FENOMENA WAHDAH DAN KETIMPANGAN DALAM MEMAHAMI NASIHAT (Bag 1)

Penulis : Admin Ahlussunnah MunaSungguh Allah Ta’ala Maha Bijaksana, telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Ada hitam, juga ada putih. Ada manis ada juga pahit. Ada terang dan ada gelap. Ada kebaikan, maka ada pula keburukan. Nah, maka jika ada jalan kebenaran, di sana pun ada jalan kesesatan.

Iklan
Penulis : Admin Ahlussunnah Muna
Sungguh Allah Ta’ala Maha Bijaksana, telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Ada hitam, juga ada putih. Ada manis ada juga pahit. Ada terang dan ada gelap. Ada kebaikan, maka ada pula keburukan. Nah, maka jika ada jalan kebenaran, di sana pun ada jalan kesesatan.Entah mengapa sebagian orang alergi dengan kata ‘sesat’ dan tidak mau membahasnya. Seakan-akan bagi mereka segala sesuatu itu benar dan tidak ada yang salah. Seperti halnya ungkapan yang menggelikan yang dilontarkan Oleh Wahdah Islamiyahdalam memahami nasihat terhadap penyimpangan yang dilakukan. begitulah sikap mereka ketika menilai Al-Haq yang di sampaikan demi meligitimasi ketimpangan akidah mereka dan mempertahankan anggota mereka seperti terdapat pada tulisan mereka FENOMENA “SALAFY” DAN MANHAJ KRITIK TERHADAP ORANG LAIN. Padahal Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam sendiri seringkali mengisyaratkan adanya kesesatan dalam beragama dan senantiasa memperingatkan ummat agar menjauhinya. Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah membuat garis dengan tangannya, lalu bersabda: ‘Ini jalan yang lurus’. Kemudian, beliau membuat beberapa garis di kanan-kirinya, lalu bersabda: ‘Ini semua adalah jalan-jalan yang sesat, pada masing-masing jalan ini ada setan-setan yang mengajak untuk masuk ke sana’ ” (HR. Ahmad, An Nasa’i dan Ad Darimi. Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini hasan)Lalu apa pentingnya membahas tentang kesesatan dalam beragama? Perhatikan sebuah syair arab nan indah, yang dapat menjawab pertanyaan ini: “Aku mengenal keburukan bukan untuk berbuat keburukan. Namun aku mengenalnya agar bisa menjauhinya. Karena orang yang tidak mengenal keburukan, biasanya akan terjerumus ke dalamnya”. Maka dengan itu saya akan menampilkan bantahan atas tulisan mereka sebagai mpelajaran tambahan dan nasihat bagi mereka yang insyaallah di tampilkan secara berseri. Subhat Pertama Munculnya gerakan “salafy” di tengah para pegiat dakwah merupakan peristiwa fenomenal. Dengan gaya khas-nya, kelompok ini mengobok-obok para ulama, du’at serta jama’ah-jama’ah dakwah lain yang tidak sepaham dengan mereka. Padahal, sebelum era 90-an, yakni sebelum pecah perang teluk, barisan kaum muslimin khususnya para pengusung al-haq di seluruh pojok dunia terfokus menghadapi geliat penyimpangan akidah, kaum kuffar, dan sekuler. Namun tiba-tiba dunia seolah dikejutkan oleh fenomena lahirnya fikrah “salafy” ini. Begitu fenomenal. Sebab hadir dengan sebuah fikrah yang membuat banyak orang tercengang, tak percaya. Kelompok anak-anak muda yang sangat berani menyerang dan menuding ulama umat, tak terkecuali para ulama terdahulu yang banyak melahirkan karya-karya monumental bagi umat ini, seperti Ibnu Hajar al-Asqalani, Imam an-Nawawi dan selain keduanya –rahimahumullah-. BANTAHAN Penaman Salafy Ungkapan tersebut seolah- olah menyoalkan tentang terbentuknya penamaan Salafy serta nasehat atas penyimpangan paham yang menyesatkan ada setelah era 90-an yang sebelumnya tidak dikenal oleh para Ulama.dan hal tersebut nampak ketika datang nasehat atas penyimpangan paham Wahdah Islamiyyah. Seolah-olah nama “Wahdah Islamiyah” yang di rekomendasikan oleh para Ulama dalam berdakwah.Lihatlah bagaimana mudahnya mereka berucap tampa di dasari ilmu. Padahal penamaan salafy telah ada semenjak hidupnya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam yang ketika itu di ditimpa penyakit yang menyebabkan kematiannya, beliau berkata kepada Fathimah radliyallahu `anha: “Bertakwalah kepada Allah (wahai Fathimah) dan bersabarlah. Dan aku adalah sebaik-baik salaf (pendahulu) bagimu.” Para ulama pun sangat sering menggunakan istilah salaf sehingga terlalu banyak untuk dihitung. Cukuplah salah satu contoh yang biasa mereka gunakan sebagai hujjah dalam memerangi bid’ah: “Segala kebaikan adalah dengan mengikuti jejak salaf. Dan segala kejelekan ada pada bid’ahnya kaum khalaf.” Tetapi ada sebagian orang yang mengaku ulama (Ahlul Ilmi) menolak penisbatan (penyandaran) diri kepada Salafy ini. Mereka menganggap penisbatan ini tidak ada asalnya sama sekali! Menurut mereka, seorang Muslim tidak boleh mengucapkan: “Saya Salafy (yakni orang yang mengikuti jejak generasi salaf).” Maka dengan perkataan ini mereka seolah-olah melarang seorang Muslim mengucapkan: “Saya pengikut para Salafus Shalih dalam segala apa yang ada pada mereka baik dalam beraqidah, ibadah maupun berakhlak.” Tidak diragukan lagi bahwa pengingkaran seperti ini, kalau memang demikian yang mereka maksudkan, menunjukkan adanya tindakan untuk melepaskan diri dari pemahaman Islam yang shahih (benar) sebagaimana yang dipahami dan dijalani oleh Salafus Shalih dan pemimpin mereka, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Seperti tersebut dalam hadits mutawwatir yang terdapat dalam Shahihain (Bukhari Muslim) dan lain-lain bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku (para shahabatku), kemudian yang sesudahnya (tabi`in), kemudian yang sesudahnya (tabi’ut tabi`in).” Oleh karena itu, seorang Muslim tidak boleh melepaskan diri dari penisbatan kepada Salafus Shalih. Sebab tidak mungkin para ulama akan menisbatkan istilah salaf kepada kekafiran maupun kefasikan. Sementara orang-orang yang menolak penamaan itu sendiri, apakah mereka tidak menisbatkan dirinya kepada salah satu madzhab yang ada? Baik madzhab yang berhubungan dengan aqidah maupun fiqh? Mereka ini kadang-kadang ada yang menisbatkan diri kepada madzhab Asy’ariyah atau Maturidiyah. Ada pula yang menisbatkan dirinya kepada para Ahli Hadits seperti Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, atau Hanbaliyah yang (kelima madzhab terakhir ini) masih termasuk dalam lingkup Ahlus Sunnah wal Jamaah. Padahal orang-orang yang menisbatkan dirinya kepada madzhab Asy’ariyah atau madzhab imam yang empat (al-aimmatul arba`ah), tidak diragukan lagi bahwa mereka itu menisbatkan diri kepada person atau orang-orang yang tidak ma’shum (terpelihara dari kesalahan). Meskipun di antara mereka terdapat ulama yang benar, alangkah lebih baiknya kalau sekiranya mereka mengingkari penisbatan kepada orang-orang yang tidak ma’shum tersebut. Adapun orang yang menisbatkan diri kepada Salafus Shalih, sesungguhnya dia telah menisbatkan dirinya kepada yang ma’shum (yakni ijma’ para shahabat secara umum). Nabi shallallahu `alaihi wa sallam telah menyebutkan ciri-ciri Al-Firqah An-Najiyah (golongan yang selamat), yaitu mereka yang senantiasa berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dan sunnah para shahabatnya ridwanullahu `alaihim ajma`in. Barangsiapa berpegang teguh kepada sunnah mereka, maka pasti dia akan mendapat petunjuk dari Rabbnya. Penisbatan kepada salaf ini akan memuliakan orang-orang yang menisbatkan dirinya kepada mereka dan akan menuntunnya dalam menempuh jalan Al-Firqah An-Najiyah. Sedangkan orang yang menisbatkan dirinya kepada selain mereka, tidaklah demikian keadaannya. Sibuk Membantah sesama Muslim dan Diam terhadap penyimpangan akidah, kaum kuffar(Orang Kafir), dan sekuler ucapan seperti ini sering muncul dari berbagai kalangan, baik dari orang-orang awam maupun dari kalangan yang diistilahkan dengan “para aktivis” atau “pegiat da’wah”. Kalau munculnya dari orang-orang awam maka hal itu bisa dimaklumi, karena keawamannya itu mereka cenderung menilai dan bersikap berdasarkan tingkat pengetahuannya terhadap agama. Karena bersumber dari orang awam, maka pengaruh dari ucapan tersebut tidak terlalu berarti. Namun apabila ucapan atau pertanyaan seperti itu diucapkan oleh orang-orang yang disebut “para aktivis” atau “pegiat da’wah” maka akan memiliki pengaruh negatif yang cukup berarti, antara lain: 1. Mendidik umat untuk diam terhadap berbagai penyimpangan dan kesesatan yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin. Tentunya bertentangan dengan perintah Nabi dalam beberapa haditsnya, antara lain Tolonglah saudaramu, baik yang berbuat kezhaliman maupun yang terzhalimi. Seorang shahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, jelas aku akan menolongnya jika ia adalah pihak yang terzhalimi, tapi bagaimana menurut engkau jika dia adalah pihak yang berbuat kezhaliman, bagaimana mungkin aku akan menolongnya?’ Rasulullah menjawab: “Yaitu (dengan cara) kamu mencegah atau melarang dia dari perbuatan zhalim. Maka sesungguhnya itu adalah bentuk pertolongan untuknya.”[HR. Al-Bukhari] Begitu juga dengan hadits: “Permisalan antara seseorang yang menjalankan syari’at Allah dengan orang yang melanggarnya bagaikan suatu kaum yang mengundi penentuan tempat pada sebuah kapal (bahtera). Sebagian mereka berhasil mendapatkan tempat di bagian atas, sementara yang lain di bagian bawah. Orang-orang yang berada di bagian bawah kapal, jika membutuhkan air minum terpaksa harus melewati orang-orang yang berada di atasnya. Akhirnya mereka berkata: “Kalau seandainya kita lobangi (dinding kapal) sedikit (untuk mendapatkan air) sehingga kita tidak mengganggu orang-orang yang berada di atas kita.” Jika mereka membiarkan orang-orang yang ada di bawah dengan kemauannya itu niscaya mereka semua akan binasa. Namun apabila mereka berupaya mencegahnya niscaya mereka akan selamat dan selamat pulalah seluruh (yang ada di kapal tersebut).” [Al-Bukhari 2493, 2686] 2. Akan semakin berkembangnya penyimpangan dan paham sesat. Ketika upaya pengingkaran terhadap berbagai penyimpangan telah diabaikan, tentu umat yang jauh dari bimbingan ilmu ini akan mengira suatu kesesatan sebagai suatu kebenaran, para pengusung paham dan aliran yang menyesatkan dianggapnya sebagai penyeru kebaikan, dan umat pun akan semakin terpecah belah dalam berbagai kelompok. Para penganut paham Syi’ah yang menyesatkan akan dengan mudah menjerumuskan umat kepada aqidahnya yang menyesatkan itu. Para penganut paham Khawarij akan terus dengan mudah menggiring para pemuda khususnya untuk memusuhi dan mengkafirkan pemerintahnya dan orang- orang yang tidak berada dalam satu kelompok dengan mereka, melakukan pengeboman, pembunuhan, dan berbagai tindakan sadis lainnya dengan mengatasnamakan agamanya. Begitu pula para pengusung paham sesat lainnya. 3. Akan semakin menjauhkan umat dari pertolongan Allah dalam menghadapi musuh-musuhnya. Kita semua tahu dan yakin, bahwa Allah tidak akan menolong umat ini terhadap musuh-musuhnya selama mereka masih banyak melanggar Allah dan Rasul-Nya. Terkhusus jika pelanggaran tersebut dalam permasalahan aqidah dan manhaj, yang tersebar di tengah-tengah umat dalam berbagai paham dan aliran yang menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam koridor bimbingan generasi as-salafush shalih. Sehingga dengan itu umat akan semakin lemah di hadapan musuh-musuhnya dengan tidak adanya pertolongan dari Allah . Dalam kesempatan ini, kami akan nukilkan untuk para pembaca sekalian nasehat Asy-Syaikh Al-’Allamah DR. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, salah satu anggota Majelis Hai‘ah Kibaril ‘Ulama‘ Kerajaan Saudi ‘ Arabia, dalam jawabannya terhadap pertanyaan sebagai berikut: Pertanyaan : Kenapa harus diterapkan tahdzir (peringatan keras) terhadap berbagai ahlul bid’ah sementara umat ini sedang menghadapi permusuhan dengan kaum Yahudi, Nashara, dan para sekuleris? Jawaban : Tidak mungkin bagi kaum muslimin untuk melawan Yahudi dan Nashara kecuali jika mereka mem-berantas berbagai bid’ah yang ada di tengah-tengah mereka, mengobati berbagai penyakit (kesesatan) yang ada di antara mereka, sehingga mereka menang atas Yahudi dan Nashara. Namun apabila kaum muslimin masih saja mengabaikan urusan agama mereka dan masih saja melakukan berbagai bid’ah dan perbuatan-perbuatan haram lainnya serta terus meremehkan untuk mengaplikasikan syari’at Allah, maka tidak akan mungkin mereka menang atas Yahudi dan tidak pula atas Nashara. Bahkan mereka akan dikalahkan oleh Yahudi dan Nashara dengan sebab sikap meremehkan urusan agama mereka. Karena itu wajib adanya upaya pembersihan masyarakat (muslimin) dari berbagai macam bid’ah dan kemungkaran, serta wajib berupaya menerapkan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya sebelum kita memerangi Yahudi dan Nashara. Kalau kita terus memerangi Yahudi dan Nashara dalam keadaan kondisi kita masih seperti ini, maka kita tidak akan menang atas mereka selama-lamanya! Bahkan merekalah yang akan menang atas kita disebabkan dosa-dosa kita. [dari kitab Al-Ij abatul Muhimmah fil Masyakil Al-Mulimmah, hal. 28]

Penulis: Abu Ibrohim (Admin kebenaranhanya1 (thetruthonly1))

Ingatlah bahwa tiada yang berhak disembah selain Allah

6 thoughts on “FENOMENA WAHDAH DAN KETIMPANGAN DALAM MEMAHAMI NASIHAT (Bag 1)”

  1. Afwan,
    ana sdh berusaha menasehati teman,
    tapi dia tidak mau/susah keluar dari kelompok itu, katax hax untuk menambah pengetahuan tentang agama & mengisi waktu kosong.
    Apa yg hrs ana lakukan???
    Apakah ana biarkn saja???
    Jazakallohu khoirn…

    Suka

    1. tinggalkan saja dia kalau sudah tidak bisa dinasehati, karena biasanya orang seperti itu akan mempengaruhi kita juga,

      Suka

  2. ya ikhwan bertakwalah kepada Allah…
    apakah sebenci itu kalian kepada Wahdah Islamiyah..
    padahal wahdah Islamiyah sebuah organisasi yang bermanhajkan salaf..
    ana udah sering dengar kaset2 yang kalian sebarkan tentang kesesatan wahdah namun ana telusuru ngak pernah ust2 yang ada diwahdah mengajarkan murid2nya hal seperti itu…
    membagi tauhid menjadi 4 ana ngak pernah dapatkan selama ana ngaji di wahdah..
    pemberontak kepada penguasa ngak pernah ana dapatkan…
    apakah kalian tidak meliaht ust2 yang ada diwahdah sangat dekat sekali dengan pemerintah bahkan mereka sering melakuakn kerja sama…

    bertobatlah sebelum hari itu tiba yaitu kematian..
    satu hal bahwa selama kalian menyebarkan sesuatu namun sesuatu itu tidak pernah dilakukan dan jika pernah dilakukan kemudian dia bertobat apakah pantas kita sebutkan kejelanya saudara kita..
    yang jelasnya ada satu pengadilan yang sangat adil mengadili kita yaitu pada saat diakhirat..
    cam kan itu ikhwan

    Suka

    1. sampaikan pada ustadmu di wahdah, S U R A T A L – I M R O N

      3:61. Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.

      Suka

  3. mantap sampai sekarang manhaj nya ndk jelas krna mereka muwazanah,tdk mau membicarakan ikhwani,tabliq,apalagi sururi,katanya memecah belah ummat,padahal umat itu harus bersatu diAQIDAH dn MANHAJ yg bener dulu,ummat dididik dgn bener.semestinya mereka rujuk terang2ngan supaya orang tau yg mana yg salah dulu Manhaj nya,supaya jd pembelajaran untuk kita sama2 belajar Salaf.wallahu a’lam.

    Suka

  4. Contoh orang yg gk faham masalah fiqh,ya kayk si admin neh. pasti belajarnya hanya pada seorang ustad dah,hati2 loe min jatuh pada syirik,taklid buta pada ustatmu..klu mau ayo kita diskusi.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s