PERBEDAAN DAKWAH SALAFIYYAH DENGAN DAKWAH HIZBIYYAH

ترجمة
القواعد السلفية
لأبي أحمد محمد بن سليم اللمبوري
إلى اللغة الأندونيسية
KAEDAH-KAEDAH
DALAM MEMAHAMI PERBEDAAN DAKWAH SALAFIYYAH DENGAN DAKWAH HIZBIYYAH
Ditulis oleh:
Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limbory
Diterjemahkan oleh:
Muhammad (Syamsul ‘Alam) Al-Makassary
-semoga Allah menjaganya-

قال أبو أحمد محمد بن سليم اللمبوري: Berkata Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limbory:
بسم الله الرحمن الرحيم
Dengan nama Allah yang Ar-Rahman (Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang).

Iklan

ترجمة
القواعد السلفية
لأبي أحمد محمد بن سليم اللمبوري
إلى اللغة الأندونيسية
KAEDAH-KAEDAH
DALAM MEMAHAMI PERBEDAAN DAKWAH SALAFIYYAH DENGAN DAKWAH HIZBIYYAH
Ditulis oleh:
Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limbory
Diterjemahkan oleh:
Muhammad (Syamsul ‘Alam) Al-Makassary
-semoga Allah menjaganya-

قال أبو أحمد محمد بن سليم اللمبوري: Berkata Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limbory:
بسم الله الرحمن الرحيم
Dengan nama Allah yang Ar-Rahman (Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang).
القاعدة الأولى
أصول الدعوة السلفية ثلاثة: كتاب الله ﻷ، وسنة النبي ق، وعلى منهج السلف الصالح.
Kaedah Pertama:
 “Dasar-dasar dakwah Salafiyyah ada tiga; Kitabullah ﻷ (Al-Qur’an), Sunnah-sunnah Nabi ق [hadits-hadits], dan di atas manhaj (metode) para pendahulu yang shalih”. Allah ﻷ berkata: ﴿اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ﴾ [الأعراف: 3] “Dan Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Robb kalian dan janganlah kalian mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya, amat sedikitlah kalian mengambil pelajaran (darinya)”. (Al-A’raf: 3). Dan Dia ﻷ berkata: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا﴾[النساء: 59]. “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan ulil amri di antara kalian, kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu (perkara), maka kembalikanlah (perkara tersebut) kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya”. (An-Nisa’: 59). Dari Irbadh bin Sariyyah تberkata: Suatu hari Rasulullah قsholat bersama kami kemudian menghadap kepada kami dan menasehati kami dengan nasehat yang membuat air mata becucuran dan hati bergetar maka seseorang berkata: Ya Rasulullah seakan-akan ini nasehat perpisahan maka apa yang engkau wasiatkan kepada kami maka beliaupun berkata: «أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ». “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan mendengar dan taat meskipun (yang memimpin kalian) budak Habasyi karena sesungguhnya barang siapa diantara kalian yang hidup setelahku akan melihat perselisihan yang banyak maka hendaklah kalian berpegang teguh terhadap sunnahku dan sunnah Khulufa’urrasyidin (empat khalifah yang diberi petunjuk), berpegang teguhlah kalian terhadapnya dan gigitlah ia dengan gigi geraham, dan berhati-hatilah kalian dengan perkara yang diada-adakan karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat”(HR.Abu Dawud, Ibnu Majah dan At-Tirmidzy dan beliau berkata:Hadits ini adalah hadits shahih).
القاعدة الثانية
كل من خالف أصول الدعوة السلفية فإنه يدخل في الحزبية، ويكون له من العقوبة بقدر مخالفته
Kaedah Kedua:
“Setiap yang menyelisihi landasan-landasan da’wah salafiyyah maka sesungguhnya dia masuk dalam lingkup hizbiyyah dan dia akan mendapatkan siksa sesuai dengan kadar penyelisihannya”. Allah ﻷ berkata: ﴿فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾ [النور: 63]. “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. (An-Nuur: 63).
القاعدة الثالثة
فلا يجوز للمسلم أن يتبع أراءً أو أقوالاً تخالف ما كان عليه سلفنا الصالح
Kaedah Ketiga:
“Maka tidak boleh bagi seorang muslim untuk mengikuti pendapat atau ucapan yangmenyelisihi apa-apa yang para salaf kita yang shalih berada di atasnya”. Allah ﻷ berkata: ﴿وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا﴾ [النساء : 115] “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan dia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”. (An-Nisa’: 115). Allah ﻷ berkata: ﴿إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آَمَنُوا سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوا فَوْقَ الْأَعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ (12) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ شَاقُّوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَمَنْ يُشَاقِقِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (13)﴾ [الأنفال: 12، 13] “(Ingatlah), ketika Robbmu mewahyukan kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kalian, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman!, kelak akan Aku berikan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan potonglah tiap-tiap ujung jari mereka. (Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya”. (Al-Anfal: 12، 13).
القاعدة الرابعة
فعدم الرجوع إلى ما كان عليه سلفنا الصالح هو السبب الأصيل الذي جعل المسلمين يتفرقون إلى المذاهب.
Kaedah Keempat:
“Tidak kembali kepada apa yang berada padanya salaf (pendahulu) kita yang shalih maka dia adalah sebab utama yang menjadikan kaum muslimin berpecah belah menjadi beberapa mazhab”. Allah ﻷberkata: ﴿إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ﴾ [الأنعام: 159] “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat”. (Al-An’am: 159). Allah ﻷ berkata: ﴿فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ﴾ [الصف: 5] “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, sedangkan kamu mengetahui bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu?”, maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik”. (Ash-Shaff: 5).
القاعدة الخامسة
فعلى المسلم إذا رأى رجلاً يتهاون بشيء من سنن النبي ق أن يتبرأ منه ويتركه.
Kaedah Kelima:
“Maka bagi seorang muslim apabila melihat orang yang bermudah-mudahan (meremehkan) dari sunnah-sunnah Nabi قhendaknya dia berlepas diri darinya dan meninggalkannya”. Allah ق berkata: ﴿لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾ [المجادلة: 22]. “Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya, dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah! bahwa sesungguhnya hizbullah (golongan Allah) itu adalah golongan yang beruntung”. (Al-Mujadilah: 22).
القاعدة السادسة
ليس كل اجتماع يكون مذموماً، فإن كان الاجتماع على كتاب الله وسنة النبي ق وعلى ما كان عليه سلفنا الصالح فهذا الاجتماع ممدوح.
Kaedah Keenam:
“Tidaklah setiap persatuan itu tercelah karena apabila persatuan itu dibangun di atas Kitabullah (Al-Qur’an) dan sunnah Nabi قdan apa-apa yang para salaf kita berada padanya maka persatuan yang seperti ini terpuji”. Dari Abu Hurairah ت dari Nabi قbahwasanya beliau berkata: «مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ وَمَنْ خَرَجَ عَلَى أُمَّتِى يَضْرِبُ بَرَّهَا وَفَاجِرَهَا وَلاَ يَتَحَاشَ مِنْ مُؤْمِنِهَا وَلاَ يَفِى لِذِى عَهْدٍ عَهْدَهُ فَلَيْسَ مِنِّى وَلَسْتُ مِنْهُ». “Barang siapa yang keluar dari ketaatan dan berpisah dari jama’ah (persatuan) lalu mati maka matinya itu adalah mati jahiliyyah dan barangsiapa yang berperang di bawah bendera kemarahan karena ta’assub (fanatik) atau mengajak kepada ta’assub atau menolong ta’assub lalu terbunuh maka terbunuh dia dalam keadaan jahiliyyah dan barang siapa yang keluar atas ummatku lalu memukul kebaikan dan kejelekannya, dan dia tidak berpaling dari keimanannya serta tidak memenuhi perjanjian dengan janjinya maka dia bukan dari (golonganku) dan aku bukan darinya”. (HR. Muslim).

Penulis: Abu Ibrohim (Admin kebenaranhanya1 (thetruthonly1))

Ingatlah bahwa tiada yang berhak disembah selain Allah

3 thoughts on “PERBEDAAN DAKWAH SALAFIYYAH DENGAN DAKWAH HIZBIYYAH”

  1. IBARAT ULAR

    Ustadz Firanda Andirja, Lc., MA

    Manhaj ekstrim tahdzir ibarat ular yang kelainan yang memakan dirinya sendiri… Tatkala ia tidak menemukan makanan yang lain maka iapun memakan dirinya sendiri… Jika ia telah habis mentabdi’ yang lain maka ia akan mentabdi’ anggotanya sendiri…

    Jika ia telah selesai mentahdzir yang lain maka ia akan mentahdzir anggotanya sendiri… Mereka yang suka mentabdi’ akhirnya juga kena tabdi’… Mereka yang suka mentahdzir akhirnya pun kena tahdzir…

    Dan sungguh merupakan hukuman Allah yang menyakitkan jika ternyata yang mentahdzir adalah sahabat sendiri…apalagi sahabat yang selama ini ia bela… Lebih menyakitkan lagi jika yang mentahdzir adalah guru pujaan… Sebagaimana gurupun merasa sedih jika murid yang selama ini ia didik ternyata mentabdi’nya… Sang guru ternyata telah memelihara macan yang akan menyerangnya…

    Jika anda bangga dengan manhaj seperti ini… Anda bangga dan merasa berpahala tatkala mentabdi’ dan mentahdzir saudara anda…coba renungkan apakah anda sekarang sudah ditahdzir? Kalau belum, maka tunggulah…akan datang saatnya…!

    Jika anda hobi mencari-cari kesalahan saudara anda sebagai bahan tahdzir dan tabdi’ maka tunggulah…akan datang saatnya…!

    الجزاء من جنس العمل Balasan sesuai dengan jenis perbuatan…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s