Menta’ati penguasa dalam perkara ma’ruf (selain bid’ah dan maksiat)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memerintahkan kita untuk mentaati pemimpin (dalam perkara yang ma’ruf/ selain bid’ah dan maksiat), bersabda beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :

ﻋَﻦْ ﺃﹶﻧَﺲٍ  ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﷲِ :  ﺍِﺳْﻤَﻌُﻮﺍ ﻭَﺃﹶﻃِﻴْﻌُﻮﺍ، ﻭَﺇِﻥْ ﺍِﺳْـﺘَﻌْﻤَﻞَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻋَﺒْﺪٌ ﺣَﺒَﺸِﻲ، ﻛَﺄﹶﻥّ ﺭَﺃﹾﺳَﻪُ ﺯَﺑِﻴْـﺒَﺔٌ، ﻣَﺎ ﺃﹶﻗَﺎﻡَ ﻓِﻴْﻜُﻢْ ﻛِﺘَﺎﺏَ ﺍﷲِ ﴿ ﺣﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻓﻲ ﺻﺤﻴﺤﻪ

﴾Dari Anas radliyallahu ‘anhu berkata, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Mendengar dan taatlah kalian walaupun yang memimpin kalian adalah bekas budak dari Habasyah yang kepalanya seperti kismis, selama dia menegakkan Kitabullah di antara kalian.” (HR. Bukhari dalam Shahih-nya)

١٢ -ﻋَﻦْ ﺃﹶﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ  ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﷲِ :  ﻣَﻦْ ﺃﹶﻃَﺎﻋَﻨِﻲ ﻓَﻘَﺪْ ﺃﹶﻃَﺎﻉَ ﺍﷲﹶ، ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻄِﻊِ ﺍْﻷَﻣِﻴْﺮَ ﻓَﻘَﺪْ ﺃﹶﻃَﺎﻋَﻨِﻲ، ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻌْﺺِ ﺍْﻷَﻣِﻴْﺮَ ﻓَﻘَﺪْ ﻋَﺼَﺎﻧِﻲ ﴿ ﺣﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺸﻴﺨﺎﻥ ﴾

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Barangsiapa yang mentaati aku maka dia telah mentaati Allah, barangsiapa yang bermaksiat kepadaku maka ia telah bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa yang mentaati amir/pemimpin maka ia telah mentaatiku, barangsiapa yang bermaksiat kepada amir/pemimpin maka ia telah bermaksiat kepadaku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

ﻋَﻦْ ﺍﺑْﻦِ ﻋُﻤَﺮَ  ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﷲِ : ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢِ ﺍﻟﺴّﻤْﻊُ ﻭَﺍﻟﻄّﺎﻋَﺔُ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺃﹶﺣَﺐّ ﺃﹶﻭْ ﻛَﺮِﻩَ، ﺇِﻻّ ﺃﹶﻥْ ﻳُﺆْﻣَﺮَ ﺑِﻤَﻌْﺼِﻴَﺔٍ ﻓَﻼَ ﺳَﻤِﻊَ ﻭَﻻَ ﻃَﺎﻋَﺔَ ﴿ ﺣﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺸﻴﺨﺎﻥ ﴾

Dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu berkata, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Wajib bagi seorang Muslim untuk taat dalam hal-hal yang dia sukai ataupun yang ia benci kecuali kalau diperintah untuk berbuat maksiat maka tidak boleh mendengar dan taat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

ﻋَﻦْ ﻋَﻮْﻑِ ﺑْﻦِ ﻣَﺎﻟِﻚِ  ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﷲِ :  ﺃﹶﻻَﻣَﻦْ ﻭَﻟِﻲَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺍﻝٍ، ﻓَﺮَﺁﻩُ ﻳَﺄﹾﺗِﻲ ﺷَﻴْـﺌًﺎ ﻣِﻦْ ﻣَﻌْﺼِﻴَﺔِ ﺍﷲِ، ﻓَﻠْـﻴَﻜْﺮَﻩ ﺍﻟّﺬِﻱ ﻳَﺄﹾﺗِﻲ ﻣِﻦْ ﻣَﻌْﺼِﻴَﺔِ ﺍﷲِ، ﻭَﻻَ ﻳَﻨْﺰِﻉَ ﻳَﺪًﺍ ﻣِﻦْ ﻃَﺎﻋَﺔٍ ﴿ ﺣﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ ﻓﻲ ﺻﺤﻴﺤﻪ ﴾

Dari Auf bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Ketahuilah, barangsiapa yang di bawah seorang wali/pemimpin dan ia melihat padanya ada kemaksiatan kepada Allah maka hendaklah ia membenci kemaksiatannya. Akan tetapi janganlah (hal ini menyebabkan) melepaskan ketaatan kepadanya.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)

ﻋَﻦْ ﺣُﺬَﻳْﻔَﺔَ ﺑْﻦِ ﺍﻟْـﻴَﻤَﺎﻥِ  ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﷲِ :  ﻳَﻜُﻮْﻥُ ﺑَﻌْﺪِﻱ ﺃﹶﻋِﻤّﺔٌ، ﻻَ ﻳَﻬْـﺘَﺪُﻭْﻥَ ﺑِﻬُﺪَﻳّﻲ ﻭَﻻَ ﻳَﺴْـﺘَﻨُّﻮْﻥَ ﺑِﺴُﻨّﺘِﻲ ﻭَﺳَﻴَﻘُﻮﻡُ ﻓِﻴْﻜُﻢْ ﺭِﺟَﺎﻝٌ ﻗُﻠُﻮﺑُﻬُﻢْ ﻗُﻠُﻮﺏُ ﺍﻟﺸّـﻴَﺎﻃِﻴْﻦَ ﻓِﻲ ﺟِﺜْﻤَﺎﻥِ ﺇِﻧْﺲٍ، ﻗُﻠْﺖُ : ﻛَﻴْﻒَ ﺃﹶﺻْـﻨَﻊُ ﺇِﻥْ ﺃﹶﺩْﺭَﻛْﺖُ ﺫَﻟِﻚَ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﺗَﺴْﻤَﻊُ ﻭَﺗُﻄِﻊُ ﻟِﻸَﻣِﻴْﺮِ، ﻭَﺇِﻥْ ﺿَﺮَﺏَ ﻇَﻬْﺮَﻙَ ﻭَﺃﹶﺧَﺬَ ﻣَﺎﻟَﻚَ ﴿ ﺣﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ ﻓﻲ ﺻﺤﻴﺤﻪ ﴾

Dari Hudzaifah Ibnul Yaman radliyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :“Akan datang sesudahku para pemimpin, mereka tidak mengambil petunjukku dan juga tidak melaksanakan sunnahku. Dan kelak akan ada para pemimpin yang hatinya seperti hati syaithan dalam jasad manusia.” Maka aku berkata : “Ya Rasulullah, apa yang aku perbuat jika aku mendapati hal ini?” Berkata beliau : “Hendaklah engkau mendengar dan taat pada amirmu walaupun dia memukul punggungmu dan merampas hartamu.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)

ﻋَﻦْ ﺇِﺑْﻦِ ﻋُﻤَﺮَ  ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﷲِ :  ﻣَﻦْ ﺣَﻤِﻞَ ﻋَﻠَﻴْـﻨَﺎ ﺍﻟﺴِّﻼَﺡَ ﻓَﻠَﻴْﺲَ ﻣِﻨّﺎ ﴿ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺸﻴﺨﺎﻥ ﴾

Dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Barangsiapa yang mengacungkan senjata kepada kami maka dia bukan golongan kami.” (Hadits shahih riwayat Bukhari-Muslim)

ﻋَﻦْ ﺍﻟْﻌِﺮْﺑﹷﺎﺽِ ﺑْﻦِ ﺳَﺎﺭِﻳَﺔ  ﻗَﺎﻝَ : ﺧَﻄَﺒَﻨَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﷲِ  ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺍِﺗّﻘُﻮﺍ ﺍﷲﹶ، ﻭَﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟﺴّﻤْﻊِ ﻭَﺍﻟﻄّﺎﻋَﺔِ، ﻭَﺇِﻥْ ﻋَﺒْﺪًﺍ ﺣَﺒَﺸِﻴًﺎ، ﻭَﺇِﻧّﻪُ ﻣَﻦْ ﻳَﻌِﺶْ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻓَﺴَﻴَﺮَ ﺇِﺧْﺘِﻼَﻓًﺎ ﻛَﺜِﻴْﺮًﺍ، ﻓَﻌَﻠَـﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺴُﻨّﺘِﻲ ﻭَﺳُﻨّﺔِ ﺍﻟْﺨُﻠَﻔَﺎﺀِ ﺍﻟﺮّﺍﺷِﺪِﻳْﻦَ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِﻱ ﴿ ﺣﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﻭﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻭﺍﻟﺪﺍﺭﻣﻲ ﴾

Dari Irbadh bin Sariyah radliyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah berkhutbah kepada kami, beliau berkata :
“Bertakwalah kalian kepada Allah, wajib bagi kalian untuk mendengar dan taat walaupun pemimpin kalian adalah budak dari Habasyah. Dan sesungguhnya barangsiapa yang hidup panjang di antara kalian akan melihat perselisihan yang sangat banyak maka wajib bagi kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khalifah yang lurus dan terbimbing sesudahku.” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud, At Tirmidzi, dan Ad Darimi)

ﻋَﻦْ ﻋُﺒَﺎﺩَﺓَ ﺑْﻦِ ﺍﻟﺼّﺎﻣِﺖِ  ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﷲِ :  ﻣَﻦْ ﻋَﺒَﺪَ ﺍﷲﹶ ﻻَ ﻳُﺸْﺮِﻙُ ﺑِﻪِ ﺷَﻴْـﺌًﺎ، ﻭَﺃﹶﻗَﺎﻡَ ﺍﻟﺼّﻼَﺓَ، ﻭَﺁﺗَﻰ ﺍﻟﺰّﻛَﺎﺓَ، ﻭَﺳَﻤِﻊَ ﻭَﺃﹶﻃَﺎﻉَ، ﺩَﺧَﻞَ ﺍﻟْﺠَﻨّﺔَ ﻣِﻦْ ﺃﹶﻱِّ ﺍْﻷَﺑْﻮَﺍﺏِ ﺍﻟﺜّﻤَﺎﻧِﻴَﺔِ ﺷَﺎﺀَ ﴿ ﺣﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺣﻤﺪ ﻭﺍﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻋﺎﺻﻢ ﻭﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻲ ﴾

Dari Ubadah bin Shamit radliyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, mendengar dan taat (kepada amirnya, pent.) maka akan masuk Surga dari pintu mana saja yang ia inginkan dari delapan pintu Surga.” (Hadits shahih riwayat Ahmad dan Ibnu Abi Ashim dan At Tabrani. Dan dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memerintahkan untuk mendengar dan taat itu terhadap penguasa yang jahat sebagaimana terhadap pemerintah yang baik. Hadits-hadits yang telah lalu menerangkan bagaimana sikap kita terhadap penguasa yang dikenal kejelekannya. Mereka tidak melaksanakan petunjuk Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan juga tidak mengamalkan sunnah-sunnah Rasul dan ini adalah permasalahan yang jelas. Dan ada juga beberapa riwayat yang menguatkan hal ini :

ﻋَﻦْ ﻋَﺪِﻱ ﺑْﻦِ ﺣَﺎﺗِﻢِ  ﻗَﺎﻝَ : ﻗُﻠْﻦَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﷲِ، ﻻَ ﻧَﺴْﺄﹶﻟُﻚَ ﻋَﻦْ ﻃَﺎﻋَﺔٍ ﺍﻟﺘّﻘَﻲ ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﻣَﻦْ ﻓَﻌَﻞَ ﻭَﻓَﻌَﻞَ) ﻭَﺫَﻛَﺮَ ﺍﻟﺸَﺮّ(؟ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﷲِ:  ﺍِﺗّﻘُﻮﺍ ﺍﷲﹶ، ﻭَﺍﺳْﻤَﻌُﻮﺍ، ﻭَﺃﹶﻃِﻴْﻌُﻮْﺍ ﴿ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻋﺎﺻﻢ ﻭﺻﺤﺤﻪ ﺍﻷﻟﺒﺎﻧﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻈﻼﻝ ﴾

Dari Adi bin Hatim radliyallahu ‘anhu berkata, kami berkata :
“Ya Rasulullah, kami tidak bertanya padamu tentang sikap terhadap penguasa-penguasa yang bertakwa/baik. Akan tetapi penguasa yang melakukan ini dan itu (disebutkan kejelekankejelekan).” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Bertakwalah kalian kepada Allah, mendengar dan taatlah kalian.” (HR. Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan Al Albani dalam Adz Dzilal)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melarang untuk mengatur urusan umat secara sirr (sembunyi-sembunyi) pada perkara-perkara yang merupakan hak penguasa.

ﻋَﻦْ ﺍِﺑْﻦِ ﻋُﻤَﺮَ  ﻗَﺎﻝَ : ﺟَﺎﺀَ ﺭَﺟُﻞٌ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﷲِ  ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺃﹶﻭْﺻِﻨِﻲ. ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺍِﺳْﻤَﻊْ ﻭَﺃﹶﻃِﻊْ، ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺑِﺎﻟْﻌَﻼَﻧِﻴَﺔِ ﻭَﺇِﻳّﺎﻙَ ﻭَﺍﻟﺴِﺮِّ ﴿ ﺣﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻋﺎﺻﻢ ﻭﺻﺤﺤﻪ ﺍﻷﻟﺒﺎﻧﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻈﻼﻝ ﴾

Dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu berkata, datang seorang laki-laki kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan berkata : “Berilah aku nasihat!” Maka beliau bersabda : “Mendengar dan taatlah kalian. Hendaklah kalian terang-terangan dan jauhilah oleh kalian mengatur urusan umat secara sirr (karena ini adalah tugas penguasa, pent.).” (HR. Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan Al Albani dalam Adz Dzilal). Dan Rasul juga menjelaskan bahwa memberontak kepada penguasa itu tidak boleh kecuali dalam dua keadaan, yaitu jika telah melakukan kekufuran yang nyata atau mereka melarang melakukan shalat.

ﻋَﻦْ ﻋُﺒَﺎﺩَﺓَ ﺑْﻦِ ﺍﻟﺼّﺎﻣِﺖِ  ﻗَﺎﻝَ : ﺑَﺎﻳَﻌْـﻨَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﷲ  ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺴّﻤْﻊِ ﻭَﺍﻟﻄّﺎﻋَﺔِ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴِّﺮِّ ﻭَﺍْﻷَﺛَﺮَﺓِ، ﻭَﺃﹶﻥْ ﻻَ ﻧَﻨْﺰِﻉَ ﺍْﻷَﻣْﺮَ ﺃﹶﻫْـﻠَﻪُ، ﺇِﻻَّ ﺃﹶﻥْ ﻧَﺮَﻯ ﻛُﻔْﺮًﺍ ﺑَﻮَﺍﺣًﺎ ﻋِﻨْﺪَﻧَﺎ ﻓِﻴْﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﷲِ ﺑُﺮْﻫَﺎﻥٌ ﴿ ﺣﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺸﻴﺨﺎﻥ ﴾

Dari Ubadah bin Shamit radliyallahu ‘anhu berkata :
“Kami membaiat Rasul untuk mendengar dan taat dalam sirr maupun terang-terangan, untuk menunaikan hak penguasa, baik dalam keadaan sulit maupun lapang serta ketika mereka mementingkan pribadi mereka. Dan tidak memberontak kepada penguasa. Kecuali ketika kita melihat kekufuran yang nyata dan ada bukti di sisi Allah.” (HR. Bukhari-Muslim)

ﻋَﻦْ ﺃﹸﻡِّ ﺳَﻠَﻤَﺔَ  ﻗَﺎﻟَﺖْ : ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﷲِ :  ﺳَﻴَﻜُﻮْﻥُ ﺑَﻌْﺪِﻱ ﺃﹸﻣَﺮَﺍﺀُ، ﻓَﺘَﻌْﺮِﻓُﻮْﻥَ ﻭَﺗُﻨْﻜِﺮُﻭﻥَ، ﻓَﻤَﻦْ ﺃﹶﻧْﻜَﺮَ ﻓَﻘَﺪْ ﺑَﺮَﺉَ، ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺮِﻩَ ﻓَﻘَﺪْ ﺳَﻠِﻢَ، ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﻣَﻦْ ﺭَﺿِﻲَ ﻭَﺗَﺎﺑَﻊَ، ﻗَﺎﻟُﻮﺍ : ﺃﹶﻓَﻼَ ﻧُﻨَﺎﺑِﺬُﻫُﻢْ ﺑِﺎﻟﺴّﻴْﻒَ؟ ﻗَﺎﻝَ ﻻَ، ﻣَﺎ ﺃﹶﻗَﺎﻡَ ﻓِﻴْﻜُﻢُ ﺍﻟﺼّﻼَﺓَ ﴿ ﺣﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ ﻓﻲ ﺻﺤﻴﺤﻪ ﴾

Dari Ummu Salamah radliyallahu ‘anha berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Akan terjadi sesudahku para penguasa yang kalian mengenalinya dan kalian mengingkarinya. Barangsiapa yang mengingkarinya maka sungguh ia telah berlepas diri. Akan tetapi siapa saja yang ridha dan terus mengikutinya (dialah yang berdosa, pent.).” Maka para shahabat berkata : “Apakah tidak kita perangi saja mereka dengan pedang?” Beliau menjawab : “Jangan, selama mereka menegakkan shalat bersama kalian.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)

Iklan

Penulis: Abu Ibrohim (Admin kebenaranhanya1 (thetruthonly1))

Ingatlah bahwa tiada yang berhak disembah selain Allah

10 thoughts on “Menta’ati penguasa dalam perkara ma’ruf (selain bid’ah dan maksiat)”

  1. Assalamu’alaikum dimana t4 ta’lim salafy di mksr?mudah2an alloh memberikan kesabaran kepada salafiyin di mesir dari provokasi ikhwanul muslimin.

    Suka

    1. wa ‘alaikas salam wrhmatulloh, t4 ta’limnya ada di jln. galangan kapal bs lewat jln sunu’ leewati stm pembangunan sampai dapat pasar.

      diisi oleh ustadz khidir.

      Suka

  2. afwan ..gmna cranya kita mncegah perbuatan bid’ah..sdngkan penguasa itu sndiri tdk pernah mempermaslahkan..bhkan seakan2 di wajibkan..sperti prayaan maulid..dll..afwan ana sndiri brusaha memperbaiki dri diri ana sndiri trus brusaha mnyadarkan keluarga ana sendiri dri bid’ah..tpi kluarga ana ttap berpegang teguh krna s olah-olah bermakmum pada penguasa itu lbih bagus~ afwan mohon solusinya..!

    Suka

    1. solusinya antum bersabar, A S – S A J A D A H

      32:24. Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.

      Suka

  3. Di Kabinet sekarang, jumlah menteri Kristen sebanyak 3 orang yaitu Purnomo Yusgiantoro, Mari Pangestu dan Freddy Numberi. Sedangkan yang beragama Hindu Jero Wacik.Purnomo Sugiantoro adalah menteri Pertahanan dan Keamanan
    “Kami katakan: Maksud ayat ulil amri ini adalah ketaatan dalam urusan-urusan dunia, urusan-urusan ketentaraan, peperangan, kepolisian dan lain sebagainya. Inilah dalil bahwa Ulul Amri diberi kekhususan di sini, sedangkan kekhususan-kekhususan Ulil Amri adalah apa yang telah kami sebutkan, berupa mempersiapkan tentara dan mengurusi berbagai permasalahan.” (At-Tabshiroh Fi Ushul Fiqh (I/ 407)).”
    “Perintah Allah untuk taat kepada ulil amri, dan ulil amri maksudnya orang-orang yang mengurusi urusan manusia, dari kalangan pemerintah, juru hukum dan mufti, karena sesungguhnya tidak akan selesai urusan manusia baik itu urusan agama maupun urusan dunia kecuali dengan ketaatan dan keterikatan kepada mereka”. (Tafsir Taisir Karimir Rahman 2/89).
    APAKAH Purnomo Yusgiantoro MENHANKAM adalah ulil Amri kalian??

    Suka

  4. Seorang ulama Saudi yang merupakan anggota dewan ulama senior, Syaikh Shalih al-Luhaidan menyatakan dukungannya kepada para demonstran anti Gaddafi di Libya dan menyerukan mereka untuk menghentikan pertumpahan darah serta menjaga keamanan. Ia juga menyerukan kolonel Muammar Gaddafi untuk mundur, sembari menyatakan bahwa dirinya tidak melihat bahwa Gaddafi adalah seorang muslim.
    Syaikh Luhaidan juga mengatakan: “Saya tidak melihat pemerintahan Gaddafi adalah sebuah pemerintahan Islam.”

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s