Kisah pak ketua


Abu Atikah At Taubany

( Rodhi Rengel )

Kata pengantar

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له الملك الحق المبين وأشهد أن محمداً عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وصحبه ومن اهتدى بهداه إلى يوم الدين
أما بعد:

Segala puji bagi Alloh Rabb semesta alam. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Alloh semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, Al–Haq (Yang Maha Benar) Al- Mubiin (Yang Maha menjelaskan).
Aku bersaksi bahwasanya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, semoga shalawat Alloh senantiasa tercurah untuknya dan keluarganya dan para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya sampai tegaknya hari pembalasan.
Amma ba’du:
Seiring dengan banyaknya perselisihan yang ada dalam mensikapi permasalahan tentang yayasan. Maka seyogyanya kita kembalikan permasalah ini dengan tolak ukur Al Qur’an dan As Sunnah, agar kita tidak menjadi orang yang menyimpang dari al haq.
Pembaca yang budiman dalam kesempatan ini saya sengaja untuk memaparkan beberapa contoh yayasan yang mungkin bisa kita jadikan renungan dan pelajaran. Agar kita bisa lebih jernih dalam menyikapi yayasan yang lainnya dengan tanpa taashub dan fanatik buta.
Dalam contoh yang saya bawakan ini adalah kisah nyata dari saya yang pernah berkecimpung di dalamnya, dan tujuan saya untuk bercerita ini bukan semata mata agar saya di puji orang atau mencari pembelaan. Tidak lain yang saya inginkan adalah supaya kita semua bisa tergambarkan tentang kenapa yayasan yang selama ini di jalani oleh para dai sebagai lahan dakwah dan sebagai wasilah dakwah (kata mereka) di katakan Muhdats . Dan agar supaya kita juga bisa melihat dari sisi manakah kemungkaran yayasan yang selama ini di unggulkan bahkan di bela oleh penggunanya.
Mungkin yayasan yang saya contohkan ini adalah sebagian kecil dari yayasan yang ada. Atau mungkin bisa di katakan yayasan yang paling buruk di bandingkan yang lainya. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan dari cerita saya ini banyak di antara yayasan yang lain juga bernasib yang sama meski sedikit.
Perjalanan kisah saya ini saya awali dengan riwayat hidup saya dari mulai mengenal manhaj salaf dan berjumpa dengan Pak Ketua (Abdullah Bojonegoro) .
Dari sinilah saya awali perjalanan saya dalam taklim hingga kepengurusan yayasan. Meski keberadaan saya di yayasan tersebut tidak terakui (mungkin bagi mereka), tapi saya tahu seluk beluk pendirian yayasan tersebut dan sebagian dari aktifitasnya saya pernah mengurusnya.
Perlu di jadikan catatan bahwa sebagian yang saya sebutkan disini ada yang dari penilaian syar’i tidak jadi masalah seperti membangun masjid dari kayu curian , dalam hukum syar’i yang berkaitan dengan ibadah manakala itu termasuk Amrun Khorij (perkara hukum yang diluar hukum masalah tertentu) tidaklah membatalkan suatu ibadah manakala ibadah tersebut tidak batal dari syarat dan rukun ibadah tersebut. Seperti dalam masalah masjid yang terbuat dari kayu curian, ini tidaklah membatalkan sholat orang yang berjamaah di dalamnya, karena tidak menjadi syarat diterimanya sholat dalam masjid adalah harus dengan masjid yang kayunya resmi.
Akan tetapi saya sebutkan contoh dari yayasan yang berkaitan dengan masjid ini adalah untuk menunjukkan kurang penjagaannya mereka dalam beribadah kepada Allah. Dan semata mata tujuan itu juga untuk melengkapi kisah saya.
Semoga apa yang saya kisahkan ini menjadi renungan dan menjadi sebuah pembuka hati bagi orang orang yang gandrung dengan yayasan tersebut bahkan membela mati matian.

Akhirnya saya ucapkan Alhamdulillah Atas di bukanya pintu hati saya dan bisa berlepas diri dari yayasan tersebut.



بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه كما يحب ربنا ويرضاه وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لاشريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.
أما بعد :
فإن خير الحديث كتاب الله و خير الهدي هدي محمد صلى الله عليه و سلم و شر الأمور محدثاتها و كل محدثة بدعة و كل بدعة ضلالة و كل ضلالة في النار.

Ikhwan Fillah di bawah ini akan saya uraikan beberapa pengalaman sekaligus sejarah berdirinya yayasan yang pernah saya geluti dan sekaligus wujud dari taubat saya dari apa apa yang dahulu saya lakukan dalam masalah bergelimang dalam yayasan yang banyak di antara para ikwan tertipu dengannya.
Semoga apa yang saya paparkan ini menjadi renungan untuk kita semua dalam mencari al-haq

Bagian Pertama

Kenalnya diriku dengan manhaj salaf

Berawal ketika itu marak dengan adanya buletin LJ (laskar Jihad) , saya sering mendapatkan buletin ini dari abang saya. Mulai dari itu timbul pertanyaan aneh di benak saya dan sedikit takjub, bangga dengan kaum muslimin.lama kelamaan timbul keingin tahuanku yang menggelora. Wal hasil ketika nenek saya meninggal dunia abang saya pulang ke Jawa dan saya di ajak ziaroh kepondok Al-Bayinah di Sedayu Gersik.

Pertemuanku dengan Abdullah (Bojonegoro) hingga membuat yayasan.

Ketika saya di pondok Al-Bayinah Sedayu Gresik disitu saya kenal dengan ikhwan asal Bojonegoro Bapak Abdullah dan kemudian di kasih nomer Hp-nya. Sehingga saya lebih akrab dengan dia dan saya mulai kenal dakwah ini dan mulai ikut taklim yang awalnya melalui buletin.
Al-Kisah kamipun semakin akrab dan mulai mengadakan pertemuan (rapat)
Dan awal pertemuan itu di hadiri al Akh Joko Purnomo (Abu Arif), M. Rofi’i, Abdullah. Ketika itu pak Abdullah mengajukan usulan yang rencanaya mau mendirikan Ma’had di kampungnya. Waktu itu kami mengiyakan saja karena itu kami anggap usulan yang bagus. Akhirnya pertemuan pertemuan di lakukan dan tercetuslah yayasan ASY-SYARI’AH. Ketika itu pak Abdullah yang mengatur. Karena katanya kalau gak ada yayasan mau taklim susah dan dia mengambil contoh pondok Jember dan Ngawi yang sudah dilindungi pemerintah daerahnya masing masing. Dari situ maka Bojonegoro juga ikut ikutan membuat yayasan. Kemudian dalam waktu yang lain membuat pertemuan lagi guna untuk menyusun kepengurusan yayasan.
Diantara susunanya
– Badan Nasehat : M. Rofi’i
– Ketua : Abdullah (Sutomo)
– Bendahara : Joko Purnomo
– Sekertaris : Rodhi (saya)
Dan kata Pak Abdullah di daftarkan ke MENDAGRI di Jakarta. Saya sendiri kurang faham. Pertemuan demi pertemuan terus berlanjut. dan waktu kamipun tersita untuk keluarga sebab di jejali (dimasuki) banyak dalil, seperti perkataanya ini adalah perkara Al-Haq, ini adalah dakwah ilallah, ini demi kepentingan umat dan sebagainya.

Bagian ke dua

Aktifitasku di dalam yayasan dan pendaftarannya

Pertemuan terus berlanjut untuk mengurusi yayasan kami yang katanya Barokah. dan awal taklim kami sebulan sekali ahad pertama, kemudian ditambah satu bulan dua kali ahad kedua dan kami mulai sibuk menjadi panitia pengajian dan bingung masalah surat ijin taklim. maklum gak punya masjid alias pinjam masjid milik yayasan lain.
Kegiatan demi kegiatan terus berjalan, kemudian saya diajak ke notaris untuk mendaftarkan yayasan kami ini. Seingat saya kalau tidak salah notarisnya adalah orang Nasoro (Kristen) dan masih tetangga satu desa dengan bapak ketua yayasan Abdullah (seterusnya panggil pak ketua). Si notaris ini menyarankan untuk laporan ke DEPAG, ke PERPAJAKAN dan sekalian ke MENDAGRI. Dan kita pun mengikuti saran notaris tadi . Adapun untuk dana yang macem-macem untuk pendftaran saya tidak tahu menahu tentang itu, itu urusanya Bapak ketua (Abdullah).
Hari demi hari kita lalui mulailah temen-temen merasa kebingungan dengan masalah transport untuk ustad. Akhirnya musyawaroh pun di adakan guna untuk menghimbau bagi yang kelebihan harta agar berupaya untuk menjadi donatur tetap dalam terselenggaranya kajian rutin dan agar terus berlanjut. Ketika itu yang saya ketahui hanya sebatas kesadaran perorangan (untuk jadi donatur- pent).

Bagian ke tiga

Kisahku dengan Pak Ketua dan PONSEL ajaib

Hari demi hari, bulan demi bulan terjalani, kami pun sering mengadakan pertemuan dalam rangka membahas yayasan kami. Mulailah sang ketua menyampaikan nasehat nasehatnya dan kami pun disarankan memberikan pendapat untuk yayasan bagaimana kita bisa mewujudkan pogram yayasan kami. akhirnya sang ketuapun mulai memberi solusi yaitu SMS kepada donatur donatur yang mau menyisihkan harta untuk di infakkan ke yayasan kami , sasaran smsnya adalah ke kenalan kami masing masing di manapun mereka berada. dan kami pun mencoba untuk SMS kesetiap orang yang kami kenal entah kerabat atau orang yang tidak kami kenal di indonesia ini.
Dari sini saya mulai bertanya tanya dalam hati ada perasaan ragu dengan cara penggalangan dana melalui SMS seperti ini. saya pikir-pikir kok mirip proposal Cuma bedanya kalau proposal lebih terperinci kebutuhan yang di ajukan di tulis, tapi kalau SMS nggak di perinci akan tetapi secara makna…ya…sama kalau saya rasa rasakan. Lalu dengan keraguan ini saya mencari kejelasan tentang penggalangan dana seperti yang kami lakukan ini kepada Pak Kholiful Hadi (Ustadz di Banyu tengah) saya mengeluhkan uneg-uneg saya kepadanya dan diapun menjawab:” ya…. memang sama dengan proposal. Kalau bisa nggak usah dengan cara yang seperti ini. Kalau ada yang ngasih bantuan atau infak.. ya..kita terima, karena cara seperti ini tidak ada contohnya dari Salaf…..” .
Setelah dapat keterangan yang demikian itu saya tidak pernah lagi SMS untuk penggalangan dana yayasan…karena keraguan saya sudah terjawab dari Pak Kholif tadi….
Pertemuan masih berlanjut untuk program kedepan yayasan dan melaporkan hasil kerja masing masing meskipun nggak seresmi yayasan yang lainnya (organisasi islam yang lain). Pak ketua menyampaikan khabar baik bahwasanya tanah yayasan hampir lunas. Ternyata pak ketua sebelum kami disarankan untuk SMS ke kenalan kenalan kami dia sudah menempuh metode seperti ini (sudah berpengalaman di bidang ini) . Bahkan waktu itu temen temen di kasih tahu (di ajari) pak ketua cara SMS para donatur. Dan temen temen kemudian mencobanya. Dah setelah temen temen mencoba SMS dan di beri jawaban oleh orang yang di SMS mereka kemudian bercerita kepada saya ketika saya tanya:” gimana SMS antum ya akhi ?…
Mereka menjawab:” Ana gak mau SMS lagi perasaan malu muncul dibenak ana”.
Ini kata salah seorang temen yang mereka cerita sendiri ketika saya tanya tentang penggalangan dana lewat SMS seperti yang kami lakukan. Ketika di adakan pertemuan tentang laporan kerja SMS ke donatur kami pun hanya bisa diam ketika ditanya oleh pak Ketua.
Pada suatu hari pak ketua SMS saya ngajak peretemuan di kota (Bojonegoro) untuk membuka Rekenig bank BRI untuk yayasan ASY-SYARI’AH Bojonegoro . Kata pak ketua ada saran dari donatur supaya membuka Rekening yayasan karena selama ini pakai Rekening Pribadi. Kata pak ketua supaya tidak terjadi fitnah Rekeningnya atas nama pak ketua (Adullah Sutomo Bojonegoro ) dan saya sendiri. selain itu juga (penggalangan dana dengan SMS) pernah meminta bantuan melalui telepon langsung. Waktu itu pak ketua dengan saya habis dari notaris untuk mendaftarkan yayasan kami. pak ketua menelpon dan yang di telpon nampaknya donatur/dermawan dari surabaya. Dan yang saya dengar dari pembicaraannya meminta bantuan untuk supaya donatuir tersebut membelikan PEDEL (pasir putih yang di ambil dari batu gunung-pent) untuk jalan orang kampung yang di bangun yayasan kami (rencana membangun yayasan kami) dengan tujuan untuk melunakkan hati masyarakat. Dan yang saya dengar donatur tersebut memberikan bantuan yang di ambilkan dari bunga DEPOSITO. Pak ketua kemudian bilang kepada kami:” berhubung uang yang disumbangkan untuk ini dari bunga bank maka harus segera di habiskan …”.
Waktu itu saya diam saja tidak ngomong apa apa. Beberapa pekan kemudian saya dengar dari temen (yang dia juga ikut andil dalam pelaksanaan itu) bahwasanya uang yang dari bunga bank tersebut masih tersisa. Saya pun kaget dan berkata :” katanya bunga bank harus segera di habiskan kok masih tersisa …wong dia (pak ketua) sendiri yang bilang begitu…..wahhh..gak beres ini….!
Saya menggerutu kepada temen yang bilang ke saya waktu itu.
Waktu terus berselang dan SMS untuk penggalangan danapun masih Enjoy aja…
Aliran dana pun lancar, kadang narik di rekening sampai belasan juta. Kadang yaaa….sedikit, mungkin muhsininnya kecapekan ngirim dana. Dan suatu ketika pak ketua pernah bilang :” Ana gak enak sama ikhwan ikhwan yang ana sms terlalu keseringan…..”.
Yang anehnya diapun merasa malu meminta bantuan untuk fasilitas yayasanya kok masih di teruskan SMSnya, ke enaken kaliiii………….!
Dan saya mendengar keluhan yang sama di sampaikan oleh temen-temen, lama-lama tambah merasa kendor semangat di kubu yayasan. sedikit demi sedikit mulai saya berusaha untuk tidak aktif di dalam yayasan tersebut dan berusaha mengindari menyibukkan diri di yayasan. Sebab saya merasakan kejanggalan-kejanggalan di dalamnya. Maka dari itu wahai ikhwah…pembaca tulisan ini. Yang mungkin antum merasa aneh atau asing dengan tulisan yang mungkin orangnya antum tidak kenal atau tidak terkenal atau gimana yang pasti saya mengatakan ini semua diatas kejujuran, ikhlas, karena saya orang yang baru kenal Al Haq dan berusaha bersungguh-sungguh menjaga perkara Al Haq kok di bawa kepada perkara yang samar …..
Wallahu mustaan

Bagian ke empat

Masjidku dari kayu Hutan ilegal

Pak Ketua yayasan masih terus melanjutkan metode penggalangan dana dengan Ponsel Ajaibnya dan untuk kali ini pak ketua nampak mulai terkenal dan di bilang berhasil dalam metode penggalang dana dengan Ponsel ajaibnya. Ketika Akhir Taklim Bulanan artinya sudah tidak bisa taklim lagi setelahnya sebab ustadnya yang di undang terlalu banyak jadwal, panitia sudah tidak punya pinjaman masjid lagi.Qodarullah…pak ketua menyampaikan khabar baik bahwasanya ada muhsinin yang mau membuatkan masjid dan pondok beserta lainya dan pak ketua mengajak untuk mengadakan pertemuan di kota Bojonegoro tepatnya di masjid At-Taqwa milik organisasi Muhammadiyah. Padahal ketika itu para temen temen yang lainnya dalam keadaan kerja, dan waktu yang di gunakan itu pas jadwal istirahat di suruh kumpul sampai masuknya telat.
Isi pertemuan itu diantaranya adalah saya di suruh untuk menghitung bahan bahan bangunan mulai semen, besi, dan batu kumbung putih untuk pondasi. Setelah jadi, disetujui semuanya. Kitapun pulang sekalian saya di suruh pesen batu kumbung putih dari tuban. Setelah itu pak ketua mengkhabarkan bahwasanya muhsininya berkeinginan membuat masjid dari kayu jati. Ini keterangan dari pak ketua. Terus terang saya kecewa sekali waktu itu. Karena batu kumbung sudah saya pesan untung harganya belum disepakati pak ketua. Akan tetapi rencana yang sudah matang yang di sepakati dia sendiri, gagal karena permintaan muhsinin tersebut. Hingga timbul pertanyaan:” kita ini yang mau dakwah atau si muhsinin ini yang mau dakwah kok dia yang mengatur urusan dakwah ini. Kok …..kami yang mengikuti si muihsinin ini….??? Mohon antum wahai ikhwah perhatikan.Inilah kebobrokan yayasan ini. Saya waktu itu belum pernah dengar hujjah tentang muhdats-nya yayasan tapi sudah merasa janggal dengan pandangan secara umum tidak secara syar’i. lebih lebih lagi kebid’ahanya….
Waktu itu saya maklumi..wong namanya manusia pasti ada kesalahannya. Kami pun menyepakati intruksi pak ketua. Lalu pembelian rumah kayu untuk masjid dilaksanakan dan pak ketua yang berangkat sendiri entah dengan siapa artinya kami tinggal setuju saja. Yang berusaha dan mendapat donatur itu juga hasil jerih payah pak ketua sendiri. Dan akhirnya masjid didirikan di tanah yayasan dan pak ketua sendiri yang mengurui semuanya. Dan sampai jadi selesai di dirikan kamipun di ajak untuk mengisi pondasi yang masih baru di bangun (gotong royong). Sambil ngomong- ngomong sama temen-temen yang lain aya teringat sesuatu bahwasanya keumuman rumah kayu kalau yang punya penduduk yang dekat hutan itu adalah kayu curian, apakah ini tidak menyelisihi syar’i…?
Sebagian ikhwan ada yang mengiyakan dan ada yang bilang tidak apa apa. Tapi saya masih bersikukuh bahwa hal ini menyelisihi syari’at.
Haripun berlanjut, ketika ada walimahan salah seorang ikhwah dan mengundang tiga asatidz, saya tanyakan permasalahan ini pada Pak Kholiful Hadi dan dia menjawab ” ya kalau memang begitu keadaannya seperti yang antum katakan,, ya robohkan saja…! Wong rumah ibadah ya akhi…masak masjidnya dari hasil curian…???
Dan waktu itu banyak yang dengar ketika saya menanyakan permasalahan ini. Menjelang satu pekan pak ketua mengundang kami untuk datang ke markas yayasan As Syari’ah Bojonegoro. Ternyata pak ketua mendapat teguran dari salah satu ustad yang mendengar tentang pertanyaan saya waktu itu di walimahan. Dengan suara agak parau pak ketua memberikan muqodimah di majlis pertemuan untuk membahas peresmian rumah yang di buat masjid tadi artinya mau di izinkan ke pihak yang berwenang (PERHUTANI).
Setelah urusan beres kami pun beraktifitas seperti biasa lagi. Tapi pak ketua nampaknya menaruh curiga sama saya. Mulai dengan cara memanggil saya dengan sebutan “Pak De” . Di sini saya mulai merasa aneh bukankah sebutan ” Pak De ” itu untuk mereka yang di tahdzir sama ulama’ seperti Pak De ja’far, Pak De Ainur Rofiq. Berarti pak ketua sudah menganggap saya ini seperti mereka.
Wal’iyadhu billah….Subhanallah…Allahu akbar….
Dan bahkan ada salah satu ikhwah yang juga ikut-ikutan memanggil saya pak de kemudian saya ingatkan ikhwan ini. Alhamdulillah dia mau mendengar dan meminta ma’af pada saya. Dan saya mulai menjaga jarak, jarang sekali ikut ta’lim.

Bagian ke lima

Bangkitnya kesadaranku dengan Hadist Qobishoh

Tasawulpun masih berlanjut, bisa dibilang lancar, yayasanpun mulai membangun pondok dan membuat rumah buat ustadz. Setelah 80 % jadi, ta’limpun tiap pekan hari Ahad untuk umum. Pak ketua ngajak ngumpul untuk bikin rumah dekat yayasan, untuk saya dan sebagian ikhwah, ada fasilitas tanah dari yayasan tinggal usaha rumahnya saja. Tasawulpun masih lancar-lancar saja, saya dan pak ketua ketemu di BRI Bojonegoro untuk mengambil uang. Lama kelamaan entah kecapean atau tidak ada alat transportasi, dia mengambil kartu penarikan yang banyak dan di tanda tangani pak ketua, semua ada stempel yayasan. Salah satu ikhwan di suruh untuk sms kadang telpon pada saya untuk mengambil uang yayasan di BRI **, jadi pak ketua tinggal nunggu di markas. Setelah dari BRI saya kasihkan uangnya pada ikhwan penghubung tadi kemudian uangnya dikirim ke markas. Dari sini saya mulai merasa semakin repot menyibukkan diri di yayasan, ketika saya mulai ragu dan semakin ragu, saya mencoba untuk sms teman saya yang ada di Dammaj. Semua uneg-uneg saya, saya sampaikan ke dia, akhirnya terjawab sudah keraguan ini, di larangnya tentang tasawul. Dan saya di tunjukkan hadits Qobisoh tentang di haromkannya meminta-minta kecuali tiga orang yang di perbolehkan. Kemudian saya membuka bulughul marom hadits no 664 dengan lafadz yang sama. Saya merasa lega terlepas dari keragu-raguan yang selama ini menyelimuti dadaku.
Waktu telah tiba untuk menyampaikan pengunduran diri saya dari yayasan. Semakin kita sibuk di yayasan semakin kita jauh dari ilmu Nafi’ sampai hadits yang masyur pun tidak tahu??? Na Udzu billahi min dzalik…..
Kemudian seperti biasa ada ikhwan utusan yayasan kerumah saya untuk mengambil uang hasil dari tasawul, dari sini saya sampaikan uneg-uneg saya tentang tasawul dan larangannya. Saya berpesan pada ikhwan tersebut agar menyampaikan hadits di atas pada pak ketua, tetapi ikhwannya tidak berani. Akhirnya saya dipinjami HP nya untuk berbicara sendiri sama pak ketua. Saya menyampaikan uneg-uneg saya yang selama ini terpendam cukup lama. Setelah mendengar penjelasan saya, nampaknya pak ketua mulai berang karna terdengar suaranya dengan nada tinggi dan menyampaikan hujjah hujjahnya yang seolah olah metode tasawulnya ini tidak ada hubungannya dengan hadist yang saya sampaikan. Ringkasnya pak ketua tidak menerima kalau metode penggalang dana melalui SMS itu tasawul.
Kemudian pak ketua berkata :” kalau begitu penggalangan dana di bekukan dulu ? terus bagaimana hutang yayasan untuk pembangunan sarana prasarana pondok / fasilitas yayasan….?
Lalu saya menjawab “Hutang apa ? padahal tidak pernah ada musyawaroh untuk membahas hutang untuk pembangunan yayasan, kan pak ketua sendiri yang hutang…
Karena HP ikhwan tadi pulsanya sedikit akhirnya saya tutup dan ketika itu juga saya baro’ dari yayasan. Bahkan pak ketua nampak tidak terima dengan apa yang saya sampaikan. kemudian pak ketua SMS saya “kalau ngomong itu dengan ilmu ya…akhi…..”
Lho…gimana to….hadist shohih kok di bilang tidak ilmu….
Akan tetapi tidak saya balas smsnya. Wong orang sudah buta hatinya, takutnya semkin jauh dari ilmu nanti….
Setelah itu saya mendengar bahwa nama saya di coret di rekening BRI (punya yayasan Asy-Syari’ah di ganti cantriknya (tangan kananya) pak ketua yang bernama Abu Zuhri.
Dan saya ucapkan Alhamdulillah saya bisa lepas dari yayasan.

Demikianlah kisahku yang penuh dengan lika liku. dan tujuanku untuk menulis ini supaya para ikhwa bisa mempertimbangkan dan menelaah lagi ketika membicarakan tentang yayasan…..
Kalo toh yayasan yang dulu saya rangkul ini yang paling jelek tidak menutup kemungkinan yayasan yang mungkin lebih bagus dari yang saya ceritakan juga mengalami hal yang sama. Yaitu dengan adanya pendaftaran, syarat syarat dari pemerintah dan lain sebagainya….
Cukup sampai disini tulisanku….dan aku berlindung dari hal hal yang menjerumuskanku kedalam lubang syaithon kepada Allah Subhanahu wataala…
Semoga dosaku yang terdahulu di ampuni oleh-Nya….
Dan aku bertaubat dari apa yang dahulu pernah saya lakukan…..
Dan kuserahkan semua urusanku yang terdahulu kapada-Nya….

Walhamdulilah…..

Hadist Qobishoh Rodhiallohu ‘anhu.

وعنْ قبيصة بن مخارق الهلاليَّ رضي الله عنهُ قال: قال رسولُ الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم: “إنَّ المسألة لا تَحِلُ إلا لأحد ثلاثة: رَجُلٍ تَحَمّلَ حَمَالةً فحَلْت لَهُ المسأَلَة حتى يُصيبها ثم يمسك، ورجلٍ أَصابتْهُ جائحَةٌ اجتاحتْ مالهُ فَحَلّت لهُ المسْأَلَةُ حتى يصيب قواماً منْ عيشٍ، ورجل أَصابتهُ فاقةٌ حتى يقولَ ثلاثةٌ من ذوي الحجى مِنْ قَوْمه: لَقَدْ أصابت فلاناً فاقةٌ فحَلّتْ لَهُ المسأَلةُ حتى يُصيب قواماً مِنْ عَيْش فمَا سواهُنَّ من المسأَلة يا قبيصةُ سُحْتٌ يأكُلُها صاحبُها سُحْتاً” رواهُ مُسْلمٌ وأبو داودَ وابنُ خزيمةَ وابنُ حِبّانَ

“Dari khobisoh Bin makhorik Al Hilaly Rodhiyallahu anhu:
Berkata ” berkata Rosulullah Shalallahu alaihi wasalam….Sesungguhnya meminta minta itu tidak boleh kecuali bagi salah satu dari tiga golongan.Pertama orang yang memikul beban berat (Di luar kemampuannya )maka dia boleh meminta minta sehingga setelah cukup lalu berhenti ( tidak meminta minta lagi ), Kedua, Orang yang tertimpa musibah yang menghabiskan hartanya maka dia boleh meminta minta sampai dia mendapatkan sekedar kebutuhan hidupnya. Ketiga , orang yang tertimpa kemiskinan sehingga tiga orang yang normal di kaumnya menganggapnya benar benar miskin,maka dia boleh meminta minta sampai dia memperoleh sekedar kebutuhan hidupnya,sedangkan selain tiga golongan ini ya khobishoh maka minta minta itu haram dan hasilnya yang di makan itu juga haram”. (HR. Muslim, Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).



Di Tulis Oleh :
Abu Atikah Rodhi (Rengel)

REALITA KEBENARAN FATWA SYAIKH SALIM TERHADAP YAYASAN
بسم الله الرحمن الرحيم
كلام الشيخ سليم بن عيد الهلالي حفظه الله في الجمعيات والانتخابات.
السؤال الأول : ما حال الجمعيات مطلقا ؟ فما رأيكم في لمن يجيز الانتخابات ؟؟؟

الجواب : أما الجمعيات فمن معرفتي بواقعها وإن أسست على مبدأ التعاون فإن مسيرها إلى التحزب ، ما رأيت جمعية إلا وهي متحزبة ، وإن بدت في بدايتها بعيدة عن الحزبية ، أو أنها تحول أن تتملص عن الحزبية إلا أنيابها تنالها وتدخلها بين فكيها ، فالجمعيات كلها متحزبة ، إلا من رحم الله وقليل ما هي، حسب معرفتي، وحسب علمي
وحسب خبرتي في هذه الجمعيات ، أما الانتخابات فأنا أقول : إن الانتخابات هي ملهات الشيطان لأمة الإسلام ،انتخابات لا تجوز لا ترشيحا ولا انتخابا ، وإنما اتخذها فجار الدعاة سلما للمناصب والرياسات والدنيا، وكم رأينا منهم يقولون: نريد أن نغير ، فما دخلوا برلامانات تغيروا ، بل انسلخوا من شخصياتهم الإسلامية ، فهي مجالس السلامة منها البعد منها.

السؤال الثاني : الشيخ الكريم سليم الهلالي – سددكم الله – قلتم : لا تعرفون جمعية إلا وهي حزبية إلا من رحم الله وقليل ما هم ، ما مقصودكم ، ولمن هذا الاستثناء جزاكم الله خيرا.؟؟
الجواب : يعني قصدي من هذا الاستثناء إن علم أحد أن هناك جمعية ليست حزبية فليخبرني حتى أغير موقفي من الجمعيات.
[ الأسئلة والأجوبة للشيخ سليم الهلالي حفظه الله لما زار دار الحديث دماج 23-25 جمادى الثانية 1430 هـ ] فرغها أبو سيف مفتي الجاوي.
Perkataan Syaikh Salim bin ‘Ied al Hilali Hafizhohulloh tentang Jam’iyyah- Jam’iyyah secara umum serta pemilu.

Pertanyaan pertama:
Apa hukum Jam’iyyah secara umum? Dan apa pendapatmu terhadap orang yang membolehkan pemilu?

Jawab:
“Adapun Jam’iyyah maka pengetahuanku tentang kondisi aslinya, walaupun didirikan pada mulanya atas dasar tolong-menolong, namun dalam perjalannya menuju hizbiyyah. Aku tidak melihat sebuah jam’iyyah pun kecuali dia itu hizbiyyah. Walaupun tampak pada awalnya jauh dari hizbiyyah atau dia telah berusaha untuk menyelamatkan diri dari hizbiyyah, namun taring-taring hizbiyyah telah mencengkramnya.
Maka semua jam’iyyah adalah menimbulkan hizbiyyah, kecuali yang Alloh rahmati dan itu sangat sedikit. Ini sebatas pengetahuanku dan ilmuku serta pendalamanku tentang jam’iyyah tersebut. Adapun pemilu, maka aku katakan: “Dia adalah permainan syaithon untuk umat Islam. Hal ini tidak boleh baik itu mencalonkan diri atau memilih, karena metode ini adalah dilakukan oleh orang-orang fajir dari kalangan para da’i sebagai tangga untuk memperoleh kedudukan, kepemimpinan dan dunia. Berapa banyak kita lihat dari mereka berkoar: “Kita ingin mengubah”, akan tetapi setelah mereka masuk kedalam parlemen, merekalah yang berubah. Bahkan mereka terpelanting dari kepribadian islamy. Maka cara menyelamatkan diri adalah dengan menjauhinya”.

Pertanyaan kedua:
Syaikh yang mulia, Salim Al Hilaly –Semoga Alloh mengokohkanmu- Anda mengatakan bahwa anda tidak mengetahui jam’iyyah melainkan ada hizbiyyahnya, kecuali yang Alloh rahmati yang jumlahnya sedikit. Apa maksud dari perkataan ini?? Dan siapakah yang dikecualikan?? Jazakumullohu Khoiron.
Jawab:
Maksudku dengan pengecualian ini adalah barangsiapa yang mengetahui bahwa disana ada sebuah jam’iyyah yang tidak hizbiyyah maka beri tahukan kepadaku, supaya aku mengubah sikap terhadap jam’iyyah-jam’iyyah (tersebut).
(Soal-Jawab Syaikh Salim ketika berziaroh ke Darul Hadist dammaj tanggal 23-25 Jumadits Tsany 1430.

PERSAKSIAN ABUL ‘ABBAS AL-MULKIY TERHADAP
YAYASAN ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ SURABAYA DAN AMBON
Tidak asing lagi nama Yayasan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang berada di dua kota yaitu kota Surabaya dan Ambon termasuk salah satu yang telah membuktikan akan kebenaran fatwa Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali:

1-Yayasan Abu Bakar Surabaya
Ketika kami masih di Surabaya menyaksikan Yayasan ini telah menjadikan ikhwah dua kubu, kubu Jojoran bersama Ustadz Zainul Arifin dan kubu Manukan bersama Yoyok Nugroho.
Telah menyapaikan kepada kami beberapa ikhwah akan hal ini bahwa kubu Manukan itu lebih condong kepada Ma’had Al-Bayyinah Gresik daripada Ma’had Abu Bakar Ash-Shiddiq Jojoran dan sangat masyhur dan tersebar di kalangan ikhwah bahwa Yoyok Nugroho sering menyebarkan isu buruk terhadap Ustadz Zainul Arifin bahwasanya dia adalah orang yang sangat keras tidak hikmah dalam berdakwa dan yang semisal itu.
Pernah pengurus Yayasan mengadakan beberapa kali rapat di masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam rangka pembebasan tanah di Sidoarjo yang hasil rapat itu dicetaklah proposal ratusan exemplar, Alhamdulillah kemudian Ustadz Zainul Arifin melarang untuk menyebarkan proposal tersebut karena mengikuti fatwa Syaikh Muqbil dan ini adalah kebenaran, akhirnya proposal-proposal itu dipakai oleh beberapa ikhwah untuk catatan faidah ketika ta’lim, dan pernah ada di Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq sebuah kotak infaq berkaki empat yang dipajang di pintu masjid kemudian Ustadz Zainul Arifin melarang hal itu karena mengikuti fatwa Syaikh Muqbil rahimahullah dan inilah yang kebenaran, tentang tidak bolehnya kotak infaq dan minta-minta.
Kita kembali kepada pembebasan tanah di Sidoarjo, dengan adanya dana yang ada walaupun belum mencukupi untuk pembebasan tanah telah memberikan harapan kepada Ustadz Zainul Arifin namun ternyata setelah itu pembebasan tanah itu gagal total mungkin karena ketidak cocokan antara kubu Jojoran dengan kubu Manukan sementara mesjid Yayasannya di Jojoran dan yayasan dan kebanyakan pengurusnya di Manukan.
Ketika Zanul Arifin mau pindah ke Batam kami pernah bertanya kepadanya kenapa ke Batam, terus siapa yang akan mengisi ta’lim di Surabaya? Maka dia menjawab: Antum maklumlah anak-anak saya banyak dan membutuhkan biaya maka saya ke Batam bisa bekerja, kalau di sini saya tidak punya kerjaan dan insya Allah yang ngisi ta’lim di Masjid Abu Bakar adalah Abu Ahmad.
Beberapa hari kemudian datang pengurus Yayasan dari Manukan dengan muka sedih mengatakan kepada Zainul Arifin: Kenapa Ustadz pergi?! Zainul Arifin menjawab: Bagaimana saya sudah mengharapkan tentang pembebasan tanah di Sidoarjo jadi, tiba-tiba tanpa alasan yang benar gagal nggak jelas lagi perkaranya….(dikutip secara makna)…dalam artian Zainul Arifin itu kecewa dengan perlakuan pengurus Yayasan.

2-Yayasan Abu Bakar Ambon
Ketika kami ke Ambon kami mendapati beberapa ikhwah mengeluh tentang madrasah Al-Manshurah yang diasuh oleh Abdus Salam, Iqbal dan yang lainnya bahwa mereka sering cekcok dengan yayasan Abu Bakar Ash-Shiddiq sampai ada salah seorang menyatakan madrasah akan mendirikan Yayasan lagi supaya tidak diatur oleh yayasan Abu Bakar Ash-shiddiq, namun katanya tidak boleh dalam satu kota apalagi kota kecil seperti Ambon ada dua yayasan ikhwah. Dan ketika itu sering terjadi perbincangan-perbincangan yang tidak enak bila didengar, dan beberapa ikhwah sering menyebutkan tentang kejelekan-kejelekan madrasah yang dinaungi oleh Yayasan Abu Bakar Ash-Shiddiq namun sayangnya Abdul Salam dan para penggemar madrasah membela mati-matian madrasah begitu pula Iqbal mungkin karena dia bisa ke Yaman karena gaji dari Madrasah sehingga membuat dia untuk senantiasa membela madrasah dan Yayasan.
Dan Yayasan Abu Bakar Ash-Shiddiq ini jika ketua yayasannya yang bernama Husain mau jujur untuk menjelaskan tentang kebobrokan Yayasan Abu Bakar Ash-Shiddiq ini maka pasti didapati banyak sekali kesia-siaan di dalamnya, sepengetahuan kami yayasan ini telah menyibukkan ketua yayasannya dengan usaha-usaha yayasan dan menghalangi dia dari ilmu yang bermanfaat.
والحمد لله رب العالمين
سبحانك اللهم وبحمدك ، أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك

Iklan

Penulis: Abu Ibrohim (Admin kebenaranhanya1 (thetruthonly1))

Ingatlah bahwa tiada yang berhak disembah selain Allah

1 thought on “Kisah pak ketua”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s