BANTAHAN ILMIYYAH YANG BERKAITAN DENGAN JÂMI’AH ISLÂMIYYAH

Judul Asli

التوضيح

لما جاء في تقريرات العلمية والنقد الصحيح

Iklan

BANTAHAN ILMIYYAH

YANG BERKAITAN DENGAN

JÂMI’AH ISLÂMIYYAH


KARYA

Abu ‘Abdirrohman

Yahya bin ‘Ali Al Hajuri

Hafidzohulloh Ta’ala

 

“Disertai Bantahan Untuk Sarbini Seputar Permasalahan Ini”

 

Muroja’ah:

Abu Turob Saif bin Hadhor Al Jawi

-hafidzohulloh-

 

Oleh

Abu ‘AbdirRohman

Shiddiq bin Muhammad Al Bugisi

-‘afallohu ‘anhu-

 

DAARUL HADITS DAMMAAJ

 

 

 

Judul Asli

 

التوضيح

 لما جاء في تقريرات العلمية والنقد الصحيح

 

PENJELASAN

TERHADAP APA-APA

YANG ADA PADA “KETETAPAN-KETETAPAN ILMIYYAH”

DAN “KRITIKAN YANG

BENAR”

 

 

 

 

MUQODDIMAH DARI PENERJEMAH

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضل فلا هادي له أشهد أن لاإله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسولهshollallohu ‘alaihi wa sallam  أما بعد:

قال الله تعالى: 

﴿ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ [آل عمران: 102] .

            “Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Alloh sebenar-benarnya takwa, dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan memeluk agama Islam.”

﴿ يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا [النساء: 1] .

            “Wahai sekalian manusia! Bertakwalah kepada Robb kalian yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa, dan dari padanya Alloh menciptakan istrinya, kemudian dari pada keduanya Alloh mengembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Alloh yang dengan (mempergunakan) namaNya kalian saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Alloh senantiasa menjaga dan mengawasi kalian.”

﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا [الأحزاب: 70، 71].

            “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kalian kepada Alloh dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Alloh akan memperbaiki amalan-amalan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan barangsiapa yang menta’ati Alloh dan RosulNya maka sungguh dia telah mendapat kemenangan yang besar.”

أما بعد:

فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد ﷺ وشر الأمور محدثاتُها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار.

            “Kemudian dari pada itu: Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabulloh dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, dan sejelek-jeleknya perkara adalah hal-hal yang diada-adakan dalam agama (muhdats), dan setiap yang muhdats adalah bid`ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.”

        Para pembaca sekalian sebelum memasuki isi terjemahan ini ana senang untuk memberikan sedikit faidah kepada para pembaca yang terhormat mengenai beberapa hal di antaranya:

Pertama: Bahwasanya seseorang yang mencari-cari kesalahan dan aib seorang ulama dengan niat yang buruk dan jelek seperti menampakkan cacat ulama tersebut, meremehkannya, serta menjelaskan kebodohan, keterbatasan ilmunya maka ia layak untuk diberi pelajaran dan ditegur dengan keras sampai ia jera dari perbuatan yang hina dan rendah tersebut.

Imam ibnu Rajab : berkata pada kitab beliau “Al Farq bainan Nashihah wat Ta’yir“:

وإما مراد الراد بذلك : إظهار العيب على من رَدَّ عليه وتنقصه، وتبيين جهله، وقصوره في العلم، سواء كان رده لذلك في وجه من رَدَّ عليه أو في غيبته، وسواء كان في حياته أو بعد موته، وهذا داخل فيما ذمه الله في كتابه، وتوعد عليه، في الهمز واللمز، ودخل ـ أيضاً ـ في قول النبيص :” يا معشر من آمن بلسانه ولم يؤمن بقلبه؛ لا تؤذوا المسلمين، لا تتبعوا عوراتهم؛ فإنه من يتبع عوراتهم يتبع الله عورته، ومن يتبع الله عورته يفضحه ولو في جوف بيته”.

وهذا كله في حق العلماء المقتدى بهم في الدين. فأما أهل البدع والضلالة، ومن تَشَبَّه بالعلماء وليس منهم، فيجوز بيان جهلهم، وإظهار عيوبهم، تحذيراً من الاقتداء بهم.

وليس كلامنا الآن في هذا القبيل، والله أعلم.

ومن عُرف منه أنه أراد برده على العلماء النصيحة لله ورسوله؛ فإنه يجب أن يعامل بالإكرام، والاحترام، والتعظيم، كسائر علماء المسلمين الذين سبق ذكرهم، وأمثالهم، ومن تبعهم بإحسان.

ومن عُرف أنه أراد برده عليهم التنقيص، والذم، وإظهار العيب ؛ فإنه يستحـق أن يقـابل بالعـقوبة؛ ليرتـدع هو ونظراؤه عن هذه الرذائل المحـرمــة.

ويُعرف هذا القصد تارة بإقرار الرادِّ واعترافه ، وتارة بقرائن تحيط بفعله وقوله ،…اهـ

Adapun apabila niat yang membantah adalah untuk menampakkan cacat yang ia bantah, meremehkannya, serta menjelaskan kebodohan, keterbatasan ilmunya sama saja apakah ucapannya itu di hadapannya atau tidak, di masa hidupnya atau setelah wafatnya, hal itu termasuk dari apa yang Alloh cela pada kitabNya, dan mengancam pelakunya, dalam mencela dan mengumpat dan juga masuk dalam sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam:

” يا معشر من آمن بلسانه ولم يؤمن بقلبه؛ لا تؤذوا المسلمين، لا تتبعوا عوراتهم؛ فإنه من يتبع عوراتهم يتبع الله عورته، ومن يتبع الله عورته يفضحه ولو في جوف بيته”.

            “Wahai sekalian yang telah beriman dengan lisannya sedang belum beriman dengan hatinya; janganlah kalian mengganggu kaum muslimin, dan mencari-cari aib mereka, karena sesungguhnya barangsiapa yang mencari-cari aib kaum muslimin Alloh akan mencari aibnya, dan barangsiapa yang Alloh cari aibnya niscaya Ia akan membongkar aibnya walaupun dia berada di tengah rumahnya.”

            Dan hal ini apabila menyangkut hak (kehormatan) ulama yang mereka menjadi tauladan dalam agama. Adapun ahlul bida’ dan dholal (pelaku kesesatan), dan siapa yang menyerupai ulama sedang ia bukan dari golongan mereka, maka boleh menjelaskan kebodohan mereka, dan menampakkan aib-aib mereka sebagai bentuk peringatan bagi siapa yang mengikuti mereka. Dan bukan pembahasan kami sekarang pada permasalahan ini, Wallohu A’lam.

            Dan barangsiapa yang diketahui niatnya ketika membantah ulama adalah sebagai bentuk nasihat kepada Alloh dan rosulNya, maka ia berhak untuk diperlakukan secara baik, dan dihormati, serta dimuliakan sebagaimana ulama-ulama muslimin selainnya yang telah lewat penyebutannya, dan semisal mereka, serta yang menempuh jejak mereka dengan baik.

            Dan barangsiapa yang diketahui niatnya dengan bantahannya itu untuk melecehkan, mencaci, dan menampakkan aib orang yang ia bantah, maka ia berhak untuk dibalas dengan hukuman (balasan atas perbuatannya), supaya dia dan semisalnya terhenti (jera) dari prilaku yang rendah dan harom ini.

            Dan niat ini terkadang diketahui dengan pengakuan dan pembenaran si pelakunya sendiri, dan kadang dengan qorinah (faktor pendukung) yang meliputi ucapan-ucapan dan kelakuan-kelakuannya…dst selesai

            Yang kedua: Bahwasanya termasuk dari akhlaq para imam salaf, mereka menerima al haq meskipun kebenaran itu datang dari orang yang lebih kecil dari sisi keilmuan, umur, derajat, dsb selama yang dia bawa adalah al haq. Berkata Al Hafidz ibnu Rojab :: 

فلهذا كان أئمة السلف المجمع على علمهم وفضلهم، يقبلون الحق ممن أورده عليهم وإن كان صغيراً، ويوصون أصحابهم وأتباعهم بقبول الحق إذا ظهر في غير قولهم، كما قال عمرtفي مهور النساء، وردت المرأة بقوله تعالى {وآتيتم إحداهن قنطاراً}. فرجع عن قوله، وقال :” أصابت امرأة ورجل أخطأ “. ورُوِيَ عنه أنه قال :” كل أحد أفقه من عمر “.

            “Oleh karena itulah para imam salaf yang diakui keilmuan dan keutamaannya, mereka itu menerima al haq dari siapapun yang membawanya meskipun dari anak kecil, dan mewasiatkan teman-teman dan pengikut-pengikut mereka agar menerima al haq meskipun nampak pada selain ucapan mereka, sebagaimana ucapan Umar rodhiallohu ‘anhu dalam masalah mahar wanita, lalu seorang wanita membantah ucapannya dengan firman Alloh Ta’ala:

{وآتيتم إحداهن قنطاراً}.

            “Sedang kalian telah memberi seseorang di antara mereka (para wanita) harta yang banyak.”

 Maka Umar taroju’ dari ucapannya, seraya berkata:

” أصابت امرأة ورجل أخطأ “.

            “Perempuan itu telah mencocoki kebenaran dan laki-laki (beliau maksudkan dirinya sendiri -pent) telah salah.”

Dan juga diriwayatkan dari beliau bahwasanya ia mengatakan:

” كل أحد أفقه من عمر “.

“Setiap orang lebih faqih daripada Umar.”Selesai

            Yang ketiga: Merupakan kebiasaan dan sifat hizbiyyin yang paling jelas, tatkala mereka tidak mampu lagi untuk menghadapi al haq yang ditegakkan oleh seorang ulama sunnah untuk membuktikan penyimpangan dan kesesatan mereka, merekapun mati-matian hendak menjatuhkan nama baik ulama tersebut dengan berbagai cara walaupun dengan cara yang paling kotor sekalipun mereka tidak segan-segan untuk melakukannya, di antara cara kotor yang mereka tempuh adalah dengan cara mengambil kaset ulama tersebut yang berbau kesalahan lalu memotong sebelum dan setelahnya yang merupakan penguat dan penjelas ucapan tersebut supaya yang mendengar akan mendapati ucapan tersebut adalah kesalahan yang fatal. Bahkan ini adalah “Sunnatul Yahudiyyah” sebagaimana hadits Ibnu Umar rodhiallohu ‘anhuma di Shohih Bukhory ::

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – أَنَّهُ قَالَ إِنَّ الْيَهُودَ جَاءُوا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَذَكَرُوا لَهُ أَنَّ رَجُلاً مِنْهُمْ وَامْرَأَةً زَنَيَا فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « مَا تَجِدُونَ فِى التَّوْرَاةِ فِى شَأْنِ الرَّجْمِ » . فَقَالُوا نَفْضَحُهُمْ وَيُجْلَدُونَ . قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلاَمٍ كَذَبْتُمْ إِنَّ فِيهَا الرَّجْمَ . فَأَتَوْا بِالتَّوْرَاةِ فَنَشَرُوهَا ، فَوَضَعَ أَحَدُهُمْ يَدَهُ عَلَى آيَةِ الرَّجْمِ فَقَرَأَ مَا قَبْلَهَا وَمَا بَعْدَهَا . فَقَالَ لَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلاَمٍ ارْفَعْ يَدَكَ . فَرَفَعَ يَدَهُ فَإِذَا فِيهَا آيَةُ الرَّجْمِ . قَالُوا صَدَقَ يَا مُحَمَّدُ فِيهَا آيَةُ الرَّجْمِ . فَأَمَرَ بِهِمَا رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَرُجِمَا ، فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ يَحْنِى عَلَى الْمَرْأَةِ يَقِيهَا الْحِجَارَةَ .

            “Bahwasanya beliau berkata bahwa orang-orang Yahudi datang kepada Rosulillah shollallohu ‘alaihi wa sallam kemudian mereka mengabarkan beliau bahwasanya seorang laki-laki dan seorang wanita di antara mereka telah berzina, lalu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada mereka: “Bagaimana kalian dapati di Taurat mengenai perkara rojm?” mereka menjawab kami mempermalukan dan mencambuk mereka. Maka Abdulloh bin Salam berkata: Kalian telah berdusta sesungguhnya pada taurat terdapat ayat rojm. Kemudian mereka mendatangkan taurat lalu membukanya (membacanya), maka salah seorang di antara mereka menaruh tangannya di atas ayat rojm dan membaca sebelum dan sesudahnya. Maka Abdulloh bin Salam mengatakan angkat tanganmu! Maka kelihatanlah ayat rajam. Akhirnya mereka mengatakan engkau benar terdapat padanya ayat rajam, maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk merajam keduanya, kemudian aku melihat laki-laki tersebut melindungi teman wanitanya dari batu dengan membungkuk ke atas perempuan tersebut.”

            Inilah yang ditempuh oleh hizbiyyah Abdurrohman Al Adeni pada kaset ucapan Syaikh Yahya -ra’âhulloh- pada permasalahan Jami’ah Islamiyyah lalu membawanya kepada Syaikh Ubaid –hadahulloh- untuk mengobarkan permasalahan tersebut guna memalingkan manusia dari hujjah dan bukti yang dipaparkan oleh Syaikh Yahya -hafidzohulloh- kepada manusia sebagai bukti hizbiyyah mereka. Namun tidak menambah orang yang memiliki bashiroh melainkan keyakinan yang kuat akan hizbiyyah dan kebobrokan mereka, dan mengetahui bahwa mereka bukanlah pencari ketentraman dan mau bertaubat serta berbenah diri, mereka tidak menginginkan melainkan menentang da’wah salafiyyah dan membuat kekacauan pada markiz induk da’wah salafiyyah di Yaman.   

﴿وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ﴾ [فاطر/43]

                Dan tidaklah menimpa makar yang jahat kecuali yang merencanakannya.“[Faathir: 43]

            Inilah bentuk aplikasi mereka terhadap cara kotor ini yang akhirnya membebankan Syaikhuna -ra’âhulloh- untuk meluangkan sedikit dari waktunya yang berharga untuk menjawab dan menjelaskan ucapan beliau ini kepada Syaikh Ubaid –hadahulloh- dengan langsung menukil dari kaset asli beliau, silahkan pembaca menelaah terjemah dialog yang berisi ucapan ulama yang berfaidah ini;

Berkata Syaikh Yahya bin ‘Ali Al Hajuri –hafidzohulloh wa ro’âh-:

 

بسم الله الرحمن الرحيم

 

            Segala puji hanya bagi Allah yang mengumpulkan manusia di hari yang tiada keraguan padanya, dan aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Alloh semata tiada sekutu bagiNya, Al ‘Alim (yang maha mengetahui) apa yang disimpan dan disembunyikan oleh hamba, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rosulNya semoga Alloh senantiasa mencurahkan sholawatNya kepadanya, dan kepada keluarga, sahabat, serta orang-orang yang mengikuti beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam. Amma ba’du :

            Fadhilatus Syaikh Al-Walid Ubaid Al-Jabiri –semoga Allah memberinya taufik dan menolak dari kami dan darinya fitan apa yang nampak dan tersembunyi- telah mengeluarkan selebaran yang tertanggal 28 shofar 1429 dengan tema “Taqrirotil Ilmiah fidzdzab ‘anil Jaamiatil Islamiyah“, kemudian aku membaca apa yang ditulis oleh beliau –waffaqohulloh- kemudian aku memberi tanbih atas selebaran itu dengan kalam yang singkat dan mudah, dengan harapan dengannya untuk bisa meyakinkan kepada beliau apa yang aku ucapkan secara tulisan dan suara, dan saya mengira itu sudah cukup dalam permasalahan ini dan kami memanfaatkan waktu-waktu kami pada apa yang kami lihat lebih bermanfaat bagi kaum muslimin dari hal itu.

            Kemudian beliau mengeluarkan selebaran berikutnya dengan tema “An Naqdus Shohih lima Tadhommanahu At Tanbihus Sadid min Mukholafati Jawaabis Shorih” kemudian aku membacanya ternyata terdapat padanya kata-kata kasar, yang dibangun diatas cuplikan sebagian ucapanku tentang Jâmi’ah Islamiyah  dan penghapusan atau tidak menggangap apa yang ada sebelum atau sesudahnya pada teks aslinya (padahal kalam tersebut saling berkaitan awal dan akhirnya) dari apa yang menjelaskannya, dan penjelasan point-point itu sebagai berikut:

            Asy-Syaikh Ubaid berkata pada selebarannya yang bertema “An Naqdus Shohih“: 

            Segala puji hanya bagi Allah yang mengutus RosulNya dengan membawa petunjuk dan agama yang haq agar dia memenangkannya di atas seluruh agama, dan cukuplah Alloh sebagai saksi, dan aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Alloh semata tiada sekutu bagiNya dengan pengakuan terhadapNya dan mentauhidkanNya, aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rosulNya semoga Alloh senantiasa mencurahkan sholawat dan salamNya yang melimpah kepada beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam, dan kepada keluarga, serta sahabatnya.

Amma ba’du: Telah sampai kepada kami makalah yang diberi nama dengan “Al Qoulus Sadid fima Nuqila li Syaikh ‘Ubaid” ditulis oleh saudara kami Asy Syaikh Yahya bin ‘Ali Al Hajuri pengganti Asy Syaikh Muqbil Al Wadi’i : pada Markaz (Ma’had) Dammaj di Sho’dah Yaman, dan ketika aku minta dipaparkan ucapan tersebut, (ternyata) aku mendapati bahwa saudara kami Yahya –semoga Alloh memaafkan kami dan beliau serta memperbaiki keadaan kami dan beliau- telah menempuh jalan talbis (pengkaburan), tadlis (tipu daya), dan pembutaan, dan menyelisihi jalan Ahlul Hadits yang ia menisbahkan diri kepada mereka dalam berbicara (menyampaikan)  baik kepada orang yang sepakat ataupun yang menyelisihinya berupa penjelasan dan keterangan, dan pada risalah ini saya hendak menyingkap kepada pembaca mengenai perkataan talbisaat (pengkaburan-pengkaburan) dan ijmaalat (ungkapan secara global) dan disertai dengan tanbih pada selainnya, dan ijmaalaat-ijmaalaat itu wahai pembaca muslim tertera di hadapanmu tersimpul sebagai berikut:

Pertama: Al Hajuri menghapus dua ibarat/perkataan dari lima perkataan yang aku mengkritiknya dengannya dengan burhan yang jelas/terang dan dalil yang pasti sehingga tiada lagi bagi seorang yang bijak suatu penghalangpun kecuali menerimanya, dan tunduk kepadanya (hujjah dan dalil tersebut) inilah dua perkataan itu:

(1-Jâmi’ah Islamiyyah dahulu dianggap sebagai Jâmi’ah salafiyyah, dipimpin oleh Asy Syaikh ibnu Baaz dan para salafiyyun, dan para pelajarnya ketika itu adalah para pemuka salafiyyun, adapun sekarang adalah Jâmi’ah hizbiyyah Al jâmi’atul Islamiyyah Jâmi’atul Hizbiyyah.

2- Dan oleh karena itu kami hentikan pemberian tazkiyyah (rekomendasi) kepadanya, harom mendukung thullab kepada kemungkaran dan kepada hizbiyyah.)

Di sini timbul pertanyaan: Apa sebab kelakuan/tindakan ini dari saudara kami Al Hajuri? Bukankah ungkapan dia itu mengandung (ucapan yang) terang-terangan memvonis Jâmi’ah Islâmiyyah sebagai hizbiyyah, setelah usai zaman Syaikh bin Bâz dan ini diambil dari salah satu ungkapannya adapun ungkapan ke duanya mengandung pengharoman belajar di Jâmi’ah Islamiyyah hal itu tersinyalir pada kata-kata dia: (Dan oleh karena itu kami berhenti dan meninggalkan untuk memberi tazkiyyah kepadanya, harom mendukung thullab di atas kemungkaran dan di atas hizbiyyah.)

       Kedua: terdapat pada apa yang ia sifati sebagai pujian terhadap Jâmi’ah Islamiyyah; pekataannya sebagai bentuk jawaban dari soal: Apakah kalian mengatakan (menghukumi) orang yang belajar di Jâmi’ah islamiyyah sebagai hizbi?

Kemudia Syaikh menjawab: jawabannya tidak, kami tidak mengatakan ini secara mutlak, tapi kami mengatakan: bahwasanya Jâmi’ah islamiyyah waffaqohalloh Abul Hasan memberi tazkiyyah kepada (siapa yang hendak masuk kepada)nya, dan memberi tazkiyyah kepada (siapa yang hendak masuk kepada)nya Jam’iyyatul Hikmah, dan memberi tazkiyyah kepada (siapa yang hendak masuk kepada)nya Zindani, dan telah datang kepadaku seseorang dengan membawa tazkiyyah dari Zindani untuk masuk ke Jâmi’ah, dan ia ingin dariku agar menambah [demikian ia katakan]

            Maka kami katakan: Wahai Syaikh Yahya engkau telah menvonis Al Jâmi’ah bahwasanya ia adalah hizbiyyah, dan engkau telah mengharomkan belajar padanya dan perkataanmu berkisar seputar tahdzir darinya, dan (ucapan) ini telah tersebar di seluruh penjuru, dan orang-orang sufahâ dan hamqo’ (tolol dan dungu) telah menelannya, dan aku tidak mengira musuh-musuh ahlus sunnah secara keseluruhan dan musuh-musuh Jâmi’ah Islamiyya khususnya kecuali menyebar-nyebarkannya untuk mencela Jâmi’ah Islamiyyah, terlebih lagi sebagian dari temanmu telah menempuh jalan ini (mencela Jâmi’ah), dan kamu wahai Aba ‘Abdirrohmân tidak bisa berlepas diri dari tanggung jawab/akibat fatwa yang lalim (menyimpang) ini sampai engkau taroju’  dengan jelas dan terang-terangan bagaikan terangnya matahari di siang bolong, dan tidaklah taroju’mu jelas sampai ia mencakup perkara berikut ini:

Pertama: memuji Jâmi’ah Al Islamiyyah yang ada di Madinah bahwasanya ia adalah Jâmi’ah Salafiyyah didirikan di atas sunnah sejak awal berdirinya sampai hari ini.

Kedua: Pengakuanmu akan kesalahanmu terhadap vonismu terhadap Jâm’iyyah Islamiyyah dari hizbiyyah dan pengharoman belajar padanya.

Ketiga: Melepaskan Al Jâmi’ah dari hizbiyyah, bida’, dan khurofat.

Maka apakah engkau akan melakukan hal itu wahai Syaikh Yahya, kami menuntut ini darimu, dan kami mengawasimu (jangan sampai) engkau menyimpang dalam menjawab

Ketiga: Dan dari yang tertera pada ucapan Asy Sayikh Al Hajuri tuduhannya kepadaku bahwa aku duduk dengan orang-orang jelek dan bahwasanya mereka mengtalbis (mengkaburkan) kepadaku sehingga aku katakan apa yang telah kukatakan pada kritikanku terhadap lima ungkapannya.

Dan jawabannya pertama: bahwasanya kelima ucapan tersebut tsabit di sisi kami terekam dengan suaranya, dan langsung akan kami perdengarkan setelah pembicaraan ini, sehingga pembaca yakin bahwa kami tidak  mengada-ngada terhadap Al Hajuri apa yang ia tidak ucapkan, dan ditambah lagi persaksian orang-orang ‘udûl (terpercaya) akan kritikannya terhadap Jâmi’ah dan tidak menasehatkan untuk belajar padanya.

Kedua: aku tidak punya –walillahil hamd– teman duduk yang jelek tidak pula pelaku fitnah, bahkan teman-teman dudukku telah mendapat tazkiyyah di sisiku dan di sisi selainku dari ahlus sunnah di Madinah dan selainnya, dan di antara mereka adalah orang-orang khusus: mereka yang ia (syaikh Yahya) sifati sebagai orang yang maftun (terfitnah), ‘Abdurrohman bin Mar’i dan ‘Abdulloh bin Mar’i, Hani Buroik, dan ‘Arofât bin Hasan.

Dan mereka adalah ikhwah bukan seperti yang disifati oleh Yahya Al Hajuri, kami berprasangka demikian dan cukuplah Alloh yang menilai mereka,namun yang ma’ruf dari Syaikh Yahya –hadahulloh- bahwasanya dia menyerang dengan lalim siapa saja yang menyelisihinya pada permasalahan-permasalahan ijtihadiyyah dan mencaci maki, memurkai dan mencemooh mereka dan ini adalah metode orang yang terhalangi dari sikap bijak, dan hikmah, serta menyelisihi para da’i kebenaran di atas bashiroh.

            Dan terakhir saya memohon kepada Alloh –’Azza Sya’nuh- agar berkenan memperlihatkan kepada kami al-haq sebagai al haq dan menganugrahkan kami agar mengikutinya dan memperlihatkan kepada kami kebatilan sebagai kebathilan dan menganugrahkan kepada kami agar menjauhinya dan supaya tidak menjadikannya kabur di hadapan kami akhirnya kami sesat dan menyesatkan, dan semoga Alloh senantiasa mencurahkan sholawat dan salamNya kepada NabiNya shollallohu ‘alaihi wa sallam, dan kepada keluarga, serta segenap sahabatnya. Selesai.

 

JAWABAN SYAIKH YAHYA HAFIDZOHULLOH

 

            Dan perkataannya: (Dan ketika aku minta dipaparkan ucapan tersebut, (ternyata) aku mendapati bahwasanya saudara kami Yahya –semoga Alloh memaafkan kami dan beliau serta memperbaiki keadaan kami dan beliau-        

            Aku katakan: Jazakallohu khoiron atas doa yang bagus ini, saya memohon kepada Alloh agar mengabulkannya darimu, betapa banyak dosa kami yang kami sangat butuh supaya Alloh memaafkannya, serta memperbaiki keadaan-keadaan kami di dunia dan akhirat.

            Adapun perkataan anda bahwa aku telah menempuh jalan talbis (pengkaburan), tadlis (tipu daya), dan pembutaan, dan menyelisihi jalan Ahlul Hadits yang ia menisbahkan diri kepada mereka dalam berbicara baik kepada orang yang sepakat ataupun yang menyelisihinya berupa penjelasan dan keterangan.

            Aku katakan: perkataannya ini mengandung lima tuduhan sifat tercela kepadaku, kemudian beliau menyebutkan bahwasanya beliau akan menyingkap kepada pembaca sebagian dari talbisaat (pengkaburan-pengkaburan) dan ijmaalat (ungkapan secara global) dan disertai dengan tanbih pada selainnya dari apa yang terdapat padaku.

            Dan pada perkataan ini penuh dengan perkara yang dibesar-besarkan dan berlebihan, yang bisa jadi membuat pembaca yang tidak tahu keadaan kami membayangkanku termasuk dari para pembesar ahlul Ahwâ yang talbis dan pengkaburan telah menjadi kebiasaan mereka, adapun alasan Syaikh ‘Ubaid atas semua pembesar-besaran ini adalah bahwasanya aku menghapus dua perkataan dari penjelasannya dari apa yang ia sebutkan pertama: bahwasanya Jâmi’ah Islamiyyah ketika itu dianggap sebagai Jâmi’ah salafiyyah, dipimpin oleh Asy Syaikh ibnu Baaz dan para salafiyyun, dan para pelajarnya ketika itu adalah para pemimpin salafiyyun, adapun sekarang adalah Jâmi’ah hizbiyyah Al Jâmi’atul Islâmiyyah Jami’atul Hizbiyyah.

Yang kedua: Dan oleh karena itu kami hentikan pemberian tazkiyyah (rekomendasi) kepadanya, harom mendukung thullab kepada kemungkaran dan hizbiyyah.)

Dan jawabannya:

Pertama: tanbihanku ketika itu secara singkat, dan mengisyaratkan kepada apa yang telah disebutkan pada selebaran anda di mana saya mengatakan padanya:

Dan perkataan yang dinukil dan dita’liq oleh Syaikh ‘Ubaid –Waffaqohulloh- ini adalah perkataan yang jelek/keji dan ia sebagaimana yang beliau katakan, akan tetapi menyelisihi apa yang kami ucapkan.

Maka ini isyarat kepada kalam engkau yang engkau nukil dan aku menta’liknya, itu cukup bahwasanya aku tidak menghapus darinya sedikitpun.

            Yang kedua: Bahwa ucapan anda tersebar di Internet, anggaplah kalau memang aku tidak menyebutkannya semua, barangsiapa yang hendak melihatnya dia akan melihatnya di jaringan Internet, dan telah melihatnya siapa yang hendak melihatnya. Maka atas dasar apa yang mengharuskan serangan itu kalau hanya sebab tuduhan penghapusan?!, Dan aku tidak butuh untuk menghapusnya, karena kalamku pada Jâmi’ah Islamiyyah jelas walillahil hamd. Jauh dari pengkaburan dan pembutaan. Bahwasanya Jam’iyyah Islamiyyah terdapat padanya banyak hizbiyyun, dan terdapat padanya salafiyyun namun mereka sedikit dibanding selain mereka. Akan tetapi barangkali yang membuat rancu padamu adalah dengan sebab adanya pemotongan dan penghapusan ucapanku yang global di mana aku mengatakan pada waktu itu yang bunyinya:

فيها سلفيون غرباء

“Padanya terdapat salafiyyun orang asing”

lalu dinukil kalam pada awal “At taqrirot Al Ilmiyyah”, dan dihapus perkataanku yang saling berkaitan dan menguatkan dengan lainnya; bahwasanya Al Jam’iyyah terdapat padanya salafiyyun dan hizbiyyun, dan pada itu jawabanku dari soal akhir dari pertanyaan sebagian saudara kami Ahlu Jeddah atas pertanyaan mereka:

ما نصيحتكم لمن يريد الالتحاق بالجامعة الإسلامية؟

“Apa nasihat anda bagi siapa yang hendak masuk ke Jâmiah Islâmiyyah”?

Aku jawab:

الجامعة الإسلامية فيها سلفيون وحزبيون

“Al Jâmi’ah Islamiyyah terdapat padanya salafiyyun dan hizbiyyun,”

Dan kami mengatakan setelahnya beberapa baris dari asilah Ahli Jeddah yang dinukil oleh Syaikh ‘Ubaid atau dinukilkan untuknya:

فعلى هذا إذا درست في الجامعة الإسلامية فكن على حذر جدًا من أولئك المجالسين للحزبيين. والحمد لله يوجد مدرسون سلفيون، ويوجد طلاب سلفيون تجلس معهم إن شاء الله، وما لا يدرك كله لا يترك جله، ودراستك في الجامعة الإسلامية مع الحذر الشديد من الحزبيين خير من الجهل، (ودراستك في الجامعة الإسلامية مع الوقوع في الحزبية والبدع والخرافات الجهل خير من ذلك)، الجهل الذي أنت فيه ببراءتك من الحزبية؛ الحزبية بدعة، وأنت على سنة…

“Maka berdasarkan hal ini, apabila engkau belajar di Jâmi’ah Islâmiyyah hendaknya kamu waspada penuh dari mereka orang-orang yang bermajelis dengan para hizbiyyin. Dan Alhamdulilah terdapat para pengajar salafi, dan terdapat para pelajar salafi (juga), kamu duduk dengan mereka Insya Alloh, (pepatah mengatakan:)

(وما لا يدرك كله لا يترك جله)“Dan apa yang tidak dapat dicapai semuanya tidak ditinggal kebanyakannya”, dan belajarmu di Jâmi’ah Islamiyyah dengan sangat berhati-hati dari para  hizbiyyin lebih baik daripada kebodohan, (dan belajarmu di Jâmi’ah Islamiyyah bersamaan dengan ketergelinciran ke dalam hizbiyyah, bida’, dan khorafat, kebodohan lebih baik dari hal itu), kebodohan yang kamu di dalamnya sedang kamu selamat dari hizbiyyah, al hizbiyyah bid’ah, sedang kamu di atas sunnah…”

Maka datanglah ucapanku terpotong (yang) dinukil darinya pada “Taqrirat” dari kalimat (dan belajarmu di Jâmi’ah Islamiyyah bersamaan dengan ketergelinciran/keterjerumusan ke dalam hizbiyyah, bida’, dan khorafat, kebodohan lebih baik dari hal itu), dan terhapus penjelasnya sebelumnya, dari penetapan adanya salafiyyun padanya dari para pengajar dan thullab, dan nasihatku kepada penanya yang disebutkan bahwasanya apabila ia telah (masuk) belajar di Jâmi’ah Islamiyyah hendaknya sangat berhati-hati dari orang-orang yang bermajelis dengan para hizbiyyin, dan (hendaknya) bermajelis dengan para salafiyyin, penghapusan ini yang menyebabkan aku heran/merasa asing dengan apa yang muncul (dinukil) pada bayan (penjelasan) pertama yang bertema: (At Taqrirâtil Ilmiyyah) sedangkan jawaban ini telah berlalu sekitar dua tahun atau lebih, dan jawabanku waktu itu tidak berbeda dengan jawabanku sebelum terbitnya “Taqrirât” (milik) Syaikh ‘Ubaid sekitar sepekan sebagaimana telah aku sebutkan penjabarannya (penjelasannya) sebagaimana pada “Tanbîh As Sadîd“!!.

            Dan jawaban seperti ini bukan jawabanku saja mengenai Jâmi’ah Islâmiyyah, bahkan hal ini ma’lum di sisi kebanyakan ahlus sunnah, kalau bukan yang paling banyak di antara mereka, baik dia adalah orang yang sedang belajar di Jâmi’ah Islamiyyah, atau yang telah lulus darinya pada masa terakhir, atau yang ditolak ketika mengikuti ujian test masuk karena jawabannya yang tidak mencocoki (pengetest) mengenai hal sebagian hizbiyyin yang mereka menguji pelajar dengan soal tentang (hal) mereka, maka apabila ia memujinya mereka menerimanya (lulus test), dan jika ia mengingkarinya mereka menolaknya (sebagai murid/tidak lulus test), atau dari sela-sela banyaknya tazkiyyah Az Zindani dan selainnya dari ikhwanul muslimin dan selain mereka dari pengikut Jam’iyyatul Hikmah dan Ihsan, dan At Turots, dan Anshorus Sunnah di Sudan, dan Abul Hasan Al Mishri dan selain mereka. Inilah sebagian contohnya:

            Saudara kami salah seorang dari penuntut ilmu penghafal Al Qu’ran dan da’i yang mulia berkata sebagai berikut:

            Saya Muhammad bin Mahdi Zhofir, qoddarollah (Allah menakdirkan) aku berniat untuk masuk belajar di Jâmi’ah Islamiyyah, dalam rangka menuruti kemauan kedua orang tuaku yang mulia, kemudian aku berangkat pada tahun 1422 bertepatan pada bulan Romadhon ke Jâmi’ah, dan ketika itu aku sangat memenuhi syarat (untuk lulus test), di mana yang melihatnya akan memastikan –setelah taufik dari Alloh- bahwa saya akan langsung diterima tanpa keraguan (sedikitpun), dari hafalan Al Qur’an, istifadah ilmiyyah yang baik di markaz-markaz salafiyyah di Yaman, dan ijazah SMA sebagaimana yang mereka tuntut, dan ta’dil (surat keterangan baik) di atas delapan puluh orang, dan selainnya dari apa yang mereka sebutkan dari syarat-syarat penerimaan secara nampak, kemudian dilangsungkan test ujian masuk maka tiba-tiba Doktor menyodorkan kepadaku 9 pertanyaan, 6 soal ilmiah, 1 soal mengenai Al Quran, dan 1 soal dalam aqidah, 1 soal pada tauhid, 1 soal pada fiqih, dan soal tentang pelajaran-pelajaran yang telah aku pelajari di ma’had salafiyyah di Yaman, dan pertanyaan pendidikan umum sebagaimana yang mereka katakan dan pertanyaan-pertanyaan inilah yang seyogyanya bagi seorang pelajar yang disela-selanya pelajar dapat dibedakan dan dari situlah lulus atau tidaknya kalau seandainya itu adalah Jâmi’ah yang murni, dan jauh dari para hizbiyyah dan selainnya, namun tatkala kondisi ini berbeda dengan  apa yang telah disebutkan dan saudara kami doktor yang mengetesku termasuk salah satu hizbiyyin yang berada padanya, ia tidak menganggap seluruh jawaban-jawabanku yang tepat dan benar, bahkan ia melemparkannya ke dinding (tidak peduli), dan menyodorkan pertanyaan yang cocok menurutnya dan dimulai dengan pembukaannya, dan disela-sela pertanyaan yang teranggap di sisinya (inilah) yang dengannya dapat dibedakan pelajar (yang satu dengan yang lainnya).

Padahal sebelumnya setelah jawabanku dari 6 soal, doktor memperlihatkan kegembiraan di wajahnya, dan menyambutku dengan keramahan di mana saya dapat mengetahui dengannya bahwa saya telah berhasil meraih peringkat pertama pada ujian tes tahun itu, namun dia menyodorkan kepadaku 3 pertanyaannya yang dari sela-selanya ia dapat mengetahui arah jalanku bersama mereka atau tidak, kemudian ia berkata “majalah apa yang terakhir engkau baca?” dan dari nasibku  yang baik –walillahilhamd– saya membaca majalah salafiyyah seri ke-7 tahun 1422 maka aku menjawab “majalah salafiyyah“, kemudian ia berkata “apa isinya?” aku jawab “terdapat padanya penjelasan mengenai hal sebagian ahlul batil seperti Sayyid Quthub dan Hasan Al-Banna dari fatwa-fatwa Al Albani dan Ibnu Baaz –-rohimahumalloh- dan pengingkaran kepada sebagian pemikiran-pemikiran yang menyimpang, seperti pemikiran hizbi, tulisan Al Muhaddits Asy Syaikh Ahmad An Najmi -hafidzohulloh- dan selain beliau, maka doktor mulai berubah sikapnya denganku kemudian mengatakan: apa pendapatmu mengenai jama’ah-jama’ah islamiyyah? Aku katakan: apakah yang engkau meksudkan jama’ah-jama’ah yang aku saksikan di negriku? Ia berkata: “iya.” lalu aku katakan; demi Alloh di negri kami terdapat jama’ah Ikhwanul muslimin, syi’ah, jama’atut Tablig, sufiyyah wal ‘iyadzu billah, dan di negri kami (juga) terdapat da’wah salafiyyah walhamdulillah. Kemudian ia bertanya: jama’ah mana yang kamu anggap berada di atas al haq? Aku katakan: sebelum aku menjawab anda, mari kita jadikan timbangannya kitab dan sunnah, ia berkata: thoyyib (baik) aku katakan: Demi Alloh aku tidak mengetahui jama’ah yang landasannya al kitab dan sunnah dan rujukannya kepada kitab dan sunnah melainkan da’wah salafiyyah.

Kemudian ia menyodorkan kepadaku pertanyaan ketiga yang menjadi batasan pemisah (lulus tidaknya) dia berkata: bagaimana menurutmu dengan Syaikh Az Zindani?, lalu akupun tersenyum di hadapannya dalam keadaan merasa heran dari pertanyaan ini! Maka aku menjawab: Demi Alloh orang ini memiliki sebagian kesalahan dan ketergelinciran.

Maka doktor membentakku!! Dan berburuk adab denganku, seolah-olah jawaban ini adalah ruqyah syar’iyyah yang aku baca kepada orang yang kerasukan, lalu doktor bangkit, dan loncat dari kursinya sambil mengarahkan tangannya kepadaku seraya mengatakan ha!! ha!! Apa engkau mencela ulama, engkau menjarh ulama ummat!! Lalu aku tersenyum di hadapannya dengan mata bijak,-walillahil hamdu wal minnah– karena al haq memiliki ketentraman dalam qolbu dan kekokohan pada lisan, dan kukatakan wahai doktor yang terhormat! Apabila orang ini yang engkau kabarkan kepadaku bahwasanya dia termasuk dari ulama tidak menutup kemungkinan ia terjerumus pada kesalahan dan ketergelinciran, karena sesungguhnya ‘ishmah (keterjagaan dari kesalahan) bukan milik/bagi ulama hanya saja keterjagaan dari kesalahan bagi para nabi.

Kedua: ucapan ini bukan dariku, aku (hanyalah) penuntut ilmu, ini ucapan Syaikh Muqbil, syaikh fulan, dan fulan lalu aku menyebutkan beberapa ulama sunnah, kemudian aku hendak menjelaskan beberapa kesalahan saudara kami Az Zindani yang menyangkut sisi tauhid dan aqidah, cuma doktor membentakku dengan keras seraya ia mengatakan: cukup! Cukup!!, dengan mengisyaratkan usiran dengan tangannya ke arah pintu seraya mengatakan: tafadhdhol tafadhdhol (silahkan silahkan). Maka akupun berdiri dengan senang hati –walillahil hamd– merasa mulia dengan aqidah dan manhajku yang membuat putih wajah, dan menegakkan kepala;

﴿أَفَمَنْ يَمْشِي مُكِبًّا عَلَى وَجْهِهِ أَهْدَى أَمْ مَنْ يَمْشِي سَوِيًّا عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيم﴾ [الملك/22]

“Apakah orang yang berjalan terjungkel (dengan tersungkur) di atas mukanya lebih mendapat hidayah atau siapa yang berjalan tegak di atas jalan yang lurus?”

            Kemudian ia menyusulku ke pintu seraya  mengatakan: haa haa Az Zindani termasuk dari ulama ikhwan? Aku katakan: iya, lalu ia diam dan berjalan, setelah aku melihatnya mencoret kolom (nilai) jawabanku yang benar, kemudian aku berupaya untuk keluar dari ruang test ini, supaya aku bisa memberi tahu saudara-saudaraku salafiyyin mengenai Jâmi’ah yang telah berubah dan berganti setelah pendirinya Al Walid Al Hanun Al Imam ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz –’alaihi rohmatulloh- dan siapa yang berjalan setelahnya atas itu, wal hamdulillahi Rabbil ‘Alamin, dan Alloh tahu di belakang niat, dan Dia maha menyaksikan atas segala sesuatu. Selesai.

Aku katakan: dan betapa banyak kejadian pada selain orang yang disebutkan dari salafiyyin semisalnya, yang kalau engkau mengumpulkan ucapan-ucapan mereka pada hal itu niscaya akan dapat (terkumpul) satu juz tersendiri.

Dan Al Akh ‘Abdul Bâsith As Sûfi Al Jazâiri berkata:

Alhamdulillah Robbil ‘Alamin wa ba’du: Maka aku bersaksi bahwasanya ketika aku hendak masuk ke Jâmi’ah Islamiyyah tahun 1423, maka aku ingin meminta syafaat kepada Doktor Abdulloh Al Mithrofi –pengajar bidang hadits di Jâmi’ah- karena ia dulu adalah kepala panitia khusus di Afrika untuk penerimaan pelajar, kemudian ia menjelaskan, maka iapun berkata kepadaku: sekarang panitianya semuanya hizbi, kecuali satu orang yang tidak ta’asshub (fanatik), namun dia termasuk dari mereka.

            Dan demikian juga aku mendengar Asy Syaikh Robi’ -hafidzohulloh- di rumahnya di Madinah ketika ia mengunjunginya di bulan Sya’ban 1423, beliau mengatakan: Sesungguhnya di dalam Jâmi’ah Islamiyyah terdapat para pengajar hizbiyyin, tapi Al Manhaj salafiyyah, dan menasehatkan untuk belajar padanya dan mengatakan: Ambillah manhajnya dan berhati-hatilah dari hizbiyyin. Selesai.

            Dan Al Akh ‘Adil As Siyagi berkata: Alhamdulillah Robbil ‘Alamin wa Ba’du: Sebagian Saudara-saudara kami para pelajar mengundang kami ke Jâmi’ah Islamiyyah, dan ke asrama khusus mereka, dan dalam kunjunganku ke Al Jamiah aku kepingin mengetahui syarat-syarat penerimaannya, sedang aku tidak ragu lagi bahwasanya (mereka) memerangi para penuntut ilmu, terutama yang datang dari Darul Hadits Dammaj, tapi aku bisikkan dalam hatiku bukanlah kabar seperti orang yang lihat (langsung), maka akupun menanyakan letak panitia pendaftaran, ketika aku masuk ke dalam ruang tunggu aku bertemu dengan seorang pemuda dari Yaman, ia membawa beberapa kertas dan tazkiyyah (rekomendasi), maka aku bertanya kepadanya mengenai syarat-syarat mereka, iapun menjawab: yang paling penting adalah tazkiyyah dari para ulama yang masyhur di sisi mereka, lalu aku tanya seperti siapa? Ia menjawab: seperti ‘Abdul Majid Az Zindani –yang merupakan pemimpin Ikwanul Muslimin di Yaman- dan Abil hasan Al Mishri, kukatakan padanya (bagaimana) jika tazkiyyah yang engkau bawa (adalah tazkiyyah) dari Syaikh Muqbil : atau Syaikh Muhammad bin Abdillah Al Imam, dia menjawab: mereka akan mengambil lembaran-lembaranmu dan mengatakan kami akan menelponmu, namun kapan? Allohu ya’lam, bahkan terkadang mereka menolakmu waktu itu juga, apabila kamu ingin cepat diterima, datangkanlah tazkiyyah dari salah satu (ulama) Ikwanul Muslimin yang masyhur bagi mereka. Selesai.

            Saya tidak mengira Syaikh Ubaid akan mengingkari semua ini, yang membuktikan kebenaran ucapan kebanyakan dari salafiyyin bahwa Al Jâmi’ah Islamiyyah -waffaqohalloh- kebanyakan isinya adalah jenis-jenis ini  dan siapa yang loyalitas kepada mereka. Dan tidak diragukan lagi bahwa para hizbiyyin tidak akan tenang sampai mereka bisa berkuasa di dalam istana yang agung seperti ini dan telah mereka lakukan, dan bukan seperti yang diisyaratkan oleh Syaikh Ubaid –waffaqohulloh- pada akhir-akhir “Taqrirotil Ilmiyyah” bahwa keberadaan mereka padanya kurang atau jarang.

            Seandainya kita dan beliau sepakat sebagaimana yang beliau isyaratkan dalam ucapannya ini dan selainnya akan tetapnya keberadaan hizbiyyah di Al Jam’iyyah, bahkan keberadaan orang yang memasukkan (menyelundupkan) Asya’iroh ke dalam ahlus sunnah dan membela mereka dari fikroh-fikroh yang sesat; sebagaimana dalam risalah “Ta’akid Al Muslimaat As Salafiyyah fii Naqdhil Fatawa Al Jama’iyyah bi anna Al Asya’iroh minal Firqotil Mardhiyyah” oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ar Royyis, dengan taqdim dan muroja’ah empat orang yang mulia di antaranya Asy Syaikh Ubaid -hafidzollohul Jami’- dan di antara orang-orang yang disebutkan pada risalah tersebut adalah doktor Abdul Aziz bin Abdil Fattah Al Qori mantan dekan fakultas Al Qur’an di Jâmi’ah Islamiyyah, dan Fadhilatul Walid Al ‘Allamah Robi’ bin Hadi Al Madkholi -hafidzohulloh- telah membantahnya pada sebuah rilalah yang bertema: (Baroatush Shohabatil Akhyar minat Tabarruk bil Amakini wal Aatsar) dialog dengan doktor Abdul Aziz bin Abdil Fattah Al Qori, dan beliau membuktikan tasawwuf orang tersebut, dan berkata di hal: 104 diantaranya aku katakan: ini adalah uslub (metode) shufi, beliau menafikan dengannya perasaan-perasaan (belas kasihan) Shufiyyah, dan juga menguatkan bukti tasawwufnya pada kitab beliau “Zaif At Tasawwuf” dialog dengan Doktor Al Qori dan para pembelanya.

            Dan ini surat Saudara kita Syaikh Al Fadhil Muhammad bin Hadi Al Madkholi salah seorang pengajar di Jâmi’ah Islamiyyah yang dibawa oleh saudara kita Asy Syaikh Hasan bin Qosim Ar Roimi -hafidzohulloh- kepada Syaikhina Muqbil bin Hadi Al Wadi’i :.

Berkata Al Akh Hasan pada risalahnya yang beliau membahas padanya beberapa kalam Syaikh Ubaid mengenai Jâmi’ah Islamiyyah: dan dia tegaskan dengan kesaksian salah seorang lulusan Jâmi’ah Islamiyyah: bahwasanya mayoritas dan (yang memegang) kendali/kekuasaan Jâmi’ah Islâmiyyah adalah hizbiyyin, dan ini yang ia nukil dari fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Hadi bahwasanya beliau mengatakan kepadanya: “Beritahu Syaikh Muqbil bahwasanya Jâmi’ah Islamiyyah tidak berada di tangan salafiyyin.”

Dan Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Abdillah Al Imam -hafidzohulloh- berkata: Al Jâmi’ah telah melalui dua marhalah (tingkatan): tingkatan pertama: didirikan dan dibawa di atas manhaj salafi yang murni, dan berjalan di atasnya beberapa lama, kemudian para hizbiyyin berhasil menguasai beberapa bagian/bidang di Jâmi’ah, maka jadilah marhalah ini berbeda dengan marhalah yang pertama dari sisi kemurnian dan kejernihan atau tidaknya.

Maka diletakkan di mana perkataan yang dikuatkan oleh bukti-bukti ini yang diisyaratkan sebelumnya, dari pembelaan Syaikh Ubaid terhadap Jâmi’ah sekarang, yang mengandung pembelaan terhadap siapa yang berada padanya dari para pelajar dan pengajar dan selain mereka dari para hizbiyyin bahwasanya mereka adalah salafiyyun kecuali sedikit. Sebagaimana pada perkataannya di “At Taqrirot”: Orang-orang yang berakal bersepakat bahwasanya tidak boleh keluar dalam menghukumi dari asal kepada apa yang syadz (menyendiri/nyeleneh) dan nadar (jarang).

            Aku katakan: Wahai Syaikh Ubaid –hafidzokalloh- kesepakatan yang dinukil ini terjadi menurut apa yang telah lewat penjelasannya, hujjah bagi saudara-saudaramu dan anak-anakmu salafiyyin telah membuktikan bahwa mayoritas dan kendali di Jâmi’ah –Waffaqollohu ahlaha- ditangan hizbiyyin bukan ditangan mereka.

            Paling tidak dikatakan: Apabila engkau mengatakan bahwasanya mayoritas yang ada padanya adalah ahlus sunnah, dan bahwasanya keberadaan hizbiyyin padanya jarang, maka saya dan banyak selain saya mengatakan: bahwasanya terdapat padanya ahlus sunnah dari ulama dan thullab, dan hal ini tidak bisa dibuang dari ucapan kami yang dulu dan sekarang, oleh karena itu kami tidak memberi rekomendasi untuk masuk kepadanya karena kawatir terhadap saudara-saudara kami salafiyyin para penuntut ilmu kalau nanti kembali menjadi lawan/musuh da’wah salafiyyah dan pengembannya, disebabkan terpengaruhnya mereka dengan mereka, sebagaimana yang ma’ruf di sisi kalian sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam:

((الرجل على دين خليله، فلينظر أحدكم من يخالل))

            “Seseorang itu berdasarkan agama teman dekatnya maka hendaknya salah seorang kalian melihat siapa yang menjadi teman dekatnya.” Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi dari hadits Abu Huroiroh rodhiallohu ‘anhu dan ini hadits hasan, dan sabdanya: 

 (مثل الجليس الصالح وجليس السوء كحامل المسك، ونافخ الكير..) الحديث

“permisalan teman duduk yang sholeh dan teman duduk yang jelek bagaikan penjual/pembawa minyak wangi, dan tukang besi…”Al Hadits muttafaqun ‘alaihi dari hadits Abi Musa rodhiallohu ‘anhu.

            Kecuali siapa yang berteman dengan salafiyyin dan menjauh dari hizbiyyin bukankah ini adalah sebenar-benarnya nasehat? Lantas penyerangan apa atau manakah pengkaburan, tipuan, ijmalaat, fatwa yang menyimpang dan selainnya dari timbangan pada ucapan ini?? Bukankah ini merupakan serangan dan cacian pada permasalahan-permasalahan ijtihadiyyah yang engkau tuduhkan kepadaku sebagaimana di akhir kritikanmu?!.

            Jadi saya kira ini cukup bahwasanya tidak bisa setelah lewat apa yang telah disebutkan untuk memenuhi tuntutan Syaikh Ubaid -waffaqohulloh- kepada kami agar merujuk kepada ucapan beliau bahwa mayoritas pada Jâmi’ah adalah salafiyyin, kecuali setelah memeriksa lagi apa yang diperselisihkan, manakah di antara keduanya yang mengambil hukum mayoritas di dalamnya dewasa ini?

            Disamping apa yang telah diketahui pada Jâmi’ah kerajaan Su’udiyyah –waffaqohalloh- dari kebaikan, disebabkan apa yang terdapat di Mamlakah dari kebaikan manhaj yang ditetapkan, juga tidak tepat menuntut pujian kepadanya secara mutlak, sedang dia berada dalam keadaan yang telah lewat penjelasannya dari keberadaan golongan-golongan ini padanya, dan hanya saja yang dipuji adalah pembawa bendera sunnah dan diisyaratkan kepada orang yang hendak belajar di Jâmi’ah Al Madinah untuk duduk dan istifadah dari mereka, seperti ulama yang memiliki keutamaan seperti Asy Syaikh Al Walid ‘Abdul Muhsin ‘Abbad, dan seperti anda, seperti Syaikh Muhammad bin Hadi, Syaikh Sholeh As Suhaimi, dan hendaknya ia memiliki hubungan dengan Fadhilatusy Syaikh Al Walid Robi’ bin Hadi Al Madkholi di Makkah, dan semisal mereka, dan yang mengikuti jejak salafi ini di manapun mereka berada -hafidzohumulloh-. Ibnul Qoyyim : bekata di “I’lamul Muwaqqi’in” (4/207):

دَلَالَةِ الْعَالِمِ لِلْمُسْتَفْتِي عَلَى غَيْرِهِ ، وَهُوَ مَوْضِعُ خَطَرٍ جِدًّا ، فَلْيَنْظُرْ الرَّجُلُ مَا يَحْدُثُ مِنْ ذَلِكَ فَإِنَّهُ مُتَسَبِّبٌ بِدَلَالَتِهِ إمَّا إلَى الْكَذِبِ عَلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فِي أَحْكَامِهِ أَوْ الْقَوْلِ عَلَيْهِ بِلَا عِلْمٍ ، فَهُوَ مُعِينٌ عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَإِمَّا مُعِينٌ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى ، فَلْيَنْظُرْ الْإِنْسَانُ إلَى مَنْ يَدُلُّ عَلَيْهِ ، وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ.اهـ.

“Pengarahan seorang alim kepada yang meminta fatwa kepada selainnya, adalah permasalahan yang sangat berbahaya, maka hendaknya seseorang memperhatikan apa yang akan terjadi dari itu, karena sesungguhnya ia akan menjadi sebab dengan pengarahannya itu, bisa jadi kepada kedustaan atas nama Alloh dan RosulNya dalam hukum-hukumNya atau berbicara atas namaNya tanpa ilmu, maka bisa jadi dia menolong di atas dosa dan permusuhan dan bisa jadi dia menolong di atas kebaikan dan ketakwaan, maka hendaknya seseorang memperhatikan kepada siapa dia mengarahkan kepadanya, dan hendaknya ia bertakwa kepada Robbnya. Selesai.

            Syaikhul Islam Abdulloh bin Mubarok : melantunkan:

أيها الطالب علمًا***إيت حماد بن زيد

فخذ العلم بحلم***ثم قيده بقيد

ودع البدعة من***آثار عمرو بن عبيد

Wahai sekalian penuntut ilmu***  datangilah Hammad bin Zaid

Lalu timbalah ilmu dengan santun *** kemudian ikatlah dengan kuat

Dan tinggalkanlah bid’ah *** dari atsar ‘Amr bin Ubaid

            Dan tidak lupa aku ingatkan ucapan saudara kami yang terfitnah pada masa terakhir ini dengan rasa prihatin Abdurrohman Al Adeni –hadahulloh- yang terekam dengan suaranya pada tanggal (23/Rojab/1426) tentang Jâmi’ah Islâmiyyah bahwasanya dia telah berubah, dan yang memegang kendalinya adalah Hizbiyyun, ia berkata –hadahulloh-:

((حقيقة الجامعة الإسلامية كانت قبل من الصروح العلمية الشامخة في الدنيا وفي العالم أنتجت وأخرجت العلماء، لكن في الآونة الأخيرة تسلط عليها كثير من الحزبيين من مدراء ومدرسين ودكاترة، والإنسان لا يأمن على نفسه أن يحظر محاضرة لحزبي، أو يحضر دورة صيفية يشارك فيها جماعة من المدرسين الحزبيين، فكيف بدراسة تستمر على أقل تقدير أربع سنوات، وهذا الدكتور حزبي وهذا سروري وهذا قطبي، وهذا عنده ميل إلى التصوف فحقيقة ما يأمن الإنسان على نفسه، أنت يا أخي لو أعلنت بدورة صيفية في مدينتك يحضر فيها علماء من علماء السنة، ويحضر فيها من أهل البدع، وقد يكون منهم من هو عالم فماذا ستتختار؟ مع أنك تعلم أن هؤلاء العلماء الذي حضروا لهم دروس خاصة في مساجدهم ما أظنك تعدل عن ترك الحضور في هذه الدورة صيانة لدينك، وحفاظًا على منهجك، وتذهب إلى هؤلاء العلماء إلى مساجدهم وأماكنهم.

وهكذا الجامعة الإسلامية يسلم فيها من يسلم، ويسقط فيها من يسقط، بسبب وجود المدرسين، يا أخي أربع سنوات وهذا مدرس دكتور وأنت طالب يعطيك ما يعطيك، فالذي ننصح به الإخوة هو عدم الذهاب إلى هنالك، من أراد العلم فعليه أن يذهب إلى العلماء في المملكة في اليمن، في غير ذلك، أما أن يمشي إلى الجامعة لأجل الشهادة فما ستستفيد، الإخوة الذين يلتحقون بالجامعات خاصة في هذه السنوات الأخيرة ما رأينا فيهم من يوفق؛ لأنه يبقى سنوات عديدة في الجامعة ويتخرج بشهادة، هل تظنون بعد التخرج سيأتي مثلاً إلى دماج، أو مستعد أن يتولى إمامة مسجد في حارة من الحارات، في مدينة من المدن في قرية من القرى أو سيحاول يبحث عن وضيفة بهذه الشهادة التي أخرجها؟ الجواب: وهذا الذي نلاحظه ونشاهده أنه سيسعى جادًا في إيجاد وظيفة…)) الخ كلامه.

(Pada hakikatnya Jâmi’ah Islamiyyah dulunya termasuk dari istana ilmiyyah yang mulia di dunia, ia menghasilkan dan melahirkan para Ulama, namun pada masa terakhir ini kebanyakan hizbiyyin telah berhasil menguasainya lewat para pengurus, pengajar, dan doktor-doktor, dan seseorang (hendaknya-pent) tidak merasa aman untuk menghadiri muhadhoroh seorang hizbi, atau menghadiri dauroh musim panas yang ikut dipartisipasikan oleh sekelompok dari para pengajar hizbi, maka bagaimana dengan duduk belajar terus menerus yang paling minimnya berlangsung selama empat tahun, ini doktor hizbi, dan ini sururi, dan ini Qutbi, dan ini memiliki loyalitas (condong) kepada orang-orang shufi maka pada hakikatnya seseorang tidak merasa aman dengan dirinya, anda wahai saudaraku kalau seandainya diumumkan di kotamu dauroh musim panas yang diisi oleh ulama dari ulama sunnah, dan diisi oleh ahlul bida’, terkadang di antara mereka ada yang lebih alim (berilmu) maka apa yang akan engkau pilih? Padahal kamu mengetahui bahwa mereka para ulama yang menghadiri durus mereka di mesjid-mesjid mereka, aku tidak mengira engkau tidak meninggalkan untuk hadir dauroh musim panas ini sebagai bentuk penjagaan terhadap agamamu, dan pemeliharaan terhadap manhajmu, kemudian engkau pergi kepada mereka para ulama ke mesjid-mesjid dan tempat-tempat mereka (ahlul bida’-pent).

            Dan demikian juga Jâmi’ah Islamiyyah selamat padanya yang selamat, dan jatuh yang jatuh, dikarenakan adanya para pengajar (hizbi-pent), wahai akhi empat tahun dan ini pengajar doktor sedang kamu (cuma) pelajar ia memasukkan kepadamu apa (saja) yang ia (mau) masukkan, maka yang kami nasehatkan dengannya kepada ikhwah adalah tidak pergi ke sana (Jâmi’ah Islamiyyah -pent), barangsiapa yang menginginkan ilmu maka hendaknya ia pergi ke Mamlakah di Yaman, atau selainnya, adapun pergi ke Jâmi’ah (Islamiyyah -pent) demi menperoleh ijazah apa yang akan engkau dapatkan, ikhwah yang belajar di Jâmi’ah terutama pada tahun-tahun terakhir ini kami tidak melihat di antara mereka yang diberi taufiq. Karena dia tinggal beberapa tahun di Jaami’ah lalu lulus dengan ijazah, apakah kalian mengira setelah lulus ia akan datang misalnya ke Dammaj, atau siap untuk menjadi Imam mesjid di salah satu pemukiman/kampung, di salah satu kota di salah satu desa atau dia akan berusaha mencari pekerjaan dengan ijazah ini yang ia telah peroleh? Jawabannya: dan inilah yang kami perhatikan dan saksikan bahwasanya ia akan berupaya keras untuk mendapatkan pekerjaan…) sampai akhir kalamnya

            Maka mengharuskanmu (wahai Syaikh Ubaid) untuk memperlakukannya dan selainnya dari orang-orang yang mengatakan hal itu dari celaan-celaan yang engkau sebutkan sebagaimana yang engkau lakukan kepadaku. Dan kami mengharap padamu wahai Fadhilatusy Syaikh –Waffaqokalloh- supaya kamu tidak menyimpang dari itu sebagaimana telah menyimpang musuh kami Bisr Al Murisi, ini kalau bukan yang menjadi target dari menggejolakkan pembelaan terhadap Jâmi’ah Islamiyyah sekarang adalah sebagai batu loncatan untuk melindungi Abdurrohman dan pengikutnya, sebagaimana yang tersebar di sini, di mana Abdurrohman –hadahulloh- (sendiri) telah mengatakan dengan terang-terangan sebagaimana selainnya, akan perubahan Jâmi’ah dari apa yang dulu ia padanya, dan ini berbeda dengan apa yang engkau tetapkan pada apa yang engkau namai dengan “An Naqdish Shohih”, bahwasanya Jâmi’ah Islamiyyah adalah Jâmi’ah salafiyyah sampai hari ini, sedang dia (Abdurrohman) menetapkan (memastikan) perubahannya bahwasanya dia telah dikuasai oleh hizbiyyin pada masa terakhir.

            Fadhilatusy Syaikh Ubaid –Waffakohulloh- berkata: ketiga: Dan dari yang tertera pada ucapan Asy Sayikh Al Hajuri tuduhannya kepadaku bahwa aku duduk dengan orang-orang jelek dan bahwasanya mereka mentalbis (mengkaburkan) kepadaku sehingga aku katakan apa yang telah kukatakan pada kritikanku terhadap lima ibarah/ucapannya.

Dan jawabannya dari beberapa sisi:

Sisi pertama: Telah meriwayatkan Al Imam Al Bukhory dalam Shohihnya No (7198) dari hadits Abi Sa’id Al Khudry dan Abi Huroiroh rodhiallohu ‘anhu bahwasanya Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(مَا بَعَثَ اللَّهُ مِنْ نَبِىٍّ وَلاَ اسْتَخْلَفَ مِنْ خَلِيفَةٍ، إِلاَّ كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ، بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ، وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالشَّرِّ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ، فَالْمَعْصُومُ مَنْ عَصَمَ اللَّهُ تَعَالَى).

            “Tidaklah Alloh mengutus seorang Nabi dan menjadikan kholifah sebagai seorang kholifah kecuali menjadikan baginya dua teman dekat, teman dekat yang menyerunya untuk berbuat yang ma’ruf dan menyemangatinya (memberinya sugesti) untuk itu, dan teman dekat yang menyuruhnya untuk berbuat kejelekan serta menyemangatinya untuk itu, dan yang ma’shum (terjaga) siapa yang Alloh Ta’ala jaga.

            Dan telah shohih di sisi Abi Daud No (2932) dan selainnya dari hadits ‘Aisyah rodhiallohu ‘anha  berkata: Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِالأَمِيرِ خَيْرًا جَعَلَ لَهُ وَزِيرَ صِدْقٍ إِنْ نَسِىَ ذَكَّرَهُ وَإِنْ ذَكَرَ أَعَانَهُ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهِ غَيْرَ ذَلِكَ جَعَلَ لَهُ وَزِيرَ سُوءٍ إِنْ نَسِىَ لَمْ يُذَكِّرْهُ وَإِنْ ذَكَرَ لَمْ يُعِنْهُ).

            “Apabila Alloh menghendaki bagi pemimpin kebaikan, Ia akan jadikan baginya mentri yang jujur, jika dia lupa ia mengingatkannya, jika dia mengingatnya ia membantunya, dan apabila Alloh menghendaki padanya selain itu, Ia akan jadikan baginya mentri yang jelek, jika dia lupa ia tidak mengingatkannya, dan jika dia mengingatnya ia tidak membantunya.”

            Berdasarkan ini maka kita tidak (terjamin) aman, juga tidak terjamin aman orang yang lebih mulia dari pada kita dari teman duduk dan teman dekat yang jelek, sama saja dari jenis orang yang telah aku sebutkan atau selain mereka, akan tetapi yang terjaga/terjamin (ma’shum) adalah siapa yang Alloh jamin/jaga sebagaimana pada hadits, maka kami mohon kepada Alloh semoga menyelamatkan kami dan kalian dari kejelekan mereka.

            Sisi kedua: Meskipun mereka telah menampakkan di depanmu tingkah laku yang baik maka sungguh mereka telah menampakkan tingkah laku yang buruk bagi kami, dan da’wah salafiyyah yang agung/besar di sini.

            Sisi ketiga: Apakah merupakan akhlak yang baik mengadu domba antar ulama?!! Dan hal ini terbukti dari mereka, berpindah-pindah dan menelpon dari satu tempat ke tempat lain dari Masyayikh sunnah di Yaman dan selainnya, sampai hampir-hampir mereka membuat fitnah di antara kami di Yaman. Namun Alloh menyelamatkan sesungguhnya Alloh Alim (Maha mengetahui) isi hati.

            Sisi keempat: Sungguh demi Alloh aku menghormati engkau akan terjadi darimu penghapusan dan pemotongan itu yang telah aku sebutkan barusan mengenai perkataan yang menetapkan adanya para salafiyyin di Jâmi’ah, dan meninggalkan perkataan yang di dalamnya menunjukkan bahwasanya Jâmi’ah islamiyyah hizbiyyah tanpa pengecualian sama sekali yang mengakibatkan perkataan datang dalam bentuk yang aku dan selainku terheran-heran terhadap kalam itu. Dan tidak menutup kemungkinan ulah ini dilakukan oleh mereka para julasa’ sholeh (teman-teman dudukmu yang sholeh)! –hadahumulloh-.

            Adapun perkataan anda: bahwasanya mereka telah mendapat tazkiyyah (rekomendasi) di sisiku dan di sisi selainku dari ahlus sunnah di Madinah dan selainnya.

Maka perkataan ini tidak aku ingkari, bahkan saya sendiri termasuk dari mereka yang merekomendasi mereka sebagaimana pada kitabku: “Ath Thobaqoot lima Hashola ba’da Maut Syaikhinâ Al Imam Al Wâdi’i :fid Da’wah As Salafiyyah minal Halât“, dan pada selainnya. Tatkala mereka terfitnah maka kamipun menerangkan fitnah mereka terhadap da’wah salafiyyah di sini dengan beberapa kaset dan malzamah (artikel), dan beribu-ribu para da’i dan thullab serta orang-orang awam ahlus sunnah di sini telah memahami fitnah mereka yang kami belum pernah melihat semisalnya kecuali pada fitnah Abil Hasan Al Mishri.

Dan termasuk dari usul yang shohih di sisi kami ahlis sunnah bahwasanya jarh yang terperinci lebih dikedepankan dari pada ta’dil (rekomendasi) yang bersifat global, karena yang menjarh berpindah dari asal, maka dia memiliki tambahan ilmu pada hal itu, sedang yang merekomendasi tetap pada asal yang semula.

            Kita tidak perlu mengulangi lagi apa yang dulu sama-sama kita membantah Abul Hasan pada pemasalahan ini dari menukilkan dari kitab-kitab hadits, dan pada kitab anda “Al Haddul Fashil baina Mu’amalati Ahlus Sunnah wa Ahlul Bathil” terdapat ungkapan yang bagus semoga Alloh membalas anda (dengan kebaikan) pada kalam tersebut, anda mengatakan sebagai jawaban atas pertanyaan yang kesepuluh:

هذه قاعدة الجرح والتعديل، وملخصها: أن من علم حجة على من لم يعلم، فإذا حذر عالم من رجل وأقام عليه الدليل؛ بأنه من أهل الأهواء أو من الجهال الذين لا يستحقون الصدارة في العلم والتعليم وكان هذا العلم معروفًا بين الناس بالسنة والاستقامة عليها، وتقوى الله سبحانه فإنا نقبل كلامه، ونحذر من حذرنا منه، وإن خالفه مئات، ما دام أنه أقام الدليل، وأقام البينة على ما قاله في ذلكم المحذر منه فهذا وسعنا، بل هو فرضنا، والواجب علينا، وإلا ضاعت السنة، فإن كثير من أهل الأهواء يخفى أمرهم على جمهرة من أهل العلم، ولا يتمكنون من كشف عوارهم، وهتك أستارهم، لأسباب منها:

البطانة السيئة التي تحول بين هذا العالم الجليل السني القوي، وبين وصول ما يهتك به ستر ذلك اللعاب الماكر الغشاش الدساس -البطانة السيئة- حال لا يمكن أن يصل إليه شيء حتى أنها تحول بينه وبين إخوانه الذين يحبهم في الله، فلا يستطيع أن يقرأ كل شيء.

ومنها: أن يكون بعيدًا عن هذه الساحة، يكون هذ الشخص مثلاً في مصر أو الشام، أو المغرب، أو مثلاً اليمن، وهذا العالم الذي في السعودية لا يدري عما يجري في تلك الساحة، ما أبلغه ثقة بما يجري في تلك الساحة والساحات فهو جاهل بحاله.

ومنها: أن يكون هذا العالم الذي نمى إلى علمه، وتعلق فكره أن ذلك الرجل ثقة عنده، فما استطاع أن يصل إلى ما كشفه غيره من أهل العلم؛ للأسباب المتقدمة، وغيرها، لكن نمى إلى علمه سابقًا أنه صاحب سنة، وأنه يدعوا إلى الله، وكان أمامه يظهر السنة، وحب أهل السنة، والدعوة إلى السنة، ويذكر قصصًا من حياته ومصارعته للأفكار الفاسدة، والمناهج الكاسدة، ويأتي له بكتب سليمة، وما درى عن دسائسه، فإذًا ماذا نصنع؟ نعمل على كلام ذلك العالم الذي أقام الدليل، وأقام البينة التي توجب الحذر من ذلك الرجل من كتبه، ومن أشرطته، ومن شخصه، وأما ذلك العالم الجليل فهو على مكانته عندنا، لا نجرحه، ولا نحط من قدره، ولا تقلل من شأنه بل تعتذر له، تقول ما علم، لو علم ما علمنا لكان عليه مثلنا أو أشد منا. والله أعلم انتهى.

“Inilah kaidah Jarh wat Ta’dil, dan intisarinya: barangsiapa yang tahu (memiliki ilmu tentang suatu hal) hujjah atas siapa yang tidak tahu (perihal tersebut), maka jika seorang alim telah mentahdzir (mengingatkan ummat untuk menjauh) dari seseorang dan membuktikan penyimpangannya dengan bukti-bukti yang menunjukkan bahwasanya orang itu termasuk dari ahlul ahwa atau dari orang-orang bodoh yang tidak patut untuk tampil dengan berpenampilan ilmu dan mengajar manusia, sedang alim tersebut dikenal oleh manusia dengan sunnah dan istiqomahnya di atas sunnah, serta ketakwaannya kepada Alloh  سبحانه وتعالىmaka sesungguhnya kita menerima perkataannya, dan menjauhi siapa yang ia peringatkan darinya, walaupun yang menyelisihinya beratus-ratus orang selama dia memiliki bukti dan penjelasan terhadap orang yang dia tahdzir itu, dan inilah yang bisa kami lakukan, bahkan inilah yang wajib dan harus bagi kita, kalau tidak sunnah akan tersia-siakan (rusak), karena kebanyakan dari ahlul ahwa tidak diketahui halnya oleh kebanyakan dari ahlul ilmi, dan tidak bisa membongkar kesalahan-kesalahan, dan menyingkap topeng-topeng mereka karena beberapa faktor di antaranya:

            Teman dekat/duduk yang jelek yang menghalangi antara seorang alim sunni yang mulia lagi kuat, dengan apa yang mengoyak (membuka) kejelekan sipengacau, pelaku makar, penipu, dan penyusup itu –teman dekat yang jelek- penghalang yang tidak memungkinkan sampai kepadanya perkara itu sampai-sampai ia bisa menghalangi antara dia dengan saudara-saudaranya yang ia cintai karena Alloh, akhirnya ia tidak bisa membaca segala sesuatunya.

            Dan di antaranya: keberadaannya yang jauh dari wilayah ini, orang ini misalnya di Mesir atau Syam, atau Magrib, atau misalnya di Yaman, sedang Alim yang di Su’udiyyah ini tidak mengetahui apa yang terjadi pada wilayah itu, dan tidak ada seorang tsiqohpun (terpercaya) yang mengabarkannya mengenai apa yang terjadi di wilayah itu atau wilayah-wilayah selainnya yang mengakibatkan ia tidak mengetahui prihalnya.

            Di antaranya: Bisa jadi Alim ini bersandar kepada pengetahuannya, dan yang terngiang dalam ingatannya bahwasanya orang ini tsiqoh di sisinya, dan tidak mampu mencapai apa yang telah dibongkar oleh selainnya dari ahlul ilmi; karena sebab-sebab yang telah lewat, dan selainnya, namun ia bersandar kepada apa yang telah ia ketahui sebelumnya bahwasanya orang ini adalah pemegang sunnah dan penyeru kepada Alloh (da’i ilalloh) sedang dia menampakkan di hadapannya (prilaku/penampilan) sunnah, kecintaan  terhadap ahlus sunnah, dan menceritakan kisah-kisah kehidupannya dalam bergulat (berperang) melawan pemikiran-pemikiran yang rusak, dan manhaj-manhaj yang lesu (tidak laku/ramai), dan mendatangkan kepadanya kitab-kitab yang baik, sedang ia tidak mengetahui penyimpangan-penyimpangannya, kalau begitu apa yang kita lakukan? Kita beramal dengan ucapan alim yang mendatangkan bukti-bukti dan penjelasan yang mengharuskan untuk mentahdzir (menjauh/berhati-hati) dari orang tersebut dari kitab-kitab, dan kaset-kasetnya, serta individunya.

            Adapun Alim yang mulia tersebut tetap berada pada derajatnya di sisi kami. Kita tidak menjarhnya (menjatuhkan kredibilitasnya), dan tidak merendahkan kehormatannya, dan jangan engkau mengurangi kedudukannya bahkan hendaknya engkau memberinya udzur, dan mengatakan ia tidak mengetahui hal ini, seandainya ia mengetahui seperti yang kami ketahui niscaya dia akan bersikap kepadanya seperti kita atau lebih keras dari kita. Wallohu A’lam selesai.

Dan tidak lupa aku mengingatkan anda wahai Syaikh bahwasanya kebanyakan orang yang menimbulkan fitan dan keonaran pada da’wah salafiyyah di Yaman, jika aib (kejelekan) mereka telah terbongkar di sisi kami lari tunggang langgang ke Ulama Su’udiyyah, pura-pura bertingkah baik di hadapan mereka, sampai-sampai ada dari ahlus sunnah yang mengatakan: mengapa kalian tidak sejalan dengan Zindani, dan saudara-saudara kalian pemilik jam’iyyah ini dan itu, dan mereka punya udzur pada hal itu, sebagaimana yang engkau sebutkan pada jawabanmu, melainkan pujian-pujian dan husnu dzonn (prasangka baik) mereka terhadap mereka tidak melepaskan mereka dari ulah mereka di sisi orang yang mengetahui ulah mereka itu, bahkan tidak menambah kecuali bashiroh (ilmu yang mendalam/cahaya ilmu) bahwasanya mereka berusaha untuk melariskan fitnah, dan bukan pencari sakinah (ketentraman), dan kembali (taubat/membenah diri) kepada Alloh dari kerusakan yang mereka telah lakukan.

Adapun ucapan anda: Yang ma’ruf dari Syaikh Yahya –hadahulloh- bahwasanya dia membebani (dengan kelaliman)/menyerang siapa saja yang menyelisihinya pada permasalahan-permasalahan ijtihadiyyah dan mencaci maki, memurkai dan mencemoohkan mereka dan ini adalah metode orang yang terhalangi dari sikap bijak, dan hikmah, serta menyelisihi para da’i kebenaran di atas bashiroh.

Ucapan ini kalau aku mau, aku akan membiarkannya sampai hari (kiamat) di mana saya sangat butuh untuk mengambilnya, hasanât (pahala kebaikan), karena ini hanya bersangkutan dengan kehormatan/harga diriku saja, maka aku katakan: semoga Alloh memaafkan kami dan engkau wahai Syaikh ‘Ubaid.

            Dan ini tidak menutup kemungkinan disebabkan penyebutan kejelekan-kejelekanku, yang dinukil kepada engkau dari mereka “teman-teman dudukmu yang sholeh”!–hadahumulloh- sebagian mereka sungguh telah berupaya untuk menyebarkannya di sini melainkan barang dagangan mereka tidak laku Walhamdulillah.

            Dan sungguh bukan cuma satu dari saudara-saudara kami di ma’had telah membantah ucapan-ucapan yang mengada-ada ini, karena tidaklah kabar yang didengar seperti orang yang melihat langsung dengan mata kepala, dan sebagaimana tidak laku di tempat ini, akan tidak laku juga di selainnya Insyâ Allôh.

            Adapun perkataan Anda: Bahwasanya aku menyelisihi para da’i kebenaran di atas bashiroh.

            Maka apa bentuk (kadar)  penyelisihan ini?! Ucapan ini mengandung pembid’ahanku, dan tidak menapikannya ucapanmu sebelumnya: bahwasanya aku menisbatkan diri kepada ahlul hadits, karena orang yang menisbatkan diri kepada sesuatu bisa jadi penisbatannya benar, bisa jadi tidak benar, jika engkau memaksudkan kemungkinan ini –dan aku tidak mengiranya- maka terangkanlah ini apabila itu ma’rûf di sisimu, sehingga aku (bisa) menjawabnya/membantahnya dengan hikmah dan bashiroh Insyâ Allôh.

            Dan apabila engkau memaksudkan bahwasanya aku menyelisihimu atau menyelisihi selainmu dari siapa yang tidak mengetahui apa yang kami telah ketahui dari fitnah mereka “teman-teman duduk sholeh”!! maka telah lewat jawaban dari kaidah-kaidah ulama tentang perihal itu, dan tidak perlu diulangi lagi di sini.

            Dan barangkali engkau menyetujuiku engkau atau selainmu dari pembaca bahwasanya engkau -‘afallohu ‘anka-  dengan ucapan ini telah terjerumus pada apa yang engkau mencelaku dengannya, dari at tahâmul (penyerangan/pembebanan dengan kelaliman) yang engkau nisbahkan kepadaku pada permasalahan-permasalahan ijtihadiyyah, dan pencaci makian, serta kemurkaan, Falhamdulillah, aku telah dicukupkan, dan panah telah kembali (sendiri) kepada yang mencabutnya (senjata makan tuan).    Kami cukupkan dengan ini, aku memohon kepada Alloh yang ‘Adzim (maha agung) supaya menolak dari kami dan kalian segala fitnah yang nampak dan tersembunyi

﴿رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا  [البقرة/286]

            “Wahai Robb kami janganlah Engkau mengadzab kami apabila kami lupa atau salah.”

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

Di tulis oleh:

Yahya bin ‘Ali Al Hajury

(Sabtu, 8 Robi’ul Awwal, 1429)

Selesai

بسم الله الرحمن الرحيم

“Daeng”

إنْكنتَلاتعلمُفتلكمصيبة

وإنْكنتَتعلمفالمصيبةأعظمُ

“Jika engkau tidak mengetahui maka itu adalah musibah

dan jika engkau mengetahui maka musibahnya lebih besar.”

 (Catatan kaki)

14 Lihat nasehat beliau tersebut dalam tulisannya yang berjudul At-Taqrirat Al- ’Ilmiyyah Fidz Dzabbi ‘Anil Jami’atil Islamiyyah. Asy-Syaikh ‘Ubaid dalam nasehatnya itu telah menegakkan hujjah yang menunjukkan keji dan mungkarnya fatwa Asy-Syaikh Yahya tersebut. Bahwa Jâmi’ah Islamiyyah Madinah didirikan oleh Raja Su’ud bin ‘Abdil ‘Aziz : dan mengangkat Al-Imam Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim : sebagai rektornya dan Al-Imam Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz  : sebagai wakil rektor. Yang dipilih jadi dosen-dosen adalah ulama pilihan pada masanya seperti Asy-Syaikh Hammad bin Muhammad A-Anshari :, Asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-’Abbad hafizhahullah dan yang lainnya. Pendiriannya dalam rangka menebar tauhid dan sunnah yang murni di atas manhaj salaf dengan mengajarkan kitab-kitab pilihan yang isinya murni sunnah yang meliputi bidang akidah dan amal, terbebas dari syirik dan bid’ah. Dilengkapi dengan kitab-kitab pilihan dalam bidang akhlak. Adalah syaikhuna Al-Walid Al-Imam Muqbil Al-Wadi’ salah satu lulusan Jâmi’ah Islamiyyah. Demikian pula Al-Walid Imam Ahlil jarh wat ta’dil Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali serta ulama kibar lainnya juga merupakan lulusan Jâmi’ah Islamiyyah.

15 Inilah kedustaan Asy-Syaikh Yahya yang kedua yang dibongkar oleh Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushabi pada nasehatnya kepada muridnya ini. Lihat buku Nasehat & Teguran Guru Yang Arif & Bijak Terhadap Murid Yang Tidak Beradab Dalam Berucap & Bertindak hal (43).

16 Lihat An-Nakdush Shahih Lima Tadhammanahu At-Tanbih As-Sadid Min Mukhalafati Al-Jawab Ash-Sharih.

                Ana katakan: Sesungguhnya orang yang  bijak dan berakal serta memurnikan dirinya untuk mencari dan menerima kebenaran setelah membaca dan memahami dengan baik jawaban Syaikina -ra’âhulloh- di atas kepada Syaikh Ubaid –hadahulloh- akan mengetahui dengan yakin kebatilan ucapan Sarbini ini. Namun tidak mengapa kami bantah sedikit sesuai kemampuan (walahaula wala quwwata illa billah), dan hanya kepada Alloh-lah kita memohon pertolongan, taufiq, dan sadad, sesungguhnya Alloh maha kuasa atas segala sesuatunya.

            Perkataannya: Yang ada adalah nasehat Al-Walid Asy-Syaikh ‘Ubaid kepada Asy-Syaikh Yahya untuk mencabut fatwanya yang keji  dan mungkar. Fatwa bahwa Al-Jâmi’ah Al-Islamiyyah adalah Hizbiyyah bahtah (Hizbiyyah murni),

            Ana katakan: (سبحانك هذا بهتان عظيم)

“Maha suci Engkau Ya Robb kami, ini adalah kedustaan yang besar.”

Wahai Sarbini! Coba baca kembali apa yang kau tuliskan untuk Al Akh Dzakwan hal 55-56:Mana sikap adil engkau dalam bersaksi? Lupakah engkau dengan firman Allah

“Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kalian senantiasa menegakkan (kebenaran) karena Allah

Relakah engkau untuk divonis berdusta atas nama Asy-Syaikh ‘Ubaid?

Bukankah ini cocok untuk kamu wahai Sarbini?

            Perkataannya: Namun dia berkelit untuk menghindar dari topik permasalahan. Caranya dengan mengangkat permasalahan lain bahwa: “Asy-Syaikh ‘Ubaid mengatakan salafiyyun yang…

            Ana katakan: Mana? Tunjukkan hal ini! hai Sarbini!, justru Syaikh Yahya setelah menjelaskan bahwasanya kalamnya yang dinukil tidak lengkap bahkan dipotong penjelasnya

وعلى الأقل يقال: إذا كنت أنت تقول أن الأكثرية فيها لأهل السنة، وأن وجود الحزبيين فيها نادر، وأنا وكثير غيري نقول: أنه يوجد فيها رجال سنة من علماء وطلاب، وهذا لا يستطاع إلغاؤه من قولنا قديمًا وحديثًا…

Paling tidak dikatakan: Apabila engkau mengatakan bahwasanya mayoritas yang ada padanya adalah ahlus sunnah, dan bahwasanya keberadaan hizbiyyin padanya jarang, maka saya dan banyak selain saya mengatakan: bahwasanya terdapat padanya ahlus sunnah dari ulama dan thullab, dan hal ini tidak bisa dibuang dari ucapan kami yang dulu dan sekarang,…” pada kalam beliau ini taqyid “apabila”

            Perkataannya: “Asy-Syaikh ‘Ubaid mengatakan salafiyyun yang mayoritas dan mendominasi Jâmi’ah Islamiyyah, sedangkan dirinya menyatakan sebaliknya bahwa Hizbiyyun yang mayoritas dan mendominasi Jâmi’ah Islamiyyah.” Padahal hal itu tidak ada sama sekali pada ucapan-ucapan Asy-Syaikh ‘Ubaid …

            Ana katakan: Wahai Sarbini! Perhatikan ucapan Syaikh Yahya -ra’âhulloh- berikut ini:

فأين هذا القول الذي تؤيده البراهين المشار إليها قبل، من دفاع فضيلة الشيخ عبيد عن الجامعة الآن، المتضمن الدفاع عمن فيها من طلاب ومدرسيين وغيرهم من الحزبيين أنهم سلفيون إلا النادر، كما في قوله في التقريرات: العقلاء متفقون على أنه لا يسوغ العدول بالحكم عن الأصل إلى ما شذ وندر.

Maka diletakkan di mana perkataan yang dikuatkan oleh bukti-bukti ini yang diisyaratkan sebelumnya, dari pembelaan Syaikh Ubaid terhadap Jâmi’ah sekarang, yang mengandung pembelaan terhadap siapa yang berada padanya dari para pelajar dan pengajar dan selain mereka dari para hizbiyyin bahwasanya mereka adalah salafiyyun kecuali sedikit. Sebagaimana pada perkataannya di “At Taqrirot“: Orang-orang yang berakal bersepakat bahwasanya tidak boleh keluar dalam menghukumi dari asal kepada apa yang syadz (menyendiri/nyeleneh) dan nadar (jarang).”

Syaikh Yahya -ra’âhulloh- mengatakan “mengandung pembelaan terhadap siapa yang berada padanya” kemudian ana Tanya Sarbini apa yang dimaksud Syaikh Ubaid dengan hukum asal di sini, kalau bukan maksud Syaikh Ubaid bahwa asalnya adalah salafiyyah? bahkan judul makalah syaikh Ubaid –hadahulloh- adalah “Taqirotul Ilmiyyah fi Dzabbi ‘An Jami’atil Islamiyyah”: (Penetapan-penetapan Ilmiyyah dalam pembelaan terhadap Jâmi’ah Islamiyyah), siapa yang dibela syaikh Ubaid? Bukankah karena anggapan Syaikh Ubaid bahwa mayoritas yang berada pada Jâmi’ah Islamiyyah adalah Salafiyyin?! Dan dikuatkan dengan tuntutannya kepada Syaikh Yahya untuk taroju’ dari fatwanya dengan ucapannya: “dan kamu wahai Aba ‘Abdirrohmân tidak bisa berlepas diri dari tanggung jawab/akibat fatwa yang lalim (menyimpang) ini sampai engkau taroju’ dengan jelas dan terang-terangan bagaikan terangnya matahari di siang bolong, dan tidaklah taroju’mu jelas sampai ia mencakup perkara berikut ini:” yang di antaranya:

Pertama: memuji Jâmi’ah Al Islamiyyah yang ada di Madinah bahwasanya ia adalah Jâmi’ah Salafiyyah didirikan di atas sunnah sejak awal berdirinya sampai hari ini.” Apa menurutmu hai Sarbini dengan tuntutan memuji Jâmi’ah Islamiyyah bahkan mengatakan bahwa ia salafiyyah sampai sekarang/hari ini, kalau bukan Syaikh Ubaid beranggapan bahwa yang mendominasi Jâmi’ah Islamiyyah adalah salafiyyun, kemudian ucapannya:“Ketiga: melepaskan Al Jâmi’ah dari hizbiyyah, bida’, dan khurofat.” Ini jelas sekali bahwa maksud Syaikh Ubaid adalah Jâmi’ah Islamiyyah adalah salafiyyah, merekalah yang mendominasinya. Bukankah ucapan Syaikh Yahya tepat bahwa ucapan Syaikh Ubaid mengandung pembelaan terhadap hizbiyyin yang berada pada Jâmi’ah Islamiyyah? Oleh karena itu tidak bisa dipenuhi tuntutannya karena hal ini masuk dari peringatan Ibnul Qoyyim : yang dinukil oleh Syaikh Yahya -ra’âhulloh-:

دَلَالَةِ الْعَالِمِ لِلْمُسْتَفْتِي عَلَى غَيْرِهِ ، وَهُوَ مَوْضِعُ خَطَرٍ جِدًّا ، فَلْيَنْظُرْ الرَّجُلُ مَا يَحْدُثُ مِنْ ذَلِكَ فَإِنَّهُ مُتَسَبِّبٌ بِدَلَالَتِهِ إمَّا إلَى الْكَذِبِ عَلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فِي أَحْكَامِهِ أَوْ الْقَوْلِ عَلَيْهِ بِلَا عِلْمٍ ، فَهُوَ مُعِينٌ عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَإِمَّا مُعِينٌ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى ، فَلْيَنْظُرْ الْإِنْسَانُ إلَى مَنْ يَدُلُّ عَلَيْهِ ، وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ.اهـ

“Pengarahan seorang alim kepada yang meminta fatwa kepada selainnya, adalah permasalahan yang sangat berbahaya, maka hendaknya seseorang memperhatikan apa yang akan terjadi dari itu, karena sesungguhnya ia akan menjadi sebab dengan pengarahannya itu, bisa jadi kepada kedustaan atas nama Alloh dan RosulNya dalam hukum-hukumNya atau berbicara atas namaNya tanpa ilmu, maka bisa jadi dia menolong di atas dosa dan permusuhan dan bisa jadi dia menolong di atas kebaikan dan ketakwaan, maka hendaknya seseorang memperhatikan kepada siapa dia mengarahkan kepadanya, dan hendaknya ia bertakwa kepada Robbnya. Selesai.

            Kuberitahukan kepada engkau wahai “Daeng” Sarbini, kamu sendiri tidak memahami dengan baik ucapan-ucapan Syaikh Ubaid apalagi Syaikh Yahya, bagaimana kamu bisa menjadi hakim yang adil pada permasalahan ini? Coba engkau baca lagi bait yang kamu sebutkan di sini:

إنْكنتَلاتعلمُفتلكمصيبة

وإنْكنتَتعلمفالمصيبةأعظمُ

“Jika engkau tidak mengetahui maka itu adalah musibah

dan jika engkau mengetahui maka musibahnya lebih besar.”

            Perkataannya: dan bukan itu yang dipermasalahkan.

Ana katakan: Siapa juga yang bilang ini yang menjadi pokok permasalahan? Syaikh Yahya menyebutkan bahwa ucapan-ucapan dan tuntutan Syaikh Ubaid mengandung pembelaan terhadap hizbiyyin yang berada pada Jâmi’ah Islamiyyah oleh karena itu tidak bisa untuk dipenuhi. Adapun tuduhan bahwasanya beliau menvonis Jâmi’ah sebagai hizbiyyah yang murni telah lewat pembahasannya.  

Perkataannya: Ini adalah upaya untuk mengelabui salafiyyun bahwa pihak merekalah yang benar dan Asy-Syaikh ‘Ubaid yang salah. Namun tidak akan terkelabui kecuali orang yang tidak mengetahui hakekat permasalahan atau mengetahui akan tetapi qalbunya tertutup dari kebenaran oleh penyakit ta’ashshub (fanatik). Yang pertama adalah musibah dan yang kedua musibah yang lebih besar.

إنْكنتَلاتعلمُفتلكمصيبة

وإنْكنتَتعلمفالمصيبةأعظمُ

“Jika engkau tidak mengetahui maka itu adalah musibah

dan jika engkau mengetahui maka musibahnya lebih besar.”

Ana katakan: Telah lewat dan jelas bahwa Syaikh Ubaid-lah yang salah dan Syaikh Yahya-lah yang benar dengan bukti-buktinya tidaklah ucapan Sarbini ini melainkan untuk mengelabui salafiyyun bahwa pihak merekalah yang benar dan Asy-Syaikh Yahya yang salah. Namun tidak akan terkelabui kecuali orang yang tidak mengetahui hakekat permasalahan atau mengetahui akan tetapi qalbunya tertutup dari kebenaran oleh penyakit ta’ashshub (fanatik) atau hawa yag telah membutakan dan menulikannya. Yang pertama adalah musibah dan yang kedua musibah yang lebih besar.

إنْكنتَلاتعلمُفتلكمصيبة

وإنْكنتَتعلمفالمصيبةأعظمُ

“Jika engkau tidak mengetahui maka itu adalah musibah

dan jika engkau mengetahui maka musibahnya lebih besar.”

﴿فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ  [الحج/46]

      “Karena sesungguhnya bukan mata yang buta, tapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada.”

الحمد لله رب العلمين

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلاّ أنت أستغفرك وأتوب إليك

13 ربيع الثاني 1430

دار الحديث بدماج

حرسها الله

Penulis: Abu Ibrohim (Admin kebenaranhanya1 (thetruthonly1))

Ingatlah bahwa tiada yang berhak disembah selain Allah

4 thoughts on “BANTAHAN ILMIYYAH YANG BERKAITAN DENGAN JÂMI’AH ISLÂMIYYAH”

  1. bismillah. apabila ada 1 kebenaran sudah datang terima bila itu sesuai dengan assunnah dan apabila ada yang menolak sungguh mereka telah tertutup mata dan pendengaran serta hati mereka dan itulah hidayah. dan ulama hanya bisa memfatwakan sementara hidayah milik ALLOH semata

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s