Mengenal Utsman Assalimy

Penjelasan Terperinci

Tentang Utsman As Salimi

Dan Bantahan Terhadap Syubuhat Si Utmi

Tentang Markiz Ibu di Fuyusy Al Hizbi

   

Ditulis Oleh Asy Syaikh Al Fadhil:

Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al Amudiy

Al Hadhromiy Al Adaniy

-semoga Alloh menjaga beliau-

 

Diterjemahkan Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo

-semoga Alloh memaafkannya-

di Yaman

 

Judul Asli:

“Al Bayan Li Sui Halis Salimiy ‘Utsman

Wa Firoqi Tilkal Umm Bi Sababi Ma Shona’athu Minal Fusuq Wal ‘Ishyan”

Judul Terjemah Bebas:

“Penjelasan Terperinci Tentang Utsman As Salimi

Dan Bantahan Terhadap Syubuhat Si Utmi

Tentang Markiz Ibu di Fuyusy Al Hizbi”

 

Ditulis Oleh Asy Syaikh Al Fadhil:

Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al Amudiy

Al Hadhromiy Al Adaniy

-semoga Alloh menjaga beliau-

 

Diterjemahkan Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo

-semoga Alloh memaafkannya-

di Yaman

 

Pengantar Penerjemah

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وآله وسلم، أما بعد:

            Sesungguhnya sebagian ikhwah yang mulia dan punya kecemburuan terhadap agamanya menyebutkan bahwasanya Utsman As Salimiy dan Abdulloh Al Mar’iy sedang berceramaah di beberapa tempat di Indonesia. Saudara kita yang mulia tersebut menanyakan pada saya tentang jarh terperinci tentang Utsman As Salimiy.

            Sebenarnya cukuplah bahwasanya Utsman As Salimiy itu menentang hujjah-hujjah ahlul haq tentang kebatilan Mar’iyyun, tanpa sanggup adu hujjah. Bahkan dirinya menjadi pembela dan pendukung para ahli ahwa tersebut.

Al Imam Ash Shon’aniy رحمه الله : “Adapun orang bersikeras di dalam kesalahannya setelah ada penjelasan, maka datang riwayat dari Ibnul Mubarok dan Ahmad Bin Hanbal dan Al Humaidiy dan yang lainnya, maka riwayatnya jatuh dan tidak ditulis, dikarenakan sikap bandelnya di atas kesalahannya tadi membatalkan kepercayaan terhadap perkataannya.  –sampai pada ucapan beliau:- Ibnu Hibban berkata: “Sesungguhnya barangsiapa telah jelas bagi dirinya kesalahannya dan tahu kesalahannya itu tapi tak mau rujuk darinya, dan malah terus-terusan demikian maka dia adalah pendusta dengan ilmu yang shohih.” At Taj At Tibriziy berkata: “Dikarenakan orang yang membangkang itu bagaikan orang yang meremehkan hadits dengan cara melariskan perkataannya dengan kebatilan. Adapun jika pembangkangannya itu karena kebodohannya maka dia lebih pantas untuk jatuh karena dia menggabungkan kepada kebodohannya tadi pengingkarannya terhadap kebenaran.” (“Taudhihul Afkar”/2/hal. 258).

            Bahkan sekalipun si Salimiy itu adalah seorang syaikh dari Ahlussunnah, tapi dia memenuhi undangan para ahli ahwa, maka telah datang nasihat yang benar dari syaikh dia, yaitu Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله untuk jangan menghadiri majelis tersebut.

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata tentang karakter Ikhwanul Muslimin: “… maka mereka berjumpa denganku dan berkata kepadaku: Janganlah Anda menyangka bahwasanya si fulan itu termasuk dari kami, kami mengambilnya hanyalah demi agar kami bisa mengumpulkan orang-orang.” (“Ghorotul Asyrithoh”/1/hal. 542/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله : “Adapun masalah ta’awun (baku tolong) dengan mereka, maka aku menasihati Ahlussunnah untuk memohon pertolongan pada Alloh dan menegakkan kewajiban mereka. kita mengajak orang kapada Alloh. Dan kenyataannya: kita itu tidak sanggup untuk saling bantu dengan sesama saudara kita Ahlussunnah di Yaman, di Sudan, di Haromain, di Najd, Mesir dan di Yordan. Maka kenapa kita pergi dan baku tolong dengan orang-orang yang menganggap Ahlussunnah itu musuh terbesar? Maka jika engkau pergi (dengan mereka) maka itu adalah dalam rangka mereka membidik para pemuda sepeninggalmu. Engkau menyampaikan ceramah, lalu mereka mengambil para pemuda sepeninggalmu.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 11/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

            Manakala sebagian ikhwah minta penjelasan yang lebih rinci tentang Utsman As Salimiy, maka dengan mengucapkan nama Alloh dan memohon pertolongan-Nya saya akan penuhi permintaan tersebut dengan menerjemah risalah Asy Syaikh Al Fadhil Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al ‘Amudiy Al Hadhromiy Al Adaniy حفظه الله , yang beliau tulis sekitar dua tahun yang lalu. Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih mengenal karakter dan penyimpangan orang tadi, dan lebih berhati-hati dalam memilih pengajar.

            Adapun untuk Abdulloh Al Mar’i, maka saya telah menjelaskan panjang lebar buruknya orang itu dalam kandungan risalah “Apel Manalagi Buat Cak Malangi: Mengingat Kembali Kebusukan Abdul Ghofur Al Malangi.”

            Semoga Alloh melimpahkan taufiq-Nya kepada kita semua.

بسم الله الرحمن الرحيم

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهدي الله فهو المهتدي، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلوات الله وسلامه عليه وعلى آله وصحبه وأتباعه وأنصاره إلى يوم الدين، أما بعد:

            Maka sesungguhnya termasuk dari apa yang Alloh karuniakan kepada dakwah yang suci, bersih dan jernih ini adalah: Alloh menjadikannya diistimewakan dari seluruh dakwah-dakwah yang lain, terpisah dari seluruh kesesatan dan hizb-hizb (partai/kelompok).

            Yang demikian itu adalah karunia dari Alloh yang Dia berikan kepada yang dikehendaki-Nya dan dikhususkan dengannya siapa yang dikehendaki-Nya, dan Alloh Maha Memiliki karunia yang besar. Alloh ta’ala berfirman:

{وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا } [الإسراء: 20]

“Dan tidaklah karunia Robbmu itu terlarang.”

Dan berfirman:

وما بكم من نعمة فمن الله. ]النحل: 53[

“Dan kenikmatan apapun yang ada pada kalian, maka itu adalah dari Alloh.”

            Dan termasuk dari akibat dari fitnah yang dahsyat ini adalah bahwasanya dia itu menjadi sebab terfitnah orang-orang yang Alloh kehendaki untuk tertimpa fitnah, dari kalangan orang-orang yang punya hati yang sakit. Yang demikian itu adalah dikarenakan fitnah itu datang dalam bentuk setan dan pergi juga dalam bentuk setan, sehingga hampir-hampir fitnah itu tidaklah melewati hati yang sakit yang terfitnah dengan syubhat atau syahwat atau tergoda oleh keduanya, kecuali hatinya itu condong kepadanya, tergila-gila kepadanya dan melamarnya, sampai akhirnya fitnah tadi menguasai akal-akal mereka dan masuk ke dalam relung hati mereka. Sampai manakala kecintaan kepada fitnah tadi telah mencengkeram di dalam hati mereka, dan meresap ke dalamnya, jadilah hati tadi di belakang fitnah tadi bagaikan orang-orang gila atau orang-orang yang tersihir.

            Dan termasuk dari kayu bakar fitnah ini dan dipatahkan oleh fitnah ini, setelah sebelumnya dia menampakkan sikap rujuk dari Baroatudz Dzimmah Firqoh Hasaniyyah Hizbiyyah (sekte penanda tangan dukungan Untuk Abul Hasan Al Mishriy) yang menggelembung seperti luka bengkak, yang telantar (tidak mendapatkan taufiq) bagaikan mimpi adalah pemuda yang bernama “Utsman kecil bin Abdulloh Al ‘Utmiy”, salah satu pelamar fitnah ini dan yang tergila-gila dengannya. Dia berkata –dan alangkah jeleknya ucapannya- dengan perkataan yang batil dan banyak salahnya yang hina dan tidak ada harganya: “Dammaj itu adalah ayah, sedangkan Fuyusy itu adalah ibu.”

            Ucapan tersebut ada di tempat kumpulan hizbiyyah yang baru tersebut, di klub Fuyusy, tempat menetap Hizb Tajammu’ Al Fuyusiy untuk pengelompokan, perusakan, pengadu dombaan, pembentukan pekerja dan konsentrasi mencari keduniaan.

            Engkau telah rugi wahai Utsman kecil, pada hari di mana engkau menjadikan kepala itu jadi ekor, dan ekor itu jadi kepala.

            Engkau telah mendatangkan kedustaan besar wahai Utsman kecil. Jika ucapan ini datang darimu, maka tidaklah diterima. Dan tidaklah menerima ucapan itu kecuali orang yang membikin bodoh dirinya sendiri. Akan tetapi sebagai bentuk mengalah padamu, aku katakana padamu: “Si ibu ini kondisinya buruk, dan kehidupannya buruk, dia lari dari kebaikan dan merasa asing darinya, pertimbangannya menjadi cacat, akal si ibu ini bertambah lemah, agamanya semakin rapuh, dia tidak lagi senang tinggal di rumahnya yang menjadi tempat kemuliaannya dan tidak lagi senang menyertai suami yang menjaga kehormatan.”

            Dan termasuk dari orang yang hina jiwanya sehingga menjadi ekor bagi para pelaris fitnah ini dan masuk dalam perkara yang tidak penting bagi dirinya, dan memancangkan dirinya sebagai pembela bagi orang-orang yang terfitnah, menjadi hizbiyyin dan zholim terhadap dakwah dan syaikh dakwah ini di tengah-tengah markiz dakwah ini adalah:

UTSMAN BIN ABDILLAH AL ‘UTMIY AS SALIMIY

yang sekarang ini tinggal di masjid As Salaf di kota Dzammar, di desa Jabal Harron.

            Orang ini dulu termasuk dari murid Al Allamah Al Wadi’iy. Dan di awal perkaranya di atas kebaikan dan ketenangan. Dia berpindah di masa hidup Asy Syaikh Muqbil رحمه الله ke desanya dan dibukakan untuknya markiz di wilayah Al Jum’ah di negri ‘Utmah. Dia tinggal di situ di suatu selang waktu, dan dengannya Alloh memberikan manfaat pada penduduk negrinya ketika itu.

Akan tetapi tempat tersebut ada di wilayah pegunungan, jalannya terjal. Dia sering tinggal di situ beberapa hari, lalu keluar untuk dakwah. Dan dia memperbanyak keluar sehingga membikin susah para murid. Dan kebanyakan dari mereka pergi ke Ma’bar karena dekat dengan mereka. Dan sebagian dari mereka pergi ke Dammaj. Manakala dia melihat markiznya mengalami kemunduran, mulailah dia melongok-longok ke tempat yang lebih baik. Dan keadaan ekonomi dia susah.

Maka sebagian orang mengisyaratkan padanya untuk pergi ke Ma’rib ke Abul Hasan agar memberikan padanya jaminan keuangan dan tunjangan bulanan. Maka pergilah dia ke sana. Dan aku termasuk yang menyertainya dalam perjalanan dia bersama akh Muhammad Al Hanasy dan akh Abdulloh bin Ghonim Al Mushonnif dan sebagian ikhwan yang lain di dalam mobil Muhammad Al Hanasy. Ketika kami sampai di Ma’rib, dia duduk dengan Abul Hasan dan akh Abdulloh bin Ghonim. Dan aku tidak tahu apa yang berlangsung di dalam majelis itu, karena majelis itu di dalam rumah Abul Hasan. Kemudian kami kembali ke Shon’a pada hari yang kedua.

Dan mereka pergi ke seseorang yang namanya Yahya yang bekerja bersama Muassasah Al Haromain, tinggal dekat dengan Masjid Ad Dakwah yang di dalamnya ada Abdul Majid Ar Roimiy, dan aku tidak tahu apa yang berlangsung di antara mereka.

Dan manakala berlangsung fitnah Abul Hasan Al Mishriy, Utsman As Salimiy termasuk penolong pertama bagi dirinya dan yang terdaftar dalam Baroatudz Dzimmah. Dan keadaan dia seperti ucapan Syaikh kami Yahya حفظه الله : “Dia tak punya bashiroh (pandangan yang tajam) tentang fitnah-fitnah, dia itu hanyalah pembebek terhadap para masyayikh.”

Dan termasuk perkara yang menguatkan perkataan Syaikh kami Yahya حفظه الله adalah bahwasanya dia pernah pada suatu ketika datang ke Ma’bar di permulaan fitnah Abul Hasan, dan ketika itu Asy Syaikh Muhammad Al Imam membela Abul hasan dan berkata tentangnya: “Abul Hasan adalah imam”, dan berkata: “Semoga Alloh memperbanyak orang-orang semisal beliau.” Maka Utsman As Salimiy membikin ceramah yang di dalamnya sindiran dan tusukan terhadap orang-orang yang mengkritik Abul Hasan dan juga penghinaan terhadap mereka, juga dorongan untuk mengikuti Abul Hasan, membelanya. Termasuk dari ucapan As Salimiy adalah: “Janganlah kalian pergi dan mengumpulkan kesalahan-kesalahan ulama, kenalilah kadar diri kalian sendiri.” Dan dia menggambarkan bahwasanya bantahan pada penyelisih kebenaran itu sebagai jalan yang baru dalam dakwah Ahlussunnah. Dia membebek Muhammad Al Imam dalam masalah itu.

Dan yang menjerumuskan dirinya ke dalam fitnah Abul Hasan adalah perkara-perkara yang Alloh yang paling mengetahuinya, dan di antaranya adalah jaminan tunjangan dari Abul Hasan.

Dan manakala para masyayikh rujuk dari sikap pembelaan mereka untuk Abul Hasan, datanglah dia ke Ma’bar dan menyampaikan ceramah yang bersifat global seputar fitnah, dan mendorong para pelajar untuk bersama Muhammad Al Imam, dan mengambil ucapannya di dalam fitnah. Maka semoga Alloh memerangi hawa nafsu, bagaimana dia menjadikan pengikutnya berbolak-balik khususnya bersama perasaan dan maslahat keduniaan.

Dan bersamaan dengan dirinya menampakkan rujuk dari fitnah Abul Hasan, dia itu tidak ridho pada Syaikh kami Yahya حفظه الله dan saudara-saudara beliau dalam thoriqoh dalam membantah Abul Hasan, bahkan dia sering menampakkan penyelisihan dan tidak ridho dengan perkataan Asy Syaikh Yahya, dan menggambarkan bahwasanya pada diri beliau itu ada kekerasan.

Bahkan saudara kita yang mulia Abdulloh bin Ghonim Al Mushonnif –yang banyak menyertai Utsman As Salimiy- ketika di Utmah, mengabariku: “Asy Syaikh Utsman tidak senang dengan Asy Syaikh Yahya sejak dulu.” Ini dikarenakan pemegangan Utsman As Salimiy terhadap thoriqoh Salaf رضوان الله عليهم rapuh.

Dan termasuk yang memperkuat ucapan tadi adalah bahwasanya setelah usai fitnah Abul Hasan, Utsman As Salimiy dan Abdulloh Al Mushonnif masuk menemui satu orang di kerajaan Saudiy, sebagaimana Al Mushonnif mengabariku dengan itu, dan si orang tadi sangat fanatik dengan Abul Hasan dan mencerca Asy Syaikh Yahya. Akh Al Mushonnif berkata: “Dadaku menjadi sesak dengan ucapan orang tadi dan aku keluar dari kamar itu, sementara As Salimiy diam saja dan menyatu dengan orang itu dalam pembicaraan mereka.”

Dia juga mengabariku bahwasanya para murid As Salimiy menjelek-jelekkan Asy Syaikh Yahya di fitnah yang terakhir ini di hadapan As Salimiy, sementara dia tidak mengingkarinya dan tidak menghardik seorangpun dari mereka.

Bahkan saudara kita Abdurrohman Al Qo’waniy yang dari Jihron, di Ma’bar di toko akh Asy Syarihiy, mengabariku bahwasanya As Salimiy berkata: “Orang yang fanatik untuk Al Hajuriy silakan keluar dari tempatku.” Tanggung jawab berita ini ada di pundak dia.

Dan pada fitnah Abdurrohman Al Adaniy jadilah Utsman As Salimiy menjadi pembalas dendam untuk dia dengan kerasnya, dan berjalan di dalam fitnah itu tanpa bashiroh, dan memasukkan dirinya ke dalam pertemuan-pertemuan para masyayikh, dan membubuhkan tanda tangan bersama para penanda tangan, menyambut orang-orang yang turun di tempat dia dari kalangan orang-orang yang terfitnah, menaungi mereka dan memberikan bantuan pada mereka. Dalam masalah itu di membebek pada Asy Syaikh Muhammad Al Imam هداه الله.

Dan termasuk maftunun yang paling keras ketersia-siannya dan kebodohannya serta kedustaannya adalah Hamud bin Mas’ad Al Khorrom Adz Dzammariy, yang terkadang menyertai Utsman As Salimiy dan menemaninya berkeliling, dan Utsman menilainya sebagai teman khususnya dan teman bermusyawarahnya, padahal orang itu adalah sangat bodoh dan pecinta dunia, meninggalkan rumah dua tingkat yang di Darul Hadits di Dammaj, dan pergi mengobarkan fitnah di Dzammar, dan dia mendapatkan tempat bernaung di markiz As Salimiy yang telantar itu. Dan burung-burung itu hinggap pada yang sejenis dengannya.

Dan As Salimiy juga menaungi orang-orang terfitnah yang lain seperti Hasan bin Nur, Nabil Al ‘Ammariy, Abbas Al Jaunah, Naji An Naqib Al Yafi’iy dan yang sejenis dengan mereka. Dan mereka itu tidaklah datang untuk mengambil ilmu dari As Salimiy, karena mereka itu telah meninggalkan ilmu dan markiz ilmu, akan tetapi Si Salimiy manakala terjatuh ke dalam fitnah dan terdukung dengan harta, maka merekapun menjadikan masjid dia sebagai tempat bernaung dan tinggalnya pemikiran mereka, dan jadilah markiz dia dan beberapa markiz yang lain dibandingkan dengan Dammaj bagaikan orang-orang Haruro berhadapan dengan para Shohabat رضي الله عنهم, dan jadilah markiznya itu tempat bernaung bagi orang-orang yang terfitnah dalam Dakwah Salafiyyah, seperti markiz Ma’bar dan lebih keras lagi.

Dan orang ini –yakni As Salimiy- bersamaan dengan seringnya dia membanggakan dirinya sebagai murid Al Imam Al Wadi’iy yang ‘afif (menjaga kehormatan dari perkara-perkara yang hina- , hanya saja dia itu menyelisihi thoriqoh Al Imam Al Wadi’iy secara khususnya dalam bab ‘iffah terhadap harta orang dan penghinaan diri di hadapan para hartawan. Dia ketika masih di Utmah mengutus saudaranya (Muhyiddin) di Romadhon ke Saudi berumroh lalu mengumpulkan uang dan bantuan-bantuan untuk markiz, dan jika dia sendiri berangkat haji atau umroh dia tinggal sementara di sana berpindah-pindah dari pedagang yang satu ke pedagang yang lain sebagaimana bersaksi tentang itu orang yang menyertainya dan mengetahui sebagian keadaannya.

Si Salimiy seandainya mendapatkan taufiq niscaya tetap tinggal di negrinya mengajar dan mendakwahi orang ke jalan Alloh, karena negrinya itu negri yang menerima dakwah Ahlussunnah Wal Jama’ah, dan penduduknya menyukai kebaikan, dan di situ ada para pelajar yang mulia. Akan tetapi si Salimiy di akhir-akhir menyukai kemewahan yang dicurahkan oleh sebagian pedagang. Ini dari satu sisi, dan dari sisi lain dia suka keterkenalan. Dan pada hakikatnya perkara inilah yang merasuki ratusan orang yang terfitnah oleh fitnah-fitnah terdahulu sehingga dakwah mereka hilang. Maka jauh sekali wahai Salimiy jika engkau tak bisa mengambil pelajaran dari kondisi mereka, karena kami melihat engkau menjadi lebih bersemangat mencari tempat yang lebih mewah, bukannya tempat yang lebih bermanfaat.

            Maka As Salimiy pernah dijanjikan untuk didirikan untuknya markiz di desa Waroqoh, salah satu desa di wilayah ‘Ans, lalu dia didahului oleh ke tempat itu oleh Sholih Al Faqir, salah satu pengikut Abul Hasan. Dan dia didatangi oleh penduduk Baidho, dan mereka berupaya agar dia mau keluar ke tempat mereka, tapi dia tidak mau. Manakala dia diundang ke Dzammar –semoga Alloh memaafkan orang yang mengundangnya- maka dia langsung berangkat dengan cepat, padahal dia tahu bahwasanya di sana sudah ada Asy Syaikh Abdurrozzaq An Nahmiy, Asy Syaikh Abdulloh bin Utsman, Asy Syaikh Sholah Al ‘Imad, Asy Syaikh Abdul Ghoni Al Umariy dan yang lainnya. Manakala dia tahu bahwasanya tempat tersebut telah siap dan didukung oleh seorang pedagang, bergegaslah dia menuju tempat itu karena suatu kebutuhan yang ada di hati si Utsman.

            Orang ini pada hakikatnya lemah, mudah dipengaruhi oleh sebagian teman duduknya. Yang mengherankan, dia itu menjadi rajin dalam fitnah-fitnah. Dan aku sampai sekarang tidak tahu dia punya suatu bantahan terhadap ahli bida’ wal ahwa, para pengikut jam’iyyat dan hizbiyyat meskipun berupa risalah kecil dalam membela kebenaran dan menolak kebatilan, dan bagaimana dia bisa berbuat itu sementara dia setiap kali datang fitnah boro-boro bisa selamat?

            Dan termasuk yang menjelaskan kelemahannya dalam mengetahui manhaj salafiy apa yang ditulisnya dalam kata pengantar kitab “Al Ibanah” karya Asy Syaikh Al Imam yang mana dia berkata: “… maka aku mendapatinya sebagai kitab yang sangat bermanfaat , bahkan di dalamnya ada faidah-faidah yang perlu didapatkan dengan pergi jauh dengan pasti. Di dalamnya beliau menyebutkan kaidah-kaidah dari para ulama dan kriteria-kriteria yang bagus yang menetapkan manhaj salaf dalam jarh wat ta’dil dan kriteria-kriteria hajer (pemboikotan)… dst.”

            Maka aku katakan: Wahai Salimiy, bertaqwalah pada Alloh dalam dirimu sendiri, bagaimana engkau menjadikan kaidah-kaidah kholafiyyah (lawan dari Salafiyyah) yang ditetapkan oleh Abul Hasan dan ahli ahwa yang lainnya sebagai kaidah-kaidah Salaf? Sungguh engkau telah menzholimi Salafush Sholih karena engkau menisbatkan pada mereka perkara yang bukan dari manhaj mereka. Perkara terbaik yang bisa dipakai untuk memberi udzur di sini adalah bahwasanya engkau tidak menampilkan dan tidak mendatangkannya maka engkau tidak berbicara dengan memikirkannya lebih dulu ataupun dengan dasar yang benar, hanyalah engkau di atas anggaran dasar Ghoziyyah (taqlid pada suatu kelompok).

            Kemudian aku berkata padamu dan kepada orang yang terpedaya dengan perkataanmu: bukankah Asy Syaikh Al Imam mengakui bahwasanya di dalam kitabnya itu ada kebenaran, dan dia mengupayakan untuk memperbaikinya? Dan ini adalah setelah dicetaknya kitab itu dan setelah kata pengantar kata pengantar tadi, yang mana pengantar tadi adalah hasil dari perasaan. Maka rujuknya Asy Syaikh Al Imam dari kesalahan-kesalahannya setelah kata pengantar tadi merupakan penjelasan tentang bodohnya kalian dan tidak mendalamnya kalian dalam ilmu dan pengenalan terhadap manhaj Salafush Sholih.

            Dan lihatlah orang yang Alloh sinari mata hatinya dan mengetahui –setelah taufiq dari Alloh untuknya- dengan kekuatan ilmiyyahnya dan pemurniannya untuk mengikuti kebenaran dan menjauhi anggaran dasar Ghoziyyah dan tidak takut di jalan Alloh celaan orang yang mencela, syaikh kami An Nashihul Amin Yahya  -semoga Alloh menjaga beliau dan meluruskan beliau-, bagaimana beliau mengingkari apa yang ada di dalam kitab “Al Ibanah” yang berupa prinsip-prinsip yang menyelisihi manhaj Salafush Sholih. Sejak awal kitab itu diletakkan di tangan beliau dan menjelaskan apa yang ada di dalamnya dengan perkataan ilmiyyah yang ringkas dalam buklet dengan judul “Mujmalut Taqwim Wash Shiyanah”. Dan seperti itu pula saudara-saudara beliau dan murid-murid beliau yang terkemuka seperti akh Sa’id Da’as dalam kitab beliau “Tanzihus Salafiyyah” dan akh Yusuf Al Jazairiy dalam kitab beliau “Mishbahuzh Zholam”.

            Maka wahai Ahlussunnah dari kalangan massyayikh dan pelajar Darul Hadits di Dammaj, alangkah pintarnya Anda semua, maka harapkanlah pahala di dalam menjaga benteng sunnah. Dan di sisi Alloh sajalah pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.

            Dan aku mengatakan ini dengan kebenaran: seandainya Alloh Yang Mahasuci tidak memberikan karunia kepada dakwah ini dengan Asy Syaikh Yahya sepeninggal Al ‘Allamah Al Wadi’iy رحمه الله bisa jadi ada dua kelompok yang mempermainkan dakwah ini, yaitu: para pendendam dan orang-orang yang dibikin lalai, mereka orang-orang yang mempermainkan dakwah. Dan juga niscaya akan tersamarkan bagi manusia kesamaran yang mereka lakukan. Maka hanya milik Alloh sajalah pujian dan karunia.

            Dan kebenaran ini lebih berhak untuk diikuti tanpa mengedepankan perasaan dan metode muwazanah (menimbang kebaikan dan kejelekan untuk melindungi pelaku penyimpangan), karena dengungan ini telah bercokol di kalangan sebagian orang. Mereka berkata: “Bagaimana kalian mengkritik si fulan, padahal dia itu mengajak ke jalan Alloh عز وجل , sholat, puasa, sholat malam, dan menangis jika membaca Al Qur’an?”

            Wahai Ahlussunnah, masalahnya adalah: kebenaran itu harus ditolong, dan kebatilan itu harus ditelantarkan.

            Kemudian perasaan-perasaan yang berhadapan dengan kebenaran ini tidak ada di kalangan Salafush Sholih عليهم رحمة الله.

            Ini dia Aban bin Abi ‘Ayyasy, Ibnu Hibban berkata tentangnya: “Aban termasuk dari kalangan ahli ibadah yang begadang di malam hari dengan sholat, dan melipat siang dengan puasa, …” Akan tetapi dia itu lemah dalam masalah hadits. Bersamaan dengan ini Syu’bah mengkritiknya, sebagaimana dalam biografi Aban di “Mizan”: “Aku lebih suka untuk meminum kencing keledai sampai hilang hausku daripada aku mengatakan: haddatsana Aban bin Abi ‘Ayyasy.”

            Dan Adz Dzahabiy juga menyebutkan atsar dari Hammad bin Zaid yang berkata: “Kami mengajak bicara Syu’bah agar menahan kritikan terhadap Aban bin Abi ‘Ayyasy, karena usia tuanya dan karena keluarganya, maka beliau menjamin untuk melakukan itu. Lalu kami berkumpul di suatu jenazah, maka Syu’bah menyeru dari kejauhan: “Wahai Abu Isma’il, saya telah rujuk dari jaminan tadi, menahan kritikan dari dirinya itu tidak halal, karena perkara ini adalah agama.”

            Dan ini Abdulloh bin Muharror, Ibnu Hibban berkata tentangnya: “Abdulloh ini adalah termasuk para hamba Alloh yang terbaik, akan tetapi dia berdusta dan tidak tahu, dia membalik berita dan tidak memahami, …”

Abdulloh Ibnul Mubarok berkata,”Andaikata aku diberi pilihan antara masuk ke dalam jannah ataukah berjumpa dengan Abdulloh bin Muharror, niscaya aku akan memilih untuk berjumpa dengannya baru kemudian aku masuk Jannah. Ketika aku melihatnya ternyata kotoran hewan lebih aku sukai daripadanya.”

Dan contoh-contoh tentang ini itu banyak. Kemudian yang mengherankan adalah orang yang menisbatkan diri pada Ahli Hadits dalam keadaan dia bodoh terhadap thoriqoh mereka, pembelaan mereka, dan jihad mereka terhadap ahlil ahwa wal bida’.

Kemudian aku mengulangi lagi: bagaimana halal bagi si Salimiy dan yang semisal dengannya untuk menisbatkan thoriqoh mereka kepada thoriqoh Asy Syaikh Muqbil رحمه الله , dan bahwasanya beliau itu demikian dan demikian?

Dan dalam pola pujian pada Asy Syaikh Muqbil رحمه الله itu mereka menyindir untuk mencerca Asy Syaikh Yahya حفظه الله dan bahwasanya beliau itu menyelisihi Asy Syaikh Muqbil رحمه الله dalam metode jarh wat ta’dil, sementara mereka sendiri tidak menempuh jalan para imam yang terdahulu ataupun juga jalan Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله setelah para imam tadi, dalam masalah nasihat, kritikan pada para tokoh, di atas cahaya dalil-dalil dan bukti-bukti.

Lihatlah sebagai contoh: “Al Mushoro’ah”, “Ghorotul Asyrithoh”, “Fadhoih Wa Nashoih”, “Iskatul Kalbil ‘Awi”, “Al Burkan”, “Riyadhul Jannah”, “Sho’qotul Zilzal”, dan kitab-kitab dan risalah-risalah yang lainnya.

Bahkan Asy Syaikh Muqbil رحمه الله berkata bahwasanya mayoritas kitab-kitab beliau adalah bantahan-bantahan.

Dan bacalah wahai kaum, apa yang dikumpulkan oleh Salim Al Khoukhiy yang terfitnah dengan hizbiyyah yang baru, bersama beberapa saudaranya dalam kitab: ”I’lamul Ajyal Bi Kalamil Imamil Wadi’iy Fil Firoq Wal Kutub War Rijal.” Dan diberi kata pengantar oleh sejumlah masyayikh: Asy Syaikh Yahya, Al Wushobiy, Al Imam, adz Dzammariy, Al Buro’iy dan Ash Shoumaliy.

Maka di manakah perbandingan antara serangan syaikh kalian Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله terhadap para penyeleweng, dan pujian kalian kepada beliau itu, dibandingkan dengan dinginnya kalian sekarang ini bersama dengan orang-orang yang membikin fitnah terhadap sunnah dan Ahlussunnah? Bandingkanlah, niscaya kalian akan tergoncang dan tahulah kalian akan sabarnya Asy Syaikh Yahya untuk menegakkan kewajiban ini. Dan semoga hal itu memberikan faidah pada kalian untuk mengetahui keutamaan pemilik keutamaan.

Asy Syaikh Adz Dzammariy berkata dalam kata pengantar beliau: “Dan seandainya kita membandingkan ucapan Asy Syaikh (Muqbil) dengan ucapan Salaf tentang orang-orang semisal mereka (para penyeleweng itu) niscaya kita dapati bahwa ucapan Salaf bisa jadi lebih keras, …”

Dan aku katakan: “Dan seandainya kita membandingkan ucapan Asy Syaikh Yahya حفظه الله dengan ucapan Asy Syaikh Muqbil رحمه الله terhadap ahli ahwa niscaya kita dapati bahwa ucapan Asy Syaikh Muqbil رحمه الله itu lebih keras.”

Maka kenapa mereka itu mengingkari apa yang dijalani oleh syaikh mereka dan baku tolong dengan setiap orang yang membikin fitnah dalam dakwah beliau, dan membikin kekacauan di markiz beliau, dan mencerca pengganti beliau, dan mereka menancapkan diri mereka sebagai pelindung dan pembela para tukang fitnah tadi? Yang wajib bagi mereka adalah menasihat orang-orang tadi untuk bertobat dan menekuni adab kepada syaikh mereka dan untuk menghormati kebenaran dan sunnah serta kebaikan yang mereka terdidik di dalamnya.

Inilah yang Alloh mudahkan bagi saya untuk menasihati si Salimiy هداه الله dan untuk orang yang semoga Alloh memberinya manfaat dengan nasihat ini.

Dan saya tidak menyebutkan secara keseluruhan dari apa yang ada pada orang tadi, karena maksudku pertama adalah nasihat, lalu yang kedua adalah penjelasan secara singkat.

{وَاللَّهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَعْنَتَكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ } [البقرة: 220]

“Dan Alloh mengetahui orang yang membikin kerusakan dari orang yang membikin perbaikan. Dan jika Alloh mengehendaki niscaya Dia bisa menyusahkan kalian. Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha penuh hikmah.”

            Dan aku tidak menyebutkan di sini kecuali sebagian dari apa yang nampak dari keadaannya. Dan hukum berdasarkan lahiriyyah itu adalah perkara yang sangat mendasar sebagaimana dalam “Shohihul Bukhoriy” dari Umar رضي الله عنه.

            Ini adalah kerja keras dari orang yang sederhana, jika aku telah berbuat baik, maka itu adalah dari Alloh Yang Maha memberi karunia. Tapi jika aku berbuat jelek, maka itu adalah dari diriku sendiri dan dari setan. Dan Alloh dan Rosul-Nya berlepas diri dari itu. Dan cukuplah Alloh sebagai penolongku, dan Dialah sebaik-baik Yang mengurusi. Dan tiada upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.

(selesai penerjemahan, pada tanggal 28 Jumadats Tsaniyah 1434 H).

TENTANG KESESATAN SURURIYYAH

Bab Pertama: Waspadalah Terhadap Pemikiran Yang Menyerupai Kebenaran, Dari Kalangan Musuh-Musuh Yang Menyamar Sebagai Ahlul Haq

RINGKASAN
UCAPAN ULAMA UMMAH
TENTANG KESESATAN SURURIYYAH

Dengan Muroja`ah:
Para Masyayikh dan Pengajar Markaz Induk Darul Hadits Dammaj Yaman –Harosahallohu-:
Asy Syaikh Al Fadhil Al Faqih
Jamil Bin Abdah Ash Shilwi -hafidhahulloh-
Dan Asy Syaikh Al Fadhil
Abu Amr Abdul Karim Al Hajuri -hafidhahulloh-
Dan Asy Syaikh Al Fadhil Al Mujahid
Muhammad bin Husain Al `Amudi Al `Adni -hafidhahulloh- Continue reading “TENTANG KESESATAN SURURIYYAH”

POIN-POIN MEREKA ADALAH HIZBIYYUN

Bismillaahirrohmaanirrohiim

POIN-POIN

MEREKA ADALAH HIZBIYYUN

Ditulis oleh:

Abul ‘Abbas Khadhir bin Nurussalim Al-Mulkiy

Catatan kaki:

Abu Sulaim Sulaiman Al-Amboniy

Darul Hadits Dammaj-Sho’da-Yaman

1430 H

PENGANTAR PENYUSUN

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله حمدا كثيرا مباركا فيه كما يحب ربنا ويرضى, وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. أما بعد:

Tulisan ini merupakan salah satu pelengkap dari poin-poin MEREKA ADALAH HIZBIYYUN yang telah kami susun dalam tulisan kami yang berjudul “MEREKA ADALAH HIZBIYYUN“, apa yang telah kami singgung dari tulisan “MEREKA ADALAH HIZBIYYUN maka pada tulisan ini tidak lagi kami ulangi dalam penyebutkannya. Adapun pada catatan kaki pada tulisan ini maka itu adalah tambahan dari saudara kami yang mulia Abu Sulaim Sulaiman Al-Amboniy –semoga Allah membalasnya dengan kebaikan yang banyak-.

Akhirnya kami memohon kepada Alloh keikhlasan dan kelurusan hati , kata dan perbuatan  dhohir dan bathin  dan menjadikan amalan ini murni hanya untuk menggapai keridoan-Nya semata.

Ditulis oleh:

Abul ‘Abbas Khadhir Al-Mulkiy.

Darul Hadits Dammaj 13 Jumadil Awwal 1430 H.

POIN-POIN MEREKA ADALAH HIZBIYYUN

Adapun hizbiynya mereka, diantaranya:

Asy-Syaikh Muhammad Al-Imâm berkata sebagaimana dalam “Madzâ Yanqimûna Yahyâ” (hal. 6): “Tidak seorangpun yang mencela Asy-Syaikh Al-‘Allâmah Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî kecuali dia seorang yang jâhil atau pengikut hawa nafsu”

Imâm Ibnul Mubârok rohimahullôh berkata:

مَنِ اسْتَخَفَّ بِالعُلَمَاء ذَهَبَتْ آخِرَتُهُ، وَمَنِ اسْتَخَفَّ بِالأُمَرَاء ذَهَبَتْ دُنْيَاهُ، وَمَنِ اسْتَخَفَّ بِالإِخْوَان ذَهَبَتْ مُرُوْءَتُهُ.

”Barangsiapa meremehkan ‘ulamâ hilanglah akhiratnya. Barangsiapa meremehkan umaro’ sirnalah dunianya. Dan barangsiapa meremehkan saudaranya maka lenyaplah muru’ahnya (kewibawaannya)” (“Siyar A’lâmin Nubalâ” 4/hal. 408)

Al-Hâkim An-Naisâburî rohimahullôh berkata:

كُلُّ مَن يُنْسَبُ إِلَى نَوْعٍ مِنَ الإِلْحَادِ وَالبِدَعِ لاَ يَنْظُرُ إِلَى الطَّائِفَةِ المَنْصُوْرَةِ إِلاَّ بِعَيْنِ الحِقَارَة، ..

”Setiap orang yang ternisbatkan kepada suatu jenis penyelewengan dan kebid’ahan, dia itu tidak memandang kepada Ath-Thô’ifatul Manshûroh kecuali dengan pandangan mata kehinaan.” (“Ma’rifatu ‘Ulûmil Hadîts” 1/hal. 6).

Imâm Al-Wâdi’î -rohimahullôh- berkata:

وَمِنْ عَلاَمَاتِ الحِزْبِيِّيْنَ أَنَّهُمْ يَسْخَرُوْنَ مِنَ العُلَمَاء وَيَزْهَدُوْنَ فِي مَجَالَسَةِ العُلَمَاء وَهَذَا مِمَّا تَقَرَّ بِهِ أَعْيُن أَعْدَاءِ الإِسْلاَمِ بَلْ مِمَّا تَقَرَّ بِهِ أَعْيُنِ الشَّيَاطِيْن وَاللهُ المُسْتَعَان.

”Dan di antara alamat para hizbiyyîn adalah bahwasanya mereka mengejek ‘ulamâ, dan mentazhîd (menjadikan orang merasa tidak butuh) dari duduk-duduk dengan ‘ulamâ, dan ini merupakan perbuatan yang membikin senang musuh-musuh Islâm, dan bahkan merupakan perbuatan yang menyenangkan setan-setan, Wallôhul musta’ân.” (“Ghôrotul Asyrithoh” 1/hal. 579)

TANGGAPAN:

Poin ini masuk semua orang-orang yang kami sebutkan dalam buku “Mereka adalah Hizbiyyun“, dan yang menambah nilai plus adalah Abdul Mu’thi dan yayasan Asy-Syari’ah yang dia merupakan tuan rumah dalam penyelenggaraan dauroh dengan mendatangkan dua orang hizbiy bersaudara Abdullah dan Abdurrohman Al-Adniy.

Perbuatan ini persis dengan yang dilakukan oleh surury, ketika Al-Imam Al-Wadi’iy menghizbikan Abdurrohman Abdul Kholiq langsung mereka berupaya membersihkan dan mengangkat namanya dengan diundang ke Indonesia

Dan diantara pujian dari mereka yang paling keterlaluan adalah pujian Kholiful Hadii, dia berkata dalam salah satu darsnya: Syaikh Abul Hasan kalau ceramah wueenak tenan….juara, khutbah jum’at isinya Qalallah wa qala Rasul…., kalau baca hadits pake sanad….wueenak, Ibnu Abdil Bar (yakni Abdul Lathif) itu boleh dia katakan: Qala syaikhuna Abul Hasan…… karena dia keluaran Yaman (yakni mantan murid Abul Hasan).

Ini juga persis dengan Sururiyyin, ketika yayasan yang merupakan tempat mereka bergantung semisal Jum’iyyat Ihyaut Turots Kuwait, Muassasah Haromain Saudi dan Mumtada Al-Sofwa Jakarta dikritik dan divonis hizbiyyah oleh para ulama, maka mereka tidak terima dengan alasan; masalah ijtihadiyyah sebagaimana yang dikatakan oleh Firanda dan kawan-kawannya, kemudian cara itu diikuti oleh mantan Sururiy yang sekarang menjadi hizbiy yang bernama Asykariy bin Jamal Al-Bugisiy yang dia mengemukakan bahwa yayasan dalam da’wah boleh-boleh saja yang dinamai dengan “Mendulang Berkah dengan Membikin Yayasan Salafiyyah” , padahal Al-Imam Al-Wadi’iy rahimahullah berkata:

جمعيات هذه يا إخوان هي وسيلة, وكذا الصندوق أي نعم, الطريق إلى حزبية والوسيلة إلى الحزبية

Yayasan ini, ya ikhwan adalah wasilah (sarana), demikian pula kotak infaq, iya, ini jalan menuju hizbiyyah dan sarana menuju hizbiyyah“. (Kaset pertanyaan Bani Bakr tahun 1421H, setahun sebelum beliau meninggal).

Tidak hanya itu tapi bahkan Al-Imam Al-Wadi’iy langsung memvonis yayasan adalah hizbiyyah, sebagaimana yang dikatakan oleh Asy-Syaikh Kamal bin Tsabit Al-‘Adaniy Al-Hamudiy hafidzahullah dalam “Jinayah Muhammad bin Abdil Wahhab Al-Wushobiy” (hal.2):

ما حصل في فتنة الجمعيات في زمن الشيخ مقبل رحمه الله, والشيخ يقول: هذه حزبية, هذه حزبية, حزبية مغلقة.

Apa yang muncul dari fitnah yayasan-yayasan pada zaman syaikh Muqbil rahimahullah, dan syaikh Muqbil mengatakan: (Yayasan) ini adalah hizbiyyah, ini adalah hizbiyyah, hizbiyyah yang terselubung“.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bekata:

إن الله قال من عادى لى وَلِيًّا فقد آذَنْتُهُ بالحرب

“Sesungguhnya Allah telah berkata: Barangsiapa yang menyakiti wali-waliku, maka Aku izinkan untuk memeraginya” (HR. Bukhariy, lihat pula Jami’ul Ahadits: 8/82).

Dan perbuatan ini telah dijalankan oleh pembela Abdurrohman Al-Adniy yang ada di Indonesia, diantara mereka adalah telah kami sebutkan nama-namanya di buku “Mereka Adalah Hizbiyyun“.

Ini persis dengan Abu Nida’ tidak menvonis Hasan Al-Banna dengan alasan menunggu ulama kibar [sebagaimana termuat dalam majalah As-Sunnah pada rubrik surat pembaca. [Dan yang lain semisal ini telah kami sebutkan nama-namanya dalam buku “Mereka Adalah Hizbiyyun“].

Tidaklah ada dari kalangan salaf yang meminta-minta dengan alasan ta’awun atau alasan da’wah, ini sangat menyelisihi salafush sholih mulai dari zaman nubuwwah hingga zaman Al-Imam Al-Wadi’iy, tidak ada riwayat bahwa Bilal, Abu Huroirah dan para shahabat meminta-minta kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq. [Dan yang lain semisal mereka telah kami sebutkan nama-namanya dalam buku “Mereka Adalah Hizbiyyun“]. Bukan hanya nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan hal itu menyelisihi manhaj para nabi dan rasul sebelumnya, Allah ta’ala berkata:

bÎ*sù öNçFøŠ©9uqs? $yJsù /ä3çGø9r’y™ ô`ÏiB @ô_r& ( ÷bÎ) y“̍ô_r& žwÎ) ’n?tã «!$# ( ßNöÏBé&ur ÷br& tbqä.r& šÆÏB tûüÏHÍ>ó¡ßJø9$# ÇÐËÈ

Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun dari padamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)“. (Yunus: 72).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

الرجل على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

Seseorang tergantung agama temannya. Maka lihatlah salah seorang diantara kalian, siapa yang dijadikan teman“. (HR. Muslim, lihat pula Jami’ul Ahadits: 13/170).

Diantara mereka yang mukim di Ambon adalah Saifullah, Abdussalam, Abu Bakar dan para pengekornya. Dan yang lain semisal mereka telah kami sebutkan nama-namanya dalam buku “Mereka Adalah Hizbiyyun“.

Diantara mereka yang mukim di Jawa: Abdul Mu’thi, Muhaimin, Mukhtar dan orang-orang yang setipe dengan mereka. Yang mukim di Ambon: Saifullah, Abu Bakar dan para pengikutnya. Dan nama-nama mereka telah kami sebutkan dalam buku “Mereka adalah Hizbiyyun” dan yang semisal mereka.

Diantara mereka Abdul Mu’thi, Muhaimin dan orang-orang yang setipe dengan mereka. [Dan yang lain semisal mereka telah kami sebutkan nama-namanya dalam buku “Mereka Adalah Hizbiyyun“].

Jika seseorang memantau mereka maka akan jelas melihat persatuan mereka hanya dalam bentuk zhohirnya saja, dan sudah merupakan ketentuan bahwa kebenaran tidak akan pernah bersatu dengan kesesatan, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Berkata Rosûlullôh

} لاَ يَجْمَعُ اللهُ هَذِهِ الأُمَّةُ عَلَى الضَّلاَلَةِ أَبَدًا { وَقَالَ : } يَدُ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ {

Allôh tidak akan menyatukan umat ini di atas kesesatan selama-lamanya”. Dan beliau berkata: “Tangan Allôh bersama al-jama’ah”.

Ini adalah hadîts Shohîh, sebagaimana terdapat dalam “Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shohîhain lil Hâkim” (Juz: 1, hal. 348) dan dalam “Ash-Shohîh Al-Musnad” (Juz: 1, hal. 514).

Ini sebagaimana yang dilakukan oleh mereka yang telah kami sebutkan dalam buku “Mereka Adalah Hizbiyyun“.

Tidak diragukan lagi bahwa dusta, talbis dan pemutar balikan fakta merupakan rukun hizbiy, yang sekarang mereka lemparkan kepada Salafiyyin supaya manusia menilai salafiyyun adalah hizbiyyun.

Ini sebagaimana dilakukan oleh para hizbiyyun di Ambon, dan diantara mereka telah kami sebutkan dalam buku “Mereka Adalah Hizbiyyun. Apakah mereka tidak tahu atau pura-pura tidak tahu tentang perkataan Allah ta’ala dalam surat At-Taubah (ayat 65):

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآَيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ [التوبة : 65]

Apakah dengan Alloh, ayat-ayatNya, dan Rosul-Nya kalian berolok-olok

Dan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hâtim di dalam “Tafsirnya“, dan Ibnu Jarîr: dari Abdillah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, berkata:

قَالَ: قَالَ رَجُلٌ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ فِي مَجْلِسٍ يَوْمًا: مَا رَأَيْتُ مِثْلَ قُرَّائِنَا هَؤُلاءِ لا أَرْغَبَ بُطُونًا، وَلا أَكْذَبَ أَلْسِنَةً، وَلا أَجْبَنَ عِنْدَ اللِّقَاءِ، فَقَالَ رَجُلٌ فِي الْمَجْلِسِ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ مُنَافِقٌ، لأُخْبِرَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَبَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَنَزَلَ الْقُرْآنُ، قَالَ عَبْدُ اللَّهِ: فَأَنَا رَأَيْتُهُ مُتَعَلِّقًا بِحَقَبِ نَاقَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَنْكُبُهُ الْحَاجِرَةُ وَهُوَ، يَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ،  وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «أَبِاللَّهِ، وَآيَاتِهِ، وَرَسُولِهِ، كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ». الحديث ذكره شيخنا الإمام الوادعي رحمة الله عليه في «الصحيح المسند من أسباب النزول».

Suatu hari seorang laki-laki berkata ketika perang Uhud dalam majlis: Aku tidak melihat seperti mereka para qurrôinâ (pembaca Al Qur’an) yang paling tamak dalam mengisi perutnya, dan yang paling pendusta lisannya, serta yang paling penakut ketika berperang, maka seseorang yang berada di majlis berkata: kamu telah berdusta akan tetapi kamu adalah munâfiq, sungguh akan kukabarkan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka berita itu sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan turun Al Qur’an, Abdullah bin Umar berkata: Maka aku melihatnya bergantung diboncengan unta Rosulullôh shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedang dia terseret dibebatuan (batu mengenai dan melukainya), dan ia mengatakan: Wahai Rasulullah sesungguhnya kami sekedar bercanda dan bermain-main saja, lalu Rosulullôh shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Apakah dengan Alloh, ayat-ayatNya, dan RosulNya kalian berolok-olok“. Al Imâm Al Wâdi’î rohmatullohi ‘alaih menyebutkan hadits ini dalam “Shohîhil Musnad Min Asbâbun Nuzûl“.

Mengolok-olok kaum muslimin saja sudah dilarang apa lagi kalau mengolok-olok perintah atau mengolok-olok syariat Islam yang merupakan sebab dari sebab-sebab pembatal keislaman, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad Abdul Wahhab An-Najdiy rahimahullahu ta’ala, maka hendaklah masing-masing memikirkan akan keselamatannya dia di akhirat kelak, Allah ta’ala berkata:

$pkš‰r’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qà)®?$# ©!$# öÝàZtFø9ur Ó§øÿtR $¨B ôMtB£‰s% 7‰tóÏ9 ( (#qà)¨?$#ur ©!$# 4 ¨bÎ) ©!$# 7ŽÎ7yz $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ÇÊÑÈ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan“. (Al-Hasyr: 18).

Ini salah satu alasan hizbiyyun mereka menolak penjelasan bayan dan burhan karena khobar ahad, mereka mulai menempuh cara-cara mu’tazilah yang menolak khobar ahad.

Diantara mereka yang mukim di Ambon adalah Abdussalam (pemilik madrasah Al-Manshuroh Ambon) dan kawan-kawannya, yang di Jawa diantaranya: Agus Su’aidi bin Husnunnuri As-Sidawiy (pemilik yayasan Al-Bayyinah dan Ma’had Al-Bayyinah Gresik) dan yang semisal mereka.

Pernah terjadi suatu kejadian, ketika Agus Su’aidi mengisi ta’lim di masjid Muhammadiyyah, ada hadirin bertanya (dengan makna): Ya ustadz apa Muhammadiyah bukan termasuk ahlussunnah? Agus Su’aidi dengan penuh perkasa mengeluarkan fatwanya: Bukan termasuk, disebabkan banyak penyelisihan mereka, kemudian disebutkan: Menggunakan ilmu hisab (dalam penentuan awal bulan baik Romadhan, Syawal dll), maka berkata orang Muhammadiyah: ustadz kalau pulang naik onta!, demikian penyelisihan baru satu poin yang disebutkan sudah menimbulkan kemarahan orang Muhammadiyah, lalu bagaimana kalau memiliki banyak poin yang berkaitan langsung dengan manhaj, apakah tidak membuat para hizbiyyun lebih emosi dan marah serta tidak terima sebagaimana tidak terimanya orang-orang Muhammadiyah.

Ini sebagaimana yang dilakukan oleh Luqman Ba’abduh, dan kawan-kawannya, dan telah sampai khabar kepada kami bahwa ketua yayasan Abu Bakar Ash-Shiddiq Ambon menegaskan bahwa mereka berdiri tengah-tengah, namun kenyataan yang ada mereka memihak kepada hizbiyyun, semisal Luqman Ba’abduh dan menerima serta merespon penjelasan dari hizbiyyun tentang bolehnya yayasan, ketika akhuna Ridwan hafidzahullah pada hari sabtu ba’da Asyar menanyakan tentang mereka kepada Asy-Syaikh Muhammad Hizam hafidzahullah dengan disebut muta’ashshibin maka Asy-Syaikh Muhammad Hizam mengatakan: Mereka itu adalah hizbiyyun. Begitu pula pada hari ahad ba’da sholat shubuh akhuna Ridwan menanyakan keadaan mereka kepada Asy-Syaikh An-Nashih Al-Amin maka syaikh menjawab: Ia mereka adalah hizbiyyun.

———————————–