Inilah ‘Aqidah Kami, ‘Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah Dengan Dalil-Dalilnya

Inilah ‘Aqidah Kami, ‘Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah

Dengan Dalil-Dalilnya

Inilah ‘Aqidah Kami Dengan Dalil-Dalilnya

 

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Inilah ‘Aqidah Kami, ‘Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah

Dengan Dalil-Dalilnya:

1)  Kami beriman bahwa Alloh Al-Akbar mutlak ada tanpa ada yang mengadakan, Dia ada tanpa permulaan dan tanpa kebinasaan, hanya Dialah pencipta segala sesuatu, hanya Dialah pencipta, pengatur dan penguasa alam semesta.

Alloh ta’ala berfirman:

÷Pr& (#qà)Î=äz ô`ÏB Ύöxî >äóÓx« ÷Pr& ãNèd šcqà)Î=»y‚ø9$# ÇÌÎÈ

      “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” (Atthuur: 35).

߉ôJysø9$# ¬! Å_Uu‘ šúüÏJn=»yèø9$# ÇËÈ

      “Segala puji hanya bagi Alloh, Tuhan semesta alam.” (Al-fatihah: 1)

 

2)  Kami beriman bahwa Alloh Al-Bashir wa Assamii’ (Yang Maha Melihat dan Maha Mendengar) berada tinggi di atas langit istiwa’ di atas ‘arsyNya dan ilmuNya meliputi segala sesuatu.

 

LäêYÏBr&uä `¨B ’Îû Ïä!$yJ¡¡9$# br& y#Å¡øƒs† ãNä3Î/ uÚö‘F{$# #sŒÎ*sù š†Ïf â‘qßJs? ÇÊÏÈ   ÷Pr& LäêYÏBr& `¨B ’Îû Ïä!$yJ¡¡9$# br& Ÿ@řöãƒ öNä3ø‹n=tæ $Y6Ϲ%tn ( tbqçHs>÷ètG|¡sù y#ø‹x. ̍ƒÉ‹tR ÇÊÐÈ

      “Apakah kamu merasa aman terhadap (Alloh) yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?, Atau Apakah kamu merasa aman terhadap (Alloh) yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku?” (Al-Mulk: 16-17)

 

Dan dalam Hadits yang panjang dari Mu’awiyyah bin Al-Hakam As-Sulamiy  Rodhiallaahu ‘anhu berkata: “… Maka setelah budak wanita tersebut dibawa ke hadapan beliau (Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam), beliau bertanya kepadanya: “Di mana Alloh?” Dia menjawab: “Di atas langit.” Beliau bertanya lagi: “Siapa aku?” Budak itu pun menjawab: “Engkau adalah Utusan Alloh.” Setelah mendengar jawaban tersebut, beliau bersabda: “Merdekakan dia, karena dia adalah seorang mukminah (wanita yang beriman).” (HR. Muslim Rahimahullaah no. 537 cetakan lain  no. 836)

 

3)  Kami beriman bahwa satu-satunya agama yang diterima di sisi Alloh ta’ala hanyalah Islam.

 

¨bÎ) šúïÏe$!$# y‰YÏã «!$# ÞO»n=ó™M}$#  ÇÊÒÈ

      “Sesungguhnya agama (yang diridhoi) disisi Alloh hanyalah Islam.” (Ali Imron: 19)

 

`tBur Æ÷tGö;tƒ uŽöxî ÄN»n=ó™M}$# $YYƒÏŠ `n=sù Ÿ@t6ø)ムçm÷YÏB uqèdur ’Îû ÍotÅzFy$# z`ÏB z`ƒÌÅ¡»y‚ø9$# ÇÑÎÈ

      “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imron: 85)

 

4)  Kami beriman bahwa laailaahaillallooh (tiada yang berhak disembah selain Alloh), Dialah satu-satunya yang berhak disembah, Tiada tandingan bagi Alloh dalam ibadah kepadaNya.

 

ö@è% šcr߉ç7÷ès?r& `ÏB Âcrߊ «!$# $tB Ÿw à7Î=ôJtƒ öNà6s9 #uŽŸÑ Ÿwur $YèøÿtR 4 ª!$#ur uqèd ßìŠÏJ¡¡9$# ãLìÎ=yèø9$# ÇÐÏÈ

      “Katakanlah: “Mengapa kamu menyembah selain daripada Alloh, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?” dan Alloh-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Al-Maaidah: 76)

ûÓÍ_¯RÎ) $tRr& ª!$# Iw tm»s9Î) HwÎ) O$tRr& ’ÎTô‰ç6ôã$$sù ÉOÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# ü“̍ò2Ï%Î! ÇÊÍÈ

      “Sesungguhnya aku ini adalah Alloh, tidak ada ilaah (yang berhak disembah) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat aku.” (Thoha: 14)

 

5)  Kami beriman bahwa sebaik-baik panutan adalah Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam  dan beliau adalah Nabi dan Rosul Alloh yang terakhir tiada lagi nabi sesudahnya.

 

ô‰s)©9 tb%x. öNä3s9 ’Îû ÉAqߙu‘ «!$# îouqó™é& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöqu‹ø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ

      “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Alloh dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Alloh.” (Al-Ahzab: 21)

 

$¨B tb%x. JptèC !$t/r& 7‰tnr& `ÏiB öNä3Ï9%y`Íh‘ `Å3»s9ur tAqߙ§‘ «!$# zOs?$yzur z`¿ÍhŠÎ;¨Y9$# 3 tb%x.ur ª!$# Èe@ä3Î/ >äóÓx« $VJŠÎ=tã ÇÍÉÈ

      “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi Dia adalah Rosululloh dan penutup nabi-nabi. dan adalah Alloh Maha mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzab: 40)

 

6)  Kami beriman bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam  telah diisro’-mi’rojkan oleh Alloh ta’ala pada suatu malam dari masjidil harom ke masjidil aqsho lalu naik, ke atas langit yang tujuh.

z`»ysö6ߙ ü“Ï%©!$# 3“uŽó r& ¾Ínωö7yèÎ/ Wxø‹s9 šÆÏiB ωÉfó¡yJø9$# ÏQ#tysø9$# ’n<Î) ωÉfó¡yJø9$# $|Áø%F{$# “Ï%©!$# $oYø.t»t/ ¼çms9öqym ¼çmtƒÎŽã\Ï9 ô`ÏB !$oYÏG»tƒ#uä 4 ¼çm¯RÎ) uqèd ßìŠÏJ¡¡9$# 玍ÅÁt7ø9$# ÇÊÈ

      “Maha suci Alloh, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsho yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Al-Isro’: 1)

 

 

¼çmtRr㍻yJçFsùr& 4’n?tã $tB 3“ttƒ ÇÊËÈ   ô‰s)s9ur çn#uäu‘ »’s!÷“tR 3“t÷zé& ÇÊÌÈ   y‰ZÏã Íou‘ô‰Å™ 4‘ygtFZçRùQ$# ÇÊÍÈ   $ydy‰YÏã èp¨Zy_ #“urù’pRùQ$# ÇÊÎÈ   øŒÎ) Óy´øótƒ nou‘ô‰Åb¡9$# $tB 4Óy´øótƒ ÇÊÏÈ   $tB sø#y— çŽ|Çt7ø9$# $tBur 4ÓxösÛ ÇÊÐÈ   ô‰s)s9 3“r&u‘ ô`ÏB ÏM»tƒ#uä ÏmÎn/u‘ #“uŽö9ä3ø9$# ÇÊÑÈ

      “Maka Apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya Dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (An-Najm: 12-18)

 

Dari riwayat Al-Imam Muslim rohimahulloh dalam kitab Shohihnya (hadits no. 162).

 

Diriwayatkan dari shohabat Anas bin Malik Rodhiyallohu ‘anhu, bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

“Didatangkan kepadaku Buraq (ia adalah seekor binatang yang berwarna putih, panjang, ukurannya lebih besar daripada keledai dan lebih kecil daripada baghl (peranakan kuda dengan keledai), hewan ini mampu melangkahkan kakinya sejauh mata memandang). Akupun menungganginya sampai tiba di Baitul Maqdis, kemudian aku tambatkan hewan tersebut di sebuah tali (yang terdapat di pintu masjid Baitul Maqdis). Lalu aku memasuki masjid dan mengerjakan sholat dua raka’at. Setelah itu, aku keluar dan Jibril ‘alaihissalam mendatangiku dengan membawa sebuah bejana yang berisi khomr dan sebuah bejana yang berisi susu. Akupun memilih susu. Kata Jibril ‘alaihissalam: ‘Engkau telah memilih fithrah.’

 

Kemudian kami naik menuju langit, lalu Jibril meminta (kepada malaikat penjaga pintu langit) untuk dibukakan pintu langit. Jibril ditanya: ‘Siapa engkau?’ Dia menjawab: ‘Aku Jibril.’ Jibril ditanya lagi: ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab: ‘Muhammad.’ Dia ditanya lagi: ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab: ‘Dia telah diutus. Maka dibukakanlah untuk kami pintu langit, dan akupun berjumpa dengan Adam, diapun menyambutku dan mendo’akan kebaikan untukku.

 

Kemudian kami naik menuju langit kedua, lalu Jibril ‘alaihissalam meminta untuk dibukakan pintu langit. Jibril ditanya: ‘Siapa engkau?’ Dia menjawab: ‘Aku Jibril.’ Jibril ditanya lagi: ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab: ‘Muhammad.’ Dia ditanya lagi: ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab: ‘Dia telah diutus. Maka dibukakanlah untuk kami pintu langit kedua, dan akupun berjumpa dengan dua anak dari bibi, yaitu ‘Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariyya sholawatullahi ‘alaihima, mereka berduapun menyambutku dan mendo’akan kebaikan untukku.

 

Kemudian kami naik menuju langit ketiga, lalu Jibril ‘alaihissalam meminta untuk dibukakan pintu langit. Jibril ditanya: ‘Siapa engkau?’ Dia menjawab: ‘Aku Jibril.’ Jibril ditanya lagi: ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab: ‘Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam.’ Dia ditanya lagi: ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab: ‘Dia telah diutus. Maka dibukakanlah untuk kami pintu langit kedua, dan akupun berjumpa dengan Yusuf shollallohu ‘alaihi wasallam, dia adalah seorang yang dikaruniai setengah dari ketampanan, dia pun menyambutku dan mendo’akan kebaikan untukku.

 

Kemudian kami naik menuju langit keempat, lalu Jibril ‘alaihissalam meminta untuk dibukakan pintu langit. Jibril ditanya: ‘Siapa engkau?’ Dia menjawab: ‘Aku Jibril.’ Jibril ditanya lagi: ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab: ‘Muhammad.’ Dia ditanya lagi: ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab: ‘Dia telah diutus. Maka dibukakanlah untuk kami pintu langit keempat, dan akupun berjumpa dengan Idris, dia pun menyambutku dan mendo’akan kebaikan untukku. Alloh ‘azza wajalla berfirman tentangnya:

 

وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا

 

“Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (Maryam: 57)

 

Kemudian kami naik menuju langit kelima, lalu Jibril ‘alaihissalam meminta untuk dibukakan pintu langit. Jibril ditanya: ‘Siapa engkau?’ Dia menjawab: ‘Aku Jibril.’ Jibril ditanya lagi: ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab: ‘Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam.’ Dia ditanya lagi: ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab: ‘Dia telah diutus. Maka dibukakanlah untuk kami pintu langit kelima, dan akupun berjumpa dengan Harun shollallohu ‘alaihi wasallam, dia pun menyambutku dan mendo’akan kebaikan untukku.

 

Kemudian kami naik menuju langit keenam, lalu Jibril ‘alaihissalam meminta untuk dibukakan pintu langit. Jibril ditanya: ‘Siapa engkau?’ Dia menjawab: ‘Aku Jibril.’ Jibril ditanya lagi: ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab: ‘Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam.’ Dia ditanya lagi: ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab: ‘Dia telah diutus. Maka dibukakanlah untuk kami pintu langit keenam, dan akupun berjumpa dengan Musa shollallohu ‘alaihi wasallam, dia pun menyambutku dan mendo’akan kebaikan untukku.

 

Kemudian kami naik menuju langit ketujuh, lalu Jibril ‘alaihissalam meminta untuk dibukakan pintu langit. Jibril ditanya: ‘Siapa engkau?’ Dia menjawab: ‘Aku Jibril.’ Jibril ditanya lagi: ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab: ‘Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam.’ Dia ditanya lagi: ‘Apakah dia telah diutus?’ Jibril menjawab: ‘Dia telah diutus. Maka dibukakanlah untuk kami pintu langit ketujuh, dan akupun berjumpa dengan Ibrahim shollallohu ‘alaihi wasallam sedang menyandarkan punggungnya di Al-Baitul Ma’mur, sebuah tempat yang setiap harinya ada 70.000 malaikat yang memasukinya, dan para malaikat yang sudah memasukinya tadi tidak akan kembali lagi.

 

Kemudian aku dibawa menuju Sidratul Muntaha, yang daunnya seperti telinga gajah dan buah-buahannya seperti guci yang besar. Tatkala ketetapan Alloh datang menyelimutinya, berubahlah Sidratul Muntaha itu. Tidak ada seorangpun dari makhluk Alloh yang mampu untuk menggambarkan keadaannya disebabkan sangat indahnya.

 

Alloh pun mewahyukan kepadaku dengan memerintahkan kepadaku sholat 50 waktu sehari semalam. Aku pun turun dan berjumpa dengan Musa shollallohu ‘alaihi wasallam. Dia pun bertanya: ‘Apa yang diwajibkan Robbmu kepada umatmu?’ Aku pun menjawab: ‘Sholat 50 waktu.’ Musa berkata: ‘Kembalilah kepada Robbmu, mohonlah keringanan kepada-Nya karena umatmu tidak akan sanggup memenuhi kewajiban ini, sungguh aku telah menguji Bani Israil (ternyata mereka tidak sanggup).

 

Aku pun kembali kepada Robbku dan aku memohon: ‘Wahai Robbku, berikan keringanan kepada umatku.’ Maka Alloh pun menguranginya sebanyak lima waktu. Kemudian aku kembali menjumpai Musa dan aku katakana kepadanya: ‘Alloh telah mengurangi sebanyak lima waktu.’ Namun Musa tetap mengatakan: ‘Sesungguhnya umatmu belum mampu memenuhi kewajiban ini, kembalilah kepada Robbmu dan mohonlah keringanan kepada-Nya.

 

Terus menerus aku bolak-balik antara Robbku tabaraka wata’ala dengan Musa ‘alaihissalam sampai Alloh menyatakan: ‘Wahai Muhammad, kewajiban sholat itu sebanyak lima waktu sehari semalam, setiap sholat bernilai sepuluh (kebaikan), sehingga nilai keseluruhan dari lima waktu sholat adalah sebanyak 50 waktu sholat. Barangsiapa yang berniat untuk melakukan satu kebaikan namun dia belum mengamalkannya, maka akan dicatat untuknya satu kebaikan. Dan jika dia mengamalkannya, maka akan dicatat untuknya sepuluh kebaikan. Barangsiapa yang berniat melakukan kejelekan namun belum mengerjakannya, maka tidak akan dicatat kejelekan untuknya sedikitpun, dan jika mengerjakan kejelekan itu, maka akan dicatat baginya satu kejelekan.

 

Akupun turun dan berjumpa dengan Musa shollallohu ‘alaihi wasallam dan aku kabarkan tentang apa yang telah aku alami. Maka Musa mengatakan: ‘Kembalilah kepada Robbmu, mohonlah kepada-Nya keringanan. Aku katakan kepadanya: ‘Sungguh aku telah kembali kepada Robbku sampai aku merasa malu kepada-Nya.” (Shohih Muslim: 162)

 

7)  Kami beriman bahwa sholat lima waktu telah diwajibkan bagi setiap muslim yang mukallaf dan siapa yang meninggalkan sholat dengan sengaja maka dia kafir keluar dari islam.

 

#sŒÎ*sù ÞOçFøŠŸÒs% no4qn=¢Á9$# (#rãà2øŒ$$sù ©!$# $VJ»uŠÏ% #YŠqãèè%ur 4’n?tãur öNà6Î/qãZã_ 4 #sŒÎ*sù öNçGYtRù’yJôÛ$# (#qßJŠÏ%r’sù no4qn=¢Á9$# 4 ¨bÎ) no4qn=¢Á9$# ôMtR%x. ’n?t㠚úüÏZÏB÷sßJø9$# $Y7»tFÏ. $Y?qè%öq¨B ÇÊÉÌÈ

      “Maka apabila kamu telah menyelesaikan sholat(mu), ingatlah Alloh di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah sholat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya sholat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisaa’: 103)

 

Jabir  berkata: Saya mendengar Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:

 

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ

“Sungguh yang memisahkan antara seorang laki-laki (baca: muslim) dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat.” (HR. Muslim no. 82)

Asy-Syaukani berkata dalam Nailul Authar (1/403), “Hadits ini menunjukkan bahwa meninggalkan sholat termasuk dari perkara yang menyebabkan terjadinya kekafiran.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah juga menerangkan perbedaan antara kata ‘al-kufru’ (memakai ‘al’) dengan kata ‘kufrun’ (tanpa ‘al’). Dimana kata yang pertama (yang memakai ‘al’/makrifah) bermakna kekafiran akbar yang mengeluarkan dari agama, sementara kata yang kedua (tanpa ‘al’/nakirah) bermakna kafir asghar yang tidak mengeluarkan dari agama. Sementara dalam hadits di atas dia memakai ‘al’. (lihat Iqtidho` Ash-Shiroth Al-Mustaqim hal. 70)

Buraidah -Rodhiallohu anhu- berkata: Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:

 

الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

 

“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah sholat, karenanya barangsiapa yang meninggalkannya maka sungguh dia telah kafir.” (HR. At-Tirmizi no. 2621, An-Nasai no. 459, Ibnu Majah no. 1069 dan dinyatakan shohih oleh Al-Albani dalam Shohih Al-Jami’ no. 4143)

Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin berkata, “Yang dimaksud dengan kekafiran di sini adalah kekafiran yang menyebabkan keluar dari Islam, karena Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam menjadikan sholat sebagai batas pemisah antara orang orang mu’min dan orang orang kafir, dan hal ini bisa diketahui secara jelas bahwa aturan orang kafir tidak sama dengan aturan orang Islam. Karena itu, barang siapa yang tidak melaksanakan perjanjian ini maka dia termasuk golongan orang kafir.”

Dari Abdullah bin Syaqiq Al-Uqaili -rohimahulloh- dia berkata:

 

كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَرَوْنَ شَيْئًا مِنْ الْأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ الصَّلَاةِ

 

“Para sahabat Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam tidak pernah berpendapat mengenai sesuatu dari amal perbuatan yang mana meninggalkannya adalah suatu kekufuran melainkan sholat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2622)

 

8)  Kami beriman bahwa zakat adalah wajib (sesuai syarat dan ketentuannya) dan siapa yang mengingkari kewajibannya maka dia kafir keluar dari islam.

 

õ‹è{ ô`ÏB öNÏlÎ;ºuqøBr& Zps%y‰|¹ öNèdãÎdgsÜè? NÍkŽÏj.t“è?ur $pkÍ5 Èe@|¹ur öNÎgø‹n=tæ ( ¨bÎ) y7s?4qn=|¹ Ö`s3y™ öNçl°; 3 ª!$#ur ìì‹ÏJy™ íOŠÎ=tæ ÇÊÉÌÈ

      “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Alloh Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (At-Taubah: 103).

 

Ç`tã tûüÏB̍ôfßJø9$# ÇÍÊÈ   $tB óOä3x6n=y™ ’Îû ts)y™ ÇÍËÈ   (#qä9$s% óOs9 à7tR šÆÏB tû,Íj#|ÁßJø9$# ÇÍÌÈ   óOs9ur à7tR ãNÏèôÜçR tûüÅ3ó¡ÏJø9$# ÇÍÍÈ

      “Tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam (neraka) Saqar?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak Termasuk orang-orang yang mengerjakan sholat, Dan Kami tidak (pula) memberi Makan orang miskin,” (Al-Muddatsir: 41-44)

 

9)  Kami beriman bahwa puasa Romadhon adalah wajib (sesuai syarat dan ketentuannya) siapa yang mengingkari kewajibannya maka dia kafir keluar dari islam.

 

$yg•ƒr’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä |=ÏGä. ãNà6ø‹n=tæ ãP$u‹Å_Á9$# $yJx. |=ÏGä. ’n?t㠚úïÏ%©!$# `ÏB öNà6Î=ö7s% öNä3ª=yès9 tbqà)­Gs? ÇÊÑÌÈ   $YB$­ƒr& ;NºyŠr߉÷è¨B 4 `yJsù šc%x. Nä3ZÏB $³ÒƒÍ£D ÷rr& 4’n?tã 9xÿy™ ×o£‰Ïèsù ô`ÏiB BQ$­ƒr& tyzé& 4 ’n?tãur šúïÏ%©!$# ¼çmtRqà)‹ÏÜム×ptƒô‰Ïù ãP$yèsÛ &ûüÅ3ó¡ÏB ( `yJsù tí§qsÜs? #ZŽöyz uqßgsù ׎öyz ¼ã&©! 4 br&ur (#qãBqÝÁs? ׎öyz öNà6©9 ( bÎ) óOçFZä. tbqßJn=÷ès? ÇÊÑÍÈ   ãöky­ tb$ŸÒtBu‘ ü“Ï%©!$# tA̓Ré& ÏmŠÏù ãb#uäöà)ø9$# ”W‰èd Ĩ$¨Y=Ïj9 ;M»oYÉit/ur z`ÏiB 3“y‰ßgø9$# Èb$s%öàÿø9$#ur 4 `yJsù y‰Íky­ ãNä3YÏB tök¤¶9$# çmôJÝÁuŠù=sù ( `tBur tb$Ÿ2 $³ÒƒÍsD ÷rr& 4’n?tã 9xÿy™ ×o£‰Ïèsù ô`ÏiB BQ$­ƒr& tyzé& 3 ߉ƒÌãƒ ª!$# ãNà6Î/ tó¡ãŠø9$# Ÿwur ߉ƒÌãƒ ãNà6Î/ uŽô£ãèø9$# (#qè=ÏJò6çGÏ9ur no£‰Ïèø9$# (#rçŽÉi9x6çGÏ9ur ©!$# 4†n?tã $tB öNä31y‰yd öNà6¯=yès9ur šcrãä3ô±n@ ÇÊÑÎÈ

      “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Alloh menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Alloh atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (Al-Baqoroh: 183-185)

 

10)         Kami beriman bahwa haji wajib bagi yang mampu, siapa yang mengingkari kewajibannya maka dia kafir keluar dari islam.

 

ÏmŠÏù 7M»tƒ#uä ×M»uZÉit/ ãP$s)¨B zOŠÏdºtö/Î) ( `tBur ¼ã&s#yzyŠ tb%x. $YYÏB#uä 3 ¬!ur ’n?tã Ĩ$¨Z9$# kÏm ÏMøt7ø9$# Ç`tB tí$sÜtGó™$# Ïmø‹s9Î) Wx‹Î6y™ 4 `tBur txÿx. ¨bÎ*sù ©!$# ;ÓÍ_xî Ç`tã tûüÏJn=»yèø9$# ÇÒÐÈ

      “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Alloh, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Alloh Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (Ali Imron: 97)

 

11)         Kami beriman bahwa hanya Alloh ta’ala yang mempunyai nama-nama dan sifat yang paling indah dan paling agung sebagaimana yang ditetapkan di dalam Al-Qur’an dan Hadits shohih.

 

¬!ur âä!$oÿôœF{$# 4Óo_ó¡çtø:$# çnqãã÷Š$$sù $pkÍ5 ( (#râ‘sŒur tûïÏ%©!$# šcr߉Åsù=ムþ’Îû ¾ÏmÍ´¯»yJó™r& 4 tb÷rt“ôfã‹y™ $tB (#qçR%x. tbqè=yJ÷ètƒ ÇÊÑÉÈ

       “Hanya milik Alloh asmaa-ul husna, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. nanti mereka akan mendapat Balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (Al-A’roof: 180)

 

È@è% (#qãã÷Š$# ©!$# Írr& (#qãã÷Š$# z`»uH÷q§9$# ( $wƒr& $¨B (#qããô‰s? ã&s#sù âä!$yJó™F{$# 4Óo_ó¡çtø:$# 4 Ÿwur öygøgrB y7Ï?Ÿx|ÁÎ/ Ÿwur ôMÏù$sƒéB $pkÍ5 Æ÷tFö/$#ur tû÷üt/ y7Ï9ºsŒ Wx‹Î6y™ ÇÊÊÉÈ

      “Katakanlah: “Serulah Alloh atau serulah Ar-Rohman. dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam sholatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”. (Al-Isro’: 110)

 

ª!$# Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd ( ã&s! âä!$yJó™F{$# 4Óo_ó¡çtø:$# ÇÑÈ

      “Dialah Alloh, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang baik),” (Thoha: 8)

 

12)         Kami beriman bahwa Nama-nama dan sifat Alloh ta’ala sesuai dengan keagunganNya tidak sama dengan makhluq dan tidak sama dengan apa yang kita bayangkan, sebab apa yang kita pikirkan adalah makhluq.

 

ãÏÛ$sù ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur 4 Ÿ@yèy_ /ä3s9 ô`ÏiB öNä3Å¡àÿRr& $[_ºurø—r& z`ÏBur ÉO»yè÷RF{$# $[_ºurø—r& ( öNä.ätu‘õ‹tƒ ÏmŠÏù 4 }§øŠs9 ¾ÏmÎ=÷WÏJx. Öäï†x« ( uqèdur ßìŠÏJ¡¡9$# 玍ÅÁt7ø9$# ÇÊÊÈ

      “(dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.” (Asy-Syuuro: 11)

 

>§‘ ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur $tBur $yJåks]÷t/ çnô‰ç7ôã$$sù ÷ŽÉ9sÜô¹$#ur ¾ÏmÏ?y‰»t6ÏèÏ9 4 ö@yd ÞOn=÷ès? ¼çms9 $wŠÏJy™ ÇÏÎÈ

      “Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, Maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia?” (Maryam: 65)

 

Ÿxsù (#qç/ΎôØs? ¬! tA$sVøBF{$# 4 ¨bÎ) ©!$# ÞOn=÷ètƒ óOçFRr&ur Ÿw tbqçHs>÷ès? ÇÐÍÈ

       “Maka janganlah kamu Mengadakan permisalan bagi Alloh. Sesungguhnya Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”  (Annahl: 74)

 

13)         Kami beriman bahwa Alloh ta’ala telah menciptakan malaikat dari cahaya yang mempunyai sayap yang tidak pernah bermaksiat kepadaNya.

 

߉ôJptø:$# ¬! ̍ÏÛ$sù ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur È@Ïã%y` Ïps3Í´¯»n=yJø9$# ¸xߙ①þ’Í<‘ré& 7pysÏZô_r& 4‘oY÷V¨B y]»n=èOur yì»t/â‘ur 4 ߉ƒÌ“tƒ ’Îû È,ù=sƒø:$# $tB âä!$t±o„ 4 ¨bÎ) ©!$# 4’n?tã Èe@ä. &äóÓx« ֍ƒÏ‰s% ÇÊÈ

      “Segala puji bagi Alloh Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan Malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Alloh menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Faathir: 1)

 

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Aisyah RodhiAllohu ‘anha dalam Shohih Muslim (2996) dia berkata, “bersabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam:

 

خُلِقَتِ المَلَائِكَةُ مِنْ نُوْرٍ وَخُلِقَ الجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ

“Malaikat diciptakan dari cahaya dan jin diciptakan dari api yang bercampur dengan hitamnya api.”

 

14)         Kami beriman bahwa Alloh ta’ala telah menurunkan kitab-kitab yang berisikan kalamNya, tertulis di dalam mushhab, terhafal di dalam dada, dan terucapkan dengan lidah, dan Al-Qur’an adalah kitab terakhir yang menasakh seluruh kitab sebelumnya.

 

ö@t/ uqèd ×b#uäöè% Ӊ‹Åg¤C ÇËÊÈ   ’Îû 8yöqs9 ¤âqàÿøt¤C ÇËËÈ

       “Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, Yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.” (Al-Buruuj: 21-22)

 

tA¨“tR šø‹n=tã |=»tGÅ3ø9$# Èd,ysø9$$Î/ $]%Ïd‰|ÁãB $yJÏj9 tû÷üt/ Ïm÷ƒy‰tƒ tAt“Rr&ur sp1u‘öq­G9$# Ÿ@‹ÅgUM}$#ur ÇÌÈ

       “Dia menurunkan Al kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil,” (Ali-Imron: 3)

 

ö@t/ uqèd 7M»tƒ#uä ×M»oYÉit/ ’Îû ͑r߉߹ šúïÏ%©!$# (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# 4 $tBur ߉ysøgs† !$uZÏF»tƒ$t«Î/ žwÎ) šcqßJÎ=»©à9$# ÇÍÒÈ

      “Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.” (Al-ankabuut: 49)

 

y7ù=Ï? àM»tƒ#uä «!$# $ydqè=÷GtR y7ø‹n=tã Èd,ysø9$$Î/ ( Äd“r’Î7sù ¤]ƒÏ‰tn y‰÷èt/ «!$# ¾ÏmÏG»tƒ#uäur tbqãZÏB÷sムÇÏÈ

      “Itulah ayat-ayat Alloh yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya; Maka dengan Perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (perkataan) Alloh dan keterangan-keterangan-Nya.” (Al-Jatsiyah: 6)

 

15)         Kami beriman bahwa Al-Qur’an adalah kalam (perkataan) Alloh bukan makhluq.

 

÷bÎ)ur Ӊtnr& z`ÏiB šúüÏ.Ύô³ßJø9$# x8u‘$yftFó™$# çnöÅ_r’sù 4Ó®Lym yìyJó¡o„ zN»n=x. «!$# ¢OèO çmøóÎ=ö/r& ¼çmuZtBù’tB 4 y7Ï9ºsŒ öNåk¨Xr’Î/ ×Pöqs% žw šcqßJn=ôètƒ ÇÏÈ

       “Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, Maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar kalam Alloh, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (Attaubah: 6)

 

16)         Kami beriman kepada seluruh berita ghoib yang disampaikan di dalam Al-qur’an dan Hadits yang shohih sanadnya.

 

$O!9# ÇÊÈ   y7Ï9ºsŒ Ü=»tGÅ6ø9$# Ÿw |=÷ƒu‘ ¡ Ïm‹Ïù ¡ “W‰èd z`ŠÉ)­FßJù=Ïj9 ÇËÈ   tûïÏ%©!$# tbqãZÏB÷sムÍ=ø‹tóø9$$Î/ tbqãK‹É)ãƒur no4qn=¢Á9$# $®ÿÊEur öNßg»uZø%y—u‘ tbqà)ÏÿZムÇÌÈ   tûïÏ%©!$#ur tbqãZÏB÷sム!$oÿÏ3 tA̓Ré& y7ø‹s9Î) !$tBur tA̓Ré& `ÏB y7Î=ö7s% ÍotÅzFy$$Î/ur ö/ãf tbqãZÏ%qムÇÍÈ   y7Í´¯»s9’ré& 4’n?t㠓W‰èd `ÏiB öNÎgÎn/§‘ ( y7Í´¯»s9’ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÎÈ

       “Alif laam miin. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghoib, yang mendirikan sholat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (Al-Baqoroh: 1-5)

 

 !$tBur ãNä39s?#uä ãAqߙ§9$# çnrä‹ã‚sù $tBur öNä39pktX çm÷Ytã (#qßgtFR$$sù 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ( ¨bÎ) ©!$# ߉ƒÏ‰x© É>$s)Ïèø9$# ÇÐÈ

       Dan apa yang diberikan Rosul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Amat keras hukumannya. (Al-Hasyr: 7)

 

17)         Kami beriman bahwa Alloh ta’ala telah mengutus para Rosul kepada setiap ummat untuk menyeru kepada peribadatan hanya kepada Alloh dan menjauhi kesyirikan, dan penutup para Rosul adalah Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam  yang diutus kepada seluruh ummat jin dan manusia.

 

ô‰s)s9ur $uZ÷Wyèt/ ’Îû Èe@à2 7p¨Bé& »wqߙ§‘ Âcr& (#r߉ç6ôã$# ©!$# (#qç7Ï^tGô_$#ur |Nqäó»©Ü9$# ( Nßg÷YÏJsù ô`¨B “y‰yd ª!$# Nßg÷YÏBur ïƨB ôM¤)ym Ïmø‹n=tã ä’s#»n=žÒ9$# 4 (#r玍šsù ’Îû ÇÚö‘F{$# (#rãÝàR$$sù y#ø‹x. šc%x. èpt7É)»t㠚úüÎ/Éj‹s3ßJø9$# ÇÌÏÈ

       “Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Alloh (saja), dan jauhilah Thaghut (yang disembah selain Alloh) itu”, Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Alloh dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (Rosul-Rosul).” (Annahl: 36)

 

!$tBur $uZù=y™ö‘r& `ÏB šÎ=ö6s% `ÏB @Aqߙ§‘ žwÎ) ûÓÇrqçR Ïmø‹s9Î) ¼çm¯Rr& Iw tm»s9Î) HwÎ) O$tRr& Èbr߉ç7ôã$$sù ÇËÎÈ

      “Dan Kami tidak mengutus seorang Rosulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada yang berhak disembah melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku”.” (Al-Anbiyaa’: 25)

 

$¨B tb%x. JptèC !$t/r& 7‰tnr& `ÏiB öNä3Ï9%y`Íh‘ `Å3»s9ur tAqߙ§‘ «!$# zOs?$yzur z`¿ÍhŠÎ;¨Y9$# 3 tb%x.ur ª!$# Èe@ä3Î/ >äóÓx« $VJŠÎ=tã ÇÍÉÈ

      “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi Dia adalah Rosululloh dan penutup nabi-nabi. dan adalah Alloh Maha mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzab: 40)

 

!$tBur y7»oYù=y™ö‘r& žwÎ) Zp©ù!$Ÿ2 Ĩ$¨Y=Ïj9 #ZŽÏ±o0 #\ƒÉ‹tRur £`Å3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw šcqßJn=ôètƒ ÇËÑÈ

      “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (Saba’: 28)

 

øŒÎ)ur !$oYøùuŽ|À y7ø‹s9Î) #\xÿtR z`ÏiB Çd`Éfø9$# šcqãèÏJtGó¡o„ tb#uäöà)ø9$# $£Jn=sù çnrçŽ|Øym (#þqä9$s% (#qçFÅÁRr& ( $£Jn=sù zÓÅÓè% (#öq©9ur 4’n<Î) OÎgÏBöqs% z`ƒÍ‘É‹Y•B ÇËÒÈ

      “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, Maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (Al-Ahqoof: 29)

 

18)         Kami beriman bahwa siapa yang meminta kepada orang mati atau kuburan maka dia telah melakukan syirik akbar yang mengeluarkannya dari islam.

$tBur “ÈqtGó¡o„ âä!$u‹ômF{$# Ÿwur ÝVºuqøBF{$# 4 ¨bÎ) ©!$# ßìÏJó¡ç„ `tB âä!$t±o„ ( !$tBur |MRr& 8ìÏJó¡ßJÎ/ `¨B ’Îû ͑qç7à)ø9$# ÇËËÈ

      “Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Alloh memberi pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang didalam kubur dapat mendengar.” (Faathir: 22)

ìNºuqøBr& çŽöxî &ä!$uŠômr& ( $tBur šcrããèô±o„ tb$­ƒr& šcqèWyèö7ムÇËÊÈ

      “(Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup, dan berhala-berhala tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan.” (An-Nahl: 21)

 

 

19)         Kami beriman akan adanya fitnah kubur yaitu pertanyaan di dalam kubur siapa yang mejawabnya dengan benar maka akan berada dalam kenikmatan dan siapa yang sebaliknya akan disiksa.

 

þ’Ìj?yès9 ã@yJôãr& $[sÎ=»|¹ $yJŠÏù àMø.ts? 4 Hxx. 4 $yg¯RÎ) îpyJÎ=x. uqèd $ygè=ͬ!$s% ( `ÏBur NÎgͬ!#u‘ur îˆy—öt/ 4’n<Î) ÏQöqtƒ tbqèWyèö7ムÇÊÉÉÈ

      “Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah Perkataan yang diucapkannya saja. dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.” (Al-Mu’minuun: 100)

 

â‘$¨Y9$# šcqàÊt÷èム$pköŽn=tæ #xr߉äî $|‹Ï±tãur ( tPöqtƒur ãPqà)s? èptã$¡¡9$# (#þqè=Åz÷Šr& tA#uä šcöqtãöÏù £‰x©r& É>#x‹yèø9$# ÇÍÏÈ

       “Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”. (Al-Mu’min: 46)

 

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin: Berkata penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):

 

Maka dikatakan kepada mayit tersebut, “Siapa Robbmu? dan apa agamamu? dan siapa nabimu?”

 

Perkataan beliau, “Siapa Robbmu?” Yakni siapakah Robbmu yang telah menciptakanmu dan engkau beribadah kepada-Nya dan yang engkau khususkan dalam beribadah? terangkum dalam kalimat ini tauhid rububiyah dan uluhiyah.

 

Perkataan beliau, “Apa agamamu?” Yakni apakah amalanmu yang engkau engkau beragama dengannya untuk Alloh Ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya?

 

Perkataan beliau, “Siapakah nabimu?” Yakni siapakah nabi yang engkau beriman dengannya dan engkau mengikutinya?

 

Berkata penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):

 

Maka Alloh meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Alloh menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. (Ibrahim: 27)

 

 

Yakni Alloh Subhanahu wata’ala jadikan mereka teguh dan tidak ragu-ragu, tidak bimbang dalam menjawab. Perkataan yang teguh (al Qoulutstsaabit) adalah kalimat tauhid (Laa Ilaaha illAlloh), sebagaimana firman Alloh Ta’ala,

 

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

 

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Alloh telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,” (Ibrahim: 24)

 

Tentang firman Alloh Ta’ala, “dalam kehidupan di dunia dan di akhirat” kemungkinan pertama (jar dan majrur) berkaitan dengan kata yutsabbit yakni bermakna sesungguhnya Alloh Ta’ala meneguhkan seorang mukmin di dunia dan akhirat. Kemungkinan kedua adalah berkaitan kata atstsaabit sehingga menjadi sifat bagi perkataan tersebut yakni bahwasanya perkataan tersebut akan tetap teguh di dunia dan akhirat.

 

Akan tetapi makna pertama yang lebih baik dan benar karena Alloh Azza wajalla berfirman,

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

 

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Alloh sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (al Anfaal: 45)

 

Dan Alloh Azza wajalla berfirman,

 

إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوا فَوْقَ الأعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ

 

“(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggAlloh kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.” (al Anfaal: 12)

 

Maka mereka orang-orang yang beriman itu tetap teguh di kehidupan dunia dan akhirat dengan perkataan yang tsabit tersebut (kalimat Laa Ilaaha illAlloh)

 

Berkata penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):

 

Maka orang Mukmin akan berkata, “Robbku adalah Alloh, agamaku Islam, dan Muhammad nabiku.”

 

Maka seorang Mukmin akan berkata, “Robbku Alloh” ketika ditanya siapa Robbmu. Dia akan berkata, “agamaku Islam” ketika ditanya apa agamamu? Demikian pula dia akan menjawab, “Muhammad nabiku” ketika dia ditanya siapa nabimu? Maka ketika itu jawabannya telah benar sehinnga ada penyeru dari langit, “Telah benar hamba-Ku maka bentangkanlah tempat tinggalnya di surga, pakaikanlah pakaian dari surga dan bukalah pintu surga untuknya.”

 

Berkata penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):

 

Adapun orang yang ragu-ragu dia akan berkata, “Hah…hah… aku tidak tahu. Aku mendengar manusia mengatakan sesuatu maka akupun ikut mengatakannya.”

 

Orang yang ragu di sini adalah orang-orang yang bimbang, munafik, dan orang yang semisalnya. Perkataan beliau, “Hah…hah… aku tidak tahu. Aku mendengar manusia mengatakan sesuatu maka akupun ikut mengatakannya.” Yakni karena belum masuknya keimanan dalam hatinya, semata-mata dia mengucapkan seperti ucapannya manusia tanpa ada keimanan yang tersambung ke hatinya.

 

Perhatikan perkataan orang tersebut, “Hah…hah.” Seolah-olah ada sesuatu yag hilang dari ingatannya, dan dia ingin mengingat-ingatnya. Maka ini adalah kerugian yang sangat, seolah-olah dikhoyalkan bahwa dia mengetahui jawabannya akan tetapi dia terhalangi darinya. Sehingga mengucapkan, “Hah…hah… aku tidak tahu. Aku mendengar manusia mengatakan sesuatu maka akupun ikut mengatakannya.” Dia tidak mampu berkata, “Robbku adalah Alloh, agamaku Islam, dan Muhammad nabiku.” Karena ketika di dunia dia dalam keadaan ragu dan bimbang.

 

Apabila ditanya di kuburnya maka dia menjadi sangat butuh dengan jawaban yang benar akan tetapi dia tidak mampu dan berkata, “aku tidak tahu. Aku mendengar manusia mengatakan sesuatu maka akupun ikut mengatakannya.” Kalau demikian imannya cuma di lisan saja.

 

Berkata penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):

 

Maka dia dipukul dengan mirzabah dari besi dan berteriak dengan teriakan yang didengar semua makhluk selain manusia.

 

Dipukul karena dia tidak mampu menjawab, sama saja apakah orang kafir atau munafik. Dan yang memukul adalah dua orang malaikat yang menanyainya.

 

Mirzabah adalah pemukul dari besi, dan di suatu riwayat kalau seluruh penduduk Mina berkumpul untuk memikulnya maka mereka tidak mampu memikulnya. Apabila dia dipukul maka akan berteriak dengan teriakan yang terdengar oleh semua makhluk kecuali manusia.

 

Perkataan beliau, “Dipukul maka dia berteriak” yakni dengan teriakan yang terdengar oleh segala sesuatu yang ada di sekelilingnya, bukan segala sesuatu di seluruh penjuru dunia. terkadang yang mendengarnya akan terpengaruh dengannya, sebagaimana nabi ShollAllohu’alaihi wasallam pernah melewati kuburan Musyrikin dari atas keledainya, maka keledai tersebut lari menjauh sampai hampir melemparkan beliau ShollAllohu’alaihi wasallam, karena keledai tersebut mendengar suara orang yang diadzab. (Riwayat Muslim no. 2867 dari Zaid bin Tsabit RodhiAllohu’anhu) [kitab Syarah Aqidah Al Wasithiyah bab al iman bil yaumil akhir, Penulis Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin]

 

20)         Kami beriman bahwa suatu hari nanti seluruh alam akan hancur dan binasa, itulah hari kiamat kemudian Alloh ta’ala akan membangkitkan makhluqNya untuk dihisab amalan mereka.

¨br&ur sptã$¡¡9$# ×puŠÏ?#uä žw |=÷ƒu‘ $pkŽÏù žcr&ur ©!$# ß]yèö7tƒ `tB ’Îû ͑qç7à)ø9$# ÇÐÈ

       “Dan Sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Alloh membangkitkan semua orang di dalam kubur.” (Al-Hajj: 7)

tPöqtƒ ãNßgèWyèö6tƒ ª!$# $Yè‹ÏHsd Oßgã¥Îm7t^ã‹sù $yJÎ/ (#þqè=ÏJtã 4 çm9|Áômr& ª!$# çnqÝ¡nSur 4 ª!$#ur 4’n?tã Èe@ä. &äóÓx« Íky­ ÇÏÈ

       “Pada hari ketika mereka dibangkitkan Alloh semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Alloh mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, Padahal mereka telah melupakannya. dan Alloh Maha menyaksikan segala sesuatu.” (Al-Mujaadilah: 6)

 

21)         Kami beriman bahwa Alloh ta’ala telah menulis takdir seluruh makhluq di lauh mahfudz 50 ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi.

* ¼çny‰YÏãur ßxÏ?$xÿtB É=ø‹tóø9$# Ÿw !$ygßJn=÷ètƒ žwÎ) uqèd 4 ÞOn=÷ètƒur $tB †Îû ÎhŽy9ø9$# ̍óst7ø9$#ur 4 $tBur äÝà)ó¡n@ `ÏB >ps%u‘ur žwÎ) $ygßJn=÷ètƒ Ÿwur 7p¬6ym ’Îû ÏM»yJè=àß ÇÚö‘F{$# Ÿwur 5=ôÛu‘ Ÿwur C§Î/$tƒ žwÎ) ’Îû 5=»tGÏ. &ûüÎ7•B ÇÎÒÈ

       “Dan pada sisi Alloh-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (Al-An’aam: 59)

‘@ä.ur 9ŽÉó|¹ 9ŽÎ6x.ur ísÜtGó¡•B ÇÎÌÈ

       “Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” (Al-Qomar: 53)

 

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

 

كتب الله مقادير الخلا ئق قبل أن يخلق السماوات زالأرض بخمسبن ألف سنة

“Alloh telah menulis seluruh takdir seluruh makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum Alloh menciptakan langit dan bumi.” (Shohih, riwayat Muslim dalam Shohih-nya, kitab al-Qadar (no. 2653), dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash RodhiyAllohu ‘anhuma, diriwayatkan pula oleh Tirmidzi (no. 2156), Imam Ahmad (II/169), Abu Dawud ath-Thayalisi (no. 557))

 

22)         Kami beriman kepada takdir Alloh yang baik dan yang buruk dan semuanya mempunyai hikmah di sisiNya tidak ada yang sia-sia bagiNya.

$tBur $uZø)n=yz uä!$yJ¡¡9$# uÚö‘F{$#ur $tBur $yJåks]÷t/ WxÏÜ»t/ 4 y7Ï9ºsŒ `sß tûïÏ%©!$# (#rãxÿx. 4 ×@÷ƒuqsù tûïÏ%©#Ïj9 (#rãxÿx. z`ÏB ͑$¨Z9$# ÇËÐÈ

       “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, Maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (Shood: 27)

إنا كل شىء خلقنه بقدر

 

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (Qs. Al-Qamar: 49)

 

وخلق كـل شىء فقدره, تقديرا

 

“Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (Qs. Al-Furqan: 2)

 

وإن من شىء إلا عنده بمقدار

 

“Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khozanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu.” (Qs. Al-Hijr: 21)

 

Rosululloh shollAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

لا يؤمن عبد حتى يؤمن بالقدر خبره وشره حتى بعلم أن ما أصابه لم يكن ليخطئه وأن ما أخطأه لم يكن ليصيبه

 

“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia beriman kepada qadar baik dan buruknya dari Alloh, dan hingga yakin bahwa apa yang menimpanya tidak akan luput darinya, serta apa yang luput darinya tidak akan menimpanya.” (Shohih, riwayat Tirmidzi dalam Sunan-nya (IV/451) dari Jabir bin ‘Abdillah RodhiyAllohu ‘anhu, dan diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 6985) dari ‘Abdullah bin ‘Amr. Syaikh Ahmad Syakir berkata: ‘Sanad hadits ini shohih.’ Lihat juga Silsilah al-Ahaadits ash-Shohihah (no. 2439), karya Syaikh Albani rohimahulloh)

 

Jibril ‘alaihis salam pernah bertanya kepada Nabi shollAllohu ‘alaihi wa sallam mengenai iman, maka beliau shollAllohu ‘alaihi wa sallam menjawab,

 

الإيمان أن تؤ من با لله وملا ئكته وكتبه ورسله واليوم الا خر وتؤ من بالقدرخيره وشره

 

“Engkau beriman kepada Alloh, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rosul-Rosul-Nya, hari akhir serta qadha’ dan qadar, yang baik maupun yang buruk.”

(Shohih, riwayat Muslim dalam Shohih-nya di kitab al-Iman wal Islam wal Ihsan (VIII/1, IX/5))

 

Dan Shohabat ‘Abdullah bin ‘Umar RodhiyAllohu ‘anhuma juga pernah mendengar Rosululloh shollAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

كل شيء بقدر حتى العجز والكيسز

 

“Segala sesuatu telah ditakdirkan, sampai-sampai kelemahan dan kepintaran.”

(Shohih, riwayat Muslim dalam Shohih-nya (IV/2045), Tirmidzi dalam Sunan-nya (IV/452), Ibnu Majah dalam Sunan-nya (I/32), dan al-Hakim dalam al-Mustadrak (I/23))

 

23)         Kami beriman bahwa sebaik-baik manusia ada di zaman Rosululloh shollallohu ‘alaihiwa sallam, mereka adalah beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam  dan para sahabatnya rodhiallohu ‘anhum kemudian setelahnya, kemudian setelahnya, kemudian yang mengikuti dengan benar 3 generasi terbaik tersebut hingga hari kiamat.

šcqà)Î6»¡¡9$#ur tbqä9¨rF{$# z`ÏB tûï̍Éf»ygßJø9$# ͑$|ÁRF{$#ur tûïÏ%©!$#ur Nèdqãèt7¨?$# 9`»|¡ômÎ*Î/ š†Å̧‘ ª!$# öNåk÷]tã (#qàÊu‘ur çm÷Ztã £‰tãr&ur öNçlm; ;M»¨Zy_ “̍ôfs? $ygtFøtrB ㍻yg÷RF{$# tûïÏ$Î#»yz !$pkŽÏù #Y‰t/r& 4 y7Ï9ºsŒ ã—öqxÿø9$# ãLìÏàyèø9$# ÇÊÉÉÈ

       “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Alloh dan Alloh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100)

 

‰s)©9 šU$¨? ª!$# ’n?tã ÄcÓÉ<¨Z9$# šúï̍Éf»ygßJø9$#ur ͑$|ÁRF{$#ur šúïÏ%©!$# çnqãèt7¨?$# ’Îû Ïptã$y™ Íotó¡ãèø9$# .`ÏB ω÷èt/ $tB yŠ$Ÿ2 à÷ƒÌ“tƒ Ü>qè=è% 9,ƒÌsù óOßg÷YÏiB ¢OèO z>$s? óOÎgøŠn=tæ 4 ¼çm¯RÎ) óOÎgÎ/ Ô$râäu‘ ÒOŠÏm§‘ ÇÊÊÐÈ

       “Sesungguhnya Alloh telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshor yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Alloh menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Alloh Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka,” (At-Taubah: 117)

 

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

      “Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Shohabat), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’ut Tabi’in).” [HR. Bukhori no. 2652, Muslim no. 2533 (212), dari Shohabat Abdullah bin Mas’ud RodhiyAllohu ‘anhu].

 

24)         Kami beriman bahwa sebaik-baik sahabat Nabi shollallohu ‘alaihiwa sallam adalah Abu Bakar, kemudian ‘Umar, kemudian Utsman, dan ‘Ali ridhwanullohi ajma’in dan mereka adalah khulafaurrosyidin sebagaimana urutan kekuasaannya.

 

Dari Ali bin Abi Thalib RodhiAllohu ‘anhu dari Muhammad Ibnil Hanafiyah:

 

قُلْتُ ِلأَبِي: أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ بَعْدَ رَسُوْلِ اللهَ ?؟ قَالَ: أَبُو بَكْرٍ. قَلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: عُمَرُ. وَخَشِيْتُ أَنْ يَقُوْلَ عُثْمَانُ. قُلْتُ: ثُمَّ أَنْْتَ؟ قَالَ: مَا أَنَا إِلاَّ رَجُلٌ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ. (رواه البخاري: كتاب فضائل الصحابة باب 4 وفتح البارى 7/20)

 

Aku bertanya kepada bapakku (yakni Ali bin Abi Thalib RodhiAllohu ‘anhu): Siapakah manusia yang terbaik setelah Rosululloh ? ? Ia menjawab: “Abu Bakar”. Aku bertanya (lagi): “Kemudian siapa?”. Ia menjawab: “Umar”. Dan aku khwatir ia akan berkata Utsman, maka aku mengatakan: “Kemudian engkau?” Beliau menjawab: “Tidaklah aku kecuali seorang dari kalangan muslimin”. (HR. Bukhori, kitab Fadlailus Shohabah, bab 4 dan Fathul Bari juz 4/20)

 

25)         Kami beriman bahwa siapa yang mencela seorang saja dari sahabat Nabi maka dia adalah ahlul bid’ah yang sesat.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِى ، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ

      “Janganlah kalian mencela sahabatku. Seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas semisal gunung Uhud, maka itu tidak bisa menandingi satu mud infak sahabat, bahkan tidak pula separuhnya”. (HR. Bukhori no. 3673 dan Muslim no. 2540).

 

26)         Kami beriman bahwa siapa yang memperolok-olok satu dari syari’at islam maka dia sesat kafir keluar dari islam.

ûÈõs9ur óOßgtFø9r’y™  Æä9qà)u‹s9 $yJ¯RÎ) $¨Zà2 ÞÚqèƒwU Ü=yèù=tRur 4 ö@è% «!$$Î/r& ¾ÏmÏG»tƒ#uäur ¾Ï&Î!qߙu‘ur óOçFYä. šcrâä̓öktJó¡n@ ÇÏÎÈ   Ÿw (#râ‘É‹tG÷ès? ô‰s% Länöxÿx. y‰÷èt/ óOä3ÏY»yJƒÎ) 4 bÎ) ß#÷è¯R `tã 7pxÿͬ!$sÛ öNä3ZÏiB ó>Éj‹yèçR Opxÿͬ!$sÛ öNåk¨Xr’Î/ (#qçR$Ÿ2 šúüÏB̍øgèC ÇÏÏÈ

       “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya Kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Alloh, ayat-ayat-Nya dan Rosul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (Attaubah: 65-66)

 

27)         Kami beriman bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihiwa sallam telah menyampaikan syari’at seluruhnya, dan telah sempurna agama ini.

¨bÎ) tûïÏ%©!$# tbqßJçFõ3tƒ !$tB $uZø9t“Rr& z`ÏB ÏM»uZÉit7ø9$# 3“y‰çlù;$#ur .`ÏB ω÷èt/ $tB çm»¨Y¨t/ Ĩ$¨Z=Ï9 ’Îû É=»tGÅ3ø9$#   y7Í´¯»s9’ré& ãNåkß]yèù=tƒ ª!$# ãNåkß]yèù=tƒur šcqãZÏ軯=9$# ÇÊÎÒÈ

       “Sesungguhnya orang-orang yang Menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Alloh dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati,” (Al-Baqoroh: 259)

 

3 tPöqu‹ø9$# }§Í³tƒ tûïÏ%©!$# (#rãxÿx. `ÏB öNä3ÏZƒÏŠ Ÿxsù öNèdöqt±øƒrB Èböqt±÷z$#ur 4 tPöqu‹ø9$# àMù=yJø.r& öNä3s9 öNä3oYƒÏŠ àMôJoÿøCr&ur öNä3ø‹n=tæ ÓÉLyJ÷èÏR àMŠÅÊu‘ur ãNä3s9 zN»n=ó™M}$# $YYƒÏŠ 4  ÇÌÈ

       “pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” (Al-Maaidah: 3)

 

$¨B ’n?tã ÉAqߙ§9$# žwÎ) à÷»n=t6ø9$# 3 ª!$#ur ãNn=÷ètƒ $tB tbr߉ö7è? $tBur tbqßJçFõ3s? ÇÒÒÈ

       “Kewajiban Rosul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Alloh mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan.” (Al-Maaidah: 99)

 

Dari hadits ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash RodliyAllohu ‘anhuma dari Nabi shollAllohu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, beliau bersabda:

 إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إَِلاََّ كَانَ حَقًا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرٍ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَ يُنْذِرَهُمْ شَرًّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ

 “Sesungguhnya tidak seorangpun dari Nabi yang datang sebelumku melainkan wajib atasnya menunjukkan ummatnya kebaikan yang diketahuinya dan memperingatkan mereka dari kejahatan yang diketahuinya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim (3/1472, 1844), An Nasai dalam Al Kubra (4/431), Ibnu Majah (2/2956), dan Al Baihaqi (8/169))

 

28)         Kami beriman bahwa siapa yang mengadakan perkara baru dalam agama ini maka dia itu ahlul bid’ah yang sesat.

ô‰s% uŽÅ£yz tûïÏ%©!$# (#þqè=tGs% öNèdy‰»s9÷rr& $Jgxÿy™ ΎötóÎ/ 5Où=Ïæ (#qãB§ymur $tB ÞOßgs%y—u‘ ª!$# ¹ä!#uŽÏIøù$# ’n?tã «!$# 4 ô‰s% (#q=|Ê $tBur (#qçR$Ÿ2 šúïωtGôgãB ÇÊÍÉÈ

       “Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka, karena kebodohan lagi tidak mengetahui dan mereka mengharamkan apa yang Alloh telah rezki-kan pada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Alloh. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.” (Al-An’aam: 190)

ö@è% $yJ¯RÎ) tP§ym }‘În/u‘ |·Ïmºuqxÿø9$# $tB tygsß $pk÷]ÏB $tBur z`sÜt/ zNøOM}$#ur zÓøöt7ø9$#ur ΎötóÎ/ Èd,yÛø9$# br&ur (#qä.Ύô³è@ «!$$Î/ $tB óOs9 öAÍi”t\ム¾ÏmÎ/ $YZ»sÜù=ߙ br&ur (#qä9qà)s? ’n?tã «!$# $tB Ÿw tbqçHs>÷ès? ÇÌÌÈ

       “Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Alloh dengan sesuatu yang Alloh tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Alloh apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-A’roof: 33)

 

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

وَفِي رِوَايَةٍ : مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

 

“Barangsiapa yang mengadakan perkara baru dalam urusan kami ini apa-apa yang bukan darinya maka dia tertolak”.

 

Dalam satu riwayat, “Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada tuntunan kami di atasnya maka amalan itu tertolak”. Hadits ini dengan kedua lafadznya berasal dari hadits shohabiyah dan istri Nabi ShollAllohu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam ‘A`isyah RodhiAllohu Ta’ala ‘anha. (Adapun lafadz pertama dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhory (2/959/2550-Dar Ibnu Katsir) dan Imam Muslim (3/1343/1718-Dar Ihya`ut Turots). Dan lafadz kedua dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhory secara mu’allaq (2/753/2035) dan (6/2675/6918) dan Imam Muslim (3/1343/1718).)

Dan juga hadits ini telah dikeluarkan oleh Abu Ya’la dalam Musnadnya (4594) dan Abu ‘Awanah (4/18) dengan sanad yang shohih dengan lafadz, “Siapa saja yang mengadakan perkara baru dalam urusan kami ini apa-apa yang tidak ada di dalamnya (urusan kami) maka dia tertolak”.

 

29)         Kami beriman bahwa siapa yang melindungi ahlul bid’ah akan dilaknat oleh Alloh ta’ala.

Al-Imam Al-Bukhoriy –semoga Alloh merahmatinya- di dalam “Ash-Shohih” membuat bab khusus “Bab Itsmi Man Aawa Muhditsan, Rawahu ‘Ali ‘Anin Nabi ShollAllohu ‘Alaihi wa Sallam”. Di dalam “Shohih Muslim” dan “Al-Adabul MufRod Lil Imam Al-Bukhoriy” dari hadits ‘Ali bin Abi Thalib –semoga Alloh meridhainya-, bahwa Rosululloh ShollAllohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا».

“Dan semoga laknat Alloh atas siapa saja yang melindungi ahli bid’ah”.

30)         Kami beriman bahwa belajar dengan system spp, kelas, dan TN adalah bukan termasuk tuntunan salaf dan tasyabbuh dengan orang-orang kafir.

y7Í´¯»s9’ré& tûïÏ%©!$# “y‰yd ª!$# ( ãNßg1y‰ßgÎ6sù ÷nωtFø%$# 3 @è% Hw öNä3è=t«ó™r& Ïmø‹n=tã #·ô_r& ( ÷bÎ) uqèd žwÎ) 3“tø.ό šúüÏJn=»yèù=Ï9 ÇÒÉÈ

       “Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Alloh, Maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran).” Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat.” (Al-An’aam: 90)

 

Dari Ibnu Umar berkata, Rosululloh sallAllohu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud, Al-Libas, 3512. Al-Albany berkata dalam Shohih Abu Dawud, Hasan Shohih no. 3401)

 

31)         Kami beriman bahwa demokrasi, partai-partai, organisasi, dan yayasan adalah bid’ah yang memecah belah kaum muslimin.

¨bÎ) tûïÏ%©!$# (#qè%§sù öNåks]ƒÏŠ (#qçR%x.ur $Yèu‹Ï© |Mó¡©9 öNåk÷]ÏB ’Îû >äóÓx« 4 !$yJ¯RÎ) öNèdáøBr& ’n<Î) «!$# §NèO Nåkã¨Îm6t^ム$oÿÏ3 (#qçR%x. tbqè=yèøÿtƒ ÇÊÎÒÈ

 

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Alloh, kemudian Alloh akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (Al-An’aam: 159)

* tûüÎ6ÏYãB Ïmø‹s9Î) çnqà)¨?$#ur (#qßJŠÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# Ÿwur (#qçRqä3s? šÆÏB tûüÅ2Ύô³ßJø9$# ÇÌÊÈ   z`ÏB šúïÏ%©!$# (#qè%§sù öNßguZƒÏŠ (#qçR%Ÿ2ur $Yèu‹Ï© ( ‘@ä. ¥>÷“Ïm $yJÎ/ öNÍkö‰y‰s9 tbqãm̍sù ÇÌËÈ

      “Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah sholat dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang mempersekutukan Alloh, Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Ruum: 31-32)

bÎ)ur ôìÏÜè? uŽsYò2r& `tB †Îû ÇÚö‘F{$# x8q=ÅÒム`tã È@‹Î6y™ «!$# 4 bÎ) tbqãèÎ7­Ftƒ žwÎ) £`©à9$# ÷bÎ)ur öNèd žwÎ) tbqß¹ãøƒs† ÇÊÊÏÈ

       “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Alloh). (Al-An’aam: 116)

 

32)         Kami beriman bahwa syi’ah rofidhoh adalah kafir keluar dari islam.

ô`tBur ÞOn=øßr& Ç`£JÏB 3“uŽtIøù$# ’n?tã «!$# $¹/ɋŸ2 4 šÍ´¯»s9’ré& šcqàÊt÷èム4’n?tã öNÎgÎn/u‘ ãAqà)tƒur ߉»ygô©F{$# ÏäIwàs¯»yd šúïÏ%©!$# (#qç/x‹x. 4’n?tã óOÎgÎn/u‘ 4 Ÿwr& èpuZ÷ès9 «!$# ’n?tã tûüÏJÎ=»©à9$# ÇÊÑÈ

       “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat Dusta terhadap Alloh?. mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan Para saksi akan berkata: “Orang-orang Inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka”. Ingatlah, kutukan Alloh (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim,” (Huud: 18)

 

Ali bin Abi Thalib Rodhi-yAllohu ‘anhu mengancam untuk mencambuk orang yang mengutamakan dirinya di atas Abu Bakar dan Umar dengan cambukan seorang pendusta. Ali rodhiallohu ‘anhu berkata:

 

لاَ أُوْتِيَ بِأَحَدٍ يُفَضِّلُنِيْ عَلَى أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ إِلاَّ جَلَّدْتُهُ حَدَّ الْمُفْتَرِيْنَ.

 

“Tidak didatangkan kepadaku seseorang yang mengutamakan aku diatas Abu Bakar dan Umar, kecuali akan aku cambuk dengan cambukan seorang pendusta.”

Maka ketika itu seorang yang mengatakan beliau lebih utama dari Abu Bakar dan umar dicambuk delapan puluh kali cambukan. (Majmu’ Fatawa juz 4 hal. 422; Lihat Imamatul ‘Udhma, hal. 313).

 

33)         Kami beriman bahwa tidak boleh memberontak kepada penguasa yang masih menegakkan sholat, dan demonstrasi termasuk pemberontakan yang diharomkan.

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qãè‹ÏÛr& ©!$# (#qãè‹ÏÛr&ur tAqߙ§9$# ’Í<‘ré&ur ͐öDF{$# óOä3ZÏB ( bÎ*sù ÷Läêôãt“»uZs? ’Îû &äóÓx« çnr–Šãsù ’n<Î) «!$# ÉAqߙ§9$#ur bÎ) ÷LäêYä. tbqãZÏB÷sè? «!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# 4 y7Ï9ºsŒ ׎öyz ß`|¡ômr&ur ¸xƒÍrù’s? ÇÎÒÈ

       “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al Quran) dan Rosul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisaa’: 59)

#sŒÎ)ur öNèduä!%y` ֍øBr& z`ÏiB Ç`øBF{$# Írr& Å$öqy‚ø9$# (#qãã#sŒr& ¾ÏmÎ/ ( öqs9ur çnr–Šu‘ ’n<Î) ÉAqߙ§9$# #†n<Î)ur ’Í<‘ré& ̍øBF{$# öNåk÷]ÏB çmyJÎ=yès9 tûïÏ%©!$# ¼çmtRqäÜÎ7/ZoKó¡o„ öNåk÷]ÏB 3 Ÿwöqs9ur ã@ôÒsù «!$# öNà6øŠn=tã ¼çmçGuH÷qu‘ur ÞOçF÷èt6¨?]w z`»sÜøŠ¤±9$# žwÎ) WxŠÎ=s% ÇÑÌÈ

      “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rosul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rosul dan ulil Amri). kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Alloh kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” (An-Nisaa’: 83)

 

Nabi ShollAllohu ‘alayhi wasallam, bersabda :

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah pemimpin yang kalian mencintai mereka dan merekapun mencintai kalian, kalian mendoakan kebaikan untuk mereka dan merekapun mendoakan kebaikan untuk kalian. Dan,

 

شِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِيْنَ تُبْغِضُوْنَهُمْ وَيُبْغِضُوْنَكُمْ وَتَلْعَنُوْنَهُمْ وَيَلْعَنُوْنَكُمْ.

 

“Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalian membencinya dan mereka membenci kalian, yang kalian melaknatinya dan mereka melaknati kalian.“

 

Dikatakan kepada beliau: “Wahai Rosululloh, tidakkah kita melawannya dengan pedang (senjata)?“

 

Beliau mengatakan:

 

لاَ، مَا أَقَامُوْا فِيْكُمُ الصَّلاَةَ

 

“Jangan, selama mereka mendirikan sholat di tengah-tengah kalian.”

 

وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُوْنَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

 

Jika kalian melihat pada pemimpin kalian sesuatu yang kalian benci maka bencilah perbuatannya dan jangan kalian cabut tangan kalian dari ketaatan.“ [Dikeluarkan oleh Imam Muslim Rohimahulloh dalam Kitabul Imarah, Bab : “Khiyyarul ‘Aimmah wa Siraruhum” dari hadits ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i]

 

34)         Kami beriman bahwa jihad di jalan Alloh tetap ada pensyari’atannya sampai kiamat dan siapa yang mati tanpa ada keinginan untuk mati syahid di hatinya maka dia mati seperti matinya orang munafiq.

öNèdqè=ÏG»s%ur 4Ó®Lym Ÿw šcqä3s? ×puZ÷GÏù tbqà6tƒur ß`ƒÏe$!$# ¼ã&—#à2 ¬! 4 ÂcÎ*sù (#öqygtGR$#  cÎ*sù ©!$# $yJÎ/ šcqè=yJ÷ètƒ ׎ÅÁt/ ÇÌÒÈ

      “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Alloh. jika mereka berhenti (dari kekafiran), Maka Sesungguhnya Alloh Maha melihat apa yang mereka kerjakan.” (Al-Anfaal: 39)

(#qè=ÏG»s% šúïÏ%©!$# Ÿw šcqãZÏB÷sム«!$$Î/ Ÿwur ÏQöqu‹ø9$$Î/ ̍ÅzFy$# Ÿwur tbqãBÌhptä† $tB tP§ym ª!$# ¼ã&è!qߙu‘ur Ÿwur šcqãYƒÏ‰tƒ tûïϊ Èd,ysø9$# z`ÏB šúïÏ%©!$# (#qè?ré& |=»tFÅ6ø9$# 4Ó®Lym (#qäÜ÷èムsptƒ÷“Éfø9$# `tã 7‰tƒ öNèdur šcrãÉó»|¹ ÇËÒÈ

       “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Alloh dan tidak (pula) kepada hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Alloh dan RosulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Alloh), (Yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah[638] dengan patuh sedang mereka dalam Keadaan tunduk.” (Attaubah: 29)

 

$pkš‰r’¯»tƒ ÓÉ<¨Z9$# ωÎg»y_ u‘$¤ÿà6ø9$# tûüÉ)Ïÿ»oYßJø9$#ur õáè=øñ$#ur öNÍköŽn=tã 4 óOßg1urù’tBur ÞO¨Yygy_ ( }§ø©Î/ur 玍ÅÁyJø9$# ÇÒÈ

       “Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. tempat mereka adalah Jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.” (Attahriim: 9)

 

 

35)         Kami beriman bahwa bom bunuh diri bukanlah jihad tapi dia adalah dosa besar dan kedzoliman.

$yg•ƒr’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãYtB#uä Ÿw (#þqè=à2ù’s? Nä3s9ºuqøBr& Mà6oY÷t/ È@ÏÜ»t6ø9$$Î/ HwÎ) br& šcqä3s? ¸ot»pgÏB `tã <Ú#ts? öNä3ZÏiB 4 Ÿwur (#þqè=çFø)s? öNä3|¡àÿRr& 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. öNä3Î/ $VJŠÏmu‘ ÇËÒÈ

       “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Alloh adalah Maha Penyayang kepadamu.” (An-Nisaa’: 29)

 

$yJ¯RÎ) ã@ŠÎ6¡¡9$# ’n?tã tûïÏ%©!$# tbqßJÎ=ôàtƒ }¨$¨Z9$# tbqäóö7tƒur ’Îû ÇÚö‘F{$# ΎötóÎ/ Èd,ysø9$# 4 šÍ´¯»s9’ré& óOßgs9 ë>#x‹tã ÒOŠÏ9r& ÇÍËÈ

      “Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. mereka itu mendapat azab yang pedih.” (Asy-Syuuro: 42)

 

36)         Kami beriman bahwa siapa yang membangun wala’ dan baro’nya diatas kebatilan maka dia itu hizby yang sesat.

öNåk¨XÎ) `s9 (#qãZøóムšZtã z`ÏB «!$# $\«ø‹x© 4 ¨bÎ)ur tûüÏJÎ=»©à9$# öNåkÝÕ÷èt/ âä!$uŠÏ9÷rr& <Ù÷èt/ ( ª!$#ur ’Í<ur šúüÉ)­GßJø9$# ÇÊÒÈ

       “Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari siksaan Alloh. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Alloh adalah pelindung orang-orang yang bertakwa.” (Al-Jatsiyah: 19)

 

37)         Kami beriman bahwa ummat ini akan terpecah menjadi 73 golongan semuanya dalam neraka kecuali satu, yaitu ahlussunnah wal jama’ah, salafy.

¨br&ur #x‹»yd ‘ÏÛºuŽÅÀ $VJŠÉ)tGó¡ãB çnqãèÎ7¨?$$sù ( Ÿwur (#qãèÎ7­Fs? Ÿ@ç6¡9$# s-§xÿtGsù öNä3Î/ `tã ¾Ï&Î#‹Î7y™ 4 öNä3Ï9ºsŒ Nä38¢¹ur ¾ÏmÎ/ öNà6¯=yès9 tbqà)­Gs? ÇÊÎÌÈ

      “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Alloh agar kamu bertakwa.” (Al-An’aam: 153)

 

Rosululloh shollAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

((افترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة. فواحدة في الجنة. وسبعون في النار, وافترقت النصارى على ثنتين وسبعين فرقة. فإحدى وسبعون في النار، وواحدة في الجنة. والذي نفس محمد بيده! لتفترقن أمتي على ثلاث وسبعين فرقة. واحدة في الجنة و ثنتان سبعون في النار)).قيل: يا رسول الله! من هم؟ قال ((الجماعة)).

      “Yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan, satu golongan masuk surga dan 70 lainnya ke neraka. Nasrani terpecah menjadi 72 golongan, 71 golongan ke neraka, hanya satu yang masuk surga. Dan demi Dzat Yang jiwaku ada ditangan-Nya, sungguh umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, satu golongan akan masuk surga dan 72 lainnya ke neraka.” Rosululloh ditanya : “Siapa golongan yang selamat itu wahai Rosululloh?” Beliau menjawab : “Al Jama’ah.” (HR. Ibnu Majah no. 3992, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As Sunnah no.63, Al Lalika’i dalam Syarh Ushul I’tiqod Ahlus Sunnah wal Jama’ah no.149, Al Ashbahani dalam Al Hujjah (19-20). Dinyatakan hasan oleh Syaikh Salim bin Ied Al Hilali dalam Bashoir Dzawisy Syarof hal. 92-93)

 

38)         Kami beriman bahwa ahlul hadits merekalah ahlussunnah.

ö@è% bÎ) óOçFZä. tbq™7Åsè? ©!$# ‘ÏRqãèÎ7¨?$$sù ãNä3ö7Î6ósムª!$# öÏÿøótƒur ö/ä3s9 ö/ä3t/qçRèŒ 3 ª!$#ur ֑qàÿxî ÒO‹Ïm§‘ ÇÌÊÈ

      “Katakanlah (Muhammad): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah Aku, niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali-Imron: 31)

 

Rosululloh ShollAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَتَزَالُ مِنْ أُمَّتِيْ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ بِأَمْرِ اللهِ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ

 

“Senantiasa ada segolongan dari ummatku yang selalu menegakkan perintah Alloh, tidak akan mencelakai mereka orang yang tidak menolong mereka dan orang yang menyelisihi mereka sampai datang perintah Alloh dan mereka tetap di atas yang demikian itu.” (HR. Al-Bukhori (no. 3641) dan Muslim (no. 1037 (174)), dari Mu’awiyah RodhiyAllohu anhu.)

 

39)         Kami beriman bahwa tidak boleh kita taklid kepada seorang pun kecuali kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.

#sŒÎ)ur Ÿ@‹Ï% óOçlm; (#öqs9$yès? 4’n<Î) !$tB tAt“Rr& ª!$# ’n<Î)ur ÉAqߙ§9$# (#qä9$s% $uZç6ó¡ym $tB $tRô‰y`ur Ïmø‹n=tã !$tRuä!$t/#uä 4 öqs9urr& tb%x. öNèdät!$t/#uä Ÿw tbqßJn=ôètƒ $\«ø‹x© Ÿwur tbr߉tGöku‰ ÇÊÉÍÈ

       ”Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Alloh dan mengikuti Rosul”. mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?.” (Al-maaidah: 104)

!$tBur ãNä39s?#uä ãAqߙ§9$# çnrä‹ã‚sù $tBur öNä39pktX çm÷Ytã (#qßgtFR$$sù 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ( ¨bÎ) ©!$# ߉ƒÏ‰x© É>$s)Ïèø9$# ÇÐÈ

       Dan apa yang diberikan Rosul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Amat keras hukumannya. (Al-Hasyr: 7)

 

40)         Kami beriman bahwa mengusap khuf/sepatu ketika wudhu adalah shohih pensyari’atannya.

Hadits dalam Ash Shohihain dari Al Mughirah bin Syu’bah RodhiAllohu ‘anhu, beliau berkata:

كنت مع النبي في سفر، فتوضأ، فأهويت لأنزع خفيه فقال: ((دعهما فإني أدخلتهما طاهرتين)) فمسح عليهما

“Dahulu saya pernah bersama Nabi shollAllohu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah perjalanan, lalu beliau berwudhu. Sayapun merunduk untuk melepaskan kedua khuf beliau, tetapi beliau mengatakan, “Biarkan, sesungguhnya saya memakainya dalam keadaan suci.” “

Dan juga berdasarkan hadits Shofwan bin ‘Assal RodhiAllohu ‘anhu, beliau berkata :

أمرنا رسول الله أن نمسح على الخفين إذا نحن أدخلناهما على طهر

“Rosululloh shollAllohu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk mengusap dua khuf jika kami memakainya dalam keadaan suci.” (Hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Khuzaimah. Al Khoththabi berkata : Hadits tersebut adalah hadits yang sanadnya shohih. Lihat Nailul Authar 1/230. Ibnu Hajar menshohihkan hadits ini dalam Fathul Bari 1/309).

Dari shohabat ‘Ali bin Abi Thalib RodhiyAllohu ‘anhu, beliau berkata:

جعل النبي صلى الله عليه وسلم للمقيم يوماً وليلة ، وللمسافر ثلاثة أيام ولياليهن،يعني في المسح على الخفين

“Nabi shollAllohu ‘alaihi wa sallam menetapkan sehari semalam bagi orang yang mukim & tiga hari tiga malam bagi orang yang musafir.“(penetapan ini) yaitu dlm perkara mengusap dua khuf.” [HR. Muslim, kitaabuth-thoharoh no. 276]

Dari Shofwan bin ‘Assal RodhiAllohu ‘anhu beliau berkata,

أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا كنا سفراً ألا ننزع خفافنا ثلاثة أيام ولياليهن إلا من جنابة ولكن من غائط وبول ونوم

“Rosululloh shollAllohu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami jika kami safar agar kami tak melepas khuf kami selama tiga hari tiga malam kecuali bagi siapa saja yang junub, akan tetapi ( tak perlu dilepas) jika karena buang air besar, kencing & tidur.” [Hadits shohih riwayat Ahmad, Nasai, & Tirmidzi , irwaul gholil no 104]

41)         Kami beriman bahwa tidak boleh memberat-beratkan diri untuk safar dalam rangka beribadah kecuali ke tiga masjid yaitu masjidil harom, masjidin nabawy, dan majidil aqso, dan ketiganya adalah seutama-utama masjid di muka bumi.

إِنَّمَا يُسَافَرُ إِلىَ ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: مَسْجِدُ الْكَعْبَةِ وَمَسْجِدِي وَمَسْجِدِ إِيْلِيَاءَ.

Safar hanyalah boleh dilakukan ke tiga masjid: Masjidil Ka’bah (Masjidil Haram), Masjidku (Nabawi) dan Masjid Iliya’ (Baitul Maqdis)”. (HR. Muslim dalam Shohihnya no 1397)

Nabi ShollAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Tidak boleh mengadakan perjalanan jauh (untuk iba­dah) kecuali menuju 3 masjid, masjidil haram, masjid Nabawi, dan masjidil Aqsho.” (HR. Bukhori 1189).

 

42)         Kami beriman bahwa fatwa ulama tidaklah ma’shum, maka yang benar kita ambil dan yang keliru kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Hadits shohih sesuai dengan pemahaman salafussholeh.

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qãè‹ÏÛr& ©!$# (#qãè‹ÏÛr&ur tAqߙ§9$# ’Í<‘ré&ur ͐öDF{$# óOä3ZÏB ( bÎ*sù ÷Läêôãt“»uZs? ’Îû &äóÓx« çnr–Šãsù ’n<Î) «!$# ÉAqߙ§9$#ur bÎ) ÷LäêYä. tbqãZÏB÷sè? «!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# 4 y7Ï9ºsŒ ׎öyz ß`|¡ômr&ur ¸xƒÍrù’s? ÇÎÒÈ

       “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al Quran) dan Rosul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisaa’: 59)

 

Nabi ShollAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ, فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ, فَلَهُ أَجْرَانِ. وَإِذَا حَكَمَ, فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ, فَلَهُ أَجْرٌ

      “Jika seorang hakim (ulama’) hendak memutuskan (suatu perkara), lalu ia berijtihad, kemudian ia benar, maka ia mendapatkan dua pahala. Jika mau memutuskan perkara, lalu ia berijtihad, kemudian keliru, maka ia akan mendapatkan satu pahala”. [HR. Al-Bukhoriy (7352), dan Muslim (1716)]

 

43)         Kami beriman bahwa nanti akan keluar dajjal sang pendusta kafir yang buta satu matanya diakhir zaman.

Asy-Sya’bi rohimahullohu mengatakan kepada Fathimah bintu Qais RodhiyAllohu ‘anha: “Beri aku sebuah hadits yang kamu dengar dari Rosululloh ShollAllohu ‘alaihi wa sallam, yang tidak kamu sandarkan kepada seorang pun selain beliau.” Fathimah mengatakan: “Jika engkau memang menghendakinya akan aku lakukan.” “Ya, berikan aku hadits itu,” jawab Asy-Sya’bi.

Fathimah pun berkisah: “…Aku mendengar seruan orang yang berseru, penyeru Rosululloh ShollAllohu ‘alaihi wa sallam, menyeru ‘Ash-sholatu Jami’ah’. Aku pun keluar menuju masjid lantas sholat bersama Rosululloh ShollAllohu ‘alaihi wa sallam. Dan aku berada pada shof wanita yang langsung berada di belakang shof laki-laki. Tatkala Rosululloh ShollAllohu ‘alaihi wa sallam selesai dari sholatnya maka beliau duduk di mimbar dan tertawa seraya mengatakan: ‘Hendaknya setiap orang tetap di tempat sholatnya.’ Kemudian kembali berkata: ‘Apakah kalian tahu mengapa aku kumpulkan kalian?’ Para sahabat menjawab: ‘Alloh dan Rosul-Nya lebih tahu.’ Nabi ShollAllohu ‘alaihi wa sallam melanjutkan: ‘Sesungguhnya –demi Alloh-, aku tidak kumpulkan kalian untuk sesuatu yang menggembirakan atau menakutkan kalian. Namun aku kumpulkan kalian karena Tamim Ad-Dari. Dahulu ia seorang Nasrani lalu datang kemudian berbai’at dan masuk Islam serta mengabariku sebuah kisah, sesuai dengan apa yang aku ceritakan kepada kalian tentang Al-Masih Ad-Dajjal.

Ia memberitakan bahwa ia naik kapal bersama 30 orang dari Kabilah Lakhm dan Judzam. Lalu mereka dipermainkan oleh ombak hingga berada di tengah lautan selama satu bulan. Sampai mereka terdampar di sebuah pulau di tengah lautan tersebut saat tenggelamnya matahari. Mereka pun duduk (menaiki) perahu-perahu kecil. Setelah itu mereka memasuki pulau tersebut hingga menjumpai binatang yang berambut sangat lebat dan kaku. Mereka tidak tahu mana qubul dan mana dubur-nya, karena demikian lebat bulunya. Mereka pun berkata: ‘Apakah kamu ini?’ Ia (binatang yang bisa berbicara itu) menjawab: ‘Aku adalah Al-Jassasah.’ Mereka mengatakan: ‘Apa Al-Jassasah itu?’ Ia (justru mengatakan): ‘Wahai kaum, pergilah kalian kepada laki-laki yang ada rumah ibadah itu. Sesungguhnya ia sangat merindukan berita kalian.’ Tamim mengatakan: ‘Ketika dia menyebutkan untuk kami orang laki-laki, kami khowatir kalau binatang itu ternyata setan.’ Tamim mengatakan: ‘Maka kami pun bergerak menuju kepadanya dengan cepat sehingga kami masuk ke tempat ibadah itu. Ternyata di dalamnya ada orang yang paling besar yang pernah kami lihat dan paling kuat ikatannya. Kedua tangannya terikat dengan lehernya, antara dua lututnya dan dua mata kakinya terikat dengan besi. Kami katakan: ‘Celaka kamu, apa kamu ini?’ Ia menjawab: ‘Kalian telah mampu mengetahui tentang aku. Maka beritakan kepadaku siapa kalian ini?’ Mereka menjawab: ‘Kami ini orang-orang dari ARob. Kami menaiki kapal ternyata kami bertepatan mendapati laut sedang bergelombang luar biasa, sehingga kami dipermainkan ombak selama satu bulan lamanya, sampai kami terdampar di pulaumu ini. Kami pun naik perahu kecil, lalu memasuki pulau ini dan bertemu dengan binatang yang sangat lebat dan kaku rambutnya. Tidak diketahui mana qubul-nya dan mana duburnya karena lebatnya rambut. Kamipun mengatakan: ‘Celaka kamu, apa kamu ini?’ Ia menjawab: ‘Aku adalah Al-Jassasah.’ Kamipun bertanya lagi: ‘Apa Al-Jassasah itu?’ Ia malah menjawab, pergilah ke rumah ibadah itu sesungguhnya ia sangat merindukan berita kalian. Maka kami pun segera menujumu dan kami takut dari binatang itu. Kami tidak merasa aman kalau ternyata ia adalah setan.’

Lalu orang itu mengatakan: ‘Kabarkan kepadaku tentang pohon-pohon korma di Baisan.’

Kami mengatakan: ‘Tentang apanya engkau meminta beritanya?’

‘Aku bertanya kepada kalian tentang pohon kormanya, apakah masih berbuah?’ katanya.

Kami menjawab: ‘Ya.’

Ia mengatakan: ‘Sesungguhnya hampir-hampir ia tidak akan mengeluarkan buahnya. Kabarkan kepadaku tentang danau Thabariyyah.’

Kami jawab: ‘Tentang apa engkau meminta beritanya?’

‘Apakah masih ada airnya?’ jawabnya.

Mereka menjawab: ‘Danau itu banyak airnya.’

Ia mengatakan: ‘Sesungguhnya hampir-hampir airnya akan hilang. Kabarkan kepadaku tentang mata air Zughar1.’

Mereka mengatakan: ‘Tentang apanya kamu minta berita?’

‘Apakah di mata air itu masih ada airnya? Dan apakah penduduknya masih bertani dengan airnya?’ jawabnya.

Kami katakan: ‘Ya, mata air itu deras airnya dan penduduknya bertani dengannya.’ Ia mengatakan: ‘Kabarkan kepadaku tentang Nabi Ummiyyin, apa yang dia lakukan?’

Mereka menjawab: ‘Ia telah muncul dari Makkah dan tinggal di Yatsrib (Madinah).’

Ia mengatakan: ‘Apakah orang-orang ARob memeranginya?’

Kami menjawab: ‘Ya.’

Ia mengatakan lagi: ‘Apa yang dia lakukan terhadap orang-orang ARob?’ Maka kami beritakan bahwa ia telah menang atas orang-orang ARob di sekitarnya dan mereka taat kepadanya.

Ia mengatakan: ‘Itu sudah terjadi?’

Kami katakan: ‘Ya.’

Ia mengatakan: ‘Sesungguhnya baik bagi mereka untuk taat kepadanya. Dan aku akan beritakan kepada kalian tentang aku, sesungguhnya aku adalah Al-Masih. Dan hampir-hampir aku diberi ijin untuk keluar sehingga aku keluar lalu berjalan di bumi dan tidak ku tinggalkan satu negeri pun kecuali aku akan turun padanya dalam waktu 40 malam kecuali Makkah dan Thaibah, keduanya haram bagiku. Setiap kali aku akan masuk pada salah satunya, malaikat menghadangku dengan pedang terhunus di tangannya, menghalangiku darinya. Dan sesungguhnya pada setiap celahnya (dua kota itu) ada para malaikat yang menjaganya.’

Fathimah mengatakan: ‘Maka Rosululloh ShollAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda dengan menusukkan tongkatnya di mimbar sambil mengatakan: ‘Inilah Thaibah, inilah Thaibah, inilah Thaibah2, yakni Al-Madinah. Apakah aku telah beritahukan kepada kalian tentang hal itu?’

Orang-orang menjawab: ‘Ya.’

Nabi ShollAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya cerita Tamim menakjubkanku, di mana sesuai dengan apa yang kuceritakan kepada kalian tentangnya (Dajjal), serta tentang Makkah dan Madinah. Ketahuilah bahwa ia berada di lautan Syam atau lautan Yaman- tidak, bahkan dari arah timur. Tidak, dia dari arah timur. Tidak, dia dari arah timur. Tidak, dia dari arah timur -dan beliau mengisyaratkan dengan tangannya ke arah timur-.’

Fathimah mengatakan: “Ini saya hafal dari Rosululloh ShollAllohu ‘alaihi wa sallam.”

(HR. Muslim, Kitabul Fitan wa Asyrathis Sa’ah, Bab Qishshotul Jassasah)

44)         Kami beriman bahwa siapa yang mendatangi dukun dan tukang sihir kemudian mempercayainya maka dia kafir keluar dari islam.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barang siapa yang mendatangi dukun atau arraf (peramal) lalu membenarkan apa yang ia katakan, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad”. [HR. Ahmad dalam Musnad-nya (2/429/no.9532), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (1/8/no.15), Al Baihaqi (7/198/no.16274), dan di-shohih-kan oleh Syaikh Al Albaniy dalam Shohih At-Targhib (3047)

 

45)         Kami beriman bahwa di akhir zaman akan lahir imam mahdi yang menegakkan sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam  dan memerangi dajjal.

 

Beberapa Hadits tentang Al-Imam Al-Mahdi

1. Dari Abdullah bin Mas’ud RodhiyAllohu ‘anhu, dari Nabi ShollAllohu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ يَوْمٌ – قَالَ زَائِدَةُ فِي حَدِيْثِهِ – لَطَوَّلَ اللهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ حَتَّى يَبْعَثَ فِيْهِ رَجُلاً مِنِّي – أَوْ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي – يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي وَاسْمُ أَبِيهِ اسْمَ أَبِي، يَمْلَأُ اْلأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَجَوْرًا

“Bila tidak tersisa dari dunia kecuali satu hari –Za`idah (salah seorang rawi) mengatakan dalam haditsnya– tentu Alloh akan panjangkan hari tersebut, sehingga Alloh utus padanya seorang lelaki dariku –atau dari keluargaku–. Namanya sesuai dengan namaku, dan nama ayahnya seperti nama ayahku. Ia memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi dengan kedzaliman dan keculasan.” (Hasan Shohih, HR. Abu Dawud, Shohih Sunan no. 4282; sanadnya jayyid menurut Ibnul Qayyim rohimahullohu dalam Al-Manarul Munif; At-Tirmidzi no. 2230, 2231; Ibnu Hibban no. 6824, 6825)

2. Dari ‘Ali (bin Abi Thalib) RodhiyAllohu ‘anhudari Nabi ShollAllohu ‘alaihi wa sallam, ia mengatakan:

لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنْ الدَّهْرِ إِلاَّ يَوْمٌ لَبَعَثَ اللهُ رَجُلاً مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يَمْلَؤُهَا عَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا

“Bila tidak tersisa dari masa ini kecuali satu hari, tentu Alloh akan munculkan seorang lelaki dari ahli baitku (keluargaku) yang akan memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana (sebelumnya) telah dipenuhi dengan kecurangan.” (Shohih, HR. Abu Dawud no. 4283 Kitab Al-Mahdi dan ini adalah lafadznya, Ibnu Majah no. 4085, Kitabul Fitan Bab Khurujul Mahdi)

3. Dari Ummu Salamah RodhiyAllohu ‘anha, ia mengatakan: Aku mendengar Rosululloh ShollAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمَهْدِيُّ مِنْ عِتْرَتِي مِنْ وَلَدِ فَاطِمَةَ

“Al-Mahdi dari keluargaku dari putra Fathimah.” (Shohih, HR. Abu Dawud dan ini lafadznya, Shohih Sunan no. 4284, Ibnu Majah no. 4086, dan Al-Hakim no. 8735, 8736)

4. Dari Abu Sa’id Al-Khudri RodhiyAllohu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ShollAllohu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

الْمَهْدِيُّ مِنِّي، أَجْلَى الْجَبْهَةِ أَقْنَى اْلأَنْفِ، يَمْلَأُ اْلأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا يَمْلِكُ سَبْعَ سِنِيْنَ

“Al-Mahdi dariku, dahinya lebar, hidungnya mancung, memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana (sebelumnya) telah dipenuhi dengan kedzaliman, berkuasa selama 7 tahun.” (Hasan, HR. Abu Dawud no. 4285 dan ini lafadznya, Ibnu Majah no. 4083, At-Tirmidzi, Kitabul Fitan Bab Ma Ja`a Fil Mahdi no. 2232, Ibnu Hibban no. 6823, 6826 dan Al-Hakim no. 8733, 8734, 8737)

5. Dari Abu Hurairah RodhiyAllohu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ShollAllohu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيْكُمْ وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ؟

“Bagaimana dengan kalian jika turun kepada kalian putra Maryam, sementara imam kalian dari kalian?” (Shohih, HR. Al-Bukhori, Kitab Ahaditsul Anbiya` Bab Nuzul ‘Isa ibni Maryam, no. 3449; Muslim dalam Kitabul Iman Bab Fi Nuzul Ibni Maryam, 2/369, 390)

6. Dari Jabir bin Abdillah RodhiyAllohu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rosululloh ShollAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُوْنَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. قَالَ: فَيَنْزِلُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ فَيَقُوْلُ أَمِيْرُهُمْ: تَعَالَ صَلِّ لَنَا، فَيَقُوْلُ: لاَ، إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ تَكْرِمَةَ اللهِ هَذِهِ اْلأُمَّةَ

“Masih tetap sekelompok dari umatku berperang di atas kebenaran. Mereka unggul sampai hari kiamat, lalu turun ‘Isa putra Maryam. Maka pemimpin mereka mengatakan: ‘Kemari, jadilah imam kami.’ Ia menjawab: ‘Tidak, sebagian kalian adalah pemimpin atas sebagian yang lain, sebagai kemuliaan dari Alloh untuk umat ini’.” (Shohih, HR. Muslim dalam Kitabul Iman Bab La Tazal Tha`ifah min Ummati, 2/370, no. 393)

 

46)         Kami beriman bahwa Nabi ‘Isa ‘alaihissalaam belumlah wafat akan tetapi dia diangkat kelangit dan akan turun di akhir zaman membunuh dajjal.

öNÎgÏ9öqs%ur $¯RÎ) $uZù=tGs% yx‹Å¡pRùQ$# Ó|¤ŠÏã tûøó$# zNtƒótB tAqߙu‘ «!$# $tBur çnqè=tFs% $tBur çnqç7n=|¹ `Å3»s9ur tmÎm7ä© öNçlm; 4 ¨bÎ)ur tûïÏ%©!$# (#qàÿn=tG÷z$# Ïm‹Ïù ’Å”s9 7e7x© çm÷ZÏiB 4 $tB Mçlm; ¾ÏmÎ/ ô`ÏB AOù=Ïæ žwÎ) tí$t7Ïo?$# Çd`©à9$# 4 $tBur çnqè=tFs% $KZŠÉ)tƒ ÇÊÎÐÈ   @t/ çmyèsù§‘ ª!$# Ïmø‹s9Î) 4 tb%x.ur ª!$# #¹“ƒÍ•tã $\KŠÅ3ym ÇÊÎÑÈ   bÎ)ur ô`ÏiB È@÷dr& É=»tGÅ3ø9$# žwÎ) ¨ûsöÏB÷sã‹s9 ¾ÏmÎ/ Ÿ@ö6s% ¾ÏmÏ?öqtB ( tPöqtƒur ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# ãbqä3tƒ öNÍköŽn=tã #Y‰‹Íky­ ÇÊÎÒÈ

       “Dan karena Ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rosul Alloh”, Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Alloh telah mengangkat Isa kepada-Nya. dan adalah Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Tidak ada seorangpun dari ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka. (Annisaa’: 157-159)

Dari Jabir bin Abdillah RodhiyAllohu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rosululloh ShollAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُوْنَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. قَالَ: فَيَنْزِلُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ فَيَقُوْلُ أَمِيْرُهُمْ: تَعَالَ صَلِّ لَنَا، فَيَقُوْلُ: لاَ، إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ تَكْرِمَةَ اللهِ هَذِهِ اْلأُمَّةَ

“Masih tetap sekelompok dari umatku berperang di atas kebenaran. Mereka unggul sampai hari kiamat, lalu turun ‘Isa putra Maryam. Maka pemimpin mereka mengatakan: ‘Kemari, jadilah imam kami.’ Ia menjawab: ‘Tidak, sebagian kalian adalah pemimpin atas sebagian yang lain, sebagai kemuliaan dari Alloh untuk umat ini’.” (Shohih, HR. Muslim dalam Kitabul Iman Bab La Tazal Tha`ifah min Ummati, 2/370, no. 393)

 

Sabda Nabi ShollAllohu ‘alaihi wa sallam:

 

 وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، لَيُوْشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيْكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ عَليهِ السَّلام حَكَمًا عَدْلاً، فَيَكْسِرَ الصَّلِيْبَ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيْرَ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ، وَيَفِيْضَ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ.

 

“Dan demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sudah dekat saatnya di mana akan turun pada kalian (‘Isa) Ibnu Maryam Alaihissallam sebagai hakim yang adil. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah (upeti/pajak), dan akan melimpah ruah harta benda, hingga tidak ada seorang pun yang mau menerimanya.” (HR. Al-Bukhori kitab Ahaadiitsul Anbiyaa’ bab Nuzuul ‘Isa Ibni Maryam (no. 3448), Fat-hul Baari (VI/490-494) dan Muslim Kitaabul Iimaan bab Nuzuul ‘Isa Ibni Maryam Haakiman bi Syari’ati Nabiyyinaa Muhammad j (no.155 (242)), dari Sahabat Abu Hurairah RodhiyAllohu anhu.)

 

Dan Sabda Rosululloh ShollAllohu ‘alaihi wa sallam:

“Para Nabi itu bersaudara seayah, sedangkan ibu mereka berbeda-beda dan agama mereka satu. Aku adalah manusia yang paling dekat terhadap ‘Isa bin Maryam, karena tidak ada Nabi lagi antara dia dan aku. Dan dia akan turun (kembali). Jika kalian melihatnya, maka kenalilah oleh kalian bahwa dia adalah laki-laki yang sedang tingginya, berkulit putih kemerah-merahan, dia memakai dua buah baju yang agak kemerahan, seakan di kepalanya meneteskan air walaupun tidak basah. Dia akan mematahkan salib, membunuh babi dan menghapus jizyah serta menyeru manusia kepada Islam. Di zamannya, Alloh akan menghancurkan seluruh agama kecuali Islam. Dan Alloh akan membunuh al-Masih ad-Dajjal (melalui isa). Kemudian terciptalah keamanan di muka bumi, hingga singa dengan unta mencari makan (di tempat yang sama) dan (demikian pula) harimau dan sapi, juga serigala dan kambing, serta anak-anak kecil bermain-main dengan ular tanpa membahayakan mereka. Beliau tinggal selama empat puluh tahun, kemudian wafat dan kaum Muslimin mensholatkannya.” (HR. Abu Dawud (no. 4324), Ibnu Hibban (IX/450, no. 6775, 6782 dalam Ta’liiqatul Hisaan) dan Ahmad (II/406, 437), dari Sahabat Abu Hurairah RodhiyAllohu anhu. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shohiihah (V/214 no. 2182).)

 

47)         Kami beriman bahwa suatu hari nanti islam akan tegak diseluruh permukaan bumi di akhir zaman.

 

Dari ‘Ali (bin Abi Thalib) RodhiyAllohu ‘anhu dari Nabi ShollAllohu ‘alaihi wa sallam, mengatakan:

لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنْ الدَّهْرِ إِلاَّ يَوْمٌ لَبَعَثَ اللهُ رَجُلاً مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يَمْلَؤُهَا عَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا

“Bila tidak tersisa dari masa ini kecuali satu hari, tentu Alloh akan munculkan seorang lelaki dari ahli baitku (keluargaku) yang akan memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana (sebelumnya) telah dipenuhi dengan kecurangan.” (HR. Abu Dawud no. 4283 Kitab Al-Mahdi dan ini adalah lafadznya, Ibnu Majah no. 4085, Kitabul Fitan Bab Khurujul Mahdi)

 

48)         Kami beriman akan tanda-tanda kiamat berupa keluarnya ya’juj dan ma’juj, terjadinya gerhana, hewan melata keluar dari dalam bumi, terbitnya matahari dari barat, dan sebagainya sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits shohih.

 

Dalam hadits Hudzaifah bin Usaid Al-Ghifari RodhiyAllohu ‘anhu:

اطَّلَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْنَا وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ. فَقَالَ: مَا تَذَاكَرُوْنَ؟ قَالُوا: نَذْكُرُ السَّاعَةَ. قَالَ: إِنَّهَا لَنْ تَقُوْمَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ. فَذَكَرَ الدُّخَانَ وَالدَّجَّالَ وَالدَّابَّةَ وَطُلُوْعَ الشَّمْسِمِنْ مَغْرِبِهَا وَنُزُوْلَ عِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَيَأَجُوْجَ وَمَأْجُوْجَ وَثَلاَثَةَ خُسُوْفٍخَسْفٌ بِالْمَشْرِقِوَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ وَخَسْفٌ بِجَزِيْرَةِ الْعَرَبِ وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنْ الْيَمَنِ تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ

      Rosululloh melihat kami ketika kami tengah berbincang-bincang. Beliau berkata: “Apa yang kalian perbincangkan? ”Kami menjawab: “Kami sedang berbincang-bincang tentang hari kiamat.” Beliau berkata: “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kalian lihat sebelumnya sepuluh tanda.” Beliau menyebutkan: “Dukhon (asap), Dajjal, Daabbah, terbitnya matahari dari barat, turunnya ‘Isa ‘alaihissalam, Ya’juj dan Ma’juj, dan tiga khusuf (dibenamkan ke dalam bumi) di timur, di barat, dan di jazirah ARob, yang terakhir adalah api yang keluar dari Yaman mengusir (menggiring) mereka ke tempat berkumpulnya mereka.” (HR. Muslim no. 2901)

Rosululloh ShollAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ السَّاعَةَ لاَ تَكُوْنُ حَتَّى تَكُوْنَ عَشْرُ آيَاتٍ: خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ، وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ، وَخَسْفٌ فِي جَزِيْرَةِ الْعَرَبِ، وَالدُّخَانُ، وَالدَّجَّالُ، ودَابَّةٌ، وَيَأْجُوْجُ وَمَأْجُوْجُ، وَطُلُوْعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَنَارٌ تَخْرُجُ مِنْقَعْرِ عَدَنٍ تَرْحَلُ النَّاسَ، وَنُزُوْلُ عِيْسَى بْنِ مَرْيَمَ

      “Hari Kiamat tidak akan terjadi sehingga kalian melihat sepuluh tanda: (1) penenggelaman permukaan bumi di timur, (2) penenggelaman permukaan bumi di barat, (3) pe-nenggelaman permukaan bumi di Jazirah ARob, (4) keluarnya asap, (5) keluarnya Dajjal, (6) keluarnya binatang besar, (7) keluarnya Ya’juj wa Ma’juj, (8) terbitnya matahari dari barat, dan (9) api yang keluar dari dasar bumi ‘Adn yang meng-giring manusia, serta (10) turunnya ‘Isa bin Maryam Alaihissallam.” [HR. Muslim (no. 2901 (40)), Abu Dawud (no. 4311), at-Tirmidzi (no. 2183), Ibnu Majah (no. 4055),Imam Ahmad (IV/6), dari Sahabat Hudzaifah bin Asiid RodhiyAllohu anhu dan ini lafazh Muslim. At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shohih.” Hadits ini dishohihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam Tahqiiq Musnadil Imaam Ahmad (no. 16087)]

 

49)         Kami beriman bahwa Alloh Yang Maha Raja, yang hanya Dia Raja diRaja akan menggenggam sekali genggaman tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi dihari kiamat.

$tBur (#râ‘y‰s% ©!$# ¨,ym ¾Ín͑ô‰s% ÞÚö‘F{$#ur $Yè‹ÏJy_ ¼çmçGŸÒö6s% tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# ÝVºuq»yJ¡¡9$#ur 7M»­ƒÈqôÜtB ¾ÏmÏYŠÏJu‹Î/ 4 ¼çmoY»ysö7ߙ 4’n?»yès?ur $£Jt㠚cqä.Ύô³ç„ ÇÏÐÈ

      “Dan mereka tidak mengagungkan Alloh dengan pengagungan yang semestinya Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (Azzumar: 67)

Sesungguhnya Abu Hurairoh telah berkata telah bersabda Rosululloh صلى الله عليه وسلم: “Alloh عزوجل menggenggam bumi pada hari kiamat dan melipat (menggulung) langit (dalam riwayat lain: langit-langit) dengan tangan kanan-Nya, kemudian Alloh عزوجل berkata: “ Akulah raja! Manakah raja-raja bumi (dunia)?”. (Hadits shohih riwayat. Bukhori no. 4812,6519,7382 & 7413 dan muslim no. 2787 )

Dari Ibnu Umar رضي الله عنه dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم beliau bersabda: “Seseungguhnya Alloh عزوجل menggenggam bumi pada hari kiamat dan langit berada di tangan Kanan-Nya, kemudian Dia berkata: “Akulah Raja!”. (Hadits shohih riwayat. Bukhori no 7412 (dan ini adalah lafadznya) dan muslim no. 2788)

50)         Kami beriman bahwa Alloh ta’ala akan mengumpulkan manusia di padang mahsyar seluruhnya.

وَعُرِضُوا عَلَى رَبِّكَ صَفًّاا

“Dan mereka akan dibwa ke hadapan Robbmu dengan berbaris” (al-Kahfi: 48)

وَالْمَلَكُ عَلَى أَرْجَائِهَا وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ

“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Robbmu) tidak sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Alloh).” (al-Haqqah: 18)

Pada hari kiamat itu, Alloh mengumpulkan semua hamba-Nya, sebagaimana Firman-Nya:

لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لاَ رَيْبَ فِيه

“Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya.” (an-Nisa’: 87)

يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ ذَلِكَ يَوْمُ التَّغَابُنِ

“(Ingatlah) hari (yang di waktu itu) Alloh mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan (untuk dihisab), itulah hari (waktu itu) ditampakkan kesalahan-kesalahan.” (at-Taghabun: 9)

الآخِرَةِ ذَلِكَ يَوْمٌ مَّجْمُوعٌ لَّهُ النَّاسُ وَذَلِكَ يَوْمٌ مَّشْهُودٌ

“Hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh semua makhluk)” (Hud: 103)

قُلْ إِنَّ الْأَوَّلِينَ.  وَالْآخِرِينَلَمَجْمُوعُونَ إِلَى مِيقَاتِ يَوْمٍ مَّعْلُومٍ

“Katakanlah, “sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang kemudian, benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang dikenal.” (al-Waqi’ah: 49-50)

يَوْمَ تُبَدَّلُ الأَرْضُ غَيْرَ الأَرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ وَبَرَزُواْ للّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ

“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang mahsyar) berkumpul menghadap hadirat Alloh Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”. (Ibrahim: 48)

Nabi SholAllohu ‘alaihi wasssalam bersabda: “pada hari kiamat kelak, manusia akan dikumpuljan di bumi yang sangat putih berbentuk bulat pipi dan datar seperti roti bulat yang putih tidak ada tanda (bangunan milik siapapun di atasnya).” (HR. Bukhory: 6521)

51)         Kami beriman akan diusirnya ahlul bid’ah dari telaga Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam  di padang mahsyar.

!$¯RÎ) š»oYø‹sÜôãr& trOöqs3ø9$# ÇÊÈ   Èe@|Ásù y7În/tÏ9 öptùU$#ur ÇËÈ   žcÎ) št¥ÏR$x© uqèd çŽtIö/F{$# ÇÌÈ

      “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus.” (Al-kautsar: 1-3)

Diriwayatkan oleh Imam Muslim didalam kitab shohihnya dari Anas bin Malik rodhiallhu ‘anhu ia berkata, “Rosululloh sholAllohu ‘alayhi wa sallam tertunduk sesaat, kemudian beliau mengangkat kepalanya sambil tersenyum dan berkata, “Sesungguhnya baru saja diturunkan kepadaku satu surah.” Lalu beliau membaca,

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

Dengan menyebut Nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi maha Penyayang. Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu Al kautsar.” (Qs. Al Kautsar).  Hingga beliau menamatkannya. Lalu beliau bertanya, “Tahukah kamu apakah Al Kautsar itu?” Para shohabat berkata, “Alloh dan Rosul-Nya lebih mengetahui” Beliau bersabda, “Itu adalah sungai yang diberikan oleh Alloh kepadaku didalam surga, terdapat kebaikan yang sangat banyak didalamnya. Pada hari kiamat nanti umatku akan mendatanginya. Gelas yang tersedia padanya sejumlah bintang di langit. lalu ada seseorang yang dijauhkan darinya, maka aku berkata, “Sesungguhnya ia termasuk umatku..” Namun dikatakan, “Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang telah ia lakukan sepeninggalmu.” (Hadits diriwayatkan oleh Muslim (892), Tirmidzi (2465)

 

52)         Kami beriman akan adanya syafa’at bagi ahli tauhid (menyembah hanya kepada Alloh).

قُلِ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا

“Katakanlah! Hanya kepunyaan Allohlah syafaat itu semuanya.” (QS. Az Zumar: 44)

 

Abu Hurairah RodhiAllohu’anhu bahwasanya dia bertanya kepada Rosululloh ShollAllohu’alaihi wasallam,

يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ قَالَ: لَقَدْ ظَنَنْتُ أَنْ لاَ يَسْأَلَنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيْثِ أَحَدٌ أَوْلَى مِنْكَ لِحِرْسِكَ عَلَى الْحَدِيْثِ. قَالَ: إِنَّ أَسْعَدَ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِ نَفْسِهِ

      “Ya Rosululloh, siapakah yang paling beruntung dengan syafa’at engkau kelak pada hari kiamat?” Rosululloh ShollAllohu’alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku telah menyangka bahwa tidak ada seseorang yang lebih dahulu bertanya tentang ini kecuali engkau, karena semangatmu dalam mencari hadits.” Beliau ShollAllohu’alaihi wasallam bersabda: “Orang yang paling beruntung dengan syafaatku kelak adalah orang yang mengucapkan La ilaha illAlloh dengan penuh keikhlasan dari dalam hatinya. (HR. Imam Bukhori no. 99)

 

53)         Kami beriman akan adanya siroth yaitu jembatan yang terbentang di atas neraka yang akan dilewati jin dan manusia.

bÎ)ur óOä3ZÏiB žwÎ) $ydߊ͑#ur 4 tb%x. 4’n?tã y7În/u‘ $VJ÷Fym $wŠÅÒø)¨B ÇÐÊÈ   §NèO ÓÉdfuZçR tûïÏ%©!$# (#qs)¨?$# â‘x‹tR¨r šúüÏJÎ=»©à9$# $pkŽÏù $wŠÏWÅ_ ÇÐËÈ

       “Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam Keadaan berlutut.” (Maryam: 71-72)

 

Abu Sa’id Al-Khudri rodhiyallohu ‘anhu : “Telah sampai (berita) kepadaku, bahwa jembatan tersebut lebih tipis/halus daripada rambut, dan lebih tajam daripada pedang…” (HR. Imam Muslim no. 183)

Semua manusia akan melewati shiroth tersebut sesuai dengan kadar amalannya ketika masih hidup di dunia. Diantara mereka ada yang melintasi shiroth itu seperti kejapan mata (sekejap mata), ada yang seperti kilat, ada yang seperti angin (yang bertiup kencang), ada yang seperti kuda yang berlari kencang, ada yang seperti menunggang onta, ada yang seperti orang yang berlari kencang, ada yang seperti orang yang berjalan kaki, ada yang seperti orang yang merangkak, ada yang belum sempat berjalan tapi langsung ditarik oleh pengait-pengait (seperti supit) yang ada di kanan dan kiri shiroth tersebut sehingga langsung terjun ke neraka jahannam, dan lainnya. (silahkan periksa : Hadits Abu Huroiroh (Shohih Al-Bukhori no. 806, Muslim no. 182 dan 195) dan Hadits Abu Sa’id Al-Khudri dalam Shohih Al-Bukhori no. 7440 dan Muslim no. 183)

 

54)         Kami beriman bahwa surga yang penuh kenikmatan telah ada sekarang dan begitu pula neraka yang penuh ‘adzab (nas’alulloohal jannah wa na’udzubillahi min ‘adzaabinnaar).

bÎ*sù öN©9 (#qè=yèøÿs? `s9ur (#qè=yèøÿs? (#qà)¨?$$sù u‘$¨Z9$# ÓÉL©9$# $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$# äou‘$yfÅsø9$#ur ( ôN£‰Ïãé& tûï̍Ïÿ»s3ù=Ï9 ÇËÍÈ   ΎÅe³o0ur šúïÏ%©!$# (#qãYtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# ¨br& öNçlm; ;M»¨Yy_ “̍øgrB `ÏB $ygÏFøtrB ㍻yg÷RF{$# ( $yJ¯=à2 (#qè%Η①$pk÷]ÏB `ÏB ;otyJrO $]%ø—Íh‘   (#qä9$s% #x‹»yd “Ï%©!$# $oYø%Η①`ÏB ã@ö6s% ( (#qè?é&ur ¾ÏmÎ/ $YgÎ7»t±tFãB ( óOßgs9ur !$ygŠÏù Ólºurø—r& ×ot£gsܕB ( öNèdur $ygŠÏù šcrà$Î#»yz ÇËÎÈ

       “Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) – dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada Kami dahulu.” mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqoroh 24-25)

 

Nabi shollAllohu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ

“Aku mendatangi, surga maka kulihat kebanyakan penduduknya adalah para faqir dan aku mendatangi neraka maka aku lihat kebanyakan penduduknya para wanita”. (HR. Al-Bukhori no. 3002 dan Muslim no. 4920 dari Ibnu Abbas)

 

55)         Kami beriman bahwa Alloh ta’ala dengan rahmatNya akan memasukkan sekelompok manusia ke dalam surga tanpa hisab dan tanpa ‘adzab di akhirat nanti.

Hushoin bin Abdurrahman -rohimahulloh- berkata:

كُنْتُ عِنْدَ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ فَقَالَ أَيُّكُمْ رَأَى الْكَوْكَبَ الَّذِي انْقَضَّ الْبَارِحَةَ قُلْتُ أَنَا ثُمَّ قُلْتُ أَمَا إِنِّي لَمْ أَكُنْ فِي صَلَاةٍ وَلَكِنِّي لُدِغْتُ قَالَ فَمَاذَا صَنَعْتَ قُلْتُ اسْتَرْقَيْتُ قَالَ فَمَا حَمَلَكَ عَلَى ذَلِكَ قُلْتُ حَدِيثٌ حَدَّثَنَاهُ الشَّعْبِيُّ فَقَالَ وَمَا حَدَّثَكُمْ الشَّعْبِيُّ قُلْتُ حَدَّثَنَا عَنْ بُرَيْدَةَ بْنِ حُصَيْبٍ الْأَسْلَمِيِّ أَنَّهُ قَالَ لَا رُقْيَةَ إِلَّا مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ فَقَالَ قَدْ أَحْسَنَ مَنْ انْتَهَى إِلَى مَا سَمِعَ وَلَكِنْ حَدَّثَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ إِذْ رُفِعَ لِي سَوَادٌ عَظِيمٌ فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِي فَقِيلَ لِي هَذَا مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَوْمُهُ وَلَكِنْ انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ الْآخَرِ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي هَذِهِ أُمَّتُكَ وَمَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ ثُمَّ نَهَضَ فَدَخَلَ مَنْزِلَهُ فَخَاضَ النَّاسُ فِي أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ فَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمْ الَّذِينَ صَحِبُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمْ الَّذِينَ وُلِدُوا فِي الْإِسْلَامِ وَلَمْ يُشْرِكُوا بِاللَّهِ وَذَكَرُوا أَشْيَاءَ فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا الَّذِي تَخُوضُونَ فِيهِ فَأَخْبَرُوهُ فَقَالَ هُمْ الَّذِينَ لَا يَرْقُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقَالَ أَنْتَ مِنْهُمْ ثُمَّ قَامَ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقَالَ سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ

“Saya pernah bersama Said bin Jubair lalu dia berkata, ‘Siapa di antara kalian yang melihat bintang jatuh tadi malam? ‘ Aku menjawab, ‘Aku’. Kemudian aku berkata, ‘Tapi aku tidak sedang mengerjakan sholat, akan tetapi aku terbangun karena aku disengat (binatang).’ Sa’id lalu berkata, “Lantas apa yang kamu perbuat? ‘ Aku menjawab, ‘Aku meminta untuk diruqyah.’ Sa’id bertanya, ‘Apa yang membuatmu melakukan hal tersebut? ‘ Aku menjawab, ‘Sebuah hadits yang Asy-Sya’bi ceritakan kepadaku.’ Sa’id bertanya lagi, ‘Apa yang diceritakan asy-Sya’bi kepada kalian.’ Aku menjawab, ‘Dia telah menceritakan kepada kami dari Buraidah bin Hushoib al-Aslami, bahwa dia berkata, “Tidak ada ruqyah kecuali disebabkan oleh penyakit ain dan racun (sengatan binatang berbisa).” Maka Sa’id pun menjawab, “Telah berbuat baik orang melaksanakan sesuai dengan apa (dalil) yang dia dengar. Hanya saja Ibnu Abbas telah menceritakan kepada kami dari Nabi shollAllohu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Telah diperlihatkan kepadaku semua umat. Lalu aku melihat seorang nabi yang bersamanya 3 sampai 9 orang, ada juga nabi yang bersama dengannya hanya satu atau dua orang lelaki saja, bahkan ada seorang nabi dan tidak ada seorangpun yang bersamanya. Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sekumpulan orang, maka aku menyangka mereka adalah umatku. Tetapi dikatakan kepadaku, ‘Mereka adalah Nabi Musa alaihissalam dan kaumnya. Tetapi lihatlah ke ufuk’. Lalu aku pun melihatnya, ternyata ada kumpulan besar yang berwarna hitam (yakni saking banyaknya orang kelihatan dari jauh). Lalu dikatakan lagi kepadaku, ‘Lihatlah ke ufuk yang lain.’ Ternyata di sana juga terdapat kumpulan besar yang berarna hitam. Dikatakan kepadaku, ‘Ini adalah umatmu dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang akan memasuki surga tanpa dihisab dan azab.” Setelah menceritakan itu, Rosululloh shollAllohu ‘alaihi wasallam kemudian bangkit lalu masuk ke dalam rumahnya. Orang-orang lalu memperbincangkan mengenai mereka yang akan dimasukkan ke dalam Surga tanpa dihisab dan azab. Sebagian dari mereka berkata, “Mungkin mereka adalah orang-orang yang selalu bersama Rosululloh shollAllohu ‘alaihi wasallam.” Ada pula yang mengatakan, “Mungkin mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak pernah melakukan perbuatan syirik terhadap Alloh.” Mereka mengemukakan pendapat masing-masing. Lalu Rosululloh shollAllohu ‘alaihi wasallam keluar menemui mereka, lalu beliau bertanya: “Apa yang telah kalian perbincangkan?” Mereka pun menerangkannya kepada beliau. Maka Rosululloh shollAllohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang tidak meruqyah, tidak meminta untuk diruqyah, tidak meyakini thiyarah (pamali) dan hanya kepada Alloh mereka bertawakal.” Ukkasyah bin Mihshon berdiri lalu berkata, “Berdoalah kepada Alloh agar aku termasuk dari kalangan mereka.” Rosululloh shollAllohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kamu termasuk dari kalangan mereka.” Kemudian seorang lelaki lain berdiri dan berkata, “Berdoalah kepada Alloh agar aku termasuk dari kalangan mereka.” Rosululloh shollAllohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ukkasyah telah mendahuluimu.” (HR. Al-Bukhori no. 5270 dan Muslim no. 323)

Kalimat yang ditebalkan di atas telah dikritisi oleh sebagian ulama, di antaranya Imam Ad-Daraquthni dan selainnya. Karena kandungannya bertentangan dengan dalil-dalil lain yang membolehkan bahkan menganjurkan seseorang yang mampu untuk meruqyah saudaranya, tanpa perlu dia diminta.

Dalam riwayat Al-Bukhori disebutkan:

هُمْ الَّذِينَ لَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Mereka itu adalah orang-orang yang tidak meyakini thiyarah (pamali), tidak meminta untuk diruqyah, dan tidak menggunakan kay (pengobatan dengan besi panas), dan hanya kepada Robb merekalah mereka bertawakkal.”

56)         Kami beriman bahwa pemimpin seluruh manusia di akhirat adalah Rosullulloh Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa sallam , beliaulah yang membuka dan masuk surga pertama kali dan ummat beliau yang pertama kali masuk ke dalam surga.

 

Rosululloh sholAllohu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَنَا أَكْثَرُ اْلأَنْبِيَاءِ تَبَعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَنَا أَوَّلُ مَنْ يَقْرَعُ بَابَ الْجَنَّةِ

“Saya adalah orang yang paling banyak pengikutnya pada Hari Kiamat dan saya adalah orang yang pertama kali mengetuk pintu Al Jannah. ” (HR. Muslim no. 196) Masih dari shohabat Anas bin Malik namun dalam riwayat At Tirmidzi, dengan lafadz: “Saya adalah orang yang pertama kali keluar jika mereka dibangkitkan. Saya adalah orang pertama kali bicara, jika mereka diam. Saya adalah pemimpin mereka, jika mereka dikirim. Saya adalah pemberi syafaat kepada mereka, jika mereka tertahan. Saya adalah pemberi berita gembira, jika mereka putus asa. Panji pujian ada digenggaman tanganku. Kunci-kunci al jannah ada ditanganku. Saya adalah keturunan Adam yang paling mulia di sisi Robb-ku dan tidak ada kebanggaan melebihi hal ini. Saya dikelilingi seribu pelayan setia laksana mutiara yang tersimpan. ”

Dari shohabat Abu Hurairah RodhiAllohu ‘anhu, Rosululloh sholAllohu ‘alaihi wasallam bersabda:

نَحْنُ اْلآخِرُونَ اْلأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَنَحْنُ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ بَيْدَ أَنَّهُمْ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِنَا وَأُوتِينَاهُ مِنْ بَعْدِهِمْ

“Kita adalah umat terakhir namun paling awal pada hari kiamat. Kita adalah umat yang pertama kali masuk al jannah, meskipun mereka diberi kitab sebelum kita, dan kita diberi kitab sesudah mereka. ” (HR. Muslim no. 855)

 

57)         Kami beriman bahwa penuntut ilmu syar’i akan dimudahkan jalannya menuju surga.

Nabi shollAllohu ‘alaihi wa sallam berkata:

مَنْ سَلَكَ طَرِيْـقًـا يَبْـتَغِي فِيْهِ عِلْمًا سَهَّـلَ اللهُ لَهُ طَرِيْـقًـا إِلَى الْجَنَّـةِ، وَإِنَّ الْمَـلاَئِـكَةَ لَتَضَعُ أَجْـنِحَـتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بِمَا يَصْنَعُ، وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَـسْـتَغْـفِـرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَـا وَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ حَتَّى الْحِـيْتَـانُ فِي الْمَـاءِ.

Artinya: “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Alloh memudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya para Malaikat membentangkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha atas apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya orang yang berilmu benar-benar dimintakan ampun oleh penghuni langit dan bumi, bahkan oleh ikan-ikan yang berada di dalam air.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3641), Tirmidzi (no. 2682), Ibnu Majah (no. 223), Ahmad (V/196), Ad-Darimi (I/98), Ibnu Hibban (88 – Al-Ihsan dan 80 – Al-Mawarid), Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (I/275-276, no. 129), Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi (I/174 ,no. 173), dan Ath-Thahawi dalam Musykilul Atsar (I/429), dari Abud Darda’ RodhiyAllohu’anhu]

58)         Kami beriman bahwa ummat Rosullulloh Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa sallam  yang faqirlah yang terbanyak di dalam surga, nas’alulloohal jannah.

 

Nabi shollAllohu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ

      “Aku mendatangi, surga maka kulihat kebanyakan penduduknya adalah para faqir dan aku mendatangi neraka maka aku lihat kebanyakan penduduknya para wanita”. (HR. Al-Bukhori no. 3002 dan Muslim no. 4920 dari Ibnu Abbas)

 

59)         Kami beriman bahwa penduduk surga lebih sedikit dibandingkan penduduk neraka, dan isi neraka kebanyakannya perempuan, na’udzubillahi min ‘adzaabinnaar.

Hadits riwayat Abdullah bin Masud rodhiallohu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami: “Ridakah kalian menjadi seperempat penghuni surga? Kami (para sahabat) bertakbir. Beliau bersabda lagi: Ridakah kalian menjadi sepertiga penghuni surga? Kami pun bertakbir. Lalu beliau kembali bersabda: Sungguh, aku berharap kalian dapat menjadi setengah penghuni surga. Aku akan memberitahukan hal itu kepada kalian. Orang-orang Islam di tengah orang-orang kafir seperti sehelai rambut putih pada sapi hitam, atau seperti sehelai rambut hitam pada sapi putih.” (Shohih Muslim No.324)

 

Nabi shollAllohu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ

“Aku mendatangi, surga maka kulihat kebanyakan penduduknya adalah para faqir dan aku mendatangi neraka maka aku lihat kebanyakan penduduknya para wanita”. (HR. Al-Bukhori no. 3002 dan Muslim no. 4920 dari Ibnu Abbas)

 

60)         Kami beriman bahwa orang munafik akan masuk neraka yang paling bawah.

¨bÎ) tûüÉ)Ïÿ»oYçRùQ$# ’Îû Ï8ö‘¤$!$# È@xÿó™F{$# z`ÏB ͑$¨Z9$# `s9ur y‰ÅgrB öNßgs9 #·ŽÅÁtR ÇÊÍÎÈ

       “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (Annisaa’: 145)

 

61)         Kami beriman bahwa Alloh Al-Ghoffaar akan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendakinya, dan siapa yang mati diatas kesyirikan akan kekal di dalam neraka.

¨bÎ) tûïÏ%©!$# (#rãxÿx. (#qè?$tBur öNèdur ֑$¤ÿä. `n=sù Ÿ@t6ø)ムô`ÏB NÏdωymr& âäö@ÏiB Äßö‘F{$# $Y6ydsŒ Èqs9ur 3“y‰tGøù$# ÿ¾ÏmÎ/ 3 y7Í´¯»s9’ré& óOßgs9 ë>#x‹tã ÒOŠÏ9r& $tBur Nßgs9 `ÏiB tûïΎÅÇ»¯R ÇÒÊÈ

       “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, Maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun Dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. bagi mereka Itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.” (Ali-Imron: 91)

 

 

¨bÎ) ©!$# Ÿw ãÏÿøótƒ br& x8uŽô³ç„ ¾ÏmÎ/ ãÏÿøótƒur $tB tbrߊ y7Ï9ºsŒ `yJÏ9 âä!$t±o„ 4 `tBur õ8Ύô³ç„ «!$$Î/ ωs)sù #“uŽtIøù$# $¸JøOÎ) $¸JŠÏàtã ÇÍÑÈ

       “Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Alloh, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (Annisaa’: 48)

¨bÎ) ©!$# Ÿw ãÏÿøótƒ br& x8uŽô³ç„ ¾ÏmÎ/ ãÏÿøótƒur $tB šcrߊ šÏ9ºsŒ `yJÏ9 âä!$t±o„ 4 `tBur õ8Ύô³ç„ «!$$Î/ ô‰s)sù ¨@|Ê Kx»n=|Ê #´‰‹Ïèt/ ÇÊÊÏÈ

       “Sesungguhnya Alloh tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Alloh, Maka Sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (Annisaa’: 116)

 

62)         Kami beriman bahwa akan keluar dari neraka ahli ma’siat yang didalam hatinya ada keimanan.

 

Beliau ShollAllohu ‘alaihi wa sallam di antaranya bersabda:

 

فَوَالَّذِى نَفْسِي بِيَدِهِ! مَا مِنْ أَحَدٍ مِنْكُمْ بِأَشَدَّ مُنَاشَدَةً للهِ فِى اسْتِضَاءَةِ الْحَقِّ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ للهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لإِخْوَانِهِمُ الَّذِيْنَ فِى النَّارِ. يَقُوْلُوْنَ : رَبَّنَا! كَانُوْا يَصُوْمُوْنَ مَعَنَا وَيُصَلُّوْنَ وَيَحُجُّوْنَ. فَيُقَالُ لَهُمْ : أَخْرِجُوْا مَنْ عَرَفْتُمْ. فَتُحَـرَّمُ صُـوَرُهُمْ عَـلَى النَّارِ. فَيُخْرِجُوْنَ خَلْقًا كَثِيْرًا قَدْ أَخَذَتِ النَّاُر إِلَى نِصْفِ سَاقَيْهِ وَإِلَى رُكْبَتَيْهِ. ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ : رَبَّنَا! مَا بَقِيَ فِيْهَا أَحَدٌ مِمَّنْ أَمَرْتَنَا بِهِ. فَيَقُوْلُ : اِرْجِعُوْا! فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالَ دِيْنَارٍ مِنْ خَيْرٍ فَأَخْرِجُوْهُ! فَيُخْرِجُوْنَ خَلْقًا كَثِيْرًا. ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ : رَبَّنَا! لَمْ نَذَرْ فِيْهَا أَحَدًا مِمَّنْ أَمَرْتَنَا بِهِ. ثُمَّ يَقُوْلُ : اِرْجِعُوْا! فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالَ نِصْفِ دِيْنَارٍ مِنْ خَيْرٍ فَأَخْرِجُوْهُ! فَيُخْرِجُوْنَ خَلْقًا كَثِيْرًا. ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ : رَبَّنَا! لَمْ نَذَرْ فِيْهَا مِمَّنْ أَمَرْتَنَا أَحَدًا. ثُمَّ يَقُوْلُ : اِرْجِعُوْا! فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ فَأَخْرِجُوْهُ! فَيُخْرِجُوْنَ خَلْقًا كَثِيْرًا. ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ : رَبَّنَا!ْ لَمْ نَذَرْ فِيْهَا خَيْرًا.  وَكَانَ أَبُوْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ يَقُوْلُ: إِنْ لَمْ تُصَدِّقُوْنِي بِهَذَا الْحَدِيْثِ فَاقْرَأُوْا إِنْ شِئْتُمْ : (إَنَّ اللهَ لاَيَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِن تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِن لَّدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا) من سورة النساء : 40 – الحديث.- رواه البخاري ومسلم-.

“Demi Alloh Yang jiwaku ada di tanganNya. Tidak ada seorangpun diantara kamu yang lebih bersemangat di dalam menyerukan permohonannya kepada Alloh untuk mencari cahaya kebenaran, dibandingkan dengan kaum Mu’minin ketika memohonkan permohonannya kepada Alloh pada hari Kiamat untuk (menolong) saudara-saudaranya sesama kaum Mu’minin yang berada di dalam Neraka. Mereka berkata : “Wahai Robb kami, mereka dahulu berpuasa, sholat dan berhaji bersama-sama kami”. Maka dikatakan (oleh Alloh) kepada mereka : “Keluarkanlah oleh kalian (dari Neraka) orang-orang yang kalian tahu!” Maka bentuk-bentuk fisik merekapun diharamkan bagi Neraka (untuk membakarnya). Kemudian orang-orang Mu’min ini mengeluarkan sejumlah banyak orang yang dibakar oleh Neraka sampai pada pertengahan betis dan lututnya. Kemudian orang-orang Mu’min ini berkata: “Wahai Robb kami, tidak ada lagi di Neraka seorangpun yang engkau perintahkan untuk mengeluarkannya”. Alloh berfirman : “Kembalilah! Siapa saja yang kalian dapati di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat satu dinar, maka keluarkanlah (dari Neraka)!” Maka merekapun mengeluarkan sejumlah banyak orang dari Neraka. Kemudian mereka berkata lagi : “Wahai Robb kami, tidak ada lagi seorangpun yang kami sisakan dari orang yang Engkau perintahkan untuk kami mengeluarkannya”. Alloh berfirman : “Kembalilah! Siapa saja yang kalian dapati di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat setengah dinar, maka keluarkanlah (dari Neraka)”. Merekapun mengeluarkan sejumlah banyak orang. Selanjutnya mereka berkata lagi : “Wahai Robb kami, tidak ada seorangpun yang Engkau perintahkan, kami sisakan (tertinggal di Neraka)”. Alloh berfirman: “Kembalilah! Siapa saja yang kalian dapati di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji dzarrah, maka keluarkanlah (dari Neraka)”. Maka merekapun mengeluarkan sejumlah banyak orang. Kemudian mereka berkata : “Wahai Robb kami, tidak lagi kami menyisakan di dalamnya seorangpun yang mempunyai kebaikan”.

Pada waktu itu Abu Sa’id al Khudri mengatakan: “Apabila kalian tidak mempercayai hadits ini, maka jika kalian suka, bacalah firman Alloh (yang artinya): “Sesungguhnya Alloh tidak menzhalimi seseorang meskipun sebesar dzarrah, dan jika ada kebajikan sebesar dzarrah, niscaya Alloh akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisiNya pahala yang besar”. (an Nisaa’: 40) … al Hadits”. [HR. Bukhori dan Muslim, Lihat Fathul Bari (XIII/421), hadits no. 7439, Kitab at Tauhid, Bab 24, dengan lafadz berbeda. Dan lihat Shohih Muslim Syarh Nawawi, tahqiq Kholil Ma’mun Syiha (III/32), hadits no. 453. Lafadz hadits di atas adalah lafadz Imam Muslim.]

 

63)         Kami beriman bahwa Alloh ta’ala akan dapat dilihat dengan sangat jelas diakhirat nanti tanpa penghalang.

 

في الصحيحين عن جرير بن عبد الله رضي الله عنه قال: «كنا جلوسا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فنظر إلى القمر ليلة أربع عشرة فقال: ” إنكم سترون ربكم عيانا كما ترون هذا، لا تضامون في رؤيته، فإن استطعتم أن لا تغلبوا على صلاة قبل طلوع الشمس وصلاة قبل غروبها فافعلوا» رواه البخاري (554، 573، 4851) ومسلم (مساجد / 211) .

Di dalam shohihain dari Jarir bin Abdullah RodhiyAllohu ‘Anhu: Ketika kami sedang duduk di samping Rosululloh ShollAllohu ‘Alaihi Wasallam, tiba-tiba beliau memandang bulan purnama, seraya bersabda: “Sesungguhnya kalian akan dapat melihat Robb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini, dan kalian tidak berdesak-desakkan ketika melihat-Nya. Maka jika kalian mampu, janganlah kalian lalai untuk melakukan sholat sebelum terbit Matahari dan sebelum terbenam Matahari, yaitu sholat Asar dan Subuh”. Kemudian Jarir membaca firman Alloh “Dan bertasbihlah dengan memuji Robb-mu sebelum terbit dan terbenam matahari”.)) HR. Bukhori (554، 573، 4851) .HR. Muslim(مساجد / 211)

64)         Kami beriman bahwa nikmat terbesar di surga adalah melihat wajah Alloh ta’ala dan mendapatkan ridhoNya.

×nqã_ãr 7‹Í´tBöqtƒ îouŽÅÑ$¯R ÇËËÈ   4’n<Î) $pkÍh5u‘ ×otÏß$tR ÇËÌÈ

 

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (Al-Qiyamah: 22-23)

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ قَالَ يَقُولُ الهُe تَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ فَيَقُولُونَ أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ قَالَ فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ (صحيح مسلم باب :باب إثبات رؤية المؤمنين في الآخرة ربهم سبحانه (كتاب :كتاب الإيمان )) رقم الحديث : الجزء 1: الصفحة : 163

 

“Apabila penduduk surga telah masuk ke surga, Alloh Taala berfirman: ”Apakah kamu menginginkan sesuatu yang akan Aku tambahkan?”. Mereka berkata: “Bukankah Engkau telah memutihkan muka kami dan memasukkan kami ke dalam surga, dan menyelamatkan kami dari neraka?”. Kemudian Alloh membuka tabir, dan tidak ada sesuatu yang telah diberikan kepada mereka yang lebih mereka cintai dari pada melihat Tuhannya Yang Maha Tinggi. [HR.Muslim bab penetapan melihatnya mu’minin di akhirat kepada robbNya subhanah, dari Shuhaib rodhiallohu ‘anhu]

 

65)         Kami beriman bahwa penduduk surga akan kekal di dalam surga dan begitu pula penduduk neraka yang kafir akan kekal di dalam neraka.

šù=Ï? ߊr߉ãm «!$# 4 ÆtBur ÆìÏÜム©!$# ¼ã&s!qߙu‘ur ã&ù#Åzô‰ãƒ ;M»¨Zy_ ”̍ôfs? `ÏB $ygÏFóss? ㍻yg÷RF{$# šúïÏ$Î#»yz $ygŠÏù 4 šÏ9ºsŒur ã—öqxÿø9$# ÞOŠÏàyèø9$# ÇÊÌÈ   ÆtBur ÄÈ÷ètƒ ©!$# ¼ã&s!qߙu‘ur £‰yètGtƒur ¼çnyŠr߉ãn ã&ù#Åzô‰ãƒ #·‘$tR #V$Î#»yz $yg‹Ïù ¼ã&s!ur ÑU#x‹tã ÑúüÎg•B ÇÊÍÈ

       “Itulah hududnya(hukumnya) Alloh. Barangsiapa taat kepada Alloh dan Rosul-Nya, niscaya Alloh memasukkannya kedalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah kemenangan yang besar. Dan Barangsiapa yang mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Alloh memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (Annisaa’: 13-14)

 

عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : يُؤْتَى بِالْمَوْتِ كَهَيْئَةِ كَبْشٍ أَمْلَحٍ فَيُنَادِي بِهِ مُنَادٍ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ  فَيَشْرَئِبُوْنَ وَيَنْظُرُوْنَ, فَيَقًُوْلُ : هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : نَعَمْ, هَذَا الْمَوْتُ, وَكُلُّهُمْ قَدْ رَآهُ, ثُمَّ يُنَادِي مُنَادٍ : يَا أَهْلَ النَّارِ فَيَشْرَئِبُوْنَ وَيَنْظُرُوْنَ, فَيَقُوْلُ : هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : نَعَمْ, هَذَا الْمَوْتُ وَكُلُّهْمْ قَدْ رَآهُ فَيُذْبَحُ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ ثُمَّ يَقُوْلُ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ خُلُوْدٌ فَلاَ مَوْتَ, وَيَا أَهْلَ النَّارِ خُلُوْدٌ فَلاَ مَوْتَ, ثُمَّ قَرَأَ (وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ إِذْ قُضِيَ الأَمْرُ وَهُمْ فِيْ غَفْلَةٍ وَهُمْ لاَ يُؤْمِنُوْنَ) وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى الدُّنْيَا

Dari Abu Sa’id al-Khudri berkata: Rosululloh bersabda: “Kematian didatangkan pada bentuk kambing berkulit hitam putih, lalu seorang penyeru memanggil: Wahai penduduk surga! Mereka menengok dan melihat, penyeru itu berkata: Apakah kalian mengenal ini? Mereka menjawab: Ya, ini adalah kematian, mereka semua telah melihatnya. Kemudian penyeru memanggil: Wahai penduduk neraka! Mereka menengok dan melihat, penyeru itu berkata: Apakah kalian mengenal ini? Mereka menjawab: Ya, ini adalah kematian, mereka semua telah melihatnya, lalu disembelih diantara surga dan neraka, lalu berkata: Wahai penduduk surga, kekekalan tiada kematian setelahnya, dan hai penduduk neraka, kekekalan dan tiada kematian setelahnya, lalu beliau membaca (Dan berilah mereka peringatan tatkala ditetapkan perkara sedangkan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak beriman (QS. maryam: 39)). Dan beliau mengisyaratkan dengan tangannya ke dunia. (Diriwayatkan: Bukhori 4730, 6549, Muslim 2849, Ahmad 3/9, Tirmidzi 3156, Nasai dalam Sunan Kubra 11316, al-Baghawi dalam Syarh Sunnah 4366 dan Ma’alim Tanzil 1/232, al-Ajurri dalam asy-Syari’ah 944, Abu Nuaim dalam Hilyah Auliya’ 8/184, ath-Thabari dalam Jamiul Bayan 16/87, al-Baihaqi dalam al-Ba’tsu wa Nusyur 640, Abdu bin Humaid dalam al-Muntakhob 912.)

 

Smoga Alloh ta’ala mematikan kita diatas ‘aqidah yang shohih, walhamdulillaahi robbil’aalamiin,

 

Selesai Ahad 28 Muharrom 1435, Makassar

Al faqiir ilallooh Abu Ibrohim Sa’iid bin Salim Al Makassary

 Download dalam bentuk pdf di sini

Penulis: Abu Ibrohim (Admin kebenaranhanya1 (thetruthonly1))

Ingatlah bahwa tiada yang berhak disembah selain Allah

4 thoughts on “Inilah ‘Aqidah Kami, ‘Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah Dengan Dalil-Dalilnya”

  1. alhamdulillah kami dapat ilmu yang bermanfaat, aminn…………semoga diridlohi Alloh Subhanallahu Wata’alah semoga mendapat balasan yang setimpal.

    Suka

  2. bismillah, assalamualaykum ustadz , ana mau ngasih tau aja, kot text huruf arabya tulisanya kob berubah apa ini hnya di liat dari komputer sy saja, ini contohnya ;Alloh ta’ala berfirman:

    ÷Pr& (#qà)Î=äz ô`ÏB Ύöxî >äóÓx« ÷Pr& ãNèd šcqà)Î=»y‚ø9$# ÇÌÎÈ [huruf alquranya kok jd bgini]

      “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” (Atthuur: 35).
    

    Suka

    1. wa’ alaikum salaam warohmatulloh, iya itu karna ana copy dari aplikasi insya Alloh kalo ada waktu ana perbaiki, dan afwan ana hanya tullabul ilm, ga mau dipanggil ustadz.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s