JAWABAN RINGKAS

Bismillaahirrohmaanirrohiim

JAWABAN RINGKAS

JADIKAN PERMASALAHAN TUNTAS

Jawaban Atas Pertanyaan Saudara fillah Nurijas

Ditulis oleh:

Abul Abbas Khidhr bin Nursalim Al-Limboriy Al-Mulkiy

-Semoga Allah menjaga dan mengokohkannya-

DARUL HADITS DAMMAJ-SHA’DAH-YAMAN

1432 H.


بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدا وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له إقرارا به وتوحيدا وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم تسليما مزيد .أما بعد :

Berikut ini beberapa pertanyaan dari saudara fillah Abu Zaid Nurijas bin Jamalius bin Abdul Majid –semoga Allah menjaga dan memperbaiki keadaannya-.

 

Pertanyaan Pertama:

Bagaimana kedudukan riwayat: Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam suatu hari kedatangan tamu, ketika tidak mendapatkan sesuatu untuk disuguhkan maka Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam menanyakan kepada para shahabat yang mempunyai kesanggupan untuk menjamu/menunaikan hak tamu tersebut?

 

Jawaban:

Adapun masalah kedudukan hadits tersebut maka dia adalah termasuk dari hadits-hadits shahih, dan hadits tersebut terdapat di dalam “Ash-Shahihain”.

Adapun di dalam “Ash-Shahih” maka Al-Imam Al-Bukhariy –semoga Allah merahmatinya- telah berkata:

باب قول الله {ويؤثرون على أنفسهم ولو كان بهم خصاصة}.

Bab perkataannya Allah: “Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan”. (Al-Hasyr: 9).

Kemudian beliau –semoga Allah merahmatinya- membawakan haditsnya, beliau –semoga Allah merahmatinya- berkata: “Telah menceritakan kepada kami Musaddad, beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dawud dari Fudhail bin Ghazwan dari Abu Hazim dari Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya-:

أن رجلا أتى النبي صلى الله عليه و سلم فبعث إلى نسائه فقلن ما معنا إلا الماء فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم (من يضم أو يضيف هذا). فقال رجل من الأنصار أنا فانطلق به إلى امرأته فقال أكرمي ضيف رسول الله صلى الله عليه و سلم فقالت ما عندنا إلا قوت صبياني فقال هيئي طعامك وأصبحي سراجك ونومي صبيانك إذا أرادوا عشاء. فهيأت طعامها وأصبحت سراجها ونومت صبيانها ثم قامت كأنها تصلح سراجها فأطفأته فجعلا يريانه أنهما يأكلان فباتا طاويين فلما أصبح غدا إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال (ضحك الله الليلة أو عجب من فعالكما). فأنزل الله {ويؤثرون على أنفسهم ولو كان بهم خصاصة ومن يرق شح نفسه فأولئك هم المفلحون}.

“Bahwasanya ada seseorang datang kepada Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah menghubungi istri-istrinya, maka istri-istrinya berkata: “Tidak ada pada kami sesuatu kecuali air. Lalu Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam berkata (kepada para shahabatnya): “Siapa yang mau mengambil atau menjamu (tamuku) ini?” Maka berkatalah seseorang dari kalangan Anshar: “Saya”. Kemudian dia pergi bersamanya ke istrinya lalu berkata: “Muliakanlah tamu Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam! Istrinya berkata: “Tidak ada apa-apa pada kita kecuali makanan untuk anak-anak kecil kita”. Dia berkata: “Siapkan makananmu, nyalakan lampumu, tidurkan anak-anakku, jika mereka ingin makan malam maka siapkanlah makanannya dan nyalakan lampunya dan tidurkan anak-anakku kemudian kamu berdiri seakan-akan kamu memperbaiki lampu lalu kamu matikan lampu tersebut, keduanya berbuat seakan-akan sedang makan. Keduanya tidur dalam keadaan lapar yang sangat. Maka tatkala pagi hari dia pergi ke Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam, Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam berkata: “Allah tertawa pada malam itu atau Dia kagum terhadap apa yang kalian berdua kerjakan”. Maka turunlah ayat: “Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan”. (Al-Hasyr: 9).

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Al-Imam Muslim –semoga Allah merahmatinya-. Dan di dalam “Shahih Muslim” Al-Imam An-Nawawiy –semoga Allah merahmatinya- telah membuat bab khusus tentang masalah ini, beliau –semoga Allah merahmatinya- berkata:

باب إِكْرَامِ الضَّيْفِ وَفَضْلِ إِيثَارِهِ.

“Bab memuliakan tamu dan keutamaan mendahulukan tamu daripada diri sendiri”.

Sebagian orang menjadikan hadits tersebut sebagai dalil untuk membolehkan perkara harom semisal minta-minta. Mereka mengatakan bahwa hadits tersebut Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam meminta kepada para shahabatnya untuk menjamu tamunya.

Sebagai tanggapan maka kami katakan: Allah Ta’ala mengutus Rasul-Nya Shallallohu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat untuk semesta alam sebagaimana perkataan-Nya dalam surat Al-Anbiya’:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ.

Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan sebagai rahmat untuk semesta alam”. Dan beliau Shallallohu ‘alaihi wa sallam memiliki kekhususan-kekhususan dalam perbuatan yang tidak boleh bagi seorang pun dari umatnya melakukan perbuatan tersebut.

Kedudukan beliau Shallallohu ‘alaihi wa sallam di atas umatnya bagaikan seorang bapak kepada anak-anaknya. Kapan seorang bapak membutuhkan harta anaknya-anaknya maka boleh baginya untuk meminta harta tersebut, di dalam “Sunan Ibnu Majah” dari hadits Jabir bin Abdillah –semoga Allah meridhainya- dengan sanad shahih bahwa Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam berkata:

أَنْتَ وَمَالُكَ لِأَبِيكَ

“Kamu dan hartamu milik bapakmu!”.

Hadits tersebut diriwayatkan pula oleh Al-Imam Ahmad di dalam “Musnad”nya dari ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya.

Dari hadits tersebut sangatlah jelas dan gamblang bahwa seorang bapak bila membutuhkan harta anak-anaknya maka boleh baginya mengambil atau meminta kepada anak-anaknya.

Dari hadits tersebut jelaslah bahwa tidak halal bagi seseorang yang melakukan suatu amalan yang mana amalan tersebut sebagai kekhususannya Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam.

Pada umat ini yang telah berani tampil menduduki posisi seolah-olah sebagai bapaknya umat adalah para hizbiyyin, kebanyakan dari mereka meminta-minta kepada mad’u (obyek dakwah)nya dengan alasan ta’awun (kerja sama), diantara dalil mereka adalah hadits tersebut. Tidak heran ketika tokoh sesat mereka Abdullah Al-Mar’iy dan Abdullah Al-Bukhariy diundang ke Indonesia maka bangkitlah dari mereka meminta-minta kepada mad’u, hal ini sebagaimana kami saksikan sendiri di salah satu masjid di kota Jakarta, ketika Muhammad Umar As-Sewed mengisi daurah, seusai daurah bangit salah seorang panitia meminta sumbangan guna terselenggarakannya daurah bersama dua tokoh sesat tersebut.

Bila ada yang berkata As-Sewed tidak bisa dimasukan dalam perbuatan tersebut karena dia hanya sekedar mengisi muhadharah! Maka kami katakan: Bahkan dialah termasuk biangnya, dialah otak penggeraknya! Di masjidnya (Ma’had Dhiya’us Sunnah) Cirebon mereka meletakan kotak infaq bahkan ketika mereka membangun gedung untuk ma’had anak-anak (setingkat SMP), ketika itu yang belum jadi adalah lantainya dan mereka merencanakan lantainya adalah keramik karena kehabisan dana, seusai kajian umum As-Sewed berdiri lalu duduk di atas mimbar dan meminta para hadirin untuk berinfaq kemudian berdiri dua orang dari pengurus mengadahkan kantong kecil di hadapan orang-orang yang hadir, orang-orang pun akhirnya berinfaq (praktek batil seperti ini jika mereka ditanya tentu jawabannya dengan dalil hadits yang akan disebutkan pada jawaban pertanyaan kedua).

Dari kejadian tersebut tampak As-Sewed seolah-olah berkedudukan sebagai seorang bapak terhadap anak-anaknya. Ini salah satu bentuk kelancangan dan kekurangajarnya mereka terhadap syari’at, mereka sok-sok mau menempati kedudukan yang khusus untuk para nabi dan rasul.

Sungguh orang semisal As-Sewed ini begitu pula kawan-kawannya seperti Luqman Ba’abduh Cs jika mereka ingin berlagak atau sok-sok setingkat dengan ulama’ maka sungguh sangat memalukan! Lalu bagaimana kiranya kalau mereka tampil beda mau menempati kekhususan para nabi dan rasul maka sungguh sifat kegilaan telah menguasai mereka.

 

Pertanyaan Kedua:

Riyawat lain: Suatu hari Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan lapar maka beliau menanyakan kepada para shahabat: Apakah mempunyai sesuatu untuk dimakan?. Atau riwayat lain yang menyebutkan pada khutbah shalat shalat ‘ied Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam menyampaikan nasehat kepada kaum wanita dan mengingatkan mereka banyak bersedekah kemudian ada diantara shahabat yang datang mengumpulkan sedekah tersebut.

 

Jawaban:

Di dalam “Ash-Shahihain” dari Abdurrahman bin Abu Bakar Ash-Shiddiq –semoga Allah meridhainya-, beliau berkata: “Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam berkata:

«هَلْ مَعَ أَحَدٍ مِنْكُمْ طَعَامٌ».

Apakah ada salah seorang dari kalian memiliki makanan?”.

Adapun riwayat yang menyebutkan pada khutbah shalat shalat ‘ied Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam menyampaikan nasehat kepada kaum wanita dan mengingatkan mereka banyak bersedekah maka dia adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhariy dalam “Shahih”nya, yang riwayat tersebut sangatlah banyak di dalam “Ash-Shahih”. Dan Al-Imam Al-Bukhariy –semoga Allah merahmatinya- telah membuat bab khusus yaitu:

باب التحريض على الصدقة والشفاعة فيها

“Bab dorongan untuk bersedekah dan syafaat untuk bersedekah”.

Setelah penyebutan bab tersebut Al-Imam Al-Bukhariy –semoga Allah merahmatinya- berkata: “Telah menceritakan kepada kami Muslim, beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Adiy dari Sa’id bin Jubair dari Abdillah bin ‘Abbas –semoga Allah meridhai keduanya-, beliau berkata:

خرج النبي صلى الله عليه و سلم يوم عيد فصلى ركعتين لم يصل قبل ولا بعد ثم مال على النساء ومعه بلال فوعظهن وأمرهن أن يتصدقن فجعلت المرأة تلقي القلب والخرص.

“Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam keluar (ke lapangan) pada hari ‘ied lalu shalat dua rakaat, beliau tidak shalat sebelum dan setelahnya kemudian beliau beranjak bersama Bilal kepada para wanita lalu menyampaikan ceramah dan memerintahkan mereka untuk bersedekah, maka para wanita pun melemparkan gelang dan anting-anting”.

Di dalam “Ash-Shahih” juga pada “Kitab Al-Ilmi” pada:

باب عظة الإمام النساء وتعليمهن

“Bab pemberian nasehat seorang imam kepada para wanita dan mengajari mereka” dengan lafazh:

المرأة تلقي القرط والخاتم وبلال يأخذ في طرف ثوبه

“Para wanita melemparkan gelang dan cincin dan Bilal mengambil dengan sisi bajunya”.

 

Pertanyaan Ketiga:

Apakah sama keadaan Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam yang meminta kepada manusia dengan keadaan manusia yang meminta-minta dimana hal terakhir ini sangat tercela, sebagaimana riwayat-riwayat telah menyebutkan keadaan orang yang mencari kayu bakar di hutan kemudian menjualnya adalah lebih baik?

 

Jawaban:

Telah lewat penjelasannya pada jawaban dari pertanyaan pertama. Namun sebagai tambahan maka cukuplah kitab Al-Imam Al-Wadi’iy –semoga Allah merahmatinya- yang berjudul “Dzammul Mas’alah” sebagai penjelas tentang tercela dan haromnya minta-minta.

Adapun yang mengerti tentang kedudukan dan keadaan dirinya sebagai manusia biasa yang dia bukan dari kalangan para nabi terhadap umat-umatnya, yang kedudukannya seperti bapak terhadap anak-anaknya maka mereka tidak meminta-minta kepada manusia, Allah Ta’ala berkata dalam surat Al-Baqarah:

لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا.

“Mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak”.

Walaupun para nabi memiliki kekhususan yang mereka kedudukannya di atas umat-umatnya bagaikan seorang bapak terhadap anak-anaknya namun mereka tidak bergantung kepada umatnya, mereka senantiasa menjaga ‘iffah. Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam sangat banyak ditimpa kelaparan namun beliau bersabar sampai para shahabatnya mengetahui bahwa beliau Shallallohu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan lapar yang dilihat dari wajahnya, kisah tentang ini terdapat dalam banyak hadits di dalam “Shahih Muslim” pada “Kitab Al-Ath’imah”.

Mereka para nabi tidak bergantung kepada pemberian (hadiah) dari umatnya akan tetapi mereka juga bekerja, ada dari mereka mengembala kambing, ada pula yang berdagang dan ada pula menjadi penguasa yang mengurusi negara. Begitu pula dari kalangan salafush shalih diantaranya Luqman Al-Hakim bekerja sebagai pengembala dan bahkan ada dari para imam yang mereka bekerja dan mereka tidak mau menerima upah dari menyampaikan hadits dan mengajarkan ilmu syar’iy kepada umat diantara mereka adalah Al-Imam Ahmad bin Hanbal –semoga Allah merahmatinya-.

Lihatlah keadaan para imam diantaranya Al-Imam Ahmad –semoga Allah merahmatinya- beliau tidak mau menerima upah dalam keadaan upah yang diberikan tersebut tidak jelas pemberinya diperoleh dari harta halal atau harta harom? Lalu bagaimana kiranya kalau mereka tahu bahwa upah yang diberikan tersebut ternyata diperoleh dari cara yang harom semisal minta-minta atau diperoleh dari hasil korupsi maka tentu mereka lebih tidak mau menerimanya. Hal ini berbeda dengan para hizbiyyin, mereka bersengaja mengemis, kalau mereka kesulitan mengemis atau mereka mengemis tidak mendapatkan dana maka merekapun menempuh cara lain yang terlihat lebih legal yaitu dengan mendirikan yayasan yang kemudian mereka membuat agenda kerja dan membuat program rencana ke depan mulai dari membangun sekolah sehingga nanti para pengajarkan mendapatkan upah (gaji) rutinan setiap bulannya. Atau yayasan tersebut merencanakan mengadakan bursa kerja, ketrampilan, berkarya atau bisnis yang kemudian mereka mencetak ratusan bahkan ribuan proposal untuk disebarkan ke masyarakat umum guna terlaksananya kegiatan mereka tersebut.

 

Pertanyaan Keempat:

Ataukah hal itu sama dengan tasawwul, yang menjadi perhatian bagi saudara-saudara kita akhir-akhir ini?

Telah lewat penjelasannya pada jawaban dari pertanyaan pertama.

Al-Hamdulillah selesai dijawab pada malam selasa 6 shafar 1432 Hijriyyah di ghurfah saudara kami Abu Zakariya’ Irham Al-Jawiy –semoga Allah menjaganya-.

 

Iklan

Penulis: Abu Ibrohim (Admin kebenaranhanya1 (thetruthonly1))

Ingatlah bahwa tiada yang berhak disembah selain Allah

8 thoughts on “JAWABAN RINGKAS”

  1. syukron atas ilmunya. juga atas kunjungannya di blog ana.
    ijin copy dan link ke blog ana ya.

    yulmaida al manthani

    Suka

    1. A L – B A Q A R A H

      2:268. Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

      Suka

    1. A L – N A H L

      16:93. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.

      Suka

  2. Sa’iid Abu Ibrohiim@

    Ente hobby aja kutip ayat, tapi asal njeplak. Penempatannya tidak cocok alias ngawur ente.

    Coba jelaskan apa kaitan antara ayat yg ente kutip (16:93) itu dg komentar yg disampaikan oleh kasatrianstks di atas itu. Penjelasannya ya?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s