Tentang apa yang ada pada ‘Ubaid Al-Jaabiry dari perkara jahiliyyah dan kedustaan yang jelas

Dan dari kedustaan-kedustaan ‘Ubaid Al-Jaabiry, kekejiaan dan kebodohannya adalah apa yang tersebar darinya melalui via telephon pada hari ahad tanggal 4 dzul qo’dah 1432 h . Sebagaimana kebiasaannya ia memenuhi (pembicaraan tersebut) dengan cacian , makian dan selainnya dari omong kosong dan karu karuan yang menggambarkan tentang amarahnya dari penjelasan-penjelasan Ahlissunnah tentang kehizbiyannya , terdiktenya (ikut-ikutan), kebodohan serta kesesatannya.

Iklan

 

Tentang apa yang ada pada ‘Ubaid Al-Jaabiry dari perkara jahiliyyah dan kedustaan yang jelas

 

بسم الله الرحمن الرحيم

 

الحمد لله و أشهد أن لا إله إلاالله, و أن محمدا عبده ورسوله , صلى الله عليه و على اله و صحبه و من تبع هداه, أما بعد

 

Ditulis oleh Imam Dammaj – Yahya bin Ali al-Hajuri -semoga Alloh menjaganya dan mengokohkan pembelaannya terhadap Sunnah- pada hari Selasa 6 Dzulqo’dah 1432H

Diterjemahkan: Abu Ubayd Fadly al-Bughisy

 

Dan dari kedustaan-kedustaan ‘Ubaid Al-Jaabiry, kekejiaan dan kebodohannya adalah apa yang tersebar darinya melalui via telephon pada hari ahad tanggal 4 dzul qo’dah 1432 h . Sebagaimana kebiasaannya ia memenuhi (pembicaraan tersebut) dengan cacian , makian dan selainnya dari omong kosong dan karu karuan yang menggambarkan tentang amarahnya dari penjelasan-penjelasan Ahlissunnah tentang kehizbiyannya , terdiktenya (ikut-ikutan), kebodohan serta kesesatannya.

 

Dan maksud dalam tulisan yang disegerakan ini adalah sebagai penjelasan tentang empat kedustaan ‘Ubaid Al-Jaabiry yang banyak jumlahnya yang ia ada-adakan – dan selainnya dari awal fitnahnya sampai sekarang – dari para petua dan pembisiknya yang terlibat dalam hizbiyyah Al-Mar’iy.

 

Diantara (kedustaan) yang disebutkan oleh ‘Ubaid Al-Jaabiry (( sungguh saya telah menyebutkan pada sebagian tempat bahwa pertumbuhannya bukanlah pertumbuhan Ilmiyah , pertumbuhan Al-Hajury pertumbuhan pasar , dikarenakan dahulu ia bekerja di Kerajaan Arab Saudi , sebagai buruh kasar

 

– suatu riwayat menyatakan : bahwa ia dahulu bekerja pada bengkel las

 

– dan riwayat yang lain menyatakan : ia dahulu bekerja pada toko murahan, serba 2 real atau 5 real))

 

Maka inilah dua kedustaan, kemudian ia langsung mendatangkan yang ke-tiga dengan mengatakan (( akan tetapi ketika terjadi perang teluk yang ke-dua , pemerintah negeri Yaman memanggil Rakyatnya untuk pulang (dari Kerajaan Arab Saudi), ia pulang bersama siapa yang pulang , maka iapun pergi ke markas Dammaj.))

 

Saya katakan (Syaikh Yahya) (( sungguh siapa saja yang menyaksikan mengetahui bahwa berkisar tahun 1405 h saya datang untuk menimba ilmu di Daarul-Hadist di Dammaj pada Asy-Syaihk Muqbil bin Hadi Al-Waadi’iy –rohimahulloh- sedangkan orang-orang, mengetahui tragedi tersebut terjadi pada tahun 1411 H, setelah saya berangkat menuntut ilmu, dan pada saat tersebut saya -dengan karunia Alloh- telah menyelesaikan hapalan Al-Qur-an Al-Kariim , Riyaadhush-shoolihiin, dan –apa yang Alloh mudahkan- dari menghapalkan beberapa matan-matan yang ringkas, dan pada saat itu (selain) saya menuntut ilmu, saya(juga) mengajar saudara-saudaraku para penuntut ilmu pada beberapa pelajaran khusus walillahilhamdu wal minnah.

 

Dan kedustaan yang ke-empat

 

Perkataannya (( dan Asy-Syaihk Muqbil –rohimahulloh- telah mengusirnya , muncul darinya beberapa tingkah/ kelakuaan yang menjadikan Asy-syaihk mengusirnya, kemudian saudara kita Asy-syaihk Abdurrahman bin Umar bin Mar’iy memberikan syafaat agar ia tetap tinggal.))

 

Dan ini, demi Alloh kedustaan yang jelas, saya tidak pernah bekerja di toko serba dua real ataupun lima real, tidak juga di bengkel las , dan Asy-Syaihk tidak pernah mengusirku sekalipun.

 

Bahkan dahulu beliau mencintaiku lagi menghargaiku, dan saya mencintai lagi memuliakannya dan dahulu saya sebagai imam Sholat, saya mengimami mereka pada bulan Romadhon ataupun selainnya.

 

Dan Asy-syaihk menjadikanku sebagai pengganti-nya di saat ia ghoib dan sakit , apabila saya mengajar saat ia sakit , kadang kala ia menghampiri orang-orang yang duduk di belakang dan memajukan mereka dan berkata : Ad-dars Ad-dars( perhatikanlah pelajaran) dan ia pulang kerumahnya, dan kadang-kadang ia duduk di halaqoh dan mendengar. Dan ini semua dari tawadu’ nya beliau -rohimahulloh- , dan siapa saja yang hadir(menyaksikannya) mengetahui hal ini, dan sering kali beliau mengalihkan para penanya kepadaku, maka saya pun menjawabnya dalam bentuk tulisan, dan beliau memperhatikannya kemudian memberikan cap/stempel dan memujinya.

 

Dan kami telah terbiasa berdiskusi pada pelajaran-pelajaran dalam sebagian permasalahan , kadangkala beliau berlaku lapang dan menerimanya, kadang ia ucapkan : diamlah wahai fulan, atau duduklah wahai fulan, dan melanjutkan pelajaran, dan semua hal tersebut kami anggap sebagai pelajaran dan didikan dari seorang pengajar yang mulia kepada para muridnya, dari yang mencintai dan mendidik mereka.

 

Dan sebagai tambahan atas perkara tersebut : lihatlah bukti dari kecintaan yang ada antara saya dan beliau pada muqoddimah (kata pengantar) beliau untuk tulisan-tulisanku seperti muqoddimah kitab Ahkaamul-Jum’ah , yang beliau berikan kata pengantar pada saat sakitnya(sebelum meninggalnya) –roimahulloh- , dan diantara yang beliau sebutkan adalah : (dan ketika sampai padaku tulisan saudara kita Yahya , maka karena cintaku padanya, saya membaca tulisan tersebut sedangkan saya bersandar dengan ubun-ubunku , disebabkan beberapa perkara yang Alloh ketahui……).

 

Saya sebutkan ini dan saya demi Alloh saya tidak senang untuk menyebutnya, akan tetapi mengharuskan kami (untuk menyebutnya) kedengkiaan dan kejahatan ‘Ubaid Al-Jaabiry dan guru-gurunya , orang-orang yang membisikkannya kedustaan-kedustaan ini.

 

Dan saya katakan, dari perkara yang penting untuk saya mengingatkan orang ini (‘Ubaid) dan selainnya dari para pendusta dengan beberapa perkara :

 

Pertama:

 

– Sesungguhnya kedustaan adalah (salah satu) dosa besar dari dosa-dosa besar, Alloh Azza wa Jalla berfirman : إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآَيَاتِ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

 

Artinya : sesungguhnya yang berbuat dusta adalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Alloh dan mereka itulah para pendusta (An-Nahl 105)

 

– Dan kedustaan termasuk penghalang hidayah, إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ

 

Artinya : sesungguhnya Alloh tidak akan memberikan hidayah kepada siapa yang berlebih-lebihan lagi pendusta (Az-Zumar 28 )

 

– Kedustaan akan mengantarkan pelakunya sampai ia ditetapkan disisi Alloh sebagai pendusta , sebagaimana dalam Ashohiihain (Al-Buhkory dan Muslim) dari Abdulloh bin Mas’ud –rodhiyallohu ‘anhu- dari Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam- beliau bersabda :

 

عليكم بالصدق , فإن الصدق يهدي إلى البر و إن البر يهدي الى الجنة و إن الرجل ليصدق حتى يكون صديقا , و إن الكذب يهدي إلى الفجور و إن الفجور يهدي إلى النار و إن الرجل ليكذب حتى يكتب عند الله كذابا

 

Berusahalah kalian untuk jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan kepada kebajikan , dan kebajikan akan mengantarkan kepada surga, dan sesungguhnya seseorang akan (terus) berlaku jujur hingga ia (akan) menjadi orang yang jujur, dan sesungguhya kedustaan itu akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan kepada neraka , dan sesungunhya seseorang akan(terus) berdusta hingga ia dicatat disisi Alloh sebagai pendusta.

 

– Kedustaan adalah ketidak tenangan, sebagaimana telah stabit dari hadist Al-Hasan bin ‘Ali –rodhiyallohu ‘anhuma- beliau berkata: saya hafal dari Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- : tinggalkanlah perkara yang meragukan kepada perkara yang tidak meragukan , karena sesungguhnya kejujuran adalah ketenangan dan kedustaan adalah ketidak tenangan.

 

– Kedustaan adalah tercela , tercela dalam jahiliyyah , dalam Islam dan seluruh agama, berkata Abu Sufyan –rodhiyallohu ‘anhu- sebelum ia masuk islam : demi Alloh seandainya bukan rasa malu pada hari itu , untuk kawan-kawanku berkesan padaku dengan kedustaan, maka saya akan berdusta ketika (Hiraql) bertanya padaku tentangnya(Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam- ) akan tetapi saya malu untuk mereka berkesan padaku dengan kedustaan .

 

Ia menghindar dari dusta sedangkan ia saat itu musyrik

 

Dan sebagian orang di zaman ini tidak berusaha untuk jujur dan juga tidak menghindari kedustaan, dalam Shohiih Al-buhkory dari hadist Samuroh bin Jundub –rodhiyallohu ‘anhu-, pada malam isro’mi’roj maka Jibriil berkata kepada Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam- adapun (orang) yang engkau lihat rahangnya dibelah , adalah pendusta , ia menyebutkan suatu kedustaan ,kemudian dibawa(tersebar) darinya (kedustaan tsb) sampai berbagai penjuru, maka ia akan diperlakukan (siksa) seperti itu sampai hari kiamat.

 

Dan Alloh Azza wa Jalla berfirman dalam kitabnya yang Agung :

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

 

Artinya: wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Alloh dan jadilah bersama orang-orang yang jujur (At-Taubah 119)

 

Dan Mahasuci Alloh berfirman:

 

فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ

 

Artinya: jikalau mereka jujur kepada Alloh maka yang demikian itu lebih baik bagi mereka (Muhammad 21)

 

Dan alangkah indah apa yang disebutkan oleh seorang penyair

 

الصِّدْقُ حُلْوٌ وَهُوَ الْمُرُّ … وَالصِّدْقُ لَا يَتْرُكُهُ الْحُرُّ

 

جَوْهَرَةُ الصِّدْقِ لَهَا زِينَةٌ … يَحْسُدُهَا الْيَاقُوتُ وَالدُّرُّ

 

Jujur itu manis sedangkan ia pahit, dan kejujuran tidak akan ditinggalkan seorang yang merdeka,

 

Kemulian jujur memiliki keindahan yang dicemburui oleh berlian dan mutiara

 

 

 

Adapun dusta maka ia adalah kehinaan bagi pelakunya di dunia dan ahkirat.

Dan perkara ini bukanlah pintu pertolongan , melainkan pintu kekalahan/kegagalan, karena dusta adalah dosa besar dari dosa-dosa besar,

 

Kaum muslimin telah bersepakat demikian juga seluruh agama atas haramnya dusta

 

dan Alloh berfirman dalam kitabnya yang mulia :

 

وَالَّذِينَ كَسَبُوا السَّيِّئَاتِ جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَتَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ

 

Artinya: dan orang-orang yang berbuat kejelekan balasannya adalah kejelekan yang setimpal dan mereka terselubungi dengan kehinaan (Yunus 27)

 

Dan kejelekan yang paling fatal adalah dusta, kerena dusta adalah penyebab kehinaan dan kerendahan, maka wajib untuk taubat kepada Alloh Azza wa Jalla dari seluruh dosa, dan diantara yang paling besar adalah dusta.

 

Dan ini ucapan Ibnul Qoyyim –rohimahulloh- dalam kitabnya Al-Fawaaid, pantas untuk disebutkan disini, sebagai nasihat bagi siapa yang Alloh hendaki baginya keselamatan dari dosa besar ini.

 

Berkata Ibnul Qoyyim –rohimahulloh- dalam “Al-Fawaaid” hlm 156:

 

إياك والكذب فانه يفسد عليك تصور المعلومات على ما هي عليه ويفسد

 

عليك تصورها وتعليمها للناس فان الكاذب يصور المعدوم موجودا والموجود معدوما والحق باطلا والباطل حقا والخير شرا والشر خيرا فيفسد عليه تصوره وعلمه عقوبة له ثم يصور ذلك في نفس المخاطب المغتر به الراكن إليه فيفسد عليه تصوره وعلمه ونفس الكاذب معرضه عن الحقيقة الموجودة نزاعة إلى العدم مؤثرة للباطل وإذا فسدت عليه قوة تصوره وعلمه التي هي مبدأ كل فعل إرادي فسدت عليه تلك الأفعال وسرى حكم الكذب إليها فصار صدورها عنه كصدور الكذب عن اللسان فلا ينتفع بلسانه ولا بأعماله ولهذا كان الكذب أساس الفجور كما قال النبي إن الكذب يهدي إلى الفجور وإن الفجور يهدي إلى النار.انتهى المراد

 

Berhati-hatilah dari dusta ! karena dusta merusak gambaran perkara yang diketahui hakikatnya, merusaki gambarannya bagimu dan mengajarkannya kepada manusia, karena pendusta itu menggambarkan suatu yang tidak ada (menjadi) ada, dan yang ada (menjadi) tidak ada, yang haq batil , yang batil haq , yang baik buruk , dan yang buruk baik, maka rusaklah gambaran(pengetahuaan) dan ilmunya sebagai ganjaran baginya ,

 

Kemudian perkara (yang salah) tersebut tergambar pada diri lawan bicaranya yang terperdaya lagi percaya padanya sehingga rusak baginya gambaran pengetahuaan dan ilmunya. Sedangkan jiwa pendusta berpaling dari kenyataan yang ada, condong kepada yang tidak ada , terpengaruh dengan kebatilan. Apabila telah rusak kekuatan gambaran dan ilmunya yang dimana perkara itu adalah awalmula setiap perbuatan(fi’l irodiy), maka akan rusak pula baginya perbuatan-perbuatan tersebut, dan beredar hukum dusta kepada(perbuatan-perbuatan​)nya, maka munculnya perbuatan tsb darinya seperti munculnya kedustaan dari lisan, maka tidak bermanfaat baginya lisan dan perbuatan-perbuatannya. Oleh karena itu dusta adalah asas dari segala kejahatan, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam- : sesungguhnya kedustaan mengantarkan kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan kepada neraka. Selesai yang diinginkan.

Hal kedua dari yang harus di jelaskan , peringatan bagi orang ini (‘Ubaid) dan selainnya:

 

Bahwa sesungguhnya tidak boleh bersandar terhadap riwayat para pendusta, dan barang siapa yang sengaja menukilkan riwayat-riwayat mereka, maka juga akan menjadi pendusta, dan asal (pokok)hal ini dalil yang banyak , diantaranya:

 

– Apa yang di keluarkan oleh Al-imam Muslim –rohimahulloh- dalam Muqoddimah kitab shohihnya secara mursal dan muttashil, dari Abu Huroiroh –rodhiyaallohu ‘anhu- sesungguhnya Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda : ( cukup bagi seseorang kedustaan untuk ia menceritakan setiap apa yang ia dengarkan)

 

– Berkata –rohimahulloh- menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya mengabarkan kami Husyaim dari Sulaiman At-Taimy dari Abu ‘Ustman An-nahdy berkata, ‘umar bin Khottob –rodhiyallohu ‘anhu- berkata ( cukup bagi seseorang dari kedustaan untuk ia menceritakan setiap yang ia dengarkan)

 

– Dan menceritakan kepadaku Abu Thohir Ahmad bin ‘Amr bin ‘Abdulloh bin ‘umar bin Sarh berkata mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb ia berkata, berkata kepadaku Malik ( ketahuilah bahwa tidaklah selamat orang yang menceritakan semua yang ia dengar dan tidak akan menjadi imam selama-lamanya sedangkan ia menceritakan semua yang ia dengar)

 

– Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mutsanna menceritakan kepada kami ‘Abdurrohman menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Ishaq dari Abu Al-Ahwash dari ‘Abdulloh(ibnu Mas’ud) –rodhiyallohu ‘anhu- beliau berkata : (cukup bagi seseorang dari kedustaan untuk menceritakan setiap yang ia dengarkan)

 

– Dan mengabarkan kepada kami Yahya bin Yahya mengabarkan kami ‘Umar bin ‘Ali bin Muqoddam dari Sufyan bin Husain ia berkata iyas bin Mu’awiyah bertanya kepadaku dan berkata ( sesengguhnya saya melihatmu (sangat mencintai dan melazimi)* ilmu Al-Qur-an , maka bacakanlah saya satu surat dan tafsirkanlah sampai saya melihat apa yang telah engkau ilmui, ia berkata , sayapun melakukannya, kemudian ia berkata padaku : Hafallah dariku apa yang saya katakan padamu : berhati-hatilah engkau dari syana’ah (keburukan) di dalam hadist! Karena sangat sedikit yang membawa perkara itu kecuali akan hina pada dirinya sendiri, dan dusta dalam hadistnya.**

 

– Dan berkata –rohimahulloh- menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya bin ‘Abdulloh bin Harmalah bin ‘Imron At-Tujiiby ia berkata mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb mengabarkan kepadaku Abu Syuraih bahwa ia mendengar Syurohiil bin Yazid berkata mengabarkan kepadaku Muslim bin Yasar bahwa ia mendengar Abu Hurairoh berkata: Rosululloh bersabda –shollallohu ‘alaihi wa sallam-

 

يَكُونُ فِى آخِرِ الزَّمَانِ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ يَأْتُونَكُمْ مِنَ الأَحَادِيثِ بِمَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ وَلاَ آبَاؤُكُمْ فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ لاَ يُضِلُّونَكُمْ وَلاَ يَفْتِنُونَكُمْ

 

akan ada pada ahir zaman Dajjalun para pendusta, mereka mendatangkan kepada kalian hadits-hadits(cerita) yang kalian tidak pernah mendengarkannya demikian juga orang-orang tua kalian, maka berhati-hatilah kalian dan hendaknya mereka berhati-hati , janganlah sampai mereka menyesatkan dan menjerumuskan kalian dalam fitnah.

 

 

 

Maka dengan ini diketahui bahwa riwayat dari para pendusta adalah jalan kesesatan dan fitnah.

 

Dan inilah yang diperoleh ‘Ubaid Al-Jaabiry dan selainnya dari orang-orang yang mengambil riwayat-riwayat yang dusta ini (yaitu kedustaan yg telah lalu) dari para pendusta, dan mereka masih terus menerus menyampaikan kepada mereka kedustaan demi kedustaan sampai mereka tiba pada kesesatan ini , kedustaan , fitnah dalam da’wah atas mereka dan selain mereka, dan kenyataan keadaan mereka adalah sebaik-baik bukti.

 

Diketahui juga bahwa barang siapa yang sengaja meriwayatkan dari para pendusta dan menyebarkan/melariskan kedustaan mereka –apalagi telah jelas baginya kedustaan mereka- sedangkan ia masih terus menukil dari mereka maka sesungguhnya ia juga pendusta seperti mereka , diikutkan dalam hukum.

 

*lihat syarh Muslim karya An-Nawawi –rohimahulloh-(pent)

 

** maksudnya berhati-hatilah untuk menceritakan hadist-hadist yang mungkar yang dengannya akan diburukkan para pelakunya dan diingkari serta terpuruk keadaannya, maka ia akan didustakan atau diragukan riwayatnya, maka jatuhlah martabatnya dan dihinakan. Lihat syarh Muslim(-pent)

 

Berkata Al-Khotib –rohimahulloh- (wajib bagi seorang Muhaddist untuk tidak meriwayatkan sesuatu dari berita-berita yang di rekayasa dan hadist-hadist yang batil. Dan barang siapa yang melakukan hal tersebut maka ia membawa dosa yang nyata dan tergolong dalam katagori para pendusta). Selesai dari Syarh Alfiah As-Suyuthy (jilid 1 hal 304)

 

Berkata Al-Imam Ibnu AL-Jauzy –rohimahulloh- :

 

ولقد رد الله كيد هؤلاء الوضاعين والكذابين بأخبار أخيار فضحوهم وكشفوا قبايحهم وما كذب أحد قط إلا وافتضح، ويكفى الكاذب أن القلوب تأبى قبول قوله، فإن الباطل مظلم وعلى الحق نور وهذا في العاجل، وأما في الآخرة فخسرانهم فيها متحقق.

 

sungguh Alloh telah membantah tipu muslihat mereka Al-Wadho’iin (para pemalsu hadist) dan para pendusta dengan pengabaran dari orang-orang yang baik , mereka mungungkap dan membongkar kejelekan-kejelekan mereka. Dan tidaklah sesorang berdusta kecuali akan terkenal (dengan kedustaan). Dan cukup bagi pendusta bahwa Qulub(hati) enggan untuk menerima ucapannya. Dikarenakan kebatilan adalah kegelapan dan diatas kebenaran ada cahaya, dan ini di dunia adapun di ahirat maka kerugiaan mereka pasti. Seselai dari muqoddimah kitab beliau Al-Maudhuaat (jilid 1 hal 38)

 

Perhatikanlah dengan baik apa yang di sebutkan para Aimmatul-hadits dalam menolak hadits dan ucapan-ucapan , serta rusaknya ‘adalahnya(keadilan) orang yang berdusta dalam cerita manusia, dan tidak diterimanya riwayat dan persaksiannya, dan ada khilaf(perselisihan) dalam diterima dan ditolaknya (persaksian dan riwayat) orang tersebut apabila telah bertaubat dari dusta.

Setelah saya menyebutkan padamu wahai para pembaca poin-poin yang penting ini , memohon kepada Alloh Azza wa Jalla taufiq bagi kami dan engkau, maka dari perkara yang penting untuk saya sebutkan padamu, poin yang lain yaitu tentang keutamaan usaha yang bersih dan pekerjaan yang halal baik itu pekerjaan pada bengkel mobil, atau perdagangan, atau kerajinan atau pertukangan kayu atau perbaikan bangunan (pertukangan)atau selainnya dari usaha yang bersih dan mencari rezki yang halal, dan meremehkan perkara-perkara tsb –sebagaimana yang engkau lihat dari ucapannya ‘Ubaid- adalah termasuk dari tasyabbuh dengan perkara Jahiliyyah , dan meremehkan apa yang Alloh Azza wa Jalla anugrahkan dengannya para Ummat baik dari kalangan para NAbi dan Rosulnya, hamba-hamba yang beriman baik dari kalangan sahabat dan siapa saja yang datang setelah mereka dari kalangan Ahli Hadits –rohimahumulloh-

 

Saya akan menyebutkan hal tersebut dengan ringkas, dan pembahasan ini adalah pembahasan yang luas, dan kami telah mendatangkan sebagian dari dalil-dalilnya pada risalah(artikel) yang berjudul “Nashihatun littujjar bil bu’di ‘an nasyril-adhroor” dan yang lain “Syar’iyyah tholabul Halaal wa Bayaan hukmi hasyisyah al-fujuur wa Adh-Dholaal” dan dari dalil-dalilnya:

 

– Apa yang dikeluarkan oleh Al-Imam At-Tirmidzy dalam Jami’ dengan nomor 2345 dengan sanad yang shohih sampai kepada Anas bin Malik –rodhiyallohu ‘anhu- beliau berkata :

 

كان أخوان على عهد النبي صلى الله عليه و سلم فكان أحدهما يأتي النبي صلى الله عليه و سلم والآخر يحترف فشكى المحترف أخاه إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال لعلك ترزق به

 

dahulu pada zaman Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- ada dua orang bersaudara , salah satu dari mereka mendatangi Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- dan yang satu bekerja, maka yang bekerja mengadukan saudaranya kepada Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- maka Nabi bersabda : Semoga engkau mendapatkan rezki karenanya.

 

Berkata An-Nawawi –rohimahulloh- dalam Riyadhush-sholihin

 

قوله : (( يحترِف )) : يكتسب ويتسبب

 

Yaitu : berusaha dan melakukan sebab (rezki)

 

Aku katakan : wahai ‘Ubaid apakah kamu mampu untuk menghinakan sahabat ini –rodhiyallohu ‘anhu- yang ia dahulu bekerja !? dan ia adalah seorang pekerja , bahkan apakah kamu mampu untuk menghinakan Abu Bakr Ash-Shiddiq –rodhiyallohu ‘anhu- yang telah disepakati bahwa ia adalah sebaik-baik umat ini, setelah Nabi , ataukah kamu mampu untuk menghinakan Nabi-nabi Alloh –‘Alaihimush-sholatu was-salam- yang mana mereka dahulu makan dari hasil kerja mereka dan mereka adalah para pekerja ?!!!

 

Berkata Al-imam Al-Bukhory dalam kitab Al-Buyuu’ dari Shohih-nya:

 

باب كسب الرجل وعمله بيده

 

Bab :usaha seseorang dan bekerja dengan tangannya

 

حدثنا إسماعيل بن عبد الله قال حدثنب ابن وهب عن يونس عن ابن شهاب قال حدثني عروة بن الزبير

 

: أن عائشة رضي الله عنها قالت لما استخلف أبو بكر الصديق قال لقد علم قومي أن حرفتي لم تكن تعجز عن مؤونة أهلي وشغلت بأمر المسلمين فسيأكل آل أبي بكر من هذا المال ويحترف للمسلمين فيه

 

Bahwa Aisyah –rodhiyallohu ‘anha- berkata : ketika Abu Bakr Ash-Shiddiq menjadi Kholifah ia berkata : sungguh kaumku telah mengetahui bahwa pekerjaannku(usahaku) mencukupi kehidupan keluargaku , dan saya di sibukkan urusan kaum muslimin, maka keluarga Abu Bakr akan memakan dari harta ini ( dari baitul-mal ) kemudian ia (Abu Bakr )akan bekerja untuk kaum muslimin dalam harta tersebut.

 

حدثني محمد حدثنا عبد الله بن يزيد حدثنا سعيد قال حدثني أبو الأسود عن عروة قال قالت عائشة رضي الله عنها :كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم عمال أنفسهم وكان يكون لهم أرواح فقيل لهم( لو اغتسلتم ) رواه همام عن هشام عن أبيه عن عائشة

 

Aisyah berkata : dahulu para sahabat Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam- adalah para pekerja , dan mereka berbau(disebabkan pekerjaan) maka dikatakan kepada mereka : seandainya kalian mandi.

 

حدثنا إبراهيم بن موسى أخبرنا عيسى عن ثور عن خالد بن معدان عن المقدام رضي الله عنه

 

: عن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ( ما أكل أحد طعاما قط خيرا من أن يأكل من عمل يده وإن نبي الله داود عليه السلام كان يأكل من عمل يده )

 

Dari Al-Miqdam –rodhiyallohu ‘anhu- dari Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallm- bersabda : Tidaklah seseorang memakan suatu makanan lebih baik dari memakan hasil kerjanya ,dan sesungguhnya Nabi Dawud –‘alaihissalam- dahulu makan dari hasil kerjanya.

 

حدثنا يحيى بن موسى حدثنا عبد الرزاق أخبرنا معمر عن همام بن منبه حدثنا أبو هريرة : عن رسول الله صلى الله عليه و سلم ( أن داود عليه السلام كان لا يأكل إلا من عمل يده )

 

Abu Huroiroh –rodhiyallohu ‘anhu- berkata dari Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda : sesungguhnya Dawud ‘alaihis-salaam dahulu tidaklah makan kecuali dari hasil kerjanya .

 

حدثنا يحيى بن بكير حدثنا الليث عن عقيل عن ابن شهاب عن أبي عبيد مولى عبد الرحمن بن عوف أنه سمع أبا هريرة رضي الله عنه يقول: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( لأن يحتطب أحدكم حزمة على ظهره خير من أن يسأل أحدا فيعطيه أو يمنعه )

 

Dari Abu ‘‘Ubaid maula ‘Abdurrohman bin ‘Auf ia mendengar Abu Huroiroh –rodhiyallohu ‘anhu- berkata : Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda : sungguh salah seorang dari kalian mencari seikat kayu bakar (ia pikul) di atas punggungnya lebih baik dari pada ia meminta pada seseorang dia diberi atau tidak.

 

Kemudian beliau( Al-Bukhory ) mendatangkan hadist yang serupa setelahnya dari hadist Az-Zubair bin Al-‘Awwam –rodhiyallohu ‘anhu- berkata Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam- : (mengambil tali-tali ikatan….)(kemudian ia mencari kayu bakarlalu ia pikul dipunggungnya itu lebih baik dari pada ia meminta pada seseorang)

Dan Muslim mengeluarkan dalam Shohihnya dengan nomor 2379 dari Abu Huroiroh –rodhiyallohu ‘anhu- bahwa Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda : Adalah (Nabi)Zakariya –‘alaihssalam-seorang tukang kayu.

 

Dan Alloh Azza wa jalla memuji kenikmatan atas Nabi Dawud –‘alaihish-sholatu was-salam-

 

وَعَلَّمْنَاهُ صَنْعَةَ لَبُوسٍ لَكُمْ لِتُحْصِنَكُمْ مِنْ بَأْسِكُمْ فَهَلْ أَنْتُمْ شَاكِرُون

 

Dan telah kami ajarkan kepada Dawud membuat baju besi untuk kalian, guna melindungi kalian dalam peperangan kalian, maka apakah kalian akan bersyukur (Al-Anbiyaa’ 80)

 

Dan Alloh ta’ala berfirman:

 

وَلَقَدْ آَتَيْنَا دَاوُودَ مِنَّا فَضْلًا يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ (10) أَنِ اعْمَلْ سَابِغَاتٍ وَقَدِّرْ فِي السَّرْدِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِير

 

Artinya : sungguh kami telah berikan kepada Dawud karunia dari kami , (kami berfirman) wahai gunung –gunung dan burung bertasbihlah bersamanya(Dawud), dan kami lunakkan baginya besi, buatlah baju-baju besi dan ukurlah As-sard, dan kerjakanlah amalan saleh, sesungguhnya Aku melihat apa yang kalian kerjakan (Saba’ 10-11)

 

Berkata Al-Imam Ibnu Katsir –rohimahulloh- yang di maksud adalah baju-baju besi , firmannya : ukurlah As-sard , ini adalah petunjuk dari Alloh bagi Nabi-nya Dawud –alaihis-salam- dalam mengajarinya membuat baju-baju besi.

 

Berkata Al-Imam Al-Bukhory dalam kitab Al-Buyuu’ no 2049

 

حدثنا أحمد بن يونس حدثنا زهير حدثنا حميد عن أنس رضي الله عنه قال: قدم عبد الرحمن بن عوف المدينة فآخى النبي صلى الله عليه و سلم بينه وبين سعد بن ربيع الأنصاري وكان سعد ذا غنى فقال لعبد الرحمن أقاسمك مالي نصفين وأزوجك قال بارك الله لك في أهلك ومالك دلوني على السوق فما رجع حتى استفضل أقطا وسمنا فأتى به أهل منزله فمكثنا يسيرا أو ما شاء الله فجاء وعليه وضر من صفرة فقال له النبي صلى الله عليه و سلم ( مهيم ) . قال يا رسول الله تزوجت امرأة من الأنصار قال ( وما سقت إليها ) . قال نواة من ذهب أو وزن نواة من ذهب قال ( أولم ولو بشاة )

 

Dari Anas –rodhiyallohu ‘anhu- ‘Abdurrahman bin ‘Auf datang ke kota Madinah maka Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam- mempersaudarakannya dengan Sa’d bin Ar-robi’ Al-Anshory dan Sa’d adalah seorang yang kaya , maka ia berkata kepada ‘Abdurrahman (saya akan bagi dua hartaku untukmu dan saya akan nikahkan engkau) ‘Abdurrahman berkata (semoga Alloh memberkahi untukmu keluarga dan hartamu , tunjukilah kepadaku pasar), maka ia tidaklah pulang sampai ia mendapat keuntungan berupa keju dan lemak, kemudian ia mendatangi tempat tinggalnya , kamipun menetap dalam waktu yang sebentar atau waktu yang Alloh hendaki , maka ia pun datang dan ada bercak minyak shufroh padanya, maka Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam- berkata padanya: ada apa denganmu ? ia menjawab : wahai Rosululloh saya telah menikahi seorang wanita dari kalangan Anshor, Nabi berkata : apa yang engkau berikan(mahar) kepadanya? Sebiji emas atau emas seukuran biji kurma . Nabi berkata : tunaikanlah walimah walau hanya dengan seekor kambing. Dikeluarkan juga oleh Al-Imam muslim no 1427.

 

Dan Al- Bukhory mengeluarkan dalam kitab Al-‘Ilm dari Shohihnya no 118 bab Hifdhzul-‘ilm dan Muslim no 2429 dari hadits Abu Huroiroh –rodhiyallohu ‘anhu- berkata : Sesungguhnya manusia berkata amat banyak Abu huroiroh (dalam Hadits), seandainya bukan karena dua ayat dalam kitabulloh saya tidak menyebutkan satu hadits pun, kemudian beliau membaca :

 

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ (159) إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

 

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang kami turunkan dari keterangan-keterangan dan petunjuk setelah kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab , mereka itu dila’nati oleh Alloh dan dila’nati oleh siapa saja yang mela’nati. Kecuali orang-orang yang bertaubat , mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran) , maka bagi merekalah aku berikan taubat dan Aku adalah Maha penerima Taubat lagi Maha Penyayang (Al-Baqorah 159-160)

 

sesungguhnya saudara-saudara kami dari kalangan Muhajirin dahulu disibukkan dengan perdagangan, dan saudara-saudara kami dari kalangan Anshor disibukkan pekerjaan pada harta-harta (tanah) mereka, dan sungguh Abu Huroiroh dahulu bermulazamah dengan Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam- dengan isi perutnya(lapar) dan menghadiri apa yang mereka tidak hadiri dan menghapal apa yang mereka tidak hapalkan.

 

Dan berkata Abu Jahl : فَلَوْ غَيْرُ أَكَّارٍ قَتَلَنِى

 

Seandainya bukanlah para petani yang membunuhku

 

Berkata An-Nawawi : Abu Jahl mengisyaratkan kepada kedua anak ‘Afro’ yang membunuhnya dan mereka berdua berasal dari Anshor, dan Anshor adalah para pemilik kebun dan kurma, ma’nanya adalah seandainya yang membunuhku bukanlah para petani maka lebih saya sukai dan lebih mulia bagiku dan tidak ada bagiku kekurangan dalam perkara tersebut.

 

Berkata Ibnu Al-Astir dalam An-Nihayah : Al-Akkar Az-zurro’ (petani) ia menginginkan dengan ucapan ini hinaan dan celaan , yaitu bagaimana mungkin untuk seperti mereka(petani) mumbunuh yang (mulia) sepertinya

 

Dan maksudnya adalah orang-orang Jahiliyyah dahulu mencela sebagian para pekerja dengan pekerjaan yang baik seperti pertanian.

Dan berkata ‘Umar bin khottob –rodhiyallohu’anhu- ketika Abu Musa meminta izin kepadanya sebanyak 3 kali kemudian ia berpaling , maka Abu Sa’id –rodhiyallohu ‘anhu- bersaksi bahwa Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda : Minta izin (itu) sebanyak tiga kali , kalau diizinkan(masuklah) jika tidak maka kembalilah. ‘Umar berkata : saya tersibukkan dengan pasar. Hadist ini dikeluarkan oleh Al-Bukhory no 2062 dalam kitab Al-Buyuu’ dari Shohihnya dan Muslim no 2153

 

Dan Al-Bukhory mengeluarkan hadist no 4668 dalam kitab At-Tafsir dari Shohihnya dan Muslim no 1018 dari Abu Mas’ud –rodhiyallohu ‘anhu- berkata:

 

لما نزلت آية الصدقة كنا نحامل فجاء رجل فتصدق بشيء كثير فقالوا مرائي وجاء رجل فتصدق بصاع فقالوا إن الله لغني عن صاع هذا فنزلت { الذين يلمزون المطوعين من المؤمنين في الصدقات والذين لا يجدون إلا جهدهم }

 

ketika turun ayat sedekah , kami dahulu bekerja (buruh), maka datanglah seseorang dan bersedekah dengan suatu yang banyak, maka mereka(munafiqin) berkata : orang yang riya’ , dan datang seseorang dan bersedekah dengan satu sho’, maka mereka berkata: sungguh Alloh mahacukup(tidak butuh)dengan sedekah orang ini, maka turunlah :

 

{ الذين يلمزون المطوعين من المؤمنين في الصدقات والذين لا يجدون إلا جهدهم }

 

orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan mencela orang-orang yang tidak memperoleh(untuk sedekah) kecuali kesanggupan mereka.

 

Berkata An-Nawawi –rohimahulloh- :dan dalam riwayat yang ke-dua : كُنَّا نُحَامِلُ عَلَى ظُهُورِنَا

 

(Dahulu kami memikul diatas punggung-punggung kami ) ma’nanya adalah kami memikul diatas pundak kami dengan upah dan kami pun bersedekah dari upah rersebut , dalam hadist tsb terdapat anjuran untuk bersedekah, dan apabila tidak memiliki harta hendaknya berupaya untuk mendapatkan apa yang(bisa) disedekahkan dengannya, baik dengan memikul dengan upah ataukah dengan selainnya dari sebab-sebab yang boleh.

 

Berkata Al-Imam Ibnu Kastir dalam tafsir ayat ini :

 

الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

 

orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan mencela orang-orang yang tidak memperoleh(untuk sedekah) kecuali kesanggupan mereka, maka orang-orang munafiq menghina mereka, Alloh akan menghinakan mereka dan bagi mereka adalah siksaan yang pedih (At-Taubah 79)

 

Dan ini juga dari sifat kaum munafiqin : tidak ada seorangpun yang selamat dari celaan dan ejekan mereka dalam seluruh keadaan, bahkan orang-orang yang bersedekah juga tidak selamat dari mereka , apabila datang dari mereka(orang-orang yang bersedekah) dengan harta yang melimpah mereka berkata : orang yang riya’ (ingin dilihat) apabila datang dengan suatu yang sedikit mereka berkata : sungguh Alloh tidaklah butuh sedekah orang ini) kemudian beliau menyebutkan hadist diatas.

 

Maka benar Robb kita ketika berfirman : كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى أَنْ رَآَهُ اسْتَغْنَى

 

Artinya : sesungguhnya Manusia benar-benar melampaui batas , apabila ia melihat dirinya merasa cukup (Al-‘Alaq 6-7)

 

Mungkin kemegahan telah membuatmu melampaui batas -wahai ‘‘Ubaid- dari dalil-dalil ini sampai enkau pun melecehkan mereka para pekerja yang bekerja dengan pekerjaan yang baik , dan engkau pun serupa dengan mereka yang berkata :

 

وَقَالُوا مَالِ هَذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الْأَسْوَاقِ لَوْلَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُونَ مَعَهُ نَذِيرًا (7) أَوْ يُلْقَى إِلَيْهِ كَنْزٌ أَوْ تَكُونُ لَهُ جَنَّةٌ يَأْكُلُ مِنْهَا وَقَالَ الظَّالِمُونَ إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلًا مَسْحُورًا

 

Artinya : dan mereka berkata : mengapa rosul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar ? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat sehingga ia memberi peringatan bersamanya? Atau diturunkan padanya perbendaharaan atau ada kebun baginya, yang ia dapat makan darinya ?, maka berkata orang-orang zholim : sesungguhnya kalian hanyalah mengukuti seorang yang terkena sihir (Al-Furqon 7-8)

 

Dan dalam bab(pembahasan)ini -pentingnya berusaha dan mencari rejeki yang halal- dalil-dalil yang agung dan atsar-atsar yang indah dari Al-Imam Ahmad bin Hanbal dan selainnya, agar saya tidak memperpanjangnya wahai para pembaca , lihatlah dalam kitab “ Al-Adab Asy-Syar’iyyah” karya Ibnu Muflih 3/424 dan yang setelahnya .

 

Maka bertaqwalah wahai ‘‘Ubaid dan waspadalah dari kecenderungan Shufiyyah untuk menimpamu, dalam hal meninggalkan usaha mencari rejeki yang baik dan sesungguhnya perkara tersebut adalah cacat bagi pelakunya.

Ketahuilah bahwa engkau telah tasyabbuh dengan orang-orang jahiliyyah dalam beberapa perkara, lihatlah perkara tersebut dalam kitab “masailul-jahiliyyah”karya​ Al-Imam Muhammad bin ‘Abdulwahhab –rohimahullohu- dalam perkara no 4 , no 80 , no 91 , no 101 , no 121 , dan hal yang paling penting adalah no 98 karena berkaitan dengan pembahasan :

 

Berkata Al-Imam Muhammad bin ‘Abdulwahhab –rohimahullohu- :

 

Perkara yang ke 98 : mereka berbangga-bangga dengan pekerjaan mereka terhadap yang lebih rendah dari mereka ( berbangga-bangga dalam pekerjaan sebagaimana yang dilakukan oleh Ahlu rihlatain (pedagang dua musim-pent) terhadap para petani)

 

Syarh(penjelasan) :

 

Berbangga-bangga dengan pekerjaan, pedagang berbagga dengan dagangannya terhadap buruh, terhadap tukang kayu , dan pandai besi. Pegawai berbangga dengan jabatannya terhadap yang lebih rendah jabatannya.

 

Seorang muslim tidak boleh menghinakan siapa yang lebih rendah darinya, bahkan tidak boleh merendahkan manusia secara umum, maka bagaimana dengan merendahkan kaum muslimin dikarenakan pekerjaan mereka , dan mereka dibawah pekerjaannya? Ini dari perkara jahiliyyah, sebagaiman Alloh menyebutkan tentang Quraisy dalam dua perjalanan (dagangnya), Alloh –subhanahu-memberikan keni’matan bagi Quraisy dengan dua perjalanan , musim dingin ke negri Yaman dan musim panas ke negri Syam untuk perdagangan, maka mereka berbagga dihadapan manusia bahwa mereka adalah Ashhab Rihlatain, dan mereka membanggakannya terhadap siapa yang lebih rendah dari mereka dari kalangan petani . Maka (perkara) ini mengenai setiap yang berbangga-bangga dengan pekerjaanya atau jabatannya terhadap yang lebih rendah, manusia tidak boleh sombong.

 

Dan dari hal ini : celaan mereka terhadap yang usaha dan pekerjaannya lebih rendah dari para petinggi(pemuka kaum)nya, seperti para pandai besi , tukang kayu , dan sifat ini masih terus ada pada sebagian manusia, dan (masuk) dalam bab ini : mereka yang menghinakan para imam-imam masjid dan tukang adzan, bersamaan itu tugas/ jabatan imam adalah tugas termulia, dan inilah tugasnya Rosul –shollallohu ‘alaihi wa sallam- demikian juga tugasnya seorang tukang adzan , tugas yang paling mulia adalah imam dan tukan adzan. Dan ini lebih mulia dari tugas seorang mentri dan lebih mulia dari seluruh pekerjaan) selesai dari Syarah Al-‘Allamah Sholeh Al-Fauzan –semoga Alloh menjaganya- (halaman 259-260) cetakan Darul ‘Ashimah, terbitan pertama.

 

Dan ini yang kami maksudkan penjelasannya dalam tulisan yang ringkas ini, dan apa-apa yang selain itu dari makian dan cacian telah dibantah, dan diketahui tentang bodohnya para pelakunya, dan telah disebar luaskan dalam situs kami dan selainnya.

 

Ataukah ucapannya bahwa saya adalah seorang yang madsus (penyelinap) maka semua ini hanya omong kosong, tidak ada harganya, yang mana hal ini membuktikan akhlaq pasarnya yang ia menuduh selainnya dengannya, sebagaimana ungkapan : * رمتنى بدائها وانسلت

 

Ditulis oleh Yahya bin ‘Ali Al-Hajury | Waktu Dhuha Hari Selasa | 6 Dzul-qo’dah 1432 H

isnad.net

 

Penulis: Abu Ibrohim (Admin kebenaranhanya1 (thetruthonly1))

Ingatlah bahwa tiada yang berhak disembah selain Allah

1 thought on “Tentang apa yang ada pada ‘Ubaid Al-Jaabiry dari perkara jahiliyyah dan kedustaan yang jelas”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s