MENGINGATKAN AHLUS SUNNAH

MENGINGATKAN AHLUS SUNNAH
DI MANA AL-HAQ DAN HUJJAH
DI SITULAH berkah DAN JAMA’AH
DI SISI PARA SALAFUL UMMAH ulama besar ahlus sunnah

Muroja’ah:
Abu Turob saif bin hadhor al-jawi
&
Abu Fairuz Abdurrohman bin sukaya Al-qudsi
Hafidzahumallah

Oleh:
Abu Abdirrohman
Shiddiq bin Muhammad al-bugisi
Hafidzahullah

Darul hadits dammaj
harosahallah

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على سيد المرسلين ومن تبعه بإحسان إلى يوم الدين, أما بعد:

Telah terbit dua buku yang di tulis oleh dua personil ‘hizbiyyah baru’ cabang Indonesia yang pertama bertema “Mendulang Berkah….” (baca; Membuang Barokah Dengan Mendirikan Yayasan Yang Dilumuri Ma’siah) milik Abu Karimah Askari Al-Bugisi, kemudian di susul buku bertema “Meraih Berkah….” (baca; Meraih Kehinaan Dengan Taklid Tanpa Hujjah Dan Burhan) milik Abu ‘Abdillah As-Sarbini Al-Makassari di dalam buku yang kedua ini, ia menukil ucapan pembesarnya Asy-Syaikh Al-Maftun Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushobi sang penyeru kepada taklid murni dalam pembelaannya terhadap tuan besar mereka ‘Abdurrohman Al-Adeni Al-Fajir Al-Hizbi.
Berhubung para ‘hizbiyyah jadidah’ ini menggembar gemborkan permasalahan barokah, seakan-akan merekalah yang berada di atas berkah yang hakiki, maka kami hendak sedikit membahas seputar berkah yang sebenarnya dan menjelaskan betapa jauhnya mereka dari berkah yang hakiki tersebut;
Berkata Al-Fairuz Abadi:
والبركة معناها ثبوت الخير الإِلهى فى الشئِ, …. والمبارك ما فيه ذلك الخير
Makna barokah adalah: Menetapnya kebaikan ilahi pada sesuatu,… dan Mubarok (yang diberkahi) adalah apa-apa yang terdapat padanya kebaikan ilahi tersebut. [Bashoiru dzawit Tamyiz 2/209].
Jadi berkah itu hanyalah ada bersama al-haq. Karena al-haq itu datangnya dari Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nya kemudian diimani oleh kaum mukminin padanyalah kebaikan ilahi, sementara kebatilan itu tidaklah memiliki kebaikan sama sekali, karena kebatilan adalah lawan Al-haq, yang mana kebatilan itu diikuti oleh orang-orang kafir. Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata:
﴿ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَآَمَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ (2) ذَلِكَ بِأَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا اتَّبَعُوا الْبَاطِلَ وَأَنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّبَعُوا الْحَقَّ مِنْ رَبِّهِمْ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ لِلنَّاسِ أَمْثَالَهُمْ ﴾ [محمد/2، 3]
“Dan orang-orang yang beriman dan beramal soleh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan Itulah al-haq dari Robb mereka, niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti kebathilan sementara orang-orang mukmin mengikuti al-haq dari Robb mereka. Demikianlah Allah membuat untuk manusia permisalan-permisalan mereka.” [Muhammad: 2-3].
Tidaklah seseorang dikatakan beriman hingga ia beriman kepada Al-Haq yang diturunkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di mana keimanan dan ketakwaan itu termasuk sebab keberkahan. Allah Ta’ala berkata:
﴿ وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ﴾ [الأعراف : 96]
“Seandainya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka.” [Al-A’Rof: 96].
Apakah bermuamalah dengan bank ribawi termasuk dari keimanan dan ketakwaan?!
Berkata Al-Imam Al-Mujaddid Al-Albani rahimahullah lanjutan dari ucapan beliau yang dinukil oleh Askari di artikelnya “mendulang” sebagaimana pada kaset beliau:
وثالثا ولعله يكون أخيرا :هذه الجمعية, إذا كانت على الشرع كما اشترطنا فالمال الذي يجمع أين يوضع أين يُحرس هنا سؤال, لعلك أن تجيبني عليه.
قال السائل: يعني المال التي يجمع طبعاً هناك اشترط وزارة تأمينات أننا نفتح حساباً في البنك والجمعية تضع بعض المال في البنك حتي يتم الحساب الجاري, (تكلم الشيخ رحمه الله كلاما غير واضحة) الحساب الجاري وليس بحساب الفائدة وبعضه طبعا هي تحاول صرفه أولا بأول إلي مستحقها.
قال الشيخ: في هذا يكفي لهدم المشروع, فإذا كان لا يمكنكم أن تتخذوا صندوقاً, لا تمتد إليه يد الربا, فعندنا عبارة في سوريا تقول “نادو عليها بطالة” “نادو عليها بطالة” كل الجمعيات التي تقوم اليوم على الأسف بسبب نظم الحاكمة بغير ما أنزل الله تقوم على إيداع المال في البنك, بعضهم يتحفظ كما أنت ذكرت آنفاً لكن من ناحية العمالية لايمكن إلا أن يودع المال بكميته في البنك للمحافظة عليه, وهذا في الواقع يعود إلي أن المسلمين أنفسهم ليسوا كما ضرب رسول الله صلى الله عليه وسلم مثل لهم كالجسد الواحد إذا اشتكي منه عضو تداعى له سائر الجسد فلا يجد الجماعة التي تسعي في سبيل أو في مشروع خيري لا تجد شخصا تستطيع أن تأمنه على مالها ثم إن وجدت هذا الشخص وقد لا تستطيع أن توجد له حماية لهذا المال الذي سيودع له فإذا لم توجد هذه الركائز لجعل أي جمعية خيرية إسلامية الشرعية فأنا لا أنصح بالعمل لا لأن هذه الجمعية محدثة وبدعة لا لأني قدمّت في الجواب بأن الوسائل تختلف بشرط أن تؤدي إلي مقاصد شرعية, ألا وأنا أقول هذا لأنني سؤلت عن هذا السؤال من اليمن نفسه هاتفياً وأجبت بما هذا خلاصته ولذلك أنا لا أنصح بالإستمرار في مثل هذا عمل إلا إذا كان يمكن تصغير المشروع كما أشرت إليه في أول الجواب أو هذا من ناحية العملية ثم إذا صُغّر ربما أن الحكم القائمة هناك قد يسمح لعدم إيداع هذا المال المصغر عن ذاك المال الكبيرفي مكان حريز في حفظ إنسان أمين.
قال السائل: وما دامت اسمها الجمعية فالنظم لا يسمح بقرد أيّت الجمعية.
.قال الشيخ: هذا فهم, فهم هذا وفهم جوابه
قال السائل: نعم, في حالت أنه تجنب هذا المحذور يعني ما تعليقكم مثلا أو مالحكم في القضية إيراد الحديث و الأية
قال الشيخ: في إيراد هذه الأحاديث يخشي أن تدخل فيما نهي الله عنه: ﴿ فلا تزكوا أنفسكم هو أعلم بمن اتقى ﴾ [النجم/32]…إلخ
Ketiga; dan barangkali ini yang terakhir, apakah Jum’iyyah ini apabila berjalan di atas syariat sebagaimana yang kami syaratkan, ada pertanyaan, harta yang dikumpulkan oleh jum’iyyah itu di manakah disimpan? Di mana diamankan? Barangkali engkau (wahai penanya) bisa menjawabnya …
Si penanya berkata: Adapun harta yang dikumpulkan, mentri keamanan mensyaratkan untuk membuka rekening bank dan menaruh uang di situ sampai selesai upah pelayanan, bukan termasuk bunga. Sebagian mereka berusaha agar mengambil harta yang terkumpul pertama kali masuknya langsung diserahkan kepada orang yang berhak.
Asy-Syaikh berkata: Ini cukup sebagai dalil untuk meruntuhkan kegiatan jum’iyyah ini, Apabila tidak memungkinkan bagi kalian mengadakan kotak yang tidak dilumuri amalan riba, Di Suriyah ada pepatah yang mengatakan: “Hal ini mendatangkan bencana”, “Hal ini mendatangkan bencana” Sangat disayangkan, disebabkan tatanan pemerintah yang menyelisihi apa yang Alloh turunkan akhirnya semua Jam’iyyah yang didirikan masa sekarang ini diharuskan untuk menyimpan uang di bank, sebagian mereka benar sebagaimana yang engkau sebutkan, tidak mengambil ribanya, namun dari segi penerapannya tak mungkin bisa kecuali menyimpan uang di bank dengan alasan untuk menjaganya, fenomena ini disebabkan karena kaum muslimin sendiri tidak berada pada permisalan yang dimisalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘bagaikan satu jasad’, apabila salah satu anggota jasadnya itu merasa sakit, anggota badannya yang lainpun akan merasakannya. Jama’ah yang berupaya di jalan atau proyek kebaikan, tidak mampu mendapatkan orang yang dapat dipercaya menyimpan uangnya, kemudian kalaupun dapat terkadang orang itu tidak mampu mendapati tempat untuk menjaganya. Apabila tidak diperkenankan bagi jum’iyyah khairiyyah islamiyyah tersebut mengadakan tempat penyimpanan uang baginya, maka saya tidak menasehatkan untuk mendirikannya, bukan karena Jum’iyyah ini adalah perkara muhdats dan bid’ah, tidak, dan telah lewat jawabannya karena sarana-sarana (kebaikan) bermacam-macam, tapi dengan syarat menghantarkan kepada tujuan-tujuan yang disyari’atkan.
Dan ketahuilah saya menyatakan ini karena aku juga telah ditanya melalui via telepon dengan pertanyaan yang serupa dari Yaman dan saya telah menjawabnya yang intisarinya seperti jawaban ini, oleh karena itu saya tidak menasihatkan untuk terus melanjutkan amalan ini kecuali apabila memungkinkan untuk memperkecil proyek sebagaimana yang aku isyaratkan kepadanya diawal jawabanku atau hal ini dari sisi amalan, kemudian apabila setelah diperkecil mungkin saja pemerintah setempat mengizinkan untuk tidak menyimpan uang tersebut di bank dan menyimpannya di tempat yang aman dengan penjagaan orang yang terpercaya.
Penanya berkata: Bagaimanapun keadaannya selama namanya adalah Jum’iyyah pemerintah tidak akan mengizinkan Jum’iyyah manapun.
Asy-Syaikh berkata: Hal ini sudah dipahami, ini telah diketahui dan dipahami jawabannya.
Penanya berkata: Na’am (Iya)…-selesai yang diinginkan-
Apakah mengadu domba dan menabur benih permusuhan di antara para masyayikh termasuk keimanan dan ketakwaan?!
Demikian juga berkah itu bergantung dengan al-haq, hujjah, dan ketaatan kepada Allah Ta’ala, Allah Ta’ala berkata:
﴿ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ﴾ [آل عمران/132]
“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya agar kalian dirahmati.” [Ali ‘Imron: 132].
Dan berkata:
﴿ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴾ [البقرة/189]
“Dan bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung.” [Al-Baqoroh: 189].
Tidaklah Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kecuali kepada kebaikan, kebenaran, dan keselamatan terhadap hamba di mana pada hal tersebut terdapat kebaikan dan berkah terhadap hamba-hambaNya.
Berkata Allah Ta’ala:
﴿ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ﴾ [الأحزاب/71]
“Dan Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka sungguh ia telah mendapat kemenangan yang besar.” [Al-Ahzab: 71].
Sebaliknya bermaksiat kepada Allah adalah sebab dicabutnya keberkahan dan turunnya adzab yang pedih serta kemelaratan di dunia dan akhirat, Allah ‘Azza wa Jalla berkata:
﴿ ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ ﴾ [الروم/41]
“Telah nampak kerusakan di darat dan laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia (maksiat), agar Allah menimpakan atas mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” [Ar-Rum: 41].
Dari `Abdillah bin `Amr Rodhiyallohu ‘anhu berkata:
أقبل علينا النبي صلى الله عليه و سلم فقال: يا معشر المهاجرين خمس إذ ابتليتم بهن, وأعوذ بالله أن تدركوهن: لم تظهر الفاحشة في قوم قط حتى يعلنوا بها إلا فشا فيهم الطاعون, والأوجاع التي لم تكن مضت في أسلافهم الذين مضوا, ولم ينقصوا المكيال و الميزان إلا أخذوا بالسنين و شدة المؤنة و جور السلطان عليهم, ولم يمنعوا الزكاة إلا منعوا القطر من السماء, ولولا البهائم لم يمطروا, و لم ينقضوا عهد الله و عهد رسوله إلا سلط عليهم عدوهم من غيرهم و أخذوا بعض ما كان في أيديهم و ما لم يحكم أئمتهم بكتاب الله إلا ألقى الله بأسهم بينهم
“Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap kepada kami, kemudian berkata: “Wahai kaum muhajirin! Lima perkara jika kalian diuji dengannya, dan saya berlindung kepada Allah semoga perkara ini tidak menimpa kalian, tidaklah nampak perzinaan pada suatu kaum sampai mereka terang-terangan melakukannya, kecuali akan tersebar pada mereka tho`un (wabah penyakit) dan kelaparan yang belum pernah ditimpakan kepada ummat sebelum mereka. Dan tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan kecuali akan ditimpakan atas mereka musim kemarau yang panjang, dan kekurangan bahan pangan, dan kelaliman pemerintah. Dan tidaklah mereka enggan menunaikan zakat harta mereka, kecuali akan ditahan hujan dari langit. Seandainya kalau bukan karena binatang niscaya tidaklah diturunkan hujan atas mereka, dan tidaklah mereka melanggar perjanjian Allah dan Rosul-Nya, kecuali Allah akan menguasakan atas mereka musuh dari selain mereka, merampas apa yang mereka miliki. Dan tidaklah para pemimpin mereka enggan berhukum dengan kitabulloh dan enggan memilih dari apa yang diturunkan oleh Allah, kecuali Allah akan jadikan keganasan di antara mereka.”
Termasuk sebab-sebab barokah adalah mengamalkan Al-Qur’an dan sunnah, Allah Ta’ala berkata:
﴿ وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ ﴾ [الأنعام/92]
“Dan (Al Quran) ini adalah kitab yang telah Kami turunkan yang berberkah.” [Al-An’am: 92].
Dan berkata Ta’ala:
﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ  قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ ﴾ [يونس/57، 58].
“Wahai sekalian manusia, Sesungguhnya telah datang kepada kalian (Al-Qur’an) wejangan dari Robb kalian dan obat penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang ada) di dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nyalah hendaknya mereka bergembira dengannya. itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. [Yunus: 57-58].
Sebagian dari sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
( يا رسول الله إنا نأكل ولا نشبع . قال : فلعلكم تأكلون وأنتم مفترقون ؟ قالوا : نعم . قال : فاجتمعوا على طعامكم واذكروا اسم الله تعالى يبارك لكم ) رواه أبو داود
“Wahai Rasulullah, kami makan namun tidak kenyang, beliau berkata: barang kali kalian makan berpisah-pisah? Mereka jawab: benar, maka beliau berkata: berkumpullah ketika makan dan sebutlah nama Allah Ta’ala (basmalah) niscaya makanan itu akan diberkahi untuk kalian. HR. Abu Daud
Pada hadits ini dan hadits-hadits semacamnya dapat diambil faidah bahwa mengamalkan sunnah yaitu berkumpul ketika makan (makan jama’ah) merupakan sebab diberkahinya makanan tersebut bagi mereka meskipun makanan tersebut kelihatannya sedikit, dan sebaliknya menyelisihi sunnah dengan makan berpisah-pisah sementara mereka bisa makan berjama’ah merupakan sebab dicabutnya berkah pada makanan tersebut meskipun kelihatannya banyak.
Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
وكرامات أولياء الله إنما حصلت ببركة اتباع رسوله صلى الله عليه وسلم
“Dan karomah-karomah para wali Allah hanyalah dicapai karena barokah berittiba’ kepada (mengikuti) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [Awliyaur Rohman wa Awliyausy Syaithon, 1/90].
Apakah memotong kata dan tidak lengkap dalam penukilan dengan maksud mengubah maknanya, Sebagaimana yang dilakukan ‘hizbiyyah jadidah’ ini pada permasalahan Jami’ah Islamiyyah, itu adalah pengamalan terhadap sunnah?! Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
البيعان بالخيار ما لم يتفرقا أو قال حتى يتفرقا فإن صدقا وبينا بورك لهما في بيعهما وإن كتما وكذبا محقت بركة بيعهما
“Dua orang yang sedang bertransaksi (jual-beli) itu memiliki keluasan memilih, selama keduanya belum berpisah, atau beliau berkata: hingga mereka berpisah, maka apabila keduanya itu jujur dan terus terang, niscaya akan diberkahi transaksi tersebut, namun apabila keduanya berdusta dan tidak terus terang akan hilang berkah transaksi tersebut.” HR. Bukhori dan Muslim.
Apakah hizbiyyah, mencela dan mencerca seorang Alim Sunni serta menaburkan benih permusuhan antara murid-murid dan syaikh mereka sebagaimana yang dilakukan oleh hizbiyyah baru ini di Yaman merupakan pengamalan terhadap Al-Qur’an dan sunnah?! Apakah mendirikan Yayasan yang tidak didirikan salaful ummah , dan membuang waktu dengan mengemis (proposal) tanpa kebutuhan mendesak merupakan pengamalan terhadap Al-Qur’an dan sunnah?!
﴿ لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ ﴾ [البقرة/273]
“Dan untuk orang-orang fakir yang terikat (karena jihad) di jalan Allah, mereka tidak dapat (berusaha) di bumi, orang yang tidak tahu menyangka mereka itu orang-orang kaya karena mereka memelihara diri dari meminta-minta. Engkau bisa mengenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. dan apa saja harta yang baik yang engkau infakkan di jalan Allah, Maka Sesungguhnya Allah itu ‘Alim (Maha Mengatahui) hal itu.” [Al-Baqoroh: 273]
Dari Qobishoh bin Mukhoriq Al-Hilaly berkata: “Aku menanggung suatu beban (utang atau tebusan diyat dan sebagainya, pent). Maka aku datang kepada Rosululloh sallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta bantuan beliau untuk membayarnya. Beliau berkata:
“Tinggallah sampai datang kepada kami shodaqoh, nanti kami berikan kepadamu.” Kemudian beliau berkata:
« يا قبيصة إن المسألة لا يحل إلا لأحد ثلاثة رجل حمل حمالة فحلت له المسألة حتى يصيبها ثم يمسك ورجل أصابته جائحة اجتاحت ماله فحلت له المسألة حتى يصيب قواما من عيش – أوقال سدادا من عيش – ورجل أصابته فاقة حتى يقوم ثلاثة من ذوى الحجا من قومه لقد أصابت فلانا فاقة فحلت له المسألة حتى يصيب قواما من عيش – أوقال سدادا من عيش – فما سواهن من المسألة يا قبيصة سحتا يأكلها صاحبها سحتا »
“Wahai Qobishoh, sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal kecuali salah satu dari tiga type orang: Orang yang menanggung beban (utang, diyat atau mendamaikan antara dua kelompok yang bertikai), maka boleh baginya untuk meminta sampai ia mendapatkan sekedar yang dia butuhkan, setelah itu berhenti dan tidak meminta-minta lagi. Dan orang yang hartanya habis karena tertimpa bencana. Diperbolehkan baginya untuk meminta sampai ia mendapatkan harta yang bisa menopang hidupnya. Dan orang yang tertimpa kemelaratan yang sangat, sampai ada tiga orang yang berakal dari kaumnya menyatakan bahwa fulan tertimpa kemelaratan. Maka boleh baginya untuk meminta-minta sampai dia mendapatkan apa yang bisa menopang hidupnya. Adapun minta-minta selain itu wahai Qobishoh, harom hukumnya, orang yang memakannya telah memakan harta harom.” (HR. Muslim no. 1044)
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berkata:
من سأل وعنده ما يغنيه فإنما يستكثر من نار جهنم قالوا يا رسول الله وما يغنيه قال ما يغديه أو يعشيه
“Barangsiapa yang meminta sementara dia memiliki apa yang mencukupinya, maka dia hanyalah memperbanyak api jahannam, para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah! Berapakah kadar yang mencukupinya? Beliau menjawab: kadar yang ia makan siang atau makan malam.” [HR. Ahmad, no. 17662].
Apakah membela para pelaku kebatilan, sebagaimana yang kamu lakukan ini wahai Sarbini dan sebelumnya Syaikh besarmu yang maftun Muhammad bin Abdil wahhab dan Ubaid Al-Jabiri merupakan ketaatan kepada Allah Ta’ala?! Allah Ta’ala berkata:
﴿ وَلَا تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنْفُسَهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًا ﴾ [النساء/107]
“Dan janganlah engkau berdebat untuk membela orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa.” [An-Nisa’: 107].
Dan berkata sebelumnya:
﴿ إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا ﴾ [النساء/105]
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu berhukum di antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang bagi para pengkhianat.” [An-Nisa’: 105].
Apakah mendiamkan kebatilan tanpa mengingkarinya hanya karena sebagian ulama belum mengetahui hakikat kebatilan (seperti Yayasan) atau hizbiyyah tersebut, merupakan pengamalan terhadap Al-Qur’an dan sunnah?! Allah Ta’ala berkata:
﴿ فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ ﴾ [الحجر/94].
“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang engkau diperintahkan dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” [Al-Hijr: 94].
Dan berkata:
﴿وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ﴾ [آل عمران/104[
“Dan hendaknya ada di antara kalian sekelompok ummat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” [Ali ‘Imron: 104].
Dan berkata:
﴿كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آَمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ ﴾ [آل عمران/110]
“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Seandainya ahli kitab beriman, tentulah keimanan itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” [Ali ‘Imron: 110].
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يُغَيَّرَهُ بِيَدِهِ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَان
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran maka hendaknya dia merubahnya dengan tangannya, jika ia tidak sanggup merubah dengan tangannya maka dengan lisannya, bila tidak sanggup juga maka dengan hatinya, dan demikian itu selemah-lemahnya iman”. (HR. Muslim, no, 49)
Dari Abi Dzar Rodhiyallohu ‘anhu, beliau berkata:
أَمَرَنِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ…[و ذكر منها]… وَأَمَرَنِي أَنْ أَقُولَ بِالْحَقِّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا وَأَمَرَنِي أَنْ لَا أَخَافَ فِي اللَّهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ
“Kekasihku Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku dengan tujuh perkara…[beliau menyebutkan di antaranya]… dan beliau memerintahkanku supaya mengatakan Al-Haq meskipun itu pahit, dan memerintahkanku supaya tidak takut dari celaan orang yang mencela di jalan Allah. (HR. Ahmad, no. 21415).
Berkata Asy-Syaikh Sholeh Al-Fauzan hafidzahullah:
المسألة العاشرة: في حديث علي بن الحسين رحمه الله وجوب الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، وتعليم الجاهل، لأنه لما رأى هذا الرجل وما يفعله من وسائل الشرك لم يسكت على هذا، بل نهاه عن ذلك، وحذّره من ذلك، وكان في ذلك الخير والبركة لهذه الأمة.
Masalah kesepuluh: Pada hadits ‘Ali bin Al-Husain rahimahullah dapat diambil faidah darinya: akan wajibnya menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan mengajari orang yang tidak tahu, di mana beliau ketika melihat perbuatan orang ini adalah wasilah yang menghantarkan kepada kesyirikan, beliau tidak mendiamkannya, bahkan melarangnya dan memperingatkannya dari perbuatan itu, dan pada hal itu terdapat kebaikan dan barokah terhadap ummat. [I’anatul Mustafid…2/322].
Apakah bertaklid kepada seseorang yang memiliki kedudukan tanpa hujjah baik dia itu ulama besar atau kecil ataukah selainnya yang mereka itu tidak ma’shum adalah rusyd yang di dalamnya berkah?! Ataukah kehinaan wahai Sarbini, wahai Askari? Terutama apabila nampak dengan jelas bahwa ternyata hujjah dan al-haq menyelisihi ucapan mereka.
Allah Ta’ala berkata:
﴿ المص  كِتَابٌ أُنْزِلَ إِلَيْكَ فَلَا يَكُنْ فِي صَدْرِكَ حَرَجٌ مِنْهُ لِتُنْذِرَ بِهِ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ  اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ ﴾ [الأعراف/1-3].
“Alif laam mim shad. ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, Maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu darinya, supaya kamu memberi peringatan dengannya, dan sebagai pelajaran bagi orang-orang mukmin. Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Robb kalian dan janganlah kalian mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Hanya sedikit yang mengambil pelajaran.” [Al-A’rof: 1-3]
Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma, beliau berkata:
تَمَتَّعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ نَهَى أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ عَنْ الْمُتْعَةِ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ مَا يَقُولُ عُرَيَّةُ قَالَ يَقُولُ نَهَى أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ عَنْ الْمُتْعَةِ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ أُرَاهُمْ سَيَهْلِكُونَ أَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَقُولُ نَهَى أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertamattu’ (ketika haji)”. Lalu ‘Urwah bin Zubair berkata: “Abu Bakr dan Umar melarang dari tamattu’.” Maka Ibnu ‘Abbas berkata: “Apakah yang dikatakan oleh ‘Urwah kecil?” Dijawab: “Dia berkata: “Abu Bakr dan Umar melarang dari tamattu’.” Maka Ibnu ‘Abbas berkata: “Saya mengira mereka akan binasa, kukatakan “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata” dan mereka berkata: “Abu Bakr dan Umar melarang”. (HR. Ahmad no. 3121)
Telah datang di Shahih Bukhori:
سئل أبو موسى عن ابنة وابنة ابن وأخت فقال للابنة النصف وللأخت النصف وأت ابن مسعود فسيتابعني فسئل ابن مسعود وأخبر بقول أبي موسى فقال لقد ضللت إذا وما أنا من المهتدين أقضي فيها بما قضى النبي صلى الله عليه و سلم للابنة النصف ولابنة الابن السدس تكملة الثلثين وما بقي فللأخت فأتينا أبا موسى فأخبرناه بقول ابن مسعود فقال لا تسألوني ما دام هذا الحبر فيكم
Abu Musa Rodhiyallohu ‘anhu ditanya tentang seorang yang meninggalkan warisan seorang putri, dan putri anak laki-lakinya, dan saudara perempuan, beliau menjawab: putrinya mendapat setengah bagian, dan saudara perempuan juga setengah, datangilah ibnu Mas’ud niscaya ia akan mencocoki jawabanku, maka ibnu Mas’ud ditanya dan disampaikan kepadanya ucapan Abu Musa, maka beliau berkata: kalau demikian benar-benar saya telah sesat dan bukanlah saya termasuk orang yang mendapat petunjuk (yaitu apabila beliau mencocoki jawaban Abu Musa sementara beliau mengetahui dalil sunnah yang terang dan jelas tentang permasalahan tersebut menyelisihi jawabannya, akan sesat karena menyelisihi dalil tersebut -pent), saya akan berhukum padanya dengan hukum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: untuk putrinya setengah dan putri anaknya seperenam sebagai kelengkapan dari dua pertiga dan sisanya untuk saudara perempuan, kemudian kami mendatangi Abu Musa lalu mengabarinya dengan ucapan ibnu Mas’ud, maka beliau berkata jangan kalian bertanya kepadaku selama Al-Habr (orang Alim) ini masih berada di antara kalian. [HR. Bukhori, no 6355].
Berkata Asy-Syaikh Sholeh Al-Fauzan hafidzahullah setelah ucapannya di atas:
المسألة الحادية عشرة: في الحديث دليل على أن من أنكر شيئاً أو أمر بشيء فإنه يُطالب بالدليل، لأن علي بن الحسين لما نهى هذا الرجل ذكر له الدليل عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، من أجل إقامة الحجة، ومن أجل معرفة الحق بدليله، وهذا منهج من مناهج الدعوة: أن الداعية إلى الله إذا أمر بشيء أو نهى عن شيء يذكر الدليل ويوضحه للناس من أجل أن يقتنعوا، ومن أجل أن تقوم الحجة على المخالف.
Masalah kesebelas: pada hadits ini terdapat petunjuk bahwa barangsiapa yang mengingkari sesuatu atau menyuruh berbuat sesuatu, maka dia dituntut mendatangkan dalil, sebagaimana ‘Ali bin Al-Husain ketika melarang orang ini dari perbuatannya, ia menyebutkan untuknya dalil dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam guna menegakkan hujjah, dan guna mengetahui al-haq dengan dalilnya, dan ini adalah salah satu metode dakwah: bahwasanya seorang da’i ilallah jikalau menyuruh melakukan sesuatu atau melarang dari sesuatu, hendaknya dia menyebutkan dalilnya dan menjelaskannya kepada manusia sehingga mereka merasa qona’ah (cukup) dengan dalil tersebut, dan sebagai hujjah atas penyelisih. [I’anatul Mustafid…2/322].
Inilah ucapan ulama besar wahai Salafiyyun, cocok sekali ‘hizbiyyah jadidah’ ini dengan ucapan Al-‘Allamah Al-Muhaddits Al-Faqih Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah di mana beliau berkata:
((لا يقلدني إلا ساقط))
“Tiada yang bertaklid kepadaku kecuali orang yang hina.”
Semoga ulasan sederhana ini dapat membuka mata para salafiyyin Indonesia di manapun mereka berada terutama di negri pertiwi, dan mengingatkan mereka kembali akan hakikat salafiyyah bahwasanya mereka itu terikat untuk menjunjung tinggi dalil dan hujjah tanpa memperdulikan siapapun yang menyelisihinya besar atau kecil tua maupun muda, dan terus mengingat semboyan para ulama sunnah:
الرجال يعرف بالحق, وليس الحق يعرف بالرجال
“Para tokoh itu dikenal dengan Al-Haq, dan bukanlah Al-Haq itu dikenal dengan para tokoh.”
Mereka (para hizbiyyin) berdalih dengan hadits Ibni ‘Abbas Rodhiyallohu ‘anhu yang artinya: “Barokah itu bersama orang-orang besar kalian.” Dan ucapan Asy-Syaikh Al-Maftun Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushobi, sebenarnya apa yang saya telah paparkan di atas sudah cukup bagi orang yang berakal untuk meluruskan maknanya dan berhubung dalih mereka ini telah di bahas dengan pembahasan yang memuaskan oleh Asy-Syaikh Al-Mujahid Abu Hamzah Muhammad Al-‘Amudi hafidzahullah pada sebuah makalah beliau serta bantahan beliau ini telah di baca dan diidzinkan penyebarannya oleh Syaikhuna Yahya bin ‘Ali Al-Hajuri, maka pada kesempatan ini saya cukup menerjemah bantahan tersebut dengan beberapa tambahan dan ikhtishar.
Dikarenakan para ‘hizbiyyah jadidah’ cabang Indonesia telah menerjemah ucapan tersebut , maka cukup saya nukilkan terjemahannya lalu menerjemah bantahannya setelahnya. Semoga Allah Tabaraka wa Ta’ala menjadikan risalah ini bermanfaat bagi Islam dan para pencari kebenaran, sekaligus sebagai penolong kebenaran dan para pengembannya, dan penumpas kebatilan dan para pengusungnya, dan menjadikan amalan-amalan kita tulus dan ikhlas karena-Nya.
Terakhir penyusun menuturkan banyak terima kasih kepada Al-Akh Abu Turob dan Al-Akh Abu Fairuz yang bersedia memeriksa risalah ini di tengah-tengah kesibukan mereka, dan kepada istri saya yang turut membantu. Semoga Allah memberkahi waktu dan umur mereka.

سبحانك اللهم وبحمدك, أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك

Abu AbdirRohman Shiddiq bin Muhammad Al-Bugisi Afallahu ‘anhu
21 Jumadits Tsaniyah 1430
Di Darul Hadits Al-‘Amirah Dammaj Harasahallah

مِنَّةُ الكريم الحميد
بنقض تلاعبات
محمد بن عبد الوهاب الوصابي داعية التقليد والتعصب
للحزب الجديد
(الحلقة الأولى)

Karunia Al-Karim Al-Hamid Dalam meruntuhkan permainan muhammad bin Abdil Wahhab Al-Wushobi Sang Penyeru kepada Taklid dan Ta’ashshub terhadap Hizbiyah Baru.
(Seri pertama)

Karya: Abu Hamzah
Muhammad bin Husain bin Umar Al-Amudi Al-Hadhromi Nasaban Al-‘Adeni Manzilan.

Telah dibaca dan mengizinkan penyebarannya Fadhilatusy Syaikhina Al-Karim Al-Mukarram Waliduna An-Nashihul Amin Al-‘Allamah Al-Muhaddits Al-Faqih Abu ‘Abdirrohman Yahya bin ‘Ali Al-Hajuri
Semoga Allah Ta’ala memuliakannya dan memuliakan agama-Nya dengannya serta membalasnya dengan pahala kebaikan.

Darul Hadits yang Makmur di Dammaj
Semoga Allah menjaganya

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه, أما بعد:
Telah beredar ucapan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tertanggal 7 Rabiul Akhir 1430, sebagai bentuk jawaban dari dua soal para hizbiyyun korban hizbiyyah baru ini para pemuda Aden, dan soal itu ditanyakan di mesjidnya di kota Hudaidah.
Tatkala jawabannya itu mengandung campur aduk antara al-haq dan batil, pengkaburan dan pemalsuan, maka saya hendak memberinya beberapa catatan-catatan ringkas. Saya berharap dengannya kebaikan dan manfaat, dan menjadi penolong kebenaran dan siapa yang berada di atasnya. Serta penghancur kebatilan dan kelompoknya. Hanya Allah Ta’ala-lah sebagai penolong dan cukuplah Allah bagiku dan Dia-lah sebaik-baiknya pelindung, walhamdulillah yang dengan nikmatNya-lah amalan-amalan sholeh sempurna, kepada “Minnatul Karimul Hamid”

Catatan terhadap soal si penanya : Pada soal ini terdapat makar, khianat dan penipuan. Demikian itu karena ucapan ulama itu ada yang benar dan ada yang salah. Apa yang mencocoki kebenaran maka dia benar, dan yang tidak mencocoki/menyelesihi kebenaran maka dia salah.
Seorang Ulama yang memurnikan dirinya untuk mencari al-haq dan tunduk terhadap kebenaran, maka hukum-hukumnya berkisar antara satu pahala atau dua pahala. Sebagaimana hadits Amr bin Ash yang akan datang penyebutannya. Dengan idzin Allah.
Seharusnya si penanya ini menjelaskan ucapan ulama itu. Kalau benar dan tepat maka wajib diterima dan dihormati. Kalau menyelisihi kebenaran maka ucapannya tertolak dari pengucapnya siapapun dia. Allah Ta’ala berkata:
﴿ اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ ﴾ [الأعراف/3]
“Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Robb kalian dan janganlah kalian mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikit yang mengambil pelajaran.” [Al-A’rof: 3].
Dan berkata Allah Ta’ala:
﴿ وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ مَاذَا أَجَبْتُمُ الْمُرْسَلِينَ  فَعَمِيَتْ عَلَيْهِمُ الْأَنْبَاءُ يَوْمَئِذٍ فَهُمْ لَا يَتَسَاءَلُونَ  فَأَمَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَعَسَى أَنْ يَكُونَ مِنَ الْمُفْلِحِينَ ﴾ [القصص/65-67]
“Dan (ingatlah) hari ketika Allah menyeru mereka, seraya berkata: “Apakah jawaban kalian kepada para rasul?” Maka pada hari itu gelaplah bagi mereka segala macam alasan, karena itu mereka tidak saling tanya menanya. Adapun orang yang bertaubat dan beriman, serta mengerjakan amalan shaleh, maka pastilah dia akan termasuk orang-orang yang beruntung.” [Al-Qoshosh: 65-67].
Dan berkata Allah Ta’ala:
﴿ قَدْ جَاءَكُمْ بَصَائِرُ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ أَبْصَرَ فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ عَمِيَ فَعَلَيْهَا وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيظٍ  وَكَذَلِكَ نُصَرِّفُ الْآَيَاتِ وَلِيَقُولُوا دَرَسْتَ وَلِنُبَيِّنَهُ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ  اتَّبِعْ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ ﴾ [الأنعام/104-106].
“Sesungguhnya telah datang dari Robb kalian bukti-bukti yang terang, Maka Barangsiapa melihat (kebenaran itu), Maka (manfaatnya) untuk dirinya sendiri, dan Barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), Maka kemudharatannya kembali kepadanya. dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah penjaga bagi kalian. Demikianlah Kami mengulang-ulangi ayat-ayat Kami supaya (orang-orang yang beriman mendapat petunjuk) dan supaya orang-orang musyrik mengatakan: “Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu (dari ahli Kitab)”, dan supaya Kami menjelaskan Al Quran itu kepada orang-orang yang mengetahui. Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Robbmu, tidak ada peribatan selain Dia, dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” [Al-An’am: 104-106].
Kemudian pertanyaan ini termasuk seruan yang luas kepada taklid. Cukuplah hal itu sebagai kebutaan, kesesatan, penyimpangan dan kecondongan kepada kebatilan. Setiap orang itu diambil dan ditolak ucapanya melainkan Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka inilah hasil dan buah hizbiyyah, dakwah kepada taklid murni. Dan tidak komitmen dengan dalil. Juga mengambil ucapan-ucapan global sebagai pembutaan dan pengkaburan kepada manusia. Juga bersandar dengan beberapa fatwa ulama yang tidak mengetahui hakikat hizbiyyah mereka, serta berlaku makar demi menguatkan hizbiyyah mereka dan selainnya dari hal-hal yang tidak asing lagi bagi setiap orang-orang yang memiliki keahlian dan bashiroh, pengkritik yang bijak dan penasehat yang terpercaya.
Ucapan Al-Wushobi: Nasehatku kepadanya, hendaklah ia berhenti dari sikap seperti ini dan hendaknya dia berjalan bersama para ‘ulama. Sebagaimana Nabi kita Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
يد الله مع الجماعة
“Tangan Allah bersama Al-Jama’ah”.
Juga sebagaimana sabda Beliau Shallahu ‘alaihi wa Sallam:
البركة مع أكابركم
“Barakah itu ada pada orang-orang besar kalian (yakni besar dalam hal ilmu dan kedudukan).”
Catatan: Konsekwensi dari Perintah untuk berhenti, adalah satu dari dua perkara:
Perkara pertama: Menahan diri/berhenti dari kebenaran, dan dari sikap terang-terangan berucap dengannya, serta menolongnya.
Perkara kedua: Menahan diri/berhenti dari kebatilan dan komplotannya.
Adapun yang pertama, maka ini jelas menghalang-halangi dari jalan Allah Ta’ala, menyembunyikan kebenaran, dan tidak menolong manusia atasnya, Alloh Ta’ala berkata:
﴿ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ ﴾ [ص : 26]
“Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah bagi mereka azab yang keras, karena mereka melupakan hari perhitungan.” [Shood: 26]
Dan berkata Allah Ta’ala:
﴿ وَلَا تَقْعُدُوا بِكُلِّ صِرَاطٍ تُوعِدُونَ وَتَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آَمَنَ بِهِ وَتَبْغُونَهَا عِوَجًا وَاذْكُرُوا إِذْ كُنْتُمْ قَلِيلًا فَكَثَّرَكُمْ وَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ ﴾ [الأعراف : 86]
“Dan janganlah kalian duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang dari jalan Allah dan yang beriman denganNya, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok. dan ingatlah di waktu dahulunya kalian berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kalian. dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.” [Al A’rof: 86].
Dan berkata Allah Ta’ala:
﴿ وَتَذُوقُوا السُّوءَ بِمَا صَدَدْتُمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَلَكُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴾ [النحل : 94]
“Dan kalian akan rasakan kesengsaraan (di kehidupan dunia) dikarenakan kalian menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan bagi kalian azab yang besar.” [An-Nahl: 94].
Kalau yang kedua, maka ini adalah perkara yang terpuji, pelakunya dipuji, disukuri, serta didoakan untuknya kebaikan, bahkan ini termasuk dari kewajiban yang paling utama. Dari Abi Huroiroh Radhiyallohu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
(( من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت ))
“Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, hendaknya dia berucap dengan kebaikan atau diam.” Muttafaqun ‘alaih.
Karena soalnya saja telah mengandung pembutaan dan penyesatan terhadap manusia, maka jawabannya juga dari jenis soal itu (dari sisi pembutaan dan penyesatan terhadap manusia –pent) di mana Al-Wushobi tidak terang-terangan mengungkapkan maksud dan tujuannya. Ucapannya untuk menyuruh manusia untuk ‘berhenti dari sikap itu’, begitu saja secara mutlak membikin manusia kebingungan terhadap urusannya, apalagi perkara fitnah ini telah begitu jelas bahkan kian hari makin nampak jelas, serta para penasihat yang terpercaya dari kalangan ahlus sunnah makin hari makin bertambah bashirah dan makin dapat membedakan hizbiyah mereka. Dan al-haq wajib dibayan (dijelaskan) dengan dalil-dalil dan burhannya, demikian juga kebatilan wajib dijelaskan dengan dalil-dalil dan burhannya, dengannya-lah manusia akan berjalan di atas bashirah (ilmu/hujjah yang nyata) terhadap urusan mereka, dan melapangkan dada serta menentramkan hati-hati mereka, juga menghilangkan kesedihan mereka, agar yang celaka, celaka dengan bukti dan yang selamat akan selamat dengan bukti.
Demi Alloh yang tiada sesembahan yang berhak diibadati kecuali Dia dan tiada Robb selainNya kebanyakan manusia telah goncang, heran dan bingung, penyebabnya adalah sikap tam’yi’ (tidak tegas dalam menyikapi ahlul bathil), tidak menolong ahlul haq (yang tegas dalam menyikapi mereka) dan ucapan yang tidak jelas ini yang menjadikan manusia berada dalam kebingungan, bukannya mereka menunjuki manusia kepada al-haq yang murni, bukan juga mereka mentahdzir manusia dari kebatilan, lantas mereka mengira mereka telah berlaku baik, dan type yang demikian ini seringnya berada di belakang, bagaimana kiranya jikalau mereka mendapati manusia telah mengambil tempat-tempat mereka sedang mereka tidak mendapatkan sedikitpun ruang untuk ikut, sedang kafilah akan berangkat, lalu mereka berteriak dengan suara lantang: “tunggu kami”! Bukankah kami dulunya bersama kalian? Maka mereka menjawab dengan satu kata: “benar” akan tetapi menyingkirlah kalian wahai orang-orang yang merubah dan mengganti, melembek dan menyia-nyiakannya, terfitnah dan memitnah, sedang fitnah telah berjalan tiga tahun dan memasuki tahun ke empat dan pancaran sinar al-haq telah memancar, dan bukti-bukti tak terkalahkan, bersamaan dengan itu kami tidak mendapatkan seorangpun dari mereka baik itu Abdurrohman Al-Adeni hizbi lagi fajir atau komplotannya ataupun anak buahnya semisal Al-Wushobi dan Al-Jabiri dan siapa saja yang berada pada jalur mereka, ataupun para penyeru kepada kelembekan (manhaj), pengucap ucapan yang tidak jelas maksud dan tujuannya, dan pemutar balik fakta (ada yang membantah dan menjelaskan dengan tuntas hujjah-hujjah yang telah dipaparkan –pent).
Demi Alloh yang tiada sesembahan yang berhak diibadahi selainNya kami tidak dapati seorangpun dari mereka yang menjelaskan dengan tuntas apa yang menjadi ajang pertikaian pada fitnah ini dan menegakkan dalil-dalil dan burhan yang menegaskan kebatilan bukti-bukti Syaikhuna yang mulia Abu Abdirrohman Yahya Al-Hajuri –semoga Alloh menambah karuniaNya dan menyenangkan dengannya/memanjangkan umurnya- dan membatalkan dalil-dalil beliau satu persatu, dengan tolak ukur ilmu dari kitab dan sunnah serta manhaj salafush sholeh Rhidwanallohu ‘alaihim ajma’in, rahasianya adalah apabila mereka enggan dan menolak dalil-dalil ini mereka akan terbongkar kebodohannya, karena semuanya sepakat bahwa prilaku-prilaku ini tidaklah timbul kecuali dari para hizbiyyin yang telah menyimpang dari sunnah, oleh karena itulah mereka tidak mampu membahas dengan tuntas pokok permasalahan yang menjadi ajang pertikaian pada fitnah ini. Dan hal itu akan dikuatkan apabila diucapkan kepada mereka: Apa sikap kalian dari tindakan-tindakan berikut ini:
1-Pencanangan Al-Wala dan Baro’ demi Abdurrohman Al-‘Adeni dari pihak komplotannya yang fajir, meskipun harus memecah belah dakwah dan barisan salafi, apa jawaban kalian?
2-Memprovokasi antara ulama dan muridnya, dan menanamkan perselisihan di antara mereka, menimbulkan kebencian antara mereka, serta berpindah-pindah dari satu syaikh ke syaikh yang lain baik itu di Yaman ataupun di Su’udiyah ataupun selainnya untuk adu domba, apa pendapat kalian?
3-Merebut masjid-masjid ahlus sunnah, ditambah lagi memperalat aparat, serta memprovokasi orang-orang awam untuk itu.
4-Celaan dan cercaan yang beruntun terhadap Asy-Syaikh Yahya Ro’ahulloh, dan juga markaznya, serta melarikan dan menghalangi manusia darinya serta melawan dan menentang dakwah, apa menurut kalian?
5-Tidak komitmennya Abdurrohman Al-Adeni dengan apa yang kalian tuntutkan darinya untuk berlepas diri dari komplotannya dan taubat serta meminta udzur/maaf terhadap apa yang telah terjadi.
6-Upaya Abdurrohman melembekkan perkara fitnahnya, dengan mengobarkan kekacauan seputar permasalahan Jami’ah Islamiyyah, guna memalingkan manusia dari mempelajari fitnahnya, bukankah seharusnya orang yang fajir dan pelaku dosa ini melepaskan dirinya dari hizbiyyah, Maka diam manakah yang lebih kalian puji wahai orang yang memuji diamnya Abdurrohman? Apakah diamnya ia dari pembelaan terhadap harga dirinya ataukah diamnya dia dari Jami’ah Islamiyyah, ataukah kalian menganggap diamnya dia dari perkara pertama (membela harga dirinya) itu wajib dan dari perkara kedua (perkara Jami’ah islamiyyah) itu haram, karena kalau dia terus terang mengenai perkara yang pertama akan menyingkap hakikat perkaranya, dan kalau dari perkara yang kedua akan menutupi aib dan hizbiyahnya, apa menurut kalian mengenai hal ini?
Asy-Syaikh Al-Wushoby ini menempuh cara (uslub) keji, dan cara memutar balikkan fakta serta memalingkan perhatian manusia dan menghalau mereka dari melihat ta’ashshubnya terhadap hizbiyyah baru ini, dengan jubah/slogan “pembelaan terhadap Abdurrahman Al-Adeny sang ular hitam putih” dan dengan topeng “menolong orang yang dizolimi” juga “menjaga lisan” sembunyi, sembunyi, dan sembunyi. Semua itu dilakukan untuk menutup penyimpangan-penyimpangannya dan dosa-dosa besarnya. Bukankah wajib baginya wahai para da’i hikmah dan ‘maslahat dugaan’ agar dia bertaubat dari celaannya terhadap Asy-Syaikh Al-Hadits di semenanjung ‘arabiyah (yakni Syaikh Muqbil rahimahullah -pent) dan dari ulahnya menjauhkan manusia dari Ma’hadnya (Dammaj) Darul Hadits dan pusat dakwah salafiyyah di alam semesta. Dan upayanya memalingkan manusia darinya (Dammaj) dengan kata-kata yang samar, zohirnya rohmah namun batiniyyahnya makar, tipu muslihat, dan khianat terhadap dakwah mubarokah ini. Bukankah wajib baginya agar bertaubat dari ta’shilath (membuat-buat usul dan qoidah sesat) seperti usul-usul dan qoidah-qoidah Abul Hasan dan Adnan ‘Ar’ur dan berlepas diri dari seluruh apa-apa yang menyelisihi prinsip-prinsip salafiyyah dan qoidah-qoidah syar’iyyah disertai kejujuran pada taubat-taubatnya tadi dan masih banyak lainnya.
Ada apa dengannya menggembar-gemborkan perkara lain atas dasar perkara lainnya. Bukankah ini cukup untuk merendahkan Asy-Syaikh maftun ini? Demikian juga cukup untuk menegur, menghardik, dan menghentikannya pada batasnya, daripada mengangkat citranya dan membersihkannya dengan mencari-cari hujjah (syubhat) yang lebih lemah dari sarang laba-laba yang tidak memberi faedah kepada dakwah salafiyyah senilai bawang pun. Sampai ada di antara mereka menuduh orang yang ma’ruf kejujurannya, nasihatnya Dan kecemburuannya terhadap dakwah yang berberkah ini bahwasanya dia ingin menjatuhkan (pamor) Asy-Syaikh Al-Maftun ini (Al-Wushoby) padahal orang (si penuduh) ini tidak menyadari bahwa Allah Ta’ala-lah yang mengangkat derajat seorang hamba berdasarkan kadar tamassuknya (berpegang teguh) terhadap sunnah dan menjatuhkan derajatnya menurut kadar penyelisihannya terhadap sunnah
﴿ قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ﴾ [آل عمران : 26]
“Katakanlah: “Wahai Alloh pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan tadi dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [Ali Imron: 26].
Si penuduh ini tidak menyadari bahwasanya dosa-lah sebab jatuhnya suatu umat dan turunnya adzab atas mereka, bahkan terkadang disebabkan satu dosa saja Allah membinasakan suatu umat. Terkadang sebagian mereka telah banyak memberi khutbah dan muhadhoroh mengenai dampak-dampak negatif dosa dan bahaya-bahayanya terhadap ummat dan pribadi. Namun ketika dosa itu timbul dari Asy-Syaikh Muhammad malah dia memperlakukannya dengan perlakuan orang yang lupa?
Dan sebagian mereka tahu dengan penyimpangan Al-Wushoby dan ta’shilatnya yang rusak, serta bergelimangnya dia di dalam kebatilan dan keras kepala terhadap Al-Haq dan berlarut-larut dalam berselisih dan selainnya dari keburukan yang merupakan sebab bangkitnya kebanyakan para penasehat yang cemburu terhadap dakwah mubarokah ini, dan larinya mereka darinya, serta menjauhnya mereka darinya. Bersamaan dengan itu dia tetap saja berupaya untuk mengangkat citranya (Al-Wushoby) dan menganjurkan manusia untuk menghadiri muhadhoroh-muhadhorohnya dan kunjungannya serta menuntut ilmu di sisinya. Dan selainnya dari penipuan dan keculasan terhadap manusia serta tidak menasehati dengan nasehat yang murni……
Ucapan Al-Wushobi: dan hendaknya dia berjalan bersama para ‘ulama.
Catatan: Bahkan wajib atasmu dan selainmu untuk berjalan bersama al-haq, dalil dan hujjah baik itu nampak dari orang besar ataupun kecil, inilah ilmu hakiki, inilah sawadul a’dzom (golongan terbanyak) di sisi para salaf rahmatullahi ‘alaihim yaitu apa-apa yang mencocoki kebenaran, adapun yang menyelisihi kebenaran maka itu adalah kebodohan dan syudzudz (menyendiri) tanpa melihat banyak atau sedikitnya orang yang mengucapkannya. Dikarenakan kita diperintahkan untuk memgambil al-haq dan berpegang teguh kepadanya serta menyeru kepadanya. Allah Ta’ala berkata:
﴿ أَفَمَنْ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ أَحَقُّ أَنْ يُتَّبَعَ أَمْ مَنْ لَا يَهِدِّي إِلَّا أَنْ يُهْدَى فَمَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ ﴾ [يونس/35]
“Apakah orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk? Ada apa dengan kalian? Bagaimanakah kalian berhukum?” [Yunus: 35].
Dan berkata Allah Ta’ala:
﴿ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ ﴾ [يونس/32]
“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka Bagaimanakah kalian dipalingkan (dari kebenaran)? [Yunus: 32]
Dan berkata:
﴿ لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا ﴾ [النساء/114]
“Tiada kebaikan pada kebanyakan dari bisikan-bisikan mereka, kecuali siapa yang menyuruh bersedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mendamaikan antara manusia (yang saling berselisih). Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhoan Allah, Maka kelak Kami akan memberi kepadanya pahala yang besar.” [An-Nisa’: 114].
Ucapan Al-Wushoby: Sebagaimana Nabi kita Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tangan Allah bersama Al-Jama’ah”.
Catatan : “Tangan Allah bersama Al-Jama’ah” yakni yang bersatu di atas kebenaran dan tegak di atas kebenaran. Di mana ummat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan bersatu di atas kesesatan, yang mana kesepakatan mereka adalah hujjah. Sebagaimana hadits Abdillah bin Mas’ud Rodhiyallohu ‘anhu:
فما رأى المسلمون حسنا فهو عند الله حسن وما رأوا سيئا فهو عند الله سيئ
“Apa saja yang kaum muslimin menganggapnya baik, maka dia di sisi Allah juga baik, dan apa-apa yang mereka anggap buruk maka di sisi Allah juga buruk.” (HR.Imam Ahmad, Dihasankan oleh Syaikhina Al-Imam Al-Mujaddid Al-Wad’i rahmatullahi ‘alaih)
Dan tidaklah sesuatu itu diterima dengan baik di sisi Allah, kecuali sesuatu itu tegak di atas kebenaran. Bukan di atas hawa, taqlid, dan kebutaan. Jadi ahlussunnah akan bersatu di atas kebenaran dan dakwah kepada al-haq adalah dakwah kepada ‘jama’ah’, meskipun yang berdakwah kepada kebenaran itu hanya seorang diri, maka dia dianggap jama’ah (yang hakiki).
Ibnul Mubarok rahimahullah berkata: “Abu Hamzah As-Sukkary sendiri itu adalah jama’ah.”
Maka di manakah engkau (wahai Wushobi), dan apa yang kamu hukumi dari penindasan terhadap prinsip-prinsip ilmiyah salafiyyah yang Allah mengangkat dengannya kaum-kaum dan menjatuhkan kaum-kaum selainnya karena menyelisihi prinsip-prinsip tersebut. Hendaknya kita mengambil ibrah (pelajaran) dari mereka (orang-orang yang menyelisihinya. Bagaimana Allah Ta’ala telah menjatuhkan mereka setelah dulunya mereka dianggap sebagai orang-orang terkemuka di sisi ahlussunnah –pent).
Al-Hafidz Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Jangan sampai membuatmu kesepian orang yang telah mengakui dirinya dan segenap ulama bahwasanya mereka bukan dari ahlil ilmi. Apabila kamu mendapati seorang saja dari ahlul ilmi yang senantiasa menuntut dalil, berhukum dengannya dan terus mengikuti kebenaran di mana pun dia (kebenaran tersebut) tak peduli kebenaran itu bersama dengan siapa pun. Yang penting dia adalah kebenaran pasti dia akan ikuti. Hilanglah rasa kesepian dan timbullah kasih sayang meskipun dia menyelisihimu, dia menyelisihimu dengan tetap memberimu udzur. Adapun orang bodoh dia menyelisihimu tanpa hujjah dan mengkafirkanmu atau membid’ahkan kamu tanpa hujjah, menvonismu berdosa dan membencimu berdasarkan manhajnya yang buruk, dan sirohnya yang tercela. maka janganlah engkau tertipu dengan banyaknya tipe ini karena beribu-ribu jenis ini tidak sebanding dengan seorang pun dari ulama, dan seorang saja dari ulama sebanding dengan seluruh penghuni bumi dari jenis semacam ini.
Ketahuilah sesungguhnya ijma’ dan hujjah serta ‘golongan terbanyak’ adalah alim yang disertai dengan kebenaran meskipun dia seorang diri, walaupun seluruh penghuni bumi menyelisihinya. ‘Amr bin Maimun Alaudi berkata “Saya belajar dengan Muadz di Yaman, dan saya tidak meninggalkannya sampai beliau meninggal di Syam, kemudian saya belajar dengan orang yang paling faqih Abdullah bin Mas’ud. Suatu hari aku mendengarnya berkata: “Hendaknya kalian bersama jama’ah karena tangan Allah bersama jama’ah”, kemudian di suatu hari aku mendengarnya berkata: “Akan berkuasa atas kalian suatu pemerintah yang mengakhirkan sholat dari waktunya maka dirikanlah sholat pada waktunya. Jadikanlah itu sebagai faridoh kemudian sholatlah bersama mereka sebagai sholat nafilah.” Maka kukatakan “Wahai sohabat Muhammad saya tidak paham dengan ucapanmu”, beliau berkata: “Yang mana itu?” Kukatakan: “Dulu engkau menyuruhku untuk bersama jama’ah dan menganjurkanku untuk itu, lantas kemudian engkau katakan padaku sholatlah sendiri sebagai faridoh kemudian sholat bersama jama’ah sebagai nafilah”, Beliau berkata: “Wahai Amr bin Maimun dulu kukira engkau termasuk orang yang paling faqih di desa ini, tahukah engkau apakah jamaah itu?” Kujawab: “tidak,” beliau berkata: “Sesungguhnya mayoritas kelompok telah meninggalkan al-jama’ah, al-jama’ah adalah apa-apa yang mencocoki kebenaran walaupun engkau sendirian, dan di lafadz lain: Tiba-tiba beliau memukul pahaku seraya berkata: “Celaka kamu, sesungguhnya jumhur manusia itu telah meninggalkan jama’ah, dan sesungguhnya al-jama’ah itu apa saja yang mencocoki ketaatan kepada Allah Ta’ala.
Nu’aim bin Hammad berkata : “Apabila jama’ah telah rusak, maka tetapilah apa yang dulunya jama’ah berada padanya sebelum rusaknya. Meskipun engkau seorang diri engkau-lah jama’ah saat itu.” (Disebutkan oleh Al-Baihaqi dan selainnya)
Sebagian ahlul hadits berkata setelah disebutkan di sisi mereka ‘golongan terbanyak’: “Tahukah kamu siapakah ‘golongan terbanyak’ itu? dia adalah Muhammad bin Aslam At-Thusy dan teman-temannya.”
Orang-orang penyelisih telah merubah dan menganggap “golongan terbanyak” “hujjah” dan “jama’ah” adalah jumhur (mayoritas) dan menjadikannya bukti atas salahnya as-sunnah, menjadikan sunnah bid’ah, ma’ruf jadi munkar, hanya karena minimnya pengembannya dan bersendirinya dia di setiap waktu dan tempat, seraya mereka mengatakan: barangsiapa yang menyendiri (syadz) niscaya Allah akan menyendirikannya di neraka. Padahal para penyelisih tidak tahu bahwa syadz itu adalah apa-apa yang menyelisihi kebenaran walaupun seluruh, manusia berada di atasnya kecuali satu orang dari mereka, maka mereka itulah yang syadz.
Orang-orang pada zaman Imam Ahmad telah syadz kecuali beberapa orang saja, sedang para hakim, mufti pemerintah dan pengikutnya, semuanya syadz Imam Ahmad sendirilah jama’ah. Tatkala akal-akal mereka tidak mampu memahaminya. Akhirnya mereka katakan kepada kholifah: “Wahai amir jadikah anda para hakim anda, bawahan, orang-orang faqih serta para mufti anda semuanya berada di atas kebatilan. lantas Ahmad sendirilah yang berada di atas kebenaran? Sangat disesalkan ilmunya tidak menggapai hal itu akhirnya dia mendera Imam Ahmad dan menyiksanya, setelah menahannya dalam jangka waktu yang lama. Laa ilaaha illallah sungguh mirip malam ini dengan kemarinnya, inilah jalan yang disiapkan untuk ahlussunnah wal jamaah, sampai mereka bertemu Robb mereka, para salaf mereka telah menempuhnya dan yang datang setelah mereka tengah menunggunya
﴿ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا ﴾ [الأحزاب/23].
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati janji mereka kepada Allah, Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang tengah menunggu (janji Allah) dan mereka tidak merobah (janji mereka) sedikitpun.” [Al-Ahzab: 23].
wa laa haula wa laa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim –selesai- [I’lamul muwaqqi’in 3/408-410].
Al-hafidz Abul Qosim Al-laalikai rahimahullah berkata: telah mengabarkan kami Abdurrahman bin Umar dia berkata: telah mengabarkan kami ahmad bin Ya’qub dia berkata telah mengabarkan kami kakekku Ya’qub bin Syaibah dia berkata telah mengabarkan kami Zakariyya bin Sahl Al-Marwazi dia berkata telah mengabarkan kami Ali bin Hasan bin Syaqiq dia berkata pernah kutanya Abdullah bin Mubarok tentang jamaah beliau menjawab: Abu Bakar dan ‘Umar. “Syarh ushulul I’tiqod ahlussunnah wal jamaah” 5/no.1890.
Al-Hafidz Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata di I’lamul muwaqqi’in (1/29): “Apabila dia (Imam Ahmad) mendapati nash (dalil) beliau pasti akan berfatwa dengannya tanpa menoleh kepada yang menyelisihinya ataupun siapa yang menyelisihinya siapapun dia …” sampai akhir ucapan beliau rahimahullah.
Jadi al-haq itulah yang teranggap sama saja apakah yang berucap dengannya satu orang ataupun jama’ah.
Al-Imam Asy-Syathibi rahimahullah berkata: Dahulu para imam setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan orang-orang yang terpercaya dari ulama sebagai teman bermusyawarah pada perkara-perkara yang mubah agar mengambil yang paling mudah dari perkara tersebut, apabila didapati pembahasan perkara tadi pada kitab dan sunnah mereka tidak akan menyelisihinya kepada selainnya, sebagai bentuk ittiba’ terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar pernah berpendapat memerangi orang yang enggan mengeluarkan zakat, maka Umar berkata: bagaimana engkau memerangi mereka sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ فَإذا قَالوا لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ فَقَدْ عصموا مِنِّى دماءهم وأموالهم إِلاَّ بِحَقِّها وَحِسَابُهُم عَلَى اللَّهِ
“Saya diperintahkan memerangi manusia hingga mereka mengatakan: Laa ilaha illallah, apabila mereka telah mengatakannya, darah dan harta mereka telah terjamin dariku, kecuali dengan haknya, dan perhitungan mereka di sisi Allah.”
Kemudian Umar-pun mengikutinya setelah itu, jadi Abu Bakar tidak menoleh kepada musyawarahnya, karena ketika itu telah jelas di sisinya hukum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang-orang yang membedakan antara shalat dan zakat, dan mau mengganti agama dan hukum-hukumnya, sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
((من بدل دينة فاقتلوه))
“Barangsiapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah dia.”
Juga para qurro’ yang dijadikan oleh Umar sebagai teman musyawarahnya baik mereka itu pemuda ataupun orang tua, dan Umar adalah orang yang senantiasa berhenti di mana kitabulloh berhenti padanya. Kalimat ini termasuk dari kalimat yang dia sebutkan pada judul bab itu yang serasi pada tema ini, yang menunjukkan bahwasanya para sahabat tidak mengambil ucapan-ucapan para tokoh untuk menyelisihi Al-Haq, melainkan dari segi mereka adalah sarana yang menghantarkan kepada syari’at Allah, bukan dari segi mereka adalah pemilik kedudukan atau demikian atau demikian, akan tetapi sebagaimana yang telah lewat, dan ibnu Mazin pernah menyebutkan dari ‘Isa bin Dinar, dari Qosim, dari Malik bahwasanya ia berkata: Tidak semua ucapan yang diucapkan oleh para tokoh itu diikuti meskipun tokoh itu memiliki keutamaan, sebagaimana perkataan Allah ‘Azza wa Jalla:
﴿ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ﴾ [الزمر/18]
“Orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik.” [Az-Zumar: 18].
Jika telah jelas Al-Haq-lah yang dianggap bukan para tokoh, maka Al-Haq juga tidak diketahui tanpa perantaranya bahkan dengan merekalah dicapai kebenaran tersebut, dan merekalah para penunjuk jalan kepadanya.-selesai- [Al-I’thishom 2/361-362].
Al-haq adalah agama, wajib mengikutinya, beramal dan menyeru kepadanya. Dan barangsiapa yang mengetahui kebenaran tidak boleh baginya bertaklid (mengekor) siapa saja yang menyelisihi kebenaran itu menurut kesepakatan para ulama.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Oleh karena itulah para ulama sepakat bahwasanya apabila seseorang telah mengetahui kebenaran, tidaklah boleh baginya taklid (mengekor) seorangpun untuk menyelisihinya.” [lihat majmu’ fatawa 7/71]
Pengemban kebenaran tidaklah sepantasnya merasa kesepian karena banyaknya penyelisih, dan minimnya orang yang menempuh kebenaran itu.
Al-Imam Ibnul Wazir rahimahullah berkata di “iytsarul haq ‘alal khalq”: Tidak seyogyanya seorang yang telah diberi petunjuk kepada kebenaran merasa kesepian karena banyaknya orang yang menyelisihinya, sebagaimana orang zuhud tidak merasa kesepian karena banyaknya orang yang tidak zuhud, demikian halnya orang yang bertaqwa. Tidak merasa kesepian karena banyaknya pelaku maksiat. Juga orang yang banyak berdzikir karena banyaknya orang yang lalai, bahkan seyogyanya dia merasa bangga dan syukur karena mendapat petunjuk kepada al-haq dan dikhususkan dengannya, bersamaan dengan banyaknya orang yang bodoh dan lalai terhadap al-haq tadi, dan hendaknya dia mempersiapkan dirinya untuk itu …” -selesai yang diingikan-.
Al ‘Allamah Shiddiq Hasan Khan rahimahullah berkata di”Qothfut tsimar” hal.176: “Seorang yang telah mencapai/memperoleh kebenaran janganlah merasa kesepian karena banyaknya penyelisih, bahkan hendaknya dia mempersiapkan dirinya untuk terus bersabar dan yakin (di atas kebenaran itu -pent), kami memohon kepada Allah Ta’ala agar merahmati keasingan kita di atas al-haq dan menunjuki orang-orang sesat di antara kita dan supaya Ia tidak menolak kami dari pintu permohonan kepadaNya”. Selesai.
Al-Imam Al-Auza’i rahimahullah berkata: “Wajib atas engkau menetapi atsar-atsar salaf, meskipun manusia tidak menerimamu, dan waspadailah pendapat-pendapat para tokoh walaupun mereka perindah dengan lidah manis mereka.” –selesai- lihat “lum’atul I’tiqod”.
Ucapan Al-Wushoby: Juga sebagaimana sabda Beliau Shallahu ‘alaihi wa Sallam:
البركة مع أكابركم
“Barakah itu ada pada orang-orang besar kalian (yakni besar dalam hal ilmu dan kedudukan).”
Catatan: Konsekwensi dari apa yang di isyaratkan oleh Al-Wushoby adalah bahwa kebenaran itu tidaklah diambil kecuali dari kibarul ulama yang terkenal di sisinya. Sedang hadits itu tidak menunjukkan hal itu, tidak dari dekat dan tidak pula dari jauh. Cukuplah ini sebagai kedustaan, kepalsuan dan permusuhan.
Nabi Allah Sulaiman ‘Alaihish Sholatu was Salam mengetahui kesyirikan ratu Saba’ hanya dari khobar burung hud-hud kepadanya, sebagaimana telah diketahui bersama. Termasuk dari bab ini perkataan Allah Ta’ala:
﴿ فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ ﴾ [الأنبياء/79]
“Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat).” [Al-Anbiya: 79].
Pada hukum antara dua wanita yang berselisih mengenai anak kecil.
Adapun perkatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
البركة مع أكابركم
“Barakah itu ada pada orang-orang besar kalian (yakni besar dalam hal ilmu dan kedudukan).”
Al-Munawi rahimahullah berkata sebagaimana di “Faidhil Qadhir 3/220: Yaitu orang-orang yang telah banyak berpengalaman, yang senantiasa beramal mulia, maka bermajlislah dengan mereka supaya kalian dapat meneladani, dan mengikuti petunjuk mereka atau yang dimaksudkan adalah orang yang memiliki kedudukan dalam bidang keilmuan meskipun umurnya masih muda maka wajib memuliakannya sebagai bentuk penghormatan terhadap kesucian al-haq yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kepada mereka.” –selesai yang diinginkan-.
Kukatakan: Tidak ada penghalang untuk membawa hadits tadi kepada kedua makna tersebut. Karena barakah adalah tetapnya kebaikan ilahi pada sesuatu dan ini umum. Maka tidaklah barakah itu menetap pada kebatilan, karena kebatilan itu tidaklah memiliki kebaikan sama sekali.
Al-Imam Ibnu Muflih rahimahullah berkata di “Adabusy Syar’iyyah” hal.364: Pasal mengambil ilmu dari ahlinya meskipun mereka berumur muda.
Imam Ahmad rahimahullah berkata: Telah sampai kepadaku ucapan Ibnu Uyainah: “Anak kecil adalah ustadz dia menuturkan ucapan tersebut kepada ucapannya: Hanyalah yang membinasakan kita adalah sifat congkak”
Faidah Al-Allamah Syaikhul Islam Ibnu Baz rahimahullah berkata “….Kemudian seorang penuntut ilmu setelah itu hendaknya memiliki keinginan yang sangat kuat untuk tidak menyembunyikan sedikitpun dari perkara yang dia ketahui. Hendaknya memiliki keinginan yang kuat untuk menerangkan al haq dan membantah musuh agama Islam, tidak bermudah-mudahan ataupun menyingkir ke pinggir-pinggir. Maka hendaknya dia itu senantiasa menyeruak muncul di medan sesuai dengan kemampuannya. Jika ada musuh Islam yang membikin syubuhat dan cercaan, hendaknya dia tampil untuk membantah mereka secara tertulis, atau lisan dan lain-lain. Jangan bermudah-mudahan dan berkata,”Urusan ini untuk orang lain”, bahkan hendaknya dia berkata,”ini memang urusanku, Akulah bagiannya” Walaupun di sana ada para pemimpin yang lain, dan pelajar ini khawatir masalah tersebut akan lepas dari penanganan, maka hendaknya dia terus tampil dan tidak menepi ke pinggir. Tapi justru hendaknya dia tampil pada saat yang tepat untuk menolong al haq dan membantah musuh agama Islam….” Dst -dinukil dari terjemah Al-Akh Abi Fairuz hafidzahullah-
Ucapan Al-Wushoby: Selama para ‘ulama dan para masyaikh tersebut – jazahumullah khairan- berjalan bersama Al-Haq, berjalan bersama dalil, berjalan bersama ilmu, dan berjalan bersama sikap inshaf (adil)
Catatan: Seperti ini harusnya ditetapkan kepada manusia, dan komitmen dengannya serta menyeru kepadanya. Kebenaran-lah yang menjadi timbangan setiap orang, dan pendapat-pendapat para tokoh tidak berarti manakala kebenaran sudah nampak dan jelas,
Ucapan Al-Wushoby: Dan inilah yang terjadi berkaitan dengan fitnah ini. Para ulama – jazahumullah khairan- yang telah menandatangani kesepakatan di Ma’bar, kemudian kesepakatan di Al-Hudaidah, kebenaran ada bersama para ‘ulama tersebut. Sungguh Allah telah memberikan taufik kepada mereka, menyatukan kalimat mereka, dan menepatkan pendapat mereka. Sebagaimana kalian ketahui juga dari nasehat Asy-Syaikh Rabi’ – waffaqahullah-, ini adalah nasehat yang sangat berharga, yang digabungkan dalam dua hasil kesepakatan (para ‘ulama) di atas. Yakni maknanya, bahwa Asy-Syaikh Rabi’ juga bersama para ‘ulama tersebut. Dan Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri juga bersama para ‘ulama. Maka sepakatlah sikap para masyaikh dalam fitnah ini -dengan karunia Allah ‘Azza wa Jalla- bahwa: ‘Abdurrahman Al-‘Adani tetap termasuk Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan bahwa Al-Hajuri telah salah dalam memvonis Asy-Syaikh ‘Abdurrahman sebagai hizbi. Inilah al-haq dan inilah yang benar.
Catatan: Ucapan ini atasnya beberapa sanggahan:
Sanggahan pertama: Para masyaikh yang menandatangani penjelasan Ma’bar dan Hudaidah tidak seorang pun dari mereka yang membatalkan dalil-dalil Syaikh Yahya Ro’ahullah dan mereka tidak mengungkit sedikit pun darinya.
Sanggahan kedua: Bagaimana bisa kebenaran bersama mereka, sedangkan seluruh penjelasan-penjelasan pada asalnya tidak mengandung hujjah, di mana seorang penuntut ilmu bisa berhujjah dengannya. Ujung-ujungnya adalah ungkapan global, menggambarkan perkaranya tidak sesuai dengan kenyataan dan peremehan terhadap fitnah ini, yang sedang bergejolak dalam dakwah salafiyyah tidak lebih dari itu, dan hal ini tidaklah bisa dipungkiri kecuali oleh siapa yang Allah telah butakan mata hatinya.
Sanggahan ketiga: Inti hasil dari pertemuan Ma’bar dan Hudaidah bahwa mereka satu kata bahwasanya hizbiyyah Al-Adeni belum nampak bagi mereka, kalau belum nampak bagaimana bisa kebenaran bersama mereka? Dan telah diketahui bersama bahwasanya “yang tahu adalah hujjah bagi yang belum tahu”. Hujjah mana yang engkau bersandar dengannya pada perajihanmu Ini. Karena tarjih dan pengambilan suara bukan berdasarkan mayoritas. Akan tetapi berdasarkan burhan.
Sanggahan keempat: mereka (para masyaikh) sendiri telah bersepakat bahwasanya Al-Adeny ini telah menimbulkan fitnah di dalam dakwah salafiyyah, dan fitnah bergejolak dari bawah kakinya, dan engkau sendiri (wahai Syaikh Al-Wushoby) telah mengetahuinya lalu menyembunyikannya sebagaimana pada kunjungan pertamamu ke Dammaj pada awal mula fitnah Al-Adeni kemudian Asy-Syaikh Yahya bangkit dan menghadapi fitnah tadi, namun di sisi lain kami tidak mendengar sedikitpun pengingkaran darimu terhadap Al-Adeni dan komplotannya itu. Apakah masuk akal setelah semua ini datang seorang tukang bikin kabur seperti orang maftun ini (Al-Wushoby). seraya mengatakan: yang benar pada keadaan ini, yang benar bahwa Al-Adeni bukanlah hizbi.
Sanggahan kelima: Anggaplah kebenaran bersama mereka, timbul pertanyaan: Apakah yang mestinya kuperbuat dengan bukti-bukti dan burhan-burhan yang jelas ini yang membuktikan hizbiyyah Al-Adeni Al-Fajir? Mau kukemanakan hujjah yang telah tegak itu? Sedangkan para masyayikh yang bertanda tangan sampai sekarang belum mendatangkan hujjah sehingga saya bisa membantah hujjah-hujjah yang sangat jelas ini? Adakah yang mengambil pelajaran?
Sanggahan keenam: Bagaimana bisa kebenaran bersama mereka, sementara tidak seorang pun dari mereka yang membahas dengan tuntas perkara yang menjadi ajang pertikaian pada fitnah ini?
Sanggahan ketujuh: Bagaimana bisa kebenaran bersama mereka, sedang tidak kita dapati seorang pun dari mereka yang menentang kelaliman Al-Wushoby, Al-Jabiri, dan Al-Adeni beserta apa-apa yang mereka masukkan ke dalam dakwah, dari fitnah, kerusakan dan pengelompokan.
Sanggahan kedelapan: Dari talbis si maftun ini yang paling besar adalah ucapannya: “Maka sepakatlah sikap para masyaikh dalam fitnah ini -dengan karunia Allah ‘Azza wa Jalla- bahwa: ‘Abdurrahman Al-‘Adani tetap termasuk Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan bahwa Al-Hajuri telah salah dalam memvonis Asy-Syaikh ‘Abdurrahman sebagai hizbi…. Sikap para ‘ulama sepakat sekarang, sebagaimana mereka telah sepakat sebelumnya, dalam: menyalahkan Al-Hajuri,
Kukatakan: Ijma’ ini kalaupun ada sebagaimana yang engkau katakan, maka dia itu batil, penjelasannya dari beberapa sisi:
`1. Bahwasanya suatu ijma’ harus bersandarkan dengan kitabullah dan sunnah Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Syaikhul Islam rahimahullah berkata: “Tidaklah didapai kesepakatan ijma’ kecuali terdapat nash (yang ia bersandar dengannya). –selesai yang diinginkan, lihat majmu’ fatawa 10/159-
Al-hafidz ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: Mustahil ummat ini sepakat atas sesuatu yang menyelisihi nash (dalil) kecuali di sana ada nash lain yang menasakhnya.-selesai yang diinginkan-
Abu Al-Mudzoffar As-sam’ani rahimahullah di “Qowathi’ul Adillah” (3/220,221,222) berkata: “Ketahuilah sesungguhnya ijma’ tidak akan terikat kecuali berdasarkan dalil yang mengharuskannya, karena perbedaan pendapat dan tujuan menghalangi terbentukya kesepakatan, kecuali dikarenakan sebab yang menuntut hal itu… Dan sekelompok kaum telah membolehkan adanya ijma, dengan taufik dari Alloh tanpa dalil dan tanda?!!!
Dan ini tidak benar, karena kalau boleh bagi sekelompok ummat untuk berkata tanpa dalil, begitu pula akan boleh bagi setiap individu dari mereka untuk berkata tanpa dalil, dan manakala tidak boleh bagi setiap orang dari mereka, demikian halnya tidak boleh bagi jama’ah mereka, karena (hanya) dalil-lah yang menghantarkan kepada kebenaran, maka jika tidak ada dalil tidak ada pula kebenaran itu, dan telah lewat penjelasannya bahwa keadaan ummat ini tidaklah lebih baik dari pada keadaan Nabinya, sedangkan ma’lum bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah berkata melainkan dengan dalil, jadi ummat sekarang tidaklah mengucapkan apa yang mereka ucapkan melainkan dari dalil terdahulu. Apabila telah tetap bahwasanya ijma’ itu tidaklah terikat kecuali dengan dalil, maka tidak diragukan lagi bahwa ijma’ terjadi dengan kitab dan sunnah.-selesai yang diinginkan-
Maka manakah sandaran ijma ini wahai wushobi? Di atas asas apakah berdirinya? Apabila engkau menganggap ijma’ adalah hujjah, adapun jika engkau tidak menganggap ijma’ adalah hujjah, tapi yang menjadi hujjah di sisimu adalah burhan, maka burhan telah nampak jelas bagi setiap orang yang berakal jernih akan hizbiyyah Al-‘Adeni, sedang engkau hanya menolak hujjah-hujjah itu dengan fanatik, hawa, keonaran, dan fitnah murni terhadap dakwah dan mempermainkan akal-akal manusia dan manarik perasaan mereka untuk mendapatkan perlindungan dari peyimpangan-penyimpanganmu dari jalan yang lurus pada ucapan-ucapan dan tindakan-tindakanmu yang keji.
2-Bagaimana bisa dibenarkan bagimu untuk menukil ijma’ wahai Wushobi, sedang dari orang-orang yang engkau sebutkan pada ijma’ itu terdapat orang-orang yang telah jelas penyimpangan dan permusuhannya terhadap sunnah dan para pengembannya semacam engkau dan Al-Jabiri. Engkau sendiri tidak mengingkari apa-apa yang timbul dari Al-Jabiri dari fitnah yang hati kalian berdua telah serupa, bahkan engkau menganggapnya salah satu dari orang-orang yang berijma’ (bersepakat) bersamamu, mana wala’ dan baro yang benar terhadap al-haq dan pengembannya?
3-Kebanyakan dari mereka (para masyayikh yang di sebutkan oleh Al-Wushobi -pent) ujung-ujungnya yang ada pada mereka adalah belum nampak bagi mereka hakikat sebenarnya fitnah ini, apa sebabnya? telah lewat penyebutannya.
4-Bagaimana bisa dibenarkan bagimu untuk menukil ijma’, sedang kamu sendiri telah melontarkan ucapan mungkar dan dusta atas nama dakwah dan Markaz Dammaj, juga kamu masih terus saja menimbulkan fitan atasnya. Maka siapa kiranya yang akan menerima nukilan ini darimu setelah engkau sendiri telah menyianyiakan adalah (kredibilitas)mu, maka pada penukilanmu ini masih perlu dilihat (diteliti).
5-Bagaimana bisa dibenarkan bagimu wahai Wushobi untuk menukil ijma’, sedang orang-orang yang kamu nukilkan ijma’nya telah kamu celah agamanya, dan kamu menuduhnya dengan tuduhan keji, seperti tuduhanmu kepada sebagian mereka sebagai suruhan (orang bayaran), jasus (mata-mata), apakah dibenarkan bagimu setelah itu untuk berhujjah dengan orang-orang yang demikian halnya di sisimu?
6-Kemudian daripada itu jika benar ijma’ ini berarti ahlus sunnah juga telah satu kata atas berlepasnya engkau dari fitnah ‘Abdurrohman Al-Adeni, karena apabila asalnya sudah lepas, akan demikian juga cabangnya, dan pasti, maka datangkanlah siapa yang melepaskan engkau dari fitnah yang sudah engkau perbuat terhadap dakwah di Darul Hadits Dammaj.
7-Kemudian bagaimana bisa dibenarkan bagimu untuk menukil ijma’ bahwa Al-Adeni yang fajir –Akhzahulloh- itu termasuk dari ahlis sunnah, Apakah ulah-ulahnya ini kita bisa nisbatkan kepada ulama’ wahai Wushobi? Atas bukti apa kita tidak boleh menvonisnya sebagai hizbi, kecuali jika dia telah bergabung dibawah tatanan atau hizbi yang telah ada sebelumnya, bukankah orang-orang yang condong kepada kesesatan terdahulu telah bercabang-cabang menjadi beberapa kelompok? Dan setiap kelompok yang sesat masing-masing punya pimpinan? Sebagaimana hal ini telah ma’ruf di kitab-kitab aqidah, maka kelaziman dari sangkaan ini, kelompok-kelompok yang sesat itu tidaklah dibenarkan/diakui keberadaanya.
8-Dan anggaplah ijma’ itu benar sebagaimana anggapanmu, bukankah merupakan hal yang ma’ruf di sisi para ahli ushul bahwa penentangan/ketidak setujuan seorang ulama itu teranggap dan meruntuhkan ijma’ (dalam satu zaman).
Berkata Az-Zarkasyi rahimahullah di Al-Bahr Al-Muhith 4/476: “Apabila mayoritas telah sepakat, tapi seseorang menyelisihi mereka, maka ucapan selainnya bukanlah ijma’ bukan pula hujjah, Inilah yang masyhur, inilah madzhab jumhur. Hal ini di hikayatkan oleh Abu Bakr Ar-Rozy dari Al-Karkhi dari teman-teman mereka.-selesai yang diinginkan-
Berkata Al-‘Allamah Al-Utsaimin rahimahullah di”syarh al ushul min ‘ilmil ushul” (hal.453-454): “Apabila didapati yang menyelisihinya walaupun hanya satu orang, maka itu bukanlah ijma’, terutama apabila orang yang menyelisihi ijma’ itu dikenal dengan keilmuan dan kefaqihannya, maka perselisihannya dianggap, ucapan kami (walaupun satu orang) berbeda dengan Ibnu Jarir Rahimahullah. Karena Ibnu Jarir pemilik “tafsir” berpendapat bahwa satu atau dua orang tidaklah meruntuhkan ijma’ dan apabila ummat telah sepakat kecuali satu atau dua orang meskipun mereka (yang menyelisihi ijma) termasuk dari yang paling faqih dari hamba Allah maka ijma’ tetap terikat. Namun pendapatnya Ibnu Jarir ini menyelisihi pendapat jumhur ulama. Adapun jumhur ulama mereka berkata: Apabila ada yang menyelisihi ijma’ meskipun dari satu orang maka itu bukanlah ijma’. -selesai yang diinginkan-.
Kukatakan (Al-Amudi): Dan Syaikh kami (Asy-Syaikh Yahya Al-Hajuri hafidzahullah) yang mulia termasuk dari ulama sunnah, Ahlid Diyanah wash Shiyanah (pengemban dien dan penjaganya) dengan kesepakatan ahlul fiqh dan atsar, bahkan musuh-musuh sunnah juga mengakui hal itu, kecuali orang-orang yang hasad, dengki, dan iri maka khilaf mereka tidaklah dianggap. Sungguh Asy-Syaikh Yahya dan beribu-ribu ahlul haq yang mengerti hakikat hizbiyyah ini dengan bukti-buktinya serta melihatnya dengan mata kepala telah meruntuhkan “ijma’ bohongan” ini yang pantasnya dinamai khilaful ijma’ cocok atasnya ucapan Imam Ahmad rahimahullah (yang terdapat dalam ucapan Ibnul Qoyyim rahimahullah berikut ini):
Al-Hafidz Ibnul Qoyyim Rahimahullah berkata di “I’lamil Muwaqqi’in” 1/30: Imam Ahmad rahimahullah tidak pernah mendahulukan sesuatupun terhadap hadits shohih, tidak amalan, pendapat, kiyas, ucapan teman, tidak pula karena ketidak tahuannya keberadaan orang yang menyelisihnya, yang kebanyakan orang menamainya ijma’ lantas mendahulukannya atas hadits shohih, Imam Ahmad telah mendustakan orang yang mengatakan ini adalah ijma’ sedang tidak bisa didepankan atas hadits yang tsabit (shohih) demikian juga Asy-Syafi’i mentanshish bahwa barangsiapa tidak mengetahui adanya pada suatu perkara perselisihan, tidaklah dikatakan itu ijma’, lafadznya: Apa-apa yang tidak diketahui padanya perselisihan maka itu bukanlah ijma’. Abdulloh bin Ahmad bin Hanbal berkata: Aku telah mendengar ayahku berkata: “Apa-apa yang seseorang mengatakan itu ijma’ maka dia dusta, barangsiapa yang mengaku-ngaku ijma’ maka dia pendusta, bisa jadi manusia berselisih sedang dia tidak tahu atau belum mendapati hal itu, hendaknya dia katakan: kami tidak tahu orang-orang berselisih pada hal ini, (mengaku-ngaku adanya ijma’ ini adalah) dakwahnya Bisyr Al-Murisy dan Al-Ashom, akan tetapi dia katakan: Kami tidak mengetahui orang-orang berselisih atau belum sampai kepadaku adanya perselisihan, inilah lafadznya (yang benar -pent).”
Dan nash-nash (hadits-hadits) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu lebih mulia di sisi Imam Ahmad dan segenap imam ahlil hadits untuk mendahulukan atasnya ‘ijma’ sangkaan’ yang mengandung makna ketidaktahuan adanya khilaf (perselisihan), seandainya hal itu diperbolehkan niscaya nash-nash dalil akan rusak dan boleh bagi setiap orang yang tidak mengetahui adanya khilaf pada suatu hukum masalah, mendahulukan ketidaktahuannya terhadap adanya khilaf atas nash-nash dalil, pengakuan ijma’ inilah yang diingkari oleh Al-Imam Ahmad dan Asy-Syafi’i, bukan yang disangkakan oleh sebagian orang bahwa ijma’ itu tidak mungkin ada.-selesai-
Maka dengan ini tercabutlah kedustaan ini sampai ke akar-akarnya, dan urusan ini kembali kepada hujjah-hujjah yang telah dipaparkan oleh Asy-Syaikh Yahya hafidzahullah yang menunjukkan hizbiyyah Al-‘Adeni dan komplotannya, dan dapat diketahui kebodohan Muhammad bin ‘Abdil Wahhab terhadap usul (landasan-landasan/prinsip-prinsip syar’i), atau hawa telah membutakannya dari fasal-fasal dan penukilan-penukilan ini, wallohul musta’an.
Ucapan Al-Wushobi: Sebagaimana juga kalian ketahui dengan kesepakatan para ‘ulama dalam dengan fitnah Abul Hasan –mudah-mudahan Allah memberikan taufik kepada para ‘ulama di Yaman dan di luar Yaman- maka sepakatlah sikap mereka hingga sekarang -dengan karunia Allah- menyalahkan Abul Hasan, bahwa Abul Hasan telah salah dalam tuduhannya terhadap para masyaikh bahwa mereka adalah Hadadiyah, dan upayanya menjauhkan (umat) dari mereka (para ‘ulama tersebut), bahwa dia (Abul Hasan) telah salah dalam sikapnya tersebut.
Catatan: Ucapannya: Sebagaimana juga kalian ketahui dengan kesepakatan para ‘ulama dalam dengan fitnah Abul Hasan…. bahwa dia (Abul Hasan) telah salah dalam sikapnya tersebut.
Kukatakan: Ini dalil bahwa dulunya ada khilaf antara ahlus sunnah pada fitnah Abul Hasan, ucapannya: “bersepakat”, yakni setelah timbulnya perselisihan, inilah yang ma’ruf.
Sebabnya adalah, dulu para masyaikh yang bertanda tangan pada penjelasan sekarang ini, ketika itu berada pada satu sisi, sedangkan para ulama hadits semacam Al-‘Allamah Robi’ hafidzahullah, Al-‘Allamah Ahmad An-Najmi Rahimahullah dan Al-‘Allamah Yahya Al-Hajury hafidzahullah, berada di sisi lain di mana mereka menjelaskan penyimpangan Abil Hasan, menampakkan keculasan usul-usulnya yang rusak dan kaidah-kaidahnya yang tidak berbobot. Sedang mereka para penanda tangan masih dalam menasihati untuk Abil Hasan, menolong, dan membelanya, bahkan sebagian mereka mengeluarkan malzamah (artikel) menampakkan ta’ashshub (fanatik)nya kepada Abil Hasan, kemudian menuduh selainnya dengan tuduhan yang tidaklah dilontarkan oleh seorang yang memahami salafiyyah. Terlebih lagi termasuk dari salah satu anaknya, dan artikelnya yang mengandung pembelaan terhadap kebatilan itu masih tetap didapati di sebagian lemari perpustakaan, kami ingatkan dengan hadits:
(( لا يلدغ المؤمن من جحر واحد مرتين))
“Tidaklah seorang mukmin itu disengat dua kali pada lubang yang sama.”
Dan sebagian mereka sangat goncang pada fitnah itu, terkadang berkata: Abul Hasan imam, juga berkata: Abul Hasan Termasuk dari kalangan ahlis sunnah, dan di atas leher ini (terhormat di sisinya –pent), terkadang berkata: kesalahan-kesalahannya sama dengan kesalahan-kesalahan salah seorang dari ulama sunnah, dan di antara mereka ada yang bergabung bersama hizbiyyin, dan namanya tercantum di daftar barisan mereka, dan namanya masih terus tercantum pada kertas yang di namakan “baroatudz dzimmah”.
Bahkan Al-Wushobi sendiri ditanya oleh penduduk kota Risab wilayah Yafi’ tentang Abul Hasan, dia menulis kepada mereka bahwa Abul Hasan termasuk dari kalangan ahlus sunnah, akhirnya masjid mereka jatuh ke tangan pengikut Abul Hasan, padahal sebelumnya masjid itu adalah salah satu benteng Ahlus sunnah, dahulunya Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah mengirim ke situ murid-murid seniornya, akhirnya masjid itu jatuh ke tangan mereka sampai sekarang, sebagaimana mengabarkanku Abu ‘Amr Ali Al-Bunani dan Zain Al-‘Ubari keduanya asal Yafi’ hafidzahumallah dan semoga Allah memberi manfaat dengan keduanya, Betapa banyak orang yang menyimpang dari sunnah dan menjadi lembek dan berpaling dari kebenaran disebabkan pembelaan-pembelaan terhadap para pelaku kebatilan dan tidak terang-terangan dengan nasihat atau berlepas diri yang nyata dari kesalahan-kesalahan mereka yang tampak.
Kemudian setelah itu engkau datang berbangga hati wahai Wushobi bahwa Ahlus sunnah telah satu kata, bukannya kamu memuji Allah Ta’ala karena menyelamatkan dan menjagamu dari fitnah Abil Hasan, dan engkau lupa atau pura-pura lupa dulunya engkau berkata: “Duhai kiranya kita dulu tolong menolong dengan Al-Hajury (pada fitnah Abul Hasan) di awal harinya.”
Maka pada hakikatnya –dan Al-Haq diucapkan-: Bahwasanya kalaulah bukan Allah Ta’ala yang menolong kita dengan ulama hadits, niscaya akan menimpa kebanyakan kita apa yang tidak terpuji akibatnya.
Wajib atas setiap orang untuk mengetahui keutamaan dan kapasitas orang yang memilikinya, dan mensyukuri jerih payahnya yang sesuai dengan manhaj salafiyyah dalam memperjuangkan apa yang Allah karuniakan kepadanya Al-Haq dengan bukti-buktinya, dan memperingatkan manusia dari kebatilan dan penolongnya di awal harinya, dengan berlandaskan nash-nash adillah dan kaidah-kaidah agama, seperti hadits: ((الدين النصيحة)) (agama itu adalah nasihat), dan kaidah: “Tidak boleh menunda penjelasan ketika dibutuhkan”, juga kaidah: “Yang tahu adalah hujjah atas siapa yang tidak tahu”, serta kaidah: “Yang menetapkan lebih didahulukan daripada yang menafikan”, dan selainnya.
Kemudian sesungguhnya Abul Hasan telah Allah Ta’ala hinakan dan telah Dia lakukan, penyimpangannya bukanlah sebatas menuduh ahlus sunnah bahwa mereka adalah haddadiyyah, dan menjauhkan manusia dari mereka, tidak, bukanlah perkaranya demikian, sebagaimana yang disangkakan orang maftun ini (Al-Wushobi).
Ini adalah termasuk dari kekejiannya yang paling besar, ditambah dengan: membuat-buat usul-usul, dan kaidah-kaidah yang rusak, menghimpun orang-orang disekitarnya dan menjadikan mereka kelompok, mengadu domba antar ulama dan membuat kerancuan kepada manusia terhadap kebaikan dan sunnah yang telah mereka peroleh dari mata air yang jernih ini (Ma’had Dammaj) dan masih tetap demikian adanya, pembelaannya terhadap pengekor hawa nafsu dan mencari-cari udzur untuk mereka disertai dengan sanjungan untuk mereka, dan pengingkarannya terhadap sunnah serta mencela Darul Hadits Dammaj, juga melecehkan Syaikh dan mahkotanya, dan lain-lain, tidak lupa manhajnya yang bebas menerima siapa saja yang sekarang ditempuh oleh Al-Wushobi, sebagaimana sejajarnya sayap panah dengan lainnya (maksudnya sama persis -pent), demikian upayanya untuk melembekkan bab Al-jarh, dan menjatuhkan kerja keras pengembannya para penasihat yang terpercaya, sebagaimana yang diketahui dari Al-Wushobi ini, dan selain itu banyak.
Sedangkan Abdurrahman si fajir menuduh Syaikhuna dan murid-muridnya bahwa mereka itu ghuluw dan ini lebih keji dibanding tuduhan Abul Hasan bahwa mereka haddadiyah sebagaimana pada selebarannya yang zalim pemiliknya dimana pemiliknya berkata di situ: “Saya bersumpah dengan nama Allah yang ‘adzim (Maha Agung)…, akan datang penyebutan sumpah fajirnya.
Al-Akh Al-fadhil Abdussalam Asy-Sya’bi raahulloh berkata: Ketika sampai berita kepada Abdurrohman Al-‘Adeni bahwa Fâlih mencela Syaikh Yahyâ, ‘Abdurrohmân berkata: “Biarkanlah dia (Fâlih) mengurangi sifat kerasnya,” dia maksudkan: Asy-Syaikh Yahyâ.
Al-Akh Al-Fadhil Hamud Al-Wa’ili berkata: “Tatkala Syaikhunâ mengingatkan terhadap kesalahan sebagian masyâyikh tentang pembelaan mereka terhadap Abul Hasan, ‘Abdurrohmân berkata: “Apaa?! Dia mengkafirkan mereka?!” Maka Al-Akh ini menjawab: “Tidak, itu hanya nasehat.”. lihat Mukhtashor Bayan, hal.36/”bongkar tuntas” hal, 103.
Abdurrahman Al-Amiriy berkata: Bahkan dia (yakni Syaikhuna ra’ahulloh) telah melampaui Al-Bakri dalam ghuluw, dusta, dan celaan terhadap ulama, dan berita semacam ini dari pihak mereka telah mencapai tingkat tawatur.
Abu Qois Al-Libi –Akhzahulloh- berkata: Al-Haddâd memuntahkan Fâlih dan Fâlih memuntahkan Yahyâ, dan si khobits (busuk, keji, jahat) berkata: Jalan yang ditempuh Al-Hajûrî adalah jalannya masûni yang berbahaya adapun Al-Bakrî adalah salafî meskipun Al-Haddâdiyah benci dengan ucapan ini, dan berkata -semoga Allah memotong lidahnya-: Kelompok Hajûriyyah adalah bancinya Al-Haddâdiyah dan Al-Harbiyah, Dan si fuwaisiq (fasik kelas rendah) berkata: Kelompok Al-Hajuriyyah adalah tahinya Al-Haddadiyyah, dan si fajir berkata: Syaikh kalian Al-Fujûrî menempuh jalan Fâlih Al-Harbi bahkan lebih parah.
‘Ubaidillah As-Salafi (salah seorang yang bertopeng dengan identitas palsu) berkata di malzamahnya: Sisi kesamaan antara Al-Hajuriyyah dan Al-Haddadiyyah….dan makin hari Al-Hajuriyyah dan kelompoknya makin mirip dengn Al-Haddadiyyah….juga menyifati Syaikhina ro’ahulloh bahwa beliau menunjukkan khilaf kenyataan dari keadaannya.
Kalau kita gabungkan kejelekan-kejelekan ini wahai Wushobi dengan tahdziran mereka dari Dammaj dan upaya mereka menjauhkan manusia darinya serta celaan mereka terhadap Syaikh dakwah salafiyyah di Yaman, mungkinkah engkau wahai Wushobi memvonis mereka sebagai orang-orang yang menyimpang sebagaimana engkau memvonis Abul Hasan? Ataukah ini butuh penelitian lebih lanjut untuk memvonis mereka demikian, dan tidak mengapa menyebarkan artikel-artikel si fajir ini di mesjidmu, sedang bantahan-bantahan ahlus sunnah terhadap kebatilan dan kemungkaran tadi itu adalah fitnah. Atas hak apa dan sandaran apa atau atas dasar akal sehat mana sehingga timbul peremehan dan penutupan terhadap kebenaran, serta penipuan terhadap masyarakat dengan membangkitkan lawannya dari kebatilan dengan tingkah laku atau ucapan?!
Ucapan Al-Wushobi: ….dan vonis Al-Hajuri bahwa Abdurrahman Al-‘Adni hizbi adalah vonis tidak benar, karena vonis tersebut tidak tegak di atas hujjah.
Catatan: Sungguh mirip ucapan ini dengan ucapan orang yang Allah Ta’ala berkata tentangnya:
﴿ وَمَا قَدَرُواْ اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُواْ مَا أَنزَلَ اللَّهُ عَلَى بَشَرٍ مِّن شَيْءٍ قُلْ مَنْ أَنزَلَ الْكِتَابَ الَّذِي جَاء بِهِ مُوسَى نُورًا وَهُدًى لِّلنَّاسِ تَجْعَلُونَهُ قَرَاطِيسَ تُبْدُونَهَا وَتُخْفُونَ كَثِيرًا وَعُلِّمْتُم مَّا لَمْ تَعْلَمُواْ أَنتُمْ وَلاَ آبَاؤُكُمْ قُلِ اللَّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ ﴾
“Dan mereka tidak menghormati Allah sebagaimana mestinya, di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia”. Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kalian jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kalian perlihatkan (sebahagiannya) dan kebanyakan kalian sembunyikan, Padahal kalian telah diajarkan apa yang kalian dan bapak-bapak kalian tidak mengetahui(nya)?”Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.” [Al-An’am: 91].
Dan perkataan-Nya:
﴿ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَبَ عَلَى اللَّهِ وَكَذَّبَ بِالصِّدْقِ إِذْ جَاءَهُ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ  وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ  لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ذَلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ  لِيُكَفِّرَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَسْوَأَ الَّذِي عَمِلُوا وَيَجْزِيَهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴾ [الزمر/32-35]
“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat Dusta atas nama Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir? Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka Itulah orang-orang yang bertakwa. Bagi mereka apa yang mereka kehendaki di sisi Robb mereka. Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat baik, agar Allah menutupi (mengampuni) bagi mereka perbuatan yang paling buruk yang mereka kerjakan dan membalas mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [Az-Zumar: 32-35].
Dan berkata:
﴿ وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ ﴾ [الأحقاف/11]
“Manakala mereka tidak mendapat petunjuk dengannya Maka mereka akan berkata: “Ini adalah dusta yang lama”.” [Al-Ahqof: 11].
Dari Abi Said Al-Khudri Rodhiyallohu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
( يدعى نوح يوم القيامة فيقول : لبيك وسعديك يا رب فيقول : هل بلغت ؟ فيقول : نعم يا رب فيقول لأمته : هل بلغكم ؟ فيقولون : ما أتانا من نذير فيقال : من يشهد لك فيقول : محمد صلى الله عليه و سلم وأمته ) قال صلى الله عليه و سلم : فيشهدون أنه قد بلغ ويكون الرسول عليهم شهيدا فذلك قوله : { وكذلك جعلناكم أمة وسطا لتكونوا شهداء على الناس ويكون الرسول عليكم شهيدا } ) ] والوسط : العدل
“Nuh ‘Alaihis Salam dipanggil (oleh Robbnya) pada hari kiamat maka dia berkata: Labbaika wa Sa’daik Ya Robb (artinya: Aku memenuhi panggilanMu wahai Robb dan bantulah aku menunaikan ketaa’atan kepadaMu): Robbnya berkata: Apakah engkau telah menyampaikan risalah? Ia menjawab: Iya, kemudian dikatakan kepada ummatnya: Apakah Nuh telah menyampaikan (risalah) kepada kalian? Mereka menjawab: Tidak datang seorang pemberi peringatan pun kepada kami, maka dikatakan kepada Nuh ‘Alaihis Salam siapa saksimu? Dia berkata: Muhammad dan Ummatnya, lalu kalian bersaksi bahwa dia telah menyampaikan risalah kepada kaumnya ﴿وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا﴾”Dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian.”Demikian itulah perkataan Jalla dzikruhu:
﴿ وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ﴾ [البقرة/143]
“Dan demikianlah Kami jadikan kalian (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian.” [Al-Baqoroh: 143]
Ucapan Al-Wushobi: Sebagaimana kalian ketahui juga dalam sejarah, peristiwa terkait dengan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma. Sikap Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepakat bahwa ‘Ali radhiyallahu ‘anhu adalah yang benar dan Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu telah keliru, beliau berijtihad namun keliru dan kebenaran ada bersama ‘Ali. Mereka semua adalah para shahabat radhiyallahu ‘anhum.
Catatan: Dalil ijma’ ini adalah hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha berkata: berkata Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Ammar:
« تَقْتُلُكَ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ »
“Kelompok yang melampaui bataslah yang akan membunuhmu” HR.Muslim.
Dan ‘Ammar ketika itu berada di barisan Ali bin Abi Tholib. Semoga Allah meridhoi sohabat Rosulullah.
Dan di shohih muslim dari Abi said Al-Khudry Rodhiyallohu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
(( تمرق مارقة عند فرقة من المسلمين يقتلهم أولى الطائفتين بالحق ))
“Akan keluar khawarij di tengah berpecahnya kaum muslimin (kelompok Ali bin Abi Thalib dan kelompok Mu’awiyah), akan diperangi oleh kelompok yang paling dekat kepada kebenaran (kelompok ‘Ali Rodhiyallohu ‘anhu). HR. Muslim
[Lihat juga sebagai tambahan “Al-Awashim minal Qowashim” milik Imam Ibnil ‘Arobi rahimahullah hal. 168 dan setelahnya, dan “Al-Farq bainal Firaq” (309-310) dan “At-Tadzkiroh” Hal. 626-627)].
Syahid dari apa yang telah lewat adalah kesepakatan ahlus sunnah bahwa ‘Ali yang benar memiliki sandaran, adapun ucapan Asy-Syaikh Muhammad tidak memiliki sandaran.
Ucapannya: Maka sepantasnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah memahami perkara ini, bahwa manusia tidak terlepas dari kekeliruan. Keberadaan dia sebagai seorang shahabat atau sunni Ahlus Sunnah tidak berarti dia terlepas dari kesalahan. Maka para ‘ulama -jazahumullah khair- baik pada masa lampau maupun sekarang, sama saja apa yang terjadi di kalangan para shahabat, atau di antara dua imam besar, antara Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli, atau yang lainnya. Telah terjadi di antara mereka yang berada di atas aqidah yang satu dan manhaj yang satu, terjadi beberapa kekeliruan dari sebagain orang.
Catatan: Pada ucapan ini terdapat pembutaan dan khianat ilmiyyah, mengecoh orang-orang sehingga mereka mengira bahwa apa yang terjadi antara dua Imam besar, Al-Imam Adz-Dzuhli dan Al-Imam Al-Bukhori, hanyalah sesuatu yang timbul di dalam dada, ucapan/jarh dari teman sejawat (aqron) atau selainnya, dia inginkan dengan penyebutan kisah ini untuk menurunkan fitnah ini hanyalah sebagaimana kejadian yang telah lewat penyebutannya (antara dua Imam), dia tidak mengetahui bahwa yang benar ketika itu adalah Al-Imam Al-Bukhori rahimahullah.
Karena ‘si curang’ ini telah berdalih dengan kejadian tersebut bukan pada tempatnya guna merancukan perkara yang sebenarnya kepada manusia, saya akan nukilkan kisah tersebut dari muqoddimah Fathul Bari supaya orang-orang dapat melihat makar orang ini (Al-Wushobi).
Al-Hafidz ibni Hajar rahimahullah berkata di muqoddimah fathul bari hal. 514-516 beliau menyebutkan kejadian antara Al-bukhori dan Adz-Dzuhli seputar permasalahan lafadz, dan cobaan yang timbul karena perkara itu serta berlepas dirinya Al-Bukhori dari hal tersebut:
Abu ‘Abdillah Hakim berkata di kitab Tarikh-nya: Al-Bukhori datang ke kota Naisabur (Dimasyq, Syam) tahun 250, lalu dia tinggal beberapa waktu dan berniat mukim di situ, Al-Hakim berkata: Saya mendengar Muhammad bin Hamid Al-Bazzar, ia berkata: Saya mendengar Al-Hassan bin Muhammad bin Jabir, dia berkata: Saya mendengar Muhammad bin Isma’il Adz-Dzuhli berkata: “Pergilah kalian kepada orang sholeh lagi berilmu ini dan ambillah hadits darinya, Al-Hasan bin Muhammad bin Jabir berkata: Maka orang-orang (dari muridnya) pergi kepadanya untuk mengambil dan mendengar haditsnya hingga nampak celah di majelis Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli, dia berkata: Setelah itu Muhammad bin Yahya berbicara terhadap Al-Bukhori (menjarhnya).
Dan berkata Hatim bin Ahmad bin Mahmud, saya mendengar Muslim bin Hajjaj berkata: Ketika Muhammad bin Isma’il datang ke Naisabur, saya tidak pernah melihat seorangpun Dari pemerintah tidak pula seorang alim yang diperlakukan sebagaimana mereka memperlakukan Imam Bukhari. Mereka menjemputnya dua atau tiga kali. Dan berkata Muhammad Adz-Dzuhli di majelisnya “Siapa yang mau menjemput Muhammad bin Ismail besok, maka jemputlah, dan sayapun akan menjemputnya.” Maka Al-Bukhari di jemput oleh Muhammad bin Yahya dan segenap ulama Naisabur. Beliau turun di pemukiman orang-orang Bukhoro. Lalu Muhammad bin Yahya berkata kepada kami “Jangan sampai ada di antara kalian yang menanyakan kepadanya tentang “kalam”, sebab kalau dia menjawab dan menyelisihi pendapat kita, akan timbul di antara kita dan dia perselisihan dan orang-orang nashibi, rofidhi, murji’i di Khurosan akan menertawakan kita. Imam Muslim berkata orang-orang berdesak-desakan mengunjungi Muhammad bin Ismail (Bukhori), sampai-sampai rumah-rumah dan atap-atap di penuhi oleh manusia, kemudian hari kedua atau ketiga dari sampainya dia di Naisabur, seseorang bertanya tentang ‘lafadz Al-Qur’an, maka dia pun menjawab: perbuatan-perbuatan kita itu makhluk, dan lafadz-lafadz kita termasuk dari perbuatan kita.” Imam Muslim berkata: Maka timbullah perselisihan di antara manusia, ada di antara mereka yang mengatakan Imam Bukhori mengatakan lafadzku dengan Al-Qur’an adalah makhluk, dan sebagian lainnya berkata: Imam Bukhori tidak mengatakan demikian. Perselisihan berlanjut sampai sebagian mereka pergi ke sebagian yang lain, lalu penghuni rumah bersepakat mengeluarkan mereka.
Dan berkata Abu Ahmad bin Ali sebagian masyayikh menyebutkan kepadaku bahwa tatkala Muhammad bin Ismail datang ke Naisabur dan manusia berkumpul di sekitarnya, sebagian masyaikh waktu itu hasad kepadanya, dan berkata ke ahli hadits bahwa Muhammad bin Ismail mengatakan: lafadzku dengan Al-Qur’an adalah makhluk. Pada suatu majelis seseorang datang kepadanya seraya berkata: Apa pendapat engkau tentang lafadz dengan Al-Qur’an apakah itu makhluk atau bukan? Lalu Al-Bukhari berpaling darinya dan tidak mau menjawabnya sebanyak tiga kali, dia pun mendesak akhirnya Al-Bukhari berkata: Al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk dan imtihan (menguji) itu bid’ah, maka orang itu jengkel dan berbuat gaduh seraya berkata ia sungguh telah mengatakan lafadzku dengan Al-Quran itu makhluk.
Berkata Al-Hakim telah menceritakan kepada kami kepada Abu Bakr bin Abi Haitsam, ia berkata telah menceritakan kepada kami Al-Farobri, dia berkata saya mendengar Muhammad bin Isma’il berkata: perbuatan-perbuatan hamba itu makhluk, telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdillah, dia berkata telah menceritakan kepada kami Marwan bin Muawiyah, ia berkata telah menceritakan kepada kami Abu Malik, dari Rib’i bin Harosy dari Hudzaifah ia berkata: Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
((إن الله يصنع كل صانع ومصنوع))
“Sesungguhnya Allah-lah yang menciptakan semua pencipta dan ciptaannya.”
Al-Bukhory berkata: Saya mendengar Ubaidillah bin Sa’id yakni Abu Qudamah As-Sarkhasi berkata saya masih terus mendengar teman-teman kami berkata bahwa perbuatan-perbuatan hamba itu makhluk. Muhammad bin Ismail berkata semua gerakan-gerakan, suara, perbuatan, dan tulisan mereka itu makhluk. Adapun Al-Qur’an yang jelas dan tetap di mushaf-mushaf dan tersimpan di dalam dada maka dia adalah kalamullah bukan makhluk. Allah Ta’ala berkata:
+ بَلْ هُوَ آَيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآَيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ _ [العنكبوت/49]
“Bahkan, Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang zalim.” [Al-‘Ankabut: 49].
Bukhari berkata dan Ishaq bin Rahawaih berkata: Adapun tempat-tempat yang menampungnya (Al-Qur’an) maka siapakah yang ragu bahwa itu adalah makhluk?!
Berkata Abu Hamid bin Asy-Syarqi, dia berkata saya mendengar Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli berkata: Al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk, barangsiapa yang berpendapat lafadzku dengan Al-Qur’an adalah makhluk maka dia itu mubtadi’ tidak boleh bermajelis dan bicara dengannya, dan barangsiapa setelah ini pergi ke Muhammad bin Ismail maka tuduhlah agamanya karena tidaklah yang menghadiri majelisnya kecuali dia berpendapat sama dengan Bukhori.
Al-Hakim berkata: Ketika timbul perpecahan antara Al-Bukhori dan Adz-Dzuhli dalam masalah “lafadz” orang-orang berhenti mendatangi Al-Bukhori kecuali Muslim bin Hajjaj dan Ahmad bin Salamah. Adz-Dzuhli berkata ketahuilah barangsiapa yang berpendapat lafadz dengan Al-Qur’an adalah makhluk maka tidak halal baginya menghadiri majelisku. Maka Imam Muslim mengambil syalnya (rida’) di atas imamahnya dan berdiri di tengah keramaian orang sambil mengembalikan kepada Adz-Dzuhli seluruh hadits yang telah dia tulis darinya dengan sopan. Al-Hakim berkata: Muslim telah berlaku inshof (adil) ia tidak meriwayatkan pada kitabnya dari Adz-Dzuhli dan tidak pula dari Al-Bukhari.
Dan Al-Hakim Abu Abdillah berkata: Saya mendengar Muhammad bin Soleh bin Hani, dia berkata saya mendengar Ahmad bin Salamah An-Naisaburi, dia berkata saya masuk bertamu kepada Al-Bukhari kemudian kukatakan: Wahai Abu Abdillah, sesungguhnya orang ini (Adz-Dzuhli) terpercaya dan diterima di kota Khurosan terutama di kota ini, dan telah berlarut-larut dalam permasalahan ini hingga tak seorang lagi dari kita bisa menyampaikan “perkara sebenarnya” kepadanya. Bagaimana menurutmu? Ahmad bin Salamah berkata: maka Imam Bukhari memegang jenggotnya kemudian berkata: Saya menyerahkan urusanku kepada Allah, sesungguhnya Allah itu bashir (Maha Melihat) hamba-hambanya, wahai Allah sesungguhnya Engkau tahu bahwa saya tidaklah mau tinggal di Naisabur untuk menimbulkan kerusakan dan bukan pula untuk menyombongkan diri dan bukan pula menginginkan kedudukan, hanya saja saya enggan kembali ke kampungku karena terdapat padanya banyak penyelisih sunnah, sedang orang ini telah hasad kepadaku dengan apa yang Allah karuniakan kepadaku tidak lain dari itu. Kemudian ia berkata kepadaku: Wahai Ahmad, saya akan pergi besok, supaya kalian tidak perlu lagi membicarakan tentangku kepadanya.
Al-Hakim juga berkata dari Al-Hafidz Abu Abdillah bin Al-Akhrom berkata: ketika Muslim bin Hajjaj dan Ahmad bin Salamah berdiri (keluar) dari majelis Muhammad bin Yahya karena Al-Bukhari, Adz-Dzuhli pun berkata: Saya tidak mau orang ini tinggal satu kota denganku, maka Al-Bukhori khawatir akhirnya ia meninggalkan kota itu.
Dan berkata Gunjar di tarikh Bukhari telah menceritakan kepada kami Khalaf bin Muhammad, dia berkata saya mendengar Abu ‘Amr Ahmad bin Nashr An-Naisaburi Al-Khoffaf di Naisaburi berkata: suatu hari kami berada di sisi Abu Ishaq Al-Qurosyi dan di barisan kami ada Muhammad bin Nashr bin Al-Marwazi kemudian pembicaraan berlangsung seputar Muhammad bin Ismail lalu Muhammad bin Nashr berkata: Saya mendengarnya berkata barangsiapa yang menyatakan bahwasanya saya berkata: “Lafadzku dengan Al-Quran adalah makhluk” maka dia itu pendusta, saya tidak pernah mengatakannya. Kukatakan kepadanya: Wahai Abu Abdillah orang-orang telah banyak berbicara tentang hal ini, ia berkata: Bukanlah melainkan apa yang telah kukatakan kepadamu. Abu ‘Amr berkata: Maka aku mendatangi Bukhori lalu aku mudzakaroh beberapa hadits dengannya hingga ia senang, kemudian kukatakan wahai Abu Abdillah ada orang yang menghikayatkan darimu bahwasanya engkau berkata ‘lafadzku dengan Al-Qur’an adalah makhluk maka Bukhori berkata: Wahai Abu ‘Amr camkan ini dariku, barangsiapa yang menyangka dari penduduk Naisabur dan dia menyebutkan beberapa kota lainnya bahwasanya saya mengatakan “lafadzku dengan Al-Qur’an adalah makhluk” maka dia adalah pendusta, karena saya tidak pernah mengatakannya, melainkan saya berkata perbuatan-perbuatan hamba itu makhluk.
Al-Hakim berkata: Saya mendengar Abu Walid Nisan bin Muhammad Al-Faqih, dia berkata saya mendengar Muhammad bin Nu’aim berkata: Saya bertanya kepada Muhammad bin Ismail ketika telah timbul fitnah ‘masalah lafadz’ tentang iman, beliau menjawab: Ucapan dan amalan, bertambah dan berkurang, dan Al-Qur’an itu kalamullah bukan makhluk, dan sahabat Nabi yang terbaik adalah Abu Bakr, kemudian Umar, lalu Utsman, lalu Ali. Di atas ini saya hidup, di atasnya-lah saya akan mati dan dibangkitkan insya Allah Ta’ala.-selesai yang diingikan-
Ucapan Al-Wushobi: Maka sepantasnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah memahami perkara ini, bahwa manusia tidak terlepas dari kekeliruan. Keberadaan dia sebagai seorang shahabat atau sunni Ahlus Sunnah tidak berarti dia terlepas dari kesalahan. Maka para ‘ulama -jazahumullah khair- baik pada masa lampau maupun sekarang, sama saja apa yang terjadi di kalangan para shahabat, atau di antara dua imam besar, antara Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli, atau yang lainnya. Telah terjadi di antara mereka yang berada di atas aqidah yang satu dan manhaj yang satu, terjadi beberapa kekeliruan dari sebagain orang.
Kukatakan: Ucapan-ucapan seorang ulama yang berijtihad berkisar antara satu pahala atau dua, dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Syaikhain dari Sahabat ‘Amr bin Ash Rodhiyallohu ‘anhu bahwa beliau mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
« إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ »
“Jika seorang hakim berhukum (dalam suatu perkara) kemudian dia berijtihad padanya lalu ia mencocoki kebenaran maka dia mendapat dua pahala, dan jika dia berhukum dan berijtihad, kemudian salah (dalam ijtihadnya itu) maka dia mendapat satu pahala.”
Al-Hafidz bin Hajar rahimahullah berkata: Ibnul Mundzir berkata: Seorang hakim yang berijtihad hanyalah diberi pahala jika salah dalam ijtihadnya apabila dia adalah ulama yang layak untuk berijtihad, adapun apabila dia bukanlah ahlinya maka dia tidaklah mendapat pahala, beliau berdalil dengan hadits ((القضاة ثلاثة)) artinya: “Hakim itu ada tiga jenis” dan dari lafadznya
((وقاض قضى بغير حق فهو في النار, وقاض قضى وهو لا يعلم فهو في النار))
artinya: “Dan Hakim yang berhukum tanpa hak maka tempatnya di neraka, dan Hakim yang berhukum dalam keadaan dia tidak memiliki ilmu maka tempatnya di neraka” diriwayatkan oleh para pemilik sunan dari Buroidah dengan lafadz yang berbeda-beda, saya telah mengumpulkan jalan-jalannya pada juz tersendiri, dan hadits pada bab ini dikuatkan dengan kisah Sulaiman terhadap hukum Daud ‘Alaihis Salam pada pemilik kebun, dan baru lewat isyarat kepadanya, berkata Al-Khotthobi: Dalam pengetahuan sunnah, seorang mujtahid itu baru bisa mendapat pahala apabila telah memiliki alat-alat ijtihad, dialah yang kita beri udzur apabila salah dalam berijtihad, berbeda dengan orang yang memaksakan dirinya untuk berijtihad (sedang dia bukanlah ahlinya) maka ditakutkan atasnya, kemudian seorang Alim hanyalah mendapat pahala apabila berijtihad karena ijtihadnya itu adalah ibadah untuk mencari kebenaran, ini kalau dia mencocoki kebenaran, adapun jika dia salah, maka dia tidak mendapat pahala atas kesalahannya itu tapi hanya diletakkan darinya dosa. Demikian dia ucapkan, sepertinya dia berpendapat bahwa ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:”maka dia mendapat satu pahala” sebagai kiasan dari terangkatnya dosa. –selesai- dan “Fathul Bari” 13/331.
Maka ucapannya: Keberadaan dia sebagai seorang shahabat atau sunni Ahlus Sunnah tidak berarti dia terlepas dari kesalahan.-selesai-
Ini adalah perkara yang diterima, tanpa diperselisihkan, dan yang selamat dari kesalahan adalah siapa yang Allah jaga, di hadits Al-Qudsi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
يَا عِبَادي ، إنَّكُمْ تُخْطِئُونَ باللَّيلِ وَالنَّهارِ وَأَنَا أغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً فَاسْتَغْفِرُوني أغْفِرْ لَكُمْ
“Wahai hamba-hamba-Ku sesungguhnya kalian sering bebuat dosa baik di malam maupun di siang hari, dan Aku adalah Dzat yang mengampuni semua dosa, maka mohonlah ampun kepada-Ku niscaya Aku akan memberi ampun kepada kalian.” HR. Muslim.
Dan padanya hadits Abi Musa Rodhiyallohu ‘anhu berkata: bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
إن الله عزّ وجلّ يبسط يده بالليل ليتوب مسيء النهار، ويبسط يده بالنهار ليتوب مسىء الليل حتى تطلع الشمس من مغربها
“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di siang hari, dan Ia membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di malam hari, hingga matahari terbit di sebelah barat (hari kiamat).” HR. Muslim.
Dalil-dalil ini dan banyak selainya menunjukkan kelemahan seorang manusia dan kekurangannya serta butuh dan fakirnya dia kepada Robbnya, tapi yang wajib untuk diketahui bahwasanya apabila timbul perselisihan di antara pemilik aqidah yang benar, aqidah salaf Ridhwanallohu Ta’ala ‘alaihim, tidak keluar keadaannya dari salah satu dari dua perkara berikut ini:
1- Apakah itu selisih paham (dalam memahami suatu dalil).
2- Ataukah perselisihan tanawwu’ (kedua ucapan atau perbuatan yang berbeda tersebut benar dan masyru’).
Dan timbulnya salah satu dari perselisihan yang telah lewat ataupun keduanya tidak mengharuskan pembid’ahan dan tidak pula menamainya sebagai orang sesat, di mana ahlus sunnah wal jama’ah menamainya dengan itu. Karena mereka bersatu di atas sunnah, saling mengasihi dan tidak menyatakan sesat dan tidak pula menyatakan mubtadi’ satu sama lain, berbeda dengan Ahlul bida’.
Bukan berarti mereka sengaja untuk menyelisih, tidak, semoga Allah menghindarkan mereka dari itu, tapi semuanya mengatakan sesuai dengan ijtihad mereka masing-masing yang mendekatkan mereka kepada Allah Ta’ala.
Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Perlu ditegaskan bahwa tidak seorangpun dari ulama yang diterima di sisi ummat dengan penerimaan secara umum yang sengaja untuk menyelisihi satupun dari sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik itu kecil maupun besar, karena mereka sepakat meyakini wajibnya mengikuti Rasul, dan setiap orang diambil dan ditinggal ucapannya kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun jika didapati dari salah seorang dari mereka ucapan yang menyelisihi hadits shohih, maka pasti dia punya udzur ketika meninggalkannya, orang-orang yang mendapat udzur ada tiga jenis: pertama: Dia tidak meyakini bahwa nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkannya, kedua: Dia tidak meyakini Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memaksudkan dengan hadits tersebut masalah itu. Ketiga; dia berkeyakinan bahwa hukum itu mansukh.” –selesai- [Rof’ul Malam, hal. 8-9].
Dan perselisihan semacam ini tidaklah menghilangkan sikap saling mencintai dan mengasihi antar ahlus sunnah.
Al-Imam Abul Mudzoffar As-Sam’ani rahimahullah berkata: “perselisihan antar ummat, ada dua jenis…..perselisihan yang tidak mengharuskan berlepas diri, dan tidak pula mencabut sikap kasih sayang….
Jenis berikutnya adalah perselisihan yang tidak mencabut sikap kasih sayang dan tidak pula mengharuskan untuk benci dan berlepas diri serta memotong sikap yang seharusnya dilakukan dalam islam, dia adalah perselisihan tentang kejadian yang tidak didapati nash-nash dalam cabang-cabang furu’ (masalah di luar aqidah), dan dalil-dalil pada permasalahan itu kabur, maka untuk mengetahui hukum-hukumnya dengan ijtihad.-selesai- [Qowathi’ul Adillah, 5/12-15]
Dan perselisihan semacam ini tidak mengapa diingkari, dan dijelaskan titik benarnya.
Al-Hafidz ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Ucapan mereka bahwa masalah yang diperselisihkan tidak ada pengingkaran padanya, tidaklah benar, karena pengingkaran tersebut apakah itu dijuruskan kepada ucapan atau fatwa atau amalan, adapun pertama (ucapan) apabila ucapan itu menyelisihi sunnah atau ijma’ yang ma’ruf maka wajib diingkari menurut kesepakatan ulama. Apabila tidak demikian halnya maka menjelaskan lemahnya ucapan tadi dan penyelisihannya terhadap dalil adalah pengingkaran semisalnya, adapun amalan apabila menyelisihi sunnah atau ijma’ maka wajib mengingkarinya sesuai dengan derajat pengingkaran, bagaimana bisa seorang faqih mengatakan tiada pengingkaran pada permasalahan-permasalahan yang diperselisihkan sedang para fuqoha sendiri dari segenap kelompok telah terang-terangan membatalkan hukum seorang hakim apabila hukum tersebut menyelisihi kitab dan sunnah, meskipun sebagian ulama mencocokinya dalam hukum tersebut? Adapun apabila pada permasalahan itu tidak didapati dalil sunnah dan tidak pula ijma’ dan bisa berijtihad padanya maka tidak diingkari orang yang beramal dengannya berdasarkan ijtihad ataupun taklid.
Hanya saja kerancuan ini masuk dari sisi orang yang mengucapkannya berkeyakinan bahwa masalah khilaf adalah masalah ijtihad, sebagaimana telah diyakini oleh beberapa kelompok yang tidak memiliki penelitian ilmu secara mendalam.
Benarnya adalah apa yang diyakini oleh para imam bahwa masalah-masalah ijtihad itu selama tidak didapati tentangnya dalil, maka wajib beramal dengannya sebagaimana wajibnya beramal dengan hadits shohih yang tidak ditentang oleh dalil sejenisnya maka bisa padanya –apabila tidak didapati dalil pasti yang mengharuskan beramal dengannya- berijtihad karena bertentangannya adillah atau karena tidak terdapat adillah tentangnya. Dan tidak boleh ucapan seorang Alim; ini adalah masalah pasti atau yakin, dan tidak boleh berijtihad padanya sebagai thon terhadap siapa yang menyelisihinya, tidak boleh pula menisbatkan kepadanya ucapan ‘sengaja menyelisihi yang benar’. Masalah yang diperselisihkan oleh salaf dan khalaf telah banyak yang kami meyakini kebenaran pada salah satu dari kedua pendapat tersebut seperti: wanita yang hamil ber’iddah sampai dia melahirkan, jima’ suami kedua adalah syarat halalnya perempuan tersebut bagi suami pertamanya (setelah thalaq ke tiga), dan wajib mandi junub hanya karena masuk walaupun air mani tidak keluar, riba fadhl adalah haram, nikah mut’ah hukumnya haram, nabidz yang memabukkan hukumnya haram, dan seorang muslim tidak dibunuh karena membunuh orang kafir, dan mengusap di atas khuffain boleh di waktu safar maupun mukim, dan sunnah ketika ruku’ adalah meletakkan kedua tangan di atas lutut bukan tathbiq (meletakkan kedua tangan di antara kedua lutut), dan mengangkat tangan sebelum turun dan bangun dari ruku’ adalah sunnah ….[sampai ke ucapan beliau]… dan masih banyak selainnya dari permasalahan, oleh karena itu para imam terang-terangan membatalkan hukum orang yang berhukum menyelisihi kebanyakan dari permasalahan-permasalahan ini, tanpa tho’n dari mereka terhadap siapa yang mengatakannya.
Apapun itu tidak ada udzur di sisi Allah bagi siapa yang telah sampai kepadanya hadits-hadits dan atsar yang tidak ditentang dengan dalil lain pada permasalahan ini, apabila dia mencampakkan dalil-dalil tersebut kebelakangnya. Lalu memilih taklid kepada orang yang ia dilarang untuk bertaklid kepadanya, sedang orang yang dia taklidi juga telah mengatakan kepadanya tidak halal bagimu berpendapat dengan pendapatku apabila pendapatku itu menyelisihi sunnah, apabila telah sahih suatu hadits maka jangan engkau pedulikan ucapanku, walaupun imam yang di taklidi tidak mengatakan hal itu kepadanya, memang inilah yang wajib atasnya, wajib bukan kebebasan untuknya memilih, dan juga walaupun imam itu mengatakan kepadanya selain itu tetap saja tidak boleh baginya kecuali mengikuti hujjah, meskipun tidak didapati dalam bab ini suatu haditspun tidak pula atsar sama sekali, maka seorang mukmin mengetahui hal ini secara darurat bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengajari para sahabatnya hiyal seperti ini, tidak pula menunjuki mereka kepadanya, seandainya beliau mengetahui salah seorang dari mereka ada yang melakukannya niscaya beliau akan mengingkarinya, dan tidak pernah didapati seorangpun dari sahabat yang berfatwa dengannya dan tidak pula mengetahuinya, dengan ini setiap orang yang punya sedikit pengetahuan tentang keadaan, perjalanan, dan fatwa-fatwa mereka (para salaf dari kalangan sahabat) bisa memastikan hal itu (keharusan ittiba’ dan menjauhi taklid), hal ini tidak perlu dalil lebih banyak dari pengetahuan seseorang tentang hakikat agama yang Allah utus dengannya Rasul-Nya.-selesai- [I’lamul Muwaqqi’in, hal. 300-301].
Apabila tidak didapati dalam suatu masalah nash (dalil) dan ijma’, boleh bagi seorang ‘alim yang memiliki bashirah (ilmu yang mapan) untuk berijtihad dan mengerahkan kemampuannya, dan menyimpulkannya kepada penuntut ilmu dengan hukum-hukum syari’at dengan cara istinbath (mengambil hukum) dari dalil-dalil syar’.
Adapun jika didapati dalam suatu masalah nash (dalil) atau ijma’ maka ijma’ itu tidak dianggap, dan ketika itu juga ijtihad jatuh dan terbuang.
Imam Asy-Syafi’I rahimahullah berkata: Tidak boleh bagi seorangpun untuk mengatakan pada sesuatu, hukumnya adalah halal dan tidak pula haram kecuali dari sisi ilmu yang dinashkan di dalam kitab dan sunnah atau ijma’ atau kiyas berdasarkan landasan-landasan ini, dan apa yang berada pada maknanya. Diriwayatkan oleh Ibni ‘Abdil Bar di “Al-Jaami’ 2/32.
Al-Hafidz Abu Bakr Al-Khotib rahimahullah berkata: Bab Jatuhnya Ijtihad dengan adanya Nash.-selesai- [lihat: Al-Faqih wal Mutafaqqih].
Al-Hafidz Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata di “I’lamul Muwaqqi’in” 2/260: Fasal Haramnya Berfatwa Dan Berhukum Dalam Agama Allah Dengan Apa Yang Menyelisihi Nushush (Dalil-dalil), Dan Jatuhnya Ijtihad Dan Taklid Ketika Nash Telah Diketahui, Dan Penyebutan Ijma’ Atas Itu.-selesai-
Jadi ijtihad itu terbatas [manakala nash-nash kitab dan sunnah belum nampak, maka masih tersisa ruang untuk meneliti, adapun perkara-perkara dan hukum-hukum yang telah dipastikan oleh dalil, maka pada asalnya berhukum dengan nash tanpa ditambahi, tanpa diperbaiki, dan tanpa perubahan sedikitpun, berdasarkan itu dapat diambil kesimpulan bahwa keluar dari perkara ijtihad beberapa perkara yaitu:
1-Aqidah, semuanya adalah perkara tauqifiyyah (harus berdasarkan dalil).
2-Diketahui hukumnya secara darurah (pasti): yakni apa yang telah menjadi kesepakatan akan kewajiban masalah itu, seperti wajibnya sholat, zakat, puasa, dan haji, haramnya zina, mencuri, minum khamr, dan membunuh jiwa tanpa hak, karena semua hal ini dan sejenisnya adalah ketentuan-ketentuan syariat yang telah diketahui, tidak diterima istinbath dari sisi ini.
3-Diketahui secara pasti dengan keabsahan penukilan dan dalilnya, seperti lafadz-lafadz yang khusus pada permasalahan itu seperti pembatasan jumlah cambukan atas orang yang berzina dan orang yang menuduh seseorang berzina (tanpa saksi), dan pembagian harta warisan dan semisalnya.
Dan jenis-jenis perkara inilah yang dikatakan padanya tidak ada ijtihad pada permasalahan yang terdapat padanya nash, maksudnya nash yang pasti (meyakinkan) dalam kesahihannya dan maksudnya, bukan hanya sekedar nash secara mutlak].-selesai- dari”Taisir ‘Ilmi Usulil Fiqh” hal. 343-345 dengan perubahan dan penyingkatan.
Dan jenis-jenis perkara ini (yaitu menyelisihi perkara-perkara yang telah lewat penyebutannya, yang tidak diperbolehkan berijtihad padanya -pent) mengharuskan berlepas diri dari pelakunya dan memboikot serta bersikap keras terhadap mereka.
Al-Imam Abul Mudzoffar As-Sam’ani rahimahullah berkata: Perselisihan antar ummat ada dua jenis, (pertama) perselisihan yang mengharuskan berlepas diri dan menimbulkan perpecahan dan mengangkat kasih sayang….
Adapun pertama: Seperti perselisihan dalam bidang tauhid, barangsiapa yang menyelisihi pilarnya maka dia kafir, dan wajib atas kaum muslimin untuk meninggalkannya dan berlepas diri darinya, hal itu dikarenakan dalil-dalil tauhid sudah banyak, jelas dan mutawatir, telah diterapkan di alam semesta dan keberadaannya telah meliputi setiap tempat, maka tidak diberi udzur seorangpun untuk meniggalkannya, demikian halnya dengan perkara nubuwwah karena kuatnya bukti-buktinya, dan banyaknya dalil-dalil yang jelas menunjukkan kenabiannya, demikian pula halnya semua perkara yang merupakan pilar agama, dalil-dalilnya pasti, dan yang menyelisihinya adalah orang yang keras kepala lagi congkak, maka memvonisnya sebagai orang sesat itu wajib, dan berlepas diri darinya adalah perkara yang dituntut secara syar’i…-dan seterusnya-
Apakah wahai Wushobi, peristiwa yang terjadi antara dua imam besar Al-Bukhori dan Adz-Dzuhli adalah dari jenis ini?!!!
Apakah perselisihan yang timbul antara pemilik satu aqidah yang bersih dari jenis ini?!!!
Apakah termasuk dari amanah diniyyah engkau tekankan kepada manusia bahwa apa-apa yang telah timbul darimu dari fitan dan penyimpangan, demikian dari tuan besarmu ‘Abdurrohman Al-‘Adeni engkau tekankan kepada manusia bahwa apa-apa yang timbul dari kalian berdua dan komplotan kalian dari permusuhan terhadap dakwah salafiyyah, dan menimbulkan keonaran dan perpecahan di tengah-tengah dakwah salafiyyah, dan selainnya, bahwa semua perkara-perkara tersebut tidaklah mengharuskan wala dan baro tidak pula perpecahan, tahdzir, hizbiyyah dan selainnya, itu hanyalah perselisihan antar sunni yang satu dengan sunni lainnya, sebagaimana perselisihan yang terjadi di kalangan para sahabat yang mulia Rodhiyallohu ‘anhum, dan sebagaimana perselisihan yang terjadi antara dua imam Adz-Dzuhli dan Al-Bukhori rahmatullahi ‘alaihima, dan juga sebagaimana yang terjadi di antara orang yang berada di atas aqidah yang satu? Ini adalah pengkaburan, dan pemutar balikkan kenyataan darimu, kamu mau mencampur antara jerami dengan biji logam, itu tidak mungkin, kamu telah terjerumus pada fitnah ini, dan termasuk dari pemimpinnya, maka janganlah engkau melelahkan dirimu, akan tetapi selamatkanlah dirimu, jagalah lisanmu dan tangisilah dosa-dosa besarmu.
Ucapan Al-Wushobi: Apabila Asy-Syaikh ‘Abdurrahman Al-‘Adni –waffaqahullah- menyatakan bahwa “Saya bersama para ‘ulama, tangan saya bersama dengan tangan para ‘ulama, ucapan saya bagian dari ucapan para ‘ulama, demikian pula al-haq senantiasa saya junjung tinggi”, jika kita masih mengatakan kepadanya: “Bukan, kamu adalah hizbi”, maka ini termasuk kezhaliman, dan ini adalah haram.
Catatan: Hukum ini wahai Wushobi Apakah datang dari hawa dan tanpa pengetahuan dan keahlian, ataukah itu adalah dien dan kecemburuan terhadap sunnah Sayyidil Mursalin Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi sallam?!!!
Apa-apa yang Abdurrohman Al-‘Adeni dihizbikan dengannya tidak lain kecuali apa-apa yang orang-orang sebelumnya dihizbikan dengannya, bagaimana bisa dia mengatakan bahwa dia bersama Ulama sementara pada hakikatnya dia itu bertentangan dengan ulama, ini adalah dengungan setiap hizbiyyin bersama siapa saja yang diam (tidak menjarh) mereka (dari ulama). Abul Hasan dulunya mau berhukum dengan ulama Madinah, bahwasanya dia bersama mereka (ulama Madinah), tatkala mereka menghinakannya akhirnya dia meninggalkan mereka, dan para pendiri Jum’iyyah (Yayasan) juga dulunya mengatakan ‘kami bersama para ulama’, bersama Asy-Syaikh Ibni Baaz, dan Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin, dan dan…., akan tetapi Asy-Syaikh Muqbil menjarh kami tanpa hak, mereka dapat mengambil faidah dibalik semua itu untuk menimbulkan perpecahan di tengah ahlus sunnah, namun hal itu (menimbulkan perpecahan antar ulama) tidak berhasil walillahil hamd, dengan cara makar, tipu muslihat hizbiyyah semacam ini (yakni dengan ucapan saya bersama ulama mereka hendak memperdaya ahlus sunnah dan memecah belah barisan mereka -pent), adapun kamu, sekarang jadi kayu bakar tipu muslihat tersebut, benarlah Syaikhuna Al-Imam Al-Wadi’i rahmatullahi ‘alaih ketika mengatakan: Engkau tidak memiliki keahlian dengan (tidak pandai mendeteksi/tidak peka terhadap) tipu muslihat para hizbiyyin.

Kukatakan: Oleh karena itulah mereka memburumu, membuatmu terfitnah dan engkaupun memfitnah mereka, dan Allah itu Goni (Maha Kaya) sedang kalian butuh kepada-Nya.
Kemudian apakah ulama mengiyakan sumpah fajirnya di mana dia berkata di situ: “…. Dari sini saya tegaskan persaksian dan saya tahu bahwa Allôh Subhanahu akan menanyai saya kelak pada hari kiamat. Allôh berfirman:
﴿   ﴾
“Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban.” [QS. Az-Zukhruf :19].
Saya katakan: Saya bersumpah demi Allôh Al-Adzîm bahwasanya dari awal saya menuntut ilmu sampai sekarang, saya tidak mengetahui seorang pun dari kalangan ahlul ‘ilmi dan kebaikan yang paling jahat, pendendam dalam pertikaian dan yang paling pembohong, penipu dan makar dari Yahyâ bin ‘Alî Al-Hajûrî meskipun dia menampakkan dirinya sebagai seorang yang paling keras untuk berhati-hati dari hal-hal tersebut. Akan tetapi Allôh enggan kecuali membongkar kejelekan para pemegang kebâthilan. Sungguh benar Allôh ketika berfirman:
﴿  •   ﴾
“Dan Allôh hendak menyingkap apa yang selama ini kamu sembunyikan.” [QS. Al-Baqoroh:72].
Alangkah bagusnya perkataan seseorang: ‘‘Selama seseorang mempunyai tabiat buruk…bagaimanapun dia sembunyikan sampai tidak terlihat oleh manusia, pasti tabiat tersebut akan terbongkar juga.’’
Bagaimana mungkin dia bersama ulama, sementara ulama mengilzamkannya untuk meminta udzur (maaf) dari apa saja yang timbul disebabkan fitnahnya, dari keonaran dan penentangan terhadap dakwah salafiyyah, namun ia tidak melakukannya sama sekali!!!
Bagaimana mungkin dia bersama ulama, sementara dia tidak peduli dengan dakwah?!! Setan telah meniup tenggorokannya (sehingga menjadi congkak) dan menunggangi pundaknya dan terus larut dalam kesesatannya dan kegegabahannya, tanpa mempertimbangkan sama sekali apa yang akan timbul dari semua dari fitnahnya, dan ini sama sekali bukanlah termasuk ketakwaan kepada Allah, bahkan bukan pula termasuk dari prilaku salafiyyah sama sekali.
Bagaimana mungkin dia bersama ulama, sementara dia dan komplotan hizbiyyahnya masih terus gigih mengadu domba antara mereka (ulama), dan menimbulkan kemarahan sebagian mereka atas sebagian lainnya?!!! (menabur benih permusuhan di antara mereka -pent)
Demi Allah ini adalah kezhaliman, engkau mengatakan bahwa si makir ini bersama ulama secara mutlak, dia itu hanyalah bersama ulama apabila dia bisa menarik mereka dari dakwah salafiyyah kepada hizbiyahnya, kalau tidak kenapa ketika itu dia tidak bersama mereka (ulama) dalam kesepakatan menghentikan tasjil (pendataan), dan kenapa dia tidak bersama mereka (ulama) dalam kesepakatan sebagaimana yang mereka tulis dalam sebuah kertas bahwa dia tidak boleh membangun mesjid kecuali berada di bawah kendali mereka (para ulama) sehingga mereka dapat menaruh padanya Al-‘Adeni ataupun selainnya, yaitu dia, engkau (Al-Wushobi sendiri), dan Asy-Syaikh Yahya termasuk yang menandatanganinya atas itu, kemudian Abdurrohman mengobarkan fitnah terhadap dakwah, sementara kalian mengetahui dan mengakui hal itu, aku tidak mengira kalian mengingkarinya, maka apakah dapat dipahami dari ucapanmu ini (wahai Wushobi) bahwa para masyayikh juga turut berpartisipasi mengobarkan fitnah terhadap dakwah bersamanya? Akankah engkau mengatakan demikian? Namun apabila kita tinjau lagi ucapan Al-‘Adeni tersebut, tahulah kita bahwa dia maksudkan dengan ucapannya “Saya bersama para ‘ulama, tangan saya bersama dengan tangan para ‘ulama, ucapan saya bagian dari ucapan para ‘ulama” dia maksudkan dengannya Al-Wushobi dan Al-Jabiri, penguat dan penolong fitnahnya ini, jadi ucapannya ini adalah perangkap untuk menjerat buruannya, bukanlah taroju’ dari fitnah dan hizbiyyah.
Ada apa dengan Ulama lainnya tidak melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh dua orang yang menyimpang ini (Al-Wushobi dan Al-Jabiri)? Dan rahasianya adalah apa yang telah lewat (penyebutannya), pahamilah ini.
Ucapan Al-Wushobi: Abul Hasan dulu menentang, dulu dia tidak mau menerima Al-Haq, dan dulu apabila ada orang yang menasehatinya maka ia membantahnya, bertindak dungu, mencelanya, mencacinya, merendahkannya, dan memperolok-oloknya. Dan kalian tahu, kalimat yang keluar dari Abul Hasan adalah ucapan-ucapan yang kotor, dll terhadap Ahlus Sunnah.
Catatan: Dan yang semisalnya, bahkan yang lebih keji dari itu, tuduhanmu terhadap Asy-Syaikh Yahya dan para penuntut ilmu dengan kefasikan. Penyebaran Al-haq dan tahdzir dari kebatilan di sisimu termasuk kefasikan, demikian juga tuduhan kepada Asy-Syaikh Yahya bahwasanya beliau itu ‘pendusta’ dan kedustaannya telah mencapai penjuru dunia, dan hakikatnya adalah pendusta, demikian juga tahdzir dari Dammaj dan upaya menjauhkan manusia dari orang yang memakmurkannya, dan juga membantu pengemban kebatilan dalam kebatilannya dan meminta tambah (kebatilan) dari mereka, begitu juga menuduh sebagian ulama sunnah dan da’i kepada tauhid bahwa mereka itu adalah suruan pemerintah, dan mata-mata, dan juga mengadu domba antar masyayikh, ulama sunnah, demikian juga memutar balikkan fakta, juga mengingkari sunnah dan jarh wat ta’dil, juga merendah diri terhadap para hizbiyyin dan mendekatkan antara mereka dengan salafiyyin, juga upaya untuk memutar balik kaidah-kaidah salaf, dan membuat-buat kaidah-kaidah dan usul-usul yang menyelisihinya, dan selain itu dari dosa-dosa besar dan musibah yang timbul dari Asy-Syaikh Muhammad, maka mana yang lebih besar? Kejahatan-kejahatan ini ataukah ucapan Abul Hasan: ‘si pendek’, dan ‘kaleng tomat peras’? Kalau begitu kamu lebih keras penentangan dan pengkaburan serta pemutar balikan fakta dibanding Abul Hasan.
Ucapan Al-Wushobi: Abul Hasan dulu menentang, dulu dia tidak mau menerima Al-Haq, dan dulu apabila ada orang yang menasehatinya maka ia membantahnya, bertindak dungu, mencelanya, mencacinya, merendahkannya, dan memperolok-oloknya. Dan kalian tahu, kalimat yang keluar dari Abul Hasan adalah ucapan-ucapan yang kotor, dll terhadap Ahlus Sunnah.
Kami katakan bahwa ‘Abdurrahman tidak pernah terjadi padanya seperti di atas sedikitpun.
Catatan: Maka kita bisa katakan: Allah Ta’ala berkata:
﴿ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ ﴾ [آل عمران/61].
“Maka Katakanlah (kepada mereka): “Marilah kita memanggil anak-anak Kami dan anak-anak kalian, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kalian, diri kami dan diri kalian, kemudian marilah kita bermubahalah supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta” [Ali ‘Imron: 61].
Dan di Shahihain dari hadits Ibni Mas’ud Rodhiyallohu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
((وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا))
“Dan jauhilah/hati-hatilah dari dusta, karena dusta itu akan mengantarkan kepada kefujuran, dan kefujuran itu akan mengantarkan kepada an-nar (neraka), seseorang itu sering berdusta dan lebih memilih dusta sehingga akhirnya ia di tulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta besar.”
Imam Malik rahimahullah berkata: Ilmu itu tidak diambil dari empat jenis orang: Orang dungu yang menampakkan kedunguannya meskipun dia adalah orang yang paling banyak dan hafal riwayatnya, dan ahlul bid’ah yang menyeru kepada hawa nafsunya (bid’ahnya), dan orang yang dusta dalam berbicara dengan manusia meskipun saya tidak menuduhnya dusta dalam hadits (yang dia riwayatkan), dan orang soleh, ahli ibadah, lagi mulia namun dia tidak menghafal hadits yang ia riwayatkan. Lihat: “Siyar A’lamun Nubala'”, 8/67.
Ucapan Al-Wushobi: Maka wajib atas Asy-Syaikh Yahya Al-Hajuri -semoga Allah memberikan taufiq kepada kita dan kepadanya- untuk takut kepada Allah atas perbuatannya terhadap saudaranya, Asy-Syaikh ‘Abdurrahman Al-‘Adni….Dakwah kasih sayang. Tidak ada pada mereka sifat kasar dan tidak ada pada mereka sifat zhalim. Insya`allahu. Tidak ada pada mereka kecuali kasih sayang dan kelemahlembutan.
Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
الراحمون يرحمهم الرحمن
“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayang oleh Ar-Rahman”
Dan:
(( من لا يرحم لا يرحم )).
“Barangsiapa yang tidak penyayang maka tidak akan disayang (oleh Allah)”,
((ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء))
“Sayangilah makhluk yang ada di muka bumi, niscaya Dzat yang ada di langit akan menyayangi kalian”.
Catatan: Robb kita Subhanahu wa Ta’ala berkata:
﴿ أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ ﴾ [البقرة/44]
“Apakah kalian menyuruh orang lain supaya (mengerjakan) kebaikan, sementara kalian melupakan diri kalian sendiri (untuk mengerjakannya), Padahal kalian membaca Al kitab (Taurat)? Tidakkah kalian berpikir?” [Al-Baqoroh: 44].
Dan Allah Ta’ala berkata:
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ  كَبُرَ مَقْتاً عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman mengapa kalian mengatakan apa yang kalian tidak lakukan? Amat besar kemurkaan di sisi Alloh bahwa kalian mengatakan apa yang kalian tidak kerjakan.” [Ash-Shoff: 2-3]
Sungguh mengherankan orang ini?!!! Di sisi tuan besarnya Abdurrohman dia mendatangkan dengungan-dengungan semisal ini dan berlemah lembut ‘yang dibuat-buat’, dan di sisi Nashihul Amin (Asy-Syaikh Yahya) kalian dapati dia mendatangkan dengan perkara-perkara yang dahsyat seperti: Tuduhannya terhadap Asy-Syaikh Yahya dengan dosa besar dan bencana, serangannya yang keras terhadap Darul Hadits Dammaj –semoga Allah menjaganya-, tuduhannya terhadap sebagian ulama dan penuntut ilmu bahwa mereka adalah mata-mata dan selainnya, maka manakah sikap penyayang itu wahai Wushobi? Dan mana pengamalanmu terhadap dalil-dalil yang engkau sebutkan dan tempatkan bukan pada tempatnya? Ataukah huruf ba’ tuan besarmu menjerkan (kalimat setelahnya) sedang ba’ selainnya tidak menjerkan , wallahul musta’an.
Ucapannya mengenai tuan besarnya: Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menganugerahkan kepada kalian, sehingga beliau (Asy-Syaikh ‘Abdurrahman) pun hadir di tengah-tengah kalian.
Catatan: sebagai orang terhina lagi terusir, disebabkan fitnah dan hizbiyahnya, membawa kejelekan, tidak pantas dibanggakan kecuali di sisi orang-orang yang sejenis dan sejalan serta semanhaj dengannya.
Ucapannya: Fitnah ini telah membuahkan hasil yang sangat banyak, ini salah satu di antaranya. Di antara buah fitnah ini juga adalah, dibukanya ma’had di Al-Fuyusy.
Catatan: Sesungguhnya seorang yang memperhatikan ma’had ‘khayalan’ ini akan mendapati ma’had itu dibangun dari awal harinya di atas asas duniyawiyyah dan di atas selain huda (petunjuk) dan takwa, belum lagi yang akan timbul setelahnya dari musibah dan malapetaka, jadi ma’had itu sangat mirip dengan ‘Mahdi rofidhoh’ -atas mereka laknat-laknat Allah berturut-turut- di mana mereka menganggap apabila Mahdi tadi telah keluar di tengah-tengah mereka, maka dia akan memerangi ahlus sunnah dan mengeluarkan Abu Bakar dan Umar lalu menyalib keduanya, dan menganggap dia akan menegakkan had (hukum rajam) terhadap –orang suci yang di sucikan- Ash-Shiddiqoh binti Ash-Shiddiq yang diturunkan ayat dari atas tujuh langit sebagai jaminan lepasnya ia dari zina, Ummul Mukminin ‘Aisyah Rodhiyallohu ‘anha, dan selainnya, betapa miripnya ma’had itu dengan Mahdi ini, karena ma’had itu dibangun di atas penentangan terhadap dakwah salafiyyah dari awal berdirinya, dan menjadikan komplotannya yang fanatik kepadanya untuk itu, maka kebaikan apakah wahai Wushobi yang diharapkan dari ‘ma’had khayalan’, ‘ma’had kesialan’ ini? Bukankah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
الْخَيْر لَا يأتي إِلَّا بالخير
“Kebaikan itu tidaklah datang kecuali dengan kebaikan (pula).” HR. Bukhori dan Muslim dari hadits Abi Sa’id Al-Khudri Rodhiyallohu ‘anhu,
Kebaikan apakah yang diharapkan dari orang-orang yang demikian keadaannya? Bahkan kebaikan apa yang kembali kepadamu wahai Wushobi dari ma’had tersebut? Demi Allah seandainya itu adalah kebaikan tentu keadaanmu tidak terpuruk seperti sekarang ini disebabkan pembelaanmu terhadapnya, semakin hari engkau kian terpuruk, semua itu disebabkan pembelaanmu terhadap ‘buah hasil’ ini dan terhadap ‘kebaikan khayalan’ ini, dan semisalmu juga saudara sejalanmu Ubaid Al-Jabiri Al-Intikhobi (‘si pemilu’), lihatlah apa jadinya kalian setelah pembelaan terhadap ‘buah’ ini, dan apa yang kalian telah petik darinya? Dari tandan-tandan keburukan dan kehinaan, benarlah Allah Ta’ala ketika berkata pada salah satu hadits Qudsi:
))مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْب)) .
“Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku telah mengumandangkan perang baginya”. HR.Bukhori, dari sahabat Abi Huroiroh Rodhiyallohu ‘anhu.
Ucapannya: Apabila kalian mendapati sifat kaku dari orang yang ta’ashshub kepada Al-Hajuri.
Catatan: “Romatni bi daiha wan sallat”(artinya: dia menuduhku dengan penyakitnya sendiri dan mau lari –dari tuduhan itu-/lempar batu sembunyi tangan), sikap kaku hanyalah terdapat pada siapa yang telah menjadi hizbi dan ta’ashshub, adapun ahlul haq maka mereka itu ittiba’ dan bukanlah berlaku bid’ah, memerangi taklid dan ta’asshub yang tercela, bagaimana didapati sikap kaku pada mereka? sementara mereka menolong al-haq dan pengembannya, dan membela sunnah, namun inilah kebiasaan ahlul fitan, menghina ahlul haq dan menggelari mereka dengan sejelek-jeleknya sifat. Untuk menjauhkan manusia dari mereka dan dakwah mereka. Dari dulu mereka menuduh ahlus sunnah bahwasanya mereka hasyawiyyah (orang rendahan), dan mereka adalah mujassimah (yakni orang yang mengatakan bahwa Allah itu jism/berbentuk tubuh maha tinggi Allah dari itu, mereka menuduh ahlus sunnah demikian karena ahlus sunnah menetapkan sifat-sifat Allah tanpa menafikan atau menta’wilnya -pent),
inilah Umar bin An-Nadhr rahimahullah berkata: Amr bin Ubaid suatu hari ditanya dan saya ada di situ, Dia menjawab, lalu kukatakan: tidak demikian yang dikatakan teman-teman kami, ia berkata: Siapa temanmu laa aban lak (kalimat yang ditujukan kepada orang yang berhak dikerasi dan di doakan jelek atasnya di sisi orang yang mengucapkannya)? Kukatakan: Ayyub, Yunus, Ibnu ‘Aun, dan At-Taymi , dia katakan: mereka itu orang-orang najis, orang-orang mati tidak hidup.
Ibnu ‘Ulaiyyah rahimahullah berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Yas’, ia berkata: Washil bin ‘Atho memberikan pidato. Lalu ‘Amr bin ‘Ubaid berkata: Tidakkah kalian dengar?!!! Tidaklah perkataan Hasan dan Ibnu Sirin ketika kalian dengarkan kecuali bagaikan secarik kain bekas darah haid. Lihat Al-I’tishom karya Imam Asy-Syathibi rahimahullah 1/232-233.
Al-Imam Asy-Syathibi rahimahullah berkata: Telah diriwayatkan bahwasanya salah seorang pembesar Ahlul Bida’ pernah mau mengutamakan ilmu kalam atas ilmu fiqih, maka dia berkata: Sesungguhnya ilmu Syafi’i dan Abu Hanifah kebanyakannya tidak keluar dari celana (dalam) perempuan? Inilah ucapan orang-orang sesat itu semoga Allah membinasakan mereka.-selesai- [Al-I’tishom 2/239].
Pada masa terakhir mereka mengatai mereka Wahhabiyyah, dan mengatai mereka: qowa’id (perempuan tua), rowafidh, khawarij, dan murjiah, mereka juga mengatai mereka: ‘Ulama haidh dan nifas’, salaf mereka dalam tuduhan itu adalah ‘Amr bin ‘Ubaid Al-Mu’tazili sebagaimana telah lewat, juga mengatai mereka: suruhan, mata-mata, para penyusup, masuniyah, dan selainnya, dan Wushobi ini menyifati mereka dengan ‘sifat kaku’ meneladani Salman Al-‘Audah, di mana dia menyifati ahlul hadits dengan sifat kaku, [satu keturunan sebagiannya (turunan) dari sebagian yang lain].
Ucapan Al-Wushobi: Barangsiapa mencela kamu, menghina, merendahkan dan memakimu, menyatakan kepadamu bahwa ”Kamu mubtadi’”, bahwa “kamu adalah hizbi”, maka sungguh telah terjadi yang lebih parah dari itu terhadap orang yang jauh lebih mulia darimu. Maka tidak ada yang pantas bagimu kecuali sabar dan mengharapkan pahala dari Allah. Berharaplah akan pahala kalian di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kukatakan: Menyuruh bersabar di atas kebatilan adalah ‘sunnah jahiliyyah’ tidak boleh bagimu menyerupai mereka, Allah Ta’ala berkata:
﴿ وَانْطَلَقَ الْمَلَأُ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلَى آَلِهَتِكُمْ إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ يُرَادُ ﴾ [ص/6]
“Dan Pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): “Pergilah kamu dan tetaplah bersabar (menyembah) peribadatan-peribadatan kalian, Sesungguhnya inilah hal yang diharapkan (dari kalian).” [Shod: 6].
Dan berkata Allah Ta’ala:
﴿ قَالُوا سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُنْ مِنَ الْوَاعِظِينَ  إِنْ هَذَا إِلَّا خُلُقُ الْأَوَّلِينَ ﴾ [الشعراء/136-137].
“Mereka menjawab: “Sama saja bagi Kami, Apakah kamu memberi nasehat atau tidak memberi nasehat, ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu.” [Asy-Syu’ara’: 136-137].
Dan juga berkata Allah Ta’ala:
﴿ أَتَوَاصَوْا بِهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ ﴾ [الذاريات/53]
“Apakah mereka saling berwasiat dengannya (apa yang dikatakan itu). bahkan sebenarnya mereka itu adalah kaum yang melampaui batas.” [Adz-Dzariyaat: 53].
Dari hadits Musayyab bin Hazn Rodhiyallohu ‘anhuma berkata:
أنه لما حضرت أبا طالب الوفاة جاءه رسول الله صلى الله عليه و سلم فوجد عنده أبا جهل بن هشام وعبد الله بن أمية بن المغيرة قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لأبي طالب ( يا عم قل لا إله إلا الله كلمة أشهد لك بها عند الله ) . فقال أبو جهل وعبد الله بن أمية يا أبا طالب أترغب عن ملة عبد المطلب فلم يزل رسول الله صلى الله عليه و سلم يعرضها عليه ويعودان بتلك المقالة حتى قال أبو طالب آخر ما كلمهم هو على ملة عبد المطلب وأبى أن يقول لا إله إلا الله . فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( أما والله لأستغفرن لك ما لم أنه عنك ) . فأنزل الله تعالى فيه { ما كان للنبي } الآية
Menjelang meninggalnya Abu Thalib, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya dan mendapati di sisinya Abu Jahl bin Hisyam dan Abdullah bin Umayyah bin Al-Mughirah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abu Thalib: “Wahai Pamanku katakanlah laa ilaha illallah, sebuah kalimat yang saya bisa menjadi syahid dengannya di hadapan Allah” Maka Abu Jahl dan Abdullah bin Umayyah berkata: Wahai Abu Thalib apakah engkau benci dengan agama ‘Abdul Muththalib? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menawari dan mengulangi kalimat tersebut, dan mereka juga terus mengulangi ucapan mereka hingga akhirnya Abu Thalib berkata diakhir ucapannya dia berada di atas agama ‘Abdul Muththalib dan enggan mengucapkan Laa ilaha illallah. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Sungguh demi Allah saya benar-benar akan memintakan ampun untukmu selama saya tidak dilarang darimu. Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat tentangnya (artinya): “Tidak sepatutnya bagi Nabi” [At-Taubah: 113]. Muttafaqun ‘alaih.
Ucapannya: Pujilah Rabbmu karena engkau bisa berjalan bersama para masyaikh.
Catatan: Ini adalah seruan murni kepada taklid, dan tidak terikat dengan dalil.
Ucapannya: bersemangatlah pada kebaikan, bersemangatlah pada ilmu yang bermanfaat. Sampaikan salamku kepada Asy-Syaikh ‘Abdurrahman….
Catatan: ((الأرواح جنود مجندة)) artinya: “Ruh-ruh itu adalah tentara yang berkelompok-kelompok.” Dan ((الرجل على دين خليله)) artinya: “Seseorang itu berdasarkan agama teman dekatnya.”
ومن خفيت بدعته لم تخف علينا ألفته
Dan barangsiapa yang tersembunyi kebid’ahannya tidak akan tersembunyi bagi kami teman dekatnya.
Ucapannya: Manakala kalian diam, maka Allah memberikan manfaat atas diamnya kalian. Tatkala Asy-Syaikh ‘Abdurrahman diam, dan para masyaikh juga diam setelah mereka menyatakan perkataan yang baik, maka Allah memberikan manfaat dengan diamnya mereka tersebut.
Catatan: Allah Ta’ala berkata:
﴿ بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ ﴾ [الأنبياء/18]
“Bahkan Kami melontarkan al-haq kepada yang batil lalu al-haq itu menghancurkannya, Maka dengan serta merta kebatilan itu lenyap. dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya).” [Al-Anbiya’: 18].
Dan berkata Allah Ta’ala:
﴿ وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا ﴾ [الإسراء/81]
“Dan Katakanlah: “Al-Haq telah datang dan kebatilan telah lenyap. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.” [Al-Isra’: 81].
Tidaklah diam yang diam wahai Wushobi kecuali dikarenakan ketidak mampuan dan kelemahan mereka, disebabkan mereka mengetahui bahwa mereka itu tidak memiliki hujjah, seorang salafi tulen/murni tidak akan ridho kesalafiyahannya di cela dan dilecehkan sementara dia diam tanpa membela sama sekali, bukankah salafiyyah itu termasuk dari agama Allah Ta’ala? Dan membelanya termasuk dari agama Allah Ta’ala? Dan bukankah wajib bagi seseorang untuk cemburu terhadap agama Allah Ta’ala? Dan termasuk dari kecemburuan terhadap agama Allah agar seseorang membela kesalafiyahannya, inilah Nabi Yusuf ‘Alaihis Sholatu was Salam tidak mau keluar dari penjara hingga jelas perkaranya sebagaimana yang telah diketahui bersama, dan inilah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala Alihi wa sallam berkata: “Dia adalah Shofiyyah” dan berkata: “Maka barangsiapa yang berhati-hati dari perkara yang syubhat itu, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya” maka sepantasnya bagi seorang salafi untuk membela agama dan kesalafiyahannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam marah hingga memerah wajahnya ketika seorang khawarij mengatakan padanya “Sesungguhnya kamu itu tidak berlaku adil” maka beliau mengatakan kepadanya “celaka dan merugi” jadi, seandainya Abdurrahman Al-Adeni itu seorang salafi dan memiliki hujjah niscaya dia akan melepaskan dirinya dari tuduhan hizbiyyah, dan benar-benar akan mengorbankan apa yang paling berharga dari apa yang dia miliki, demi menjaga dakwah yang mubarokah ini, bahkan seandainya dia adalah salafi yang gigih maka seharusnya dia berlepas diri dari fitnahmu dan Al-Jabiri serta orang-orang yang ta’ashshub kepadanya terhadap dakwah salafiyyah dan engkau juga seharusnya demikian dan kami berlindung kepada Allah akan dicabutnya kecemburuan kita terhadap sunnah, akhirnya menjadi seperti orang-orang sufi, pengikut habib (pembesarnya).
Ucapannya: Barangsiapa yang berta’ashshub (kepada Al-Hajuri), maka akan terjadi padanya kemalasan dalam menghadiri durus (pelajaran-pelajaran) dan malas menghadiri muhadharah-muhadharah.
Catatan: Yaa subhaanallah?!!! justru kamu yang lebih pantas dengan ucapan ini, sungguh dakwahmu telah larut wahai Wushobi, dan engkau telah terfitnah di belakang si hizbi fajir ini, Al-Farogh (kurang kerjaan) telah menbunuhmu dan telah meresap ke dalam hatimu kecintaan terhadap fitnah, jadilah engkau berpindah-pindah dari satu mesjid ke mesjid yang lain, yang mana sebagian mesjid itu adalah mesjid hizbiyyin, dan terkadang mengadakan daurah belajar menyetir mobil. Seandainya ditinggalkan dauroh belajar mengatur jalan, maka dari bab:
﴿ وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ ﴾ [الحشر/9]
“Dan mereka mengutamakan atas diri mereka sendiri.” [Al-Hasyr: 9].
Di manakah kamu dan di manakah mereka (orang-orang yang ta’ashshub kepada Al-‘Adeni) dan ilmu sekarang?!!! Dakwahmu sekarang tidak ada yang murni dan karangan-karanganmu tidak pula bermanfaat, apakah yang engkau hasilkan dari ‘buah-buahan’ ini terutama setelah nampak penyimpanganmu? Yang ada hanyalah sia-sia belaka wahai Wushobi, ucapan-ucapan engkau di muhadhoroh-muhadhorohmu itu-itu saja diulang-ulang, seandainya seluruh muhadhoroh-muhadhorohmu, ucapan-ucapanmu yang sedikit, dan nasihat-nasihatmu yang kamu ‘sangka sebagai nasihat’ itu dikumpulkan, lalu dipisahkan dari kumpulan itu yang berulang, apakah akan penuh satu kaset? Dan jika engkau hendak mengherankan sesuatu, maka yang patut diherankan adalah perkara Wushobi ini, sungguh farogh (kurang kerjaan) telah menyeretnya hingga mengadakan dauroh-dauroh yang dilangsungkan selama beberapa hari, lihatlah: dauroh-dauroh orang ‘yang sangat bersemangat menjaga waktunya’ dan ‘hanya mengurus perkaranya’ ini, tidakkah kalian tahu: dia mengadakan daurah bagaimana seorang penuntut ilmu mengatur perpustakaannya, dan mengadakan daurah dalam menyelisihi pengemudi kendaraan, juga mengadakan daurah dalam menyelisihi (mengatur) rumah-rumah, yaa subhaanallah?!!!
Kami memintamu wahai Wushobi agar mengadakan daurah cara membersihkan diri dari hizbiyyah, dari ghibah dan namimah, dari adu domba dan sikap memutar balik fakta, bersifat bunglon (tidak komitment), dan menjauhi sikap ta’ashshub kepada kebatilan serta bagaimana menghormati ulama dengan benar, juga tidak berlaku zalim terhadap penuntut ilmu dan ulama dengan bentuk menuduh mereka dengan tuduhan-tuduhan keji dan seterusnya, semoga Allah memberi manfaat kepadamu dengan daurah semacam itu, ini lebih baik daripada daurah belajar menyetir mobil, Allah Ta’ala berkata:
﴿ وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آَتَيْنَاهُ آَيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ  وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ  سَاءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ  مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ ﴾ [الأعراف : 175 ، 176, 177، 178]
“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah kami beri ayat-ayat kami kemudian dia meninggalkannya, lalu dia diikuti oleh Syaithon maka jadilah dia termasuk dari orang-orang yang sesat. dan kalau kami menghendaki sungguh kami akan mengangkat (derajat)nya dengan ayat-ayat tersebut, namun ia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya, maka jadilah perumpamaannya bagaikan anjing jika kamu menasihatinya ia menjulurkan lidahnya dan apabila kamu membiarkannya dia (juga) menjulurkan lidahnya, demikian itulah permisalan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berfikir. Amat buruk perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan diri mereka sendirilah yang mereka zalimi. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk dan barangsiapa yang disesatkan Allah, Maka mereka itulah yang merugi.” [Al-A’rof: 175-178].
Ucapan Al-Wushobi: Adapun orang-orang yang berjalan bersama para masyaikh masya`allah mereka mempunyai adab, mereka mempunyai Ihtiram (penghormatan terhadap ‘ulama dan orang lain), memilih ucapan-ucapan yang baik dan ucapan-ucapan yang selamat.
Catatan: Dari adab dan ihtiram mereka, menyimpang dari sunnah dan membentuk hizbiyyah, mentahdzir dari Dammaj, serta memenuhi dunia dengan cercaan dan celaan terhadap Asy-Syaikh Yahya, demikianlah hawa nafsu berbuat pada pemilik hawa tersebut, teman-teman ‘Abdurrohman Al-‘Adeni, orang-orang fajir para pelaku makar, kurang kerjaan, gelandangan, mumayyi’ (membikin lembek), yang berlaku jahat terhadap dakwah salafiyyah dengan sangat keji, mereka di sisi Al-Wushobi adalah orang-orang yang memiliki adab dan ihtiram, adapun selain mereka dari para penuntut ilmu dan du’at kepada sunnah bukanlah orang yang memiliki adab dan ihtiram (di sisinya), benar-benar kami telah sesat dan bukanlah termasuk dari orang yang mendapat petunjuk apabila kami telah mencapai batas/tingkat yang hina ini, wallahul musta’an.
Ucapan Al-Wushobi: Adapun Asy-Syaikh Yahya Al-Hajuri, kami tidak putus asa, mudah-mudahan Allah memberikan taufik kepadanya, mudah mudahan Allah memberikan hidayah kepadanya, mudah mudahan Allah membimbingnya. Dia adalah saudara kita fillah. Kita semua keluar dari madrasah yang satu, (yaitu madrasah) Al-Kitab dan As-Sunnah di bawah didikan Asy-Syaikh Muqbil. Namun, Subhanallah mungkin dia (Al-Hajuri) ber-ijtihad pada suatu permasalahan,
Catatan: Sungguh mengherankan engkau wahai Wushobi, baru kemarin engkau mengatakan pendusta, dan hakikatnya adalah pendusta, kedustaannya telah mencapai berbagai penjuru dunia, lalu sekarang mujtahid, bagaimana mungkin ini bisa terjadi?!!! Bukankah ini adalah tanaqudh (bertentangan), kegoncangan dan tidak menimbang semua perkara dengan timbangan-timbangannya yang syar’i? Semoga Allah merahmati Al-Hafidz ibnu Katsir manakala beliau berkata di tafsirnya (2/547):
(وذلك أن كل من خرج عن الحق فمهما قال أخطأ) .
Demikian itu dikarenakan siapa saja yang keluar dari (lingkup) al-haq maka bagaimanapun ia berbicara (untuk membela kebatilannya) pasti akan salah.
Sampai di sini

الحمد لله رب العالمين
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلاّ أنت أستغفرك وأتوب إليك

Ditulis Oleh:
Muhammad Al-Amudi, Allah Besertanya Di Dunia Dan Akhirat,
Menjelang Magrib, Jumat 15/Rabi’ult Tsani/1430
Dammaj Darul Hadits Dan Sunnah
Semoga Allah Merahmati Pendirinya Dengan Rahmat Yang Luas
Dan Menjaga Pengganti Setelahnya Dan Melindunginya Dari Tipu Muslihat Para Pelaku Makar Serta Kejelekan Orang-Orang Dengki
Sesungguhnya Dia Menguasai Hal Itu Dan Mampu Atasnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: