MANIPULASI KITAB SUCI

KECOCOKAN SYI’AH ROFIDHOH DAN YAHUDI
DALAM MANIPULASI KITAB SUCI

ditulis oleh: Abu Ja’far Al-Harits Al-Andalasy Waffaqohulloh

بسم الله الرحمن الرحيم

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم تسليما كثيرا أما بعد:

Setiap agama ataupun keyakinan memiliki dasar yang dipakai sebagai pegangan, baik itu berupa kitab-kitab yang disucikan di sisi mereka ataupun sumber-sumber lain yang mereka agungkan dan kedepankan. Adapun yang kebenaran mutlak hanyalah apa-apa yang berasal dari Alloh dan rosul-Nya.

Karena itulah untuk melihat sebuah pemikiran ataupun keyakinan maka kita mesti menilik sumber-sumber yang menjadi pegangan oleh penganutnya, karena orang-orang belakangan akan mengikuti orang-orang sebelumnya melalui perantaraan sumber-sumber tersebut.

KITAB SUCI YAHUDI DALAM PANDANGAN SYAR’I

Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan bahwasanya Dia telah menurunkan Taurat kepada Bani Isro’il dan mewakilkan kepada Ahlul Kitab untuk menjaga Al-Kitab mereka tersebut, Alloh berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya”. (QS Al-Ma’idah ayat 44)

Namun apakah Bani Isro’il menjalankan amanah tersebut? Justru sebaliknya, mereka mendustakan apa yang disampaikan oleh para Nabi tersebut jika tidak mencocoki hawa nafsu mereka, dan bahkan mereka sampai menyakiti dan membunuh para utusan Alloh tersebut. Alloh berfirman:

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ لِمَ تُؤْذُونَنِي وَقَدْ تَعْلَمُونَ أَنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, mengapa kalian menyakitiku, sedangkan kalian mengetahui bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Alloh kepada kalian?”. Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Alloh memalingkan hati mereka dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik”. (QS Shoff ayat 5)

Alloh Subhanahu wa Ta’aala berfirman:

لَقَدْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَأَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ رُسُلًا كُلَّمَا جَاءَهُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَى أَنْفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُوا وَفَرِيقًا يَقْتُلُون

“Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Akan tetapi setiap datang seorang Rasul kepada mereka dengan membawa apa yang yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh”. (QS Al-Ma’idah ayat 70)

Ketika Musa ‘Alaihis Salaam meninggalkan kaumnya selama empat puluh hari, beliau meninggalkan saudaranya Harun ‘Alaihis Salaam untuk menggantikan posisinya di kaumnya. Ternyata sepeninggal Musa‘Alaihis Salaam -dalam waktu yang singkat tersebut- mereka justru berpaling dan berbuat kesyirikan, dan hampir membunuh Harun ‘Alaihis Salaam. [Baca surat Al-A’raf ayat 142-150]

وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِي مِنْ بَعْدِي أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ وَأَلْقَى الْأَلْوَاحَ وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ قَالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكَادُوا يَقْتُلُونَنِي فَلَا تُشْمِتْ بِيَ الْأَعْدَاءَ وَلَا تَجْعَلْنِي مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِين

“Tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: “Alangkah buruknya perbuatan yang kalian kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kalian hendak mendahului janji Robb kalian?. Musapun meletakkan lauh-lauh (lembaran-lembaran Taurat) itu dan memegang kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. Harun berkata: “Wahai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim”. (QS AL-A’raf ayat 150)

Alloh menyebutkan bahwasanya Bani Isro’il lancang untuk mengotak-atik Taurat yang diturunkan kepada mereka. Mereka bermain-main dengan menyimpangkan kandungan dan maknanya:

يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِه

“Mereka suka mengubah perkataan (Alloh) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya”. (QS Al-Ma’idah ayat 13)

Sebagaimana Alloh menjelaskan bahwa mereka juga telah menyembunyikan banyak dari apa-apa yang Alloh turunkan kepada mereka, dan sesungguhnya Alloh telah mengutus Rosul-nya kepada mereka untuk menjelaskan sebagian dari yang mereka sembunyikan tersebut. Alloh berfirman:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Wahai ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kalian Rasul Kami, menjelaskan kepada kalian banyak dari isi Al-Kitab yang telah kalian sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya”. (QS Al-Maidah ayat 15)

Maka betapa banyak yang telah mereka sembunyikan jika dihitung dengan apa-apa yang dibiarkan utusan Alloh kepada mereka tersebut?

Tambah lagi kedustaan terbesar mereka, yaitu membuat kitab dengan pemikiran mereka sendiri kemudian menisbatkan kitab tersebut kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Dia Jalla wa ‘Ala berfirman:

وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab, supaya kalian menyangka bahwa yang dibacanya itu sebagian dari Al-Kitab, padahal yang dibacanya itu bukan dari Al-Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Alloh sedang mereka mengetahui”. (QS Ali ‘Imron ayat 78)

Manipulasi mereka terhadap Kitab Suci sangat dikenal dan menjadi kenyataan yang diyakini para shohabat Rosululloh dan kaum mukminin yang setelah mereka. Ibnu ‘Abbas Rodhiyallohu ‘Anhumengatakan:

كيف تسألون أهل الكتاب عن شيء، وكتابكم الذي أنزل على رسول الله صلى الله عليه وسلم أحدثُ، تقرؤونه محضاً لم يُشب، وقد حدثكم أن أهل الكتاب بدلوا كتاب الله وغيروه، وكتبوا بأيديهم الكتاب وقالوا: هو من عند الله ليشتروا به ثمناً قليلاً

“Bagaimana bisa kalian bertanya kepada Ahlul Kitab tentang sesuatu, sementara Al-kitab kalian yang diturunkan kepada Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam lebih baru diturunkan. Kalian membacanya dalam keadaan murni tidak tercampuri apapun. Dia (Subhanahu wa Ta’ala) telah mengatakan kepada kalian bahwasanya Ahlul Kitab telah mengganti dan mengubah Kitabulloh, dan mereka menulis Al-Kitab dengan tangan-tangan mereka sendiri kemudian mengatakan: “Kitab ini dari sisi Alloh”, agar dengannya mereka bisa membeli sesuatu yang bernilai rendah”. (HR Bukhory)

Semua hal tersebut tidak berarti bahwa isi Taurat mereka yang sekarang semuanya adalah batil, akan tetapi ada yang sah dan ada yang tidak. Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘Anhu mengatakan: ”Dahulu Ahlul Kitab membaca Taurat dengan bahasa Ibrani dan mentafsirkannya dengan bahasa arab bagi orang-orang Islam. Maka Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

لا تُصَدِّقُوا أَهْلَ الكِتَابِ وَلا تُكَذِّبُوهُمْ

“Janganlah kalian membenarkan Ahlul Kitab dan janganlah kalian mendustakan mereka”.

وَقُولُوا: آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا …

“Katakanlah oleh kalian: “Kami beriman kepada Alloh dan kepada apa-apa yang diturunkan kepada kami …”.(QS Al-Baqoroh ayat 136) (HR Al-Bukhory)

Sebabnya adalah sebagaimana diterangkan di hadits yang lain, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallambersabda:

إِذَا حَدَّثَكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَلَا تُصَدِّقُوهُمْ وَلَا تُكَذِّبُوهُمْ، وَقُولُوا: آمَنَّا بِاللهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ، فَإِنْ كَانَ حَقًّا لَمْ تُكَذِّبُوهُمْ، وَإِنْ كَانَ بَاطِلًا لَمْ تُصَدِّقُوهُم

“Apabila kalian meriwayatkan dari ahlul kitab maka jangan kalian benar dan jangan pula kalian dustakan, katakanlah: “Kami beriman kepada Alloh, kitab-kitab-nya dan para rosul-Nya”. Apabila (yang disampaikan) benar maka kalian tidak mendustakannya dan apabila (yang disampaikan) batil maka kalian tidak membenarkannya”. (HR Ahmad dari Abu Namlah. Hadits ini dishohihkan Syaikh Al-Albany dengan penguat-penguatnya)

Diantaranya adalah seperti hukum rajam bagi pezina yang ditetapkan di Taurat. Ibnu ‘Umar Rodhiyallohu ‘Anhu mengatakan: “Para Yahudi datang kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, maka mereka menyebutkan kepada beliau bahwa seorang lelaki dan seorang wanita dari mereka telah melakukan perzinaan. Maka Rosululloh Shollalohu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan kepada mereka: “Tidakkah kalian mendapatkan di Taurat tentang masalah rajam”. Mereka berkata: “Kami beberkan mempermalukannya mereka dan kami mencambuknya”. ‘Abdulloh bin Salaam mengatakan: “Kalian berdusta. Sesungguhnya padanya terdapat rajam”. Maka mereka membawa Taurat dan membentangkannya. Maka salah seorang dari mereka meletakkan tangannya di atas ayat rajam, kemudian membaca (ayat) yang sebelumnya dan sesudahnya. ‘Abdulloh bin Salaam mengatakan: “Angkat tanganmu”. Maka dia (si Yahudi) mengangkat tangannya ternyata padanya terdapat ayat rajam. Mereka berkata: “Betul wahai Muhammad, padanya ada ayat rajam”. Kemudian Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan mereka berdua untuk dirajam, maka keduanya dirajam. ‘Abdulloh berkata: “Aku melihat lelaki (yang berzina) tersebut melindungi perempuan dari (lemparan batu”.(HR Bukhory-Muslim)

Dalam riwayat lain Al-Baro’ bin ‘Azib Rodhiyallohu ‘Anhu berkata: “Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallammelewati seorang Yahudi yang mukanya telah dihitami dan badannya telah dicambuk. Maka beliauShollallohu ‘Alaihi wa Sallam memanggil mereka (Yahudi), lantas berkata: “Apakah seperti ini kalian mendapatkan hukuman pezina di kitab kalian?”. Mereka mengatakan: “Iya”. Kemudian beliau memanggil salah seorang dari ulama mereka dan berkata: “Aku menanyaimu demi Alloh yang menurunkan Taurat kepada Musa, apakah seperti ini kalian mendapatkan hukuman pezina di kitab kalian?”. Dia menjawab: “Tidak. Kalau bukan karena engkau memintaku dengan kalimat ini (yakni: demi Alloh yang menurunkan Taurat kepada Musa) maka aku tidak akan menjawabnya. Kami mendapatkan (di Taurat) bahwa hukumnya adalah rajam, akan tetapi perkara (perzinaan) ini telah banyak terjadi di orang-orang terpandang di sisi kami. Maka apabila kami menangkap orang yang mulia kami meninggalkan rajam. Namun jika kami menangkap orang yang lemah maka kami menegakkan hukuman rajam terhadapnya. Kami mengatakan: Ayo kita berkumpul untuk menentukan hukuman yang kita tegakkan untuk orang-orang yang mulia dan berkedudukan. Maka kami menetapkan menghitamkan muka dan mencambuk sebagai ganti rajam”. Maka Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “Yaa Alloh, sesungguhnya aku orang pertama yang menghidupkan perintah-Mu ketika mereka telah mematikannya”. Maka beliau memerintahkan orang (yang berzina) tersebut untuk dirajam”. (HR Muslim)

Masalah rajam atas pezina terdapat di beberapa tempat di Safar Devarim.

Masalah tercampur-aduknya antara haq dan kebatilan di Kitab mereka, telah disebutkan dalam Al-Qur’an. Alloh berfirman:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai ahli Kitab, mengapa kalian mencampur-adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya?”. (QS Ali ‘Imron ayat 71)

Karena itu apa-apa yang dibenarkan keberadaannya oleh Al-Qur’an dan Sunnah maka kita tetapkan, dan apa-apa yang ditiadakan oleh Al-Qur’an dan sunnah maka kita tiadakan.

Dengan dasar ini juga maka sebagian penukilan dari kitab-kitab mereka dalam tulisan ini ataupun tulisan-tulisan berikutnya bukanlah bermakna pembenaran akan tetapi tujuannya adalah menunjukkan kecocokan antara Yahudi dan Rofidhoh, baik pada syari’at-syari’at Yahudi yang terhapus karena kedatangan Islam, maupun syari’at-syari’at yang dibuat-buat para tokoh agama mereka.

KITAB SUCI YAHUDI HARI INI

~ Bible Jews ~

Terlebih dahulu kita singgung sedikit tentang kitab suci Yahudi yang disebut dengan “Bible Jews” atau “Perjanjian Lama” di sisi Nashrani. Perjanjian lama yang beredar di tangan Yahudi dan Nashrani, secara umum ada tiga manuskrip. Pertama, berbahasa Ibrani, kedua berbahasa Yunani, dan yang ketiga adalah berbahasa latin (Vulgate).

Manuskrip pertama, adalah kitab yang diakui keumuman Yahudi (Yahudi Ibrani) sebagai kitab suci mereka, karena memang Ibrani adalah bahasa mereka sementara dua manuskrip yang lain merupakan terjemahannya. Kitab berbahasa Ibrani ini juga yang diakui oleh sekte Protestan dari Nashrani.

Secara umum perjanjian lama yang versi Ibrani terdiri dari tiga puluh sembilan kitab kecil (dalam bahasa arab dikenal dengan istilah: Safar). Safar-safar tersebut terbagi dalam tiga kelompok besar.

Lima safar pertama, adalah safar-safar yang diakui Yahudi sebagai kelompok pertama yaitu “Torah (Taurat yang berarti Syari’at)”. Safar-safar ini diyakini Yahudi dan mayoritas Nashrani sebagai kitab yang ditulis Musa oleh kedua tangannya. Kelompok kedua disebut dengan “Nevi’im (Para Nabi)” yang terdiri dari dua puluh satu safar. Kelompok ketiga dinamakan “Kethuvim (Tulisan-Tulisan)” yang terdiri dari tiga belassafar. [Lihat: Mashodhirun Nashroniyyah 1/135-138]

Sementara safar-safar yang lain disandarkan kepada para Nabi dari Bani Isro’il, para Kuhhan (peramal) dan sebagiannya ada yang tidak diketahui pembicaranya. [Lihat Hal ‘Ahdul Qodim Kalimatulloh 15-16, Badzlul Majhud 1/77-80]

Manuskrip versi Yunani dikenal juga dengan “Manuskrip Tujuh Puluhan” karena penterjemahnya tujuh puluhan orang. Sementara manuskrip versi Latin merupakan terjemahan dari manuskrip versi Yunani (sebagai pokok) dan versi Ibrani sebagai pembanding yang dilakukan oleh Saint Jerome di akhir abad ke empat masehi. Selain perbedaan pengelompokan antara masing-masing-masing versi, pada kedua versi terjemah juga terdapat tambahan yaitu sebanyak tujuh safar, yang dikenal dengan Apocrypha (Safar-safar tersembunyi).

Versi berbahasa Yunani dan Latin diakui oleh sekte Protestan dan Orthodoks dari kalangan Nashrani, adapun Yahudi menolak kedua versi tersebut. Penolakan ini juga diikuti oleh sekte Protestan dari kalangan Nashrani yang baru muncul di abad ke enam belas. Mereka menganggap kedua versi tersebut sebagai terjemahan palsu, terdapat pengubahan dan penambahan. [Lihat Hal ‘Ahdul Qodim Kalimatulloh 16]

Masih ada manuskrip lain yaitu Saamiri, namun hanya diakui oleh sekte Saamiriyyin dari kalangan Yahudi. Manuskrip versi Saamiri hanya berupa Taurat, karena mereka hanya mengakui lima safar pertama sebagai kitab suci, dan mengingkari kitab-kitab selain itu. Lima safar pertama tersebut adalah: Bereisith(Kejadian), Shemoth (Keluaran), Vayiqra (Imamat), Bamidbar (Bilangan), dan Devarim (Ulangan). Bersamaan dengan itu terdapat banyak perselisihan antara versi Ibrani dan versi Saamiri pada kelima safar tersebut.

Karena itulah Saamiriyyin mengingkari para nabi di luar Taurat (setelah zaman Musa dan Yusya’ bin Nun‘Alaihimassalaam). Imam Ibnu Hazm Rahimahulloh mengatakan: “Mereka membatalkan setiap kenabian di Bani Isroil setelah zaman Musa ‘Alaihis Salaam dan Yusya’ ‘Alaihis Salaam. Mereka mendustakan kenabian Syam’un, Daud, Sulaiman, Isy’iya (Isaiah), Ilyasa’, Ilyas, ‘Amush (Amos), Habquuq (Habbakkuk), Zakariya, Irmiya (Jeremiah) dan selain mereka. Mereka (Saamiriyyin) tidak mengakui hari kebangkitan sama sekali. Mereka berada di Syam, tidak menghalalkan diri mereka untuk keluar darinya”. [Al-Fashl Bainal Milal wal Ahwa’ wan Nihal 1/177]

Banyak bukti yang menunjukkan bahwa kelompok pertama (yakni Taurat) tidaklah sebagaimana yang diturunkan kepada Musa, sekaligus bantahan atas dugaan mereka bahwa Taurat yang ada pada tangan mereka sekarang ditulis Musa ‘Alaihis Salaam dengan kedua tangannya.

Dimaklumi bahwa untuk mengetahui kebenaran berita, kita harus memiliki silsilah sanad (rantai periwayatan) yang diisi oleh orang-orang yang tsiqoh (beritanya layak diterima) baik dari sisi agamanya maupun kekuatan hapalannya. Yang seperti ini tidak akan didapatkan jawabannya dari sisi Yahudi. Mereka tidak punya manuskrip asli dari Taurat. Manuskrip tertua yang ada di tangan mereka kembali kepada abad ke empat masehi. Sementara sebagaimana disebutkan ahli sejarah bahwa zaman Musa‘Alaihis Sallam adalah pada abad empat belas sebelum masehi. Wallohu A’lam kebenarannya, yang jelas zaman nabi Musa ‘Alaihis Salaam jauh sebelum Nabi ‘Isa, sebagaimana diketahui dari banyaknya para nabi yang diutus kepada Bani Isroil antara zaman mereka berdua. Dan Nabi Musa ‘Alaihis Salaam hidup di zaman Fir’aun, sebagaimana dimaklumi.

Di dalam Taurat yang ada di tangan mereka saat ini, pada akhir Safar Devarim (34/1-8) diceritakan tentang kematian Musa ‘Alaihis Salaam: “Maka meninggallah Musa disana, seorang hamba Ar-Robb. Yaitu di tanah Muaab sesuai dengan perkataan Ar-Robb. Dia menguburkannya di Al-Jawa’ … dan tak seorangpun manusia mengetahui kuburannya sampai hari ini. Musa berumur seratus dua puluh tahun ketika meninggal, matanya tidak suram dan tidak hilang keelokannya. Maka Bani Isroil menangis di kereta-kereta Muaab selama tiga puluh hari, dan sempurnalah hari-hari meratapi Musa”. [Sebagaimana dinukilkan: Al-Asfar Al-Muqoddasah ‘indal Yahud wa Atsaaruha fi Inhirofihim ‘Ard wa Naqd 354, Badzlul Majhud 1/349]

Disebutkan di Safar Shemot (27/1): “Maka Ar-Robb berkata kepada Musa: “Lihatlah, Aku menjadikanmu sebagai Ilah (sembahan) bagi Fir’aun dan menjadukan Harun saudaramu sebagai Nabi”. [Sebagaimana dinukilkan: Badzlul Majhud 1/399]

Belum lagi kata ganti “dia” untuk Musa yang banyak didapatkan di safar-safar tersebut.

Belum lagi pertentangan antar safar-safar itu sendiri.

Belum lagi perselisihan antara Taurat versi Ibrani dan Taurat versi Saamiri, yang disebutkan mencapai empat ribu poin [Lihat: Haula Mautsuqiyyatil Anaajil wat Tauroh 144, Al-Madkhol ila ‘Ahdil Qodim 52, Qomus Al-Kitab Al-Muqaddas 451]

Ini sekedar contoh yang bisa mereka lihat sendiri yang menunjukkan bahwa Taurat yang ada di tangan-tangan mereka bukanlah Taurat yang diturunkan kepada Nabiyullah Musa ‘Alaihis Salaam.

Sisi lain yang jelas menunjukkan manipulasi Taurat bahwanya banyak makna-makna yang -disebutkan Al-Qur’an- ada di dalam Taurat Musa, namun tidak dijumpai di Taurat Yahudi sekarang. Misalnya firman Alloh Ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآن

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Alloh, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Alloh di dalam Taurat, Injil dan Al Quran”. (QS At-Taubah ayat 111)

Makna ini tidak terdapat di Taurat mereka yang sekarang bahkan di Perjanjian Lama dan Baru milik Nashrani.

Dan yang semisal dengannya adalah firman alloh Ta’ala:

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا * وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى * إِنَّ هَذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَى * صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى

“Tetapi kalian memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam Kitab-Kitab yang dahulu, (yaitu) Kitab-Kitab Ibrahim dan Musa”.(QS Al-A’laa ayat 16-19)

Makna ini tak ditemukan pada Taurat versi Yahudi yang mereka sandarkan kepada Musa, dimana kitab mereka tersebut kosong dari pembicaraan tentang akhirat dan kiamat, apalagi dalam pembandingan dunia dan akhirat.

Terlebih lagi berita yang menyifati orang-orang yang beriman:

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُون

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka (Bani Isro’il). Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung”. (QS Al-A’raaf ayat 157) [Hal Al-‘Ahdul Qodiim Kalimatulloh 12]

~ Talmud ~

Ada kitab lain yang disucikan oleh mayoritas Yahudi, yang dikenal dengan Talmud, yang berupa pokok-pokok agama Yahudi. Talmud terdiri dari dua komponen yaitu Mitsnah dan Gemara. Mitsnah merupakan teks induk yang mereka yakini sebagai wahyu tak tertulis yang diturunkan kepada Musa dan diwariskan turun-temurun secara lisan. Penulisannya baru dilakukan sekitar abad kedua masehi oleh Hachom (ahli fiqh) Judah Hanasi dari sekte Farisiyyah yang merupakan sekte terbesar di kalangan Yahudi.

Adapun komponen kedua yakni Gemara, merupakan penjelasan Mitsnah yang dibuat oleh para Hachomdan Rabi (ulama) Yahudi. Gemara yang beredar ada dua, yaitu Gemara Jerusalem yang ditulis para HachomPalestina, serta Gemara Babilonia yang ditulis oleh para Hachom dan Rabi Babilonia (di Irak). Karena perbedaan ini maka Talmud pun terbagi dua: Talmud Jerusalem dan Talmud Babilonia, [Lihat: Badzlul Majhud 1/88-89, Al-Asfar Al-Muqoddasah ‘indal Yahud wa Atsaaruha fi inhirofihim ‘Ard wa Naqd 352-353]

Gemara Babilonia menjelaskan isi Mitsnah secara keseluruhan, sementara versi Jerusalem hanya sebagiannya saja. Di sisi lain, para Rabi Babilonia diyakini lebih dalam keilmuannya dibanding para RabiJerusalem, karena itu Talmud yang paling bernilai dan banyak beredar di kalangan Yahudi adalah Talmud Babilonia, dan biasanya kalau disebut kata Talmud secara mutlak maka yang dimaksud adalah versi Babilonia ini. [Al-Asfar Al-Muqoddasah ‘Indal Yahud 355]

Samuel bin Yahya Al-Maghriby Rahimahulloh (meninggal th 570) -dahulu adalah salah seorang ulama Yahudi kemudian masuk Islam- mengatakan[1]: “Yahudi sejak zaman lampau menamakan fuqaha (ahli fiqh) mereka dengan nama ahli hikmah. Merekalah yang digelari dengan Hachom. Dahulu mereka memiliki sekolah-sekolah di Syam maupun daerah-daerah lain dan mereka memiliki ribuan fuqaha. Hal tersebut di zaman kerajaan Nabth di Babilon, kerajaan Persia, kerajaan Yunani, dan kerajaan Romawi. Sampai terkumpul dua kitab yang para ulama mereka sepakat menulisnya. Kedua kitab itu adalah Mitsnah danTalmud (maksud beliau Gemara -pent). Adapun Mitsnah maka ia adalah kitab yang kecil, ukurannya sekitar delapan ratus kertas. Sementara Talmud (Gemara Babilonia) adalah kitab yang besar. Ukurannya sekitar setengah beban yang mampu dipikul bagal[2], karena saking banyaknya.

Para fuqaha yang menulisnya tidaklah berada dalam satu zaman, akan tetapi mereka menulisnya dari generasi demi generasi. Maka, ketika generasi belakangan dari mereka melihat tulisan ini -dimana setiap berlalu satu generasi mereka menambahnya, dan pada tambahan-tambahan yang datang belakangan terdapat apa-apa yang bertolak belakang dengan apa-apa yang ada di awal-awal- mereka mengetahui bahwasanya jika mereka tidak memutus kondisi ini dan tidak melarang adanya penambahan, akan berdampak pada kecacatan yang jelas dan pertentangan yang melampaui batas. Lantas mereka pun memutus adanya penambahan dan melarang untuk itu, serta melarang para fuqaha untuk melakukan penambahan ataupun menyusupkan sesuatu yang lain kepadanya. Mereka mengharamkan orang yang menambahkan sesuatu pada yang telah ada, dan berhenti pada kadar tersebut”. [Ifhamul Yahud 161-162]

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, bahwasanya Talmud diagungkan di sisi mayoritas Yahudi, karena mayoritas mereka bersekte Farisiyyah. Bahkan Talmud lebih tinggi kedudukannya ketimbang Tauratsebagaimana Gemara lebih tinggi daripada Mitsnah.

Para Hachom menyebutkan di dalam Talmud: “Barangsiapa yang mempelajari Taurat maka dia telah melakukan keutamaan yang tak berhak diganjar. Barangsiapa yang mempelajari Mitsnah maka dia telah melakukan keutamaan yang berhak mendapat ganjaran. Barangsiapa yang mempelajari Gemara maka dia telah melakukan keutamaan yang paling besar”. [Al-Kanzul Marshud 50, sebagaimana dinukilkan di Dirosaat fil Adyaanil Yahudiyyah wan Nashroniyyah 121]

Juga disebutkan di dalamnya: “Barangsiapa yang meremehkan perkataan para Hachom maka dia lebih berhak untuk meti ketimbang dia meremehkan Taurat. Tidak ada alasan bagi orang yang meninggalkan pelajaran-pelajaran Talmud, kemudian menyibukkan diri dengan Taurat saja, karena perkataan ulama Talmud lebih utama dari apa-apa yang datang pada syari’at Musa”. [Al-Kanzul Marshus, 50-53, Fadhul Talmul 41-42, sebagaimana dinukilkan di Al-Asfar Al-Muqoddasah ‘Indal Yahud 367]

Ketika Talmud mulai menyebar di Italia, Perancis dan sekitarnya pada abad pertengahan (abad 13-16 masehi) dan dibaca oleh kaum Nashrani. Maka terjadi penentangan dan pemusnahan Talmud dari pihak Nashrani (yang ketika itu menguasai pemerintahan), karena terdapat banyak cacian terhadap Isa dan agama Nashrani. Hal tersebut berujung pada ketetapan para Rabi Yahudi, untuk menghapus kata-kata yang menyinggung simbol-simbol Nashrani serta mengajarkan Talmud yang lengkap hanya pada sekolah-sekolah mereka. [Lihat: At-Talmud Taarikhuhu wa Ta’aalimuhu 40-43, Al-Asfar Al-Muqoddasah ‘Indal Yahud 355-356]

Cetakan yang memiliki banyak penghapusan dan pengubahan-pengubahan tersebut pertama kali keluar di Basel (1578-1581 M). Kemudian maju mundur perkembangan Talmud terus berlangsung sampai mereka bisa mendirikan negara Israel, sehingga bisa dengan leluasa mencetak Talmud Babilonia secara lengkap.[Lihat: At-Talmud Taarikhuhu wa Ta’aalimuhu 47-48, Al-Asfar Al-Muqoddasah ‘Indal Yahud 356]

Seorang pakar sejarah dari kalangan Yahudi yang bernama Syahin Makarius, berkata tentang Talmud: “Talmud merupakan kumpulan tafsir, penjelasan, kabar-kabar, tambahan-tambahan dan hukum-hukum yang diletakkan para ahli hikmah (Hachom) mereka, para Rabi dan para mujtahid mereka. Ia memiliki ukuran besar yang lebih dari dua puluh jilid, yang semuanya ditetapkan di masa yang berbeda-beda dan kondisi yang beragam. Talmud tersusun dari Mitsnah dan Gemara.

Ketika tradisi-tradisi keagamaan bertambah banyak dan bercabang-cabang, jumlah kitab serta para mujtahid dan peneliti juga bertambah banyak, demikian juga hukum-hukum yang muncul dari pertemuan-pertemuan dalam perkara yang beragam semakin bertambah banyak, maka Sam’un Gamalail dan murid-muridnya untuk menyalin tradisi-tradisi tersebut dan menelitinya. Maka mereka pun mengumpulkan apa yang bisa dikumpulkan sambil menyaring dan menyusunnya. Proyek tersebut terus berlangsung sampai disempurnakan oleh Judas Hanasy dan para muridnya sekitar tahun 316 M.

-sampai perkataannya- Sementara Talmud Babilonia (yakni Gemaranya) pertama kali diselesaikan di akhir abad kelima. Tidak butuh tempo yang lama untuk cacatnya Talmud oleh pengubahan. Dimasukkan ke dalamnya tradisi-tradisi yang sebelumnya tidak ada di dalamnya, ditambahkan ke dalamnya tafsir-tafsir, penjelasan-penjelasan dan fatwa-fatwa yang baru. Sebabnya ada karena pada asalnya Talmud tidak terbukukan di kitab-kitab dan catatan-catatan sehingga pengubahannya gampang. Sebab lain adalah penyebaran Yahudi ke penjuru dunia serta banyaknya sekolah-sekolah dan jam’iyyat-jam’iyyat(yayasan-yayasan perkumpulan) Yahudi yang tumbuh dimana saja mereka tinggal. Hal itu membuat mereka terkelompok-kelompok dalam kondisi yang berbeda-beda. Maka hukum-hukum yang keluar darijam’iyyat-jam’iyyat di suatu tempat berbeda -dalam sebagian perkara- dengan hukum-hukum darijam’iyyat-jam’iyyat lain di tempat lain. Selah banyaknya pengubahan dan tambahan-tambahan maka salah seorang ulama mereka yang terkenal dan mendalami penulisan Talmud, bangkit untuk kedua kalinya dengan bantuan murid-muridnya, dan menghabiskan waktu enam puluh tahun dalam penulisan, pemeriksaan, dan penyaringan. Setelah itu datang orang selainnya, menempuh jalannya dan mengikuti langkah-langkahnya sehingga selesailah proyek tersebut dan dia datang dengan kitab yang besar sebagaimana telah lewat penyebutannya”. [Tarikh Isroiliyyin 113-134 sebagaimana dinukilkan di Al-Asfar Al-Muqoddasah ‘Indal Yahud 358]

Adapun mengetahui materi Talmud maka cukup penyebutan secara umum tentang sebagian pokok-pokoknya yang rusak, adapun rinciannya insyaalloh akan datang pada pembahasan yang sesuai. Materi-materi yang batil tersebut diantaranya:

1. Mengejek-ejek Alloh dan menyifati-Nya dengan kekurangan dan aib.

2. Mencaci Isa Al-Masih serta ibunya Maryam ‘Alaihimassalaam.

3. Pernyataan bahwa bangsa Yahudi adalah anak-anak Alloh yang kecintaan-Nya, serta bahwasanya dunia ini diciptakan untuk mereka.

4. Bahwanya manusia selain Yahudi hanyalah hewan yang diciptakan dalam bentuk manusi, tujuannya adalah sebagai pelayan bagi bangsa Yahudi yang mereka istilahkan dengan Goyim atau Ummiyin. Serta menunjukkan dendam dan permusuhan terhadap semua Ummiyin.

5. Membolehkan muamalah riba dengan selain Yahudi, bahkan menyukai dan mengajurkannya.

6. Bolehnya menipu dan berkhianat terhadap Ummiyin, serta menyemangati untuk menyakiti mereka seperti mencuri atau perbuatan keji lainnya. Sementara bagi sesama Yahudi, tidak diperbolehkan.

7. Tidak pantas bagi seorang Yahudi untuk mengembalikan barang hilang milik selain Yahudi.

8. Barang siapa yang lancang menganiaya seorang Yahudi maka akhirnya adalah kematian, dan Yahudi manapun yang bersaksi untuk menentang Yahudi yang lain di hadapan Goyim atau menguntungkanGoyim, maka dia dilaknat dan di caci maki di depan kalangan Yahudi.

9. Menunggu Al-Masih yang akan datang di akhir zaman dari keturunan Daud, yang akan menegakkan kerajaan Yahudi, menjayakan agama mereka dan menghinakan musuh-musuh mereka.

10. Perjanjian, akan dan sumpah dengan Goyim, tidak ada nilainya di sisi Yahudi. Seorang Yahudi boleh berlepas diri kapan dia mau.

11. Kehormatan Goyim tidak ada nilainya. Seorang Yahudi memiliki hak untuk merampas kehormatan wanita non Yahudi.

12. Kekuasan dunia adalah milik Yahudi, maka wajib bagi mereka untuk mengerahkan segala cara untuk mencapai tujuan itu.

13. Langkah-langkah penggunaan serta pengajaran sihir. [Al-Asfar Al-Muqoddasah ‘Indal Yahud 362-363]

MANIPULASI KITAB SUCI ADALAH SIFAT YAHUDI

Sebenarnya masih ada kitab-kitab lain yang menjadi pegangan Yahudi, namun kita cukupkan denganBible Jews dan Talmud di atas, yang dikultuskan oleh sebagian besar mereka. Dari penjelasan di atas terlihat bagaimana campur tangan para alim mereka untuk mengotak-atik syari’at dan Kitabulloh seenaknya.

Al-Qur’an sendiri telah menyinggung kebiasaan mereka tersebut, Alloh berfirman:

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu mereka mengatakan: “Ini dari Alloh”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan”. (QS Al-Baqoroh ayat 79)

Alloh berfirman:

يَأَيّهَا الّذِينَ آمَنُواْ إِنّ كَثِيراً مّنَ الأحْبَارِ وَالرّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدّونَ عَن سَبِيلِ اللهِ وَالَّذِينَ يَكْنِزونَ الذَّهَبَ وَالفِضَّةَ وَلا يُنْفِقُونَها في سَبِيلِ الله فَبَشِّرْهُم بِعَذابٍ أَلِيمٍ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari Ahbaar (orang-orang alim Yahudi) dan Ruhbaan (rahib-rahib Nashrani) benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Alloh. Orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih”. (QS At-Taubah ayat 34)

Karena campur tangan para Ahbaar dan Ruhbaan tersebut dalam penetapan syari’at, maka AllohSubhanahu wa Ta’ala menyifatkan bahwa Ahlul Kitab terdahulu baik Yahudi maupun Nashrani sebagai kaum yang telah menjadikan tokoh-tokoh agama mereka sebagai robb-robb (penguasa, penjaga dan pemberi aturan) selain Alloh dengan mengatakan:

اتّخَذُوَاْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مّن دُونِ اللهِ

“Mereka menjadikan Ahbar (para ulama Yahudi) dan Ruhban (rahib-rahib Nashrani) mereka sebagai Robb-Robb selain Alloh”. (QS At-Taubah ayat 31)

Hal ini dikarenakan mereka mematuhi ajaran-ajaran orang-orang alim dan rahib-rahib mereka dengan membabi buta, biarpun orang-orang alim dan rahib-rahib itu menyuruh membuat maksiat atau mengharamkan yang halal.

SYI’AH ROFIDHOH DAN UPAYA MANIPULASI AL-QUR’AN[3]

Kaum muslimin dari dulu sampai sekarang sepakat bahwa mushaf Al-Qur’an yang tersebar di tengah-tengah kaum muslimin dari masa ke masa adalah Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi MuhammadShollallohu ‘Alaihi wa Sallam.

Adapun Syi’ah Rofidhoh, maka mereka mengingkari kenyataan ini, mereka justru menuduh Al-Qur’an tersebut telah dimanipulasi, sementara Al-Qur’an yang asli ada pada para Imam ma’shum mereka. Perkara ini saja cukup menjadi alasan untuk menunjukkan kekafiran Rofidhoh. Sehingga tak mengherankan jika diantara mereka ada yang berani terang-terangan menginjak mushaf Al-Qur’an, atau mengatakan: “Ini mushafnya Hajury”[4]. Dengan alasan Al-Qur’an dimanipulasi oleh para shohabat, maka dengan enaknya Rofidhoh melakukan manipulasi sesuai keinginan mereka.

Inilah yang menjadi salah satu rahasia kenapa mereka begitu bergerilya untuk menghinakan para shohabat Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam terlebih lagi Abu Bakr dan ‘Umar. Karena jika mereka berhasil mendoktrin seseorang untuk berpandangan jelek terhadap shohabat, maka itu akan menjadi wasilah bagi mereka untuk menuduh para shohabat sebagai para manipulator Al-Qur’an, setelah itu mereka bisa leluasa menghentakkan langkah berikutnya.

Hal itu dengan menanamkan keyakinan kepada pengikutnya bahwa Al-Qur’an yang benar dan lengkap hanyalah yang ada di sisi ‘Ali bin Abi Tholib serta turun menurun kepada para Imam ma’shum yang merupakan anak cucunya. Riwayat-riwayat dusta mereka sematkan kepada ‘Ali dan anak cucunya tersebut, mulai dari kasus “Al-Qur’an yang sempurna”, sampai perkara-perkara lain yang memperkuat hawa nafsu mereka.

Walaupun para ulama Ahlussunnah terdahulu telah banyak menceritakan kebobrokan Syi’ah Rofidhoh dalam masalah ini, namun pada kenyataannya masih banyak kaum muslimin yang lalai dan tidak mewaspadai keyakinan sesat. Terlebih lagi Syi’ah Rofidhoh melakukan taqiyyah (menyembunyikan keyakinan dan menampakkan perkara yang lain) dalam berinteraksi dengan orang-orang selain mereka.

Adalah An-Nuury Ath-Thobrosy ulama besar mereka (meninggal 1320 H) lewat kitabnya: “Fashlul Khithob fi Itsbati Tahrif Kitabi Robbil Arbaab”, yang justru membuka mata kebanyakan kaum muslimin atas keyakinan Rofidhoh tentang termanipulasinnya Al-Qur’an. Dalam kitabnya itu Ath-Thobrosy menyebutkan hikayat-hikayat (palsu tentunya) dari para Imam-Imam ma’shum mereka, demikian juga menyebutkan pendapat-pendapat para ulama mereka yang terdahulu dalam masalah penetapan adanya manipulasi dalam Al-Qur’an.

Sebelumnya riwayat-riwayat ataupun perkataan-perkataan ulama mereka berada pada sumber yang terpencar-pencar sehingga kebanyakan orang kesulitan untuk mengetahui keyakinan kafir ini pada kelompok Syi’ah Rofidhoh.

Dalam kitab tersebut An-Nuury Ath-Thobrosy menyebutkan keyakinan para ulama besar mereka tentang terjadinya manipulasi dalam Al-Qur’an. Mulai dari ‘Ali bin Ibrohim dari Al-Qummy (meninggal 307 H), Muhammad bin Ya’qub Al-Kulainy (meninggal 327H), penulis” Basho-irud Darojat”: Muhammad bin Al-Hasan Ash-Shoffar (meninggal 290H), penulis “At-Tafsirus Shoghir” Muhammad bin Ibrohim An-Nu’many, penulis “Nasikhul Qur’an wa Mansukhih”: Sa’ad bin ‘Abdillah Al-Qummy, As-Sayyid ‘Ali bin Ahmad Al-Khufy penulis “Bida’ul Muhdatsaat, serta ulama Syi’ah Rofidhoh yang lain yang disebutkan oleh Ath-Thobrosy nama mereka serta sumber-sumber yang mencantumkan pernyataan mereka dengan jelas. [Fashlul Khithob 25-26]

Tak jauh berbeda dengan para pendahulunya, keyakinan ini terang-terangan dinyatakan oleh pemimpin besar mereka di zaman belakangan ini, yang mereka juluki sebagai Ayatulloh, yakni Al-Khumainy ‘Alaihi La’anatulloh. Dia mengatakan: “Kalau masalah Imamah (kepemimpinan) telah sempurna penetapannya di Al-Qur’an, maka mereka orang-orang yang tidak ada perhatian terhadap Islam kecuali hamya karena tujuan dunia dan kedudukan, mereka hanya menjadikan Al-Qur’an sebagai sarana untuk mendapatkan tujuan-tujuan mereka yang tidak jelas. Mereka menghapus ayat-ayat dari halaman-halamannya, mereka menggugurkan isi Al-Qur’an dari pandangan alam semesta selama-lamanya, mereka menyusupkan aib selama-lamanya kepada kaum muslimin dan kepada Al-Qur’an. Mereka menetapkan keberadaan aib pada Al-Qur’an yang diambil muslimin dari kitab-kitab Yahudi dan Nashrani”. [Kasyful Asyrar 131]

Ulama Syi’ah Rofidhoh pertama yang menyatakan tidak adanya manipulasi di Al-Qur’an adalah Ibnu Babawaih yang dijuluki dengan Ash-Shoduq (meninggal 381), kemudian diikuti oleh As-Sayyid Al-Murtadho (meninggal 436H) serta muridnya: Abu Ja’far Ath-Thusy (meninggal 460H).

An-Nuury Ath-Thobrosy mengatakan: “Tidak ada dari para ulama yang terdahulu, yang menyepakati pendapat mereka”. [Fashlul Khithob 32]

Setelah itu di pertengahan abad keenam, muncul Abu ‘Ali Ath-Thobrosy (meninggal 548H) yang mengeluarkan pernyataan yang mencocoki mereka bertiga.

An-Nuury Ath-Thobrosy mengatakan: “Sampai ke tingkatannya (yakni yang sezaman dengan Abu ‘Ali Ath-Thobrosy) tidak diketahui penyelisihan pendapat (terhadap keyakinan adanya manipulasi dalam Al-Qur’an) secara gamblang kecuali dari Syaikh yang berempat ini”. [Fashlul Khithob 34]

Namun yang namanya Rofidhoh, bukanlah tempat yang benar untuk menaruh kepercayaan karena adanya akidah taqiyyah pada mereka. Orang-orang berempat ini tidak mendatangkan satu dalilpun dari para Imam ma’shum mereka untuk membantah ulama Syi’ah Rofidhoh selain mereka dalam keyakinan manipulasi Al-Qur’an. Yang ada justru mereka meriwayatkan dalil-dalil dusta tentang terjadinya manipulasi Al-Qur’an tanpa adanya kritikan dan komentar sedikitpun, diantaranya:

Ibnu Babawaih Ash-Shoduq menghikayatkan dalam kitabnya dari Jabir, dia berkata: “Aku mendengar Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Alih berkata: “Datang pada hari kiamat tiga perkara yang akan mengadu kepaa Alloh: Mushaf, masjid dan ahlul bait. Mushaf berkata: “Wahai Robb, mereka membakarku, mereka menyobekku”. Masjid berkata: “Wahai Robb, mereka meninggalkanku, mereka menyia-nyiakanku”. Ahlul bait berkata: “Wahai Robb, mereka membunuh kami, mereka mengusir kami”. [Al-Khishol 175]

Dalam kitab yang lain, pada masalah pembolehan mut’ah (kawin kontrak) dia mengatakan: “Rosululloh menghalalkan mut’ah dan tidak mengharamkannya sampai beliau meninggal. Ibnu ‘Abbas membaca:

فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ إلى أجل مسمى فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً من الله

“Maka wanita-wanita yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka dengan batas (kontrak) yang telah disepakati, berikanlah kepada mereka maharnya, sebagai suatu kewajiban dari Alloh”. [Man Laa Yahduruhul Faqih 3/299]

Ayat yang benar adalah:

فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban. Dan Tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Alloh Aliim (Maha mengetahui) lagi Hakiim (Maha Bijaksana)”. (QS An-Nisa’ ayat 24)

Demikian halnya Ath-Thusy, dia menyebutkan dalam kitabnya hikayat-hikayat yang menunjukkan adanya manipulasi pada Al-Qur’an yang ada. Dia menghikayatkan dari Muhammad bin Ibrohim, bahwasanya dia berkata: “Aku mendengar Ja’far bin Muhammad ‘Alaihis Salaam membaca:

إِنَّ الله اصْطَفَى آَدَمَ وَنُوحًا وَآَلَ إِبْرَاهِيمَ وَآَلَ عِمْرَانَ وآل محمد عَلَى الْعَالَمِين

“Sesungguhnya Alloh telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrohim, keluarga ‘Imron dan keluarga Muhammad bagi alam semesta”.

Dia (Ja’far bin Muhammad) berkata: beginilah ayat ini diturunkan. [Amaali Ath-Thusy 306]

Sementara ayat yang benar adalah:

إِنَّ الله اصْطَفَى آَدَمَ وَنُوحًا وَآَلَ إِبْرَاهِيمَ وَآَلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِين

“Sesungguhnya Alloh telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrohim dan keluarga ‘Imron bagi alam semesta”(QS Ali ayat ‘Imron ayat 33)

Sebagaimana dia menghikayatkan hadits yang panjang dari Jabir bin ‘Abdillah yang padanya terdapat: “Maka kami melihat Jibril membuatnya bermandikan keringat, maka Alloh menurunkan:

فَإِمَّا نَذْهَبَنَّ بِكَ فَإِنَّا مِنْهُمْ مُنْتَقِمُونَ بِعَلِيٍّ أَوْ نُرِيَنَّكَ الَّذِي وَعَدْنَاهُمْ فَإِنَّا عَلَيْهِمْ مُقْتَدِرُون

“Sungguh, jika Kami mewafatkan kamu (sebelum kamu mencapai kemenangan), maka sesungguhnya Kami akan menyiksa mereka dengan ‘Ali. Atau Kami memperlihatkan kepadamu (azab) yang telah Kami ancamkan kepada mereka, maka sesungguhnya Kami berkuasa atas mereka”.[5]

Kemudian turunlah ayat:

قُلْ رَبِّ إِمَّا تُرِيَنِّي مَا يُوعَدُونَ * رَبِّ فَلَا تَجْعَلْنِي فِي الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ * وَإِنَّا عَلَى أَنْ نُرِيَكَ مَا نَعِدُهُمْ لَقَادِرُونَ * ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Katakanlah: “Ya Robbku, jika Engkau sungguh-sungguh hendak memperlihatkan kepadaku azab yang diancamkan kepada mereka, Ya Robbku, maka janganlah Engkau jadikan aku berada di antara orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Kami benar-benar kuasa untuk memperlihatkan kepadamu apa yang Kami ancamkan kepada mereka. Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik”. (QS Al-Mu’minun ayat 93-96)

Kemudian turunlah:

فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ أَمْرِ عَلِيَّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ إِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ وَإِنَّ عَلِيًّا لَعَلَمٌ للسَاعَةِ ولَكَ وَلِقَوْمِكَ وَسَوْفَ تُسْأَلُونَ

“Maka berpegang teguhlah kamu kepada apa yang telah diwahyukan kepadamu berupa perkara ‘Ali bin Abi Tholib. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. Dan sesungguhnya ‘Ali itu benar-benar tanda bagi kiamat, bagimu, dan bagi kaummu dan kelak kalian akan diminta pertanggungan jawab”.[Majma’ul Bayaan 1/28]

Sementara ayat yang benar adalah:

فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ إِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ * وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ وَسَوْفَ تُسْأَلُونَ

“Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kalian akan diminta pertanggungan jawab”. (QS Az-Zukhruf ayat 43-44)

Maka bau taqiyyah kentara sekali dalam pengakuan empat gembong Syi’ah Rofidhoh ini. Tujuan tak lain untuk menutupi keyakinan kafir yang sangat ditentang kaum muslimin. Makna ini juga yang diakui sendiri oleh para ulama Rofidhoh yang lain.

Ni’matulloh Al-Jaza’iry -setelah menukilkan ijma’(kesepakatan) ulama Syi’ah Rofidhoh Imamiyyah tentang telah terjadinya manipulasi pada Al-Qur’an- mengatakan: “Ia, memang dalam masalah ini terdapat penyelisihan dari Al-Murtadho, Ash-Shoduq dan Syaikh Ath-Thobrosy, dan mereka menghikayatkan bahwa apa-apa yang berada di antara dua cover mushaf ini, adalah Al-Qur’an yang diturunkan, tidak ada selainnya, tidak terjadi pengubahan dan penukaran.

Yang tampak bagi saya, bahwasanya pendapat ini hanyalah muncul dari mereka karena ingin mendapatkan maslahat-maslahat yang banyak. [Al-Anwaarun Nu’maniyyah 2/358-359]

Mereka sepakat bahwa Al-Qur’an yang lengkap hanya ada pada ‘Ali dan disimpannya beserta para Imam mereka. Muhammad Thohir As-Sirozy (meninggal 1098) mengatakan: “Semuanya sepakat bahwa beliau (maksudnya ‘Ali) menghapal Al-Qur’an di zaman Rosululloh Shollallallohu ‘Alaihi wa Sallam, sementara tidak ada selainnya yang hapal. Beliaulah orang pertama yang mengumpulkannya”. [Al-Arba’in fi Imamati A’immatit Thohirin hal 422]

Abu ja’far Muhammad bin Al-Hasan Ash-Shoffar menghikayatkan dari Abu Ja’far Ash-Shodiq, dimana dia berkata: tidak sorangpun dari manusia yang mengatakan bahwa dia telah mengumpulkan Al-Qur’an seluruhnya sebagaimana yang Alloh turunkan, melainkan orang tersebut adalah pembohong besar. Tidak ada yang mengumpulkannya dan menghapalnya sebagaimana diturunkan kecuali ‘Ali bin Abi Tholib dan para imam (ma’shum) setelahnya”. [Basho-irud Darojaat 213]

An-Nuury Ath-Thobrosy memiliki pandangan yang sama tentang ulah orang berempat di atas. Ketika mengomentari kitab At-Tibyaan karya Ath-Thusy, dia mengatakan: “Kemudian, tidaklah tersembunyi bagi orang yang mencermati Kitab At-Tibyaan, bahwasanya metodenya (Ath-Thusy) berada pada puncak basa basi dan mengikuti alur penyelisih.

Karena engkau melihat bahwa dia membatasi tafsir ayat dengan penukilan dari perkataan Al-Hasan, Qotadah, Adh-Dhohhak, As-Suddy Ibnu Juraij, Al-Juba’iy, Az-Zajjaj, Ibnu Zain dan yang semisal dengan mereka. Dia tidak menukilkan dari seorangpun ahli tafsir Imamiyyah. Dia juga tidak menukilkan kabar-kamar dari salah seorang Imam (ma’shum) kecuali sedikit di beberapa tempat. Sepertinya para penyelisih mencocoki pendapatnya dalam nukilan-nukilan tersebut. Bahkan dia menghitung orang-orang yang disebutkan tersebut ke dalam level pertama yang dipuji metode dan mazhab mereka. Hal ini sangat aneh sekali kalau bukan sekedar mengikuti langkah para penyelisih. Maka kemungkinan pendapat ini (yaitu tidak adanya manipulasi di Al-Qur’an) termasuk dalam perkara tersebut (yakni basa-basi) atau yang semisal dengannya.

Dan yang memperkuat alasan bahwasanya kitab ini ditulis dalam rangka taqiyyah adalah apa yang disebutkan oleh As-Sayyid Al-Jalil ‘Ali bin Thous di “Sa’dus Su’ud, begini konteksnya: “Kami menyebutkan apa yang dihikayatkan kakekku Abu Ja’far Muhammad bin Al-Hasan Ath-Thusy dalam kitab At-Tibyaan, bahwasanya taqiyyah membawanya untuk membatasi diri dari perincian ayat Makiyyah dan Madaniyyah serta perselisihat dalam waktu-waktunya”. [Fashlul Khithob 34]

Baru dari empat orang yang berpendapat (dalam rangka taqiyyah) bahwa Al-Qur’an bebas manipulasi, kita sudah disuguhi riwayat-riwayat dusta akan kecacatan Al-Qur’an. Maka bagaimana dengan sisanya yang terang-terangan mengatakan dan menyerukan bahwa Al-Qur’an telah rusak?? Na’udzu billah min fitnatir rofidhoh wa fitnatil Masiihid Dajjaal.

Sebagian kecil dari manipulasi Rofidhoh telah dinukilkan di “PERBEDAAN LANDASAN SYARI’AH AGAMA IMAMIYYAH JA’FARIYYAH-ITSNAI ‘ASYARIYYAH”, dan kali ini akan dinukilkan sebagian kecil yang lain, diantaranya:

Al-Kulainy menghikayatkan dari ‘Ali bin Muhammad dari sebagian temannya, dari Ahmad bin Muhammad bin Abi Nahr, dia mengatakan: “Abul Hasan (‘Ali) ‘Alahis Salaam menyerahkan mushaf kepadaku dan mengatakan: “Jangan engkau lihat apa yang di dalamnya”. Maka kemudian akupun membukanya, dan aku melihat ayat:

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا

“Orang-orang kafir tidak akan meninggalkan (agamanya)”. (QS Al-Bayyinah ayat 1)

Padanya aku mendapatkan nama tujuh puluh orang lelaki dari Quraisy. Disebutkan nama-nama mereka dan nama-nama bapak-bapak mereka”. [Ushulul Kafy 2/361]

Al-Qummy dalam tafsirnya menyebutkan diantara ayat yang telah diubah adalah:

لَكِنِ اللَهُ يَشْهَدُ بِمَا أَنْزَلَ إِلَيْكَ أَنْزَلَهُ بِعِلْمِهِ وَالْمَلَائِكَةُ يَشْهَدُونَ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا

“(Mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu), tetapi Alloh mengakui Al-Quran yang diturunkan-Nya kepadamu. Alloh menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula). Cukuplah Allah yang mengakuinya”. (QS An-Nisa’ ayat 166)

Yang benar menurutnya adalah:

لَكِنِ اللَهُ يَشْهَدُ بِمَا أَنْزَلَ إِلَيْكَ في عَلِيٍّ أَنْزَلَهُ بِعِلْمِهِ وَالْمَلَائِكَةُ يَشْهَدُونَ

“(Mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu), tetapi Alloh mengakui apa yang diturunkan-Nya kepadamu tentang ‘Ali. Alloh menurunkannya dengan ilmu-Nya, dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula)”. [Tafsir Al-Qummy 1/8-11]

Al-Majlisy menghikayatkan dari Abu ‘Abdillah, tentang ayat:

يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا

“Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku”. (QS AL-Furqon ayat 28)

Dia (Abu ‘Abdillah) berkata: “Yang ada di mushaf ‘Ali adalah:

يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ الثاني خَلِيلًا

“Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan orang kedua itu teman akrabku”.[Bihaarul Anwaar 24/187]

Yang mereka maksud dengan “orang kedua” adalah ‘Umar, sementara orang yang mengucapkan penyesalan itu adalah Abu Bakr.

Sebagaimana kebencian mereka terhadap Abu Bakr dan ‘Umar juga tampak nyata ketika mereka berupaya menukar firman Alloh Ta’ala:

هَذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي يُكَذِّبُ بِهَا الْمُجْرِمُون

“Inilah Jahannam yang para pendosa telah mendustakannya”. (QS Ar-Rahman ayat 43)

Sementara menurut hikayat Rofidhoh:

هَذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي كنتما بها تكَذِّبان بِهَا تصلينها ولا تموتان ولاتحييان

“Inilah Jahannam yang kalian berdua mendustakannya. Kalian berdua akan masuk ke dalamnya, dan kalian tidak akan mati juga tidak akan mengecap nikmatnya hidup”. [Tafsir Al-Qummy 2/340]

Bentuk-bentuk manipulasi yang lain sangatlah banyak, dan dengan model yang berbeda-beda, ada yang dengan penggantian kata, ada yang berupa pengubahan struktur dan susunan kalimat, ataupun dengan penambahan dan penghapusan sebagian kata. Belum lagi keyakinan Syi’ah Rofidhoh bahwa dua pertiga Al-Qur’an telah disembunyikan terutama tentang pujian terhadap Ahlul Bait serta celaan dan kecaman terhadap para shahabat Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam.

KELOMPOK-KELOMPOK SESAT DAN UPAYA PENYELEWENGAN MAKNA AL-QUR’AN

Alloh Subhanahu wa ta’ala telah menegaskan di dalam kitab-Nya yang agung:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُون

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya”.(QS Al-Hijr ayat 9)

Demikian juga dengan firman-Nya:

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيد

“Yang tidak datang kepadanya (Al-Quran) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Hakiim (Maha Bijaksana) lagi Hamiid (Maha Terpuji)”. (QS Fushshilat 42)

Pada ayat-ayat ini Alloh memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al-Quran, bahwa tak akan ada yang bisa mengutak-atik Kitab yang mulia ini selama-lamanya. Inilah sebuah kekhususan dan keutamaan yang Alloh berikan kepada umat terakhir yang wajib diikuti oleh semua manusia.

Imam Asy-Syathiby Rahimahulloh mengisahkan dari Abu ‘Umar Ad-Dany dan ‘Ali Abul Hasan Al-Muntab, beliau mengatakan: “Suatu hari aku bersama Al-Qodhi Abu Ishaq Isma’il bin Ishaq. Maka dikatakan kepada beliau: “Kenapa bisa terjadi manipulasi pada Ahli Taurat (Yahudi), dan tidak bisa terjadi pada Ahlil Qur’an?”. Al-Qodhi menjawab: “Alloh ‘Azza wa Jalla mengatakan tentang Ahli Taurat:

بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ

“… disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya”.(QS Al-Ma’idah ayat 44)

Dia mewakilkan penjagaan (Al-Kitab) kepada mereka, maka bisa terjadi manipulasi pada mereka.

Sementara Dia berkata tentang Al-Qur’an:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُون

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya”.(QS Al-Hijr ayat 9)

Maka tidak mungkin terjadi manipulasi pada mereka”.

‘Ali mengatakan: “Kemudian aku pergi menemui Abu ‘Abdillah Al-Muhamily dan menceritakan kisah tersebut, maka beliau berkata: “Aku tidak pernah mendengar sebuah perkataan dari ini”. [Al-Muwafaqaat 2/59]

Keyakinan akan terjaga Al-Qur’an dari campur tangan manusia adalah keyakinan segenap kaum muslimin baik dari kalangan ahlussunnah wal jama’ah maupun kelompok-kelompok sesat yang masih dalam lingkup Islam.

Karena itu setiap kelompok sepakat menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar pendalilan, hanya saja mereka berusaha menyusupkan kesesatan-kesesatan mereka dengan cara menafsirkan dan menyelewengkan makna Al-Qur’an selain apa yang dijelaskan Alloh dan Rosul-Nya di tempat lain baik di Al-Qur’an ataupun sunnah, serta menyelisihi pemahaman para shahabat Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam yang hadir dan mengetahui kondisi ketika ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan. Hal ini -insyaalloh- dapat diketahui dengan jelas oleh seorang mukmin jika dia mengembalikan penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an dengan metode-metode yang dibenarkan syari’at.

Karena itu juga kita dapatkan setiap kelompok kesesatan membangun pendalilan mereka pada dalil-dalil yang maknanya bisa mereka tarik ke pemahaman mereka, karena itulah cara terbaik -dalam sangkaan mereka- untuk menguatkan pemikiran mereka, yakni berdalil dengan Al-Qur’an di atas pemahaman sendiri.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan kondisi orang-orang seperti ini:

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ

“Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) kepada kamu. di antara isinya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Alloh dan orang-orang yang mendalam ilmunya”. (QS Ali ‘Imron ayat 7)

Ayat-ayat muhkamaat yang diinginkan disini ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, sehingga dapat dipahami dengan mudah. Sementara ayat-ayat mutasyaabihaat ialah ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian, sehingga mesti dikembalikan kepada ayat-ayat muhkamaat atau hadits-hadits sah yang lain dalam penjelasannya.

Penyelewengan dan pemalingan makna ini merupakan sunnahnya Yahudi, sebagaimana telah lewat penyebutannya. Inilah yang menjadi salah satu penyebab rusaknya agama mereka jauh sebelum datangnya Islam.

Kalau untuk mengubah ayat-ayat dalam Al-Qur’an saja Syi’ah Rofidhoh lancang melakukannya, maka sudah barang tentu masalah penyelewengan makna ayat-ayat yang Al-Qur’an merupakan perkara yang jauh lebih remeh dan ringan bagi mereka. Karena itu Syi’ah Rofidhoh mengambil porsi terbesar dalam masalah ini, diantaranya:

Dihikayatkan dari Abu ‘Abdillah tentang firman Alloh Ta’ala:

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya. Maka dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”. (QS Al-Ahzab ayat 72)

Abu ‘Abdillah berkata: “Amanat tersebut adalah pemerintahan Amirul Mukminin ‘Ali ‘Alaihissalam”. [Al-Ushul minal Kafy 1/413]

Begitu juga dengan firman-Nya:

قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُمْ بِوَاحِدَةٍ أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا مَا بِصَاحِبِكُمْ مِنْ جِنَّةٍ إِنْ هُوَ إِلَّا نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيد

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Alloh dengan ikhlas, baik berdua-dua atau sendiri-sendiri, kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras”. (QS Saba’ ayat 46)

Mereka menghikayatkan dari Abu Ja’far ‘Alahis Salaam, bahwa yang dimaksud dengan: “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja”, adalah: “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu tentang pemerintahan ‘Ali, itulah “satu hal saja” yang disebutkan Alloh”. [Al-Ushul minal Kafy 1/420]

Demikianlah setiap ada kesempatan memasukkan masalah kekuasaan ‘Ali dan para Imam dari anak cucunya -menurut sangkaan mereka- ataupun pelecehan terhadap para shohabat Rodhiyallohu ‘Anhummaka celah itu tak disia-siakan oleh Rofidhoh.

Seperti pada firman Alloh Ta’ala:

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh. Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”. (QS At-Tiin ayat 6)

Orang-orang yang beriman adalah: Salmaan, Al-Miqdaad, ‘Ammaar dan Abu Dzar. [Tafsir Furoot Al-Khufy 208]

Yang diinginkan Rofidhoh dengan tafsir ini adalah pembatasan sifat keimanan di kalangan shohabat pada Salmaan, ‘Ammaar dan Abu Dzar Rodhiyallohu ‘Anhum.

Pada firman Alloh Ta’ala:

فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْر

“Maka perangilah para pemimpin kafir itu” (QS At-Taubah ayat 12)

Versi mereka: Maksudnya Tholhah dan Az-Zubair. [Tafsir Al-‘Ayyasi jilid 2 hal 77, tafsir At-thobrosi jilid 5 hal 11, Tafsir At-Thusy jilid 5 hal 214]

Masih banyak lagi penyelewengan makna Al-Qur’an yang mereka lakukan untuk mendukung kesesatan mereka, beberapa contoh ini hanya sekedar sampel untuk menunjukkan kelancangan mereka dalam masalah ini.

LANGKAH SESAT ROFIDHOH: NAPAK TILAS KEBINASAAN YAHUDI

Alasan adanya manipulasi terhadap Al-Qur’an, adalah langkah Rofidhoh yang membuatnya berbeda dengan kelompok-kelompok lain dalam Islam.

Langkah ini juga yang membuatnya dengan leluasa mengikuti langkah saudara besarnya: Yahudi, untuk berusaha memanipulasi kitab suci.

Padahal kalau mereka sadari, klaim mereka -bahwasanya Al-Qur’an yang lengkap ada pada ‘Ali dan para Imam yang berasal dari anak cucunya- jusru mengandung konsekwensi bahwa ‘Ali dan anak cucunya telah menyembunyikan ilmu, sebagaimana perbuatan sebagian ulama Ahlul Kitab yang sesat dan menyesatkan.

Alloh berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُون

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati”. (QS Al-Baqoroh ayat 159)

Demikian juga ini mengandung konsekwensi celaan terhadap Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau tidak menyampaikan Al-Qur’an kepada umat akan tetapi mengkhususkan kepada ‘Ali.

Alloh berfirman:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ

“Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Robbmu. Jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya”. (QS Al-Ma’idah ayat 67)

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُون

“Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. (QS An-Nahl 64)

Sekaligus mengandung konsekwensi berupa pendustaan atas janji Alloh dalam menjaga Kitab-Nya.

Konsekwensi-konsekwensi tersebut yang berat dihantam Syi’ah Rofidhoh sebagaimana dahulu juga ditempuh Yahudi, yang tujuannya tidak jauh dari seputar masalah dan kepentingan berbau “dunia”, -insyaalloh- sedikit demi sedikit akan tergambar pada pembahasan-pembahasan berikutnya.

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ * أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآخِرَةِ فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ * وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَقَفَّيْنَا مِنْ بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَى أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَ

“Apakah kalian beriman kepada sebahagian Al-Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripada kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Alloh tidak lengah dari apa yang kalian perbuat. Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.

Sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al-Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul. Kami juga telah memberikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus (Jibril). Apakah setiap datang kepada kalian seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginan kalian lalu kalian menyombong. Beberapa orang (diantara mereka) kalian dustakan dan beberapa orang (yang lain) kalian bunuh?”. (QS Al-Baqoroh ayat 85-87)

لا حول ولا قوة إلا بالله

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك

15 Dzul Qo’dah 1434

Darul Hadits – Dammaj – Yaman

Sumber; http://www.ahlussunnah.web.id

[1] Terdapat penukilan dari kitab ini di beberapa tempat di kitab-kitab Ibnul Qoyyim Rahimahulloh, seperti Hidayatul Hiyary, Ighotsalul Lahfam dan Ahkamu Ahlidz Dzimmah. Ibnul Qoyyim mengisyaratkan dengan: “Sebagian pembesar mereka setelah Islamnya, mengatakan …”.

[2] Hasil perkawinan silang antara kuda dengan keledai, sehingga masyhur dengan kekuatannya

[3] Mayoritas penukilan dari kitab-kitab Syi’ah Rofidhoh, diambil melalui perantaraan kitab Badzlul Majhud.

[4] Yakni Syaikh kami Yahya Al-Hajury Hafizhohulloh yang Alloh jadikan sebagai duri di kerongkongan Rofidhoh terkhusus di Yaman.

[5] Ayat yang benar:

فَإِمَّا نَذْهَبَنَّ بِكَ فَإِنَّا مِنْهُمْ مُنْتَقِمُونَ * أَوْ نُرِيَنَّكَ الَّذِي وَعَدْنَاهُمْ فَإِنَّا عَلَيْهِمْ مُقْتَدِرُون

“Sungguh, jika Kami mewafatkan kamu (sebelum kamu mencapai kemenangan), maka sesungguhnya Kami akan menyiksa mereka (di akhirat). Atau Kami memperlihatkan kepadamu (azab) yang telah Kami ancamkan kepada mereka, maka sesungguhnya Kami berkuasa atas mereka”. (QS AZ-Zukhruf ayat 41-42)

PENGELOLA BLOG BERLEPAS DIRI DARI IKLAN WORDPRESS YANG ADA DIBAWAH TULISAN INI  SEBAB INI DILUAR KUASA KAMI. BAROKALLOHU FIIKUM.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: