Sutroh (pembatas) Dalam Shalat

Sutroh adalah pembatas antara org yang shalat dengan kiblat sehingga tidak ada sesuatu yg lewat antara orang yg shalat dengan sutroh tersebut.

Iklan

Sutroh (pembatas) dalam sholat dan kewajibannya


Pertanyaan: Apa itu sutroh (pembatas) dalam shalat?

Jawab: Sutroh adalah pembatas antara org yang shalat dengan kiblat sehingga tidak ada sesuatu yg lewat antara orang yg shalat dengan sutroh tersebut. Sutroh (pembatas) dapat berupa tembok, tiang, punggung manusia, hewan yg menderum, tombak, atau sesuatu yang tingginya minimal setara dengan pelana unta (sekitar 25 cm) kecuali kuburan, sebab Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat (selain sholat ghoib) menghadap kuburan.

Dan hukum memakai sutroh (pembatas) adalah wajib bagi imam dan munfarid (org yg shalat sendirian baik laki2 maupun wanita), adapun bagi makmum tidak ada sutroh sebab cukup imamnya yg menghadap sutroh (pembatas).

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berdiri untuk shalat dalam keadaan beliau dekat dengan sutroh (pembatas). Jarak antara beliau dengan tembok adalah 3 dzira’ (hasta). (lihat HR.Bukhary dan Ahmad), sementara jarak antara tempat sujud beliau dengan tembok adalah seukuran lewatan kambing (lihat HR. Bukhary dan Muslim).

Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “janganlah engkau shalat kecuali (menghadap) sutrah (pembatas) dan jangan biarkan seorangpun lewat di hadapanmu, kalau dia enggan (untuk dicegah) maka perangi (halangi sekuat tenaga) dia karena ada setan yang menyertainya.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya (1/93/1) dengan sanad yang jayyid (bagus).

Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Apabila salah seorang diantara kalian shalat menghadap ke sutroh maka hendaknya ia mendekati sutrohnya dan jangan sampai ada setan yang memutus shalatnya.” (HR. Abu Dawud, Al-Bazzar (hal. 54 dalam zawaid karyanya), dan Al-Hakim, beliau menshohihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahaby dan An-Nawawi.

Terkadang Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam  memilih shalat di sisi tiang yang ada di dalam masjid beliau (dan menjadikannya sebagai sutroh).

Al-Muhaddits Syaikh Al-Albany –rahimahullaah– berkata: “sutroh (pembatas) itu wajib bagi imam dan orang yang munfarid (shalat sendirian), walaupun dalam masjid besar.”

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat di tanah yang luas, tidak ada sesuatupun yang bisa dijadikan sutroh (pembatas), (maka) beliaupun menancapkan tombak di hadapannya lalu shalat menghadap ke arahnya, sementara para sahabat bermakmum di belakang beliau (lihat HR. Bukhary-Muslim dan Ibnu Majah). Terkadang beliau menjadikan hewan tunggangannya (dari unta) dalam posisi melintang kemudian shalat menghadapnya (lihat HR. Bukhary dan Ahmad). Hal ini berbeda dengan shalat di kandang atau tempat berkumpulnya unta karena nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarangnya (lihat HR. Bukhary dan Ahmad).

Terkadang beliau menjadikan ar-rahl (pelana hewan tunggangan) lalu meluruskannya dan shalat kearah belakangnya (kayu dibelakang pelana). (HR. Muslim, Ibnu Khuzaimah (2/92), dan Ahmad.

Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “apabila seorang diantara kalian telah meletakkan sesuatu di hadapannya seukuran kayu pada belakang pelana maka hendaknya ia shalat dan tidak mempedulikan orang yang lewat dibelakang (pelana tsb).” (HR.Muslim dan Abu Dawud)

Sesekali beliau shalallaahu ‘alaihi wa sallam shalat menghadap ke pohon (HR. An-Nasa’i dan Ahmad dengan sanad shahih) dan terkadang beliau shalat ke arah ranjang dalam keadaan Aisyah rhadhialaahu ‘anha berbaring di atasnya (di bawah selimutnya). (HR. Al-Bukhary, Muslim, dan Abu Ya’la)

Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membiarkan sesuatupun lewat di hadapan beliau (ketika shalat). Suatu ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat tiba-tiba ada seekor kambing berusaha lewat dihadapannya maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun maju mendahuluinya hingga perut beliau menempel ke dinding (sehingga kambing tersebut lewat di belakang beliau. (HR. Ibnu Khuzaimah dalam shohih-nya (1/95/1), At-Thabrony (3/140/3), dan Al-Hakim, beliau menshohihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahaby). Beliau pun pernah menggenggamkan tangannya ketika shalat fardhu, maka tatkala selesai shalat para sahabat bertanya, “wahai Rasulullaah, apakah telah terjadi sesuatu didalam shalat?” beliau menjawab, “Tidak! Melainkan ada setan hendak lewat di hadapanku maka akupun mencekiknya hingga tanganku merasakan dingin lidahnya. Demi Allah! Kalau saja saudaraku, Nabi Sulaiman ‘alaihi salam, tidak mendahuluiku niscaya akan kuikat setan itu di dalah satu tiang mesjid ini hingga anak-anak penduduk Madinah mengerumuninya. Maka barangsiapa yg mampu memasang sutroh dihadapannya, maka lakukanlah.” (HR. Ahmad, Ad-Daraquthny dan At-Thabrony dengan sanad yg shohih. Hadits ini secara makna telah dikeluarkan dalam Ash-Shohihain dan selain keduanya dari sekelompok sahabat).

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Apabila salah seorang diantara kalian shalat menghadap sesuatu yang ia gunakan sebagai sutroh untuk menghalangi orang untuk lewat, kemudian ada sesorang hendak lewat di hadapannya, maka tahan dia pada lehernya  [dan tolak ia semampunya] (dalam riwayat lain: cegahlah ia sebanyak dua kali) kalau ia bersikeras maka perangilah karena dia adalah setan.” (HR. Bukhary-Muslim. Sementara riwayat lain adalah milik Khuzamah (1/94).

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “kalau seandainya orang yg lewat di depan orang yg sedang shalat mengetahui apa yg akan menimpanya (dalam dosa), niscaya ia memilih berdiri 40 (tahun) karena hal itu lebih baik baginya daripada lewat di depan orang yg shalat.” (HR. Bukhary-Muslim. Sementara riwayat lain adalah milik Khuzamah (1/94).

karena itu hukum memakai sutroh (pembatas) adalah wajib bagi imam dan munfarid (org yg shalat sendirian baik laki2 maupun wanita),  wallohu ta’ala a’lam

Sumber : Sifat Shalat Nabi, Syaikh Al-Albany  –Rahimahullaah

Penulis: Abu Ibrohim (Admin kebenaranhanya1 (thetruthonly1))

Ingatlah bahwa tiada yang berhak disembah selain Allah

13 thoughts on “Sutroh (pembatas) Dalam Shalat”

  1. Assalamu’alaikum ,
    Tulisan yang sangat penting ini menarik sekali, sebab sekarang banyak orang yang dengan seenaknya lewat di depan orang shalat. Hal ini sering terjadi terutama ketika jamaah sangat banyak, seperti pada shalat Jumat.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum

    Disukai oleh 1 orang

  2. Assalamualaikum Wr. Wb.

    Jadi kalau begitu hukum lewat di depan orang yang shalat tapi tidak ber sutroh bagaimana? Misalkan lewat tapi jauh dari tempat dia sujud,

    Karena dia tidak bersutrah, apa semua yang ada di depannya (tempat sujudnya) itu juga dilarang dilewati?

    Disukai oleh 1 orang

    1. kalo dia tidak memakai sutroh maka hendaknya kita beri dia sutroh didepannya atau kita lewat dibelakangnya, tp kalo tidk ada jalan lain maka kita lewat ditempat yang jauh dari tempat sujudnya, wallohu a’lam.

      Disukai oleh 1 orang

  3. Ana hanya ingin menghimbau kepada setiap saudaraku yg telah mengetahui ini ataupun membaca tulisan ini agar dapat menyebar luaskannya…karena masih banyak saudara2 kita yg awam dalam hal sutroh…jazakallahukhoir….

    Disukai oleh 1 orang

    1. wa ‘alaikum salam warohmatulloh,
      tinggi minimal sutroh adalah sama dengan tinggi pelana kuda maka kain sajadah bukanlah sutroh. baca kembali tulisan diatas dari awal, barokallohu fiik

      Disukai oleh 1 orang

  4. Assalamu’alaikum wa barakallahufiik . Lalu bagaimana apabila telah ada yg terlanjur lewat, apakah shalatnya batal ?

    Suka

    1. hadits Abu Dzar rodhiallohu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

      إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّي فَإِنَّهُ يَسْتُرُهُ إِذَا كَانَ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلُ آخِرَةِ الرَّحْلِ، فَإِذَا لَمْ يَكُنْ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلُ آخِرَةِ الرَّحْلِ فَإِنَّهُ يَقْطَعُ صَلَاتَهُ الْحِمَارُ وَالْمَرْأَةُ وَالْكَلْبُ الْأَسْوَدُ. قُلْتُ: يَا أَباَ ذَرٍّ، مَا بَالُ الْكَلْبِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْكَلْبِ الْأَحْمَرِ مِنَ الْكَلْبِ الْأَصْفَرِ؟ قَالَ: يَا ابْنَ أَخِي، سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ n كَمَا سَأَلْتَنِي، فَقَالَ: الْكَلْبُ الْأَسْوَدُ شَيْطَانٌ

      “Apabila salah seorang dari kalian berdiri shalat maka akan menutupinya bila di hadapannya ada semisal mu’khiratur rahl (pelana). Namun bila tidak ada di hadapannya semisal mu’khiratur rahl shalatnya akan putus bila lewat di hadapannya keledai, wanita, dan anjing hitam.” Aku berkata (Abdullah ibnush Shamit, rawi yang meriwayatkan dari Abu Dzar), “Wahai Abu Dzar, ada apa dengan anjing hitam bila dibandingkan dengan anjing merah atau anjing kuning?” Abu Dzar menjawab, “Wahai anak saudaraku, aku pernah menanyakan tentang hal itu kepada Rasulullah sebagaimana engkau menanyakannya kepadaku. Beliau berkata, ‘Anjing hitam itu setan’.” (HR. Muslim no. 1137)

      Disukai oleh 1 orang

  5. Assalamualaikum…bagai mana kalau sudah ada yang lewat apakah sholat kita batal?..dan bagai mana dgn anak kecil yang lewat?..terimakasih..

    Suka

    1. kalau telah lewat, maka tidak ada yang membatalkan kecuali tiga, anjing, keledai, dan wanita, dalilnya:
      Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

      إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّيْ فَإِنَّهُ يَسْتُرُهُ إِذَا كَانَ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلُ آخِرَةِ الرَّحْلِ فَإِذَا لَمْ يَكُنْ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلُ آخِرَةِ الرَّحْلِ فَإِنَّهُ يَقْطَعُ صَلاَتَهُ الْحِمَارُ وَالْمَرْأَةُ وَالْكَلْبُ اْلأَسْوَدُ

      “Jika salah seorang dari kalian mengerjakan shalat, maka sesungguhnya di (diharapkan) memberi sutroh(penghalang) di hadapannya seukuran punggung pelana. Jika tidak ada sesuatu yang seukuran punggung pelana, maka sesungguhnya keledai, wanita dan anjing hitam (setan) akan memutuskan shalatnya.” [HR. Muslim dalam Shahih-nya (510)].

      Disukai oleh 1 orang

    2. Al-Imam Asy-Syaukaniy-rahimahullah- berkata dalam mengomentari hadits Abu Sa’id yang telah disebut di atas,
      “Di dalam hadits itu terkandung faedah bahwa memasang penghalang hukumnya wajib.” [Lihat Nailul Authar (3/2)]

      Beliau juga berkata,

      “Kebanyakan hadits yang menerangkan perintah untuk memasang sutroh (penghalang) ketika shalat menunjukkan perintah wajib. Jika memang ada sesuatu yang bisa memalingkan perintah wajib itu menjadi perintah sunnah, maka itulah hukumnya. Akan tetapi tidak pantas dipalingkan perintah wajib tersebut oleh sabda Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- yang berbunyi, “Karena sesuatu yang lewat di depan orang yang sholat tidak membahayakannya dalam sholatnya”, karena menjauhi sesuatu yang bisa mengganggu orang yang shalat dalam sholatnya dan bisa menghilangkan sebagian pahala sholatnya adalah wajib”. [Lihat As-Sailul Jarrar (1/176)].

      Jadi, seorang yang meletakkan dan memasang penghalang di depannya saat sholat, maka sholatnya tak akan batal, dan tak akan rusak. Jika ada yang lewat, sedang orang yang sholat tersebut telah menghalanginya, maka sholatnya tak rusak, dan orang yang lewat berdosa.

      Diantara perkara yang memperkuat kewajiban meletakkan penghalang ketika shalat, meletakkan sutroh (penghalang) di hadapan orang yang shalat menjadi sebab syar’i menghindari batalnya shalat, karena ada wanita baligh yang lewat, keledai atau anjing hitam yang lewat di hadapannya sebagaimana hal itu sah dalam hadits. Selain itu, menjadi sebab penghalang bagi orang yang mau lewat di depan orang yang menunaikan sholat, dan lainnya diantara hukum-hukum yang berkaitan dengan “sutroh” (penghalang di depan orang yang sholat). [Lihat Tamam Al-Minnah (hal.300)]

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s