fi Ahkamis Shalah” hal. 72)

Syaikh Al-‘Allamah Bakr Abu Zaid berkata, “Al-Hakim berkomentar, “Hadits ini shahih sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim, namun keduanya tidak mengeluarkannya. Aku tidak mengetahui seorangpun yang menyebut merapatkan tumit saat sujud selain dari hadits ini.” -selesai-.

Adz-Dzahabi menyepakati penshahihan Al-Hakim dalam Talkhish-nya. Akan tetapi penilaian Adz-Dzahabi ini ganjil, karena beliau menilai cacat hadits-hadits lainnya disebabkan jalur Yahya bin Ayyub. Hal itu disampaikan oleh beliau dalam Talkhish-nya 2/201, 3/97, 4/44, 4/243.

Syaikh Bakr juga mengatakan, “Yahya bin Ayyub sekalipun haditsnya diriwayatkan oleh “Al-Jama’ah” (yakni kitab hadits yang enam) -Al-Bukhari beliau meriwayatkannya sebagai sanad pendukung-, akan tetapi para Huffadzh berbeda pendapat dengan perbedaan yang banyak, antara yang mentsiqahkan, mencelanya, dan yang bersikap pertengahan. Sebab dalam haditsnya ada ghara’ib dan manakir (hadits-hadits yang gharib dan munkar) sehingga harus berhati-hati.” (Idem, hal. 73)

Maka Syaikh Bakr Abu Zaid menegaskan, “Lafal “merapatkan kedua tumit saat sujud” adalah lafal yang “syadz” (lemah). Asal usul hadits ini ada dalam shahih Muslim dari ‘Aisyah tanpa penyebutan “merapatkan kedua tumit”. Dan komentar Al-Hakim di atas sesungguhnya menunjukkan syadznya lafal tersebut.” (Idem, hal. 74)

Syaikh Al-‘Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i berkata, “Sekalipun Yahya bin Ayyub terbilang rawi Al-Bukhari dan Muslim, akan tetapi pada dirinya ada pembicaraan. Maka yang nampak lafal “merapatkan kedua tumit” adalah syadz (lemah).” (Ta’liq Mustadrak Al-Hakim 1/340 nomor 835)

Jadi pendapat yang kuat adalah merenggangkan kedua tumit ketika sujud. Dalilnya lahiriyah riwayat ‘Aisyah, “Aku merasa kehilangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di suatu malam dari tempat tidurku, lantas aku mencari beliau dan tiba-tiba tanganku menyentuh kedua telapak kaki beliau yang sedang berada di masjid, kedua telapak kaki beliau tegak berdiri.” (HR. Ahmad 6/58, 201, Muslim 1/352, Abu Dawud 1/547, An-Nasa’i 1/102, Ad-Daraquthni 1/143 dan Ibnu Abdil Barr dalam “At-Tamhid” 23/349)

Lahiriyah riwayat ini menunjukkan renggangnya kedua tumit beliau; sama seperti renggangnya paha dan betis beliau ketika sujud. Para Ulama Syafi’iyyah berpendapat sunnahnya merenggangkan kedua kaki ketika sujud. Hal itu disampaikan oleh Al-Imam An-Nawawi dalam “Ar-Raudhah” 1/259. Begitu pula para Ulama Hanabilah seperti yang disampaikan Al-Burhan bin Muflih dalam “Al-Mubdi’” 1/457. Wa billahit tawfiq.

Fikri Abul Hasan http://manhajul-haq.blogspot.co.id/2015/06/tidak-merapatkan-tumit-ketika-sujud.html

Hukum Memakai Dasi

بسم الله الرحمن الرحيم

 
MENOLAK ALASAN BASI TENTANG BOLEHNYA MEMAKAI DASI

Ditulis oleh:
Al-Akh Shubhan bin Abu Tholhah Al-Jawi
– semoga Alloh menjaga dan memaafkannya-
Darul Hadits Dammaj, pada hari Senin 19 Robi’uts-Tsani 1433
Editor:
Akhuhu Fillah Abu Fairuz Abdurrohman Al Jawiy
-semoga Alloh menjaga dan memaafkannya-

Di awal pengepungan Rofidhohdammarohumulloh– terhadap Ahlussunnah di Dammaj pada tahun ini (1432 H), salah seorang ikhwan dari Malaysia menyodorkan kepadaku tentang jawaban Dzulqornain tentang bolehnya seseorang memakai dasi. Setelah saya membaca jawaban itu, maka dapat disimpulkan bahwa ia membolehkan seseorang memakai dasi dengan tiga alasan:
  1. Dasi itu bukanlah suatu bentuk ibadah khusus orang kafir.
  2. Hal ini sudah tersebar di kalangan kaum muslimin.
  3. Tidak ada pelanggaran syar’iy di dalamnya.
Semua alasan ini adalah alasan basi yang insya Alloh akan kita jawab satu persatu([1]) dengan memohon pertolongan Alloh semata.
Jawaban alasan pertama:
Ketahuilah, bahwasanya sesuatu dikatakan tasyabbuh itu tidaklah disyaratkan bahwa hal tersebut harus berupa bentuk ibadah khusus orang kafir, akan tetapi tasyabbuh masuk juga dalam perbuatan, perkataan, pakaian dan hari raya mereka. Alangkah banyaknya hal-hal yang dilarang dalam syariat dan hal tersebut bukanlah ibadah khusus orang kafir, akan tetapi syariat memerintahkan kita untuk menyelisihi  orang-orang kafir dan tidak menyerupai mereka.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rohimahulloh– berkata: “Ketahuilah bahwa perbuatan orang-orang kafir ada tiga macam:
  1. Disyariatkan dalam agama kita dan agama mereka.
  2. Awalnya disyariatkan dalam agama kita, kemudian dinaskh (dihapus hukumnya).
  3. Tidak disyariatkan sama sekali.
Dari tiga macam ini, adakalanya tasyabbuh itu dalam masalah ibadah, adat-istiadat atau terkumpul di dalamnya dua perkara tersebut: ibadah dan adat-istiadat, sehingga semuanya menjadi sembilan macam.”
Kemudian Syaikhul Islam –rohimahulloh– memberikan contoh dari pembagian tersebut berupa perintah dari syariat untuk menyelisihi mereka, sehingga seseorang tidak terjatuh ke dalam bentuk tasyabbuh.([2])
Alloh ta’ala berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيم﴾ [البقرة: 104]
Alloh ta’ala menyerukan kepada kaum mukminin: “Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian berkata: “Ro’ina,” (perhatikanlah kami) –sebagaimana itu adalah perkataan orang-orang kafir- akan tetapi ucapkanlah: “Unzhurna” (perhatikanlah kami) dan dengankanlah oleh kalian!” Orang-orang kafir itu akan mendapatkan siksaan yang pedih.”
Ibnu Katsir –rohimahulloh– berkata: “Di dalam ayat ini terdapat pendalilan tentang larangan yang keras dan ancaman untuk menyerupai orang-orang kafir dalam perkataan, perbuatan, pakaian, hari raya, ibadah dan semua perkara mereka yang tidak disyariatkan bagi kita.”([3])
Pengertian tasyabbuh
Sebelum saya menyebutkan beberapa contoh bentuk tasyabbuh yang bukan dalam bentuk ibadah khusus orang kafir, maka saya sebutkan terlebih dahulu pengertian tasyabbuh yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rohimahulloh– dalam kitab beliau: Iqtidho’ Ash-Shirootil-Mustaqiim Fii Mukhoolafati Ashhaabil Jahiim (1/271). Beliau mengatakan:
والتشبه يعم من فعل الشيء لأجل أنهم فعلوه، وهو نادر، ومن تبع  غيره في فعل لغرض له في ذلك إذا كان أصل الفعل مأخوذا عن ذلك الغير. اهـ
Tasyabbuh itu mencakup orang yang melakukan sesuatu hanya semata-mata dikarenakan kaum itu melakukannya dan ini adalah jarang terjadi.([4]) Juga siapa yang mengikuti orang lain dalam suatu perbuatan dengan suatu tujuan, apabila asal perbuatan itu diambil dari orang lain tersebut.”
Syaikh Abu ‘Ammar Yasir Al-’Adeniy –hafidzohulloh– berkata dalam risalah: Hukmu Al-Ihtifaal bi Ro’si As-Sanah Al-Miladiy (hukum memperingati tahun baru masehi), hal. 24: “Tasyabbuh secara istilah adalah menyerupai selain kaum muslimin dengan sesuatu yang menjadi ciri khas mereka, sama saja apakah dalam masalah aqidah, ibadah atau adat istiadat.”
Beberapa contoh bentuk larangan tasyabbuh terhadap orang-orang kafir yang bukan dalam ibadah khusus mereka
1. Larangan memakai pakaian mu’ashfar.([5])
عن عبد الله بن عمرو بن العاص -رضي الله عنه- قال: رأى رسول الله صلى الله عليه و سلم علي ثوبين معصفرين، فقال: «إن هذه من ثياب الكفار فلا تلبسها».
Dari ‘Abdulloh bin ‘Amr bin Al-’Ash –rodhiyallohu ‘anhu– berkata: “Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam- melihatku memakai dua pakaian mu’ashfar, maka beliau bersabda: “Sesungguhnya ini adalah pakaian orang kafir, maka janganlah kamu memakainya.” (HR. Muslim: 2077)
عن عبد الله بن عمرو -رضي الله عنه- قال: رأى النبي صلى الله عليه و سلم علي ثوبين معصفرين، فقال: «أأمك أمرتك بهذا؟!» قلت: أغسلهما؟ قال: «بل أحرقهما!».
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash –rodhiyallohu ‘anhu- berkata: “Rosululloh melihatku memakai dua pakaian mu’ashfar, maka beliau bersabda: “Apakah ibumu yang menyuruhmu untuk memakainya?!” Lalu aku berkata: “Aku cuci baju ini, wahai Rasululloh?” Maka beliau menjawab: “Bahkan bakarlah saja!” (HR. Muslim: 2078)
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin –rohimahulloh– mengatakan: “Ini adalah larangan untuk memakai pakaian orang kafir dari sisi warna, maka bagaimana kalau menyerupai pakaian mereka persis sekali dalam bentuk atau modelnya? Tentu larangannya akan lebih besar.”([6])
2. Perintah untuk menyemir uban dengan selain warna hitam.
عن أبي هريرة -رضي الله عنه-: أن النبي صلى الله عليه و سلم قال: «إن اليهود والنصارى لا يصبغون، فخالفوهم».
Dari Abu Huroiroh –rodhiyallohu ‘anhu-, beliau mengatakan bahwa Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashoro tidak menyemir rambut mereka, maka selisihilah mereka!” (HR. Bukhori dan Muslim)
عن جابر بن عبدالله -رضي الله عنه- قال: أتي بأبي قحافة يوم فتح مكة ورأسه ولحيته كالثغامة بياضًا، فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم: «غيروا هذا بشيء واجتنبوا السواد».
Dari Jabir bin ‘Abdulloh –rodhiyallohu ‘anhu– berkata: “Telah didatangkan Abu Quhafah pada hari fathu Makkah. Rambut dan jenggotnya putih seperti tsaghomah.([7])” Maka Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam– bersabda: “Ubahlah warna uban ini dan jauhilah warna hitam.” (HR. Muslim: 2102) ([8])
3. Larangan memotong jenggot.
عن ابن عمر -رضي الله عنهما- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «خالفوا المشركين أحفوا الشوارب وأوفوا اللحى».
Dari Ibnu Umar –rodhiyallohu ‘anhuma– berkata Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam– bersabda: “Selisihilah orang-orang musyrikin; cukurlah kumis dan peliharalah jenggot.”
عن أبي هريرة -رضي الله عنهما- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «جزوا الشوارب وأرخوا اللحى خالفوا المجوس».
Dari Abu Huroiroh –rodhiyallohu ‘anhu-, berkata Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam– bersabda: “Cukurlah kumis dan biarkanlah jenggot, selisihilah orang-orang Majusi.”
Tiga contoh di atas merupakan perintah dari Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam– terhadap umatnya agar tidak menyerupai orang-orang kafir meskipun tiga perkara tersebut bukanlah ibadah khusus orang kafir, tetapi hanyalah dalam masalah pakaian, rambut, kumis dan jenggot. Akan tetapi, tatkala kebiasaan orang-orang Yahudi dan Nashoro tidak menyemir uban dan suka memotong jenggot mereka, maka  syariat memerintahkan untuk tidak menyerupai mereka. Sebab seorang muslim sangatlah berbeda dengan orang kafir walaupun hanya dalam penampilan. Syariat kita sangatlah memperhatikan akan hal ini. Perkara ini tidaklah samar bagi seorang penuntut ilmu.
Siapa yang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan ibadah khusus mereka, maka hendaknya membawakan sepotong saja dari dalil atau bukti yang menunjukkan akan perkataannya itu. Bahkan syariat melarang kita untuk menyerupai orang-orang kafir walaupun hanya dalam bentuk perkataan.
Alloh ta’ala berfirman:
«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ»
Dalam ayat ini, Alloh menyerukan kepada kaum mukminin: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengatakan (kepada Muhammad): “Roo’ina” -seperti perkataan orang-orang kafir itu-, tetapi katakanlah: “Unzhurna” dan dengarlah!” Bagi orang-orang yang kafir itu siksaan yang pedih.” (QS. Al-Baqoroh: 104)
Ibnu Katsir –rohimahulloh– berkata: “Alloh melarang hamba-hambanya yang beriman untuk menyerupai orang-orang kafir dalam keadaan dan perbuatan mereka. Hal itu dikarenakan orang-orang Yahudi mempergunakan kalimat-kalimat yang di dalamnya terdapat tauriyah([9]) terhadap apa yang mereka inginkan berupa ejekan –bagi merekalah laknat Alloh-. Apabila mereka ingin mengatakan: “Dengarkanlah kami,” mereka mengatakan: “Roo’inaa.” Mereka inginkan darinya “arru’unah” yang bermakna ketololan…
Tujuan dari hal ini, bahwasanya Alloh melarang orang-orang yang beriman untuk menyerupai orang-orang kafir baik secara perkataan maupun perbuatan.”([10])
Tatkala terjadi kudeta terhadap pemerintah Yaman, semboyan para pemberontak yang terlontar kepada diri presiden adalah: “Irhal…Irhal…!” yang bermakna: “Pergilah… pergilah kamu,” sebagai bentuk pengusiran terhadap presiden Yaman waktu itu. Maka Syaikh Yahyahafidhohulloh– ditanya tentang hukum mengucapkan kalimat tersebut, maka beliau menganjurkan untuk menjauhi perkataan itu walaupan kita tidak memaksudkan apa yang mereka maksudkan, kemudian beliau menyebutkan firman Alloh:
﴿وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا الله فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ﴾ [الحشر: 19]
“Janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Alloh, lalu Alloh menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19)
Hal ini menunjukkan bahwa masalah tasyabbuh termasuk permasalahan yang cukup luas dan berbahaya. Sengaja saya menyebutkan hal ini untuk menunjukkan bagaimana semangat Syaikh Yahya –hafidhohulloh– dalam menasehati murid-murid beliau untuk menjauhi segala bentuk tasyabbuh, walaupun hanya dalam bentuk ucapan.
Dalam kesempatan lain, beliau juga ditanya oleh salah seorang tentara Yaman yang hadir dalam majelis beliau tentang hukum memotong jenggot bagi tentara, dengan alasan bahwa hal ini adalah perintah dari atasan. Kalau kita tidak memotong jenggot kita, maka akan dikeluarkan dari ketentaraan. Maka beliau pun menjawab akan terlarangnya hal tersebut dengan menyebutkan dalil-dalilnya. Kemudian tentara itu berkata: “Ya Syaikh, kalau begitu kita tidak punya pekerjaan?!” Syaikh pun menjawab: “Kamu menuntut ilmu di sini -yakni di Dammaj-.”
Subhanalloh, lihat bagaimana Syaikh Yahya mendidik orang-orang yang hadir dalam majelis beliau untuk berpegang teguh dengan dalil dan tidak taat kepada atasan walaupun harus keluar dari profesinya. Sebab seseorang tidak diperbolehkan untuk taat kepada makhluk apabila terjatuh ke dalam maksiat terhadap Kholiq (Alloh ta’ala), sebagaimana sabda Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam-:
«لا طاعة في معصية الله، إنما الطاعة في المعروف»
“Tidak ada ketaatan dalam rangka bermaksiat kepada Alloh. Sesungguhnya ketaatan itu dalam perkara kebaikan.” (HR. Bukhori, no. 7257 dan Muslim, no. 1840 dari ‘Ali -rodhiyallohu ‘anhu-)
Syaikh Yahya juga pernah mengatakan: “Ikatlah diri kalian dengan dalil dan janganlah kalian mengikat diri kalian dengan individu.” Nas’alullohat-taufiq([11]).
Jawaban alasan yang kedua:
Alasan kedua ini dijawab oleh para ulama:
1. Syaikh Al-Albaniy –rohimahulloh-.
Pertanyaan: “Ya Syaikh, bagaimana pendapat Anda dengan fatwa yang mengatakan: “Tidak apa-apa memakai bantholun (celana pantalon) meskipun ia adalah pakaian orang kafir. Akan tetapi telah tersebar di kalangan kaum muslimin. Juga bantholun bukanlah pakaian khusus orang-orang kafir dan sekarang telah menjadi pakaian kaum muslimin, maka boleh memakainya dengan syarat tidak membentuk aurat.”
Jawaban: “Orang yang memfatwakan hal ini ia hanyalah mengetahui satu perkara saja dan tidak mengetahui beberapa perkara lainnya… Maka di sini terdapat kesalahan yang tersembunyi dari dua sisi:
  • Pertama, bantholun tidaklah dilupakan oleh orang-orang kafir dan menjadi pakaian khusus kaum muslimin. Masih ada pada kebanyakan negara Islam yang belum mengetahui bantholun. Setiap negara yang dekat dengan negeri-negeri kafir semakin banyak tersebar bantholun, dengan sebab cepatnya pergerakan musuh-musuh Islam… Maka celana bantholun sampai saat ini masih menjadi pakaian orang-orang kafir.
  • Kedua, hal yang luput dari orang yang memfatwakan hal ini bahwasanya di dalam bantholun terdapat musykilah lain, yaitu membentuk aurot.”([12])
2. Syaikh Sholeh Al-Fauzan –hafidzohulloh-.
Beliau mengatakan: “Adapun jika seorang wanita memotong rambutnya dengan alasan tasyabbuh terhadap laki-laki, wanita-wanita kafir dan fasiqoh (wanita-wanita fasik), maka tidak diragukan lagi keharomannya walaupun hal itu banyak terjadi di kalangan kaum muslimah selama asalnya adalah merupakan bentuk tasyabbuh, maka hukumnya adalah harom. Banyaknya hal ini terjadi di kalangan muslimah, tidaklah menjadikannya menjadi boleh. Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam– bersabda:
«من تشبه بقوم فهو منهم»
“Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari mereka.” ([13])
Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam– juga bersabda:
«ليس منّا من تشبه بغيرنا»
“Bukan termasuk dari golongan kita orang-orang yang menyerupai selain kita.” (HR. Tirmidzi, no. 2695 dari ‘Abdulloh bin ‘Amr –rodhiyallohu ‘anhu– disebutkan dalam As-Shohihah, no. 2194).” ([14])
3. Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-’Abbad –hafidhohulloh-.
Beliau ditanya tentang syubhat ini, lalu beliau menjawab: “Yakni apabila telah tersebar, maka tidak benar untuk dikatakan tasyabbuh?! Hal ini melazimkan semua kekhususan orang-orang kafir apabila telah diikuti oleh kaum muslimin dan tersebar di kalangan mereka, maka hal itu menjadi mubah! Ini adalah kesalahan yang sangat fatal!”([15])
4. Syaikh Robi’ bin Hadi Al-Madkholiy –hafidzohulloh
Ketika beliau ditanya tentang hal ini, lalu beliau menjawab: “Tersebarnya maksiat dan bid’ah tidaklah menjadikan sebab untuk membolehkannya. Seandainya hal ini diterima, maka akan dibolehkan pula potong jenggot dan yang semisalnya dari perbuatan maksiat dan bid’ah!” ([16])
Dari penjelasan para ulama di atas, sangat jelas bahwa tersebarnya sesuatu di kalangan kaum muslimin tidaklah menjadikan hal itu boleh hukumnya walaupun sebagian perkataan para ulama di atas bukan dalam masalah dasi secara khusus, akan tetapi konteks ucapan mereka adalah sedang membantah qo’idah (kaedah) tersebut secara umum. Yang mengherankan, jika ada yang membolehkan memakai dasi hanya karena anak-anak sekolah memakainya, maka siapa anak-anak sekolah itu?? Apakah mereka seorang qudwah (teladan) yang patut untuk dicontoh perbuatannya?!
Ikhwaniy fillah, kalau kita mengikuti kemauan semua orang, maka mereka akan menyesatkan kita dari jalan Alloh. Alloh ta’ala berfirman:
﴿وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ الله﴾ [الأنعام: 116]
“Jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh.” (QS. Al-An’am: 116).
Yang lebih mengherankan lagi, apabila ada yang memasukkan perkara makan dan minum dalam permasalahan tasyabbuh, yang hal ini tidaklah masuk dalam masalah tasyabbuh, kecuali dalam bentuk sifat atau tata caranya, misalnya makan dengan tangan kiri. Maka hal ini terlarang karena tasyabbuh dengan syaithon. Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
«لا تأكلوا بالشمال، فإن الشيطان يأكل بالشمال»
“Janganlah kalian makan dengan tangan kiri, karena syaithon itu makan dengan tangan kiri.” (HR. Muslim, no. 2019 dari Jabir –rodhiyallohu ‘anhu-)
Hal yang masuk dalam tasyabbuh adalah tata cara makannya, bukan makannya itu sendiri, sebab kita diciptakan sebagai makhluk yang butuh terhadap makan dan minum. Jangankan orang kafir, bahkan kucing, marmut dan siput pun juga makan dan minum!
Jawaban alasan ketiga.
Sebelum kita menjawab alasan ketiga, maka kita sebutkan terlebih dahulu ucapan ahlul ‘ilmi tentang dasi:
1. Kalam Syaikh Muqbil bin Hady Al-Wadi’iy –rohimahulloh-.
Beliau mengatakan dalam kitabnya “Tuhfatul Mujib” (hal. 291), tatkala berbicara tentang ‘Abdul Karim Zaidan: “Abdul Karim Zaidan adalah fuaisiq (seorang fasik yang hina), memotong jenggotnya, memakai bantholun dan dasi… Saya ingin sekiranya dia duduk bersama orang Nashoro, maka kamu tidak akan bisa membedakan yang mana orang Nashoro dan mana orang muslim. Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam– bersabda:
«من تشبه بقوم فهو منهم»
Terkadang mereka mendatangkan orang yang menyerupai musuh-musuh Islam dan melihat bahwasanya petunjuk musuh Islam itu lebih baik.”
Beliau juga mengatakan dalam hal. 253: “‘Abdul Karim Zaidan itu memotong jenggotnya,memakai dasi dan bantholun. Kamu tidak bisa membedakan antara dia dan seorang nashroni.”
Kemudian Syaikh Muqbil –rohimahulloh menimpali ucapannya ini dengan perkataannya: “Saya telah diingkari lantaran perkataan ini. Akan tetapi saya akan tetap mengatakannya meskipun kamu tidak suka, wahai orang yang mengingkari! Saya tidak memaksudkan bahwa dia itu Nashroni, akan tetapi yang aku maksud bahwa penampilannya seperti penampilan seorang nashroni.
2. Kalam Syaikh Al-Albaniy –rohimahulloh-.
Syaikh –rohimahulloh– mengatakan dalam sebagian durus (pelajaran) beliau: “Perkara tasyabbuh terhadap orang kafir telah menjadi perkara yang sangat gampang sekali. Saya contohkan, misalnya borneta (topi berlidah). Kemudian kita turun sejengkal, kita ambil sebuah ikatan (di leher) yang mereka namakan dengan karfattah (dasi). Apa maksud dari hal ini, wahai pembaca? Tidak lain kecuali hanyalah pakaian orang kafir yang dibawa oleh orang-orang kafir tatkala mereka menguasai negara kita. Kemudian syaithon menghias-hiasi kita dengan pakaian ini, kemudian kita meniru dan menyerupai mereka… Kemudian dia juga merasa sempit sebagaimana seseorang merasa sempit dengan memakai bantholun dan yang semisalnya. Kesimpulannya: hal ini tidaklah diinginkan darinya melainkan hanyalah tasyabbuh semata!”([17])
3. Kalam Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-’Abbad –hafidhohulloh-.
Pertanyaan: “Apakah memakai dasi termasuk tasyabbuh dengan orang kafir?”([18]) Jawab: “Tidak diragukan lagi bahwa memakainya termasuk tasyabbuh dengan orang-orang kafir. Syaikh Hammad menamakannya dengan belenggu yang ada di leher.”([19])
Ketika beliau –hafidzohulloh– ditanya tentang hukum memakai dasi, maka beliau menjawab: “Memakai dasi itu adalah suatu bentuk berlebih-lebihan dalam tasyabbuh terhadap orang orang kafir.” Penanya mengatakan: “Yakni harom?” Beliau menjawab: “Tidak diragukan lagi, memakainya adalah harom dan di dalamnya terdapat unsur berlebihan dalam tasyabbuh terhadap orang-orang kafir.”([20])
4. Kalam Syaikh Yahya bin ‘Ali Al-Hajuriy -hafidhohulloh-.
Beliau mengatakan: “Apa yang terjadi pada kaum muslimin berupa tasyabbuh dalam penampilan dzohir berupa memakai bantolun, dasi, memotong jenggot, berusaha untuk berbicara dengan bahasa mereka… dan selain dari itu yang tersebar di kalangan kaum muslimin bukanlah perkara yang biasa. Tidak lain ia adalah peperangan yang menyeluruh terhadap kaum muslimin, mencakup penyebaran keyakinan yang akan mencabut dari kaum muslimin kecintaan mereka terhadap Islam, orang-orang Islam dan syiar-syiarnya. Lalu menggantinya dengan kecintaan terhadap orang-orang kafir, perbuatan-perbuatan dan keadaan mereka sedikit demi sedikit. Maka hal ini tidaklah diragukan akan keharomannya.
Orang yang merenungi hadits Ibnu ‘Umar –rodhiyallohu ‘anhuma– bahwasanya Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam– bersabda:
«من تشبه بقوم فهو منهم»،
maka akan melihat hal itu dengan jelas. Sehingga bagi kaum muslimin –waffaqohumulloh– agar berqona’ah dengan apa yang Alloh telah muliakan mereka dengannya berupa agama yang sangat agung ini dan merasa mulia dengannya, sebab kemuliaan seorang muslim itu sesuai dengan pemuliaan dan pengagungannya terhadap agama ini.
Alloh ta’ala berfirman:
﴿وَلله الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ﴾ [المنافقون: 8]
“Padahal kemuliaan itu hanyalah milik Alloh, Rosul-Nya dan orang-orang mukmin.” (QS. Al-Munafiqun: 8) ([21])
Dari perkataan ahlul ‘ilmi di atas, maka sangat jelas bahwa memakai dasi merupakan suatu bentuk tasyabbuh terhadap orang kafir. Maka tidaklah benar kalau dikatakan bahwa di dalamnya tidak ada pelanggaran syariat. Bahkan pelanggaran syariatnya adalah terjatuhnya dia ke dalam tasyabbuh itu sendiri, baik sengaja ataupun tidak, sebab perkara tasyabbuh itu tidak disyaratkan padanya adanya unsur kesengajaan untuk memaksudkan perbuatannya itu dalam rangka tasyabbuh.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rohimahulloh– berkata:([22]) “Telah lalu penjelasannya bahwa apa yang diperintahkan oleh Alloh dan Rosul-Nya berupa penyelisihan terhadap orang kafir adalah sesuatu yang disyariatkan, baik hal itu dimaksudkan oleh pelakunya atau tidak, karena kebanyakan kaum muslimin tidak memaksudkan perbuatan mereka untuk tasyabbuh.”([23])
Kemudian Syaikh Ibnu ‘Utsaimin –rohimahulloh– mengomentari ucapan ini dengan perkataannya: “Ini adalah suatu permasalahan yang perlu diperhatikan, karena sebagian orang apabila diingatkan tentang tasyabbuh, maka ia mengatakan: “Saya tidak memaksudkannya untuk tasyabbuh.” Unsur tasyabbuh itu telah terjadi, sama saja apakah kamu maksudkan atau tidak. Selama penyerupaan itu terjadi, maka tidak ada bedanya apakah dia meniatkannya untuk tasyabbuh atau tidak.” ([24])
Dengan memuji kepada Alloh, selesailah tulisan yang sederhana ini sebagai bentuk jawaban dan penjelasan terhadap alasan basi yang disebutkan oleh Dzulqornain. Mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk saya sendiri dan para pembaca.
Perlu diketahui bahwa tulisan saya ini bukanlah membahas masalah tasyabbuhsecara meluas, akan tetapi hanyalah menjelaskan secara singkat tiga alasan yang disebutkan oleh sang ustadz tersebut yang membolehkan memakai dasi. Bagi ikhwah yang ingin mengetahui secara meluas masalah tasyabbuh ini, maka bisa membaca sendiri beberapa kitab yang membahas masalah tersebut, di antaranya:
1. “Iqtidho’ Ashirothol Mustaqim Fi Mukholafati Ashhabil Jahim”, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rohimahulloh-. Kitab ini adalah kitab terbaik dalam pembahasan masalah tasyabbuh.
2. “Al-Idhoh wat Tabyin lima Waqo’a Al-Aktsarun min Musyabahatil Musyrikin”, karya Syaikh Hamud At-Tuwaijiriy –rohimahulloh– dengan taqdim dari Syaikh Ibnu Baaz –rohimahulloh-.
3. “Idzharul Adillah fi Hukmit-Tasyabbuh bil-Kuffar Al-Adzillah”, karya akhunalfadhil Abdurrohman bin Abdul Majid Asy-Syamiriy –hafidzohulloh– dengan taqdim (pengantar) Syaikhuna Yahya bin ‘Ali Al-Hajuriy –hafidzohulloh-.
Terakhir, saya selalu menasehatkan untuk diri saya dan ikhwan semua untuk terus-menerus bersunguh-sungguh dalam menuntut ilmu sampai Alloh mencabut nyawa kita dalam keadaan kita sebagai penuntut ilmu. Apalagi kita berada di zaman yang sangat sedikit para penuntut ilmunya dan sangat banyaknya para penuntut dunia. Apabila kita mengikuti keinginan semua orang, maka kita tidak akan bisa menuntut ilmu. Alangkah indahnya perkataan Syaikh Muqbil -rohimahulloh- dalam kitabnya “Al-Mushoro’ah” (hal. 199). Beliau mengatakan: “Masyarakat kita tidaklah membantu kita dalam kebaikan. Sekolah juga tidak membantu kita dalam kebaikan. Keluarga juga tidak membantu dalam kebaikan. Seandainya kita mentaati keluarga dan para kerabat kita, maka kita tidak akan bisa menuntut ilmu. Hendaknya kamu tidak memperdulikan mereka dan terus maju menuntut ilmu.”
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
نسأل الله تعالى أن يحفظ علينا ديننا وأن يتوفانا مسلمين

([1]) Catatan Editor وفقه الله: Saudara kita yang mulia Abu Abdil Karim Subhan Al Jawiy حفظه الله meminta saya untuk membantu dalam muroja’ah risalah penulis yang bagus ini, dalam bab saling menolong di jalan Alloh. Saya berharap agar semua ikhwah tidak merasa keberatan dengan kehadiran saya dalam risalah ini dan tidak menuduh bahwasanya sang editor merasa bagaikan seorang syaikh yang memeriksa dan memberikan pengantar seperlunya. Insya Alloh editor tidak merasa yang demikian itu, hanya saja manakala editor mendapati sebagian orang meremehkan sang penulis yang mulia ini, maka editor ingin sedikit menjelaskan bahwasanya tulisan penulis cukup bagus dan merupakan nasihat yang tepat. Cukuplah Alloh ta’ala sebagai saksi terhadap apa yang ada di dalam dada.
-tambahan editor ISNAD-
Berikut rekaman suara dan keterangan dari FATWA Dzulqornain tentang bolehnya memakai dasi untuk kaum muslimin (dia adalah Dzulqornain bin Muhammad Sunusi, asal Makassar. oleh sebagian pengikutnya si da’i kondang ini dielu-elukan sebagai ahlul fiqh-nya orang indonesia lantaran memiliki buanyak sekali kaidah-kaidah ushul fiqh yang keluar dari lisannya atau rekaman kajian di tasjilat-tasjilat komersilisasi dan seringnya mengadakan “dauroh-dauroh” fiqh bertaraf Nasional dengan membuat proposal-proposal tasawul menarik harta-harta kaum muslimin, dzulqornain perna menjadi murid Syaikh Muqbil -rahimahulloh- sebagaimana si mubtadi’ – si pencela sunnah, ahlul hadits dan para ulama ahlussunnah dijamannya- yakni Luqman ba’abduh (bekas wakil panglima Lasykar Khowarij wal Jama’ah era Ja’far Umar Tholib )
Dzulqornain bin Muhammad Sunusi -hadahulloh-, ditanya pada 16 Rajab 1432H ” Bagaimana pendapatmu jika kita disuruh atasan untuk memakai dasi, apakah wajib untuk kita mentaatinya, dan benarkah bahwa berdasi itu (memakainya ;ed) bentuk menyerupai orang kafir ?
Berkata Dzulqornain ” Ndak ya..dasi itu sudah biasa orang pakai dasi, dimana-mana orang pakai dasi,  Anak sekolah pakai dasi (hadirin tertawa) semuanya orang pakai dasi, Mana menyerupai orang kafir ?? dia bukan bentuk ibadah khusus orang kafir..jelas yaa ?!! Gak semua orang yang dilakukan orang kafir dikatakan menyerupai orang kafir !! orang kafir makan minum..kita juga makan minum..(majelis tertawa) serupa kan ?? yang dikatakan menyerupakan orang kafir kalau merupakan ciri ibadah mereka, atau ciri khusus mereka,gak ada ditempat lain, nah itu baru menyerupai orang kafir, tapi kalau sudah tersebar ditengah kaum muslimin, itu dak menyerupai orang kafir namanyasepanjang tidak ada pelanggaran syariat didalamnya..dan memakai dasi itu bukan hal yang ….jelas yaa ?! baik, itu dari sisi hukum tasyabbuh nya..saya sebutkan tadi -wallohu a’lam- dak ada bentuk tasyabbuh padanya.
([2]) Iqtidho’ (1/473), cet. ‘Alamul Kutub.
([3]) Tafsir Al-Qur’an Al-Karim, surat Al-Baqoroh ayat: 104.
([4]) Mungkin hal ini ketika di zamannya. Adapun di zaman kita sekarang, alangkah banyaknya yang menyerupai orang-orang kafir, sehingga mengakibatkan mereka terjatuh ke dalam bentuk tasyabbuh dan juga karena mereka melihat bahwa perbuatan orang-orang kafir tersebut sebagai bentuk kemajuan zaman. (komentar Syaikh Ibnu ‘Utsaimin –rohimahulloh- terhadap kitab Al-Iqtidho’, hal. 106, cet. Dar Ibnul Haitsam)
([5]) Pakaian mu’ashfar adalah pakaian yang dicelup dengan daun tumbuhan ‘ushfur. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rohimahulloh– menerangkan sebab dilarangnya hal itu -selain merupakan pakaian orang kafir- juga dikarenakan warnanya yang merah. (lihat Syarhul ‘Umdah, kitab Sholat, hal. 378, Fathul ‘Allam: 2/252-255, karya Syaikhuna Muhammad bin Hizam –hafidzohulloh-)
([6]) Ta’liqot Syaikh Ubnu Utsaimin terhadap kitab Al-Iqtidho’, hal. 167.
([7]) Abu ‘Ubaid berkata: “Tsaghomah adalah sejenis tumbuhan yang bunganya berwarna putih.” (Syarh Shohih Muslim, karya Imam An-Nawawiy)
([8]) Tambahan editor وفقه الله: Syaikhul Islam رحمه الله berkata:
وهذا اللفظ دل على الأمر بمخالفتهم والنهي عن مشابهتهم فإنه إذا نهى عن التشبه بهم في بقاء بيض الشيب الذي ليس من فعلنا، فلأن ينهى عن إحداث التشبه بهم أولى ، ولهذا كان هذا التشبه يكون محرمًا بخلاف الأول. (“الاقتضاء” /1 / ص 303).
“Lafazh ini menunjukkan perintah untuk menyelisihi mereka dan larangan untuk menyerupai mereka. Jika beliau melarang dari menyerupai mereka dalam masalah: tetap adanya uban putih yang itu bukanlah dari perbuatan kita, maka pastilah perbuatan untuk sengaja menyerupai mereka itu lebih terlarang. Oleh karena itulah, maka sengaja menyerupai mereka itu diharomkan, berbeda dengan yang pertama.” (“Iqtidho”/1/hal. 303).
([9])Tauriyah adalah memutlakkan suatu lafadz yang dzohirnya mengandung suatu makna, tetapi yang diinginkan oleh si pengucapnya adalah makna lain yang dikandung pula oleh lafadz tersebut, tetapi berbeda dengan dzohirnya. (lihat Al-Mishbahul Munir fii Ghorib Asy-Syarhil-Kabir (2/656), karya Ahmad bin Muhammad Al-Fayumi –rohimahulloh-).
([10]) Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqoroh, ayat 104.
([11]) Tambahan editor وفقه الله: Berapa banyak orang yang mengetahui dalil dan syari’ah, akan tetapi hatinya kurang tergerak untuk tunduk pada Alloh dan mematuhi dalil dan syari’ah Alloh yang telah diketahuinya itu! Maka permohonan untuk mendapatkan taufiq adalah do’a yang besar. Makna taufiq adalah sebagaimana ucapan Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله:
والتوفيق: إرادة الله من نفسه أن يفعل بعبده ما يصلح به العبد بأن يجعله قادرا على فعل ما يرضيه مريدا له محبا له مؤثرا له على غيره ويبغض إليه ما يسخطه ويكرهه إليه. (“مدارج السالكين”/2 /46).
“Taufiq adalah keinginan Alloh dari diri-Nya agar berbuat pada hamba-Nya perkara yang dengannya hamba tersebut menjadi baik, dengan cara menjadikannya mampu melakukan apa yang membuat Alloh ridho, dia menginginkannya, mencintainya, lebih mengutamakannya daripada yang lain dan menjadikannya membenci terhadap perkara yang Alloh benci.” (“Madarijus Salikin”/2/hal, 46).
([12])  Silsilatul Huda wan-Nuur, kaset no. 813, dinukil dari kitab Al-Qisthoos, hal. 302.
([13]) Tambahan editor وفقه الله: Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, no. 5232 (hadits hasan) dari Ibnu Umar -rodhiyallohu ‘anhuma-.
([14]) Nashihah wa Fataawa Khoshshoh lil-Mar’ah, hal. 74.
([15]) Al-Qisthoos, hal. 309-310.
([16]) Al-Qisthoos, hal. 310.
([17]) Durus Syaikh Al-Albany (5/13), Maktabah Syamilah.
([18]) Durus Sunan Abi Dawud (16/201).
([19]) Isyarat terhadap firman Alloh ta’ala:
﴿إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ﴾ [يس: 8]
Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, sehingga mereka tertengadah.” (QS. Yasiin: 8).
([20]) Al-Qisthoos, hal. 274.
([21]) Al-Qisthoos, hal. 6.
([22]) Iqtidho’ (1/473).
([23]) Perkataan Syaikhul Islam-rohimahulloh– ini merupakan bantahan terhadap sebagian ulama yang membolehkan pakai dasi dan mengatakan bahwa jika diniatkan dengannya tasyabbuh, maka barulah terlarang.
([24]) Ta’liqot ‘ala Kitab Iqtidho’, hal. 226, cet. Dar Ibnul Haitsam.

Apa hukum menagih hutang?

PenanyaApa hukum menagih hutang?.

Jawab:

بسم الله الرحمن الرحيم .وبه نستعين، ولا حول ولا قوة إلا بالله.وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبد الله ورسوله صلى الله عليه وسلم تسليما كثيرا.  أما بعد:

Dalam menangani permasalahan menagih hutang manusia terbagi kepada dua kelompok:

Kelompok Pertama: Mereka menyatakan “Jangan malu dalam menagih hutang”.

Pada kelompok ini mereka memutuskan bahwa kapan saja menginginkan untuk menagih hutang yang mereka hutangkan kepada orang lain maka mereka lakukan, ini tentu memberatkan bagi yang hutang, berbeda halnya kalau sudah ada perjanjian sebelumnya yaitu dengan menentukan jangka waktunya maka seperti ini tidak mengapa.

Dengan ketentuan ini kita mengetahui betapa pentingnya pemberian catatan sebagaimana yang Alloh Ta’ala katakan:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ} [البقرة: 282].

“Wahai orang-orang yang beriman jika kalian berhutang piutang dengan suatu hutang sampai kepada waktu yang ditentukan maka hendaknya kalian menuliskannya, dan hendaknya seorang penulis diantara kalian menuliskannya dengan adil”. (Al-Baqoroh: 282).

Bila sudah ada penentuan waktu kemudian orang yang memberikan hutang datang menagih hutangnya sebelum waktu tersebut maka dia telah melakukan suatu pelanggaran:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ} [المائدة: 1]

“Wahai orang-orang yang beriman penuhilah akad-akad kalian”. (Al-Maidah: 1).

Yang kedua: Mereka menyatakan “Lihatlah kepada keadaan kalian (yang memberi hutang) dan keadaan mereka (yang dihutangkan)!”.

Kelompok yang kedua ini lebih bijak, yaitu “mereka melihat kepada keadaan diri mereka dan keadaan orang-orang yang hutang kepada mereka”, hal ini sebagaimana yang datang di dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy dari hadits Abdullah bin Ka’b bin Malik dari Bapaknya, beliau mengabarkan:

“أَنَّهُ تَقَاضَى ابْنَ أَبِي حَدْرَدٍ دَيْنًا لَهُ عَلَيْهِ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلى الله عَليهِ وَسَلّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُمَا حَتَّى سَمِعَهَا رَسُولُ اللهِ صَلى الله عَليهِ وَسَلّمَ وَهُوَ فِي بَيْتِهِ فَخَرَجَ إِلَيْهِمَا رَسُولُ اللهِ صَلى الله عَليهِ وَسَلّمَ حَتَّى كَشَفَ سِجْفَ حُجْرَتِهِ وَنَادَى كَعْبَ بْنَ مَالِكٍ قَالَ: «يَا كَعْبُ» قَالَ: لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللهِ فَأَشَارَ بِيَدِهِ أَنْ: «ضَعِ الشَّطْرَ مِنْ دَيْنِكَ» قَالَ كَعْبٌ: قَدْ فَعَلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلى الله عَليهِ وَسَلّمَ: «قُمْ فَاقْضِهِ»”.

“Bahwasanya beliau membayar kepada Ibnu Abi Hadrod suatu hutang beliau kepadanya pada zaman Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam di dalam masjid, lalu meninggi suara keduanya sampai Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mendengar suaranya, dan beliau di dalam rumahnya, lalu Beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam keluar kepada keduanya hingga membuka kain tabir pintu kamar beliau, dan beliau menyeru Ka’b bin Malik: “Wahai Ka’b!”, Ka’b berkata: “Kupenuhi seruanmu wahai Rosululloh”, lalu Beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam memberikan isyarat dengan tangannya: “Bayarlah separoh dari hutangmu”, Ka’b berkata: “Sungguh aku telah melakukannya wahai Rosululloh”, maka Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Berdirilah lalu tunaikanlah”.

Pada hadits ini menunjukan bolehnya bagi seseorang untuk menagih harta yang dia hutangkan kepada orang lain.

Pada hadits tersebut Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam memberikan isyarat dengan tangannya“Bayarlah separoh dari hutangmu“, hal ini menunjukan tentang bolehnya membayar hutang secara cicilan, ini tentu dengan melihat keadaan yang disesuaikan dengan kemampuan yang ada, dan hal ini bila tidak ada perjanjian sebelumnya.

Kalau ada perjanjian dari sebelumnya misalnya bayar tunai maka harus lakukan.

Apa yang diputuskan oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam ini juga mengandung pelajaran bagi yang memberi hutang untuk melihat atau mengerti keadaan orang yang dihutangkan.

Kalau yang memberi hutang masih memiliki banyak harta atau belum membutuhkan harta yang dia hutangkan kepada yang lainnya maka dia memberikan tangguh sampai orang yang hutang itu memiliki kemampuan, dan ini masuk dalam bab ta’awun (bekerja sama) di atas kebaikan dan termasuk sikap yang bijak.

Dan pada kelompok ini kalau mereka “mengikhlaskan” apa yang mereka hutangkan kepada orang lain yang tidak mampu membayar hutangnya, maka ini suatu kebaikan dan mereka mendapatkan keutamaan karena telah membantu saudara mereka, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ».

“Dan barang siapa yang keberadaannya pada hajat saudaranya maka Alloh pada hajatnya, dan barang siapa membebaskan dari seorang muslim terhadap suatu kesulitan maka Alloh membebaskan darinya suatu kesulitan dari kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy dan Muslim dari hadits Abdulloh bin ‘Umar Rodhiyallohu ‘anhuma.

Dengan keutamaan seperti ini maka Abu Qotadah Al-Anshoriy Rodhiyallohu ‘anhu memberi jaminan untuk membayarkan hutang seorang shohabat yang meninggal, Jabir Rodhiyallohu ‘anhu berkata:

“كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لاَ يُصَلِّى عَلَى رَجُلٍ مَاتَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ فَأُتِىَ بِمَيِّتٍ فَقَالَ: «أَعَلَيْهِ دَيْنٌ». قَالُوا: نَعَمْ دِينَارَانِ. قَالَ: «صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ». فَقَالَ أَبُو قَتَادَةَ الأَنْصَارِىُّ: هُمَا عَلَىَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَصَلَّى عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم”.

“Dahulu Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam tidak mensholatkan seseorang meninggal yang dia memiliki hutang. Didatangkan kepada beliau dengan seorang jenazah, maka beliau berkata: “Apakah dia memiliki hutang?”, mereka menjawab: “Iya, dia memiliki hutang dua dinar”, maka beliau berkata: “Sholatlah kalian untuk saudara kalian!”. Maka Abu Qotadah Al-Anshoriy berkata: “Dua dinar itu aku yang akan bayar wahai Rosululloh, maka Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallammensholatkannya”.

Pada hadits ini terdapat dua permasalahan:

Pertama: Hutang teranggap suatu beban berat bagi seseorang, baik ketika hidupnya atau setelah matinya, maka hendaknya seseorang berhati-hati dalam masalah ini, dan tidak bermudah-mudahan dalam masalah hutang melainkan kalau memang darurot dan mengharuskannya untuk hutang.

Kedua: Keutamaan bagi yang membayarkan hutang saudaranya, hal ini sebagaimana Rosululloh Shollallohu’Alaihi wa Sallam dahulu memberikan jaminan bagi yang hutang, Jabir Rodhiyallohu ‘anhu berkata:

“فَلَمَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «أَنَا أَوْلَى بِكُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ نَفْسِهِ فَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا فَعَلَىَّ قَضَاؤُهُ وَمَنْ تَرَكَ مَالاً فَلِوَرَثَتِهِ».

“Tatkala Alloh telah membukakan (pintu kemenangan) kepada RosulullohShollallohu ‘Alaihi wa Sallam maka beliau berkata: “Saya lebih utama terhadap setiap mu’min dari dirinya, maka barang siapa meninggalkan hutang maka aku yang akan membayarnya, dan barang siapa meninggalkan harta maka harta itu untuk para pewarisnya”.

Maka suatu keberuntungan bagi siapa yang meringankan beban saudaranya dengan membayar hutangnya.

Dan juga suatu kebanggaan dan kesejahteraan bagi yang memiliki harta banyak yang dia suka menghutangkan hartanya kepada orang lain, kita katakan demikian karena orang yang menghutangkan hartanya kepada orang lain otomatis dia telah menabung suatu tabungan yang akan menghasilkan dua bunga sekaligus; di dunia dia akan mendapatkan ganti ketika orang yang hutang membayar hutangnnya dan di akhirat dia mendapatkan pahala karena telah membantu saudaranya.

Kami menjelaskan seperti ini jangan kemudian disalah fahami atau dimanfaatkan yaitu dengan bermudah-mudahan dalam berhutang, karena sebagian orang tidak mau berusaha ya’ni tidak mau bekerja namun senang hutang ke sana kemari dengan niat tidak dibayar, ini adalah perbuatan batil.

Dijawab oleh: Abu Ahmad Al-limbory ‘Afallohu ‘anhu.

https://ashhabulhadits.wordpress.com/2014/05/06/hukum-menagih-hutang/

KESALAHAN DALAM BERWUDHU

Ditulis Oleh:  Mushlih bin Syahid Abu Sholeh Al-Madiuniy  saddadahulloh-.

Dammaj Harosahalloh

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين، وبه نستعين، والصلاة والسلام على سيد المرسلين، وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أما بعد:

Alloh –subhanahu wa ta’ala– berfirman dalam surat Al-Maidah yang dikenal oleh para ulama sebagai ‘ayat wudhu’:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan sholat, maka basuhlah muka dan tangan kalian sampai dengan siku. Usaplah kepala dan basuh kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. Al-Maidah: 6)

Ayat tersebut diawali dengan seruan Alloh -ta’ala- kepada orang-orang mukmin. Hal ini menunjukkan akan pentingnya perkara wudhu ini, karena dengan seruan tersebut mengharuskan adanya perhatian dari yang diseru. Kemudian seruan tersebut diarahkan kepada orang-orang yang beriman, sehingga menunjukkan bahwa pelaksanaan hukum wudhu dalam ayat tersebut secara baik dan tepat merupakan konsekuensi iman. Sebaliknya, jika dilakukan secara serampangan, maka dapat mengurangi kualitas keimanan seorang mukmin. (lihat Tadwinul Faidah, oleh Syaikhuna Yahya –hafidzohulloh-, hal. 22)

Di samping itu, wudhu termasuk syarat sahnya sholat seseorang, Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

لَا تُقْبَلُ صَلَاةُ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Tidak diterima sholat salah seorang dari kalian jika berhadats, sampai ia berwudhu.” (HR. Bukhori dan Muslim dari Abu Huroiroh –rodhiyallohu ‘anhu-)

Banyak hadits-hadits Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam– yang shohih menjelaskan perincian ayat tersebut, yaitu tata-cara berwudhu sesuai As-Sunnah yang jikalau umat Islam mengamalkan petunjuk Nabi mereka -baik dalam peribadatan maupun mu’amalah-, maka akan mendapatkan keutamaan yang banyak dan barokah serta kesejahteraan hidup, baik di dunia maupun di akherat kelak. Ini semua merupakan bentuk kasih sayang dan rahmat beliau-‘alaihis-sholatu was-salam- terhadap umat akhir zaman ini.

Demikian pula para sahabat beliau –rodhiyallohu ‘anhum-, telah bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam menyampaikan sunnah Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam– kepada generasi setelah mereka para salafush-sholeh dan seterusnya, sehingga ajaran Islam yang murni ini -termasuk tata cara bersuci- sampailah kepada kita dengan sempurna dan terang-benderang -malamnya bagaikan siang-. Tidaklah seseorang itu berpaling dan enggan untuk menerimanya, melainkan ia akan hidup sengsara dan binasa.

Inilah sahabat Ali bin Abi Tholib –rodhiyallohu ‘anhu– ketika berwudhu mengatakan kepada siapa yang waktu itu berada di sekitarnya: “Siapa yang ingin mengetahui wudhu Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam-, maka inilah dia.” (Riwayat Abu Dawud)

Demikian juga ‘Utsman bin ‘Affan –rodhiyallohu ‘anhu-, ketika berwudhu dengan membasuh anggota wudhunya sebanyak tiga kali, berkata kepada siapa yang ada di sekitarnya: “Aku telah melihat Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- berwudhu seperti wudhuku ini.”(Riwayat Bukhori dan Muslim)

Para salaf pun demikian bersemangat untuk menanyakan bagaimana tata cara wudhu Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam– dan bersungguh-sungguh dalam mempelajari dan mengajarkannya, sampai-sampai di antara mereka ada yang dikenal sebagai ‘Ibnu Syaikh Wudhu’ (anak syaikh wudhu); yaitu Ahmad bin Muhammad bin Ibrohim Ash-Shofadiy (wafat 799H). Hal itu karena ayahnya dahulu suka mengajari orang-orang awam tata-cara berwudhu, sehingga dijuluki sebagai ‘Syaikh Wudhu’. (lihat Syudzurot Adz-Dzahab: 6/357)

PENTINGNYA KESEMPURNAAN DALAM BERWUDHU

Wudhu yang sempurna adalah wudhu yang sesuai dengan sunnah Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam-, dengan memenuhi kewajiban-kewajiban, sunnah-sunnahnya serta menghindari kesalahan-kesalahan yang terjadi. Dengan demikian, seorang muslim yang membaguskan wudhunya akan mendapatkan manfaat dan keutamaan yang besar dari amalan tersebut, diantaranya adalah sebagai berikut:

Kesempurnaan wudhu separoh dari keimanan

Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ شَطْرُ الْإِيمَانِ

“Kesempurnaan wudhu adalah separoh dari keimanan.” (HR. An-Nasa’iy dan Ibnu Majah dari Abu Malik Al-Asy’ariy –rodhiyallohu ‘anhu-, dishohihkan oleh Syaikhuna Yahya –hafidzohulloh– dalam Tadwinul Faidah, hal. 18)

Diantara makna hadits ini adalah bahwasanya yang dimaksud iman di sini adalah sholat, sebagaimana dalam firman Alloh –subhanahu wa ta’ala-:

وَمَا كَانَ الله لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ

“Alloh tidak akan menyia-nyiakan iman kalian (yaitu sholat kalian ketika masih berkiblat ke Baitul Maqdis).” (QS. Al-Baqoroh: 143)

Sedangkan wudhu adalah syarat sahnya sholat, maka seolah-olah ia adalah separoh sholat. Tidak melazimkan bahwa yang dimaksudkan dengan separoh di sini adalah secara hakiki. (lihat Syarh Shohih Muslim, no. 223; karya Imam An-Nawawiy –rohimahulloh-)

Wudhu yang baik penyebab datangnya ampunan

Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

لَا يَتَوَضَّأُ رَجُلٌ مُسْلِمٌ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ فَيُصَلِّي صَلَاةً إِلَّا غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الصَّلَاةِ الَّتِي تَلِيهَا

“Tidaklah seorang muslim membaguskan wudhunya kemudian melakukan sholat, kecuali Alloh akan memberikan ampunan untuknya di antara sholat yang satu dengan sholat berikutnya.” (HR. Muslim dari ‘Utsman bin ‘Affan –rodhiyallohu ‘anhu)

Yang dimaksud dengan membaguskan wudhu di sini adalah melakukan sifat (tata cara) dan adab wudhu secara sempurna. Dalam hadits ini pula mengandung anjuran untuk mempelajari syarat-syarat, tata cara, adab-adab berwudhu dan beramal dengannya secara hati-hati serta bersungguh-sungguh untuk berwudhu secara sempurna. (lihat Syarh Shohih Muslim, no. 333)

Wudhu yang sempurna sebab dihapuskannya dosa-dosa

Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

مَنْ أَتَمَّ الْوُضُوءَ كَمَا أَمَرَهُ اللهُ تَعَالَى، فَالصَّلَوَاتُ الْمَكْتُوبَاتُ كَفَّارَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ

“Siapa yang menyempurnakan wudhunya sebagaimana yang diperintahkan oleh Alloh ta’ala, maka sholat lima waktu itu sebagai penghapus dosa di antara sholat-sholat tersebut.” (HR. Muslim dari ‘Utsman bin ‘Affan –rodhiyallohu ‘anhu-)

Hadits ini berlaku bagi seseorang yang mencukupkan diri dengan melakukan kewajiban-kewajiban dalam berwudhu, tanpa melakukan perkara-perkara sunnah mustahabbah dalam berwudhu. Jika seseorang menyempurnakan wudhunya dengan melakukan perkara-perkarasunnah, maka akan lebih banyak pula dosa-dosa yang dihapuskan. (lihat Syarh Shohih Muslim, no. 231)

Sebab dibukakannya pintu-pintu masuk jannah

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ – أَوْ فَيُسْبِغُ – الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاء

“Tidaklah salah seorang dari kalian berwudhu dan membaguskan wudhunya, lalu mengucapkan: “Asyhadu all-laa ilaaha illalloh, wa anna Muhammadan ‘abdullohi wa rosuuluh,” melainkan akan dibukakan untuknya delapan pintu-pintu jannah, silahkan ia memasukinya dari pintu manapun yang dikehendaki.” (HR. Muslim dari Umar bin Al-Khotthob –rodhiyallohu ‘anhu-)

SIFAT (TATA-CARA) WUDHU NABI

Banyak diantara para salaf menjelaskan tata-cara berwudhu dengan cara praktek langsung di hadapan orang-orang. Hal ini telah dimaklumi bersama, bahwa hal itu lebih mudah untuk diingat dan dipahami daripada hanya sekedar teori.

Diantara riwayat yang lengkap dalam menggambarkan sifat wudhu Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam– adalah dari ‘Utsman bin ‘Affan –rodhiyallohu ‘anhu– dalam Shohih Bukhori dan Muslim:

دَعَا بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْمِرْفَقِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ. ثُمَّ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا. ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه. قَالَ ابْنُ شِهَابٍ: وَكَانَ عُلَمَاؤُنَا يَقُولُونَ: هَذَا الْوُضُوءُ أَسْبَغُ مَا يَتَوَضَّأُ بِهِ أَحَدٌ لِلصَّلَاةِ.

“Beliau meminta air wudhu, lalu memulai berwudhu dengan mencuci kedua telapak tangan sebanyak tiga kali. Kemudian berkumur-kumur disertai dengan memasukkan air ke dalam hidung dan mengeluarkannya. Kemudian mencuci wajah sebanyak tiga kali. Lalu mencuci tangan kanan sampai siku sebanyak tiga kali, demikian juga tangan kirinya. Kemudian mengusap kepala. Lalu mencuci kaki kanannya sampai mata kaki sebanyak tiga kali, demikian juga kaki kirinya. Lalu beliau berkata: “Aku telah melihat Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- berwudhu seperti wudhuku ini.” Kemudian menyampaikan sabda Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam-: “Siapa yang berwudhu seperti wudhuku ini, lalu mendirikan sholat dua rokaat dengan khusyu’, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Ibnu Syihab Az-Zuhriy –rohimahulloh– berkata: “Ulama kami dahulu mengatakan: “Ini adalah cara wudhu terbaik yang dilakukan seseorang untuk mendirikan sholat.”

Banyak riwayat-riwayat lainnya secara rinci melengkapi hadits ini dalam tata-cara wudhu, sehingga dapat disimpulkan secara singkat bahwa sifat wudhu Nabi secara urut dan sempurna adalah sebagai berikut:

  • Pertama, berniat wudhu dalam hati; lalu mencuci kedua telapak tangan (tiga kali);
  • Kemudian berkumur disertai dengan memasukkan air ke dalam hidung (istinsyaq) dan mengeluarkannya (istintsar) sebanyak tiga kali;
  • Lalu mencuci atau membasuh seluruh permukaan wajah (tiga kali); disertai dengan menyela-nyela jenggot (jika berjenggot lebat sampai menutup kulit di bawahnya);
  • Lalu mencuci kedua tangan: dari ujung jari sampai siku (tiga kali);
  • Kemudian mengusap kepala sebanyak satu kali, dimulai dari arah depan tempat tumbuhnya rambut kepala sampai ke belakang, lalu mengembalikannya kembali ke depan disertai dengan mengusap kedua telinga, dengan memasukkan ujung jari telunjuk ke dalam lobang telinga dan mengusap bagian dalam telinga dangan jari telunjuk dan bagian luar dengan ibu jari; atau mengusap ‘imamah jika sedang mengenakannya (sebagai ganti mengusap kepala);
  • Kemudian mencuci kedua kaki sampai mata kaki (tiga kali); atau mengusap bagian atas kedua khuf (sepatu tinggi yang menutupi mata kaki atau kaos kaki) jika sedang mengenakannya;
  • Kemudian yang terakhir membaca dzikir setelah wudhu sebagaimana telah tersebut dalam hadits Umar –rodhiyallohu ‘anhu– di atas (asy-syahadatain).
  • Semuanya dilakukan secara tertib dan terus-menerus tanpa ada jeda dalam waktu yang lama tanpa adanya udzur syar’iy.

Adapun perincian sifat wudhu Nabi selengkapnya, baik kewajiban-kewajiban atau sunnah-sunnahnya yang disertai dengan dalil-dalilnya, maka tidaklah disebutkan di sini, tetapi memerlukan risalah tersendiri. Semoga Alloh –subhanahu wa ta’ala– memudahkannya di waktu mendatang.

KESALAHAN-KESALAHAN DALAM BERWUDHU

Hal ini merupakan inti pembahasan risalah ini yang bertujuan agar kaum muslimin  menghindarkan diri dari hal-hal yang dapat mengurangi kesempurnaan wudhunya, bahkan diantara kesalahan-kesalahan tersebut ada yang merusak sahnya wudhu seseorang.

Batasan kesalahan dalam berwudhu

Yang dimaksudkan dengan melakukan kesalahan dalam berwudhu adalah jika seseorang:

  • Meninggalkan kewajiban-kewajiban wudhu, seperti niat, membasuh wajah, tangan, kaki, mengusap kepala dan sebagainya.
  • Melakukan hal-hal yang tidak ada dalilnya sama sekali.
  • Melakukan atau meninggalkan sesuatu sebagai bentuk penyelisihan terhadap dalil-dalil yang jelas dan shohih serta mengikuti pendapat yang sangat lemah.

Beberapa kesalahan dalam berwudhu

1. Melafadzkan niat.

Niat adalah syarat sahnya suatu amalan, termasuk wudhu ini. Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Hanyalah amalan-amalan itu dengan niat-niat dan setiap orang mendapatkan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhoriy dan Muslim dari Umar –rodhiyallohu ‘anhu-)

Niat adalah amalan hati, yaitu kehendak hati untuk melakukan sesuatu dan bukan amalan lisan. Melafadzkan niat dalam berwudhu dan ibadah lainnya tidaklah disyariatkan, karena hal itu tidak pernah dilakukan dan dituntunkan oleh Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam-, juga tidak seorang pun dari para khulafaur-rosyidin, para sahabat, salafush-sholeh dan para ulama muslimin melakukannya. Itu hanyalah perkara yang diada-adakan oleh orang-orang belakangan yang tidak merasa cukup dengan apa yang telah dituntunkan oleh syariat yang telah sempurna ini.

Alloh –subhanahu wa ta’ala– maha mengetahui niat-niat yang ada dalam hati-hati manusia, sehingga tidak ada perlunya lagi bersusah payah untuk melafadzkannya. Apakah masuk akal, jika seseorang hendak makan -misalnya-, lalu ia mengatakan: “Aku berniat makan ini dan itu untuk menghilangkan rasa lapar…” Maka demikian pula dalam berwudhu ataupun amalan lainnya, tidaklah perlu dia berkata: “Aku berniat untuk berwudhu untuk menghilangkan hadats…” Tidaklah hal itu dilakukan, kecuali oleh orang yang jahil dan kurang akalnya. Maka hal itu tertolak, baik secara tabiat maupun syariat.

Syaikhul Islam –rohimahulloh– mengatakan bahwa hal itu merupakan kebid’ahan menurut kesepakatan ulama. Siapa yang melakukannya dengan berkeyakinan bahwa hal itu disyariatkan, maka ia adalah seorang jahil dan sesat serta pantas mendapatkan hukuman. (lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam -rohimahulloh-: 22/218 & 236)

Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang melakukan suatu amalan bukan dari tuntunan kami (kebid’ahan), maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim dari ‘Aisyah –rodhiyallohu ‘anha-)

2. Mencuci kedua mata bagian dalam.

Perbuatan ini tidak disunnahkan, baik dalam berwudhu maupun mandi wajib, karena Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam– tidak pernah melakukannya dan tidak pula menuntunkannya, bahkan dapat mengganggu kesehatan mata. Adapun pendapat sebagian orang akan disunnahkannya perbuatan tersebut, sama sekali tidaklah didukung dengan dalil.

3. Berlebihan dalam penggunaan air wudhu.

Dahulu Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam– menggunakan sedikit air wudhu. Seringnya beliau berwudhu dengan satu mud air (kurang lebih sebanyak dua telapak tangan orang dewasa), sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik –rodhiyallohu ‘anhu– riwayat Bukhori dan Muslim. Bahkan beliau pernah berwudhu hanya dengan dua pertiga mud, sebagaimana dalam hadits Ummu ‘Umaroh –rodhiyallohu ‘anha– riwayat Abu Dawud dan An-Nasa’iy (dishohihkan oleh Imam Al-Wadi’iy –rohimahulloh– dalam Ash-Shohihul Musnad: 2/544)

Tidak apa-apa jika seseorang berwudhu dengan menggunakan air lebih dari satu mud jika dibutuhkan, selama tidak berlebihan. Hal ini karena tidak ada dalil tentang batasan air terbanyak yang boleh digunakan. Berwudhu secara sempurna dengan menggunakan sedikit air menunjukkan tingkatan fiqih seseorang dan ini termasuk madzhab Ahlussunah wal jama’ah, berbeda dengan kelompok ‘Ibadhiyah dan Khowarij yang suka berlebihan dalam menggunakan air wudhu. Kelompok ini muncul pada zaman tabi’in dan banyak atsar-atsar salaf diriwayatkan sebagai bentuk pengingkaran terhadap perbuatan mereka. (lihat At-Tamhid: 8/105, karya Imam Ibnu ‘Abdil Barr –rohimahulloh-)

4. Mencuci atau membasuh anggota wudhu lebih dari tiga kali.

Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam– berwudhu secara sempurna dengan membasuh anggota wudhu sebanyak tiga kali dan menganjurkan umatnya untuk melakukan yang demikian, sebagaimana dalam hadits ‘Utsman bin ‘Affan –rodhiyallohu ‘anhu– riwayat Bukhoriy dan Muslim tersebut di atas.

Beliau juga pernah berwudhu dua kali-dua kali sebagaimana dalam hadits ‘Abdulloh bin Zaid  –rodhiyallohu ‘anhu– riwayat Bukhoriy dan satu kali-satu kali sebagaimana dalam hadits Ibnu ‘Abbas –rodhiyallohu ‘anhuma– riwayat Bukhoriy. Terkadang beliau mencuci atau membasuh sebagian anggota wudhu tiga kali dan sebagian yang lain dua kali salam sekali berwudhu, sebagaimana dalam hadits ‘Abdulloh bin Zaid –rodhiyallohu ‘anhu– juga riwayat Bukhoriy dan Muslim.

Semuanya boleh dilakukan meskipun yang afdhol adalah cara pertama. Akan tetapi beliau –shollallohu ‘alaihi wa sallam– melarang umatnya untuk sengaja membasuh lebih dari tiga kali dengan sabda beliau setelah berwudhu:

هَكَذَا الْوُضُوءُ، فَمَنْ زَادَ عَلَى هَذَا فَقَدْ أَسَاءَ وَتَعَدَّى وَظَلَمَ

“Demikianlah wudhu itu, siapa yang menambah dari ini (lebih dari tiga kali basuhan), maka dia telah melakukan kejelekan, melanggar dan berbuat dzolim.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’iy dari ‘Abdulloh bin ‘Amr –rodhiyallohu ‘anhuma, dihasankan oleh Syaikhuna Ibnu Hizam dalam Fathul ‘Allam: 1/148)

5. Mengusap kepala lebih dari sekali.

As-Sunnah yang shohih menunjukkan secara jelas bahwa kepala hanyalah diusap sekali saja, sebagaimana dalam hadits ‘Utsman, ‘Abdulloh bin Zaid dalam Ash-Shohihain dan juga hadits ‘Ali bin Abi Tholib –rodhiyallohu ‘anhum– dalam Sunan Abu Dawud dengan sanad yangshohih bahwasanya Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam– mengusap kepalanya sebanyak satu kali dan ini adalah pendapat jumhur ulama. (lihat Fathul ‘Allam: 1/151)

Adapun yang berpendapat bahwa kepala juga diusap sebanyak tiga kali sebagaimana anggota wudhu lainnya, berdalil dengan keumuman hadits bahwa Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam– berwudhu tiga kali sebagaimana tersebut di atas. Akan tetapi hadits ini bersifat global, telah diperjelas oleh hadits-hadits lainnya secara terperinci yang hendaknya seseorang itu beramal dengannya sebagaimana yang telah ditetapkan dalam ilmu ushul fiqih.

Mereka juga berdalil dengan riwayat-riwayat yang secara jelas menunjukkan bahwa beliau –shollallohu ‘alaihi wa sallam– mengusap kepala sebanyak tiga kali, tetapi riwayat-riwayat tersebut sangat lemah tidak bisa dijadikan sebagai hujjah.

6. Mengusap tengkuk.

Tidak ada dalil yang shohih dari Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam– bahwasanya beliau mengusap tengkuknya ketika berwudhu. Sebaliknya, riwayat-riwayat yang shohihah tentang sifat wudhu tidak menyebutkan sama sekali bahwa beliau melakukan hal itu. Dengan demikian, mengusap tengkuk ketika berwudhu termasuk perbuatan kebid’ahan yang tertolak dalam agama ini. (lihat Fathul ‘Allam: 1/145) Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa mengada-adakan suatu perkara dalam urusan kami (agama ini) yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (HR. Bukhori dan Muslim dari ‘Aisyah –rodhiyallohu ‘anha-)

7. Mencukupkan diri dengan mengusap telinga tanpa kepala.

Tidak sah wudhu seseorang yang hanya mencukupkan diri dengan mengusap dua telinga dan meninggalkan untuk mengusap kepala menurut kesepakatan (ijma’) para ulama. (lihat Al-Muhalla, no. 199; karya Ibnu Hazm dan Syarhul Muhadzab: 1/415, karya Imam An-Nawawiy –rohimahumalloh-)

8. Sekedar mengusap kedua kaki tanpa mencucinya.

Telah mutawatir dari Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam– bahwasanya beliau dalam berwudhu membasuh atau mencuci kedua kaki sampai mata kaki jika tidak sedang mengenakan khuf. Tidak ada satu riwayat pun yang shohih, bahwa beliau sekedar mengusap keduanya saja. Bahkan beliau –shollallohu ‘alaihi wa sallam– mengingkari seseorang yang sekedar mengusap kedua kaki tanpa membasuhnya dengan berseru:

وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ

“Neraka Wail (kecelakaan dengan sengatan api neraka) bagi tumit-tumit (yang tidak terbasuh air wudhu)!” (HR. Bukhori dan Muslim dari ‘Abdulloh bin ‘Amr –rodhiyallohu ‘anhuma-)

Oleh karena itu, membasuh kedua kaki dalam berwudhu merupakan sunnah Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam– yang wajib dilakukan dan merupakan madzhab Ahlussunnah. Para sahabat Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam– telah bersepakat tentang hal ini. Tidak shohih dari seorang sahabat pun yang menyelisihi hal ini, kecuali apa yang diriwayatkan dari ‘Ali, Ibnu ‘Abbas dan Anas –rodhiyallohu ‘anhum-. Akan tetapi telah shohih riwayat-riwayat tentang rujuknya mereka semua kepada al-haq.  (lihat Fathul Bariy: 1/348, karya Ibnu Hajar –rohimahulloh-)

Adapun kelompok Rofidhoh, mereka mengatakan bahwa kedua kaki hanya diusap saja tanpa dibasuh atau dicuci. Maka mereka telah menyelisihi dalil-dalil As-Sunnah mutawatir tentang membasuh kedua kaki. Syaikhul Islam -rohimahulloh– mengatakan: “Siapa yang hanya mengusap kedua kaki, maka dia adalah seorang mubtadi’ (pelaku bid’ah) menyelisihi As-Sunnah yang mutawatir dan juga Al-Quran.” (lihat Majmu’ Fatawa: 21/134)

9. Meninggalkan sebagian anggota wudhu tidak terkena air.

Merupakan suatu kewajiban dalam berwudhu adalah mengenakan air pada seluruh anggota wudhu. Hal ini merupakan syarat sahnya wudhu. Tidak sah wudhu seseorang kecuali melakukan hal tersebut. Terkadang seseorang tergesa-gesa dalam berwudhu, sehingga sebagian anggota wudhunya tidak terkena air, seperti pada ujung siku, mata kaki, sela-sela jari, baik tangan maupun kaki. Maka ini merupakan suatu kesalahan yang harus dihindarkan agar wudhunya sah.

Sebagian orang ketika mencuci kedua tangan, hanya mencukupkan diri dengan mencucinya mulai dari pergelangan tangan sampai siku saja dan meninggalkan kedua telapak tangan dengan alasan, bahwa kedua telapak tangan tersebut telah dicuci pertama kali ketika memulai wudhu. Ini tidaklah benar, karena mencuci kedua telapak tangan ketika itu hukumnya sunnah mustahabbah, sedangkan mencuci kedua tangan setelah wajah -mulai dari ujung jari tangan sampai siku- adalah wajib, tidak sah wudhu seseorang tanpanya. Jadi dibedakan antara yang pertama dengan kedua.

Demikian juga, seseorang yang terkena sesuatu yang dapat menghalangi air untuk membasahi anggota wudhunya, seperti jika terkena cat atau bahan-bahan lainnya. Sehingga ada sebagian anggota wudhu yang tidak terkena air, maka tidak sah wudhunya. Maka hendaknya seseorang berhati-hati dalam hal ini dengan memeriksa bagian tersebut dan menghilangkannya ketika berwudhu.

Perlu diperhatikan pula jika jari-jari kakinya rapat, sehingga kemungkinan besar air tidak masuk ke sela-sela jari kaki, kecuali dengan menyela-nyelanya. Maka, wajiblah baginya untuk menyela-nyela jari kaki atau tangannya agar sempurna wudhunya. Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

أَسْبِغِ الوُضُوءَ، وَخَلِّلْ بَيْنَ الأَصَابِعِ

“Sempurnakanlah wudhu dan sela-selahilah antara jari-jari kalian.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidziy, An-Nasaiy, Ibnu Majah, dan selain mereka, dishohihkan oleh Syaikhuna Ibnu Hizam –hafidzohulloh-, lihat Fathul ‘Allam: 1/160)

Para ulama menyatakan bahwa siapa yang meninggalkan apa yang wajib dibasuh atau dicuci dalam berwudhu, meskipun hanya selebar rambut, baik sengaja maupun tidak, maka tidak sah sholatnya dengan wudhu tersebut sampai ia menyempurnakannya. Hal itu karena ia belumlah teranggap mendirikan sholat dengan thoharoh (bersuci) yang diperintahkan. Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam– bersabda (maknanya): “Siapa yang melakukan amalan bukan dari tuntunan kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim)

Ini adalah perkara yang telah disepakati oleh para ulama. (lihat Al-Muhalla, no. 205; karya Ibnu Hazm dan Syarh Shohih Muslim: 3/132)

10. Mengangkat tangan dan menghadap kiblat setelah berwudhu.

Ini banyak dilakukan oleh awam kaum muslimin, tidak ada dalilnya yang shohih dari Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam– dan tidak pula dilakukan para sahabat serta para salafush-sholeh sepeninggal beliau. Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam– bersabda (maknanya):“Siapa yang mengada-adakan pada urusan agama ini perkara yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (Muttafaqun ‘alaih)

Mengangkat tangan dan menghadap kiblat adalah termasuk perkara ibadah yang dibangun di atas dalil, karena asal dari suatu peribadahan adalah terlarang (haram), kecuali ada dalilnya yang shohih.

11. Mengucapkan doa-doa yang tak ada dalilnya.

Adapun mengucapkan do’a khusus pada setiap kali membasuh anggota wudhu; ketika membasuh wajah, tangan, kaki dan sebagainya, maka hal ini sama sekali tidak shohih dari Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam-. Tidak diperkenankan bagi seorang muslim untuk melakukannya. Orang-orang awam biasanya mengatakan ketika berkumur dalam wudhunya:

اللَّهمَّ اسقِنِي من حوض نبيِّك كأساً لا أظمأ بعده أبداً،

“Ya Alloh, berikanlah segelas air dari telaga Nabi-Mu, sehingga aku tidak haus selamanya,”

ketika ber-istinsyaq membaca:

اللَّهمَّ لا تحرمنِي رائحةَ نعيمك وجنّاتك،

“Ya Alloh, janganlah Engkau haramkan atasku aroma kenikmatan dan syurga-Mu,”

ketika mencuci wajah mengatakan:

اللَّهمَّ بيِّض وجهي يوم تبيَّض وجوه وتسودُّ وجوه،

“Ya Alloh, putihkanlah wajahku pada hari diputihkan dan dihitamkannya wajah-wajah,”

ketika mencuci kedua tangan dengan mengatakan:

اللَّهمَّ أعطنِي كتابي بيميني، اللَّهمَّ لا تُعطنِي كتابي بشمالي،

“Ya Alloh, berikanlah catatan amalku dari arah kananku. Ya Alloh, janganlah Engkau berikan catatanku dari arah kiriku,”

ketika mengusap kepala mengatakan:

اللَّهمَّ حرِّم شعري وبَشَرِي على النار،

“Ya Alloh, hindarkanlah rambut dan kulitku dari api neraka,”

ketika mengusap kedua telinga membaca:

اللَّهمَّ اجعلنِي من الذين يستمعون القولَ فيتَّبعون أحسنه،

“Ya Alloh, jadikanlah aku sebagai orang yang mendengarkan perkataan dan mengikuti yang terbaik,”

ketika mencuci kedua kaki mengatakan:

اللَّهمَّ ثبّت قدمي على الصراط،

“Ya Alloh, tegarkanlah kaki di atas shiroth.”

Maka semuanya itu termasuk perkara yang tidak ada dalilnya sama sekali dari Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam-, tidak pula dari shohabattabi’in dan para imam kaum muslimin setelah mereka. Yang ada hanyalah hadits palsu, dusta atas nama Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam-. (lihat Al-Wabilush-Shoyyib, hal. 316; karya Ibnul Qoyyim –rohimahulloh-)

Oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim untuk mencukupkan diri dengan apa yang telah dituntunkan oleh As-Sunnah serta menjauhi apa-apa yang diada-adakan oleh manusia setelah itu.

Wallohu ‘a’lam bish-showab.

Ini adalah beberapa kesalahan dalam berwudhu yang dapat kami sampaikan pada kesempatan yang mubarok kali ini sebagai isyarat kepada yang semisalnya. Mungkin para pembaca -yang dimuliakan oleh Alloh- menemui bentuk-bentuk kesalahan lainnya termasuk dalam kategori kesalahan yang telah tersebut di atas, maka hendaknya kita saling nasehat-menasehati dalam kebaikan dan ketakwaan dengan cara yang baik dan bijaksana dalam rangka menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar yang merupakan salah satu pilar pokok agama ini dan kunci kejayaan umat Islam.

إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِالله عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

“Tidaklah aku bermaksud, kecuali mengadakan perbaikan selama masih sanggup melakukannya dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan pertolongan Alloh. Hanya kepada Alloh-lah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Huud: 88)

Walhamdulillahi Robbil ‘alamin.

Sumber penulisan risalahAsy-Syarhul Mumti’ ‘Ala Zaadil Mustaqni’, karya Al-‘AllamahIbnu ‘Utsaimin –rohimahulloh-; Tadwinul Fa’idah Fii Tafsir Ayatil-Wudhu’ Min Surotil-Ma’idah, karya Syaikhuna Yahya bin ‘Ali Al-Hajuriy; Shifatu Wudhu’in-Nabiy -‘alaihis-sholatu was-salam-, oleh Syaikh Abdulloh bin Ahmad Al-Iryaniy; Fathul ‘Allam Fii Dirosati Ahadits Bulughil-Marom; oleh Syaikhuna Muhammad bin ‘Ali bin Hizam Al-Ba’daniy –hafidzohumulloh-; Adzkarut-Thoharoh Was-Sholah, oleh Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr –waffaqohulloh–. http://www.ahlussunnah.web.id

https://ashhabulhadits.wordpress.com/2012/07/02/kesalahan-dalam-berwudhu/

Menjadikan Iman Kuat

Soal :

Bagaimana seseorang mampu menjadikan imannya kuat padahal ia tidak terpengaruh oleh ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacanya kecuali sedikit ? Lanjutkan membaca “Menjadikan Iman Kuat”

Keutamaan Orang Yang Mengutangkan

Dari Sulaiman bin Buroidah dari ayahnya,

من أنظر معسرًا فله بكل يوم صدقة قبل أن يحل الدين فإذا حل الدين فأنظره كان له بكل يوم مثلاه صدقة Lanjutkan membaca “Keutamaan Orang Yang Mengutangkan”