Kaedah Menimbang diantara dua Mudhorot

MEMBEDAH KAEDAH
DALAM MENYELAMATKAN AKIDAH

Tanya:
Ustadz, saya mau bertanya tentang manhaj yang benar dalam menerapkan kaedah “Menempuh kemudharatan yang lebih ringan dalam rangka menjauhi kemudharatan yang lebih besar.”?

Jawab:
Kaedah dengan lafazh:

ارْتِكَابُ أَخَفِّ الضَّرَرَيْنِ.

“Mengambil yang paling ringan terhadap dua kemudharatan.”
Merupakan suatu kaedah yang telah ditetapkan berdasarkan dalil-dalil. Dalam penerapan kaedah ini harus memperhatikan beberapa ketentuan yang berlaku:

Pertama: Ketika tidak ada lagi jalan lain kecuali hanya dengan jalan mengambil kemudharatan.

Adapun kalau masih ada jalan lain dan ada kebebasan untuk menempuhnya maka pasti orang yang bermanhaj benar tidak akan mencobloskan dirinya ke dalam kemudharatan, lebih-lebih kalau kemudharatan itu menodai akidah berupa penyekutuan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam masalah hukum, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah tegaskan:

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۖ.

“Tidak ada hukum kecuali hanya hukum Allah.” [Al-An’am: 57].
Allah ‘Azza wa Jalla berkata:

اَفَحُكْمَ الْجَـاهِلِيَّةِ يَـبْغُوْنَ ۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّـقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ.

“Apakah hukum jahiliyyah yang mereka cari? Hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang berkeyakinan?” (Al-Ma’idah: 50).
Dan Allah ‘Azza wa Jalla berkata:

وَلَا يُشْرِكُ فِيْ حُكْمِهٖۤ اَحَدًا.

“Dan tidaklah Dia bersekutu dengan seorang pun dalam menetapkan hukum-Nya.” (Al-Kahf: 26).

Nabiullah Yusuf ‘Alaihish Shalatu was Salam hidup di tengah-tengah negara yang tidak berhukum dengan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan beliau hidup di dalam istana kerajaannya namun beliau tidak sampai mencobloskan diri beliau ke dalam hukum yang bertentangan dengan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala, beliau diangkat sebagai menteri melalui cara musyawarah langsung dengan rajanya, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala terangkan:

قَالَ اجْعَلْنِيْ عَلٰى خَزَآئِنِ الْاَرْضِ ۚ اِنِّيْ حَفِيْظٌ عَلِيْمٌ.

“Yusuf berkata: Jadikanlah aku menteri negara karena sesungguhnya aku adalah orang yang bisa menjaga (kestabilan negara) lagi berpengetahuan (tentang urusan kenegaraan).”
(Yusuf: 55).

Beliau tidak pernah mengajak rakyat untuk menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menetapkan hukum, bahkan dakwah beliau sangat jelas kepada pemurnian akidah dan tauhid, Allah ‘Azza wa Jalla terangkan kisahnya di dalam surat Yusuf:

اِنِ الْحُكْمُ اِلَّا لِلّٰهِ ۗ اَمَرَ اَلَّا تَعْبُدُوْۤا اِلَّاۤ اِيَّاهُ ۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ وَلٰـكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ.

“Tidak ada hukum kecuali hanya hukum Allah. Dia telah memerintahkan supaya kalian tidak menyembah kecuali hanya kepada-Nya. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Yusuf: 40).

Nabiullah Yusuf ‘Alaihish Shalatu Wassalam menjabat sebagai menteri karena urusan dikembalikan kepadanya, beliau diberi kepercayaan sepenuhnya untuk mengatur urusan kementeriannya sesuai dengan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuji beliau:

وَكَذٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوْسُفَ فِى الْاَرْضِ ۚ يَتَبَوَّاُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَآءُ ۗ.

“Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di bumi untuk tinggal padanya sesuai dengan yang dia kehendaki.” (Yusuf: 56).
Di antara Ahlul ‘Ilmi tidak ingin bergabung dalam suatu organisasi atau tidak mau menjadi mufti dalam suatu lembaga, bahkan sampai berlindung kepada Allah Ta’ala darinya, karena dia merasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia merasa tidak akan pernah bisa berbuat sebagaimana Nabiullah Yusuf ‘Alaihish Shalatu Wassalam yang tidak diatur dan tidak disetir, sementara dia merasa pasti diatur dan disetir oleh Daulah atau Ummah, sehingga muncul rasa takut dari dirinya jangan sampai dia termasuk ‘Ulama Daulah atau termasuk ‘Ulama Ummah yang berfatwa sesuai dengan keinginan negara dan umat. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menggolongkan kita termasuk ke dalam doa Ibnul Utsaimin Rahimahullah:

نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنَا مِنْ عُلَمَاءِ الْمِلَّةِ الْعَامِلِيْنَ بِهَا.

“Kami memohon kepada

Allah supaya Dia menjadikan kita termasuk dari ‘Ulama Millah yang beramal sesuai dengan agama.”

Kedua: Maslahatnya harus jelas, bukan yang masih samar.

Adapun kalau maslahatnya masih samar maka tidak boleh mengambil kemudharatan, karena ini sama halnya judi atau bunuh diri:

وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَاَحْسِنُوْا ۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ.

“Janganlah kalian mencobloskan diri kalian ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Baqarah: 195).

Nabiullah Al-Khidhir diwahyukan untuk membocorkan kapal yang beliau bersama Rasulullah Musa ‘Alaihimash Shalatu was Salam menumpang padanya karena maslahatnya jelas, berkata Al-Khidhir ‘Alaihish Shalatu Wassalam:

فَأَرَدْتُ إِذَا هِيَ مَرَّتْ بِهِ أَنْ يَدَعَهَا لِعَيْبِهَا، فَإِذَا جَاوَزُوا أَصْلَحُوهَا فَانْتَفَعُوا بِهَا.

“Aku ingin jika perahu itu telah melewati raja maka raja akan membiarkannya karena ada kerusakannya. Jika para penumpang kapal telah melewati raja maka mereka memperbaiki kapal tersebut lalu mereka memanfaatkannya.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dari ‘Abdullah bin ‘Abbas dari Ubaiy bin Ka’ab Radhiyallahu ‘Anhum dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Maslahatnya sangat jelas, yaitu raja zhalim tidak jadi merampas kapal yang dilihatnya telah rusak dan juga para penumpang tidak sampai tercobloskan ke dalam laut bahkan kemudian mereka perbaiki lagi kerusakan yang ringan itu.

Ketiga: Adanya keseimbangan antara kerusakan dan kebaikan.

Adapun kalau kerusakannya lebih mengungguli daripada kebaikannya maka tentu orang yang bermanhaj benar tidak akan berani mengambil kemudharatan, karena telah tetap suatu kaedah:

دَفْعُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِِ الْمَصَالِحِ.

“Menolak berbagai kerusakan itu didahulukan daripada mendatangkan berbagai kebaikan.”
Maka kerusakan mana lagi yang lebih besar daripada kerusakan akidah berupa penyekutuan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menetapkan hukum?!
Tidaklah seorang pemuda Radhiyallahu ‘Anhu yang hidup di zaman Bani Israil rela memasrahkan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali sebagai bentuk penolakan nyata terhadap kerusakan yang besar berupa kesyirikan dalam ibadah dan hukum yang ditetapkan oleh pemimpin thaghut, hikmah dari penolakannya terhadap kerusakan tersebut ternyata mendatangkan kebaikan yang besar yaitu manusia serentak beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَقَالَ النَّاسُ آمَنَّا بِرَبِّ الْغُلاَمِ آمَنَّا بِرَبِّ الْغُلاَمِ آمَنَّا بِرَبِّ الْغُلاَمِ.

“Manusia pun mengucapkan: Kami beriman kepada Rabb pemuda itu, Kami beriman kepada Rabb pemuda itu, Kami beriman kepada Rabb pemuda itu.” Diriwayatkan oleh Muslim dari Shuhaib Radhiyallahu ‘Anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Walaupun kemudian pimpinan thaghut menyiksa mereka dengan cara memasukkan mereka ke dalam parit yang menyala-nyala apinya, akan tetapi itu suatu kemaslahatan yang sangat jelas bagi mereka yaitu memperoleh kebahagiaan hidup yang kekal abadi:

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ يَهْدِيْهِمْ رَبُّهُمْ بِاِيْمَانِهِمْ ۚ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهِمُ الْاَنْهٰرُ فِيْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِ.

“Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal shalih, niscaya mereka diberi petunjuk oleh Rabb mereka karena keimanan mereka. Tempat mereka di dalam Surga yang penuh kenikmatan, mengalir di bawah mereka sungai-sungai.” (Yunus: 9).

Keempat: Kemudharatan dapat ditentukan sesuai dengan ketentuan yang meyakinkan.

Adapun kalau kemudharatan itu diamati belum meyakinkan sebagai kemudharatan besar atau kemudharatan ringan maka tidak boleh mengambil kemudharatan, karena telah ada kaedah:

إِذَا اتَّسَعَتِ الرُّؤْيَةُ ضَاقَتِ الْعِبَارَةُ.

“Jika pengamatan meluas maka ibarat menyempit.”
Adapun jika kisah kegembiraan kaum Muslimin tatkala Romawi mengalahkan Persia itu dibawa kepada pembolehan mengambil kemudharatan maka itu sama halnya mempersempit dalam pengamatan, karena kaum Muslimin ketika itu tidak mencobloskan diri mereka dalam persekutuan dengan Romawi ketika memerangi Persia dan mereka tidak pula berko

alisi dengan Romawi dalam meruntuhkan Persia, bahkan kaum Muslimin di zaman pemerintahan Amirul Mu’minin ‘Umar Al-Faruq Radhiyallahu ‘Anhu memerangi Romawi dan berhasil meruntuhkan kerajaan Romawi, serta menguasai wilayah yang pernah dikuasai oleh Persia.

Kelima: Mengambil kemudharatan jika setelah itu mampu mengatasi kemudharatan setelahnya.

Adapun kalau mengambil kemudharatan itu ternyata setelahnya malah menjadikan kemudharatan terus berlanjut atau berulang lagi kejadiannya maka tidak boleh mengambil kemudharatan tersebut, pada kisah Arab Badui yang kencing di masjid dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membiarkannya karena setelah dia kencing maka beliau langsung mengatasinya, beliau berkata:

وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلاً مِنْ مَاءٍ، أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ.

“Tuangkanlah oleh kalian pada kencingnya dengan setimba dari air atau seember dari air.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dan Muslim, dan ini adalah lafazh Al-Bukhariy dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu.
Dan diperjelas pada lafazh Muslim dari hadits Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan bimbingan kepada Arab Badui tersebut dengan berkata:

إِنَّ هَذِهِ الْمَسَاجِدَ لاَ تَصْلُحُ لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْبَوْلِ وَلاَ الْقَذَرِ إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالصَّلاَةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ.

“Sesungguhnya masjid-masjid itu tidak pantas dengan sesuatu berupa kencing ini dan tidak pula kotoran, hanyalah masjid-masjid itu untuk berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, shalat dan membaca Al-Qur’an.”
Setelah mendengarkan bimbingan indah dan penuh hikmah ini membuat Arab Badui sadar dan tidak ada riwayat setelah itu menyebutkan bahwa dia mengulangi lagi perbuatannya.

Ini penjelasan singkat dari kami sebagai penuntut ilmu, dan kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala supaya menambahkan ilmu kepada kita, menjadikan kita mati di atas ilmu dan semoga Dia menjadikan penjelasan singkat ini sebagai upaya bagi kita dalam melerai penyelisihan dan menyudahi penentangan terhadap kebenaran.

(Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir di masjid Baabut Taubah Kemang Pratama 1 Bekasi pada 13 Syawwal 1439).

⛵️ http://t.me/majaalisalkhidhir

http://t.me/ilmui

Iklan

Penulis: Admin

Ingatlah bahwa tiada yang berhak disembah selain Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s