AKHLAQ NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM DALAM PENGARAHAN DAN KRITIKAN

AKHLAQ NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

DALAM PENGARAHAN DAN KRITIKAN

 

Ditulis oleh:

Abul ‘Abbas Khidhr Al-Mulkiy

MUQADDIMAH

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدا, أشهد أن لا إله إلا الله إقرارا به وتوحيدا, وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله تسليما مزيدا.

أمــا بعد:

Allah ‘azza wa jalla berkata:

﴿لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا [الأحزاب/21].

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah”. (Al-Ahzab: 21).

Ayat ini merupakan arahan dan bimbingan bagi seseorang untuk senantiasa mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjadikannya sebagai teladan dalam segala aspek kehidupan, baik itu dalam bermuamalah, berumah tangga, bermasyarakat atau berbangsa dan bernegara. Dan salah satu prilaku Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang patut untuk diteladani adalah akhlaqul karimah, yang mana dengan akhlaq itu seseorang akan semakin sempurna keimanannya, sebagaimana dalam hadits hasan yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dalam “Musnadnya” (Juz: 2, hal. 527, no. 10829) dari hadits Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

﴿أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا.

“Orang-orang mu’min yang paling sempurna keimanannya adalah bagi mereka yang paling bagus akhlaqnya” Dan perlu diktehui bahwa seseorang itu dikatakan bagus akhlaqnya manakalah berakhlaq dengan Al-Qur’an, sebagaimana akhlaq teladan kita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu berakhlaq dengan Al-Qur’an, diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam “Shohihnya” (no. 1773) bahwa Aisyah ditanya tentang akhlaq Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ia berkata:

﴿فَإِنَّ خُلُقَ نَبِىِّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ الْقُرْآنَ.

“Sesungguhnya akhlaq Nabiullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Al-Qur’an”.

Maka beranjak dari sini kita akan sebutkan akhlaq Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memberi arahan yang sangat bagus, ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dihadapkan dua permasalahan yaitu dengan kedatangan dua pihak yang berbeda, para pembesar kaum musyrikin dan shahabat yang buta maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan dua permasalahan itu tampak dengan jelas akhlaq Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat bagus yaitu berakhlaq dengan Al-Qur’an dalam menghadapi dua pihak yang disebutkan tadi, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an, Allah ta’ala berkata:

﴿عَبَسَ وَتَوَلَّى (1) أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى (2) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى (3) أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى (4) أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى (5) فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى (6) وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى (7) وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى (8) وَهُوَ يَخْشَى (9) فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّى﴾ (10) [عبس/1-10].

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, Maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman), dan Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah). Maka kamu mengabaikannya“Allah ‘azza wa jalla memberikan teguran kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar lebih memperhatikan orang mu’min yang mengikutinya dibanding menfokuskan perhatian kepada musuh-musuhnya dari kalangan pembesar-pembesar musyrikin Quraisysy, ini menunjukkan betapa bagusnya akhlaq Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang benar-benar memperhatikan orang-orang yang mengikutinya, berlemah lembut dan memberikan yang terbaik kepada mereka yang mengikutinya. Adapun bagi yang mengumumkan permusuhan dan kebencian kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersikap tegas dan keras kepada mereka, sebagaimana Allah ‘azza wa jalla katakan:

﴿مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ﴾ [الفتح/29]

Muhammad adalah Rasulullah, beliau dan orang-orang yang bersamanya sangat keras kepada orang kafir dan berkasih sayang (berlemah-lembut) diantara mereka“. (Al-Fath: 29).

Dan Allah Ta’ala perintahkan rasul-Nya dan para pengikutnya untuk bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir dan orang yang bermuka dua; baik itu dari kalangan munafiqin atau orang-orang yang serupa dengan mereka, Allah Ta’ala berkata:

﴿ يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ﴾ [التوبة/73].

Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. tempat mereka ialah Jahannam. dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya“. (At-Taubah: 73).

Adapun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang bodoh (dari kalangan awam)Coba cermati! Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencegah para shahabatnya untuk melarang si Badui tadi sampai si Badui tadi selesaikan hajat (kencing)nya, dan dalam hadits yang lain kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan shahabatnya untuk menyiram bekas kencing tadi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memarahi atau mencela para shahabatnya karena mau mencegah si Badui dan tidak pula memarahi atau mencela si Badui tadi, tapi disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati si Badui tadi dengan penuh akhlaqul karimah, sebagai arahan dan bimbingan kepada para shahabatnya sekaligus si Badui tadi.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat tidak suka bila orang-orang yang mengikutinya disakiti atau dipersulit urusannya, walaupun yang melakukannya itu shahabatnya sendiri atau orang-orang mu’min setelahnya, lebih-lebih kalau yang menyakiti itu dari kalangan orang sesat maka tentu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat marah. Lihatlah apa sikap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap shahabatnya yang mulia Mu’adz bin Jabal ketika beliau Rodhiyallohu ‘anhu mengimami manusia yang di dalam shalatnya itu tentu ada sebagian shahabat maka ternyata membuat berat sebagian manusia akibat panjangnya sholatnya, sebagaimana disebutkan dalam “Shohih Ibnu Hibban” (Juz: 6, hal. 155), ketika disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam marah karena shahabatnya Mu’adz bin Jabal membuat resah dan memberat-beratkan orang-orang mu’min yang lainnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tegas berkata kepada Mu’adz bin Jabal:

} أَفَتَّانٌ أَنْتَ يَا مُعَاذ أَفَتَّانٌ أَنْتَ يَا مُعَاذ {

“Apakah kamu tukang fitnah ya wahai Mu’adz?!, Apakah kamu tukang fitnah ya wahai Mu’adz?!”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat kasih sayang dengan orang-orang yang mengikutinya, sehingga beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan dalam “Shohih Al-Bukhariy” (no. 13) dari hadits Husain, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada orang-orang yang mengikutinya:

﴿لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه﴾.

Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri“.

Allah Ta’ala perintahkan rasul-Nya untuk merendah dan lemah lembut serta terus senantiasa bersama orang-orang yang mengikutinya, sebagaimana Allah Ta’ala katakan:

﴿وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ﴾ [الشعراء/215].

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, Yaitu orang-orang yang beriman”. (Asy-Su’araa: 215). Dan Allah Ta’ala juga berkata:

﴿وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ [الحجر/88].

Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang mu’min“. (Al-Hijr: 88).

Allah Ta’ala tidak memerintahkan Rasul-Nya untuk merendahkan diri terhadap orang-orang yang bermuka dua (yang bisa diterima di hizbullah dan di hizbusy syaithan), tapi yang Allah Ta’ala perintahkan adalah untuk merendahkan diri dan bersama orang-orang yang mengikuti rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar. Maka apakah pantas kemudian ada dari salah seorang diantara kalian rela menggibahi dan menyakiti saudaranya sesama salafiyyin karena mengharapkan kesalafiyyahnya kaum mutawaqifin atau kaum hizbiyyin dengan rela merendahkan diri dan senang bersama mereka?! Adapun bagi musuh-musuh Islam atau orang yang masuk kategori muslim kemudian menyimpang dari jalan yang lurus dan memusuhi orang-orang yang mengikut sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka sudah sepantasnya bagi untuk ditahzir sesuai dengan perbuatan mereka yang memusuhi al-haq dan ahlinya, bahkan Allah subhanah telah mengumumkan permusuhan dengan mereka, telah diirwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhariy dalam “Shohihnya” (no. 6137) dari Abu Huroirah Rodhiyallohu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

﴿إن الله قال من عادى لي وليا فقد آذنته بالحرب

“Bahwasanya Allah telah berkata: Barang siapa memusuhi wali-wali-Ku maka sungguh Aku telah mengumumkan permusuhan dengannya”.

Dengan muqaddimah yang sedikit ini cukup sebagai penjelasan tentang akhlaq Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai gambaran global, insya Allah pada bahasan selanjutnya pada bagian-bagiannya kami akan sebutkan sebatas waktu yang kami miliki, dan sebatas sepengetahuan kami diserta dengan jawaban atas kerancuan-kerancuan pola pikir orang-orang yang terkontaminasi dengan faham miring yang dilandasi dengan perasaan dan dugaan semata.

 

Ditulis oleh Al-Faqir illah Abul ‘Abbas Khidhr Al-Mulkiy di Darul Hadits Dammaj-Sho’da-Yaman pada hari Juma’at pagi/3 Sya’aban 1430 H.

 

 

BAB I

GUGATAN ATAS DUGAAN PENJELASAN TENTANG TUDUHAN MIRING TERHADAP KRITIKAN DALAM MAKALAH-MAKALAH KAMI

Setelah tersebar luas tulisan kami dalam makalah-makalah yang kami susun, maka banyak bermunculan komentar baik itu berupa saran atau kritikan; baik itu kritikan membangun maupun kritikan miring yang tidak membangun sama sekali, sungguh benar perkataan Allah Ta’ala:

﴿وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً [الأنبياء/35]

Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai fitnah (cobaan)“. (Al-Anbiya’: 35). Juga perkataan-Nya:

﴿وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا﴾  [الفرقان/20]

Dan Kami jadikan sebagian kalian fitnah (cobaan) atas sebagian yang lain. Dan bisakah kamu bersabar?”. (Al-Furqan: 20). Diantara komentar itu adalah:

1.1 Panggilan Jelek Buat Luqman Ba’abduh Al-Hizbiy!

Komentar I:

“Pada beberapa makalah Abul ‘Abbas menyebutkan bahwa ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh adalah penjahat da’wah, padahal beliau adalah ustadz kibar dan telah dipanggil sebagai syaikh oleh Syaikh Kholid Adz-Dzufairiy, tapi Abul ‘Abbas dengan tak berakhlaq memanggilnya seperti itu!”.

Tanggapan:

Pemberian gelar seperti itu kepada Luqman Ba’abduh adalah sesuai dengan posisi dan keberadaan dia, dan ini tidak bisa dikatakan kami tidak memiliki akhlaq! Karena manusia paling berakhlaq adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah berkata kepada Hamal bin Malik An-Nabighah sebagaimana dalam “Shohih Al-Bukhariy” (no. 5426) dari Abu Huroirah Rodhiyallohu ‘anhu:

﴿إنما هذا من إخوان الكهان

Dia (Hamal) termasuk saudara-saudaranya dukun“.

Apa yang menyebabkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan seperti itu? Tidak lain karena Hamal menentang hukum yang telah ditetapkan oleh syari’at dengan melantunkan sajak yang persis dengan lantutan para dukun yang isi sajaknya semisal ucapan para dukun yang menentang syari’at maka selayak untuknya menyandang gelar tersebut. Begitu pula orang-orang yang tidak mengikuti bimbingan Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk tidak berboros-borosan dan melampui batas  dalam kehidupan dunia ini, Allah Ta’ala sebutkan mereka dengan saudara-saudaranya syaithan, Allah Ta’ala berkata:

﴿إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا [الإسراء/27].

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithan dan syaithan itu adalah sangat ingkar kepada Robbnnya”. (Al-Isra’: 27). Maka dari sini tidak salah bagi kami untuk menyebut Laskar Jihad Aswaja dengan julukan syaithan-syaithan khowarij karena sifat dan sikap mereka ketika itu melampui batas dan berbuat seenak nafsu mereka serta berboros-borosan dengan harta (minta-minta) untuk Mukernas (Musyawarah Kerja Nasional) dan kegiatan-kegiatan lainnya yang sangat menyelisihi syari’at. Julukan yang kami berikan kepada mereka seperti itu karena mengambil hukum dari dua dalil tersebut, dan ternyata pengambilan hukum yang kami lakukan memiliki salaf, diantaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan orang-orang seperti mereka syaithanul khowarij (Lihat Kutub wa Rosail wa Fatawa Ibnu Taimiyyah: Juz. 19, hal. 89).

Adapun Luqman Ba’abduh sangat cocok menyandang gelar penjahat da’wah karena dengan kejahatannya yang ada, dari sejak dia menjabat sebagai wakil panglima Laskar Jihad dan bertugas di Ambon tampak sekali kejahatannya terhadap kaum muslimin dan penguasa serta dengan mudah menghalalkan darah yang harom untuk ditumpahkan. Begitu pula penganiayaan, pemukulan dan kezholiman dilakukan, baik itu dia lakukan sendiri atau melalui para pengikutnya dia. Maka cukuplah untuk Luqman Ba’abduh menyandang gelar itu. Begitu pula makarnya terhadap Darul Hadits Dammaj yang dia termasuk salah satu keluaran darinya, yang kemudian menampakan permusuhan dengan hinaan dan celaan serta kedustaan dan pemutar balikan fakta dia lakukan terhadap Darul Hadits Dammaj dan masyayikhnya, maka itu merupakan bagian dari kejahatan dia pula!.

 

Komentar II:

Abul ‘Abbas juga menyebut ustadz Luqman dengan Siluman, yaitu dengan menghapus huruf Q (si Lu man) dan menyebut seorang wanita pembelanya dengan julukan Kuntilanak!.

Tanggapan:

Sebagaimana telah disebutkan tadi pemaparannya (pada tanggapan komentar I), maka penyebutan siluman kepada dia sesuai keadaan dia yang berpaling dari ayat-ayat Allah ta’ala, sebagaimana dalam Al-Qur’an Allah ta’ala menyebutkan bahwa orang semisal dia itu seperti anjing﴿وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آَتَيْنَاهُ آَيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ (175) وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (176) سَاءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ (177) [الأعراف/175-178].

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian Dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu Dia diikuti oleh syaitan (sampai Dia tergoda), Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, Sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim“. (Al-A’raf: 175-177).

Ayat ini sangat pantas untuk diberikan kepada salah seorang ibu rumah tangga yang bernama Nikmatus Tsaniyah atau Ummu Abdillah ketika mendapati e-mail kami bergegas menghubungi kami dengan sok memberi nasehat yang isi nasehatnya berupa tuduhan dusta, ketika kami memperingatkannya untuk jangan menghubungi kami (karena tidak selayakanya istri orang coba-coba menghubungi anak orang lain) dan kami memperingatkannya agar jangan masuk fitnah; dengan memberikan dua pilihan kalau ingin selamat silahkan urusi tanggung jawabmu sebagai seorang ibu rumah tangga, sibukan diri dengan tanggung jawab keluarga dan ilmu serta ibadah. Dan kalau ingin binasa silahkan masuk dalam fitnah hizbiyyah Abdurrohman Al-Adeniy! maka dengan pilihan itu ternyata malah membuatnya semakian menjadi-jadi dan terus bersemangat menyerang kami “maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga)“, Kemudian dari situ mulailah menuduh kami dengan berbagai tuduhan, mulai dari tudahan maling intelektuil (mencuri terjemahan Dzulqarnain), dan mengkampanyekan kami jijik dan terakhir berani mendustakan dirinya bahwa dia adalah wanita haraki dengan menyebarkan di internet tentang aib kami dengan cara pendustaan dan pemutar balikan fakta namun secara tidak dia sadari ternyata membongkar aibnya sendiri, kemana kawan-kawan kuliahnya yang menjadi saksi atas kedustaannya? Kemudian dengan melihat upaya yang begitu luar biasa maka kami memberinya gelar Kuntilanak, itu disebabkan perbuatannya dia semisal Kuntilanak, yang berupaya membongkar aib-aib kami dengan cara dusta dan licik yang sudah terkubur, namun sayang ketika dia melihat tanah yang meninggi seolah-olah kuburan maka dia dengan semangatnya langsung menggali tanah itu mengiranya itulah kuburan mayat (aib) kami untuk dia santap habis namun karena tidak ada yang didapati maka dia berani berdusta dan bercerita tentang aib kami dengan memutar balikan fakta, dalam rangka membela silumannya, sungguh Allah ta’ala telah berkata:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ [الحجرات/12]

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan buruk sangka (kecurigaan), karena sebagian dari buruk sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (Al-Hujarat: 12).

Dan tidak ada seorangpun dari manusia yang suka memakan mayat 

Komentar III:

Orang yang berakhlaq adalah orang yang lembut dan halus tutur katanya! Dan bisa bergaul dan diterima di mana saja dan kapan saja!

Tanggapan:

Demikian itu merupakan wawasan yang dibangun di atas perasaan dan merupakan pandangan yang sempit serta impian yang memiliki jangkauan luas, sekadar contoh JT (Jama’ah Tabligh), siapa yang tidak kenal JT? Hampir kalangan awam mengenal mereka dan kagum dengan kelembutan dan tutur kata mereka, mereka menampakan di hadapan manusia kalau mereka paling penyabar, khuruj (keluar keliling) disakiti, diejek dan sebagainya mereka sabar. Namun coba anda sewaktu-waktu menjelaskan kesesatan, kesyirikan, kebid’ahan dan serta jelaskan kitab pusaka mereka Fadhilah ‘Amal maka akan tampak watak asli mereka. Ucapan kasar, keji, celaan, cacian dan bahkan ancaman fisik akan mengenaimu, tidak sekali atau dua kali tapi sudah banyak kali kejadian dan bahkan kami mendengarkan mereka mengatakan: Salafy adalah musuh kita!.

Begitu pula realita membuktikan bahwa betapa banyak para penggemar proposal, tukang minta-minta dan para pengemis tampak kelembutan dan tutur kata mereka yang halus dalam melaksakan aktivitasnya, dengan kelembutan dan tutur kata yang manis mereka mampu menyihir para muhsinin, sungguh perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

﴿إِنَّ مِنَ الْبَيَانِ سِحْرًا ، وَإِنَّ فِي الشِّعْرِ حِكْمَةً

Sesungguhnya penuturan itu adalah sihir, dan sesungguhnya syi’r adalah hikmah“. Apakah kemudian orang-orang semisal mereka itu dikatakan orang yang berakhlaq mulia?!

 

Komentar III:

Telah kita lihat makalah-makalah yang dikirimkan isinya hanya pemecah-belahan persatuan dan menjadikan ukhuwah koyak, informasi-informasi yang berkaitan dengan itu pun miring-miring. Yang seyogyanya seseorang itu menjadi penyebab kebaikan dan menyeru kepada kemaslahatan serta memberi maslahat kepada orang lain juga memperhatikan kemaslahatan ikhwah dan ukhuwah!.

Tanggapan:

Perkara yang sudah diketahui sebelumnya bahwa keberadaan orang-orang yang berada di atas al-haq itu akan menjadi penyebab terpisahkannya antara orang-orang yang jelek dengan orang-orang yang shalih, karena sudah merupakan ketentuan bahwa kebenaran tidak akan pernah bersatu dengan kesesatan, dari Ibnu ‘Umar Rodhiyallohu ‘anhu, beliau berkata: Berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

}لاَ يَجْمَعُ اللهُ هَذِهِ الأُمَّةُ عَلَى الضَّلاَلَةِ أَبَدًا{ وَقَالَ : }يَدُ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ {

Allah tidak akan menyatukan umat ini di atas kesesatan selama-lamanya”. Dan beliau berkata: “Tangan Allôh bersama al-jama’ah”}فَذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ { [يونس/32].

Maka (Dzat yang demikian) itulah Allôh Rabb kalian yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimana kalian dipalingkan (dari kebenaran) .” (Yunus: 32).

Demikian adanya anggapan dan sifat percaya diri dalam semangat memberi kebaikan atau syafa’at ke orang lain, dengan upaya seperti itu sangat dikhawatirkan dia dengan metode batil dan prilaku penyelewengan justru menyeru kepada kejelekan dan kemudharatan, bagaimana mungkin dikatakan menyeru kebaikan atau memberi syafa’at kepada orang lain sementara pemberian syafa’at itu diperoleh secara batil, sekadar contoh: Memberi dana kepada orang lain atau memberi untuk pembangunan masjid dan ma’had dengan hasil proposal (minta-minta) atau dengan hasil riba (bunga Bank) maka itu bukan memberi kebaikan tapi memberi kotoran dan keterpurukan. Begitu pula seseorang mengaku menyeru kepada kebaikan dan mengaku berda’wah kepada Allah Ta’ala namun ternyata menjerumuskan kepada kesesatan hizbiyyah atau mengajak manusia untuk berjihad (sebagaimana du’at LJ dulu), namun ternyata mengarahkan dan menjerumuskan mad’u kedalam faham dan tindakan khowarij, maka perumpamaan mereka itu seperti Iblis dan syaithan, Allah Ta’ala berkata:

﴿فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آَدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَا يَبْلَى (120) فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآَتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ وَعَصَى آَدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى (121) [طه/120-122].

“Kemudian syaithan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?” Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Rabb dan sesatlah ia kemudian Robbnya memilihnya. Maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk”. (Thohaa: 120-122).

Demikianlah petunjuk dan akhlaq jelek iblis dan syaithan serta orang-orang yang mengikuti jejaknya, adapun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikut setianya adalah paling bagus akhlaqnya dan paling bagus petunjuknya, diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhariy dalam “Shohihnya” (no. 6849) bahwa Abdullah Rodhiyallohu ‘anhu berkata:

﴿إن أحسن الحديث كتاب الله وأحسن الهدي هدي محمد صلى الله عليه و سلم وشر الأمور محدثاتها و {إن ما توعدون لآت وما أنتم بمعجزين}.

Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah (Al-Qur’an) dan sebaik-sebaik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan. {Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu sekali-kali tidak sanggup menolaknya}“.

1.2 Vonis Miring Terhadap Ash-Shhabul Jam’iyah!

Komentar IV:

Abul ‘Abbas dengan mudahnya menjuluki Luqman bin Muhammad Ba’abduh dan menjuluki du’at yang membela jam’iyat sebagai penjilat dan pengalap berkah yayasan!

Tanggapan:

Adapun penyebutan kami seperti itu dikarenakan kejujuran mereka mengakuinya sendiri, sebagaimana Asyakri bin Jamaluddin Al-Bughisiy dengan penuh percaya diri mengatakan: “Mendulang berkah dengan membikin Yayasan Salafiyyah” terus apa yang didulang dari yayasan? Tidak lain adalah harta, sebagaimana dia sebutkan sendiri: supaya mendatangkan masyayikh ke Indonesia! Kami katakan iya itu salah satunya! Diantaranya pula supaya bisa umroh atau keliling ke Saudi Yaman atas da’wah, terus dari mana itu semua kalau bukan dari proposal (minta-minta) atas nama yayasan?!

Adapun julukan yang kami berikan kepada mereka seperti karena kami memiliki dasar dari As-sunnah Ash-Shohihah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling terbaik akhlaqnya telah memerintahkan shahabat yang mulia Salman Al-Farisiy untuk mengisahkan riwayat hidupnya kepada para shahabat, maka Salman mengisahkannya, diantara kisahnya beliau Rodhiyallohu ‘anhu menjelaskan keadaan uskup (guru)nya bahwa gurunya tersebut mengajak umat untuk bersedekah ternyata hasil sedekahnya dipakai untuk kepentingan isi perutnya dan menunmpuknya untuk kepentingan pribadinya, maka Salman mencelanya dan begitu pula umatnya mencela uskup tersebut setelah diberitahu oleh Salman tentang akhlaq jeleknya, maka jenazah sang uskup tadi di salib dan dilempari batu oleh kaummnya. (Lihat Kisah Shohihnya dalam kitab “Ash-Shohihul Musnad Mimma Lasia fish Shohihain Lil Imam Al-Wadi’iy; Juz. 1, hal. 267-272, no. hadits 440).

Komentar V:

Memang Abul ‘Abbas itu tidak berakhlaq sama sekali masa ustadz kita; ustadz Luqman, Afifudin, Sarbini dan ustadz Asyakri serta yang bersama mereka dibilang ustadz kabair, dunguh, ruwaibidhah, jahil dan bodoh, pada terkhusus ustadz Luqman itusudah jadi syaikh, diakui oleh syaikh Abdullah (Al-Mar’i) juga syaikh Kholid tapi Abul ‘Abbas anggap dia sepsh-Shohihul Musnad, bukankah syaikh Muqbil rahimahullah dalam kitab tersebut bahwasanya minta-minta itu termasuk dosa besar (kabair)? Bukankah dengan mengemisnya mereka itu sudah layak disebut pelaku dosa besar? Belum lagi dosa lainnya yang telah mereka lakukan dulu, yang keji dan mengerikan (baca; LJ) juga kedustaan dan tipu muslihat mereka itu bukanlah suatu dosa yang ringan atau kecil tapi itu adalah dosa besar. Di riwayatkan oleh Imam Bukhari dalam “Shahihnya” (no. 5977) dari Anas bin Malik Rodhiyallohu ‘anhu beliau berkata:

ذَكَرَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – الْكَبَائِرَ ، أَوْ سُئِلَ عَنِ الْكَبَائِرِ فَقَالَ « الشِّرْكُ بِاللَّهِ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ » . فَقَالَ « أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ – قَالَ – قَوْلُ الزُّورِ – أَوْ قَالَ – شَهَادَةُ الزُّورِ ».

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan tentang dosa besar atau ditanya tentang dosa besar maka beliau berkata: “Syirik kepada Allah, membunuh jiwa, durhaka kepada kedua orang tua“. Lalu berkata lagi: “Maukah aku kabarkan kepada kalian dosa besar yang paling besar?” Lalu beliau berkata: “(yaitu) perkataan dusta (palsu) atau persaksian palsu“.

Adapun tentang kebodohan dan kedunguan mereka, maka layak mereka menyandangnya karena ketika orang itu waras dan sehat akalnya maka tidak akan condong menjerumuskan dirinya kedalam dosa besar atau dosa kecil, hanyalah orang yang dungu dan para pengikut hawa nafsu yang sudah tahu dosa akan tetapi masih saja cemplung di dalamnya sungguh benar perkataan sebagian salaf sebagaimana dalam “Tafsir Ibnu Katsir” (4/408):

كل من عصى الله فهو جاهل، وقرأ: { ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ عَمِلُوا السُّوءَ بِجَهَالَةٍ } إلى قوله: { إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ } [النحل: 119].

“Setiap yang bermaksiat kepada Allah maka dia adalah bodoh, lalu membaca ayat: “Kemudian, Sesungguhnya Rabbmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya” Sampai perkataan-Nya: “Sesungguhnya Rabbmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“. [An-Nahl: 119].

BAB II

ORANG YANG TIDAK BERAKHLAQ DAN PEMECAH BELA SUKANYA BERKATA KASAR, PEDAS DAN MENYAKITKAN

Seandainya ada yang mengatakan seperti pada judul Bab II ini secara mutlak (tanpa ada rincian) maka sungguh jelas kalau dia adalah orang yang tidak berakhlaq dan bodoh terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Sohihah serta manhaj salafush sholih, dan kalaulah benar Kholiiful Hadii mengatakan seperti itu maka kami terangkan lagi: Bahwa wajar dia berkata begitu, karena latar belakangnya mendukung keberadaannya, ketika dia di Dammaj rajin keluar masuk maktabah (perpustakaan) dan menyibukan diri pada bidang lughoh (bahasa Arob) dan fiqih serta ushulnya (namun ternyata didapati sebagian fiqihnya miring) dan ketika di Dammaj dia menjadikan bidang manhaj dan aqidah shohihah hanya sebagai sampingan jadi wajar kalau didapati sebagian aqidahnya terdapat kesalahan atau didapati manhajnya terpuruk. Dia sebenarnya sudah merasa kalau dirinya seperti itu, sebagaimana dia katakan sendiri: Ana ingin belajar lagi, tapi ana ingin belajar di Saudi!

Mungkin akan ada yang bertanya: Kenapa harus milih belajar ke Saudi? kenapa tidak ke Dammaj saja? Maka kemungkinan jawabannya: Supaya seperti Dzulqarnain bisa cari dana (ajukan proposal) sambil belajar. Atau mungkin jawabannya seperti perkataan ahlu ilmi: “Kalau mau (makan) daging ke Saudi, kalau mau ilmu ke Dammaj!”.

Banyak orang tidak mau ke Dammaj karena lantaran di Dammaj hidup dan kebutuhan apa adanya, atau karena lantaran dia majruh (dikritik) maka dia takut ke Dammaj. Atau karena di Dammaj tegas mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengharomkan minta-minta jadi takut tidak boleh lagi ajukan proposal (minta-minta).

Tanggapan judul Bab II:

Tidak ada kebimbangan dan keraguan lagi bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum diangkat sebagai rasul dipercaya sebagai orang yang terbaik dan berakhlaq terpuji, sebagaimana disebutkan oleh Ummul Mu’minin Khodijah Rodhiyallohu ‘anha tentang akhlaq dan prilaku Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  dan diakui oleh siapa saja (Lihat Shohihul Bukhoriy, no. 3, 6982) dan bahkan ketika itu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dijuluki dengan “Al-Amin”, namun ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diangkat sebagai rasul, Allah Ta’ala perintahkan supaya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi peringatan, sebagaimana perkataan-Nya:

﴿يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2)﴾ [المدثر/1، 2]

“Hai orang yang berselimut! Bangkitlah dan berilah peringatan!”. (Al-Mudtatsir: 1-2). Ketika rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai memberi peringatan dan mulai menjarh (mengkritik atau mencela) sesembahan-sesembahan dan tokoh-tokoh sesat semisal Abu Lahab (yang celaan terhadapnya ada dalam satu surat dalam Al-Qur’an) maka mulailah disirnakan julukan yang bagus tadi dari diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka ganti julukan itu dengan tukang sihir, pendusta, gila dan sesat serta julukan-julukan jelek lainnya, tidak ada sama sekali pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan dengan ketegasan dan keberanian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengatakan al-haq membuat kaum musyrikin kepedasan telinganya ketika mendengarkan suara dan tahdziran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membuat hati mereka merintih kesakitan, maka kemudian mereka membuat banyak makar untuk menghinakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan serta mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pemecah belah persatuan kaum Quraisysy dan ucapan yang semisal itu. Maka kami katakan: Memang benar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memecah belah (memisahkan) manusia antara yang baik dan yang jelek, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhoriy dalam “Shohihnya” (no. 7281) dari Jabi bin ‘Abdillah bahwa:

﴿محمد صلى الله عليه و سلم فرق بين الناس

“Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam membedakan (memisahkan) manusia”.

Berkata Asy-Syaikh An-Nashih Al-Amin Yahya bin ‘Ali hafidzahullah: Yaitu memisahkan manusia antara yang sholih dengan manusia yang jelek, antara yang kafir dan mu’min”.

 

PENUTUP

Demikian tulisan yang singkat dan sederhana ini sebagai tanggapan ringkas terhadap kerancuan-kerancuan dan pola pikir yang miring, serta sebagai tantangan untuk para komentator, adapun dalil-dalil yang sedikit meluas yang berkaitan dengan masalah ini telah kami singgung dalam kitab “An-Nuktatus Suada’ fii Quluubis Sufaha’” edisi revisi yang terbaru.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم والحمد لله.

Selesai ditulis oleh Al-Faqir Ilallah Abul ‘Abbas Khidhir Al-Mulkiy, di Darul Hadits Dammaj-Sho’da-Yaman pada hari Sabtu menjelang azan Zhuhur/4 Sya’ban 1430 H.

 

12 comments
  1. abuhanif said:

    IBARAT ULAR

    Ustadz Firanda Andirja, Lc., MA

    Manhaj ekstrim tahdzir ibarat ular yang kelainan yang memakan dirinya sendiri… Tatkala ia tidak menemukan makanan yang lain maka iapun memakan dirinya sendiri… Jika ia telah habis mentabdi’ yang lain maka ia akan mentabdi’ anggotanya sendiri…

    Jika ia telah selesai mentahdzir yang lain maka ia akan mentahdzir anggotanya sendiri… Mereka yang suka mentabdi’ akhirnya juga kena tabdi’… Mereka yang suka mentahdzir akhirnya pun kena tahdzir…

    Dan sungguh merupakan hukuman Allah yang menyakitkan jika ternyata yang mentahdzir adalah sahabat sendiri…apalagi sahabat yang selama ini ia bela… Lebih menyakitkan lagi jika yang mentahdzir adalah guru pujaan… Sebagaimana gurupun merasa sedih jika murid yang selama ini ia didik ternyata mentabdi’nya… Sang guru ternyata telah memelihara macan yang akan menyerangnya…

    Jika anda bangga dengan manhaj seperti ini… Anda bangga dan merasa berpahala tatkala mentabdi’ dan mentahdzir saudara anda…coba renungkan apakah anda sekarang sudah ditahdzir? Kalau belum, maka tunggulah…akan datang saatnya…!

    Jika anda hobi mencari-cari kesalahan saudara anda sebagai bahan tahdzir dan tabdi’ maka tunggulah…akan datang saatnya…!

    الجزاء من جنس العمل Balasan sesuai dengan jenis perbuatan…

    Suka

  2. ooh…
    bukannya wa’alaikumussalam ya…
    afwan ya maklum ni blom paham banget untuk bahasa arab…
    sekali lagi afwan klo dah mengganggu antum

    Suka

    • Sa'iid Abu Ibrohiim said:

      kalau satu orang laki-laki Wa’alaikassalaam
      kalau dua orang laki-laki wa ‘alaikumassalaam
      kalau lebih dari dua orang laki2 wa’alaikumsalaam
      kalau satu orang wanita wa’alaikissalaam
      kalau dua orang wanita wa’alaikumassalaam sama juga dua laki2
      kalau lebih dari dua wanita wa’alaikunnasssalaam, wallohu ta’ala a’lam

      Suka

  3. afwan….
    “wa ‘alaikissalaam warahmatulloh”
    apa antum salah nulis ato ana yg blom tau cara balas salam ini…
    afwan

    Suka

    • Sa'iid Abu Ibrohiim said:

      afwan ana kira antum wanita, na’am ana ralat wa’alaikassalaam warohmatulloh wabarokatuh

      Suka

  4. assalamu’alaikum
    salam kenal

    Suka

    • Sa'iid Abu Ibrohiim said:

      wa ‘alaikissalaam warahmatulloh

      Suka

  5. fadhil muhammad said:

    Jadi bagaimana dengan. Ustadz Zulkarnaen..!! apakah beliau bisa digolongkan sbg Hizbiy karena telah meminta-minta sprti Dengan mengajukan proposal [minta dana] di saudi..??

    Suka

    • Sa'iid Abu Ibrohiim said:

      Kalau memang beliau seperti itu dan tidak mau bertaubat maka bisa dikatakan hizby, wallohu ta’ala a’lam.

      Suka

      • fadhil muhammad said:

        Tapi sepulang dari Saudi Beliau tidak pernah Mendirikan yayasan.. organisasi dan lain macam sebagainya.. beliau hanya memimpin pondok Assunnah.!! itu yang sy tahu..!! adapun yg menyatakan bhw beliau mengajukan proposal di saudi sambil belajar seperti dalam artikel diatas.. sy belum mengetahui kebenarannya!!

        Suka

        • Sa'iid Abu Ibrohiim said:

          Di assunnah Makassar Baji rupa ada yayasan namanya Yayasan Markiz anasyiid al-islamy.

          Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: