Cara Duduk tasyahhud pada sholat yg dua roka’at saja.

Pertanyaan Kedua dari Fatwa Nomor2232
Pertanyaan 2: Jika seseorang salat dua rakaat seperti salat Subuh misalnya, apakah dia duduk iftirasy (membaringkan kaki kiri lalu mendudukinya dan menegakkan telapak kaki kanannya) atau duduk tawarruk (duduk dengan kaki kiri melintang di bawah kaki kanan dan telapak kaki kanan ditegakkan) ketika duduk tasyahud?
Jawaban 2: Tawarruk pada salat yang dua rakaat, baik fardu atau sunah, atau duduk iftirasy adalah termasuk masalah yang diperselisihkan oleh para ulama fikih. Ada yang berpendapat, “Duduk iftirasy.” Hal itu berdasarkan kepada hadis Wa’il bin Hujr radhiyallahu anhu, "Ia melihat Nabi ShallallahuAlaihi wa Sallam salat kemudian bersujud, kemudian duduk lantas membaringkan kakinya yang kiri.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasai, dan Tirmidzi). Tirmidzi berkata, "Hadis Hasan Sahih." Mereka juga berdalil dengan hadis Rifaah bin Rafiradhiyallahuanhu bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada seorang Arab Badui, Apabila kamu bersujud, maka kokohkan sujudmu dan jika kamu duduk, maka duduklah di atas kakimu yang sebelah kiri (HR. Imam Ahmad). Dan dengan hadits Abu Humaid
(Nomor bagian 7; Halaman 16)
radhiyallahu
anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam duduk untuk tasyahud, menghamparkan kaki kirinya, dan mengarahkan kaki kanannya menghadap kiblat (duduk iftirasy, pent)." Hadis dikeluarkan oleh Tirmidzi dan dia berkata, "Ini hadis hasan sahih dari hadis Abu Humaid." Dasar lainnya adalah hadis Abu al-Jawza dari Aisyah radhiyallahu anha, dia berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam memulai salat dengan takbir dan memulai bacaan dengan membaca alhamdu li-llaahi rabbi-l-aalamiin (surat al-Fatihah)”. hingga dia berkata, Rasulullah membaringkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (HR. Ahmad, Muslim, dan Abu Dawud). Ibnu Abdil Bar menganggap hadis ini sebagai hadis mursal. Dia berkata, "Sesungguhnya Abu al-Jawza tidak mendengar dari Aisyah radhiyallahu anha."
Meskipun hadis-hadis ini dalam bentuk umum, hadis Abu Humaid as-Sa
idi radhiyallahu anhu tentang sifat salat Nabi ShallallahuAlaihi wa Sallam mengikat keumuman ini. Dia membedakan antara duduk tasyahud pada rakaat terakhir pada salat yang empat rakaat dan duduk tasyahud pada salat yang dua rakaat. Dia menyebut duduk tawarruk pada rakaat keempat dan duduk iftirasy pada rakaat kedua. Teks hadis Abu Humaid as-Saidi adalah dia, sebagai salah seorang sahabat Rasulullah ShallallahuAlaihi wa Sallam, berkata
(Nomor bagian 7; Halaman 17)
Aku adalah orang yang paling ingat di antara kalian tentang salat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Aku melihatnya tatkala bertakbir, ia menjadikan kedua tangannya sejajar dengan kedua pundaknya. Jika rukuk, ia menetapkan kedua tangannya pada kedua lututnya, lalu meluruskan punggungnya. Jika bangkit dari rukuk, maka ia berdiri tegak hingga setiap dari tulang belakangnya kembali ke tempatnya. Jika sujud, maka ia meletakkan kedua tangannya tanpa menidurkannya atau melekatkannya (pada lambungnya) dan menghadapkan jari-jari kakinya ke arah kiblat. Jika duduk pada rakaat kedua, maka ia duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan (duduk iftirasy). Jika duduk pada rakaat terakhir, maka ia mengedepankan kaki kirinya dan menegakkan kaki yang lain, dan duduk di atas tempat duduknya – bukan di atas kaki kiri- (duduk tawarruk). (HR. Bukhari). Dalam riwayat Abu Humaid as-Sadi lainnya yang diriwayatkan oleh lima perawi hadis, kecuali Nasa'i, dan disahihkan oleh Tirmidzi, sampai ketika pada rakaat terakhir dari salat, maka ia menggeser kaki kirinya dan duduk tawarruk kemudian salam Mereka berkata, "Engkau benar, demikianlah Nabi ShallallahuAlaihi Wasallam Salat.” Hal ini menunjukkan bahwa duduk tawarruk dilakukan ketika tasyahud pada rakaat keempat dan rakaat ketiga pada salat Magrib. Posisi duduk yang lain, sesuai dengan yang dijelaskan oleh teks-teks dalil, adalah duduk iftirasy, baik duduk pada rakaat kedua saat tasyahud pada salat yang dua rakaat, duduk tasyahud awal pada salat yang tiga rakaat dan yang empat rakaat maupun duduk di antara dua sujud.
Imam Syafii beserta sekelompok ulama berpendapat, "Duduk tawarruk pada duduk tasyahud dalam salat yang dua rakaat, baik fardu seperti Subuh maupun sunah, karena berada pada rakaat akhir salat." Oleh karena itu, tawarruk masuk ke dalam sifat umum dari perkataan Abu Humaid as-Saidi radhiyallahu anhu, sampai ketika pada rakaat terakhir dari salat, Nabi menggeser kaki kirinya dan duduk tawarruk kemudian salam
(Nomor bagian 7; Halaman 18)
Mereka pun menyebut hadis-hadis duduk iftirasy untuk tasyahud awal dalam salat yang empat rakaat dan duduk di antara dua sujud untuk mempertemukan semua dalil yang ada. Namun, pendapat yang terkuat adalah pendapat pertama karena sesuai dengan makna zahir hadis.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu
Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Anggota
Ketua
Abdullah bin Qu’ud
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Iklan

Penulis: Admin

Ingatlah bahwa tiada yang berhak disembah selain Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s