Hukum Qunut Subuh

Pertanyaan :

Salah satu masalah kontraversial di tengah masyarakat adalah qunut Shubuh. Sebagian menganggapnya sebagai amalan sunnah, sebagian lain menganggapnya pekerjaan bid’ah. Bagaimanakah hukum qunut Shubuh sebenarnya ?

Jawab :

Dalam masalah ibadah, menetapkan suatu amalan bahwa itu adalah disyariatkan (wajib maupun sunnah) terbatas pada adanya dalil dari Al-Qur’an maupun As-sunnah yang shohih menjelaskannya. Kalau tidak ada dalil yang benar maka hal itu tergolong membuat perkara baru dalam agama (bid’ah), yang terlarang dalam syariat Islam sebagaimana dalam hadits Aisyah riwayat Bukhary-Muslim :

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَد ٌّ. وَ فِيْ رِوَايَةِ مُسْلِمٍ : ((مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمُرُنَا فَهُوَ رَدَّ

“Siapa yang yang mengadakan hal baru dalam perkara kami ini (dalam Agama-pent.) apa yang sebenarnya bukan dari perkara maka hal itu adalah tertolak”. Dan dalam riwayat Muslim : “Siapa yang berbuat satu amalan yang tidak di atas perkara kami maka ia (amalan) adalah tertolak”.

Dan ini hendaknya dijadikan sebagai kaidah pokok oleh setiap muslim dalam menilai suatu perkara yang disandarkan kepada agama.

Setelah mengetahui hal ini, kami akan berusaha menguraikan pendapat-pendapat para ulama dalam masalah ini.

Uraian Pendapat Para Ulama

Ada tiga pendapat dikalangan para ulama, tentang disyariatkan atau tidaknya qunut Shubuh.

Pendapat pertama : Qunut shubuh disunnahkan secara terus-menerus, ini adalah pendapat Malik, Ibnu Abi Laila, Al-Hasan bin Sholih dan Imam Syafi’iy.

Pendapat kedua : Qunut shubuh tidak disyariatkan karena qunut itu sudah mansukh (terhapus hukumnya). Ini pendapat Abu Hanifah, Sufyan Ats-Tsaury dan lain-lainnya dari ulama Kufah.

Pendapat ketiga : Qunut pada sholat shubuh tidaklah disyariatkan kecuali pada qunut nazilah maka boleh dilakukan pada sholat shubuh dan pada sholat-sholat lainnya. Ini adalah pendapat Imam Ahmad, Al-Laits bin Sa’d, Yahya bin Yahya Al-Laitsy dan ahli fiqh dari para ulama ahlul hadits.

Dalil Pendapat Pertama

Dalil yang paling kuat yang dipakai oleh para ulama yang menganggap qunut subuh itu sunnah adalah hadits berikut ini :

مَا زَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا

“Terus-menerus Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa a lihi wa sallam qunut pada sholat Shubuh sampai beliau meninggalkan dunia”.

Dikeluarkan oleh ‘Abdurrozzaq dalam Al Mushonnaf 3/110 no.4964, Ahmad 3/162, Ath-Thoh awy dalam Syarah Ma’ani Al Atsar 1/244, Ibnu Syahin dalam Nasikhul Hadits Wamansukhih no.220, Al-Ha kim dalam kitab Al-Arba’in sebagaimana dalam Nashbur Royah 2/132, Al-Baihaqy 2/201 dan dalam Ash-Shugro 1/273, Al-Baghawy dalam Syarhus Sunnah 3/123-124 no.639, Ad-Daruquthny dalam Sunannya 2/39, Al-Maqdasy dalam Al-Mukhtaroh 6/129-130 no.2127, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no.689-690 dan dalam Al-’Ilal Al-Mutanahiyah no.753 dan Al-Khatib Al-Baghdady dalam Mudhih Auwan Al Jama’ wat Tafr iq 2/255 dan dalam kitab Al-Qunut sebagaimana dalam At-Tahqiq 1/463.

Semuanya dari jalan Abu Ja’far Ar-Rozy dari Ar-Robi’ bin Anas dari Anas bin Malik.

Hadits ini dishohihkan oleh Muhammad bin ‘Ali Al-Balkhy dan Al-Hakim sebagaimana dalam Khulashotul Badrul Munir 1/127 dan disetujui pula oleh Imam Al-Baihaqy. Namun Imam Ibnu Turkumany dalam Al-Jauhar An-Naqy berkata : “Bagaimana bisa sanadnya menjadi shohih sedang rowi yang meriwayatkannya dari Ar-Rob i’ bin Anas adalah Abu Ja’far ‘Isa bin Mahan Ar-Rozy mutakallamun fihi (dikritik)”. Berkata Ibnu Hambal dan An-Nasa`i : “Laysa bil qowy (bukan orang yang kuat)”. Berkata Abu Zur’ah : ” Yahimu katsiran (Banyak salahnya)”. Berkata Al-Fallas : “Sayyi`ul hifzh (Jelek hafalannya)”. Dan berkata Ibnu Hibban : “Dia bercerita dari rowi-rowi yang masyhur hal-hal yang mungkar”.”

Dan Ibnul Qoyyim dalam Zadul Ma’ad jilid I hal.276 setelah menukil suatu keterangan dari gurunya Ibnu Taimiyah tentang salah satu bentuk hadits mungkar yang diriwayatkan oleh Abu Ja’far Ar-Rozy, beliau berkata : “Dan yang dimaksudkan bahwa Abu Ja’far Ar-R ozy adalah orang yang memiliki hadits-hadits yang mungkar, sama sekali tidak dipakai berhujjah oleh seorang pun dari para ahli hadits periwayatan haditsnya yang ia bersendirian dengannya”.

Dan bagi siapa yang membaca keterangan para ulama tentang Abu Ja’far Ar-R ozy ini, ia akan melihat bahwa kritikan terhadap Abu Ja’far ini adalah Jarh mufassar (Kritikan yang jelas menerangkan sebab lemahnya seorang rawi). Maka apa yang disimpulkan oleh Ibnu Hajar dalam Taqrib-Tahdzib sudah sangat tepat. Beliau berkata : “Shoduqun sayi`ul hifzh khususon ‘anil Mughiroh (Jujur tapi jelek hafalannya, terlebih lagi riwayatnya dari Mughirah).

Maka Abu Ja’far ini lemah haditsnya dan hadits qunut subuh yang ia riwayatkan ini adalah hadits yang lemah bahkan hadits yang mungkar.

Dihukuminya hadits ini sebagai hadits yang mungkar karena 2 sebab :

Satu : Makna yang ditunjukkan oleh hadits ini bertentangan dengan hadits shohih yang menunjukkan bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tidak melakukan qunut kecuali qunut nazilah, sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ لاَ يَقْنُتُ إِلاَّ إِذَا دَعَا لِقَوْمٍ أَوْ عَلَى قَوْمٍ

“Sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa a lihi wa sallam tidak melakukan qunut kecuali bila beliau berdo’a untuk (kebaikan) suatu kaum atau berdo’a (kejelekan atas suatu kaum)” . Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah 1/314 no. 620 dan dan Ibnul Jauzi dalam At-Tahqiq 1/460 dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 639.

Kedua : Adanya perbedaan lafazh dalam riwayat Abu Ja’far Ar-Rozy ini sehingga menyebabkan adanya perbedaan dalam memetik hukum dari perbedaan lafazh tersebut dan menunjukkan lemahnya dan tidak tetapnya ia dalam periwayatan. Kadang ia meriwayatkan dengan lafazh yang disebut di atas dan kadang meriwayatkan dengan lafazh :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ فٍي الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Nabi shollahu ‘alahi wa alihi wa sallam qunut pada shalat Subuh”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf 2/104 no.7003 (cet. Darut Taj) dan disebutkan pula oleh imam Al Maqdasy dalam Al Mukhtarah 6/129.

emudian sebagian para ‘ulama syafi’iyah menyebutkan bahwa hadits ini mempunyai beberapa jalan-jalan lain yang menguatkannya, maka mari kita melihat jalan-jalan tersebut :

Jalan Pertama : Dari jalan Al-Hasan Al-Bashry dari Anas bin Malik, beliau berkata :

قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَأَبُوْ بَكْرٍ وَعُمْرَ وَعُثْمَانَ وَأَحْسِبُهُ وَرَابِعٌ حَتَّى فَارَقْتُهُمْ

“Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa alihi wa Sallam, Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman, dan saya (rawi) menyangka “dan keempat” sampai saya berpisah denga mereka”.

Hadits ini diriwayatkan dari Al Hasan oleh dua orang rawi :

Pertama : ‘Amru bin ‘Ubaid. Dikeluarkan oleh Ath-Thohawy dalam Syarah Ma’ani Al Atsar 1/243, Ad-Daraquthny 2/40, Al Baihaqy 2/202, Al Khatib dalam Al Qunut dan dari jalannya Ibnul Jauzy meriwayatkannya dalam At-Tahqiq no.693 dan Adz-Dzahaby dalam Tadzkiroh Al Huffazh 2/494. Dan ‘Amru bin ‘Ubaid ini adalah gembong kelompok sesat Mu’tazilah dan dalam periwayatan hadits ia dianggap sebagai rawi yang matrukul hadits (ditinggalkan haditsnya).

Kedua : Isma’il bin Muslim Al Makky, dikeluarkan oleh Ad-Da raquthny dan Al Baihaqy. Dan Isma’il ini dianggap matrukul hadits oleh banyak orang imam. Baca : Tahdzibut Tahdzib.

Catatan :

Berkata Al Hasan bin Sufyan dalam Musnadnya : Menceritakan kepada kami Ja’far bin Mihr on, (ia berkata) menceritakan kepada kami ‘Abdul Warits bin Sa’id, (ia berkata) menceritakan kepada kami Auf dari Al Hasan dari Anas beliau berkata :

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى فَارَقْتُهُ

“Saya sholat bersama Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa alihi wa Sallam maka beliau terus-menerus qunut pada sholat Subuh sampai saya berpisah dengan beliau”.

Riwayat ini merupakan kekeliruan dari Ja’far bin Mihron sebagaimana yang dikatakan oleh imam Adz-Dzahaby dalam Mizanul I’tidal 1/418. Karena ‘Abdul Warits tidak meriwayatkan dari Auf tapi dari ‘Amru bin ‘Ubeid sebagaiman dalam riwayat Abu ‘Umar Al Haudhy dan Abu Ma’mar – dan beliau ini adalah orang yang paling kuat riwayatnya dari ‘Abdul Warits-.

Jalan kedua : Dari jalan Khalid bin Da’laj dari Qotadah dari Anas bin M alik :

صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَخَلْفَ عُمَرَ فَقَنَتَ وَخَلْفَ عُثْمَانَ فَقَنَتَ

“Saya sholat di belakang Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam lalu beliau qunut, dan dibelakang ‘umar lalu beliau qunut dan di belakang ‘Utsman lalu beliau qunut”.

Dikeluarkan oleh Al Baihaqy 2/202 dan Ibnu Syahin dalam Nasikhul Hadi ts wa Mansukhih no.219. Hadits di atas disebutkan oleh Al Baihaqy sebagai pendukung untuk hadits Abu Ja’far Ar-Rozy tapi Ibnu Turkumany dalam Al Jauhar An Naqy menyalahkan hal tersebut, beliau berkata : “Butuh dilihat keadaan Khalid apakah bisa dipakai sebagai syahid (pendukung) atau tidak, karena Ibnu Hambal, Ibnu Ma’in dan Ad-Daruquthny melemahkannya dan Ibnu Ma’ in berkata di (kesempatan lain) : laisa bi syay`in (tidak dianggap) dan An-Nasa`i berkata : laisa bi tsiqoh (bukan tsiqoh). Dan tidak seorangpun dari pengarang Kutubus Sittah yang mengeluarkan haditsnya. Dan dalam Al-Mizan, Ad Daraquthny mengkategorikannya dalam rowi-rowi yang matruk.

Kemudian yang aneh, di dalam hadits Anas yang lalu, perkataannya “Terus-menerus beliau qunut pada sholat Subuh hingga beliau meninggalkan dunia”, itu tidak terdapat dalam hadits Khal id. Yang ada hanyalah “beliau (nabi) ‘alaihis Salam qunut”, dan ini adalah perkara yang ma’ruf (dikenal). Dan yang aneh hanyalah terus-menerus melakukannya sampai meninggal dunia. Maka di atas anggapan dia cocok sebagai pendukung, bagaimana haditsnya bisa dijadikan sebagai syahid (pendukung)”.

Jalan ketiga : Dari jalan Ahmad bin Muhammad dari Dinar bin ‘Abdillah dari Anas bin Malik :

مَا زَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْصُبْحِ حَتَّى مَاتَ

“Terus-menerus Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa a lihi wa Sallam qunut pada sholat Subuh sampai beliau meninggal”.

Dikeluarkan oleh Al Khatib dalam Al Qunut dan dari jalannya, Ibnul Jauzy dalam At-Tahq iq no. 695.

Ahmad bin Muhammad yang diberi gelar dengan nama Ghulam Khalil adalah salah seorang pemalsu hadits yang terkenal. Dan Dinar bin ‘Abdillah, kata Ibnu ‘Ady : “Mungkarul hadits (Mungkar haditsnya)”. Dan berkata Ibnu Hibba n : “Ia meriwayatkan dari Anas bin Malik perkara-perkara palsu, tidak halal dia disebut di dalam kitab kecuali untuk mencelanya”.

Kesimpulan pendapat pertama:

Jelaslah dari uraian diatas bahwa seluruh dalil-dalil yang dipakai oleh pendapat pertama adalah hadits yang lemah dan tidak bisa dikuatkan.

Kemudian anggaplah dalil mereka itu shohih bisa dipakai berhujjah, juga tidak bisa dijadikan dalil akan disunnahkannya qunut subuh secara terus-menerus, sebab qunut itu secara bahasa mempunyai banyak pengertian. Ada lebih dari 10 makna sebagaimana yang dinukil oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar dari Al-Iraqi dan Ibnul Arabi.

1) Doa

2) Khusyu’

3) Ibadah

4) Taat

5) Menjalankan ketaatan.

6) Penetapan ibadah kepada Allah

7) Diam

8 ) Shalat

9) Berdiri

10) Lamanya berdiri

11) Terus menerus dalam ketaatan

Dan ada makna-makna yang lain yang dapat dilihat dalam Tafsir Al-Qurthubi 2/1022, Mufradat Al-Qur’an karya Al-Ashbahany hal. 428 dan lain-lain.

Maka jelaslah lemahnya dalil orang yang menganggap qunut subuh terus-menerus itu sunnah.

Dalil Pendapat Kedua

Mereka berdalilkan dengan hadits Abu Hurairah riwayat Bukhary-Muslim :

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ حِيْنَ يَفْرَغُ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ مِنَ الْقِرَاءَةِ وَيُكَبِّرُ وَيَرْفَعُ رَأْسَهُ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ثُمَّ يَقُوْلُ وَهُوَ قَائِمٌ اَللَّهُمَّ أَنْجِ اَلْوَلِيْدَ بْنَ الْوَلِيْدِ وَسَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ وَعَيَّاشَ بْنَ أَبِيْ رَبِيْعَةَ وَالْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنَ الْمُُؤْمِنِيْنَ اَللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ وَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ كَسِنِيْ يُوْسُفَ اَللَّهُمَّ الْعَنْ لِحْيَانَ وَرِعْلاً وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ عَصَتِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ ثُمَّ بَلَغَنَا أَنَهُ تَرَكَ ذَلِكَ لَمَّا أَنْزَلَ : (( لَيْسَ لَكَ مِنَ الأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوْبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُوْنَ ))

“Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam ketika selesai membaca (surat dari rakaat kedua) di shalat Fajr dan kemudian bertakbir dan mengangkat kepalanya (I’tidal) berkata : “Sami’allahu liman hamidah rabbana walakal hamdu, lalu beliau berdoa dalaam keadaan berdiri. “Ya Allah selamatkanlah Al-Walid bin Al-Walid, Salamah bin Hisyam, ‘Ayyasy bin Abi Rabi’ah dan orang-orang yang lemah dari kaum mu`minin. Ya Allah keraskanlah pijakan-Mu (adzab-Mu) atas kabilah Mudhar dan jadianlah atas mereka tahun-tahun (kelaparan) seperti tahun-tahun (kelaparan yang pernah terjadi pada masa) Nabi Yusuf. Wahai Allah, laknatlah kabilah Lihyan, Ri’lu, Dzakw an dan ‘Ashiyah yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian sampai kepada kami bahwa beliau meningalkannya tatkala telah turun ayat : “Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim”. (HSR.Bukhary-Muslim)

Berdalilkan dengan hadits ini menganggap mansukh-nya qunut adalah pendalilan yang lemah karena dua hal :

Pertama : ayat tersebut tidaklah menunjukkan mansukh-nya qunut sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Qurthuby dalam tafsirnya, sebab ayat tersebut hanyalah menunjukkan peringatan dari Allah bahwa segala perkara itu kembali kepada-Nya. Dialah yang menentukannya dan hanya Dialah yang mengetahui perkara yang ghoib.

Kedua : Diriwayatkan oleh Bukhary – Muslim dari Abu Hurairah, beliau berkata :

وَاللهِ لَأَقْرَبَنَّ بِكُمْ صَلاَةَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ يَقْنُتُ فِي الظُّهْرِ وَالْعِشَاءِ الْآخِرَةِ وَصَلاَةِ الْصُبْحِ وَيَدْعُوْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَيَلْعَنُ الْكُفَّارَ.

Dari Abi Hurairah radliyallahu `anhu beliau berkata : “Demi Allah, sungguh saya akan mendekatkan untuk kalian cara shalat Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam. Maka Abu Hurairah melakukan qunut pada shalat Dhuhur, Isya’ dan Shubuh. Beliau mendoakan kebaikan untuk kaum mukminin dan memintakan laknat untuk orang-orang kafir”.

Ini menunjukkan bahwa qunut nazilah belum mansu kh. Andaikata qunut nazilah telah mansukh tentunya Abu Hurairah tidak akan mencontohkan cara sholat Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam dengan qunut nazilah .

Dalil Pendapat Ketiga

Satu : Hadits Sa’ad bin Thoriq bin Asyam Al-Asyja’i

قُلْتُ لأَبِيْ : “يَا أَبَتِ إِنَّكَ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وآله وسلم وَأَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيَ رَضِيَ الله عَنْهُمْ هَهُنَا وَبِالْكُوْفَةِ خَمْسَ سِنِيْنَ فَكَانُوْا بَقْنُتُوْنَ فيِ الفَجْرِ” فَقَالَ : “أَيْ بَنِيْ مُحْدَثٌ”.

“Saya bertanya kepada ayahku : “Wahai ayahku, engkau sholat di belakang Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam dan di belakang Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum di sini dan di Kufah selama 5 tahun, apakah mereka melakukan qunut pada sholat subuh ?”. Maka dia menjawab : “Wahai anakku hal tersebut (qunut subuh) adalah perkara baru (bid’ah)”. Dikeluarkan oleh Tirmidzy no. 402, An-Nasa`i no.1080 dan dalam Al-Kubro no.667, Ibnu Majah no.1242, Ahmad 3/472 dan 6/394, Ath-Thoy alisy no.1328, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf 2/101 no.6961, Ath-Thohawy 1/249, Ath-Thobarany 8/no.8177-8179, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihs an no.1989, Baihaqy 2/213, Al-Maqdasy dalam Al-Mukhtarah 8/97-98, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no.677-678 dan Al-Mizzy dalam Tahdzibul Kam al dan dishohihkan oleh syeikh Al-Albany dalam Irwa`ul Gholil no.435 dan syeikh Muqbil dalam Ash-Shohih Al-Musnad mimma laisa fi Ash-Shoh ihain.

Dua : Hadits Ibnu ‘Umar

عَنْ أَبِيْ مِجْلَزِ قَالَ : “صَلَّيْتُ مَعَ اِبْنِ عُمَرَ صَلاَةَ الصُّبْحِ فَلَمْ يَقْنُتْ”. فَقُلْتُ : “آلكِبَرُ يَمْنَعُكَ”, قَالَ : “مَا أَحْفَظُهُ عَنْ أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِيْ”.

” Dari Abu Mijlaz beliau berkata : saya sholat bersama Ibnu ‘Umar sholat shubuh lalu beliau tidak qunut. Maka saya berkata : apakah lanjut usia yang menahanmu (tidak melakukannya). Beliau berkata : saya tidak menghafal hal tersebut dari para shahabatku”. Dikeluarkan oleh Ath-Thohawy 1246, Al-Baihaqy 2213 dan Ath-Thabarany sebagaimana dalam Majma’ Az-Zawa’id 2137 dan Al-Haitsamy berkata :”rawi-rawinya tsiqoh”.

Ketiga : tidak ada dalil yang shohih menunjukkan disyari’atkannya mengkhususkan qunut pada sholat shubuh secara terus-menerus.

Keempat : qunut shubuh secara terus-menerus tidak dikenal dikalangan para shahabat sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Umar diatas, bahkan syaikul islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa berkata : “dan demikian pula selain Ibnu ‘Umar dari para shahabat, mereka menghitung hal tersebut dari perkara-perkara baru yang bid’ah”.

Kelima : nukilan-nukilan orang-orang yang berpendapat disyari’atkannya qunut shubuh dari beberapa orang shahabat bahwa mereka melakukan qunut, nukilan-nukilan tersebut terbagi dua :

1) Ada yang shohih tapi tidak ada pendalilan dari nukilan-nukilan tersebut.

2) Sangat jelas menunjukkan mereka melakukan qunut shubuh tapi nukilan tersebut adalah lemah tidak bisa dipakai berhujjah.

Keenam: setelah mengetahui apa yang disebutkan diatas maka sangatlah mustahil mengatakan bahwa disyari’atkannya qunut shubuh secara terus-menerus dengan membaca do’a qunut “Allahummahdinaa fi man hadait…….sampai akhir do’a kemudian diaminkan oleh para ma’mum, andaikan hal tersebut dilakukan secara terus menerus tentunya akan dinukil oleh para shahabat dengan nukilan yang pasti dan sangat banyak sebagaimana halnya masalah sholat karena ini adalah ibadah yang kalau dilakukan secara terus menerus maka akan dinukil oleh banyak para shahabat. Tapi kenyataannya hanya dinukil dalam hadits yang lemah.

Demikian keterangan Imam Ibnul qoyyim Al-Jauziyah dalam Z adul Ma’ad.

Kesimpulan

Jelaslah dari uraian di atas lemahnya dua pendapat pertama dan kuatnya dalil pendapat ketiga sehingga memberikan kesimpulan pasti bahwa qunut shubuh secara terus-menerus selain qunut nazilah adalah bid’ah tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para shahabatnya. Wallahu a’lam.

Silahkan lihat permasalahan ini dalam Tafsir Al Qurthuby 4/200-201, Al Mughny 2/575-576, Al-Inshof 2/173, Syarh Ma’any Al-Atsar 1/241-254, Al-Ifshoh 1/323, Al-Majmu’ 3/483-485, Hasyiyah Ar-Raud Al Murbi’ : 2/197-198, Nailul Author 2/155-158 (Cet. Darul Kalim Ath Thoyyib), Majm u’ Al Fatawa 22/104-111 dan Zadul Ma’ad 1/271-285.

Penulis: Abu Muhammad

About these ads
69 comments
  1. astaghfirullah….

  2. Yg salah adalah orang muslim yg gak shalat shubuh..
    Islam agam yg fleksibel, jgn dbuat kaku..
    Umar bin Khattab shalat tarawih 20 rakaat cos Nabi Muhammad pernah mlakukanny.., tp org Islm yg ngaku udh dalam ilmu agamany, udah brani blg bid’ah sgala.., lha ini qunut jg dpermasalahkan.., emang ente ilmu agamany udh lebih jago dr Umar bin Khattab???????????????
    Ngapain t’lalu ngurusn hal kyk ginian, msh banyak bro hal yg lebih penting yg hrus d utamakn.., gmn Islam bs jd rahmatan lil ‘alamin, sdgkn umatny saling membid’ahkn kyk gini..!!!!!????!!!!

    • Tambahan lagi..
      Skrg d sekitar Ka’bah, udah dbangun tempat tawaf baru (suatu bangunan berbentuk lingkaran yg melingkari tempat tawaf dr atas tanah agak kluar sedikit), shg untuk tawaf skrg slaen bs tawaf langsung d atas tanah, jg bs d tempat tsb.., alasanny katany agar pas tawaf msh t’sedia ruang untuk jama’ah..
      Nah, pa ini jg bid’ah?!?
      Kn Nabi Muhammad gak ngajarin tawaf dr tempat yg seperti itu.
      Klo anda jawab itu untuk kemaslahatan n keamanan, jd boleh2 aja.., maka muslim yg pake qunut, tahlil, dsb, bs memakai alasan yg sama..

  3. “barang siapa mengkafirkan sesama muslim ,maka ia lebih kafir dari yg diberi tuduhan” . intinya cintailah kedamaian tebarkanlah cinta dimuka bumi karena dosa sesama manusia ialah perkara yg berat dalam hal maaf-memaafkan sedangkan Allah maha pemaaf
    dan maha segalanya..

    • Anonymous said:

      Afwan.. Tp klw mw bekomentar mohon dgan ilmu… Jg asal koment..

  4. muhammad jibril said:

    Antum ngomongin bid’ah..tau ga bid’ah itu apa?masa perkara dunia seperti hp,tv dll bid’ah..yg di anggap bid’ah itu segala urusan amalan dalam ibadah yg tidak ada tuntunanya dri rosulullah..antum bqn perkara perkara baru dalam amalan ibadah agama,antum lebih pinter dari rosulullah???

  5. Anonymous said:

    Woyyyy yng suka bid’ahin orang , ante pake hp bis’ah karena rosul sama skali pake hp
    Lou qunut udh jelas rosul jg qunut

  6. Anonymous said:

    Weyyy pake hape bid’ah gk ???????
    Hp gk ada y zaman rosul
    Jngn se’enakny ngbid’ahin orang woyyyy

  7. Anonymous said:

    maff smuanya…ksimpulan yg disimpulkan oleh amad itu adalh ksimpuln dhaif dhaif n dhaif..tlg bg yg mngmbil ksimpuln trsebut utk murajaah kmbali ktb2 n hdis2. lalu coba anda kombinasi dg pndpat2 trsebut insy allh snda mndpat ptunjuk dr allh n dpt lh mngmbil ksimpuln yg haq…trmksh.

    • Said… ente belajar lagi ya? Bid’ah itu untuk perkara ibadah.. bukannya HP, Pesawat Celana Dalam dan BH

  8. Terimah Kasih atas khsanah ilmunya semoga berkah.

  9. Betul sekali

  10. Segala puji bagi allah
    Tiada tuhan selain allah
    Allah maha besar.
    Segala kebaikan hanya milik allah semata.
    Dgn adanya artikel ini sgt membantu saudara2 kita yg masih awam seperti saya.
    Terimakasih artikelnya semoga bermanfaat.
    Amin.

    • Admin kebenaranhanya1 (thetruthonly1) said:

      Tiada yang berhak disembah selain Alloh

  11. Anonymous said:

    penjelasan ilmu berdasarkan dalil, hendaknya ditangapi juga dengan ilmu, bukan dengan caci maki, karena demikian bukan akhlak seorang muslim, seorang muslim adalah yang selamat lisan dan tanganya darinya. orang kafir selamat dari tangan dan lisan kalian tapi saudara kalian tidak selamat darimu, menyampaikan kritikan dengan ilmiah ciri seorang penuntut ilmu yang ber adab dna berakhlak mulia.

  12. Parwadi said:

    Alhamdulillah insyaAllah berkah

  13. Abu Sahin said:

    Na’udzubillah.. ana harap kalau berbicara/berkomentar antar sesama muslim dgn kata-kata yang santun dan lemah lembut meskipun berbeda manhaj/metode dalam mempelajari ilmu Allah ini. Karena berbicara/berkomentar kotor dan dengan hawa nafsu adalah datangnya dari Syaithon la’natullah. Bukankah gaya berbicara seseorang mencerminkan kualitas yang berbicara itu sendiri? Siapa yang suka mengumpat, mencela dan menjelekkan berarti hatinya juga sama dgn apa yang ia katakan itu. Dan siapa yang sabar dalam menasehati maka hatinya juga sama dengan kesabaran ucapannya. Bukankah Rosul tidak pernah mengumpat, mencerca, melaknat kpd sesama muslim seandainya umatnya pernah salah? Jangan karena kebodohan dan nafsu antum krn berbeda faham lantas saling menghina. Yang mengikuti faham Salaf, biarkan dia berdakwah dgn faham Salaf mereka. Krn arti Salaf adalah orang2 yg terdahulu, maksudnya yaitu Rosulullah SAW dan para Shahabat. Dan arti Salafy adalah pengikut salaf. Biarkan mereka mencontoh kehidupan dan memahami agama ini sama seperti pemahamannya Rosul dan para Shahabat. Dan bagi mereka yg bukan pengikut faham Salaf atau lebih tepatnya faham ulama khalaf (faham ulama yg hidup dizaman setelah zamannya Rosul dan para shahabat) juga biarkan mereka memahami agama ini sesuai dengan pemahamannya ulama khalaf. Tetapi yang terpenting bagi kita semua adalah mari kita dalam memahami dan melaksanakan syariat agama islam ini hanya mencontoh kepada Nabi Muhammad SAW saja. Baik dalam tatacara ibadahnya maupun mu’amalahnya. Sedangkan perkataan/pendapat para ulama terkadang bisa benar dan terkadang juga bisa salah. Bukankah kita sangat mencintai Rosul? Kalau hati kita benar-benar cinta kpd Rosul, mari kita contoh setiap apa yg dilakukan Rosul dgn semampu kita. Cuma terkadang kita tidak tahu derajat suatu hadits tetapi kita terkadang dengan tergesa-gesa langsung menganggap hadits itu shohih/hasan atau dhoif/maudhu’ dan seterusnya. Dalam agama ini sebenarnya sudah jelas mana yang haq dan mana yang bathil. Mana yang sunnah dan mana yang bid’ah. Kalo ada perbedaan/ikhtilaf sebenarnya hanya kurang dalam mendapatkan ayat2/hadit2 pendukung saja. Bukankah agama ini sdh sempurna? Bukankah cukup Al Qur’an dan Rosul saja yang jadi rujukan? Meskipun dalam beberapa hal kita jg membutuhkan ijtihad para ulama namun dasar dalam mengambil ijtihad pun tetap harus berpegang pada dasar2 dalil Al Quran dan Al Hadits. Kesimpulan debat ini sebaiknya adalah bahwa apa yang Rosul contohkan mari kita kerjakan dan apa yang tidak pernah Rosul contohkan jangan kita kerjakan. Sehingga dalam agama ini tidak ada yang ditambah-tambah dan tidak ada yang dikurang-kurangi dalam pelaksanaan syariatnya.

  14. DR.ZA.ABUBAKAR. said:

    Inilah yang menyebabkan umat islam terkotak kotak karena menanggapi sesuatu bukan dengan. kepala dingin;dan berpikir .dari sinilah orang agama lain memacu dan memperalat kita utk saling gontok gontokan,perlu diingat bahwa sa at ini islam mulai menuju kemunduran , hal kecil diperbesar, yang penting bagaimana menyuruh orang tidak solat menjadi taat,apakah anda anda telah melakukan HAL ITU,TERIMA KASIH ATAS PENJELASAN TENTANG QUNUT.d\DR

  15. ujangs said:

    sukron,zajakalloh khairon,ana berimam dng tidak qunut ,berdasarkan hadis b,sangat membuat ana kuat dalam keyakinan ini……amiin

  16. Bismillaah..
    Sekedar nasihat buat admin blog ini…
    Afwan, COPAS yg antum tampilkan pada artikel di atas kurang lengkap dan kita harus menjaga amat ilmiah, yakni dengan menampilkan URL sumbernya dan nama penulis harus lengkap yaitu Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain.
    Dan nasihat buat para komentator, sebaiknya AL ILMU QOBLAL QOULI WAL AMAL.
    baarokallaahufiykum…

  17. Bismillaah..
    Sekedar nasihat buat admin blog ini…
    Afwan, COPAS yg antum tampilkan pada artikel di atas kurang lengkap dan kita harus menjaga amat ilmiah, yakni dengan menampilkan URL sumbernya dan nama penulis harus lengkap yaitu Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain.
    Dan nasihat buat para komentator, sebaiknya AL ILMU QOBLAL QOULI WAL AMAL.
    baarokallaahufiykum.

  18. rizal said:

    apa yang kamu tulis kan tidak berdasarkan agama, tapi sudah berdasarkan hawa nafsu, yang menghakimi saudara sesama islam. belajar lagi bos yang dalam tentang islam

  19. Abdullah said:

    Kebenaran diantara manusia adalah relatif, Kebenaran yang hakiki adalah milik Allah SWT. hati – hati mengeluarkan dalil-dalil yang secara tidak langsung meng-KAFIR-kan saudara semuslim apalagi sesuatu yang tidak dilarang Allah dan Rasulnya. sebenarnya sudah jelas dalil yang ada di Alquran mengenai qunut…apakah anda tidak berfikir…?

  20. jokondo said:

    coba kita baca artikel berikut ini dengan perspektif lintas mazhab.

    PERIHAL QUNUT DALAM SHALAT SHUBUH

    A. PENGANTAR
    Shalat Shubuh yang dilakukan secara berjamaah besar sekali manfaat dan fadhilahnya. Dalam sebuah hadis dinyatakan, orang yang melakukan shalat Shubuh secara berjamaah seperti orang semalam suntuk beribadah. hadis sahih yang dimaksud berbunyi :
    مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ )صحيح مسلم – (3 / 392)
    “ Barang siapa mengerjakan shalat ‘Isya` secara berjamaah maka seakan-akan ia telah beribadah separuh malam, dan barang siapa yang mengerjakan shalat Shubuh dengan berjamaah, maka seakan-akan ia telah beribadah semalam suntuk”, ( Sahih Muslim : 3/392)
    Namun di masyarakat, masih sering dijumpai riak-riak kecil menyangkut pelaksanaan shalat Shubuh berjamaah di mana makmum dan imam terkadang sedikit memiliki perbedaan dalam menjalankan shalat Shubuh ini. Sebut saja masalah qunut dalam shalat Shubuh. Ada imam yang berqunut, makmumnya ada yang qunut dan ada yang tidak mau mengikuti. Sebaliknya, ada imam yang tidak qunut, makmumnya ada yang qunut berdiri sendiri atau sekurangnya ia menambahnya dengan sujud sahwi sebelum salam.
    Walau persoalan ini adalah masalah klasik, namun tidak ada jeleknya jika kita sedikit menyisakan waktu buat mengetahui dan mendiskusikan alasan masing-masing. Dengan satu harapan akan timbul sikap saling menghormati dan menghargai pendirian masing-masing, serta mampu bersikap luwes dan tidak kaku dalam menyikapi setiap perbedaan.
    Qunut sendiri secara lughawi memiliki beberapa arti, di antaranya bermakna taat, shalat, lama berdiri, diam, dan doa. Sedang menurut istilah syara’, Ibnu ‘Allan mendefinisikan qunut dengan nama bagi sebuah do’a dalam shalat pada saat berdiri pada tempat yang dikhususkan.
    Keberadaan qunut sendiri sebenarnya tidak dipersoalkan di kalangan ulama, namun yang jadi permasalahan adalah apakah pensyari’atan qunut itu terus-menerus dilakukan khususnya pada shalat Shubuh tanpa ada sebab?. Dari sini timbul perbedaan pendapat yang dapat kami sajikan sebagai berikut ini.
    B. PENDAPAT-PENDAPAT PARA FUQAHA` SEPUTAR QUNUT SHUBUH `
    B.1. Pendapat pertama:
    Membaca qunut dalam shalat Shubuh tidak disunnahkan. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah, Sufyan ats-Tsauri dan Imam Ahmad, Ibnu al-Mubarak, Ishaq, al-Laits bin Sa’ad. Hal ini juga menjadi pendapat sahabat Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud dan Abu Darda`.
    Imam An-Nawawi menjelaskan dalam al-Majmu’ : 3/504 :
    وقال عبد الله بن مسعود واصحابه وابو حنيفة واصحابه وسفيان الثوري واحمد لا قنوت في الصبح قال احمد الا الامام فيقنت إذا بعث الجيوش وقال اسحاق يقنت للنازلة خاصة
    “ Berkata Abdullah bin Mas’ud dan sahabat-sahabatnya, Imam Abu Hanifah dan sahabat-sahabatnya, Sufyan ats-Tsauri dan Ahmad, tidak ada qunut dalam shalat Shubuh. Berkata Ahmad, kecuali bagi imam, ia berqunut ketika mengutus pasukan tentara. Berkata Ishaq, berqunut jika ada bencana saja”.
    Dalam al-Muntaqa Syarh al-Muwatha` dijelaskan sikap Abu Hanifah dan Sufyan ats-Tsauri :
    وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَالثَّوْرِيُّ لَا يَقْنُتُ فِي شَيْءٍ مِنْ الصَّلَاةِ وَإِلَيْهِ ذَهَبَ يَحْيَى بْنُ يَحْيَى اللَّيْثِيُّ مِنْ أَصْحَابِنَا )المنتقى – شرح الموطأ – (ج 1 / ص 390)
    “ Berkata Abu Hanifah dan ats-Tsauri : Tidak ada qunut pada shalat-shalat fardhu, ini juga dipegangi oleh Yahya bin Yahya al-Laitsi dari sahabat kami ( madzhab Maliki)” ( al-Muntaqa Syarh al-Muwatha` : 1/390)
    Dalam ‘Umdat al-Qari dijelaskan pendirian Imam Ahmad dan Ishaq mengenai qunut Shubuh :
    وقال أحمد وإسحاق لا يقنت في الفجر إلا عند نازلة تنزل بالمسلمين فإذا نزلت نازلة فللإمام أن يدعو لجيوش المسلمين) عمدة القاري شرح صحيح البخاري – (ج 9 / ص 279)
    “ Ahmad dan Ishaq berpendapat tidak ada qunut dalam shalat Shubuh kecualai jika ada bencana yang menimpa kaum muslimin. Jika ada bencana, maka imam perlu mendoakan tentara kaum muslimin” ( ‘Umdat al-Qari Syarh Sahih al-Bukhari : 9/279)
    Ibnu al-Mubarak menurut penuturan penulis ‘Umdat al-Qari memilih tidak melakukan qunut dalam shalat Shubuh. Sedang Imam Sufyan ats-Tsauri memandang baik qunut maupun tidak sama-sama bagus, walau ia sendiri memilih untuk tidak qunut. Imam Bukhari sendiri menurut pemahaman Ibnu Rajab tampaknya berpendapat qunut hanya ada pada shalat witir, bukan pada shalat Shubuh.
    Demikian sederetan ulama yang berpendirian qunut Shubuh tidak disunnahkan.

    B.2. Pendapat kedua :
    Qunut Shubuh hukumnya sunnah dilakukan setiap pagi sepanjang zaman. Ini pendapat Imam Malik, Ibnu Abi Laila, al-Hasan bin Shalih, Imam asy-Syafi’i dan Ibnu Jarir ath-Thabari.
    Beda madzhab Maliki dengan madzhab syafi’i dalam hal qunut Shubuh adalah, Imam Malik memilih melakukannya sebelum ruku’ dan tidak menyunnahkan sujud sahwi jika lupa mengerjakan, serta bacaan doa yang dipilih bukan allahummahdini…. dst, namun allahumma inna nasta’inuka … dst, serta doa tersebut dibaca dengan pelan ( sirr).
    Dalam madzhab Syafi’i dan juga pendapat al-Hasan al-Bashri, qunut dalam shalat Shubuh dihukumi sunnah ab’adh dan disunahkan diganti dengan sujud sahwi jika terlewatkan.
    Berkata an-An-Nawawi dalam al-Majmu’ :
    مذهبنا أنه يستحب القنوت فيها سواء نزلت نازلة أو لم تنزل وبها قال أكثر السلف ومن بعدهم أو كثير منهم وممن قال به أبو بكر الصديق وعمر بن الخطاب وعثمان وعلي وابن عباس والبراء بن عازب رضي الله عنهم رواه البيهقى باسانيد صحيحة وقال به من التابعين فمن بعدهم خلائق وهو مذهب ابن أبى ليلي والحسن ابن صالح ومالك وداود ) المجموع – (3 / 504(
    “ Menurut madzhab kami (madzhab Syafi’i) disunnahkan qunut baik ada bencana maupun tidak. Ini adalah pendapat kebanyakan ulama salaf dan orang sesudah mereka atau kebanyakan dari mereka. Yang berpendapat seperti ini adalah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, Ibnu Abbas, Bara` bin ‘Azib RA. Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad sahih. Dan ia berkata, pendapat demikian juga berasal dari tabi’in dan orang-orang sesudah mereka dan ini adalah madzhab Ibnu Abi Laila, al-Hasan bin Shalih, Malik dan Dawud. ( al-Majmu’ : 3/504)
    Dalam madzhab Syafi’i hampir semua ulamanya sepakat akan kesunahan qunut Shubuh ini sebagaimana dapat dijumpai di hampir semua kitab-kitab fiqhnya. Sebagian di antaranya kami nukilkan seperti :
    وَيُسَنُّ الْقُنُوتُ فِي اعْتِدَالِ ثَانِيَةِ الصُّبْحِ ، وَهُوَ : ” اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْت ” إلَخْ ) حاشيتا قليوبي – وعميرة – (ج 2 / ص 323)
    “ Disunnahkan qunut pada i’tidal rakaat ke dua dalam shalat Shubuh, yakni berdoa, allahummahdini fiman hadaita….dst”. ( Hasyiyata Qalyubi wa ‘Umairah : 2/323)
    وَيُسَنُّ الْقُنُوتُ فِي اعْتِدَالِ ثَانِيَةِ الصُّبْحِ ) مغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج – (ج 2 / ص 353)
    “ Disunnahkan qunut pada i’tidal rakaat kedua pada shalat Shubuh” ( Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifati Alfadz al-Minhaj : 2/353)
    (ويستحب (ح) القنوت في الصبح) الشرح الكبير للرافعي – (ج 3 / ص 412)
    “ Disukai qunut pada shalat Shubuh”. ( asy-Syarh al-Kabir li ar-Rafi’i : 3/412)
    Namun demikian ada pula satu dua ulama madzhab Syafi’i yang tidak menyunnahkannya seperti yang disampaikan al-Albani :
    ( فائدة ) : جاء في ترجمة أبي الحسن الكرجي الشافعي المتوفى سنة ( 532 ) أنه كان لا يقنت في الفجر ، و يقول : ” لم يصح في ذلك حديث ” . السلسلة الضعيفة – (ج 3 / ص 237)
    ( Faidah ) : Terdapat dalam biografi Abu Hasan al-Karkhi asy-Syafi’i yang wafat tahun 532 bahwa beliau tidak berqunut dalam shalat Shubuh, beliau menyatakan, ‘ Tak ada satupun hadis yang menyunnahkan qunut yang sahih’. ( as-Silsilah adh-Dha’ifah : 3/237)
    Dalam salah satu kitab fiqh madzhab Maliki disebutkan :
    مِنْ فَضَائِلِ الصَّلَاةِ وَمُسْتَحَبَّاتِهَا الْقُنُوتُ فِي الصُّبْحِ . قَالَ فِي الْمُدَوَّنَةِ : وَاسِعٌ الْقُنُوتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ وَبَعْدَهُ وَاَلَّذِي آخُذُ بِهِ فِي نَفْسِي قَبْلَ الرُّكُوعِ ( وَلَفْظُهُ وَهُوَ ” اللَّهُمَّ إنَّا نَسْتَعِينُك ” إلَى آخِرِهِ ) . فِي الْمُدَوَّنَةِ قَالَ مَالِكٌ : لَيْسَ فِي الْقُنُوتِ دُعَاءٌ مُؤَقَّتٌ وَلَا وُقُوفٌ مُؤَقَّتٌ . )التاج والإكليل لمختصر خليل – (ج 1 / ص 442)
    “ Termasuk dari keutamaan shalat adalah melakukan qunut dalam shalat Shubuh. Berkata dalam al-Mudawwanah : Qunut itu longgar, bisa dilakukan sebelum rukuk dan sesudahnya, dan yang saya pilih adalah sebelum ruku’. Bacaannya adalah : allhumma inna nasta’inuka …dst. Dalam Kitab al-Mudawwanah berkata Imam Malik : “ Tidak ada dalam qunut doa tertentu dan juga berhenti tertentu”. ( at-Taj al-Iklil li Mukhtashar Khalil : 1/442)
    B.3. Pendapat ketiga
    Qunut Shubuh sudah dimansukh, mengerjakannya adalah bid’ah.
    Ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar , Ibnu Mandah. Menurut penuturan Ibnu Taimiyah ini juga pendirian segolongan ulama Irak termasuk Imam Abu Hanifah. Qunut Shubuh sudah mansukh, menurut penuturan Wahbah Zuhaili dipegang oleh ulama Hanafiyah.
    Perhatikan kutipan-kutipan berikut ini :
    وَكَانَ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَا يَقْنُتُ فِي صَلَاةِ الْغَدَاةِ ) شرح معاني الآثار – (1 / 421(
    “ Ibnu Mas’ud RA tidak biasa berqunut di shalat Shubuh”. ( Syarh Ma’ani al-Atsar : 1/421)
    وعن ابن عمر وطاووس القنوت في الفجر بدعة )عمدة القاري شرح صحيح البخاري – (ج 10 / ص 398)
    “ Dari Ibnu Umar dan Thawus : Qunut pada shalat Shubuh itu bid’ah”. ( ‘Umdat al-Qari Syarh Sahih al-Bukhari : 10/398)
    Dalam kitab Syarh Ibnu Bathal terhadap Sahih al-Bukhari disebutkan :
    وقالت طائفة: لا قنوت فى شىء من الصلوات المكتوبة، روى ذلك عن عمر، وابن مسعود، وابن عمر، وابن عباس، وابن الزبير، وقال ابن عمر: هى بدعة، وقال قتادة، وإبراهيم: لم يقنت أبو بكر ولا عمر حتى مضيا. ) شرح ابن بطال – (ج 4 / ص 209)
    “ Berkata segolongan ulama : Tidak ada qunut sedikitpun dalam shalat fardhu, pendapat ini diriwayatkan dari Umar, Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Ibnu az-Zubair. Berkata Ibnu Umar, qunut Shubuh itu bid’ah. Berkata Qatadah dan Ibrahim : Abu Bakar, Umar tidak pernah qunut sampai meninggal”. ( Syarh Ibnu Bathal : 4/209)
    Dijelaskan dalam Kitab Syarh Ma’ani al-Atsar Juz I halaman 421 :
    عَنْ أَبِي مِجْلَزٍ قَالَ : صَلَّيْتُ خَلْفَ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ الصُّبْحَ فَلَمْ يَقْنُتْ فَقُلْتُ آلْكِبْرُ يَمْنَعُك ؟ فَقَالَ : مَا أَحْفَظُهُ عَنْ أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِي .
    “ Dari Abu Mijlaz ia berkata : “Aku shalat Shubuh di belakang Ibnu Umar RA maka beliau tidak berqunut, maka aku bertanya, ‘ Usia lanjutkah yang menghalangimu? , beliau menjawab: ‘ Aku tidak menghafalnya dari seorang pun sahabat-sahabatku”.
    Termasuk yang membid’ahkan qunut Shubuh adalah ulama yang duduk dalam Fatawa al-Lajnah ad-Da`imah li al-Buhuts al-‘Ilmiyyah wa al-Ifta` Saudi Arabia.

    C. PENDAPAT ULAMA DAN ORMAS ISLAM DI INDONESIA
    C.1. Muhammadiyah :
    Tidak mengamalkan qunut Shubuh karena menurut penelitian majlis tarjih dalilnya kurang kuat sehingga tidak diamalkan.
    C.2. PERSIS :
    Qunut secara terus menerus di waktu Shubuh termasuk bid’ah.
    C.3. Pendapat KH Siradjudin Abbas ( Perti) :
    Karena beliau menandaskan dirinya sebagai pengikut setia dan pembela madzhab asy-Syafi’i, maka fatwanya sama dengan fatwa ulama Syafi’iyah. Beliau menandaskan bahawa qunut Shubuh adalah sunnah ab’adh, akan diberi pahala bagi yang mengerjakan dan tidak mendapat pahala bagi yang meninggalkannya.
    C.4. Fatwa KH Muhyiddin Abdusshomad ( Ulama NU/Ketua Tanfidziyyah PC NU Jember )
    “ Dengan demikian membaca qunut Shubuh dalam segala keadaan itu hukumnya sunnah. Karena Nabi SAW selalu melakukannya hingga beliau wafat”.
    C.5. Pendapat Prof. Hasbi Ash-Shiddieqy :
    “ Tidak didapati keterangan yang sahih yang menegaskan bahwasanya Nabi SAW tetap berqunut dalam i’tidal yang kedua dari shalat Shubuhnya. Karena itu, dipandang bid’ahlah mengekalkan yang demikian oleh para muhaqqiqin”

    D. DALIL-DALIL MASING-MASING KELOMPOK DAN KRITIKANNYA
    D.1. Dalil-dalil yang diajukan ulama yang tidak menyunnahkan qunut Shubuh kecuali qunut nazilah :

    1– رَوَى ابْنُ حِبَّانَ وَ الْخَطِيْبُ وَ ابْنُ خُزَيْمَةَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صلّى الله عليه و سلّم كاَنَ لاَ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الصُّبْحِ إِلاَّ إِذَا دَعاَ لِقَوْمٍ أَوْ دَعاَ عَلَى قَوْمٍ. هَذَا لَفْظُ ابْنُ حِبَّانَ.) سبل السلام – (2 / 157)

    “Ibnu Hibban, Al-Khathib dan Ibnu Khuzaimah telah meriwayatkan dari Anas, bahwa Nabi SAW tidak qunut pada shalat Shubuh kecuali mendoakan keselamatan satu kaum atau mendoakan kecelakaan untuk mereka. Ini adalah lafadz ( riwayat ) Ibnu Hibban.( Subul as-Salam : 2/157)

    Menurut az-Zaila’i sanad hadis ini sahih, ini merupakan nash bahwa qunut itu khusus kalau ada nazilah.

    2 – وَ مِنْ حَدِيْثِ أَبِي هُرَيْرَةَ عِنْدَ ابْنِ حِبَّانَ بِلَفْظٍ كاَنَ لاَ يَقْنُتُ فِي صَلاَةِ الصُّبْحِ إِلاَّ أَنْ يَدْعُوَ ِلأَحَدٍ أَوْ يَدْعُوَ عَلَى أَحَدٍ.) نيل الأوطار – (4 / 195)
    “ Hadits Abu Hurairah, menurut riwayat Ibnu Hibban dengan lafadz “ Adalah Nabi SAW tidak qunut, kecuali jika mendoakan keselamatan atau kecelakaan seseorang “. ( Nail al-Authar : 4/195)
    قال صاحب ” التنقيح ” : و سند هذين الحديثين صحيح ، و هما نص في أن القنوت مختص بالنازلة “) السلسلة الضعيفة – (ج 3 / ص 237)
    Menurut pengarang kitab at-Tanqih, dua sanad hadis di atas adalah sahih, keduanya menjadi dalil bahwasanya qunut itu khusus kalau ada bencana” ( as-Silsilah adh-Dha’ifah : 3/237)

    3 – وَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صلّى الله عليه و سلّم قَنَتَ شَهْرًا حِيْنَ قُتِلَ الْقُرَّاءُ فَماَ رَأَيْتُـهُ حَزِنَ خُزْناً قَطُّ أَشَدَّ مِنْـهُ ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ . نيل الأوطار – (ج 4 / ص 197)
    )
    “ Dari Anas : ‘ Sesungguhnya Nabi SAW pernah qunut selama sebulan ketika terbunuhnya Al-Qurra` ( para penghafal Quran ), maka aku tidak pernah melihat Nabi SAW sangat bersedih daripada kesedihan dari peristiwa tersebut ”. ( HR Al-Bukhari : Nail al-Authar : 4/197)

    4 –عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ ثُمَّ تَرَكَهُ ) صحيح مسلم – (ج 3 / ص 443)

    “ Dari Anas bahwasanya Nabi SAW qunut selama sebulan, berdoa untuk kecelakaan kampung-kampung di Arab, kemudian Nabi SAW meninggalkannya ( qunut ) ”. (Sahih Muslim : 3/443)

    Para ulama syafi’i umumnya memahami hadis ini khususnya pada lafadz tsumma tarakahu, bahwa yang dimaksud adalah meninggalkan melaknat orang kafir bukan meninggalkan qunut, atau yang ditinggalkan adalah qunut pada shalat empat selain Shubuh, karena dalam shalat Shubuh terdapat hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW senantiasa qunut Shubuh sampai wafat.
    Hal ini dapat dilihat dalam riwayat di bawah ini.
    وروينا عن أنس بن مالك ، « أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قنت شهرا يدعو على أحياء من العرب ثم تركه » قال عبد الرحمن بن مهدي إنما ترك اللعن . وقال الشافعي : الذي أرى بالدلالة فإنه ترك القنوت في أربع صلوات دون الصبح وذكر قنوته في الظهر وغيرها ولعنه على فلان وفلان ، ثم قال : فهذا الذي ترك ، وأما القنوت في الصبح فلم يبلغنا أن النبي صلى الله عليه وسلم تركه )السنن الصغرى للبيهقي – (ج 1 / ص 369)
    “ Kami meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwasanya Rasulullah SAW melakukan qunut selama 1 bulan mendoakan kebinasaan atas beberapa kampung Arab lantas meninggalkannya”. Berkata Abdurrahman bin Mahdi, “ Sesungguhnya yang ditinggalkan Nabi hanyalah doa yang berisi kutukan”. Berkata Imam asy-Syafi’i, “ Menurut pemahamanku, Nabi meninggalkan qunut pada empat shalat selain Shubuh dan menyebutkan qunutnya pada Zhuhur dan selainnya dan laknatnya atas fulan dan fulan, kemudian Imam asy-Syafi’i berkata, “ Inilah yang Nabi tinggalkan, adapun qunut Shubuh maka tidak sampai riwayat pada kami bahwa Nabi SAW meninggalkannya”. ( as-Sunan as-Sughra li al-Baihaqi : 1/369)

    Imam an-An-Nawawi, salah seorang ulama besar madzhab asy-Syafi’i dalam al-Majmu’ juga memberikan bantahan yang sama :

    قَالَ اْلإِماَمُ النَّوَوِيُّ : وَ أَمَّا الْجَوَابُ عَنْ حَدِيْثِ أَنَسٍ وَ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنهما فِيْ قَوْلِهِ ” ثُمَّ تَرَكَهُ ” فَالْمُرَادُ تَرْكُ الدُعاَءِ عَلَى أُلئِكَ الْكُفَّارِ وَ لَعْنَتِهِمْ فَقَطْ لاَ تَرْكُ جَمِيْعِ الْقُنُوْتِ أَوْ تَرْكُ الْقُنُوْتِ فِي الصُّبْحِ وَ هَذَا التَّأْوِيْلُ مُتَعَيَّنٌ ِلأَنَّ حَدِيْثَ أَنَسٍ فِي قَوْلِهِ ” لَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ حَتَّى قاَرَقَ الدُّنْياَ ” صَحِيْحٌ صَرِيْحٌ. )المجموع 3 : 505(

    “ Menurut Imam An-An-Nawawi, bahwa jawaban/bantahan terhadap hadits Anas dan Abi Hurairah tentang pernyataan tsumma tarakahu ( kemudian Nabi SAW meninggalkan qunut ), yang dimaksudkan adalah meninggalkan doa qunut untuk mereka yang kafir, serta meninggalkan kutukan terhadap mereka, bukan berarti meninggalkan semua qunut atau meninggalkan qunut Shubuh. Dan ta’wil ini pasti/benar sekali, karena hadits Anas yang menyatakan “ Nabi SAW tidak henti-hentinya qunut sampai meninggal dunia ” adalah hadits sahih lagi sharih ( jelas ). ( Al-Majmu’: 3/ 505 )

    Bantahan Imam An-Nawawi ulama dari madzhab asy-Syafi’i ini yang mengutip hadis Anas, bahwa Rasulullah senantisa qunut dalam shalat Shubuh dikomentari oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah dari madzhab Hanbali dalam kitabnya Zad al-Ma’ad sebagai berikut :

    وَ لَيْسَ اْلأَمْرُ كَذَالِكَ ِلأَنَّهُ َقَدْ ضَعَّـفَهُ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ اْلأَمَّةِ لأَنَّ فِيْهِ أَباَ جَعْفَرٍ اَلرَّازِيَّ وَ هُوَ ضَعِيْفٌ كَماَ تَقَدَّمَ.. { زاد المعاد 1 : 256 }

    “ Tidak demikian halnya, karena hadits tersebut ( hadis yang menyatakan Nabi SAW senantiasa qunut sampai meninggal dunia) telah dinyatakan dha’if bukan hanya oleh seorang ahli hadits, sebab pada hadits tersebut ada rawi yang bernama Abu Ja’far Ar-Razi, dia itu dha’if, sebagaimana penjelasan berikut ini :

    وَ هَذَا الْحَدِيْثُ ضَعِيْفٌ ِلأَنَّ فِي إِسْناَدِهِ أَبُو جَعْفَرٍ الرَّازِيُّ قاَلَ فِيْهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدَ : ” لَيْسَ بِالْقَوِيِّ “. وَ قاَلَ عَلِيُّ بْنُ الْمَدِيْنِيِّ : ” أَنَّهُ يُخْلِطُ “. وَ قاَلَ أَبُو زَرْعَةَ : ” يُهَمُّ كَثِيْرًا “. وَ قاَلَ عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ الْفَلاَسِ : صُدُوْقٌ سَيِّءُ الْحِفْظِ
    “ Hadits tersebut dha’if, karena pada sanadnya terdapat nama Ja’far Ar-Razi. Berkata Abdullah Bin Ahmad tentang dirinya ( Ja’far ) : “ Tidak kuat ”, dan berkata Ali Al-Madani : “ Dia itu Mukhthalit ( bercampur ingatannya ) “, dan berkata pula Abu Zur’ah : “ Dia telah banyak tertuduh dusta “, dan berkata pula ‘Amr Bin Ali Al-Falas : “ Dia jujur, namun hafalannya buruk ”. ( Nail al Authar 2 : 386 )

    As-Sayyid Sabiq pun dalam Fiqh as-Sunnah punya penilaian yang sama terhadap hadis Anas tersebut :

    فَفِيْ سَنَدِهِ أَبُوْ جَعْفَرٍ الرَّازِيُّ وَ هُوَ لَيْسَ بِالْقَوِيِّ وَ حَدِيْثُهُ لاَ يَنْهَضُ لِْلإِحْتِجاَجِ بِهِ إِذْ لاَ يُعْقَلُ أَنْ يَقْنُتَ رَسُوْلُ اللهِ صلّى الله عليه و سلّم فِي الْفَجْرِ طُوْلَ حَياَتِهِ ثُمَّ يَتْرُكُهُ الْخُلَفاَءُ مِنْ بَعْدِهِ بَلْ أَنَّ أَنَساً نَفْسَهُ لَمْ يَكُنْ يَقْنُتُ فِي الصُّبْحِ كَماَ ثَبَتَ ذَلِكَ عَنْهُ. وَ لَوْ سُلِّمَ صِحَّةُ الْحَدِيْثِ فَيُحْمَلُ الْقُنُوْتُ الْمَذْكُوْرُ فِيْهِ عَلَى أَنَّهُ صلّى الله عليه و سلّم يُطِيْلُ الْقِياَمَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ لِلدُّعاَءِ وَ الثَّناَءِ إِلَى أَنْ فاَرَقَ الدُّنْياَ. فَإِنَّ هَذَا مَعْنًى مِنْ مَعاَنِى الْقُنُوْتِ وَ هُوَ هُناَ أَنْسَبُ. { فقـه السـنة 1 : 199 }

    “ Dalam sanad Hadits (di atas ) terdapat nama Abu Ja’far Ar-Razi, dia seorang yang lemah dan hadisnya tidak dapat dipakai hujjah, selain itu tidak masuk akal seandainya Rasulullah SAW melakukan qunut Shubuh sepanjang hidupnya, lalu para khalifah setelah Nabi SAW meninggalkan qunut, bahkan Anas sendiri tidak melaksanakan qunut pada waktu Shubuh, sebagaimana riwayat sahih darinya.
    Seandainya kesahihan hadis itu dapat diterima, maka selayaknya pengertian qunut di sana diartikan bahwasanya Nabi SAW memanjangkan berdiri setelah ruku’ untuk berdoa, serta memuji, hingga Nabi SAW wafat. Makna ini pula salah satu dari pengertian qunut dan memang inilah yang sesuai sebagaimana ( dimaksud ) dalam hadits ini. ( Fiqh as- Sunnah, 1 : 199 )

    – وَ فِي الْقاَعِدَةِ : اَلْجَرْحُ مُقَدَّمٌ عَلَى التَّعْدِيْلِ. وَ لوْ صَحَّ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ دَلِيْلٌ عَلَى هَذَا الْقُنُوْتِ الْمُعَيِّنِ اَلْبَتَةَ
    Menurut qaidah : “ Tuduhan jarh ( cacat ) harus didahulukan/diutamakan daripada anggapan adil / jujur ”.
    ( Menurut Ibnu Qayyim ) : Andaikata hadits itu sahih ( tetap ), tidak dapat dijadikan dalil keberadaan qunut tertentu ( Shubuh ). ( Zaadul Ma’ad 1 : 170 )

    5 – وَ عَنْ أَبِي هريرةَ أَنَّ النَّبِيَّ صلّى الله عليه و سلّم كاَنَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ عَلَى أَحَدٍ أَوْ يَدْعُوَ لأَحَدٍ قَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ فَرُبَّماَ قاَلَ إِذَا قاَلَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّناَ لَكَ الْحَمْدُ ، اَللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيْدَ بْنَ الْوَلِيْدَ وَ سَلَمَةَ بْنَ هِشاَمٍ وَ عِياَشَ بْنَ أَبِيْ رُبَيْعَةَ وَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ ، اَللَّهُمَّ اشْدُدْ وَ طَأَتَكَ عَلَى مُضَرٍ وَاجْعَلْهاَ عَلَيْهِمْ سِنِيْنَ كَسِنِى يُوْسُفَ قاَلَ يَجْهَرُ بِذَلِكَ وَ يَقُوْلُ فِي بَعْضِ صَلاَتِهِ فِي صَلاَةِ الْفَجْرِ اَللَّهُمَّ الْعَنْ فُلاَناً حَيَّيْنِ مِنْ أَحْياَءِ الْعَرَبِ حَتَّى أَنْزَلَ اللهُ تعالى : ” لَيْسَ لَكَ مِنَ اْلأَمْرِ شَيْءٌ ” الآية. { واه أحمد و البخاَري ، نيل الأوطار 2 : 389 }

    “ Dari Abi Hurairah : “ Sesungguhnya Nabi SAW, apabila hendak mendoakan ( kecelakaan ) seseorang atau mendoakan ( keselamatan ), beliau berqunut setelah ruku’, kadang-kadang beliau berdoa setelah mengucapkan sami’ allah liman hamidah rabbana lakal hamdu. Ya Allah !, Selamatkanlah Walid Bin Walid, Salamah Bin Hisham dan ‘Iyyas Bin Abi Rabi’, juga orang-orang mukmin yang lemah. Ya Allah!, kuatkanlah tekanan-Mu / siksaanMu terhadap orang-orang Mudhar, timpakanlah kepada mereka bencana kelaparan sebagaimana ( dulu pernah ) terjadi di zaman Yusuf “. Ia ( perawi ) berkata : “ Nabi SAW suka menjaharkan doa tersebut, dan kadang ( Nabi SAW ) berdoa di sebagian shalatnya, yaitu pada shalat Shubuh. Ya Allah!, kutuklah si Fulan, yakni penghuni/penduduk dua kampung Arab, sehingga Allah menurunkan ayat : “ Bukan tanggung jawabmu urusan mereka itu “. ( H.R. Ahmad dan Al-Bukhari; Nailul Authar 2 : 389 )

    6 – عن أبي هريرة قاَلَ : َلأُقَرِّبَنَّ لَكُمْ صَلاَةَ رَسُوْلِ اللهِ صلّى الله عليه و سلّم فَكاَنَ أَبُو هريرةَ يَقْنُتُ فِي الرَّكْعَةِ اْلآخِرَةِ مِنْ صَلاَةِ الظُّهْرِ وَ الْعِشاَءِ اْلآخِرَةِ وَ صَلاَةِ الصُّبْحِ بَعْدَ ماَ يَقُوْلُ سَمِعَ اللهُ لَمَنْ حَمِدَهُ فَيَدْعُو لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ يَلْعَنُ الْكُفَّارَ. { الجمع بين الصحيحين البخاري ومسلم – (ج 3 / ص 30)

    “ Dari Abi Hurairah, ia berkata : “ Sungguh aku akan menjelaskan shalat Rasulullah SAW. Maka Abi Hurairah qunut pada raka’at akhir shalat Zhuhur dan Isya`, serta dalam shalat Shubuh, setelah beliau mengucapkan sami’ allahu liman hamidah. Kemudian beliau berdoa untuk keselamatan orang-orang mukmin dan mengutuk orang-orang kafir. ( Al-Jam’u Baina Ash-Shahihain : 3/30)

    7 – وَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قاَلَ : قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صلّى الله عليه و سلم شَهْرًا مُتَتاَبِعاً فِي الظُّهْرِ وَ الْعَصْرِ وَ الْمَغْرِبِ وَ الْعِشاَءِ وَ الصُّبْحِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ إِذَا قاَلَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ اْلآخِرَةِ يَدْعُو عَلَيْهِمْ عَلَى حَيٍّ مِنْ بَنِيْ سُلَيْمٍ عَلَى رِعْلٍ وَ ذَكْوَانَ وَ عُصَيَّةَ وَ يُؤَمِّنُ مَنْ خَلَفَهُ: حسن.) روضة المحدثين – (ج 11 / ص 279)
    – أبو داود و أحمد و زَادَ : أَرْسَلَ إِلَيْهِمْ يَدْعُوهُمْ إِلَى اْلإِسْلاَمِ فَقَتَلُوْهُمْ.

    “ Dari Ibnu Abbas, ia berkata : “ Rasulullah SAW pernah berqunut selama sebulan terus menerus dalam shalat Zhuhur, ‘Ashar, Maghrib, Isya` dan Shuhuh, pada akhir setiap shalat, setelah beliau membaca sami’ allahu liman hamidah di rakaat yang akhir. Beliau mendoakan mereka, yaitu atas penghuni kampung Bani Sulaim, Ri’lin, Dzakwaan dan ‘Ushayah, serta diiringi Amiin oleh orang-orang di belakangnya “. Hadis hasan. ( Abu Dawud dan Ahmad, Raudhat al-Muhadditsin: 11/279). Ahmad menambahkan bahwa Nabi SAW mengirimkan utusan kepada mereka untuk mengajak mereka masuk Islam, namun mereka membunuh utusan-utusan itu.

    – قاَلَ عِكْرِمَةُ كاَنَ هَذَا مِفْتاَحُ الْقُنُوْتِ. { نيل الأوطار 2 : 390 }

    – Menurut Ikrimah, kejadian ini adalah permulaan adanya qunut. ( Nail al-Authar: 2 / 390 )

    Menurut al-Hakim sanad hadis dari Ibnu Abbas tersebut sahih menurut syarat al-Bukhari, pendapat ini disetujui adz-Dzahaby. Sedang an-An-Nawawi mengatakan hadis ini hasan atau sahih. Sedang al-Albani menganggap hadis ini hanya hasan karena kondisi Hilal.
    Dalil berikutnya adalah perbuatan/atsar dari sahabat. Beberapa sahabat diriwayatkan tidak melakukan qunut dalam Shubuh di antaranya :
    Atsar Umar 1 :
    عن يحيى بن عثمان التيمي قال : سمعت عمرو بن ميمون يقول : صليت خلف عمر الفجر ، فلم يقنت فيها) مصنف عبد الرزاق – (ج 3 / ص 106)
    “ Dari Yahya bin ‘Utsman at-Taimiy ia berkata : Aku mendengar Amr bin Maimun berkata : “ Aku shalat Shubuh di belakang Umar maka beliau tidak berqunut “ ( Mushannaf Abdurrazaq : 3/106)
    Atsar Umar 2 :
    عن ابن أبي نجيح قال : سألت سالم بن عبد الله هل كان عمر بن الخطاب يقنت في الصبح ؟ قال : لا إنما هو شئ أحدثه الناس بعد.) مصنف عبد الرزاق – (ج 3 / ص 108)
    “ Dari Ibni Abi Nujaih ia berkata : Aku bertanya Salim bin Abdullah, apakah Umar bin Khattab qunut di shalat Shubuh?, ia menjawab : Tidak, qunut adalah sesuatu yang diada-adakan oleh manusia kemudian”. (Mushannaf Abdurrazaq : 3/108)
    Atsar dari Ibnu Umar :
    وعن أبي مخلد قال صليت خلف ابن عمر فلم يقنت فقلت ما منعك من القنوت قال إني لاأحفظه عن أحد من أصحابي.) رواه الطبراني في الكبير ورجاله ثقات.) مجمع الزوائد – (ج 2 / ص 137)
    “ Dari Abu Mikhlad ia berkata : “ Aku shalat di belakang Ibnu Umar maka beliau tidak berqunut, maka aku bertanya: ‘ Apa yang menghalangimu untuk berqunut?’. Beliau menjawab : ‘ Aku tidak menghafalnya dari seorangpun sahabat-sahabatku”. ( Diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani dalam ‘al-Kabir’ dan perawi-perawinya tsiqat, Majma’uz Zawa`id : 2/137)
    Sa’id bin Jubair salah seorang tokoh ulama tabi’in diriwayatkan :
    عن سعيد بن جبير أنه كان لا يقنت في صلاة الصبح. )مصنف ابن أبي شيبة – (ج 2 / ص 209)
    “ Dari Sa’id bin Jubair bahwasanya ia tidak melakukan qunut dalam shalat Shubuh” ( Mushannaf Abdurrazzaq : 2/209)
    Demikian sebagian dalil yang dikemukakan ulama pendukung qunut nazilah, bukan qunut Shubuh.
    D.2. Dalil-dalil yang menyunnahkan qunut shalat Shubuh
    Hadis pertama :
    حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ يَعْنِي الرَّازِيَّ عَنِ الرَّبِيعِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ مَا زَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا )مسند أحمد – (ج 25 / ص 242) سنن الدارقطني – (ج 4 / ص 398) مصنف عبد الرزاق – (ج 3 / ص 110(
    “ Dari Anas bin Malik ia berkata, “ Rasulullah senantiasa qunut dalam shalat Shubuh sampai meninggal dunia” ( Musnad Ahmad : 25/242, Sunan ad-Daruquthni : 4/398, Mushannaf Abdurrazzaq : 3/110).
    Komentar para ulama ahli hadis terhadap kualitas hadis ini :
    – Hadis ini dalam pandangan Abu Ishaq al-Huwaini dalam kitab an-Nafilah fi al-Ahadits adh-Dha’ifah wa al-Bathilah : 1/13) dihukumi munkar sekali.
    – Penyusun kitab Majma’ az-Zawa`id : 2/139 mengatakan perawinya tsiqah.
    – Al-Hakim menurut penuturan Ibnu Mulqin dalam al-Badr al-Munir : 3/621 mengatakan hadis ini sahih, para perawinya tsiqah.
    Hadis tersebut secara jelas menujukkan bahwa Rasulullah SAW selalu melakukan qunut Shubuh sampai beliau wafat.
    Namun ulama yang tidak sepakat dengan pemahaman ini memberi ulasan sebagai berikut :
    وَقَالَ صَاحِبُ “التَّنْقِيحِ عَلَى التَّحْقِيقِ”: هَذَا الْحَدِيثُ أَجْوَدُ أَحَادِيثِهِمْ، وَذَكَرَ جَمَاعَةٌ وَثَّقُوا أَبَا جَعْفَرٍ الرَّازِيَّ، وَلَهُ طُرُقٌ فِي “كِتَابِ الْقُنُوتِ” لِأَبِي مُوسَى الْمَدِينِيِّ، قَالَ: وَإِنْ صَحَّ، فَهُوَ مَحْمُولٌ عَلَى أَنَّهُ مَا زَالَ يَقْنُتُ فِي النَّوَازِلِ، أَوْ عَلَى أَنَّهُ مَا زَالَ يُطَوِّلُ فِي الصَّلَاةِ، فَإِنَّ الْقُنُوتَ لَفْظٌ مُشْتَرَكٌ بَيْنَ الطَّاعَةِ، وَالْقِيَامِ، وَالْخُشُوعِ، وَالسُّكُوتِ، وَغَيْرِ ذَلِكَ،) نصب الراية – (ج 2 / ص 132)
    “ Berkata pengarang kitab at-Tanqih ‘ala at-Tahqiq : Ini adalah hadis yang paling baik mengenai hadis qunut dari hujjah mereka, mereka menyebutkan sekelompok ulama yang mentsiqahkan Abu Ja’far ar-Razi. Hadis ini memiliki banyak jalan dalam kitab al-qunut untuk Abu Musa al-Madini. Berkata pengarang kitab at-Tanqih ‘ala at-Tahqiq : Jika hadis itu sahih, maka pengertiannya dibawa kepada qunut nazilah, yakni Rasulullah selalu qunut jika ada nawazil, atau dibawa ke pengertian bahwasanya beliau senantiasa melamakan berdiri dalam shalat, karena lafadz qunut itu musytarak antara taat, berdiri, khsusyu’, diam dan selain itu”. ( Nasb ar-Rayyah: 2/132)
    Sementara itu Abu Ja’far ar-Razi didha’ifkan oleh ulama-ulama ahli jarh wa at-ta’dil seperti :
    Ibnu al-Jauzi mengatakan hadis ini tidah sahih, karena Abu Ja’far ar-Razi yang namanya ‘Isa bin Mahan dikomentari oleh :
    [1]. Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam an-Nasa-i berkata: ‘Ia bukan orang yang kuat riwayatnya.’
    [2]. Imam Abu Zur’ah berkata: ‘Ia banyak salah.’
    [3]. Imam al-Fallas berkata: ‘Ia buruk hafalannya.’
    [4]. Imam Ibnu Hibban menyatakan bahwa ia sering membawakan hadits-hadits munkar dari orang-orang yang masyhur.”
    [5] Ibnu al-Madini berkata : Hafalannya sering bercampur”
    [6] Yahya berkata : ia sering salah”
    Ada hadis yang redaksinya mirip seperti di atas berbunyi :
    ما زال رسول الله صلى الله عليه وسلم يقنت في صلاة الغداة حتى فارق الدنيا “قال الألباني في ” السلسلة الضعيفة و الموضوعة ” ( 3/284 ) : منكر
    “ Rasulullah senantiasa qunut dalam shalat Shubuh sampai meninggal dunia” Berkata al-Albani dalam as-Silsilah adh-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah :3/284, hadis ini hadis munkar.
    Sedang Abu Bakar al-Atsram berkata :
    قال أبو بكر الأثرم : هو حديث ضعيف ، مخالف للأحاديث .يشير إلى أن ما ينفرد به أبو جعفر الرازي لا يحتج به ، ولا سيما إذا خالف الثقات .) فتح الباري لابن رجب – (7 / 120)
    “ Hadis tersebut dha’if, bertentangan dengan beberapa hadis. Menunjukkan apa yang Abu Ja’far ar-Razi sendirian tidak bisa berhujjah dengannya, lebih-lebih jika riwayatnya menyelisihi riwayat orang yang tsiqah. ( Fath al-Bari li Ibni Rajab : 7/120)
    Hadis kedua :
    وَعَن الْعَوام بن حَمْزَة قَالَ : سَأَلت أَبَا عُثْمَان عَن الْقُنُوت فِي الصُّبْح ؟ قَالَ : بعد الرُّكُوع . قلت : عَمَّن ؟ قَالَ : عَن أبي بكر ، وَعمر ، وَعُثْمَان رَضِيَ اللَّهُ عَنْهم ” رَوَاهُ الْبَيْهَقِيّ . وقال : هذا اسناد حسن ويحيى بن سعيد لا يحدث إلا عن الثقات عنده )خلاصة الأحكام – (ج 1 / ص 451)
    “ Dari ‘Awwam bin Hamzah ia berkata : Aku bertanya pada Abu Usman mengenai qunut di shalat Shubuh?. Ia menjawab : Setelah ruku’. Aku bertanya, dari siapa berita ini?, ia menjawab : dari Abu Bakar, Umar, Usman RA” ( HR Baihaqi, ia berkata isnad ini hasan, Yahya bin Sa’id tidak menceritakan kecuali dari orang yang tsiqat menurutnya. ( Khulashat al-Ahkam : 1/451)
    Komentar al-Baihaqi yang menghasankan hadis ini di’luruskan’ oleh Ibnu at-Turkumani sebagai berikut :
    “ Aku berkata : Bagaimana mungkin isnadnya dikatakan hasan. Sedang ‘Awwam menurut Imam Yahya dikatakan tidak ada apa-apanya, Imam Ahmad mengatakan ia meriwayatkan hadis-hadis munkar. (Al-Jauhar An-Naqi : 2/202)
    Hadis ketiga :
    وَأَمَّا حَدِيثُ ” أَبِي هُرَيْرَةَ ” الَّذِي أَخْرَجَهُ الْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ : بِأَنَّهُ { كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فَيَدْعُو بِهَذَا الدُّعَاءِ : اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْت إلَى آخِرِهِ } فَفِيهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيُّ وَلَا تَقُومُ بِهِ حُجَّةٌ .) سبل السلام – (ج 2 / ص 156)
    “ Adapun hadis Abu Hurairah yang dikeluarkan oleh al-Hakim dan ia mensahihkannya bahwasanya Rasulullah SAW jika telah mengangkat kepalanya dari ruku’ dari shalat Shubuh pada rakaat ke dua mengangkat kedua tangannya dan berdoa dengan do’a ini :
    : اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْت إلَى آخِرِهِ
    Maka di dalamnya ada perawi bernama Abdullah bin Sa’id al-Maqburiy yang tidak bisa dijadikan hujjah. ( Subul as-Salam : 2/156)
    Hadis keempat :
    عَنْ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ قَالَ : صَلَّيْتُ خَلْفَ ثَمَانِيَةٍ وَعِشْرِينَ بَدْرِيًّا كُلُّهُمْ يَقْنُتُ فِي الصُّبْحِ بَعْدَ الرُّكُوعِ .وَإِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ ) التلخيص الحبير في تخريج أحاديث الرافعي الكبير – (ج 1 / ص 483)
    “ Dari al-Hasan al-Bashri ia berkata : “ Aku telah melakukan shalat di belakang pelaku perang Badar mereka semua berqunut pada shalat Shubuh setelah ruku’. Isnadnya dha’if. ( al-Hakim, dalam at-talkhish al-Habir : /483)

    Hadis kelima :
    وعن البراء رضى الله تعالى عنه ” أن رسول الله صلي الله عليه وسلم كان يقنت في الصبح والمغرب ” رواه مسلم ورواه أبو داود ,وليس في روايته ذكر المغرب ولا يضر ترك الناس القنوت في صلاة المغرب لانه ليس بواجب أو دل الاجماع على نسخه فيها) المجموع شرح المهذب – (ج 3 / ص 505(
    “ Dari al-Bara` RA. Bahwasanya Rasulullah SAW berqunut di shalat Shubuh dan Maghrib” HR Muslim dan Abu Dawud, cuma dalam riwayat Abu Dawud tidak disebutkan kata Maghrib, maka dari itu tidak masalah meninggalkan qunut dalam shalat Maghrib karena itu bukan hal yang wajib atau telah ditunjukkan oleh ijma’ bahwa qunut Maghrib itu sudah dihapus”. ( al-Majmu’ : 3/505)

    Hadis Keenam :
    وَلِلْبَيْهَقِيِّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا دُعَاءً نَدْعُو بِهِ فِي الْقُنُوتِ مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ وَفِي سَنَدِهِ ضَعْفٌ
    “ Riwayat al-Baihaqi dari Ibnu Abbas, “ Adalah Rasulullah mengajari kami suatu doa yang kami baca sebagai doa pada waktu qunut dalam shalat Shubuh” ( al-Baihaqi, menurut al-hafidz dalam sanadnya ada kedha’ifan.
    Hadis ke tujuh :
    عن أنس ، أن النبي صلى الله عليه وسلم قنت شهرا يدعو عليهم ، ثم تركه ، فأما في الصبح فلم يزل يقنت حتى فارق الدنيا) السنن الصغرى للبيهقي – (ج 1 / ص 370)
    “ Dari Anas, bahwasanya Nabi SAW melakukan qunut selama sebulan mendoakan kecelakaan atas mereka kemudian beliau meninggalkannya, adapun qunut dalam shalat Shubuh maka beliau selalu mengerjakan sampai meninggal dunia” ( as-Sunan as-Sughra li al-Baihaqi : 1/370)
    Hadis yang matannya mirip diriwayatkan oleh Imam ad-Daruquthni sebagai berikut :
    أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا يَدْعُو عَلَى قَاتِلِي أَصْحَابِهِ بِبِئْرِ مَعُونَةَ ، ثُمَّ تَرَكَ ، فَأَمَّا فِي الصُّبْحِ فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا ) الدَّارَقُطْنِيُّ )التلخيص الحبير في تخريج أحاديث الرافعي الكبير – (ج 1 / ص 479)
    “ Bahwasanya Nabi SAW melakukan qunut selama satu bulan mendoakan kecelakaan atas para pembunuh sahabat-sahabatnya di Bi’r Ma’unah lantas meninggalkannya, adapun qunut pada sahalat Shubuh maka beliau selalu mengerjakannya sampai meninggal dunia”. ( ad-Daruquthni, at-Talkhis al-Habir : 1/479)
    Beberapa Atsar Sahabat :
    Atsar Sahabat Umar :
    عن أبي رافع ، قال : صليت خلف عمر بن الخطاب فقنت بعد الركوع ، ورفع يديه وجهر بالدعاء قال قتادة : وكان الحسن يفعل مثل ذلك )السنن الصغرى للبيهقي – (ج 1 / ص 376)
    “ Dari Abu Rafi’ ia berkata : Aku pernah shalat di belakang Umar bin al-Khatthab maka beliau berqunut setelah ruku’ dan mengangkat kedua tangannya dan mengeraskan ketika berdoa, berkata Qatadah : Al-Hasan juga melakukan yang demikian itu”. ( as-Sunan as-Sughra li al-Baihaqi : 1/376)
    Namun ada juga riwayat yang menyatakan sebaliknya sebagaimana riwayat berikut :
    عن يحيى بن عثمان التيمي قال : سمعت عمرو بن ميمون يقول : صليت خلف عمر الفجر ، فلم يقنت فيها .) مصنف عبد الرزاق – (ج 3 / ص 106) مصنف ابن أبي شيبة – (ج 2 / ص 208)
    “ Dari Yahya bin Usman at-Taimiy ia berkata : “ Aku mendengar ‘Amr bin Maimun berkata, “ Aku pernah shalat Shubuh di belakang Umar maka beliau tidak berqunut”. ( Mushannaf Abdurrazaq : 3/106, Mushannaf Abi Syaibah : 2/208)
    Atsar dari Sahabat Ali Bin Abu Tahlib
    عن عبد الله بن معقل قال قنت على رضى الله عنه في الفجر * وهذا عن على صحيح مشهور )السنن الكبرى للبيهقي – (ج 2 / ص 204)
    “ Dari Abdullah bin Ma’qil ia berkata : Imam Ali berqunut dalam shalat Shubuh” diriwayatkan oleh al-Baihaqi : dan ia berkata, berita dari Imam Ali ini sahih masyhur. ( as-Sunan al-Kubra : 2/204)
    Demikian sebagian dari nash yang diajukan ulama pendukung kesunahan qunut Shubuh.
    D.3. Dalil yang dipakai kelompok yang membid’ahkan qunut Shubuh
    Hadis Pertama :
    وَعَنْ سَعْدِ بْنِ طَارِقٍ الْأَشْجَعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قُلْت لِأَبِي : يَا أَبَتِ ، إنَّك قَدْ صَلَّيْت خَلْفَ رَسُولِ اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَأَبِي بَكْرٍ ، وَعُمَرَ ، وَعُثْمَانَ ، وَعَلِيٍّ ، أَفَكَانُوا يَقْنُتُونَ فِي الْفَجْرِ ؟ قَالَ : أَيْ بُنَيَّ ، مُحْدَثٌ .) رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلَّا أَبَا دَاوُد . )سبل السلام – (ج 2 / ص 157)
    “Dari Sa’ad Bin Thariq al-Asyja’iy RA ia berkata, Saya bertanya kepada ayahku : “Wahai Ayahku, engkau pernah shalat di belakang Rasulullah SAW dan di belakang Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali, apakah mereka melakukan qunut pada shalat Shubuh ?”. Maka dia menjawab : “Wahai anakku hal tersebut (qunut Shubuh) adalah perkara baru (bid’ah)”. Dikeluarkan oleh Tirmidzy : 2/169, Ibnu Majah : 4/108, Ahmad : 32/38. Dalam Subul as-Salam disebutkan hadis ini dikeluarkan oleh lima perawi hadis kecuali Abu Dawud : 2/157)
    Hadis di atas menurut penilaian at-Tirmidzi hasan sahih. Ibnu Hajar mengatakan dalam at-Talkhis isnad hadis ini hasan. Nashiruddin al-Albani mengatakan hadis ini sahih.
    Sedang sahabat-sahabat Imam an-An-Nawawi dari Madzhab Syafi’i berkata : “ Orang yang meriwayatkan adanya qunut lebih banyak, mereka punya kelebihan ilmu, maka didahulukan periwayatannya”.
    Hadis Kedua :
    عن أمَّ سلمة؛ ، قالت: نهى رسول الله عن القنوت في الفجر. هذا إسناد ضعيف رواه الدارقطني في سننه) مصباح الزجاجة – (ج 1 / ص 190) أخرجه ابن ماجة )صحيح وضعيف سنن ابن ماجة – (3 / 242) تحقيق الألباني : موضوع التعليق على ابن ماجة
    “ Dari Ummi Salamah ia berkata : Rasulullah melarang qunut dalam shalat Shubuh”. Diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dengan isnad yang dha’if. ( Mishbah az-Zujajah : 1/190, Juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah lihat Sahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah : 3/242, An-An-Nawawi menghukumi dha’if sekali dalam Khulashah al-Ahkam : 1/452)
    Hadis ini dihukumi maudhu’ oleh al-Albani, jadi jelas tidak boleh dipakai hujjah .
    Hadis Ketiga :
    وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ عِنْدَ الطَّبَرَانِيِّ فِي الْأَوْسَطِ وَالْبَيْهَقِيِّ وَالْحَاكِمِ فِي كِتَابِ الْقُنُوتِ بِلَفْظِ { مَا قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَيْءٍ مِنْ صَلَاتِهِ }
    “Dari Ibnu Mas’ud menurut ath-Thabrani dalam al-Ausath dan al-Baihaqi dan al-Hakim dalam kitab al-Qunut dengan lafadz, “ Rasulullah tidak qunut sedikitpun dari shalatnya”
    Hadis keempat :
    عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ الْقُنُوتُ فِي الْمَغْرِبِ وَالْفَجْرِ) صحيح البخاري – (ج 3 / ص 276)
    “ Dari Anasbin Malik ia berkata : “ Adalah Rasulullah berqunut dalam shalat Maghrib dan Shubuh” ( Sahih al-Bukhari : 3/276)
    Mengomentari hadis di atas, ath-Thahawi sebagaimana terdapat dalam Nail al-Authar berpendapat bahwa qunut Shubuh sudah dihapus sebagaimana qunut dalam shalat Maghrib, juga sudah dihapus.
    Beberapa Atsar Sahabat :
    Fatwa Ibnu Abbas :
    عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عِنْدَ الدَّارَقُطْنِيّ وَالْبَيْهَقِيِّ أَنَّهُ قَالَ : الْقُنُوتُ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ بِدْعَةٌ قَالَ الْبَيْهَقِيُّ : لَا يَصِحُّ . )نيل الأوطار – (4 / 192)
    “ Dari Ibnu Abbas menurut riwayat ad-Daruquthni dan al-Baihaqi ia berkata : “ Qunut dalam shalat Shubuh hukumnya bid’ah ( Nail al-Authar : 4/192). Kata al-Baihaqi : Riwayat ini tidak sah.
    Atsar dari Ibnu Umar :
    أَخْرَجَهُ ابْنُ عَدِيٍّ فِي “الْكَامِلِ” عَنْ بِشْرِ بْنِ حَرْبٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ ذَكَرَ الْقُنُوتَ، فَقَالَ: وَاَللَّهِ إنَّهُ لَبِدْعَةٌ4، مَا قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرَ شَهْرٍ وَاحِدٍ، انْتَهَى. وَأَعَلَّهُ بِبِشْرِ بْنِ حَرْبٍ، ثُمَّ قَالَ: وَهُوَ عِنْدِي لَا بَأْسَ بِهِ، وَلَا أَعْرِفُ لَهُ حَدِيثًا مُنْكَرًا، وَضَعَّفَهُ عَنْ النَّسَائِيّ. وَابْنِ مَعِينٍ.) نصب الراية – (ج 2 / ص 130)
    “ Ibnu ‘Adi mengeluarkan dalam kitab al-Kamil dari Bisyr bin Harb dari Ibnu Umar ia menyebutkan qunut, maka Ibnu Umar berkata : Demi Allah qunut itu bid’ah, Rasulullah tidak melakukan qunut kecuali hanya satu bulan”. Riwayat ini dicacat karena Bisyr bin Harb, kemudian Ibnu Adi berkata, : Bisyr di sisiku tidak mengapa, dan saya tidak mengetahui kalau dia memiliki hadis-hadis munkar, namun ia didha’ifkan oleh Nasa’i dan Ibnu Ma’in. ( Nashb ar-Rayyah : 2/130)
    Perbuatan beberapa Sahabat :
    Riwayat pertama :
    أَخْرَجَ ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ فِي “مُصَنَّفِهِ” عَنْ أَبِي بَكْرٍ. وَعُمَرَ. وَعُثْمَانَ، أَنَّهُمْ كَانُوا لَا يَقْنُتُونَ فِي الْفَجْرِ) نصب الراية – (ج 2 / ص 131)
    “ Ibnu Abi Syaibah mengeluarkan hadis dalam mushannafnya dari Abu Bakar, Umar, Usman, bahwasanya mereka tidak berqunut dalam shalat Shubuh” ( Nashb ar-Rayyah : 2/131)
    Riwayat Kedua :
    عن عرفجة قال : صليت مع ابن مسعود صلاة الفجر فلم يقنت ، وصليت مع علي فقنت )أخرجه البيهقى في السنن الكبرى كتاب الصلاة) كنز العمال – (ج 8 / ص 79)
    “ Dari ‘Arfajh ia berkata : “ Aku pernah shalat Shubuh di belakang Ibnu Mas’ud maka beliau tidak berqunut, aku juga pernah shalat Shubuh di belakang Ali, beliau juga tidak berqunut” ( al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra, dikutip dari Kanz ‘Ummal : 8/79.
    Setelah menyimak dan memperhatikan perbedaan pendapat serta dalil-dalil yang diajukan, dapat disimpulkan sebab terjadinya perbedaan pendapat adalah adanya berbagai riwayat yang saling bertentangan antara yang menyatakan adanya qunut Shubuh dan yang meniadakannya. Juga perbedaan dalam mensahihkan dan mendha’ifkan suatu hadis. Bagi ulama yang mengunggulkan riwayat yang menetapkan, menyunnahkan adanya qunut dalam shalat Shubuh, sedang bagi ulama yang mengunggulkan tidak adanya qunut Shubuh, menetapkan ketiadaan adanya qunut Shubuh.
    E. KESIMPULAN
    Sebagai sebuah kesimpulan sehubungan dengan uraian di atas yang cukup panjang, dapat disampaikan berapa poin penting sebagai berikut :
    1. Qunut Shubuh dengan doa Allahummah Dini Fiiman Hadaita…… ( dan seterusnya ) itu tidak disyari’atkan, karena hadis-haditsnya dha’if, tidak dapat dijadikan hujjah.

    2 – لِقاَعِدَةٍ : مَتَى تَرَدَّدَ الْعُلَماَءُ بَيْنَ كُوْنِهِ سُـنَّةً أَوْ بِدْعَـةً فَتَرَكَـهُ لاَزِمٌ.

    2. Memperhatikan adanya Qaidah : Manakala para ulama ragu-ragu menetapkan antara sunnah dengan bid’ah, maka lebih baik ditinggalkan.

    3 – وَ لِقاَعِدَةٍ : تَرْكُ ماَ نُرِيْبُ سُنَّـتَهُ خَيْرٌ مِنْ فِعْلِ ماَ نَخاَفُ بِدْعَـتَهُ.

    3. Berdasarkan Qaidah : Meninggalkan yang diragukan kesunnahannya, lebih baik daripada mengamalkan yang dikhawatirkan terjatuh kepada bid’ah.
    Maksudnya : Apabila para ‘ulama berbeda pendapat dalam menetapkan sesuatu antara sunnat dengan bid’ah, maka lebih baik ditinggalkan. Dalam qunut Shubuh misalnya, sebagian ulama ada yang menghukumi sunnat, sementara sebagian ulama lainnya menghukumi bid’ah, maka dalam hal ini, lebih ‘selamat’ jika qunut tersebut ditinggalkan. Sekiranya qunut itu sunnat, ia tidak berdosa karena tidak mengerjakannya, hanya ia tidak mendapat pahala saja , namun andai qunut itu bid’ah, maka tentu akan mendapat dosa dengan melakukannya.
    4. Juga ( qunut ) itu tidak diamalkan oleh orang-orang Makkah serta Madinah sampai di zaman kita sekarang ini.
    5. Disyariatkan qunut nazilah apabila terjadi malapetaka dan bencana terhadap ummat Islam, serta hendaklah ditinggalkan apabila bencana itu telah hilang, dan ( pelaksanaannya ) tidak dikhususkannya dalam shalat Shubuh saja.
    6. Disyariatkan Thulul Qiyaam ( melamakan berdiri ) dengan bacaan surah-surah Al-Quran yang panjang dalam shalat Shubuh, ini adalah salah satu yang dimaksud dengan qunut.
    7. Untuk doa qunut Nazilah, tidak ada doa khusus, tetapi Nabi SAW berdoa sesuai dengan tuntutan keadaan ( kondisi ).
    Pengunggulan pendapat yang tidak melakukan qunut Shubuh secara terus menerus juga dipilih oleh Abu al-Hasan ‘Ubaidullah bin al-‘Allamah Muhammad Abdu Salam al-Mubarakfuri dalam Misykat al-Mashabih ma’a Syarhihi Mir’at al-Mafatih :
    والراجح عندي ما ذهب إليه أبوحنيفة وأحمد أنه لا يسن القنوت في غير الوتر من غير سبب لا في صلاة الصبح ولا في غيرها من الصلوات ، وأنه مختص بالنوازل ؛ لأنه لم يرد في ثبوته في غير الوتر من غير سبب حديث مرفوع صحيح خال عن الكلام) مشكاة المصابيح مع شرحه مرعاة المفاتيح – (ج 4 / ص 598)
    “ Pendapat yang lebih kuat menurutku adalah apa yang dipegang oleh Imam Abu Hanifah dan Ahmad, yakni tidak disunnahkan qunut selain pada shalat witir tanpa ada sebab, tidak juga pada shalat Shubuh juga shalat-shalat selainnya. Qunut ini khusus diadakan jika ada nazilah. Karena tidak ada untuk menetapkannya di selain witir tanpa ada sebab hadis yang marfu’ dan sahih yang sepi dari kritik. ( Misykat al-Mashabih ma’a Syarhihi Mir’at al-Mafatih : 4/598)
    Pengunggulan yang sama juga dilakukan oleh asy-Syaukani dalam Nail al-Authar :
    “ Anda telah tahu, bahwa pendapat yang benar dalam masalah ini adalah pendapat yang menyatakan : Qunut itu dikhususkan ketika ada bencana. Seyogyanya ketika ada bencana tidak dikhususkan melakukan qunut pada satu shalat tertentu saja ( namun di semua shalat). ( Nail al-Authar : 4/195)
    Asy-Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini berkata :
    أما قنوت الصبح فالمداومة عليه بدعة والحديث الدال على الدوام ضعيف عند أهل العلم. )فتاوى الشيخ أبو اسحاق الحويني – (ج 1 / ص 3)
    “ Adapun dalam qunut shubuh, terus-menerus melakukannya adalah bid’ah, hadis yang menunjukkan hal ini (yakni terus-menerus dikerjakan) itu dha’if di sisi ahli ilmu”. ( Fatawa asy-Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini : 1/3)
    Pentarjihan ini juga dikeluarkan oleh pemberi fatwa dalam kitab Fatawa Yas`Alunaka, Hisyamuddin ‘Afanah :
    “ Dari itu, pendapat yang benar dari berbagai pendapat ahli ilmu bahwasanya qunut itu tidak khusus pada shalat shubuh, qunut itu di semua shalat yang lima ketika ada musibah saja. Adapun qunut pada shalat shubuh secara terus-menerus sepanjang waktu maka hal ini tidak tetap dari Nabi SAW menurut pendapat yang paling kuat di antara pendapat ahli ilmu”. ( Fatawa Yas`alunaka : 6/25)
    Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah juga menganut pendirian ini.
    Di belakang Ibnu Taimiyah, Imam asy-Syaukani menguatkan pendapat ini juga :
    وَ قاَلَ الشَّوْكاَنِيُّ : اَلْحَقُّ ماَ ذَهَبَ إِلَيْهِ مَنْ قاَلَ إِنَّ الْقُنُوْتَ مُخْتَصٌّ بِالنَّوَازِلِ وَ أَنَّهُ يَنْبَغِى عِنْدَ نُزُوْلِ النَّازِلَةِ أَلاَّ تُخْتَصُّ بِهِ صَلاَةٌ دُوْنَ صَلاَةٍ. { فتح الربانى 3 : 305 }

    “ Menurut Asy-Syaukani, bahwa yang benar ialah pendapat orang yang menyatakan bahwa qunut itu khusus ( dilakukan ) manakala terjadi nazilah ( bencana / malapetaka ), dan dalam hal itu selayaknya tidak dikhususkan dalam shalat-shalat tertentu saja. ( Fathur Rabbani 3 : 305 )

    F. PENUTUP
    Demikianlah sedikit paparan mengenai hukum qunut dalam shalat Shubuh. Semoga pembaca mendapat tambahan bacaan dan informasi secara agak berimbang, baik yang mendukung maupun yang menolak qunut Shubuh.
    Satu hal yang mesti disadari, persoalan qunut Shubuh adalah persoalan khilafiyyah furu’iyyah yang tidak prinsip, jadi tidak perlu terlalu diributkan. Jangan sampai karena persoalan kecil ukhuwah menjadi renggang, dan kebersamaan menjadi tercabik. Karena itu tidak mengherankan jika Ibnu Hazm dan Ats-Tsauri berpendapat :
    وَقَالَ الثَّوْرِيُّ وَابْنُ حَزْمٍ : كُلٌّ مِنْ الْفِعْلِ وَالتَّرْكِ حَسَنٌ )نيل الأوطار – (ج 4 / ص 193)
    “ Melakukan qunut atau tidak semuanya bagus”. ( Nail al-Authar : 4/193)
    Kalau qunut dan tidak qunut sama-sama bagus, lantas siapa yang tidak bagus?. Jawabnya tentu yang Shubuhnya kesiangan, yang Shubuhnya bolong-bolong, yang Shubuhnya tidak berjamaah, apalagi yang tidak mengerjakan Shubuh. Na’udzu billah.
    Dalam menyikapi sebuah pendapat kiranya petuah bijak yang mengatakan, sebaik-baik perkara adalah yang tengah-tengah, perlu diperhatikan. Dalam konteks menghadapi qunut Shubuh, pembaca yang biasa melakukan qunut, jika kebetulan suatu saat bermakmum kepada imam yang tidak qunut, sesekali tidak qunut tidak perlu merasa ‘bersalah’ apalagi berdosa. Karena qunut hanya sunnah, paling banter ia hanya ‘dihukum’ dengan sujud sahwi. Sebaliknya, bagi yang terbiasa tidak qunut, ketika suatu saat bermakmum kepada imam yang qunut, tidak perlu merasa ‘bersalah’ jika ikut qunut, hitung-hitung ia ‘mencicipi’ rasanya berqunut.
    Adalah sebuah pemandangan yang kurang rapi, jika ada imam qunut makmum tidak, sebagaimana ada imam yang tidak qunut sedang ada makmum yang masih mengulurkan tangan berdoa qunut padahal imam sudah sujud. Bukankah sudah masyhur berita dari Imam asy-syafi’i yang menyunnahkan qunut Shubuh, ketika menjadi imam di masjid dekat makam Imam Abu Hanifah yang tidak menyunnahkan qunut beliau tidak berqunut, sebagaimana juga beliau tidak mengeraskan bacaan basmalah. Ketika beliau ditanya, mengapa melakukan hal ini?. Beliau menjawab :
    تَأَدُّبًا مَعَ صَاحِبِ هَذَا الْقَبْرِ
    “ Saya menghargai pendapat orang yang dikubur ini (maksudnya Imam Abu Hanifah)”.
    Mengapa teladan yang luhur ini terkadang diabaikan oleh pengikut-pengikutnya serta generasi sesudahnya?.
    Perlu diingat dan dimengerti, melakukan qunut atau tidak dalam shalat Shubuh semuanya shalatnya sah, tidak ada satupun ulama yang mengatakan shalatnya tidak sah. Paling banter dalam madzhab asy-Syafi’i “dihukum” dengan sujud sahwi. Persoalannya hanya pada mana yang lebih afdhal, melakukan qunut ataukah tidak.

  21. Kebenaran itu datangnya dari Allah,…hanya org yg berhati bersih ,bertauhid,dan belajar meneima kebenaran yg akan menang.
    Tulisan diatas tdk membidahkan qunut,yg bidAh itu = qunut diwaktu subuh terus-menerus,lucunya=sangat jarang yg mengamalkan qunut nazilah.
    Kalau ada yg marah dan mencaci sesamanya muslim=itu bukan akhlak islam….wallahualam bishawab

  22. Sulwan Loi said:

    Terima kasih atas penjelasannya Ustadz, sekarang saya baru mengerti tentang masalah Qunut subuh, di sini kita bukan meremehkan ulama-ulama yang terkenal akan keilmuan dan ibadahnya seperti Imam Syafi’i, tetapi kita mempelajari masalah ini lewat jalur2 hadis yang sudah diteliti keshahihannya atau kelemahannya. sekali lagi bukan meremehkan ulama2 tetapi berdasarkan keberadaan dan kedudukan dalil2 yang digunakan, saya salut dan sangat menghargai tulisan ustadz, kepada yang tidak setuju dengan tulisan ustadz ini, sampaikan dengan cara bijak, jangan pakai kata2 kasar, bukankah dalam Q.S. Al-Humazah Allah berfirman ” Kecelakaan bagi pengumpat dan pencela”.

  23. Ayatullah said:

    Semoga hidupmuu selama-lamanya tdk berkah jika selalu menghujat hukum amin….

  24. Sa’id abu ibrohim blo’on saya tantang kamu mengupas hadits !!! bls komentar saya, kamu dpt ilmu yang membid’ahkan qunut dri gurumu atau siapa? dari buku karya2 terbitan sekarang yang pada edan2 itu? saya tunggu !!! bila perlu gurumu sekalian yang sok tau itu !!!! knp mereka ( para ulama dulu) smpai terkenal namanya, itu karena mereka pintar dan ilmunya BAROKAH shingga terkenang sepanjang masa karna mengarangnya kitab sambil ibadah trs mnerus, Lah kamu kamu smpai mana ibadahnya? hehhhh!!! kamu terkenal karna ilmumu gak? yang ada km terkenal krn kritikan jelekmu yang gak ilmiyah itu, blo’on, bodoh,sok pinter, mulutnya gak bs dijaga!!!!

  25. Ayatullah said:

    sa’id blo’on dibilanginnya…… km tau pa tntang hukum kunut, jangan sok bisa hadits, kaya bisa ja sama hadits, saya tantang km baca hadits. ngaji dulu yang bener saya tes sama hadits yang ga ada syaklnya bisa ga? inget blo’on km pinter karena siapa, inget sa’id km skrg pinter kontribusi spa? spa dlu yg dpt riwayat2 hadits, km pa ulama dlu? hehhh blo’on. jstru adanya perkembangan ilmu pd ms skrg khususnya dibidang syara’ (red: fiqh) secara tdk lgsg karena adanya formulasi/ijtihad para ulama yg lbh mengerti hadits. ya karna jasa ulama tempo doeloe blo’on, ini mah imam syafi’i di kritisin sok pinter. hafal qur’an gak km blo’on….? emang sih kbnrn dri allah dan rosulnya karena rasul sdh meninggal jd spa yg mnduduki posisi rosul pd generasi selanjutnya? ya psti ulama-ulama secara turun temurun,

  26. Biasanya yang suka membid’ah-bid’ahkan pasti jebolan timur tengah mungkin disana orang indonesia dicuci otaknya, jadinya kaya Mas ini kurang kerjaan. semoga mas mendapatkan kbenaran jangan bikin umat islam acak2an. okeh? saya udah bosen di kampung saya jg banyak yang kaya mas gabung aja tuh di K3 (Komunitas Kurang Kerjaan)
    Gini aja, udah masalah furuu’iyah jgn di prdbt yang pentg kita sama dlm hal ushuliyah dan aqidah.

    • Sa'iid Abu Ibrohiim said:

      Bacalah -> http://kebenaranhanya1.wordpress.com/2011/05/13/syarat-diterimanya-ibadah/

  27. meydhie said:

    sebelum anda menulis ini, anda seharusnya membaca dulu biografi para imam.Terutama Imam syafi’i, saya yakin anda itu bukan apa-apanya ilmunya dengan imam syafi’i……….Anda itu orang baru tidak usah menyebut2 ahlul bid’ah.Anda sendiri tidak faham dengan Bid’ah. Menurut saya anda itu harus belajar lagilah arti dan makna sholat, kalau bisa artikan tuh setiap rukun sholat?

    • Sa'iid Abu Ibrohiim said:

      Baca, http://hijab1.wordpress.com/2011/11/26/yang-paling-taqwa/

  28. SAMSUDIN said:

    PENERUS PARA NABI .SAHABAT TABIIN ADALAH ULAMA MAKA YANG MEMBIT,AHKAN QUNUTADALAH HARUS BELAJAR LAGI JANGAN BACA BUKU DOANG NANTI ELO JADI SESAT BENERAN

    • Sa'iid Abu Ibrohiim said:

      Bacalah http://kebenaranhanya1.wordpress.com/2011/05/13/syarat-diterimanya-ibadah/

  29. Anonymous said:

    satu hal yang perlu di ingat buat para komentaris yg mengikuti hawanya maka segeralah untuk bertaubat..karna alloh pasti akn membuka pintu taubat nya…dan ingat sekeras apaun batu lebih baik dari pada hati yang keras jauh dari hidayah.. ingatlah saudaraku hidup itu sebentar…siapa yang akan menolong saudara kcuali amal.saudaraku sendiri…seorang yang merasa faham dengan agama dan perbedaan maka dia akan senantiasa menjaga lisannya..tapi bagi orang yg berpura -pura mengaku islam dan berpura-pura faham islam padahal dia jahil tentang ilmu Alloh dan Rosulnya maka hendaklah dia kembali kepada Alloh ….ustat,kiyai,guru,atau mungkin da,i yg mengomentari hadis ini saya sarankan untuk belajar lagi ,banyak baca ya..kemudian fahami dan kalau tidak mengerti tanyakan kepada ahlinya,.jangan ditanyakan pada orang yang tidak faham/orang yang mengikuti hawanafsunya..karena itu bisa membuat antum lebih tidak faham lagi dan hati antum jadi makin keras untuk meneriama kebenaran akan hadis.

  30. taufiq said:

    sudah saatnya kita meluruskan pola ibadah agar sesuai dengan contoh yang diberikan oleh rasulullah saw. tanggalkan keterikatan kepada mazhab. Hadis yang diperselisihkan sebaiknya tidak dipakai untuk landasan beribadah. Berusahalah mencari hadis shahih sebagai landasan ibadah. Allah swt ingatkan kepada kita untuk mencari dalil yang muhkamat, jangan yang mutasyabihat, sebab manusia punya kecenderungan untuk berhati zaighun (fii quluubihim zaighun) cenderung kepada kesesatan dan mencari dalil yang remang-remang dan meninggalkan dalil nash yang tegas. jgn mengada-ada dalam bidang ibadah, ikutisaja pola Rasul saw. agar mendapat redha dari Allah. Sekarang banyak ulama ahlussunnah wal jamaah versi Indonesia yang telah meninggalkan ajaran lamanya dan kembali kepada al-Qur’an dan sunnah yang pasti. Seperti KH. Mahrus Ali pimpinan suatu pesantren di Jatim. KH.Al Farakhi juga pimpos di Kediri. Bacalah penyesalannya dalam karya mereka terbitan LAA TASYU’ Press, Surabaya. Wallahu a’lam.

  31. Anonymous said:

    Saya senang ketika ada kalimat, wallahu ta’ala a’lam. Seharusnya ini benar-benar jadi pijkan hidup kalian dari berbagai aspek, karena buih lautanpun takkan bisa dibandingkan dengan ilmu Allah. Bagaimana dengan kalian semua bani adam? meski ini semua bagian dari sunnatullah, tapi alangkah baiknya jika kita bertaubat. semoga yang benar tidak merasa benar dan menyalahkan, karena Allah telah mengatur semuanya.

  32. Jangan sibuk urusan qunut, itu tulisan slogan blog masih salah, Yang dituliskan “TIADA YANG BERHAK DISEMBAH SELAIN ALLOH” padahal yang benar adalah “TIADA YANG BERHAK DISEMBAH SELAIN ALLAH”.(A-L-L-A-H bukan A-L-L-O-H) dalam Al-Quran tidak ada bacaan huruf O monyong

    • Sa'iid Abu Ibrohiim said:

      Yang paling mendekati kebenaran adalah tulisan Alloh sebab sesuai dgn kaidah tajwid

  33. galaksi78 said:

    Yang mengatakan bahwa hadits qunut adalah hadits dha’if bukan Nabi tetapi manusia pengikut Nabi, yang mengatakan hadits itu Shahih juga pengikut Nabi, Apakah ilmu kalian setara dengan Ilmu Imam Syafi’i? Apakah kalian yang membid’ahkan qunut itu mengatahui cara dan kaedah fiqih Imam Syafi’i?? dasar manusia kurang wawasan, yang diurus hanya khilafiyah usang. berhentilah membid’ahkan qunut wahai manusia turunan setan.

    • Sa'iid Abu Ibrohiim said:

      Baca http://kebenaranhanya1.wordpress.com/2011/05/13/syarat-diterimanya-ibadah/

  34. Sunniy said:

    Yang selalu berurusan dengan qunut itu bukan pengikut madzhab empat. sebab pengikut madzhab empat itu bisa saling menghormati pada perbedaan cara beribadah, termasuk yang punya blog ini adalah pengikut wahabiyyah mujassimah pengkhianat madzhab hanbali.
    Kafir terus menghancurkan Islam tetapi para bajingan tengik ini asik membid’ahkan qunut shubuh.

  35. Abu Silmie said:

    pada artikel tentang fatwa tentang jam’iyyah, bukankah tidak boleh masuk jam’iyyah hizbiyah, tapi kok banyak pertentangan yang anda timbulkan dikalangan kaum muslimin dengan fatwa yang anda keluarkan. bukankah itu hizbiyyahh juga…?

    • Sa'iid Abu Ibrohiim said:

      Baca http://kebenaranhanya1.wordpress.com/2011/03/18/poin-poin-mereka-adalah-hizbiyyun/

  36. Assalamu ‘alaikum wr.wb…ustadz! penjelasan ustadz tentang hukum Qunut Subuh, buat saya sangat jelas dan memuaskan, dapat menjawab apa yang ingin ketahui selama ini. Apakah ada kemungkinanannya bahwa Imam Malik, Ibnu Abi Laila, Al-Hasan bin Sholih dan Imam Syafi’iy bahwa dalil/hadits-hadits serta kualitas setiap hadits tentang qunut Subuh seperti ustadz paparkan diatas, belumbeliau terima dengan lengkap terutama dari segi derajat setiap hadits, sehingga beliau-beliau berkesimpulan bahwa” Qunut shubuh disunnahkan secara terus-menerus”. Ini hanya dugaan, mudah-mudahan ini salah. Imam Syafi’i pernah berkata kepada Ar-Rabi': “Apa saja yang telah berlaku menurut sunnah Rasulullah saw, padahal bersalahan dengan mazhabku, maka tinggalkanlah mazhabku itu karena sunnah itulah mazhab yang sebenarnya”.dimuat dalam buku “Bagaimana Sikap Muslim menghadapi masalah khilafiyah oleh Drs. M.Ali Hasan). Wassalamu ‘alaikum wr wb.

    • Sa'iid Abu Ibrohiim said:

      A N – N I S A ‘

      4:59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

  37. jhon said:

    kan udah saya bilang saudara kita ini fanatik ibnu taimiyah,mungkin dalm benak surga itu selebar katok kolor apa,jadi mereka semua takut kalau yang saudara lainnya ikut ikutan masuk surga nanti nddak muat. jadi ya gitu hasilnya sukanya menjelekkan orang lain dan membenarkan diri sendiri.h hh h mabuk lagi aahhhhhh……

    • Sa'iid Abu Ibrohiim said:

      A L – A N ‘ A A M

      6:116. Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).

  38. Penjelasan yang bagus dan ilmiah…kalau sholat sendirian saya berpegang dengan hukum tersebut dan tidak melakukan qunut, tapi bagaimana kalau sholat dibelakang imam yang melakukan qunut ? ada ‘ulama al faqih yg bilang ikuti imam sholat karna dia ada untuk diikuti walaupun dia salah, ada ustadz yang bilang diam jangan ikut mengangkat tangan. mana yang lebih kuat menurut akhi ?

    • Sa'iid Abu Ibrohiim said:

      tidak mengangkat tangan karena qunutnya bid’ah, dan sholat tdk batal karena tdk mengangkat tangan, wallohu ta’ala a’lam.

  39. Abu Nadhira said:

    Penjelasan yang begitu ilmiah ditanggapi dengan nafsu tanpa dasar ilmu. Kasihan ya :)

  40. artikelislami said:

    و حَدَّثَنِي عَمْرٌو النَّاقِدُ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ مُحَمَّدٍ قَالَ قُلْتُ لِأَنَسٍ هَلْ قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ قَالَ نَعَمْ بَعْدَ الرُّكُوعِ يَسِيرًا
    رواه مسلم

    مَا زَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْنُتُ فِى الْفَجْرِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا
    حديث صحيح رواه جماعة من الحفاظ وصححوه وممن نص علي صحته الحافظ أبو عبد الله محمد بن علي البلخى والحاكم أبو عبد الله في مواضع من كتبه والبيهقي ورواه الدار قطني من طرق بأسانيد صحيحة

  41. marwan mazani said:

    assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
    saya senang dengan uraiannya, tapi janganlah dikatakan bid’ah terhadap pendapat yang tidak sesuai dengan mazhab yang ust. pegang. karena ulama tidak segampang itu membid’ahkan pendapat yang tidak sesuai dengan pendapatnya.

    • Sa'iid Abu Ibrohiim said:

      hati2 dari bid’ah

      • hati-hati membid’ahkan, karena suka membid’ahkan adalah bid’ah, kalian selalu mencela bid’ah tetapi sayyidina ‘umar memuji bid’ah.

        • Sa'iid Abu Ibrohiim said:

          tarawih secara berjama’ah bukan bid’ah sebab ada di Zaman Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam adapun ucapan Umar rodhiallohu ‘anhu maka yang beliau maksud adalah bid’ah secara bahasa bukan secara syar’i, wallohu ta’ala a’lam.

  42. assalamu’alaikum…
    salam kenal akhi, ajarin saya donk gimana bikin widget twet FB dan share disetiap tulisan untuk blog saya
    wassalamu’alaikum…

  43. artikelislami said:

    jadi menurut Anda cuma orang salafy yg mendapat rahmat, yg lainnya masuk neraka, termasuk imam syafi’i?

    • Sa'iid Abu Ibrohiim said:

      A L – A N ‘ A A M

      6:116. Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).

    • Orang Salafiy masuk neraka tetapi orang Salaf masuk surga. Salafiy itu bukan Salaf dan Wahabi itu bukan Wahab, Salaf dan Wahab itu bagus tetapi Salafiy dan Wahabiy jelek dan masuk neraka.

  44. artikelislami said:

    adakah imam ahmad berkata bhw imam syafi’i dan pengikut madzhab syafi’i itu adalah ahlul bid’ah? Jika tidak, biarkan kami. Dan jangan mengadu domba ummat Islam. Madzhab2 ini, walau berbeda, mereka tak saling hujat. Jadi janganlah anda memancing mereka utk saling hujat. Memecah belah dan saling hujat bukanlah manhaj salafush shalih.

    • Sa'iid Abu Ibrohiim said:

      H U U D

      11:118. Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.

      11:119. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.

    • Imam Ahmad adalah ulama yang masih hormat pada ulama yang lain. Imam Ahmad adalah seorang murid yang masih hormat pada gurunya Imam Syafi’i, sekalipun keduanya berbeda pendapat tetapi pendapat sang guru tidak disalahkannya. hanya mereka yang gila sekarang ini yang membid’ahkan qunut.

      • Sa'iid Abu Ibrohiim said:

        Baca

        http://kebenaranhanya1.wordpress.com/siapakah-salafy/

  45. السلام عليكم
    Salamkenal dari tukang bonsai mas Bos
    Lantas di Masjidil Haram pakek qunut ketik tarawih?
    والسلام عليكم

    • Sa'iid Abu Ibrohiim said:

      qunut witir beda dengan qunut shubuh

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 106 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: