Tata cara Takbir ied

TENTANG BEBERAP PERMASALAHAN HUKUM SEPUTAR TAKBIRAN DALAM HARI RAYA IDUL FITRI

Masalah (1) : “Mohon dijelaskan, apa hukumnya “takbir” (yakni “takbiran”dalam istilah yang dikenal di negeri kita, edt.) dalam Idul Fithri dan Idul Adha itu ?”

Jawab :

Para ulama telah sepakat, bahwa takbir di Hari Raya Idul Fithri dan Idul Adha itu disyari’atkan.

Hanya saja, salah satu riwayat dari Abu Hanifah dan An-Nakho’i berpendapat : “Tidak disyari’atkan takbir pada Idul Fithri.

Adapun Dawud Ad-Dhohiri berlebih-lebihan dalam masalah ini, sampai mengatakan : “Wajibnya takbir dalam Idul Fithri.”

Dan yang benar adalah bahwa takbir itu disyari’atkan untuk dua hari raya tersebut.

Dalil yang menunjukkan hal itu, adalah hadits Ummu Athiyyah rodhiyallohu ‘anha, yang berkata :

أمرنا أن نخرج العوائق والحيض في العيدين : يشهدن الخير ودعوة المسلمين، ويعتزل الحيض المصلى [ وفي رواية لها زيادة : يكبرن مع الناس ]

“Kami diperintah (oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam) untuk mengeluarkan (yakni menyuruh keluar) para wanita pingitan, dan para wanita yang haid di dua hari raya, agar mereka bisa menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin. Dan untuk wanita yang haid, agar menjauhi tempat sholat (yakni dia berada di tempat yang paling belakang, edt.).”

Dalam riwayat lainnya, juga masih dalam As-Shohihain ada tambahan :

“agar para wanita itu juga ikut bertakbir bersama manusia/orang-orang yang lainnya.”

(HR Imam Al-Bukhori no. 324 dan Imam Muslim no. 890)

Dan tentang takbir di hari raya ini pula, ditegaskan oleh Alloh Ta’ala dalam firman-Nya :

وَلِتُكۡمِلُواْ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ١٨٥

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (yakni menyempurnakan bulan Romadhon tersebut, edt.) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (yakni bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS Al-Baqoroh : 185)

Alloh Ta’ala juga berfirman :

۞وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡدُودَٰتٖۚ ٢٠٣

“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang ditentukan…..” (QS Al-Baqoroh : 203).

Ayat ini adalah perintah Alloh untuk berdzikir (diantaranya dengan bertakbir), yakni mulai pagi hari tanggal 9 Dzulhijjah (hari Arofah) dan berakhir hingga akhir hari Tasyriq (tanggal 13 Dzulhijjah).

Catatan : khususnya ini untuk takbir yang diperintahkan pada Hari Raya Idul Adha.

Demikianlah. Kesimpulannya, bertakbir (takbiran) adalah perkara yang disyari’atkan untuk dikumandangkan/dibaca pada dua hari raya, yakni baik untuk Idul Fithri maupun untuk Idul Adha.

Masalah (2) : “Kapankah waktu dimulainya mengumandangkan takbir tersebut, khusunya untuk Hari raya Idul Fithri ? Dan kapan pula waktu berakhirnya ?”

Jawab :

Tentang takbir untuk Hari Raya Idul Fitri, para ulama berbeda pendapat tentang kapan waktu memulai bertakbir untuk hari raya Idul Fithri tersebut.

Diantaranya adalah sebagai berikut :

Pertama : Imam As-Syafi’i dan para sahabatnya (yakni para ulama madzhab Syafi’iyyah), demikian pula para ulama Hanabilah, mereka berpendapat : “Dimulai takbir itu adalah ketika telah nampak “hilal” Syawal (yakni terbitnya/munculnya bulan sabit tanggal 1 Syawal), dan tenggelamnya matahari di akhir Romadhon.”

Ini juga adalah pendapat dari Sa’id bin Al-Musayyab, Urwah bin Az-Zubair, Abu Salamah, Zaid bin Aslam, dan pendapat yang dipilih juga oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh.

Kedua : Sebagian ulama berpendapat : “Takbir itu dimulai ketika seseorang keluar dari rumahnya di pagi hari menuju ke tanah lapang untuk menunaikan sholat ied.

Ini adalah pendapatnya Imam Malik dan Al-Auza’i rohimahulloh.

Pendapat ini dianggap sebagai pendapatnya Jumhur ulama, tetapi ini tidak benar.

Dari dua pendapat tersebut di atas, mana yang shohih ?

Guru kami, Syaikh Muhammad bin Ali bin Hizam hafidzhohulloh menegaskan :

“Yang insya Alloh shohih (benar) adalah pendapat yang pertama. Hal itu karena Alloh Ta’ala menyebutkan tentang “takbir” setelah selesainya (sempurnanya) puasa Romadhon (sebagaimana di akhir surat Al-Baqoroh ayat 185 yang telah disebutkan di atas).

Yang demikian itu (yakni disyari’atkannya untuk memulai takbir) itu adalah dengan tenggelamnya matahari di akhir Romadhon. Wallohu a’lamu bis showab.

(lihat : Fathul ‘Allam, 2/192)

Hal ini juga sebagaimana yang dirojihkan oleh guru kami, Syaikh Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al-Hajury hafidzhohulloh, sebagaimana beliau sampaikan dalam pelajaran yang pernah kami dengar langsung dari beliau, wallohu a’lam bis showab.

Selanjutnya, tentang waktu akhir bertakbir untuk Idul Fithri, kebanyakan ulama berpendapat : “Berakhirnya adalah dengan ditunaikannya sholat Ied.

Dan dalam masalah ini, tidak ada khilaf (perbedaan pendapat) di antara para ulama, walhamdulillah.

(lihat pembahasan seputar masalah ini dalam : Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (5/41), Al-Ausath (4/250), Al-Mughni (3/255) dan Majmu’ Al-Fatawa (24/221) karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dll)

Masalah (3) : “Kapankah dan dimanakah kita disyari’atkan untuk mengumandangkan takbir (takbiran) tersebut ?”

Jawab :

Dalam masalah ini, Al-Hafidz Ibnu Rojab Al-Hambali rohimahulloh ketika memberikan penjelasan tentang takbir pada hari raya Idul Adha mengatakan sebagai berikut :

“Dzikir (yakni bertakbir) pada hari-hari tersebut, ada dua macam :

Pertama, yang terikat waktunya setelah selesai sholat-sholat fardhu.

Kedua, yang mutlak, boleh dilakukan di sembarang waktu (kapan saja dan dimana saja).

Adapun jenis yang pertama (yakni yang terikat waktunya setelah selesai sholat-sholat fardhu), para ulama bersepakat tentang disyari’atkannya takbir setelah selesai sholat-sholat fardhu pada hari-hari tasyriq tersebut secara global saja, tidak ada dalil hadits yang marfu’ lagi shohih (dalam masalah ini), hanya saja yang ada adalah atsar-atsar dari para sahabat dan orang-orang sesudah mereka. Dan kaum muslimin pun mengamalkannya (sampai hari ini).”

( Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhori, Kitabul Iedain, Bab 12)

Al-Imam An-Nawawi rohimahulloh juga menukilkan adanya Ijma’ (kesepakatan) para ulama tentang masalah tersebut (yakni disyari’atkannya takbir setelah selesai dari sholat-sholat fardhu), sebagaimana dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (5/32).

Akan tetapi, Guru kami, Syaikh Muhammad bin Ali bin Hizam hafidzhohulloh menyatakan :

“Meskipun demikian, yang kami pilih adalah bahwa seseorang itu hendaknya berdzikir setelah sholat fardhu lebih dulu (yakni dengan dzikir-dzikir ba’da sholat seperti biasanya), baru kemudian dia bertakbir sesuai kehendaknya.

Hal itu karena tidaklah tsabit hadits dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bertakbir (secara langsung) setelah selesai sholat-sholat fardhu. Dan sebaik-baik petunjuk itu adalah petunjuk Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.”

( Fathul Allam, 2/195)

Masalah (5) : “Apakah dibolehkan bertakbir setelah menunaikan sholat-sholat sunnah ?”

Jawab :

Dalam masalah ini, Abu Ja’far As-Shodiq dan Imam As-Syafi’i dalam salah satu pendapat beliau yang paling masyhur menyatakan : “Disunnahkan untuk bertakbir setelah sholat sunnah, sebagaimana bertakbir setelah sholat-sholat fardhu.”

Ini juga adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnul Mundzir rohimahulloh.

Adapun mayoritas para ulama, mereka berpendapat : bahwa bertakbir itu hanyalah disunnahkan setelah sholat-sholat fardhu saja.

Dan ini juga pendapat beberapa orang sahabat Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Dan yang insya Alloh benar dalam masalah ini adalah : Tidak ada dalil yang shohih tentang disunnahkannya bertakbir setelah selesai sholat fardhu (sebagaimana penjelasan sebelum ini yang telah disebutkan di atas). Demikian pula setelah sholat-sholat sunnah.

Jadi, bertakbir itu kapan saja boleh, baik yang terikat waktunya setelah selesai sholat, maupun di sembarang waktu. Baik setelah sholat fardhu, maupun setelah sholat sunnah. Wallohu a’lamu bis showab.

(lihat : Al-Ausath (4/308), dan Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhori, dalam Kitabul Iedain, Bab 12)

Masalah (6) : “Bagaimanakah lafazd takbir yang benar itu ? Dan bagaimanakah cara mengumandangkan takbir tersebut, dengan cara berjama’ah (bersama-sama) ataukah dengan membaca sendiri-sendiri ?”

Jawab :

Dalam masalah lafadz/bacaan “takbir”, tidak ada riwayat hadits yang shohih dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam.

Yang ada adalah riwayat-riwayat dari sebagian para sahabat Nabi rodhiyallohu ‘anhum ajma’in dan para ulama salaf lainnya.

Diantaranya adalah sebagai berikut :

Pertama, diantara mereka ada yang memilih untuk mengucapkan :

الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله ، والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد
ً
Telah shohih lafadz takbir ini dari Ali bin Abi Tholib, Ibnu Mas’ud dan Ibnu Umar rodhiyallohu ‘anhum. Hanya saja riwayat dari Ibnu Umar, di dalam sanadnya ada Al-Hajjaj bin Arthoh, dia ini dho’if.

Para ulama yang berpendapat untuk bertakbir dengan takbir ini, diantaranya adalah An-Nakho’i, Ats-Tsaury, Imam Ahmad, Ishaq, An-Nu’man, dan Muhammad bin Al-Hasan.

Kedua, diantara mereka ada yang memilih untuk bertakbir tiga kali :

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر

Ini adalah pendapatnya Imam Malik, Imam As-Syafi’i, dan Al-Hasan Al-Bashri rohimahumulloh.

Ketiga, diantara mereka ada yang memilih untuk mengucapkan :

الله أكبر، الله أكبركبيرا، الله أكبركبيرا، الله أكبر وأجل، الله أكبر ولله الحمد

Ini adalah pendapatnya Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhuma.

Keempat, ada pula yang memilih untuk mengucapkan :

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله لا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد، وهو على كل شيء قدير

Ini adalah pendapat yang diriwayatkan dari Ibnu Umar rodhiyallohu ‘anhuma. Tetapi riwayat tersebut di dalam sanadnya ada Abdulloh bin Umar Al-Umary, dia dho’if.

Kelima, ada pula yang memilih untuk bertakbir dengan mengucapkan :

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر كبيرا

Ini adalah pendapatnya Salman Al-Farisy rodhiyallohu ‘anhu, sebagaimana dikeluarkan riwayat ini dalam Mushonnaf Abdur Rozzaq dengan sanad yang shohih, sebagaimana juga dinyatakan shohihnya sanad tersebut oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolani rohimahulloh dalam Fathul Bari (pada hadits no. 970).

Keenam, sebagian para ulama ada yang berpendapat, bahwa lafadz takbir itu tidak dibatasi oleh bacaan/lafadz tertentu dan jumlah yang tertentu pula.

(Jadi, terserah membaca lafadz takbir yang mana saja, yang penting masuk dalam pengertian bacaan takbir, dan terserah pula berapa kali mengucapkannya.

Hal itu karena tidak ada dalil yang shohih dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan pada kita bacaan lafadz takbir yang tertentu).

Ini adalah pendapat dari Al-Hakam dan Hammad bin Salamah. Bahkan Imam Ahmad bin Hambal rohimahulloh mengatakan : “(huwa waasi’)”, artinya : “ini adalah masalah yang luas.” (yakni banyak peluang untuk berijtihad, dan perlunya saling toleransi dalam menyikapi bermacam-macam ijtihad tersebut, wallohu a’lam).

(lihat : Tafsir Al-Qurthubi)

Ibnul Mundzir rohimahulloh juga menyatakan : “Imam Malik rohimahulloh tidak membatasi masalah ini.” (yakni membolehkan bertakbir dengan lafadz yang mana saja, edt.)

Guru kami, Syaikh Muhammad bin Ali bin Hizam hafidzhohulloh juga menegaskan :

“Dalam masalah ini, pendapat (yang terakhir) inilah pendapat yang benar.” (yakni, bolehnya bertakbir dengan lafadz yang mana saja, selama hal itu adalah takbir, bukan yang selainnya, wallohu a’lamu bis showab, edt.).

(lihat : Al-Ausath (4/303-305), Al-Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah (2/167-168), Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (5/40), Al-Mughni (3/290). Lihat pula : Fathul ‘Allam (2/197) )

Kemudian tentang cara membacanya, kalau kita perhatikan amalan kebanyakan kaum muslimin di hari ini, mereka membacanya dengan cara “berjama’ah” (bersama-sama, dibawah komando satu orang/imam).

Lalu benarkah cara seperti ini ?

Ketahuilah wahai saudaraku kaum muslimin …..

Bertakbir secara berjama’ah dengan satu suara (dan dipimpin/dikomando satu orang imam), hal ini adalah tidak disyari’atkan.

Bahkan hal ini termasuk perkara bid’ah dalam agama kita ini.

Yang insya Alloh benar adalah hendaknya masing-masing orang membacanya sendiri-sendiri dengan mengeraskan bacaan takbirnya, tanpa mesti harus dengan satu suara (bersamaan), karena hal seperti ini tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, dan juga tidak pernah diamalkan oleh para sahabat beliau rodhiyallohu ‘anhum ajma’in.

Sementara itu, kita mengetahui bahwa Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

“Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak (yakni tidak diterima).” (HR Imam Muslim)

(lihat : Fatawa Lajnah Ad-Daimah (8/310 dst), Fathul ‘Allam (2/197-198) )

Wallohu a’lamu bis showab !

Demikianlah beberapa pembahasan tentang permasalahan takbir yang bisa kami sampaikan, semoga bisa menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semuanya, barokallohu fiikum.

Surabaya, Kamis pagi yang sejuk, 29 Romadhon 1439 H / 14 Juni 2018

Akhukum fillah, Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

✅ 🄹🄾🄸🄽 🄲🄷🄰🄽🄽🄴🄻 🖌
https://t.me/DarsTanjungPinang

📎 https://t.me/joinchat/AAAAAESpXea4FOvxr3M0SA

Iklan

Penulis: Admin

Ingatlah bahwa tiada yang berhak disembah selain Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s