Antara Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan Wahhabiyyah

Al-‘Alim Al-Imam Robi’ bin Hadi –hafidzohulloh- berkata: ”Orang-orang kafir, Nashara dan Yahudi menginginkan kaum muslimin murtad dari agama mereka dan pada ahlul bid’ah bagian yang besar dari niat yang jelek ini. Begitu pula niat yang jelek bagi ahlul khoir. Maka dari sini, wajib bagi kita untuk sangat berhati-hati dari mereka.” (Al-Mauqifus Shohih min Ahlil Bida’)

Iklan

Antara

Ahlus Sunnah wal Jama’ah

dan

Wahhabiyyah

Ditulis oleh:

Abu ‘Amr Ridwan bin Zaki Al-Ambuny

Al-Indunisiy

 

 

Darul Hadits Dammaj

harosahalloh

1432

ijk

           إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.  وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.

قال الله تعالى:﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

﴿يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا الله الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أما بعد,

              Sesungguhnya diantara musibah terbesar yang menimpa umat Islam adalah timbulnya perpecahan di antara mereka. Perpecahan seperti ini akan melemahkan kekuatan umat Islam, menyenangkan hati musuh-musuh Islam dan membuat peluang bagi mereka untuk mencabik-cabik persatuan umat Islam yang dengannya mereka dapat menjalankan misi mereka untuk memerangi umat Islam. Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam yang sangat menginginkan kebaikan kepada umatnya telah memperingatkan umatnya akan hal ini agar mereka menjauhinya sebagaimana sabda beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh ‘Irbath bin Sariyah rodhiallohu ‘anhu:

صَلَّى بِنَا رَسُولُ الله shollallohu ‘alaihi wa sallam ذَاتَ يَوْمٍ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ الله كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا فَقَالَ «أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى الله وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ»

“Pada suatu hari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam shalat bersama kami kemudian beliau menghadap kami dan memberikan nasehat yang sangat bagus, berlinang dengannya air mata kami dan bergetar hati-hati kami. Maka seseorang berkata: “Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasihat perpisahan, maka apa yang Anda wasiatkan buat kami?” Maka beliau mengatakan: “Aku mewasiatkan kepada kalian dengan ketakwaan dan tunduk serta patuh walaupun yang memimpin kalian adalah seorang hamba. Maka barangsiapa yang berumur panjang di antara kalian, niscaya dia akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Maka atas kalian sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin setelahku. Pegangilah dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham. Hati-hatilah kalian dari perkara yang baru di dalam agama, karena setiap yang diada-adakan di dalam agama adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”[1]

Dalam hadits ini, Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam menerangkan tentang akan terjadinya perpecahan di antara umat ini. Setelah menjelaskan hal ini, beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak meninggalkan umatnya begitu saja, akan tetapi menerangkan kepada mereka jalan keluarnya. Barangsiapa mengambilnya, maka sungguh dia telah selamat dunia dan akhirat. Sebaliknya barangsiapa yang mengabaikannya, maka sungguh dia telah celaka dunia dan akhirat. Jalan keluar itu adalah berpegang teguh dengan Al-Qur’an serta As-Sunnah yang shohih dengan pemahaman Salaf.

Realita membuktikan bahwa tidak ada satu golongan pun yang mengambil wasiat Alloh dan Rasul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam ini sebagai pelita hidup mereka, kecuali Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari zaman para sahabat sampai hari kiamat kelak. Merekalah yang menyeru manusia untuk bersatu di bawah bendera Al-Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman Salaf dan memperingatkan manusia dari perpecahan. Adapun golongan-golongan selain mereka  justru sebaliknya, mereka menyeru manusia kepada golongan mereka masing-masing –setiap golongan bangga terhadap apa-apa yang mereka serukan- Ikhwanul Muslimin menyeru kepada golongan dan pemahaman mereka. Firqoh Tabligh menyeru kepada golongan dan pemahaman mereka, begitu pula golongan-golongan yang lain.

Al-‘Alim Al-Imam Robi’ bin Hadi –hafidzohulloh- berkata: ”Orang-orang kafir, Nashara dan Yahudi menginginkan kaum muslimin murtad dari agama mereka dan pada ahlul bid’ah bagian yang besar dari niat yang jelek ini. Begitu pula niat yang jelek bagi ahlul khoir. Maka dari sini, wajib bagi kita untuk sangat berhati-hati dari mereka.” (Al-Mauqifus Shohih min Ahlil Bida’)

Semua ini menunjukkan bahwa seluruh dakwah ahlul batil tidaklah dibangun di atas ilmu Kitab dan Sunnah begitu pula tidak di atas keikhlasan kepada Alloh sebagaimana yang Alloh perintahkan. Alloh –subhanahu wa ta’ala     –  berfirman:

﴿قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى الله عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ الله وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ﴾

”Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata. Maha suci Alloh, aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” [QS. Yusuf: 108]

Oleh karena itu, ketika Ahlus Sunnah wal Jama’ah bangkit menyeru manusia agar kembali kepada ajaran Islam yang murni serta  memperingatkan mereka dari golongan-gologan yang sesat baik dari kalangan orang-orang kafir ataupun ahlu bida’, mereka (golongan-golongan yang sesat) –ketika tidak memiliki hujjah untuk menghadapi Ahlus Sunnah wal Jama’ah– mulai membuat makar terhadap Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Salah satu bentuk makarnya adalahnya menjuluki Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan julukan-julukan yang tidak benar. Bahkan di antara mereka tidak segan-segan menghalalkan darah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Perkara ini bisa kita jumpai dalam kitab-kitab sejarah yang menjelaskan hal ini baik dahulu atau sekarang. Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam telah dituduh oleh kaum musrikin pada jaman beliau sebagai tukang sihir, orang gila, orang yang celaka dan lain-lain. Bahkan mereka berencana untuk membunuh beliau. Akan tetapi Alloh Robb semesta alam senantiasa menjaga beliau sehingga beliau meninggalkan dunia ini setelah Alloh sempurnakan dengan beliau agama Islam. Alloh ta’ala  berfirman:

﴿وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ الله وَالله خَيْرُ الْمَاكِرِينَ﴾

“Ingatlah, ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan tipu daya terhadapmu untuk menangkap, membunuh atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Alloh menggagalkan tipu daya itu. Alloh Sebaik-baik pembalas tipu daya. (QS. Al-Anfal: 30)

Begitu pula orang-orang yang mengikuti jejak Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam akan diuji sebagai mana diujinya Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam. Semua ini agar Alloh menempatkan siapakah di antara mereka yang betul-betul yakin bersabar di atas jalan yang ditempuh Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dan siapa yang tidak demikian halnya. Oleh karena itu, wajib bagi setiap Ahlus Sunnah wal Jama’ah untuk tetap kokoh dalam berjalan di atas jalannya Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam sampai bertemu dengan Alloh.

Sebagaimana telah lewat bahwa salah satu upaya musuh-musuh Sunnah dalam memerangi Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah dengan menjuluki mereka dengan julukan-julukan yang tidak sesuai dengan kenyataan, baik pada jaman dahulu atapun sekarang. Diantara julukan-julukan yang mereka lemparkan terhadap Ahlus Sunnah wal Jama’ah pada akhir-akhir ini adalah apa yang kita dengar dengan sebutan Wahhabiyah. Bahkan siapa saja yang mereka lihat mulai berpegang teguh dengan Sunnah, mereka juluki sebagai Wahhabiy, nisbah kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Al-Najdiy. Hal itu dikarenakan, mereka menuduh bahwa dakwah beliau adalah dakwah garis keras, menghalalkan darah kaum muslimin dan lain-lain. Bahkan beliau dituduh semasa hayatnya sebagai penerus dakwah kelompok Wahhabiyah (salah satu kelompok Khawarij yang muncul di Maghrib pada tahun 171 H). Oleh karena itu, setiap yang datang setelah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab kemudian mendakwahkan kepada tauhid dan Sunnah serta membasmi kesyirikan, kebida’han, khurafat dan kemungkaran-kemungkaran yang lain, mereka menuduhnya  sebagai pengekor beliau. Alloh Ta’ala      berfirman:

﴿مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلَا لِآبَائِهِمْ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا﴾

“Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Mereka tidak mengatakan (sesuatu), kecuali kedustaan.” (QS. Al-Kahfi: 5)

Semua ini mereka lakukan dalam rangka menjauhkan manusia dari berpegang teguh dengan Sunnah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. Wala haula wala quwwata illa billah.

Melihat kenyataan yang ada, maka Ahlus Sunnah wal Jama’ah bangkit menjelaskan kepada manusia tentang makar musuh-musuh Sunnah ini, baik secara lisan maupun tulisan. Sehingga Alloh ta’ala  membuka hati-hati manusia terutama umat Islam kepada kebenaran dan menimpakan atas musuh-musuh Sunnah kehinaan di atas kehinaan. Alloh ta’ala  berfirman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ فِي الْأَذَلِّينَ﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Alloh dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina.” (QS. Al-Mujadalah: 20)

Adapun tulisan ini, maka tidak lain sekedar salah satu bentuk peran serta terhadap yang telah dijelaskan Ahlus Sunnah wal Jama’ah tentang permasalahan ini. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi penulisnya dan pembaca sekalian dan mudah-mudahan Alloh menjadikan kita sebagai pembela Sunnah Rosul-Nya.

PENULIS

Abu ‘Amr Ridwan bin Zaki Al-Ambuniy Al-Indunisiy

Dammaj, 7 Sya’ban 1432 H

BAB PERTAMA: AHLUS-SUNNAH WAL-JAMA’AH

PENGERTIAN AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

As-Sunnah secara bahasa adalah suatu jalan yang ditempuh, baik jalan tersebut adalah baik ataupun jelek[2]. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam:

«من سن في الإسلام سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها بعده من غير أن ينقص من أجورهم شيء ومن سن في الإسلام سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أوزارهم شيء»

“Barangsiapa menghidupkan dalam Islam perbuatan yang baik, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barang siapa yang menghidupkan perbuatan yang jelek, maka atasnya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tidak mengurangi dosa mereka sedikitpun. [3]

Adapun pengertian Sunnah secara istilah, maka pengertiannya berbeda dari suatu bidang ilmu dengan bidang ilmu lainya, baik bidang hadist, ushul ataupun fikih. Akan tetapi yang terpenting bagi kita pada pembahasan ini adalah pengertian Sunnah yang datang dari ulama secara umum yaitu mereka mengartikan SUNNAH atas segala sesuatu yang dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam baik pada perkara-perkara yang berkaitan dengan keyakinan, ibadah ataupun mu’amalah. Maka lawan Sunnah pada bab ini dinamakan bid’ah.

Bid’ah adalah setiap perkara yang baru dalam agama yang menyerupai syariat yang diinginkan dengannya berlebih-lebihan di dalam beribadah kepada Alloh ta’ala .”[4]

Ibnu Abil I’zz –rohimahulloh– berkata: “As-Sunnah adalah jalan yang ditempuh oleh Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam.”[5]

Kholil Al-Harros –rohimahulloh– berkata: “As-Sunnah adalah jalan yang berada di atasnya Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya sebelum muncul kebid’ahan.”[6] Maka dikatakan fulan di atas Sunnah, jika perbuatannya tersebut sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah dan dikatakan fulan di atas kebid’ahan, jika perbuatannya menyelisihi Al-Quran dan As-Sunnah.

Adapun lafadz al-jama’ah, maka berkatalah Kholil Al-Harros –rohimahulloh-: “Al-Jam’ah pada asalnya bermakna satu kaum yang berkumpul. Yang dimaksudkan di sini adalah pendahulu umat ini dari para sahabat dan tabi’in yang mereka itu bersepakat di atas kebenaran yang jelas dari Al-Quran dan Sunnah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam.”[7]

Ibnu Abil I’zz –rohimahulloh-: “Al-Jama’ah adalah jama’ah kaum muslimin dan mereka adalah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat. Maka mengikuti mereka adalah petunjuk dan menyelisihi mereka adalah kesesatan.”[8]

Oleh karena itu, siapapun, kapanpun dan di manapun dia berada dan dia di atas kebenaran, maka dia adalah al-jama’ah walaupun dia bersendirian. Ibnu Mas’ud –rodhiyallohu ‘anhu– berkata: “Al-Jama’ah adalah yang mencocoki kebenaran walaupun kamu bersendirian.”[9]

Nabi Ibrahim –‘alaihis-salam– disebut oleh Alloh ta’ala sebagai umat dengan sebab kebenaran yang beliau berada di atasnya, walaupun beliau ketika itu bersendirian. Alloh ta’ala berfirman:

﴿إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِله حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ﴾

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Alloh lagi hanif dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Alloh.” (QS. An-Nahl: 120)

Kemudian Ahlul Sunnah wal Jama’ah tersebut disebut dengan Ahlul Sunnah wal Jama’ah dengan sebab dua sifat yang ada pada mereka yang tidak dimiliki oleh kelompok-kelompok sesat yang lainnya.

Pertama: Berpegang teguhnya mereka dengan Sunnah Rasul sampai mereka menjadi penganut (ahli)nya. Hal ini berbeda dengan kelompok sesat lainnya. Mereka menjadikan pendapat, hawa nafsu dan perkataan pemimpin-pemimpin mereka sebagai hujjah walaupun menyelisihi Al-Quran dan As-Sunnah. Maka mereka lebih pantas untuk dinisbatkan kepada kebid’ahan yang mereka perbuat atau kepada pemimpin-pemimpin atau kepada perbutan-perbuatan mereka.

Kedua: Mereka bersatu di atas kebenaran dan tidak bercerai berai. Oleh karena itu mereka dijuluki sebagai Al-Jama’ah. Berbeda dengan kelompok-kelompok lain yang mereka tidak bersatu di atas kebenaran, bahkan jauh darinya. Sehingga mereka pun tersesat dari shirothol mustaqim.[10]

Syaikhul Islam –rohimahulloh– berkata: “Merekalah (Ahli Sunnah wal Jama’ah) yang berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam serta perkara-perkara yang bersepakat di atasnya orang-orang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshor dan yang mengikuti mereka.”[11]

Kebahagiaan seorang hamba di dunia dan akhirat serta keselamatannnya dari berbagai macam fitnah dan kesesatan hanyalah dengan mengikuti Al-Quran dan As-Sunnah dengan pemahaman salaf.

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ الله يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ﴾

”Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Alloh dan Rasul-Nya apabila Rasul menyeru kalian kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kalian. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Alloh membatasi antara manusia dan hatinya. Sesungguhnya kepada-Nyalah kalian akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal: 24)

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا الله وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى الله وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِالله وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا﴾

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rasul-(Nya) serta ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al-Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagi kalian dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)

Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«وقد تركت فيكم ما لن تضلوا بعده ان اعتصمتم به كتاب الله»

“Sungguh telah aku tinggalkan pada kalian apa yang kalian tidak sesat setelahnya jika kalian berpegang teguh dengannya yaitu kitabullah.”[12]

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadist telah menjelaskan tentang akan terjadinya perpecahan di antara umatnya[13] dan perpecahan itu disebabkan jauhnya sebagian umat Islam dari kitab Robb mereka dan Sunnah Rasul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam atau sebagian mereka membaca Al-Quran dan hadits siang dan malam, akan tetapi mereka tidak memahami apa yang mereka baca itu. Alloh ta’ala telah menegur orang-orang yang hanya membaca Al-Quran tanpa mentadabburinya (memahami). Alloh ta’ala telah berfirman:

﴿أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا﴾

“Maka apakah mereka tidak memahami Al-Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam menjelaskan salah satu sifat Khowarij yaitu mereka membaca Al-Quran, tetapi tidak melampaui kerongkongan mereka[14]. Maka sebab perpecahan di antara umat Islam adalah jauhnya mereka dari Al-Quran dan As-Sunnah. Baik jauhnya mereka dengan tidak mau kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah ataupun dengan tidak mau memahami keduanya dengan pemahaman yang benar, atau bahkan di antara mereka ada yang mengetahui kebenaran, akan tetapi tidak mau mengikutinya. Oleh karena itu, kita dapati di antara mereka ketika dibacakan kepadanya ayat-ayat Alloh yang jika diturunkan kepada gunung niscaya akan hancur karena takut kepada Alloh atau hadits-hadits Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam yang keshohihannya seperti terangnya matahari di siang hari yang beliau tidak mengatakan sesuatu dari hawa nafsu melainkan wahyu yang Alloh turunkan, kita dapati ada yang mengatakan: “Ini tidaklah masuk akal”, “tidak sesuai dengan perkembangan zaman”, “nenek moyang kita tidak berada di atasnya”, “ini menyelisihi madzhabku (walau madzhabnya menyelisihi Al-Quran dan As-Sunnah)” atau di antara mereka tidak menolak secara terang-terangan, akan tetapi menafsirkan makna Al-Quran dan As-Sunnah sesuai dengan hawa nafsu mereka. Yang terakhir ini lebih berbahaya daripada yang pertama walau kedua perkara tersebut tidaklah sesuai dengan tuntunan agama Islam.

Wahai umat Islam!!! Bukankah Al-Quran dan As-Sunnah yang shohih merupakan dua pokok agama kita??! Alloh ta’ala berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِين﴾

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kalian turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqaroh: 208)

Alloh ta’ala telah mencela orang-orang kafir ketika mereka mengambil sebagian kebenaran dan meninggalkan sebagian yang lain. Sebagaimana Alloh ta’ala berfirman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِالله وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ الله وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Alloh dan rasul-rasul-Nya dan bermaksud memperbedakan antara keimanan kepada Alloh dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada sebagian mereka dan kufur terhadap sebagian yang lain” serta bermaksud dengan perkataan itu mengambil jalan tengah di antara yang demikian (iman atau kafir).”

kemudian Alloh berkata:

y7Í´¯»s9shollallohu ‘alaihi wa sallamé& ãNèd rodhiallohu ‘anhubshollallohu ‘alaihi wa sallamãÏÿ»s3ø9$# $y)ym 4 $rodhiallohu ‘anhuRô‰rodhiallohu ‘anhuFôãshollallohu ‘alaihi wa sallam&ushollallohu ‘alaihi wa sallam rodhiallohu ‘anhuûï̍Ïÿ»s3ù=Ï9 $\/#x‹rodhiallohu ‘anhuã $YYŠÎg•B

“Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (QS. An-Nisa: 150-151)

Maka wajib bagi setiap muslim untuk kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah yang shohih pada setiap aspek kehidupan tidak mengedepankan atas keduanya hawa nafsu, taklid buta ataupun perasaan. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى الله وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا﴾

“Tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Alloh dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Kalau kita melihat realita kehidupan umat Islam pada zaman ini, sungguh keadaan mereka sangatlah memprihatinkan. Kebanyakan dari mereka berlomba-lomba untuk meraih dunia yang fana dengan semua fitnahnya, bahkan di antara mereka ada yang berani menjual agamanya, mengorbankan suadaranya seagama dan merendahkan diri di hadapan musuh-musuh Alloh demi mendapat sedikit dari harta dunia. Ini merupakan salah satu penyebab terjadinya perpecahan di antara barisan umat Islam yang menyebabkan kerendahan di mata musuh-musuh Islam yaitu orang-orang kafir. Munculnya firqoh (kelompok) pertama kali dalam Islam yaitu Khawarij, tidaklah muncul kecuali dengan sebab hawa nafsu dan dunia. Ketika pemimpin mereka yaitu Dzul Khuwaishiroh At-Tamimiy mencela keadilan Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, manusia yang paling adil dan memegang amanah. Dia berkata: “Berbuat adillah, wahai Rosulullah!”[15]

Setelah itu bermunculan kelompok-kelompok yang menyelisihi jalannya Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya dalam tubuh umat Islam sesuai dengan yang dikhabarkan oleh Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Kita tidak dapat memungkiri kenyataan yang terjadi di tengah-tengah umat Islam dari perpecahan dan berkelompok-kelompok. Satu kelompok berbeda prinsip dan akidahnya dengan kelompok yang lain. Setiap kelompok bangga dengan apa yang ada pada mereka walaupun menyelisihi Al-Quran dan As-Sunnah dengan pemahaman salaf. Apakah perselisihan tersebut mendatangkan keuntungan kepada umat Islam ataukah kerugian??! Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ﴾

“Janganlah kalian berselisih, maka kalian akan kalah dan hilang kekuatan kalian.” (QS. Al-Anfal: 46)

Umat Islam haruslah bangkit dan menyadari bahwasanya musuh-musuh Islam baik dari dalam maupun dari luar tidak henti-hentinya membuat makar untuk memusnahkan Islam dan umat Islam. Walaupun kita mengetahui bahwa Alloh ta’ala   senantiasa akan menjaga agama ini sampai hari kiamat, tetapi siapa di antara kita yang ridho menjadi korbannya?

﴿وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ﴾

“Tidak akan senang Yahudi dan Nasharo sampai kalian mengikuti agama mereka.” (QS. Al-Baqarah: 120)

Kemudian jalan apakah yang harus ditempuh oleh umat Islam untuk mengangkat diri-diri mereka dari kehinaan dan perselisihan serta dapat meraih apa yang diraih oleh para sahabat Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam berupa kejayaan??

﴿إِنَّ الله لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ﴾

“Sungguh Alloh tidak merubah suatu kaum, sampai mereka yang merubah diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ro’d: 11)

Walaupun kita mengetahui bahwa perpecahan dan perselisihan yang terjadi di kalangan umat Islam adalah melupakan ketetapan Alloh ta’ala yang memiliki hikmah yang agung di dalamnya,[16] akan tetapi Alloh ta’ala dan Rasul-Nya telah menerangkan tentang jalan keluarnya sekaligus memerintahkan untuk mengambilnya. Jalan keluar itu adalah kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah dengan pemahaman salaf.

Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ الله جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا﴾

“Berpegang-teguhlah kalian dengan tali Alloh dan jangan bercerai-berai.” (QS. Ali Imron: 103)

Dalam ayat ini Alloh memerintahkan untuk berpegang teguh dengan tali-Nya yaitu Al-Quran dan menerangkan bahwa dengan Al-Qur’an tersebut seseorang selamat dari perselisihan (lihat tafsir Ibnu Katsir –rohimahulloh-)

Begitu pula Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam ketika mengabarkan tentang akan terjadinya perpecahan, beliau menasihati untuk berpegang teguh dengan Sunnahnya dan sunnah khulafa’ setelahnya. Sebagaimana sabda beliau:

«فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ»

“Barangsiapa yang berumur panjang di antara kalian, niscaya akan melihat perselisihan yang banyak, maka atas kalian sunnah-Ku dan sunnah khulafa’ yang diberi petunjuk.[17] Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَعَدَ الله الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا﴾

“Alloh telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang shaleh, bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku.” (QS. An-Nur: 55)

Dalam ayat ini Alloh ta’ala telah menerangkan tentang kejayaan itu dengan beribadah hanya kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«إذا تبايعتم بالعينة وأخذتم أذناب البقر ورضيتم بالزرع وتركتم الجهاد سلط الله عليكم ذلا، لا ينزعه حتى ترجعوا إلى دينكم»

“Jika kalian telah berjual beli dengan riba, mengambil ekor-ekor sapi dan kalian tersibukkan dengan bercocok tanam, sehingga meninggalkan jihad, maka Alloh akan menimpakan atas kalian kerendahan dan tidak akan terangkat sampai kalian kembali kepada agama kalian.”[18]

Sungguh sangat mengherankan ada sebagian orang yang memaksa diri-diri mereka untuk bersatu walau terdapat pada masing-masing mereka kemungkaran dan kemaksiatan tanpa menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar di antara mereka.

Kita katakan kepada mereka:

1)      Inikah jalan yang Alloh dan Rasul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam tetapkan sebagai jalan keluar dari perselisihan??!

﴿قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ﴾

“Katakanlah: “Datangkanlah bukti kalian, jika kalian jujur!”

2)      Dimanakah kalian dari amar ma’ruf dan nahi mungkar yang dengannya Alloh ta’ala      mengangkat derajat umat ini. Alloh ta’ala berfirman:

﴿لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (78) كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ﴾

“Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sungguh amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Maidah: 78-79)

3)      Bagaimana kalian mengharapkan kejayaan dan pertolongan dari Alloh ta’ala, sedangkan pada tubuh kalian ada perkara yang menghalanginya berupa kemaksiatan?! Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَالَّذِينَ كَسَبُوا السَّيِّئَاتِ جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَتَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ مَا لَهُمْ مِنَ الله مِنْ عَاصِمٍ﴾

“Orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat) balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun dari (azab) Alloh.” (QS. Yunus: 27)

4)      Bagaimana kalian bisa bersatu, sedangkan akidah dan manhaj kalian berbeda-beda yang semuanya menyelisihi Al-Quran dan As-Sunnah dengan pemahaman salaf. Perbedaan atau perselisihan batin (hati) lebih berbahaya daripada perselisihan lahir. Oleh karena itu, Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam melarang bengkoknya shof sholat yang akan menyebabkan perselisihan hati. Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«لا تختلفوا فتختلف قلوبكم»

“Jangan kalian berselisih sehingga akan berselisihlah hati-hati kalian!”[19]

Alloh ta’ala berfirman:

﴿تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى﴾

“Kalian mengira bahwa mereka bersatu, padahal hati-hati mereka bercerai-berai.” (QS. Al-Hasyr: 14)

 

Oleh karena itu, tidak ada jalan untuk menyatukan umat Islam dengan persatuan yang hakiki, kecuali dengan kembalinya mereka kepada Al-Quran dan As-Sunnah dengan pemahaman salaf.

MENGAPA HARUS DENGAN PEMAHAMAN SALAF?[20]

Pengertian salaf

Ibnu Mandzur –rohimahulloh– berkata: “Salafa (سلفَ) bermakna: terdahulu dan salafun  (سلفٌ) bermakna sekolompok orang yang terdahulu.”[21]

As-Sam’ani –rohimahulloh– berkata: “Salafi  (سلفي)ini adalah nisbah kepada salaf (sekelompok orang yang terdahulu) dan mengikuti jejak mereka.”[22]

Adapun makna secara istilah, maka berkatalah Imam As-Safariniy –rohimahulloh ta’ala-:  “Mazhab salaf adalah perkara yang di atasnya para sahabat yang mulia dan yang mengikuti mereka dengan baik serta para Imam yang diketahui keimaman mereka dan besar martabatnya dalam agama sehingga diterima perkataannya oleh manusia, baik yang terakhir maupun yang terdahulu, bukan yang termakan bid’ah atau terkenal dengan gelar yang jelek seperti Khawarij, Rawafidh, Qadariyyah, Jabriyyah, Jahmiyyah, Mu’tazilah, Karramiyyah dan yang sejenis mereka.”[23]

Al-Lajnah Ad-Daimah telah ditanya: “Apa itu AS-SALAFIYAH dan bagaimana pendapat kalian tentang istilah ini?”

Mereka menjawab: “AS-SALAFIYAH adalah nisbat kepada salaf dan salaf adalah para sahabat dan para Imam dari tiga generasi pertama yang telah Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersaksi tentang kebaikan mereka sebagaimana beliau bersabda:

«خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم»

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang setelah mereka, kemudian yang setelah mereka.” (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim)

Salafiyun adalah bentuk plural dari salafi, nisbat kepada salaf dan telah lewat maknanya. Mereka adalah orang-orang yang berjalan di atas jalannya salaf dalam mengikuti Al-Quran dan As-Sunnah serta berdakwah kepada keduanya sekaligus beramal dengan keduanya. Maka dengan demikian, mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.” (Fatawa Al-Lajnah: 2/242-243)

DALIL-DALIL TENTANG WAJIBNYA MENGIKUTI MANHAJ SALAF

Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا﴾

“Barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, maka Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam. Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rohimahulloh– berkata: “Salah satu dari kedua sifat tersebut mengandung ancaman, karena yang satu mengharuskan adanya yang lain…  Barangsiapa yang menyelisihi Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka dia telah mengikuti selain jalan kaum mukminim. Barangsiapa yang mengikuti selain jalan kaum mukminim, maka dia telah menyelisihi Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam… Maka barangsiapa yang keluar dari  ijma’ (kesepakatan) mereka, maka dia telah mengikuti selain jalan mereka sehingga ayat di atas sebagai ancamannya.”[24]

Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ الله عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ﴾

“Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Alloh dan Alloh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)

As-Sa’di –rohimahulloh– berkata: “Orang-orang yang mengikuti mereka yaitu dalam masalah akidah, perkataan dan perbuatan.[25]

Alloh ta’ala berfirman:

﴿فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ الله وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ﴾

“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kalian). Maka Alloh akan memelihara kalian dari mereka. Dia-lah As-Sami’ (maha mendengar) lagi Al-‘Alim (maha mengetahui).” (QS. Al-Baqarah: 137)

Sisi pendalilan ayat ini bahwa Alloh ta’ala menjadikan jalan para sahabat begitu pula orang-orang yang mengikuti mereka sebagai tolak ukur kebenaran. Barangsiapa yang mengambil jalan mereka dalam beriman kepada Alloh dan Rasul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka dia telah mendapat petunjuk. Jika sebaliknya, maka dia telah binasa. Makna ayat ini seperti perkataan Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam:

«والذي نفس محمد بيده لتفترقن أمتي على ثلاث وسبعين فرقة . واحدة في الجنة وسبعون في النار» قيل: يا رسول الله، من هم؟ قال: «الجماعة».

“Demi jiwa Muhammad yang ada ditangan-Nya akan terpecah umatku menjadi 73 golongan, satu di antaranya di syurga dan 72 lainya di neraka.”[26] Beliau ditanya: “Siapakah mereka (satu golongan itu), wahai Rosulullah?” Beliau menjawab: “AL-JAMAAH.”[27]

Telah datang dari hadits Abdulloh bin ‘Amr –rodhiyallohu ‘anhuma– yang diriwayatkan oleh Imam Al-Tirmidzi (2641) sebagai penjelasan tentang makna al-jama’ah, beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«ما أنا عليه وأصحابي»

“Perkara yang aku dan sahabatku berada di atasnya.”[28]

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم»

“Sebaik manusia adalah generasiku, kemudian yang setelah mereka, kemudian yang setelah mereka.[29]

Ibnu Mas’ud –rodhiyallohu ‘anhu– berkata: “Mereka adalah sahabat Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam yang paling utama dari umat ini, paling selamat hatinya, paling dalam ilmunya serta paling sedikit bebannya. Mereka adalah kaum yang Alloh pilih untuk menemani Rosul-Nya demi menegakkan agama-Nya. Maka ketahuilah keutamaan mereka dan ikutilah jalan mereka … Sesungguhnya mereka dahulu di atas petunjuk.”[30]

Alloh ta’ala dalam banyak ayat-Nya dan Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits beliau telah memuji ahlul ‘ilmi dan menjadikan mereka tempat kembalinya manusia dalam perkara agama mereka dengan sebab ilmu tentang Al-Kitab dan As-Sunnah yang ada pada mereka dan takutnya mereka pada Alloh. Orang-orang yang terdepan di antara ahlul ‘ilmi adalah para sahabat Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka dari ahlul ‘ilmi setelah mereka. Alloh ta’ala berfirman:

﴿فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُون﴾

“Bertanyalah kepada ulama tentang perkara yang kalian tidak mengetahuinya. (QS. An-Nahl: 43)

Juga berfirman:

﴿إِنَّمَا يَخْشَى الله مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ﴾

“Hanyalah yang takut kepada Alloh dari hamba-hambanya adalah ulama.” (QS. Fathir: 28)

Oleh karena itu, termasuk salah satu penyebab kesesatannya Haruriyah (salah satu kelompok Khawarij) yang memberontak pada zaman Ali –rodhiyallohu ‘anhu– adalah tidak kembalinya mereka kepada para sahabat dalam memahami Al-Quran dan As-Sunnah sehingga mereka menuduh Ali –rodhiyallohu ‘anhu– yang ketika itu beliau menjadi Amirul Mukminin dan para sahabat Nabi yang lain telah melakukan sesuatu perkara yang besar, sehingga mereka berani keluar memberontak. Ibnu Abbas –rodhiyallohu ‘anhuma– ketika mendengar tentang keadaan mereka, lalu beliau pergi ke tempat mereka untuk menjelaskan kesesatan mereka, sehingga -dengan izin Alloh- sejumlah 2000 orang dari mereka bertobat dan 4000 orang lainnya tetap berpegang dengan kesesatan mereka yang menyebabkan Ali –rodhiyallohu ‘anhu– dan para sahabat lainnya memerangi mereka.

Di antara perkataan Ibnu Abbas –rodhiyallohu ‘anhuma– kepada mereka: “Saya datang dari sisi sahabat Nabi, Muhajirin dan Anshor dan dari sisi sepupu Nabi dan menantunya (‘Ali) yang kepada merekalah Al-Quran itu diturunkan. Oleh karena itu, mereka lebih mengetahui tentang tafsirnya daripada kalian dan tidak ada di antara kalian dari mereka seorang pun. Saya menyampaikan kepada kalian apa yang mereka katakan dan saya sampaikan kepada mereka apa yang kalian katakan.”[31]

Inilah di antara dalil-dalil tentang wajibnya kita untuk kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah dengan pemahaman sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka.

Alloh ta’ala telah menyempurnakan agama Islam dan Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan semua perkara yang bermanfaat bagi umatnya, sehingga tiada satu kebaikan pun, kecuali beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkan umatnya kepada hal itu dan tiada satu kejelekan pun, kecuali beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam telah memperingati umatnya dari hal itu. Dikatakan kepada Salman Al-Farisi: “Sungguh Nabi kalian telah mengajari kalian segala sesuatu sampai tata cara menunaikan hajat.” Salman menjawab: “Betul, beliau telah melarang kami menghadap kiblat ketika menunaikan hajat atau beristinjak dengan tangan kanan atau beristinjak kurang dari tiga batu atau beristinjak dengan kotoran atau tulang.”[32]

Perkara ini telah di sepakati oleh sahabatnya yaitu ketika haji wada’, beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam berdiri di hadapan para sahabatnya yang ketika itu berjumlah besar, sebagaimana yang dikatakan Jabir –rodhiyallohu ‘anhu-: “Saya melihat manusia di depannya yang berjalan dan yang berkendaraan sejauh mata memandang. Begitu pula di bagian kanan, kiri dan belakang beliau.” Seraya berkata: “Sungguh kalian akan ditanya tentangku, maka apa yang kalian akan katakan?” Mereka serentak menjawab: “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah dan menasihati.” Kemudian beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam mengangkat jari telunjuknya ke arah langit dan setelah itu menurunkannya ke arah manusia dan berkata: “Wahai Alloh saksikanlah.” (tiga kali)[33]

A’isyah –rodhiyallohu ‘anha– berkata: “Barangsiapa mengatakan kepadamu bahwa Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan sesuatu dari wahyu, maka dia telah berdusta. Alloh ta’ala berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ﴾ [34]

“Wahai Rosul, sampaikanlah wahyu yang diturunkan kepadamu dari Robbmu.” (QS. Al-Maidah: 67)

Setelah para sahabat mengambil ajaran Islam yang murni dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam secara langsung, maka mereka pun menyampaikan semua yang mereka dapati kepada para tabi’in kemudian para tabi’in menyampaikannya kepada para tabi’ut tabi’in kemudian para tabi’ut tabi’in menyampaikannya kepada yang setelah mereka. Begitulah seterusnya dari generasi kepada generasi setelahnya, sehingga dengan mereka Alloh ta’ala menjaga kemurnian agama-Nya sampai hari kiamat. Inilah kebenaran janji Alloh untuk menjaga agama-Nya sebagaimana Alloh ta’ala berfirman:

﴿إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرََ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُون﴾

“Sungguh Kami turunkan Al-Quran dan kami akan menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Dengan sebab mereka berpegang teguh dengan ajaran Islam yang murni yang tidak terkotori dengan sesuatu kesesatan apa pun dan rela berkorban untuk menjaga kemurniannya dari kotoran kebid’ahan, kesyirikan dan kemaksiatan baik dengan tenaga, waktu atau harta. Bahkan jiwa dan raga mereka sekalipun, sehingga Alloh ta’ala      selalu memenangkan mereka atas seluruh musuh-musuh mereka baik dari kalangan kuffar ataupun dari kalangan ahlul bida’ dan hawa nafsu. Alloh ta’ala berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا الله يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ﴾

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Alloh, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 8)

Firman Alloh –ta’ala– juga:

﴿إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا الله ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (30) نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ (31) نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Robb Kami adalah Alloh,” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kalian merasa takut dan bersedih. Bergembiralah kalian dengan syurga yang telah dijanjikan Alloh kepada kalian.” Kamilah pelindung-pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan akhirat. Di dalamnya kalian akan memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh apa yang kalian minta.” (QS. Fusshilat: 30-31)

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«لاتزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق لايضرهم من خذلهم حتى يأتي أمر الله وهم كذلك»

“Senantiasa ada sekelompok orang dari umatku yang nampak di atas kebenaran. Tidak memudharatkan mereka orang yang menghina sampai datang perkara Alloh dan mereka tetap demikian keadaannya.”[35]

Imam Ahmad –rohimahulloh– berkata: “Jika mereka bukan ahlul hadits, maka aku tidak tahu lagi siapakah mereka itu?”[36]

Imam Al-Bukhori –rohimahulloh– berkata: “Mereka adalah ahlul ‘ilmi.”[37]

Beliau –rohimahulloh– berkata juga: “Yakni ashhabul hadits.”[38]

Ketika bermunculan berbagai macam firqoh sesat dalam Islam yang menyelisihi manhaj Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya dengan sebab kebida’han, hawa nafsu dan syubuhat yang lebih mereka utamakan, sehingga mereka digelari sebagai ahlul ahwa’, ahlul bida’, ahlul syubuhat. Bahkan di antara mereka ada yang dinisbatkan kepada pemimpin mereka seperti Jahmiyyah (Jahm bin Shofwan) atau kepada kebida’han yang mereka perbuat seperti Qadariyah (menolak takdir) dan lain-lain. Maka timbullah julukan-julukan bagi orang-orang yang kokoh di atas manhaj Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya demi membedakan diri-diri mereka dari kelompok-kelompok sesat itu yang pada hakekatnya makna julukan-julukan tersebut semuanya kembali kepada ajaran Islam yang murni, baik terdapat dalam Al-Quran dan As-Sunnah seperti al-jama’ah,[39] jama’atul muslimin,[40] al-firqotun najiyah,[41] at-thoifah al-mansuroh[42] ataupun dengan sebab kokohnya mereka di atas Sunnah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya di depan ahlul bida’ dan hawa nafsu sehingga muncul ikatan erat antara mereka dan orang-orang yang terdahulu seperti Ahlul Hadist, Ahlul Atsar, As-Salaf, As-Salafiyyah, Ahlul Sunnah wal Jama’ah.[43]

Muhammad bin Sirin –rohimahulloh– berkata:

لم يكونوا يسألون عن الإسناد فلما وقعت الفتنة قالوا سموا لنا رجالكم فينظر إلى أهل السنة فيؤخذ حديثهم وينظر إلى أهل البدع فلا يؤخذ حديثهم.

“Dahulu mereka tidak bertanya tentang sanad. Ketika terjadi fitnah berupa kebid’ahan, maka mereka mengatakan: “Sebutkan kepada kami orang-orang kalian!” Ketika dilihat bahwa mereka dari Ahlul Sunnah, maka diambil haditsnya dan ketika dari ahlul bida’, maka ditolaklah haditsnya.”[44]

Betapa besar martabat dan keutamaan yang Alloh anugerahkan kepada mereka, sehingga orang-orang yang bukan dari mereka mengaku-aku bahwa merekalah satu golongan tersebut. Akan tetapi, jika kita lihat manhaj (metode beragama) mereka, maka sungguh sangatlah berbeda dengan apa yang Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya berada di atasnya. Maka yang terpenting adalah setiap individu ataupun jama’ah mendatangkan dalil tentang perkara yang mereka dakwakan tersebut.

Seorang penyair berkata:

كل يدعي وصلا بليلى           وليلى لا تقر لهم بذاك

“Semua mengaku memiliki hubungan dengan Laila, tetapi Laila tidak mengakui mereka.”

Jika melihat perjalanan hidup Ahlul Hadits baik yang terdahulu maupun sekarang. Kita dapati merekalah kaum yang kehidupan mereka lebih mencocoki kehidupan Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau. Perkara ini bukanlah sesuatu yang berlebih-lebihan atau sekedar pengakuan belaka. Akan tetapi hal ini telah disaksikan oleh Al-Quran dan As-Sunnah. Begitu pula kita bisa melihat sejarah hidup, perkataan, keadaan dan karya-karya tulis mereka. Oleh karena itu, Imam Ahmad –rohimahulloh-ketika menafsirkan hadits Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam tentang adanya sekelompok orang yang tetap nampak di atas al-haq mengatakan: “Jika mereka bukan Ahlul Hadist, maka saya tidak tahu siapakah mereka.”[45]

Ahlul Hadits merupakan orang terdepan dalam tubuh Ahlul Sunnah wal Jama’ah. Qutaibah bin Said berkata: “Jika engkau melihat seseorang mencintai Ahlul Hadits seperti Yahya bin Sa’id Al-Qotthon, Abdurrohman bin Mahdi, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih (kemudian beliau menyebutkan beberapa orang lainnya), maka sesungguhnya dia di atas Sunnah dan barangsiapa menyelisihi perkara ini, maka ketahuilah bahwasanya dia adalah seorang mubtadi’.”[46]

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB KEDUA: FIRQOH “WAHHABIYYAH” KHAWARIJ

Wahhabiyah adalah suatu golongan yang menisbatkan diri kepada seorang tokoh yang bernama Abdul Wahhab bin Abdurrohman bin Rustum yang awal munculnya di bagian utara benua Afrika. Pengarang kitab Tashhih Khoto’ Tarikhiy berkata: “Terdapat dalam kitab Magribul Kabir (jilid 2, masa pemerintahan Al-‘Abbasiy) karya Dr. Sa’id Abdul Aziz Salim bahwa Abdurrohman bin Rustum merupakan pendiri negara Rustumiyah di kota Taheret negara Maghrib. Ketika merasa ajalnya telah dekat (tahun 171H) dia mewasiatkan tentang kekuasaannya kepada tujuh orang pilihan dari negara Rustumiyah, di antara mereka adalah anaknya Abdul Wahhab dan Yazid bin Fan Deek. Akan tetapi Abdul Wahhab telah dibai’at sebelumnya. Hal ini menyebabkan terjadinya perselisihan antara dia dengan Ibnu Fan Deek.”

Maka terpecahlah Ibadhiyah (salah satu kelompok Khawarij) –yang merupakan ajaran Ibnu Rustum dan orang-orang yang bersamanya yang ajaran tersebut ia bawa dari Irak ke Maghrib- menjadi dua kelompok: Al-Wahhabiyah (nisbat kepada Abdul Wahhab bin Abdurrohman bin Rustum) dan An-Nakiriyyah.

Kemudian terjadi peperangan dan pertumpahan darah dari kedua belah pihak yang berakhir dengan kekalahan An-Nakiriyah serta terbunuhnya pimpinan mereka yang bernama Ibnu Kandiroh.

Begitu pula sebagaimana yang diceritakan oleh pengarang  kitab Al-Firaqul Islamiyah di bagian utara Afrika. Dia berkata: “Sesungguhnya Khawarij Wahhabiyin (yang menisbatkan diri-diri mereka kepada Abdulloh bin Wahhab Ar-Roosibi yang dibunuh oleh ‘Ali bin Abi Thalib –rodhiyallohu ‘anhu– di Nahrawan. Mereka adalah Khawarij Ibadhiyah.” Kemudian dia menerangkan tentang cabang-cabang ajaran mereka. Dia mengatakan: ”Ibadhiyah di Taheret Maghrib bagian dari Wahhabiyyah dan merekalah yang memiliki Negara Rustumiyah dan mereka merupakan kelompok yang paling tinggi tingkat kefanatikannya.”

Dari penjelasan di atas, kita dapat simpulkan bahwa kelompok Wahhabiyah yang muncul sekitar tahun 200-an hijriyyah di bagian barat kota Mesir yang menisbatkan diri-diri mereka kepada Abdul Wahhab bin Abdurrohman bin Rustum adalah cabang dari kelompok Wahhabiyyah nisbat kepada Abdulloh bin Wahhab Ar-Rosibi yang dibunuh oleh ‘Ali –rodhiyallohu ‘anhu– di Nahrawan ketika dia dan pengikutnya mencoba merongrong kepemerintahan ‘Ali –rodhiyallohu ‘anhu– yang kemudian ‘Ali  membinasakan mereka pada tahun 38 hijriyyah.

Kelompok Wahhabiyyah sendiri adalah cabang dari kelompok Khawarij.  Syaikhul Islam –rohimahulloh– berkata: “Kelompok Khawarij memiliki beberapa nama, diantaranya Al-Haruriyyah (dikatakan demikian, karena mereka keluar dan berkumpul di tempat yang bernama Harura’), Ahlun Nahrowan (dikatakan demikian, karena ‘Ali memerangi mereka di tempat tersebut). Termasuk dari jenis mereka adalah Al-Ibadhiyyah pengikut Abdulloh bin Ibadh.”

Mengenal kelompok Khawarij

Berdasarkan penjelasan sebelumnya, alangkah baiknya kalau kita mengenal lebih lanjut tentang kelompok Khawarij, siapakah mereka itu….?

Khawarij adalah sekelompok orang yang melepaskan diri dari Imam (penguasa) yang sah, yang telah disepakati oleh suatu kaum. Perbuatan mereka dari zaman Khulafa’ur Rasyidin ataupun setelah mereka tanpa asas syar’i. Individu mereka dinamakan kharijiy. Cikal bakal mereka adalah Dzul Khuwaishiroh At-Tamimiy yang menuduh Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak berbuat adil, sebagaimana dalam Shohih Bukhari (3610) dan Muslim (1064) dari Abu Sa’id Al-Khudriy –rodhiyallohu ‘anhu-:

بينما نحن عند رسول الله -صلى الله عليه وسلم- وهو يقسم قسما أتاه ذو الخويصرة وهو رجل من بني تميم فقال: يا رسول الله، اعدل! فقال: «ويلك ومن يعدل إذا لم أعدل قد خبت وخسرت إن لم أكن أعدل»

“Tatkala kami disisi Rasulullah dan beliau sedang membagi ghonimah (harta rampasan perang) kepada kaum muslimin, datanglah Dzul Khuwaishiroh –dia berasal dari Bani Tamim- kepadanya dan berkata: ”Wahai Rasulullah, berbuat adillah!!!” Maka beliau menjawab: ”Celaka kamu, siapakah yang bisa berlaku adil jika aku tidak berlaku adil?! Sungguh kamu telah binasa dan rugi jika aku tidak berlaku adil!”

Ini adalah awal munculnya kelompok Khawarij. Penamaan Khawarij ini diambil dari perkataan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam tentang mereka:

«فإن له أصحابا يحقر أحدكم صلاته مع صلاتهم وصيامه مع صيامهم يقرءون القرآن لا يجاوز تراقيهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية»

“Sesungguhnya dia memiliki pengikut yang salah seorang di antara kalian menganggap remeh sholatnya dibandingkan dengan sholat mereka, puasanya dengan puasa mereka.  Mereka itu membaca Al-Qur’an, tetapi tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama seperti melesatnya anak panah keluar dari buruannya.” (HR. Bukhori, no. 3610 dan Muslim, no. 1064 dari Abu Sa’id Al-Khudriy –rodhiyallohu ‘anhu-).

Juga diambil dari perkataan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam:

«يخرجون على حين فرقة من الناس»

“Mereka akan keluar ketika terjadi perpecahan di antara manusia.” (HR. Bukhori no.3610 dan Muslim no.746 dari Abu Sa’id –rodhiyallohu ‘anhu-).

Yaitu ketika terjadi pertikaian antara ‘Ali dan Mu’awiyah –rodhiyallohu ‘anhuma-. (lihat Syarh Shohih Muslim karya Imam An-Nawawiy –rohimahulloh-).

Ali –rodhiyallohu ‘anhu– dan para sahabatnya telah membunuh Dzul Khuwaishiroh dan antek-anteknya. Abu Sa’id –rodhiyallohu ‘anhu– berkata: ”Aku bersaksi bahwa ‘Ali telah memerangi mereka (Khawarij) dan saya pun bersamanya. Maka dia perintahkan untuk didatangkan pemimpin mereka, kemudian didatangkan kepadanya (dalam keadaan mati) yang sifatnya mencocoki apa yang dikatakan Rasulullah tentangnya.” (HR. Bukhariy, no. 3610 dan Muslim no. 1064).

Para sahabat pun telah menamai mereka sebagai Khawarij, begitu pula para ulama ketika menerangkan tentang kelompok-kelompok sesat. Al-Murtadha Az-Zubaidi berkata: “Mereka dinamakan dengannya karena keluarnya mereka atas manusia atau dari agama atau dari al-haq atau dari Ali –karromallohu wajhah[47]  setelah perang Shiffin.” (Tajul ‘Arus: 2/30)

Diantara aqidah Khawarij yang sesat:

  • Wajib keluar (memberontak) atas pemerintah muslim yang terjatuh dalam kefasikan atau kezholiman.
  • Mengatakan Al-Quran adalah makhluk.
  • Mengingkari syafa’at bagi muslim pelaku maksiat.
  • Mengingkari adanya surga dan neraka sekarang, dll.

 

 

 

Sejarah munculnya kelompok Wahhabiyah[48]

Tersebarnya madzhab Ibadhiyah cabang dari kelompok Khawarij melalui perantara da’i-da’i mereka di Maghrib (Afrika Utara) ketika mereka terusir dari bagian timur Afrika yang dekat dari ibukota khilafah Islamiyah. Mereka mengharuskan diri-diri mereka untuk membangun kembali madzhab Ibadhiyah dan mendirikan negara sendiri dan jauh dari intaian khalifah. Maka mereka pun memilih utara Afrika demi mewujudkan impian mereka. Mereka mendapatkan sambutan yang hangat dari kabilah Barbar di Maghrib, sehingga mereka mengambil kesempatan ini dalam menyebarkan madzhab mereka.

Salah satu sebab tersebarnya madzhab Ibadhiyah di Maghrib adalah sikap berpura-pura tunduk kepada pemerintah dan berbuat baik kepada setiap yang menyelisihi mereka sampai mereka mendapatkan kesempatan untuk menjalankan misi mereka. Kalaulah tidak dengan cara demikian, maka pemerintah akan membumi-hanguskan mereka sejak dini ketika mereka masih lemah. Hal itu karena mereka tidak ingin musibah kekalahan menimpa mereka kedua kalinya, sebagaimana Bashrah (Irak sekarang) yang merupakan salah satu benteng bagi para da’i madzhab Ibadhiyah dan dari situlah bertolaknya para da’i Ibadhiyah yang tersebar di Maghrib untuk mendirikan negara Ibadhiyah.

Dahulu para dai yang menyebar dari Bashroh ke tempat-tempat lain tetap bersandar kepada asalnya. Bahkan tidak ada seorang pun yang mau memberontak kepada pemerintah, kecuali bermusyawarah dengan ulama Ibadhiyah di Bashrah (Irak) terlebih dahulu. Madzhab Ibadhiyah mendapat sambutan dan pembelaan dari penduduk Maghrib yang menjadikan mereka besar di sana.

Tetapi perlu diketahui, bahwa kabilah-kabilah yang ada di Maghrib pada awalnya ada di antara mereka yang tidak setuju dengan madzhab Ibadhiyah. Namun mereka memiliki suatu kebiasaan yaitu mengikuti setiap yang kuat dan banyak pengikutnya. Dahulu kabilah Barbar, semenjak mereka memeluk agama Islam, mereka sangat erat dalam memeluknya sampai-sampai mereka ikut serta pada setiap peperangan yang diadakan pasukan Islam. Kabilah Barbar ketika diperlakukan dengan adil dan lemah lembut oleh penguasa, merekalah orang yang paling taat dan patuh. Sifat patuh ini pun terus melekat pada mereka, sehingga mereka mulai merasakan ketidak-adilan dari sang khalifah yang pada waktu itu adalah Hisyam bin Abdul Malik dan yang paling jelek perbuatannya dari anak buah sang khalifah adalah Ubaidulloh bin Habhab. Dia sangat tamak dalam mengumpulkan harta dari masyarakat, yang kemudian mengirimnya ke Syam tempat keberadaan sang khalifah demi menyenangkan hati sang khalifah dan perkara ini pun dilakukan oleh teman-teman Ubaidulloh. Hal ini menyebabkan timbulnya kemarahan dari penduduk Maghrib.

Kesempatan ini pun diambil oleh para da’i Khawarij di sana untuk menghasung mereka agar memberontak kepada khalifah Umawiyah yaitu Hisyam bin Abdul Malik. Akan tetapi, mereka belum mau menyambut ajakan para da’i tersebut dan mengatakan: ”Ini bukanlah dosa khalifah sampai kita harus memberontak kepadanya, akan tetapi ini adalah dosa bawahannya.” Demikianlah keadaan mereka setiap kali diajak untuk keluar atas khalifah. Mereka katakan: ”Kami tidak akan memberontak kepada khalifah dengan sebab apa yang diperbuat bawahannya sampai kami menguji khalifah.”

Para da’i Ibadhiyah terus-menerus merayu mereka agar keluar atas khalifah dan mengatakan: ”Sesungguhnya apa yang dilakukan oleh bawahan sang khalifah sebenarnya itu adalah perintah dari sang khalifah.” Akan tetapi mereka menjawab dengan jawaban yang sama.

Akhirnya para penduduk Maghrib (sekitar belasan orang) yang merasa sangat terdzalimi, pergi menuju Damaskus (kota di Syam) dengan dipimpin oleh Al-Maisaroh Al-Mitghori dalam rangka mengadukan apa yang mereka dapatkan dari sang khalifah. Akan tetapi sang khalifah tidak mau keluar menemui mereka. Dengan sebab inilah mereka pun bertekad untuk kembali ke negeri mereka. Tatkala mereka telah berputus asa dengan perlakuan sang khalifah, mereka menulis surat kepada sang khalifah yang berisikan pengaduan-pengaduan sebagai bentuk permintaan maaf jika mereka mengambil tindakan anarkis. Dalam surat itu, mereka menulis setiap nama-nama mereka.

Dengan kenyataan yang mereka alami dari sang kholifah dan berbagai kedzaliman lain dari bawahannya, maka mereka pun berkeinginan keras untuk memberontak melawan sang kholifah. Ditambah dengan seruan Khawarij kepada mereka untuk keluar melawan sang kholifah. Mereka memulai niat mereka ini dengan membunuh salah satu bawahan sang kholifah, kemudian mereka pun akan berhasil menguasai Afrika. Tatkala sang kholifah Hisyam mengetahui perlakuan mereka tersebut, maka dia pun bertanya-tanya tentang nama-nama rombongan yang datang kepadanya. Maka diserahkanlah kepadanya nama-nama mereka. Setelah itu barulah dia tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang datang kepadanya dan dia tidak mau keluar menemui mereka.

Pemberontakan pun berkecamuk dengan dashyat. Orang-orang Ibadhiyah Khawarij menjadikan Maisaroh sebagai Amirul Mu’minin, kemudian sang kholifah mengutus sekitar tiga puluh ribu pasukan untuk membendung perbuatan mereka. Akan tetapi, pasukannya dikalahkan oleh orang-orang Ibadhiyah Khawarij di sana sehingga roda pemerintahan bagian barat Arab dari benua Afrika tersebut di bawah pengawasan Ibadhiyah Khawarij dan sang kholifah berputus asa untuk merebut daerah Maghrib tersebut setelah kekalahan yang menimpa pasukannya. Kemudian jadilah negara Maghrib tempat bercokolnya orang-orang yang tidak setuju dengan khilafah Umawiyyah pada waktu itu.

Setelah itu terjadilah peperangan dan pertempuran antara Ibadhiyah Khawarij dan pemerintah. Kemenangan dan kekalahan dirasakan oleh kedua belah pihak silih berganti sampai runtuhnya dinasti Umawiyyah dan berdirinya dinasti ‘Abbasiyah. Setelah itu dinasti Abbasiyah pun mulai mencoba meruntuhkan kekuasaan Ibadhiyah Khawarij di Maghrib. Ketika itu yang menjadi pemimpin Ibadhiyah adalah Abul Khatthab dan dia adalah salah satu dari lima orang yang pergi ke Bashroh, kemudian kembali ke Maghrib membawa pemikiran Khawarij untuk mendirikan sebuah negara sendiri buat mereka.

Ibadhiyah sangat jaya di bawah kekuasaan Abul Khatthab Abdul A’la bin Samah Al-Mu’afiriy. Dia sangat berambisi menjadikan Thorabulus ibukota negara mereka. Oleh karena itu, dia berencana meruntuhkan kekuatan-kekuatan pemerintah yang ada di kota tersebut dengan cara mengirim pasukan dalam keadaan bersembunyi dalam karung kemudian diletakkan di atas onta. Setiap dua orang menunggangi satu onta. Ide ini diambil agar masyarakat tidak mengetahui keadaan mereka. Rencana tersebut terus mereka jalankan. Setelah berada di tengah-tengah kota, maka mereka langsung keluar menyerang pasukan pemerintah dan berhasil dikalahkan. Kemudian, Thorabulus mereka jadikan sebagai ibukota negara dan yang dipilih menjadi salah satu hakim (qodhiy) di kota  tersebut adalah Abdurrahman Ar-Rusytumi.

Dengan kepintaran dan kuatnya daya pikir lelaki ini (Abul Khatthab), maka dia mampu mengumpulkan orang-orang Ibadhiyah di sekelilingnya, sehingga dia pun dapat mendirikan negara Ibadhiyah yang berlangsung selama dua puluh lima tahun. Mereka juga berhasil menjadikan Qaerawan (kota di sekitar mereka) di bawah komando Abul Khatthab. Kemudian Abdurrahman Ar-Rusytumi diangkat sebagai gubernur kota Qoerawan. Setelah itu, Abul Khatthab kembali ke Thorabulus. Akan tetapi, salah satu pengikutnya yang bernama Jamil As-Sudrati pergi ke Abu Ja’far Al-Manshur kholifah dinasti ‘Abbasiyah pada waktu itu dengan sebab suatu masalah yang terjadi antara keduanya (Abul Khatthab dan Jamil) dan meminta darinya untuk membebaskan kota Qoerawan dari kekuasaan Abul Khatthab. Maka sang kholifah pun mengutus pasukannya beberapa kali untuk menyerang pasukan Abul Khatthab yang pada akhirnya pasukan sang kholifah dengan komando Muhammad bin Asy’ats        dapat menaklukkan pasukan Abul Khatthab dan berhasil membunuh Abul Khatthab dan orang-orang yang bersamanya di medan pertempuran. Sehingga orang-orang Ibadhiyah Khawarij yang tersisa lari ke gunung dan tempat-tempat yang jauh. Akan tetapi hal ini dicapai setelah pemerintah mengalami beberapa kali kekalahan.

Setelah itu muncullah pendiri daulah Ibadhiyah di Maghrib yang hakiki. Dia adalah Abdurrohman bin Rustum. Setelah itu kepemerintahan dipegang oleh sanak keluarganya sampai runtuhnya daulah Ibadhiyah di Maghrib. Orang-orang Ibadhiyah di Maghrib bersepakat dalam menjadikan dia sebagai khalifah pada tahun 160 hijriyah dan kebanyakan dari mereka berasal dari suku Barbar. Ibukota negara Ibadhiyah yang sebelumnya adalah kota Thorobulus, dipindahkan oleh sang khalifah Abdurrohman ke kota Taheret.

Daulah Ibadhiyah di Maghrib berjalan dengan tentram sampai meninggalnya Abdurrohman Ar-Rustumi sekitar tahun 171 hijriyah. Sebelum meninggal, dia mewasiatkan agar dibentuk majelis permusyawaratan untuk memilih khalifah sepeninggalnya. Maka terpilihlah anaknya Abdul Wahhab bin Abdurrohman Ar-Rustumi pada tahun 171 hijriyah. Orang-orang Ibadhiyah sepakat atas kekhalifahannya.

Az-Zarkali berkata dalam kitabnya Al-A’lam (4/333-334): ”Abdul Wahhab bin Abdurrohman adalah orang kedua dari pemimpin-pemimpin Rustumiyah dari kalangan Ibadhiyah yang asalnya dari Persia. Dia termasuk yang dicalonkan menjadi pengganti sepeniggal ayahnya dan termasuk ahlus syuura’. setelah itu dia pun dipilih menjadi pengganti ayahnya pada tahun 171 hijriyah. Tidaklah orang-orang Ibadhiyah bersepakat terhadap khilafah pemimpin-pemimpin Ibadhiyah sebagaimana bersepakatnya mereka kepada Abdul Wahhab bin Abdurrohman Ar-Rustumi. Sungguh dia adalah seorang yang faqih, memiliki ilmu, berani terjun langsung di medan pertempuran. Kepada Abdul Wahhab inilah orang-orang Ibadhiyah menisbatkan diri-diri mereka.”

Abdul Wahhab bin Abdurrahman mengalami dilema pada awal-awal masa kekhalifahannya dengan munculnya dua orang yang menyimpan dendam padanya yaitu Ibnu Fan Deek dan Syu’aib Al-Mishri. Kemudian mereka mengumpulkan masa untuk memberontak terhadap kepemerintahannya. Akan tetapi, usaha mereka dapat ditepis. Begitu pula pemberontakan-pemberontakan yang lain di masa pemerintahannya, dia pun dapat mengatasinya. Kepemerintahan Ibadhiyah dipegang olehnya selama sembilan belas tahun. Ia meninggal pada tahun 190 H.

FAEDAH:

Kepemerintahan Ibadhiyah di Maghrib sepeniggal Abdul Wahhab dipegang oleh anak cucunya sebagaimana yang telah lewat. Sampai kurang lebih tahun 296 H, runtuhlah kerajaan Rustumiyah dengan sebab terjadinya perpecahan dari dalam demi merebut kekuasaan. Ditambah juga dengan adanya serangan dari luar yang dilancarkan oleh kelompok Syi’ah pada waktu itu dan mereka berhasil merebut ibukota Taheret sekaligus dapat menghabisi keluarga Rustumiyah, sehingga berakhirlah kepemerintahan Rustumiyah Ibadhiyah di Maghrib.

Inilah secara ringkas tentang berdirinya kelompok Wahhabiyah di Maghrib yang termasuk dari negara-negara khawarij yang lain seperti Oman. Dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa kelompok Khawarij sangatlah berambisi untuk meraih tahta kepemerintahan dan keluar melawan pemerintah yang sah yang tidak cocok dengan hawa nafsu dan pemikiran mereka. Dengan sebab kebodohan yang ada pada mereka, maka mereka pun berani menghalalkan segala cara demi tercapainya keinginan mereka walaupun harus menelan banyak nyawa kaum muslimin tanpa landasan yang benar. Merekalah yang membuat nama Islam dan muslimin menjadi tercoreng di mata masyarakat dan pemerintah. Inilah akibat perbuatan dan emosi yang tidak dilandasi dengan tuntunan Kitab dan Sunnah dengan pemahaman ulama Ahlus Sunnah. Oleh karena itu, wajib bagi kita setiap umat Islam untuk bersemangat mempelajari agama Islam, sehingga dapat membedakan mana yang benar dan mana yang batil dan tidak mudah untuk ditipu.

Mu’awiyah –rodhiyallohu ‘anhu– ketika berkhutbah mengatakan: “Aku mendengar Rasulullah –shallAllohu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

«من يرد الله به خيراً يفقهه في الدين»

“Barangsiapa yang Alloh menginginkan kebaikan padanya, maka Dia akan memberikannya pemahaman terhadap agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

BAB KETIGA:  BIOGRAFI SINGKAT SYAIKH MUHAMMAD BIN ‘ABDUL WAHHAB AN-NAJDIY –rohimahulloh-[49]

Beliau adalah seorang Imam, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin Ali At-Tamimiy An-Najdiy. Beliau dilahirkan pada tahun 1115 H di kota ‘Uyainah salah satu kota di Nejed. Beliau tumbuh dan besar di tengah-tengah keluarga yang berilmu. Beliau mengambil dasar-dasar ilmu agama di tempat kelahiran beliau dan mempelajari Al Qur’an, sehingga beliau mampu -dengan izin Alloh- menghafalnya dengan kuat (itqon) sebelum umur beliau mencapai sepuluh tahun.

Beliau memiliki kecerdasan dan pemahaman yang kuat serta hafalan yang cepat. Di samping itu, keluarga beliau pun adalah keluarga ulama. Maka tidak heran kalau beliau menjadi ulama pula -dengan izin Alloh-. Kakek beliau adalah seorang ‘alim yang terpandang di daerahnya. Sementara ayahnya adalah seorang hakim di kota ‘Uyainah. Beliau juga mengambil ilmu dari para masyayikh yang ada di negerinya. Kemudian keluar menuntut ilmu ke Hijaz, Yaman dan Irak. Oleh karena itu, beliau berhasil mendapatkan berbagai macam bidang ilmu, baik hadits, tafsir dan ushul sekaligus menghafal matan-matannya. Beliau memiliki perhatian yang besar kepada kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qoyyim –rohimahumalloh-. Disamping itu, beliau memiliki kecemburuan yang tinggi terhadap agama Alloh sehingga beliau berani untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar di mana saja beliau berada.

Kota Nejed di masa hidup beliau diliputi dengan kejahilan, kesyirikan, bid’ah, khurafat dan penyelisihan yang lain terhadap syariat. Maka beliau pun bangkit mengajak manusia kepada kalimat laa ilaaha illalloh dan ajaran-ajaran Islam yang lain. Oleh karena itu, tidak heran kalau beliau mendapatkan cobaan dan ujian silih berganti sampai-sampai ketika beliau mengingkari keyakinan penduduk Nejed (berupa akidah-akidah yang menyelisihi syariat), ayah beliau yang tidak sepemahaman mengingkari apa yang dilakukan anaknya. Sehingga timbullah perdebatan di antara keduanya sampai ayahnya meninggal pada tahun 1153 H.

Beliau –rohimahulloh– mencoba membangun dakwah di beberapa tempat di kota Nejed. Akan tetapi, setiap kali beliau mulai mengingkari kemungkaran yang terjadi di kota tersebut, penduduk kota itu baik raja ataupun rakyatnya tidak senang dan takut dengan keberadaan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rohimahulloh-. Pada akhirnya beliau pergi ke kota Ad-Dar’iyyah (salah satu kota di Nejed) yang menjadi raja pada waktu itu adalah Muhammad bin Su’ud –rohimahulloh-. Maka Alloh ta’ala      pun membukakan mata hati dan membangkitkan semangat raja Muhammad bin Su’ud –rohimahulloh– untuk membantu dan menolong dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rohimahulloh– sampai-sampai sang raja berkata: ”Wahai Syaikh, sesungguhnya ini adalah agama Alloh dan Rosul-Nya yang tidak ada keraguan padanya. Maka bergembiralah dengan pertolongan terhadap apa yang engkau perintahkan dan dengan jihad atas orang-orang yang menyelisihimu.” Maka Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rohimahulloh– pun mulai berdakwah kepada tauhid dan berjuang untuk menegakkan Sunnah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dan mematikan bid’ah serta mengajarkan ilmu-ilmu yang bermanfaat dan mengarang beberapa kitab sesuai dengan jalan salafus sholih, sehingga dakwah Syaikh pun tersebar di seluruh pelosok Arab bahkan di luar Arab.

Setelah itu, beliau pun menetap di kota Ad-Dar’iyyah sampai akhir hayat beliau. Beliau habiskan umur beliau di sana dengan berdakwah kepada Alloh dan merealisasikan apa-apa yang beliau dakwahkan dengan menghancurkan menara-menara di atas kuburan-kuburan dan menebang pohon-pohon yang dijadikan sesembahan serta menegakkan syari’at Islam dan berjihad melawan kaum pembangkang walaupun mereka itu adalah pemimpin kaum.

Keberadaan Syaikh –rohimahulloh– di kota Ad-Dar’iyyah menjadikan kota tersebut penuh berkah yang sebelumnya penduduk kota Ad-Dar’iyyah berada dalam kefakiran dan kemiskinan yang sangat. Kemudian setelah kedatangan Syaikh –rohimahulloh- ke kota itu dan diterima da’wahnya oleh sebagian besar penduduk Ad-Dar’iyyah, Alloh ta’ala memberkahi kota tersebut sehingga keadaan penduduknya menjadi berubah dengan nikmat dan anugrah yang Alloh curahkan atas mereka. Inilah janji Alloh bagi suatu penduduk yang beriman.

﴿وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾ [الأعراف: 96]

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu. Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’rof: 96)

Beliau –rohimahulloh– merasa gembira dengan tertolongnya kalimat al-haq dan penyebarannya, baik di Jazirah Arab maupun di luar. Pada hari Senin di akhir bulan Syawwal tahun 1207H, ajal pun datang menjemput beliau dengan umur beliau ketika itu mencapai 72 tahun. Beliau –rohimahulloh– wafat tidak meninggalkan sepeser pun dari harta benda untuk dibagikan kepada ahli waris beliau. Semoga Alloh ta’ala      merahmati beliau dan membalasnya dengan balasan yang lebih terhadap apa yang beliau kedepankan untu Islam dan kaum muslimin.

Karya Tulis Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab –rohimahulloh.

Di antara karya tulis beliau yang memberikan manfaat kepada umat Islam dan menunjukkan luasnya ilmu beliau:

a)         Al-Ushul Ats-Tsalatsah (Tiga Landasan Utama).

b)         Kasyfu As-Syubuhat (Menyingkap Syubhat Ahli Syirk).

c)         Kitabut Tauhid.

d)         Mukhtashar Zadul Ma’ad.

e)         Al-Kabair (Dosa-Dosa Besar).

f)          Ahadist Al-Fitan (Kumpulan Hadits Fitnah).

Murid-murid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab –rohimahulloh.

Murid-murid beliau yang menjadi ulama sangatlah banyak. Di antara mereka adalah:

  1. Syaikh Husain bin Abdillah (Qodhi Huraimala’).
  2. Al-Amir Su’ud Ibnu Al-Imam Abdul A’ziz.
  3. Empat orang anak beliau: ‘Ali,
  4. Husain,
  5. Ibrohim dan
  6. Abdulloh.
  7. Syaikh Abdurrahman bin Khamis.

Pujian Ulama terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab –rohimahulloh.

Di antara ulama yang memuji beliau adalah:

¯  Imam As-Shan’aniy Muhammad bin Ismail –rohimahulloh-.

¯  Imam As-Syaukani –rohimahulloh-.

¯  Syaikh Muhammad Kholil Al-Haros –rohimahulloh-.

¯  Syaikh Abdul Qodir Ibnu Badron –rohimahulloh– (Ulama Ahli Syam) dan di antara pujian beliau terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab –rohimahulloh–  adalah ucapan beliau: “Seorang ‘alim, sunniy, Imam besar Muhammad bin Abdul Wahhab.”

Aqidah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rohimahulloh.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rohimahulloh– merupakan seorang alim dari ulama Ahlus Sunnah dan termasuk deretan pembaharu umat ini. Ucapan dan karya tulis dan murid-murid beliau menjadi bukti atas hal ini semua. Ini merupakan keutamaan yang Alloh berikan bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Beliau telah mencurahkan tenaga, harta dan waktu yang Alloh berikan untuk meninggikan kalimat Alloh dan untuk mematikan kebida’han dan kesyirikan yang telah menyebar di daerah beliau ketika itu, bahkan di Jazirah Arab. Alloh ta’ala telah membuka hati-hati manusia dan mengeluarkan mereka dari kegelapan kesyirikan dan kebid’ahan kepada cahaya Islam dan Sunnah melalui perantara dakwah beliau. Dakwah beliau tersebar bukan hanya di Jazirah Arab saja, akan tetapi tersebar pula di belahan bumi Alloh yang lain, seperti India, negara-negara di Afrika dan Eropa, Syam, begitu pula Negara Indonesia dengan perantara jama’ah haji yang pergi ke Mekkah dan mendengar dakwah Syaikh Muhammad –rohimahulloh– yang kemudian mereka pulang menyebarkan apa yang mereka dapatkan di negeri mereka. Para penjajah dan musuh-musuh Islam merasa adanya kebangkitan baru pada jiwa-jiwa kaum muslimin yang akan membahayakan misi mereka karena dakwah Syaikh –rohimahulloh– adalah dakwah yang mengangkat manusia dari perbudakan kepada makhluk kepada penghambaan semata-mata hanya kepada Alloh. Inilah dakwah para Nabi dan Rosul.

﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ﴾ [النحل: 36]

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Rosul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan: “Sembahlah Alloh saja dan jauhilah thaghut (sesembahan selain Alloh) itu”. Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Alloh dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kalian di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan Rasul-Rasul tersebut.” (QS. An-Nahl: 36)

Sudah menjadi sunnatulloh bahwa tidak seorang pun yang berdakwah sesuai dengan dakwah Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dengan ikhlas, kecuali akan mendapat ujian. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Waroqoh bin Naufal kepada Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, yang semua akan diakhiri dengan kejayaan dan kemenangan. Bagaimana kita lihat Imam Ahmad dicoba dan diuji. Beliau dipenjara bahkan dicambuk sampai terkadang tersungkur pingsan. Semua ini beliau lakukan hanya untuk mempertahankan kebenaran yaitu keyakinan bahwa Al-Quran adalah kalam Alloh dan bukan makhluk. Alloh ta’ala      kekalkan nama baik Imam Ahmad –rohimahulloh-. Adapun musuh-musuh beliau seperti Ibnu Abi Du’ad, tidaklah disebut kecuali untuk dicela.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rohimahulloh– semasa hayatnya telah dituduh dengan berbagai macam tuduhan, padahal beliau dan dakwah beliau berlepas diri dari tuduhan tersebut. Salah satu tuduhan itu adalah dakwah beliau dianggap merupakan perpanjangan tangan dari dakwah Wahhabiyah Khawarij yang muncul di bagian utara Afrika. Mereka menuduh dakwah beliau adalah dakwah garis keras, mengkafirkan kaum muslimin, melecehkan orang-orang sholeh dan lain sebagainya yang hal itu mengharuskan beliau untuk menerangkan tidak benarnya tuduhan-tuduhan tersebut. Beliau –rohimahulloh– telah menulis surat kepada beberapa orang terpandang pada jaman beliau tentang hakekat dakwah yang beliau serukan sekaligus membantah tuduhan-tuduhan.

Di antara surat beliau adalah risalah yang beliau tulis kepada ulama kota Harom dengan menjelaskan tentang dakwah beliau. Di antara yang termaktub di dalamnya: “Telah menimpa atas kami cobaan yang telah sampai beritanya kepada kalian dan selain kalian. Itu semua sebabnya adalah setelah diruntuhkannya bangunan di atas kuburan-kuburan di negeri kami. Tatkala perkara ini terasa besar terhadap masyarakat karena sangkaan mereka bahwa perbuatan ini sama saja dengan melecehkan orang-orang sholih. Bersamaan dengan ini, kami juga melarang mereka dari berdo’a kepada orang yang dikubur dan kami perintahkan mereka untuk beribadah semata hanya kepada Alloh ta’ala. Tatkala kami menampakkan perkara ini, begitu juga peruntuhan bangunan-bangunan di atas kuburan, perkara ini menjadi amat besar terhadap masyarakat dan  mereka dibantu oleh sebagian orang-orang yang mengaku berilmu dengan sebab lain yang tidak tersembunyi bagi kalian. Yang paling besar adalah mengikuti hawa nafsu orang-orang awam dan sebab-sebab lainnya. Mereka sebarkan ke sana-sini bahwa kami mencela orang-orang sholih, saya tidak berjalan di atas jalan para ulama dan mereka menuduh kami dengan perkara-perkara yang seorang berakal itu malu untuk menyebutkannya. Saya beritahukan kepada kalian tentang hakekat dakwah yang kami berada di atasnya dengan jujur, karena orang semacam kalian tidaklah mudah untuk ditipu. Maka kami –alhamdulillah-, hanyalah sebagai pengikut Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dan para salafus sholih dan bukan mengada-ada di dalam agama ini. Diantara kebohongan yang mereka tuduhkan kepada saya, bahwa saya memiliki jalan sendiri selain jalan para ulama. Jika telah jelas bagi kalian bahwa penghancuran bangunan-bangunan di atas kuburan dan perintah untuk meninggalkan do’a kepada orang-orang sholih menyelisihi madzhab salafus sholih, maka terangkanlah kepada kami… -sampai perkataan beliau:- …Saya bersaksi bahwa saya berada di atas jalan para ulama. Jika saya terjatuh ke dalam suatu kesalahan, maka tegurlah saya dan saya akan menghormati teguran tersebut. Kembali ke jalan al-haq lebih baik daripada terus-menerus di atas kebatilan.”

Begitu pula risalah yang beliau tulis kepada Abdurrohman As-Su’aidi –rohimahulloh– seorang ‘alim dari Irak. Tertulis di dalamnya: “Telah sampai kepadaku tulisan Anda –semoga Alloh menjadikan Anda termasuk Imam orang-orang yang bertakwa dan da’i kepada agama Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam-. Saya kabarkan kepada Anda bahwa saya –alhamdulillah– hanyalah seorang pengikut dan bukan mengada-adakan dalam agama ini. Akidah dan agama yang saya pegang adalah madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang berada di atasnya  para Imam kaum muslimin seperti Imam yang empat dan orang-orang yang mengikuti mereka sampai hari kiamat. Akan tetapi, saya hanya menjelaskan kepada manusia tentang mengikhlaskan peribadahan hanya kepada Alloh ta’ala dan melarang mereka dari berdo’a kepada makhluk, baik yang masih hidup ataupun yang telah mati, baik dari orang-orang yang sholih ataupun selain mereka dan dari kesyirikan yang mereka lakukan seperti berkorban, bernadzar, tawakkal, sujud dan selainnya dari bentuk-bentuk peribadahan yang mereka tujukan kepada selain Alloh. Inilah dakwah para Rosul dari awal sampai akhir dan di atasnyalah dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”

Dengan keterangan-keterangan beliau di atas, begitu pula keterangan lainnya, maka sangatlah jelas menunjukkan tentang sejauh mana dakwah beliau. Akan tetapi sangat mengherankan, masih saja kita dapati orang-orang yang selalu menuduh beliau dan dakwah beliau dengan hal-hal yang tidak benar. Para ulama dan orang-orang yang memiliki kecemburuan terhadap agama telah menerangkan dan membantah tuduhan-tuduhan tersebut. Ini semua untuk membela seorang ‘alim dari ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang manfaat dakwahnya tidak bisa ditutupi dengan kegelapan malam. Tuduhan-tuduhan itu tidaklah mencelakakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rohimahulloh– dan dakwah beliau, melainkan mencelakakan diri-diri para pendusta itu sendiri. Alloh ta’ala berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٍ كَفُورٍ﴾[الحج: 38]

“Sesungguhnya Alloh membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat.” (QS. Al-Hajj: 38)

 

 

 

APAKAH DAKWAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH ADALAH WAHHABIYAH?

Setelah kita mengetahui dengan jelas tentang dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka bisa kita pastikan bahwa dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah bukanlah Wahhabiyah, baik Wahhabiyah Khawarij ataupun sebagai pengekor Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rohimahulloh-. Hal itu karena jika yang dimaksudkan dengan dakwah Ahlus Sunnah adalah dakwah Wahhabiyah Khawarij, maka ini sangatlah jauh dari kebenaran, karena Ahlus Sunnah bukanlah Khawarij dan sebaliknya Khawarij bukanlah Ahlus Sunnah. Dakwah Khawarij telah tersesat dari dakwah Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Jika yang dimaksudkan adalah bahwa Ahlus Sunnah setelah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rohimahulloh– menisbatkan diri-diri mereka kepada beliau, maka ini adalah suatu kedustaan. Hal itu karena Ahlus Sunnah tidaklah menisbatkan diri-diri mereka kepada seseorang yang tidak ma’shum, juga karena penisbatkan seperti ini adalah termasuk kebid’ahan.

Kalau seandainya Ahlus Sunnah ingin menisbahkan diri mereka kepada selain Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka bukankah lebih pantas untuk menisbahkan diri pada ulama-ulama yang lebih utama daripada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rohimahulloh-, seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad –rohimahumulloh– dan lain-lain?! Oleh karena itu, tidak pernah kita dapati Ahlus Sunnah menisbahkan diri mereka kepada individual ulama-ulama mereka setelah Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, baik dari kalangan sahabat maupun orang-orang setelah mereka.

Penisbahan Ahlus Sunnah kepada Wahhabiyah tidaklah datang dari Ahlus Sunnah sendiri, akan tetapi datangnya dari ahlu bida’ yang bertujuan untuk menjauhkan manusia dari dakwah Ahlus Sunnah. Mereka mengambarkan kepada manusia -terutama umat Islam- bahwa setiap yang mendakwahkan kepada Tauhid dan Sunnah serta memberantas kesyirikan dan kebida’han serta kemaksitan-kemaksian yang lain, mereka adalah para pengekor Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rohimahulloh-, karena beliau demikian adanya yang sebelumnya mereka telah gambarkan terlebih dahulu ke dalam benak umat Islam tentang jeleknya dakwah beliau. Apakah mereka tidak tahu ataukah berpura-pura tidak tahu bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagian mereka tidaklah mengekor kepada sebagian yang lain, karena pedoman hidup mereka adalah Al-Quran dan As-Sunnah. Hal itu karena kita dapati bahwa manhaj dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari jaman sahabat sampai sekarang bahkan sampai hari kiamat nanti adalah sama. Barangsiapa keluar dari manhaj mereka, maka dia bukanlah bagian dari mereka walaupun dirinya mengaku demikian.

﴿لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ الله وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا﴾

“Pahala dari Alloh itu bukanlah menurut angan-angan kalian yang kosong dan tidak pula menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak pula penolong baginya selain dari Alloh.” (QS. An-Nisa’: 123)

BAB KEEMPAT: SYUBHAT-SYUBHAT DAN BANTAHANNYA

Di bawah ini akan kami paparkan beberapa syubhat atau lebih pantasnya dikatakan kebohongan dari orang-orang bodoh atau orang-orang yang menyimpan kedengkian terhadap dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan para pengembannya dengan niat untuk melarikan manusia dari mereka.

Kami katakan kepada mereka: “Adakah bagi kalian bukti terhadap apa yang kalian katakan?!” Pasti kalian tidak bisa mendatangkannya! Ataukah ini adalah hasil kedengkian kalian terhadap dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, ketika kalian tidak mampu melawan hujjah-hujjah mereka dan tunduk kepada al-haq?! Ingatlah firman Alloh –ta’ala-:

﴿وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا﴾

“Orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)

Juga sabda Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam:

«أتدرون ما المفلس؟» قالوا: المفلس فينا من لا درهم له ولا متاع، فقال: «إن المفلس من أمتي يأتي يوم القيامة بصلاة وصيام وزكاة ويأتي قد شتم هذا وقذف هذا وأكل مال هذا وسفك دم هذا وضرب هذا فيعطى هذا من حسناته وهذا من حسناته فإن فنيت حسناته قبل أن يقضى ما عليه أخذ من خطاياهم فطرحت عليه ثم طرح في النار»

“Tahukah kalian siapakah orang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Dia adalah yang tidak memiliki uang dan barang.” Beliau bersabda: “Orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala sholat, puasa dan zakatnya sedangkan dia telah mencaci, menuduh, memakan harta haram, menumpahkan darah dan memukul orang lain. Maka kebaikannya diambil dan diberikan kepada orang-orang yang dia dzolimi itu. Jika telah habis kebaikannya sebelum dapat menebus kezolimannya, maka diambillah dosa-dosa mereka yang didzolimi itu kemudian dilemparkan kepadanya, lalu dia dilemparkan ke neraka.” (HR. Muslim: 6579 dari Abu Hurairah –rodhiyallohu ‘anhu-)

Sudah menjadi ketetapan Ilahi, bahwa akan terus ada perseteruan antara kebenaran dan kebatilan di mana saja keduanya berada yang akhirnya kemenangan akan berada di pihak pembela kebenaran. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا﴾

“Katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al-Isra’: 81)

Kebohongan-kebohongan mereka terhadap dakwah Ahlus Sunnah dan dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rohimahulloh– sangatlah banyak dan tidaklah ada satu kebohongan pun, melainkan Alloh akan membangkitkan siapa yang menyingkapnya. Akan tetapi kami sebutkan beberapa yang terpenting darinya:

  1. 1.      Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah kelompok garis keras (mutasyaddidun)?!

Kalau mereka mengatakan demikian dengan sebab Ahlus Sunnah wal Jama’ah mendakwahkan kepada ajaran tauhid dan kepada ketaatan kepada Alloh serta memberantas kesyirikan, kebida’han dan kemaksiatan yang lain, maka secara tidak langsung –sadar ataupun tidak- mereka telah mencela para Nabi dan Rosul, karena dakwah mereka demikianlah adanya. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا الله وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوت﴾

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Alloh (saja), dan jauhilah thaghut itu!”(QS. An-Nahl: 36)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang lebih memahami maksud dari Kitab dan Sunnah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dan lebih paham tentang menempatkan suatu dalil pada tempatnya atau memposisikan seseorang pada posisinya. Berbeda dengan kelompok-kelompok sesat lain yang mereka memakai dalil-dalil dari Kitab dan Sunnah sesuai dengan hawa nafsu, akal atau perasaan mereka. Alloh ta’ala      berfirman:

﴿وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ﴾

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini serta semua yang ada di dalamnya.” (QS. Al-Mukminun: 71)

Maka dengan demikian, Ahlus Sunnah wal Jama’ah berada di antara sikap ghuluw (melampaui batas) dan tamyi’ (kelembekan). Bahkan mereka berada di atas keadilan sesuai dengan ajaran Islam.

Perlu diketahui bahwa yang menjadi tolak ukur keadilan adalah syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, bukan hawa nafsu atau perasaan. Kapan suatu perkara itu terdapat padanya dalil dari Al-Quran dan As-Sunnah dengan pemahaman salaf, maka perkara tersebut adalah suatu keadilan. Kalau tidak demikian, maka perkara tersebut adalah suatu yang melampui batas atau suatu sikap kelembekan  walaupun pelakunya menyangkanya sebagai suatu keadilan. Hal itu karena agama Islam ini telah Alloh sempurnakan dan Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan seluruh kebaikan dan kejelekan, baik secara umum ataupun terperinci. Maka tiada kuasa lagi bagi seseorang, kecuali mengukur perbuatannya dengan syariat Islam.

Sifat melampui batas atau kelembekan telah dicampakkan dalam ajaran Islam. Alloh ta’ala berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ الله لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ الله لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِين﴾

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian haramkan apa-apa yang baik yang telah Alloh halalkan bagi kalian dan janganlah melampaui batas. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-Maidah: 87)

Oleh karena itu, pada setiap raka’at sholat Alloh ta’ala memerintahkan kita umat Islam untuk selalu memohon petunjuk kepada-Nya kepada jalan yang lurus, bukan jalan orang-orang yang dimurkai yaitu Yahudi dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat yaitu Nashrani.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rohimahulloh- berkata: “Mereka (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) berada di antara kelompok-kelompok sesat (yang melampui batas dan yang lembek) sebagaimana pula ajaran Islam, berada di antara agama-agama yang lain.”[50]

Oleh karena itu, ketika Ahlus Sunnah wal Jama’ah menjadikan Al-Quran dan As-Sunnah dengan pemahaman salaf sebagai landasan dakwah mereka, maka mereka pun selalu berada di atas keadilan. Ini bisa dilihat dari sejarah dakwah, perkataan dan karya tulis mereka. Siapakah yang melarang terorisme disertai dengan dalil-dalilnya kalaulah bukan Ahlus Sunnah wal Jama’ah? Begitu pula pemberontakan terhadap pemimpin muslim, bunuh diri dan kemaksiatan yang lain. Dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah berlepas diri dari orang-orang yang melakukan hal-hal demikian, kemudian menisbatkan dirinya kepada Ahlus Sunnah dan berlepas diri pula dari ketergelinciran seseorang dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Hal itu karena semua ini bertolak belakang dengan ajaran Islam. Wabillahit-taufiq.

  1. 2.      Dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah dakwah pemecah belah umat Islam?!

Tuduhan ini jika dibangun di atas dasar bahwa dengan dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka terpisahlah antara al-haq dan al-batil. Begitu pula terbedakan dengannya seorang yang istiqomah dalam agamanya dan yang tersesat. Maka pada hakekatnya ini bukanlah suatu celaan, bahkan ini adalah suatu keutamaan. Hal itu karena tidaklah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam itu diutus, kecuali untuk membedakan antara al-haq dan al-batil,  tauhid dan syirik, sunnah dan bid’ah, agar orang-orang yang menginginkan keselamatan dunia dan di akhirat mengetahui jalan yang harus ia tempuh. Kalau tidak demikian, maka manusia akan terus berada dalam kejahilan dan kebingungan. Oleh karena itu, Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam disifati sebagai pembeda antara manusia, sebagaimana telah datang dalam Shohih Bukhori (7281) dari Jabir bin Abdillah –rodhiyallohu ‘anhu-tentang kedatangan beberapa malaikat kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam yang ketika beliau sedang tidur. Kemudian sebagian mereka berkata:

«محمد فرق بين الناس»

“Muhammad telah memecah belah di antara manusia.”

Dengan demikian, orang-orang yang mengikuti jejak Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam pasti dia memiliki bagian yang besar dari hal ini. Alloh ta’ala berfirman:

﴿مَا كَانَ الله لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّى يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ﴾

“Alloh sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kalian sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin).” (QS. Ali Imron: 179)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah kaum yang paling besar peranannya dalam mencerminkan firman Alloh ta’ala:

﴿كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِالله﴾

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Alloh. (QS. Ali Imron: 110)

Jikalau mereka menuduh Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwasanya mereka menyeru umat Islam untuk berpecah belah bukan karena agama, tetapi hanya sekadar hawa nafsu atau kebodohan belaka, maka ini merupakan sesuatu yang menyelisihi kenyataan. Hal itu karena dakwah mereka mengikuti jejak Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Akan tetapi, jangan disangka ketika Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak bergabung dengan kelompok-kelompok sesat yang lain dan orang-orang yang termakan firnah dunia serta memperingatkan manusia dari mereka adalah bentuk pemecah-belahan umat Islam. Hal itu karena apa yang mereka lakukan tersebut terdapat dalilnya dari Al-Quran dan As-Sunnah dengan pemahaman salaf. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ﴾

“Apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sampai mereka membicarakan pembicaraan yang lain.” (QS. Al-An’am: 68)

Juga firman Alloh ta’ala:

﴿وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِالدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا﴾

“Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Robbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan dunia ini. Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 28)

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«وإذارأيت الذين يتبعون ما تشابه منه فأولئك الذين سمى الله فاحذروهم»

Jika kamu melihat orang-orang yang mengikuti perkara yang samar dari Al-Qur’an, maka merekalah yang telah Alloh sebutkan, maka berhati-hatilah dari mereka!”[51]

Ibnu Abbas –rodhiyallohu ‘anhuma– berkata:

لاتجالسوا أصحاب الأهواء فإن مجالستهم ممرضة للقلوب

“Janganlah kalian duduk dengan ahlu ahwa’, karena duduk dengan mereka menyebabkan sakitnya hati.”[52]

Abu Qilabah –rohimahulloh- berkata:

لا تجالسوا أصحاب أهواء فإني لا آمن أن يغمسوكم في ضلالتهم أو يلبسوا عليكم بعض ما تعرفون

“Janganlah kalian duduk dengan ahlu ahwa’, karena saya tidak berasa aman mereka akan menyeret kalian ke dalam kesesatan mereka atau menyamarkan atas kalian sebagian yang kalian ketahui!”[53]

 

Perintah Alloh dan Rosul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam untuk meninggalkan orang-orang yang tersesat dari shirotol mustaqim terdapat di dalamnya beberapa hikmah, diantaranya:

a)      Agar seseorang tidak terpengaruh dengan orang sesat, sehingga dapat meruntuhkan keistiqomahnya.

b)      Agar umat Islam bisa berhati-hati dari kesesatan mereka, sehingga tidak terbuai dengan syubhat-syubhat mereka.

c)      Agar pelaku kesesatan sadar dari kesesatannya dan merasakan sebagian akibat perbuatannya itu di dunia sebelum di akhirat nanti agar bisa merubah dirinya.

Demi Alloh, ketika Ahlus Sunnah memperingatkan manusia dari kelompok-kelompok sesat tersebut, bukan berarti karena cemburu dengan apa yang ada pada mereka berupa para pengikut atau harta. Justru ini adalah untuk menolong mereka agar mereka bisa kembali ke jalan yang lurus atau paling tidak memperkecil jumlah orang-orang yang tertipu dengan mereka, sehingga dosa yang mereka pikul pun akan berkurang. Akan tetapi mereka adalah kaum yang tidak memahami.

  1. Bagaimana kita diperintahkan untuk kembali kepada manhaj Salaf sedangkan kita dapati mereka berselisih?

Ketika kita diseru untuk mengikuti manhaj Salaf, bukan berarti kita diperintahkan untuk fanatik dengan individual mereka selain Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Hal itu karena kita mengetahui bahwa tidaklah ada seorang pun yang ma’shum dari umat ini, kecuali Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi kita diperintahkan untuk mengikuti apa yang mereka bersepakat di atasnya, karena kesepakatan mereka (al-ijma’) adalah ma’shum. Hal ini sebagaimana ucapan Syaikhul Islam –rohimahulloh-: “Merekalah (yaitu Ahli Sunnah wal Jama’ah) yang berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rosul-Nya serta perkara-perkara yang bersepakat di atasnya orang-orang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshor serta yang mengikuti mereka dengan baik.”[54]

Adapun jika terjadi perselisihan di antara mereka, maka kita diperintahkan untuk mengambil pendapat yang benar dari perselisihan tersebut. Yang benar dalam berijtihad di antara mereka akan mendapat dua pahala; satu pahala untuk ijtihadnya dan pahala yang lain karena sesuai dengan kebenaran. Adapun ijtihad yang salah akan mendapat satu pahala.

«إذا حكم الحاكم فاجتهد ثم أصاب فله أجران وإذا حكم فاجتهد ثم أخطأ فله أجر»

“Jika seorang hakim berijtihad kemudian benar, maka baginya dua pahala dan jika salah, maka baginya satu pahala.” [55]

Kemudian, orang yang sengaja mengikuti pendapat yang salah, maka tidaklah mendapat pahala seperti mujtahid yang diikuti tersebut. Justru dia mendapat dosa dikarenakan kesengajaannya dalam meninggalkan kebenaran. Hal itu karena mujtahid yang salah itu telah mencurahkan seluruh kemampuannya untuk sampai kepada kebenaran walaupun Alloh ta’ala tidak mentakdirkan hal tersebut. Adapun si muqallid, maka dia meninggalkan al-haq dikarenakan hawa nafsunya.

Perselisihan yang terjadi di antara para Salaf pada suatu permasalahan, bukanlah dikarenakan hawa nafsu, tetapi masing-masing mereka mengatakan atau mengerjakan sesuatu sesuai dengan apa yang Alloh berikan kepada mereka berupa kemampuan dalam memahami lafadz-lafadz Al-Quran dan As-Sunnah. Oleh karena itu, ketika para sahabat berselisih dalam memahami perkataan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam;

«لا يصلين أحد العصر إلا في بني قريظة»

“Janganlah salah seorang dari kalian sholat Ashar, kecuali di Bani Quraizhoh!” (HR. Bukhori dan Muslim)

Maka di antara mereka ada yang sholat Ashar di perjalanan, karena sudah masuk waktunya. Mereka berpendapat bahwa yang dimaksudkan oleh Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam adalah untuk bersegera ke Bani Quraizhoh dan jika masuk waktu sholat, maka didirikan sebagaimana hukum asalnya ketika masuk waktunya. Sebahagian mereka mengakhirkan sholat sampai di Bani Quraizhoh, karena mengambil zhohir perkataan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. Kemudian kisah ini diceritakan kepada Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dan beliau pun tidak mencela salah satu dari kedua belah pihak,[56] walaupun kita tahu bahwa salah satu dari dua kelompok adalah benar.[57]

Adapun kelompok-kelompok sesat, maka mereka berselisih dengan sebab kebodohan dan hawa nafsu. Alloh ta’ala berfirman:

﴿فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِه﴾

“Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari ta’wilnya.” (QS. Ali Imron: 7)

Syaikh Al-Fauzan –hafidzohulloh– dalam Syarh Aqidah Al-Imam Al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab (hal. 16) berkata: “Mereka dinamakan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, karena mereka bersatu di atas al-haq, tidak ada di antara mereka perselisihan. Mereka tidak berselisih dalam aqidah mereka. Aqidah mereka satu. Walaupun mereka berselisih pada permasalahan fiqih atau cabang-cabang permasalahan lainnya, maka ini tidaklah berpengaruh, karena semua muncul dari ijtihad yang berbeda. Adapun permasalahan aqidah, maka tidak menerima ijtihad dan harus satu, karena tidak diterimanya ijtihad di dalamnya. Alloh ta’ala berfirman:

﴿إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ﴾

“Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama yang satu bagi kalian semua dan Aku adalah Robb kalian, maka sembahlah Aku semata.” (QS. Al-Anbiya’: 92)

  1. 4.      Hadist Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam yang dikeluarkan oleh Imam Bukhori (7094) tentang Nejed:

«هناك الزلازل والفتن وبها يطلع قرن الشيطان»

“Di sana terdapat banyak kegoncangan dan fitnah serta di sanalah munculnya tanduk syaitan.” Yang dimaksudkan dengan hadist ini adalah dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab?!

Mengenai kalimat Nejed dalam hadits tersebut, sebagian ulama’ -seperti Al-Khotthobi, Ibnu Hajar[58] dan Imam Al-Albani[59]rohimahumulloh– berpendapat bahwa yang dimaksudkan adalah Nejed Iraq. Walaupun kalimat Nejed tersebut mencangkup tempat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rohimahulloh- yaitu Nejed di Jazirah Arab, maka tidaklah mengharuskan semua dakwah yang berkembang di kota Nejed adalah dakwah fitnah. Hal ini sebagaimana ketika Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam memuji negeri Syam dan Yaman pada hadits di atas, bukan berarti semua dakwah yang berkembang di dua negeri tersebut semuanya benar. Telah muncul di Syam firqoh Al-Nashibah yaitu orang-orang yang memusuhi ahlul bait. Begitu pula di Yaman, didapati di sana dakwah-dakwah sesat seperti Rofidhoh, Komunisme dan lain-lain.

Oleh karena itu, setiap dakwah di mana pun berkembangnya, haruslah ditimbang dengan dakwah Rasulullah dan para Salaf. Kalau kita melihat perjalanan dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rohimahulloh-, surat-surat dan karya-karya tulis beliau, maka kita dapati bahwa beliau telah berdakwah di atas manhaj Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dan para Salaf.

  1. 5.      Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bergampang-gampangan dalam mengkafirkan umat Islam?!

Tuduhan ini bukan hanya dilemparkan kepada Syaikh –rohimahulloh- saja, akan tetapi kepada Ahlus Sunnnah wal Jama’ah secara umum.

Ketahuilah, bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidaklah mengkafirkan seseorang, kecuali yang telah dikafirkan oleh Alloh dan Rosul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam, baik orang tersebut asalnya adalah kafir ataukah muslim yang kemudian melakukan perkara yang mengeluarkannya dari lingkaran Islam dan tidak ada padanya penghalang untuk dikafirkan berupa kebodohan, keterpaksaan, ketidak-segajaan, lupa atau ada padanya syubhat.

Ahlus Sunnah dalam perkara ini berada di antara Khawarij dan Murji’ah. Adapun Khawarij, maka mereka sangatlah bergampang-gampangan dalam mengkafirkan kaum muslimin. Bahkan semua itu dilakukan berdasarkan syubhat-syubhat yang lebih lemah dari sarang laba-laba yang semuanya telah dibantah oleh Ahlus Sunnah –walillahil hamd-. Jikalau para sahabat Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam saja tidak selamat dari kejahatan mereka (Khawarij), apalagi orang-orang setelah mereka.

Adapun Murji’ah, maka mereka berpendapat bahwa jika seseorang telah mengucapkan kalimat syahadat, maka imannya telah sempurna seperti imannya malaikat dan tidak akan berkurang sedikit pun walaupun melakukan dosa-dosa. Pendapat mereka ini sangatlah bertentangan dengan dalil-dalil yang menjelaskan tentang berkurangnya iman pelaku dosa dan bahkan bisa terjatuh kepada kekufuran. Adapun untuk menerangkan sejauh mana kesesatan mereka begitu pula bantahannya, maka ini dibutuhkan pembahasan tersendiri –wallohul muwaffiq-.

  1. 6.      Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab memberontak kepada khilafah Utsmaniyyah?!

Prinsip Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rohimahulloh– dengan pemerintah muslim adalah sebagaimana Ahlus Sunnah wal Jama’ah bersikap.

Imam Ath-Thohawi –rohimahulloh- dalam akidahnya berkata:  “Kami tidak berpendapat untuk memberontak kepada pemimpin walaupun berbuat maksiat dan tidak mendoakan kejelekan bagi mereka, tidak akan melepas diri dari ketaatan kepada mereka. Kami melihat bahwa ketaatan kepada mereka adalah wajib dan itu merupakan bagian dari ketaatan kepada Alloh, selama tidak memerintahkan kepada maksiat serta kami mendoakan kebaikan dan keselamatan bagi mereka.”[60]

Kemudian bagaimana bisa dikatakan bahwa beliau telah keluar dari khilafah Utsmaniyyah, sedangkan kekuasaan mereka tidak termasuk kota Nejed?!

Syaikh Ibnu Bazz –rohimahulloh- berkata: “Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rohimahulloh- sepengetahuan saya tidaklah memberontak kepada Daulah Khilafah Utsmaniyyah. Dahulu, kekuasaan Turkiyah tidak masuk ke kota Nejed. Bahkan kota Nejed dahulu terdapat padanya kota-kota kecil yang masing-masing memiliki pemimpin.”[61]

Adapun tuduhan bahwa beliau –rohimahulloh- berkerjasama dengan kekuatan dari Inggris untuk menjatuhkan Khilafah Utsmaniyah, maka ini tidaklah benar. Hal itu karena Inggris sendiri tidak senang dengan dakwah beliau. Bahkan Inggris bekerjasama dengan Ibrahim Basya dalam memusuhi beliau. Begitu pula, yang membuktikan ketidak-benaran tuduhan di atas adalah bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rohimahulloh- meninggal pada akhir tahun 1906 H (1811 M), sementara Khilafah Utsmaniyyah runtuh pada tahun 1922 M![62]

PENUTUP

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«إنها ستأتي على الناس سنون خداعة يصدق فيها الكاذب ويكذب فيها الصادق ويؤتمن فيها الخائن ويخون فيها الأمين وينطق فيها الرويبضة» قيل: وما الرويبضة؟ قال: «السفيه يتكلم في أمر العامة»

“Sungguh akan datang atas manusia tahun-tahun kedustaan, dibenarkan padanya pendusta dan didustakan padanya orang yang jujur. Dipercayai padanya pengkhianat, dan dikhianati padanya orang yang terpercaya dan berbicara Ar-Ruwaibidhah.” Dikatakan: “Siapakah Ar-Ruwaibidhah itu?” Beliau berkata: “Orang bodoh berbicara tentang perkara umum.”[63]

Apa yang dikatakan oleh Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini merupakan salah satu tanda hari kiamat. Tanda ini telah kita jumpai pada jaman kita sekarang ini. Tidaklah datang suatu jaman, kecuali setelahnya lebih buruk. Tauhid dikatakan syirik dan syirik dikatakan tauhid. Bid’ah dikatakan Sunnah dan sebaliknya Sunnah dikatakan bid’ah. Yang berdakwah kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dicap sebagai pemecah belah umat. Yang berpegang teguh dengan manhaj Salaf dikatakan telah ketinggalan jaman. Sebaliknya, yang mengajak untuk tasyabbuh (menyerupai dan mengekor) orang-orang kafir disanjung, dipuji dan dijadikan sebagai panutan. Apakah mereka tidak tahu bahwa siapa yang meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah begitu pula manhaj Salaf, maka dia telah tertinggal dari rahmat Alloh dan telah dekat dengan adzab-Nya?! Maka manakah dari dua golongan yang celaka, dunia dan akhirat? Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى﴾ [طه: 124]

“Barangsiapa berpaling dari mengingat-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thoha: 124)

Kita dapati orang-orang yang berpegang teguh dengan agama mereka pada jaman ini, sangatlah terasing di antara manusia yang lain. Ketika manusia lainnya telah lalai dari Robb dan agama mereka dan berlomba-lomba mengejar dunia, maka mereka tetap kokoh dalam mentaati Alloh ta’ala. Hal itu karena mereka yakin bahwa hidup di dunia ini tidaklah untuk selamanya. Akan tetapi setiap yang bernyawa akan merasakan kematian, kemudian akan mempertanggung-jawabkan semua yang telah dilakukannya. Alloh ta’ala berfirman:

﴿كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ﴾ [آل عمران: 185]

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imron: 185)

Oleh karena itu, wajib atas setiap muslim yang beriman kepada Alloh dan hari akhir untuk selalu berusaha dalam mencari kebenaran dan selalu berdoa kepada Alloh untuk dimudahkan kepadanya. Apa lagi pada jaman kita ini yang banyak di dalamnya fitnah dan para penyeru kepada pintu-pintu Jahanam mengatas-namakan agama. Mereka tidaklah mengajak manusia kepada Islam, akan tetapi untuk melawan Islam.

Merupakan salah satu nikmat Alloh bagi umat Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam sampai hari kiamat adalah adanya sekelompok orang yang tetap berpegang teguh dengan ajaran Islam yang murni. Hal ini bukan sekedar pengakuan belaka, akan tetapi ini adalah suatu kenyataan sebagai wujud kebenaran sabda Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, barangsiapa yang menginginkan keselamatan dunia dan akhirat, maka wajib baginya untuk berjalan sesuai dengan jalannya mereka pada setiap jaman. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ﴾ [التوبة: 100]

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam dari golongan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Alloh. Alloh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)

Semoga Alloh ta’ala menunjukkan kepada kita jalan yang lurus yaitu jalannya orang-orang yang dinikmati, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat serta memberikan kepada kita keistiqomahan sampai bertemu dengan-Nya.


[1] HR. Abu Dawud (4607) dan dihasankan oleh Syeikh Muqbil dalam As-Shahih Al-Musnad (2/21).

[2] Lisan Al-Arab (6/399).

[3] HR. Muslim (2351) dari Jarir bin Abdillah –rodhiyallohu ‘anhu-.

[4] Al-I’tishom (hal. 37) cet. Darul Ma’rifah.

[5] Syarah Al-Thohawiyah (hal. 382, tahqiq Syeikh Albaniy –rohimahulloh-).

[6] Syarah Al-Wasithiyah (hal. 45) cet. Darul Atsar.

[7] Syarah Al-Wasithiyah (hal. 45) cet. Darul Atsar.

[8] Syarah Al-Thohawiyah (hal. 382) tahqiq Syeikh Albaniy –rohimahulloh-.

[9] Al-Bai’ts ‘Ala Ingkar Al-Bida’ (1/22).

[10] Diantara makna AL-JAMA’AH adalah jama’ah kaum muslimin yang di atas mereka seorang Imam/pemimpin yang sah. Hal ini sebagaimana Rasulullah r bersabda:

(من رأى من أميره شيئا يكرهه فليصبر فإنه من فارق الجماعة شبرا فمات فميتة جاهلية)

“Barangsiapa melihat dari pemimpinnya sesuatu yang dibenci, maka wajib atasnya untuk bersabar, karena barangsiapa berpisah dengan AL- JAMA’AH sejengkal saja kemudian mati, maka matinya di atas kejahiliyahan.” (HR. Bukhari: 7094 dan Muslim: 4790,  dari Ibnu Abbas –rodhiyallohu ‘anhuma-)

[11] Majmu’ Fatawa (2/375).

[12] HR. Muslim (2950) dari Jabir bin Abdillah –rodhiyallohu ‘anhu-.

[13] Di antaranya adalah HR. Tirmidzi (2676) dan dihasankan Syeikh Muqbil dalam As-Shohih Al-Musnad (2/21) dengan lafadznya:

«فإنه من يعش منكم يرى اختلافا كثيرا»

“Barangsiapa yang berumur panjang di antara kalian, niscaya akan melihat perselisihan yang banyak.” Juga HR. Ibnu Majah (3991) dari Abu Hurairah –rodhiyallohu ‘anhu– dihasankan oleh Syeikh Muqbil dalam As -Shohih Al-Musnad (2/345) yang lafadznya:

«وتفترق أمتي على ثلاث وسبعين فرقة»

 “Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan.”

[14] HR. Muslim (2449) dari Jabir bin Abdillah –rodhiyallohu ‘anhu-.

[15] HR. Muslim (2456) dari Abu Sa’id Al-Khudri –rodhiyallohu ‘anhu-.

[16] Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ﴾

“Jika Alloh berkehendak, maka Dia akan menjadikan manusia itu umat yang satu. Akan tetapi tidak henti-hentinya mereka berselisih…” (QS. Hud: 118)

[17] Telah lewat takhrijnya.

[18] HR. Abu Daud (3462) dari Ibnu Umar dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam As-Shohihah, no. 11.

[19] HR. Muslim (971).

[20] Terkadang disebut dengan salafus sholeh.

[21] Lisanul Arab (6/330).

[22] Al-Ansab (3/296) cet. Darul Kutub Al-Ilmiah.

[23] Lawami’ Al-Anwar Al-Bahiyah (1/20 ).

[24] Majmu’ Fatawa (19/193-194).

[25] Taisir Al-Karim Al-Rahman.

[26] Tujuh puluh dua golongan tersebut diancam dengan neraka dengan sebab penyelisihan mereka terhadap ajaran Nabi r. Alloh ta’ala berfirman:

﴿فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya itu takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nur: 63)

[27] HR. Ibnu Majah (3992) dari ‘Auf bin Malik dan dishahihkan oleh Syeikh Albani –rohimahulloh-.

[28] Hadits ini dihasankan oleh Syeikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Tirmidzi (2/334).

[29] HR. Bukhori (2652) dan Muslim (6469) dari Ibnu Mas’ud –rodhiyallohu ‘anhu-.

[30] Syarh Al-Thohawiyah, karya Ibnu Abil ‘Izz (hal. 383) tahqiq Syeikh Al-Albaniy.

[31] Lihat kisah selengkapnya dalam kitab Khashais Ali, karya An-Nasa’i (hal. 195) dan kisah tersebut dihasankan oleh Syeikh Muqbil dalam kitabnya As-Shohih Al-Musnad (1/564).

[32] HR. Muslim (262).

[33] HR. Muslim (2950) dari Jabir –rodhiyallohu ‘anhu-.

[34] HR. Bukhori (4612) dan Muslim (439).

[35] HR. Muslim (4950) dari Tsauban –rodhiyallohu ‘anhu-.

[36] Syarafu Ashhabil Hadits, karya Al-Khatib Al-Baghdadi (hal. 27).

[37] Kitab Al-I’tishom: bab ke-11 dari kitab shahihnya.

[38] Syaraf Ashhabil Hadits, karya Al-Khatib Al-Baghdadi (hal. 27).

[39] Penamaan ini diambil dari hadits Auf bin Malik –rodhiyallohu ‘anhu– dan telah lewat takhrijnya.

[40] HR. Bukhori dan  Muslim dari Hudzaifah –rodhiyallohu ‘anhu-.

[41] Artinya kelompok yang selamat itu adalah selamat dari perpecahan dan neraka, sebagaimana terdapat dalam hadist Auf bin Malik –rodhiyallohu ‘anhu– dan telah lewat takhrijnya.

[42] Sebagaimana dalam hadits Tsauban –rodhiyallohu ‘anhu– yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan telah lewat takhrijnya.

[43] Lihat kitab Hukmul Intima’ ilal Firoq wal Ahzab, karya Syaikh Bakar Abu Zaid, hal. 40-41.

[44] Hadits hasan, lihat muqaddimah Shohih Muslim.

[45] Telah lewat takhrijnya.

[46] Syarh Ashhabil Hadist, hal. 71-72. Ketahuilah, di antara Ahlul Hadist pada zaman ini adalah Syaikh Ibnu Bazz –rohimahulloh– (wafat: 1420H), Syaikh Al-Albaniy –rohimahulloh– (wafat: 1420H), Syaikh Muqbil Al-Wadi’iy –rohimahulloh– (wafat: 1422H), Syaikh Robi’ Al-Madkholiy –hafidzohulloh-, Syaikh Yahya Al-Hajuriy –hafidzohulloh– dan selain mereka -semoga Alloh merahmati yang telah meninggal dan menjaga yang masih hidup dari mereka-.

[47] Demikianlah dalam kitab aslinya dan yang tepat dikatakan tentang beliau: -rodhiyallohu ‘anhu-, sebagaimana dikatakan untuk para sahabat yang lain.

[48] Dinukil dari kitab Tashih Al-Khotho’ At-Tarikhi karya Asy-Syuai’ir dan kitab Al-Khowarij karya Dr. Gholib A’waji.

[49] Dinukil dari kitab Hayah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, karya Husain Kholaf dan kitab Tadzkirotun Nabihin karya Syaikh Robi’.

[50] Aqidah Wasithiyah.

[51] HR. Bukhori (4547) dan Muslim (6775) dari ‘Aisyah –rodhiyallohu ‘anha-.

[52] Al-Ibanah karya Ibnu Batthoh (1/182) Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah.

[53]  Al-Ibanah karya Ibnu Batthoh (1/135) Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah.

[54] Majmu’ Fatawa (2/375).

[55] HR. Bukhori (7352) dan Muslim (1716) dari ‘Ammar bin ‘Ash –rodhiyallohu ‘anhu-.

[56] HR. Bukhori (946) dan Muslim (6002) dari Ibnu Umar –rodhiyallohu ‘anhuma-.

[57] Dikuatkan oleh Imam Ibnu Katsir dan yang lainnya bahwa kelompok pertama yang benar, karena mereka menggabungkan antara dua dalil (lihat kitab Al-Fushul fi Sirotir Rosul).

[58] Fathul Bari (13/59).

[59] Da’awa Al-Munawiin (hal. 121) karya Abul Aziz Muhammad bin Ali.

[60] Lihat nukilan perkataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang sama dengan perkataan Ath-Thohawi dalam kitab Da’awa Al-Munawiin (hal. 234).

[61]Da’awa Al-Munawiin (hal. 237).

[62] Da’awa Al-Munawiin (hal. 240).

[63] HR. Imam Ahmad (2/291) dari Abu Hurairah –rodhiyallohu ‘anhu– dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani –rohimahulloh– dalam As-Shohihah (4/508).

Penulis: Abu Ibrohim (Admin kebenaranhanya1 (thetruthonly1))

Ingatlah bahwa tiada yang berhak disembah selain Allah

8 thoughts on “Antara Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan Wahhabiyyah”

  1. kalo pembacanya masih ambil kesimpulan yg sama dengan saat dia belum baca, berarti ada kesenjangan yang jauh antara penulis dengan pembaca. Dan tulisan inipun semakin menjauhkan pembaca dari maksud yang ingin dicapai penulis,

    Wallahu; musta’an

    Suka

  2. Asstagfirulloh Wahaby/Benar2 Suka Perpecahan Dakwahnya Melalui Media Seolah Olah NU, Orang Tahlil, Maulidan Salah Semua Yang Benar Wahaby ….Buat Akhi Yang Baca Status Diatas Hati2 Ya, Ngaji Perlu Guru, Lihat Silsilahnya Nyambung Tidak Sampai Ke Rasulillah SAW,…….

    Suka

  3. Parah ini.. Jelas ini yg nulis mengagungkan Muhammad Bin Abdul Wahab,termasuk pembela Kerajaan Saudi Arabia.. Belajar sejarah jgn sm satu guru,tp belajar dari tempat lain jg.. Banyak ane liat hadist2 yg disampaikan ada yg dipotong2,pasti ini menukil dari hadist2 karya Al-bani.. ente cari tau itu siapa Al-Bani.. 1000 hadist udh dipalsuin sm dia,dari yg dipotong2,dirubah sedikit isinya supaya sepaham dgn apa yg diinginkannya.. Pokoknya Gak jelas.. Hati2 buat yg baca,ini semua isinya perpecahan,cuma copy paste dari blog2 orang2 wahabiiy.. Geblek,gak waras,bodoh..

    Suka

    1. Bismillaah, Adakah ulama ahlul hadits yang berkata sepertimu??? kalau ga ada kamulah yang bdoh, hadakallh.

      Suka

  4. SEBAGAI RENUNGAN, Sengaja saya ambil beberapa nukilan dari Artikel yg berjudul: “AKHLAQ NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM DALAM PENGARAHAN DAN KRITIKAN” (Ditulis oleh: Abul ‘Abbas Khidhr Al-Mulkiy)

    Tidak ada kebimbangan dan keraguan lagi bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum diangkat sebagai rasul dipercaya sebagai orang yang terbaik dan berakhlaq terpuji, sebagaimana disebutkan oleh Ummul Mu’minin Khodijah Rodhiyallohu ‘anha tentang akhlaq dan prilaku Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diakui oleh siapa saja (Lihat Shohihul Bukhoriy, no. 3, 6982) dan bahkan ketika itu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dijuluki dengan “Al-Amin”, namun ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diangkat sebagai rasul, Allah Ta’ala perintahkan supaya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi peringatan, sebagaimana perkataan-Nya:“Hai orang yang berselimut! Bangkitlah dan berilah peringatan!”. (Al-Mudtatsir: 1-2).

    “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai fitnah (cobaan)“. (Al-Anbiya’: 35).

    Juga perkataan-Nya:“Dan Kami jadikan sebagian kalian fitnah (cobaan) atas sebagian yang lain. Dan bisakah kamu bersabar?”. (Al-Furqan: 20).

    Ketika rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai memberi peringatan dan mulai menjarh (mengkritik atau mencela) sesembahan-sesembahan dan tokoh-tokoh sesat semisal Abu Lahab (yang celaan terhadapnya ada dalam satu surat dalam Al-Qur’an) maka mulailah disirnakan julukan yang bagus tadi dari diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka ganti julukan itu dengan tukang sihir, pendusta, gila dan sesat serta julukan-julukan jelek lainnya, tidak ada sama sekali pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan dengan ketegasan dan keberanian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengatakan al-haq membuat kaum musyrikin kepedasan telinganya ketika mendengarkan suara dan tahdziran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membuat hati mereka merintih kesakitan, maka kemudian mereka membuat banyak makar untuk menghinakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan serta mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pemecah belah persatuan kaum Quraisysy dan ucapan yang semisal itu.

    Maka kami katakan: Memang benar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memecah belah (memisahkan) manusia antara yang baik dan yang jelek, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhoriy dalam “Shohihnya” (no. 7281) dari Jabi bin ‘Abdillah bahwa:“Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam membedakan (memisahkan) manusia”.
    Berkata Asy-Syaikh An-Nashih Al-Amin Yahya bin ‘Ali hafidzahullah: Yaitu memisahkan manusia antara yang sholih dengan manusia yang jelek, antara yang kafir dan mu’min”.

    “Muhammad adalah Rasulullah, beliau dan orang-orang yang bersamanya sangat keras kepada orang kafir dan berkasih sayang (berlemah-lembut) diantara mereka“. (Al-Fath: 29).

    Dan Allah Ta’ala perintahkan rasul-Nya dan para pengikutnya untuk bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir dan orang yang bermuka dua; baik itu dari kalangan munafiqin atau orang-orang yang serupa dengan mereka, Allah Ta’ala berkata:“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. tempat mereka ialah Jahannam. dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya“. (At-Taubah: 73).

    Salam Ukuwah Islamiyah..

    Suka

  5. to Admin: Assalamu’alaikum…, Alhamdulillah…Blog yg sangat bermanfa’at (Insya Allah). Teruslah berjuang di atas Manhaj yg haq, Jazaakallahu khoir..
    Salam Ukuwah Islamiyah..

    Suka

    1. wa ‘alaikum salam warhmatullh, barokallohu fiikum wa ‘iyyaakum jazakumulloh

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s