Mengenal Utsman Assalimy

Penjelasan Terperinci

Tentang Utsman As Salimi

Dan Bantahan Terhadap Syubuhat Si Utmi

Tentang Markiz Ibu di Fuyusy Al Hizbi

   

Ditulis Oleh Asy Syaikh Al Fadhil:

Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al Amudiy

Al Hadhromiy Al Adaniy

-semoga Alloh menjaga beliau-

 

Diterjemahkan Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo

-semoga Alloh memaafkannya-

di Yaman

 

Judul Asli:

“Al Bayan Li Sui Halis Salimiy ‘Utsman

Wa Firoqi Tilkal Umm Bi Sababi Ma Shona’athu Minal Fusuq Wal ‘Ishyan”

Judul Terjemah Bebas:

“Penjelasan Terperinci Tentang Utsman As Salimi

Dan Bantahan Terhadap Syubuhat Si Utmi

Tentang Markiz Ibu di Fuyusy Al Hizbi”

 

Ditulis Oleh Asy Syaikh Al Fadhil:

Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al Amudiy

Al Hadhromiy Al Adaniy

-semoga Alloh menjaga beliau-

 

Diterjemahkan Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo

-semoga Alloh memaafkannya-

di Yaman

 

Pengantar Penerjemah

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وآله وسلم، أما بعد:

            Sesungguhnya sebagian ikhwah yang mulia dan punya kecemburuan terhadap agamanya menyebutkan bahwasanya Utsman As Salimiy dan Abdulloh Al Mar’iy sedang berceramaah di beberapa tempat di Indonesia. Saudara kita yang mulia tersebut menanyakan pada saya tentang jarh terperinci tentang Utsman As Salimiy.

            Sebenarnya cukuplah bahwasanya Utsman As Salimiy itu menentang hujjah-hujjah ahlul haq tentang kebatilan Mar’iyyun, tanpa sanggup adu hujjah. Bahkan dirinya menjadi pembela dan pendukung para ahli ahwa tersebut.

Al Imam Ash Shon’aniy رحمه الله : “Adapun orang bersikeras di dalam kesalahannya setelah ada penjelasan, maka datang riwayat dari Ibnul Mubarok dan Ahmad Bin Hanbal dan Al Humaidiy dan yang lainnya, maka riwayatnya jatuh dan tidak ditulis, dikarenakan sikap bandelnya di atas kesalahannya tadi membatalkan kepercayaan terhadap perkataannya.  –sampai pada ucapan beliau:- Ibnu Hibban berkata: “Sesungguhnya barangsiapa telah jelas bagi dirinya kesalahannya dan tahu kesalahannya itu tapi tak mau rujuk darinya, dan malah terus-terusan demikian maka dia adalah pendusta dengan ilmu yang shohih.” At Taj At Tibriziy berkata: “Dikarenakan orang yang membangkang itu bagaikan orang yang meremehkan hadits dengan cara melariskan perkataannya dengan kebatilan. Adapun jika pembangkangannya itu karena kebodohannya maka dia lebih pantas untuk jatuh karena dia menggabungkan kepada kebodohannya tadi pengingkarannya terhadap kebenaran.” (“Taudhihul Afkar”/2/hal. 258).

            Bahkan sekalipun si Salimiy itu adalah seorang syaikh dari Ahlussunnah, tapi dia memenuhi undangan para ahli ahwa, maka telah datang nasihat yang benar dari syaikh dia, yaitu Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله untuk jangan menghadiri majelis tersebut.

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata tentang karakter Ikhwanul Muslimin: “… maka mereka berjumpa denganku dan berkata kepadaku: Janganlah Anda menyangka bahwasanya si fulan itu termasuk dari kami, kami mengambilnya hanyalah demi agar kami bisa mengumpulkan orang-orang.” (“Ghorotul Asyrithoh”/1/hal. 542/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله : “Adapun masalah ta’awun (baku tolong) dengan mereka, maka aku menasihati Ahlussunnah untuk memohon pertolongan pada Alloh dan menegakkan kewajiban mereka. kita mengajak orang kapada Alloh. Dan kenyataannya: kita itu tidak sanggup untuk saling bantu dengan sesama saudara kita Ahlussunnah di Yaman, di Sudan, di Haromain, di Najd, Mesir dan di Yordan. Maka kenapa kita pergi dan baku tolong dengan orang-orang yang menganggap Ahlussunnah itu musuh terbesar? Maka jika engkau pergi (dengan mereka) maka itu adalah dalam rangka mereka membidik para pemuda sepeninggalmu. Engkau menyampaikan ceramah, lalu mereka mengambil para pemuda sepeninggalmu.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 11/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

            Manakala sebagian ikhwah minta penjelasan yang lebih rinci tentang Utsman As Salimiy, maka dengan mengucapkan nama Alloh dan memohon pertolongan-Nya saya akan penuhi permintaan tersebut dengan menerjemah risalah Asy Syaikh Al Fadhil Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al ‘Amudiy Al Hadhromiy Al Adaniy حفظه الله , yang beliau tulis sekitar dua tahun yang lalu. Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih mengenal karakter dan penyimpangan orang tadi, dan lebih berhati-hati dalam memilih pengajar.

            Adapun untuk Abdulloh Al Mar’i, maka saya telah menjelaskan panjang lebar buruknya orang itu dalam kandungan risalah “Apel Manalagi Buat Cak Malangi: Mengingat Kembali Kebusukan Abdul Ghofur Al Malangi.”

            Semoga Alloh melimpahkan taufiq-Nya kepada kita semua.

بسم الله الرحمن الرحيم

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهدي الله فهو المهتدي، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلوات الله وسلامه عليه وعلى آله وصحبه وأتباعه وأنصاره إلى يوم الدين، أما بعد:

            Maka sesungguhnya termasuk dari apa yang Alloh karuniakan kepada dakwah yang suci, bersih dan jernih ini adalah: Alloh menjadikannya diistimewakan dari seluruh dakwah-dakwah yang lain, terpisah dari seluruh kesesatan dan hizb-hizb (partai/kelompok).

            Yang demikian itu adalah karunia dari Alloh yang Dia berikan kepada yang dikehendaki-Nya dan dikhususkan dengannya siapa yang dikehendaki-Nya, dan Alloh Maha Memiliki karunia yang besar. Alloh ta’ala berfirman:

{وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا } [الإسراء: 20]

“Dan tidaklah karunia Robbmu itu terlarang.”

Dan berfirman:

وما بكم من نعمة فمن الله. ]النحل: 53[

“Dan kenikmatan apapun yang ada pada kalian, maka itu adalah dari Alloh.”

            Dan termasuk dari akibat dari fitnah yang dahsyat ini adalah bahwasanya dia itu menjadi sebab terfitnah orang-orang yang Alloh kehendaki untuk tertimpa fitnah, dari kalangan orang-orang yang punya hati yang sakit. Yang demikian itu adalah dikarenakan fitnah itu datang dalam bentuk setan dan pergi juga dalam bentuk setan, sehingga hampir-hampir fitnah itu tidaklah melewati hati yang sakit yang terfitnah dengan syubhat atau syahwat atau tergoda oleh keduanya, kecuali hatinya itu condong kepadanya, tergila-gila kepadanya dan melamarnya, sampai akhirnya fitnah tadi menguasai akal-akal mereka dan masuk ke dalam relung hati mereka. Sampai manakala kecintaan kepada fitnah tadi telah mencengkeram di dalam hati mereka, dan meresap ke dalamnya, jadilah hati tadi di belakang fitnah tadi bagaikan orang-orang gila atau orang-orang yang tersihir.

            Dan termasuk dari kayu bakar fitnah ini dan dipatahkan oleh fitnah ini, setelah sebelumnya dia menampakkan sikap rujuk dari Baroatudz Dzimmah Firqoh Hasaniyyah Hizbiyyah (sekte penanda tangan dukungan Untuk Abul Hasan Al Mishriy) yang menggelembung seperti luka bengkak, yang telantar (tidak mendapatkan taufiq) bagaikan mimpi adalah pemuda yang bernama “Utsman kecil bin Abdulloh Al ‘Utmiy”, salah satu pelamar fitnah ini dan yang tergila-gila dengannya. Dia berkata –dan alangkah jeleknya ucapannya- dengan perkataan yang batil dan banyak salahnya yang hina dan tidak ada harganya: “Dammaj itu adalah ayah, sedangkan Fuyusy itu adalah ibu.”

            Ucapan tersebut ada di tempat kumpulan hizbiyyah yang baru tersebut, di klub Fuyusy, tempat menetap Hizb Tajammu’ Al Fuyusiy untuk pengelompokan, perusakan, pengadu dombaan, pembentukan pekerja dan konsentrasi mencari keduniaan.

            Engkau telah rugi wahai Utsman kecil, pada hari di mana engkau menjadikan kepala itu jadi ekor, dan ekor itu jadi kepala.

            Engkau telah mendatangkan kedustaan besar wahai Utsman kecil. Jika ucapan ini datang darimu, maka tidaklah diterima. Dan tidaklah menerima ucapan itu kecuali orang yang membikin bodoh dirinya sendiri. Akan tetapi sebagai bentuk mengalah padamu, aku katakana padamu: “Si ibu ini kondisinya buruk, dan kehidupannya buruk, dia lari dari kebaikan dan merasa asing darinya, pertimbangannya menjadi cacat, akal si ibu ini bertambah lemah, agamanya semakin rapuh, dia tidak lagi senang tinggal di rumahnya yang menjadi tempat kemuliaannya dan tidak lagi senang menyertai suami yang menjaga kehormatan.”

            Dan termasuk dari orang yang hina jiwanya sehingga menjadi ekor bagi para pelaris fitnah ini dan masuk dalam perkara yang tidak penting bagi dirinya, dan memancangkan dirinya sebagai pembela bagi orang-orang yang terfitnah, menjadi hizbiyyin dan zholim terhadap dakwah dan syaikh dakwah ini di tengah-tengah markiz dakwah ini adalah:

UTSMAN BIN ABDILLAH AL ‘UTMIY AS SALIMIY

yang sekarang ini tinggal di masjid As Salaf di kota Dzammar, di desa Jabal Harron.

            Orang ini dulu termasuk dari murid Al Allamah Al Wadi’iy. Dan di awal perkaranya di atas kebaikan dan ketenangan. Dia berpindah di masa hidup Asy Syaikh Muqbil رحمه الله ke desanya dan dibukakan untuknya markiz di wilayah Al Jum’ah di negri ‘Utmah. Dia tinggal di situ di suatu selang waktu, dan dengannya Alloh memberikan manfaat pada penduduk negrinya ketika itu.

Akan tetapi tempat tersebut ada di wilayah pegunungan, jalannya terjal. Dia sering tinggal di situ beberapa hari, lalu keluar untuk dakwah. Dan dia memperbanyak keluar sehingga membikin susah para murid. Dan kebanyakan dari mereka pergi ke Ma’bar karena dekat dengan mereka. Dan sebagian dari mereka pergi ke Dammaj. Manakala dia melihat markiznya mengalami kemunduran, mulailah dia melongok-longok ke tempat yang lebih baik. Dan keadaan ekonomi dia susah.

Maka sebagian orang mengisyaratkan padanya untuk pergi ke Ma’rib ke Abul Hasan agar memberikan padanya jaminan keuangan dan tunjangan bulanan. Maka pergilah dia ke sana. Dan aku termasuk yang menyertainya dalam perjalanan dia bersama akh Muhammad Al Hanasy dan akh Abdulloh bin Ghonim Al Mushonnif dan sebagian ikhwan yang lain di dalam mobil Muhammad Al Hanasy. Ketika kami sampai di Ma’rib, dia duduk dengan Abul Hasan dan akh Abdulloh bin Ghonim. Dan aku tidak tahu apa yang berlangsung di dalam majelis itu, karena majelis itu di dalam rumah Abul Hasan. Kemudian kami kembali ke Shon’a pada hari yang kedua.

Dan mereka pergi ke seseorang yang namanya Yahya yang bekerja bersama Muassasah Al Haromain, tinggal dekat dengan Masjid Ad Dakwah yang di dalamnya ada Abdul Majid Ar Roimiy, dan aku tidak tahu apa yang berlangsung di antara mereka.

Dan manakala berlangsung fitnah Abul Hasan Al Mishriy, Utsman As Salimiy termasuk penolong pertama bagi dirinya dan yang terdaftar dalam Baroatudz Dzimmah. Dan keadaan dia seperti ucapan Syaikh kami Yahya حفظه الله : “Dia tak punya bashiroh (pandangan yang tajam) tentang fitnah-fitnah, dia itu hanyalah pembebek terhadap para masyayikh.”

Dan termasuk perkara yang menguatkan perkataan Syaikh kami Yahya حفظه الله adalah bahwasanya dia pernah pada suatu ketika datang ke Ma’bar di permulaan fitnah Abul Hasan, dan ketika itu Asy Syaikh Muhammad Al Imam membela Abul hasan dan berkata tentangnya: “Abul Hasan adalah imam”, dan berkata: “Semoga Alloh memperbanyak orang-orang semisal beliau.” Maka Utsman As Salimiy membikin ceramah yang di dalamnya sindiran dan tusukan terhadap orang-orang yang mengkritik Abul Hasan dan juga penghinaan terhadap mereka, juga dorongan untuk mengikuti Abul Hasan, membelanya. Termasuk dari ucapan As Salimiy adalah: “Janganlah kalian pergi dan mengumpulkan kesalahan-kesalahan ulama, kenalilah kadar diri kalian sendiri.” Dan dia menggambarkan bahwasanya bantahan pada penyelisih kebenaran itu sebagai jalan yang baru dalam dakwah Ahlussunnah. Dia membebek Muhammad Al Imam dalam masalah itu.

Dan yang menjerumuskan dirinya ke dalam fitnah Abul Hasan adalah perkara-perkara yang Alloh yang paling mengetahuinya, dan di antaranya adalah jaminan tunjangan dari Abul Hasan.

Dan manakala para masyayikh rujuk dari sikap pembelaan mereka untuk Abul Hasan, datanglah dia ke Ma’bar dan menyampaikan ceramah yang bersifat global seputar fitnah, dan mendorong para pelajar untuk bersama Muhammad Al Imam, dan mengambil ucapannya di dalam fitnah. Maka semoga Alloh memerangi hawa nafsu, bagaimana dia menjadikan pengikutnya berbolak-balik khususnya bersama perasaan dan maslahat keduniaan.

Dan bersamaan dengan dirinya menampakkan rujuk dari fitnah Abul Hasan, dia itu tidak ridho pada Syaikh kami Yahya حفظه الله dan saudara-saudara beliau dalam thoriqoh dalam membantah Abul Hasan, bahkan dia sering menampakkan penyelisihan dan tidak ridho dengan perkataan Asy Syaikh Yahya, dan menggambarkan bahwasanya pada diri beliau itu ada kekerasan.

Bahkan saudara kita yang mulia Abdulloh bin Ghonim Al Mushonnif –yang banyak menyertai Utsman As Salimiy- ketika di Utmah, mengabariku: “Asy Syaikh Utsman tidak senang dengan Asy Syaikh Yahya sejak dulu.” Ini dikarenakan pemegangan Utsman As Salimiy terhadap thoriqoh Salaf رضوان الله عليهم rapuh.

Dan termasuk yang memperkuat ucapan tadi adalah bahwasanya setelah usai fitnah Abul Hasan, Utsman As Salimiy dan Abdulloh Al Mushonnif masuk menemui satu orang di kerajaan Saudiy, sebagaimana Al Mushonnif mengabariku dengan itu, dan si orang tadi sangat fanatik dengan Abul Hasan dan mencerca Asy Syaikh Yahya. Akh Al Mushonnif berkata: “Dadaku menjadi sesak dengan ucapan orang tadi dan aku keluar dari kamar itu, sementara As Salimiy diam saja dan menyatu dengan orang itu dalam pembicaraan mereka.”

Dia juga mengabariku bahwasanya para murid As Salimiy menjelek-jelekkan Asy Syaikh Yahya di fitnah yang terakhir ini di hadapan As Salimiy, sementara dia tidak mengingkarinya dan tidak menghardik seorangpun dari mereka.

Bahkan saudara kita Abdurrohman Al Qo’waniy yang dari Jihron, di Ma’bar di toko akh Asy Syarihiy, mengabariku bahwasanya As Salimiy berkata: “Orang yang fanatik untuk Al Hajuriy silakan keluar dari tempatku.” Tanggung jawab berita ini ada di pundak dia.

Dan pada fitnah Abdurrohman Al Adaniy jadilah Utsman As Salimiy menjadi pembalas dendam untuk dia dengan kerasnya, dan berjalan di dalam fitnah itu tanpa bashiroh, dan memasukkan dirinya ke dalam pertemuan-pertemuan para masyayikh, dan membubuhkan tanda tangan bersama para penanda tangan, menyambut orang-orang yang turun di tempat dia dari kalangan orang-orang yang terfitnah, menaungi mereka dan memberikan bantuan pada mereka. Dalam masalah itu di membebek pada Asy Syaikh Muhammad Al Imam هداه الله.

Dan termasuk maftunun yang paling keras ketersia-siannya dan kebodohannya serta kedustaannya adalah Hamud bin Mas’ad Al Khorrom Adz Dzammariy, yang terkadang menyertai Utsman As Salimiy dan menemaninya berkeliling, dan Utsman menilainya sebagai teman khususnya dan teman bermusyawarahnya, padahal orang itu adalah sangat bodoh dan pecinta dunia, meninggalkan rumah dua tingkat yang di Darul Hadits di Dammaj, dan pergi mengobarkan fitnah di Dzammar, dan dia mendapatkan tempat bernaung di markiz As Salimiy yang telantar itu. Dan burung-burung itu hinggap pada yang sejenis dengannya.

Dan As Salimiy juga menaungi orang-orang terfitnah yang lain seperti Hasan bin Nur, Nabil Al ‘Ammariy, Abbas Al Jaunah, Naji An Naqib Al Yafi’iy dan yang sejenis dengan mereka. Dan mereka itu tidaklah datang untuk mengambil ilmu dari As Salimiy, karena mereka itu telah meninggalkan ilmu dan markiz ilmu, akan tetapi Si Salimiy manakala terjatuh ke dalam fitnah dan terdukung dengan harta, maka merekapun menjadikan masjid dia sebagai tempat bernaung dan tinggalnya pemikiran mereka, dan jadilah markiz dia dan beberapa markiz yang lain dibandingkan dengan Dammaj bagaikan orang-orang Haruro berhadapan dengan para Shohabat رضي الله عنهم, dan jadilah markiznya itu tempat bernaung bagi orang-orang yang terfitnah dalam Dakwah Salafiyyah, seperti markiz Ma’bar dan lebih keras lagi.

Dan orang ini –yakni As Salimiy- bersamaan dengan seringnya dia membanggakan dirinya sebagai murid Al Imam Al Wadi’iy yang ‘afif (menjaga kehormatan dari perkara-perkara yang hina- , hanya saja dia itu menyelisihi thoriqoh Al Imam Al Wadi’iy secara khususnya dalam bab ‘iffah terhadap harta orang dan penghinaan diri di hadapan para hartawan. Dia ketika masih di Utmah mengutus saudaranya (Muhyiddin) di Romadhon ke Saudi berumroh lalu mengumpulkan uang dan bantuan-bantuan untuk markiz, dan jika dia sendiri berangkat haji atau umroh dia tinggal sementara di sana berpindah-pindah dari pedagang yang satu ke pedagang yang lain sebagaimana bersaksi tentang itu orang yang menyertainya dan mengetahui sebagian keadaannya.

Si Salimiy seandainya mendapatkan taufiq niscaya tetap tinggal di negrinya mengajar dan mendakwahi orang ke jalan Alloh, karena negrinya itu negri yang menerima dakwah Ahlussunnah Wal Jama’ah, dan penduduknya menyukai kebaikan, dan di situ ada para pelajar yang mulia. Akan tetapi si Salimiy di akhir-akhir menyukai kemewahan yang dicurahkan oleh sebagian pedagang. Ini dari satu sisi, dan dari sisi lain dia suka keterkenalan. Dan pada hakikatnya perkara inilah yang merasuki ratusan orang yang terfitnah oleh fitnah-fitnah terdahulu sehingga dakwah mereka hilang. Maka jauh sekali wahai Salimiy jika engkau tak bisa mengambil pelajaran dari kondisi mereka, karena kami melihat engkau menjadi lebih bersemangat mencari tempat yang lebih mewah, bukannya tempat yang lebih bermanfaat.

            Maka As Salimiy pernah dijanjikan untuk didirikan untuknya markiz di desa Waroqoh, salah satu desa di wilayah ‘Ans, lalu dia didahului oleh ke tempat itu oleh Sholih Al Faqir, salah satu pengikut Abul Hasan. Dan dia didatangi oleh penduduk Baidho, dan mereka berupaya agar dia mau keluar ke tempat mereka, tapi dia tidak mau. Manakala dia diundang ke Dzammar –semoga Alloh memaafkan orang yang mengundangnya- maka dia langsung berangkat dengan cepat, padahal dia tahu bahwasanya di sana sudah ada Asy Syaikh Abdurrozzaq An Nahmiy, Asy Syaikh Abdulloh bin Utsman, Asy Syaikh Sholah Al ‘Imad, Asy Syaikh Abdul Ghoni Al Umariy dan yang lainnya. Manakala dia tahu bahwasanya tempat tersebut telah siap dan didukung oleh seorang pedagang, bergegaslah dia menuju tempat itu karena suatu kebutuhan yang ada di hati si Utsman.

            Orang ini pada hakikatnya lemah, mudah dipengaruhi oleh sebagian teman duduknya. Yang mengherankan, dia itu menjadi rajin dalam fitnah-fitnah. Dan aku sampai sekarang tidak tahu dia punya suatu bantahan terhadap ahli bida’ wal ahwa, para pengikut jam’iyyat dan hizbiyyat meskipun berupa risalah kecil dalam membela kebenaran dan menolak kebatilan, dan bagaimana dia bisa berbuat itu sementara dia setiap kali datang fitnah boro-boro bisa selamat?

            Dan termasuk yang menjelaskan kelemahannya dalam mengetahui manhaj salafiy apa yang ditulisnya dalam kata pengantar kitab “Al Ibanah” karya Asy Syaikh Al Imam yang mana dia berkata: “… maka aku mendapatinya sebagai kitab yang sangat bermanfaat , bahkan di dalamnya ada faidah-faidah yang perlu didapatkan dengan pergi jauh dengan pasti. Di dalamnya beliau menyebutkan kaidah-kaidah dari para ulama dan kriteria-kriteria yang bagus yang menetapkan manhaj salaf dalam jarh wat ta’dil dan kriteria-kriteria hajer (pemboikotan)… dst.”

            Maka aku katakan: Wahai Salimiy, bertaqwalah pada Alloh dalam dirimu sendiri, bagaimana engkau menjadikan kaidah-kaidah kholafiyyah (lawan dari Salafiyyah) yang ditetapkan oleh Abul Hasan dan ahli ahwa yang lainnya sebagai kaidah-kaidah Salaf? Sungguh engkau telah menzholimi Salafush Sholih karena engkau menisbatkan pada mereka perkara yang bukan dari manhaj mereka. Perkara terbaik yang bisa dipakai untuk memberi udzur di sini adalah bahwasanya engkau tidak menampilkan dan tidak mendatangkannya maka engkau tidak berbicara dengan memikirkannya lebih dulu ataupun dengan dasar yang benar, hanyalah engkau di atas anggaran dasar Ghoziyyah (taqlid pada suatu kelompok).

            Kemudian aku berkata padamu dan kepada orang yang terpedaya dengan perkataanmu: bukankah Asy Syaikh Al Imam mengakui bahwasanya di dalam kitabnya itu ada kebenaran, dan dia mengupayakan untuk memperbaikinya? Dan ini adalah setelah dicetaknya kitab itu dan setelah kata pengantar kata pengantar tadi, yang mana pengantar tadi adalah hasil dari perasaan. Maka rujuknya Asy Syaikh Al Imam dari kesalahan-kesalahannya setelah kata pengantar tadi merupakan penjelasan tentang bodohnya kalian dan tidak mendalamnya kalian dalam ilmu dan pengenalan terhadap manhaj Salafush Sholih.

            Dan lihatlah orang yang Alloh sinari mata hatinya dan mengetahui –setelah taufiq dari Alloh untuknya- dengan kekuatan ilmiyyahnya dan pemurniannya untuk mengikuti kebenaran dan menjauhi anggaran dasar Ghoziyyah dan tidak takut di jalan Alloh celaan orang yang mencela, syaikh kami An Nashihul Amin Yahya  -semoga Alloh menjaga beliau dan meluruskan beliau-, bagaimana beliau mengingkari apa yang ada di dalam kitab “Al Ibanah” yang berupa prinsip-prinsip yang menyelisihi manhaj Salafush Sholih. Sejak awal kitab itu diletakkan di tangan beliau dan menjelaskan apa yang ada di dalamnya dengan perkataan ilmiyyah yang ringkas dalam buklet dengan judul “Mujmalut Taqwim Wash Shiyanah”. Dan seperti itu pula saudara-saudara beliau dan murid-murid beliau yang terkemuka seperti akh Sa’id Da’as dalam kitab beliau “Tanzihus Salafiyyah” dan akh Yusuf Al Jazairiy dalam kitab beliau “Mishbahuzh Zholam”.

            Maka wahai Ahlussunnah dari kalangan massyayikh dan pelajar Darul Hadits di Dammaj, alangkah pintarnya Anda semua, maka harapkanlah pahala di dalam menjaga benteng sunnah. Dan di sisi Alloh sajalah pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.

            Dan aku mengatakan ini dengan kebenaran: seandainya Alloh Yang Mahasuci tidak memberikan karunia kepada dakwah ini dengan Asy Syaikh Yahya sepeninggal Al ‘Allamah Al Wadi’iy رحمه الله bisa jadi ada dua kelompok yang mempermainkan dakwah ini, yaitu: para pendendam dan orang-orang yang dibikin lalai, mereka orang-orang yang mempermainkan dakwah. Dan juga niscaya akan tersamarkan bagi manusia kesamaran yang mereka lakukan. Maka hanya milik Alloh sajalah pujian dan karunia.

            Dan kebenaran ini lebih berhak untuk diikuti tanpa mengedepankan perasaan dan metode muwazanah (menimbang kebaikan dan kejelekan untuk melindungi pelaku penyimpangan), karena dengungan ini telah bercokol di kalangan sebagian orang. Mereka berkata: “Bagaimana kalian mengkritik si fulan, padahal dia itu mengajak ke jalan Alloh عز وجل , sholat, puasa, sholat malam, dan menangis jika membaca Al Qur’an?”

            Wahai Ahlussunnah, masalahnya adalah: kebenaran itu harus ditolong, dan kebatilan itu harus ditelantarkan.

            Kemudian perasaan-perasaan yang berhadapan dengan kebenaran ini tidak ada di kalangan Salafush Sholih عليهم رحمة الله.

            Ini dia Aban bin Abi ‘Ayyasy, Ibnu Hibban berkata tentangnya: “Aban termasuk dari kalangan ahli ibadah yang begadang di malam hari dengan sholat, dan melipat siang dengan puasa, …” Akan tetapi dia itu lemah dalam masalah hadits. Bersamaan dengan ini Syu’bah mengkritiknya, sebagaimana dalam biografi Aban di “Mizan”: “Aku lebih suka untuk meminum kencing keledai sampai hilang hausku daripada aku mengatakan: haddatsana Aban bin Abi ‘Ayyasy.”

            Dan Adz Dzahabiy juga menyebutkan atsar dari Hammad bin Zaid yang berkata: “Kami mengajak bicara Syu’bah agar menahan kritikan terhadap Aban bin Abi ‘Ayyasy, karena usia tuanya dan karena keluarganya, maka beliau menjamin untuk melakukan itu. Lalu kami berkumpul di suatu jenazah, maka Syu’bah menyeru dari kejauhan: “Wahai Abu Isma’il, saya telah rujuk dari jaminan tadi, menahan kritikan dari dirinya itu tidak halal, karena perkara ini adalah agama.”

            Dan ini Abdulloh bin Muharror, Ibnu Hibban berkata tentangnya: “Abdulloh ini adalah termasuk para hamba Alloh yang terbaik, akan tetapi dia berdusta dan tidak tahu, dia membalik berita dan tidak memahami, …”

Abdulloh Ibnul Mubarok berkata,”Andaikata aku diberi pilihan antara masuk ke dalam jannah ataukah berjumpa dengan Abdulloh bin Muharror, niscaya aku akan memilih untuk berjumpa dengannya baru kemudian aku masuk Jannah. Ketika aku melihatnya ternyata kotoran hewan lebih aku sukai daripadanya.”

Dan contoh-contoh tentang ini itu banyak. Kemudian yang mengherankan adalah orang yang menisbatkan diri pada Ahli Hadits dalam keadaan dia bodoh terhadap thoriqoh mereka, pembelaan mereka, dan jihad mereka terhadap ahlil ahwa wal bida’.

Kemudian aku mengulangi lagi: bagaimana halal bagi si Salimiy dan yang semisal dengannya untuk menisbatkan thoriqoh mereka kepada thoriqoh Asy Syaikh Muqbil رحمه الله , dan bahwasanya beliau itu demikian dan demikian?

Dan dalam pola pujian pada Asy Syaikh Muqbil رحمه الله itu mereka menyindir untuk mencerca Asy Syaikh Yahya حفظه الله dan bahwasanya beliau itu menyelisihi Asy Syaikh Muqbil رحمه الله dalam metode jarh wat ta’dil, sementara mereka sendiri tidak menempuh jalan para imam yang terdahulu ataupun juga jalan Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله setelah para imam tadi, dalam masalah nasihat, kritikan pada para tokoh, di atas cahaya dalil-dalil dan bukti-bukti.

Lihatlah sebagai contoh: “Al Mushoro’ah”, “Ghorotul Asyrithoh”, “Fadhoih Wa Nashoih”, “Iskatul Kalbil ‘Awi”, “Al Burkan”, “Riyadhul Jannah”, “Sho’qotul Zilzal”, dan kitab-kitab dan risalah-risalah yang lainnya.

Bahkan Asy Syaikh Muqbil رحمه الله berkata bahwasanya mayoritas kitab-kitab beliau adalah bantahan-bantahan.

Dan bacalah wahai kaum, apa yang dikumpulkan oleh Salim Al Khoukhiy yang terfitnah dengan hizbiyyah yang baru, bersama beberapa saudaranya dalam kitab: ”I’lamul Ajyal Bi Kalamil Imamil Wadi’iy Fil Firoq Wal Kutub War Rijal.” Dan diberi kata pengantar oleh sejumlah masyayikh: Asy Syaikh Yahya, Al Wushobiy, Al Imam, adz Dzammariy, Al Buro’iy dan Ash Shoumaliy.

Maka di manakah perbandingan antara serangan syaikh kalian Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله terhadap para penyeleweng, dan pujian kalian kepada beliau itu, dibandingkan dengan dinginnya kalian sekarang ini bersama dengan orang-orang yang membikin fitnah terhadap sunnah dan Ahlussunnah? Bandingkanlah, niscaya kalian akan tergoncang dan tahulah kalian akan sabarnya Asy Syaikh Yahya untuk menegakkan kewajiban ini. Dan semoga hal itu memberikan faidah pada kalian untuk mengetahui keutamaan pemilik keutamaan.

Asy Syaikh Adz Dzammariy berkata dalam kata pengantar beliau: “Dan seandainya kita membandingkan ucapan Asy Syaikh (Muqbil) dengan ucapan Salaf tentang orang-orang semisal mereka (para penyeleweng itu) niscaya kita dapati bahwa ucapan Salaf bisa jadi lebih keras, …”

Dan aku katakan: “Dan seandainya kita membandingkan ucapan Asy Syaikh Yahya حفظه الله dengan ucapan Asy Syaikh Muqbil رحمه الله terhadap ahli ahwa niscaya kita dapati bahwa ucapan Asy Syaikh Muqbil رحمه الله itu lebih keras.”

Maka kenapa mereka itu mengingkari apa yang dijalani oleh syaikh mereka dan baku tolong dengan setiap orang yang membikin fitnah dalam dakwah beliau, dan membikin kekacauan di markiz beliau, dan mencerca pengganti beliau, dan mereka menancapkan diri mereka sebagai pelindung dan pembela para tukang fitnah tadi? Yang wajib bagi mereka adalah menasihat orang-orang tadi untuk bertobat dan menekuni adab kepada syaikh mereka dan untuk menghormati kebenaran dan sunnah serta kebaikan yang mereka terdidik di dalamnya.

Inilah yang Alloh mudahkan bagi saya untuk menasihati si Salimiy هداه الله dan untuk orang yang semoga Alloh memberinya manfaat dengan nasihat ini.

Dan saya tidak menyebutkan secara keseluruhan dari apa yang ada pada orang tadi, karena maksudku pertama adalah nasihat, lalu yang kedua adalah penjelasan secara singkat.

{وَاللَّهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَعْنَتَكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ } [البقرة: 220]

“Dan Alloh mengetahui orang yang membikin kerusakan dari orang yang membikin perbaikan. Dan jika Alloh mengehendaki niscaya Dia bisa menyusahkan kalian. Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha penuh hikmah.”

            Dan aku tidak menyebutkan di sini kecuali sebagian dari apa yang nampak dari keadaannya. Dan hukum berdasarkan lahiriyyah itu adalah perkara yang sangat mendasar sebagaimana dalam “Shohihul Bukhoriy” dari Umar رضي الله عنه.

            Ini adalah kerja keras dari orang yang sederhana, jika aku telah berbuat baik, maka itu adalah dari Alloh Yang Maha memberi karunia. Tapi jika aku berbuat jelek, maka itu adalah dari diriku sendiri dan dari setan. Dan Alloh dan Rosul-Nya berlepas diri dari itu. Dan cukuplah Alloh sebagai penolongku, dan Dialah sebaik-baik Yang mengurusi. Dan tiada upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.

(selesai penerjemahan, pada tanggal 28 Jumadats Tsaniyah 1434 H).

Iklan

PERBEDAAN DAKWAH SALAFIYYAH DENGAN DAKWAH HIZBIYYAH

ترجمة
القواعد السلفية
لأبي أحمد محمد بن سليم اللمبوري
إلى اللغة الأندونيسية
KAEDAH-KAEDAH
DALAM MEMAHAMI PERBEDAAN DAKWAH SALAFIYYAH DENGAN DAKWAH HIZBIYYAH
Ditulis oleh:
Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limbory
Diterjemahkan oleh:
Muhammad (Syamsul ‘Alam) Al-Makassary
-semoga Allah menjaganya-

قال أبو أحمد محمد بن سليم اللمبوري: Berkata Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limbory:
بسم الله الرحمن الرحيم
Dengan nama Allah yang Ar-Rahman (Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang).

ترجمة
القواعد السلفية
لأبي أحمد محمد بن سليم اللمبوري
إلى اللغة الأندونيسية
KAEDAH-KAEDAH
DALAM MEMAHAMI PERBEDAAN DAKWAH SALAFIYYAH DENGAN DAKWAH HIZBIYYAH
Ditulis oleh:
Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limbory
Diterjemahkan oleh:
Muhammad (Syamsul ‘Alam) Al-Makassary
-semoga Allah menjaganya-

قال أبو أحمد محمد بن سليم اللمبوري: Berkata Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limbory:
بسم الله الرحمن الرحيم
Dengan nama Allah yang Ar-Rahman (Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang). Lanjutkan membaca “PERBEDAAN DAKWAH SALAFIYYAH DENGAN DAKWAH HIZBIYYAH”

AKHLAQ NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM DALAM PENGARAHAN DAN KRITIKAN

AKHLAQ NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

DALAM PENGARAHAN DAN KRITIKAN

 

Ditulis oleh:

Abul ‘Abbas Khidhr Al-Mulkiy

MUQADDIMAH

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدا, أشهد أن لا إله إلا الله إقرارا به وتوحيدا, وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله تسليما مزيدا.

أمــا بعد:

Allah ‘azza wa jalla berkata:

﴿لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا [الأحزاب/21].

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah”. (Al-Ahzab: 21).

Ayat ini merupakan arahan dan bimbingan bagi seseorang untuk senantiasa mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjadikannya sebagai teladan dalam segala aspek kehidupan, baik itu dalam bermuamalah, berumah tangga, bermasyarakat atau berbangsa dan bernegara. Dan salah satu prilaku Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang patut untuk diteladani adalah akhlaqul karimah, yang mana dengan akhlaq itu seseorang akan semakin sempurna keimanannya, sebagaimana dalam hadits hasan yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dalam “Musnadnya” (Juz: 2, hal. 527, no. 10829) dari hadits Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

﴿أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا.

“Orang-orang mu’min yang paling sempurna keimanannya adalah bagi mereka yang paling bagus akhlaqnya” Dan perlu diktehui bahwa seseorang itu dikatakan bagus akhlaqnya manakalah berakhlaq dengan Al-Qur’an, sebagaimana akhlaq teladan kita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu berakhlaq dengan Al-Qur’an, diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam “Shohihnya” (no. 1773) bahwa Aisyah ditanya tentang akhlaq Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ia berkata:

﴿فَإِنَّ خُلُقَ نَبِىِّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ الْقُرْآنَ.

“Sesungguhnya akhlaq Nabiullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Al-Qur’an”.

Maka beranjak dari sini kita akan sebutkan akhlaq Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memberi arahan yang sangat bagus, ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dihadapkan dua permasalahan yaitu dengan kedatangan dua pihak yang berbeda, para pembesar kaum musyrikin dan shahabat yang buta maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan dua permasalahan itu tampak dengan jelas akhlaq Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat bagus yaitu berakhlaq dengan Al-Qur’an dalam menghadapi dua pihak yang disebutkan tadi, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an, Allah ta’ala berkata:

﴿عَبَسَ وَتَوَلَّى (1) أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى (2) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى (3) أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى (4) أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى (5) فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى (6) وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى (7) وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى (8) وَهُوَ يَخْشَى (9) فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّى﴾ (10) [عبس/1-10].

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, Maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman), dan Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah). Maka kamu mengabaikannya“Allah ‘azza wa jalla memberikan teguran kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar lebih memperhatikan orang mu’min yang mengikutinya dibanding menfokuskan perhatian kepada musuh-musuhnya dari kalangan pembesar-pembesar musyrikin Quraisysy, ini menunjukkan betapa bagusnya akhlaq Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang benar-benar memperhatikan orang-orang yang mengikutinya, berlemah lembut dan memberikan yang terbaik kepada mereka yang mengikutinya. Adapun bagi yang mengumumkan permusuhan dan kebencian kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersikap tegas dan keras kepada mereka, sebagaimana Allah ‘azza wa jalla katakan:

﴿مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ﴾ [الفتح/29]

Muhammad adalah Rasulullah, beliau dan orang-orang yang bersamanya sangat keras kepada orang kafir dan berkasih sayang (berlemah-lembut) diantara mereka“. (Al-Fath: 29).

Dan Allah Ta’ala perintahkan rasul-Nya dan para pengikutnya untuk bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir dan orang yang bermuka dua; baik itu dari kalangan munafiqin atau orang-orang yang serupa dengan mereka, Allah Ta’ala berkata:

﴿ يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ﴾ [التوبة/73].

Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. tempat mereka ialah Jahannam. dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya“. (At-Taubah: 73).

Adapun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang bodoh (dari kalangan awam)Coba cermati! Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencegah para shahabatnya untuk melarang si Badui tadi sampai si Badui tadi selesaikan hajat (kencing)nya, dan dalam hadits yang lain kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan shahabatnya untuk menyiram bekas kencing tadi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memarahi atau mencela para shahabatnya karena mau mencegah si Badui dan tidak pula memarahi atau mencela si Badui tadi, tapi disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati si Badui tadi dengan penuh akhlaqul karimah, sebagai arahan dan bimbingan kepada para shahabatnya sekaligus si Badui tadi.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat tidak suka bila orang-orang yang mengikutinya disakiti atau dipersulit urusannya, walaupun yang melakukannya itu shahabatnya sendiri atau orang-orang mu’min setelahnya, lebih-lebih kalau yang menyakiti itu dari kalangan orang sesat maka tentu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat marah. Lihatlah apa sikap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap shahabatnya yang mulia Mu’adz bin Jabal ketika beliau Rodhiyallohu ‘anhu mengimami manusia yang di dalam shalatnya itu tentu ada sebagian shahabat maka ternyata membuat berat sebagian manusia akibat panjangnya sholatnya, sebagaimana disebutkan dalam “Shohih Ibnu Hibban” (Juz: 6, hal. 155), ketika disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam marah karena shahabatnya Mu’adz bin Jabal membuat resah dan memberat-beratkan orang-orang mu’min yang lainnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tegas berkata kepada Mu’adz bin Jabal:

} أَفَتَّانٌ أَنْتَ يَا مُعَاذ أَفَتَّانٌ أَنْتَ يَا مُعَاذ {

“Apakah kamu tukang fitnah ya wahai Mu’adz?!, Apakah kamu tukang fitnah ya wahai Mu’adz?!”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat kasih sayang dengan orang-orang yang mengikutinya, sehingga beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan dalam “Shohih Al-Bukhariy” (no. 13) dari hadits Husain, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada orang-orang yang mengikutinya:

﴿لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه﴾.

Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri“.

Allah Ta’ala perintahkan rasul-Nya untuk merendah dan lemah lembut serta terus senantiasa bersama orang-orang yang mengikutinya, sebagaimana Allah Ta’ala katakan:

﴿وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ﴾ [الشعراء/215].

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, Yaitu orang-orang yang beriman”. (Asy-Su’araa: 215). Dan Allah Ta’ala juga berkata:

﴿وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ [الحجر/88].

Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang mu’min“. (Al-Hijr: 88).

Allah Ta’ala tidak memerintahkan Rasul-Nya untuk merendahkan diri terhadap orang-orang yang bermuka dua (yang bisa diterima di hizbullah dan di hizbusy syaithan), tapi yang Allah Ta’ala perintahkan adalah untuk merendahkan diri dan bersama orang-orang yang mengikuti rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar. Maka apakah pantas kemudian ada dari salah seorang diantara kalian rela menggibahi dan menyakiti saudaranya sesama salafiyyin karena mengharapkan kesalafiyyahnya kaum mutawaqifin atau kaum hizbiyyin dengan rela merendahkan diri dan senang bersama mereka?! Adapun bagi musuh-musuh Islam atau orang yang masuk kategori muslim kemudian menyimpang dari jalan yang lurus dan memusuhi orang-orang yang mengikut sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka sudah sepantasnya bagi untuk ditahzir sesuai dengan perbuatan mereka yang memusuhi al-haq dan ahlinya, bahkan Allah subhanah telah mengumumkan permusuhan dengan mereka, telah diirwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhariy dalam “Shohihnya” (no. 6137) dari Abu Huroirah Rodhiyallohu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

﴿إن الله قال من عادى لي وليا فقد آذنته بالحرب

“Bahwasanya Allah telah berkata: Barang siapa memusuhi wali-wali-Ku maka sungguh Aku telah mengumumkan permusuhan dengannya”.

Dengan muqaddimah yang sedikit ini cukup sebagai penjelasan tentang akhlaq Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai gambaran global, insya Allah pada bahasan selanjutnya pada bagian-bagiannya kami akan sebutkan sebatas waktu yang kami miliki, dan sebatas sepengetahuan kami diserta dengan jawaban atas kerancuan-kerancuan pola pikir orang-orang yang terkontaminasi dengan faham miring yang dilandasi dengan perasaan dan dugaan semata.

 

Ditulis oleh Al-Faqir illah Abul ‘Abbas Khidhr Al-Mulkiy di Darul Hadits Dammaj-Sho’da-Yaman pada hari Juma’at pagi/3 Sya’aban 1430 H.

 

 

BAB I

GUGATAN ATAS DUGAAN PENJELASAN TENTANG TUDUHAN MIRING TERHADAP KRITIKAN DALAM MAKALAH-MAKALAH KAMI

Setelah tersebar luas tulisan kami dalam makalah-makalah yang kami susun, maka banyak bermunculan komentar baik itu berupa saran atau kritikan; baik itu kritikan membangun maupun kritikan miring yang tidak membangun sama sekali, sungguh benar perkataan Allah Ta’ala:

﴿وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً [الأنبياء/35]

Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai fitnah (cobaan)“. (Al-Anbiya’: 35). Juga perkataan-Nya:

﴿وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا﴾  [الفرقان/20]

Dan Kami jadikan sebagian kalian fitnah (cobaan) atas sebagian yang lain. Dan bisakah kamu bersabar?”. (Al-Furqan: 20). Diantara komentar itu adalah:

1.1 Panggilan Jelek Buat Luqman Ba’abduh Al-Hizbiy!

Komentar I:

“Pada beberapa makalah Abul ‘Abbas menyebutkan bahwa ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh adalah penjahat da’wah, padahal beliau adalah ustadz kibar dan telah dipanggil sebagai syaikh oleh Syaikh Kholid Adz-Dzufairiy, tapi Abul ‘Abbas dengan tak berakhlaq memanggilnya seperti itu!”.

Tanggapan:

Pemberian gelar seperti itu kepada Luqman Ba’abduh adalah sesuai dengan posisi dan keberadaan dia, dan ini tidak bisa dikatakan kami tidak memiliki akhlaq! Karena manusia paling berakhlaq adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah berkata kepada Hamal bin Malik An-Nabighah sebagaimana dalam “Shohih Al-Bukhariy” (no. 5426) dari Abu Huroirah Rodhiyallohu ‘anhu:

﴿إنما هذا من إخوان الكهان

Dia (Hamal) termasuk saudara-saudaranya dukun“.

Apa yang menyebabkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan seperti itu? Tidak lain karena Hamal menentang hukum yang telah ditetapkan oleh syari’at dengan melantunkan sajak yang persis dengan lantutan para dukun yang isi sajaknya semisal ucapan para dukun yang menentang syari’at maka selayak untuknya menyandang gelar tersebut. Begitu pula orang-orang yang tidak mengikuti bimbingan Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk tidak berboros-borosan dan melampui batas  dalam kehidupan dunia ini, Allah Ta’ala sebutkan mereka dengan saudara-saudaranya syaithan, Allah Ta’ala berkata:

﴿إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا [الإسراء/27].

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithan dan syaithan itu adalah sangat ingkar kepada Robbnnya”. (Al-Isra’: 27). Maka dari sini tidak salah bagi kami untuk menyebut Laskar Jihad Aswaja dengan julukan syaithan-syaithan khowarij karena sifat dan sikap mereka ketika itu melampui batas dan berbuat seenak nafsu mereka serta berboros-borosan dengan harta (minta-minta) untuk Mukernas (Musyawarah Kerja Nasional) dan kegiatan-kegiatan lainnya yang sangat menyelisihi syari’at. Julukan yang kami berikan kepada mereka seperti itu karena mengambil hukum dari dua dalil tersebut, dan ternyata pengambilan hukum yang kami lakukan memiliki salaf, diantaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan orang-orang seperti mereka syaithanul khowarij (Lihat Kutub wa Rosail wa Fatawa Ibnu Taimiyyah: Juz. 19, hal. 89).

Adapun Luqman Ba’abduh sangat cocok menyandang gelar penjahat da’wah karena dengan kejahatannya yang ada, dari sejak dia menjabat sebagai wakil panglima Laskar Jihad dan bertugas di Ambon tampak sekali kejahatannya terhadap kaum muslimin dan penguasa serta dengan mudah menghalalkan darah yang harom untuk ditumpahkan. Begitu pula penganiayaan, pemukulan dan kezholiman dilakukan, baik itu dia lakukan sendiri atau melalui para pengikutnya dia. Maka cukuplah untuk Luqman Ba’abduh menyandang gelar itu. Begitu pula makarnya terhadap Darul Hadits Dammaj yang dia termasuk salah satu keluaran darinya, yang kemudian menampakan permusuhan dengan hinaan dan celaan serta kedustaan dan pemutar balikan fakta dia lakukan terhadap Darul Hadits Dammaj dan masyayikhnya, maka itu merupakan bagian dari kejahatan dia pula!.

 

Komentar II:

Abul ‘Abbas juga menyebut ustadz Luqman dengan Siluman, yaitu dengan menghapus huruf Q (si Lu man) dan menyebut seorang wanita pembelanya dengan julukan Kuntilanak!.

Tanggapan:

Sebagaimana telah disebutkan tadi pemaparannya (pada tanggapan komentar I), maka penyebutan siluman kepada dia sesuai keadaan dia yang berpaling dari ayat-ayat Allah ta’ala, sebagaimana dalam Al-Qur’an Allah ta’ala menyebutkan bahwa orang semisal dia itu seperti anjing﴿وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آَتَيْنَاهُ آَيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ (175) وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (176) سَاءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ (177) [الأعراف/175-178].

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian Dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu Dia diikuti oleh syaitan (sampai Dia tergoda), Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, Sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim“. (Al-A’raf: 175-177).

Ayat ini sangat pantas untuk diberikan kepada salah seorang ibu rumah tangga yang bernama Nikmatus Tsaniyah atau Ummu Abdillah ketika mendapati e-mail kami bergegas menghubungi kami dengan sok memberi nasehat yang isi nasehatnya berupa tuduhan dusta, ketika kami memperingatkannya untuk jangan menghubungi kami (karena tidak selayakanya istri orang coba-coba menghubungi anak orang lain) dan kami memperingatkannya agar jangan masuk fitnah; dengan memberikan dua pilihan kalau ingin selamat silahkan urusi tanggung jawabmu sebagai seorang ibu rumah tangga, sibukan diri dengan tanggung jawab keluarga dan ilmu serta ibadah. Dan kalau ingin binasa silahkan masuk dalam fitnah hizbiyyah Abdurrohman Al-Adeniy! maka dengan pilihan itu ternyata malah membuatnya semakian menjadi-jadi dan terus bersemangat menyerang kami “maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga)“, Kemudian dari situ mulailah menuduh kami dengan berbagai tuduhan, mulai dari tudahan maling intelektuil (mencuri terjemahan Dzulqarnain), dan mengkampanyekan kami jijik dan terakhir berani mendustakan dirinya bahwa dia adalah wanita haraki dengan menyebarkan di internet tentang aib kami dengan cara pendustaan dan pemutar balikan fakta namun secara tidak dia sadari ternyata membongkar aibnya sendiri, kemana kawan-kawan kuliahnya yang menjadi saksi atas kedustaannya? Kemudian dengan melihat upaya yang begitu luar biasa maka kami memberinya gelar Kuntilanak, itu disebabkan perbuatannya dia semisal Kuntilanak, yang berupaya membongkar aib-aib kami dengan cara dusta dan licik yang sudah terkubur, namun sayang ketika dia melihat tanah yang meninggi seolah-olah kuburan maka dia dengan semangatnya langsung menggali tanah itu mengiranya itulah kuburan mayat (aib) kami untuk dia santap habis namun karena tidak ada yang didapati maka dia berani berdusta dan bercerita tentang aib kami dengan memutar balikan fakta, dalam rangka membela silumannya, sungguh Allah ta’ala telah berkata:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ [الحجرات/12]

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan buruk sangka (kecurigaan), karena sebagian dari buruk sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (Al-Hujarat: 12).

Dan tidak ada seorangpun dari manusia yang suka memakan mayat 

Komentar III:

Orang yang berakhlaq adalah orang yang lembut dan halus tutur katanya! Dan bisa bergaul dan diterima di mana saja dan kapan saja!

Tanggapan:

Demikian itu merupakan wawasan yang dibangun di atas perasaan dan merupakan pandangan yang sempit serta impian yang memiliki jangkauan luas, sekadar contoh JT (Jama’ah Tabligh), siapa yang tidak kenal JT? Hampir kalangan awam mengenal mereka dan kagum dengan kelembutan dan tutur kata mereka, mereka menampakan di hadapan manusia kalau mereka paling penyabar, khuruj (keluar keliling) disakiti, diejek dan sebagainya mereka sabar. Namun coba anda sewaktu-waktu menjelaskan kesesatan, kesyirikan, kebid’ahan dan serta jelaskan kitab pusaka mereka Fadhilah ‘Amal maka akan tampak watak asli mereka. Ucapan kasar, keji, celaan, cacian dan bahkan ancaman fisik akan mengenaimu, tidak sekali atau dua kali tapi sudah banyak kali kejadian dan bahkan kami mendengarkan mereka mengatakan: Salafy adalah musuh kita!.

Begitu pula realita membuktikan bahwa betapa banyak para penggemar proposal, tukang minta-minta dan para pengemis tampak kelembutan dan tutur kata mereka yang halus dalam melaksakan aktivitasnya, dengan kelembutan dan tutur kata yang manis mereka mampu menyihir para muhsinin, sungguh perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

﴿إِنَّ مِنَ الْبَيَانِ سِحْرًا ، وَإِنَّ فِي الشِّعْرِ حِكْمَةً

Sesungguhnya penuturan itu adalah sihir, dan sesungguhnya syi’r adalah hikmah“. Apakah kemudian orang-orang semisal mereka itu dikatakan orang yang berakhlaq mulia?!

 

Komentar III:

Telah kita lihat makalah-makalah yang dikirimkan isinya hanya pemecah-belahan persatuan dan menjadikan ukhuwah koyak, informasi-informasi yang berkaitan dengan itu pun miring-miring. Yang seyogyanya seseorang itu menjadi penyebab kebaikan dan menyeru kepada kemaslahatan serta memberi maslahat kepada orang lain juga memperhatikan kemaslahatan ikhwah dan ukhuwah!.

Tanggapan:

Perkara yang sudah diketahui sebelumnya bahwa keberadaan orang-orang yang berada di atas al-haq itu akan menjadi penyebab terpisahkannya antara orang-orang yang jelek dengan orang-orang yang shalih, karena sudah merupakan ketentuan bahwa kebenaran tidak akan pernah bersatu dengan kesesatan, dari Ibnu ‘Umar Rodhiyallohu ‘anhu, beliau berkata: Berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

}لاَ يَجْمَعُ اللهُ هَذِهِ الأُمَّةُ عَلَى الضَّلاَلَةِ أَبَدًا{ وَقَالَ : }يَدُ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ {

Allah tidak akan menyatukan umat ini di atas kesesatan selama-lamanya”. Dan beliau berkata: “Tangan Allôh bersama al-jama’ah”}فَذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ { [يونس/32].

Maka (Dzat yang demikian) itulah Allôh Rabb kalian yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimana kalian dipalingkan (dari kebenaran) .” (Yunus: 32).

Demikian adanya anggapan dan sifat percaya diri dalam semangat memberi kebaikan atau syafa’at ke orang lain, dengan upaya seperti itu sangat dikhawatirkan dia dengan metode batil dan prilaku penyelewengan justru menyeru kepada kejelekan dan kemudharatan, bagaimana mungkin dikatakan menyeru kebaikan atau memberi syafa’at kepada orang lain sementara pemberian syafa’at itu diperoleh secara batil, sekadar contoh: Memberi dana kepada orang lain atau memberi untuk pembangunan masjid dan ma’had dengan hasil proposal (minta-minta) atau dengan hasil riba (bunga Bank) maka itu bukan memberi kebaikan tapi memberi kotoran dan keterpurukan. Begitu pula seseorang mengaku menyeru kepada kebaikan dan mengaku berda’wah kepada Allah Ta’ala namun ternyata menjerumuskan kepada kesesatan hizbiyyah atau mengajak manusia untuk berjihad (sebagaimana du’at LJ dulu), namun ternyata mengarahkan dan menjerumuskan mad’u kedalam faham dan tindakan khowarij, maka perumpamaan mereka itu seperti Iblis dan syaithan, Allah Ta’ala berkata:

﴿فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آَدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَا يَبْلَى (120) فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآَتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ وَعَصَى آَدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى (121) [طه/120-122].

“Kemudian syaithan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?” Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Rabb dan sesatlah ia kemudian Robbnya memilihnya. Maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk”. (Thohaa: 120-122).

Demikianlah petunjuk dan akhlaq jelek iblis dan syaithan serta orang-orang yang mengikuti jejaknya, adapun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikut setianya adalah paling bagus akhlaqnya dan paling bagus petunjuknya, diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhariy dalam “Shohihnya” (no. 6849) bahwa Abdullah Rodhiyallohu ‘anhu berkata:

﴿إن أحسن الحديث كتاب الله وأحسن الهدي هدي محمد صلى الله عليه و سلم وشر الأمور محدثاتها و {إن ما توعدون لآت وما أنتم بمعجزين}.

Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah (Al-Qur’an) dan sebaik-sebaik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan. {Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu sekali-kali tidak sanggup menolaknya}“.

1.2 Vonis Miring Terhadap Ash-Shhabul Jam’iyah!

Komentar IV:

Abul ‘Abbas dengan mudahnya menjuluki Luqman bin Muhammad Ba’abduh dan menjuluki du’at yang membela jam’iyat sebagai penjilat dan pengalap berkah yayasan!

Tanggapan:

Adapun penyebutan kami seperti itu dikarenakan kejujuran mereka mengakuinya sendiri, sebagaimana Asyakri bin Jamaluddin Al-Bughisiy dengan penuh percaya diri mengatakan: “Mendulang berkah dengan membikin Yayasan Salafiyyah” terus apa yang didulang dari yayasan? Tidak lain adalah harta, sebagaimana dia sebutkan sendiri: supaya mendatangkan masyayikh ke Indonesia! Kami katakan iya itu salah satunya! Diantaranya pula supaya bisa umroh atau keliling ke Saudi Yaman atas da’wah, terus dari mana itu semua kalau bukan dari proposal (minta-minta) atas nama yayasan?!

Adapun julukan yang kami berikan kepada mereka seperti karena kami memiliki dasar dari As-sunnah Ash-Shohihah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling terbaik akhlaqnya telah memerintahkan shahabat yang mulia Salman Al-Farisiy untuk mengisahkan riwayat hidupnya kepada para shahabat, maka Salman mengisahkannya, diantara kisahnya beliau Rodhiyallohu ‘anhu menjelaskan keadaan uskup (guru)nya bahwa gurunya tersebut mengajak umat untuk bersedekah ternyata hasil sedekahnya dipakai untuk kepentingan isi perutnya dan menunmpuknya untuk kepentingan pribadinya, maka Salman mencelanya dan begitu pula umatnya mencela uskup tersebut setelah diberitahu oleh Salman tentang akhlaq jeleknya, maka jenazah sang uskup tadi di salib dan dilempari batu oleh kaummnya. (Lihat Kisah Shohihnya dalam kitab “Ash-Shohihul Musnad Mimma Lasia fish Shohihain Lil Imam Al-Wadi’iy; Juz. 1, hal. 267-272, no. hadits 440).

Komentar V:

Memang Abul ‘Abbas itu tidak berakhlaq sama sekali masa ustadz kita; ustadz Luqman, Afifudin, Sarbini dan ustadz Asyakri serta yang bersama mereka dibilang ustadz kabair, dunguh, ruwaibidhah, jahil dan bodoh, pada terkhusus ustadz Luqman itusudah jadi syaikh, diakui oleh syaikh Abdullah (Al-Mar’i) juga syaikh Kholid tapi Abul ‘Abbas anggap dia sepsh-Shohihul Musnad, bukankah syaikh Muqbil rahimahullah dalam kitab tersebut bahwasanya minta-minta itu termasuk dosa besar (kabair)? Bukankah dengan mengemisnya mereka itu sudah layak disebut pelaku dosa besar? Belum lagi dosa lainnya yang telah mereka lakukan dulu, yang keji dan mengerikan (baca; LJ) juga kedustaan dan tipu muslihat mereka itu bukanlah suatu dosa yang ringan atau kecil tapi itu adalah dosa besar. Di riwayatkan oleh Imam Bukhari dalam “Shahihnya” (no. 5977) dari Anas bin Malik Rodhiyallohu ‘anhu beliau berkata:

ذَكَرَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – الْكَبَائِرَ ، أَوْ سُئِلَ عَنِ الْكَبَائِرِ فَقَالَ « الشِّرْكُ بِاللَّهِ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ » . فَقَالَ « أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ – قَالَ – قَوْلُ الزُّورِ – أَوْ قَالَ – شَهَادَةُ الزُّورِ ».

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan tentang dosa besar atau ditanya tentang dosa besar maka beliau berkata: “Syirik kepada Allah, membunuh jiwa, durhaka kepada kedua orang tua“. Lalu berkata lagi: “Maukah aku kabarkan kepada kalian dosa besar yang paling besar?” Lalu beliau berkata: “(yaitu) perkataan dusta (palsu) atau persaksian palsu“.

Adapun tentang kebodohan dan kedunguan mereka, maka layak mereka menyandangnya karena ketika orang itu waras dan sehat akalnya maka tidak akan condong menjerumuskan dirinya kedalam dosa besar atau dosa kecil, hanyalah orang yang dungu dan para pengikut hawa nafsu yang sudah tahu dosa akan tetapi masih saja cemplung di dalamnya sungguh benar perkataan sebagian salaf sebagaimana dalam “Tafsir Ibnu Katsir” (4/408):

كل من عصى الله فهو جاهل، وقرأ: { ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ عَمِلُوا السُّوءَ بِجَهَالَةٍ } إلى قوله: { إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ } [النحل: 119].

“Setiap yang bermaksiat kepada Allah maka dia adalah bodoh, lalu membaca ayat: “Kemudian, Sesungguhnya Rabbmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya” Sampai perkataan-Nya: “Sesungguhnya Rabbmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“. [An-Nahl: 119].

BAB II

ORANG YANG TIDAK BERAKHLAQ DAN PEMECAH BELA SUKANYA BERKATA KASAR, PEDAS DAN MENYAKITKAN

Seandainya ada yang mengatakan seperti pada judul Bab II ini secara mutlak (tanpa ada rincian) maka sungguh jelas kalau dia adalah orang yang tidak berakhlaq dan bodoh terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Sohihah serta manhaj salafush sholih, dan kalaulah benar Kholiiful Hadii mengatakan seperti itu maka kami terangkan lagi: Bahwa wajar dia berkata begitu, karena latar belakangnya mendukung keberadaannya, ketika dia di Dammaj rajin keluar masuk maktabah (perpustakaan) dan menyibukan diri pada bidang lughoh (bahasa Arob) dan fiqih serta ushulnya (namun ternyata didapati sebagian fiqihnya miring) dan ketika di Dammaj dia menjadikan bidang manhaj dan aqidah shohihah hanya sebagai sampingan jadi wajar kalau didapati sebagian aqidahnya terdapat kesalahan atau didapati manhajnya terpuruk. Dia sebenarnya sudah merasa kalau dirinya seperti itu, sebagaimana dia katakan sendiri: Ana ingin belajar lagi, tapi ana ingin belajar di Saudi!

Mungkin akan ada yang bertanya: Kenapa harus milih belajar ke Saudi? kenapa tidak ke Dammaj saja? Maka kemungkinan jawabannya: Supaya seperti Dzulqarnain bisa cari dana (ajukan proposal) sambil belajar. Atau mungkin jawabannya seperti perkataan ahlu ilmi: “Kalau mau (makan) daging ke Saudi, kalau mau ilmu ke Dammaj!”.

Banyak orang tidak mau ke Dammaj karena lantaran di Dammaj hidup dan kebutuhan apa adanya, atau karena lantaran dia majruh (dikritik) maka dia takut ke Dammaj. Atau karena di Dammaj tegas mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengharomkan minta-minta jadi takut tidak boleh lagi ajukan proposal (minta-minta).

Tanggapan judul Bab II:

Tidak ada kebimbangan dan keraguan lagi bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum diangkat sebagai rasul dipercaya sebagai orang yang terbaik dan berakhlaq terpuji, sebagaimana disebutkan oleh Ummul Mu’minin Khodijah Rodhiyallohu ‘anha tentang akhlaq dan prilaku Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  dan diakui oleh siapa saja (Lihat Shohihul Bukhoriy, no. 3, 6982) dan bahkan ketika itu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dijuluki dengan “Al-Amin”, namun ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diangkat sebagai rasul, Allah Ta’ala perintahkan supaya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi peringatan, sebagaimana perkataan-Nya:

﴿يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2)﴾ [المدثر/1، 2]

“Hai orang yang berselimut! Bangkitlah dan berilah peringatan!”. (Al-Mudtatsir: 1-2). Ketika rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai memberi peringatan dan mulai menjarh (mengkritik atau mencela) sesembahan-sesembahan dan tokoh-tokoh sesat semisal Abu Lahab (yang celaan terhadapnya ada dalam satu surat dalam Al-Qur’an) maka mulailah disirnakan julukan yang bagus tadi dari diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka ganti julukan itu dengan tukang sihir, pendusta, gila dan sesat serta julukan-julukan jelek lainnya, tidak ada sama sekali pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan dengan ketegasan dan keberanian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengatakan al-haq membuat kaum musyrikin kepedasan telinganya ketika mendengarkan suara dan tahdziran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membuat hati mereka merintih kesakitan, maka kemudian mereka membuat banyak makar untuk menghinakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan serta mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pemecah belah persatuan kaum Quraisysy dan ucapan yang semisal itu. Maka kami katakan: Memang benar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memecah belah (memisahkan) manusia antara yang baik dan yang jelek, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhoriy dalam “Shohihnya” (no. 7281) dari Jabi bin ‘Abdillah bahwa:

﴿محمد صلى الله عليه و سلم فرق بين الناس

“Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam membedakan (memisahkan) manusia”.

Berkata Asy-Syaikh An-Nashih Al-Amin Yahya bin ‘Ali hafidzahullah: Yaitu memisahkan manusia antara yang sholih dengan manusia yang jelek, antara yang kafir dan mu’min”.

 

PENUTUP

Demikian tulisan yang singkat dan sederhana ini sebagai tanggapan ringkas terhadap kerancuan-kerancuan dan pola pikir yang miring, serta sebagai tantangan untuk para komentator, adapun dalil-dalil yang sedikit meluas yang berkaitan dengan masalah ini telah kami singgung dalam kitab “An-Nuktatus Suada’ fii Quluubis Sufaha’” edisi revisi yang terbaru.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم والحمد لله.

Selesai ditulis oleh Al-Faqir Ilallah Abul ‘Abbas Khidhir Al-Mulkiy, di Darul Hadits Dammaj-Sho’da-Yaman pada hari Sabtu menjelang azan Zhuhur/4 Sya’ban 1430 H.