JADIKAN PENDERITAAN SEBAGAI PEMBERSIH

JADIKAN PENDERITAAN SEBAGAI PEMBERSIH

Iklan

~ JANGAN BERSEDIH ~
 JADIKAN PENDERITAAN SEBAGAI PEMBERSIH

Ditulis oleh:
Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limbori
-semoga Allah mengampuninya-
Lembah Dammaj, Muharram 1433H

KATA PENGANTAR

بسم الله الرحمن الرحيم

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا، والصلاة والسلام على سيد الأنبياء والمرسلين
وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه إلى يوم الدين.

أما بعد

Sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap orang pasti akan diuji, baik itu ujian berupa penyakit, kesedihan, penderitaan, kemiskinan dan kekurangan harta benda atau yang selainnya, semua ujian itu dimaksudkan untuk terbedakannya antara siapa yang bersabar dan siapa yang tidak mampu dalam bersabar, yang bersabar di atas ujian itu maka dia akan mendapatkan jaminan berupa kebahagiaan hakiki dan abadi yaitu dengan dimasukannya ke dalam jannah (surga), Allah Ta’ala berkata:

﴿أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ﴾ [آل عمران: 142].

“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk jannah, padahal belum dinyatakan Allah orang-orang yang berjihad diantara kalian dan belum dinyatakan pula orang-orang yang sabar”. (Ali Imron: 142).

Allah Ta’ala tidak akan membiarkan seorangpun di muka bumi ini yang mengaku-ngaku sebagai pemeluk agama islam melainkan Allah Ta’ala akan mengujinya, Allah Ta’ala berkata:

﴿الم (1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (3)﴾ [العنكبوت: 1-4].

“Alif laam miim, apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (Al-Ankabut: 1-3).

Kalau seseorang sudah mengaku dan mengklaim dirinya sebagai seorang yang beragama Islam dan dia telah beriman maka Allah Ta’ala memberikan kepadanya suatu ujian untuk membuktikan pengakuannya tersebut, apakah dia benar-benar sebagai seorang muslim yang telah beriman ataukah dia hanya mengaku-ngaku? Allah Ta’ala berkata:

﴿قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾ [آل عمران: 31].

“Katakanlah: “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian”. Dan Allah adalah Al-Ghafur (Maha Pengampun) lagi Al-Rahim (Maha Penyayang)”. (Ali Imran: 31).

Bila seseorang benar-benar mengikuti perkataan Allah Ta’ala tersebut dan merealisasikannya dalam kesehariannya yaitu dengan mengikuti apa saja yang telah dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berupa mengamalkan ajaran-ajaran yang dibawanya maka konsekuwensinya dia harus bersiap-siap untuk mendapatkan ujian (cobaan) dari Allah ‘Azza wa Jalla, adapun bagi orang-orang yag lari dari perintah dalam ayat tersebut dan tidak mau mengikuti ajaran-ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maka dia akan mendapatkan bala’ (bencana dan petaka) di dunia dan di akhiratnya, Allah Ta’ala berkata:

﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (124) قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا (125) قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آَيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى (126) وَكَذَلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِآَيَاتِ رَبِّهِ وَلَعَذَابُ الْآَخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَى (127)﴾ [طه: 124-128] .

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Dia berkata: “Ya Robbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berkata: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, lalu kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan. Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Robbnya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal. Maka tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka (kaum musyrikin) berapa banyaknya Kami membinasakan umat-umat sebelum mereka, padahal mereka berjalan (dibekas-bekas) tempat tinggal umat-umat itu?Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal”. (Thahaa: 124-128).

Tulisan ini adalah merupakan salah dari tulisan-tulisan kami yang berkaitan dengan nasehat untuk siapa saja yang menginginkan kebaikan dan keselamatan di dunia dan di akhirat yang kami beri judul “JANGAN BERSEDIH JADIKANLAH PENDERITAAN SEBAGAI PEMBERSIH”, kami memohon kepada Allah Ta’ala semoga dengan sebab tulisan yang sederhana ini banyak orang mendapatkan hidayah, dan semoga dengan sebab tulisan ini banyak orang sadar dan mengetahui maksud dan tujuannya hidup di muka bumi ini, begitu pula kami memohon kepada-Nya semoga amalan kami ini bermanfaat untuk kami, kedua orang tua kami, saudara-saudari kami serta siapa saja yang mencintai kami karena Allah Ta’ala.

Ditulis oleh Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limbori di Maktabah Umum Darul Hadits Dammaj-Sha’da-Yaman, pada hari Rabu 3 Dzulhijjah 1429 Hijriyyah.

UCAPAN SYUKUR

Kami bersyukur kepada Allah Ta’ala yang telah memberikan kenikmatan dan kebaikan yang banyak kepada kami, diantaranya yang paling berarti dan berharga bagi kami ketika Dia memberikan hidayah kepada kami untuk mengikuti ajaran dan bimbingan Nabi-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan juga ketika Dia mengokohkan kami untuk terus sentiasa menuntut ilmu agama:

﴿وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ﴾ [النحل: 53].

“Dan nikmat apa saja yang ada pada kalian, maka itu datangnya dari Allah, dan bila kalian ditimpa kemudharatan maka hanya kepada-Nyalah kalian meminta pertolongan”. (An-Nahl: 53).

Kemudian dari pada itu kami bersyukur kepada saudara-saudara kami di Limboro yang mereka telah memilih jalan terbaik untuk kehidupan dunia dan akhirat mereka dan semoga Allah Ta’ala mengokohkan mereka di atas kebenaran yang mereka telah berada di atasnya, diantara mereka adalah:

Abu Sumayyah dan seluruh keluarga.
Abdul Malik berserta keluarga.
Abu Ukasyah Ahmad berserta keluarga.
Abu Ghifari Hadiyan berserta keluarga.
Sunarto berserta keluarga.
Abu Jarir Heldi, Sufyan, Arsun, Wahyudin, Fahrudin, Sa’id, Herman, Diding, Hisyam dan Suwanda serta siapa saja yang memilihi perhatian dan kecintaan kepada ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang kami tidak bisa menyebut nama mereka satu persatu –semoga Allah mengokohkan mereka di atas kebenaran-.

Kemudian kami bersyukur kepada saudara-suadara kami di pulau Ambon yang telah banyak membantu dan mendoakan kebaikan kepada kami serta mereka telah memilih kebenaran dan mengikutinya, diantara mereka adalah:

Abu Muhammad Al-Amin Nurdin beserta keluarga.

Abu Usamah berserta keluarga.
Imran beserta keluarga.
Abu Sa’id Al-Maidaniy beserta keluarga.

Dan siapa saja yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu yang mereka senantiasa di atas kebenaran –semoga Allah mengokohkan mereka-.

وَآخِرُ دَعْوَنا أَنِ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

BAB I
 PENDAHULUAN

Latar Belakang

Seiring dengan perubahan zaman banyak didapati dari umat manusia mengalami perubahan dalam bertingkah laku, kebanyak dari mereka berlomba-lomba mengikuti perubahan zaman, yang aktiv dalam perubahan dan yang senantiasa mengikutinya dianggap sebagai sesuatu yang pantas untuk dicontoh, seorang bapak tidak peduli lagi dengan kehormatan dan kesucian putrinya, yang penting putrinya bisa mengikuti perubahan zaman dan bisa memiliki kedudukan, dia tidak mempermasalahkan walaupun kehormatan dan kesucian putrinya dinodai, walaupun putrinya di sekolahan atau di tempat kuliahan dipermainkan oleh para senior, para guru atau para dosen, dia tidak peduli, walaupun putrinya di tengah-tengah kesibukannya mengikuti perubahan zaman sampai dinodai dan dihamili oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, tidak dipermasalahkan yang penting terus mengikuti perubahan zaman. Sebagian yang lain lagi tidak peduli dengan aturan dan ajaran agama yang dipeluk, yang penting dia bisa menjadi pegawai negri atau bisa sukses dalam usahanya dia rela untuk menipu dan merampas hak-hak orang lain, dan sebagian lagi dari mereka demi untuk mendapatkan suami atau istri yang berkedudukan rela menanggalkan ketaqwaannya, dia rela menanggalkan pakaian kesuciannya demi untuk mendapatkan prestasi tertinggi dalam perubahan kehidupan dunianya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ».

“Dan barangsiapa yang hijrah (tujuan)nya kepada dunia yang diinginkannya atau kepada wanita yang mau dinikahinya maka tujuannya itu akan sampai kepadanya”. (HR. Bukhari dan Muslim dari hadits Umar bin Khaththab).

Mereka bisa jadi mendapatkan apa yang mereka cita-citakan akan tetapi Allah Ta’ala telah nyatakan untuk mereka:

﴿وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ﴾ [الشورى: 20].

“Dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagianpun di akhirat”. (Asy-Syura: 20)

Adapun orang yang menjadikan tujuan utama hidupnya adalah akhirat maka Allah Ta’ala nyatakan:

﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآَخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ﴾[الشورى: 20].

“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya”. Dan Allah Ta’ala berkata tentang mereka:

﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ﴾ [هود: 15].

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan”. (Hud: 15).

Orang yang taat di atas agama Islam dan berpegang teguh dengan ajaran-ajaran dan tuntunan-tuntunannya, yang mereka menjaga kehormatan dan kesucian diri mereka serta takut dari berbuat dosa dan aniaya, maka orang-orang yang jelek dan rusak seringkali menghina mereka, mengejek dan membenci mereka, serta dikatakan kuper (kurang pergaulan), tidak hanya itu bahkan mereka dimusuhi –hanya kepada Allah kita meminta pertolongan-.

Agama Islam adalah agama yang penuh dengan rahmat, yang mengeluarkan umat manusia dari alam kegelapan menuju alam yang terang benderang, ketika awal munculnya agama Islam di kota Makkah maka yang pertama-tama menyambut dan memeluknya adalah orang-orang yang menginginkan kebaikan dan keselamatan di dunia dan di akhirat mereka adalah para dhu’afa’ (orang-orang lemah lagi miskin), adapun orang-orang yang gila jabatan dan orang-orang yang mencintai pangkat dan kedudukan, maka mereka enggan untuk menerima dan mengikuti ajakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada agama Islam, karena kalau mengikuti ajaran yang dibawa oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang terang benderang itu akan mengakibatkan mereka ketinggalan zaman, akan hilang jabatan dan kedudukan, coba lihat dan ambil pelajaran dari seorang raja Romawi yang berjudulukan Hiraklius, dia adalah seorang raja pada Negara super power (adi daya) di Romawi, dia memiliki ilmu dan dia mengetahui bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah muncul di negri Arab, ketika Abu Sufyan datang ke Romawi dalam rangka untuk berdagang, raja Hiraklius mengundangnya ke istana kerajaan untuk menanyakan tentang Nabi yang baru muncul tersebut, dia memberikan beberapa pertanyaan kepada Abu Sufyan tentang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, diantara pertanyaannya:

)فأشراف الناس يتبعونه أم ضعفاؤهم؟(

“Apakah orang-orang mulia (yang kaya lagi yang berkedudukan) yang mengikutinya ataukah para dhu’afa’ (orang-orang lemah lagi miskin)?” Abu Sufyan berkata:

)بل ضعفاؤهم(

“Bahkan (yang mengikutinya) adalah para fuqara’-nya mereka”. Kemudian sang raja berkata:

)وَهُمْ أَتْبَاعُ الرُّسُلِ(.

“Mereka (para dhu’afa’) itulah pengikutnya para Nabi”. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Abbas).

Bukan berarti yang mengikuti Nabi itu hanya para dhu’afa’ saja, akan tetapi bahkan ada dari para pengikut nabi orang-orang kaya raya dan orang-orang yang berkedudukan, diantara mereka adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Utsman bin Affan dan raja Najasyi –semoga Allah meridhai mereka semua-, akan tetapi ketika mereka mengikuti ajakan Nabi merekapun mendapatkan ujian berupa penderitaan, kekurangan harta benda, kesengsaraan dan bahkan mereka mendapatkan permusuhan dari orang-orang yang membenci, Allah Ta’ala berkata:

﴿وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ﴾ [البقرة: 155].

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sesuatu dari ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang bersabar”. (Al-Baqarah: 155).

Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq menemani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar hijrah dari kota Makkah ke Madinah maka orang-orang yang membenci dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengejar keduanya untuk dibunuh, lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Abu Bakar –semoga Allah meridhainya- bersembunyi di dalam gua, para penjahat itu berkumpul di samping atau di sekitar gua maka Abu Bakar merasa sedih dan khawatir kalau para penjahat itu tahu bahwa keduanya berada di dalam gua, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada Abu Bakar:

﴿لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا﴾ [التوبة: 40].

“Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”. (At-Taubah: 40). Maka dari sini kamipun katakana kepada siapa saja dari para pengikut Nabi yang ada di zaman ini baik di desa Limboro, di kota Ambon, di kepulauan Maluku dan di Negara Republik Indonesia atau dimanapun berada “JANGAN BERSEDIH JADIKANLAH PENDERITAAN SEBAGAI PEMBERSIH” karena Rasulullah Shallallahu ‘Alihi wa Sallam berkata:

«مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ، وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمِّ، وَلاَ حُزْنٍ، وَلاَ أَذًى، وَلاَ غَمِّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا؛ إِلاَّ كَفَّرَ الله بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ»..

“Tidaklah ditimpakan kepada seseorang yang memeluk agama Islamberupa penderitaan (keletihan), penyakit, kesusahan, kesedihan dan gangguan serta kepedihan sampai-sampai duri yang tertusuk padanya melainkan itu adalah pembersih (penghapus) dosa-dosanya”. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Tentu bagi para insan akademik, orang-orang yang berpendidikan dan orang-orang yang menginginkan kebaikan untuk anak-anaknya tidak akan mau mengikuti jejaknya raja Hiraklius, karena raja Hiraklius memiliki ilmu dan mengetahui kebenaran namun enggan untuk mengikutinya disebabkan karena kedudukan dan kekayaannya, karena ingin mempertahankan kedudukan dan kekayaannya diapun mengerahkan kekuatannya untuk memerangi para pengikut Nabi, yang akibatnya justru dia binasa dan kerajaannya runtuh. Dan siapa saja ikut berlagak seperti raja Hiraklius dan yang enggan untuk mengikuti ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maka tentu ancamannya adalah tidak dimasukan ke dalam jannah (surga), Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«كلُّ أُمَّتي يدخلون الجنة إلا مَن أبى».

“Semua umatku akan masuk jannah kecuali orang yang enggan”. Maka para shahabat berkata: Ya Rasulullah siapa orang yang enggan untuk masuk jannah itu? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«مَن أطاعني دخل الجنة ، ومن عصاني فقد أبى»

“Barangsiapa yang mentaatiku maka dia akan masuk jannah dan barangsiapa yang memaksiati (tidak mentaati)ku maka sungguh dia telah enggan (untuk masuk jannah)”. (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).

BAB II

JANGAN MERASA MENDERITA DAN SENGSARA KARENA ANAK ATAU SAUDARA
 YANG DIJADIKAN SEBAGAI TUMPUAN HARAPAN
 MENINGGALKANMU KARENA MENUNTUT ILMU AGAMA

2.1 Pelajaran dari Ibu Rumah Tangga yang Baik

Ada seorang ibu rumah tangga yang baik dia adalah Ummu Sumayyah Musriya’ –semoga Allah merahmatinya-, bapaknya adalah seorang khatib dan penghafal Al-Qur’an, yang biasa mengimami manusia ketika shalat 5 (lima) waktu, sejak kanak-kanak Ummu Sumayyah sudah mulai diarahkan untuk membaca dan mencintai Al-Qur’an tidak lama kemudian bapak dan ibunya meninggal dunia, diapun menjadi anak yatim, kemudian dipelihara oleh nenek dan bibinya, dia dibawa ke negri kepulauan di Maluku, di Maluku dia melanjutkan belajar membaca Al-Qur’an dari nenek dan bibinya yang ketika itu nenek dan bibinya sangat taat dalam beribadah, ketika Ummu Sumayyah –semoga Allah merahmtinya- menjadi ibu rumah tangga yang baik, diapun mendorong putra-putrinya untuk mempelajari Al-Qur’an, dipersiapkan sarana dan perlengkapan untuk ke rumah guru ngaji (ustadz), bahkan ketika dibuka pesantren kilat di kampung tetangga dia meridhai seorang anaknya untuk ikut menjadi santri sehingga dia bisa memahami Al-Qur’an dan mengamalkannya, dalam keadaan Ummu Sumayyah ketika itu sangat membutuhkan bantuan dari seorang anak tersebut, begitu pula ketika dibuka pembelajaran praktis membaca Al-Qur’an di salah satu masjid, dia selalu memotivasi anaknya tersebut untuk hadir, dia –semoga Allah merahmatinya- selalu mendorong anak-anaknya untuk mengamalkan Al-Qur’an, membangunkan putranya untuk shalat subuh berjama’ah di masjid dan bahkan ketika terjadi kerusuhan di Ambon berupa pentaian terhadap kaum muslimin yang dilakukan oleh kaum salibis RMS (Republik Maluku Sarani), dia mendorong salah satu putranya untuk berangkat ke Ambon demi untuk membela agama Allah dalam keadaan dia sendiri sangat membutuhkan bantuan dari anaknya tersebut untuk bekerja di perkebunan, dan dia –semoga Allah merahmatinya- sangat bergembira ketika mendengar kedua putranya maju bertempur di medan jihad di propinsi Ambon, begitu pula ketika dibuka latihan pencat silat, dia pula mendorong tiga dari putra-putranya untuk mengikuti latihan tersebut sehingga suatu saat nanti bisa dipraktekan dalam membela diri ketika dihadang oleh para musuh, dia –semoga Allah merahmatinya- mendorong dan memotivasi seorang putranya di rumah untuk selalu aktiv dalam membimbing anak-anak dalam membaca Al-Qur’an di rumahnya.

Bila orang tua memiliki kesadaran tentang pentingnya ilmu agama maka dia akan memberi dukungan kepada anak-anaknya karena hal itu akan memberi manfaat kepadanya, baik di dunia maupun di akhiratnya, di dunia Allah Ta’ala akan membukakan kepadanya pintu-pintu kebaikan, Allah Ta’ala akan memberinya rezki dengan sebab anaknya berjuang dalam menuntut ilmu agama, dari Anas bin Malik –semoga Allah Ta’ala meridhainya- bahwasanya ada dua orang bersaudara, keduanya itu hidup di zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, salah seorang dari keduanya sibuk dengan ilmu agama dan selalu hadir mendengarkan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di majelisnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan yang satunya lagi sibuk dengan pekerjaannya, yang sibuk dengan perkerjaannya mengeluh kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: Wahai Rasulullah saudaraku (yang sibuk dengan belajar ilmu agama) tidak membantuku sedikitpun dalam pekerjaan! Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ».

“Barangkali kamu diberi rezki karena sebab dia menuntut ilmu agama”. (HR. Al-Hakim, Al-Bazzar, Ibnu Abdil Barr di “Jami’u Bayanil Ilmi” dan At-Tirmidzi, beliau berkata: Ini adalah hadits hasan shahih), berkata para ulama: “Menuntu ilmu agama adalah sebab datangnya rezki”.

2.2 Kesadaran Orang Tua Tentang Pentingnya Ilmu Agama, Bahwa Hanya dengan Ilmu Agama dan Amalan Shalih yang Akan Membahagiakan Mereka di Kehidupan Dunia dan Akhirat.

Adapun bagi orang-orang yang memiliki ilmu agama dan memiliki anak yang shalih (taat beribadah dan suka berbuat kebaikan) maka di kehidupan akhiratnya nanti Allah Ta’ala akan terus memberinya tambahan pahala, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ».

“Jika telah mati seseorang maka terputuslah amalannya kecuali tiga: Sedekah yang terus mengalir, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya”. (HR. Muslim, Ahmad dan Abu Dawud dari Abu Hurairah).

Oleh karena itu kami nasehatkan kepada para orang tua, kalaulah kalian memiliki kekayaan maka pasti kalian akan tinggalkan, kalau kalian memiliki anak yang berpangkat dan berkedudukan maka pasti kalian akan berpisah dengannya, melainkan hanya tiga perkara yang telah disebutkan dalam hadits tersebut, jika para orang tua berkata: “Kami orang kaya kalau mati kami gunakan kekayaan kami untuk sedekah yang akan terus mengalir pahalanya untuk kami”. Maka kami katakan: Itu hanyalah angan-angan dan hayalan belaka, karena anak-anak yang mereka tinggalkan adalah jauh dari agama, mereka bodoh terhadap agamanya yang akibatnya mereka memperebutkan harta kekayaan yang ditinggalkan oleh orang tuanya, karena masing-masing mengaku berhak sebagai pewaris kekayaan orang tuanya, karena semuanya merasa berhak mendapatkan warisan maka disimpulkanlah untuk dibagikan warisan tersebut, kalaupun mereka bagikan maka tentu dengan cara batil (tidak benar atau tidak adil) karena mereka tidak memahami ilmu waris, sedangkan ilmu waris adalah termasuk dari bagian ilmu agama, ketika mereka tidak bisa membagi harta waris dengan cara yang benar, orang tuanyapun mengalami kerugian di akhiratnya.

Secerdas dan sepintar apapun seseorang dalam kehidupan dunia ini kalau dia jauh dari tuntutan dan bimbingan agama Islam dan benci dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maka dia pasti akan merugi dan binasa, ambillah pelajaran dari apa yang dirasakan oleh Kaisar raja Persia, dia seorang raja yang memiliki kerajaan “adi daya” yang kedua setelah kerajaan Romawi, dia memiliki beberapa orang pangeran (putra-putra), karena dia benci dan memusuhi dakwah yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam serta menyobek-nyobek surat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuknya, karena Kaisar tidak mau mengikuti ajakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mengikuti agama Islam yang akibatnya kerajaan Persia hancur, Kaisarpun mati karena dibunuh oleh putranya sendiri, putranya tersebut gila pangkat dan kedudukan bapaknya sebagai seorang raja, dia berambisi tinggi untuk mewarisi apa yang dimiliki oleh bapaknya, sebelum membunuh bapaknya, dia terlebih dahulu membunuh saudara-suadaranya karena takut mereka nanti yang menjadi pewaris kerajaan, setelah saudara-saudaranya dia habisi dan bapaknya masih menjabat sebagai seorang raja sementara dia sudah sangat berambisi untuk menjadi raja, dengan jalan pintas diapun akhirnya membunuh bapaknya supaya dia cepat menjabat sebagai raja baru dan supaya hanya dialah satu-satunya menjadi pewaris bapaknya, dia membunuh bapaknya dengan cara licik yaitu dengan memasukan racun ke dalam botol obat-obatan, kemudian bapaknya mengambil botol tersebut dan dia mengira itu adalah obat sebagaimana tertulis di luarnya, setelah diminum ternyata dia langsung mati konyol karena keracunan, anak tersebut kemudian naik pangkat menjadi seorang raja baru pada kerajaan Persia, tidak lama kemudian raja baru tersebut binasa karena sebab permusuhan dan kebenciannya terhadap agama yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ketika raja baru tersebut mati naiklah pengganti baru dari tuan putri kerajaan yaitu saudari atau anak perempuannya raja menjadi seorang ratu pada kerajaan Persia, ketika sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berita tentang Persia telah dipimpin oleh seorang ratu, maka beliau berkata:

«لنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً».

“Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang wanita”. (HR. Al-Bukhari dari Abu Bakrah).

Lalu bagaimana kiranya dengan keadaan di zaman ini para wanita berbondong-bondong menduduki posisi para pria, ada dari mereka menjadi kepala sekolah, rektor, presiden dan bahkan ada dari mereka berbondong-bondong kuliah di Fakultas Teknik???.

BAB III
 BERSABAR DI ATAS KERINDUAN KARENA BUAH HATI DAN TUMPUAN HARAPAN BELAJAR ILMU AGAMA DI NEGRI YANG JAUH

Belajar ilmu agama tentu membutuhkan waktu yang panjang, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib serta para shahabat lainnya –semoga Allah meridhai mereka- belajar ilmu agama selama 10 (sepuluh) tahun di Makkah, mereka belajar langsung kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ketika mereka hijrah ke Madinah mereka masih terus senantiasa belajar kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, hal ini berbeda dengan orang yang belajar ilmu agama hanya karena mengharapkan dunia atau hanya ingin mendapatkan gelar SAg, MAg, DR atau Prof di bidang agama, dengan waktu yang sangat singkat mereka langsung mendapat gelar-gelar tersebut, atau bahkan ada dari mereka hanya sekedar mendaftar ke IAIN pada program S2 kemudian duduk santai dan main catur di tempat tinggalnya setelah dua tahun kemudian langsung dilantik menjadi wisudawan dengan gelar MAg dan keluar ijazah S2. Ketika mereka itu dimanfaatkan dan dijadikan sebagai para guru atau para dosen tampak sekali kebodohannya yang pada akhirnya mereka sesat dan menyesatkan.

Begitu pula ada seseorang yang sesat, ketika di Indonesia dia belajar tidak jelas, kemudian ke Pakistan, tidak lama kemudian ke Afganistan untuk berjihad melawan Negara Uni Soviet, setelah itu keliling ke Saudi Arabia, kemudian ke Dammaj, di Dammaj beberapa bulan, setelah pulang ke Indonesia berlagak ‘alim, karena minim ilmunya dan bodoh terhadap ilmu agama tapi berani berlagak seperti seseorang dari ulama jarh wat ta’dil (kritikus dan juru pengadilan) ketika orang itu tidak sanggup untuk membantah lawan-lawannya diapun memanfaatkan dan memperalat mantan murid-muridnya yang pernah belajar di Dammaj atau dia memanfaatkan mantan murid-murid dan kawan-kawannya yang pernah kuliah di Universitas Islam Madinah.

Catatan Penting:

Bukan berarti setiap orang yang belajar lama bersama ulama itu mesti selalu di atas jalan yang lurus, begitu pula bukan berarti yang hanya belajar dalam waktu yang singkat itu mesti menyimpang dan sesat, akan tetapi yang menjadi ukuran dan patokan  adalah fahamannya dia tentang ilmu agama dan kesesuaiannya dalam mengamalkan ilmunya tersebut, Allah Ta’ala berkata:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3)﴾ [الصف: 2 ، 3].

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan”. (Ash-Shaf: 2-3). Bila seseorang diberi rezki oleh Allah Ta’ala dengan bagusnya pemahaman terhadap ilmu agama dan diberi taufiq dengan senantiasa menuntut ilmu dan mengamalkannya sebagaimana para shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maka mereka itulah yang akan sukses dan meraih prestasi terbaik di kehidupan dunia dan akhirat, tidak membahayakan dan menyedihkan mereka hinaan, cemoohan dan celaan orang-orang yang mencela, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«لاَ يَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِىَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ».

“Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang mereka tampak di atas kebenaran, tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menyelisihi mereka sampai datang keputusan Allah dan mereka dalam keadaan yang demikian itu”. (HR. Muslim, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Tsauban). Allah Ta’ala berkata:

﴿وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ﴾ [النور: 55] .

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa, mereka tetap menyembahku-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku. Dan barangsiapa yang kufur sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasiq”. (An-Nuur: 55).

Maka orang tua yang baik yang menginginkan kebaikan untuk anak-anaknya tentu akan memperlakukan anak-anaknya seperti Anas bin Malik –semoga Allah meridhainya-, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq –semoga Allah meridhainya- maka Ummu Sulaim –semoga Allah meridhainya- menyerahkan putra tercintanya Anas bin Malik kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menjadi pembantunya, dengan sebab itu Anas bin Malik memiliki kesempatan dan peluang emas untuk bisa belajar ilmu agama langsung kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau belajar bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selama 10 (sepuluh) tahun, kalaulah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam belum meninggal dunia tentu Anas bin Malik –semoga Allah meridhainya- akan terus belajar kepadanya namun karena beliau hanya mendapati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selama 10 (sepuluh) tahun, akhirnya beliau hanya memiliki kesempatan dalam waktu itu belajar langsung kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Anas bin Malik –semoga Allah meridhainya- mengisahkan bahwa ketika beliau menjadi pembantu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan beliau belajar kepadanya selama 10 (sepuluh) tahun, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah memarahinya dan tidak pernah berkata kasar kepadanya. Telah diketahui bersama bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah seorang pendidik yang paling bagus, paling berilmu dan paling lembut dalam mendidik shahabat-shahabatnya, hal ini berbeda dengan orang-orang yang dijadikan guru di sekolah-sekolah, seringkali mereka memarahi murid, membentak, menyakiti bahkan sampai ada yang memukul murid-murid, dan lebih jahat dan biadab lagi adanya para guru yang memukul para murid disebabkan terlambat karena shalat berjama’ah, hal ini pernah terjadi, karena waktu masuk sekolah bertepatan dengan waktu shalat zhuhur, ada seseorang menghadiri shalat zhuhur karena dia sadar bahwa shalat berjama’ah adalah wajib bagi kaum pria, namun ada seorang guru yang jahat tidak peduli, bahkan berkata: “Iya saya tahu kamu shalat, tapi kamu terlambat”, langsung dipukul wajahnya, maka tidak heran kalau guru tersebut atau yang semisalnya kemudian sesat dan fasiq serta congkak dari mengikuti kebenaran, sungguh benar perkataan Allah Ta’ala:

﴿فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ﴾ [الصف: 5].

“Tatkala mereka berpaling (dari mengikuti) kebenaran, maka Allah palingkan hati-hati mereka (kepada kesesatan), dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang berbuat kefasiqan”. (Ash-Shaff: 5).

BAB IV
 KESEDIHAN ORANG TUA BILA ANAK-ANAKNYA BELAJAR KEPADA
 ORANG-ORANG BODOH, RUSAK, JELEK DAN JAHAT

Hendaklah orang tua merasa bersedih hati kalau anak-anaknya dididik dengan cara kekerasaan baik itu berupa bentakan, tamparan, pukulan dan cacian serta celaan, lebih-lebih kalau ada anak perempuannya dipermainkan oleh guru-guru yang jahat lagi rusak, anak perempuan disuruh lepas jilbab atau disuruh senam mengikuti gerak geriknya, bahkan terkadang merayu-rayunya, duduk di sampingnya lalu dipegang dan disentuh-sentuh seakan-akan anak prempuan itu adalah boneka-boneka mereka. Lebih biadab dan kurang ajar lagi adanya guru-guru yang mengajak murid-murid prempuan untuk pacaran dengan mereka dengan rayuan diberi nilai tertinggi atau dengan rayuan gombal buaya buas lainnya, yang pada akhirnya murid-murid prempuan itupun dinodai, bahkan ada yang sampai dihamili –kita memohon kepada Allah semoga menjaga anak-anak wanita kaum muslimin dari kejahatan para penjahat-, tidak heran kalau kemudian banyak dari para penjahat itu pada hari ini sangat keras permusuhannya terhadap siapa saja yang mengajak manusia untuk mengikuti ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang merupakan ajaran yang mengantarkan kepada kesucian jiwa dan ketenangan hidup. Namun bagi orang yang mau sadar dan mau kembali kepada bimbingan Nabinya ketika dia mengingat masa-masa lalunya yang kelam, yang penuh dengan kejahatan, diapun akan sedih dan menangis dan kemudian dia berpacu dan bersegera menuju keridhaan Robbnya, serta memotivasi dan mendorong anak-anak dan saudara-saudarinya untuk menjadi orang-orang yang shalih, yang mengikuti bimbingan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mengantarkan kepada pembersihan dan kesucian jiwa dari segala yang menodai dan mengotorinya.

Perlu diketahui bahwasanya bila anak-anak belajar kepada orang-orang yang bodoh maka tentu akan menyeret mereka kepada penyimpangan dan penyelewengan, sudah merupakan perkara yang diketahui bersama bahwa orang-orang bodoh tentu sangat mudah membuat kesimpulan terhadap suatu hukum, mereka sangat bergampang-gampangan dalam menentukan hukum terhadap suatu perkara, diantaranya mereka membolehkan pacaran, yang pada akhirnya anak-anak didiknya rusak, kemudian ada yang dinodai dan bahkan ada yang hamil di luar nikah, hal itu disebabkan karena mereka memang bodoh sehingga tidak memiliki rasa takut dalam berkata, berbuat dan bertingkah. Adapun orang-orang yang berilmu maka mereka sangat takut dan sangat berhati-hati jangan sampai terjatuh ke dalam perbuatan dosa, Allah Ta’ala berkata:

﴿إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ﴾ [فاطر: 28].

“Hanyalah yang takut kepada Allah adalah para ulama (orang-orang yang berilmu)”. (Fathir: 28).

Merupakan sesuatu yang sangat fatal dan salah besar bagi orang yang pernah menyampaikan kepada kami bahwa seseorang itu harus menutup mata dari kejelekan gurunya, karena orang-orang dahulu berbuat seperti itu sehingga bisa mendapatkan ilmu dari gurunya dan bisa sampai belajar kepadanya dalam waktu yang lama. Maka kita harus tegas dan kita katakan: Ilmu apa yang akan kita ambil dari seorang guru yang bodoh sedangkan kita telah ketahui bahwasanya dia itu bodoh?! Tidaklah kita akan dapati darinya melainkan hanya ilmu yang dibangun di atas pemahaman yang salah yang nantinya menyeret kepada kesengsaraan dan kenistaan. Hendaklah orang tua bersedih hati bila anak-anaknya diserahkan kepada orang-orang yang bodoh untuk mendidiknya, karena orang-orang bodoh itu akan menyeret kepada penghalalan segala cara untuk mencapai tujuan, ada dari mereka berdasarkan kebodohan mencuri atau korupsi dana pemerintah yang disalurkan untuk orang-orang yang tidak mampu, ada dari mereka membolehkan demontsari yang pada akhirnya timbul kekerasaan dan penghalalan darah kaum muslimin, ada dari mereka karena menganggap pemerintah tidak adil akhirnya memerintahkan murid-muridnya untuk demo hingga berujung kepada kudeta dan pembantaian, ada dari mereka mengajak para mahasiswa untuk beramai-ramai memboikot produk-produk asing, bahkan ada dari mereka membolehkan zina, homoseks, lesbian, free sex dan operasi kelamin, semua itu tidak lain karena sebab kebodohan.

BAB V
 KESEDIHAN ORANG TUA BILA ANAK-ANAKNYA MENJADI DURHAKA,
 JAHAT DAN SUKA BERBUAT DOSA

Orang tua hendaknya merasa bersedih hati kalau anak-anaknya suka berbuat dosa dan suka berbuat kejahatan, kalau orang tua membiarkan anak-anaknya di atas dosa dan kemaksiatan maka orang tua tersebut akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ فِى أَهْلِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ فِى بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ فِى مَالِ سَيِّدِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ».

“Setiap kalian adalah pemimpim dan akan dimintai pertanggung jawaban, seorang imam adalah pemimpin dan dia akan diminta pertanggung jawaban atas apa yang dia pimpin, seseorang adalah pemimpin atas istrinya dan akan dimintai pertanggung jawabannya, dan seorang wanita di rumah suaminya adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya, seorang pembantu pada harta majikannya adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban dari kepemimpinannya”. (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, At-Tirmidzi dari Ibnu Umar dan Al-Khathib dari Aisyah).

Orang tua yang mendengar, melihat dan menyaksikan anak-anaknya berbuat dosa namun membiarkannya karena perhitungan dunia, maka tentu akan tetap diminta pertanggung jawaban atasnya, Allah Ta’ala berkata:

﴿إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا﴾ [الإسراء : 36].

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (Isra’: 36).

BAB VI
 KESAMAAN ANTARA ORANG-ORANG YANG MEMUSUHI PENGIKUT NABI DI ZAMAN INI DENGAN KAUM MUSYRIKIN DAHULU
 KETIKA MEREKA MEMUSUHI NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

6.1 Menghalang-halangi Orang-orang yang Mau Mengikuti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Ada suatu kejadian yang sangat memilukan dengan adanya seseorang yang tidak memiliki perhatian kepada anak-anak saudara (keponakan-keponakan)nya, namun ketika ada dari keponakannya yang sadar dan memahami tentang pentingnya ilmu agama maka diapun bergegas mencari ilmu agama dengan berangkat ke pondok pesantren ketika pamannya mengetahui keberadaan anak tersebut langsung dia mencarinya serta mengutus orang-orang untuk mencarinya, bahkan terus dikejar dan diikuti jejak-jejaknya. Perbuatan seperti ini tidak ada bedanya dengan perbuatan Abu Lahab dan Abu Jahal –semoga Allah melaknat keduanya- ketika keduanya membenci keponakannya yaitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, keduanya berupaya keras untuk bisa menghentikan keponakannya dari seruan kepada agama yang terang benderang, karena keponakannya terus menerus di atas prinsipnya, kedua pamannya tersebut kemudian memutuskan untuk mencelakakan keponakannya sendiri –kita memohon kepada Allah dari kejahatan dan makar dari para penjahat-.

Dan perbuatan seperti itu juga tidak ada bedanya dengan perbuatan kaum musyrikin di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan sebagian shahabatnya untuk hijrah ke negri Habasyah maka kafir Quraisy mengutus beberapa tokoh-tokohnya untuk mengembalikan mereka ke Makkah, mereka mengikuti jejak-jejak perjalanan hijrahnya para shahabat, ketika para shahabat datang di Habasyah dan raja Habasyah yang dikenal dengan raja Najasyi –semoga Allah meridhainya- menerima, menjamu dan memuliakan mereka, tiba-tiba datanglah kaum musyrikin Quraisy meminta mereka untuk kembali ke Makkah, karena mereka tidak berhasil untuk mengembalikan para shahabat maka mereka mendatangi raja Najasyi memintanya untuk mengembalikan para shahabat Nabi ke Makkah, karena raja Najasyi mengetahui bahwa para shahabat Nabi yang hijrah ke negrinya adalah orang-orang yang berada di atas kebenaran maka beliau langsung menerima dan mengikuti ajaran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam serta beliau tidak tertipu dengan orang-orang kafir Quraisy yang merayu-rayunya, raja Najasyi tetap melindungi dan menaungi mereka di dalam istana kerajaan.

Begitu pula ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Abu Bakar Ash-Shiddiq –semoga Allah meridhainya- keluar dari kota Makkah untuk menyelamatkan agamanya, maka kafir Quraisy mengejarnya untuk menggagalkan rencana hijrah ke Madinah.

6.2 Mengusir Orang-orang yang Mengikuti Ajaran yang Di bawa Oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Ketika sebagian para shahabat hijrah ke negri Habasyah maka kafir Quraisy berupaya mendatangi untuk raja Najasyi dan membujuknya untuk mengusir para shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang hijrah di negrinya, namun mereka tidak berhasil. Ketika para shahabat hijrah ke Madinah kafir Quraisy mendatangi orang-orang Yahudi di Madinah supaya mengusir mereka, karena kaum Anshar memiliki kekuatan di tengah-tengah penduduk Madinah dan mereka mengikuti ajaran yang di bawa oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kaum Ansharpun membela kaum Muhajirin dan melindunginya sehingga rencana jahat kaum kafir Quraisy dan kaum musyrikin gagal.

Pada zaman ini orang-orang yang mengikuti ajaran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berpegang teguh dengannya terus pula dimusuhi, bila mereka lemah dan tidak ada yang mendukung atau membela mereka maka orang-orang yang membenci ajaran yang dibawa oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tersebut bersegera untuk mengusirnya, dan telah banyak kejadian.

Orang-orang yang membenci ajaran yang dibawa oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terus berupaya untuk mengusir para pengikut setianya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, berbagai macam cara mereka lakukan, berbagai macam upaya mereka kerahkan, sampai terkadang para wanita-wanita dijadikan sebagai umpan untuk memancing sehingga kemudian mencapai tujuan dan maksud mereka yang jahat.

BAB VII
 SEPUTAR PEMIKIRAN-PEMIKIRAN TERKINI

7.1 Sekolah atau Kuliah Sambil Belajar Ilmu Agama  ?!!

Banyak dari orang tua menginginkan anak-anaknya untuk bertahan di bangku sekolah, walaupun anak-anaknya tersebut sudah berada di jurang kerusakan baik jasmani dan rohaninya, sebagian dari anak-anak itu sudah tidak lagi mengindahkan aturan-aturan Islam, sebagiannya suka berbuat dosa berupa pacaran dan bahkan sampai ada yang hamil di luar nikah, namun karena tekanan dan dukungan penuh dari orang tuanya merekapun terus bertahan di atas keadaan tersebut, bila kemudian ada anak yang sadar dan memiliki keinginan tinggi dan cita-cita yang mulia yaitu untuk mempelajari ilmu agama dan berupaya untuk menjadi anak yang shalih orang tuanyapun mengatakan kepadanya: “Tidak mengapa kamu ikut belajar agama tapi jadikanlah itu sebagai sampingan, tujui cita-citamu untuk menjadi orang yang berpangkat seperti orang itu atau kalau kamu ingin  belajar agama maka jadilah seperti dokter Muhammad Faiq Sulaifi, dia kuliah sambil belajar agama sekarang dia sukses dan mendapat dua gelar, gelar ustadz dan dokter!!!”.

Atau kalaupun ada dari anak-anak mereka yang sudah terlanjur belajar ilmu agama di pondok pesantren dan ketika pulang merekapun berusaha untuk merusaknya dengan berbagai cara, diantaranya dinikahkan dengan anak sekolahan atau anak kuliahan, yang akibatnya anak tersebut menjadi korban dan terseret kepada penyimpangan serta penyelewengan, anak tersebut seakan-akan sebagai sopir yang bertugas mengantar sang permaisuri ke istana kampus. Dan yang lebih memalukan lagi kalau para korban itu kemudian berhasil diseret oleh orang-orang bodoh sehingga ikut berbicara tentang agama dan sekaligus bersekongkol dengan orang-orang bodoh dalam memusuhi orang-orang yang berada di atas jalan yang lurus.

Bila ada yang menjadikan ilmu agama sebagai sampingan kemudian dikatakan berhasil menjadi seorang ustadz maka belum kami dapati menjadi seorang ustadz yang benar melainkan hanya menjadi ustadz gadungan semacam pak dosen ustadz kiyai dokter Muhammad Faiq sarjana pendidikan kedokteran.

7.2 Belajar Ilmu Agama Bukan Suatu Keadilan

Telah kami dengarkan dari seorang guru agama yang hanya berpendidikan DII di STAIN menegaskan bahwa orang yang hanya belajar ilmu agama di pondok pesantren itu tidak adil, padahal di dalam Al-Qur’an dijelaskan:

﴿رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً﴾ [البقرة: 201].

“Ya Robb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat”. (Al-Baqarah: 201), ini penjelasan bahwasanya kita harus adil dalam kehidupan dunia dan kehidupan akhirat, kita tidak boleh condong kepada akhirat saja.

Tanggapan:

Guru tersebut telah membodohi dirinya sendiri, secara tidak dia sadari telah mempertontonkan kebodohan yang ada pada dirinya, yang tidak mampu berbuat adil. Kalau dia mengkalkulasi aktivitas kesehariannya maka tentu aktivitas dunianya lebih banyak dan mendominasi daripada aktivitas akhiratnya, dia bekerja tentu membutuhkan waktu berjam-jam, sementara urusan agamanya semisal shalat maka paling-paling hanya membutuhkan waktu beberapa menit, begitu pula ketika tidur memerlukan waktu kurang lebih 6 (enam) jam namun untuk shalat tahajjud mungkin tidak dilakukan sama sekali atau kalau dilakukan paling-paling hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja, begitu pula shalat subuhnya mungkin hanya beberapa menit, maka apakah itu termasuk keadilan? Bukankah aktivitas dunianya lebih banyak dari pada aktivitas akhiratnya? Padahal Allah Ta’ala menciptakan jin dan manusia supaya beribadah kepada-Nya dan mempersiapkan bekal untuk menuju ke pada-Nya dan negri akhirat yang kekal abadi, Allah Ta’ala berkata:

﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴾ [الذاريات: 56].

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah (kepada-Ku)”. (Adz-Dzariyat: 56), da Allah Ta’ala berkata:

﴿وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ﴾ [القصص: 77].

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (Al-Qashshash: 77)

Adapun ayat yang telah disebutkan oleh guru yang bodoh tadi maka sungguh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat banyak membacanya ketika berdoa, dari Anas bin Malik –semoga Allah meridhainya- beliau berkata: Paling banyaknya doa yang dibaca oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah:

«رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ».

“Ya Robb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Adapun kebaikan dunia yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah kebaikan yang mencakup segala kebaikan. Adapun yang berkaitan dengan sekolah di tempat-tempat yang campur baur antara pria dan wanita, nyontek ketika ujian dan menyuap supaya tercapainya cita-cita maka itu bukan kebaikan dari dunia, akan tetapi itu semua adalah kejelekan yang akan mengantarkan kepada penderitaan dan kesengsaraan di akhirat. Adapun belajar ilmu agama maka dia murni sebagai kebaikan dunia dan akhirat, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ».

“Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah dengannya kebaikan maka difahamkan baginya agamanya”. (HR. Al-Bukhari, Muslim dari Mu’awiyyah dan At-Tirmidzi dari Ibnu Umar).

Dari pemaparan tersebut diketahui bahwa kebaikan itu diperolah hanya dengan cara mempelajari ilmu agama karena bila seseorang sudah faham terhadap ilmu agama maka diapun akan menjadi orang yang selalu berbuat adil, ketika dia memberi hukum maka selalu di atas keadilan. Dengan ilmu yang dia miliki maka dia bisa memahami hukum atas segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan dunia maupun urusan akhirat, dia memahami berbagai permasalahan baik berupa yang nyata ataupun berbentuk permisalan-permisalan, Allah Ta’ala berkata:

﴿وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ﴾ [العنكبوت: 43].

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu”. (Al-‘Ankabut: 43).

7.2 Belajar Ilmu Agama Hanya Mengantarkan kepada Penderitaan dan Kemiskinan.

Bila seseorang benar-benar beriman kepada Allah Ta’ala dan mengakui bahwa Allah-lah yang satu-satunya pemberi rezki serta hanya Dia-lah satu-satunya yang mengatur alam semesta beserta segala isinya maka tentu dia tidak akan memiliki anggapan dan keyakinan rusak sebagaimana yang telah tersebar “belajar ilmu agama itu hanya mengantarkan kepada penderitaan dan kesengsaraan” karena Allah Ta’ala telah berkata:

﴿وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ﴾ [الذاريات: 22].

“Dan di langit telah (ditentukan) rezki kalian dan telah (ditentukan) pula apa-apa yang dijanjikan kepada kalian”. (Adz-Dzariyat: 22). Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ».

“Dan diperintahkan tentang 4 (empat) perkara; ditulis rezkinya, ajalnya dan amalnya serta kesengsaraan dan kebahagiaannya”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud).

Bukan berarti seseorang harus diam saja (tidak menjalankan sebab) dari mencari rezki akan tetapi seseorang diperintah untuk menjalankan sebab dengan berusaha mencari rezki tentunya dengan cara yang halal dan bukan dengan menghalalkan segala cara.

Realita telah menjadi saksi atas orang-orang yang melarang anak-anaknya untuk ke pondok pesantren karena khawatir anak-anaknya akan menjadi sengsara dan menderita, disertai dengan banyak perhitungan diantaranya karena di pondok pesantren yang dituju tidak ada ijazah dan nantinya tidak mendapatkan gaji bulanan. Tidak hanya itu bahkan mereka berjuang banting tulang agar anak-anaknya bisa seperti apa yang mereka angan-angankan yaitu menjadi orang-orang yang berpangkat dan berkedudukan, ternyata anak-anak mereka tersebut mengikuti apa yang telah mereka angan-angankan, mengikuti seleksi supaya menjadi pegawai negri atau aparatur negara ternyata tidak diterima yang pada akhirnya mereka kembali sebagaimana orang tua mereka, bahkan lebih jelek lagi, yang dulunya mereka bisa shalat berjama’ah dan terlihat suka berbuat kebaikan karena sebab gagal dan tidak tercapai cita-cita merekapun menjadi manusia yang sesat.

Kalaupun ada yang dianggap berhasil, bisa menjadi pegawai negri atau menjadi aparat negara karena sebab orang tua dan sebab orang-orang yang mendudukungnya berupaya dengan mengusahakan hal tersebut dengan menempuh cara-cara harom berupa menyuap sehingga anak mereka diterima atau lolos seleksi, bila seperti ini keadaannya mereka maka sungguh mereka akan menderita dunia dan akhiratnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«لَعَنَ اللَّهُ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ».

“Laknat Allah atas orang yang menyuap dan yang disuap”. (HR. Ahmad dari Abu Hurairah, Ibnu Hibban dari Abdullah bin Amr dan Ath-Thahawi dari Tsauban). Orang yang berakal sehat tentu akan mereka sedih dan menangis kalau Allah Ta’ala melaknatnya sebagaimana Allah Ta’ala telah melaknat syaithan.

Bila mereka berhasil menjadi pegawai negri atau aparat negara dengan cara terlaknat itu, merekapun kemudian lupa dengan orang tua atau orang-orang yang mendukung mereka yang telah berkorban untuk mereka, akhirnya para orang tua dan orang-orang yang mendukung mereka mendapatkan dua kerugian; di dunia mereka tidak mendapatkan secuil dana dari gaji anak-anak mereka, sampai akhirnya mereka terus menerus banting tulang bekerja dan di akhirat anak-anak merekapun tidak bisa memberikan manfaat sedikitpun untuk mereka, Allah Ta’ala berkata:

﴿يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (34) وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (35) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ (36) لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ (37)﴾ [عبس: 34-37].

“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang sangat menyibukkannya”. (‘Abasa: 34-37).

BAB VIII
 PENUTUP

Orang yang mengikuti ajaran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mengamalkannya serta mengajak manusia kepada ajaran tersebut maka pasti akan dibenci dan dimusuhi oleh orang-orang yang menyelisihinya, Waraqah –semoga Allah meridhainya- berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

«لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمَا جِئْتَ بِهِ إِلاَّ عُودِىَ».

“Tidak akan datang seseorangpun dengan ajaran seperti yang kamu datang dengannya melainkan akan dimusuhi”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah).

Allah Ta’ala berkata:

﴿وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ﴾ [الفرقان: 31].

“Dan demikian pula Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa”. (Al-Furqan: 31).

ü Orang-orang yang menyelisihi ajaran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mereka menjadikan dunia seperti jannah (surga), sedangkan orang-orang yang mengikuti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hidup di dunia bagaikan hidup di dalam penjara, dari Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya- bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ».

“Dunia adalah penjaranya orang yang beriman dan dia adalah jannah-nya orang yang kafir”. (HR. Muslim, Ibnu Majah dan At-Tirmidzi).

Orang-orang yang mengikuti ajaran Nabi laksana orang-orang yang sedang safar (menempuh perjalanan) dan akan kembali ke negri tujuan mereka yang kekal abadi, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada Ibnu ‘Umar –semoga Allah meridhainya-:

«كُنْ فِى الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ».

“Jadilah kamu di dunia ini seakan-akan orang yang asing atau orang yang menempuh perjalan”. (HR. Al-Bukhari), adapun orang-orang yang menyelisihi ajaran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maka mereka menjadikan kehidupan dunia sebagai tujuan utama, mereka seakan-akan tidak akan mati dan binasa padahal Allah Ta’ala telah berkata:

﴿كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ﴾ [آل عمران: 185].

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam jannah, maka sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (Ali Imran: 185).

Penulis: Abu Ibrohim (Admin kebenaranhanya1 (thetruthonly1))

Ingatlah bahwa tiada yang berhak disembah selain Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s