Hukum mengambil dana dari Yayasan dan hizbiyyun

Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Imam hafidzahullah pada kitab beliau “Adz-Dzull wash Shigar ‘Ala man Qobila minal Muslimin Musa’adatil Kuffar” artinya: “Kehinaan Dan Kerendahan Bagi Siapa Saja Dari Kaum Muslimin Yang Menerima Pemberian Orang-Orang Kafir” hal. 153-154:

Iklan

بسم الله الرحمن الرحيم

Ucapan Dua Ulama Seputar
Hukum mengambil dana dari Yayasan dan hizbiyyun
Asy-Syaikh Abu An-Nashr Muhammad bin ‘Abdillah Al-Imam Hafidzahullah

Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Imam hafidzahullah pada kitab beliau “Adz-Dzull wash Shigar ‘Ala man Qobila minal Muslimin Musa’adatil Kuffar” artinya: “Kehinaan Dan Kerendahan Bagi Siapa Saja Dari Kaum Muslimin Yang Menerima Pemberian Orang-Orang Kafir” hal. 153-154:

“Tidak Boleh Bagi Kaum Muslimin Untuk Menerima Bantuan Dari Kelompok-Kelompok Dan Golongan Ahlul Bida'”

Sudah dimaklumi bersama bahwasanya para da’i kebid’ahan dan hizbiyyah itu mengumpulkan harta dari dalam dan luar (negri) kemudian memberikannya kepada siapa yang mereka harap mau bergabung bersama mereka di atas kebatilan yang mereka terjerumus di dalamnya, maka tidak boleh bagi siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menerimanya. Dan telah diketahui bersama musibah yang besar terhadap kaum muslimin disebabkan kelompok-kelompok dan golongan ini dan telah timbul di belakangnya semua kejelekan, seperti keluar dari lingkup al-haq dan pengembannya, pemberontakan terhadap pemerintah muslimin, bersekongkol dengan musuh-musuh (islam), dan membuka celah buat mereka untuk (menyerang) kaum muslimin dan selainnya.
Barangkali seseorang berkata: seandainya dibatasi bahwa tidak boleh mengambil bantuan mereka yang disertai dengan syarat-syarat yang menyelisihi al-kitab dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Jawabannya: Apa yang telah nampak dari kelompok-kelompok dan golongan tersebut dari penyimpangan itu cukup (sebagai sebab untuk) menjauh dari pemberian mereka dan apa yang tersembunyi dari penyimpangan mereka lebih mendorong untuk lebih berhati-hati dan menjauh dari pemberian mereka, sebab seorang muslim itu tidaklah merasa aman kalau mereka akan menjebaknya ke dalam kesesatan mereka, maka Allah Allah supaya menjauh bahkan mentahdzir dari mereka (ahlul bida’ dan hizbiyyin).-selesai-
Kemudian Asy-Syaikh Al-Imam hafidzahullah melanjutkan bab tadi dengan jawaban terhadap beberapa syubhat, dan yang kami ingin nukil di sini adalah jawaban atas syubhat pertama:
Ucapan mereka: Rasul sallalahu ‘alaihi wa sallam telah menerima bantuan/pemberian orang-orang kafir
Jawabannya: Iya, sayyid orang-orang terdahulu dan sekarang (Nabi sallalahu ‘alaih wa sallam) telah menerima beberapa hadiah dari orang-orang kafir dan menolak beberapa, sebagaimana dalil-dalil shahih menunjukkan hal itu, dan apa yang beliau terima bukanlah kekhususan bagi beliau menurut pendapat ulama yang benar bahkan itu adalah syari’at untuk ummatnya dan apa yang beliau tolak (tidak menerima bantuan mereka) demikian juga bukanlah suatu kekhususan bagi beliau bahkan itu juga adalah syari’at buat ummatnya, maka sebaik-baik bentuk tauladan terhadap beliau ialah menerima apa yang beliau terima dan menolak apa yang beliau tolak, maka memutlakkan salah satu dari dua perkara tadi (menerima dan menolak) tidak benar, maka kapan saja hadiah itu tidak terdapat padanya kejelekan ketika itu dan akan datang maka boleh menerimanya secara syar’i, adapun jika hadiah dari orang-orang kafir itu terselubung di dalamnya makar dan tipu muslihat serta rencana jahat terhadap penerimanya maka tidak ada sama sekali pembenar untuk menerimanya, tidak secara syar’i, tidak pula secara akal sehat, bahkan terdapat dalil-dalil dari Rasul sallalahu ‘alaih wa sallam dan ucapan ulama yang menunjukkan supaya tidak menerima hadiah dari orang-orang kafir tersebut.
Abdurrozzaq meriwayatkan di “Mushonnafnya” no. 19658, dan Al-Baihaqi di “Ad-Dalail” (3/343) dari hadits Ka’b bin Malik, bahwasanya Rasulullah sallalahu ‘alaih wa sallam berkata:
(( إني لا أقبل هدية مشرك ))
“Sesungguhnya saya tidaklah menerima hadiah orang musyrik.”
Dan diriwayatkan oleh Tirmidzi, no. 1577 dan Abu Daud, no. 3057 dari hadits ‘Iyadh bin Himar bahwasanya Nabi sallalahu ‘alaih wa sallam berkata:
(( إِنِّى نُهِيتُ عَنْ زَبْدِ الْمُشْرِكِينَ ))
“Sesungguhnya saya dilarang menerima pemberian orang-orang musyrik.”
Inilah dua hadits shahih dan semacamnya tetap berada pada zahirnya dan tidak didapati dalil yang memalingkannya dari makna zahirnya, di mana makna zahirnya adalah larangan menerima hadiah orang-orang kafir dan larangan ini terkait apabila terdapat mafsadat, sebagai bentuk penggabungan antara hadits-hadts ini dengan dalil-dalil yang shahih yang menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima sebagian hadiah orang-orang musyrik.
Dan hadits-hadits larangan itu umum, sama saja apakah hadiah dari orang-orang kafir yang memerangi kaum muslimin ataukah tidak, ahlul kitab ataukah penyembah berhala. Berdasarkan hal ini maka tidaklah saling bertentangan antara penerimaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagian dari pemberian dan hadiah orang-orang kafir dengan penolakan beliau, beliau menolak manakala pemberian itu selaku sogokan dalam agama, Ibnu Barr berkata di “Tamhid” 2/12: “Dan makna penerimaan dan penolakan beliau terhadap hadiah dan pemberian mereka adalah bahwasanya beliau tidak mau menerima hadiah orang yang beliau berkeinginan mengalahkannya atau menguasai negrinya ataupun keislamannya, maka yang semacam ini beliau dilarang menerima hadiahnya berdamai dan membiarkannya berada di atas agamanya sementara beliau mampu atau dapat menjadi sebab hidayahnya, karena menerima hadiahnya akan mendorong untuk menahan diri dari menyerangnya sedangkan beliau telah diperintahkan memerangi orang-orang kafir hingga mereka mengucapkan Laailahaillallah”….
Setelah menyebutkan beberapa ucapan ulama Syaikh Al-Imam hafidzahullah berkata: “Kesimpulan kata pada permasalahan ini adalah kebanyakan pemberian orang-orang kafir kepada kaum muslimin pada zaman ini adalah jebakan yang paling berbahaya terhadap mereka, sama saja apakah orang-orang kafir itu dari golongan pemerintah ataukah masyarakat, individu ataupun golongan.
Perlu diingatkan di sini bahwasanya negri-negri barat telah menjadikan tatanannya, yayasan-yayasan, dan jum’iyyah-jum’iyyah mereka yang berada di negri kaum muslimin sebagai penyempurna dan penaung tipu daya tersebut agar dapat berjalan dengan lancar guna menghancurkan kaum muslimin dan menginteli pemerintah dan rakyat mereka supaya dapat mengatur dan menguasai mereka serta menimpakan atas mereka kerugian di dunia dan akhirat, maka pemberian ini bukan sekedar haram menerimanya bahkan itu adalah kejahatan besar.
Maka kami menyeru golongan-golongan dan negri-negri kaum muslimin yang telah terlena menerima harta, pemberian dan hadiah orang-orang kafir supaya bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya taubat. –selesai-
Fatwa Asy-Syaikh Yahya bin Ali Al-Hajuri hafidzahullah

Soal ketiga: Sebagaimana telah diketahui bersama, permusuhan hizbiyyun terhadap ahlus sunnah, maka apakah apabila ahlus sunnah diberi dana oleh pendiri Jam’iyyat, apakah mereka mengambilnya ataukah di sana ada tafshil (perincian) terhadap permasalahan ini?
Jawab: Tiada perincian di sisiku terhadap permasalahan ini, Wahai ikhwan ambillah kaidah bahwa jam’iyyat itu tidaklah memberi bantuan dana kecuali siapa yang ia lihat lembek, kalau tidak bersama mereka berarti orang itu lemah bagi mereka, demi Allah ini benar. Kenapa bisa? Wahai akhi seekor hewan saja apabila kamu berbuat baik kepadanya, walaupun dia itu Anjing tapi kamu sering memberinya makanan sedikit demi sedikit, kamu tidak sangka (dia sudah jinak kepadamu) apabila kamu lewat dia melingkarkan ekornya dibelakangmu mengikutimu, dan anjing semacam ini tidak akan menggonggongimu. Maka apabila seorang sunni mengulurkan tangannya kepada mereka para pengemis yang mengumpulkan dana mereka yang bisa jadi dari riba, mereka memberi sunni tadi sedikit demi sedikit akhirnya membuatnya ketagihan, sungguh jam’iyyah ihyaut turots telah membuat ketagihan para da’i terkemuka sungguh betul demi Allah mereka du’at bahkan dikenal dengan keilmuannya bahkan dipanggil ulama namun dia (jam’iyyah ihyaut Turots) membuat mereka ketagihan (dengan uang) dan menjatuhkan semangat mereka sampai-sampai seakan-akan mereka itu tidak pernah punya dakwah (sebelumnya), benarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
(( ما ذئبان جائعان أرسلا في زَريبة غَنَمٍ بأَفْسدَ لها من حِرصِ المرء على الشرف والمال لدينه))
“Tidaklah dua ekor serigala yang dilepas di kandang kambing itu lebih merusak daripada ketamakan seseorang terhadap kemuliaan dan harta terhadap agamanya”.
Zuhudlah wahai Sunni, aku adalah penasihat bagimu, kita memohon kepada Allah supaya senantiasa memberi kita taufiq sampai kita bertemu denganNya. Apabila kamu menjulurkan tanganmu maka kamu tidak bisa sabar dengan kefakiran. Dan mereka itu bagaikan sebagian hewan mangsa ular, dia memasukkan tangannya (yang mengepal) ke dalam mulut ular, apabila tangannya telah sampai pada tempat yang ia lihat dapat membunuhnya apabila ia buka kepalan tangannya, dia punya kuku-kuku tajam dia buka lalu keluar dari mulut ular dari setiap tempat kuku dan membunuhnya, mereka memakai tipu daya ini dan perasaan belas kasih, dan siapa yang apabila mereka melimpahkan kepadanya harta dia tidak akan bisa bersabar setelahnya, akhirnya dia butuh dengan material atau selainnya meskipun dengan cara menta’wilkan (dalil-dalil, maksudnya dia mencari-cari dalil-dalil yang samar sebagai pembenaran terhadap perbuatannya yang salah).
Ditambah lagi mungkin mereka katakan: “Kami membangun mesjid ini untukmu hanyalah mengharap wajah Allah dan sudah” mereka pada hakikatnya tidaklah demikian, beberapa hari yang lalu saya telah menceritakan kepada kalian kisah saudara kita Hamid yang keluar dakwah ke Hasyid tiba-tiba salah seorang dari dua orang wadi’i yang membangun mesjid atau dibawah naungan mereka menelponnya seraya berkata: “Hayyakallah wahai saudara kami Hamid Ahlan wa sahlan, dakwah kita satu dan tidak ada perbedaan antara kami dan engkau, kamu dapat seribu lima ratus dari Fulan seribu lima ratus Su’udi telah disiapkan untukmu oleh Fulan, Insya Allah kalau kami datang dakwah kita bersatu, dan kami tidak senang kalau kami datang ke masjid salah seorang dari kita tidak memberi kesempatan kepada kami untuk berceramah atau geram terhadap kami.”, iya ini tambahan seribu lima ratus setelahnya seribu lima ratus kemudian setelahnya Allahu A’lam berapa, inilah awal mula kerusakan dan keterlantaran bagi seorang penuntut ilmu yang tidak punya perhatian dalam menjaga dirinya, saya menyebutkan untuk kalian kisah ini sebagai contoh bahwasanya mereka tidaklah memberi begitu saja, mereka tidaklah memberi kecuali siapa yang bersikap lemah terhadap mereka atau siapa yang mereka harap mau bergabung dengan kelompok mereka, dan apabila mereka memberi seseorang mereka menyebut-nyebutnya. Sungguh dulu mereka mendatangkan untuk Syaikh (Muqbil Rahimahullah) dengan sedikit dari pemberian, sekarung beras kecil, sekarung gula kecil kami melihat dengan mata kepala kami sendiri, di pintu tempat parkir mobil, mobil HILUX, terdapat padanya sedikit karung kecil, sedikit susu, barang-barang sederhana sekali atau sedikit kitab-kitab kecil kemudian mereka katakan: “Wahai Syaikh kami meminta surat tanda serah-terima darimu bahwasanya kami telah memberimu maktabah (perpustakaan), maktabah satu karton?! (Syaikh tertawa) mereka datangkan sekarton, diangkat di atas pundak dengan itu mereka minta surat tanda serah-terima dari Syaikh! bahwasanya saya telah menerima dari Fulan bin Fulan maktabah dan makanan untuk para penuntut ilmu, apa yang mereka inginkan dengannya? Mereka akan membawa surat tanda serah-terima tadi kepada para muhsinin bahwasanya kami telah membantu seorang Alim dengan maktabah, terkadang kata maktabah itu besar, bisa jadi sekarton tadi menghasilkan maktabah yang besar bagi siapa yang mereka inginkan, demikian juga karung kecil tadi bisa jadi menghasilkan harta yang melimpah bagi siapa yang mereka hendaki, mereka memoto atau menyiapkan lalu pergi kepada para muhsinin, salah seorang ikhwan telah memberi faidah kepada kami yang dulu aku telah menyebutkannya kepada kalian bahwasanya sebagian mereka membawa sapinya ke tukang sembelih di Shan’a dia punya satu ekor atau dua ekor sapi, sesampainya di sana mereka menyembelihnya dan mengambil kamera lalu mengambil gambar sapi mereka dan sapi-sapi orang-orang yang ada di situ, Orang-orang berkata: “Kenapa mereka mengambil gambar sapi-sapi kami, kalian mau mengambil gambarnya kemudian membawanya kepada para muhsinin dan pedagang (untuk meminta dana)? Tidak boleh”, mengapa wahai ikhwah mereka mengambil gambar semua sapi tadi, mereka mau membawanya kepada mereka (para muhsinin) sambil berkata: “Demi Allah kami telah memberi (sedekah daging sapi) orang-orang fakir dan orang-orang yang membutuhkannya, lihatlah daging tergantung dan penyembelih menyembelih, mereka maksudkan dengannya untuk menghasilkan dana dengannya.
Maka wahai ikhwan janganlah kalian tergiur dengan pemberian orang-orang yayasan tanpa balasan demi Allah mereka tidaklah memberi kecuali dengan balasan mengalah mengorbankan agama.
نمزق دنيانا بتمزيق ديننا *** فلا ديننا يبقى ولا ما نمزقه.
“Kita merusak dunia kita dengan mengoyak agama ….
Akhirnya tidaklah dunia kita tersisa dan tidak pula yang kita koyak.”
Kemudian contoh berikutnya: Seorang awam berkata atau seperti orang awam berkata: permisalan mereka bagaikan anak kecil dengan es krim, dia hisap, hisap, hisap sampai manisnya habis iapun melemparnya, ini juga demikian seseorang dihisap mereka menjauhkan darinya kekuatan ilmiyyahnya, dan saudara-saudaranya yang salafi, sungguh benar, dan demikian juga mereka menjauhkan darinya semangatnya dan membuat hatinya terasa sumpek sebab ahlus sunnah apabila mereka melihat seseorang condong kepada kebatilan dan pelakunya mereka tidak akan membiarkannya, yang ini menghantamnya, yang ini akan mengatakan kepadanya kenapa bisa penyimpangan ini?
Kamu telah mengubah dan mengganti ini tidaklah benar selama-lamanya, kami telah hidup di atas manhaj ini kita tidak akan membiarkannya untuk seseorang menyusup di tengah-tengah kita kemudian apabila telah nampak tanduknya atau kuat pengikutnya dia malah membela hizbiyyin, ini tidaklah benar, setelah itu kadangkala mereka terus memberinya dana dan kadangkala mereka menelantarkannya, Hamud Zur’ah manakala dia punya dakwah di Hajur, orang ini yang bekerja di kementerian agama, dulunya dia punya dakwah di Hajur, demi Allah saya ketemu dengan Syaikh Rabi’ beliau berkata: “Demi Allah Hamud ini dulunya orang yang cerdas termasuk orang yang paling cerdas di Jami’ah Islamiyyah”, ketika dia lulus dia berada di bawah asuhan ikhwanul (muflisin) makan qot bersama mereka dan melimpahkan atasnya harta, (sebelumnya) ia tertimpa beberapa musibah kalau tidak salah kematian istrinya atau selainnya lalu mereka menikahkannya dan perkara selainnya, manakala keadaannya demikian akhirnya diapun bergabung dengan mereka dibarengi karena kafakiran yang disertai syubhat padahal dulunya ia menjarh mereka dengan keras setelah itu bergabung dengan mereka dan diam dari kesalahan mereka beberapa hari kemudian menahan diri dari membicarakan penyimpangan mereka, dulunya kalau mereka mengirimnya dalam rangka mengisi muhadarah dia memakai uangnya sendiri (sebagai ongkos jalan) yang mereka berikan kepadanya, sedangkan apabila mereka mengirim sekertaris atau sebagian tukang nasyid dst mereka memberi mereka uang dari kantong mereka setelah itu ia berkata, mereka memberi tukang nasyid (atau kalimat semacamnya) sedang saya pergi dengan ongkos sendiri?
Merekapun berpisah dengannya dan diapun meninggalkan mereka, orang ini memang sangat cinta dunia dan tergila-gila dengannya, ini benar yang kukatakan, dia akan jengkel dari ucapan ini, meskipun dia berasal dari hajur namun walaupun demikian kita tidak ta’ashshub (fanatik) terhadap siapapun, ini adalah agama demi Allah walaupun terhadap orang tua, jadi mereka menghisapnya sebagaimana dikatakan dan habis, lalu ia tidak puas dengan jumlah bantuan akhirnya dia pindah ke DPR dan diapun menjadi ketua dst, saya sebutkan kepada kalian bahwasanya mereka itu di awal mulanya melimpahkan atasnya harta kemudian apabila mereka lihat kamu telah bersama mereka atau meskipun kamu itu bersama mereka sedang mereka telah mencapai apa yang mereka inginkan darimu, bisa jadi setelah itu bantuanpun kurang atau berhenti sama sekali sebagaimana halnya es krim, barakallahu fiikum, ini demi Allah sebagai peringatan, biarlah kamu bersih wahai saudaraku
{وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ (22) فَوَرَبِّ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّهُ لَحَقٌّ مِثْلَ مَا أَنَّكُمْ تَنْطِقُونَ} [الذاريات : 22 ، 23]
“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan apa yang dijanjikan kepada kalian. Maka demi Rabb langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar seperti apa yang kamu ucapkan.” [Adz-Dzarriyyat 22-23].
Dakwah kita telah dirusak oleh Jam’iyyat atau tidak? Jum’iyyah telah mengambil (membuat terfitnah) sekelompok orang, demi Allah kami tidak pungkiri bahwasanya mereka itu dulunya ahli pidato yang menggoncangkan minbar-minbar dari saudara-saudara kita, murid-murid kami dan demikian juga dari teman-teman kita, sungguh demi Allah Jum’iyyah telah mengambil orang yang dulunya tokoh, tiada sebab lain kecuali Jam’iyyah, Jam’iyyah Ihyaut Turots menyerang murid-murid Syaikh Muqbil rahimahullah sebagaimana yang kalian ketahui tentang Ar-Roiymi, Al-Mahdi, Al-Baidhoni, fulan, dan fulan, Jum’iyyah tersebut membuat mereka terfitnah dan menelantarkan mereka, datangkan mangfaat mereka (sekarang) terhadap islam! Adakah mereka memberi manfaat??
Orang yang ngisi di surat kabar Al-Mahdi sekarang berdebat dengan Mahturi dia jidal dengannya dan memuji Zaidiyyah dan mau menjadikan manusia seluruhnya sama kedudukannya, yakni manhaj yang luas bisa menerima siapa saja, dan manhaj perusak, saya kira kalau dia bertemu dengan seorang nasrani niscaya kamu akan dapati dia berdialog dengannya atas dasar yang lembek demi Allah pahit.. pahit.. dari sisi ini, Muhammah Mahdi sesat sampaikan ucapan ini kepadanya dariku, walaupun dia memuji kita, tidak.. tidak.. saya tidak senang dengan pujian dari orang yang merusakkan dakwah salafiyyah, walaupun dia memuji aku tidak gembira dengannya, ini hasilnya jazakumullahu khairan, jauhkan/bersihkan diri kalian dari Jam’iyyah, kemudian juga Jam’iyyah Al-Birr mengambil orang-orang yang dulunya terkemuka atau tidak?? bahkan dia membuat terfitnah Abul Hasan dan sekelompok besar dari pengikut Abul Hasan, hanya dengan pemberian, hadiah, dan tanggungan para da’i dan seterusnya dan ini juga pemberian baru yang memisahkan antara kami dan sebagian orang dari sini (Abdurrahman cs) dari tanggungan da’i dan membangunkan untuk mereka rumah dan seterusnya para pelaku makar yang menyelundup dari ihyaut Turots atau Jam’iyyah lainnya atau sebagian orang yang membuat fitnah terhadap dakwah
وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُونَ [الشعراء : 227]
“Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” [Asy-syu’ara’: 227].
Menelantarkan mereka, mereka mencarikan kesibukan untuk mereka supaya menelantarkan ilmu dan sunnah, kamu tidak akan mendapati di sisi seorangpun dari mereka manfaat meskipun dalam sebuah kaset atau risalah yang bermanfaat, jadi dia (Jum’iyyah) adalah pintu keterlantaran, kami menjelaskan hal ini panjang lebar karena kami melihat bahaya yang ada padanya.
Benar syaikh kami rahimahullah dulu pernah berkata apabila mereka memberimu dan membangunkan untukmu masjid (begitu saja) kemudian pergi meninggalkanmu tidak mengapa, namun maknanya kalau tidak ada syarat-syarat dan mesjid bukan di bawah kendali mereka, kita yang mengatur semuanya kita bisa melarang kalian ngisi di masjid ini atau selain kalian, kalau demikian masih punya sisi pandang, bersamaan dengan itu kalau Allah mudahkan dari selain mereka itu lebih baik, adapun pemberian dari mereka maka engganlah dari menerimanya, Imam Ahmad disifat, mereka katakan tentangnya:
عن الدنيا ما كان أصبره *** وبالماضين ما كان أشبهه
أتته الدنيا فأباها *** وأتته الشبه فنفاها
“Dia sangat sabar dari kehidupan dunia….dan sangat mirip dengan orang-orang terdahulu.”
“didatangi dunia diapun enggan…didatangi syubhah diapun menyirnakannya”.
Harta dunia yang dikirimkan kepadanya dari pemerintah namun dia melihat ada di dalamnya syubhat diapun meninggalkannya, adapun jam’iyyah ini harta datangn darinya ada yang di dalamnya syubhat, demi Allah lebih ngeri dari syubhat yang Imam Ahmad tinggalkan, dipungut dari meminta-minta dengan tanpa malu dan dari pemilu demikian juga dengan foto dan tipu daya dan menunggu serta menanti di bawah kaki para pedagang dan orang-orang kaya dan seterusnya dari keterlantaran, jadi hartanya tidak berasal dari harta yang murni kehalalannya,
(( أيما لحم نبت من سحت فالنار أولى به )).
“Daging mana saja yang tumbuh dari harta yang haram maka neraka lebih baik baginya.”-selesai, tanya jawab dengan Ahlus sunnah dari Aden tanggal 29 Rajab 1430-
Penerjemah: Abu Abdirrahman Shiddiq Al-Bugisi

Penulis: Abu Ibrohim (Admin kebenaranhanya1 (thetruthonly1))

Ingatlah bahwa tiada yang berhak disembah selain Allah

8 thoughts on “Hukum mengambil dana dari Yayasan dan hizbiyyun”

  1. Trus kalo yg ngambil harus di tahdzir gitu?

    Bukannya masalah ini masih diikhtilafkan dikalangan para ulama? Tp diantara mereka -antara yg berpendapat boleh dan tdk- rukun2 aja tuh… Ga ada yg saling tahdzir… Cuma di endonesa aja yg ada tahdzir2an… Aneh…

    Suka

    1. tahdzir itu dimaksudkan sebagai nasehat agar kita tetap berada dijalan yg lurus walhamdulillaahirobbil ‘aalamiin

      Suka

  2. Trus bagemana adab2/syarat2 tahdzir itu? Baik dari pihak yg mentahdzir atau yg ditahdzir Apakah sudah memenuhi syarat2 tsb..?!

    Truz bagemana dgn sikap Nabi yg menerima jamuan makan dari orang Yahudi, pdhl sudah maklum bahwa harta yahudi diperoleh dgn cara yg bathil spt riba dsb…?

    Suka

  3. Bismillahirrohmanirrohim. Tak akan ada habisnya membicarakan at-turots,lebih 10 tahun berlalu tak ada baiknya. Sibukan diri menuntut ilmu. Orang awam tak ada faedahnya tahdzir-tahdziran. Semoga Allah tidak jadikan sesuatu dari diri ini sesuatu kecuali yang HAQ. AMIN.

    Suka

  4. At Turots adalah Yayasan Hizbiyyah berbaju Salafi, mereka selalu menjadikan fatwa2 ‘ulama Ahlus Sunnah sebagai tameng bagi kebid’ahan mereka. Berhati2lah kalian dari mereka wahai kaum muslimin

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s