Yusuf Al Qaradhawi dan As Sufiyah

asy Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Manshur Al ‘Udaini Al Yamani

Dalam tulisan-tulisan ini aku tidak ingin berbicara tentang pemikiran Sufiyah, baik tentang i’tiqad maupun asal-muasalnya karena persoalan ini telah dibicarakan oleh para ulama Islam yang menjelaskan segala kejelekan As Sufiyah beserta segala musibah, bencana, kesyirikan, bid’ah, khurafat yang ditimbulkannya dari dahulu maupun sekarang.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, Ibnul Qayyim serta ulama-ulama setelah mereka di zaman sekarang ini menulls tentang As Sufiyah dan memperingatkan umat dari kejahatan dan kesesatan mereka. Maka siapa saja yang jahil (bodoh) tentang perihal mereka dan kesyirikan-kesyirikan mereka hendaklah ia membaca tulisan-tulisan para ulama! Siapa saja yang telah membaca dan mengerti kebatilan yang dianut pemikiran As Sufiyah maka ia telah mengetahui kebaikan yang banyak.

Yang ingin aku jelaskan di sini adalah hubungan Qaradhawi dengan pemikiran sufi semenjak kecil. Harian Syarqul Ausath yang terbit pada 15 Ramadhan 1416 H melontarkan pertanyaan kepada Qaradhawi seputar kehidupan serta awal dari masa belajarnya.

Qaradhawi-pun bercerita :
Setelah aku memasuki ma’had, aku mulai membaca buku-buku sastra dan tasawuf. Allah menganugerahkan kepadaku kesempatan untuk membaca dua buah kitab karangan Al Ghazali pada saat aku masih di tahun pertama Ibtidaiyah, yaitu Ihyaa’ ‘Uluumuddiin dan Minhaajul ‘Aabidin.

Lalu dia melanjutkan pembicaraan tentang fase pendidikannya sampai ia berkata :
Semasa di Tsanawiyah, aku telah mengenal sebagian buku-buku tasawuf yang lain seperti Syarh Ibnu ‘Ujaibah milik Hakam bin ‘Athaillah Al Iskandari (Kitab ini mencakup kasesatan dan penyimpangan yang Allah lebih mengetahuinya walaupun begitu Qaradhawi tidak mengisyaratkan (menunjukkan) ketika ia menyebutkan kitab ini, begitu pula halnya dengan Ihyaa’ Uluumuddiin.) dan sebagian kitab-kitab syaikh Abdul Wahhab As Sya’rani dan sebagainya.

Qaradhawi terus saja bersama tasawuf hingga ia menjadikannya sebagai sumber ilmu-ilmu Islam yang mendasar. Berkata dia dalam mukadimah Fiqhus Shiyam halaman 5 yang berbunyi :
Amma ba’du. Lembaran-lembaran yang aku haturkan tentang fikih puasa adalah sebagian dari proyek besar yang aku tekadkan semenjak bertahun-tahun yang aku nyatakan dalam karangan bukuku, Tafsir Al Fiqh atau Fiqh Al Muyassar yang juga salah satu bagian dari proyek penulisan yang lebih besar yaitu Tafsir Ats Tsaqafah Al Islamiyah li’l Muslimin Al Mu’ashir yang mengandung ilmu Al Qur’an, hadits, tafsir, sirah nabi, aqidah, akhlak, tasawuf, dan lain sebagainya yang harus diketahui seorang muslim di zaman ini yang termasuk ilmu-ilmu Islam yang mendasar.

Karena keterikatan Qaradhawi dengan tasawuf sejak masa kecilnya itulah maka ia tidak mengambil sikap bermusuhan terhadap apa yang dikandung dalam pemikiran tasawuf. Padahal ia mengetahui adanya kesyirikan-kesyirikan serta bid’ah-bid’ah di dalamnya. Dia berkata :
Tidaklah mengherankan apabila seorang pengamat yang adil dapat merasakan pada banyak sisi-sisi tasawuf kontemporer adanya banyak kesyirikan dalam masalah aqidah serta bid’ah-bid’ah dalam ibadah serta sisi negatif dalam akhlak, bentuk-bentuk zikir, dan cara berpikir yang liar. Walaupun begitu aku tidak mengambil sikap permusuhan terhadap tasawuf secara keseluruhan akan tetapi aku tetap mengambil manfaat dan menukil dari tasawuf tersebut pada ceramah-ceramahku dan khutbah-khutbahku juga karangan dan buku-bukuku. (Harian Asy Syarqul Ausath, 15 Ramadhan 1416 H/4 Februari 1996 M)

Seandainya Anda benar-benar teliti menilik muatan perkataannya, akan Anda dapatkan bahwa dia hendak memberikan gambaran bahwa kesyirikan belum terjadi dalam tasawuf yang lama akan tetapi baru terdapat dalam sufiyah sekarang ini. Ini tidaklah benar karena kesyirikan itu telah ada pada masa pendahulu mereka seperti Ibnu ‘Arabi, Al Hallaj, dan lain sebagainya.

Tidak tersamar lagi olehmu wahai pembaca, kesesatan dan penyimpangan yang terdapat dalam kitab-kitab tasawuf yang dipelajari oleh Qaradhawi. Kitab Ihya’, sekelompok ulama seperti Ath Thurtusi dan yang lainnya telah menfatwakan untuk membakar dan menghancurkannya, begitu pula kitab Ibnu ’Ujaibah yang penuh dengan kesesatan dan penyimpangan.

[Dinukil dari Kitab Raf’ul Litsaam ‘An Mukhaalaafatil Qaradhawi Li Syari’atil Islaam, edisi Indonesia Membongkar Kedok Al Qaradhawi Bukti-bukti Penyimpangan Yusuf Al Qardhawi dari Syari’at Islam. Diterbitkan Masyarakat Belajar Depok]

Iklan

Penulis: Abu Ibrohim (Admin kebenaranhanya1 (thetruthonly1))

Ingatlah bahwa tiada yang berhak disembah selain Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s