Terjemah kitab “Mukhtashor Bayaan”

http://www.aloloom.net/vb/showthread.php?t=5305

Terjemah kitab
“Mukhtashor Bayaan”
yang Diawasi dan Direkomendasi oleh:
Syaikhuna Yahya bin Ali Al-Hajury
حفظه الله تعالى
Kholifah Al – Mujaddid Al `Allamah
Muqbil Bin Hadi Al-Wadi`i
رحمه الله رحمة واسعة
Diterjemahkan oleh:
Sebagian thullaab Darul Hadits
Al- Indonisiyyiin
DAARUL HADITS
DAMMAJ

DAFTAR ISI
MUQODDIMAH 4
Bab: 8
Para Penyusun “Mukhtasor” Yang Membikin Panas 8
Rekomendasi dari Asy-Syaikh Al-‘Allamah An-Nashih Al-Amin Abu Abdirrohman Yahya bin ‘Ali Al-Hajury حفظه الله 11
KRONOLOGI FITNAH ABDURROHMAN AL- adanY 13
POINT PERTAMA : PERENCANAAN FITNAH 13
POINT KEDUA : PENGARUH DARI PERENCANAAN TERSEBUT. 18
Adapun bukti dan hasil dari perubahan yang terjadi pada diri Abdurrohman adalah sebagai berikut: 20
Pemberontakan Abdurrohman Al-Adany dan Perpecahan di Dammaj 21
PENYIMPANGAN-PENYIMPANGAN YANG TIMBUL DARI GEJOLAK AGENDA PENDAFTARAN. 29
Di antara bukti parahnya sifat fanatisme mereka 36
Dampak Perpecahan di Kalangan Thullabul Ilmi dan Ahlus Sunnah Secara Menyeluruh 43
1)-Terjadinya pemboikotan. Saksi-saksi permasalahan ini sebagai berikut: 44
2)Terjadinya tindakan anarkis, penanaman perselisihan dan perpecahan di Darul Hadits Dammaj. Yang demikian ini terbukti dengan saksi-saksi sebagai berikut: 45
3)- Adu domba di antara Ahlus Sunnah. 46
b. Abdurrohman bin Mar’i dan Abdulloh bin Mar’i berusaha untuk mengadu domba antara Syaikh Yahya dengan Syaikh yang lainnya. 53
4 – Merampas Masjid-Masjid Yang berada Dibawah Tangan Ahlus Sunnah Dan Mendahului Menguasainya. 61
5- Permusuhan Di Dalam Dakwah 66
Bentuk-bentuk permusuhan meraka bisa terlihat pada point-point berikut: 68
YANG KEDUA: MENEGAKKAN DAKWAH TANDINGAN 73
YANG KE-TIGA: PENELANTARAN PARA PENUNTUT ILMU DAN MENGHALANGI MEREKA UNTUK MENDATANGI DARUL HADITS DAMMAJ 74
6. Celaan bertubi-tubi terhadap Syaikhuna Yahya dan berusaha untuk menebar fitnah di Darul Hadits Dammaj Pusat Dakwah Salafiyah yang murni 80
Dan telah muncul pula dari sebagian pengikutnya ungkapan-ungkapan yang menunjukkan fanatiSmE kesukuan dan fanatiSme jahiliyyah. 84
2. Adapun celaan-celaan Abdulloh bin Mar’i adalah: 85
3. Pelecehan Salim Ba Muhriz terhadap Syaikh Yahya: 85
4- Pelecehan Hani bin BurOik. 85
5- Pelecehan Abul Harits Muhammad bin Gholib terhadap Syaikh Yahya: 86
6. Pelecehan Arofat Al-Basry Al-Mahmady: 86
6. Pelecehan Ali Al-Hudzaify Al-Adany terhadap Syaikh Yahya حفظه الله: 87
Pasal: 101
Para Maftunun di Fitnah Abul Hasan Al Mishri dan Fitnah yang Lain, Kebanyakan Dari Mereka Bergabung ke Dalam Fitnah Abdurrohman Al ‘Adany. Silakan Lihat Sebagian dari Nama mereka: 101
7- Penyebaran berita-berita dan kebohongan. 102
Pasal Kedua: 105
Penjelasan Tentang Perpanjangan Fitnah Abdurrohman Al ‘Adany dan orang-orang yang berta’ashshub padanya 105
Pemberontakan Ikhwanul muflisin. 106
Pemberontakan Sururiyun 106
Pemberontakan Abul Hasan Al-Hizby 107
PEMBERONTAKAN SHOLEH AL-BAKRY. 109
PEMBERONTAKAN ABDURROHMAN Al-Adany. 111
TUJUAN UTAMA PARA PEMBERONTAK DARI PERBUATAN-PERBUATAN YANG TERCELA INI 113
POINT KETIGA: ALWALA WAL BARO YANG SEMPIT 114
DI ANTARA UCAPAN-UCAPAN MEREKA TENTANG HAL ITU YANG MENUNJUKKAN ATAS KESEPAKATAN MEREKA UNTUK MENDISKREDITKAN PARA MASYAYIKH YAMAN. 120
PERKARA KEEMPAT 124
Penyelisihan Abdurrohman Terhadap Ketetapan-Ketetapan Manhaj Salaf Dan Perobahan Laju Dakwah Salafiyyah. 124
(1) Sesungguhnya sebagian masalah kontemporer tidak disyaratkan ada salafnya. 125
2. Membatasi rujukan hanya kepada ulama kibar, baik secara indrawi ataupun maknawi. 126
3- Manhaj Yang Luas Dan Lapang, Dan Peruntuhan Kaidah Wala’ Wal Baro’ Yang Sesuai Syariat Serta Penjernihan Manhaj. 130
5- Dan Di antaranya Adalah Sandaran Mereka Terhadap Orang Majhul (Tidak Dikenal) Dalam Bantahan Kritikan , Pengalihan Rujukan Dan Pujian Kepada Mereka. 132
6- Tuntutan Kelompok Abdurrohman Al -Adany Terhadap Tatsabbut Yang Bid’ah Dan Menghancurkan Dasar Ahlus Sunnah Dalam Menerima Kabar Orang Yang Terpercaya. 136
Di sisi lain mereka menyandarkan berita terhadap orang-orang yang tidak dikenal yang menyelisihi manhaj tatsabbut yang sesuai dengan syari`at , maka sungguh mereka telah menghancurkan dasar penerimaan kabar orang terpercaya yang salafy dan mereka telah terjerumus ke dalam tatsabbut bid’ah gaya baru. 136
5- Tidak sepantasnya memperbanyak metode pengkritikan. 142
6- Anggapan mereka bahwa keras terhadap Ahlul bid’ah menyelisihi manhaj. 143
7- Persyaratan Mayoritas Atau Ijma’ Dalam MenghukumI Ahlul Bathil. 144
8- Keluar (berkelit) dari Masalah yang Sedang Menjadi Ajang Pertikaian. 146
Adapun hal-hal yang ditempuh oleh Abdurrohman Al ‘Adany dan pengikutnya dari jalan-jalan yang bid’ah ini adalah: 147
9- Isyarat kepada sebagian ciri khas ahlut tahazzub (para hizbyyyin) yang dimasukkan ke dalam dakwah salafiyyah. 148
a-Mengadakan kotak-kotak infak: 148
b-Tasawwul (minta-minta) dan Talashshus (Korupsi) serta Berlarut-larut ke dalam Dunia atas nama dakwah: 149
Amalan-amalan Markaz yang dilakukan di luar ma`had : 151
C. Pasar atau Bazar Amal 158
HUBUNGAN ABDURROHMAN BIN MAR’I DENGAN ORANG-ORANG YANG MENGIKUTI HIZBYNYA 164

بسم الله الرحمن الرحيم
MUQODDIMAH
إن الحمد لله نحمده و نستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئا ت أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له. وأشهد أن لا إله إلا الله، وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم تسليماً كثيراً.
+ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ _ [آل عمران/102]
+ يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا_ [النساء/1]
+ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا_ [الأحزاب/70، 71]
فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدى هدى رسول الله صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار.
أما بعد.
Dengan rohmat Alloh  dan taufiqNya kami berhasil menterjemahkan kitab : “Muhktashor Bayan“ yang memang telah ditunggu-tunggu oleh ikhwah yang komitmen dengan manhaj salaf , dan yang memiliki rasa kecemburuan yang tinggi terhadap keutuhan dan kesinambungan “ Ma`had Darul Hadits Dammaj ” pusat dakwah salafiyah di dunia , sesuai dengan pengakuan orang yang mengerti , dan paham , dan memiliki penilaian yang jujur dan adil dengan hakekat dakwah salafiyah dewasa ini .
Adapun mereka yang tidak melihat secara langsung perkembangan dan keutuhan Darul Hadits , atau barangkali yang memiliki niat jahat , atau terkelabuhi oleh bualan dan syubhat para penjahat dakwah , atau terbawa emosional para pembawa bendera fitnah , atau orang yang memiliki hati hasad dan jauh dari istiqomah mereka akan mengatakan : Dammaj sekarang telah berubah , Dammaj hari ini bukan Dammaj kemarin , Dammaj tempat fitnah , Dammaj telah kosong dari ilmu dan akhlaq , Dammaj telah sirna keelokannya , Dammaj tinggal kenangan belaka dst.
Maka kami katakan kepada mereka semua dengan firman Alloh  :
+ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا _ [الكهف/5]
“Sungguh besar (kedustaan) kalimat yang keluar dari mulut-mulut mereka , tidaklah mereka berkata kecuali kedustaan”.[ QS : Al Kahfi :5]
Juga firman-Nya  :
+ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ _ [غافر/62]
“ Kenapa kalian terpalingkan?“ [ QS : Ghofir :62]
Kenapa kalian tidak mengecek kabar terlebih dahulu(1)??, kenapa kalian berburuk sangka kepada tempat yang Alloh muliakan ??, kenapa kalian acuh tak acuh dengan rongrongan yang sedang diperbuat oleh para penjahat yang sesat untuk memusnahkan melenyapkannya ?? di mana rasa kecintaan kalian karena Alloh kepada sesama salafi untuk bahu-membahu mengusir para perusuh manhaj dan aqidah kita ??
Kalau kalian katakan : “Mereka bukanlah penjahat atau perusuh , dan bukan pula para penghasut yang memiliki niat jahat dan memiliki kedengkian dan hasad , akan tetapi kalianlah yang salah sangka dan terlalu semena-mena dan terburu-buru dalam menilai niatan saudaramu , lagi pula kami bersama para tetua yang membimbing kami dalam mengarungi lautan fitnah”, dan seterusnya dari alasan yang mereka buat , maka jawaban semua itu tertera dalam lembaran-lembaran keterangan yang ada dihadapan kita ini dengan penuh ilmiyah dan bukti kongkrit dan akurat yang menjadi pendobrak dinding talbisat , dan perobek tirai-tirai syubhat serta pencair keraguan yang selama ini tertutupi oleh kedustaan yang pekat.
Kami tahu bahwa apa yang kami usahakan akan mendapat beberapa sambutan dari berbagai kelompok :
 Ada yang memberi sambutan positif dan merasa bersyukur dan memberi sugesti atas usaha ini , karena dengan diterjemahkan buku ini memberi faedah besar bagi yang belum mampu memahami bahasa Arob , yang ingin mengetahui hakikat kenyataan yang ada.
 Ada yang merendahkan dan mencemooh serta mengkritik dengan pedas dari berbagai sisi.
 Ada yang acuh tak acuh dan nggak urusan sama sekali dengan apa yang terjadi.
 Ada yang bingung lagi bengong apa yang harus dia ucapkan dan perbuat.
 Ada yang pura-pura senang didepan umum tapi sebenarnya dia memendam bara kedengkian dan kemarahan karena berbagai sebab , baik karena sebab masalah pribadi atau sok menjadikan masalahnya masalah manhaj.
Alhamdulillah kami -insya Alloh- tidak tergoyangkan dengan pujian atau cemoohan, karena yang kami harapkan cuma wajah Alloh semata.
Karena keterbatasan kemampuan kami dan sempitnya waktu di Dammaj yang sangat padat dengan kesibukan belajar dan ibadah , maka kami membagi pekerjaan ini kepada beberapa ikhwah yang memiliki kecemburuan lebih dari yang lainnya , dan inilah nama-nama mereka yang ikut andil dalam penyelesaian terjemahan ini, baik para penerjemah atau penulis atau yang membantu membacakan teks yang telah tetulis atau yang menyediakan sarana dan prasarana sampai terlaksananya usaha ini:

1) – Abul Abbas Khodir Al-Mulky
2) – Abu Abdilkarim Shubhan bin Abi Tholhah Al-Jawy
3) – Abu Abdillah Adib Bin Ahmad Ad-Depoky Al-Jawy
4)- Abu Abdillah Anwar Al-Ambony
5)- Abu Abdillah Muhammad Bin Thobary Al-Brebesy
6) – Abu Abdirrohman Shiddiq Bin Muhammad Arsyad Al-Bugisy
7) – Abu Abdil Ghoni Abdul Wahid Al-Maliky As-Siagy Al-Jakarty
8) – Abu Abdirrohman Irham Al-Maedany
9) – Abu Abdirrohman Utsman As-Semarangy
10) – Abu ‘Amr Ridwan Bin Zaky Al-Ambony
11) – Abu Arqom Muslih Zarqony Al-Magetany
12) – Abu Bakroh ‘Afif Bin Ahmad Al-Jawy
13) – Abu Dujanah Amin Al-Ambony
14) – Abu Fairuz Abdurrohman Bin Sukaya Al-Khudsyy
15) – Abu Hudzaifah Habibi Al-Acehy
16) – Abu Hudzaifah Hasan Al-Bugisy
17) – Abul Husain Umair Al-Mulky
18) – Abu Idris Muhammad Subhi Al-Lumajangy
19) – Abu Ja’far Harits Al-Minangkabawy
20) – Abu Jauhar Adam Bin Ahmad Al-Ambony
21) – Abu Nafi’ Hakim Al-Malangy
22) – Abu Saif Mufti Bin Khairi Bin Hasan Al-Jawy
23) – Abu Sholih Mushlih Al-Madiuny
24) – Abu Sulaim Sulaiman Al-Ambony
25) – Abu Umar Ahmad Rifa’i Bin Mas’ud Al-Wonosoby
26) – Abu Usamah Shofwan Al-Banjary
27) – Abu Yusuf Abdul Malik Al-Ambony
28) – Abu Zakariya Harits Al-Jabaly Al-Farombanany
29) – Abul Fida Hisyam Bin Yusuf Al-Maliziy
30) – Abul Hasan ‘Affan Al-Makassary
31) Abul Husain Muhammad At-Tegaly
32 Abul Mundzir Mujahid Al-Bugisy
33 Abu Ahmad Sulaiman Al-Ambony
34 Abu Umair Adin Al-Ambony
35 Abu Abdillah Muhammad bin Umar Al-Acehy
36 Abu Sholih Dzakwan Al-Maidany
37 Abu Zaki Abdul A’la Al-Lamongany

Ini semua kami sebutkan bukan karena ingin dikenal para pembaca , atau dikenal ummat , atau niatan yang lainnya secara duniawi – na`udzu billah min dzaalik – akan tetapi kami ungkapkan ini semua karena rasa syukur kami kepada Alloh  atas karunia-Nya , dan sebagai tanggung jawab kami di hadapan Alloh atas apa yang kami perbuat dan juga menapaki jejak salaf yang dengan terang-terangan menyebutkan identitas aslinya tanpa menyembunyikannya , tidak seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab sebangsa : Abu Mahfut , Abu Umar dan yang sejenis mereka.
Mungkin ada yang mengatakan nama-nama diatas adalah anak-anak kemaren sore yang belum mengenal liku-liku dakwah dan hanyalah mengekor kepada yang diatasnya saja.
Kami jawab , Iya memang benar kami adalah anak-anak kemaren sore yang belum berpengalaman , akan tetapi apakah kebenaran dan pahala Alloh dan fadhilahNya hanya diperuntukkan orang-orang yang yang sudah ubanan atau bagi mereka-mereka yang – kami nggak tahu apa lawan kemaren sore – ??
عن ابن عمر رضى الله عنهما عن النبى  قال ” مثلكم ومثل أهل الكتابين كمثل رجل استأجر أجراء فقال من يعمل لى من غدوة إلى نصف النهار على قيراط فعملت اليهود ، ثم قال من يعمل لى من نصف النهار إلى صلاة العصر على قيراط فعملت النصارى ثم ، قال من يعمل لى من العصر إلى أن تغيب الشمس على قيراطين فأنتم هم ، فغضبت اليهود والنصارى ، فقالوا ما لنا أكثر عملا ، وأقل عطاء قال هل نقصتكم من حقكم قالوا لا . قال فذلك فضلى أوتيه من أشاء ” [رواه البخاري رقم: 2268]
Dari Ibnu Umar ت dari Nabi  bersabda:”Perumpamaam kalian dengan dua Ahlul kitab adalah seperti seorang yang mempekerjakan beberapa pekerja maka dia mengatakan :”Siapa yang akan bekerja dari pagi sampai pertengahan siang dengan upah satu qiroot maka orang Yahudi yang mengambilnya kemudian dia berkata:”Siapa yang mau bekerja dari tengah hari sampai shalat Ashar dengan upah satu qiroot maka orang Nashroni yang mengambilnya kemudain dia berkata :” Siapa yang mau bekerja untukku dari waktu Ashar sampai tenggelam matahari dengan upah dua qiroot maka kalianlah yang mengambilnya. Maka marahlah orang Yahudi dan Nashroni seraya berkata:”Kenapa kita lebih banyak kerja tapi upahnya lebih sedikit?Sang juragan berkata:”Apakah aku mengurangi hak kalian? Mereka jawab:”Tidak” Maka juragan itupun berkata:”Itu adalah keutamaanku yang aku berikan kepada yang aku kehendaki.[HSR.Bukhari 2268]
Adapun jawaban perkara kedua bahwa kami hanyalah pengekor , kami jawab sebagaimana perkataan sebagian salaf di antaranya : Ubaidillah bin Hasan , dan Hammad bin Zaid رحمهم الله dll :
لأن أكون ذنبا في الحق أحب الي من أن أكون رأسا في الباطل.
Sungguh seandainya aku menjadi ekor dalam kebenaran lebih aku sukai dari pada menjadi pemimpin dalam kesesatan . [ Lihat : Tahdzibul Kamal((ج 19 / ص 25 dan Siar `Alamun Nubala ((ج 5 / ص 233]
Sebelum kami akhiri muqoddimah ini, tak lupa kami ucapkan جزاكم الله خيرا kepada Ikhwah di Indonesia yang masih konsisten dengan kebenaran yang begitu terangnya , dan Insya Alloh akan semakin tambah terang setelah risalah ini tersebar , sebagian mereka itu adalah : Abu Hazim , Abu Usamah , Abu A`isyah Asnur , Abul Husain Muhammad Irwan , Fajar , Nafil Abu Arbah, Abdul Wahhab dan semua murid-murid mereka dan selain mereka yang ikut berpartisipasi dalam jihad ini seperti keluarga pak Arif , keluarga pak Nurdin , pak Alfi , Imron , Abu Yunus (alias Abu Intan) , keluarga Abu Yahya Ahmad Ibrohim dan lain-lainnya yang tidak bisa kami sebut semua di sini, kami titipkan kalian kepada Alloh  , dalam mengemban beban yang sangat berat ini, dan banyaklah berdoa meminta keteguhan jiwa, ketabahan dada , ketetapan kata , ketegaran indra sampai bertemu Alloh  dalam menggapai sorga dan memandang wajah-Nya.
Akhirnya kami memohon kepada Alloh keikhlasan dan kelurusan hati , kata dan perbuatan dhohir dan bathin dan menjadikan amalan ini untuk menggapai keridoan-Nya semata.
Kalau ada kritik-sapa yang membangun atau teguran yang berarti , jangan kalian bakhil untuk menuturkannya , dan kami siap membenahi diri semampu kami Insya Alloh.

Ditulis oleh:
Abu Turob Saif bin Hadhor Al-Jawy.
Darul Hadits Dammaj 27 Robiul Awwal 1430 H.

Bab:
Para Penyusun “Mukhtasor” Yang Membikin Panas
(Diambil dari Syair “Buku Kak Sarbini Nikam Dengan Ganas” tulisan Abu Fairuz `Afallohu ‘anhu)

“Mukhtashor Bayan” di- susun dan dibahas
oleh tokoh Dammaj yang tampil trengginas :
 Syaikh Abu ‘Amr yang hapalannya “ganas”
Penulis handal yang bahasanya lugas
 Syaikh Al ”Amudy yang lembut bagai kapas
Tapi tamparannya pada hizby pedas
 Syaikh Abdul Hamid pem- berani dan tegas
Hapalan hebat, huj- jah mantap dan jelas
 Akh Yusuf yang pembe- rani juga cerdas
banyak kasih fai- dah bernilai emas
 Ahli “usul fiqh” Yafi’ Sa’id Da’as
Moga dijaga da- ri fitnah yang buas
 juga Abu Basyir mu’arrikh yang awas
Lembut, banyak ilmu jiwa tidak lemas
 Abdul Hakim yang be- rani juga tegas
ahli nahwu, ‘aqi- dah dan manhaj yang pas
murid tiga imam yang membikin gemas
 Abdulloh Asymuri yang giat melibas
hizbyyyin dengan ber- bagai fasilitas
 Abdulloh Rozihi korban hizby buas
Kar’na keluarkan Al haq dari kulkas.
 Dan Mu’afa Al Hu- daidi yang cerdas
Hujjahnya bagus tu- lisannya selaras
 Mustafidun Indo- Nesia-Yaman tangkas
cepat bagai mobil tinggi kualitas
 tambah satu tholib yang turut bertugas
Pontang-panting bantu keringat terperas.
 Semuanya dibim- bing sang Gunung Cadas
Syaikh Yahya yang bikin hizbyyyin terlindas
Terbentuklah risa- lah yang bikin gemas
Bongkar topeng hizby baru dengan tuntas
Banyak yang tersadar dari tidur pulas
bagai tanah mati kena hujan deras
berkat Alloh Yang il- mu-Nya tanpa batas.

بسم الله الرحمن الرحيم
Rekomendasi dari Asy-Syaikh Al-‘Allamah An-Nashih Al-Amin Abu Abdirrohman Yahya bin ‘Ali Al-Hajury حفظه الله
الحمد لله رب العالمين وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له الملك الحق المبين وأشهد أن محمداً عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وصحبه ومن اهتدى بهداه إلى يوم الدين أما بعد:
Segala puji bagi Alloh Rabb semesta alam. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Alloh semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, Al – Haq (Yang Mahabenar) Al- Mubiin (Yang Maha menjelaskan).
Aku bersaksi bahwasanya Muhammad  adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, semoga shalawat Alloh senantiasa tercurah untuknya dan keluarganya dan para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya sampai tegaknya hari pembalasan.
‘Amma ba’du:
Alloh  berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:
+ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ _
“Dan demikianlah kami jadikan sebahagian kalian sebagai cobaan bagi sebahagian yang lain. Apakah kalian akan bersabar.” (QS. Al-Furqon: 20 )
Semenjak masa hidup syaikh kita yaitu Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iرحمه الله sampai saat ini pula, kita masih ditimpa ujian/cobaan – dengan senantiasa kita memohon keselamatan dari Alloh dan perlindungan-Nya- dari sebagian orang yang (dahulunya mereka) tumbuh terdidik di tempat -yang semoga Alloh memberkahinya ini – Darul Hadits As-Salafiyyah di Dammaj-. Tiba-tiba tanpa kita ketahui ternyata sebagian mereka terfitnah dengan angan-angan duniawi atau rayuan-rayuan syaithon. Allohul musta’an.
Yang paling terakhir terfitnah di masa ini dari kalangan pelajar Darul Hadits adalah Abdulloh bin Mar’i dan Abdurrohman bin Mar’i (dua bersaudara) beserta sejumlah orang yang bersembunyi di balik fitnah keduanya dari kalangan orang-orang yang mempunyai kepentingan-kepentingan buruk terhadap dakwah salafiyah ini, atau sebagian pelajar yang tertipu dengan mereka. Sehingga (hal ini) menuntut adanya penjelasan tentang apa yang kita saksikan dan ketahui di tempat ini atau lainnya tentang perihal yang mengerikan dan perbuatan-perbuatan hizbyyyah yang keji, yang sebagiannya telah tertera di dalam risalah ini.
Ketika bantahan-bantahan yang tertulis mengkronologiskan hizbyyyah mereka itu terpisah-pisah (di beberapa risalah .pent), sehingga sulit untuk diperolehnya dan memakan waktu dan susah payah untuk menelaahnya, maka bangkitlah sejumlah dari saudara-saudara kita para da’i di jalan Alloh yang mulia ini -حفظهم الله – (1) berinisiatif untuk mengumpulkan inti sari yang terangkum dari bantahan-bantahan tersebut yang dilandasi bukti-bukti yang akurat dan yang terangkum pula dari apa yang mereka ketahui dan saksikan dengan kenyataan tentang pengaruh buruk dari hizbyyah ini.
Mereka mengumpulkan dalam risalah ini dengan tema “RINGKASAN BUKTI NYATA TENTANG HIZBYYYAH Al-Adany ABDURROHMAN DAN PARA PENGIKUTNYA PENEBAR FITNAH DAN PERMUSUHAN.”(2) Semoga Alloh membalas mereka dengan kebaikan.

Ditulis oleh:
Yahya bin Ali Al-Hajury, tanggal 29 Syawwal 1429H.

KRONOLOGI FITNAH ABDURROHMAN AL- adanY
 POINT PERTAMA : PERENCANAAN FITNAH(1)
Tidak diragukan lagi bahwa tidaklah seorang pembawa kebatilan yang khawatir akan ditolak kebatilan tersebut darinya melainkan dia telah mengatur siasat untuk menebar fitnahnya pada waktu yang cocok dan tepat menurutnya untuk menyebarkan apa yang dia inginkan sebagaimana perihal itu dijelaskan Robbuna  dalam firman-Nya:
+وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا_[النساء :108]
“Padahal Alloh beserta mereka ketika suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Alloh tidak ridhoi. Dan Alloh itu Muhiith (Maha meliputi) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nisa’: 108)
Firman Alloh  :
﴿قَالُوا تَقَاسَمُوا بِاللَّهِ لَنُبَيِّتَنَّهُ وَأَهْلَهُ ثُمَّ لَنَقُولَنَّ لِوَلِيِّهِ مَا شَهِدْنَا مَهْلِكَ أَهْلِهِ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ﴾ [النمل/49]،
“Mereka berkata: “Bersumpahlah kalian dengan nama Alloh bahwa kita sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari, kemudian kita katakan kepada ahli warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang jujur.” (QS. An-Naml: 49)
Firman-Nya pula:
﴿وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ﴾ [الأنفال/30].
“Dan (ingatlah) ketika orang-orang kafir (Quraisy) berupaya menangkapmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Alloh membalas tipu daya mereka dan Alloh sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Al-Anfal: 30)
Al-Imam Al-Barbahari – رحمه الله- berkata sebagaimana tertera dalam kitab ‘Thabaqat Al-Hanabilah’ (1/90):
(مثل أصحاب البدع مثل العقارب يدفنون رؤوسهم وأبدانهم في التراب ويخرجون أذنابهم فإذا تمكنوا لدغوا وكذلك أهل البدع هم مختفون بين الناس فإذا تمكنوا بلغوا ما يريدون) .
“Permisalan para pelaku kebid’ahan adalah bagaikan sekelompok kalajengking yang menyembunyikan kepala dan badannya di dalam tanah dan menampakkan ekornya. Apabila ada peluang yang memungkinkan, dia akan menyengat. Demikianlah ahlul bid’ah, mereka bersembunyi di tengah-tengah manusia dan apabila mereka mendapatkan peluang yang memungkinkan, mereka akan menunaikan apa yang mereka inginkan.”
Al-Mufadhdhol bin Muhallal As-Sa’di – رحمه الله – berkata:
(لو كان صاحب البدعة إذا جلست إليه يحدثك ببدعته حذِرْتَه وفررت منه، ولكنه يحدثك بأحاديث السنة في بدوِّ مجلسه ثم يدخل عليك بدعته فلعلها تلزم قلبك فمتى تخرج من قلبك).
“Kalau seandainya pelaku kebid’ahan apabila kamu duduk dengannya dia menceritakan kebid’ahannya tersebut kepadamu, niscaya kamu akan waspada dan menghindar darinya. Tetapi dia itu akan menyebutkan hadits-hadits sunnah pada awal mula majelisnya, kemudian dia akan memasukkan kebid’ahannya pada dirimu sehingga bisa jadi lekatlah kebid’ahan itu dalam hatimu. Maka kapankah bid’ah itu akan keluar dari hatimu?!”
Al-Imam Al-Wadi’i –rahimahullah- berkata dalam kitabnya “Ghorotul Asyrithoh ‘ala Ahlil Jahl was Safsathoh” (2/9):
(فمن قال له الأخ ربيع إنه حزبي فسينكشف لك بعد أيام أنه حزبي؛ لأن الشخص يكون في أول أمره متسترًا ولا يحب أن ينكشف لكن إذا قوي وصار له أتباع ولا يضره الكلام فيه أظهر ما عنده).
“Maka siapapun orangnya yang dihukumi oleh Al-Akh Robi’ bahwasanya dia itu hizby, maka suatu saat akan nampak dan terungkap bagimu bahwa dia adalah hizby, karena seseorang (terkadang) keadaannya itu tersembunyi pada awal mulanya dan dia pun tidak ingin terungkap keadaan yang sebenarnya. Tetapi jika dia sudah merasa memiliki kekuatan dan pengikut, serta ucapan manusia terhadapnya tidak membahayakannya, dia akan menampakkan apa yang ada pada dirinya.”
Beliau berkata pula (2/14):
(وكما تقدم أن قلنا إن الشخص يتستر ولا يظهر الحزبية إلا بعد أن تقوى عضلاته ويرى أن الكلام لا يؤثر فيه). اهـ
“Sebagaimana telah lalu kita katakan bahwa terkadang seseorang menutupi hal dirinya dan tidak menampakkan hizbyyyahnya sampai dia merasa kuat sikunya dan menilai bahwa ucapan orang lain tidak mempengaruhinya.”
Dan perlu kita sampaikan untuk diketahui bagi siapa yang ingin mengetahui perihal ini sebenarnya, bahwasanya Abdurrohman bin Mar’i Al-Adany beserta orang-orang khusus dari para pengikutnya mereka telah merencanakan terjadinya fitnah ini.
Hal itu diketahui berdasarkan bukti-bukti yang banyak, di antaranya:
1. Abu Abdillah Muhammad bin Mahdi Al-Qobbash Asy-Syabwy menuturkan: “Suatu hari ketika kami kembali dari menghadiri muhadhoroh (ceramah) yang diisi oleh Abdurrohman Al-Adany – dan hal itu terjadi setelah kepulangan syaikh Yahya –hafidhahulloh- dari kunjungan terakhir beliau ke kota ‘Adn-. Berkatalah Al-Akh Shodiq Al-Abdiiny kepada Abdurrohman – dia adalah termasuk teman akrab Abdurrohman Al-Adany – : “Yang menghadiri majelis syaikh Yahya jumlahnya cukup besar. Kita melihat kekuasaan kita akan tegak di sana (yaitu di ‘Adn), maka Abdurrohman menimpali sembari berkata: “Siapa tahu, wahai akh Shodiq, kalau markaz atau dakwah ini akan dialihkan ke sana. Karena markaz ini (Dammaj) terancam dari pihak Rofidhoh.” Hal ini terjadi sebelum terungkapnya fitnah Abdurrohman dan bergejolaknya fitnah Al-Hutsiyyiin –para pengikut Al-Hutsi dari kalangan Rafidhoh yang memberontak terhadap pemerintah Yaman-.
2. Abu Yusuf Al-Amriky menuturkan : bahwa Abdulloh bin Mar’i pernah berkata kepadanya: “Di sana terdapat perselisihan di antara para masyaikh. Aku dan syaikh Ubaid beserta saudaraku Abdurrohman berada di satu pihak sementara para masyaikh berada di pihak lain.” Ucapan ini pula terungkap beberapa lama sebelum terjadinya fitnah.
3. Muhammad bin Sa’id bin Muflih dan saudaranya Ahmad –keduanya dari penduduk kampung Dis Timur di pinggiran Hadhromaut- mengatakan bahwa Salim ba Muhriz berkata kepada mereka di pertengahan tahun 1423 H: “Kita sudah selesai dari kasus Abul Hasan dan tiba gilirannya yang akan datang menimpa Al-Hajury.”
4. Abu Bilal Khalid bin Abbud ba ‘Amir Al-Hadhromy berkata: “Sungguh Abdulloh bin Mar’i pernah berkata: “Dikhawatirkan kejelekan terhadap dakwah ini dengan sebab keberadaan syaikh Yahya.” Hal tersebut terungkap pada tahun 1422 H jangka waktu empat tahun sebelum terjadinya fitnah.
5. Abdul Hakim bin Muhammad Al-‘Uqaily Ar-Raimy menuturkan: “Salah seorang dari orang Indonesia pernah datang meminta arahan dari Abdurrohman Al-Adany ketika dia hendak membeli tanah di kawasan Dammaj dengan harga empat juta real Yaman, berkatalah Abdurrohman: “Saya menasehatkan kepadamu untuk tidak membelinya.” Kemudian orang tersebut pergi. Kemudian Abdurrohman berkata kepadaku: “Nasehati orang itu! Ini adalah harta yang banyak, hanya Alloh yang Mengetahui, apakah akan tetap keberadaan Dammaj seperti ini atau tidak? Bahkan bisa jadi akan hilang sia-sia harta orang itu.” Sebagaimana yang dia katakan, hal ini sebelum fitnah. Alloh Yang menjadi saksi atas apa yang aku katakan.
Abul Khoththob Thariq Al-Liiby – dia termasuk gembong fitnah ini- pernah berkata kepada Akh Aiman Al-Liiby: “Abdurrohman bin Mar’i Al-Adany akan mendirikan markaz besar di ‘Adn dengan segala prasarananya yang memadai dan penopang yang kuat dan akan dinamakan dengan ‘Kota Ilmu’. Insya Alloh akan didapati padanya solusi bagi para pendatang dari luar negeri.” Kemudian Abul Khoththob berkata : « Dan tidak ada satu pun pelajar yang akan tersisa di Dammaj ini . »
6. Wadhdhoh Al-Adany pernah berkata kepada Al-Akh Yusuf Al-Jazairiy sebelum terjadinya fitnah : « Bagaimanakah pendapatmu kalau mereka para pelajar yang kuat itu –menurut pandangannya seperti Yasin Al-Adany, Nashir Al-Adany, Abul Khoththob Al-Liby dan selain mereka semua keluar dari Dammaj dan mereka pergi ke markaz baru di ‘Adn dan tidak akan tersisa seorang pun di antara mereka di sini ? »
7. Abdulloh bin Ali Ar-Rozihy menuturkan : « Ketika kita dalam perjalanan kembali di atas kendaraan milik dakwah setelah selesai menunaikan khutbah di kawasan Sho’dah dan kita sampai di kawasan perumahan para pelajar Dammaj, tiba-tiba Shodiq berkata kepada kita (di saat itu beliau adalah penanggung jawab jadwal para khatib) : « Bergembiralah wahai warga Sho’dah, rumah-rumah di Dammaj ini akan dikosongkan (oleh penghuninya). » Maka aku katakan kepadanya : « Wahai Shodiq, siapakah yang mengatakan hal ini kepadamu ? » Dia pun menjawab : « Markaz Syaikh Abdurrohman akan dibuka di Lahj. » Maka aku katakan padanya : « Apakah syaikh Yahya mengetahui hal ini (keluarnya para pelajar dari Dammaj). » Kemudian (Shodiq) berkata padaku dan sebagian ikhwah : « Saksikanlah bahwasanya saya berlepas diri (dari perkatakan ini), Syaikh Abdurrohman tidak berkata demikian dan janganlah seorang pun menyampaikan hal ini kepada syaikh Yahya. » Maka aku pun merasa heran dari parkataan ini, yang perihal ini baru pertama kali kudengar, dan hal ini terjadi sebelum syaikh Yahya berbicara tentang fitnah ini. »
8. Al-Akh Abdulloh Al-Jahdary –penanggung jawab materi pendidikan/pelajaran di Dammaj dan termasuk teman duduk dekat Abdurrohman Al-Adany- menuturkan: bahwasanya dia pernah berkeinginan untuk membeli rumah di Dammaj. Sementara Abdurohman menyarankan untuk tidak membelinya seraya berkata kepadanya: «Kita tidak mengetahui bagaimanakah jadinya urusan-urusan ini, dan apa yang akan terjadi di belakang hari? » Hal ini terjadi pada akhir fitnahnya Abul Hasan.
9. Saran seperti ini pula disampaikan oleh Abdurrohman bin Mar’i Al-Adany kepada orang lain di hadapan akh Abdulloh Al-Jahdary dalam selang waktu dua tahun setelah dia sampaikan padanya.
10. Abdurrohman bin Ahmad An-Nakha’i berkata : « Aku pernah berjalan bersama Abdurrohman Al-Adany di atas kendaraannya dan bersamaku pula Abdul Bari Al-Laudary. Kemudian Abdul Bari berkata : « Wahai syaikh Abdurrohman, bagaimanakah kabar markaz Anda itu ? » Abdurrohman Al-Adany berkata : « Kita sedang mengupayakannya. » Maka berkatalah Abdul Bari : « Ini adalah upaya bagus agar mereka menghentikan calo-calo di Dammaj ». Kemudian Abdul Bari tertawa dan Abdurrohman Al-Adany terdiam.
11. Abdulloh bin Ali Ar-Razihi berkata : « Aku pernah bepergian dengan Shodiq Al-Abdiny dan Sa’id Al-Khaulany serta sejumlah palajar yang lain ke Shon’a pada bulan Rojab tahun 1427 dan terjadi perbincangan (di saat itu) berkaitan dengan markaz yang sedang mereka upayakan berdirinya di salah satu kawasan kota Sho’dah melalui perantara Abdurraqib Al-Ilaby yang di saat itu pula beliau sedang menangani markaz di Baihan, maka aku katakan kepada mereka:
Pertama: Sudah sejak lama Shodiq banyak menggambarkan kepada kita akan dibangunnya masjid di dalam kota Sho’dah milik Ahlus Sunnah.
Kedua: Mengapa masjid itu didirikan jauh dari kota? Maka Sa’id Al-Khaulany pun mengambil alih jawaban dan berkata: “Karena di sana akan berdiri markaz dan dibangun pula di sana rumah-rumah bagi para pelajar.” Aku katakan: “Siapakah yang akan menanganinya?” Dia berkata: “Aku dan kamu serta fulan dan fulan dari warga Sho’dah.” Aku katakan: “Apabila kita berselisih?” Dia berkata: “Kita tidak akan berselisih.” Aku katakan pula: “Tidakkah perkara ini seperti halnya masjid-masjid Ahlus Sunnah yang dekat dari markaz-markaz mereka?” Dia pun menjawab: “Apakah kamu inginkan agar Syaikh Yahya yang berbicara (mengatur), kamu tidak boleh khutbah! Kamu tidak boleh mengajar?” Aku katakan: “Kalau begitu, tidak ada faedahnya kalian meminta rekomendasi dari Syaikh Yahya dan Syaikh Abdul’aziz Al-Buroi`y yang mengikat keberadaan markaz ini dengan Darul Hadits dan berada di bawah pengawasan Syaikh Yahya!!” Dan di sela-sela perdebatan itu Shodiq berkata: “Ada telepon dari Syaikh Abdurraqib Al-`Ilaby dan kita akan berjalan untuk menemui Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.” Aku katakan: “Untuk apa?” Dia berkata: “Untuk mendapatkan rekomendasi untuk masjid (markaz) Sho’dah.” Aku katakan: “Bukankah Abdurraqib pernah berkata bahwa cukup walau dengan satu rekomendasi untuk orang yang punya harta itu.” Kemudian mereka berkata: “Wahai saudara kami, rekomendasi Syaikh Yahya terdapat di dalamnya tahakkum (upaya ingin menguasai).” Maka terjadilah keributan, kemudian kita pun kembali ke tempat tidur kita masing-masing. Hal ini terjadi di ruang tamu masjid Al-Khoir Shan’a.
Abdurrohman Al-Adany sendiri pernah menyatakan pada saat pertemuan pertama kali dengan para masyaikh di Dammaj, dia pernah menyatakan pernyataan yang didengar oleh mereka (para Masyayikh) yang menunjukkan bahwa dialah yang sekarang ternyata mengambil alih tongkat kemudi orang-orang sebelumnya yang membuat gaduh di Darul Hadits dan memberontak terhadap Syaikhnya. Di saat itu dia berkata: “Tidak akan aku sembunyikan dari kalian bahwasanya setelah selesai fitnah Al-Bakry, ada beberapa orang datang kepadaku dan mereka mengatakan: “Al-Bakry telah jatuh, maka bangkitlah kamu sekarang ini (untuk menggantikan posisinya untuk menyerang).” Demikian, sebagaimana dinukil oleh Syaikh Yahya حفظه الله
12. Husain bin Fadhl As-Shalahi Al-Yafi’yy berkata: “Abdulloh bin Salim Ar-Ridfanyi (dia termasuk orang yang fanatik terhadap Abdurrohman bin Mar’i Al-Adany) pernah berkata: “Sesungguhnya pada diriku ada sesuatu yang tersimpan terhadap Syaikh Yahya semenjak masa fitnahnya Abul Hasan.”
POINT KEDUA : PENGARUH DARI PERENCANAAN TERSEBUT.
Pengaruh yang dipetik dari perencanaan tersebut adalah:
1)- Nampak perubahan-perubahan aneh pada diri Abdurrohman jauh hari sebelum terjadinya fitnah.
Alloh  berfirman:
﴿ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴾ [الأنفال/53]
“Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Alloh sekali-kali tidak akan merubah suatu nikmat yang telah dianugerahkannya kepada suatu kaum, sehingga merekalah yang merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri dan sesungguhnya Alloh Sami` (Maha Mendengar) lagi Bashir (Maha Mengetahui).” (QS. Al-Anfal: 53).
Alloh  berfirman:
وقال تعالى: ﴿وَمَنْ يُبَدِّلْ نِعْمَةَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾ [البقرة/211]
“Dan barangsiapa yang menukar nikmat Alloh setelah datang nikmat padanya, maka sesungguhnya Alloh sangat keras siksaannya.” (QS. Al-Baqarah: 211)
﴿وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آَتَيْنَاهُ آَيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ * وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ * سَاءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ﴾ [الأعراف/175-177]
« Dan bacalah kepada mereka berita salah seorang yang telah kami datangkan kepadanya ayat-ayat kami kemudian dia berlepas diri darinya , maka dia diikuti syaithon , jadilah dia termasuk orang yang sesat. Dan kalau kita kehendaki niscaya kami angkat derajat dia dengan ayat-ayat tersebut , akan tetapi dia lebih memilih kekal di bumi (lebih memilih kemuliaan di dunia), sehingga dia mengikuti hawa nafsunya , maka perumpamaannya adalah seperti seekor anjing kalau kamu kuasai ,dia akan menjulurkan lidahnya dan kalau kamu biarkan diapun tetap menjulurkan lidahnya . Itulah jeleknya perumpamaan suatu kaum yang mendustakan ayat-ayat kami , maka ceritakanlah kisah-kisah ini kepada mereka agar mereka mau berpikir. »(QS. Al-A’raf: 175-177)
Dan Alloh  berfirman:
﴿فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ﴾ [الصف/5].
“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran) Alloh memalingkan hati mereka dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (QS. As-Shaff: 5)
Dan salah satu do’a yang senantiasa dipanjatkan oleh Rasulullah  adalah:
«اللهم إني أعوذ بك من زوال نعمتك وتحول عافيتك وفجاءة نقمتك وجميع سخطك»، من حديث ابن عمر -رضي الله عنهما- في مسلم.
“Wahai Alloh, aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan-Mu dan pembelaan-Mu yang beralih dan siksaan-Mu yang mendadak dan segala kemurkaan-Mu.” (HR. Muslim dari Ibnu Umar radhiyAllohu ‘anhuma)
وجاء من حديث عبدالله بن سرجس رضي الله عنه في “مسلم” أنه صلى الله عليه وسلم كان يتعوذ من الحور بعد الكور.
Terdapat pula dalam hadits Abdulloh bin Sarjis ت dalam riwayat Muslim bahwa Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam memohon perlindungan dari kemunduran setelah terwujudnya kemajuan.
Al-Imam An-Nawawi menyebutkan dalam Riyadhus Sholihin tentang makna hadits ini : bahwa para ulama berkata tentang maknanya yaitu kemunduran setelah terwujudnya istiqamah atau kembali berkurang setelah terjadinya peningkatan.
Abu Bakar ت berkata:
(لست تاركًا شيئًا كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعمل به إلا عملت به فإني أخشى إن تركت شيئًا من أمره أن أزيغ) متفق عليه.
“Tidaklah aku akan tinggalkan suatu perkara pun yang telah diamalkan oleh Rasulullah  melainkan akan aku amalkan pula, karena aku khawatir akan menyimpang dari jalan yang lurus jika aku tinggalkan satu perkara dari petunjuknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
 Adapun bukti dan hasil dari perubahan yang terjadi pada diri Abdurrohman adalah sebagai berikut:
a. Dahulu (sebelum fitnah), Abdurrohman Al-Adany suka memuji Syaikh Yahya dan berterima kasih atas jerih payah beliau dalam dakwah dan mengakui kelebihan dan manfaat beliau serta upaya beliau untuk melaksanakan kewajiban dengan taufik-Nya dan mengarahkan orang kepada beliau. Apabila dia (Abdurrohman) hendak bepergian, minta izin dari beliau (Syaikh Yahya). Di saat kembali pun bertemu menyalami Syaikh. Semua akhlaq mulia itu hilang beberapa saat sebelum terjadinya fitnah sampai terjadinya perubahan pada dirinya yang bertolak belakang dari hal-hal tersebut. Bahkan berbalik menjadi celaan-celaan terhadap Syaikh Yahya, bahwa pada diri beliau terdapat kedunguan dan hal ini didengar oleh Akh Kamal Al-Adany, Muhammad Suwary dan Thariq Al-Ba’daany dan lain-lain.
b. Ketika sampainya berita bahwa Falih mencela Syaikh Yahya, dia (Abdurrohman) berkata: “Biarkan dia (Falih) mengurangi sifat kerasnya Syaikh Yahya.” Ucapan ini dia katakan kepada Akh Abdussalam Asy-Sya’bi Al-Yafi’y. Dia berkata pula bahwa materi pelajaran umum yang disampaikan Syaikh Yahya tidak banyak faedahnya. Ucapan ini didengar Abdulloh Al-Jahdary.
c. Pada masa-masa akhir ini, Abdurrohman banyak melakukan gerakan-gerakan yang memancing pandangan orang, sampai terkadang dia siap untuk keluar bepergian jarak jauh, meskipun dalam kondisi sakit yang ada pada dirinya, padahal sebelumnya dia selalu beralasan dengan sakitnya itu untuk tidak keluar dan tidak mau membantu Syaikh Yahya memikul beban penanganan markaz, sehingga hal ini membuat marah Syaikh Muqbil –رحمه الله -. Syaikh Yahya Al-Hasyidi berkata: “Syaikh Muqbil –رحمه الله – ketika berada di rumah sakit Ats-Tsaurah Shona’a pernah berkata kepada Abdurrohman bin Mar’i Al-Adany: “Kita ingin agar kamu membantu Syaikh Yahya menangani markaz, karena beliau masih baru dalam memikul beban dakwah.” Maka Abdurrohman berkata: “Aku tidak bisa.” Syaikh Muqbil berkata lagi: “Wahai saudaraku Abdurrohman, kita ingin kamu membantu Syaikh Yahya.” Dijawab pula oleh Abdurrohman: “Aku tidak bisa.” Seraya beralasan dengan beberapa perkara. Kemudian Abdurrohman keluar dan Syaikh Muqbil marah kepadanya dan memerah wajahnya, karena sudah menjadi kebiasaan Syaikh –rahimahullah- apabila beliau marah disertai dengan wajah merah. Hal ini dapat dirasakan dan diamati dari kondisi Abdurrohman.
d. Membuka materi pelajaran dalam bentuk yang tidak pernah dikenal darinya sebelumnya, karena dahulu kala dia (Abdurrohman) banyak beralasan dengan penyakitnya untuk tidak membuka pelajaran.
e. Mendekatkan orang-orang yang dahulu merupakan musuh atau saingannya seperti Ali Hudzaify, Yasin Al-Adany dan selain mereka tanpa adanya faktor penyebab hal itu, baik berupa perdamaian atau taubat dari kedua belah pihak. Padahal Abdurrohman Al-Adany pernah menilai Yasin adalah orang yang tidak beradab (seraya berkata): “Aku tidak menyangka dia itu akan diberi taufiq.” Sementara Yasin Al-Adany pun pernah berkomentar tentang Abdurrohman bahwa orang itu (Abdurrohman) tidak jernih seperti susu dan tidak ada nilainya, bahkan ada pada dirinya perkara-perkara yang dikritik. Demikian Ali Al-Hudzaify tidaklah dia menganggap Abdurrohman sebagai orang yang berilmu dan dia juga mengingkari fatwa-fatwanya (Abdurrohman) dan berkata: “Apa komentar ulama Arab Saudi jikalau mereka tahu bahwasanya kita katakan, Abdurrohman adalah seorang yang berilmu, sementara umurnya masih muda.” Abdurrohman juga pernah ditanya tentang Hudzaify, maka dia berkata: “Huzaifi memiliki perkara yang lebih besar dari ini.”
 Pemberontakan Abdurrohman Al-Adany dan Perpecahan di Dammaj
Sungguh Abdurrohman Al-Adany telah berupaya menimbulkan perkara baru yang tidak dikenal sebelumnya dalam dakwah Ahlus Sunnah, yaitu bentuk pendaftaran thullab yang ingin menjadi pengikutnya(1) yang telah disepakati oleh para masyayikh di Yaman tentang kelirunya hal tersebut dan keharusan untuk menghentikannya. Siapa yang mampu untuk menarik kembali hartanya, maka hendaknya dia lakukan. (Hal ini) dilakukan setelah semakin runyamnya perkara dan munculnya perselisihan.
Pada pertemuan tersebut di Darul Hadits Dammaj, mereka (para masyayikh) meminta Abdurrohman untuk menjelaskan hal itu di hadapan para thullab, tetapi tidak dia lakukan dan Syaikh Yahya pun senantiasa menuntut darinya (tuntutan itu) setelah kepergian para masyaikh, sebagaimana yang telah Abdurrohman janjikan di hadapan para masyayikh, akan tetapi dia tidak mau memenuhinya dan tetap bersikeras melanjutkan pendataan (pendaftaran) tersebut, bahkan membalas Syaikh Yahya dengan kejelekan sebagaimana akan dijelaskan dalam point-point yang akan datang.
Bentuk pendataan (yang bersifat bid`ah- pent) tersebut sebagai berikut:
Pendataan nama-nama melalui cabang-cabang kepengurusan yang dia miliki di Dammaj dan seluruh negeri Yaman, bagi yang hendak membeli tanah untuk membangun markaz beserta rumah-rumah para pelajar di kawasan markaz tersebut dengan promosi gencar, baik temporer ataupun kontemporer, dengan harga murah serta usaha yang dapat diperoleh di balik hal itu, juga disertai dengan pembatasan masa pendaftaran selama empat hari dan pembatasan masa tinggal selama setahun.
Semua perkara tadi berjalan tanpa adanya musyawarah dan izin dari Syaikh Yahya, sehingga hal ini mendorong sebagian penuntut ilmu (dengan sebab rayuan-rayuan untuk mendaftar) untuk keluar dari Darul Hadits dan menjual rumah dan harta milik mereka (yang ada di Dammaj).
Sampai ada sebagian mereka yang memikul beban hutang dan sebagian yang lain mencari usaha atau pekerjaan untuk memperoleh harta seharga tanah dan bangunannya di sana.
Kemudian dengan sebab itu mereka meninggalkan belajar (thalabul ilmi), padahal sebelumnya sebagian mereka adalah para pengarang dan memiliki karya tulis, tetapi kemudian mereka terlantar dan hingga sebagian mereka harus mengorbankan perkara yang berkaitan dengan agamanya. Contoh-contoh masalah ini terlalu banyak untuk disebutkan, karena hal ini adalah perkara-perkara yang tidak tersembunyi (bagi kita).
Di antaranya adalah apa yang dikatakan Abul Khoththob Al-Liby (dia termasuk gembong fitnah ini) kepada Aiman Al-Liby sebelum terjadinya fitnah: “Abdurrohman akan mendirikan markaz besar di ‘Adn dengan fasilitas yang memadai serta sokongan yang kuat dan akan dinamakan dengan ‘Kota ilmu’, insya Alloh akan didapati padanya solusi bagi para pendatang dari luar negeri.” Kemudian dia berkata pula: “Tidak akan ada seorang penuntut ilmu pun yang akan tersisa di Dammaj.”
Demikian pula yang dikabarkan Abu Hurairah Al-Bakistany dan selainnya tentang para pengikut Abdurrohman yang terkadang mereka mendatangi sebagian pendatang dari luar negeri, kemudian merayu serta menjanjikan kepada mereka bahwa mereka akan diberikan kemudahan untuk memperoleh (iqomah) kartu kependudukan setempat dan kemudahan-kemudahan yang lainnya.
Keberlangsungan hal inilah yang medorong Syaikh Yahya untuk menyampaikan nasehat serta penjelasan dan peringatan kepada para penuntut ilmu dari pengaruh-pengaruh jelek yang disebabkan perbuatan-perbuatan tersebut.
Pada awalnya, nasehat kepada Abdurrohman Al-Adany disampaikan secara tersembunyi dalam majelis khusus. Kemudian, ketika Abdurrohman Al-Adany dan para pengikutnya tidak mau menerima nasehat tersebut dan bersikeras untuk tetap melakukan hal tersebut, maka Syaikh Yahya menyampaikannya secara terbuka di hadapan para penuntut ilmu. Hal ini dikarenakan kekhawatiran beliau akan keterlantaran mereka.
Inilah teks risalah tersebut:
Bukti Pengingkaran Terhadap Upaya Pendataan
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Dari Yahya bin Ali Al-Hajury kepada Saudara kami yang mulia dan kami hormati Syaikh Abdurrohman Al-Adany dan segenap ikhwan para pengurus pendataan –semoga Alloh menjaga kalian-
Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
Amma ba’du:
Sungguh telah banyak ikhwah yang mulia menyampaikan kabar kepadaku bahwasanya kalian merasa sakit dari komentarku terhadap upaya pendataan yang kalian ketahui, sehingga aku ingin mengemukakan dalam risalah ini faktor penyebab pengingkaranku terhadap upaya pendataan tersebut yang telah kusinggung sebelumnya. Jikalau belum aku menyatakan (secara terbuka) kepada saudara kita Syaikh Abdurrohman agar menjauhinya pada pertemuan itu yang dihadiri oleh saudara-saudara yang mulia:
Kamal Al-Adany, Abu Dahdah Al-Hajury, dan Hasan Al-Khoulani.
Dan inilah, wahai saudara-saudaraku yang terhormat- sebagian kejelekan atau keburukan yang nampak bagiku dari upaya pendataan ini yang bisa jadi akibat buruknya ini akan menimpa kalian khususnya atau menimpa dakwah secara umum. Aku memohon kepada Alloh Al-Azhiim (Yang Maha Agung) agar membukakan hati kalian untuk menjauhinya , dan memberi manfaat kaum muslimin dengan sebab kalian.
Yang terpenting dari hal itu adalah sebagaimana berikut:
1. Membuka pintu pembauran (tanpa seleksi) dan tidak adanya pembeda dalam dakwah (dari dakwah-dakwah lain yang sesat), karena sesungguhnya orang yang membeli sepetak tanah di sana meskipun nampaknya baik menurut pandangan kalian, akan tetapi tidaklah bisa dianggap aman darinya, akan timbul fitnah baik berupa hizbyyyah atau penyimpangan yang lain, yang menuntut untuk dibuang dan dijauhkan dari dakwah, dalam rangka menjaga peranan dan keutuhan dakwah yang mulia ini, bahkan terkadang kalian atau selain kalianpun tidak mampu untuk mengusir dan menjauhkan pelaku penyimpangan tersebut yang akan merusak nama dan dakwah kalian dengan apa yang tidak perlu di perinci di sini. Hal itu semua terjadi dikarenakan kemapanan pemilik tanah tersebut di rumahnya beserta keluarganya dan para pembelanya, terlebih lagi di kota ‘Adn yang bersuhu panas. Maka dia pun siap untuk tidak keluar dari rumahnya, meskipun diangkat kasusnya bersama kalian ke pengadilan tinggi.
2. Bersamaan dengan pendataan yang tidak terseleksi ini pula, sungguh landasan utama sejak awal terjadinya pembebasan tanah tersebut adalah atas dasar ketamakan duniawi, untuk membeli tanah murah di kawasan industri sebagaimana dinyatakan oleh sebagian mereka dengan ucapannya bahwa dia hanya menginginkan tanah itu untuk disewakan atau membangun usaha di atasnya. Hal itu juga merupakan upaya untuk membuka pintu keduniawiaan bagi orang-orang yang telah disiapkan oleh dakwah dengan susah payah diusahakan untuk menjadi kader agar mereka menjadi ulama, para penulis, pambahas ilmu dan para da’i yang mumpuni dan tangguh dengan idzin Alloh.
Dan kamu pun lebih mengetahui –wahai saudara yang mulia- bahwa cuaca yang panas itu membutuhkan biaya yang lebih untuk memenuhi kebutuhan listrik dan kebutuhan yang lainnya seperti AC (pendingin ruangan) yang terus-menerus, siang malam atau yang lainnya dalam rangka menanggulangi suhu panas yang kuat yang tidak mendukung semangat untuk menuntut ilmu terlebih lagi kalau ditinjau dari pengeluaran kesehariannya, ini membutuhkan harta yang banyak. Dan markaz tersebut semenjak awal mula pendiriannya, bisa jadi akan harus tunduk di bawah naungan lembaga-lembaga yang memang ingin memanfaatkan kesempatan dengan perkumpulan tersebut, dan bila hal ini sampai terjadi adalah bencana besar -semoga (Alloh) tidak mentakdirkannya- dan bisa jadi pula hal ini akan mendorong ikhwah yang dahulunya kita harapkan manfaatnya (dari sisi ilmu), untuk membuka peluang usaha dan pekerjaan lainnya, sehingga dengan sebab itu, mereka pun tersibukkan diri dari ilmu, meskipun seandainya salah seorang di antara mereka menyampaikan khutbah atau ceramah, dianggap dirinya dengan hal itu sebagian penuntut ilmu. Kondisi seperti ini mirip dengan orang awam. Kamu juga mengetahui bahwa sebagian ikhwah di sini dengan suasana ilmu yang kondusif, dan kita senantiasa mengarahkan mereka agar tidak tersibukkan dari ilmu dengan sebab perkara duniawi sebagaimana yang telah aku sebutkan, masih saja ada sebagian mereka yang terlepas dari tangan-tangan kita (yaitu tidak menghiraukan pengarahan kita) Wallohul musta’an (hanya kepada Alloh semata tempat memohon pertolongan).
3. Sungguh kita telah mendengar ada yang berkomentar bahwa pada pendaftaraan ini terdapat unsur hizbyyyah. Hal itu terbukti dengan keberadaan sebagian pengurus pendaftaran tersebut yang didatangi seseorang yang menginginkan sepetak tanah, kemudian dia menolaknya, sementara ketika orang lain yang datang dengan maksud yang sama dan saat yang sama dia berikan kepadanya (tanah tersebut). Meskipun mungkin masih bisa disanggah, bahwa dia hendak memilih orang yang pantas atau sesuai dan cocok, akan tetapi hal ini tidak dapat melepaskan dari tuduhan tadi (yaitu keberadaan unsur hizbyyyah), karena yang zhohir mereka semua (yang menginginkan tanah) adalah di atas sunnah dan tidak seorang pun di kalangan para ulama yang menghukumi seorang pun dari mereka selain sunni. (lantas kenapa kok dibedakan padahal sama-sama sunninya).
4. Sesungguhnya kalian telah mengetahui barokah metode dakwah kita (yang ditempuh dalam dakwah) yang atas dasar inilah berdiri seluruh markaz di negeri Yaman, dan jauh pula dari rekayasa yang berlebih-lebihan, dan disertai dengan ketenangan, keselamatan dan manfaat (bagi ummat). Kalian telah melihat pula munculnya bibit kerusakan dan kejelekan penyimpangan dari hal itu, baik berupa fanatik buta dan upaya sebagian orang untuk memisahkan diri dalam suatu dakwah serta melatih mereka untuk membangkang dan membelot dariku (Syaikh Yahya sebagai guru mereka). Sementara aku menganggap diriku sebagai orang tua mereka, demikian pula mereka(menganggapku sebagai orang tua mereka). Sampai pada saat munculnya pendaftaran ini, aku melihat dan mendengar dari mereka perkara yang belum pernah aku lihat dan dengar sebelumnya dari mereka, dan aku kira kalian tidak akan ridho dengan kondisi seperti ini. Andaikata kalian ridho dengan hal itu, maka sesungguhnya (balasan yang akan menimpa kalian) itu sesuai dengan jenis amal yang diperbuatnya.
5. Ketika syaithon telah memancangkan benderanya di atas upaya pendaftaran ini, kalian telah melihat bahaya yang terjadi di dalamnya, yaitu perkara yang menarik perhatian yang mengantarkan kapada upaya dari pihak musuh-musuh kita yang memiliki kepentingan untuk mencari kesempatan kehancuran kita.
6. Bahwasanya kesulitan-kesulitan dalam bentuk apapun terkadang muncul disebabkan percekcokan karena permasalahan tanah-tanah. Hal itu sebagaimana yang telah terjadi pada masa Bakry dan para pengikutnya, yang beban kesulitan itu akan dipikul oleh para ulama sunnah yang kalian ketahui dan yang kalian tidak hiraukan nasehat mereka sekarang ini. Padahal mencegah terjadinya kerusakan lebih dikedepankan daripada mendatangkan manfaat, sebagaimana (hal ini) maklum menurut ahli fikih. Inipun (yaitu penerapan landasan dasar ini) jika diketahui bahwa mashlahat atau manfaat tersebut benar-banar terwujud, (lalu) bagaimana kalau hal itu hanya (sebatas) dugaan belaka dan tidak ada wujudnya?
Saya cukupkan risalah yang ringkas ini dengan arahan-arahan tersebut beserta nasehat yang tak henti-hentinya untuk kalian wahai Syaikh yang mulia dan segenap saudara-saudara kita yang masih berebut dikarenakan tanah-tanah itu, agar menghentikan pendaftaran ini dan mengembalikan harta orang itu kepada pemiliknya serta berlepas diri dari ikatan jalan yang sempit serta membahayakan kalian dan dakwah ini, (kemudian) berusahalah mendirikan markaz yang penuh barokah seperti halnya markaz-markaz lain milik ahlus sunnah dengan semangat menjalin persaudaraan dan saling mencintai di antara kalian dan saudara-saudara kalian para masyaikh ahlus sunnah serta para penuntut ilmu.(1)
Ini adalah tabungan yang lebih bermanfaat bagi dakwah kalian daripada upaya perekrutan tanpa seleksi itu yang tidak mengindahkan himbauan para ulama, dan tidak menutup kemungkinan pula , mereka tidak akan memberikan perhatian itu kepada kalian terlebih setelah tercapainya kepentingan tersebut. Kita senantiasa menjalin hubungan bagaikan rantai dengan kalian dalam hal itu dengan bantuan Alloh ‘Azza wa Jalla semata, wabillahit-taufiq.
Ditulis oleh saudara kalian yang menginginkan kabaikan bagi kalian -sebagaimana Alloh ketahui-: Yahya bin ‘Ali Al-Hajury.
Perkara-perkara yang dikhawatirkan oleh syaikh Yahya di dalam risalah ini sungguh telah terjadi .
Timbullah dari hal itu (pendaftaran) pemberontakan mereka dan munculnya celaan dan pelecehan terhadap syaikh Yahya dan Darul Hadits secara terang-terangan serta pengaruh lain yang akan datang penyebutannya.

Hakekat Pendaftaran Tersebut
Akh Abu Umamah Abdulloh Al- Jahdary حفظه الله mengatakan:
بسم الله الرحمن الرحيم
Aturan yang ditetapkan oleh Abdurrohman Mar’i berkaitan dengan tanah-tanah itu sebatas pengetahuan saya adalah sebagai berikut:
1. Kesepakatan yang dibuat antara Abdurrohman atau wakilnya dengan pemilik tanah untuk menyerahkan uang muka kepada pemilik tanah dan siapa yang menarik kembali pembelian itu, (maka) dia akan menanggung kerugiannya. Pembeli menanggung kerugian uang muka yang diserahkan sebelumnya ketika menarik kembali pembelian tanah tersebut dan tidak mampu untuk melunasi kekurangan dari harga tanah tersebut. Saya tidak tahu persis berapa banyak kerugian yang ditanggung oleh pemilik tanah itu?
2. Abdurrohman Al adany mengandalkan upaya-upaya untuk memperoleh harta untuk pembebasan tanah sebagaimana berikut:
• Meletakkan pada setiap daerah satu atau lebih perwakilan yang mengurusinya.
• Pengurus tersebut dipersilakan untuk mendata dari daerahnya dengan jumlah terbatas, tidak boleh lebih (dari ketentuan) agar ada peluang bagi orang-orang yang hendak mendaftar dari daerah-daerah lain.
• Pengurus menulis nama-nama dan menerima pembayaran dari orang-orang yang memiliki harta tunai. Adapun orang yang tidak memiliki harta tunai, diberikan jangka waktu tertentu. Jika tidak mampu melunasinya, maka akan dihapus namanya atau diperlakukan seperti yang semisalnya dalam bentuk pengalihan-pengalihan.
• Pengurus mengirim uang-uang yang diterimanya kepada wakil-wakil Abdurrohman di ‘Adn atau tempat yang lainnya, kemudian dari uang-uang inilah diserahkan uang muka tersebut.
Abdurrohman Al adany dan para pengikutnya dikejutkan dengan keputusan para masyayikh untuk menghentikan upaya pendaftaran itu. Mereka dikejutkan pula dengan keberadaan Abdurrohman menyetujui keputusan tersebut pada awal mulanya, sehingga Hasyim as-sayyid (salah seorang wakil Abdurrohman) menghubunginya dan berkata kepadanya : « Apa yang akan kita perbuat dengan sisa uang yang diminta? » Abdurrohman berkata : « Aku tidak ikut campur. » Maka Hasyim As-Sayyid menghubungi Akh Ali bin Salim adany dan berkata kepadanya : « Bagaimana kita perbuat, orang-orang itu menuntut kembali dari kita uang-uang mereka (yaitu yang telah diserahkan sebagai uang muka) dan penjual tidak akan mengembalikannya sebagaimana kesepakatan, apa yang harus kita perbuat ? Apa yang akan diperbuat oleh masyayikh untuk kita ? Kita akan masuk penjara. Apa yang akan kita perbuat ? Hialan Barbar (perkataan yang diambil dari film kartun, maksudnya apakah kita akan katakan untuk sesuatu, jadilah demikian!! Seperti para penyihir, kemudian jadilah seperti apa yang dikatakan penyihir itu )? »
Kemudian setelah itu muncul dua orang saudagar, salah satunya adalah Al-Haddy sebagaimana kabar itu disampaikan Abdulloh Syahih kepadaku. Dia membeli tanah yang tersisa dan menyerahkan harta sesuai harganya dan menyelamatkan kondisi genting yang menimpa wakil-wakil itu (perwakilan Abdurrohman) dan Abdulloh Syahih berkata kepadaku: “Kita menginvestasikannya dan akan kita jual dengan harga yang menguntungkan.
Kemudian berikutnya muncul seorang dari Radfan, namanya `Aidarus, dia menyebutkan dalam catatannya bahwa Al-Haddy ini menjalin kesepakatan bersama sebagian pengurus perwakilan atau orang lain untuk menyerahkan harta itu sehingga nampak dalam bentuk seseorang yang membeli tanah itu dengan harganya (kontek ucapannya akan datang penyebutannya).
Sungguh Akh Murtadho Al adany telah mengabariku bahwa Ali Al-Haddy berkata kepadaku: “Sesungguhnya aku telah membeli tanah-tanah itu.” Kemudian Murtadho berkata kepadanya: “Bagaimana bisa kamu katakan bahwa kamu yang membeli tanah-tanah itu, padahal kamu hanya mengambil uang para pembeli, kemudian kamu beli tanah-tanah itu dengan uang itu, akan tetapi katakan saja bahwa aku yang menipu orang untuk memperoleh barang sebagai syarat pembelian dan aku takut kehilangan uang muka itu” (hal ini terjadi setelah keputusan para ulama untuk menghentikan pendaftaran). Kemudian hal itu diakui oleh Ali Al-Haddy.
3. Ali bin Salim berkata kepadaku bahwa tanah itu sempurna pembeliannya dengan harga delapan puluh ribu real yaman dan harga ini bukan harga pembelian untuk sepetak tanah , akan tetapi itu adalah harga penjualan yang ditetapkan oleh Abdurrohman, kemudian dia rubah harga tersebut dengan penjualan seharga 100 ribu real, dan 20 ribu real ini sebagai cadangan jikalau dibutuhkan untuk sebagian administrasi atau jika tidak dibutuhkan diberitahukan kepada pemilik harta itu, bahwa masih tersisa uangmu sejumlah sekian, silahkan diambil atau dibiarkan sukarela untuk kepentingan dakwah. Kemudian aku pun bertanya kepada sebagian pembeli tanah-tanah tersebut dengan harga 100 real, ternyata mereka sendiri tidak diberi tahu dan tidak tahu-menahu bahwa 20 ribu real itu sebagai cadangan.
4. Sebelum cara ini ditempuh, telah ditawarkan kepada sebagian ikhwah 200 faddan (jenis ukuran tanah…) dengan harga 40 juta real. Di antara mereka (yang ditawari) adalah Khalid Hathiby, dia berkata kepada kita: “Kamu yang membeli tanah ini dengan harga ini, kemudian kita yang akan menjualnya dan harga penjualan kita musyawarahkan di antara kita dan keuntungannya, kita bagi sebagian besarnya untuk pondok karena kita punya dakwah, karena kalau tidak demikian bagaimana kita akan mendirikan markiz? Sementara kita tidak tahu perihal saudagar dari Wushob ini (seorang saudagar yang siap menanggung pembangunan masjid). Bisa jadi dia berbalik mengatur kita sesuka hatinya. Kemudian Kholid menuturkan setelah beberapa hari kemudian mulailah Abdurrohman membuka pendaftaran itu.
Jika kita perhitungkan berdasarkan data-data ini, kita akan dapati harga penjualan terakhir yang digunakan oleh Abdurrohman adany seharga 100 ribu untuk sebidang tanah. Sementara yang kita ketahui, tanah itu berukuran 200 faddan dan setiap faddannya mencakup 16 petak tanah, sebagaimana yang dituturkan Kholid, sehingga keuntungan bersih yang akan diperoleh tanpa modal yang berjumlah 40 juta itu adalah 280 juta real yaman.
Nampaknya Abdurrohman adany lebih mengutamakan caranya, agar tidak ada seorang pun yang mendapat bagian dalam hal itu, sehingga mendorong dia untuk menempuh cara peletakan cabang-cabang perwakilan yang telah disebutkan, Wallohul musta’an.
Pertanyaan: Siapakah yang membolehkan Abdurrohman adany melakukan cara seperti ini terhadap harta orang tanpa sepengetahuan mereka? (1)
PENYIMPANGAN-PENYIMPANGAN YANG TIMBUL DARI GEJOLAK AGENDA PENDAFTARAN.
Berikut kami sebutkan penyimpangan-penyimpangan berat dan akibat buruk dari agenda pendaftaran:
Pertama: upaya pengelompokan dalam bentuk `ashobiyah (fanatisme) yang itu merupakan landasan hizbyyyah dan bibitnya.
Telah diriwayatkan dari Abu Hurairah ت dari Nabi  bahwasanya beliau bersabda: “Barangsiapa yang keluar dari ketaatan terhadap pemerintah dan memisahkan diri dari jama’ah kemudian dia meninggal, maka dia mati di atas kematian jahiliyyah dan barangsiapa yang berjuang di bawah bendera balas dendam, apabila marah atau menyeru atau menolong (semua itu) karena fanatik terhadap suatu golongan kemudian dia terbunuh, maka kematiannya dalam keadaan jahiliyyah dan barangsiapa yang memberontak terhadap ummatku, membunuh orang baik ataupun yang jelek di kalangan mereka dan tidak menjauhi dari aniaya terhadap orang mukmin dan tidak menunaikan atau menepati perjanjian, maka dia bukan dari golonganku dan aku pun bukan dari golongannya.” (HR. Muslim no. 2584)
Telah berkata Syaikh Rabi` حفظه الله di dalam kitabnya “Fanatik Yang Tercela dan Pengaruhnya” (hal. 10): “Maka sesungguhnya pembicaraan kita adalah tentang tema yang membahayakan yaitu sikap fanatik yang tercela dan pengaruh-pengaruh yang timbul darinya. Sesungguhnya dia adalah penyakit yang kronis yang merusak otak-otak umat manusia dan menghancurkan pedoman hidup mereka dan membinasakan banyak nyawa. Sesungguhnya fanatik itu adalah penyakit yang paling pertama menimpa makhluk ini. Iblis yang terlaknat adalah pelaku maksiat yang paling pertama yang sebab kemaksiatan tersebut adalah fanatik (ta’ashshub).
﴿خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ﴾[الأعراف/12]
“Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan dia dari tanah.” (QS. A’raf: 12)
Dia (Iblis) fanatik dan angkuh dengan unsurnya , demikianlah pula kaum Nuh  dan selain mereka dari umat-umat yang sesat, yang mendustakan para Rasul-Nya dan seluruh kelompok-kelompok serta partai-partai dan para pemeluk agama-agama Yahudi, Nashara, Majusi, Hindu, dan seluruh orang-orang kafir penyembah berhala, tidak ada yang membinasakan mereka melainkan penyakit kronis ini (fanatik buta), wal’iyadzubillah.[selesai]
Ketika terjadinya peristiwa yang berkaitan dengan agenda pendaftaran itu, ternyata hal itu mengantarkan kebanyakan orang yang terlibat dalam agenda pendaftaran itu ataupun orang yang tertimpa dari para pendaftar kepada sikap ta’ashshub (fanatik) dan takattul (persekongkolan). Hal ini diperkuat dengan munculnya perihal–perihal yang banyak terjadi di balik itu sebagaimana terangkum berikut ini (walaupun tidak mencakup semua perihal tersebut):
1. Pertemuan-pertemuan tersembunyi yang terjadi di rumah-rumah, di kebun-kebun, di perbukitan, di gurun-gurun dan di perpustakaan umum pada waktu yang berbeda-beda, siang ataupun malam pada saat berlangsungnya mata pelajaran yang disampaikan Syaikh Yahya حفظه الله untuk seluruh pelajar kecuali yang memiliki udzur.
Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman:
﴿ يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا ﴾ [النساء/108].
“Mereka dapat bersembunyi dari manusia, (akan tetapi) mereka tidak dapat bersembunyi dari Alloh, sementara Dia (Alloh) beserta mereka ketika mereka merencanakan ucapan/tindak laku yang tidak diridhoi. Dan Alloh Muhiith (Maha Meliputi) apa yang kalian lakukan.” (QS. An-Nisa': 108)
Imam Umar bin Abdil Aziz رحمه الله telah berkata: “Apabila engkau melihat suatu kaum berbisik-bisik tentang agama mereka tanpa (sepengetahuan) khalayak umum, maka ketahuilah bahwasanya mereka berada di atas dasar kesesatan.” Diriwayatkan oleh Ad-Darimy (310), Abdulloh bin Ahmad dalam “Zuhud” (1699) dengan sanad yang shahih sampai Auza’iy darinya.
Ibnu Abi Syaibah dalam kitabnya Mushannaf (14/567-568) dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam “Al-Mudzakkir wat Tadzkir” (hal. 91) dengan sanad yang shahih: “Bahwasanya pada saat dibaiat Abu Bakar (sebagai khalifah) sepeninggal Rasulullah  , Ali dan Zubair masuk kepada Fathimah putri Rasulullah  kemudian bermusyawarah dengannya dan mengerahkan perihal mereka, maka ketika sampai perihal itu kepada Umar bin Khoththob, dia keluar sehingga masuk kepada Fathimah dan berkata: “Wahai putri Rasulullah , tidak ada seorang pun yang lebih kita cintai daripada bapakmu dan tidak ada seorang pun yang lebih kita cintai setelahnya daripada kamu. Demi Alloh, perihal itu tidaklah tersembunyi bagi kita, ketika mereka berkumpul dihadapanmu. Jika aku mau, aku perintahkan mereka untuk dibakar beserta rumahnya. Maka ketika Umar keluar, mereka pun (kembali) mendatanginya, kemudian Fathimah berkata: “Tahukah kalian bahwa Umar telah mendatangiku dan bersumpah jika kalian kembali dia akan membakar kalian beserta rumah ini. Demi Alloh, dia akan mewujudkan apa yang dia sumpahkan, maka pergilah kalian dengan petunjuk (yang benar), beranjaklah kalian dan jangan kalian kembali kepadaku, kemudian mereka pun beranjak dan tidak kembali kepadanya sampai saatnya mereka membaiat Abu Bakar sebagai khalifah.
Al-‘Allamah Al-Muhaddits Ahmad bin Yahya An-Najmy رحمه الله telah ditanya: “Apakah bepergian dengan para pemuda ke tempat-tempat yang sunyi termasuk metode dakwah Ikhwanul Muslimin, ataukah perkara itu sebaliknya?” Beliau menjawab: “Ya, ini adalah metode mereka, mereka mengatakan: “Kita pergi dan kita membaca Al-Quran atau yang semisalnya, kemudian mereka berjalan di malam hari ke tempat-tempat yang jauh dan mereka duduk di sana dengan diiringi nasyid-nasyid yang mereka miliki atau kebid’ahan-kebid’ahan yang serupa dengannya… karena mereka kalau jujur dengan pengakuan mereka bahwa yang mereka inginkan adalah ibadah, maka sepantasnya bagi mereka untuk duduk di dalam masjid… Yang paling penting (untuk diketahui) bahwasanya perbuatan mereka ini mengandung perkara yang membahayakan, dan orang-orang seperti mereka hanyalah melakukan perbuatan seperti ini karena adanya hal-hal yang mereka sembunyikan dan mereka tutup-tutupi di balik itu semua.
Artinya mereka hanya akan mengatakan dengan terbuka tentang ide mereka kepada orang yang bersama mereka saja dan mereka tidak akan mampu menyatakan hal-hal itu semua jikalau mereka berada di khalayak ramai, mereka hanya akan mengatakan hal-hal itu di hadapan orang-orang yang mereka percaya.” (Al-Fatawa Al-Jaliyyah hal. 64)
Dan beliau rahimahullah berkata: “Faktor apakah yang mendorong untuk mengadakan sirriyyah (pertemuan rahasia)?” Semua itu tidak lain dikarenakan pada dakwah mereka terdapat perkara-perkara diluar hukum-hukum syariat yang mereka sembunyikan sampai mereka menggapai tujuan atau kepentingan mereka.” (Al-Mauridzul Adzb hal. 246)
Abu Umamah Abdulloh Al-Jahdary pernah menuturkan bahwa pada suatu hari dia pergi ke rumah Ali bin Salim Al-Adany dan mengetuk pintu rumahnya, kemudian dia pun keluar seraya berkata kepadanya: “Yasin Al-Adany berada di sini. Dia tidak ingin seorang pun melihatnya. Kemudian Ali bin Salim berkata kepada Jahdary: “Kamu tunggu, aku akan masukkan Yasin ke kamar mandi kemudian setelah itu barulah kamu masuk kamar itu.” Dan Yasin pun keluar, maka Ali bin Salim juga melakukan perihal itu. Dia masukkan ke dalam kamar mandi dan Abdulloh masuk ke dalam kamar tamu kemudian setelah itu Yasin keluar dari dalam kamar mandi terus keluar rumah. Abdulloh Jahdary bertanya kepada pemilik rumah: “Kenapa Yasin tidak mau dilihat oleh seorang pun?” Dia menjawab: “Aku tidak tahu.”
Peristiwa seperti ini banyak di lakukan oleh para pemicu fitnah, di antaranya:
a. Abu Bakar Anwar bin Ali Al-Wadi’iy berkata – dia adalah salah seorang pelajar dan pengawas (bagian keamanan) di Darul Hadits –hafidhahullah wa ra’ah- berkata: “Di sela-sela kita melacak orang-orang yang tidak menghadiri materi pelajaran umum tanpa alasan, terutama pada saat terjadinya fitnah. Kami dapati beberapa hal (yang mencurigakan) dari orang-orang hizby itu. Sungguh suatu malam kami keluar antara Maghrib dan Isya’ ke rumah Nashir adany – pemilik kedai – karena adanya laporan dari seseorang , bahwa mereka sedang berkumpul di rumahnya pada saat berlangsungnya pelajaran umum di masjid. Aku ketuk pintunya, kemudian ada yang membukakannya untukku dengan dugaan bahwa aku termasuk salah seorang dari komplotan mereka, dan bertepatan pula kamar tempat berkumpul mereka berada di hadapan pintu masuk, sehingga aku dapati pula mereka bersama sebagian orang-orang Indonesia seperti Abu Taubah (Hammam) yang telah diusir dan beberapa orang lainnya yang telah dikenal (ulahnya dalam fitnah).
Dan mereka dipergoki pula oleh Sholeh bin Hadi Wadi’iy Abu Hamud –beliau termasuk pengawas Darul Hadits – حفظه الله- pada suatu saat mereka berkumpul di sela-sela perkebunan sementara mereka tidak merasa malu dengan keberadaan wanita-wanita di sana, di antara mereka adalah Yasin Al-Adany, Ahmad Misybah, Abul Khoththob dan selain mereka yang telah kalian ketahui keadaan mereka.
Dan hal itu didapati pula oleh Faris bin Ali Al-Wadi’iy –beliau juga termasuk para pengawas pondok حفظه الله — pada suatu saat di dalam ruang perpustakaan dikala pelajaran ba’da Ashar berlangsung, mereka kunci pintu perpustakaan dari dalam sambil tertawa – tawa , bersenda gurau dan mengolok-olok ucapan Syaikh Yahya حفظه الله di antara mereka adalah Ahmad Misybah, Muhammad Ja’far, Yasin, dan selain mereka yang tidak kita ketahui. Dan kita dapati mereka pula berkumpul di dalam kamar di sebelah musholla wanita di saat pelajaran ba’da Dhuhur berlangsung, tanpa ada rasa malu pada diri mereka dari Alloh. Di antara mereka adalah Abul Khoththob Liby, Yasin, Ahmad Misybah, Muhammad Ja’far dan komplotan mereka.
Dan banyak lagi yang lainnya , yang semua itu menunjukkan bahwasanya hal tersebut adalah hizbiyyah yang tercela , di mana keberadaan mereka setiap kali mereka mengetahui kita selalu memantau gerakan mereka, maka mereka berusaha beralih dari satu tempat ke tempat lain yang tersembunyi (agar tidak diketahui orang) seakan-akan mereka itu komplotan pencuri.
b. Faris Al-Wadi’iy حفظه الله juga menuturkan bahwa Qa’id bin Ali memberitahukan kepadanya bahwa di sana ada sejumlah orang-orang Perancis. Sering sekali dia dapati mereka berkumpul di tempat-tempat yang gelap disaat berlangsungnya pelajaran.
c. Amir Suqothri حفظه الله berkata bahwa pada malam terakhir sebelum kepergiannya dari Dammaj. Dia berkumpul bersama sebagian pelajar sampai jam satu tengah malam.
d. Syu’aib Ta’izy حفظه الله berkata: Bismillahirrohmanirrahiim, amma ba’du:
Pada suatu hari aku dan Yasin Al-Adany masuk ke dalam rumah Abdurrohman Syatsan. Kebetulan keluargaku dan keluarganya ada di rumahnya pula. Kemudian Abdurrohman Syatsan bersikeras mengajak kita untuk makan malam bersamanya dan Abdurrohman sering sekali berkata kepada Yasin: “Silahkan, wahai Syaikh!! Duduk, ya Syaikh!! (sebagai penghormatan baginya, ya Syaikh!! Ya Syaikh!! Pada saat itu dia sangat fanatik terhadap Yasin, di saat itu pula Yasin berkata: “Syaikh Yahya berkata: “Kita bersama ulama.” Mana buktinya dia bersama ulama? Ucapan ini terlontar setelah terjadinya perbincangan di antaranya dan kawannya Abdurrohman waktu itu. Dan dia berkata pula: “Si fulan itu dungu,” (yang dia maksudkan adalah Mazin adany). Tidak lama kemudian Manshur Udainy dan Yahya ‘Amrany masuk dalam keadaan terengah-engah dan yang pertama kali dia ucapkan ketika dia masuk: “Tutup jendela-jendela itu, tidak ada seorang pun yang mendengar (pembicaraan) kita!” Dan di antara pembicaraan mereka bahwa mereka akan mendatangi Muhammad Shon’any dan pergi bersamanya ke para pengawas pondok. Manshur berkata: “Kita datangi dia sebelum dia berkumpul dengan kawan-kawannya dan perang itu adalah tipu daya. Dan dia juga atau Yahya Amrany berkata: “Wahai kawan-kawanku, kita ingin ucapan ini tidak keluar didengar oleh seorang pun.
e. Shuhaib juga berkata: “Pada suatu saat ketika aku berjaga-jaga di atas bukit bersama Arif Syamiry, Abdul Ilah Syar’aby dan Mu’adz Dubay, tiba-tiba Yasin, Misybah, Muhammad Ja’far, Sanad dan lainnya sejumlah kurang lebih 20 orang diperkirakan mereka semua naik bukit di saat pelajaran berlangsung. Mereka duduk melingkar dan ngobrol sampai mendekati waktu maghrib”. Shuhaib juga menuturkan: “Komplotan ini adalah para pembolos dan pembangkang di waktu-waktu pelajaran berlangsung. Terkadang kita keluar seusai dari pelajaran sementara mereka keluar dari sebuah rumah, salah seorang dari mereka berjalan dari bukit dan yang lain berjalan melalui perkebunan agar tidak diketahui atau dilihat oleh para pelajar.
f. Utsman Jazairy (dia termasuk orang yang fanatik terhadap Abdurrohman adany) menceritakan di hadapan sekumpulan pelajar dari Al-Jazair bahwa mereka para pengikut Abdurrohman menjadikan beberapa orang khusus untuk melobi mereka. “Dan aku termasuk orang pilihan mereka sehingga aku dijadikan sebagai perantara di antara mereka dengan orang-orang Aljazair dan mereka (para komplotan) menanyakan kepadaku tentang mereka(orang-orang Al-jazaair), siapa pun yang aku nilai baik, mereka akan dekati dan siapa yang aku nilai jelek, mereka pun menjauhinya. Bila suatu saat aku berjalan bersama sebagian dari orang Aljazair bertemu mereka, mereka pun mengisyaratkan kepadaku seraya bertanya tentang keadaannya (temanku dari Aljazair) dan dia (Utsman) berkata pula: “Oleh sebab itu ketika memanggil Yasin, Nashir adany dan Abul Khoththob Liby, mereka berkata kepadanya (yaitu Syaikh): “Engkau tidak memiliki bukti untuk menyalahkan kita.” Hal itu dikarenakan mereka tidaklah berbicara selain kepada orang-orang khusus mereka saja.
g. – Abu Abdillah Baidhony menuturkan bahwasanya suatu hari dia pergi mencari Fahd adany. Kemudian dia diberitahu bahwa sedang pergi ke rumah Nashir Zaidy adany dan (ketika) dia mengetuk pintu rumahnya, ternyata rumah itu penuh dengan para pelajar dari ‘Adn, Indonesia (1)dan selain mereka.
h. – Al-Akh Abu Dahdah Muhammad bin Husain Al-Hajury حفظه الله berkata: “Dulu saya pergi ke rumah Abdurrohman Al-Adany untuk mengambil jawaban risalah yang dikirim kepadanya. Pada awal-awal fitnah saat itu, sedangkan Syaikh Yahya minta jawaban tersebut. Kemudian dia (Abdurroman Al-Adany) berkata kepada saya: “Kembali ke sini setelah Maghrib.” Setelah Maghrib, saya pergi ke dia lagi, tetapi dia berkata saya: “Kembali ke sini setelah Isya’.” Setelah Isya’ saya pergi lagi ke dia, tetapi dia berkata: “Kembali ke sini setelah dua jam lagi.” Setelah itu saya pergi lagi ke dia, kemudian dia berkata: “Balik ke sini satu jam lagi.” Setelah satu jam lagi seraya dia berkata: “Balik ke sini setelah setengah jam lagi.” Setelah setengah jam, saya pergi ke dia lagi seraya dia berkata: “Kembali ke sini setelah seperempat jam.” Setelah itu saya pergi lagi ke dia. Pada saat saya menunggu, saya melihat Abdurrohman Al-Khorify salah satu orang-orang yang pro dengan Abdurrohman Al-Adany, dia keluar-masuk rumah Abdurrohman adany. Kata Abu Dahdah: “Saya merasa di tempat perkumpulan itu , terdapat banyak orang lain. Sedangkan Abdurrohman adany tidak memanggilku untuk masuk rumahnya, padahal malam itu gelap dan sunyi.
i. Kata Al-Akh Abu Abdillah Aidarus bin Nashir Ar-Ridfany di dalam surat edarannya yang berjudul ‘Bidayatul Inhirof,’ katanya: “Para ulama telah mengadakan ijtima’ di Dammaj pada tanggal 13 Jumadal Akhir 1427H, mereka berkata: “Dengan dihentikannya tasjil (pendaftaran atau pendataan) di markaz Fuyusy. Apakah dengan fatwa para ulama tersebut Abdulloh bin Salim sebagai pengurus di Ridfan bisa menjalankan fatwa tersebut atau tidak? Dan apakah dia akan mengembalikan uang yang telah dibayarkan untuk pemiliknya di Ridfany kepada pemiliknya atau tidak?”
Perwakilan kami Abdulloh, dia mewakilkan pendataan kepada saudaranya yang bernama Mu’adz. Pendaftaran kami berlangsung pada bulan Jumada, sedangkan uang dipegang oleh Mu’adz. Pada akhir bulan Sya’ban Mu’adz menginginkan uang tersebut diserahkan ke Al-Haddy sebagai penanggung jawab areal tanah.
Saya menasehati Mu’adz bahwa tindakan ini menyelisihi fatwa ulama, akan tetapi dia tidak meresponi nasehat saya karena dia cuma menjalankan tugas saja. Maka saya katakan kepada dia: “Apakah kamu punya fatwa para ulama dalam hal ini?” Dia menjawab: “Tidak ada.” Saya katakan kepada dia: “Apa yang dikatakan Abdurrohman adany?” Dia menjawab: “Saya telah telpon Syaikh Abdurrohman adany, kata dia: “Beritanya ada pada Abdulloh bin Salim.” Tapi Abdulloh bin Salim berkata: “Beritanya ada pada Muhammad bin Abdul Qowi.” Sungguh menakjubkan,apa-apaan ini, pelemparan dari fulan ke fulan.
Tapi kamu jangan terburu-buru dulu karena kamu sebentar lagi akan mengetahuinya. Kemudian saya telepon Abdurro’uf Ar-Ridfanyi, setelah perbincangan tersebut dia berkata: “Keterangan-keterangan para ulama ada pada Muhammad bin Abdul Qowi dan saya tidak mengetahui siapa Muhammad itu, akan tetapi ketika saya melihat lemparan yang ditujukan ke dia dan dia mempunyai keterangan-keterangan para ulama, langsung saja saya ambil nomor telponnya, lalu saya telpon dia, akan tetapi saya tidak mendapatkannya. Setelah itu saya menelpon Syaikh Al-Imam, saya katakan pada dia: “Wahai Syaikh, kami telah mendaftar setelah dua bulan yang lalu. Tetapi uang yang tersisa sampai sekarang pada Abdulloh, sedangkan tanah kami dialokasi. Apakah kami harus membayarkan uangnya?” Berkata Syaikh: “Kami telah melakukan ijtima’ di Dammaj dan Abdurrohman mengabarkan kepada kami bahwasanya tasjil (pendaftaran) akan dihentikan dan uang yang dikasih ada di tangan ikhwan akan kembali ke pemiliknya, maka kalian jangan bayarkan dan kembalikan kepada ikhwan-lkhwan.
Kemudian saya mengabarkan permasalahan ini kepada wakil penanggung jawab kami dan Abdurro’uf. Tetapi mereka tetap pada pendiriannya dan tidak menggubrisnya. Setelah itu saya telah telpon ke Muhammad bin Abdul Qowi Al-Qoirohy yang ada di Ma’bar. Dia telah mengetahui terlebih dahulu keterangan-keterangan para ulama. Lalu dia berkata: “Kalian ambil uangnya untuk Al-Haddi dan kalian adakan ijtima’ secara diam-diam, sedangkan kami sudah melakukan ijtima’ di Ma’bar secara diam-diam. Kami telah menelpon ikhwan yang ada di Yafi’, kami katakan kepada mereka: “Ijtima’lah kalian secara diam-diam.” Dan kalian juga rapatlah secara diam-diam.” Dia mempersoalkan Syaikh Yahya, katanya: “Al-Hajury bertolak belakang dengan markaz, sedangkan markaz tetap akan didirikan.”
Beberapa selang kemudian saya ditelpon oleh Abdurro’uf, dia mengabari kami kalau dia sudah menelpon Syaikh Al-Imam dan Syaikh Al-Buro’iy. Keduanya berkata: “Kalian jangan beli dan kembalikan uangnya kepada ikhwan-ikhwan.” Tapi mereka tidak menggubris dan bersikeras menyelisinya. Hal ini dikarenakan Abdurro’uf maftun (terfitnah) sedangkan Mu’adz cuma mengerjakan saja, yang mana Abdulloh yang memerintahkan. Dan dia adalah provokator fitnah di Ridfan.
Inilah kisah yang terjadi , jika permasalahannya saja sudah menyelisihi para ulama sejak awal pembangunan dengan cara sembunyi-sembunyi, menyelisihi kebenaran disertai penipuan, bagaimana akhirnya nanti…?”
Di antara bukti parahnya sifat fanatisme mereka
j. Al-Akh Syu’aib At-Ta’izy – salah satu tholibul ‘ilmi di Dammaj – dia pergi untuk menasehati Nashir Az-Zaidi Al-Adany – salah seorang yang pro dengan Abdurrohman Al-Adany dan dia telah kabur dari Dammaj karena keinginan sendiri-. Dia pergi dalam rangka menasehati Nashir untuk meninggalkan sifat fanatisme dan fitnah, tetapi dia berkata: “Ini adalah aqidah yang tidak mungkin aku tinggalkan.”
k. Demikian pula Utsman Al-Jazairy sebelum keluarnya dari Daammaj dalam keadaan terusir disebabkan fanatismenya dia, ada beberapa orang dari Aljazair menghampirinya untuk menasehatinya, maka tahulah kalau dia telah tenggelam dalam fitnah dan dia menjanjikan untuk menjelaskan keadaan orang-orang yang terfitnah. Setelah itu dia berkata: “Ini adalah aqidah yang telah tertancap di benak hati saya. Saya tidak akan meninggalkannya.”
l. Demikian pula Riyadh Al-Anabi Al-Jazairy setelah keluar dari Dammaj karena keinginan dia sendiri.
Al-Akh Hasan Al-Jazairy telah menasehati dia untuk bertaubat dan kembali untuk menuntut ilmu di Dammaj. Tetapi dia menjawab: “Bagaimana bisa saya akan bertaubat sedangkan ini adalah aqidah yang terdapat di hati saya.”
m. Berkata Abu Abdirrohman Abdulloh Al-Amriky : “Syaikh Yahya mempunyai sifat ghuluw (yang berlebih-lebihan) inilah yang saya yakini di hati saya dan saya tidak bisa menghilangkannya.”
Ini disebabkan karena:
2. adanya penggembosan terhadap tholabatul ‘ilmi, pengobaran fitnah yang ditunjukkan kepada Syaikh Yahya, berhimpun dan berkelompok untuk memisahkan mereka dari Syaikh Yahya. Dan kenyataan tersebut tercatat dalam beberapa contoh:
a. Akh Ahmad Syu’aiby berkata: “Ketika Syaikh kami, yaitu Syaikh Yahya membicarakan masalah pendataan (pengaplingan tanah). Saya pergi ke Abdurrohman Al-Adany sekaligus saya minta untuk berbicara kepadanya, akan tetapi dia minta udzur (yakni tidak bisa), karena dia sedang sibuk. Aku pun mencoba mendesaknya, tetapi dia tetap menolak, maka aku buka perkara ini bahwa aku telah duduk bersama Syaikh dan aku ceritakan kepadanya apa yang menjadi perbincangan antaraku dan syaikh Yahya.
Kata Ahmad: “Ketika itu wajah Abdurrohman langsung berubah dan mengkerut. Lalu Abdurrohman berkata: “Wahai Ahmad, kamu bersama orang yang duduk di atas kursi, telah sampai kepada saya kalau kamu dulu dengan saya, tetapi sekarang telah berubah keadaan.” Kemudian dia menyebutkan makar yang membinasakan dan menyebutkan ayat-ayat tentang makar. Dia menyebutkan bahwasanya Falih dan Al-Bakry dikarenakan kedholimannya dan perkataan (yang jelek) terhadap ahlul ilmi, maka mereka sekarang jadi orang-orang yang hina. Dan saya (Ahmad) mengetahui kalau dia menempatkan ayat-ayat makar tersebut ditujukan kepada Syaikh Yahya.
Setelah ini dia melanjutkan omongannya dalam rangka menakut-nakutiku: “Wahai Syu’aiby, besok para masyaikh akan datang. Saya tidak ingin kamu keluar-masuk.” Demi Alloh, inilah yang terjadi, sampai-sampai saya menyangka kalau saya ini telah meninggalkan sebagian permasalahan karena sangat banyak omongannya juga serangan yang bertubi-tubi ditujukan kepada saya , dia berbicara secara terus-menerus tak henti-henti, sekitar setengah jam isinya cercaan dan celaan dan sindiran. Sampai saya tercengang terbengong dan bingung di saat mendengarkan omongan yang keluar dari mulutnya,kok bisa ucapan seperti itu keluar dari lidahnya.
Demi Alloh, tidaklah tujuan saya ini kecuali sebuah nasehat baginya dan bagi semuanya. Alloh adalah saksi atas apa yang saya ucapkan. Cukuplah Alloh sebagai pelindung bagi kami.
b. Akh Kamal Al-Adany حفظه الله berkata: “Abdurrohman Al-Adany berkata kepada saya: Kejadian ini di saat saya pergi ke dia untuk menyatukan antara dia dan Syaikh Yahya. Lalu dia berkata: “Wahai Kamal, kamu semenjak satu tahun terakhir ini telah terjadi banyak perubahan pada diri kamu diakibatkan kamu dekat dengan Syaikh. Kamu jadi berubah.” Aku (Kamal) katakan kepada dia: “Wahai Syaikh, bagaimana saya bisa berubah. Demi Alloh, tidaklah saya ini kecuali cuma pergi ke perpustakaan lalu ke rumah kemudian ke masjid, bukankah ini nasehatmu kepadaku?” Dia (Abdurrohman) berkata: “Akan tetapi –wahai Kamal- telah nampak sekali perubahan darimu sedangkan seseorang bisa terpengaruh dari teman duduknya.” Saya (Kamal) berkata: “Wahai Syaikh, bagaimana saya berubah?” Dia berkata: “Wahai saudaraku Kamal, Yahya itu tidak memperdulikan orang-orang dari ‘Adn dan tidak menggubris mereka. Syaikh membicarakan kejelekan-kejelekan wanita ‘Adn. Apa-apaan ini, seorang da’i kok mengucapkan kalimat seperti ini?!”
c. Kata Akh Abdulloh Al-Jahdary: “Abdurrohman Al-Adany memanggil Ali bin Salim Al-Adany, kejadian itu terjadi setelah Syaikh Yahya menjelaskan dan menasehatinya. Yang penjelasan dan nasehat itu berkaitan dengan masalah pendataan (untuk pengaplingan tanah). Dia meminta agar Abdurrohman menjelaskan hakikat pendataan tersebut, tetapi mereka menolaknya. Dia berkata: “Aku tidak akan berbicara terlalu banyak tentang pribadi Syaikh Yahya.” Dia (Ali bin Salim) berkata: “Tidak ada seseorang yang datang meminta kepadamu untuk berbicara tentang pribadi Syaikh Yahya, akan tetapi wajib bagi kamu untuk menjelaskannya.” Berkata Ali bin Salim: “Bahwasanya Yasin dan Ahmad Masybah keluar dari tempat Abdurrohan Al-Adani, keduanya yang akan menjelaskannya.”
d. Ketika sebagian thullab yaitu Akh Thoriq Al-Ba’dani, Akh Muhammad As-Suary dan Akh Abu Muhammad Al-Urduny. Mereka pergi untuk menyampaikan nasehat Syaikh Yahya untuk Abdurrohman, lalu langsung wajahnya memerah karena marah. Lalu dia berkata: “Kedunguan apa-apaan ini, sepertinya keterangan (Syaikh Yahya) telah membuat kalian puas . Sepertinya dia telah mempengaruhi kalian”. Kemudian setelah pembicaraannya berlangsung, dia berkata: “Dia itu (maksudnya Syaikh Yahya) menganggap diri saya adalah orang yang paling lemah di markaz ini (Dammaj) dan Alloh Azza wa Jalla akan menolongku.”
e. Berkata Zakaria Al-Yafi’iy: “Wahai Syaikh Abdurrohman, koran Al-Balagh mengabarkan bahwasanya di sana terjadi perpecahan antara engkau dan Syaikh Yahya. Andaikan engkau menjelaskan bahwasanya di sini tidak ada perpecahan di antara kalian?” Lalu dia langsung melihat ke saya dengan pandangan marah, seraya berkata: “Pergi kalian, nasehati Syaikh Yahya!” Saya katakan: “Apa yang harus aku nasehati ke dia?” Dia berkata: “Setiap apa yang ada di kepalanya berkaitan apa saja dia utarakan di atas kursi.” Lalu dia (Zakaria) berkata: “Wahai Syaikh, sekarang koran Al-Balagh mengabarkan terjadinya perselisihan di antara kalian, maka ini harus dijelaskan karena koran tersebut mencantumkan namamu.” Dia menjawab: “Koran-koran itu adalah pembohong, tidak bisa dipakai sandaran.” Inilah kata-kata dia yang terlontarkan di waktu pelajarannya (Al-Umdatul Kubro) atau ini terjadi di saat pelajarannya (Ayatul Ahkam). Perkataan ini terekam, sedangkan dia belum mengomentari apa yang tercantum di koran tersebut dan tidak pula dia mengatakan kalau di sini tidak ada di antara kami perselisihan dan kami hanyalah ikhwan bersaudara.
f. Al-Akh Ismail Al-Adany berkata bahwasanya Abdurrohman bilang sama dia (Ismail): “Katanya Abdurrohman: “Biarkan dirimu bersama-sama dengan ikhwan-ikhwan kamu.” Kata Ismail: “Saya katakan: “Insya Alloh, ada baiknya.” Kata Abdurrohman: “Kamu jangan gelengkan kepalamu untuk setuju dengan saya. Saya menginginkan suatu bukti perbuatan.
Inilah fakta-fakta yang terwujud dari beberapa contoh ringkas tidak secara meyeluruh. Fakta-fakta tersebut merupakan suatu bukti yang jelas yang menunjukkan tindak lanjut Abdurrohman Al-Adani dalam rangka penggembosan, pengelompokan, penanaman sifat fanatisme golongan dan perpecahan di antara para tholabatul ilmi , kalau memang bukan itu tujuannya maka apa perlunya dia berbuat sedemikian rupa dan apa makna dari semua itu???.
Faedah: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh sebagaimana yang terdapat di Majmu’ Fatawa (20/164): “Tidak pantas bagi seseorang untuk menisbatkan umat ini kepada seseorang tertentu yang menyeru ke jalannya sendiri. Yang mana dia berloyalitas atau bermusuhan di atas jalannya sendiri yang bukan di atas jalannya Nabi .
Tidak pantas pula untuk menisbatkan umat ini kepada idealisme tertentu yang dia dapat berkawan atau berlawan berdasarkan idealisme tersebut bukan berdasarkan perkataan Alloh dan Rosul-Nya dan bukan pula berdasarkan ijma’ umat. Bahkan ini adalah termasuk perbuatan ahlul bid’ah yang mereka menisbatkan diri-diri mereka kepada seseorang tertentu atau idealisme tertentu yang dapat memecah belah umat. Mereka berkawan dan berlawan berdasarkan idealisme yang dianut tersebut.”
Berkata pula rohimahulloh ta’ala (28/15 dan setelahnya): “Apabila seorang guru atau seorang ustadz memerintahkan untuk memboikot seseorang atau untuk memperkenankan, menjatuhkan, menjauhkan atau semisalnya harus dilihat dulu. Apabila dia secara syar’i telah melakukan perbuatan dosa, maka dia divonis sesuai kadar dosanya tanpa ditambah-tambahi. Jika tidak berbuat, maka tidak boleh divonis dengan sesuatu apapun sekalipun perintah itu dari seorang guru atau selainnya. Tidak pantas bagi para guru untuk menghimpun manusia ke dalam kelompok-kelompok dan menimbulkan di antara mereka agresi atau permusuhan dan kedengkian. Padahal mereka itu sebenarnya bersaudara saling bantu-membantu di atas kebajikan dan takwa sebagaimana firman Alloh :
﴿ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ﴾.
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”
Apabila terjadi perselisihan dan persengketaan di antara guru yang satu dengan guru yang lain atau terjadi di antara murid yang satu dengan murid yang lain atau terjadi di antara guru dengan muridnya, tidak boleh seorang pun untuk membela salah satu dari keduanya sampai mengetahui kebenaran. Tidak boleh membela dengan kebodohan atau dengan hawa nafsu. Bahkan harus lihat perkaranya dulu. Apabila kebenaran sudah jelas, baru membantu orang yang benar melawan orang yang salah, baik orang yang benar itu dari kalangan dia atau bukan. Begitu pula orang yang salah, baik dari kalangannya atau bukan. Sehingga tujuannya adalah perwujudan ibadah kepada Alloh saja dan merupakan ketaatan kepada Rosul-Nya dalam rangka mengikuti kebenaran dan menegakkan keadilan. Firman Alloh :
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ إنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan. Menjadi saksi karena Alloh biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Alloh lebih tahu kemashlahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar-balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Alloh itu khobir (maha mengetahui) segala apa yang kamu kerjakan.” (An-Nisa': 135)
Lafadz (لوي يلوي لسانه) maknanya adalah mengabarkan dengan kebohongan. Lafadz ((الاعراض maknanya menyembunyikan kebenaran. Sedangkan orang yang mendiamkan kebenaran adalah setan bisu. Barangsiapa yang condong ke temannya baik dia di atas kebenaran atau tidak, maka dia telah berhukum dengan hukum jahiliyyah dan keluar dari hukum Alloh dan Rosul-Nya. Wajib bagi semuanya berada dalam satu tangan, bersama-sama orang yang benar melawan orang yang salah. Sehingga orang yang dimuliakan di antara mereka adalah orang yang dimuliakan oleh Alloh dan Rosul-Nya. Orang yang diutamakan di antara mereka adalah orang yang diutamakan oleh Alloh dan Rosul-Nya. Orang yang dicintai di antara mereka adalah orang yang dicintai oleh Alloh dan Rosul-Nya dan orang yang hina di antara mereka adalah orang dihinakan oleh Alloh dan Rosul-Nya sesuai kadar yang diridhoi oleh Alloh dan Rosul-Nya, bukan menurut hawa nafsu. Barangsiapa yang mentaati Alloh dan Rosul-Nya akan memperoleh petunjuk. Barangsiapa yang memaksiati Alloh dan Rosul-Nya tidak bisa memudhorotkan kecuali dirinya sendiri. Inilah merupakan asal dan patokan untuk menghujjah mereka. Pada saat itu tidak ada hujjah untuk berpecah dan bergolong-golong di antara mereka karena Alloh  telah berfirman:
﴿ إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ ﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah menjadi beberapa golongan) tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka.”
Dan Firman Alloh  :
﴿وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ﴾
“Janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan siksa yang berat.”
Sehingga seseorang yang telah diketahui oleh seorang ustadz dan tahu kebaikannya dan rasa syukurnya…, pada saat itu tidak boleh seseorang pun berpindah dari yang satu ke yang lain, tidak boleh menisbatkan ke siapa pun baik temannya atau selainnya dari nama-nama jahiliyyah, karena perkara ini terlahir dari sikap seorang ustadz yang ingin mencocoki apa yang dikehendaki oleh muridnya sendiri, maka dia berteman kepada orang yang ditemaninya dan memusuhi orang yang dijadikan sebagai musuh secara membabi buta dan ini adalah harom.
Tidak boleh seseorang pun untuk menyuruh orang lain untuk berbuat demikian dan tidak boleh untuk dituruti. Sebaliknya sunnahlah yang mempersatukan mereka dan bid’ahlah yang dapat memperpecah mereka. Langkah-langkah yang diperintahkan oleh Alloh dan Rosul-Nya itulah yang dapat mempersatukan mereka dan maksiat kepada Alloh dan Rosul-Nya yang akan mempercerai-beraikan mereka. Sampai manusia bila menjadi orang yang taat atau bisa menjadi orang yang bermaksiat.
Tidak mungkin terwujud ibadah kecuali harus dipersembahkan kepada Alloh Azza wa Jalla. Tidak disebut taat sebaik-baik ketaatan kecuali taat kepada Alloh dan Rosul-Nya  , yang wajib bagi mereka adalah untuk saling menyuruh dalam kebaikan dan saling mencegah dari kejelekan. Tidak boleh mereka menyeru atau mengajak orang yang menampakkan kedholiman atau kekejian di antara mereka atau mengajak seorang anak kecil (yang belum berjenggot) untuk berdandan dan berhias yang bisa menimbulkan fitnah di kalangan manusia bahkan tidak boleh bergaul dengan orang yang mengaku-aku sebagai kerabatnya dan tidak pula anak kecil itu disayangi dengan tujuan yang jelek. Siapa yang menjalin perjanjian dengan seseorang untuk berkawan. Siapa yang dijadikan kawan dan memusuhi siapa yang dimusuhi. Maka dia termasuk sejenis Tatar. Mereka berjihad di atas jalan syaithon. Yang seperti ini bukan termasuk orang-orang yang berjihad di jalan Alloh Ta’ala dan bukan pula tergolong tentara-tentara kaum muslimin. Semisal mereka ini tidak boleh terjadi di kalangan tentara-tentara kaum muslimin. Bahkan mereka ini dari kalangan prajurit-prajurit syaithon. Akan tetapi dia (ustadz) menghiasi perkataannya kepada muridnya, dengan perkataannya: “Kamu telah bersumpah dengan nama Alloh dan berjanji untuk menolong orang yang ditolong oleh Alloh dan Rosul-Nya dan memusuhi orang yang dimusuhi oleh Alloh dan Rosul-Nya, saling bantu-membantu dalam mengerjakan kebaikan dan takwa, jangan saling bantu-membantu dalam perbuatan dosa dan pelanggaran. Apabila kebenaran terdapat pada saya, maka kamu menolong kebenaran itu. Apabila saya di atas kebatilan, maka kamu tidak boleh menolong kebatilan itu. Maka siapa yang menjalankannya untuk berbuat seperti itu, maka dia termasuk orang-orang yang berjihad di jalan Alloh Ta’ala yang mana mereka menginginkan agama itu semata-mata untuk Alloh dan menjadikan kalimat Alloh menjadi tinggi…” dan seterusnya sampai akhir perkataannya rohimahulloh ta’ala.
Dampak Perpecahan di Kalangan Thullabul Ilmi dan Ahlus Sunnah Secara Menyeluruh
Firman Alloh  :
﴿مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ * مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ﴾ [الروم/31، 32]،
“(Mereka) kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah sholat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Alloh. dari orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi berkelompok-kelompok yang masing-masing kelompok merasa bangga dengan apa yang mereka miliki” (Ar-Ruum: 31-32)
Firman Alloh  :
﴿إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ﴾ [الأنعام/159].
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah menjadi beberapa golongan) tidaklah ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Alloh. Kemudian Alloh akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.”
Imam Asy-Syathiby rohimahulloh berkata dalam kitabnya ‘Al-Muwafaqot’ (6/54): “Kebanyakan orang-orang yang sibuk dengan ilmu yang mana ilmu itu tidak menghasilkan buah yang berbobot. Fitnah akan mengelabuhi mereka yang pada akhirnya mereka keluar dari jalan yang lurus. Perselisihan akan bergelimut di antara mereka, begitu juga celah-celah yang mengakibatkan putus hubungan, permusuhan dan penanaman fanatisme golongan sampai mereka terpecah-pecah beberapa golongan. Apabila mereka melakukan apa yang demikian tersebut, mereka telah keluar dari sunnah.
Asy-Syathiby juga berkata dalam Al-I’tishom (2/231): “Untuk kalian (yaitu orang-orang yang sesat) mereka dapat diketahui dilihat dari pentolan-pentolannya dan karakter-karakter secara global ataupun secara terperinci. Adapun secara global ada tiga yaitu salah satunya perpecahan yang mana sudah diperingatkan oleh Alloh Ta’ala…” (dia menyebutkan dalil-dalilnya kemudian berkata): “Perpecahan ini merupakan asal mula yang dulunya satu golongan menjadi tergolong-golong dan terbagi-bagi.”
Dan yang termasuk dari tujuan pergolakan tasjil yang telah dijelaskan tadi itu yaitu menimbulkan dampak perpecahan, persengketaan dan saling jauh-menjauhi di antara tholabul ‘ilmi dan terjadi juga di kalangan ahlus sunnah yang lainnya. Hal ini adalah akibat ulah Abdurrohman Al-Adany dan para pengikutnya. Semua ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1)-Terjadinya pemboikotan. Saksi-saksi permasalahan ini sebagai berikut:
a. Kata Amin Masybah sebagaimana yang tertulis di suratnya yang telah dikirim ke sebagian teman-temannya, dan surat itu telah dibaca oleh Akh Sa’id bin Da’as yang isinya: “Kamu jangan ucapkan salam kepada Syaikh Yahya karena kamu akan berdosa.”
b. Kata Abu Bilal Al-Hadhromy: “Abbas Al-Jaunah berkata kepada saya bahwasanya Hasan Ba Jaba’ salah seorang dari pengikut Abdurrohman, dia datang ke sana seraya berkata: “Kamu ambil tanah yang ada di Fuyusy.” Saya jawab: “Saya tidak menginginkannya. Saya berada di Dammaj.” Lalu dia memaksa saya seraya berkata: “Kami akan membantumu dan bekerja sama denganmu.” Saya katakan pada dia: “Wahai saudaraku, metode kamu tidak menyenangkan saya.” Tiba-tiba pada hari yang kedua Abdurrohman Al-Adany menghampiri saya dengan sikap yang berubah sampai-sampai dia tidak mengajak bicara pada saya.”
c. Kata Hammud Al-Waaily: “Pada bulan Romadhon, saya bersalaman dengan Abdurrohman Al-Adany. Ketika itu dia belum diusir dari Dammaj. Pada waktu saya bersalaman, saya mendengar suara gelegak nafas dari dadanya. Lalu dia mencampakkan tanganku.”
d. Kata Akh Abdurrohman bin Da’as Al-Yafi’y -dia adalah salah satu penuntut ilmu di Dammaj- katanya: “Saya dulu masuk ke perpustakaan umum, sedangkan Fahd Al-Adany berkata ke Yasin Al-Adany: “Kamu telah membakar orang ini, wahai anak kecil,” (orang yang dimaksud itu adalah Syaikh Jamil As-Shulwi). Ucapan ini terjadi waktu pelajaran Syaikh Jamil di saat menggantikan Syaikh Yahya hafizhohulloh. Pada waktu itu Syaikh As-Sulwy berbicara dengan panjang lebar tentang persaudaraan dan menyebarkan salam, sedangkan Yasin adalah salah satu pentolan orang-orang yang pro Abdurrohman Al-Adany. Dia sebelumnya telah memboikot Syaikh Jamil.
e. Akh Kholil At-Ta’izy bertamu kepada orang-orang yang ada di ‘Adn. Dia mengadakan muhadhoroh (pertemuan) di masjid Ash-Shohabah atas permintaan imam masjid tersebut. Tiba-tiba Abdurrohman Al-Adany yang ada di sana berdiri serta mengisyaratkan kepada orang yang ada di masjid yang ada di sana untuk keluar sampai-sampai tidak ada yang tersisa kecuali sedikit dari para hadirin dan kejadian ini disaksikan para ikhwah yang hadir.
Inilah akhir ringkasan bentuk-bentuk pemboikotan mereka dan semisalnya yang berulang kali terjadi. Perkara ini sudah tersebar di kalangan thullabul ilmi dan cukuplah Alloh yang membuat perhitungan atas mereka. Mereka telah menggembor-gemborkan pemboikotan kepada siapa saja yang tidak sepakat dengan fanatisme golongan mereka dan juga kepada orang yang tidak bergabung di barisan mereka pada awal mulainya fitnah. Pada waktu itu ikhwan-ikhwan tidak bergaul dengan mereka, sedangkan Syaikh kami mengajak untuk mempererat persatuan dan menasehati untuk ditiadakan pemboikotan-pemboikotan walaupun dia adalah orang yang dulunya bersama dengan Abdurrohman sekalipun dia pro dengannya.
2)Terjadinya tindakan anarkis, penanaman perselisihan dan perpecahan di Darul Hadits Dammaj. Yang demikian ini terbukti dengan saksi-saksi sebagai berikut:
a. Pada waktu dia membuka pendaftaran (untuk pengaplingan tanah) muncul gejolak yang jelek yang dapat menghilangkan ketentraman. Kumpul-kumpul dan ngrumpi dengan tema apa yang berkaitan dengan tanah. Ini terjadi di jalan-jalan, tempat-tempat khusus untuk pertemuan mereka, di setiap selesai sholat, pada tengah-tengah pelajaran maupun di saat berakhirnya pelajaran. Kumpul-kumpul dengan Abdurrohman di saat jam pelajaran umum (pelajaran Syaikh Yahya). Pokoknya mereka tersibukkan dengan masalah tersebut. Mereka lupa bahwa mereka datang ke Dammaj untuk tholabul ‘ilmi.
b. Kata Akh Amin Al-Khorify حفظه الله ta’ala ketika dia ruju’ sekaligus menjelaskan keadaannya dahulu dan sifat fanatismenya kepada Abdurrohman bin Mar’i Al-Adany itu. Katanya: “Saya minta udzur (mengaku salah) wahai Syaikh Yahya. Saya minta maaf sebenarnya saya dulu di antara mereka adalah orang yang paling bersikeras dan mereka senang dengan saya. Mereka berkata: “Demi Alloh, Amin adalah teman yang tegar. Alloh sajalah yang diminta pertolongannya.” Rencana mereka, mereka akan meninggalkan Syaikh Yahya sampai dia membicarakan Abdurrohman. Dan saya nanti adalah orang yang pertama berdiri di halqoh majlis, lalu saya katakan: “Ittaqillah dalam membicarakan Syaikh Abdurrohman Al-Adany.” Kemudian salah satu dari mereka yang ada di sana menyusul berdiri sehingga kita jadikan keadaan ribut. Kata dia: “Apa-apaan ini!” Ini adalah bentuk sifat fanatisme golongan kepada seseorang tertentu.
c. Setelah kejadian demi kejadian, Syaikh kami mempersoalkan Abdurrohman bin Mar’i (dia adalah dalang munculnya fanatisme). Pada waktu itu Abdurrohman berdiri setelah sholat Jum’at pada pekan pertama terdapat di sampingnya beberapa pentolannya dari ‘Adn dan lainnya. Mereka mengitarinya dan bergerombol untuk melihatnya. Pada waktu itu jumlah mereka banyak sekali pada waktu dia naik mobil, mereka seperti berkolektif untuk mengiringinya seakan-akan dia adalah tokoh besar.
d. Ketika Syaikh Kami, Syaikh Yahya حفظه الله mengusir Abdurrohman bin Mar’i Al-Adany, Yasin Al-Adany -salah satu pentolan orang-orang yang pro Abdurrohman- bergegas menyampaikan kabar gembiranya. Kata Abdurrohman: “Saya akan kembali. Biar saya dengar sendiri pengusiran itu. Inilah yang dinukilkan oleh Akh Muhammad Al-‘Amudy salah satu tullabul ‘ilmi di Dammaj. Abdurrohman berusaha untuk kembali ke Dammaj tanpa memikirkan apa yang akan terjadi dari dampak-dampak yang berbahaya sampai-sampai Abdulloh bin Syahir -salah satu tangan kanan Abdurrohman Al-Adany di Dammaj yang dia itu berniat untuk telpon Abdurrohman-, katanya: “Saya akan pergi ke seseorang jika dia berkata kepada Syaikh Yahya: “Turun kamu dari kursi,” maka dia akan turun. Demikian ini telah didengar oleh Abdulloh Al-Jahdary hafidlhulloh.
Inilah ringkasan dari bukti-bukti yang kami maksudkan yaitu terjadinya kekacauan, tumbuhnya perpecahan, perselisihan akibat ulah Abdurrohman serta orang-orang yang bersamanya. Lebih-lebih lagi kalau ditambah adanya pelecehan-pelecehan dan pemukulan-pemukulan yang dilakukan oleh pihak Abdurrohman Al-Adany di Darul Hadits dan selainnya di sela-sela fitnah ini .
3)- Adu domba di antara Ahlus Sunnah.
Syaikh kami, Al-‘Allamah Yahya bin Ali Al-Hajury hafidlohulloh berkata dalam kitabnya Al-Wasaail Al-Khofiyah lid-Dhorbid-Da’wah As-Salafiyyah yang termuat dalam kitabnya dengan judul Adhroor Al-Hizbyyyah ‘alal Ummah Al-Islamiyyah (hal. 28-29), kata beliau: Dan di antara metode yang tersembunyi… adalah adu domba yang digencarkan oleh para penentang dakwah salafiyyah di jajaran para pemikul dakwah salafiyyah ,termasuk para ulama dan para da’i. Mereka menggencarkan adu domba di tengah-tengah para ulama , dan ini bukanlah perkara yang baru. Akan tetapi ini adalah perkara yang sudah lama terjadi di zaman Imam Bukhory dan syaikhnya Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhly, juga di zaman Imam Malik dan Ibnu Ishaq, juga di zaman Abbas bin Abdil ‘Adzim dengan Abdurrozzaq dan imam-imam yang lainnya. Ini adalah perwujudan jerih payah syaithon.
Imam Muslim meriwayatkan dalam As-Shohih dari hadits Jabir bin Abdillah rodhiyallohu ‘anhu bahwasanya Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«إن الشيطان أَيِسَ أن يعبده المصلون في جزيرة العرب ولكن بالتحريش »
“Sesungguhnya syaithon sudah putus asa untuk diibadahi oleh para mushollin di tanah Arab tetapi mencari cara lain) yaitu dengan cara adu domba.”
Yaitu dia menggerakkan, menancapkan dan menggencarkan adu domba di antara mereka tanpa memadamkannya, sampai-sampai mengadu atau menghasut saudara yang baru dengan saudara yang lainnya, antara bapak dan anaknya. Dia (syaithon) membangun kerajaannya di laut mengerahkan para tentaranya untuk menghasut di antara manusia… Maka belum dikatakan sukses apa yang dia kerjakan sampai ada dari tentaranya datang seraya berkata: “Senantiasa saya menghasut di antara fulan dan fulan sampai-sampai dia memisahkan istrinya.” Maka jawabnya iblis: “Sebaik-baik tentara adalah kamu!” Lalu dia diberikan kedudukan. Barangsiapa yang hidupnya untuk menghasut, maka dia termasuk dari tentara-tentara syaithon baik menghasut antara saudara dan saudara yang lain, antara istri dan suaminya atau tetangga satu dengan yang lainnya dari kalangan muslim. Semua itu adalah ulah syaithon. Nabi shollallhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«من خبّب امرأة على زوجها أو مملوكا على سيّده فليس منّا »
“Barangsiapa yang menipu seorang istri yang dia di bawah wewenang suaminya atau menipu seorang budak yang dia itu dibawah wewenang juragannya, maka dia bukan berada di jalan kami.” Perkara ini yang menjadi catatan para orang yang berakal yaitu tidak mungkin mereka membiarkan musuh-musuh dakwah salafiyah masuk dari jalan ini.
Bukti-bukti terjadinya adu domba tersebut cukup banyak, kami akan menyebutkannya:
a. Abdurrohman mengaku merasa terdlolimi ketika di depan para masyaikh dan seakan-akan dia menerima nasehat para masyaikh, sampai-sampai menyebabkan para masyaikh mengeluarkan penjelasan pernyataan. Kemudian pernyataan itu dia pegang bersama pengikutnya untuk memperkuat fitnah dan untuk mengadu perkataan masyaikh dengan perkataan Syaikh Yahya. Hal ini dapat menciptakan perpecahan, perselisihan dan ketegangan di antara ahlus sunnah. Sedangkan dia dan orang-orang yang pro dengannya tidak menjalani nasehat para masyaikh agar meninggalkan sifat fanatisme golongan, berkelompok, perbedaan dan agar menjaga persaudaraan dan lain-lainnya.
Dan penjelasannya sebagai berikut:
1. Para masyaikh melakukan ijtima’ di Darul Hadits Dammaj pada awal fitnah tanggal 14-7-1428H sebelum diusirnya Abdurrohman Al-Adany. Dalam ijtima’ tersebut mereka menyimpulkan dengan dihentikannya pendaftaran. Abdurrohman Al-Adany disuruh untuk mengakui kesalahan apa yang terjadi akibat pendataan yang menimbulkan kekacauan, keributan, perpecahan dan sebagainya. Sedangkan Abdurrohman tidak menjalankan apa yang diputuskan oleh masyaikh dan setelah ijtima’ berlangsung dia terus mengadakan pendataan sampai sekarang. Kata Abu Ubaidah Kholid dan Muhammad Asy-Syar’aby ro’ahulloh: “Menantu saya yang bernama Abdul Hafidz Ad-Dubbaiy mengabari saya kalau dia itu telah menelpon Abdurrohman Al-Adany sekitar satu tahun yang lalu. Dia tanya Abdurrohman, katanya: “Mereka mengkritik kamu karena kamu mengadakan pendaftaran di Dammaj.” Jawabannya dia: “Aku tidak bisa memberhentikan pendaftaran ini.”
Kata Abu Abdillah Aidarus bin Nashir Ar-Ridfany di dalam surat edarannya yang berjudul ‘Bidayatul Inhirof,’ katanya: “Para ulama telah mengadakan ijtima’ di Dammaj pada tanggal 13 Jumadal Akhir 1427H, mereka berkata: “Dengan dihentikannya tasjil (pendaftaran atau pendataan) di markaz Fuyusy. Apakah dengan fatwa para ulama tersebut Abdulloh bin Salim sebagai pengurus di Ridfan bisa menjalankan fatwa tersebut atau tidak? Dan apakah dia akan mengembalikan uang yang telah dibayarkan untuk pemiliknya di Ridfan kepada pemiliknya atau tidak?”
Bendahara kami Abdulloh, tetapi dia mewakilkan pendataan kepada saudaranya yang bernama Mu’adz. Pendaftaran kami berlangsung pada bulan Jumada, sedangkan dipegang oleh Mu’adz. Pada akhir bulan Sya’ban Mu’adz menginginkan uang tersebut untuk diserahkan ke Al-Haddi sebagai penanggung jawab petak tanah. Saya menasehati Mu’adz bahwa tindakan ini menyelisihi fatwa ulama, sedangkan dia tidak meresponi nasehat saya karena dia cuma menjalankan tugas saja. Maka saya katakan kepada dia: “Apakah kamu punya fatwa para ulama dalam hal ini?” Dia menjawab: “Tidak ada.” Saya katakan kepada dia: “Apa yang dikatakan Abdurrohman adany?” Dia menjawab: “Saya telah telpon Syaikh Abdurrohman adany, kata dia: “Beritanya ada pada Abdulloh bin Salim.” Tapi Abdulloh bin Salim berkata: “Beritanya ada pada Muhammad bin Abdul Qowi.” Sungguh menakjubkan, pelemparan dari fulan ke fulan. Tapi kamu jangan terburu-buru dulu karena kamu sebentar lagi akan mengetahuinya. Kemudian saya telepon Abdurro’uf Ar-Ridfani, setelah perbincangan tersebut dia berkata: “Keterangan-keterangan para ulama ada pada Muhammad bin Abdul Qowi dan saya tidak mengetahui siapa Muhammad itu, akan tetapi ketika saya melihat lemparan yang ditujukan ke dia dan dia mempunyai keterangan-keterangan para ulama, langsung saja saya ambil nomor telponnya, lalu saya telpon dia, akan tetapi saya tidak mendapatkannya. Setelah itu saya menelpon Syaikh Al-Imam, saya katakan pada dia: “Wahai Syaikh, kami telah mendaftar setelah dua bulan yang lalu. Tetapi uang yang tersisa sampai sekarang pada Abdulloh, sedangkan tanah kami dialokasi. Apakah kami harus membayarkan uangnya?” Berkata Syaikh: “Kami telah melakukan ijtima’ di Dammaj dan Abdurrohman mengabarkan kepada kami bahwasanya tasjil (pendaftaran) akan terhenti dan uang yang dikasih ada di tangan ikhwan akan kembali ke pemiliknya, maka kalian jangan bayarkan dan kembalikan kepada ikhwan-lkhwan. Kemudian saya sudah mengabarkan permasalahan ini kepada wakil penanggung jawab kami dan Abdurro’uf. Tetapi mereka tetap pada asalnya dan tidak menggubrisnya. Setelah itu saya telah telpon ke Muhammad bin Abdul Qowi Al-Qoirohy yang ada di Ma’bar. Telah berlalu kalau dia mengetahui keterangan-keterangan para ulama. Lalu dia berkata: “Kalian ambil uangnya untuk Al-Haddi dan kalian adakan ijtima’ secara diam-diam, sedangkan kami sudah melakukan ijtima’ di Ma’bar secara diam-diam. Kami telah menelpon ikhwan yang ada di Yafi’, kami katakan kepada mereka: “Ijtima’lah kalian secara diam-diam.” Dan kalian juga ijtima’lah secara diam-diam.” Dia mempersoalkan Syaikh Yahya, katanya: “Al-Hajury bertolak belakang dengan markaz, sedangkan markaz akan didirikan.” Beberapa selang kemudian saya ditelpon oleh Abdurro’uf, dia mengabari kalau dia sudah menelpon Syaikh Al-Imam dan Syaikh Al-Buro’iy. Keduanya berkata: “Kalian jangan beli dan kembalikan uangnya kepada ikhwan-ikhwan.” Tapi mereka tidak menggubris dan tetap untuk menyelisinya. Hal ini dikarenakan Abdurro’uf maftun (terfitnah) sedangkan Mu’adz cuma mengerjakan saja, yang mana Abdulloh yang memerintahkan. Dan dia adalah provokator fitnah di Ridfan. Inilah kisah yang terjadi. Jika permasalahannya saja sudah menyelisihi para ulama dengan cara sembunyi-sembunyi, menyelisihi kebenaran disertai penipuan, bagaimana akhirnya nanti…?”
Demikian juga Abdurroman tidak memenuhi apa yang telah ditetapkan oleh para ulama, yaitu untuk minta maaf dari apa yang terjadi dan Syaikh Yahya -hafizhohulloh- berulang kali meminta ke dia setelah perginya para masyaikh, akan tetapi tidak memenuhinya tanpa ada peduli terhadap nasehat para masyaikh, tanpa melihat akibat-akibat yang akan terjadi, sebagaimana apa yang akan datang penjelasannya yang menunjukkan kalau dia tidak mempedulikan nasehat para masyaikh.
Nashir Az-Zaidy Al-Adany -salah satu orang dekatnya sekaligus yang pro Al-Adany- dia berkata kepada Akh Abdurrohman Da’as Al-Yafi’y: “Sesungguhnya fatwa masyaikh dengan dihentikannya pendataan tidak lain hanyalah menutup jalan kebaikan.”
Perkara menjadi gawat, semakin bertambah sifat fanatisme, celaannya dan usaha-usaha untuk menghimpun dan memunculkan kejelekan. Perkara inilah yang mendorong Syaikh Yahya -hafizhohulloh- untuk selalu berbicara tentang apa yang diakibatkan oleh Abdurrohman bin Mar’i Al-Adany. Sedangkan Abdurrohman Al-Adany ketika di hadapan para masyaikh merasa terzholimi dan menampakkan bahwa dia menerima nasehat para masyaikh. Salah satu dari nasehat Syaikh Yahya -hafizhohulloh- adalah meninggalkan pemboikotan dan mendorong untuk bersaudara dan sifat kekerabatan.
2.- Perkara ini mengakibatkan terjadinya ijtima’ masyaikh yang kedua kalinya yang berlangsung di markaz Ma’bar tanggal 12-4-1428 hijriyah dan dari hasil penjelasan ijtima’ mereka yang berkaitan dengan Abdurrohman (adalah bahwasanya dia bersama masyaikh ahlus sunnah dakwahnya adalah dakwah mereka, apa saja yang dilihat oleh ahlus sunnah, maka perkataan dia termasuk perkataan mereka dan perkataan yang keluar dari Syaikh Yahya bukanlah penyebab terjadinya perpecahan di tengah dakwah salafiyah)… Dan Abdurrohman disyukuri oleh masyaikh karena dia menuruti para masyaikh ahlus sunnah dan telah melanggengkan dakwah… dan juga para masyaikh bersyukur kepada Syaikh Yahya yang telah memberikan pelayanannya dalam dakwah dan pembelaannya terhadap dakwah salafiyah karena dilihat dari perkataan yang keluar darinya bukanlah pembelaan karena hasad atau dendam atau untuk menjatuhkan seseorang dari ahlus sunnah. Hanyalah dia membela dikarenakan kecemburuannya terhadap sunnah dan ahlus sunnah.
Abdurrohman Al-Adany termasuk orang-orang yang menandatangani pernyataan tersebut. Setelah itu dia menulis selebaran tercatat pada tanggal 12-4-1428H yang intinya: “Saya berlepas diri dari sifat fanatisme golongan dan dari penyebab terjadinya terkocar-kacirnya barisan dan dari tercerai-berainya persatuan baik fanatisme ini dari pihak saya atau dari pihak yang lain.
Akan tetapi yang disayangkan, semua yang ditanda tangani oleh Abdurrohman Al-Adany dalam pernyataan di hadapan masyaikh dan dia sendiri yang menulis di lembarannya, semua itu semata-mata hanyalah tinta yang tertulis di atas kertas belaka ,pada kenyataan dia menyelisinya, baru saja dia kembali dari ijtima’ masyayikh , langsung saja dia kembali ke gerombolan orang-orang yang mencela Syaikh Yahya dan mencela Darul Hadits.
Mereka bertindak untuk menimbulkan perpecahan, sifat fanatisme golongan, mencabik-cabik persatuan, mengobrak-abrik barisan untuk kepentingannya tanpa ada nasehat dari Abdurrohman untuk mereka, dan tidak pula meninggalkan fitnah, bahkan dia memuji dan menyanjung mereka, berhubungan dengan mereka dan mengalihkan permasalan kepada mereka. Sebagaimana akan datang nama-nama orang tersebut dan isyarat yang menunjukkan tindakan-tindakan dan kata-kata mereka seperti Abul Khotthob dan selainnya.
Bahkan komplotan Abdurrohman mencoba mengambil kesempatan menjadikan keterangan tersebut untuk menjelek-jelekkan, memboikot dan lari menjauh dari Syaikh kami, Syaikh Yahya serta mereka membuat perpecahan, menyempitkan sikap wala’ dan baro’ pada mereka dan lain-lainnya tanpa adanya sanggahan dan teguran yang terdengar dari Abdurrohman, malah mereka dijadikan pendamping-pendamping utamanya sekaligus jadi orang-orang dekatnya di waktu dia bepergian atau di waktu dia mukim.
Dan pada waktu yang sama Syaikh Yahya حفظه الله senantiasa berwasiat supaya meninggalkan pemboikotan, mendorong untuk mempererat rasa persaudaraan juga tidak luput untuk menjelaskan terjadinya fitnah ini secara terus-menerus yang buah fitnah ini sungguh jelek akibatnya.
3.- Kemudian para masyaikh mengadakan ijtima’ dengan Abdurrohman yang ketiga kalinya di Hudaidah pada tanggal 5-1-1429H. Mereka menyebutkan kesimpulan pada saat mereka manasik haji. Mereka bertemu Syaikh Robi’ pada tahun 1428 di antara kesimpulannya yaitu: Sesungguhnya Syaikh Abdurrohman berlepas diri dari orang-orang yang membicarakan kejelekan Syaikh Yahya dan ma`had Dammaj. Siapa yang membicarakannya, maka sesungguhnya dia menggambarkan wataknya sendiri bukan menggambarkan watak Abdurrohman.
Telah keluar pernyataan yang menerangkan penjelasan ini dari Abdurrohman kalau dia telah menjalankan apa yang dimintanya. Berdasarkan penjelasan yang telah lampau, siapa yang mengobarkan kerisauan dengan alasan membela Abdurrohman, maka dia adalah kontra Dammaj dan kontra Syaikh Yahya. Dia sendiri akan terbongkar kalau dia bersikap jelek terhadap Abdurrohman karena Abdurrohman sudah berlepas diri dan tidak rela dengan tindakannya sehingga pembelaannya itu bisa memudhorotkan dirinya sendiri.
Setelah penandatanganan pernyataan tersebut Abdurrohman melampirkan satu lembaran yang isinya: “Saya berlepas diri kepada Alloh dari dampak negatif dan pencelaan terhadap markaz Dammaj dan Syaikh Yahya Al-Hajury. Barangsiapa yang melakukannya itu sesungguhnya dialah yang menggambarkan wataknya sendiri bukan menggambarkan watak saya.”
Demikianlah Abdurrohman selalu menyetujui ketentuan para masyaikh dan mengabulkan permintaan mereka dihadapan mereka , tetapi pada kenyataannya dia menyelisihinya baik sepontanitas atau dibelakang hari.
Di samping itu masih saja orang-orang yang dijadikan teman-teman di dalam ijtima’ tersebut seperti Abdurrouf bin Abbad, Ali Al-Hudzaify, Abdul Ghofur Al-Lahjy, Abdurrohman Baadih dan Hisyam As-Sayid, mereka ini adalah para pentolan fitnah ini dan di sana juga bertemu Yasin Al-Adany salah satu dalang dalam fitnah ini dan juga bertemu dengan yang lainnya.
Ketika dia pulang dari ijtima` , kembali dia bermujalasah dengan orang yang dia anggap kalau dirinya sudah berlepas diri dari mereka dalam bayannya , di samping itu adanya pujian dia terhadap mereka, bergabung dengan mereka dalam muhadhoroh-muhadhoroh yang mereka selenggarakan , misalnya dia masih bekerja sama dengan Nashir Az-Zaidi Al-Adany, Ali Al-Hudzaify Al-Adany dan Abdul Ghofur hubungan dengan mereka masih berlanjut, padahal mereka adalah orang-orang loyalnya , yang selalu berusaha keras mengobarkan gejolak api fitnah.
Dan kebanyakan mereka itu memiliki tanah yang ada di bawah tangannya yaitu di markaznya , sehingga kenyataannya tidak berbekas sedikitpun apa yang sudah diputuskan dalam pernyataan itu (pernyataan dihadapan masyayikh), semata-mata cuma tinta di atas kertas atau semata-mata cuma tipu mushlihat saja.
Maka dari sini pernyataan itu tidaklah memberikan manfaat kepada orang-orang yang pro Abdurrohman kecuali semakin memperparah pertikaian, sifat fanatisme golongan dan celaan pada Syaikh Yahya dan markaz Dammaj dan bertambahnya pemboikotan kepada orang-orang yang menyelisihinya , di samping itu tidak ada pengingkaran dari Abdurrohman. Dia tidak pula mengambil sikap tegas terhadap pengikutnya seperti apa yang dia janjikan.
Dari sini diketahui apa yang Abdurrohman Al-Adany perlihatkan seperti persetujuannya dan pelepasan dirinya. Semua itu maksudnya untuk memperluas api fitnah dan supaya dapat menggeret para masyaikh masuk ke barisannya. Dia menjadikan para masyaikh sebagai antisipasi untuk menolak apa yang sudah ditetapkan oleh Syaikh Yahya حفظه الله berupa bukti-bukti terjadinya fitnah ini. Serta dia menjadikan mereka (para ulama) sebagai penguat untuk ikut serta dalam pertikaian, perbedaan dan dalam kekacauan, seperti yang sudah kami paparkan penyelisihan Abdurrohman ketika dia menandatangani pernyataan para masyaikh dan sekaligus berjanji.
Padahal sudah dimaklumi, bahwa yang dimaksud dengan baro’ah (berlepas diri) bisa terwujud dengan perkataan dan perbuatan, tidak cukup dengan pengakuan saja. Tidak mungkin malam itu sama dengan siang. Maka ini bisa mengingatkan kita tindak lanjut Abul Hasan Al-Mishry saat dia bersama-sama para masyaikh di Madinah, dia memperkuat dan memperalat masyaikh. Kemudian dia meninggalkan mereka bergabung dengan ahlul bida’ sebagaimana apa yang dikatakan oleh Al-‘Allamah Syaikh An-Najmy rohimahulloh di dalam Al-Fatwa Al-Jaliyyah (2/221).
Berkata Akh Kholid As-Syar’aby setelah pernyataan yang isinya Abdurrohman telah berlepas diri dengan orang-orang yang mencela Syaikh dan markaznya. Kata Kholid: “Menantuku Abdul Hafidz Ad-Duba’iy datang ke sana di Dammaj untuk berziarah.” Dia berkata: “Dia itu sudah berlepas diri, tinggal apa lagi?!” Terjadilah dialog antara saya dan dia sampai-sampai dia mengatakan kalau dia itu telah telpon Abdurrohman, menanyakan masalah ini dan Abdurrohman mengatakan: “Saya melakukannya (tanda tangan tersebut) hanyalah sekedar untuk menenangkan suasana saja (bukan karena ada niat ishlah) .”(1)
b. Abdurrohman bin Mar’i dan Abdulloh bin Mar’i berusaha untuk mengadu domba antara Syaikh Yahya dengan Syaikh yang lainnya.
1.- Di saat ijtima’, Abdurrohman bin Mar’i beserta saudaranya dan para pentolan fitnah dari kroco-kroconya, mereka merasa belum bisa memperoleh hasil yang memadai dari masyaikh Yaman. Di saat pertemuan dan ijtima’ masyaikh Yaman, mereka belum bisa merekrut masyaikh untuk dimasukkan ke barisannya kecuali apa yang terjadi pada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Wushoby waffaqohulloh tergambar kalau dia membela Abdurrohman Al-Adany yang ini menyebabkan semakin parahnya perpecahan, perbedaan di antara Syaikh Yahya dan Syaikh Al-Wushoby waffaqohulloh dan menyebabkan semakin luasnya gejolak api perpecahan, akan tetapi belum juga memenuhi maksud Abdurrohman.
Maka dia tidak berhenti sampai di sini, Abdurrohman Al-‘Adny dengan saudaranya pergi ke masyaikh di Saudi, alangkah samanya malam kemaren dengan malam ini, persis sekali dengan perbuatan hizby Abul Hasan. Ketika kamu melihat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak bisa memberikan faedah jika berbenturan dengan Syaikh Yahya. Mereka memandang Syaikh Al-Wushoby kalau setiap dia membicarakan Syaikh Yahya dia akan berada dalam posisi yang sempit dan mendapatkan kecaman. Terus apa yang mereka lakukan?
Mereka merubah trik baru yaitu mereka berangkat pergi ke Tanah Hijaz dan Nejed sampai bertemu dengan orang yang namanya Hani bin Buraik beserta cs-nya. Mereka telah mempersiapan suasana cerah dan menghidangkan dengan keselarasan suasana. Dan juga mereka mengompori sebagian hati orang-orang di Madinah supaya mereka marah kepada Syaikh Yahya hafidlohulloh yang salah satu di antara orang-orang tersebut adalah Syaikh Ubaid Al-Jabiry hadahulloh. Tidaklah mereka mendatanginya kecuali dia memenuhi keinginan mereka.
Ini membuktikan kalau mereka sudah menjadikan Syaikh Ubaid panas sampai-sampai dia mempersoalkan Syaikh Yahya.(1) Di samping itu apabila Thullabul ilmi dari Dammaj datang padanya, dia tidak menerimanya atau mereka tidak mendapatkan pelayanan yang baik. Ketika Abdurrohman dan saudaranya pergi ke sana dengan alasan berobat, mereka pergi ke dia (Syaikh Ubaid) sambil menyempurnakan apa yang tersisa dari niat busuknya berupa penghasutan dan perpecahan.
Tak disadari oleh Syaikh Yahya, tiba-tiba ia mendapat serangan bertubi-tubi dari Syaikh Ubaid , berupa kata-kata yang pedas dengan alasan ucapan negatif Syikh Yahya حفظه الله tentang Jami’ah Islamiyyah yang tentunya sudah diketahui kondisinya di kalangan ahlus sunnah.
2.- Di antara penguat-penguat dan bukti-bukti yang kami sebutkan diatas adalah Abdurrohman Al-Adany beserta pentolan fitnah ini, mereka menjadikan permasalahan Jami’ah Islamiyyah sebagai tangga untuk mengubah serangan (pukulan) terhadap dakwah salafiyah , tepatnya di tengah-tengah poros dakwah salafiyyah. Mereka membangkitkan masyaikh di Saudi untuk membentur Syaikh Yahya dengan tujuan supaya keluar dari mereka kata-kata yang memojokkan Syaikh Yahya , sebagaimana apa yang terjadi pada sebagian masayikh Yaman.
Padahal Abdurrohman sendiri memandang apa yang ada di Jami’ah Islamiyyah seperti apa yang dipandang oleh Syaikh kami, bahkan dia lebih keras. Misalnya dahulu dia tidak menasehatkan orang untuk mendaftar di Jami’ah Islamiyyah sebagaimana yang terdapat dalam kasetnya dan dalam internet. Nah, sekarang apakah permasalahan Jami’ah Islamiyyah yang tidak asing lagi menjadi bahan dan sebab untuk mencela dakwah salafiyah tepatnya di tengah-tengah poros dakwah yang jernih atau menjadi sebab terjadinya perpecahan, perbedaan, benturan dan retaknya ukhuwah di antara ahlus sunnah ???
Maka berdasarkan apakah yang dapat menyebabkan celaan tersebut? Bukanlah ini yang menunjukkan bahwasanya penyertaan masalah Jami’ah Islamiyyah dalam fitnah ini bertujuan untuk adu domba dan terjadinya benturan seperti yang sudah diperingatkan oleh sebagian orang-orang yang berakal bersih seperti Syaikh Al-Fadhil Muhammad bin Romzan sebagaimana dinukil oleh Syaikh Hasan bin Qosim Ar-Raimy di surat edarannya, katanya: “Syaikh Yahya Al-Hajurylah yang berpendapat benar dalam dialognya dengan Syaikh Ubaid dan semoga Alloh memberikan taufiq kepada mereka semuanya. Dan untuk semuanya agar tidak memuji secara mutlak (tanpa batas) dan menjelekkan secara mutlak. Hanyalah perkara ini dari sisi tertentu. Kalau tidak begitu, memungkinkan terjadinya pembengkakan dan pengusutan, sedangkan di dalamnya terdapat yang bagus dan yang jelek. Dan juga perkara ini bukanlah lagi rahasia di kalangan orang-orang. Dan saya mengharapkan juga jangan sampai permasalahan ini menjadi perkara atau permulaan fitnah yang celah-celahnya bisa diambil kesempatan oleh orang yang menginginkan bergolaknya api di antara ahlus sunnah.
Dan yang menjadi penguat perkara tersebut: bahwasanya Syaikh Yahya mengarahkan tuduhan adu domba kepada Abdurrohman Al-Adany sekaligus kepada kroco-kroconya yang termuat di dalam bantahannya kepada Syaikh Ubaid. Kata beliau: “Saya peringatkan kepada Syaikh Ubaid untuk tidak langsung membenarkan apa yang dinukil oleh sebagian orang-orang yang terfitnah, yang mereka itu sekarang menyimpan rasa dendam kepada kami disebabkan kami telah membeberkan apa-apa yang berkaitan dengan fitnah dalam dakwah salafiyah di Yaman , seperti Abdurrohman Al-Adany, saudaranya sendiri yaitu Abdulloh bin Mar’i, Hani Buraik, Arofat dan yang semisal mereka. Kami telah tahu mereka bersungguh-sungguh dan berusaha untuk memfitnah di antara saya dan ikhwan-ikhwan saya dari kalangan ahlus sunnah. Kami meminta kepada Alloh supaya Dia menyelamatkan kami dan Anda dari tindakan buruk yang timbul dari teman-teman yang jelek.”
Namun sangat disayangkan ternyata Syaikh Ubaid menerima serta membenarkan nukilan mereka bahkan dia mensifati mereka kalau mereka adalah orang- orang khususnya . Dan dia tidak merespon apa yang diberitahukan oleh Syaikh Yahya yaitu yang berkaitan dengan adu domba juga dia tidak mengingkari Abdurrohman dan kroco-kroconya.
3- Dan yang menjadi penguat pula, dampak negatif seperti peristiwa-peristiwa lainnya yang diakibatkan oleh perusuh-perusuh dakwah salafiyah dari kelompok Abul Hasan dan Sholeh Bakry seperti masalah: bahwasanya ahlus sunnah adalah golongan yang paling dekat dengan kebenaran. Ini sudah dijabarkan dan dijelaskan oleh syaikh Yahya حفظه الله pada waktu itu.
4- Dan yang menjadi penguat pula bahwasanya Abdurrohman Al-Adany setelah berlangsungnya ijtima’ masyaikh, dia mengeluarkan surat edaran yang isinya ungkapan yang tersimpan di hatinya selama menjadi tholabul ilmi. Ini membuktikan kalau kesepakatannya dengan masyaikh belum bisa membuahkan kebaikan. Maksud dia yang demikian itu hanyalah untuk menggabungkan masyaikh ke barisannya. Inilah nash perkataannya yang termuat di surat edarannya: “Dengan rasa senang saya akan memperingatkan kepada semuanya yaitu yang berkaitan dengan kebiasaan atau tabiat Yahya Al-Hajury yang telah diketahui kalau dia berani-beraninya mengingkari apa yang terjadi padanya , walaupun ini sudah diketahui oleh sebagian tholabul ilmi bahkan para masyaikh pun sudah tahu. Tidak ada kaset atau tulisannya serta semuanya belum lupa pengingkarannya tentang apa yang dinukilkan masyaikh hafidlohumulloh ta’ala di saat ijtima’ di Hudaidah yang isinya menerangkan sikapnya terhadap kesepakatan yang terjadi di Makkah tepatnya di tempat atau di hadapan Syaikh Al-Allamah Robi’ bin Hadi Al-Madkholi hafidlohulloh ta’ala. Dalam pengingkarannya salah satu dari dua kemungkinan: yang pertama, bisa jadi dia pendusta atau penipu apabila dia dengan terang-terangan menampakkan sikapnya di hadapan mereka, maka di saat dia seorang pendusta ketika dia mengingkarinya. Kedua, apabila dia tidak terang-terangan, maka dia seorang penipu karena dia keliru dalam menghadirkan sikap padahal kenyataannya bukan seperti itu. Memang sungguh banyak bohong, makar dan penipuan yang terdapat pada diri Al-Hajury meskipun dia menampakkan kebaikan, takwa dan senantiasa untuk jujur dan amanah. Dari sini saya menulis persaksian kalau saya mengetahui bahwa Alloh akan menanyai saya nanti pada hari kiamat. Alloh berfirman:
﴿سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْأَلُونَ﴾
“Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban.”
Saya katakan: saya bersumpah demi Alloh Al-Adzim bahwasanya dari awal saya menuntut ilmu sampai sekarang, saya tidak mengetahui seorang pun dari kalangan ahlul ilmi dan kebaikan yang paling jahat, pendendam dalam pertikaian dan yang paling pembohong, penipu dan makar dari Yahya bin Ali Al-Hajury meskipun dia menampakkan dirinya sebagai seorang yang paling keras untuk berhati-hati dari hal-hal tersebut. Akan tetapi Alloh tidak mau kecuali akan mengungkap kejelekan para pemegang kebatilan. Sungguh benar Alloh ketika berfirman:
﴿وَاللَّهُ مُخْرِجٌ مَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ﴾
“Dan Alloh hendak menyingkap apa yang selama ini kamu sembunyikan.”
Alangkah bagusnya perkataan seseorang: “Selama seseorang mempunyai tabiat…walaupun dia sembunyikan sampai tidak terlihat oleh manusia, pasti tabiat tersebut akan terbongkar.”(1)
Kami tidak mendapatkan perkataan mereka yang menyatakan berlepas diri dari tuduhan bahkan Syaikh Ubaid Al-Jabiri memperkokoh dengan memberikan kepercayaan penuh serta pujian kepada mereka tanpa ada pengingkaran.
5. Dan di antara usaha untuk mengadu domba adalah seringnya mereka menelpon sebagian masyaikh dan menyodorkan kepada mereka pertanyaan-pertanyaan yang bisa memanasi gejolak fitnah, misalnya mereka menelpon Syaikh Ubaid waffaqohulloh yang tindakan itu dapat mengakibatkan terjadinya cercaan dan celaan. Inilah yang dicari-cari oleh orang-orang yang pro Abdurrohman.
6. Dan yang termasuk hal itu pula yaitu mereka sengaja mengundang sebagian masyaikh untuk mengobarkan api fitnah seperti mengundang Syaikh Ubaid waffaqohulloh.
7. Dan yang termasuk hal itu pula yaitu apa yang dikatakan oleh Akh Al-Fadhil Abdul Hakim Ar-Roimy, kata dia: “Pertama-tama saya katakan, saya telah ditelpon oleh Akh Adil bin Manshur yang bermukim di Saudi dan dia termasuk orang-orang yang dipuji Syaikh Robi’ bin Hadi Al-Madkholi حفظه الله dan yang selainnya dari masyaikh Yaman dan Saudi hafidlohumullohul jami’. Dia mengabari saya kalau Syaikh Robi’ itu mengabarkan bahwasanya Abul Khotthob menelponnya. Ketika Syaikh Robi’ tahu kalau omongannya terdapat cercaan terhadap Syaikh Yahya Al-Hajury hafidlohulloh ta’ala, Syaikh Robi’ langsung menghardiknya dengan keras. Lalu Syaikh Robi’ berkata: “Sampaikan kepada Syaikh Yahya untuk mengusir orang itu (Abul Khotthob).” Lalu dia dikabari, katanya: “Sepertinya Syaikh Yahya merasa khawatir kalau dia di negaranya akan tersakiti(dari sisi pemerintah).” Syaikh Robi’ melanjutkan ucapannya: “Biarkan Dia disakiti di negaranya asalkan tidak mengganggu dakwah salafiyah di Yaman, membuat fitnah, kerisauan dalam dakwah salafiyyah di Yaman.”
Kata Akh Adil bin Manshur حفظه الله : ” Siapa yang ingin mengecek (kebenaran) perkataan ini lebih lanjut, maka telpon saja sendiri ke Syaikh Robi’ Al-Madkholi hafidlohulloh.
8. Dan yang termasuk pula apa yang dikatakan oleh Amin Al-Khorifi mengenai fakta-fakta setelah dia meninggalkan Abdurrohman bin Mar’i Al-Adany, katanya: “Dan juga mereka dulu menggolongkan saya sebagai orang-orang yang membuat kerisauan dan kegoncangan di markaz Dammaj. Kemudian ketika kami sampai, mereka berkata: “Kita akan pergi ke Syaikh Al-Imam, saya dan Akh Unais serta ikhwan-ikhwan lainnya.” Sebagian besar mereka sudah taubat… Sesuai dengan permintaan, kami akan pergi ke Syaikh Muhammad Al-Imam, kemudian kami singgah ke Syaikh Fulan. Ketika di hadapan masyaikh, kami merasa terdholimi dengan mengatakan: “Syaikh Yahya itu orang yang kasar, keras kepala!!”
9. Dan yang termasuk hal itu pula apa yang dibikin Abul Khotthob Thoriq Az-Zintany Al-Liby – dia adalah salah satu pentolan sekaligus dalang dalam fitnah ini di Dammaj- di saat dia berulang kali menelpon sebagian masyaikh di tanah Hijaz dalam rangka mengharapkan tanggapan dari masyaikh untuk memperkuat gejolak api fitnah. Tetapi dalam kenyataannya dia kembali dengan membawa penderitaan di samping itu rencana busuknya menimpa dirinya sendiri.
Syaikhuna Al-Allamah Yahya bin Ali Al-Hajury di saat jam pelajarannya, dia berkata: “Sebagian da’i dari Saudi menelpon saya sekaligus mereka mengabarkan kalau yang namanya Abul Khotthob hadahulloh itu menelusuri metode hizbyyyin yang dulu seperti pengikutnya Abul Hasan. Caranya mereka menelpon para masyaikh untuk mengadu domba dan berusaha mengfitnah! Saya telah ditelpon oleh sebagian masyaikh dan sebagian mereka telah menasehatinya, maka dari sini saya nyatakan bahwa Abul Khotthob diusir dari markaz Dammaj. Semoga Alloh tidak membalas kebaikannya dan tidak mendapatkan orang yang berniat untuk membuat fitnah. Siapa yang menampakkan kejelekannya dalam keadaan seperti ini, maka hendaknya dia untuk tawakkal kepada Alloh (maksudnya adalah untuk pergi dari Dammaj). Ini adalah hizbyyyah dengan mengambil cara-cara pengikutnya Abul Hasan sedikit demi sedikit. Demi Alloh, orang yang mencermati kebenaran tidak akan merasa ragu-ragu tentang kehizbyyahannya.
10. Dan yang termasuk hal itu pula apa yang dikatakan oleh Abdul Hakim Ar-Roimy, katanya: “Saya dikabari oleh `Adil bin Manshur, kalau yang nama Abul Khotthob Al-Liby menelpon Syaikh Abdulloh Al-Bukhory. Dia menanyakan beberapa soal yang isinya terdapat cercaan yang ditujukan kepada Syaikh Yahya. Kemudian setelah Syaikh Al-Bukhory menjawab soal-soal tersebut, lalu dia berkata: “Apakah kamu sudah bertanya ke selain saya?” Jawabannya (Abul Kahotthob): “Ya, saya telah bertanya Syaikh Robi’.” Dia berkata: “Apa kata beliau?” Kata Abul Khotthob: “Beliau menasehati saya untuk tholabul ilmi.” Lalu dia (Syaikh Al-Bukhory) melanjutkan perkataannya: “Oh, begitu. Jadi jawaban saya tadi saya cabut, saya berkata seperti perkataan Syaikh Robi’.” Inilah yang dinukil Akh Adil bin Manshur dari Syaikh Al-Bukhory secara langsung.
11. Dan yang termasuk hal itu pula, kalau yang namanya Yasin Al-Adany berkata kepada Abdurrohman bin Da’as Al-Yafi’y ro’ahulloh. Kejadian ini ketika Syaikh Yahya meminta keterangan orang-orang yang dari Yafi’ yang berkaitan dengan pembelian tanah. Dan siapa yang tidak meninggalkannya (masalah tanah ini) akan diusir dari markaz Dammaj. Katanya: “Kokohlah kalian, wahai orang-orang Yafi’. Kalian adalah orang-orang yang terkenal dalam bahu-membahu.”
12. Dan di antara uslub-uslubnya, adalah memperbanyak para masyaikh, ulama dan da’i dengan mengumumkan muhadhoroh secara serentak melalui via telpon sebagaimana mereka menghubungi pada tahun 1428 yang lalu dengan Syaikh An-Najmy رحمه الله dan Syaikh Robi’ Al-Madkholy حفظه الله dan pada tahun 1429 menghubungi Syaikh Al-Ghodayan, Syaikh Zaid bin Hadi Al-Madkholy, Syaikh Sulaiman Abu Khoil dan Syaikh Abdulloh Al-Bukhory.
Dan mereka mengaku telah menghubungi Syaikh Al-Fauzan, Syaikh Robi’, Syaikh Muhammad bin Hadi Al-Madkholi, Syaikh Muhammad bin Abdulloh Al-Imam, Syaikh Al-Buro’iy حفظهم الله جميعا dan mereka berhalangan untuk ikut serta dalam hal itu sebagaimana dinukil dari balai pertemuan Darul Hadits Syihr. Dan Akh Muhammad As-Suary ro’ahulloh mengabarkan kepada kami bahwa orang-orang Abdurrohman Al-Adany mengumumkan muhadhoroh Syaikh Robi’ حفظه الله pada hari ketiga bulan Syawwal 1429 di masjid As-Sunnah di Shona`a , yang mana mereka mengirim bis ke masjid Al-Khoir Shona’a. Beberapa pemuda berdiri menyebarkan dan mengulang-ulangi muhadhoroh Syaikh Robi’i Akh Jabry Al-Mahiki berkata: “Saya keluar dan beberapa orang, maka tiba-tiba ada bis telah mereka siapkan untuk mengangkut siapa yang mau pergi, maka kamipun ikut pergi.
Namun tatkala kami masuk, kami dapatkan di masjid sekitar 15 orang saja . Kamipunn duduk sembari mendengar ceramah , akan tetapi muhadhoroh itu bukan muhadhoroh Syaikh Robi’, maka kamipun langsung keluar.
Dan dengan cara ini orang-orang yang dendam terhadap Darul Hadits , mampu mengeluarkan banyak fatwa yang bertujuan untuk pencelaan dari Darul Salafiyyah dan Ilmu Daril Hadits Dammaj di antara lagi adalah sebagai berikut:
 Meningkatkan tahdzir dan celaan mereka kepada Syaikh Yahya حفظه الله dan markiznya dengan dalih apa yang telah berlalu. Juga dengan fatwa Syaikh Al-Jabiri yang mrngatakan bahwa Syaikh Yahya bukan salafi dan telah menyimpang dari rel, sebagaimana dalam pertanyaan orang-orang Sudan.
 Melarang muhadhoroh-muhadhoroh dari orang-orang ahlus sunnah yang tidak cocok dengan mereka di masjid-masjid yang mereka naungi dengan dasar fatwa-fatwa ini.
 Melarang bis-bis yang pergi mengangkut thullabul ilmi ke Darul Hadits berdalih dengan fatwa Syaikh Ubaid yang mana Syaikh Ubaid telah berfatwa seperti ini kepada Shobir An-Najdy pemilik bis yang mengangkut thullab ke Dammaj.
 Melarang pengiriman wesel (uang) yang dikirim untuk thullabul ilmi di Darul Hadits Dammaj dengan alasan tidak boleh ta’awun dalam kemungkaran, sebagaimana fatwa Syaikh Ubaid ke pemilik barang-barang import Arab di ‘Adn yang mana sebelumnya mengirim wesel ke Dammaj.
 menghambat jalan bagi orang yang ingin rihlah ke tempat ilmu terutama Dammaj dengan alasan fatwa syaikh Ubaid .
Ini semua mereka lakukan setelah adanya fatwa tersebut padahal sebelumnya mereka tidak berani untuk berbuat semacam ini karena belum memiliki batu pijakan dari ahlul ilmi untuk memikul beban ini untuk memoles kebatilan mereka dan menyebarkannya .
Dan metode semacam ini adalah metode ahlul bid`ah sepanjang masa, seperti yang di paparkan oleh Imam Syaukany رحمه الله : Dan telah menjadi kaidah ahlul bid’ah sejak tempo dahulu dan zaman sekarang bahwa mereka sangat bergembira ketika ada satu ungkapan (yang agak mencocoki kebatilan mereka: pent) dari seorang alim saja, maka mereka berlebih-lebihan dalam memasyhurkan ungkapan tersebut di halayak sesama mereka , dan mereka menjadikan kalimat tadi sebagai hujjah untuk membentengi kebid’aahan mereka, dan mereka menjadikannya sebagai cambuk di wajah orang yang mengingkari mereka.[ lihat : Adab Thulab hal : 43]
4 – Merampas Masjid-Masjid Yang berada Dibawah Tangan Ahlus Sunnah Dan Mendahului Menguasainya.
Dan sudah dimaklumi bahwa usaha merampas masjid-masjid ahlus sunnah hanyalah metode hizbyyyin terdahulu dari Ikhwanul muflisin atau para anggota Yayasan Al-Hikmah ,Yayasan Al- Ihsan , pengekor Abul Hasan dan selain mereka , dan contoh-contoh kegiatan semacam ini terlalu banyak untuk di sebutkan dan perkara ini sudah bukan menjadi rahasia umum lagi diketahui oleh orang dekat ataupun jauh.
Berkata Al-Imam Al- Mujaddid Muqbil bin hadi Al-Wadi`i رحمه الله : mereka adalah para singa yang hendak menerkam ahlus sunnah yang tidak menginginkan masyakil (banyak problem) , mereka mengatakan : “Usir mereka dari masjid-masjid ini , karena keberadaan mereka membahayakan, karena mereka nanti akan berbicara saat pemilu.” Di sana sebuah masjid di Bi’r Ubaid di Shon’a, dibangun karena Alloh  semata. Lalu datanglah perintah-perintah dari Hamud Hasyim –semoga Alloh tidak memberkahinya- agar masjid itu diserahkan kepada Ikhwanul Muslimin, dan agar pengurus masjid tadi dipenjara.” (“Tuhfatul Mujib”)
Para pengikut Abdurrohman dan saudaranya telah menempuh jalan ini, yang mana mereka merampasi sekian masjid dari tangan saudara-saudara kita Salafiyyin. Dan pada proses perampasan sebagian masjid tadi mereka meminta bantuan aparat, sebagian orang awam dan tanda tangan mereka.
Imam Asy Syathiby berkata di dalam “Al I’tishom” (1/hal. 285-287/masyhur) berkata: “.. dan terkadang mereka tidak memberontak dengan cara ini, tapi hanyalah dengan mencukupkan diri dengan model dakwah, tapi dalam bentuk yang lebih mengundang jawaban, karena di dalamnya ada semacam pemaksaan dan teror. Maka cara ini bukan sekedar dakwah, dan bukan pula dengan cara merebut kendali kekuasaan dari seluruh sisinya. Yang demikian itu adalah dengan cara meminta bantuan pada salah satu penguasa dalam mendukung dakwahnya, karena ketundukan masyarakat di sini lebih kuat, karena mereka takut kepada penguasa yang akan memenjara orang yang membangkang, atau memukulnya, atau membunuhnya, sebagaimana telah terjadi kesepakatan antara Bisyr Al Marisi pada zaman Al Ma’mun, dan Ahmad bin Abi Du’ad pada zaman Al Watsiq –sampai dengan- Maka ahli bid’ah itu jika dakwahnya tidak mengalami sambutan yang bagus dengan sekedar pemberian udzur ataupun peringatan yang mereka nasihatkan, mereka berusaha untuk bangkit melalui jalur penguasa karena cara itu lebih bisa meraih sambutan.” Selesai.
Al Muntadayat “Al Aqsho As Salafiyyah” telah mengeluarkan topik berita dengan judul: “Kejadian Perjumpaan sejumlah Ikhwah Salafiyyin dari Palestina dengan Syaikh Robi’ Al Madkholy” pada hari Kamis bertepatan dengan tanggal 4 Romadhon 1429 H , dan di antara yang diucapkan beliau adalah yang berkenaan dengan masalah Palestina , di mana sebagian orang yang fanatik kepada Ali Hasan Halaby – dan Halaby ini adalah propokator sebab terjadinya fitnah – merampas sebuah markiz ikhwah salafiyyin.
Maka berkatalah syaikh Robi` kepada Usamah `Athoya : “Mereka wajib mengembalikan markiz , madrosah salafiyah itu kepada Syaikh Hisyam,” maka seraya Usamah `Athoya berkata: mereka tidak menginginkan. Maka Syaikh Robi` mendesah keras sambil mengatakan: “Bagaimana mereka tidak mau , ini pokok inti dalam perdamaian, perbuatan ini – merampas markiz dan madrosah – kami tidak pernah mendengan semisalnya sama sekali”. kemudian Syaikh Robi` berkata setelah berhenti sejenak : “Mereka itu apabila tidak meninggalkan fanatik kepada Ali Halaby dan tidak mengembalikan markiz dan madrosah kepada Hisyam maka mereka bukanlah salafiyyiin”. Selesai.
Maka bagaimanakah dengan kondisi pemicu fitnah ini , mereka telah merampas banyak sekali masjid-masjid ikhwah salafiyyiin.
Dan inilah beberapa bukti akan kelakuan kotor mereka :
1- Masjid Imam Al -AlBany di tempat tinggal `Iyaadh walayah kabupaten Lahj , kemudian di rampas pada tanggal 2/9/2007 M . mereka meminta bantuan untuk mensukseskan tujuan mereka dengan meminta tanda tangan orang awam setelah mereka kompori untuk memboikot imam masjid dan dengan alasan menunaikan perintah direktorat badan wakaf , namun setelah itu terkuak kedok mereka bahwa sebagian tandatangan adalah tanda tangan palsu, maka ketika sebagian orang awam tahu akan hal itu mereka segera mengembalikan masjid kepada imamnya dari ahli sunnah, dan telah terlaksana pengembaliannya.
2- Masjid Al-Bukhory terletak di desa Al-Mahallah kabupaten Lahj, dirampas dengan menggunakan polisi untuk mengusir imamnya lantas dia dipenjara dan diberhentikan sebagai imam dan khotib lewat badan Wakaf , inilah ceritanya sesuai dengan penuturan imam sendiri dia itu adalah : Abdul `Aziz bin `Abdul Karim :
Telah menimpaku perilaku jahat dari para pengikut Abdurrohman bin Mari` sebagai berikut : mereka membikin berita-berita tentang diriku yang membuat sesak dada orang awam kepadaku , karena aku dalam fitnah ini memihak kepada kebenaran , dan aku dalam fitnah ini menempatkan diriku sendiri untuk banyak diam setelah mengetahui kebenaran ini , akan tetapi para pengekor Abdurrohman tidak ridho dengan diamku ini , akhirnya mereka mengutus seorang yang bernama Muhammad Al-Khudsyy , dia itu dulu salah seorang thullabul ilmi di Dammaj dan sebagai pengikut Abdurrohman Mar’i, dan mereka menyewakan rumah untuknya di samping masjid kemudian dia melakukan kekacauan di masjidku ini, mengadu domba dengan cara membuka pelajaran tanpa seizinku, dan kembali kepadaku padahal , sudah diketahui bahwa aku telah mewakafkan semua ujung-ujung untuk masjid menghindari terjadinya masalah apapun .
Akan tetapi, pengikut-pengikut Abdurrohman terus menerus membuka pelajaran, mengadakan muhadhoroh juga mengumpulkan tanda tangan dari orang-orang awwam untuk mengeluarkan aku dari imam masjid.Telah diketahui bahwa aku imam masjid ini dengan gaji tertentu dari Departemen Perwakafan dan Bimbingan di propinsi.
Dan demikianlah, setelah terkumpulnya tanda tangan-tanda-tangan, mereka memperingatkan orang-orang awwam, anak-anak kecil penduduk desa untuk menjauhi Syaikh Yahya dan Darul Hadits Dammaj, dan tidak menziarahi istana ilmu ini.
Kemudian mereka semakin keras kepala untuk melakukan muhadhoroh di masjidku untuk dua orang dari pengikut Abdurrohman yaitu Abdul Ghofur As Syarohby dan Muhammad Al Khudsyy tanpa sepengetahuanku , tatkala aku melarang muhadhoroh maka berdirilah sebagian orang yang ta’asshub dengan Abdurrohman mengeluarkanku dari masjid. Dan mereka memadamkan lentera dan lampu dan memanggil petugas keamanan dan membawaku kemudian aku dipenjarakan tanpa satu sebabpun, dan menyogok dengan memberi harta kepada penanggung jawab pemerintah untuk memecatku dari imam.
Mereka mendapatkan sambutan baik dari orang-orang yang membenci dakwah Salafiyah dari orang-orang orientalis dan memenuhi keinginan mereka serta membantu mereka dalam urusan ini, sebagaimana mereka mengusirku dari tempat tinggalku di masjid dengan cara yang keji dan licik yang mana mereka memutus sambungan listrik untuk keluargaku, mematikan air di musim panas. Maka aku sampaikan hal tersebut kepada bagian penanggung jawab bagian, akan tetapi tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, aku telah diusir secara resmi dari rumahku dengan bantuan hizbyyyin dari orang-orang yayasan dan yang lainnya. –
Tatlaka orang-orang yang ta’asshub mendatangkan petugas keamanan mereka memprovokasi mereka untuk menyeretku saat aku sedang menyampaikan muhadhoroh dan mereka memprovokasi orang-orang awwam.
Perlu diketahui : Bahwa sebagian pengikut-pengikut Abdurohman membagi-bagikan selebaran seusai sholat kepada orang-orang awwam di masjid yang isinya celaan terhadap Syaikh Yahya حفظه الله dan tahdzir untuk tidak belajar di Dammaj.

3- Abu Bilal Nashir ibnudz Dzaib bin Mas’ad Al Khalify Asy Syabwy berkata:”Hizbyyyun melakukan beberapa kali makar untuk mengambil tanah masjid Ahlus Sunnah di kota ‘Attaq, yang mana tanah-tanah tersebut di bawah pengawasan Syaikh Yahya حفظه الله . Di antara makar-makarnya sebagai berikut:
(a) Abdulloh Al Mar’i Al Adany melalui sebagian ikhwah di Syabwah mau mengambil sertifikat-sertifkan tanah dengan sangkaan bahwa ada muhsinin (donatur) yang akan membangunnya. Akan tetapi dengan karunia Alloh , sertifikat-sertifikat itu ada pada tangan kami dan kami jelaskan kepada mereka bahwa Syaikh Yahya حفظه الله sebagai pengawas tanah-tanah itu. Maka marahlah sebagian mereka akan tetapi mereka tidak mampu berbuat apa-apa.
(b) Telah terjadi kesepakatan antar pengikut-pengikut Abdurrohman Al Adany yang dipimpin oleh Nashir bin ‘Athif dengan pengikut partai ishlah (milik Ikhwanul Muflisin) yang diwakili oleh dewan perwakilan setempat untuk merubah tanah ini sebagai madrosah anak-anak putri, dan sebagai gantinya adalah tanah seluas 516 petak di luar kota Ahlus Sunnah.Dan penggantian ini tidak lain kecuali untuk pengikut-pengikut Abdurrohman diwakili oleh Nashir bin ‘Athif dan telah resmi kesepakatan ini melalui Kantor Pertanahan dan Pembangunan Negara.Dan setelah kami mengetahui hal itu,maka orang tuaku Adzaib bin Mas’ad حفظه الله datang kepada mereka dan menjelaskan bahwa tanah ini tanah wakaf , tidak diperkenankan seorangpun merubah-rubahnya dan sertifikatnya ada pada kami dan kami sebagai pengurusnya. Maka para pegawai Pertanahan dan Pembangunan Negara tidak jadi melakukannya dan meminta maaf serta menjelaskan bahwa mereka ditipu, kemudian mereka membatalkan kesepakan itu.
(c) Setelah gagal makar kedua ini, Nashir bin ‘Athif dan orang-orang yang bersamanya dari para pengikut Abdurrohman Al Adany menghubungi Syaikh Muhammad Al Imam agar beliau mengizinkan mereka untuk membangun diatas tanah tersebut.Maka beliau mengizinkan , karena ketidaktahuan beliau kalau tanah tersebut dibawah pengawasan Syaikh Yahya حفظه الله , akan tetapi mereka segan untuk memulainya maka mereka ,mendatangi orangtuaku dan mengatakan bahwa Syaikh Muhammad Al Imam akan berbicara denganmu berkaitan dengan tanah ini ,dan beliau telah mengizinkan kami untuk membangunnya. Akan tetapi,orang tuaku menolak dan tidak peduli dan mengatakan kepada mereka akan membangunnya untuk Ahlus Sunnah dengan pengawasan Syaikh Yahya حفظه الله.Maka gagalah usaha mereka dan Alloh campakkan makar mereka ke leher mereka.
4- Masjid sunnah di Mukalla (Hadhromaut) . berkata Muhammad bin `Ali Al- Kautsary حفظه الله adapun yang berkaitan dengan apa yang menimpa akh Yaasir Ad Dhuba`y Abu `Ammar dari sisi Salim Ba – Muhriz adalah sebagai berikut : Salim Ba Muhriz telah menjadikan nafkah(harta) untuk wakaf dan juga sebagian lainnya untuk dikontrakkan sebagai tempat tinggal , dan perlu diketahui bahwa nafkah tersebut adalah bersumber dari sebagian ikhwan dari Imarot , dan Salim menerima dana tersebut sekedar perantara saja untuk menyalurkannya kepada akh abi `Ammar , akan tetapi ternyata Salim Ba Muhriz melakukan perbuatan ini (mewakafkan dan menyewakan) tanpa sepengetahuan dan minta izin terlebih dahulu kepada para ikhwah penyumbang di Imarot, perkara yang lain, bahwa mereka (pengekor Abdurrohman) melakukan tekanan kepada Akh Yaasir di masjid , di antara bentuk tekanan tersebut adalah : mengunci dan menutup maktabah darinya , dengan cara mengganti kunci-kunci seluruh pintu maktabah. Ini yang aku ketahui tentang masalah ini. Selesai. Dan berkata Abdul Hakim Ar Roimy : sungguh akhuna Syaikh Abu Ammar sendiri telah menceritakan kandungan perkara ini kepada kita.
5- Rosyid bin Muhammad bin Sholih Imam dan khotib masjid Ibrohim Kholil di kabupaten Lahj berkata : sungguh aku telah disakiti oleh mereka para muta`ashibin Abdurrohman Al –Adany , di mana salah seorang di antara mereka yang bernama Basyar bin Abbaad telah melakukan pengumpulan tanda tangan orang-orang awan untuk mencabutku dari keimamanku dan mereka meminta bantuan dalam memusuhi dakwah yang penuh barokah ini dengan orang-orang pasar dan para pelaku kemaksiatan (preman) juga dari orang sosialis dan selain mereka , namun Alhamdulillah mereka tidak berhasil untuk merebut masjid ini (dari tanganku).
6- Ahmad bin ‘Abd bin Sholih `Aulaqi – dan dia berdomisili di desa Al Khoddad di kabupaten Lahj – berkata: Aku bersaksi bahwa aku pernah melihat kelakuan sebagian muta`ashibiin dari pengikut Abdurrohman Al-Adany – dia itu adalah imam sebuah masjid namanya Amin bin Muhsin An-Namr di mana dia bangkit melarang halaqoh-halaqoh Qur`an di masjid yang diadakan sebagian murid-murid Syaikh Yahya Al-Hajury. Begitu pula wc-wc di masjid ditutup kecuali bagi yang cocok dengan pemikirannya.
7- Akh Saalim Al-Lahjy salah seorang imam masjid di Syabwah selama tujuh tahun , setelah itu dia mendapat tekanan dari pihak pengikut Abdurrohman Al –Adany sampai akhirnya dia keluar dari masjid , dengan cara memutus nafakohnya, kemudian salah seorang ikhwah yaitu Abdul Hakim Hanasy جزاه الله خيرا menjamin beliau selama enam bulan, ternyata para pengekor Abdurrohman telah meyerobotnya dengan menempatkan salah seorang dari mereka pada posisinya di masjid.
8- Dan ini Sholahuddin Al –Adany – salah seorang yang terfitnah dalam fitnah ini – dia sering menyakiti saudara-saudaranya di ‘Adn di kota Kuraitar terlebih lagi yang datang dari Dammaj -harosahalloh-, di antara perbuatannya dia berusaha keras dalam mencegah pelajaran-pelajaran, khothbah-khothbah, dan muhadhoroh-muhadhoroh Ahlus sunnah. Dia memanfaatkan jabatannya- di mana dia menjabat sebagai perwakilan satu lembaga pemerintahan -dalam memerangi para penuntut ilmu, kadang-kadang mengancam Imam Masjid Asy Syinqithi kadang-kadang ia mengatakan aku mampu mendatangkan Taqom (mobil yang ada bazokanya) dan sungguh dia berusaha mencegah muhadhoroh Syaikh Abdulloh Al Iryany – حفظه الله di masjid Asy Syinqithy dan betul pernah Syaikh Abdulloh dicegah dari muhadhoroh dengan sebab dia.
9- Masjid Umar bin Khotthob di kecamatan Al –Kidaam kabupaten Lahj dirampas lewat badan Wakaf .
10- Mereka menyita maktabah wakaf umum untuk masjid Ibnu`Ashidah milik Ahlussunnah secara umum di desa Dis Timur di kabupaten Hadhromaut , suatu saat ahlussunnah di desa itu melakukan muhadhoroh di kecamatan sebelah bernama Roidah di Hadromaut , maka mereka (para penjahat) menggunakan kesempatan ketidak adanya mereka untuk menyikat maktabah dengan mobil – Deina – seakan -akan mereka membawa batu saking banyaknya kitab, dan diperkirakan bahwa harga maktabah itu tiga juta real Yaman , dengan perbuatan itu mereka menghambat para thullab dari menelaah dan membahas masalah.
11- Berkata Muhammad bin Umar bin Salim Al-Baar imam masjid As- Syaikh Thohir yang berdomisili di kecamatan Al-Hajroin di kabupaten Hadhromaut : masjid ini telah kita tempati selama tiga tahun , akan tetapi ketika fitnah ini muncul mereka (para pengekor Abdurrohman ) – padahal mereka dahulu dakwah bersama kita – datang kepada petugas penilik masjid di daerah kami dan juga mendatangi seorang pedagang untuk mendirikan masjid , dan telah menyiapkan santunan untuk imam dan seluruh biaya operasional pembangunan, mereka mendatangi petugas tersebut dengan menyebutkan beberapa perkara yang berkaitan dengan kejelekan-kejelekanku , sehingga mereka berusaha untuk mengusirku dan mengusir Akh Jam`an yang sedang mengisi dauroh di masjid kami ini ,Akhirnya kami keluarkan sertifikat tanah , maka petugas penilik mengatakan : perkaranya perlu dicek kembali , maka ketika mereka diminta pengecekan mereka hengkang dan bahkan menimpali dengan ucapan pedas , barulah petugas itu tahu bahwa mereka mengingkarinya, (berdusta).akan tetapi mereka belum merasa cukup dengan usaha ini , akhirnya mereka kembali berusaha untuk merampas masjid di tempat lain berlokasi di kecamatan Jibliyah , masjid di bawah pengawasan kedua orang tuaku , imamnya adalah Abdulloh bin `Awadh .
12- Usaha untuk meruntuhkan masjid Maifa` di kabupaten Hadhromaut.
13- Berusaha merampas tanah masjid Al-Anshor di kabupaten Lahj.
14- Masjid di desa Al-‘Ain kabupaten Syabwah.
15- Masjid Al- Haq di kecamatan Al –Basatiin kabupaten ‘Adn, di mana yang merampas adalah Sholeh Kenthus – dan dia adalah salah seorang gembong fitnah ini –dia merampas masjid tersebut , yang menjadi imam waktu itu adalah Abu Huroiroh Basil bin Hasan Al-Adany ,dengan cara mengumpulkan tanda tangan orang-orang awam dan meminta bantuan pembesar setempat dan juga badan wakaf Negara sehingga perkaranya diambil alih oleh kepolisian setempat kemudian masjid dirampas dengan paksa sebagaimana apa yang diceritakan oleh imam masjid itu sendiri. Wallohul Musta`an.
5- Permusuhan Di Dalam Dakwah
Allah  berfirman:
﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَى وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ * لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ* أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ﴾[التوبة/107-109]
“Dan orang-orang yang menjadikan masjid karena Dhiror (untuk menimbulkan bahaya bagi kaum muslimin) , kekufuran , perpecahan di kalangan orang beriman dan sebagai pengintai bagi orang yang memerangi Alloh dan RosulNya sejak dahulu , mereka sungguh akan bersumpah :” kami tidak menghendaki kecuali kebaikan .“ dan Alloh menjadi saksi bahwa mereka itu berdusta. Maka janganlah kamu berdiri (sholat) di situ selama-lamanya, sesungguhnya masjid yang di dirikan di atas dasar ketaqwaan sejak hari pertama adalah lebih patut untuk kamu mendirikan sholat di dalamnya , karena di dalamnya ada orang-orang yang menginginkan mensucikan diri , dan Alloh mencintai orang-orang yang membersihkan diri. Maka apakah orang yang mendirikan masjid atas dasar taqwa kepada Alloh dan mengharapakan keridhoan-Nya lebih baik dari orang yang mendirikannya di tepi jurang yang runtuh lalu bangunannya jatuh ke neraka jahannam ? dan Alloh tidak akan memberi hidayah kepada orang-orang yang dholim.” [At-Taubah 107-109]
Berkata Al-Imam Asy-Syaukany : dalam kitabnya Fathul Qodir 2/585:
“Sungguh Allah telah mengabarkan bahwa yang memotivasi mereka di dalam membangun masjid tersebut, 4 perkara :
Pertama : Menimbulkan kemudhorotan (bagi kaum mukminin) maka masjid tersebut adalah suatu mudhorot,
Kedua : Kekufuran kepada Allah dan membanggakan diri atas kaum muslimin karena tujuan mereka dalam membangun masjid adalah menguatkan kekuatan orang-orang munafiq.
Ketiga : Memecah belah barisan kaum mu’minin, karena mereka berkeinginan agar kaum muslimin tidak mendatangi masjid quba sehingga menjadi sedikit jumlah kaum muslimin, dengan ini akan timbul perpecahan dan hilangnya persatuan yang tidak diragukan lagi.
Keempat : Menunggu kedatangan orang yang memerangi Allah dan Rosul-Nya yaitu menyiapkan diri demi menunggu siapa yang memerangi Allah dan rosul-Nya, berkata Az-Zajjaj: “Al-Irshod adalah menunggu”, berkata Ibnu Qutaibah: “Al-Irshod adalah menunggu yang disertai dengan permusuhan. Dan kebanyakan mengatakan maknanya : persiapan, dan semua maknanya hampir sama.” Selesai.
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah seperti dalam Majmu’ Fatawa 28/57 :” Merupakan ketetapan Allah dahulu jika Ia berkeinginan menampakkan agamaNya Ia memunculkan penentang agama tersebut, maka Ia pun menetapkan Al-haq dengan kalimat-kalimatNya dan menumbangkan kebatilan dengan al-haq sehingga kebatilan pun lenyap. Selesai
Bentuk-bentuk permusuhan mereka bisa terlihat pada point-point berikut:
Pertama ; Melarang dan menyuruh ummat untuk menjauhi muhadhoroh saudara-saudara kami para penuntut ilmu dari Dammaj dan siapa saja yang tidak setuju dengan fitnah mereka perkara ini ada beberapa bukti :
1. Saudara Kholil At-Taizzy pergi bertamu ke orang-orang ‘Adn sekaligus mengisi muhadhoroh di masjid Ash-Shohabah dengan permintaan imam masjid tersebut maka Abdurrohman Al-Adany pun berdiri dan memberi isyarat kepada orang-orang yang berada di masjid untuk keluar sehingga tidaklah mendengarkan muhadhorohnya kecuali sedikit. Disaksikan pula oleh beberapa orang ikhwan yang hadir.
2. Melarang Syaikh Ahmad bin Utsman Al-Adany dari muhadhoroh di seluruh masjid-masjid orang-orang yang termakan fitnah mereka di ‘Adn dan Mudiyah , padahal beliau adalah penanggung jawab masjid As-Sunnah di ‘Adn, dan masjid ini adalah masjid terbesar bagi ahlussunnah di ‘Adn
3. Berkata Ahmad ‘Abid Soleh ‘ulaqy dia dari desa Khoddad :” Saya bersaksi demi Allah sungguh saya melihat sebagian orang-orang yang fanatik kepada Abdurrohman Al-Adany dari pengikut-pengikutnya , dia adalah imam masjid dia dipanggil Amin Muhsin An-Namr di mana dia bangkit melarang halaqoh-halaqoh quran di masjid yang diadakan sebagian murid-murid Syaikh Yahya Al-Hajury. Begitu pula wc-wc di masjid ditutup kecuali bagi yang cocok dengan pemikirannya.
4. Saudara Abdul Hamid Al-Hajury pergi ke ‘Adn tanggal 10-10-1429 H dan telah diumumkan penyelenggaraan muhadhorohnya di masjid A-Buraiqoh di ‘Adn yang menjadi penanggung jawab atasnya Syaikh Ahmad bin Utsman Al-Adany حفظه الله yang akan diselenggarakan setelah dhuhur tiba-tiba dia dikejutkan dengan adanya polisi disekitar masjid dan meminta darinya untuk membatalkan muhadhoroh, permintaan tersebut datang dari kepala Kementrian Agama dan Kepala Keamanan disebabkan datangnya beberapa orang kepala keamanan yang mengatakan : seandainya muhadoroh orang ini berlangsung akan terjadi bentrokan dan fitnah sebagaimana yang dikhabarkan bagian keamanan kepada Syaikh Ahmad bin Utsman, maka syaikh Ahmad pun memindahkan muhadhorohnya ke kota Al-Khoisa di ‘Adn , kemudian beberapa orang polisi menelpon penduduk Khoisah dan mengancam jika muhadhoroh tersebut berlangsung maka akan dicegat. Kemudian sebagian ikhwan menghubungi gubernur ‘Adn dan pegawai pemerintah maka gubernur pun mengizinkan untuk diadakan muhadhoroh di masjid Al-Buraikoh dengan fadhilah dari Allah berlangsunglah muhadhoroh dengan sebaik-baiknya tanpa menimbulkan fitnah dan kerusuhan. Mengabarkan kepada kami hal ini Syaikh Ahmad bin Utsman –حفظه الله -
5. Begitu pula mengabarkan kepada kami Syaikh Ahmad bin Utsman – حفظه الله -bahwa beliau berkata : Suatu kali aku mau mengadakan muhadhoroh, maka mereka ( hizbyyyin yang baru ) berusaha menghalangi dengan perantara bagian kementrian tetapi tidaklah berhasil usaha mereka hanya saja disyaratkan untuk mematikan mikrofon luar.
6. Sholahuddin Al-Adany – termasuk dari orang-orang yang terfitnah dengan fitnah ini – dan sering menyakiti saudara-saudaranya di ‘Adn di kota Kuraitar terlebih lagi yang datang dari Dammaj -harosahalloh-, di antara perbuatannya dia berusaha keras dalam mencegah pelajaran-pelajaran, khotbah-khotbah, dan muhadhoroh-muhadhoroh Ahlus sunnah. Dia memanfaatkan jabatannya- di mana dia menjabat sebagai perwakilan satu lembaga pemerintahan -dalam memerangi para penuntut ilmu, kadang-kadang mengancam Imam Masjid Asy Syinqithi kadang-kadang ia mengatakan aku mampu mendatangkan Taqom (mobil yang ada bazokanya) dan sungguh dia berusaha mencegah muhadhoroh Syaikh Abdulloh Al Iryany – حفظه الله di masjid Asy Syinqithy dan betul pernah Syaikh Abdulloh dicegah dari muhadhoroh dengan sebab dia.
7. Saudara Zain Al Yafi’y dari zaman Syaikh Muqbil : telah bertugas menkordinir beberapa penuntut ilmu di Dammaj melebihi seratus orang di bulan Romadhon setiap tahunnya dan membagi mereka ke mesji-masjid di kampung-kampung Yafi’ dalam rangka mengadakan pelajaran-pelajaran ilmiyah dari bidang aqidah, tauhid, fiqih, dan lain-lain bidang ilmu yang bermanfaat sekaligus sholat bersama penduduk setempat. Kebaikan ini berjalan sampai tahun 1428 H. Namun pada bulan Romadhon tahun 1428 H bangkit pengekor-pengekor Abdurrohman Al adany menimbulkan kerusuhan, di antaranya dengan cara menelpon berulang kali saudara Zain Al Yâfi’i dan mengancamnya akan disakiti dan dipukuli di jalan dan memprovokasi orang untuk menolak siapa yang datang dari Dammaj, dengan sebab ini ditolaklah beberapa orang pelajar dari beberap masjid sebagian mereka ada yang mau dipukul dan sebagian juga ada yang dicegah dari muhadhoroh, kejelasannya sebagai berikut:
Saudara Zain berkata : Kami pernah meminta saudara Muhammad bin Abdil Qowi Al Qayruhy dan dia memiliki semangat dalam berdakwah di Yafi’ terkadang untuk bekerja sama dengan kami kemudian diapun menjawab: aku tidak bisa aku ada pekerjaan yang khusus di Desa Al Muflihi maka aku akan membantu mereka(dengan moril). Kejadian ini terjadi sebelum fitnah ini adapun akhir-akhir ini khususnya di bulan Romadhon 1429H setelah dia menjadi pengekor Abdurrohman Al adany, bertambahlah semangatnya ke beberapa tempat yang banyak di Yâfi’ bahkan mendahului saya dalam merebut kebanyakan masjid-masjid yang dulu ditangan kami beberapa tahun yang lalu, dan dia memperingatkan (tahdzir) mereka dari para penuntut ilmu dari Dammaj buktinya: Saya menghubungi pemilik masjid-masjid tersebut agar saya mengutus siapa yang akan mengimami mereka seperti biasanya maka akupun dikagetkan dengan perkataan mereka seperti: Muhammad Al Qoiruhi telah berjanji akan mengutus imam, terkadang saya mendatangi mereka dengan seorang da’i akan tetapi telah mendahului saya Muhammad Al Qoiruhi dengan da’i yang lain dan dia tahu sayalah yang menjadi penanggung jawab untuk mendatangkan imam-imam ke masjid-masjid ini sebelumnya, jumlah masjid yang ia rebut sekitar sepuluh di Al Haddi dua di Al Qu’aiti tiga di Al Muflihi dan satu masjid di desa qor’ad,
Salah satu bukti atas perkara mereka bahwa saudara Ahmad Al-Akwury menukil dari saudara yusuf Al-Asady berkata padanya Muhammad Al-Qoiruhy di bulan sya’ban tahun ini: bersegeralah datang !!! maksudnya turun ke Yafi’ sebelum datang orang-orang dari Dammaj.
Di antaranya saya menelpon saudara Muhammad Tsa’lul dari penduduk Hisn di kota Alhad khususnya untuk saya utus kepada mereka seseorang ,maka dia menjawab kami tidak ingin yang datang dari sisi Al-Hajury keledai pendusta, bodoh, seret dia dari atas kursi, seret dia !!!
Di antaranya juga saudara Muhammad bin Husein dari dusun Al-Qouuh, yang berada di kota Al-Had berkata : jangan kamu datangkan kepada kami siapa saja yang dari Dammaj kami bersama Abdurrohman Al-Adany, jika kamu mendatangkan orang dari Dammaj, maka kami akan mengusirnya dari kota Al-Mahajy.Dan Al-Mahajy adalah kota pertama di wilayah Al-Had.
Di antaranya aku menghubungi saudara Ahmad bin Ali Ad-Da’i dia yang bekerja sama denganku dalam membagi ikhwan di kota Al-Had maka dia menjawab waktu-waktu ini aku tidak bisa dan aku ingin I’tikaf di kota Al-baidho’ , saya tahu orang ini ingin lari dan dia tidak mau kalau saya mendatangkan orang dari Dammaj dan tidak mau bekerja sama dengan saya. Buktinya saya menghubungi beberapa desa di kota Al-Had seperti desa Al-Faidh dan desa Bani Bakr dan saya sepakat dengan mereka untuk mendatangkan para da’i kemudian setelah itu mereka membatalkan kesepakatan dan meminta udzur karena Ahmad Ad-Da’i telah menjanjikan mereka untuk mendatangkan pelajar-pelajar dari Ma’bar.
Salah satu perbuatan Ahmad Ad-Da’i bahwasanya dia berkata kepada Ahmad bin Jabir Al-Hudaidy sebagaimana yang akan datang siapa yang mengutus kamu kepada kita maka Ahmad bin Jabir menjawab yang mengutus saya adalah Zain maka dia berkata pergi kamu dari Al-Mahajy kalian itu orang Dammaj yang penuh dengan fitnah’.
Berkata saudara Abdulloh bin Husein Al-Yafi’y kami pergi ke sebagian kampung di A-Had untuk berdakwah maka berkata kepada kami Ahmad Ad-Da’i dan Muhsin bin Ali bin Muhsin kami tidak menerima seorangpun dari murid-murid atau sahabat- sahabat Al-Hajury yang menjadi saksi atas perkara ini juga Ahmad Al-Hubaisy .
Di antaranya juga Muhsin bin Ali bin Muhsin mengancam saya dengan pemukulan jika saya mendatangkan kepada mereka da’i dari Dammaj, menceritakan kepadaku pamanku Ali bin Ahmad Al-Haddy bahkan Muhsin sendiri mengatakan kepada saya jika datang kepada kita siapa saja yang menjelekkan Abdurrohman Al-Adany maka kita akan memukulnya.
Simaklah apa yang ditulis saudara Ahmad bin Jabir Al-Hudaidy:
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin wassholatu wassalamu ala asyrofil anbiayai wal mursalin amma ba’du ini adalah ringkasan dari apa yang menimpa saya dari pengekor-pengekor hizbyyyah yang baru … yaitu saudara Zain Al-Yafi’y mengutus saya ke bupati Al-Had di Yafi’ pada hari kamis tanggal 20 sya’ban 1429 H begitu saya sampai di desa Al-Mahajy saya mendapati Muhsin bin Ali bin Muhsin dan Ahmad Ad-Da’i dan lainnya , maka mereka berkata kepadaku: siapa yang mengutus kamu ? saya jawab:” Saudara Zain.” maka mereka menyuruh saya untuk kembali karena katanya kita orang Dammaj penuh dengan fitnah, maka aku katakan:” Sudah semenjak 4 tahun lebih saya datang ke desa ini , dan fitnah apa yang kalian lihat dari saya ,bahkan orang-orang di kampung ini dan lainnya menyukai orang-orang Dammaj?? ketika itu mereka membawa seorang yang bernama Muhammad bin Hady , maka dia mengatakan :” Demi Allah jika kamu memasuki desa ini maka kami akan menyeret kamu telungkup dengan wajahmu .” perkara ini disaksikan pula sebagian penduduk desa Al-Mahajy dan mereka ingin menuju ke desa Al-Baidho’ maka ketika mereka melihat saya tetap pergi ke desa Wadi Da’an mereka kembali ke masjid maka mereka membuat saya gelisah dengan pertanyaan-pertanyaan dan mengolok-ngolok saya serta memprovokasi massa sehingga Anis bin Abdillah bin Ja’far(dia salah satu yang pergi dari Dammaj karena mengekor Abdurrohman )bangkit menampar wajahku . selesai.
8. Al-Akh Al-Fadhil Abdul Hamid Al-Hajury dilarang untuk mengisi muhadhoroh di Hadromaout beliau berkata:
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين وأشهد ألا إله إلا الله الملك الحق المبين الخبير الحكيم وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله المبعوث رحمة للعالمين والمنزه عن كل كذب وشين أما بعد :
Adapun saya Alhamdulillah keluar berdakwah di jalan Alloh pada bulan sya’ban 1428H. dan tugas kami bi hamdillah adalah Al-Ilm, amal dan dakwah. Dan dakwah diadakan selama lima hari di daerah sekitar pantai Hadromaut yaitu di Al-Mukalla, Al-ghail dan Al-Hamy, Qushoi’ar, Diis dan berakhir di Syihr. Mereka pun senang dengan muhadhoroh yang diadakan di tempat mereka maka ketika menolak permohonan dari orang mulia merupakan suatu hal yang tercela , maka kamipunn menyambut permintaan mereka dan memenuhi keinginan mereka, mereka pun bertanya:” Di masjid mana diselenggarakan?.”
Jawabku:”Terserah keinginan kalian, walaupun di masjid At-Taqwa karena sesungguhnya masjid itu dibangun untuk sunnah walaupun Abdulloh Al-Mar’i telah merubah atau menggantinya atau ucapan semisal itu.”
Mereka pun berkata:” Kalau begitu kita selenggarakan di masjid Al-Maghfiroh saja.”
Kukatakan:” Kalian yang lebih tahu.”
Keesokan harinya mereka pun menenangkan perasaannku bahwasanya mereka telah meminta ijin pemilik masjid itu , kemudian mereka pun diijinkan.
Kukatakan:” Alhamdulillah.”
Kemudian Akh Abu Bilal Al-Hamy datang dan berkata :”Wahai akh Abdul Hamid, ikhwan di Syihir menganjurkan dalam muhadhoroh tidak menyinggung masalah fitnah.”
Kukatakan:” Baiklah InsyaAlloh.”
Keesokan harinya tatkala kita berada di Qushoi’ar mereka berkata:” Wahai akh Abdul Hamid ikhwan pengikut Abdulloh Al-Mar’y memberi persyaratan agar mereka dipersilakan berbicara.”
Kami pun menjawab:” baiklah akan tetapi dengan syarat tidak ada sindiran-sindiran kalau tidak memenuhi syarat , maka mereka akan mendapatkan sesuatu yang menghinakan diri mereka.”
Namun tiba-tiba ada jawaban untuk menggagalkan muhadhoroh, awalnya aku senang kalau ikhwah menyelenggarakan muhadhoroh di halaman masjid , maka akhirnya mereka pun memindahkan ke masjid Al-Khozan. Malam itu malam yang baik dan tenang Alhamdullillah.
Tiba-tiba kami dikagetkan oleh perkataan syaikh Abdul Aziz dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang mereka gantung di dinding.
Maka kukatakan:” Itu kalam ulama” dan Alhamdullih kami mengetahui bagaimana bersikap terhadap ulama. Adapun kandungan akhir muhadhoroh adalah nasihat-nasihat untuk bersungguh–sungguh dalam menuntut ilmu dan menjauh dari berbagai macam fitnah Di antaranya adalah fitnah ini, tidaklah hal tersebut kecuali karena kejelekannya semakin nampak , sebagai wujud peringatan dan nasehat kalau tidak demi Alloh sungguh kami merasa senang apabila kita akhiri muhadhoroh tanpa menyebut-nyebut Abdurrohman Al-Adany dan pengikutnya walhamdulillah. (ditulis oleh: Abu Muhammad Abdul Hamid Al-Hajury 7/5/1429H)
9. Al-Akh Abdul Hamid Al-Hajury dilarang untuk mengisi muhadhoroh di daerah Muhaifif tetangga daerah Ghaedhoh di Maharoh, dan muhadhoroh pun dipindah ke daerah Qisyin.
10. Al-Akh Abdul Hamid Al-Hajury dilarang untuk mengisi muhadhoroh di daerah Saehut di Maharoh disebabkan oleh orang-orang yang fanatik terhadap Abdurrohman Al-Adany maka muhadhoroh di pindah ke Rohut di Mahroh.
11. Al-Akh Murtadho Al-Adany dilarang untuk mengajar di masjid Muadz dan ‘Aisyah di daerah Sobr dan dua masjid ini dipegang oleh orang-orang yang fanatik pada Abdurrohman Al-Adany.
12. Al-Akh Wardi Al-Adny berkata:” Abdulloh Asysyaqqo` – salah seorang yang fanatik terhadap Abdurrohman Al-Adany- melarang saya untuk mengajar di masjidnya padahal dulunya aku senantiasa mengajar di masjid itu dan ia mengatakan kepadaku:” Kami telah meminta saran kepada 30 imam masjid dalam pelarangan ini.”
Dia (Abdulloh Asysyaqqo`) juga mengatakan kepadaku berkata Anwar Al-Aidarus berkata kepadaku:” Bahwasanya tidak pantas keberadaan dua manhaj dalam satu masjid.
YANG KEDUA: MENEGAKKAN DAKWAH TANDINGAN
Hal tersebut dengan mengadakan muhadhoroh- muhadhoroh tandingan untuk menyaingi dakwah ahlussunnah dalam waktu dan daerah yang sama, dengan maksud untuk memalingkan perhatian masyarakat dan menghalangi mereka dari dakwah ahlussunnah. Dan ini merupakan strategi dan methode hizbyyiin dalam memunculkan kelompok baru, berikut beberapa contoh hal tersebut:
a. Muhadhoroh Syaikh Abu Amr Al-Hajury telah diumumkan di ‘Adn , maka pada waktu dan daerah yang sama mereka pun mengumumkan muhadhoroh untuk Abdurrohman Al-Adany dan saudaranya Abdulloh Al-Adany dan Salim Bamuhriz dalam keadaan tidak ada rencana terlebih dahulu sebelumnya.
b. Syaikh Yasir Ad-Duba’i حفظه الله setelah keluar meninggalkan masjidnya dan pindah ke masjid lain setelah mendapat tekanan dari Abdulloh Al-Mar’i dan kawan-kawan. Biasanya sebelum musim haji dia mengadakan muhadhoroh tahunan dengan judul:”Manasik Haji dan Umroh” maka sebagaimana biasanya diapun mengumumkan muhadhoroh sebelum musim haji, maka pada waktu dan wilayah yang sama diumumkan muhadhoroh untuk Abdulloh Al-Mar’i dan Salim Bamuhriz dengan judul dan tema yang sama. Dan ini adalah awal kali terselenggaranya dua muhadhoroh pada waktu dan wilayah yang sama dengan tema yang sama.
c. Al-Akh Haidaroh Al-Ja’daby حفظه الله berkata:” Ini yang ikhwan kabarkan ke saya dan apa yang saya lihat sendiri dari mereka sekitar enam bulan yang lalu , ikhwan salafiyun di Mudiah melakukan kunjungan ke Dammaj , mereka pun duduk bersama dengan para masyayikh Darul Hadits dan merekapun memberi nasihat untuk memisahkan diri dari orang-orang yang fanatik terhadap Abdurrohman Al-Adany . Tatkala mereka kembali ke Mudiah mereka pun memberi khobar kepada orang-orang yang fanatik terhadap Abdurrohman Al-Adany bahwa mereka akan menempati masjid-masjid yang berada di sebelah timur Mudiah, hal tersebut terus berlangsung selama beberapa bulan hingga Jum’at kedua bulan Syawwal para muta’ashshibin mendatangi secara paksa masjid-masjid yang telah ditempati oleh ikhwan salafiyin. Dan mereka mengirim salah seorang yang bernama ‘Indhil ke masjid Al-‘Urkub dan masjid ini telah didahului oleh Al-Akh Sa’id bin Sa`id Al-Lahjy dan ‘Indil pun tidak memungkinkan baginya untuk khotbah. Walhamdulillah dan mereka mengutus orang yang dikenal dengan Abu Bakar Asy-Syaibah ke masjid Al-Habaj dan ia telah didahului oleh Al-Akh Abul Bukhory, namun sangat disayangkan Abu Bakar yang khotbah untuk mereka. Dan mereka mengutus seorang yang dikenal dengan Abdulloh Hudaib kemasjid Al-Hamiah sementara imam masjid ini adalah Al-Akh Syaikh Al-Kauzimy waktu itu dia berada di masjid dia keluar untuk berwudhu sebelum kembali dari wudhunya Abdulloh Hudaib sudah mendahuluinya naik di atas mimbar tanpa izin. Dan kejadian seperti ini berulang beberapa kali.(1)
YANG KE-TIGA: PENELANTARAN PARA PENUNTUT ILMU DAN MENGHALANGI MEREKA UNTUK MENDATANGI DARUL HADITS DAMMAJ

Di antara kerusakan dan dampak negativ dari fitnah ini adalah menelantarkan para penuntut ilmu dan memalingkan mereka dari kebaikan yang dulu mereka berada di atasnya dan menyeret mereka dari pangkuan syaikh mereka , terlebih lagi senior-senior mereka dan di antara mereka ada yang sudah mapan dalam menuntut ilmu bertahun-tahun lamanya, dan di antara mereka para penulis,pentahqiq, pengajar dan harapan besar ada pada mereka.
Sebagaimana yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Jam’iyah Ihya Atturots dan Jam’iyah Al-Hikmah, Jam’iyah Al-Ihsan dan Abul Hasan Al-Mishry terhadap murid-murid syaikh Muqbil Al-Wadi’y dengan cara menghasut ,menarik mereka dan menyampaikan kedustaan, memutarbalikkan fakta dan membangkitkan semangat duniawiyah yang dibangun di atas kaidah Sa’id Hawa dan Ikhwanul Muslimin tatkala Sa’id Haawa berkata : « Para ulama yang berseberangan dengan methode dakwah kita, wajib bagi kalian untuk menyeret murid-murid mereka sampai dia sadar kalau dia itu menyendiri dan tidak menjumpai murid-murid yang bisa diajarkan ilmunya lagi» . Sebagaimana telah disebutkan oleh Asy-Syaikh Al-Wadi’i رحمه الله di beberapa kitab beliau .
Dan tidak tersembunyi lagi, betapa besar pengkhianatan ini sebagaimana Akh Amin Al-Khorify menyaksikan sendiri hal tersebut pada mereka setelah meninggalkan mereka yang dahulu ia bersama mereka dalam belenggu ta’ashub , sembari dia pun berkata: “Mereka itu sangat bersungguh-sungguh untuk merekrut orang-orang yang mapan dan cerdas di markiz seperti fulan, fulan dan fulan adalah orang-orang pilihan !!… persiiis seperti Ikhwanul Muslimin.
Dan Mereka Dalam Menempuh Metode-Metode Dan Strategi Ini Tergambar Dalam Beberapa Perkara:
A. Penyebaran kabar-kabar yang menghantam Syaikhuna Yahya حفظه الله dan memutar-balikkan fakta dan penyebaran berbagai macam kedustaan. Alloh  berfirman:
﴿إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آَمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ * وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ﴾ [النور:19-20].

“Sesungguhnya orang-orang yang menginginkan tersebarnya kekejian di kalangan orang-orang yang beriman, bagi merekalah siksaan yang pedih di dunia dan akhirat dan Alloh mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui. Seandainya bukan karena keutamaan dan kerohmatan Alloh atas kalian dan bahwasanya Alloh itu Ro’uf (Maha Pengasih) lagi Rohim (Maha Penyayang).” (QS. An-Nuur: 19-20)
Berkata Ibnu Katsir rohimahulloh dalam Tafsirnya (3/367) pada ayat ini : “ Ini adalah bentuk ta’dib yang ketiga bagi orang yang mendengar sebagian dari perkataan yang jelek. Kemudian muncul dalam benaknya perkataan itu dan mengatakan, maka janganlah ia memperbanyaknya dan jangan pula menyebarkannya karena Alloh telah berfirman:
﴿إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آَمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾ [النور/19]
“Sesungguhnya orang-orang yang menginginkan tersebarnya kekejian di kalangan orang-orang yang beriman, bagi merekalah siksaan yang pedih di dunia dan akhirat dan Alloh mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui.”
Yakni mereka memilih nampaknya perkataan itu dari mereka dengan cara yang jelek.
“…bagi merekalah siksaan yang pedih di dunia…” yakni dengan ditimpakannya hukuman had kepada mereka dan di akhirat dengan siksaan yang pedih.
“…dan Alloh mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui.” Maka kembalikanlah urusan-urusan kepada-Nya. Niscaya kalian akan mendapat petunjuk.
Imam Ahmad berkata (setelah menyebutkan sanadnya sampai pada Rosululloh shollahu ‘alaihi wa sallam dari Tsauban ت):
«لا تؤذوا عباد الله ولا تعيروهم ولا تطلبوا عوراتهم فإنه من طلب عورة أخيه المسلم طلب الله عورته حتى يفضحه في بيته»
“Janganlah kalian menyakiti hamba-hamba Alloh dan janganlah kalian mencela dan mencari-cari aurat (cela/cacat) mereka, karena sesungguhnya siapa yang mencari-cari aurat saudaranya semuslim, Alloh akan mencari auratnya sampai Alloh membongkarnya walaupun ia berada dalam rumahnya.”
Imam Asy-Syaukani berkata: “Dan telah menjadi kaidah ahlul bid’ah di zaman dulu dan setelahnya , bahwa mereka merasa senang dengan munculnya satu kalimat dari seorang alim dari para ulama dan mereka melampaui batas dalam memasyhurkannya dan menyebarkannya di antara mereka untuk mereka jadikan sebagai hujjah terhadap bid’ah mereka dan mereka menggunakannya untuk menghantam orang-orang yang mengingkari mereka.” (Lihat Adabut-Tholab hal. 43)
Alloh  berfirman:
﴿لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لَا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا * مَلْعُونِينَ أَيْنَمَا ثُقِفُوا أُخِذُوا وَقُتِّلُوا تَقْتِيلًا * سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا﴾ [الأحزاب/60-62]،
“Apabila tidak berhenti orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit dalam hati mereka dan orang-orang yang menyebarkan kedustaan di Madinah, maka pastilah kami akan membuat kalian berkuasa terhadap mereka, kemudian mereka tidak akan menjadi tetangga kalian di Madinah kecuali sebentar saja. Di mana saja mereka berada, mereka terlaknat, tertangkap dan diperangi dengan sebenar-benarnya. Itu adalah sunnatulloh pada orang-orang yang terdahulu dn kalian tidak akan mendapatkan pengganti bagi sunnatulloh.” (QS. Al-Ahzab: 60-62)
Alloh  berfirman:
﴿لَقَدِ ابْتَغَوُا الْفِتْنَةَ مِنْ قَبْلُ وَقَلَّبُوا لَكَ الْأُمُورَ حَتَّى جَاءَ الْحَقُّ وَظَهَرَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَارِهُونَ﴾ [التوبة/48]
“Dan sungguh dari dulu mereka telah mengharapkan terjadinya fitnah dan mereka membolak-balikkan perkara sampai datanglah kebenaran sedang mereka dalam keadaan tidak senang.” (QS. At-Taubah: 43)
Dan Rosululloh  bersabda:
«من قال في مؤمن ما ليس فيه أسكنه الله ردغة الخبال حتى يرجع مما قال».
“Siapa yang berkata tentang seorang mukmin apa-apa yang tidak ada padanya, maka Alloh akan menempatkannya dalam keringatnya penduduk neraka.” (HR. Abu Daud dari hadits Ibnu Umar rodhiyallohu ‘anhu dan dishohihkan oleh Imam Mujaddid Al-Wadi’iy rohimahulloh)
Dan akan datang pemaparan contoh dari uslub-uslub mereka pada tempatnya yang mana hal ini menyebabkan sebagian penuntut ilmu meninggalkan Darul Hadits dan meninggalkan menuntut ilmu, sampai-sampai sebagian mereka yang terusir dari Darul Hadits memberikan ucapan selamat terhadap sebagian yang lain , dan dalam hal itu mereka mempunyai ibarat-ibarat yang masyhur di antaranya:
1. Tatkala Abul Khotthob Al-Libby diusir, Yasin Al-Adany berkata kepadanya: “Kamu sungguh beruntung , wahai Abul Khotthob.” Maka Abul Khotthob berkata: “Itu adalah keutamaan Alloh yang Ia berikan kepada siapa yang Ia kehendaki.” Bersaksi akan hal ini Utsman Al-Jazairi di hadapan ikhwan Aljazair.
Dan tatkala Yasin Al-Adany diusir dia berkata: “Visaku telah keluar.” Sebagaimana dinukil oleh Kamal Al-Adany.
2. Abdul Hakim An-Nakhoby berkata: “Pengusiranku dari Dammaj adalah karomah.” Hal ini persis apa yang dikatakan oleh salah seorang pengikut Al-Bakry tatkala dia keluar dari Dammaj dan melewati kampung terdekat dari Dammaj (Al-Abdin). Ia pun menarik nafas yang panjang dan berkata: “Alhamdulillah, yang telah mengeluarkanku dan menyelamatkanku dari Dammaj.”
Hal itu adalah disebabkan tersebarnya khobar-khobar yang dianggap sebagai ushlub yang hina yang digunakan oleh ahlul fitan dan hizbyyyun di zaman ini untuk melawan da’i-da’i kebenaran sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Allamah Al-Mujahid Robi’ bin Hadi Al-Madkholi di dalam kitabnya “Jama’ah Wahidah Laa Jama’aat wa Shirot Wahid Laa Asyaroot” hal. 70 dan “Roddu Kullil-Mungkarot wal-Ahwaa’” hal. 44-45.
B. Menghadang orang-orang yang ingin berkunjung ke Darul Hadits Dammaj untuk menuntut ilmu dari berbagai tempat dan mencegat mereka, dengan cara berusaha memuliakan mereka sebelum sampainya mereka ke Dammaj, dan hal itu dengan cara membangkitkan kemarahan mereka terhadap Darul Hadits Dammaj dan Syaikhnya.
Alloh  berfirman:
﴿وَلَا تَقْعُدُوا بِكُلِّ صِرَاطٍ تُوعِدُونَ وَتَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آَمَنَ بِهِ وَتَبْغُونَهَا عِوَجًا وَاذْكُرُوا إِذْ كُنْتُمْ قَلِيلًا فَكَثَّرَكُمْ وَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ﴾ [الأعراف/86]،
“Dan janganlah kalian duduk-duduk di setiap jalan, kalian mengancam dan menghalang-halangi orang-orang yang beriman kepada Nabi Syu’aib dari jalan Alloh. Dan kalian menginginkan agar jalan Alloh menjadi bengkok dan ingatlah tatkala kalian masih sedikit, maka Alloh pun membuat kalian menjadi banyak dan lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-A’rof: 86)
وقال تعالى: ﴿وَتَذُوقُوا السُّوءَ بِمَا صَدَدْتُمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَلَكُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ﴾ [النحل/94].
“Dan kalian akan merasakan kejelekan disebabkan karena kalian menghalang-halangi manusia dari jalan Alloh dan bagi kalianlah siksaan yang besar.” (QS. An-Nahl: 94)
Berkata Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh dalam kitabnya “Miftah Daaris-Sa’adah” (1/160). Beliau membicarakan tentang sekelompok manusia yang mana hilangnya agama Islam ini disebabkan oleh tangan mereka: “Kelompok yang keempat: wakil-wakil iblis di muka bumi, mereka adalah orang-orang yang menghalangi manusia dari menuntut ilmu dan tafaqquh dalam agama, maka mereka itu lebih berbahaya dari syaithon-syaithon dari jenis jin karena mereka menghalang-halangi antara hati-hati manusia, petunjuk Alloh dan jalan-jalan-Nya… Dan mereka semua berada di tepi api neraka, dan di atas jalan kebinasaan dan tidaklah seorang alim dan da’i kepada Alloh dan Rosul-Nya mendapatkan gangguan dan perlawanan kecuali karena ulah tangan-tangan mereka. Dan Alloh melakukan terhadap siapa saja yang Ia kehendaki dalam kemurkaannya sebagaimana ia melakukan kepada siapa yang Ia cintai dalam keridhoan-Nya. Sesungguhnya Ia itu Khobir (Maha Mengetahui) dan Bashir (Maha Melihat) terhadap hamba-hamba-Nya.”
Dan beliau berkata juga di dalam ‘Madarijus-Salikin’ (2/464): “Dan tidaklah melarang dari ilmu kecuali para penyamun di antara mereka dan wakil-wakil iblis.”
Adapun pemaparan contoh-contoh yang tersebut sangat panjang, di antara contoh-contohnya adalah:
1. Bahwasanya sekelompok orang-orang asing dari Perancis, Al-Jazair dan juga salah seorang dari negeri Cina telah berkunjung ke Yaman untuk menuntut ilmu di Darul Hadits Dammaj, maka tak disadari mereka duduk dengan para penyamun di Shon’a sebelum sampainya mereka dan akhirnya memalingkan perjalan mereka ke Dammaj. Adapun orang-orang yang ingin berkunjung ke Dammaj yang datang dari Yaman sendiri maka hal itu sering terjadi, sebagaimana hal itu dilakukan orang-orang yang sebelum mereka dari para pengikut Abul Hasan dan Sholeh Al-Bakry.
2. Berkata Akh Rosyid Al-Jazairy At-Tilmisany dan Akh Abdul Karim Al-Habasyi: “Bahwasanya salah seorang ikhwan dari Perancis telah sampai ke Shon’a untuk menuju ke Dammaj, maka ia pun dicegah oleh Umar Al-Maghribi –salah seorang yang diusir dari Dammaj disebabkan ta’ashub- dan temannya Nuruddin Al-Maghribi –salah seorang yang keluar dari Dammaj karena kemauannya sendiri- maka mereka pun mengobarkan kemarahannya tehadap Syaikhuna Yahya dan memalingkannya untuk melanjutkan perjalanannya dengan berbagai macam kedustaan dan khobar-khobar batil yang disebar-sebarkan, maka ia pun meminta nasehat kepada Syaikh As-Saumaly akan hal ini, maka Syaikh Shoumaly pun menganjurkan untuk melanjutkan perjalanannya ke Dammaj. Maka kedua orang tersebut mencegahnya untuk kedua kalinya dan ia mengabarkan akan nasehat Syaikh As-Shoumaly. Maka keduanya mencela Syaikh As-Shoumaly, maka ia pun tertipu oleh kedua orang tersebut dan mengurungkan niatnya pergi ke Dammaj menuju ke Mesir.
3. Dan termasuk yang menguatkan akan hal itu adalah banyaknya pertanyaan dari para penuntut ilmu dari berbagai negara terhadap Al-Allamah Al-Mujahid Robi’ bin Hadi Al-Madkholi tentang Dammaj dan belajar di sana dan ini adalah perkara yang dimaklumi dan sudah masyhur.
4. Inilah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Banna حفظه الله ditanya tentang apa yang diakui oleh sebagian mereka bahwa ahlus sunnah di Dammaj telah melakukan perubahan dan pergantian setelah Syaikh Muqbil رحمه الله , maka beliau pun menjawab: “Demi Alloh, saya tidak tahu apa yang akan saya katakan. Demi Alloh, -sekarang- tempat yang paling baik yang kalian inginkan untuk belajar tentang manhaj salaf secara hakekatnya dengan ilmu dan amal adalah Dammaj. Demi Alloh, Makkah sekarang telah dimasuki oleh Ikhwanul Muslimin dan mereka telah merusaknya. Demi Alloh tempat yang sangat dibutuhkan untuk mempelajari salafiyah yang shohih dengan amal adalah di Dammaj.” Perkataannya ini terekam dan tersebar di website Al-Ulum As-Salafiyah.
Dan kenyataan yang semisal ini banyak terjadi lebih-lebih di Shon’a, karena di sana ada sekelompok orang-orang yang ta’ashub menghadang orang-orang yang akan berkunjung menuju ke Darul Hadits Dammaj dari orang asing dan memalingkannya.
Kesimpulan dari apa yang telah lalu dalam point ini adalah: sebagaimana yang telah lalu dalam penjelasan tentang perencanaan fitnah bahwa Abdurrohman Al-Adany sebelum terjadinya fitnah menasehati sebagian orang yang meminta pendapat kepadanya agar tidak membeli tanah atau rumah di Dammaj. Dan kami tidak melihat Abdurrohman Al-Adany setelah terjadinya fitnah mempunyai mauqif dalam bentuk nasehat atau tahdzir terhadap apa-apa yang telah disebutkan di atas berupa penyebaran khobar-khobar, membuat orang lari, mentahdzir dan meninggalkan menuntut ilmu di Dammaj bahkan para tokoh-tokoh fitnah dari orang-orang dekatnya tidak merealisasikan atau mewujudkan bentuk baro’nya secara lisan -menurut sangkaannya- dengan perbuatan sebagaimana telah lalu penjelasan hal itu.
Dan yang lebih jelas dari itu bahwa Akh Hani Abul Jaroh Al-Kuwaity Al-Adany terjadi pembicaraan antara dia dengan Abdurrohman Al-Adany di sepuluh terakhir bulan Sya’ban 1429H. Akh Hani berkata: “Kami menuju ke Syaikh Abdurrohman di Fuyusy, saya dan salah seorang ikhwah, maka saya mengabarkan kepada Abdurrohman agar ia menasehati ikhwan yang ada di sekitarnya, karena mereka sangat fanatik dan membicarakan Syaikh Yahya dengan kejelekan dan mentahdzir dari Dammaj seperti Al-Qodasy dan lain-lainnya. Maka ia menjawab: “Wahai Akh Hani, kamu sudah lama meninggalkan Yaman dan kamu tidak tahu kenyataan yang terjadi di sekitarmu. Saya nasehati kamu agar tidak berbenturan dengan ikhwan. Biarkan kamu diam sendiri, perkara akan jelas insya Alloh.”
Ini adalah bukti yang sangat jelas akan iqrornya Abdurrohman dan keridhoannya dengan apa yang terjadi dari orang-orang yang ta’ashub kepadanya terhadap Syaikh mereka Syaikh Yahya dan Darul Hadits Dammaj. Maka di mana bukti kebenaran perkataannya terhadap apa yang dikatakannya dalam ‘Bayan Al-Hudaidah’ tatkala ia berkata : “Sesungguhnya saya berlepas diri kepada Alloh dari setiap keributan dan celaan melawan markaz Dammaj dan Syaikh Yahya dan siap yang melakukan hal itu sesungguhnya ia sedang menggambarkan dirinya dan bukanlah menggambarkan akan diriku.”
Maka dari sini diketahui bahwa orang-orang yang mencela Syaikh Yahya pada kenyataannya adalah mereka itu sedang menggambarkan Abdurrohman Al-Adany, kemudian dan tidaklah sumpahnya yang ia katakan dalam “Ta’liqot Al-Mardhiyah”-nya kecuali sebagai bukti tentang hal itu.
6. Celaan bertubi-tubi terhadap Syaikhuna Yahya dan berusaha untuk menebar fitnah di Darul Hadits Dammaj Pusat Dakwah Salafiyah yang murni
Alloh  befirman :
﴿وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا﴾ [الأحزاب/58].
“Dan orang-orang yang menyakiti kaum mukminin dan mukminat tanpa dosa yang mereka lakukan, maka sungguh mereka telah menanggung kedustaan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)
Rosululloh  bersabda:
«إن الله قال من عادى لي وليا فقد آذنته بالحرب»
“Sesungguhnya Alloh telah berkata: “Siapa yang memusuhi wali-wali-Ku, maka Saya telah mengumumkan peperangan kepadanya.” (HR. Bukhory 5/2384 dari hadits Abu Huroiroh)
Sesungguhnya tanda yang paling nampak dari fitnah yang terencana ini yang mana fitnah ini mengarahkan kepada suatu hal yang membahayakan dan tanda yang paling jelas yang mana tanda ini dimulai oleh setiap orang yang ingin mengobarkan fitnah terhadap dakwah salafiyah dari kelompok Ikhwanul Muslimin dan keturunan-keturunannya dari Sururiyyah, Quthbiyah, pengikut Abul Hasan dan orang-orang yang menempuh jalan mereka dari ashhabul fitan seperti Sholeh Bakry.
Awal bangkitnya fitnah mereka dilancarkan kepada para tokoh dakwah salafiyah dan para penjaganya dengan menyebarkan celaan dan tuduhan-tuduhan yang keji terhadap mereka, melemparkan tuduhan-tuduhan yang menyebabkan umat lari dari mereka dan menisbahkan kedustaan-kedustaan dan kebatilan-kebatilan kepada mereka dan menyebarkan perkataan-perkataan bohong dengan tujuan untuk membuat kesan buruk , untuk merusak citra baik mereka , karena dengan jatuhnya mereka mengharuskan jatuhnya al-haq yang mereka bawa sebab mereka adalah batu rintangan yang sulit diatasi yang merintangi jalan mereka.
Perlu diketahui bahwasanya celaan terhadap da’i-da’i kebenaran dan berusaha untuk menjatuhkan mereka adalah salah satu metode dari metodenya hizbyyun, yang mengarahkan kepada jatuhnya manhaj salaf, dengan menjatuhkan orang-orangnya, yang mana hal ini adalah pemikiran yahudiyah masuniyah rofidhoh: Apabila kamu ingin menjatuhkan suatu pemikiran, maka kamu harus menjatuhkan tokoh-tokohnya . Faidah ini disebutkan oleh Al-Allamah Al-Mujahid Robi’ bin Hadi Al-Madkholi dalam kitabnya “Al-Hatstsu ‘alal Mawaddah wal I’tilaf” dan “Roddu Kullil Munkaroot wal Ahwaa’”.
Dan Alloh telah melarang kita untuk mentaati dan menyerupai mereka:
﴿وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ﴾ [الحشر/19]
“Dan jangnlah kalian menjadi orang-orang yang lupa terhadap Alloh, maka Alloh pun menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19)
﴿وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ * هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ * مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ* عُتُلٍّ بَعْدَ ذَلِكَ زَنِيمٍ﴾ [القلم/10-13].
“Dan jangnlah kalian mentaati setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina yang banyak mencela yang berjalan kesana kemari melakukan namimah yang enggan untuk berbuat baik, melampaui batas, lagi banyak dosanya. Yang kasar, setelah itu terkenal kejahatannya.” (QS. Al-Qolam: 10-13)
Abdurrohman Al-Adany dan saudaranya Abdulloh dan orang-orang yang ta’ashub kepada mereka berdua telah menempuh jalan ini sedikit demi sedikit. Inilah beberapa contoh celaan-celaan yang mereka lakukan terhadap Syaikh Yahya, Darul Hadits Dammaj dan kepada para penuntut ilmu di Dammaj.
1. Abdurrohman Al-Adany menuduh Syaikh Yahya حفظه الله dengan beberapa perkara di antaranya:
a. Menuduhnya dengan pendusta, keras kepala, takabbur, penipu, mencerca agamanya dan kesholihannya dan tuduhannya dengan kemunafikan dan semua ini tertulis dalam perkataannya yang ia namakan dengan ‘Ta’liqotul Mardhiyah’ ia berkata: “Saya bersumpah dengan nama Alloh yang Azhim (Maha Agung) bahwasanya saya tidak mengetahui seorang pun –semenjak saya menuntut ilmu sampai sekarang- yang menisbahkan dirinya kepada ilmu dan kesholihan yang lebih keji dan pendendam dalam perselisihan, lebih besar dustanya, penipuannya dan makarnya dari Yahya bin Ali Al-Hajury dan dia dengan sifat-sifatnya itu sangat berhati-hati agar tidak nampak, akan tetapi Alloh enggan kecuali akan membongkar orang-orang yang melakukan kebatilan. Dan Maha Benar Alloh tatkala berfirman:
﴿والله مخرج ما كنتم تكتمون﴾
“Dan Alloh akan mengeluarkan apa-apa yang kalian sembunyikan.”
Dan alangkah indahnya orang yang berkata:
ومهما تكن عند امرئ من خليقة وإن خالها تخفى على الناس تعلم
“Dan meskipun pada seseorang itu ada suatu sifat walaupun ia biarkan tersembunyi pasti akan diketahui oleh manusia.”
b. Menuduh Syaikh Yahya حفظه الله dengan makar.
Akh Ahmad bin Sa’id Asy-Syu’aby berkata: “Abdurrohman Al-Adany berkata: “Kamu wahai Ahmad, dengan siapa yang duduk di atas kursi, telah sampai kepada kami bahwa kamu bersama kami dan sekarang keadaanmu telah berubah.” Kemudian dia menyebutkan bahwa makar itu telah gagal dan menyebutkan tanda-tanda makarnya dan bahwa Falih dan Bakry dengan sebab kedzoliman mereka dan perkataan mereka pada ahlul ilmi mereka jatuh dan kamu tahu bahwa telah turun tanda makar terhadap Syaikh Yahya.
c. Menuduh Syaikh Yahya حفظه الله dungu.
Berkata Abdurrohman Al-Adany kepada sebagian ikhwan di antaranya Thoriq Al-Ba’dani, Muhammad As-Suury dan Muhammad Al-Urduny setelah mereka menyampaikan nasehat dan Muhammad Al-Urduny setelah mereka menyampaikan nasehat Syaikh Yahya: “Kedunguan apa ini?! Ia telah menundukkan kalian, ia telah mempengaruhi kalian (yang dimaksud adalah Syaikh Yahya).”
d. Penghinaannya terhadap Syaikh Yahya حفظه الله dan pengingkarannya terhadap kemampuan ilmiahnya.
Berkata Akh Ahmad bin Ali bin Syuwaid Al-Hasyidy: “Awal kali yang diucapkan Abdurrohman, Al-‘Adny terhadapku: “Hakikatnya, kita dipimpin oleh salah seorang yang paling kecil ilmunya terhadap kitab dan sunnah, akan tetapi ia ingin menyeret kita, sunnahnya siapa ini, sunnahnya siapa ini,” dan mengulanginya. Yang dimaksud adalah Syaikh Yahya.
e. Menuduh Syaikh Yahya حفظه الله ghuluw.
Akh Abdus Salam Asy-Sya’by berkata: “Taatkala sampai khobar kepada Abdurrohman Al-Adany bahwa Falih mencela Syaikh Yahya, Abdurrohman berkata : “Biarkan ia mengurangi kekerasannya –yakni Syaikh Yahya حفظه الله -.”
Dan telah lalu di point B perkataannya terhadap Ahmad Asy-Syu’aiby.
f. Akh Hamud Al-Wa’ily berkata:“Tatkala Syaikhuna mengingatkan terhadap kesalahan sebagian masyaikh tentang pembelaan mereka terhadap Abul Hasan, Abdurrohman berkata: “Apaa?! Mereka dikafirkan?!” Maka Akh ini menjawab: “Tidak, itu cuma nasehat.”
g. Menisbahkan terjadinya fitnah yang terjadi di Darul Hadits Dammaj kepada Syaikh Yahya حفظه الله .
Abdurrohman Al-Adany berkata dalam tulisannya halaman 9, yang dalam tulisan itu ia membalas nasehat Syaikh Yahya حفظه الله : “Adapun apa yang kamu sebut -mudah-mudahan Alloh memberimu taufiq- tentang sikap beraninya sebagian mereka terhadapmu disebabkan karena pendataan ini, maka harus dicari sebab yang mengharuskan…
Karena itu dan kalau tidak maka sebagian ikhwah di markaz-markaz yang lain telah tercatat bersama ikhwannya dan bersamaan dengan itu tidak terjadi perlakuan yang jelek pada para masyaikh markaz-markaz tersebut. Dan apapun itu maka kami tidak ridho terhadap setiap kebatilan dan permusuhan yang Alloh mengetahui semua itu.
h. Kesungguh-sungguhan terhadap Syaikh Yahya حفظه الله dengan mendo’akan baginya kejelekan
Berkata Al-Akh Al-Jahdary: “Sesungguhnya Abdulloh bin Syahir mengabarkan padanya bahwasanya Abdurrohim Al-Adany bersungguh-sungguh dalam mendo’akan kejelekan bagi Syaikh Yahya.”
i. Tuduhan bahwa Syaikh Yahya حفظه الله adalah teman yang jelek.
Di antara bukti tuduhan tersebut adalah perkataan Abdurrohman Al-Adany pada Al-Akh Kamal: “Wahai Kamal, engkau semenjak setahun ini terjadi perubahan pada dirimu. Engkau berubah banyak karena kedekatanmu dengan Syaikh (yaitu Syaikh Yahya). Engkau berubah…” Aku berkata: “Wahai Syaikh (Abdurrohman), bagaimana aku berubah -demi Alloh- tidaklah saya kecuali dari maktabah (perpustakaan) ke rumah, ke masjid. Bukankah ini nasehatmu bagiku?!” Abdurrohman berkata: “Akan tetapi muncul darimu perubahan yang jelas dan seseorang itu terpengaruh dengan teman duduknya.”
j. Tuduhan pada Syaikh Yahya حفظه الله dengan fanatik jahiliyyah.
Berkata Abdurrohman Al-Adany: “Wahai saudaraku Kamal, Syaikh Yahya tidak menganggap orang-orang ‘Adn dan tidak perduli dengan mereka.”
k. Pelecehan terhadap Syaikh Yahya حفظه الله dan tuduhannya dengan pelecehan terhadap wanita-wanita terhormat (afifah).
Berkata Abdurrohman Al-Adany pada Kamal: “Syaikh Yahya berbicara tentang wanita-wanita ‘Adn. Apa yang mendorong dia melontarkan perkataan ini.”
Berkata Al-Akh Kamal: “Wahai saudaraku para pembaca , ketahuialah bahwa Syaikh Yahya حفظه الله tidak mengatakan perkataan ini dan hanya saja beliau berkata apa yang didengar oleh jamaah di masjid berupa nasehat karena ada khabar yang datang dari sebagian ikhwah ‘Adn (berkaitan dengan para wanita ‘Adn),setelah mereka mendengar nasehat tersebut maka sebagian mereka berkata kami ingin menghapusnya dari kaset.” Berkata Syaikh (Yahya): ” Aku hanya ingin menolong kalian dan menolong al-haq dengannya (nasehat itu ) dan tidak ada padanya sesuatu yang membahayakan kalian sedikitpun ,dan tidak juga memberi manfaat bagi kalian tapi hapuslah seusai keinginan kalian, maka mereka menghapus kalimat tersebut walhamdulillah, maka apa pendorong untuk melakukan kekacauan ini?!
Kita kembali pada permasalahan:
Aku berkata: “Syaikh Yahya tidak bermaksud para wanita salafiyyin. Hanya saja perkataan itu pada wanita-wanita jalanan dan Syaikh Yahya membela mereka karena kecemburuan dan maksud perkataan itu adalah tentang kerusakan dan para pelakunya yang kalian semua itu telah mengetahuinya.” Abdurrohman berkata dengan maksud memojokkan: “Wahai Kamal, tinggalkan basa-basi. Apakah kaset itu sampai pada para wanita jalanan itu?” Aku berkata padanya: “Wahai Syaikh, kalau begitu tidak perlu berbicara tentang para da’i kemaksiatan karena itu tidak akan sampai pada orang-orang yang bermaksiat?” Dia berkata: “Wahai Kamal, tinggalkan basa-basi dan jangan letakkan dirimu sebagai pembela seseorang.” Ketika aku melihat perkara makin panas aku diam dan aku berkata: “Insya Alloh baik.”
Dan telah muncul pula dari sebagian pengikutnya ungkapan-ungkapan yang menunjukkan fanatisme kesukuan dan fanatisme jahiliyyah.
Dari ungkapan-ungkapan tersebut:
 Apa yang dikatakan oleh Al-Akh As-Suary حفظه الله: “Aku bertemu dengan Kholid Murojih Al-Adany di belakang masjid, maka aku berkata padanya: “Semoga Alloh memberkahi markaz baru –yaitu Fuyusy-,” lalu aku berkata: “Insya Alloh akan menjadi seperti fulan dan fulan dan fulan dari penjaga keamanan Darul Hadits di Dammaj.” Berkata Kholid Murojih: “Dan tidak seorang dahbasyi(julukan orang jahat versi Yaman) pun mengatur kita!!!” Dan demikian pula berkata Jamal Al-Adany Al-Yafi’y: “Kami tidak ingin dahbaasyii di markaz Fuyusy.” Dan berkata Al-Akh Abu Hamzah Azwaz حفظه الله bahwa dia mendengar sebagian orang Lahj dari para fanatis Abdurrohman Al-Adany di Dammaj, mereka mengatakan: “Tidak ada dahbasyi setelah hari ini.” Dahbasyi adalah kalimat yang diungkapkan oleh sebagian besar ikhwah di daerah sebelah utara dan ikhwah di daerah selatan dan memaksudkan dengan itu penghinaan dan pengejekan. Wallohulmusta’an.
 Salim Ba Muhriz berkata kepada ikhwah Ahmad Baghouts dan Kholid Ba Khuroishoh dan Abu Imad Nabil Musai’id: “Para Masyaikh Yaman tidak menginginkan berdirinya markaz untuk ikhwah wilayah utara.”
 Dan Sholahuddin Al-Adany – salah seorang yang telah terfitnah – dan salah satu petugas perwakilan berkata kepada Al-Akh Abu Muhammad Al-Urduniy – semoga Alloh menjaganya dan dia adalah salah satu thullab dari Dammaj -: “Kamu itu orang asing yang ikut campur persoalan kita.”
2. Adapun celaan-celaan Abdulloh bin Mar’i adalah:
 Abdulloh bin Mar’i berkata tentang Syaikh Yahya حفظه الله: “Gila, tolol, nggak tahu apa yang keluar dari kepalanya, nggak punya adab, dakwah ini ditakutkan (runtuhnya) dari Syaikh Yahya.” Saksinya adalah Abu Bilal Kholid bin Abud Ba Amir Al-Hadhromy dan selainnya. Ketika Abu Bilal Al-Hadhromy mengabarkan Abdurrohman bahwa saudaranya Abdulloh bin Mar’i mencela Syaikh Yahya, dia berkata: “Engkau tahu bahwa kakakku nggak suka Syaikh Yahya.”
 Dan berkata Abdulloh bin Mar’i: “Saya tidak percaya dengan ilmunya atau fatwanya -yaitu Syaikh Yahya-.” Persaksian Abul ‘Abbas Asy-Syihry. Dan berapa banyak pelecehan terhadap Syaikh Yahya dan celaan padanya. Lihatlah pada bukti-buktinya dalam risalah (karangan) Abdulloh Mar’i “Al-Mi’yaar” dan terkadang dia datang ke Dammaj tanpa menyalami dan menyapa Syaikh atau mengunjunginya.
3. Pelecehan Salim Ba Muhriz terhadap Syaikh Yahya:
 Berkata Salim Ba Muhriz pada pertengahan tahun 1423H: “Kita sudah usai dari Abul Hasan dan giliran selanjutnya pada Hajury.” Dan telah lewat penyebutan saksi-saksinya hal. 4 no. 3.
 Berkata Salim Ba Muhriz: “Syaikh Yahya menempuh cara yang tidak bagus dalam menyampaikan nasehat, bahkan dia memakai cara Falih Al-Harby. Perkataan ini berulang kali dalam majelis lebih dari satu kali.” Menyaksikan yang demikian itu Abul Abbas Luthfi Khoirulloh Al-Ghoily, Sa’id Ba Salamah dan Zakaria bin Masduf.
 Berkata Salim Ba Muhriz: “Yahya bukan ahli untuk menjarh.” Lihat kaset “Salim Ba Muhriz
Seperti Orang Awam.”
4- Pelecehan Hani bin Buroik.
a. Sindiran Hani bin Buroik tentang kemurtadan Syaikh Yahya.
Berdasarkan atas komentar Syaikh Yahya atas kitab kecil “At-Tuhaf fii Madzahibis-Salaf” bahwa kitab kecil ini bisa dibaca dalam satu malam saja , dan Hani Buroik menyamakan komentar syaikh Yahya itu seperti perkataan Muhammad Surur: “Sesungguhnya kitab-kitab ‘aqidah adalah kitab-kitab yang kaku dan kering.” Dan perkataan Salman Al-Audah: “Sesungguhnya aqidah tauhid itu bisa dijelaskan dengan jangka waktu sepuluh menit.” Dan meletakkan fatwa Syaikh Bin Bazz yang tidak lengkap ditujukan kepada Syaikh Yahya secara bersambung ,yang sebenarnya maksud dari perkataan tersebut ditujukan untuk Muhammad Surur, maka (Hani) meletakkan perkataan ini untuk setiap perkataan –perkataan yang lain dengan kedustaan, (menyamaratakan). dan itu terekam dengan suaranya dan tersebar di webnet Al-Ulumus-Salafiyyah.
b. Perkataan Hani bin Buroik pada Akh Hani Al-Kuwaity: “Kita membicarakan Al-Hajury dan dan kita bongkar dia (kesalahan-kesalahannya) sebagai landasan agar ulama berbicara terhadapnya.”
c. Tuduhan Hani bin Buraik terhadap Syaikh Yahya dengan kedustaan. Dan itu terekam dengan suaranya dan tersebar di webnet Al-Ulumus-Salafiyyah.
d. Tuduhan Hani bin Buraik bahwasa Syaikh Yahya adalah penyeru perpecahan dan fitnah. Ini terekam dengan suaranya.
e. Penyifatan Hani bin Buraik terhadap Syaikh Yahya bahwasanya dia itu orang yang jahat . dalam kasetnya yang terdahulu.
5- Pelecehan Abul Harits Muhammad bin Gholib terhadap Syaikh Yahya:
a. Sindiran dan pelecehannya terhadap Syaikh Yahya dan niatnya , bahwasanya dia ingin merendahkan orang yang dia nasehati , sebagaimana dia berbicara dalam kaset yang terekam dengan suaranya dalam syarah hadits “Ad-Dien adalah nasehat.” Dia berkata setelah menyebutkan pengertian orang pandai dan baik dalam memberi nasehat:“Dan definisi ini lebih mencakup dan melingkup, karena ada sebagian orang yang menyerukan nasehat namun sebenarnya ia menginginkan pelecehan (membuka kedok), tidak ada kesesuaian antara niatnya dengan perbuatannya, dan tidaklah perbuatan dan niatnya dalam rangka nasehat, semuanya menurut dia itu sama. Niatnya penghinaan akan tetapi ucapannya dan perkataannya yang nampak diluar adalah nasehat.”
b. Tuduhan terhadap Syaikh Yahya dengan penyelewengan dalam metode pengkritikan bahwasanya Syaikh Yahya tidak terarah dalam dakwaannya. Di mana dia berkata pada kaset yang sama: ” bahwa orang ini tidak terarah dan tidak karuan dalam menjarah dia dengan seenak perutnya mengeluarkan seseorang dari ahlussunnah atau memasukkan seseorang ke ahlussunnah sepertinya dia adalah pemegang kerah pintu-pintu sunnah memasukkan siapa yang dia inginkan dan mengeluarkan siapa yang ia inginkan tanpa adanya ketentuan dan menjaga perasaan. Ini bukanlah sunnahnya Rosululloh…,”dst.
6. Pelecehan Arofat Al-Basry Al-Mahmady:
a. Tuduhannya dengan dajjal dan kebohongan.
Berkata Arofat dalam sebuah muhadhoroh sebagaimana dalam kaset yang terdahulu:” Fitnah terakhir ini yang paling tampak tanda-tandanya adalah kebohongan. Demi Alloh, wahai saudara-saudaraku dan sifatnya yang paling jelas adalah kebohongan. Dua hari yang lalu saya mendegar kasetnya Imam dua jenis makhluk (jin dan manusia) di sisi mereka sebagaimana para penyair mensifatinya sebagai imam jin dan manusia . Dia berkata – memaksudkan Syaikh Yahya-: “Alhamdulillah, wahai ikhwan ‘Adn tidak tersisa bersama mereka kecuali masjid al-muhajirin dan al-anshor dua masjid masuk ‘Adn seluruhnya. Dan setelah menyampaikan padaku Syaikh yang mulia pemegang (masjid) Al-Buromiqoh bahwa dakwah ditangannya demikian dia mengatakan: “Alhamdulillah, dakwah ini di tangan sifulan dan itu di tangan yang lain sementara Ubaid Al-Jabiry kasihan dia, masuk dan keluar ‘Adn tidak ada yang memuliakannya dari penduduk ‘Adn”. Apa-apan ini, ini kebohongan ?! Dan dajjal tidak takut kepada Alloh – yakni mereka telah sampai tingkatan/tahap ini mendustakan kenyataan dengan kedustaan yang banyak yang tiada hentinya , kedustaan yang di lakukan orang-orang yang awam. Hendaknya dia merasa malu dan gentar(melakukan kedustaan ini).
b. Dia mengatakan: “Dia telah berdusta atas Syaikh Robi’ tiga kedustaan dengan mengatakan: “Syaikh Robi’ berkata: “Sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang fajir, ini adalah dusta. Demi Alloh dia tidak mengatakannya dan saudaraku Abul Harits termasuk orang-orang yang mendengar Syaikh Robi’ mengatakan apa-apa yang engkau katakan ini dan juga berdusta atasnya (Syaikh Robi’) ketika dia mengatakan bahwa beliau berkata: “Beliau tidak mengharuskanku dengan sesuatu pada pertemuan di Mekkah dan ini adalah kebohongan padahal mereka mengharuskan dia dengan sesuatu, dan mengatakan sesungguhnya Al-Wushoby dialah yang memimpin markaz Fuyusy. Berkata Syaikh Robi’: “Sesungguhnya pimpinannya adalah Al-Wushoby dan ini adalah dusta. Semuanya ini adalah kedustaan semata.”
c. Celaannya terhadap Syaikh Yahya dan tuduhannya terhadap murid-murid Dammaj dengan Irja’ (pemahaman murji’ah) dan pensucian mereka terhadap Syaikh Yahya sebagaimana pensucian kaum musyrik terhadap Hubal (salah satu berhala sesembahan mereka), sebagaimana dalam kasetnya ‘Syarah Hadits Nasehat’, mengatakan: “Karena ini engkau datang pada ikhwanul muslimin. Katakan kepada mereka: “Kemari, lihatlah kaset-kaset dan kitab-kitab kalian dari kesesatan , kebid’ahan-kebid’ahan dan kekufuran dan engkau akan dapati mereka menghiasi pandangan-pandangan mereka. Sebutkan padanya kesalahan-kesalahan Hasan Al-Banna dan Umar At-Tilmisani dan sebutkan pada mereka kesesatan-kesesatan yang ada dalam kitab-kitab mereka dan sebutkan pada mereka penyelisihan mereka terhadap kaedah-kaedah usul. Selamanya mereka tidak akan menggerakkan air yang tenang : menghiasi mereka: “mereka adalah syuhada’” “mereka adalah ulama”, “mereka adalah para pemikir” dan “kitab-kitab mereka adalah sebaik-baik kitab”. Ini adalah keadaan mereka, maka ini adalah irja’ . Mereka terjerumus dalam irja’,” katakan padanya: “Sayid Qutb mengkafirkan shohabat, mencela Mu’awiyah dan mengkafirkannya dan mencela Utsman dan mencela Amr bin Ash dan mengkafirkan ummat seluruhnya dan menghukumi atas mereka dengan riddah.” Dia akan mengatakan padamu: “Selamanya dia adalah mujahid syahid, maka ini adalah hakekat Irja. Yang mana tidak berpengaruh keimaanan Sayid Qutb dengan kebid`ahan yang ada padanya. Selamanya tetap saja dia adalah imam yang suci. Agungkan Hubal, Tinggikan Hubal. Di atas cara ini, maka ini adalah benar – benar irja’… dst.
6. Pelecehan Ali Al-Hudzaify Al-Adany terhadap Syaikh Yahya حفظه الله:
a. Sindirannya terhadap Syaikh Yahya bahwasanya dia tidak terarah dalam dakwahnya dan ini terekam dengan suaranya sebagaimana dia mengatakan: “Apakah tergolong faqih jika engkau tahan nasehat dan engkau tinggalkan adab-adab nasehat dan dan syarat-syaratnya?” Perhatikanlah wahai saudara-saudara, berhati-hatilah (3x). Ambillah kaidah dengan syarat-syaratnya. Dan jangan kalian tidak terarah sebagaimana tidak terarahnya sebagian orang.”
b. Sindiran untuk nasehat-nasehat Syaikh Yahya حفظه الله dan bahwa dia menunggu-nunggu celaka orang yang dinasehati dan menginginkan di belakang itu agar diketahui kejelekannya oleh orang banyak dan menginginkan agar yang dinasehati lenyap, dan pelecehan terhadap Syaikh Yahya حفظه الله bahwa beliaulah yang memecah belah dakwah dan dia menyakiti para ulama dan orang-orang sholeh dan mushlihin (orang-orang yang berbuat perbaikan) dengan metode dakwahnya dan tidak mempedulikan keutuhan dakwah . Dan dia menuduh mereka bahwasanya mereka itu mengejar dunia sementara saya adalah penasehat bagi orang-orang muslim saja dan dia berburuk sangka terhadap orang-orang muslim, sebagaimana dia mengatakan: “…Berapa banyak nasehat muncul dengan pakaian bernama nasehat, padahal pada hakekatnya adalah pemusnahan ,untuk melenyapkan Zaid atau Amr, dan berapa banyak nasehat secara lahiriah dan berbaju nasehat namun hakekat sebenarnya –barokallohu fiikum- adalah tasyhir (memasyhurkan kesalahan-kesalahan yang dinasehati).
Jika seseorang yang menunggu-nunggu kehancuranmu kemudian ketika datang permasalahan dia datang dengan nama pemberi nasehat, padahal dia yang mencabik-cabik dakwah dan dan manusia semua berada di balik dinding , sementara para ulama dan orang-orang yang sholeh mereka tidak perduli dengan dakwah dan tidak memperhatikan dakwah, mengejar dunia dan saya hanya adalah seorang pemberi nasehat bagi muslimin, yang aku memecah belah dakwah dan saya berburuk sangka terhadap muslimin. Dan saya yang berbolak-balik di atas tempat tidur (merasa prihatin akan keadaan dakwah),
Demi Alloh wajib atas kita untuk bertakwa kepada Alloh, wajib atas kita untuk berburuk sangka pada diri kita, dan berbaik sangka terhadap ahlul ilmi. Keadaanmu itu sebagai tholabul ilmi, yang suka berbaik sangka terhadap dirimu sendiri dan berburuk sangka pada yang lainnya, atau saya yang menasehati dan yang terbakar dan tercabik-cabik dan mereka dikekang perut-perut mereka… dan berbaik sangka terhadap dirimu sendiri yang rendah dan engkau berburuk sangka terhadap yang lain. Ini -demi Alloh- ketidakadaannya taufiq dari Alloh untukmu.
c. Tuduhan terhadap Syaikh yahya bahwasanya beliau ingin sebagai nara sumber utama dalam berfatwa dan sebagai tempat rujukan kalau ada permasalahan dan dia menginginkan agar segala sesuatu miliknya sebagaimana penukilan yang didengar langsung oleh Abdurrohman Al-Ja’ry حفظه الله .
Adapun caci maki para fanatisme Abdurrohman Al-Adany, maka sangatlah banyak , kita sebutkan secara ringkas saja.
(7) – Apa yang dikatakan oleh salah seorang yang pro Abdurrohman yaitu Abdurrohman Al-Amiri Al-Yafi’y dalam buletinnya yang berjudul “Khothorul-Fitnatil-Haliqoh Liddin Al-Lati Ajjajaha wa Adhromaha Yahya bin Ali Al-Hajury bainas-Salafiyyin.” Celaan-celaan yang dituduhkan oleh Al-Amiri kepada Syaikh Yahya: “ Dia itu orang yang terburu-buru, tidak kokoh, suka membawa kebohongan, pengin jadi pemimpin, dia mempunyai tujuan pribadi dalam fitnah Abdurrohman, dia dengki terhadap Abdurrohman, kawan duduknya jelek, pengalaman dia dalam dakwah sedikit, angkuh tidak mau menerima kebenaran, lisannya kotor, tolol, pentolan fitnah sekaligus provokator fitnah,suka melaknat, mencela, mencerca, berbuat kekejian, lisannya bengkok, durhaka, pembual, bahkan dia mengungguli Al-Bakry dalam tindakannya yang ghuluw (berlebih-lebihan), berdusta dan mencerca ulama sampai-sampai bisa mengakibatkan peperangan, sudah melampaui batas, dholim, pendebat, mempunyai kesalahan-kesalahan dalam aqidah, mengunggulkan dirinya sendiri, tidak mempunyai kadar ilmu dan tidak mengetahui kadar persaudaraan tidak ada rasa murah hati dan ketabahan, tidak punya sifat ramah dan sabar, mengada-ada, memperkecil dan merendahkan para ulama, dia menyerupai ahlul bid’ah bahkan dia menyerupai Hammad bin Sulaiman dan Az-Zamakhsyary, pemutus barisan, dia melompat ke kursi Al-Wadi’y, belum bisa membersihkan dirinya dari celaan dan cercaan, dungu.”
(8) – Di antara cercaan-cercaan Yasin Al-Adany -salah seorang pentolan fitnah ini-:
a. Ketika dikatakan padanya: “Kami merasa senang kalau kamu bersyukur kepada Syaikh Yahya karena dia telah memberikan resensi pada kitabmu.” Komentarnya: “Sesungguhnya saya ini benar-benar membencinya. Saya tidak ingin melihat wajahnya.” Ini disaksikan oleh Akh Muhammad Al-‘Amudy.
b. Katanya disaat mengomentari ucapan seseorang: “Syaikh (Syaikh Yahya) sedang sakit, semoga Alloh melenyapkannya.” Ini disaksikan oleh Abdurrohman bin Da’as.
c. Di antara ucapannya: “Seandainya mereka mengetahui kadar dan kemampuan yang ada pada diri mereka (yaitu Syaikh Yahya dan Syaikh Jamil Ash-Shulwi -beliau pengganti Syaikh Yahya (mengajar) ketika Syaikh tidak ada-), mereka tidak akan memperpanjang pelajarannya.” Ini disaksikan oleh Abdulloh Al-Jahdary.
d. Setelah Syaikh Yahya memberikan nasehat kepadanya yang berkaitan dengan fitnah ini, komentarnya: “Perkataan Syaikh tidak bisa menggoyangkan satu rambut pun yang ada di kepala saya.”
e. Di antara ucapannya: “Tidaklah Syaikh Yahya mempersoalkan Syaikh Abdurrohman kecuali tujuan dunia.”
f. Setelah Syaikh Yahya memanggilnya sekaligus menasehatinya, lalu dia berkomentar: “Syaikh itu tidaklah menginginkan kecuali memperburuk muka saya.” Ini disaksikan oleh Abdurrohman bin Da’as.
g. Di antara ucapannya: “Syaikh Yahya itu bohong.” Ini disaksikan oleh Abdurrohman Asy-Syaibany dan juga dia menulis seperti ini berbentuk SMS yang ditujukan ke Shodiq Al-Baity.
h. Di antara ucapannya dalam rangka menyoroti Syaikh kalau dia itu menyendiri : “Lihatlah di mana Syaikh Yahya dan di mana masyaikh.”
i. Di antara ucapannya : “Kata Syaikh Yahya : “Kami bersama para ulama. Sekarang mana dia dari para ulama.” Ini disaksikan oleh Syuhaib At-Ta’izy dan selainnya.
(9) – Kata Muhammad Ja’far Al-Adany : “Kalau seandainya Syaikh Yahya mempunyai agama, kenapa dia tergesa-gesa untuk mempersoalkan Farkus.” Ini disaksikan oleh Akh Fadel bin Ali Al-Qohthony ro’ahulloh dan dia mengaku kesalahannya di hadapan Syaikh Yahya. Lalu Syaikh memaafkannya, akan tetapi belum juga dia meninggalkan fitnah.
(10) – Sebagian ikhwan Indonesia berkata: “Syaikh itu tidak punya adab, bertindak dzolim.” Di antara perkataannya: “Syaikh itu bukanlah orang berilmu, tidak hafal kecuali hafal Al-Quran dan Riyadhus-Sholihin saja.” Ini dinukil oleh Abu Turob dan Abu Fairuz Al-Indonesiyan.
(11) – Kata Muhammad bin Iwad Al-Haidari: “Syaikh (Syaikh Yahya) itu mempunyai sifat berlebih-lebihan disamping itu dia tidak punya ilmu.” Ketika salah seorang ikhwan menasehatinya, dia menjawab: “Tidak, saya tidak mengatakan seperti ini kepada kamu, hanya saja saya mengatakan kepadamu bahwasanya Abul Khotthob-lah yang mengatakan demikian.” Ini disaksikan oleh Kholid Al-Wushobi.
(12) – Kata Ahmad Misybah kepada Abdurrohman bin Da’as: “Sabarlah kamu. Nanti akan muncul perkara-perkara dan perkataan yang mantap dan jitu bahwasanya para ulama tidak rela dengan tindak lanjut Syaikh Yahya.” Kemudian dia berkata: “Syaikh (Yahya) itu ingin bertindak dzolim dan juga ingin mengatur markaz Fuyusy. Kami dikabari oleh Abdurrohman bin Da’as, juga dia berkata: “Syaikh Yahya itu tidak ada yang mengangkatnya kecuali kursi Syaikh Muqbil.” Ini telah disaksikan oleh Muhammad Al-‘Amudy. Di antara ucapannya: “Nasehat dari kami hanyalah ditujukan kepada setiap orang yang melanggar kebenaran dan orang-orang yang berlebih-lebihan” (dia ingin menuduh Syaikh Yahya dengan tuduhan ghuluw/sifat berlebih-lebihan dan melakukan pelanggaran). Hal ini dia tulis di suratnya yang dikirim ke Akh Muhammad Al-‘Amudy.
Di antara ucapannya: “Meskipun kamu mencium telapak kaki Syaikh Yahya, dia itu tidak akan ridho kepadamu.” Ini disaksikan oleh Abdulloh Al-Jahdary.
Di antara ucapannya: “Sebetulnya Syaikh Yahya ingin menyeret Syaikh Abdurrohman diajak ke arena untuk dimulainya pertandingan gulat.” Ini disaksikan oleh Abdurrohman bin Da’as.
(13) – Tholal bin Muhammad Al-Adany An-Najjar ketika dikabari bahwa Syaikh Yahya mendo’akan dengan do’a celaka kepada orang-orang yang pro Abdurrohman Al-Adany langsung dia mengomentarinya, katanya: “Ini adalah do’anya pelacur tidak mungkin bisa menggoyangkan ka’bah.” Ini disaksikan oleh Abu Turob Ali bin Aud Al-Adany dan Akh Mathori At-Ta’izy.
(14) – Abu Kholid Al-Indonesiy –salah satu tholibul ilmi yang telah belajar di Dammaj kemudian dia meninggalkan belajarnya karena keinginannya sendiri- katanya: “Syaikh Yahya bukanlah seorang yang berilmu.” Di antara ucapannya: “Syaikh Yahya berjalan di atas jalan hizbyyyah.” Di antara ucapannya: “Syaikh Yahya itu mungkin seorang pembohong, karena dia telah mengingkari kesepakatan antara dia dan masyaikh ketika mereka di hadapan Syaikh Robi’. Kemungkinan kedua dia adalah orang buruk karena dia diam di waktu berlangsungnya kesepakatan padahal dia mampu untuk mengingkarinya. Kemungkinan ketiga dia pada waktu itu sedang sakit, jadi dia punya udzur. Kemungkinan keempat bahwasanya masyayikh adalah orang-orang pembohong karena mereka menggembor-gemborkan adanya kesepakatan padahal kesepakatan itu tidak ada dan kemungkinan terakhir ini tidak mungkin terjadi.” Di antara ucapannya: “Para ulama, mereka nanti akan memperbincangkan Syaikh Yahya sehingga nantinya markaz Dammaj akan terlantar dan terbengkalai.”
(15) – Di antara ucapan-ucapan Abu Taubah Al-Indonesiy: “Syaikh Yahya itu akhlaknya jelek dan dia terburu-buru.”
(16) – Muhammad Afifuddin Al-Indonesiy berkata: “Syaikh Yahya itu orang yang hasad.”
(17) – Muhammad bin Barmen Al-Indonesiy berkata: “Syaikh Yahya terfitnah dengan kursi.”
Kabar orang-orang Indonesia ini dinukil oleh Abu Turob dan Abu Fairuz ro’aahumalloh.(1)
(18) – Abul Khotthob Thoriq Al-Libby berkata: “Bahwasanya Syaikh Yahya mempunyai 100 kesalahan dalam akidah.” Ini dinukil oleh Haidaroh ‘Azb dari Ali Us’us dari Abul Khotthob sendiri.
Kami katakan: “Sekarang akidah apa yang tersisa pada diri Syaikhuna ?!”
(19) – Hassan As-Sudany berkata: “Syaikh Yahya haddady dan orang yang di sekitarnya adalah takfiry sebagaimana yang dinukil oleh ikhwah Sudan.”
(20) – Ala’ bin Husain berkata: “Syaikh Yahya memecah belah dakwah, sebagaimana persaksian Husain Al-`Assal dari Mudiyah, dia berkata: “Syaikh Yahya pencela ” sebagaimana persaksian Abdurrohman Da’as. “Hajury dikhawatirkan adalah seorang Syi’iy yang menyusup di antara ahlus sunnah wal jama’ah.”
“Aku tidak ragu sedikit pun bahwa Hajury seperti Abul Hasan Al-Mishry sebagaimana didengar oleh Mazin Al-Adany.”
(21) – Ali ‘Ashidah berkata: “Syaikh Yahya tidak tatsabut dan mengusir orang yang tidak dengan ulama.” (persaksian Salim Al-Lahjy).
“Syaikh Yahya menghina ahlus sunnah.” (persaksian Haidah ‘Azb)
(22) – Ali Ash-Ash berkata: “Syaikh Yahya melakukan perbuatan riddah (keluar dari islam).”
(23) – Sanad Al-Jaunah berkata: “Syaikh Robi’ akan berbicara tentang Syaikh Yahya pada tanggal 6 Syawwal tahun ini.” (persaksian Jamal Ghushn)
Dia berkata di dalam suratnya kepada Akh Abdurrohman An-Nakho’i حفظه الله : “Ulama di satu sisi dan kalian di sisi yang lainnya.”
)24) – Abu Bakar Asy-Syaibah: “Hajury bakal disembelih pada tanggal 6 Syawwal.” (persaksian Salim Al-Lahjy dari Ahmad Asy-Syaibah dari saudaranya Abu Bakar)
(25) – Basil Al-Lahjy Al-Adany berkata: “Syaikh Yahya munafik.”
(26) – Abdul Hakim An-Nakhoby berkata: “Syaikh Yahya sudah tersungkur.” (persaksian Zain Al-Abary Al-Yafi’y)
(27) – Muhammad Harharoh Al-Yafi’y salah seorang fant Abdurrohman yang keluar dari Dammaj berkata: “Kami sudah selesai dari Hajury, ulama sudah berbicara tentangnya, Syaikh Ubaid, Washoby, dia memiliki kesalahan.” (persaksian Zain Al-Abary Al-Yafi’y)
Tatkala mengemasi mengambil barang-barangnya, dia ditanya: “Kemana kamu akan pergi?” Katanya: “Saya mau lari dari fitnah.” “Kemana?” “Ke Fuyusy.” (persaksian Akrom bin Sholeh Al-Yafi’y)
(28) – Basir Al-Hazmy sebagaimana yang dinukil oleh Samih bin Ali bin Qosim Abu Hamro’ dalam persaksiannya yang disebar di situs Al-Ulum As-Salafiyyah dengan judul ‘Syahadatu Haqqin wa Adl” berkata: “Saya adalah Samih Ali Qosim Abu Hamro’. Aku bersaksi dengan persaksian yang benar dan adil yang aku pertanggungjawabkan di depan Alloh di hari yang tidak bermanfaat harta dan anak-anak. Bahwa aku mendengar Basyir Al-Hazmi berkata terhadap Syaikh Yahya bahwa dia adalah pendusta, fajir, fasiq, lisannya pedas, zindiq dan dia berkata terhadap orang-orang yang membela Syaikh Yahya: “Kalian akan dikafirkan. Kalian akan dibid’ahkan, kalian khowarij, kalian rofidhoh, mu’tazilah. Allohlah yang menjadi saksi ucapanku. Dan hal itu terjadi di masjid As-Sunnah Shon’a setelah sholat Dhuhur sebulan yang lalu dari tanggal persaksianku. Dan kalau Basyir Al-Hazmi ingin mubahalah, maka aku katakan kepadanya: “Semoga Alloh melaknat siapa yang berbohong di antara kita. Alhamdulillahirobbil ‘alamin.
(29) – Manshur Al-Hazmy –termasuk orang yang diusir dari Dammaj- berkata: “Kalau kami tinggal di rumah kami diusir Hajury. Kalau kami hadir di pelajarannya, dia membuat kami sakit. Hajury lebih hina / kotor dari Abul Hasan. Dia tidak menyisakan seseorang pun kecuali mengomentarinya.” (persaksian Zain Al-Abari Al-Yafi’y)
Tatkala dikatakan kepadanya: “Mengapa kamu tidak hadir di pelajaran Syaikh Yahya?” Katanya: “Pelajarannya bukan pelajaran Imam Ahmad.” Dia berkata kepada Nabil bin Ali bin Qoid Al-Hazmi: “Alangkah senangnya kalian. Tokoh Haddadiyyah di Yaman yaitu Syaikh Yahya.”
(30) – Abdurrohman Al-Khorifi –termasuk orang yang keluar dari Dammaj- berkata: “Syaikh Yahya tolol, goblok, kurang ajar seperti panglima tentara.” (persaksian Amin Al-Khorifi)
(31) – Abdul Bari Al-Laudary berkata: “Syaikh Yahya tidak punya rem. Syaikh Yahya itu zaq-zuq(asal nyeplos).” (persaksian Abdurrohman An-Nakho’i)
Pada suatu malam di antara maghrib dan isya’ Syaikh sedang berbicara tentang orang-orang yang terjerumus dalam fitnah. Maka Abdul Bari bangkit dari pelajaran dan keluar dan berkata: “Pelajaran yang hina.” Bahkan dia mengakui hal ini di hadapan Syaikh Yahya dan para murid.
(32) – Fahd As-Sulaimany Al-Adany, dia berkata kepada Muhammad Al-Amudy: “Syaikh Yahya salah dan banyak kelirunya.” Dan berkata setelah terjadi perdebatan: “Jangan katakan bahwa Syaikh mendapatkan satu pahala atau dua pahala dalam fitnah ini(maksudnya: tidak memiliki pahala sama sekali).”
(33)- Zakaria Al-Adany termasuk orang yang mencela Syaikh Yahya. Dia menyerupakan Syaikh Yahya dengan seorang hizby di ‘Adn namanya Ali Az-Zaidy. Kalau Syaikh Yahya berbicara tentang Abdurrohman Al-Adany, dia berkata: “Hari ini Az-Zaidy tidak kena pengaruh sama sekali. Hari ini Ali Az-Zaidy belum makan sama sekali.” Ali Az-Zaidy adalah hizby yang ada di ‘Adn.”
Zakaria adalah mantan penjaga maktabah di Dammaj, kalau mereka mau mengejek Syaikh Yahya, mereka menyebutnya Ali Az-Zaidy –ini sebelum fitnah-. Kemudian semakin banyak penyebutan Ali Az-Zaidy di masa fitnah. Bahkan mereka mengaku kepada seorang ikhwah yaitu Aiman Asy-Syawafy yaitu yang dimaksud dengan Ali Az-Zaidy adalah Syaikh Yahya. Maka Zakaria termasuk orang yang tolol dari kaum itu.
(34) – Abdulloh Mudisy Al-Abyany berkata: “Aku mencoba menasehati Zakaria bin Syu’aib Al-Adany supaya meninggalkan fitnah dan mengurus dirinya sendiri. Lalu dia menjawab: “Fitnah tidak akan selesai sampai orang ini turun dari kursinya (sambil berisyarat ke kursi Syaikh Yahya).” Dan aku juga menasehatinya agar tidak menjual rumahnya di Dammaj. Dia berkata: “Kota kami kota yang agung. Tidak ada orang yang memberi persyaratan (yaitu markiz Fuyusy).”
(35) – Nashir Az-Zaidy Al-Adany berkata: “Syaikh Yahya tidak berkata dengan dalil.” Dan dia juga memberi julukan kepada Syaikh Yahya dengan Ali Az-Zaidy. Jikalau dia ingin mencela Syaikh Yahya dia berkata: “Ali Az-Zaidy tidak ridho. Ali Az-Zaidy tidak setuju. Ali Az-Zaidy marah. Sampai ada seseorang bertanya: “Siapakah Ali-Az-Zaidy itu, wahai Nashir?” Lalu dia tertawa sambil mengejek dan berkata: “Teruslah kalian dalam kebutaan.” Perkara ini sebelum fitnah Abdurrohman Al-Adany. Ketika fitnah Abdurrohman datang, diketahuilah siapa yang dimaksud dengan Ali Az-Zaidy yaitu Syaikhuna Yahya hafidlohulloh.
Seorang ikhwah berkata kepada Nashir: “Bertaubatlah kamu kepada Alloh sebagaimana permintaan Syaikh Yahya. Dia menjawab: “Syaikh Yahya yang harus taubat duluan. Syaikh Yahya tidak memiliki bukti apapun terhadap Syaikh Abdurrohman kecuali persangkaan dan perdukunan. Telah tersebar di Saudi bahwa Syaikh Yahya memiliki kesalahan manhajiyah dan aqidah.” Tatkala sebagian ikhwah menasehatinya dia berkata: “Ayo sebarkan bahwa saya hizby (seperti orang yang berolok-olok).” Mereka bersaksi atas diri mereka bahwa… dia ucapkan perkataan di depan beberapa orang ikhwah di antaranya Ahmad Al-Bakry.
Dan perlu diketahui bahwa Fahd , Zakaria dan Nashir keluar dari Dammaj atas kemauan mereka sendiri.
(36) – Abdur Rouf Abbad Al-Adany berkata: “Kaset Syaikh Yahya yang berjudul “Nashihatul Ikhwan” adalah fitnah dan perkara pribadi. Akh Shobir berkata kepadanya: “Akan aku sebar ucapanmu.” Dia berkata: “Kalau kamu bisa sebarkan di koran dan majalah, maka sebarkan saja!”
(37) – Sholah Kentusy Al-Adany, dia berkata: “Syaikh Yahya tidak meluruskan ushulnya, sehingga pelajarannya membosankan.” (persaksian Abu Hafsh Umar Al-‘Iroqy)
Dia berkata di sebuah kantor polisi: “Syaikh Yahya pendusta.” (persaksian Abu Huroiroh) Dan ia juga tidak menganjurkan untuk belajar di Dammaj. Dia berkata: “Syaikh Muqbil tidak hebat dalam fiqh. Syaikh Al-Albany ada beberapa perkara yang menyimpang dalam masalah faroidh (suaranya dalam sebuah kasetnya).”
(38) – Shobry bin Muhammad Al-Mu’ais Al-Abyani berkata: “Hajury sudah habis, sudah kami selesaikan.” (persaksian Abdulloh bin Abi Bakr)
Dia berkata: “Ucapan Syaikh Yahya dan Syaikh Al-Imam tentang Abul Khotthob tidak dapat diterima” (nukilan Haidaroh Azb)
(39) – Abul Husain Asy-Syabwy berkata: “Ucapan Syaikh Yahya harus dihadapkan kepada para ahlul ilmi, sehingga mereka menerima atau menolaknya.” (persaksian Husain Al-Baihany)
Dan juga dia membuat orang enggan ke Dammaj (persaksian Abdulloh Al-Hakamy). Dia berkata: “Yang berusaha untuk menasehati Syaikh Yahya akan menjadi musuhnya.” Ini nukilan Muhammad Al-Amudy dari Yasin Al-Adany. Dengan itu pula Abdurrohman Asy-Syaibany berbicara dari Sholah Kentus darinya. Menuduh Syaikh Yahya tergesa-gesa (persaksian Abdulloh Al-Hakamy)
(40) – Muhammad Al-Mahwity dalam malzamahnya berkata: “Hajury membangun dakwahnya, serangannya, ucapannya, tulisannya, menyiapkan pasukannya melengkapi kendaraannya dengan kekerasan, kasar, ujub, tipuan, menyebarkan permusuhan dan kebencian di dalam dakwah, tenggelam di dalam hawa nafsu, bodoh dan tidak mau menerima nasehat dan beramal dengan ilmu dan keadilan. Kemudian menyerang kaum muslimin dengan dimulai dari ahlus sunnah.
Hajury menghapal dalilnya, tetapi tidak mendapatkan taufiq untuk mengamalkannya. Seolah-olah dia tidak dibebani untuk itu.
Syaikh Yahya menempuh jalan Abul Hasan dalam mencela, meremehkan dan mengolok-olok ulama ahlus sunnah wal jama’ah demi memperluas kekuasannya terhadap mereka.
Orang ini (Syaikh Yahya) merongrong dakwah dengan lisannya yang bengkok dan penanya yang serampangan dan mencoba menjatuhkan bintang-bintangnya.
Hajury mengambil manhaj yang luas dalam masalah jarh dan penyesatan orang.
(41) – An-Nazily telah menghabisi kitab “As-Shubhu Asy-Syariq” (yang menjelaskan kesesatan Az-Zendany) yang ditulis Syaikh Yahya. Kelihatannya ketika bantahan itu dilihat oleh Hajury, maka dia terkencing-kencing.
Abul Hasan membuat fitnah yang besar di Yaman di dalam ahlus sunnah dan fitnah Hajury lebih besar dan lebih merusak.
(42) – Abdulloh Al-Qodiry Al-Washoby berkata: “Khutbah dan ceramah Syaikh Yahya hanya untuk mempertahankan kursinya.” (persaksian Amin Al-Khorify)
(43) – Sholih bin Musa Al-Halimy Al-Yafi’y salah seorang wakil Abdurrohman yang berada di Yafi’: “Syaikh Yahya memiliki histeria, tergesa-gesa dan keras. Dammaj sudah berubah.” (persaksian Abu Sinan Akrom bin Sholih Al-Yafi’y)
(43) – Yasir As-Siba`i Al-Yafi’y berkata: “Syaikh Yahya penipu. Dammaj sudah berubah dibanding zaman Syaikh Muqbil.” (persaksian Abu Sinan Akrom Al-Yafi’y)
(44) – Murod bin Salim berkata: “Syaikh Yahya zholim, tukang rampas.” (persaksian Muhammad bin Sa’id Al-Lahjy)
Ketika dia ingin menjual rumah waqof, Syaikh melarangnya. Lalu dia menjadi marah dan berkata: “Aturan komunis!! Inilah yang menyama-ratakan hak manusia lalu keluar dari majelis dan berkata sambil berdiri seperi negara saja?! Kemudian keluar tanpa permisi kepada Syaikh.
(45) – Abdulloh bin sholih Al-Wuhaisy Al-Baidhony berkata: “Jangan tanya Syaikh Yahya, tapi tanyakan Syaikh Abdurrohman karena dialah yang paling pandai di dalam fiqh.” (nukilan Husain Al-Baihany)
(46) – Musthofa Mubrom di dalam selebarannya yang berjudul lembaran fitnah Abul Hasan menyebutkan sifat-sifat Abul Hasan yang diserupakannya dengan Syaikh Yahya walau dia tiak menyebut nama. Kemudian menulis syair yang menerangkan maksudnya itu!
(47) – Labib Al-Adany –termasuk murid senior dan muta’asshib terhadap Abdurrohman Al-Adany yang keluar dari Dammaj dengan kemauan sendiri- berkata: “Aku tidak mendapatkan faedah apapun sejak wafatnya Syaikh Muqbil. Buku tulisku kosong. Di Dammaj cuma ada orang Somalia.” (nukilan Ali Al-Banna’iy)
Kemudian di Shona’a ditemui oleh Zakaria Al-Yafi’y –penuntut ilmu dai Dammaj- Labib datang untuk memberi salam lalu Zakaria berkata: “Sudah, jangan memberi salam aku. Ini kan orang Somalia. Lalu Labib berkata kepada Muhammad Al-Yafi’y saudara Zakaria: “Aku kan memperdengarkan kepadanya perkataan yang kasar.” Ketika Zakaria datang, dia berkata: “Wahai Zakaria, aku meyakini bahwa Hajury penipu, goblok, tidak mampu memimpin, menekan kami.” Zakaria berkata: “Kapan Syaikh Yahya menekan kalian, bahkan Syaikh membelamu dan memujimu. Syaikh berkata kamu adalah orang beradab.” Labib berkata: “Kamu kan tahu, aku tinggal selama dua bulan di Dammaj tapi para tullab berpaling dariku tidak ada yang mau menelpon diwartelku.”
Sejak dahulu dia mencela Syaikh Yahya sebelum munculnya fitnah dia berkata Syaikh Yahya tidak menerima nasehat tidak mau mengalah kecuali dengan orang yang lebih tua. Syaikh Yahya plintat plintut ketika dinasehati dalam perkataannya bahwa rasul salah dia berkata: “Aku tidak bermaksud, aku, aku… (persaksian Yasir As-Syarif).
(48) – Nashir Al-Jazairy Al-Badawy berkata: “Syaikh Yahya menyimpang, Syaikh Yahya mencela ulama.” (yang dinukil oleh Yusuf Al-Jazairy dari beberapa orang Al-Jazair dalam persaksian mereka.
(49) – Husain Al-Jazairy berkata: “Syaikh Yahya tidak berakhlak, bagaimana mungkin aku belajar kepada orang seperti ini. Syaikh Yahya tidak tatsabbut.” Tatkala dikatakan kepadanya bahwa Syaikh Yahya ‘alim berdasarkan ucapan Syaikh Robi’ dan yang lainnya dia berkata: “Itu cuma isu, yang muncul dari orang-orang yang ghuluw (melampui batas), Syaikh Robi’ mengatakan hal itu untuk memasyhurkannya di depan thulab.” (persaksian Muhammad At-Taibazy).
(50) – Ismail Ath-Thablaty Al-Jazairy berkata: “Syaikh Yahya menempuh manhaj Al- Ir-Habi(teroris), ia berkata: “Kamu (Syaikh Yahya) menggali kuburmu dengan tanganmu sendiri wahai Hajury!”
(51) – Muhammad Ath-Thablati Al-Jazairy berkata: “Semua yang ada di markaz adalah penipu mulai dari kepalanya sampai semuanya. Di Dammaj hanya ada shalat dengan sandal, ucapan syaikh masuk dari telinga keluar dari telinga.” (persaksian Mahmud Al-Jazairy)
(52) – Riyad Al-Inaby Al-Jazairy berkata: “Siapa sih Syaikh Yahya, sehingga tarjih-nya dinukil. Seandainya saja orang-orang Libia yang pergi ke Hijaz pergi ke ulama untuk menjelaskan keadaan Syaikh Yahya.” (persaksian Muhammad AL-Libiy).
(53) – Yahya bin Rasyid Al-Amrony berkata: “Syaikh Yahya orang yang hina, dzalim, goblok, aku tidak akan hadir di dalam pelajarannya, dia ingin menggeser syaikh Ahmad Al-Washoby sebagai imam.” (persaksian Bundar Al-Janbiy)
– Aku tidak akan pergi kepada orang yang mencela ulama
– Setelah dikatakan kepadanya: “Pergilah ke Dammaj!” (persaksian Syamir Asy-Syawafiy, Jamal Ar-Raimy dan yang lainnya di Maktabah Masjid As-Sunnah di Imron)
(54) – Abu Qois Al-Liby -termasuk orang yang terjerumus di fitnah Abul Hasan yang pura-pura taubat di akhir fitnah tersebut, lalu membela mati-matian di fitnah Abdurrohman Al-Adny- dia berkata di surat-suratnya kepada Muhammad Al-Liby Al-Mizabi: “Hajury itu lebih merusak dari Iblis terhadap dakwah Salafiyyah.”
– Seandainya saja Hajury cuma mubtadi’ tapi ini malah mubtadi’ yang hina
– Al-Hadad memuntahkan Falih dan Falih memuntahkan Yahya.
– Jalan Hajury adalah jalannya masuni yang berbahaya adapun Al-Bakry adalah salafy yang menghinakan Al-Haddadiyah
– Kelompok Hajuryyah adalah bancinya hadadiyah dan Harbiyah.
– Syeikh kalian Al-Fujuri (menempuh jalan Falih bahkan lebih parah)
– Dia bilang ketika Syaikh Yahya dan murid-muridnya tatkala berkunjung ke Syaikh Robi’ ketika haji. Ali Baba dan empat puluh orang perompak diusir oleh Al-Madkholi.
– Al-Fujuri adalah mubtadi’ walaupun seandainya dipuji oleh Imam Ahmad.
– Hajury tidak mau berperang melawan rofidhoh karena takut kursinya.

(55) – Tuduhan Abdulloh bin Robi’ As-Salafi (orang yang tidak dikenal) di dalam malzamahnya yang disebarkan oleh situs As-Syhr dengan judul “Madza Yanqimuna ‘ala As-Syaikh Al-Hajury,” bagian pertama yang berisi cercaan di antaranya Syaikh Yahyalah yang mengobarkan api fitnah yang dinamakannya dengan fitnah Hajuryyah dan Syaikh Yahya yang mengangkat dirinya sebagai penguasa manhaj salafi dan dia menjarah siapapun yang dia mau dengan cara yang disukainya melampaui batas, zholim, mencela ulama sunnah dan masyaikhnya secara umum dan juga khusus. Maunya menang sendiri dan suka mengolok-olok dan berusaha menjatuhkan wibawa di mata masyarakat. Sudah kehabisan cara untuk menasehati, yang tersisa padanya cuma celaan dan menyebarkan aib. Memiliki kaidah-kaidah aneh dan berusaha memisahkan pengikutnya dari ulama. Memusnahkan dakwah dan dia tidak perduli bahwa perbuatannya menyebabkan dakwah terpecah-pecah. Merubah metode dakwah Imam Al-Wadi’i, sering bertolak belakang. Mencela dikarenakan persangkaan, bahkan dalam masalah niat, penipu… dan di dalam bagian yang kedua yang berjudul ‘Bayan Asy-Syabah Al-Arba’in Baina Al-Hajury wal Ma’riby fil Khotho’ wa Az-Zalal Al-Mubin’ (Penjelasan 40 Syubhat Hajury dan Ma’riby Dalam Kesalahan dan Ketergelinciran Yang Nyata).
(56) – Abu Abdurrohman Abdulloh Al-Amriky berkata:
– “Syaikh Yahya ghuluw. Inilah yang aku yakini di dalam hatiku.”
– “Syaikh selalu membid’ahkan siapa saja yang menyelisihinya dan menghukum dengan hizbyyyah hanya sebuah kotak infak.”
– “Thullab juga ghuluw terhadap Syaikh Yahya dan menyangka bahwa dia tidak memiliki kesalahan, padahal punya.” (persaksian Abdul Hakim dan Mundzir Al-Amrikiyan)
(57) – . Yang termasuk cercaan terdahap Syaikh Yahya adalah apa yang disebutkan di dalam risalah yang terdiri dari 24 halaman yang dikirim oleh para muta’ashib kepada Akh Hisyam Al-Husuwy agar dia terjerumus di dalam fitnah dan supaya cepat keluar dari Dammaj. Di antaranya adalah:
Syaikh Yahya menyendiri dalam menggerakkan kemudi dakwah menurut pendapat sendiri dan dikte hawa nafsunya, dia itu punya ta’wil-ta’wil rendahan, mengeluarkan kaset-kaset di luar kendali, dia itu tidak beradab, dia itu mencerca ulama, tak menerima al haq, berhasrat untuk mengendalikan dakwah umat sendirian berdasarkan metodenya yang khusus, dan dia dan para muridnya adalah pemilik senjata-senjata setan yang hendak meruntuhkan Dammaj, mencerai-beraikan barisan, memecah belah kalimat Salafiyyin, dan bahwa orang-orang di sekitarnya adalah orang-orang yang jahat, dia banyak mendengarkan bisikan mereka, dia adalah orang yang banyak omong dusta, kalajengking hasad telah menjangkiti hatinya, pendendam, zholim, jahat, membabi buta, suka merangkai berita dan kebohongan, telah mencapai garis batas metode orang awam yang fajir(jahat) dalam mencari kedustaan, bicara tanpa ilmu, tidak takut pada Alloh, pembual, mengigau dengan perkara yang tidak diketahui, mencari fitnah, membalik perkara, mengadu domba, membuat perkara jadi menakutkan, melariskan perkara, kedustaannya mencapai ufuk, pembuat makar dan tipu daya, pengekor hawa, bandel, pembuat usul-usul (pondasi) yang batil, tak punya waro’, menempuh jalan ahlul ahwa dalam berbantah, fanatisme baik dia itu menyadari ataupun tidak, dengan cara banyak mengelak, tadlis (siasat untuk penggelapan), pengkaburan, bodoh dalam manhaj Ahlussunnah, membikin ragu terhadap kriteria dan stabilitas Ahlussunnah, adab jelek dalam berdebat, musibahnya besar pada saat mengigau dengan tuduhan-tuduhan hizbyyyah, goncang dalam membikin kaidah, tidak mengikuti nasihat orang lain, mengikuti hawa nafsu, lancang, ngawur, tergesa-gesa dalam membantah, tidak punya penghormatan, kriminil besar terhadap dakwah ahlussunnah dalam membikin usul-usul tanpa pengetahuan yang memadai. Dan ini adalah keadaan orang yang tidak kokoh dalam memahami manhaj salafi dan tidak mendalami ilmu syar’i.
(58) – Ubaidulloh As Salafy –salah seorang tokoh samaran yang memakai nama tak dikenal- berkata dalam malzamahnya yang berjudul “Aujuhisy Syibh Bainal Hajury wal Haddadiyyah”: « Kesadaranku terpalingkan kepada beberapa kemiripan antara keistimewaan Al Haddad dan pengikutnya », dengan beberapa perkara yang dijalani oleh Al Hajury dan pecintanya –sampai dengan- dan setiap hari Al Hajury dan pengikutnya bertambah mirip dengan hadadiyyah dan manhaj mereka, dan bahwasanya metode yang dijalaninya bersama para muridnya melampaui jalan Al Haddad pada sebagian ciri khasnya. Dan bahwasanya dia dan para pengikutnya menyerupai Haddadiyyah. Lalu dia menyebutkan ciri khas Al Haddadiyyah yang ditulis oleh Al ‘Allamah Robi’ Al Madkholy –ro’ahulloh- dan diterapkan pada Asy Syaikh Yahya dan para murid beliau –حفظه الله -.
Dan dia telah menggambarkan bahwasanya Fadhilatusy Syaikh Yahya -حفظه الله- menampakkan diri dengan gaya yang menyelisihi kenyataan.
(59) – Muhsin Ziyad berkata kepada Abdul Qowi Al Khoulany: “Kamu datang dari sisi pendusta besar.” Padahal sebagaimana diketahui bersama dia (Muhsin Ziyad) itu telah mengumumkan tobatnya di depan umum, lalu berbalik lagi kepada kesesatannya.
(60) – Abu Malik Ar Riyasyi berkata: “Asy Syaikh ‘Ubaid berkata tentang Asy Syaikh Yahya bahwasanya dia itu orang yang tolol dan pendusta.” Dan Abu Malik mengulang-ulang ucapan tadi dengan gaya mengejek. Dan dia berkata,”Dammaj adalah bumi kebatilan, cercaan dan caci-makian.”
Dia juga berkata,” Asy Syaikh Robi’ punya ruqyah yang besar buat orang-orang sakit “Paramol” untuk menyehatkan mereka-maksudnya adalah para pelajar Dammaj-.” Ini didengar dan disaksikan oleh Ahmad Al Hadhromi –ro’ahulloh- pemilik markiz fotocopy di Dammaj.
Akhuna Kholid Al Yazidy berkata tentang sikap Syaikh Muhammad Al Imam terhadap Abu Malik Ar Riyasyi, Syaikh Muhammad Al Imam berkata,”Aku melarang orang-orang ”Adn dari duduk-duduk dengannya.” Beliau juga berkata,”Kami tidak menerimanya dan tidak meridhoinya.”
(61) – Sholih Al Barqy –dan dulunya dia adalah pelajar dari Dammaj, lalu berubah sikap setelah terjadinya fitnah Abdurrohman- berkata tentang Syaikh Yahya,”Wallohi, sungguh aku yakin dia itu pembohong” dan mengulang-ulang sumpah tersebut, sebagaimana di dalam kasetnya dengan suaranya.
Juga berkata tentang Syaikh Yahya,”Dia itu fasiq, dan kuyakini dia itu onta jantan.” Sebagaimana dipersaksikan oleh Muhammad bin Haidar.
Juga berkata tentang Syaikh Yahya,”Dia itu tolol, perusak, liar, tidak peduli dengan murid-muridnya. Aku mohon pada Alloh agar menghukumnya dan mencabutnya dari Dammaj.” Sebagaimana dipersaksikan oleh Salim bin Syu’aib dan Basyir Az Zabidi.
Juga berkata tentang Syaikh Yahya,”Dia itu busuk.” Sebagaimana dipersaksikan oleh Jamil Al Wushobi.
Juga berkata,”Al Hajury sekarang menempuh jalan spionase. Tiada yang tersisa selain dia itu berkata,”Utusan kami berkata tentang kejadian ini, utusan kami berkata tentang kejadian itu.” Wahai ikhwan, Al Hajury itu wartawan.” Sebagaimana dipersaksikan oleh Jamil Al Wushobi dan Yahya Az Zabidi.
Juga berkata tentang Syaikh Yahya,”Dia itu bertolak belakang. Mereka –murid-murid beliau- menyebutnya “Imam besar yang tinggi ilmunya”. Mungkinlah pantas jika jadi imam masjid”. Dan dia berkata,”Al Hajury, orang yang menyelisihi pendapatnya akan diusir. Dan orang yang menyelisihi pendapatnya akan dicap hizby. Aku bersumpah pada Alloh sungguh ini adalah manhaj Ikhwany.” Ini persaksian Jamal Al Wushobi.
Dia juga berkata tentang Syaikh Yahya -hafizhohulloh-,”Dia ingin agar kita berfanatik padanya.” Ini persaksian Ali bin Syu’aib.
Dia juga berkata,”Aku mohon pada Alloh agar menghilangkan nikmat dari hadapannya.” Ini persaksian Mahir ‘Asylah.
Dia juga berkata,”Kenapa jika aku berbicara tentang Syaikh Yahya datanglah pembelaan buatnya dari segala penjuru? Dan pada saat Syaikh Yahya berbicara tentang aku dan di hadapan ribuan thullab, dan di jaringan internet tiada seorangpun yang membelaku?” Ini persaksian Abdulloh Al A’jam.
Dia juga berkata tentang darul Hadits di Dammaj,”Tempat itu comberan adu domba.” Ini persaksian Qosim Al Hadhromi.
(62) – Amin Misybah berkata di dalam surat yang dikirimkannya ke sebagian sahabatnya, dan telah dibaca oleh Akhuna Sa’id Da’as,”Janganlah engkau mengucapkan salam pada Syaikh Yahya karena sungguh engkau akan berdosa.”
(63) – Numair Al ‘Adany berkata pada akhuna ‘Abdul ‘Alim Ash Shilwi,”Aku tidak ragu-ragu bahwasanya Al Hajury itu Haddadi.”
(64) – Akrom ‘Arob berkata,”Tidak didapati ulama di Yaman yang pantas menjadi rujukan selain Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab Al Wushobi.” Ini persaksian Jamal Ghushn dari Muhammad Ash Shon’ani.
(65) – Abdur Ro’uf Ar Ridfani berkata –dia adalah wakil Abdurrohman dalam mengurus tanah di Ridfan-,”Syaikh Yahya itu salah. Yang terjadi antara Syaikh Yahya dan Syaikh Abdurrohman adalah kalam aqron (ucapan antar sejawat).” Ini persaksian Abu Sinan Akrom bin Sholih Al Yafi’y.
Cercaan muta’ashshibin terhadap Syaikh Yahya حفظه الله itu banyak sekali sampai-sampai beliau tidak selamat dari mereka di telepon, sebagaimana cerita beliau sendiri pada kami.
Pasal:
Para Maftunun di Fitnah Abul Hasan Al Mishri dan Fitnah yang Lain, Kebanyakan Dari Mereka Bergabung ke Dalam Fitnah Abdurrohman Al ‘Adany. Silakan Lihat Sebagian dari Nama mereka:
1- Muhammad Abdul Qowi Al Qoirohy Al Yafi’y.
2- Sholah bin ‘Ali Sa’id.
3- Abdurrohman Al Lahji.
4- Nashir Mahruq
5- Sa’id bin Sa’id Al adani.
6- Sholah Ath Thomisi.
7- Abu Khoththob Al libi.
8- Abul Husain Hasan ‘Ulaiwah Asy Syabwi.
9- Abu Hashim Jamal Khomis Surur.
10- Abdulloh bin ‘Ali ba Sa’d. Dulunya dia termasuk tokoh besar muta’ashshibin Abul Hasan.
11- Abu Bakr Ba Shol’ah Ad Disi.
12- Ahmad bin Umar Ba Wafi.
13- Nabil Al Hamar.
14- Sholih Yamani Al Mahri.
15- Wasir bin ‘Ali Al ‘Amiri.
16- Murod Al ‘Uthoifi Al Lahji.
17- Abdul Ghofur Al Lahji.
18- Syarof bin Haabis.
19- Abu Zakariya Jamil bin ‘Ali bin Tholib Al Lahji.
20- Abu Qois Khoiri Al Lahji.
Dan masih tersisa banyak dari mereka. Tujuan dari penyebutan ini tadi hanyalah isyarat. Dan sungguh benar Alloh ketika berfirman:
+ تَشَابَهَتْ قُلُوبُهُمْ _ [البقرة/118]
« Hati-hati mereka saling serupa. » (QS Al Baqoroh 118)
Tujuan pokok yang menjadi sasaran dari fitnah ini dan fitnah-fitnah sebelumnya adalah meruntuhkan Darul Hadits di Dammaj, pusat dakwah Salafiyyah. Dan inilah dia yang dikandung dan disembunyikan di dalam hati Abdurrohman Al ‘Adany dan teman-teman khususnya, dan mengedarkannya di dalam dirinya sebelum hari pemberontakannya, sebagaimana ditunjukkan oleh apa yang kami sebutkan pada bab « Perencanaan fitnah » dari ucapan-ucapannya sendiri yang diucapkannya secara terang-terangan sebelum fitnah bahwasanya dammaj akan berakhir, dan dia mendorong orang untuk tidak membeli tanah ataupun rumah di Dammaj dengan sebab itu. Seperti ucapannya pada al akh Indonesi yang bermusyawarah dengannya tentang pembelian tanah di Dammaj, maka Abdurrohman berkata,”Kunasihatkan padamu untuk jangan membeli.” Lalu pergilah orang itu. Maka Abdurrohman Al ‘Adany berkata pada al akh Abdul Hakim Ar Roimi,”Nasihati orang itu. Duit segitu itu banyak. Allohu a’lam apakah Dammaj akan masih ada atau tidak. Mungkin saja uang orang tadi akan hilang.”
Dan sebagaimana ucapan Shodiq Al ‘Abdini –dan dia adalah salah satu teman dan sahabat Abdurrohman Al ‘Adany-: “Bergembiralah wahai masyarakat Sho’dah, rumah-rumah akan kosong di Dammaj.” Maka dia ditanya tentang hal itu maka dia menjawab,”markiz Syaikh Abdurrohman di Lahj akan dibuka.” Ini adalah persaksian Abdulloh Ar Rozihi.
Dan seperti ucapan Shodiq juga,”Dakwah akan berpindah ke ‘Adn. Dan seperti ucapan Abdurrohman Al ‘Adany kepada al akh Abdulloh Al Jahdary –pengurus pengaturan jadwal pelajaran di Darul Hadits di Dammaj-. Pernah al akh Abdulloh minta pertimbangan padanya tentang pembelian rumah di Dammaj. Maka Abdurrohman menasihatinya untuk tidak membelinya dan berkata,”Kita tidak tahu bagaimana urusan itu nantinya. Dan apa yang akan terjadi besok?” Dan ini diucapkan seusai fitnah Abul Hasan.
7- Penyebaran berita-berita dan kebohongan.
Berbagai macam cercaan yang menimpa Syaikhuna Yahya حفظه الله , tujuannya hanya untuk ini, dan upaya untuk meruntuhkan markiz Dammaj pusat dakwah Salafiyyah. Dan inilah yang pertama kali dilakukan oleh para pemberontak tersebut. Dan tidaklah fitnah Abul Hasan dan Al Bakry itu jauh dari kita. Dan juga para pendahulu mereka dari kalangan Sururiyyah dan Quthbiyyah. Dan para fanatik Abdurrohman juga menempuh jalan ini, dan mereka melampaui kelompok-kelompok tadi dalam masalah ini.
Dan untuk maksud ini , para fanatik tadi menebarkan berita-berita bohong, yang dengannya mereka bisa memperburuk citra Dammaj. Terkadang mereka berkata,”Dammaj telah berakhir.” Terkadang juga berkata,”Tiada ilmu lagi di Dammaj.” Dan terkadang bilang,”Tiada kesibukan di sana selain cercaan, makian, merusak kehormatan para da’i dan ulama,” Terkadang juga berkata,”Mereka itu ghulah (orang yang berlebihan), mutasyaddidun (kelompok keras).” Terkadang juga berkata,”Dammaj telah berubah dari keadaannya yang dulu, sampai bahkan rumah-rumahnya. Dan telah menjadi darul fitan (kompleks fitnah), tiada di sana pembentukan pondasi ilmiyyah.” Terkadang juga berkata,”Darul hadits di Dammaj tidak memberikan ijazah pada para thullab.” Terkadang juga berkata,”Para thullab Darul hadits berada dalam kondisi miskin dan lapar.” Terkadang juga berkata,”Tiada di Dammaj selain ilmu hadits.” Terkadang juga berkata,”Syaikh Yahya punya kesalahan-kesalahan yang banyak. Dan para ulama akan berbicara tentangnya.” Terkadang juga berkata,”Syaikh Yahya terburu-buru, tak mempertimbangkan kemaslahatan dakwah.” Terkadang juga berkata, ”Sungguh di sana ada ujian. Jika yang datang mencocoki mereka akan diterima, tapi jika tidak dia akan diusir.” Terkadang juga berkata,”Para mustafidun telah keluar dari sana.” Terkadang juga berkata,”Syaikh Yahya mengusiri orang-orang yang menonjol.” Terkadang juga berkata,”Para thullab yang qudama (senior) dan menonjol berlawanan dengan Syaikh Yahya.” Terkadang juga berkata,”Syaikh Yahya punya mata-mata yang ditebarkannya di antara thullab.” Terkadang juga berkata,”Dammaj tidak memberikan berita yang baik.” Terkadang juga berkata,”Tiada yang tersisa di sana selain orang-orang Shomaly.” Terkadang juga berkata,”Tiada yang tersisa di sana selain satu pelajaran,” Terkadang juga berkata,”Para pengajar di sana adalah pelajar yunior.” Terkadang juga berkata,”Dammaj tidak memperhatikan pendidikan anak,” dan seterusnya.
Maka inilah sebagian dari cercaan dan berita-berita bohong, yang tidak kami dapati dari para pelakunya dan pimpinan mereka –Abdurrohman- adanya serangan ke arah ahli bathil dengan berbagai jenisnya seperti ini atau yang mendekati hal tersebut.
Dan telah jelas dan pasti darinya –yakni: Abdurrohman Al ‘Adany-, dan juga diketahui dari keadaannya yang tidak punya sikap memerangi ahlul batil. Dan perkataannya terhadap mereka nyaris tidak ada. Dan dia beralasan saat menghindar dari mengkritik ahlul batil, dengan beberapa alasan yang lemah, di antaranya adalah:
• Takut kepada aparat keamanan, sebagaimana yang diceritakan oleh Akhuna Kamal Al ‘Adany dan lainnya.
• Kabar dari akhuna Amin Al Khorify saat berkata,”Wahai Syaikh Abdurrohman, Abul Hasan ingin membuat makar terhadap dakwah, ingin begini dan begitu. Kami senang jika anda mau baku bantu dengan Syaikh Yahya حفظه الله walaupun dengan satu kalimat saja, atau satu muhadhoroh.” Maka dia menjawab,”Wahai akh Amin, engkau kan tahu bahwa aku ini sakit. Aku tak sanggup berbicara. Syaikh Yahya itu dijaga Alloh, diberi taufiq dan diluruskan-Nya. Dan beliau telah mencukupi tanggung jawab kita, walillahil hamd. Karena dia itu tidak butuh pada ucapanku terhadap Abul Hasan.” selesai.
• Ucapannya juga,”Tidak setiap orang yang berbicara kita harus membantahnya.” Inilah ucapannya pada Zakaria Al Yafi’y pada saat Syaikh Yahya حفظه الله memintanya untuk berbicara tentang Koran “Al Balagh” milik Rofidhoh yang menebarkan berita tentang adanya perselisihan antara Syaikh Yahya dengan Syaikh Abdurrohman sebelum fitnah.
• Berita dari Muhammad As Suwary: “Saya diutus Syaikh Yahya untuk menyampaikan amplop di dalamnya ada risalah untuk Abdurrohman Al ‘Adany pada saat dia mengajarkan kitabul Buyu’ dari kitab “Ad Darori” di masjid Mazro’ah. Maka berangkatlah aku dengan surat tadi hingga tiba di rumah Abdurrohman, maka kuketuk pintunya. Diapun keluar dan kusalami dia dan berkata: Ini ada surat dari Syaikh Yahya. Maka aku berjalan bersamanya menuju dars di masjid Mazro’ah. Maka di pertengahan jalan Abdurrohman membuka surat tadi dan mulai membacanya. Lalu dia berkata,”Wallohul musta’an.” Kukatakan,”Khoiron!!!” Dia berkata,”Syaikh Yahya memintaku untuk berbicara.” Kutanyakan,”Terhadap Abul Hasan?” Dia menjawab,”Bukan, hanya terhadap Al Bakry.” Maka mulailah dia menyampaikan beberapa udzur, di antaranya adalah: “Orang-orang akan berkata bahwasanya aku hanyalah berbicara demi membalas dendam pribadi.” Maka kukatakan,”Berangkatlah ke Syaikh dan Anda berdua bisa saling memahami.”
Maka seperti ini menunjukkan apa? Dan kami tidak mendapati pada Abdurrohman adanya desah pengingkaran terhadap perbuatan para pengikutnya, ataupun baro’ah syar’iyyah yang menunjukkan lepasnya dia dari tuntutan aib tadi, dan tiadanya keridhoan dia terhadap perbuatan mereka, bersamaan dengan tuntutan para masyayikh untuk itu.
Dan bagaimana bisa sempurna sementara dia itu adalah pemimpin dan teladan mereka dalam bab ini, sebagaimana keadaan sumpahnya. Dan yang memperkuat kenyataan ini adalah perkara yang telah berlalu penukilannya dari akh Hani’ Al ‘Adany Al Kuwaiti saat disebutkan padanya bahwa para pengikutnya mencaci Syaikhuna Yahya dan mentahdzir orang dari Dammaj. Dan dia meminta Abdurrohman untuk menasihati ikhwah di sekelilingnya karena para muta’ashshibun mencaci Syaikhuna Yahya dan mentahdzir orang dari Dammaj, seperti Al khodasy dan selainnya. Maka dia berkata,”Wahai Akh Hani’, engkau telah lama pergi dari Yaman, engkau tak tahu apa kenyataan yang terjadi di Yaman di sekelilingmu. Dan kunasihatkan padamu untuk tidak berbenturan dengan para ikhwan para pemuda. Engkau diam sajalah. Perkaranya akan jadi jelas insya Alloh.” Selesai.
Bersamaan dengan besarnya kriminalitas Abdurrohman Al ‘Adany terhadap dakwah Salafiyyah dan pusatnya.Tidaklah ucapan Syaikh Yahya حفظه اللهdan para muridnya حفظهم الله mencapai kadar ucapan mereka ini. Dan telah diketahui bersama bahwasanya ucapan Syaikh Yahya dan para muridnya حفظهم الله terhadap mereka bersumber dari rel syariat, dengan burhan dan dalil-dalil yang pasti yang memvonis mereka bahwasanya merekalah yang membikin fitnah dan hizbyyyah, bukan seperti yang dikoarkan oleh Abdurrohman Al ‘Adany dan orang-orang yang berta’ashshub padanya.
Pasal Kedua:
Penjelasan Tentang Perpanjangan Fitnah Abdurrohman Al ‘Adany dan orang-orang yang berta’ashshub padanya
Alloh  berfirman:
+ قَدْ قَالَهَا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَمَا أَغْنَى عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ * فَأَصَابَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا وَالَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْ هَؤُلَاءِ سَيُصِيبُهُمْ سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا وَمَا هُمْ بِمُعْجِزِينَ_ [الزمر/50، 51]
“Sungguh telah mengatakannya orang-orang yang sebelum mereka, maka tidaklah bermanfaat bagi mereka apa yang mereka kerjakan. Maka kejahatan-kejahatan yang mereka kerjakan menimpa mereka. Dan orang-orang yang zholim dari kalangan mereka itu, akan menimpa mereka apa yang mereka kerjakan, dan mereka tidak bisa lolos darinya.” (QS Az Zumar 50-51)
Dan berfirman:
+ كَذَلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ * أَتَوَاصَوْا بِهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ _ [الذاريات/52، 53]
“Demikianlah, tidaklah datang seorang rosulpun pada orang-orang yang sebelum mereka kecuali mereka berkata,”Dia itu adalah tukang sihir atau orang yang gila.” Apakah mereka saling berwasiat dengannya? Bahkan mereka itu adalah kaum yang melampaui batas.” (QS Adz Dzariyyat 52-53)
Dan berfirman:
+ كَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنْكُمْ قُوَّةً وَأَكْثَرَ أَمْوَالًا وَأَوْلَادًا فَاسْتَمْتَعُوا بِخَلَاقِهِمْ فَاسْتَمْتَعْتُمْ بِخَلَاقِكُمْ كَمَا اسْتَمْتَعَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ بِخَلَاقِهِمْ وَخُضْتُمْ كَالَّذِي خَاضُوا أُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ_ [التوبة/69]
“Seperti orang-orang yang sebelum kalian, mereka itu dulunya lebih kuat daripada kalian dan lebih banyak harta dan anak. Lalu mereka telah bersenang-senang dengan bagian mereka, maka kalian pun bersenang-senang dengan bagian kalian, sebagaimana mereka telah bersenang-senang dengan bagian mereka, Dan kalian berbicara seperti orang-orang yang berbicara itu. Mereka itulah orang-orang yang gugur amalan mereka di dunia dan akhirat, dan mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS At Taubah 69)
Sesungguhnya termasuk dari ciri-ciri yang paling menonjol dari fitnah Abdurrohman Al ‘Adany dan orang-orang yang berta’ashshub padanya, dan pertanda mereka yang paling terang adalah bahwasanya fitnah mereka yang luas itu polanya adalah seperti pola pelaku hizbyyyah dan fitnah sebelum mereka. Dan yang demikian itu adalah bahwasanya ahlut tahazzub dan ahwa melakukan pemberontakan yang dahsyat terhadap dakwah salafiyyah di Yaman, khususnya pusat ilmu dan dakwah salafiyyah di Yaman. Dan mereka untuk tujuan tersebut memiliki trik-trik yang telah disusun rapi . Dan masing-masing mengambil bantuan dari pendahulunya, walaupun ada sebagian ciri khas yang dengannya mereka menyendiri, meskipun semuanya itu kembali pada sifat global yang mereka sepakati.
Pemberontakan Ikhwanul muflisin.
Maka yang pertama kali memberontak terhadap dakwah salafiyyah, dan khususnya markiz ilmu dan sunnah Darul Hadits di Dammaj, mereka adalah Ikhwanul Muslimun yang menebarkan berita-berita dan kebohongan terhadap Syaikhunal Imamul Mujaddid Al Wadi’i رحمه الله berusaha untuk menempelkan tuduhan-tuduhan, menisbatkan keganjilan-keganjilan ucapan kepada beliau secara dusta, usaha untuk menyembunyikan dakwah beliau dan memperburuk citra beliau dalam rangka untuk melarikan orang dari beliau, dari dakwah beliau, dan dari markiz beliau.
Pemberontakan Sururiyun
Kemudian menyusul mereka anak-anak mereka dari kalangan Sururiyyah dan Quthbiyyah yang bersembunyi di balik baju salafiyyah dan berlindung di balik jam’iyyat khoiriyyah yang lahiriyyahnya adalah amal kebajikan, namun batiniyyahnya adalah penyebaran hizbyyyah, yang disokong oleh tangan-tangan makar dari luar. Yang terkemuka dari mereka adalah Abdurrohman Abdul Kholiq, dan Abdulloh As Sabt.
Dan pemberontakan yang mereka lakukan adalah dengan cara menggaet para penuntut ilmu yang menonjol dari hadapan Syaikhunal Imamul Mujaddid Al Wadi’i –semoga Alloh mengampuni beliau-, dan memalingkan mereka dari kebaikan ini dengan berbagai penipuan keduniaan, pengobaran kebencian jiwa terhadap Syaikh Al Wadi’iرحمه الله dan pengelompokan mereka secara rahasia, yang mengharuskan Imamul Mujaddid Al Wadi’i rohimahulloh untuk berseru tentang hizbyyyah mereka, bersamaan dengan tersembunyinya hal tersebut, dan kuatnya kerahasiaan mereka.
Dulu beliau berkata tentang hal itu,”Ini adalah hizbyyyah yang terbungkus.” Dan inilah keadaan hizbyyyah pada awal permulaannya yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang punya keahlian dan pandangan tajam. Dan beliau رحمه الله waktu itu dibantah oleh para da’i Sunnah, tapi beliau tidak berpaling kepada penentangan tadi, dan tidak lekang di dalam mentahdzir umat dari bahaya pelaku hizbyyyah yang terbungkus itu tadi, karena beliau itu lebih tahu tentang mereka, karena mereka adalah dari murid-murid beliau yang memberontak di hadapan beliau.
Dan mereka pada awal gerakan, mereka berupaya keras untuk merusak murid-murid beliau رحمه الله, dalam keadaan mereka ada di hadapan beliau. Dan mereka berusaha untuk merubah manhaj yang mereka enyam dari Syaikhuna رحمه الله . Sampai akhirnya Alloh ta’ala menyenangkan hati beliau dan menjelaskan pada orang-orang jalan yang diridhoi-Nya, dan manhaj salafi tentang ma’rifatul hizbyyyah, jalan-jalannya dan pokok-pokoknya yang berupa kedustaan, talbis (kesamaran), penipuan, pembalikan hakikat, sebagaimana perkataan beliau yang masyhur yang diulang-ulangnya. Dan dengannya beliau mendidik murid besar dan kecil.
Pemberontakan Abul Hasan Al-Hizby
Kemudian setelah mereka Abul Hasan Al Mishri dengan pemberontakan yang cukup memakan korban besar, setelah Alloh menentramkan dakwah Salafiyyah di Yaman dari pemberontakan ahlit tahazzub sementara waktu, setelah padamnya fitnah Sururiyyah dan Quthbiyyah. Dan dulunya Abul Hasan mengawasi urusan ini dengan hati-hati, dan menunggu-nunggu kebinasaan Ahlussunnah. Dan dia menjadikan manhaj jarh watta’dil sebagai tangga untuk memukul dakwah Salafiyyah dari pintunya yang paling luas, dan senjatanya yang paling kuat. Dan dia menebarkan pemikiran-pemikiran Ikhwanyyyahnya, dan menanti-nanti kesempatan emas untuk itu.
Ketahuilah bahwasanya kesempatan emas itu adalah meninggalnya Al Imamul Mujaddid Al Wadi’i رحمه الله yang mana Abul Hasan berteriak dengan lantang sepeninggal beliau,”Telah pergi zaman ketakutan” dengan pongahnya bahwasanya orang-orang sebelumnya dari kalangan pelaku jam’iyyat itu cuma kardus saja karena mereka menampakkan keinginan mereka pada zaman Syaikh Muqbil (zaman ketakutan). Maka mulailah dia berbuih, bergoyang dan melenguh dengan usul-usul yang rusak, kaidah-kaidah yang murahan dan pemikiran-pemikirannya yang bobrok, serta dakwahnya yang rugi, dan dia mengira bahwasanya setelah sang singa wafat tiada lagi singa setelahnya. Padahal itu adalah harapan nihil belaka. Seandainya Muqbil telah meninggal, Alloh tetap menyisakan seribu Muqbil.
Maka Abul Hasan mengarahkan panah-panahnya ke Darul Hadits markiz Islam dan sunnah untuk menyudahi dakwah Imam Al Wadi’i رحمه الله , melipat leher dakwah tersebut dan merubah arah perjalanannya kearah manhajnya yang bersifat Ikhwany yang luas. Maka dia menimbulkan perpecahan dan kegaduhan, dan menelantarkan banyak sekali dari thullab yang menonjol.
Maka terjerumuslah mereka itu pada keadaan yang sama sekali tak terduga yaitu permusuhan, penyelewengan dan penentangan terhadap dakwah Salafiyyah di pusatnya Darul Hadits di Dammaj, serta condong kepada dunia dengan jauh mengikuti orang-orang sebelumnya. Dan Syaikhuna Yahya –حفظه الله – adalah orang di Yaman yang pertama kali mengetahui makar Abul Hasan, dan beliau menghadapi dan menghadangnya dengan kuat, teguh, dan tekad yang kokoh. Dan beberapa masyayikh dakwah salafiyyah menentang beliau pada awal kejadian ini.
Dan beliau mengalami kecapekan yang amat sangat pada awal beliau memikul beban dakwah sepeninggal syaikh beliau Al Imamul Mujaddid Al Wadi’i رحمه الله , sebagaimana telah diketahui juga makar tadi sebelumnya oleh pembawa bendera jarh wat ta’dil Al ‘Allamah Al Mujahid Robi’ bin Hadi Al Madkholi –semoga Alloh memperpanjang umur beliau- selama beberapa tahun. Maka manakala dia mengobarkan pemikiran-pemikirannya beliaupun menghadangnya sebagaimana ucapan Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh- di dalam “Ath Thobaqot” hal. 26: -beliau menyebutkan penghadangan ahlul haq terhadap fitnah Abul Hasan-: “Ketika Abul Hasan dihantam oleh singa itu Pembawa bendera pembelaan terhadap manhaj salaf sholih pada zaman ini Al ‘Allamah yang masyhur, pembuat perbaikan yang besar Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholi –semoga Alloh memperbanyak pahala dan ganjarannya dan seluruh ulama sunnah, dan membalas mereka dengan jannah, dan tambahan (melihat wajah Alloh)- (selesai).
Dan sungguh Abul Hasan telah mengarahkan pukulan-pukulannya yang beruntun dan bertubi-tubi sebagai upaya untuk menjatuhkan Darul Hadits di Dammaj manakala di tengah perjalanannya itu tidak ada yang menjegal alurnya dan menyerang pemikirannya di Yaman selain Darul Hadits di Dammaj (dan Dammaj itu Dammaj, dulu maupun sekarang. Dan Darul Hadits ini adalah Yahya, dan Al Amin Darul Hadits). Maka Abul Hasan mempersiapkan anak buahnya sebagai pasukan untuk mengobarkan goncangan dan kekacauan, adu domba, pengelompokan, penyebaran kaset dan selebaran yang sasarannya adalah untuk mencabut kekokohan Darul Hadits yang megah, dan memadamkan cahayanya. Dan Alloh tidak mau kecuali untuk menyempurnakan cahayanya.
Maka ketika Syaikh رعاه الله mengetahui rencana jahat ini , beliau membongkarnya dan membuka aib pelakunya , yang akhirnya mereka tidak memperoleh tujuannya, dan hanya menelan kepahitan dan kehinaan , Alloh  berfirman :
﴿ وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ ﴾[فاطر/43].
« Dan tidaklah menimpa makar yang jelek itu kecuali pada pelakunya. »
Maka ketika mereka mengetahui bahwa tidak ada jalan terbuka untuk menghancurkan Darul Hadits حرسها الله dari dalam , maka Abul Hasan dan komplotannya melancarkan serangan berikutnya dengan cara menghubungi para masyayikh baik lewat telpon atau yang lainnya , dengan menampakkan diri kepada mereka sebagai salafi , dan terkadang dengan menantang untuk menjadikan hakim fulan dan fulan atau pendapat fulan dan fulan , terkadang terhadap ulama Yaman , dan terkadang kepada ulama Madinah ,dan terkadang pula menghubungi ulama Syam , dan terkadang dengan mengumpulkan kesalahan-kesalahan yang dibuat-buat untuk disebarkan dilingkungan salafiyyun, yaitu dengan cara memotong- motong kalimat dan menyambungnya dengan kalimat lain atau dengan cara menempatkan kalam yang bukan pada tempatnya kemudian diajukan kepada sebagian ulama dalam rangka menggulingkan Darul Hadits Dammaj dengan cara menjatuhkan syaikh Yahya رعاه الله .
Dan Abul Hasan menjadikan makarnya sebagai tangga untuk memperluas daerah fitnah , dengan menyandarkan perkara seseorang , dan apabila terbongkar dia pindah kepada orang lain , dan mencari-cari kesempatan untuk menyebarkan fitnahnya dan mengalihkan pandangan manusia dari orang yang telah mengetahui hakikat perkaranya sejak dini, dan memanfaatkan sebagian keterangan yang di keluarkan oleh sebagian orang yang masih berbaik sangka kepadanya dan belum mengetahui hakekat halnya , untuk menyebarkan fitnahnya dan memperkuat diri dalam menghadapi ahlul haq, dan metode menyebabkan sebagian thullab dan selain mereka terjatuh kedalam penyelewengan , dan sebab yang paling besar adalah karena rumah tidak didatangi dari pintu masuknya (maksudnya : mendatangi perkara tidak melewati jalurnya ) dan tidak membiarkan perkara kepada ahlinya.
Maka tidak beberapa lama kemudian, Alloh membongkar keadaan dia dan membuka makar-makar dia dan menampakkan bahayanya. Maka Alloh memilah dakwah salafiyah dan mensucikannya dari kejelekan-kejelekan Abul Hasan, dan nampaklah pandangan tajam dari pejuang-pejuang medan ini seperti Syaikh Al-‘Allamah Al-Mujahid Robi’ bin Hadi Al-Madkholi حفظه الله dan Syaikh Al-Allamah Al-Mujahid Ahmad bin Yahya An-Najmi رحمه الله dan Syaikhna Al-Mujahid Yahya bin Ali Al-Hajury حفظه الله sampai Syaikh Abdul ‘Aziz Al-Buro’iy حفظه الله berkata kepada Abul Hasan di beberapa bantahan beliau: “Benar, sungguh telah tepat firasat Syaikh Yahya Al-Hajury terhadapmu tatkala beliau berkata: “Abul Hasan memiliki manhaj yang berlawanan dengan dakwah salafiyah.” Selesai.
Dan berkata syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Wushobi وفقه الله: “Kalau sekiranya dulu kami menolong Syaikh Yahya dari awal perjuangan ini.”
PEMBERONTAKAN SHOLEH AL-BAKRY.
Dan di saat ahlus sunnah masih terus mengatasi sisa-sisa fitnah Abul Hasan dan belum sembuh total dari luka akibat fitnah ini, saat itu pula muncul Sholeh Al-Bakry mencela dakwah salafiyah dari belakang dan mengerahkan usaha untuk menjatuhkan ujung tombak markiz salafy ma`had Darul Hadits Dammaj, diwaktu yang sepantasnya bagi dia untuk mengerahkan segala kemampuannya untuk mendukung dakwah salafiyah dengan mempertahankan dan membela benteng induknya. Akan tetapi dia justru menampakkan pemberontakannya dengan bersandarkan pada bekal, perlengkapan dan senjata pemberontak sebelumnya. Maka dia memberontak kepada Syaikhuna Yahya – رفع الله قدره – yang tidak memiliki bobot sama sekali , hal itu disebabkan karena:
 Tuduhannya terkadang atas kesalahan yang mana Syaikh Yahya telah ruju’ darinya.(1)
 Atau sesuatu yang kebenaran pada pihak Syaikh Yahya حفظه الله (2).
 Dan terkadang pada perkara yang lebih utamanya untuk ditinggalkan (bukan karena salah atau keliru secara syar`i seperti perkataan yang agak kasar dan kotor dalam menghinakan ahlul bid`ah) karena (hal itu) dipergunakan dan diambil kesempatan oleh orang-orang yang berniat jahat terhadap Syaikh حفظه الله yang di dalamnya menggambarkan sesuatu yang jelek terhadap ahlul haq.(3)
 Dan terkadang dengan perkataan yang dipotong-potong dan menjadikan hal tersebut sebagai jembatan untuk menghantam Darul Hadits dan menjatuhkannya dan berusaha keras untuk menghancurkannya, dengan mendorong para penuntut ilmu untuk keluar darinya, walaupun dengan cara menggantikan kesibukan tholabul ilmu dengan kesibukan-kesibukan perkara dunia dan meninggalkan menuntut ilmu. Akibatnya keluarlah sekelompok pelajar asing (luar Yaman) dan mereka kembali ke negeri kafir, dan sebagian pelajar dalam Yaman yang berakibat sebagian mereka tertimpa dengan perkara yang merusak agamanya, yaitu dengan menjadikan manhaj penipuan dengan perhiasan duniawiyah sebagai jalan untuk menarik para penuntut ilmu.
Maka tampillah Syaikhuna Yahya حفظه الله menghalau fitnahnya karena beliau memahami tujuan dan bahaya-bahayanya (terhadap dakwah salafiyah) karena perkara tersebut adalah fitnah yang bersumber dari pemikiran-pemikiran pengekor Abul Hasan . Di mana puncak tujuannya sebagaimana halnya dengan tujuan dari fitnah-fitnah sebelumnya yaitu usaha keras untuk menjatuhkan markiz Darul Hadits Dammaj , dan Sholeh Al-Bakry dalam perkara ini dibantu oleh pembawa bendera Al-Haddadiyah di Yaman yaitu Falih Al-Harby sebagaimana yang disifatkan oleh pembawa bendera jarh wat ta’dil Al-Allamah Al-Mujahid Robi’ bin hadi Al-Madkholi – حفظه الله وأعز قدره -. Karena Falih Al-Harby ingin memusnahkan Dakwah Salafiyyah dari pokoknya dengan perkataan yang lemah dan kosong, dilemparkannya tanpa pertimbangan kesudahannya.
(PEMBERONTAKAN ABDURROHMAN Al-‘ADNY)
Maka tatkala berakhir fitnah Sholeh Al-Bakry dan tergagalkan rencana-rencana busuknya yang mana tidak memiliki pengaruh berat terhadap roda perjalanan dakwah salafiyah bahkan tidaklah menambahnya kecuali kemurnian, kekokohan dan kemakmuran. Maka tiba-tiba Abdurrohman Al-Adany menampakkan apa yang selama ini disembunyikan dan dirahasiakan berupa fitnah dan perpecahan.
Menantikan kesempatan yang cocok dan bangkit dengan giliran yang diidamkannya sebagaimana pengakuannya sendiri dihadapan para masyaikh di awal pertemuan dalam pembahasan fitnahnya: “Saya tidak menyembunyikan perkara ini kepada kalian , bahwasanya setelah berakhirnya fitnah Al-Bakry datang kepada saya beberapa orang dan berkata kepadaku: “Telah jatuh Al-Bakry, maka bangkitlah kamu sekarang!” Sebagaimana yang telah dinukilkan oleh Syaikh kami Yahya, حفظه الله. Selesai.
Tujuannyapun serupa dengan model sebelumnya dari para pemberontak yang telah kalian ketahui, yaitu pemberontakan dan menebar fitnah terhadap pusat dakwah salafiyah dan ilmu Darul Hadits di Dammaj.
Dan tidaklah fitnah dia dan fitnah para pengikutnya lebih kecil dari fitnah sebelum mereka, bahkan fitnah Abdurrohman dan pengikut-pengikutnya lebih besar kebohongan dan kedustaannya terhadap dakwah, dari sebagian besar ikhwanul muslimin dan pengikut-pengikutnya , dan fitnahnya paling besar usahanya untuk menjatuhkan Darul Hadits dan syaikhnya , mentahdzir darinya ,memboikot para penuntut ilmu dan menyia-nyiakan mereka. Dan merubah jalan mereka dan mengotori pemikiran-pemikiran mereka dan menipu mereka, dipenuhi dengan dendam dan kebencian , peperangan , propaganda mereka, mengadu-domba antar ahlul ilmi , kegilaan dan kekotoran lidah-lidah mereka dan banyaknya celaan-celaan mereka sebagaimana telah lewat di halaman depan, dan tidak perlu diulang kembali.
Dan ketahuilah bahwa yang menjadi tumpuan sandaran dalam fitnah ini juga sebagian senjata tumpul sebelum mereka,(1) yang mengadakan pemberontakan terhadap da’wah salafiyyah di pusat markaznya dan atas syaikhnya yang menjadi sasaran utama adalah syaikhuna Yahya حفظه الله mereka melancarkan tuduhan keji kepada beliau berupa penyimpangan dan keluar dari jalan yang benar dan manhaj Salaf ,mereka mengeluarkan keputusan-keputusan dan fatwa-fatwa ini dari sebagian masyaikh yang masih samar baginya perkara mereka,dan yang belum mengetahui bahaya dari tujuan-tujuan mereka dan apa yang menjadi sasaran mereka terhadap dirinya dan menjalankan untuk tujuan tersebut dari menghancurkan da’wah Salafiyyah dengan menjatuhkan pusatnya Darul Hadits di Dammaj, dengan menghidupkan beberapa permasalahan yang telah terkubur difitnah yang sebelumnya bahkan memperluas api fitnah, yang mana telah dijelaskan oleh syaikhuna gambaran yang sebenarnya dan sisi kebatilan yang mereka dengung-dengungkan.
Dan mereka menambah penyandaran kebatilan kepada syaikh kami atas pendahulu mereka seperti perkataan mereka:
 Bahwasanya beliau mencela Rasulullah  dan para shohabat beliauي dan mereka menyebarkan isu-isu tersebut kepada seluruh manusia.
 Dan bahwasanya beliau menuduh Al-Allamah As-Sa’di dengan pemikiran Ikhwany, dan pencelaan terhadap Al-Allamah Robi’ Al-Madkholi .
 Dan bahwasanya syaikhuna mencemarkan kehormatan ulama Sunnah secara keseluruhan dan mufti Al-Mamlakah Syaikh Abdul Aziz Alu Al-Syaikh.
 Dan sungguh beliau telah menyelisihi wasiat Al-Imam Al-Wadi’i dan penentangan dia terhadap beliau dan merubah metode dakwah beliau dan menuduhnya dengan kebohongan yang banyak dan pemusatan perkataan mereka atas perkara itu bersumber kepada siapa siapa yang telah diketahui kebohongannya di sisi kami dari apa apa yang dituduhkan terhadap syaikhuna.
 Dan pengobaran perkara Al-jami’ah Al-islamiyah dan memanfaatkan peluang ini untuk membela mati-matian atasnya , padahal tidak tersembunyi lagi bagi orang-arang yang memiliki pandangan yang tajam dan orang-orang yang bersikap adil atas apa yang terjadi sebenarnya dalam perkara tersebut.
 Dan sungguh dia mengusir siapa-siapa yang dikehendakinya dan bagaimanapun caranya.
 Dan bahwasanya dia mengurangi porsi materi pelajaran aqidah.
 Dan sesungguhnya dia tukang pengadu domba dan pemutarbalik fakta dan menyeleweng dalam mengkritik.
 Dan sungguh dia menghendaki kesewenang-wenangan di dalam berfatwa dan menginginkan agar menjadi nara sumber utama dalam berfatwa dan menginginkan agar dia sendirilah yang menggerakkan roda da’wah sesuai dengan pandangan dan kemauan pribadi.
 Dan sungguh dia menempuh jalan Abul Hasan diberbagai perkara seperti kelompok baroatudzimmah dan memiliki pemikiran ganjil yang berseberangan dengan para ulama.
 Dan menggembosi para penuntut ilmu agar mendiskreditkan para ulama.
 Dan sungguh dia menempuh jalan Faleh Al-Harby pemimpin Haddadiah dan kaidah-kaidah yang batil dan yang lainnya.
TUJUAN UTAMA PARA PEMBERONTAK DARI PERBUATAN-PERBUATAN YANG TERCELA INI
Dari berbagai tuduhan-tuduhan miring dan kebohongan ini Abdurrohman Al-Adany dan orang-orang yang senang mengobarkan api fitnahnya dari orang-orang yang fanatik terhadapnya berhasil mendapatkan sebagian dari tujuan mereka, maka mereka telah mendapatkan orang-orang yang menyambutnya dengan hangat dan menjadikan dirinya sebagai pembela terhadap mereka.
Dan contoh yang paling dekat atas perkara tersebut adalah mereka berhasil menyeret Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiry-semoga allah memberikan ia taufik- dengan melontarkan kata-kata pedas terhadap Syaikhuna Yahya dan حفظه الله sampai menghukuminya bahwa dia bukan salafy dan dia telah melenceng dari jalan yang benar , sebagaimana jawaban dia ketika menjawab pertanyaan orang-orang Sudan yang direkam dengan suaranya , dan didalam perkataanya semoga allah memberikan dia taufik- dan dia berbicara tentang kalimat :”Ahlussunnah waljamaah adalah kelompok yang paling dekat dengan kebenaran”, “Kalau sekiranya saya menyampaikan kepada kalian maka saya akan menghukumi diri saya sebagai seorang ahlul bid’ah”.
Dan dia menjanjikan pertolongan kepada mereka atas apa yang mereka pandang sebagaimana dalam akhir perkataannya pada pertemuan di Syihr seperti yang terekam dikaset “Petikan-petikan dari pertemuan ahlusunnah di Syihr” maka dia berkata:” Inilah yang dimudahkan wahai Syaikh Abdulloh dan saya mengharap kalian dan ikhwan-ikhwan pengertiannya karena sesungguhnya waktu telah membelenggu semuanya dan kami dalam persiapan insyaalloh untuk memenuhi undangan kalian jika kalian mengundang kami terhadap apa yang telah kalian lihat, berupa pertolongan dan apa yang kalian saksikan dalam bentuk kerjasama di antara kita untuk menolong tauhid dan sunnah, dan salawat dan salam terhadap nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya”. Selesai.
Dan terkadang mereka memanfaatkan jawaban sebagian ahlul ‘ilmi yang mereka pertanyakan kepadanya dari suatu permasalahan yang keberadaanya seperti yang telah lewat (kebohongan atau potongan-potongan kata dst). Yang terkadang mereka (para ulama itu) tidak mengetahui hakikat sebenarnya, seperti yang dilakukan oleh teman-teman Abul Hasan bersama dengan Faleh Al-Harby dan Ali bin Hasan Al-Halaby dan As-Sadlan dan sebagaimana yang dilakukan oleh teman-teman Al-Bakry terhadap Syaikh Al-Fauzan dan selain mereka dari kalangan ahlul ‘ilmi, dan seperti inipula apa yang dilakukan oleh Abdurrohman Al-Adany dan teman-temannya, contohnya mereka menelpon ke Al-‘Allamah Annajmy semoga allah merahmatinya dan kepada Syaikh Robi’ حفظه الله dan beliau membentak dan menghardik sipenelpon gelap ; dan menelpon ke Syaikh Al-Bukhory dan penyebutan hal ini telah lewat didalam bab pengadu dombaan dari halaman-27.
POINT KETIGA: ALWALA WAL BARO YANG SEMPIT
Alloh  berfirman:
+ لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ_ [المجادلة/22]
“Engkau tidak mendapati suatu kaum yang beriman pada Alloh dan Hari Akhir saling mencintai dengan orang-orang yang menentang Alloh dan Rosul_Nya, meskipun mereka itu adalah bapak-bapak mereka, atau anak-anak mereka, atau saudara mereka atau keluarga mereka. Mereka itulah yang Alloh tetapkan keimanan di dalam hati-hati mereka, dan Alloh memperkuat mereka dengan ruh (pertolongan) dari-Nya, dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam Jannah-Jannah yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya, Alloh ridho pada mereka dan mereka pun ridho pada-Nya. Mereka itulah golongan Alloh. Ketahuilah bahwasanya golongan Alloh itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Al Mujadilah 22)
Dan Alloh  berfirman:
+وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ _ [المائدة/56]
“Dan barangsiapa berwala’ (loyalitas) pada Alloh, Rosul-Nya dan orang-orang yang beriman, maka sesungguhnya golongan Alloh itulah orang-orang yang menang.” (QS Al Ma’idah 56)

Juga Al Imamul Bukhory (16) dan Muslim (63) رحمها الله – dari Anas ت berkata: Rosululloh - bersabda:
« ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ –منها:- وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ »
“Ada tiga perkara yang barangsiapa ketiganya itu ada padanya dia akan mendapatkan manisnya iman: -di antaranya adalah:- Dan dia mencintai seseorang, tidaklah dia mencintainya kecuali karena Alloh.”

Dan telah datang riwayat dari Abu Dawud rohimahulloh (4681) dari Abu Umamah تberkata: Rosululloh  bersabda:
« مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الإِيمَانَ ».
“Barangsiapa mencintai karena Alloh, membencinya karena Alloh, memberi karena Alloh, dan mencegah karena Alloh, maka sungguh dia telah mencapai kesempurnaan iman.”
Dan telah dishohihkan Al Imamul Albani rohimahulloh di “Ah Shohihah” (380) dan beliau telah menyebutkan penguat dari hadits Mu’adz bin Jabal rodhiyallohu ‘anhu (1/113) dan beliau menghasankannya, kemudia beliau berkata,”Dan hadits ini dengan kumpulan dari berbagai jalannya adalah shohih.” selesai.
Syaikhul Islam رحمه الله berkata sebagaimana di dalam “Majmu’ul Fatawa” (2/466):
“Maka adapun pemimpin hizby maka sesungguhnya dia adalah pimpinan golongan yang berkelompok, yakni menjadi komplotan. Maka jika mereka berkumpul di atas apa-apa yang Alloh dan Rosul-Nya perintahkan tanpa adanya penambahan dan pengurangan maka mereka adalah orang mukmin, bagi mereka pahala kebaikan mereka, dan akan menimpa mereka dosa mereka sendiri. Tapi jika mereka telah menambah dalam perkara ini dan menguranginya seperti fanatik terhadap orang-orang yang masuk ke dalam kelompok mereka baik kebenaran ataupun kebatilan, dan berpaling dari orang-orang yang tidak masuk ke dalam kelompoknya, sama saja mereka di atas kebenaran ataukah diatas kebatilan, maka ini adalah perpecahan yang dicela oleh Alloh ta’ala dan Rosul-Nya, karena Alloh ta’ala dan Rosul-Nya memerintahkan kepada persatuan dan kasih sayang, dan melarang dari perpecahan dan perselisihan, dan memerintahkan untuk saling menolong di atas kebaikan dan taqwa, dan melarang dari baku tolong di atas dosa dan permusuhan.” selesai.
Dan Al Imamul Mujaddid Muqbil bin Hadi Al Wadi’i رحمه الله ditanya: “Bagaimana cara mencegah para pemuda dari hizbyyah yang tidak jelas, di mana tidaklah melarang dari perkara tersebut kecuali segelintir orang?? Dan bagaimana diketahui bahwa seseorang itu telah menyelisihi manhaj salaf dalam perkara tersebut?”
Maka beliau menjawab, “Diketahui dengan loyalitas yang sempit. Barangsiapa bersamanya maka mereka menghormatinya dan menyeru orang-orang untuk menghadiri ceramahnya dan berkumpul di sekitarnya. Dan barangsiapa tidak bersama dengan mereka maka dia dianggap sebagai musuh oleh mereka..” (“Tuhfatul Mujib”)
Dan sudah dimaklumi bahwasanya tidak ditemukan seorang hizby kecuali asal-usul kelompoknya dibangun di atas wala’ dan baro’ yang sempit. Dan Abdurrohman dan kawan-kawannya telah menempuh cara-cara ini. Di antara bukti-buktinya adalah perkara yang telah lewat penyebutannya yang disertai dengan buktinya. Maka kami menyebutkan di sini secara ringkas, di antaranya sebagai berikut:
 Meninggalkan Ahlussunnah dan memutuskan hubungan dengannya, dan pengelompokan yang mereka timbulkan di tengah-tengah Ahlussunnah.
 Pengelompokan yang tersembunyi.
 Pengadudombaan di antara Ahlussunnah
 Memerangi kebenaran dan ahlinya dengan beraneka ragam cara seperti menghasut pemerintah untuk melemparkan mereka ke dalam penjara, dan menghakiminya serta mengancamnya dengan perantaraan pihak-pihak keamanan, dan memukul mereka.(1)
 Mengambil alih masjid-masjid mereka
 Menjauhkan manusia dari dakwah mereka.
 Dan melarang mereka untuk mengadakan kajian-kajian ilmiyah.
 Dan cercaan-cercaan yang banyak terhadap ahlul haq dengan cara yang tidak benar.
 Dan sebaliknya , saling memuji dan mencintai dan berdekatan dengan siapapun yang bergandengan tangan dengannya selama dia berada di atas apa yang ditempuhnya dan mengambil pendekatan dari kelompok yang sesat.
 Pemutusan hubungan dari ahlul haq.
 Fanatik dan penentangan terhadap mereka.
 Menganggap rendah kedudukan mereka.
Dan di antara bukti-bukti wala dan baro mereka yang sempit adalah:
1- Bahwasanya dulu di antara Abdurrohman Al ‘Adany dan Ali Al Hudzaify Al ‘Adany ada permusuhan dan percekcokan. Dan dulu Ali Al Hudzaify mencela Abdurrohman Al ‘Adany dan merendahkan kedudukannya, sampai hal tersebut menyebabkan timbulnya perpecahan dan perselisihan di antara Ali Al Hudzaify Al ‘Adany dengan beberapa penuntut ilmu di Dammaj demi Abdurrohman Al ‘Adany, dalam keadaan Abdurrohman Al ‘Adany tidak cocok dengan dia, dia berkata,”Saya tidak senang dengan Ali Al Hudzaify, dan dia tidak cocok dengan saya.” Dan ini sebelum terjadinya fitnah. Maka tatkala Abdurrohman Al ‘Adany memulai fitnahnya maka bergabunglah bersama Ali Al Hudzaify dan mereka saling berdekatan. Dan dulu Al Akh Zakariya Al Yafi’y menghujahi(membantah) Abu Ishaq Al Yafi’y, salah seorang dari orang yang fanatik kepada Abdurrohman Al ‘Adany, dan seorang lainnya, dengan perkara tersebut, maka dia menngungkapkan kembali perkara tersebut kepada keduanya. Maka keduanya mengingkari Abdurrohman dikarenakan Ali Al Hudzaify telah terkenal bermusuhan dengan Abdurrohman Al ‘Adany dan pelecehan kepada ulama Yaman. Maka keduanya langsung menelpon Abdurrohman, maka Abdurrohman Al ‘Adany mengingkari adanya kedekatan di antara dia dengan Ali Al Hudzaify Al ‘Adany. Namun beberapa hari kemudian didapati Abdurrohman Al ‘Adany dan Ali Al Hudzaify bergandengan tangan mengisi ceramah dan mereka saling memuji di antara keduanya dengan pujian yang semerbak yang tidak seperti biasanya. Maka Al Akh Zakariya Al Yafi’y menyebutkan hal tersebut kepada Abi Ishaq dan orang- yang bersamanya maka keduanya menelepon Abdurrohman Al ‘Adany dan menanyakan perkara tersebut kepadanya maka dia (Abdurrohman) berkata,”Benar dan sungguh kami telah berdamai.”
2- Dan Syaikh Ahmad bin Ustman حفظه الله adalah seorang yang terhomat dan ucapannya mendapat sambutan baik dari ummat dan beliau termasuk salah seorang murid senior Syaikh Muqbil رحمه الله dan beliau telah menegakkan dakwah yang semarak di kota ‘Adn , maka ketika `Arofat bin Hasan Al-Bushoiry Al-Mahmady – dan dia adalah salah seorang dari pentolan muta`ashibin Abdurrohman- meminta kepada beliau agar Syaikh Ubaid Al-Jabiry waffaqolloh ingin berkhutbah di masjidnya, maka beliau enggan menerimanya, karena dia melihat ada kemaslahatan (pada penolakannya tersebut) dan supaya tidak menimbulkan fitnah di masjidnya , maka setelah itu merekapun dengan serentak sepakat untuk melarangnya mengisi muhadhoroh (ta’lim) di semua masjid (diwilayah ‘Adn) dengan kesepakatan para pembesar mereka sebagaimana yang dikatakan oleh Abdurrohman Badih -dan dia adalah salah seorang muta’shib (fanatik)- dalam percakapan lewat telepon antara dia dengan al-akh Mansur Al-Adany dan mereka mengancam sebagian Imam-imam masjid dengan sebuah ancaman dan pemboikotan jika membolehkan Syaikh Abdulloh bin Utsman untuk mengisi muhadhoroh di sana sebagaimana hal ini diceritakan oleh beliau sendiri.
3- Dan telah disebutkan oleh Al-Akh Kholil At-Ta’izy bahwasanya beliau telah datang ke ”Adn dan mengisi muhadhoroh di masjid Ash-Shahabah dengan permintaan imam masjid tersebut yaitu Syafiq maka tatkala al-akh Kholil berdiri untuk berbicara tiba-tiba berdirilah Abdurrohman Al-Adany keluar dari masjid dengan memberi isyarat kepada orang-orang yang di masjid untuk keluar, maka mereka pun keluar sampai tidak tersisa seorangpun dalam masjid itu kecuali sedikit.
4- Dan telah datang rombongan dari penduduk Yafi’ dari Wadi Hatib ke Fuyusy kemudian Anis Al-Yafi’y – seorang yang muta’shib – berkata kepada mereka, kenapa kalian datang wahai ash-shabul Hajury kami tidak akan menerima kalian di sini.
5- Telah berkata Abdulloh Al-Jahdary, telah mengabarkan kepada kami Ali bin Salim bahwasanya beliau di awal fitnah datang di muhadhorohnya syaikh Jamil beserta sebagian thulabul ilmi dari Dammaj , kemudian datanglah pengikut Abdurrohman Al-Adany kemudian mereka mengingkari kedatangan Ali kepada mereka sembari berkata:” Kenapa kalian datang ke muhadhoroh ini, sedangkan mereka telah datang dari pangkuan Al-Hajury.”
6- Dan Mukhtar Adz-Dzamary Al-Adany yang dulu dia telah membeli tanah kemudian setelah menyebarnya malzamah yang berisikan nasehat syaikh Yahya kepada Abdurrohman Al-Adany agar diberhentikan pendataan (pendaftaran) kemudian pengikut Abdurrohman Al-Adany mengembalikan harta tersebut kepadanya, kemudian mereka menarik kembali tanah tersebut.
7- Demikian pula apa yang mereka melakukan terhadap Roo’iq Abdul Hakim Al-Adany (salah seorang pengkapling tanah).
8- Demikian pula yang mereka lakukan terhadap Husain Al-Kur Al-‘Adany (dulu dia membeli tanah kemudian tatkala dia mendengar nasihat syaikh Yahya, dia langsung menjual tanahnya , kemudian datanglah kepadanya pengikut Abdurrohman dengan membawa uang yang dia bayarkan untuk membeli tanah tersebut. Maka tatkala dia mengabarkan kepada mereka bahwasanya dia telah menjual tanah tersebut maka merekapun meminta padanya agar dibatalkan jual beli yang pertama untuk mengembalikan tanah tersebut pada mereka.
9- Telah berkata Al-Akh Abu Abdillah Muhammad bin Mahdiy Al-Qobbasy –حفظه الله – dan di antara bukti tersebut adalah kami melihat salah seorang dari mereka penduduk desa Roudhoh yang berloyalitas sempit, hal itu terbukti apabila datang salah seorang dari kalangan mereka, mereka mengumumkan padanya muhadhoroh kemudian mereka berkumpul di sekelilingnya dan mengadakan muhadhoroh untuknya dan menyiapkan makanan untuknya dan mereka menjalankan mobil kesana kemari, dan jika yang datang adalah salah seorang dari Dammaj mereka tidak melakukan seperti itu sedikit pun, dan sungguh saya telah mengalami kejadian seperti itu berkali-kali, dan tatkala Syaikh Jamil datang mereka enggan untuk hadir di muhadhorohnya , dan yang terakhir tatkala salah seorang dari temannya Abdurrohman Al-‘Adany sekonyong-konyong mobil-mobil berdatangan dari mana-mana, dan pada waktu yang sama di sana ada syaikh Abdul Hamid Al-Hajury merekapun juga tidak mau menghadirinya dan padahal dia datang ke tempat mereka, bersamaan dengan itu merekapun tidak menghadirinya dan tidak pula menjamunya dan menemuinya.
Dan ini semua adalah kutipan bentuk al-wala’ wal baro’ yang sempit yang diperbuat oleh Abdurrohman Al-Adany dan pengikutnya, dan yang semisal itu sangatlah banyak.
Dan kami akan menyebutkan di sini beberapa cuplikan dari sikap-sikap khusus yang nampak jelas dari al-wala’ wal baro’ hizby yang sempit sebagai tambahan atas apa yang telah lalu (penjelasannya). Dan di antaranya:
Bahwasanya Abdurrohman dan saudaranya Abdulloh Al-Mar’i sejak dahulu mereka tidak merasa ridho terhadap para masyaikh Yaman, telah berkata Al-Akh Sa’id bin Da’as Al-Yafi’y : Telah berselisih Ahmad Misybah dan Wail Al-Adany terhadap syaikh Muhammad Al-Imam dan syaikh Abdulloh bin Utsman Adz-Dzamari dan Syaikh Abdul ‘Aziz Al-Buro’iy , maka berkata Wail: “Mereka itu sekedar masyaikh dan bukan ulama”, kemudian Ahmad Misybahpun membantahnya dan berkata kepadanya: “Mereka itu adalah ulama'”. Maka pergilah Ahmad Misybah kepada Al-‘Adany dalam rangka memberikan hukum masalah ini dan bertanya kepada Abdurrohman tentang hal itu, berkata Abdurrohman Al-Adany: “Mereka itu adalah cuma para da’i dan masyayikh kita tidak mengatakan bahwa mereka adalah ulama'”.
Dan yang menjadi penguat alasan di atas adalah : bahwasanya Abdurrohman Al-Adany tidak menoleh kepada mereka dan tidak pula bermusyawarah dengan mereka dalam membangun markaznya, dikarenakan mereka (para masyaikh) menurut pandangannya adalah orang-orang kecil (ulama’ shighar) sehingga dia tidak merasa butuh kepada mereka sebagaimana dia telah tuangkan dengan terang-terangan pada lembaran-lembaran yang berisikan bantahan terhadap tulisan syaikhuna Yahya Al-Hajury, yang dikirimkan untuknya dalam rangka untuk menjelaskan perkara-perkara yang menyelisihi (syari’at) yang ada dalam pendataan tersebut. Dan apa-apa yang menjurus kepada pertengkaran, yang mana perkara yang berat seperti itu dikembalikan kepada siapa yang telah kalian ketahui dari kalangan ulama’ Ahlussunnah, Dia berkata: Ketahuilah bahwasanya kami telah memusyawarahkan permasalahan tersebut pada sebagian pembesar-pembesar ahlul ilmi (Kibaarul Ulama) sebelum memulainya (membangun ma`had).
Seruan untuk kembali kepada Kibar Ulama, yang merupakan tujuan untuk meruntuhkan Ulama Ahlus Sunnah yang berada di Yaman yang digembar-gemborkan oleh Abdurrohman dan saudaranya Abdulloh Al-Mar’ian dan orang-orang yang bersama mereka berdua.
Di antaranya:
1- Bahwasanya Abdulloh Bin Mar’i berkata dalam kitabnya (Al-Mi’yar); dia telah memberi judul suatu bab dengan tema ” Barokah bersama petuah-petuah kalian”, dia berkata: “Sesuai dengan pembahasan yang telah lewat, kami mengetahui bahwa sembuhnya suatu penyakit , obat yang mujarab ,teredamnya fitnah ,dan tersingkirnya ujian, semua itu berada ditangan Al-Aimah Al-A’lam Ar-Robaniyin (Ulama-ulama Kibar), yang ilmunya mendalam, jujur, yang terkemuka, lahiriah ataupun ma’nawiah.
Dan Abdurrohman tidak memenuhi permintaan para masyayikh pada awal pertemuan yang diselenggarakan di Dammaj sebelum keluarnya dari Dammaj agar dia memberhentikan pendataan tersebut, dan memberikan alasan(meminta maaf) dari perkara yang menimbulkan fitnah atau kegoncangan di Daarul Hadits (pusat da’wah salafiah di Dammaj), akan tetapi dia terus melanjutkan dalam fitnah dan kecongkakannya dan bahkan dia tidak perduli terhadap apa-apa yang diketahui oleh para Masyayikh, dan mereka mengetahui pada Abdurrohman akan timbul darinya akibat-akibat yang jelek, dan kejahatan yang membengkak, kemudian pengikut-pengikut Abdurrohman tidak ridho terhadap hal itu, maka jadilah mereka mencela dan mencaci maki para Masyayikh.
DI ANTARA UCAPAN-UCAPAN MEREKA TENTANG HAL ITU YANG MENUNJUKKAN ATAS KESEPAKATAN MEREKA UNTUK MENDISKREDITKAN PARA MASYAYIKH YAMAN.
2- Telah berkata Muhammad Al-Katsiri:”Telah berkata kepadaku Abdulloh Al-Mar’i berkaitan dengan Syaikh AbdilAziz Al-Buro’iy dan Utsman As-Salimi di kemah Ibnu Suhail pada musim haji tahun 1426 H, dengan suara yang rendah: problemnya bahwasanya mereka menganggap diri-diri mereka itu (berbobot) padahal; mereka itu tidak ada apa-apanya, atau yang semakna dengan ini.
3- Tatkala Abdurrohman keluar dari Dammaj dia duduk sejenak bersama pengurus masjid As-Salam di ‘Adn, dan itu terjadi bertepatan denga hari Iedul Fitri. Dan Abdurrohman Al-Adany berkata di Majelis ini: “Berpegang teguhlah kalian dengan pemuka-pemuka (ulama), dan berpegang teguhlah kalian dengan orang yang telah beruban jenggotnya”. Selesai sebagaimana hal ini dinukil dari kaset rekaman dengan suaranya sendiri.
4- Kemudian datanglah beberapa penasehatnya dari pengikut-pengikutnya mereka memberikan dorongan kepadanya agar bergerak menuju Masyayikh sebagaimana hal ini telah disebutkan oleh Abdul Hakim Ar-Roimi dari Yahya Asy-Syabwi, yang termasuk orang dekatnya Abdurrohman Al-Adany bahwasanya ia berkata: ” Bahwasanya beberapa orang telah pergi ke Abdurrohman Al-Adany setelah keluarnya dia dari Dammaj dan munculnya perkataan Syaikh (Yahya) padanya, mereka katakan padanya: “Al-Hajury mencelamu dan adapun Masyayikh diam, maka jika engkau diam dan tidak bergerak, maka kamu akan habis dan akan jatuh”. selesai.
Maka diapun menyingsingkan lengan baju bersemangat menampilkan posisi sebagai orang yang terdholimi, dan memelas mengharap agar mereka bergabung di barisannya. Ketika dia berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan dari para Masyayikh yang berupa kunjungan-kunjungan dan pujian-pujian dengan sangkaan bahwasanya dia dan pengikut-pengikutnya dan para Masyayikh berada di satu jalan, sedangkan Syaikh Yahya berada di jalan yang lain sendirian, maka diapun dan pengikut-pengikutnya mengumumkan bahwasanya para Masyayikh bersama mereka, agar mereka memiliki kekuatan dengan itu. Dan akhir-akhir ini dia tidak mendapatkan dari sebagian mereka maksud yang sempurna sebagaiman dia mendapatkannya dari yang lainya, dan dia merasa di antara mereka akan memiliki sikap keras kepadanya ,dengan sebab perkara baru yang jelek yang mereka perbuat maka mulailah dia dan para pengikutnya mendiskreditkan mereka dan mempersiapkan diri untuk membantah mereka setelah mereka merasa berhasil menggaet sebagian dari para masyaayikh.
5. Sesungguhnya dia dalam sebuah muhadhorohnya di Mudiyah dan Laudar Abdurrohman Al-Adany ditanya: ” Siapa yang akan menjadi rujukan di kalangan Ahlul Ilmi ??”, dia menyatakan dalam jawabannya: “Beberapa Ulama Najd dan Hijaz” dan tidak menyebut satupun dari Ulama Yaman, sebagaiman telah lalu menukilkan hal ini oleh Abdurrohman An-Nakho’i –ro’ahullah-.
6. Pada bulan sya’ban pada tahun 1429 H Abdurrohman Al-Adany menampakkan kejelekan yang ada pada dirinya kepada saudara Hany Al-Quwaity Al-Adany ,Abil Jarraoh dan akh yang lain bersamanya dan ini konteksnya (berkata akh Hany):” Kami pergi ke syaikh Abdurrohman Al-Adany maka saya menganjurkan dia agar menasehati ikhwan yang di sekitarnya dikarenakan mereka mutaashib yang dengan sebab itu mereka mencela Syaikh Yahya dan mentahdzir Dammaj , maka dia berkata:” Akh Hany kamu telah lama pergi dari Yaman, yang panjang dan kamu tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di sekelilingmu maka saya nasehatkan kamu jangan berpecah belah terutama dengan para syabab biarlah kamu diam terhadap perkara perkara yang insyaAllah akan jelas adapun saya maka para masyaikh kibar yang dalam ilmunya menjadikan hizbyyyah jauh dari saya (mereka tidak menganggap saya hizby) seperti Syaikh Robi’ dan Syaikh Ubaid Al-jabiry dan Syaikh Wushoby adapun penjelasan yang sudah ditunggu-tunggu oleh para syabab akan terbit dan saya tidak terbetik untuk menerima penjelasan-penjelasan pemuda yang kanak-kanak, yang mana mereka menghina ikhwan-ikhwan dalam fitnah Abul Hasan yakni mereka itu setiap hari menurnkan malzamah , Dan menjelek-jelekkan ikhwan-ikhwannya adapun saya tidak menganggap penjelasan mereka dan tidak menunggu dari mereka berupa penjelasan dan yang lain dan kami bersama para masyaikh kibar yang dalam ilmunya. Yang mana mereka tidak menganggap saya hizby yang dengan itu fitnah akan usai. Selesai.
Dan bandingkanlah perkataan Abdurrohman dan saudaranya Abdulloh bin Mar’i sebelumnya: “Adapun Syaikh Imam dan Syaikh Al-Buro’iy maka keduanya goncang dalam fitnah Abul Hasan.” Yang menjadi saksi atas perkataan ini Abul Abbas Asy-Syihry.
7- Berkata Abdulloh bin Mar’i,”Akan terjadi fitnah di kalangan para masyaikh maka hendaklah kalian bersama ulama yang ada di mamlakah su’udiyah”. Dinukilkan oleh Akh Muhammad Al-Katsiry
5- Dan semua teman-teman Abdurrohman seperti Hani Buraoik dan Ali Al-Hudzaify dan Muhammad bin Gholib dan ‘Arofat Al-Basiry maka amalan mereka terhadap ulama Yaman seperti menyebarkan kabar-kabar yang keliru atau mencegah para syabab untuk tidak belajar bersama mereka dan ini sangat Nampak dan jelas.
6- Dan berkata Salim Bamuhriz akh Ahmad Baguts dan Kholid bakhorisoh dan Abu Hammad Nabil Musayyid bahwa pada masyaikh Yaman mereka tidak pingin ingin mendirikan markis dari segala penjuru
7- Berkata Yasin Al’adany para masyaikh mereka tak bisa membedakan yang mana haq dan bathil didalam perselisihan ini mereka tidak mempunya hak untuk mendapati minyak tanah di dengar oleh Abdurrohman Asy-Syaibany.
8- . Kata Al-Akh Abu Abdillah Aidarus bin Nashir Ar-Ridfany di dalam surat edarannya yang berjudul ‘Bidayatul Inhirof,’ katanya: “Para ulama telah mengadakan ijtima’ di Dammaj pada tanggal 13 Jumadal Akhir 1427H, mereka berkata: “Dengan dihentikannya tasjil (pendaftaran atau pendataan) di markaz Fuyusy. Apakah dengan fatwa para ulama tersebut Abdulloh bin Salim sebagai pengurus di Ridfan bisa menjalankan fatwa tersebut atau tidak? Dan apakah dia akan mengembalikan uang yang telah dibayarkan untuk pemiliknya di Ridfany kepada pemiliknya atau tidak?” Perwakilan kami Abdulloh, dia mewakilkan pendataan kepada saudaranya yang bernama Mu’adz. Pendaftaran kami berlangsung pada bulan Jumada, sedangkan uang dipegang oleh Mu’adz. Pada akhir bulan Sya’ban Mu’adz menginginkan uang tersebut diserahkan ke Al-Haddy sebagai penanggung jawab areal tanah. Saya menasehati Mu’adz bahwa tindakan ini menyelisihi fatwa ulama, akan tetapi dia tidak meresponi nasehat saya karena dia cuma menjalankan tugas saja. Maka saya katakan kepada dia: “Apakah kamu punya fatwa para ulama dalam hal ini?” Dia menjawab: “Tidak ada.” Saya katakan kepada dia: “Apa yang dikatakan Abdurrohman adany?” Dia menjawab: “Saya telah telpon Syaikh Abdurrohman adany, kata dia: “Beritanya ada pada Abdulloh bin Salim.” Tapi Abdulloh bin Salim berkata: “Beritanya ada pada Muhammad bin Abdul Qowi.” Sungguh menakjubkan,apa-apaan ini, pelemparan dari fulan ke fulan. Tapi kamu jangan terburu-buru dulu karena kamu sebentar lagi akan mengetahuinya. Kemudian saya telepon Abdurro’uf Ar-Ridfanyi, setelah perbincangan tersebut dia berkata: “Keterangan-keterangan para ulama ada pada Muhammad bin Abdul Qowi dan saya tidak mengetahui siapa Muhammad itu, akan tetapi ketika saya melihat lemparan yang ditujukan ke dia dan dia mempunyai keterangan-keterangan para ulama, langsung saja saya ambil nomor telponnya, lalu saya telpon dia, akan tetapi saya tidak mendapatkannya. Setelah itu saya menelpon Syaikh Al-Imam, saya katakan pada dia: “Wahai Syaikh, kami telah mendaftar setelah dua bulan yang lalu. Tetapi uang yang tersisa sampai sekarang pada Abdulloh, sedangkan tanah kami dialokasi. Apakah kami harus membayarkan uangnya?” Berkata Syaikh: “Kami telah melakukan ijtima’ di Dammaj dan Abdurrohman mengabarkan kepada kami bahwasanya tasjil (pendaftaran) akan dihentikan dan uang yang dikasih ada di tangan ikhwan akan kembali ke pemiliknya, maka kalian jangan bayarkan dan kembalikan kepada ikhwan-lkhwan.Kemudian saya mengabarkan permasalahan ini kepada wakil penanggung jawab kami dan Abdurro’uf. Tetapi mereka tetap pada pendiriannya dan tidak menggubrisnya. Setelah itu saya telah telpon ke Muhammad bin Abdul Qowi Al-Qoirohy yang ada di Ma’bar. Dia telah mengetahui terlebih dahulu keterangan-keterangan para ulama. Lalu dia berkata: “Kalian ambil uangnya untuk Al-Haddi dan kalian adakan ijtima’ secara diam-diam, sedangkan kami sudah melakukan ijtima’ di Ma’bar secara diam-diam. Kami telah menelpon ikhwan yang ada di Yafi’, kami katakan kepada mereka: “Ijtima’lah kalian secara diam-diam.” Dan kalian juga rapatlah secara diam-diam.” Dia mempersoalkan Syaikh Yahya, katanya: “Al-Hajury bertolak belakang dengan markaz, sedangkan markaz tetap akan didirikan.” Beberapa selang kemudian saya ditelpon oleh Abdurro’uf, dia mengabari kami kalau dia sudah menelpon Syaikh Al-Imam dan Syaikh Al-Buro’iy. Keduanya berkata: “Kalian jangan beli dan kembalikan uangnya kepada ikhwan-ikhwan.” Tapi mereka tidak menggubris dan bersikeras menyelisinya. Hal ini dikarenakan Abdurro’uf maftun (terfitnah) sedangkan Mu’adz cuma mengerjakan saja, yang mana Abdulloh yang memerintahkan. Dan dia adalah provokator fitnah di Ridfan. Inilah kisah yang terjadi , jika permasalahannya saja sudah menyelisihi para ulama sejak awal pembangunan dengan cara sembunyi-sembunyi, menyelisihi kebenaran disertai penipuan, bagaimana akhirnya nanti…?”
9- Ucapan Hani bin Buraik ketika berusaha merayu Syaikh Robi` حفظه الله sampai menangis-nangis dihadapannya : “Tamparlah mereka (ulama Yaman) karena mereka suka melipat-lipat manhaj.” Menyaksikan atas hal ini al – akh Abu `Abdulloh Al-Baidhoni حفظه الله dan saudaranya Abu Hammam Al-Baidhoni.
10- Dan telah berkumpul Abu Bilal Murtadho Al adany dan Abduh Husain dengan Hani Buraik maka dia menyebutkan perkataan Syaikh Al- Washoby dan Syaikh Al-Iman dan Syaikh Al-Buro`i tidak sesuai dengan maksud mereka , maka Akh Murtadho menegurnya dan membatahnya sembari memberitahu yang benar kepadanya , maka Hani mengomentari para masyayikh : “Mereka itu para pendusta inginnya kita berselisih sementara mereka enak-enak duduk diatas kursi .” ini kabar dari Akh Murtadho sendiri.
11- Berkata Akrom ‘Arob berkata,”Tidak didapati ulama di Yaman yang pantas menjadi rujukan selain Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab Al Wushobi.” Ini persaksian Jamal Ghushn dari Muhammad Ash Shon’ani.
12- Berkata Sholah Yafi`i : Al-Buro`I dan Imam tidak bisa jadi sandaran dalam masalah fitnah.bersaksi atas hal ini Tsabit bi Abd As-Syamusyi .
13- Berkata akh Abdurrohman Al- Ja`ri رعاه الله dari Ali Hudhaifi dia berkata : Sampai kapan kita terus- menerus pergi ke Ulama kenapa bukan kita yang jadi ulama.
14- Berkata Yasiin At Tahami Adholi`i – dan salah satu fanatis Abdurrohman- kepada Abdul Alim As Sulwi حفظه الله : kita mengikuti para masyayikh selama mereka tidak menghizbykan Abdurrohman kalau mereka menghizbykannya kita tidak akan bersama mereka , kita lihat dulu perkataan mereka , kami tidak bersama orang yang paling banyak ilmunya , kalau kita mengambil ucapan Syaikh Al-Imam kalau dia berbicara tentu kita akan ambil perkataan Syaikh Yahya karena dia lebih pandai. Dan dia juga mengatakan : Dammaj telah berubah.
PERKARA KEEMPAT
Penyelisihan Abdurrohman Terhadap Ketetapan-Ketetapan Manhaj Salaf Dan Perobahan Laju Dakwah Salafiyyah.
Sesungguhnya perkara yang sangat besar terjatuhnya seseorang kedalam hizbyyah adalah menyelisihi manhaj salafi dan merubah laju dakwah yang shohih yang tersusun rapi dengan kitab dan sunnah sesuai dengan pemahaman salafus sholeh , penyelisihan itu dalam rangka menolong , membela dan melindungi kebatilan dan para pelaku kebatilan , seperti apa yang dilakukan oleh ikhwanul muslimin dan anak didiknya dengan kaidah mereka :(al muazanah : penyebutan kebaikan dan kejelekan ketika menjarah ahlil bathil),(al-ma`dziroh dan ta`awun : memberi udzur dalam kesalahan dan tolong menolong dalam kecocokan), (tatsabbut muhdats : pengecekan berita model baru ) dan lain-lainnya yang mereka jadikan sebagai tameng dan pembelaan terhadap kebatilan dan pelakunya.
Alloh  berfirman :
: ﴿ أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ ﴾ [الشورى/21]
« Ataukah mereka memiliki sekutu yang membuat syareat bagi mereka yang tidak Alloh idzinkan bagi mereka ?? »
Dan firmanNya :
﴿ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا﴾ [النساء/82].
« Kalau sesuatu itu datang dari selain Alloh niscaya mereka dapat perselisihan yang banyak didalamnya. »
Berkata Abul Qoosim Al Asbahany رحمه الله : “ Dan sebab ittifaqnya(persatuan) ahlulhadist dikarenakan mereka mengambil dien ini dari kitab dan sunnah , yang dengan itu timbul dari diri mereka persatuan dan saling berlemah-lembut. Berbeda dengan ahlul bid’ah ,mereka menjadikan dien ini semata-mata dari perkataan-perkataan dan akal-akal orang yang bukan sebagai dalil, maka timbul dari mereka pecah belah dan perselisihan.
Berkata Al Imam Asyathiby رحمه الله : « Sesungguhnya lafazh yang digunakan ahlul hawa dan ungkapan-ungkapan yang digunakan ahlul bid’ah, hakekatnya digunakan untuk orang-orang yang melaksanakan bid’ah mereka dan dipampangkan didalamnya hanyalah hawa nafsu dengan istinbath dan menolong hawa nafsu mereka dan mencari-cari dalil untuk membenarkan bid’ah mereka, sebagaimana yang mereka duga . » (Al I’tishom 162)
Dan sungguh hizby baru ini telah menempuh jalan sebagaimana telah ditempuh oleh salaf mereka dari kalangan hizbyyah dalam menyelisihi pokok-pokok salaf dan berjalan diatas kaidah-kaidah ahlul bid’ah yang awal mula-mula telah dibuat yaitu :
(1) Sesungguhnya sebagian masalah kontemporer tidak disyaratkan ada salafnya.
 Mahir bin Ali Ash-Shobaahi telah menuliskan kepada kami pada tanggal 28 Ramdhan 1429 yang di isinya :
“Segala puji bagi bagi Allah dan shalawat dan salam kepada Rasulullah keluarganya dan para shahabatnya dan orang-orang yang berloyalitas kepadanya sampai hari kiamat. Kemudian dari pada itu, maka sungguh saya telah bertanya kepada syaikh Yahya حفظه الله perkiraan setelah tiga tahun yang lampau yaitu apakah dipersyaratkan disetiap permasalahan ada salafnya? Beliau menjawab: Setiap masalah ada salafnya. Kemudian saya pergi umroh pada bulan Sya’ban dan kami menghadiri pelajaran yang dibuka oleh syaikh Rabi’ حفظه الله dan saya bertanya seperti pertanyaan yang tadi maka beliau menjawab: Ya, harus setiap permasalahan ada salafnya dan beliau menyebutkan perkara-perkara yang intinya bahwa dalam masalah-masalah harus rujuk dengan salaf , dikarenakan merekalah yang membawa dan mengemban agama ini yang mana mereka mengambil agama ini dengan teguh dan langsung dari nabi, dan mereka mempraktekkan ilmu mereka dengan adanya nabi dan persetujuannya maka atas dasar itu mereka adalah salaf, dari merekalah harus diambil ilmu, dan karena dari sinilah ahlu bid’ah dan ahlu ahwa’ memiliki pintu masuk ke dalamnya dan beliau menyebutkan perkataan yang panjang khusus dalam perkara ini, kemudian beberapa bulan setelah itu aku bertanya kepada Abdurrohman Al- adany dengan soal yang sama , maka dia menjawab : sesungguhnya ada sebagian permasalahan kontemporer yang tidak disyaratkan ada salafnya, beberapa bulan setelah itu saya bertanya kepada syaikh Abdul Aziz Al-Buro`i kemudian saya bertanya dengan dengan pertanyaan yang sama: dia pun menjawab: “Iya, harus ada salafnya, kemudian saya bertanya dengan dengan pertanyaan lain, yang konteksnya apa hukum yang berkata: Sesungguhnya sebagian perkara kontemporer tidak disyaratkan ada salafnya, maka Beliau berkata: “Sungguh dia telah menghukumi dirinya di atas kesesatan”. Ini yang ada sama saya. Segala puji bagi Allah.
Faedah: Berkata Imam Ahmad: “Jika kamu mampu tidak menggaruk kepala kecuali dengan atsar maka lakukanlah”, dan berkata Al-Maimuny: Berkata kepadaku Imam Ahmad: “Wahai Abul Hasan hati-hati kamu berkata dalam sautu masalah dalam keadaan kamu tidak mempunyai imam dalam masalah tersebut” (Siyar alam nubala: 11/296).
Dan kaidah ini membuka pintu bid`ah bagi orang sesat dan yang mempunyai pikiran yang menyimpang sebagai perantara untuk menghancurkan kesungguhan usaha ahlussunnah dalam mengingkari perkara-perkara bid`ah di zaman ini, dan kaidah ini merupakan pemisah sebagian permasalahan hukum syariat dari pemahaman salaf sebagaimana arahan kaidah sururiyah dengan slogannya :” Aqidah kita salafiyah arahan kita modernisasi” .
2. Membatasi rujukan hanya kepada ulama kibar, baik secara indrawi ataupun maknawi.
1- Berkata Abdulloh Al-Mar’i dalam Kitab “Mi’yarul Ilmi wad Dien” (hal.39) :”Maka sungguh saya menasehati kalian dengan terus menerus tenang dan menjauhi keinginan untuk dihormati dalam fitnah dan saya nasehatkan untuk menunggu perkataannya ulama kibar .”, dan juga berkata: “Akan terjadi fitnah di antara masyaikh maka hendaklah kalian bersama ulama Su’udi (dinukilkan oleh Al-Akh Muhammad Al-Katsiri.
2.- Berkata Abdurrohman Al-Adany kepada akh Hani’ Abi Jarah حفظه الله : “Adapun saya maka para masyaikh kibar yang dalam ilmunya menjadikan hizbyyyah jauh dari saya (mereka tidak menganggap sya hizby) seperti Syaikh Robi’ dan Syaikh Ubaid Al-jabiry dan Syaikh Wushoby adapun penjelasan yang sudah ditunggu-tunggu oleh para syabab akan terbit dan saya tidak terbetik untuk menerima penjelasan-penjelasan anak muda yang kanak-kanak, yang mana mereka menghina ikhwan-ikhwan dalam fitnah Abul Hasan yakni mereka itu setiap hari menurunkan malzamah , Dan menjelek-jelekkan ikhwan-ikhwannya adapun saya tidak menganggap penjelasan mereka dan tidak menunggu dari mereka berupa penjelasan dan yang lain dan kami bersama para masyaikh kibar yang dalam ilmunya. Yang mana mereka tidak menganggap saya hizby yang dengan itu fitnah akan usai…

3 – Sesungguhnya Abdurrohman Al-‘Adany sebelumnya sudah tidak setuju dengan para masyaikh Yaman maka sungguh Said bin Da’as Al-Yafi’ berkata: Telah berselisih Ahmad Misybah dan Wail Al-Adanyy tentang Syaikh Al-Imam Ad-Damariy Al-Buroi. Maka Wail Al-Adanyy berkata: Mereka para masyaikh bukan para ulama, maka Ahmad membantahnya dan membela mereka dan berkata: Mereka adalah para ulama maka Ahmad pun pergi ke Abdurohman Al-Adanyy untuk menghukumi perkara ini, maka mereka berkata mereka itu duat. Mereka para masyaikh dan kami tidak mengatakan mereka itu ulama.
4 – Berkata Abdurrohman Al-Adany dalam selebarannya yang di dalamnya bantahan terhadap syaikh Yahya agar meninggalkan system pendataan: “Ketahuilah , dikarenakan awal mulanya kami telah meminta nasehat dan petunjuk kepada sebagian ulama kibar”.
5 – Berkata Akh Abdulloh Al-Jahdary telah menghabariku Ali bin Salim bahwasanya Abdulloh Al-Mar’i atau Abdurrohman berkata kepadanya : “ Manhaj kami adalah bahwasanya kami tidak menjarah seorangpun sampai ulama kibar menjarahnya”.
6 – Berkata Ali Al-Huzaifi kepada Akh Said Da’as :”Bagaimana jadinya kalau para ulama Saudi mengetahui bahwa kami (Abdurrohman Al-Adanyy) menganggapnya alim padahal dia masih muda”.
Dan ajakan agar membatasi rujukan hanya kepada ulama kibar itu adalah semboyan Abdurrohman Al-Adany dan teman-temannya baik dengan perkataan ataupun , dan perbuatan ini menyelisihi usul-usul manhaj dari berbagai sisi sebagaimana dijelaskan oleh syaikh Bazmul dalam kitabnya “Ibaratun Muuhimah” (hal. 54-56) beliau berkata :
“ Dan termasuk ungkapan yang salah, perkataan sebagian mereka: Syaikh ini bukan termasuk ulama kibar. Perkataan ini sering diulangi oleh sebagian orang jika ingin membantah suatu perkataan yang dikatakan oleh salah satu para masyaikh atau ingin memalingkan seseorang yang tidak mendengar ta’limnya untuk mengambil manfaat darinya, terutama pada perkara mengingkari kemungkaran dan tahdzir dari kebid`ahan-kebid`ahan dan peringatan dari kesalahan, dan hal ini merupakan kebatilan yang ditiupkan oleh syaithon agar memalingkan orang dari mendengar kebenaran atau menerimanya, maka ungkapan itu adalah ungkapan yang tidak bisa diterima dari berbagai sisi:
Di antaranya adalah: bahwasanya pada asalnya perkara adalah bahwa suatu perkataan itu tidak ditolak berdasarkan sosok seorang tokoh. Akan tetapi perkataan itu diterima ataupun ditolak berdasarkan kecocokannya dengan al haq atau ketidaksesuaiannya. Jika mencocoki al haq akan kami terima, tapi jika menyelisihi al haq akan kami tolak. Adapun perkataan seseorang itu ditolak semata-mata karena orang yang mengucapkannya itu bukan ulama besar, maka tidak boleh seperti itu karena menyelisihi usul kaidah yaitu: “Kebenaran itu tidak dinilai berdasarkan orang-orangnya.”
Dan di antaranya adalah: Bahwasanya orang yang mengucapkannya itu ulama kibar, tidaklah dimaksudkan bahwasanya seluruh ucapannya itu benar. Demikian pula jika ucapan itu adalah muncul dari masyayikh yang belum mencapai derajat ulama kibar, tidak berarti bahwa seluruh ucapannya itu batil/salah. Dan sebagaimana datang dari Al Imam Malik رحمه الله : “Tidak ada seorangpun dari kita kecuali bisa menolak atau ditolak perkataannya, kecuali pemilik kuburan ini.” Maka urusannya adalah mengecek dalil orang yang berbicara tersebut, dan sejauh mana kecocokannya dengan kebenaran, atau penyelisihannya.
Dan di antaranya adalah : bahwasanya ucapan seperti ini mengandung upaya menjadikan orang merasa tidak butuh pada ulama, dan penyia-nyiaan hak mereka, selama orang alim tadi tidak dikenal di kalangan mereka, atau mereka tidak punya perhatian dengannya, atau alim yang belum terkenal!
Dan di antaranya adalah : bahwasanya di dalam ucapan seperti ini ada adab yang buruk terhadap hak ulama. Padahal wajib untuk menjaga hak mereka, dan menilai keadaan yang tampak pada diri mereka berdasarkan Al Kitab dan As Sunnah serta perkara yang dulunya As Salafush Sholih ada di atasnya.
Dan di antaranya adalah : bahwasanya ucapan seperti ini sekarang telah menjadi bagian dari kapak-kapak dan alat penghancur bagi ahlul bida’, yang dengannya mereka menolak perkataan Ahlussunnah Wal Jamaah. Maka setiap ada orang alim yang memperingatkan umat dari suatu kebid’ahan yang mereka terjatuh di dalamnya, atau dari suatu kesalahan yang mereka jalani, jadilah ucapan si alim ditolak, dan umat ditahdzir darinya dengan slogan: “Dia bukan dari ulama kibar!”. Maka yang wajib adalah menyelisihi ahlul bid’ah dan berhati-hati dari manhaj-manhaj mereka yang dengannya mereka memerangi al haq dan ahlul haq.
Dan di antaranya adalah : bahwasanya makna ucapan ini adalah: tiada ada hak untuk mengingkari kesalahan yang terjatuh padanya orang-orang yang menamakan dirinya sebagai “Da’i” baik secara individu ataupun kelompok, kecuali orang yang –menurut mereka- termasuk dari kibarul ulama. Dan ini tidak benar, menyelisihi keumuman sabda Ar Rosul yang mulia – :
« مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ ».
“Barangsiapa yang melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah dia merobahnya dengan tangannya, maka jika ia tidak mampu maka dengan lisannya , maka jika ia tidak mampu maka dengan hatinya , dan itulah selemah-lemah iman.” [HSR. Muslim/186 dari Abi Sa'id Al Khudry rodhiyallohu 'anhu].
Dan di antaranya adalah : bahwasanya Alloh ‘azza wajalla memerintahkan untuk kembali kepada orang yang punya ilmu tentang Al Kitab dan As Sunnah (Ahludz Dzikr) dan Alloh tidak mensyaratkan mereka itu harus dari kalangan orang-orang yang masyhur atau ulama kibar. Alloh  berfirman:
+ وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ * بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ_ [النحل/43، 44]
“Dan tidaklah Kami untus seorang Rosulpun sebelummu kecuali para pria yang Kami wahyukan kepada mereka. Maka hendaknya kalian bertanya kepada ahludz dzikr jika kalian itu tidak mengetahui. (Kami untuk mereka) dengan keterangan-keterangan dan kitab-kitab. Dan telah kami turunkan kepadamu Adz Dzikr agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, semoga mereka berpikir.” (QS An Nahl 43-44)
Dan di antaranya adalah : bahwasanya seorang alim itu manakala menyebutkan kepadamu suatu kebid’ahan atau suatu kesalahan yang terjatuh padanya orang ini atau orang itu, maka sesungguhnya si alim itu tengah memberikan kabar padamu tentang keadaan orang itu. Dan kabar dari orang yang tsiqoh itu maqbul (diterima) kecuali jika ditentang oleh kabar yang setara denganya. Dan tidak disyaratkan orang tsiqoh tadi adalah harus dari kalangan ulama yang terkenal, atau dari ulama kibar, karena syarat ini tidak diucapkan oleh para imam di dalam syarat-syarat diterimanya berita! Maka pendapat seperti itu merupakan bertentangan dengan apa yang telah ditetapkan oleh ahli ilmu!
Dan di antaranya adalah : kenyataan yang ada dilapangan bahwa yang diinginkan oleh orang yang mengucapkan kalimat ini adalah sekedar menetapkan kebid’ahan dan tidak adanya pengingkaran. Karena kalau toh kamu, mendatangkan perkataan ulama kibar yang membantah jenis bid’ah ini, atau membantah perkataan yang batil ini, atau menjelaskan orang ini atau itu, pastilah dia menolaknya juga atau berkelit dengan pernyataan lain seperti:
“Wahai saudaraku, syaikh ini terpengaruh oleh orang-orang di sekitarnya.”
Atau “Wahai saudaraku, janganlah kalian menyelidiki aqidah orang dan kesalahan mereka.”
Atau “Wahai saudaraku, menjatuhkan seorang tokoh itu bukan urusan yang sepele.”
Atau “Wahai saudaraku, aku tidak diharuskan untuk mengikuti ucapan syaikh ini.”
Atau ungkapan-ungkapan yang seperti ini. Dan hasilnya adalah kebatilan yang berlanjut, dan seruan untuk mengikuti orang tadi dan kebid’ahannya agar tetap berlanjut. Para penyeru kebatilanpun terus diberi keleluasaan jalan dan dibikin mengkilat sebagai tebusannya adalah tersia-siakan sunnah dan Ahlussunnah. Dan dengannya orang-orang tertipu.
Maka berbaliklah ahlul haq menjadi tidak dikenal oleh manusia, sehingga manusia tidak mau mencari al haq yang ada padanya dan berakibat manusiapun tidak mengenal sunnah. Dan berbaliklah perkara yang ma’ruf itu menjadi mungkar, dan yang mungkar menjadi ma’ruf. Tiada upaya dan tiada kekuatan selain dengan pertolongan Alloh. Dan sungguh kami ini hanyalah milik Alloh, dan sungguh kami akan kembali kepada-Nya).
3- Manhaj Yang Luas Dan Lapang, Dan Peruntuhan Kaidah Wala’ Wal Baro’ Yang Sesuai Syariat Serta Penjernihan Manhaj.
Al Akh Muthi’ bin Muhammad Ba Syurohil Al Hadhromi menulis dan berkata,”Telah terjadi dialog antara diriku dan seorang awam –seorang pemilik stan pameran mobil- seputar kasus Abdulloh bin Mar’i. Maka dia mengabariku bahwasanya Abdulloh bin Mar’i berkata padanya:”Sesungguhnya kami sekarang sedang melawan pemikiran (Bersama kami ataukah berhadapan dengan kami)” padahal kita semua berkumpul di bawah satu bendera, yaitu: “Dakwah kepada tauhid”. Bagaimana kita bisa sampai ke masyarakat dalam keadaan kita memisahkan diri dari mereka? (1)
Si orang awam ini berkata,”‘Iwadh Sa’id mengabariku bahwasanya dia – Abdulloh bin Mar’i- berupaya untuk mengumpulkan ketua-ketua Hasaniyyin yang berdomisili di daerah kami di wadi Hadhromaut seperti Qosim At Ta’zi, Muhammad Ba Bahr, Abu Bakr Al Haddar dan orang yang serupa dengan mereka. dia berupaya untuk mengumpulkan mereka di sisi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Wushobi hingga kalimat mereka terkumpul di situ”. Kemudian si orang awam ini menelepon Abdulloh bin Mar’i untuk memastikan kebenaran isi dialog yang terjadi antara dirinya dan Abdulloh bin Mar’i dalam bab ini. Maka dia (Abdulloh) berkata padanya,”Kapankah kita datang bersama ke Syaikh Wushobi.” (sebagaimana diketahui bahwasanya aku sedang menelponnya) dan dia tidak menjawab. Maka Abdulloh bin Mar’i menutup pembicaraan. Dan telpon saat itu dengan suara terbuka, pakai loudspeaker luar, dan Al Akh Muthi’ bin Muhammad Ba Syurohil mendengarkan: “Syaikh tidak menjawab secara langsung. Akan tetapi hanyalah salah seorang ikhwah yang berbicara lalu menyampaikannya. Bergembiralah, aku akan mengajak bicara salah seorang ikhwah untuk menyampaikannya kepada Syaikh Al Wushobi.” selesai.
Dan ini merupakan penetapan yang nyata untuk kaidah manhaj yang luas dan lapang dan peruntuhan pokok wala’ wal baro’ menurut Ahlussunnah, dan seruan untuk tidak memisahkan diri dengan ahlul batil, dan untuk tidak adanya penjernihan pada barisan Ahlussunnah (dari hizbyyah). Dan upayanya untuk menyatukan kalimat bersama para penyeleweng tadi dari pentolan-pentolan pengikut Abul Hasan tanpa adanya tobat yang benar terlebih dahulu , ini semua merupakan praktek penerapan dari apa yang diucapkannya. Dan yang lebih jelas lagi adalah:
a- Yang dilakukan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Wushobi -waffaqahulloh- di dalam rihlah (safari dakwah) nya yang terkenal ke ”Adn, Hadhromaut, Ta’iz dan Yafi’, yang di dalam acara rihlah tadi terangkat lagi pengikut Abul Hasan seperti Sholah bin Ali Sa’id, Jalal Nashir Al ‘Adany, Muhammad ‘Iwadh Al Yafi’y, dan Jamil Syuja’ yang mana beliau berkumpul dengan mereka dan singgah di masjid-masjid mereka dan memuji mereka tanpa adanya tobat dari mereka, tanpa adanya bayan (penjelasan kesalahan yang telah lalu) ataupun ishlah (perbaikan), dengan ditemani Abdulloh dan Abdurrohman ibnai Mar’i dalam mengangkat sebagian mereka dan berkumpul dengan mereka. Dan tampak keridhoan keduanya dengan perbuatan itu, dan tanpa adanya pengingkaran dari keduanya terhadap perbuatan itu. Dan yang menunjukkan bahwa keduanya itu ada di atas asas awal yang menyelisihi kebenaran itu adalah : manakala Abdurrohman Al ‘Adany pergi ke Hasyid, dan diumumkanlah ceramah buatnya di sana, berjumpalah dia dengan si Hasyidi –salah seorang kepala pengikut Abul Hasan- di dalam ceramah tadi, dan si Hasyidi itu berdiri dan mencerca Syaikh Yahya حفظه الله , lalu seusai pidatonya dia berkata,”Dan sekarang tiba giliran Syaikh Abdurrohman untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan.” Maka Abdurrohman bangkit dan tidak mengingkari cercaannya tadi, tapi bahkan dia menjabat tangan si Hasyidi dan berpelukan dengannya setelah itu.
b- Dan pada bulan Romadhon pada tahun ini 1429 H berjumpalah Muhammad Al Hasyidi –salah seorang kepala pengikut Abul Hasan- dengan Hani’ bin Buroik dan Muhammad bin Gholib –dan keduanhya adalah salah satu kepala fitnah Abdurrohman Al ‘Adni di Madinah Nabawiyyah dan da’inya-. Dinukil oleh Abu Hatim Abdulloh bin Hasan Al Asymuri.
c- Berkata Ahmad Al Bakry حفظه الله : « Datang kepadaku Hasyim As Sayyid untuk memberi nasehat menurur anggapannya, karena dia mendengar bahwa aku telah membaca malzamah-malzamah yang dikeluarkan oleh Syaikh Yahya حفظه الله dalam penjelasan keadaan Abdurrohman bin Mar’i . Kemudian dia (Hasyim) berkata : Tidakkah kami tahu apa yang dikatakan Abul Hasan di muhadhoroh yang disampaikan di masjid Abaas Thohil , Aku menjawab : « Apa yang dia katakan ?? » Berkata Hasyim : » Abul Hasan berkata kepada kawan-kawannya : « Bergembiralah kalian sesungguhnya akan datang kepada kalian tamu » yang dimaksud dengan tamu sebagaimana perkataan Hasyim kepadaku adalah Abdurrohman bin Mar’i . Selesai perkataan Ahmad Bakry .
d- Berkata Abdulloh Thaha dan Sholih Syu’aiby : Jama`ah masjid Ibnu Qayyim yang dibawah Yayasan Al- Hikmah mengumumkan muhadhoroh Abdurrohman Al adany di masjid As Shohabah.
e- Para pengikut Yayasan Al- Ihsaan menyebarkan ditengah-tengah mereka bahwa Abdurrohman Al adany bersama kita,dan setelah itu hadir Abdurrohman Al adany di masjid Asy Syurthah,dan yang hadir di muhadhorohnya sekumpulan dari pengikut Jam’iyyatul Ihsaan atas pimpinan Hani Al Yazidy salah satu pimpinan Jamiyyatul Ihsan di wilayah Buroiqoh (sebagaimana dikabarkan oleh Shalih Al Yafi’y , dan telah mengabari: (Muhammad ‘Audh dan ‘Aly Rohwah dan Adib Abdul Aziz) yang mereka mendatangi muhadhoroh itu bahwa pengikut Jam’iyyatul Ihsan.Berdiri setelah muhadhoroh mereka menyalami Abdurrohman Al adany dan di antara mereka adalah Hani Al Yazidy dan termasuk yang menyalami mereka Hasyim Asy Syayyid dia adalah salah satu gembong fitnah ini dan mengetahui keadaan Hani Al Yazidy .
f- Di antaranya : bahwa sebagian pengikut Abdurrohman mendukung bantahan An Nazili dan As Salimi – di mana keduanya adalah pengikut Abul Hasan – terhadap kitabnya Syaikh Yahya حفظه الله [ Subhu Asy Syariq ] yang menjelaskan kesesatan Abdul Majid Az – Zandany (kabar ini dari Aiman Syawafy).
g- Dan di antara yang menunjukkan manhaj yang luas apa yang terjadi di markaz Abdurrohman Al adany yang dibangun untuk menentang dakwah Salafiyah di wilayah dakwah Salafiyah yang dikumpulkan dibarisannya orang-orang sembarang tanpa penyaringan, diatas daftar/catatan tasjiil/daftar, Ahlus Sunnah dan pengikut Abul Hasan dan pengikut Bakry dan sebagian Takfiry dan sebagian fasiq dan sebagian Ahlud Dunya dengan pengetahuan bahwa markaz ini mendakwahkan diri sebagai markaz ilmu,dan telah memperingatkan Syaikh Yahya حفظه الله atas ini di dalam risalahnya kepada Abdurrohman Al adany .
5- Dan Di antaranya Adalah Sandaran Mereka Terhadap Orang Majhul (Tidak Dikenal) Dalam Bantahan Kritikan , Pengalihan Rujukan Dan Pujian Kepada Mereka.
Ini adalah ciri-ciri yang mereka warisi (para pembuat keonaran) dari abul Hasan dan Falih Harbi dan pengikut-pengikut mereka, di mana mereka menyelisihi apa-apa yang telah dijalani dan diwujudkan oleh Ahlus Sunnah baik yang terdahulu ataupun yang sekarang , dengan metode ini ahlussunnah kembali memetik puncak kemuliaan manusia diatas jalanNya dan diatas asas ini dakwah mereka. Yaitu manhaj pemurnian tashfiyah(pembersihan) yang mana manhaj ini diselisihi oleh seluruh Ahlul Hawa’.
Dan ini adalah dalil yang paling jelas dari apa yang mereka jalani dalam pengeruhan dakwah yang berbarokah ini , dan penyelewengan terhadap utsulnya dan mereka dengan perbuatan ini menyelisihi manhaj tatsabbut (pemastian) yang disyariatkan oleh agama Islam dan Alloh perintahkan untuk mengecek kabar atau berita orang fasiq dengan firman-Nya :
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ﴾ [الحجرات/6]
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila telah datang kepada kalian orang yang fasik membawa kabar maka carilah kejelasan agar jangan sampai menimpa kalian (kejelekan) pada suatu kaum dengan kebodohan sehingga jadilah kalian menyesal dengan apa yang kalian lakukan.” [Al Hujuraat:6]
Dan di dalam sebuah qiro’ah (فتثبّتوا) : “Carilah kepastian”
Dan orang yang tidak dikenal itu dia berada di dalam hukum orang fasik yang mewajibkan kita untuk tatsabbut dari yang selainnya, karena keseluruhan yang ada padanya tidak memiliki kepastian sifat orang yang adil (yang bisa diterima kabarnya).
Oleh karena itu,Ibnu Siriin رحمه الله berkata : “Mereka dulu tidak bertanya tentang isnad .Tapi ketika telah terjadi fitnah mereka berkata : ” Sebutkan pada kami rantai sanad kalian. Maka , mereka melihat, apabila orang-orang tadi adalah Ahlus Sunnah maka hadits mereka diambil.Dan mereka melihat apabila sanad tadi adalah Ahlul Bid’ah maka hadits mereka tidak diambil.(dicampakkan)” (Diriwayatkan Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahihnya).
Faidah:
Berkata Imam Syu’bah bin Hajjaj رحمه الله ta’ala:”Apabila berbicara kepada kalian Almuhaddits dan kamu tidak melihatnya jangan kamu riwayatkan darinya karena kemungkinan dia itu syaithon yang telah berubah wujud.Dan berkata Syaithon:”aku kabari dan aku beritahu yang itu menyelisihi kebenaran.” [Dari kitab “Tadriibur Rowi (2/11)
Berkata Syaikh Rabi’ حفظه الله :”At Tatsabbut fy As Syari’ah wa mauqif Abil Hasan minhu hal.34 : ” Dan kesimpulan terakhir , bahwa orang ini menolak perkataan-perkataan Ulama’ dan persaksian-persaksian Ulama’ serta hukum-hukum mereka, dan membantah kabar-kabar Salafiyiin bagaimanapun banyaknya , di sisi lain mereka menerima dengan hawanya kabar-kabar orang yang tidak diketahui (tak dikenal) atau para pendusta, maka menunjukkan atas apakah prilaku-prilaku dari perbuatan-perbuatan mereka ini ? Dan sesungguh amalan-amalan dia ini menyelisihi at tatsabbut yang disyariatkan dalam agama Islam.Apabila dia berkata (Abul Hasan):” Mereka yang tidak dikenal itu di sisiku adalah orang yang terpercaya (tsiqoot), dan tidak ada yang melazimkanku untuk tatsabbut/mencari kejelasan dari kabar-kabar mereka.” Maka katakan kepadanya:
1) Sebutkan nama-nama mereka dan sanjungan Ulama’ terhadapnya dan ketidak adanya celaan terhadap mereka.
2) Kenapa engkau sembunyikan di belakang at tatsabbut untuk membantah perkataan-perkataan para Ulama’ yang terpercaya, bahkan orang yang lebih tinggi martabatnya, di mana kamu membantah fatwa-fatwa dan perkataan mereka?! Maka apabila engkau mempunyai manhaj yang benar dan maksud yang baik, apa untungnya engkau berbuat seperti ini? Dan untuk apa engkau membantah kabar-kabar dari Salafiyyiin walaupun banyak jumlahnya ? Bukankah semua ini dan itu menunjukkan atas sangat bengkok dan menyelisihi fitroh dan manhaj Salafy yang benar?? Bahkan menunjukkan atas pengingkaran terhadap manhaj ini dan pengikutnya dengan sebenar-benarnya. ?? Selesai perkataannya Syaikh Rabi’ حفظه الله.
Dan sesungguhnya pendorong mereka dalam menyebarkan berita-berita orang-orang majhul dan yang menggerakkannya adalah karena adanya kecocokan dan keserasian mereka terhadap apa yang mereka jalani, dan seperti ini juga apa yang telah dilakukan oleh Abul Hasan Al Mishry dan kayu bakar fitnahnya:
Berkata Syaikh Muhammad bin Abdulloh Al Imam حفظه الله di dalam kitabnya «Bidayatul Inhiroof wa Nihaayatuhu» (hal.336-337) : Dan Abul Hasan dengan terang-terangan telah menerima ucapan-ucapan orang yang tidak dikenal, yang mereka mencela ulama sunnah dan dia(Abul Hasan) berkata di dalam kasetnya «Al-Burhan» :” Adapun saya, maka aku menerima pembahasan-pembahasan ilmiyyah orang-orang yang tidak diketahui,” maka tidak tersembunyi bagimu bahwa pendorong Abul Hasan di dalam menerima orang-orang yang tidak diketahui adalah apa-apa yang terkandung pada pembahasannya dari celaan-celaan terhadap ulama sunnah dan pembelaannya terhadap kaidah-kaidah yang batil dan dari apa-apa yang menunjukkan engkau atas yang demikian ini adalah bahwa mereka yang tidak diketahui menampakkan diri-diri mereka ketika tampaknya fitnah Abul Hasan dan tidak ada untuk mereka alasan yang syar’i di dalam menyembunyikan nama-nama mereka. Selesailah perkataan Syaikh Muhammad Al Imam.

Ini adalah sebagian nama-nama orang yang diketahui yang tersebar bantahan-bantahan tulisan mereka di mauqi'(situs internet) Syihr dan Wahyain(1) pengikut Abdurrohman dan Abdulloh Mar’i bersamaan nama risalah-risalah bantahan mereka:
No. Penulis Majhul Judul Risalah mereka
1 Abdurrohman bin Ahmad Al Barmaky رد شبه (المُحَارِب) المتمحِل مثير الشقاق بين الإمامين النجمي ومقبِل.
التنكيل لما في خيانة عبد الحميد وشيخه الحجوري من الأباطيل.
إيضاح الدليل في كشف شُبه الحجوري صاحب البتر والتعطيل.
انقضاض الشهب البخارية على أوكار الحجوري الخلفية.
الرد الفوري في تحرير محل النزاع بين الشيخ عبيد والشيخ الحجوري.
التعليق الوجيز على كلمات الشيخ العلامة عبيد أبي عبد العزيز.
2 Abdulloh bin Robii’ As Salafy ماذا ينقمون من الشيخ الحجوري (سلسلة من 1-4)
3 Abdulloh bin Qosim Ad Daakhily سلسلة “نحو تربية سلفية صحيحة”رقم(1) الغلوّ في الشيخ يحيى.
دعوة إلى التوبة.
4 Abu Abdillah Abdul Aziz bin Ahmad Al Qohthony نفثات مصدور من دماج بعد أن ملئها الحجوري بالظلم والفجور
السعي المشكور في تعزيز نفثات مصدور
5 Abdulloh bin Ahmad Al Khaulaany ما هكذا تورد يا يحيى الإبل؟
6 Ibnus Shabban Al Manshuury هذا هو اعتقاد الحجوري يا علماء أهل السنة !!!!
7 Abu Abdil Wahhab الحجوري يشجع طلبته بالكذب
الجمع الحسن فيما وقع فيه الشيخ يحيى وأصول أبي الحسن
الرد المبين على الناصح الأمين
8 Abu Hajir As Salafy تنبيه العقلاء إلى مقاصد الحجوري الهوجاء
9 Abu Abdillah As Salafy فتنة الحجوري دائرة بين التهويل والاستخفاف بالعقول
10 Ammar As Salafy ماذا بقي في كتاب الحجوري (الطبقات) بعد فتنته هذه؟!
11 Sa’id bin ‘Aly Al Hamid مع الحجوري ذكرى وتذكير (الحلقة الأولى والثانية)
12 Ath Thoyyib Abul Madiny الحجوري في قفص الاتهام من الحلقة الأولى إلى الرابعة
13 Abdulloh bin Ahmad تجـلية المحـــــنة في حقيــقة الفتــنة
14 Ubaidillah As Salafy تذكير الحجوري بأخلاق العلماء
أوجه الشبه بين الحجورية والحدادية
15 Abu Muslim Muhammad bin Abdillah Al Hamdaany أبـغض الرجال إلى الله
خذوا على يد الظالم
16 Abdulloh bin Mubaarok أكذب من الحجوري
17 Abdulloh bin Mutsanna فاقرة من فواقر الحجوري ضحية التعالم إمام الثقلين
تقعيدات الحجوري تشبه تقعيدات أبي الحسن من بعض الوجوه وتخالفها في المقصد
نصيحة عاجلة إلى ((حُطيئة العصر)) يحيى الحجوري وقد ماتوا بغيضهم
18 Abdulloh bin Habib Al Atsary طعن الحجوري في الصحابة
19 Syakir bin Abdul Aziz As Saalimy تنبيه الخلق على بطلان مقولة الحجوري أن أهل السنة أقرب الطوائف إلى الحق
20 Abu Abdillah Ad Daary
سلسلة الدفاع عن الحق
21 Abu Abdillah Al Hadhromy
ضابط الإفراط والتفريط في مدح العلماء – ضوابط لا يضبطها “الناصح الأمين”
22 Abul Harits Al Asymuury(1) “الصواعق الشديدة على شلة الحجوري وبراءة الذمة الجديدة”

6- Tuntutan Kelompok Abdurrohman Al -Adany Terhadap Tatsabbut Yang Bid’ah Dan Menghancurkan Dasar Ahlus Sunnah Dalam Menerima Kabar Orang Yang Terpercaya.
Di sisi lain mereka menyandarkan berita terhadap orang-orang yang tidak dikenal yang menyelisihi manhaj tatsabbut yang sesuai dengan syari`at , maka sungguh mereka telah menghancurkan dasar penerimaan kabar orang terpercaya yang salafy dan mereka telah terjerumus ke dalam tatsabbut bid’ah gaya baru.(1)
 Dan telah berkata Ali Hudzaify Al adany – salah satu pentolan fitnah Abdurrohman – di dalam kaset syarah hadits “Agama Adalah Nasehat” Wahai para pemuda, sudah cukup kita terjerembab – (jangan terulang kembali), metode para ulama adalah untuk tidak mengoreksi seorang ulama kecuali dari kaset yang dia dengar atau dari kitab yang ditulis yang tersebar di pasar,apabila datang fatwa ini dari kitabnya atau dari kasetnya maka dikoreksi dengan koreksi yang ilmiyah.
 Dan berkata Hudzaify di kaset ini juga :”Termasuk adab di dalam nasehat adalah untuk tatsabbut terlebih dahulu bukan dengan thoriqoh(cara)kegelapan menukil berita-berita yang merusak nama baik,yang merusak masjid,yang merusak dakwah yang banyak,tata cara di dalam berita.
 Dan berkata Aly Hudzaify dalam usaha menghancurkan kaidah menerima berita orang yang terpercaya “Saya ingin wahai para ikhwan untuk kalian memberikan kepadaku dua keadaan-tiga keadaan di zaman sahabat sampai zaman kita sekarang ini ah ah,berikan kepadaku tiga keadaan,yang mana seseorang membawa suatu berita dari Zaid(seseorang dari manusia)kemudian dia naik ke atas mimbar dan menghukumi dengan sejelek-jeleknya hukuman,Demi Alloh bukanlah ini jalannya sahabat dan bukan jalannya tabi’in.
Dan telah menetapkan kaidah ini juga orang yang tidak dikenal – Abdulloh bin Robi’ As Salafy – seperti yang dia katakan dalam bantahannya yang berjudul”Apa yang mereka cela terhadap Syaikh Hajury”Barangsiapa yang ingin melihat metode tatsabbut versi Syaikh Yahya maka hendaknya melihat terhadap cara dia ini : Kemudian penelponan tersebut di antara dua Syaikh mendekati waktu Ashar, berapa waktu yang tersisa yang diberikan Syaikh Yahya untuk sampainya berita kepada Syikh Abdulloh dan meminta penjelasan darinya tentang kebenaran perkara-perkara itudan meneliti hujjah-hujjahnya apalagi yang bersangkutan dengan perkara agama dan manhajnya? Jawabnya: Apa-apa yang tidak terbetik di dalam pikiran seorangpun dari detik-detik yang terhitung! Maka setelah shalat ashar di hari itu juga naik Al Hajury di atas kursinya dan menghukumi terhadap Syaikh Abdulloh bahwa dia itu berjalan diatas jalan Hizbyyah maka ini adalah tatsabbut di sisi Hajury,dan adapun perkataan dia bahwa dia tidak mendapatkan nomor telepon maka sungguh jeleknya dari suatu udzur,maka apakah ini adalah paling jauhnya kesungguhan dia di dalam mencurahkan sebab-sebab tatsabbut di dalam bab kehormatan?
Dan misal-misal yang menyalahkan seruan mereka ini , yang datangnya dari Nabi –  – dan dari sahabat dan dari tabi’in banyak sekali tidak terhitung,di antaranya:
1) Dari hadits Abu Mas’ud Al Anshory ‘Uqbah bin ‘Amr Al Badry –radiyallohu ‘anhu-:”Sesungguhnya seorang lelaki berkata :Demi Alloh !ya Rasululloh,sesungguhnya aku tidak mengikuti dari shalat subuh karena sebab fulan karena panjangnya shalat dia,maka aku tidak melihat Rasululloh –shallallohu ‘alaihi wa sallam- di dalam nasehat sangat marah lebih dari hal itu .kemudian Rasulloh –shallallohu ‘alaihi wa sallam- berkata:”sesungguhnya dari kalian ada orang-orang yang membuat lari ,maka siapapun dari kalian yang mengimami manusia hendaknya meringankan,maka sesungguhnya di antara mereka ada orang yang lemah dan ada orang tua dan ada orang yang banyak keperluan.(Mutafaqqun ‘alaih.)
2) Dari ‘Aisyah –radiyallohu ‘anha- berkata :”Datang kepada Aisyah Bariroh meminta kepadanya untuk memerdekakan dirinya maka Aisyah –radiyallohu ‘anha- berkata :Kalau kamu mau aku berikan tuanmu dan walaa’ untuk aku,maka berkata tuannya:”Kalau kamu mau kamu memberinya apa yang tersisa,dan kalau kamu mau merdekakanlah dia dan walaa’nya untuk kami,maka ketika datang Rasululloh –shallallohu ‘alaihi wa sallam- aku kabari dia dua hal tersebut maka berkata Nabi –shallallohu ‘alaihi wa sallam- :”Belilah dia dan merdekakanlah maka sesungguhnya walaa’ untuk orang yang memerdekakan” Kemudian berkata Rasululloh –shallallohu ‘alaihi wa sallam- diatas mimbar:”Bagaimana keadan suatu kaum mensyaratkan suatu syarat yang tidak di dalam Kitabulloh,barangsiapa yang mensyaratkan syarat yang bukan di dalam Kitabulloh maka tidaklah bermanfaat,walaupun seratus syarat. Dan di dalam riwayat lain”Bagaimana keadaan orang-orang yang mensyaratkan syarat yang tidak ada di dalam Kitabulloh,apa-apa dari syarat yang bukan dari Kitabulloh maka itu adalah batil walaupun seratus syarat,hukum Alloh lebih berhak dan syarat Alloh lebih kuat sesungguhnya walaa’ untuk yang memerdekakan.Mutafaqqun ‘alaihi.
3) Hadits Jabir bin Abdillah –radiyallohu ‘anhuma- :Bahwa Nabi –shallallohu ‘alaihi wa sallam- berkata kepada Mu’az –radiyallohu ‘anhu- ketika sampai kepada Nabi bahwa dia memanjangkan shalat,berkata Nabi –shallallohu ‘alaihi wa sallam- :”Apakah engkau tukang fitnah wahai Mu’az! apakah engkau tukang fitnah wahai Mu’az! (Mutafaqqun ‘alaihi),didalamnya ada kisah.
4) Dan berlepasnya dirinya Abdulloh bin ‘Umar –radiyallohu ‘anhuma- dari qodariyah ketika sampai kepada dia berita bahwa mereka mengatakan sesungguhnya perkara itu unuf(belum diketahui oleh Alloh) yaitu takdir. (Riwayat Muslim)
5) Berkata Imam Hakim rohimahulloh di dalam kitab Ma’rifatu Uluumul Hadits 1/5:Aku mendengar Abal Husain Muhammad bin Ahmad Al Handholy di Baghdad berkata:”Aku mendengar Aba Ismail Muhammad bin Ismail At Tirmidzi berkata:Aku bersama Ahmad bin Hasan At Tirmidzi di sisi Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal maka berkata Ahmad bin Hasan :”Wahai Abu Abdillah!orang membicarakan Ashhabul hadits di sisi Abu Kutailah di Makkah.” Maka berkata dia: ”Ashhabul hadits kaum yang jelek maka berdirilah Imam Ahmad sambil mengusap bajunya dari debu dan berkata:”Zinndiq, Zinndiq, Zinndiq!” Kemudian masuk ke rumah. Dan berkata Al ‘Allamah Robi’ bin Hadi Al Madkholy حفظه الله di dalam bukunya: “Al Mauqifush Shohih Min Ahlil Bida’ ” (Sikap yang benar terhadap Ahlul bid’ah”) halaman 21-22 :” Ibnu ‘Umar ketika sampai kepadanya bahwa suatu kaum menyelidiki/berdalam-dalam di dalam ilmu dan mereka berkata:”Bahwa tidak ada takdir” maka dia berkata:”Sampaikan kepada mereka bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku “,dia tidak membuka lembaran tahqiq-tahqiq dan selainnya sebagaimana dilakukan sekarang ini oleh para Ahlul bid’ah melemparkan manusia dalam keadaan dzolim dan bermusuhan, lalu apabila telah pasti bagimu sesuatu dari kesesatan mereka, lalu engkau berbicara dan memperingatkan orang dari mereka maka mereka berkata:”Dia ini tidak tatsabbut” Kita berlindung kepada Alloh dari hawa. Selesai.
Dan berkata Al Imam Asy Syinqithy رحمه الله di dalam kitabnya “Mudzakkiroh Ushul Fiqh” halaman 168 terbitan baru:”Orang yang datang dengan berita kalau dia bukan orang fasiq bahkan kalau dia itu dikenal dengan adil dan kejujurannya maka dia tidak diwajibkan untuk mencari kejelasan di dalam beritanya atas qiro’ah (فتبينوا ) dan tidak tatsabbut seperti qiro’ah(فتثبتوا ) bahkan wajib untuk beramal dengannya pada waktu itu juga dengan tidak tabayyun dan tidak tatsabbut.Selesai.
Dan Abdulloh bin Mar’i telah memenuhi risalahnya yang berjudul (yang artinya) “Timbangan ilmu dan agama sebagai jawab atas sebagian kedustaan dan pembetulan terhadap pemahaman yang salah” dengan tuntutan untuk tatsabbut di dalam berita-berita orang-orang terpercaya dari kalangan penuntut ilmu yang dikenal dengan kejujuran dan amanah seperti saudara Muhammad Baroidy Al ‘Amudy, dan Sa’ad Al Ghuroby serta Abu Bilal Kholid bin ‘Abud Al Hadhromy dan selain mereka , yang mereka menukilkan dari Abdulloh kepastian yang dia lakukan , dari apa yang mereka lihat pada diri Abdulloh, atau mereka dengar darinya , dan apa-apa yang mereka ketahui darinya berupa penyelewengan-penyelewengan dengan tidak menetapkan apa yang mewajibkan kefasikan mereka dan menolak berita-berita mereka kecuali kedustaan belaka yang kosong dari penjelasan yang tegak di atas hawa, dan mencap mereka sebagai namimah walaupun mereka jujur sebagaimana yang dia tegaskan di”timbangannya” halaman 43 : « Anggaplah bahwa saksinya itu jujur terhadap apa yang dia sebutkan, maka cukuplah bagi dia sebagai seorang namimah ( orang-orang yang suka mengadu domba) dan tidaklah dia , itu pantas sebagai saksi, demi Alloh) » .
Dan berkata Abdulloh di halaman 23 : « Yang mengherankan dari jalan ini di dalam mencerca terhadap saudaranya para da’i kepada Alloh adalah berdirinya seseorang yang tidak pandai berbicara, dan tidak mengetahui bagaimana menukil permasalahan yang ilmiyyah apalagi sampai memahaminya. Maka dari syariat dan agama yang manakah kesaksian yang tidak dikenal di kalangan saudara-saudaranya, yang dusta di dalam persaksiannya, jadi sebab untuk membolehkan cercaan terhadap saudara-saudaramu ?? ringkasnya : « Pemaparan bukti adalah kewajiban bagi orang yang menuduh, dan sumpah adalah kewajiban orang yang mengingkari, » Dan memungkinkan bagi engkau untuk tatsabbut dengan cara menelpon atau mengirimkan utusan atau lewat surat, maka ini tidak menyulitkan seseorangpun,maka apakah sesuatu yang menyenangkan yang mendorong kamu kepada ketergesaan dan menyebarkan tuduhan terhadap saudara-saudaramu di dalam kaset-kaset yang memenuhi dunia dengan cercaan terhadap kehormatan-kehormatan saudara-saudaramu dan menimbulkan kegoncangan di antara Ahlus Sunnah dan membuat senang musuh-musuh dan selainnya dari kerusakan-kerusakan yang banyak, Wallahul Musta’an. Selesai.
Dan berkata Abdulloh di halaman :(14) : « Ini agar engkau mengetahui bahwa orang-orang yang menukilkan berita kepadamu , bukanlah orang yang punya keahlian apalagi dari lemahnya amanah yang mewajibkan untuk tatsabbut,dan kami takut dengan keterburuanmu dan tidak adanya tatsabbutmu untuk pantas bagimu perkataan salah seorang penyair:
ومن يكن الغراب له دليلا يمرّ به على جيف الكلاب
“Dan orang yang menjadikan burung gagak sebagai petunjuk jalan , dengannya dia akan melewati bangkai anjing”
Maka kantor At Takwa adalah sebagai tanah pekarangan dan bukan markiz perhatikanlah lafadznya, tanah itu adalah milik sebagian ikhwan yang mereka itu mempunyai hak asal yang tercantum sesuai dengan namanya di wilayah Haramain maka yang ada di Syihr adalah cabang darinya,maka jika engkau ingin untuk tatsabbut utuslah orang yang mau tatsabbut,akan tetapi setelah apa….??!.Selesai.
Dan berkata di halaman (21) : ” Bukankah yang lebih utama bagi orang yang semisalmu untuk memperbaiki sesuatu yang butuh nasehat saja tanpa adanya pembongkaran aib didepan umum, dan menyesakkan dada, maka tidaklah menjadi suatu yang mesti dan wajib menyegerakan perkataan tanpa adanya tatsabbut dan saling menasehati dan saling mendengar terhadap jawaban orang-orang yang dikritik , apabila mereka memiliki jawaban di mana dakwah kita tidak membutuhkan kekacauan dan keributan-keributan serta fitnah-fitnah seperti ini).
Dan berkata di halaman (27): ” Perkataan tersebut telah terkumpul didalamnya antara kedustaan dan ketidak adanya ketelitian dalam menukil apa yang terjadi, dan tidaklah sebabnya kecuali terburu-buru dan tidak adanya tatsabbut. Selesai
Dan berkata Al Majhul Abdulloh As salafy di dalam bukunya “Apa yang mereka cela dari Syaikh Yahya hal (6): mengingkari dan mengkritik Syaikh Yahya dalam mengambil berita orang-orang yang terpercaya dan bersandar dengannya dalam menghukumi perbuatan-perbuatan Salim ba Muhriz , Abdulloh dan Abdurrohman bin Mar’i . dia berkata: « Apakah engkau mampu untuk tatsabbut terhadap dirimu sendiri » ??. Selesai
Dan berkata hal (6) : mengomentari apa yang disebutkan Syaikh Yahya yang mana dia mendengar perkataan Syaikh Muhammad Washoby « aku lawanmu » dan perkataan ini Syaikh Yahya didengar sendiri oleh beliau dari Washoby : kalau saja Hajury berhati-berhati dan tatsabbut dahulu niscaya dia akan mengetahui bahwa Syaikh Muhammad Washoby mengingkari perkataan ini.selesai
Dan berkata Hani bin Buroik di dalam kasetnya dan dia berbicara atas permasalahan tatsabbut sebagai bantahan terhadap apa yang ditetapkan Syaikh Yahya terhadap mereka dari berita orang-orang terpercaya dan mengatakan :« Semua ini di bawah penyebutan ahlussunnah wal jama’ah yang dituduh dengan tuduhan keji , kebathilan dan dengan lafadz-lafadz yang melukai yang jauh dari kebenaran tanpa tatsabbut dan tanpa dalil , hanyalah kedustaan diiringi dengan kedustaan.
Berkata Syaikh An Najmy : di dalam kitabnya Al Fatawa Al Jaliyah 2/33: Adapun berita-berita orang yang adil sesungguhnya diambil dengannya maka bagaimana kalau yang mengabarkan orang banyak dan dari sebaik-baik masyarakat dan paling tingginya serta paling afdhol ilmunya dan keadilannya maka sungguh wajib dan mesti mengambil darinya dan barangsiapa yang membantahnya maka sesungguhnya dia membantah dengan hawa dalam dirinya maka oleh karena itu dia sesungguhnya hina dan dianggap sebagai hizby dengan penolakan ini maka dia diikutkan dengan mereka dan dianggap dari mereka wabillahit taufiq.
Dan berkata Al Allamah Robi` bin Hadi Al Madkholy حفظه الله di dalam bukunya “Mauqif yang benar terhadap ahlul bid’ah” . hal. (21 – 22) :
Ibnu Umar ت ketika sampai kepada dia suatu kaum yang berdalam-dalam di dalam ilmu Alloh dan mereka mengatakan tidak ada qodar, beliau berkata : « Sampaikan kepada mereka kalau aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku » dan beliau tidak membuka lembaran-lembaran tahqiq (sok detail) dan lain-lainnya , tidak sebagaimana yang dilakukan sekarang oleh ahlul bid’ah , yang mana mereka itu melemparkan manusia ke dalam kegelapan dan permusuhan, maka apabila telah tetap padamu sesuatu dari kesesatan mereka dan engkau telah berbicara dan telah memperingatkan dari mereka, mereka akan mengatakan : dia tidak tatsabbut na’udzubillahi minal hawa , kalau toh datang seribu saksi atas kesesatan salah seorang dari mereka , maka mereka tidak akan menerima persaksian-persaksian itu , bahkan mereka berani menjatuhkan seribu saksi atas kesesatan dari kesesatan-kesesatan mereka, mereka menelantarkan islam dan menelantarkan para pemuda islam dengan uslub (metode) yang penuh makar ini nasalulloha al ‘afiyah .
Ibnu Umar ketika ada seorang mengabarinya , beliau langsung membenarkannya karena pembawa kabar itu mu’min, adil dan tsiqoh . Dan agama kita tegak di atas berita orang yang adil , dan termasuk dari qoidah agama ini adalah berita orang- orang yang adil, apabila seseorang yang adil menukilkan kepada kalian suatu perkataan , maka pada asalnya adalah benar dan wajib dibangun di atasnya hukum-hukum. Apabila datang seseorang yang dikenal fasiq dan dia datang membawa berita , jangan kamu dustakan dahulu dia, dan hendaknya ditatsabbuti terlebih dahulu , karena di sana ada kemungkinan orang fasiq ini dalam masalah ini berlaku jujur , tatsabbutlah tidak mengapa dalam masalah ini , adapun sekarang orang-orang adil disampingnya orang adil , dan orang adil disamping orang adil dst dia menulis dan bersaksi kenapa tidak diterima perkataannya, namun sebaliknya mereka menukil perkataan orang yang sesat dengan huruf-hurufnya, tidak diterima persaksiannya dan mereka mengatakan orang-orang ini pendendam maka ini adalah tata cara ahlul bid’ah di zaman ini, yang mana orang khawarij dan rofidhoh tidak mengetahui metode di atas, dan tidak diketahui dari ahlul bid’ah zaman dahulu .
Mereka (ahlul bid`ah zaman sekarang) datang kepada umat dengan tata cara , qoidah-qoidah , manhaj-manhaj ,fitnah-fitnah dan musykilah-musykilah , apabila kamu kumpulkan (uslub mereka ) – demi Allah – tidak tersisa lagi dari agama ini sedikitpun.
Apabila engkau mengikuti manhaj ini , jadilah imam-imam kita semua fasiq, tidak adil orang-orang yang zholim dan pelaku kerusakan menurut manhaj yang jelek ini,selesai.
5- Tidak sepantasnya memperbanyak metode pengkritikan.
Berkata saudara Sa’id Baa salaamah Al Hadhromy: “Aku mendengar Abdulloh Al Mar’i berkata: “Ada sebagian manusia yang hidupnya hanya untuk membantah tak henti-hentinya.”
Dan berkata Ali Al Hudzaify Al adany – salah satu sahabat Abdurrohman Al adany yang menonjol – di dalam kasetnya yang terdahulu : Demikianlah nasehat dan kritikan adalah manhaj syar’i, akan tetapi tidak pantas memperbanyak darinya . ini adalah faidah yang mungkin tidak kalian mendapatinya tertulis di dalam kitab-kitab ahlul ilmi , kalian lihat tidak didapati di dalam kitab-kitab ahlul ilmi akan tetapi ini adalah jalan ahlul ilmi , terkadang ada seseorang yang sibuk menjelaskan keadaan orang lain dan nasehat terhadap muslimin akan tetapi dia tidak suka berluas-luas di dalamnya. Selesai.
Dan ini adalah dendangan ahlul ahwa yang mereka itu jemu dan merasa sakit dengan manhaj jarh wa ta`dil, karena manhaj ini menjelaskan aib-aib dan cacat mereka.
Dan demikianlah Abul Hasan Al- misry melecehkan ulama jarh wat ta’dil …. Hati-hati mereka telah diliputi keserupaan. Dan demikianlah perbuatan orang yang tengah belajar mereka menggambarkan seolah-olah mereka dari ahli peneliti yang sempurna.
Dan ini (penilaian negatif terhadap manhaj jarh wat ta`dil) adalah hasil dari ta’ashub dan pengaruhnya yang jelek, dan kalau tidak, maka sungguh ahlul ilmi menganggap bahwa berbanyak-banyak berbicara terhadap ahlul ahwa dan mengkritik kesalahan mereka adalah sebagai keutamaan dan kelebihan.
Berkata Imam Asad bin Musa رحمه الله dalam risalahnya yang dia tulis kepada Asad bin Furod رحمه الله : “ Ketahuilah wahai saudaraku , yang membawaku untuk menulis surat ini kepadamu adalah apa-apa yang disebutkan oleh penduduk negrimu dari kebaikan apa-apa yang Allah berikan kepadamu , berupa keadilanmu terhadap manusia dan kondisi baikmu dengan sebab apa yang engkau tampakkan dari sunnah dan celaanmu terhadap ahlul bid’ah dan banyaknya penyebutanmu terhadap mereka dan cercaanmu atas mereka. Selesai.
Kalaulah dipasrahkan perkara ini kepada orang yang tertipu ini niscaya akan sirnalah usaha keras para aimmah jarh wat ta’dil , yang mana mereka itu mengerahkan segala kemampuannya untuk menjelaskan keadaan ahlul ahwa, yang banyak (mengambil waktu).
Seperti Imam Al-Wadi’y sampai-sampai tidak kosong satu pelajaranpun kecuali disebutkan didalamnya kalam atas ahlul bida’ dan seperti itu pula `allaamah Robi’ Al-Madkholy pemegang bendera jarh wat ta’dil dan selain keduanya.
Di sisi lain Abdurrohman Al-Adany dan orang-orang yang bersamanya memprioritaskan dalam dakwah mereka kepada kelembutan , kelemahan dan berkasih sayang secara mutlak , yang berpaling dari perincian secara syar’i di dalamnya( maksudnya semuanya disama ratakan , tidak ada penjarahan bagi yang berhak di jarah akan tetapi semua dihadapi dengan lemah lembut) dan ini adalah kebiasaan setiap yang mengingkari manhaj jarh wat ta’dil dikalangan ahlussunnah, sebagaimana telah terdahulu dari perkataan Abdulloh Al-Mar’i : « Bagaimana kita sampai kepada manusia sedang kita memusuhi mereka. »
6- Anggapan mereka bahwa keras terhadap Ahlul bid’ah menyelisihi manhaj.
Dan tampak dengan jelas perkara ini pada bantahan-bantahan komplotan Abdurrohman Al adany terhadap Syaikh Yahya – حفظه الله – di antaranya:
 Apa-apa yang ditulis oleh almajhul Abdulloh Robi` As Salafy di dalam bukunya yang berjudul “Apa yang mereka cela dari Syaikh Al Hajury” sebagaimana dia membuat pasal yang berjudul “Celaan yang keras terhadap orang yang menyelisihi manhaj Salaf” dan dia menyebutkan sejumlah perkataan Syaikh Yahya terhadap Ahlul bid’ah , seperti jarhnya kepada sibadut ‘Amr Khalid dan selainnya.
Dan ini adalah perbuatan hizbyyyun terdahulu, mereka lakukan terhadap Al Imam Al Mujaddid Al Wadi’y رحمه الله dan begitu pula kepada Syaikh Yahya حفظه الله seperti Muhammad Mahdy dan Muhammad Musa Baydhony terhadap Al Imam Al Wadi’y رحمه الله dan Nu’man Al Watar terhadap Syaikh Yahya.
Dan demikian pula perbuatan ini dilakukan oleh tidak hanya satu dari para penulis yang ta’ashub terhadap Abdurrohman Al-Adany , dan Abdurrohman sendiri termasuk dari orang-orang yang mencela syaikh Yahya sebelum fitnah , karena kerasnya Syaikh Yahya terhadap Ahlul ahwa dan orang-orang yang menyimpang, dan ketika berbicara Faalih Harbi terhadap Syaikh Yahya, Abdurrohman berkata: « Biarkan dia sampai berkurang kekerasannya », sebagaimana kesaksian Abdurrohman Asy-Sya’biy Al-Yafi’y,
Dan sudah diketahui bahwa tidaklah Syaikh Yahya membicarakan seseorang sebelum fitnah ini kecuali untuk ahlul ahwa .
Dan juga apa yang persaksikan oleh Hamud Al-Wailiy atas Abdurrohman ketika syaikh Yahya mengingatkan atas kesalahan sebagian masyaikh dalam dukungannya terhadap Abul Hasan ketika itu. Berkata Abdurrohman « Apa ini, dia mengkafirkan mereka!). maka berkata Hamud: « tidak sesungguhnya syaikh yahya menasehati ».
Berkata Al-Allamah Robi’ bin Hadi حفظه الله di dalam bukunya « Jawaban Salafy terhadap pertanyaan-pertanyaan Abu rowahah yang berkaitan dengan manhaj « hal (19) : ” Sesungguhnya ahlul ahwa sekarang bersandaran dengan perkataan : fulan memiliki sifat keras, » tujuan mereka dengan kalimat ini adalah mencelanya atau mereka menginginkan dengannya menghalangi dari jalan Allah sebagaimana yang dilakukan oleh mereka dari ahlu ahwa pada masa sekarang ini. Selesai
7- Persyaratan Mayoritas Atau Ijma’ Dalam Menghukumi Ahlul Bathil.
Ini adalah bagian dari perkara yang dipegang oleh ahlul ahwa untuk terus menerus berada di dalam kebid’ahan dan penyelewengan yang mereka ada padanya. Jika ada orang alim yang menasehati umat menjelaskan perjalanan mereka yang menyelisihi manhaj salaf, mereka membantahnya dengan koidah yang jelek ini.
Dan ini dijalani oleh pengikut Abdurrohman Al-Adany yang meniru para pengikut Abul Hasan Al-Misry dan Falih Al Harby yang mereka itu mengobarkan qoidah ini untuk menghalangi laju kebenaran atas mereka. Dan Al ‘Allamah Robi’ bin Hady ditanya di dalam salah satu kasetnya terhadap bantahan terhadap Falih Al Harby: apakah disyaratkan di dalam mengkritik ahlul ahwa ijma’ ulama zaman itu atau cukup satu orang saja? Maka beliau menjawab: “Ini adalah bagian dari koidah-koidah yang membikin lembek, dan koidah yang keji, barakallahu fikum. Pada zaman yang manakah disyaratkannya ijma’ ini? Dan apa dalil terhadap syarat ini? Setiap syarat yang tidak ada di dalam Kitabullah maka itu adalah bathil. Andaikata di sana ada syarat maka apabila Ahmad bin Hanbal dan yahya bin Ma’in mengkritik seorang mubtadi’ aku katakan,”Harus berkumpul imam-imam sunnah semuanya di alam ini terhadap mubtadi’ ini.” Apabila Ahmad berkata,”Ini adalah mubtadi’”, selesai segalanya. Oleh karena itu apabila berkata Ahmad,”Fulan mubtadi’” manusia semuanya menerima hukum beliau. Mereka tidak menuruti hawa-hawa nafsu mereka (yaitu menolak jarh ini dengan slogan “seluruh ulama belum sepakat”).
Jika Ibnu Ma’in berkata “orang ini mubtadi’ (ahlu bid’ah).” Tak seorang pun yang membantah beliau (dengan mengatakan) “Disyaratkan ijma’ (untuk menghukuminya)” Hal ini mustahil pada setiap hukum syari’ah pada setiap hukum syari’ah mustahil… Mereka adalah orang-orang mumayyi’ mereka adalah orang-orang mumayyi’ (tidak tegas dalam memegang al haq) dan mereka adalah ahlul bathil dan penyeru kepada kerusakan serta para pemancing di air keruh, maka jangan kalian dengarkan omongan kosong ini. Jika seorang ‘alim yang bashir (yang mengerti sebab-sebab jarh) telah menjarah seseorang -barokallohu fikum- wajib bagi kita menerima jarh ini, kecuali jika ada seorang yang alim adil mutqin (kuat ilmunya) menentang jarh tersebut, maka ketika itu dipelajari apa yang diucapkan dari kedua belah pihak, dan dilihat jarh ini dan ta’dil ini.
Apabila jarh tersebut mufassar (secara mendetail) serta jelas, maka jarh ini diutamakan daripada ta’dil, walaupun jumlah yang menta’dil lebih banyak. Jika seorang Ulama menjarh dengan jarh yang mufassar sedang yang menyelisihinya dua puluh, lima puluh, ulama sedangkan mereka tidak memiliki dalil (bukti) dan tiada yang mereka ketahui kecuali husnuzh zhonn (prasangka baik) dan beramal dengan Zhohir (yang nampak), sedangkan yang menjarhnya memiliki bukti atas jarh orang ini, dia memiliki burhan atas jarhnya terhadap orang ini maka jarhnya dikedepankan. Karena yang menjarh memiliki hujjah, dan hujjah lebih diutamakan. Dan bahkan terkadang hujjah dikedepankan walaupun yang menyelisihinya adalah seluruh penghuni bumi. Seluruh penghuni bumi menyelisihinya, tapi bukti dan kebenaran bersamanya, al jamaah adalah siapa saja yang berada di atas al haq walaupun dia sendiri, seandainya seseorang di atas sunnah sedang yang menyelisihinya seluruh penduduk dua kota atau tiga kota (sedang mereka) mubtadi’ah (maka) al haq besertanya dan diutamakan hujjah (al haq) yang dia miliki dibanding kebathilan. Maka hendaknya al haq dihormati. Hujjah dan bukti itu harus dihormati. Alloh Ta’ala berfirman:
﴿قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ ﴾ [البقرة/111]
“Katakanlah: Datangkanlah burhan (bukti) kalian jika kalian memang benar!” [Al Baqoroh: 111].
Dan juga Alloh  berfirman:
﴿وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ﴾ [الأنعام/116]
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan manusia di muka bumi niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh.”[QS Al 'An'aam:116].
Maka jumlah yang banyak itu tiada nilainya jika tidak memiliki hujjah”. (selesai).
Beliau –hafidzohullah- berkata ketika menjawab beberapa pertanyaan para pemuda ‘Adn pada masa fitnah Abil Hasan: “Apabila bukti-bukti telah didatangkan walaupun yang menentang jarh itu adalah seratus ulama dari kibarul Ulama dari yang paling terkemuka dari mereka, penentangan mereka tidak berarti sama sekali. Karena sesungguhnya mereka menentang hujjah dan burhan, dan mereka menentang tanpa adanya hujjah dan burhan sedangkan Alloh  berfirman:
﴿قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ﴾ [البقرة/111]
“Katakanlah: Datangkanlah burhan (bukti) kalian jika kalian memang benar!” [Al Baqoroh:111].
Jadi burhan membungkam beribu-ribu orang yang tidak memiliki hujjah. Walaupun mereka adalah ulama. Ini adalah kaidah yang wajib untuk diketahui dan hendaknya kalian merujuk kitab-kitab ilmu hadits terutama yang meluas pembahasannya seperti Tadribur Rowy, dan seperti Fathul Mugits, Syarh Alfiah Al ‘Iroqi, dan ini adalah perkara-perkara yang telah pasti di sisi ulama , yang menyelisihi dan berbicara mengenai hal ini dengan bathil tidak di perbolehkan , karena kita akan merusak ilmu-ilmu islamiyah dan meruntuhkan kaidah-kaidah dan … dan …dan seterusnya dengan cara-cara seperti ini.
Jadi tidak boleh bagi seorang muslim mengutarakan kepada manusia kecuali al haq kecuali al haq. Dan (hendaknya) ia menjauh dari perkara yang samar dan hiyal (tipu muslihat) barokallohu fikum. Selesai
Dan yang lebih mengherankan lagi bahwasanya sipenanya tersebut adalah ‘Ali Al Hudzaify Al ‘Adany salah satu gembong yang ta’asshub kepada Abdurrohman, namun dia mengatakan: “Apabila Ulama telah berbicara (menjarh) Asy Syaikh Abdurrohman kita tidak akan menerimanya dari mereka kecuali disertai dengan dalil (bukti) yang jelas atau seluruh ulama telah sepakat (atas itu). Ia mengatakan ini sambil menggoyangkan jarinya dan memutarnya isyarat kepada ulama seluruhnya.
Dan di antara buktinya juga perkataan Abil Husein Asy-Syabwy kepada Al-Akh Husein Al-Baihany -حفظه الله-: “Kalam (jarh) Syaikh Yahya disodorkan kepada ahlul ilmi, maka bisa jadi mereka membenarkannya atau menolaknya.
Dan ucapan pengikut Abdurrohman Al ‘Adany dan praktek mereka terhadap kaidah ini masyhur, mereka menginginkan dengannya menolak al haq yang telah diistbatkan (dibuktikan) oleh Syaikh Yahya -حفظه الله- serta merendahkan (menghinakan) dengannya Abdurrohman Al ‘Adany beserta teman-temannya.
8- Keluar (berkelit) dari Masalah yang Sedang Menjadi Ajang Pertikaian.
Dan ini termasuk dari bukti-bukti kebengkokan manhaj para pemberontak itu, sejak Syaikh Yahya berbicara (menjarh) Abdurrohman dan para pengikutnya serta membuktikan penyimpangan mereka, kami tidak mendengar sedikitpun bantahan atas apa yang ditujukan kepada mereka.
Kemudian setelah manusia memahami dan mengerti keadaan mereka, yang makin hari makin nampak (penyimpangannya) mulailah mereka mengambil cara-cara dan benteng-benteng yang mereka anggap bisa berlindung dengannya dari serangan al haq, yang dengannya mereka dapat mengalihkan lagi sebagian pandangan manusia (kepada mereka) adapun cara yang mereka tempuh di antaranya berbenteng dengan menyibukkan manusia dari memperhatikan hujjah-hujjah yang mengerti keadaan mereka, dengan cara mengobarkan permasalahan yang keluar dari hal yang diperselisihkan. Sebagaimana ini merupakan kebiasaan Ahlul bid’ah di setiap zaman. Allah  berfirman:
﴿وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْآَنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ﴾
“Dan orang-orang kafir berkata: Janganlah kalian mendengar al-qur’an ini dengan sungguh-sungguh dan buatlah hiruk pikuk supaya kalian dapat mengalahkan (mereka).”[QS.Fusshilat: 26].
Thohir bin ‘Aasyur berkata pada tafsir ayat ini: “Dan ini adalah kebiasaan para da’i kesesatan dan kebathilan untuk membungkam mulut-mulut para pengucap kebenaran dan hujjah dengan segenap kemampuan mereka , dalam bentuk menakut-nakuti, membujuk, mengancam dan memikat serta mereka tidak akan membiarkan manusia saling berdebat dengan hujjah serta kembali kepada dalil-dalil. Karena mereka meyakini bahwa hujjah lawan mereka lebih kuat.
Oleh karena itu mereka menutupi dan menolaknya. Bukan dengan semisalnya, tapi dengan berbagai cara kebohongan, penyesatan apabila hiyal (tipu daya) telah melelahkan mereka dan mereka melihat kilatan-kilatan kebenaran telah nampak. Mereka takut kalau cahayanya menyinari manusia yang masih ada pada mereka kebaikan dan petunjuk, mereka memalingkan mereka kepada omongan kosong serta meniup terompet-terompet hiruk pikuk dan kegaduhan, barangkali mereka dapat mengalahkan hujjah-hujjah kebenaran dan menenggelamkan ucapan al haq, perkataan yang baik dengannya. (Selesai)
Adapun hal-hal yang ditempuh oleh Abdurrohman Al ‘Adany dan pengikutnya dari jalan-jalan yang bid’ah ini adalah:
 Mengungkit-ungkit pemasalahan yang pernah dikobarkan oleh para hizbyyyun yang lalu, dari para pengikut Abul Hasan, Soleh Al-Bakry dan selainnya terhadap Syaikh Yahya, padahal telah lewat penyebutan dan bantahan terhadapnya yang mematahkan alasan yang mereka bergantung dengannya.(1)
 Dan juga mengobarkan masalah di luar masalah yang sedang diperselisihkan beserta upaya mereka untuk mencela Syaikh Yahya -حفظه الله- seperti mencuatnya masalah jam’iyah Islamiyah dan selainnya dari apa yang telah lewat.
 Usaha mereka mengadu domba antara Syaikh Yahya dengan para masyayikh lain baik itu dalam Yaman atau luar Yaman.
 Dan juga membuyarkan pemikiran manusia bahwasanya sebagian dari apa yang disebutkan oleh Syaikh Yahya حفظه الله dan para Thullab beliau dari qorinah-qorinah yang ada dan beristidlal dengan keseluruhan dalil-dalil yang jelas yang lainnya, yang menunjukkan jalan baru yang ditempuh oleh para pemberontak dakwah, lalu mereka mengasumsikan kepada orang bahwasanya Syaikh Yahya حفظه الله menghukumi hizbyyah (mereka) hanya dengan salah satu dari qorinah tersebut, serta menjadikan masalah pertikaian pada satu permasalahan saja, seperti perubahan yang terjadi pada seseorang, yang dulunya miskin menjadi kaya saat melewati hari-hari fitnah.(2)
9- Isyarat kepada sebagian ciri khas ahlut tahazzub (para hizbiyyin) yang dimasukkan ke dalam dakwah salafiyyah.
a-Mengadakan kotak-kotak infak:
Syaikhuna Muqbil bin Hadi Al Wadi’y rohimahulloh berkata: ” Kotak-kotak infak adalah bibit-bibit hizbyyah kotak-kotak infak merupakan bibit hizbyyah.” Selesai [dari kaset "asilah az zairin fi 'idil fitr" kaset kedua].
Dan berkata: “Awal yang dilakukan oleh hizbyyyin adalah mengadakan kotak-kotak infak, (lalu apakah) kita akan mengadakan kotak-kotak infak kemudian hizbyyyah masuk (kepada kita) wallohul musta’an.”[dari kaset "Asilah dhuyuf Shon'a wal Hudaidah" muka kedua].
Dan berkata: “Dan jam’iyyah-jam’iyyah ini ya ikhwan merupakan wasilah (perantara) dan juga kotak-kotak infak, sungguh betul jalan menuju kepada hizbyyyah perantara kepada hizbyyyah.” Selesai [dari kaset "Asilah Bani Bakr", pada tahun 1421H, Setahun sebelum wafatnya Syaikhuna Al Imam Al Wadi'y rohimahulloh.]

b-Tasawwul (minta-minta) dan Talashshus (Korupsi) serta Berlarut-larut ke dalam Dunia atas nama dakwah:

بسم الله الرحمن الرحيم
Dari Ubaid Al Jabiry kepada yang berkepentingan para muhsinin dan pelaku kebaikan waffaqohumulloh.
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Dan setelahnya, sesungguhnya pemberitahuan yang tertera dengan pengantarnya adalah dari pihak Al Akh fillah Asy Syaikh Abdulloh bin ‘Umar Al Mar’i bermukim di Darul Hadits di Syihr kampung Al Manshuroh di Hadhromaut, dan Al Akh Abdulloh tsiqoh (terpercaya) dan ma’ruf di sisi kami dengan istiqomah di atas sunnah, beliau juga memiliki kerja keras yang disyukuri untuk menyebarkan manhaj salafy yang haq, karena itu ana mewasiatkan agar membantunya atas apa yang dia pikul dari beban-beban yang bersangkutan dengan kebutuhan Darul Hadits tersebut.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Tertanda/ Ubaid bin Abdillah Al Jabiry
Mantan Pengajar Jami’ah Islamiah
Ditulis hari Rabu Sore tanggal tiga Shofar
Tahun Seribu Empat Ratus Dua Puluh Delapan Hijriah

Dan berikut ini bentuk-bentuk dari Tasawwul (meminta-minta) Abdulloh bin ‘Umar Al Mar’i melalui sarana situsnya di bawah tema (Sekilas Mengenai Dar(ul Hadits Syihr)) terdapat padanya:
6- Maktabah dan Tasjilat Sewaan : Sebagaimana terdapat pada Dar Maktabah Sam’iah wa Maqruah yang seadanya memungkinkan bagi thullab untuk meminjam kaset-kaset untuk mengambil faidah darinya. dan Maktabah Sam’iah wa Maqruah juga menjual kaset-kaset serta kitab-kitab Ahlus sunnah dan Tauhid dengan harga yang sesuai.
7- Jaminan untuk Thullab (penuntut ilmu) : Markaz juga menanggung Thullab al mutafarrig (tidak menyibukkan diri dengan selain belajar) yang masih bujang dan sebagian telah menikah. Adapun yang masih bujang mereka tinggal di Al Jam’i (masjid) dan di sakan (asrama) khusus untuk mereka dan asrama tersebut belum sempurna bangunannya. Dan jumlah mereka berganti-ganti antara (300-400) sebagaimana para pelajar resmi kebanyakan mereka tidak diterima karena ketidak ada kemampuan kami untuk menyiapkan asrama dan nafkah mereka, sebagaimana terdapat dapur Darul Hadits, dan adapun yang telah berkeluarga mereka tinggal di rumah-rumah sewa, dan ma`had memberikan bantuan kepada mereka dari waktu ke waktu, dan kami meminta udzur dari kebanyakan karena ketidak mampuan kami untuk menyiapkan tempat tinggal dan nafkah bagi mereka.
8-Tanggungan Para Da’i dan Kibarul Tholabatul ‘Ilm: Markaz memberikan bantuan kepada beberapa da’i dan para Thullab yang terkemuka untuk membantu mereka dalam istimror (untuk kesinambungan) dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu setiap orang sesuai kadar kebutuhannya dan sesuai dengan kadar pemasukan markaz (Darul Hadits).
9-Situs Ad-Dar di jaringan Internet: Markaz telah membuka situs di internet untuk menukil durus dengan sarana Internet, sebagaimana terdapat ruang computer untuk mencetak kitab-kitab dan selebaran-selebaran serta surat-surat yang khusus milik Ad Dar, dan sebagian ikhwah bekerja di (markaz Yamanul Khair Lil Lughoot wal Hashub) yang dinaungi oleh Ad Dar yang memiliki kerja keras dan semangat, pengenalan khusus tentangnya dipisahkan dan alamat (situsnya) terdapat pada jaringan Internet.
10-Transportasi Ma`had : Dan Markaz memiliki sebagian alat Transportasi yang disedekahkan oleh sebagian muhsinin –jazahumullohu khairon- mengangkut thullab dan tholibaat dalam proses belajar di pagi dan sore harinya. Sebagaimana mengangkut mereka untuk rihlah da’wah sebagaimana yang akan datang (keterangannya) Insya Alloh.
Amalan-amalan Markaz yang dilakukan di luar ma`had :
1- Markaz mengadakan ta`lim untuk kalangan laki-laki baik kecil maupun besar di beberapa masjid kota menurut tingkatan-tingkatan para hadirin, sebagaimana ada di sana beberapa durus umum dan muhadhoroh serta mau’idzoh (wejangan) dari waktu ke waktu.
2- Markaz mengadakan pelajaran umum untuk para wanita sesuai tingkat dan umur mereka dan demikian itu diselenggarakan di rumah-rumah yang terpisah-pisah di kota dan muhadhoroh-muhadhoroh dan mau’idzoh yang mencakup nasihat-nasihat, tarbiah, ta’lim, dan pengarahan.
3- Markaz mengadakan ta`lim tiap pekan di luar kota pada sebagian tetangga desa baik untuk laki-laki atau perempuan sesuai dengan tingkatan dan umur. Dan hal itu terlaksana secara rotin dan berkesinambungan. Markiz telah berhasil mendakwahi manusia kepada Tauhid, Al Qur’an, dan Sunnah, serta kepada kebaikan dan keutamaan dan berusaha (dengan semangat untuk berdakwah) kepada penduduk wilayah-wilayah yang jauh.
4-Markiz mengadakan perjalanan dakwah setiap pekannya dan hampir setiap pekan diselingi dengan mengadakan bermacam-macam muhadhoroh dan wejangan yang sesuai.
5-Markiz mengirim beberapa khotib ke sebagian daerah dekat dan tetangga jika dimudahkan.
6-Markiz mengatur (jadwal) rihlah ilmiyah ke markiz-markiz ilmiyah dan juga kepada para masyaikh ahlus sunnah di Yaman. Dengan semangat mengundang orang awam untuk menghadirinya, sebagaimana markiz memanfaatkan rihlah dalam rangka haji dan umrah yang diatur oleh markiz untuk mengunjungi para masyaikh ahlussunnah di tanah haromain.
7-Markiz berusaha memudahkan rihlah-rihlah untuk menghadiri muhadhoroh tiap pekannya dan selainnya, dan semangat untuk mengundang orang awam untuk menghadirinya.
8-Markiz membantu beberapa tullab dan para pengajar yang pindah dari dan ke markiz, serta markiz-markiz hadits lainnya, semuanya menurut kadarnya dan sesuai dengan kadar kemampuan markiz.
9-Markiz mendirikan pasar murah khusus untuk para wanita yang menyediakan perlengkapan mayoritas kebutuhan wanita, yang bertujuan untuk menjauhkan para wanita dari pasar-pasar ikhtilath (campur baur), dan dengan tujuan memasukkan dakwah kepada para wanita awam dengan muamalah yang baik,dan saling toleransi serta memberikan shodaqoh kepada yang berhak, dan ini merupakan sebab yang menarik kebanyakan (mereka) dan (sebab) masuknya mereka kepada istiqomah dan sunnah. Darul Hadits Syihr www .daralhadeeth-sh.com. selesai.
Dan Al Akh Muhammad Al Baridy Al ‘Amudy Asy Syihry telah menulis sebuah risalah yang bertema “At Tajawwul fi Ba’dhi ma ‘inda ‘Abdillah bin Mar’i min Tasawwul” beliau menjelaskan disana bentuk tasawwul-tasawwul Abdulloh bin Mar’i yang tidak sedikit, seperti minta-mintanya kepada para nelayan dengan berbagai macam cara, dan merogoh kocek para pedagang dengan banyak jalan, serta memohon dana dari orang-orang awam dengan metode-metode tersendiri , lihatlah di malzamah (artikel) tersebut.
Dan di antaranya adalah apa yang dikabarkan oleh Al Akh Fuad Al Mahri –ro’ahulloh- imam masjid As Sunnah (di desa) Shoqr (kabupaten) Mahroh bahwasanya Abdulloh Al Mar’i meminta kepadanya (300000) tiga ratus ribu real Yaman dengan alasan da’wah tidak mampu menanggulanginya.
Dan di antaranya apa yang dikabarkan oleh Al Akh Muhammad Al Katsiry yang berdomisili di Emirat bahwasanya Abdulloh Al Mar’i memiliki canel besar untuk mengemis di Emirat: dan dia adalah Abdulloh Al Minhaly.
Dan Al Akh Muhammad Al Bareidy Al ‘Amudy Al Hadhromy Asy Syihry telah menjelaskan sekilas singkat mengenai usaha-usaha Abdulloh bin Mar’i yang menunjukkan bahwa ia telah berlarut tenggelam dalam dunia dan menelantarkan Thullabnya atas nama da’wah, dan usaha-usahanya telah mencapai 30 usaha di antaranya yang telah terlaksana adalah :
1-Maktabah untuk menjual kitab-kitab dan kaset-kaset milik da’wah yang berlokasi pada bangunan masjid At Taqwa, namun pada masa terakhir ini bangkrut dan berubah jadi milik bersama secara saham (perseroan).
2-Maktabah berikutnya untuk menjual kitab-kitab dan kaset-kaset milik da’wah dan telah pailit juga dan telah gulung tikar sejak dulu namun masih harus tetap membayar sewa sampai sekarang.
3-Maktabah yang terletak pada bangunan lantai tiga melalui lift (tangga berjalan) untuk menjual kitab-kitab dan kaset-kaset milik da’wah dan telah bangkrut pula.
4-Usaha menjual sebagian dari tanah waqof sebagai dana untuk mengolah sebagian tanah lainnya kemudian hasilnya digunakan untuk maslahat da’wah, dan juga telah bangkrut.
5-Toko untuk menjual makanan, milik da’wah terdapat di lokasi masjid At Taqwa, dan sekarang telah berubah menjadi milik bersama secara saham (perseroan).
6-Toko untuk menjual semen milik da’wah, salah seorang ikhwah pernah bekerja di sana dan ia sekarang berada di Dammaj, dan juga telah bangkrut.
7-Toko jual kue bakar (cake) milik da’wah, dan juga telah bangkrut.
8-Kemudian toko jual oven setelah bangkrutnya dirubah menjadi toko sepeda motor, kulkas, dan mesin cuci, kemudian akhirnya bangkrut juga.
9-Toko jual roti panggang milik da’wah, dan telah bangkrut.
10-Memelihara burung elang untuk dijual di Riyadh dan negri lainnya, padahal ma’ruf bahwa elang pemakan daging , dulu Al Akh Abdulloh bin Mar’i pergi ke pesisir pantai wilayah-wilayah timur di malam hari untuk mengambil penyu sebagai makanan burung-burung elangnya dan hal ini telah diketahui oleh umum, perlu diketahui bahwa tempat-tempat ini dijaga ketat oleh pemerintah dan pemerintah memberikan sangsi hukum bagi siapa yang melanggar peraturan ini, maka pemilik malzamah “Mi’yarul Ilm Wad Dien” Abdulloh Mar’i jika telah dekat ke tempat terlarang ini, memadamkan lampu mobilnya supaya polisi tidak melihatnya, ia berlaju dengan mobilnya dengan kecepatan tinggi pada kegelapan dan lihainya ia tidak salah jalan, dan ketika ditanya tentang kebiasaan ini ia menjawab: “Saya sudah biasa menyelundupkan barang antar Yaman dan Su’udiyah” atau dengan makna ini.!!!
11-Menjual madu di Su’udiyah
12-Jual beli mobil.
13-Menyewakan bis dan mobil da’wah kepada perusahaan (Buqsyan), dan kini telah ditinggalkan.
14-menyewakan bis da’wah untuk haji dan umroh dan rihlah ke markiz-markiz sunnah padahal bis itu milik da’wah.
15-Menyewakan bis da’wah untuk mengantar penumpang ke Muhadhoroh-muhadhoroh padahal bis itu milik da’wah.
16-Mendirikan sekolah khusus untuk anak-anak perempuan dengan minta-minta.
17-Pasar kecil di tengah-tengah sekolah anak-anak perempuan, dijual padanya beberapa makanan ringan dan untungnya untuk da’wah.
18-Warnet berlokasi di masjid Taqwa, di antara toko sayur mayur dan toko buah-buahan.
19-Markiz Yamanul Khair untuk kursus bahasa Arob dan komputer.
20-Menjual buah-buahan milik da’wah yang berlokasi di masjid Taqwa.
21-Pasar Al Khairi untuk wanita, dan mencakup kebanyakan kebutuhan para wanita dengan anggapan bahwa pasar itu bertujuan untuk menjauhkan para wanita dari pasar-pasar ikhtilat, dan ini merupakan sebab senangnya kebanyakan (mereka terhadap da’wah) dan (sebab) masuknya mereka kepada istiqomah dan sunnah, adapun permulaan pasar ini ada seorang penyumbang menyumbang sejumlah pakaian untuk orang-orang miskin, namun mereka menjualnya(walaupun dengan harga murah), akhirnya banyak orang mencela mereka karenanya, lalu mereka mengemukakan udzur (alasan) bahwasanya mereka telah meminta idzin dari penyumbangnya untuk menjualnya dengan harga murah kemudian harganya kembali untuk maslahat da’wah maka ia mengizinkan mereka untuk hal itu. Adapun sekarang pasar itu sudah menjadi besar dan mendatangkan barang-barang dagangan dari Shon’a dan selainnya dengan harga beratus-ratus ribu dan yang menjual pada pasar ini adalah pengajar wanita mereka.
Ketahuilah bahwa usaha-usaha diatas yang tujuannya adalah untuk maslahat da’wah ternyata mayoritas tidak berhasil (alias pailit berat) namun tetap saja Al Akh Abdulloh keluar masuk , jatuh bangun (berambisi) untuk melakukan usaha yang gagal ini, dan ini masyhur di sisi kita semua(ikhwah-ikhwah Hadromaut) , dan kebanyakan usaha-usaha ini atau sebagian besar bermodal utang dan ditutup di atas utang dan akhirnya da’wahlah yang memikul beban utang-utang itu sebagaimana pengakuan mereka. (karena tidak ada jalan lain untuk menutup hutang, ya terpaksa ngemis. ,pent )
Usaha-usaha yang belum dilaksanakan sampai sekarang setahu saya:
23-Apotik.
24-Penyaringan air.
25-Travel haji dan umroh.
26-Usaha jahit pakaian dan abayah (konveksi).
27-Membeli bangunan pasar di samping Masjid At Taqwa, Al Akh Abdulloh bin Mar’i telah menawari thullabnya para a’ajim (orang-orang selain Arob) dari kalangan orang-orang Francis dan Amerika yang belajar di Darul Hadits Syihr untuk tanam saham guna membeli bangunan ini, dan usaha ini membutuhkan tiga ratus ribu dolar Amerika –kalau dinilai dengan mata uang Yaman kurang lebih enam puluh juta real Yamani!!!-berita ini sampai kepadaku dari sejumlah orang-orang a’ajim yang dulunya belajar di sana, di antaranya adalah Abu Muhammad Abdulloh Al Amriky, dan kabar ini masyhur.
Dan telah mengabariku bukan cuma satu orang saja dari orang-orang ‘ajam dan ia sekarang berada di Dammaj bahwasanya Al Akh Abdulloh bin Mar’i menawarkan kepada mereka untuk menanam modal dengan keuntungan besar untuk usaha bisnis di antaranya:
28-Usaha pabrik es batu.
29-30-31-(Markiz untuk kursus bahasa Arob, suatu usaha dagang, mendirikan Perguruan tinggi (Jami`ah).
Berkata Abu Muhammad Abdulloh Al-Amriky salah seorang pelajar yayasan « Yaman Al-Khoir » di mana Abdulloh sebagai penaggung jawabnya : Setelah polisi mengusir orang-orang ‘Ajam(Asing) dari Syihr, kami duduk dengan penerjemah Asy Syaikh Abdulloh bin Mar’i –namanya Abdulloh Al Laksinbarji- untuk memikirkan jalan baru yang dengannya kami bisa mendapatkan iqomah (idzin tinggal) untuk para a’ajim di Syihr lalu ia mengatakan:
Pertama: Mengadakan markiz baru untuk mengajarkan bahasa ‘Arob, dan ia telah mengambil seribu dolar untuk membuka markiz ini dari para a’ajim.
Kedua: Kita akan memikirkan suatu usaha dagang.
Ketiga: Kita akan membuka Jami’ah.
– Adapun berlarut-larutnya Abdurrohman tenggelam dalam dunia atas nama da’wah telah lewat penyebutannya dengan bukti-buktinya pada bagian: (Hakikat Tasjil) maka lihat kembali pada halaman (11).
Al ‘Allamah Asy Syaikh Robi’ bin Hadi -حفظه الله- telah ditanya dengan pertanyaan ini:
Sipenanya berkata- dan dia adalah Ali Al Hudzaify!!!-: Syaikh kami Muqbil rohimahulloh ta’ala membangun da’wahnya di yaman dengan iffah (mejauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik/syubhat/tidak halal), dan beliau telah menulis risalah untuk mereka <<ذمُّ المسألة>> (tercelanya meminta-minta), pertanyaan: sebagian da’i terkadang meminta harta manusia dengan tujuan da’wah, maka apakah dhobith (kaidah) meminta kepada manusia demi da’wah?
Beliau حفظه الله menjawab: Pokoknya , semoga Alloh merahmati Asy Syaikh Muqbil dan kami memohon kepada Alloh agar berkenan menggantikannya dengan kebaikan di Yaman dan selainnya, sungguh orang ini telah mengingatkan kita dengan kezuhudan salaf, waro’ mereka, dan kehormatan, kemuliaan, keengganan (dari hal yang menjatuhkan harga diri), serta keberanian mereka dalam mengucapkan al haq –رحمه الله -, dan sebagian besar penyakit yang menimpa da’wah salafiyah di Yaman beliaulah yang memperbaiki/membetulkan mereka dan meninggalkan mereka dengan kebaikan, kami memohon kepada Alloh agar memberkahi murid-muridnya, serta menjadikan banyak di antara mereka orang yang berjiwa seperti beliau, karena beliau demi Alloh adalah sebagai contoh (suri tauladan) dalam kezuhudan dan waro’ serta penghinaan terhadap dunia, dan sungguh beliau dulu adalah orang yang bashir (paham/ahli) tatkala beliau menolak harta (tidak tergiur dengan harta) dan mentahdzir dari meminta-minta, sampai saya mengingat bahwasanya beliau menjelek-jelekkan/mencerca orang yang mengumpulkan harta (uang) atas namanya, betapa bersihnya beliau dan semoga Alloh memberkahinya.
Dan bukanlah suatu hal yang dhoruroh (darurat, tidak boleh tidak) menghadap manusia untuk meminta (harta mereka) atas nama da’wah, salaf tidak pernah melakukan hal seperti ini dan Ahmad bin Hanbal –رحمه الله – apakah beliau dulu membentangkan tangannya untuk harta karena demi da’wah?! Bahkan beliau dulu menolak harta, dan sungguh telah dijadikan permisalan/contoh yang paling indah dalam kemuliaan dan keengganan mengulurkan tangan untuk meminta-minta, ketika beliau melakukan rihlah kepada Abdur Rozzaq, beliau rihlah dari Iraq ke Shona’a, kemudian di tengah perjalanan beliau dan temannya Yahya bin Ma’in singgah untuk berhaji, lalu mereka berdua mendapati Abdur Rozzaq di Makkah Al Mukarromah, Ibnu Ma’in berkata kepada Ahmad: Ini Abdur Rozzaq, Alloh telah menggiringnya kepada kita, kita tidak perlu rihlah lagi kesana, Ahmad berkata: Sungguh aku telah berniat untuk rihlah ke Shona’a maka saya tidak akan kembali, kemudian beliau safar ke Shona’a, sampai harta beliau habis rohimahulloh, dan hal ini diketahui oleh teman-teman beliau maka mereka menawarkan harta mereka untuk membantunya, tapi beliau menolak dan lebih memilih untuk bekerja mengangkat barang orang , beliau menjadi tukang angkut barang, mengangkat di atas punggungnya untuk pemilik unta orang badui dan orang-orang miskin, padahal beliau adalah Imam besar رحمه الله , beliau melihat bahwa mengangkat barang , bekerja dan makan dari hasil tangannya sendiri lebih baik beribu-ribu kali lipat daripada meminta dari manusia, karena tangan yang diatas adalah yang memberi, dan tangan yang dibawah adalah yang mengambil, sedang Ahmad tidak mau tangannya dibawah ت, karena itu saya menasehati para ulama dan thullabul ilm agar mengembalikan kehidupan salaf yang mulia ini (dalam kehidupan kita), dan agar menyadari bahwa at tahaaluk (tenggelam atau berjatuhan) karena harta termasuk hal yang paling bahaya dari segala bahaya yang menimpa da’wah salafiyah, dan buktinya bahwa fitnah yang berkobar sekarang ini disebabkan harta di mana sebagian orang menyodorkan tangannya (mengemis) kepada Jam’iyah (Yayasan atau sejenisnya) ini dan itu, maka kami berlindung kepada Alloh dari fitnah harta, sungguh demi Alloh harta adalah fitnah , demi Alloh jumlah yang sedikit dari thullab yang belajar di masjid sedang mereka itu dalam keadaan iffah (menjaga harga diri dari meminta-minta) mulia dan terhormat lebih baik daripada berjuta-juta dari thullab (penuntut ilmu untuk meraih harta dan tenggelam karena dunia, maka kami mewasiatkan kepada para syabab salafy dan ulama untuk mengembalikan kehidupan salaf pada diri mereka sebagaimana mereka telah mengibarkan bendera sunnah, maka hendaknya mereka juga mengibarkan bendera kemuliaan, kehormatan, zuhud, waro’, serta mensucikan diri dari berlari di belakang dunia. Dan demi Allah tidaklah dakwah salafiyyah di Yaman diganggu dan ternodai kecuali karena tersebarnya harta dan mereka menjulurkan lidah dibelakangnya, yang mengakibatkan timbulnya fitnah yang ada sekarang ini karena harta memiliki andil yang kuat dalam mengobarkan api fitnah. Maka hendaknya mereka bertaubat kepada Allah dan kembali kepadanya serta saling bersaudara, dan kami mewasiatkan agar saling mewasiatkan di atas al-haq dan kesabaran pada setiap masalah kehidupan. Allah Ta’ala berfirman:
﴿وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ﴾
“Sungguh Kami akan mencoba kalian dengan sedikit dari ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, dan kematiaan, serta kekurangan buah dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.” [Al Baqoroh: 155].
Dan demi Allah tidaklah salaf menyampaikan dakwah ini kepada kita dalam keadaan segar bugar (murni) dengan harta dan kendaraan, tapi mereka menyampaikannya dengan zuhud, waro’, dan kesucian mereka ridhwanullohi ‘alaihim. Maka kami mewasiatkan kepada para salafiyyin di manapun mereka berada terutama di Yaman yang Allah telah mengibarkan bendera sunnah padanya: “agar menjaga/memelihara dakwah ini, dan jika datang kepada mereka harta untuk merusak hubungan di antara mereka, maka hendaknya mereka menendang(mencampakkan) harta itu dengan kakinya dan terus berlaju di atas jalan yang mereka lalui sebelumnya , dalam kondisi tetap di atas kemuliaan, kehormatan menyebarkan dakwah Allah yang mulia dan suci. Selesai dari kaset “asilah syabab ‘Adn fifitnah Abil Hasan”.
Bukannya kami mengingkari amalan-amalan kebaikan (dengan harta yang terkumpul), hanya saja kami mengingkari apa yang timbul dibelakang itu dari perpecahan, membuang waktu dengan minta-minta atas nama dakwah. Syaikhuna Al Imam Al mujaddid Al Wadi’i rohimahulloh Ta’ala berkata di muqoddimah kitabnya “Dzammul Masalah” (hal 8) ” Dan jam’iyah-jam’iyah tersebut tidaklah diizinkan (berdirinya) kecuali dengan syarat berada di bawah pengawasan kementrian sosial, dan diadakan padanya pemilu, dan meletakkan hartanya di bank-bank ribawi kemudian pelakunya melakukan pengkaburan kepada manusia dengan mengatakan : apakah membangun masjid, menggali sumur, dan merawat anak yatim adalah harom? Maka jawaban kepada mereka adalah : “Wahai para pengkabur(para pembuat talbis) siapa yang mengatakan kepada kalian bahwa ini adalah harom? Yang harom adalah hizbyyyah dan memecah belah kaum muslimin serta membuang waktu kalian dengan mengemis(meminta-minta).” Selesai
Terjemahan Mukhtashar Bayan dari hal. 82-87 oleh Abu Abdillah Adib Aljakarty.

C. Pasar atau Bazar Amal
Syaikh Ahmad An-Najmi رحمه الله pernah ditanya: “Ya Fadhilatus Syaikh tersebar dikalangan wanita apa yang dinamakan dengan pasar atau bazar amal. Bentuknya para wanita diminta untuk menyediakan makanan atau barang yang lainnya dengan tujuan amal, kemudian barang-barang tersebut diletakkan di suatu tempat yang khusus untuk perempuan, lalu dipromosikan kepada wanita untuk membeli apa-apa yang ada di pasar amal tersebut seperti makanan, kaset-kaset, kitab-kitab, pakaian dan lain-lain. Hasilnya digunakan untuk proyek amal seperti pembangunan asrama perempuan (TN) yang di dalamnya diajarkan Al-Qur’an dan ceramah-ceramah agama. Apa hukumnya dalam pandangan Islam? Apakah engkau menasehatkan untuk bekerja sama dengan orang-orang yang menjalankan cara-cara seperti ini?
Beliau menjawab:
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah, keluarga dan para shahabatnya, kemudian dari pada itu: Model seperti terkenal sebagai bagian dari cara-cara Ikhwanul Muslimin, mereka mempunyai banyak cara dalam mengkampanyekan da’wah dan hizbynya. Model seperti ini sama sekali tidak dikenal oleh salaf dan tidak ada satupun dari mereka yang melakukannya, yang dilakukan para salaf jika ada kebutuhan yang mendesak menganjurkan orang untuk bersedekah dalam suatu amal kebaikan.
Di pihak yang lain, Ikhwanul Muslimin setiap mendapatkannya mereka gunakan untuk mengkampanyekan hizbynya. Di mana dalam hizbynya ada orang-orang yang berpikiran takfiry, dan apabila kalian sumbangkan harta kalian kepada mereka, mereka akan gunakan untuk kegiatan yang merusak, untuk membunuh orang-orang yang tidak berdosa, menyebarkan faham mereka yang rusak.
Karena itu saya memandang untuk tidak bekerja sama dengan mereka dan tidak mencontoh cara-cara mereka. Hal ini berdasarkan apa yang telah diketahui secara pasti tentang mereka selama ini, baik itu melalui pertanyaan-pertanyaan, pengalaman hidup, kabar dari orang-orang yang dulunya bersama mereka kemudian meninggalkannya dan apa yang tercetak di kitab-kitab tentang mereka.
Saya Al-Hamdulillah tidaklah berkata tentang mereka dengan dusta atau menuduh mereka dengan sesuatu yang tidak ada pada mereka. Itu semua telah saya tulis dalam beberapa makalah dan beberap kitab. Semoga Allah menjadikannya sebagai jihad di jalan-Nya.
Kesimpulannya: bahwa cara seperti ini adalah cara bid’ah. Apa yang terkumpul dari kegiatan itu akan masuk pada kas ikhwanul muslimin yang dipersiapkan untuk mencapai tujuan-tujuan mereka yang rusak, seperti memberontak kepada negara yang mereka tinggal di dalamnya. –selesai (kitab beliau “Al-Fatawal Jaliyah ‘anil Manhajid Da’awiyyah” / 2/hal. 162-163)
Syaikh Fauzan hafidzahullah pernah pula ditanya: Apa pendapat engkau tentang pasar atau bazaar amal? Yang dipersiapkan di rumah dan dijual di madrasah-madrasah atau di madrasah tahfidz dan keuntungannya disalurkan untuk amal kebaikan dan mendirikan madrasah tahfidz perempuan (TN), semoga Allah membalas engkau dengan kebaikan.
Jawab:
Saya katakan: Barangsiapa ingin berbuat baik kepada fakir miskin, silakan untuk bersedah kepada mereka secara langsung tanpa pasar atau bazar amal dan tanpa cara-cara yang menyimpang. Bagi yang mempunyai kelebihan, harta sedekah dan ingin berbuat baik pintu kebaikan terbuka Alhamdulillah tanpa cara-cara seperti ini. Bersedekahlah kepada mereka secara langsung. Kenapa kamu harus pergi dan membeli barang kemudian harganya dijadikan sedekah? Sedekahkanlah dari awal dengan niat sedekah tanpa direpotkan dengan cara-cara seperti ini. (Selesai)

10. Benih-benih penyimpangan yang muncul dari masuknya yayasan dalam da’wah
Tidak tersembunyi bagi orang yang mempunyai pengetahuan sedikit saja tentang kondisi hizbyyyah sebelumnya yang telah membikin huru hara dan keonaran terhadap da’wah salafiyah di markaz induknya di Dammaj, bahwa di belakangan mereka adalah yayasan-yayasan. Yayayan yang mengsubsidi para perusuh dan pembikin onar tersebut seperti yayasan Ihya’ut Turots, Yayasan Al-hikmah dan yayasan Al-Ihsan dan lain-lain.
Telah muncul benih-benih penyimpangan ketika adanya yayasan dalam hizby baru ini (hizbynya Abdurrohman dan Abdulloh Al-Mar’i Al-‘Adany) yang dengannya nampak jelas perubahannya. Hal ini diketahui oleh orang-orang yang benar-benar mengetahui kondisi mereka yang sebenarnya. Yayasan Ash-Syihr yang dipimpin Abdulloh bin Mar’i Al-Adany pada tanggal 10/12/2007 menyebarkan iklan tentang yayasan ahlul hadits wal atsar yang beralamatkan di Mesir.
Syaikh kita Yahya hafidahullah berkata: “Saya menelpon al-akh Majid Al-Mudarris Al-Mishry, lalu saya tanya dia tentang yayasan ini, dia menyebutkan bahwa yayasan ini seperti yayasan yang lainnya yang telah nampak kehizbyyyahannya. Begitu pula sampai saat ini masyarakat tidak menyumbangkan dengan sesuatu yang berarti untuk yayasan ini. Dan dikhawatirkan yayasan ini akan segera ditutup karena tidak punya sponsor yang kuat, dulunya sebagian teman-teman mereka di sana telah menasehatkan orang-orang yayasan ini agar tidak mendirikan yayasan dan menjelaskan kepada mereka penyimpangan-penyimpangan yang ada. Akan tetapi mereka tetap mendirikan yayasan dan sampai saat ini mereka tidak mendapatkan hasil uang yang berarti, bahkan terjadi perpecahan dari teman-teman mereka yang tidak sepakat. Muncul dari mereka perkara-perkara yang tidak terpuji, mereka benar-benar condong ke hizby baru ini dan memuji-muji apa yang dilakukan syaikh Ubaid dari perkataannya terhadap kita. Demikianlah apa yang diberitakan oleh Al-Akh Majid Al-Mudarris kepada saya, dan dia termasuk orang yang baik dan bersungguh-sungguh dalam mencari kebenaran”. –selesai perkataan beliau-.
Berkata Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz Al-Buro’iy -hafidzahullah-:
بسم الله الرحمن الرحيم
Sikap yang benar terhadap Jam’iyyat Ahlul Hadits dan Al Atsar
Fadhilatusy Syaikh Abdil Aziz Al Buro’iy -حفظه الله- ditanya:

Apa yang anda ketahui tentang Jam’iyyat Ahlul Hadits Dan Atsar dan apa sikap yang benar terhadapnya?
Maka Fadhilatusy Syaikh Abdul Aziz Al Buro’iy حفظه الله menjawab: Perihal jam’iyyat ini telah sampai padaku kemarin, bahwasanya dia di Syihr dan di sebar luaskan melalui situs Asy Shir merupakan situs Internet yang mana Abdulloh Mar’i saudara Syaikh Abdurrohman Al ‘Adany adalah Pembina situs ini, maka ketika berita itu sampai kepadaku aku memandang aneh satu lompatan yang mengerikan, maka aku langsung menelepon, pertama dengan Salim ba Muhriz dan aku bertanya tentang hal itu dan dia menyangkalnya habis-habisan kemudian aku menelepon Abdulloh bin Mar’i sendiri dan dia menyangkal habis-habisan sampai aku berkata kepadanya “Barangkali sebagian teman-temanmu bukan kamu?” Abdulloh berkata “Sama sekali tidak ini dan tidak itu.” Muncul masalah ketika salah seorang ikhwah meneleponku dari salah satu kota di Yaman membacakan untukku program Jam’iyyah, pasal-pasal, system kerja, penyebar luasannya lewat Internet dan dia menyebutkan nama anggota notulen, yang demikian itu memaksaku memasuki Internet untuk melihat ini. Lalu aku masuk artikel situs Asy syihr “Kabar gembira, bahwasanya telah diresmikan situs Jam’iyyah Ahlul Hadits dan Atsar kemudian penyebutan alamat situs yakni situs jam’iyyah ahlul hadits Al Atsar tanpa menyebutkan pasal-pasal lalu aku masuk ke alamat situs jika demikian dia adalah Jam’iyyah dari Mesir bukanlah dari Yaman dan dua orang bertanggung jawab atasnya, salah astu dari keduanya bernama Abu Abdil A’la Kholid Muhammad Utsman dan yang kedua Hisaamuddin Ali Al Laitsi dan pemberitahuan ini di situs Asy Syihr sekitar tanggal 10/12/2007 Masehi.
Ketetapan waktu yang masuk dalam artikel ini terdapat di situs Asy Syihr dan aku baca pasal-pasal dan ketentuan-ketentuan Jam’iyyat ini ,serta aku melihat beberapa tazkiyah dari sebagian Masyaikh, akan tetapi mereka tidak terkenal , aku menduga salah satunya adalah Al Bana Allohu a’lam. Di sana ada salafi dipanggil Hasan Al Bana apakah dia itu orangnya atau orang lain Allohu a’lam. Dan dua orang berikutnya tidak dikenal pula dan mereka ini yang di anggap para pimpinan dalam Jam’iyyat ini , dan tidak dikenal orang yang aku baca dari nama-nama mereka sebelumnya, dan mereka menukilkan sebagian fatwa-fatwa milik Syaikh Al Albany dan Syaikh Ibnu Utsaimin dan belumlah aku melihat permisalan perkataan sesorang yang tenggelam dalam hizbyyyah atau tidak dikenal membuat bid’ah. Tidaklah aku melihat sesuatu pandangan yang tersisa di dalam pasal-pasal yang mereka sebutkan, merupakan pasal-pasal yang tidak ada bedanya dengan pasal-pasal semisal Jam’iyyatul Hikmah atau selainnya dari Jam’iyyah-jam;iyyah yang menampakkan kesalafiyahan.
Saya tidak bisa menghukumi Jam’iyyah di luar negri wallohu a’lam bagaimana peraturan dan perjalanan mereka, dan wallohu a’lam apa kedudukan mereka dalam da’wah salafiyah atau kedudukan di dalam Jam’iyyah. Kalau seandainya program-program model jam`iyah tersebut menyebar luas di Yaman , maka besar dugaanku atau bisa aku pastikan bahwasanya jamiyah itu adalah hizbyyyah, karena tidak terdapat di dalam Jam’iyyah yang berkembang di Yaman terbebas dari hizbyyyah.
Dan inilah batas geografis Yaman dari Suqotro sampai ke Sho’dah dan dari Hudaidah sampai ke Ma’rib tidak kita ketahui bahwasanya Yayasan berkembang dan selamat dari hizbyyyah, Thoyyib barokallohu fiikum. Dan di sana ada beberapa pasal yang tak aku di kenal, berbunyi “Menerima atau mengirim utusan dari Negara-negara bersahabat.” Ini adalah ungkapan yang asing, kenapa tidak berbunyi “Menerima da’i-da’I salafi atau menerima bantuan untuk Jam’iyyat dari saudara-saudara muslim atau saudara kita sesama salafi di Negara-negara Islam dan selain Islam. Ungkapan seperti ini lebih baik , lalu kenapa berbunyi “Negara-negara bersahabat.” Kalau yang di maksud adalah utusan-utusan resmi negara, maka itupun ucapan yang asing.
Kemudian apabila suatu kaum berkembang di suatu tempat selanjutnya dia menyebar luaskannya disitus ini lantas apa keterkaitan pemberitahuan melalui situs Jam’iyyat ini? Apa keterkaitannya? Apa keterkaitan antara situs Asy Syihr dan situs Jam’iyyat Ahlul Hadits dan Atsar? Apa keterkaitannya dan pertaliannya? Kenapa? Jam’iyyah di Mesir tidak memiliki sisi ilmiyah sampai berkata Jam’iyyah ini “Kami dibutuhkan di sisi mereka? Mereka bukanlah orang-orang yang dipandang, dikenal dengan ilmu, dan mengenalkan da’wah salafiyyah yang terkenal. Tidak kami ketahui siapa mereka? Tidaklah mereka dikenal dengan prihal itu sampai-sampai kami berkata sesungguhnya orang-orang melihat yakni seperti apa yang disebarluaskan dari situs Ibnu Utsaimin dan situs milik Fauzan dan situs seseorang untuk mendapat kemulian dengan penyebutannya.
Akan tetapi seorang Kholid fulan dan Abdul A’la fulan apa keterkaitan pemberutahuan ini? Situs Asy Syihr seharusnya menjawab ini? Situs Asy Syihr seharusnya menjawab ini? Apa keterkaitan dan hubungan dengan orang-orang yang bertanggung jawab di situs ini? Dan kenapa mereka optimis dengan lokasi yang jauh secara geografi? Na’am kenapa? Bukankah di sana para salafiyyin selain mereka memberitahukan sebuah situs? Bukankah di sana ahlus sunnah dan pemuda salafy antara daerah satu dengan lainnya mereka memberitahukan situs untuk mereka. Kenapa pemberitahuan tentang situs ini saja? Ini membutuhkan jawaban dari pihak situs Asy Syihr. Dan ini barokallohu fiikum perinciannya. Semoga dengan idzin Alloh menjadi jelas dalam kenyataan perkara ini karena mulainya sesuatu dari kegaduhan sekitar masalah ini, akan tetapi inilah ringkasan apa yang di sana. Barokallohu fiikum.

Dari kaset:
“Pertanyaan-pertanyaan penduduk Lahj
Kepada Syaikh Al Buro’iy -حفظه الله-
30 Jumadil Akhir 1429H

Setelah adanya pengingkaran dari Syaikh Yahya dan Syaikh Al-Buro’iy ini dan tuntunan kepada mereka untuk menjelaskan sikap mereka terhadap yayasan ini AD/ARTnya, tidaklah mereka lakukan kecuali mendulang apa yang telah dilakukan oleh pengurus yayasan tersebut dengan menyebarkan rekomendasi beberapa syaikh terhadap yayasan tersebut di situs Darul Hadits yang berlokasi di Syihr. Meskipun mereka telah mengetahui pengingkaran dua syaikh tersebut terhadap AD/ARTnya yang menyimpang. Dan sudah menjadi ketetapan dikalangan Salafiyyin di Yaman semenjak zamannya Syaikh Muqbil رحمه الله tentang pengingkaran terhadap yayasan, dikarenakan penyimpangannya terhadap syari’at, hal itu karena tidak ada suatu yayasan pun kecuali harus tunduk terhadap sebagian undang-undang yang menyelisihi syari’at dan di bawah pengawasan Depertemen urusan Sosial. Cukuplah bagi kalian penyelewengan-penyelewengan terhadap syari’at yang ada di yayasan seperti pemilu (baik skala besar atau kecil seperti pemilihan ketua yayasan, bendahara, sekretaris dll, pent), gambar/foto mahkluk yang bernyawa, menyimpan uangnya di Bank (ribawi), minta-minta sumbangan atas nama da’wah salafiyah, menelantarkan para pemuda, memunculkan golongan-golongan yang bercerai berai.
Asal yayasan sebagaimana yang dikatakan oleh Asy-Syaikh Muqbil: “Yayasan pada zaman Nabi sama sekali tidak ada, akan tetapi datangnya dari musuh-musuh Islam yang kemudian sebagian kaum muslimin mengekorinya. Dan kebanyakan yayasan di dalamnya terdapat penyimpangan-penyimpangan, -sampai perkataan beliau- Betul, kita tidak mengharamkan bagi masyarakat apa yang Allah halalkan, akan tetapi, yang kita takutkan ini hanyalah tipu muslihat saja, -sampai perkataan beliau- Yayasan-yayasan ini wahai ikhwah dia adalah sarana demikian pula kotak amal-kotak (sedekah) jalan menuju hizbyyyah dan sarana menuju hizbyyyah. (Disadur dari pertanyaan Bani Bakr di Yafe’ pada tahun 1421 H).
Syaikh Muqbil berkata sebagaimana dalam muqaddimahnya “Dzammul Mas’alah” (hal. 8): yayasan tersebut tidak bisa berdiri kecuali dengan syarat-syarat harus di bawah pengawasan DPP urusan sosial, di dalamnya harus ada pemilu (pemilihan ketua, bendahar, sekretaris dll, pent) hartanya disimpan di Bank (ribawi) kemudian para pengurus yayasan mengaburkan permasalahan kepada masyarakat, dan mengatakan : Apakah pembangunan masjid penggalian sumur, santunan anak yatim itu haram?? Maka kita katakan kepada mereka : « Wahai para penipu, siapa yang mengatakan pada kalian bahwasanya perkara ini (pembangunan dst) haram ?? Yang haram itu hizbbiyyah, memecah belah kaum muslimin, membuang waktu kalian untuk minta-minta. –selesai perkataan beliau-.
Perkara yang begitu gamblangnya, masih saja Hani’ Buroik mati-matian membela yayasan yang diiklankan di situs Asy-Syihr ini dalam rekaman muhadharohnya, dan mengatakan bahwa yayasan tersebut adalah yayasan Salafiyyah, pengurusnya salafy, (1) dia menyempitkan haramnya yayasan hanya dengan batasan jika menimbulkan hizbyyyah, al-wala’ wal baro’ yang sempit, pengkafiran terhadap penguasa dan melupakan penyimpangan-penyimpangan yang lainnya,(1) yang dengannya cukup sebagai alasan untuk melarang terbentuknya yayasan seperti gambar/foto yang bernyawa, menyimpan uang di Bank (ribawi), pemilu dll. Sekalipun tidak nampak dalam yayasan ini perpecahan, al wala’ wal baro’ yang sempit, selain pembelaan yang sangat keras dari Hani’ Buroik terhadapnya, dan dia menganggap bahwa pembelaannya adalah diatas agama, juga celaannya terhadap syaikh Yahya sebagaimana yang dia katakan secara terus terang dalam kasetnya ketika syaikh Yahya memperingatkan penyimpangan-penyimpangan yang ada dalam AD/ART-nya dan untuk menghindari bahaya, dan sindiran celaannya terhadap syaikh Al-Buro’iy, tentulah itu semua cukup sebagai bukti akan bejatnya yayasan ini . Jika tidak, apa alasan mereka dengan berusaha mati-matian untuk membela yayasan ini. Padahal mereka telah mengetahui secara pasti sikap da’wah Salafiyyah di Yaman dari yayasan-yayasan ini.
HUBUNGAN ABDURROHMAN BIN MAR’I DENGAN ORANG-ORANG YANG MENGIKUTI HIZBYNYA
Merupakan sesuatu yang dimaklumi dan sudah menjadi ketetapan dalam hukum syar’i bahwa orang yang ridho dengan suatu perbuatan berhak untuk dinisbatkan perbuatan tersebut kepadanya, banyak dalil yang menunjukkan tentang perkara ini di dalam Al-Qur’an dan Sunnah, di antaranya Allah  berkata:
+ لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُون. * كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ_ [المائدة/78]
“Telah dila’nat orang-orang yang kafir dari kalangan bani Israil melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan setelah melampui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang dari tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sungguh amat buruk apa yang mereka perbuat itu”.I (Al-Maidah: 78).
Allah  juga berkata:
+ فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنْبِهِمْ فَسَوَّاهَا* وَلَا يَخَافُ عُقْبَاهَا _
“Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa-dosa mereka, dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu” (Asy-Syams: 13-14).
Walaupun yang menyembelih unta hanya satu orang yang jahat dan kuat di antara kaumnya, sebagaimana dalam Ash-Shahihain dari hadits Abdillah bin Zaniah radhiyallahu ‘anhu.
Dan firman Alloh_ َ+فعقروها (Mereka menyembelihnya) tidak menyatakan َعَقَرَهَا (dia sendiri yang menyembelihnya).
Alloh  berkata:
+ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوا وَقَتْلَهُمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ_ [آل عمران/181]
“Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar”. (Ali Imran: 181).
Berkata Al-Imam Al-Qurthuby dalam Kitab Tafsirnya “Al-Jami’ Liahkamil Qur’an” (4/286) tentang ayat tersebut “Kami akan mencatat perbuatan mereka membunuh para nabi yaitu mereka ridho terhadap pembunuhan tersebut.
Dan yang dimaksud dengan pembunuhan di sini adalah pembunuhan yang dilakukan oleh nenek moyang mereka, akan tetapi ketika mereka ridho dengan pembunuhan tersebut, maka layak untuk menisbatkan pembunuhan tersebut kepada mereka. Ketika seseorang menganggap baik dan memuji pembunuhan Utsman di hadapan Asy-Sya’bi, maka Asy-Sya’bi berkata: “Kamu telah bersekutu dalam pembunuhan terhadap Utsman”. Beliau menganggap bahwa ridho terhadap kema’siatan adalah ma’siat.
Al-Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Al-‘Ars bin Umairoh Al-Kindi dari Nabi , beliau berkata: “Jika suatu kejahatan terjadi di bumi, maka orang yang menyaksikan dan dia membencinya (tidak bersekutu dalam perkataan itu) dan orang yang tidak menyaksikannya tapi dia ridho dengan perbuatan itu maka dia seperti orang yang menyaksikannya (bersekutu dalam perbuatan)”.
Maka kami menyeru orang-orang yang adil dan arif untuk tunduk kepada kaidah dan asas ini, melihat dengan seksama kondisi Abdurrohman Al-‘Adny beserta pendukung fitnahnya, dari apa- yang telah dipaparkan di atas. Seandainya tidak ada bukti lain kecuali keridhoan terhadap perbuatan mereka, persahabatan dengan mereka baik dalam perjalanan atau di waktu mukim ditambah lagi dengan kejahatan mereka terhadap Ahlussunnah di Darul Hadits dan selainnya, juga sikap diamnya dia dengan tanpa adanya pengingkaran terhadap mereka, pujian dan rekomendasinya terhadap mereka, pembelaannya kepada mereka, dalam kondisi mereka adalah teman-temannya, sahabatnya, partnernya yang berasal dari markaznya, cukuplah ini semua sebagai kehinaan baginya(bahwa dia itu hizby).
Dan sebagian bukti lain dari apa yang telah dipaparkan sebelumnya, adalah apa yang telah diungkap oleh Abu Abdillah Muhammad bin Yahya Asysyirjiby: “Saya pernah bertemu dengan Abu Abdillah Abdurrohman bin Mar’i Al-Adany di masjid As-Sunnah pada saat kunjungannya yang pertama ke Al-Hudaidah dan Ma’bar, itu setelah keluarnya kaset Syaikh Yahya yang berjudul “An-NashihatuAl-Ikhwan Li Abdirrohman” dan sebelum berkumpulnya para masyaikh di Ma’bar kemudian berlangsunglah acara saling menasehati. Dan terjadi pembicaraan antara saya dan dia di majelis tersebut, saya bertanya kepadanya tentang Al-Hajr dan At-Tahdzir yang terjadi di ‘Adn, pada mulanya dia mengingkarinya, karena itu saya marah dan saya katakan kepadanya: “Banyak ikhwah telah menyaksikannya”, kemudian dia berkata: “Seandainya syaikh Yahya diam, mereka akan diam”. Saya katakan: “Bertaqwalah kamu kepada Allah”.
Demikian juga apa yang diberitakan oleh Hani Al-Kuwaity Al-‘Adany: “Pernah kami pergi ke Abdurrohman di Fuyusy (markiz hizbynya, pent) saya dan saudara saya, lalu saya nasehati orang-orang yang ada di sekitarnya, karena mereka fanatik buta terhadap kamu serta mencela syaikh Yahya dan mentahdzir dari Dammaj, mereka itu seperti Al-Khudsyy dan yang lainnya, kemudian dia berkata: Ya akh Hani, kamu telah lama pergi dari Yaman, kamu tidak tahu kenyataan yang terjadi di sekitarmu di Yaman, saya nasehatkan kamu agar tidak membuat konflik dengan para ikhwan, cukuplah kamu diam, perkaranya akan jelas Insya Alloh.
Bagaimana ini, padahal dialah penyebab utama berkobarnya fitnah, karenanya mereka membikin kerusahan, al-wala’ wal bara’ yang sempit, dll, serta penyimpangan yang telah disebutkan diatas, mereka telah membikin kejahatan terhadap manhaj salaf dan para pengikutnya, begitu pula telah nampak darinya apa yang menunjukan bahwa mereka itu dalam menyebarkan fitnah dan kejahatannya mereka meminta bantuan dari dia, sebagaimana telah lewat penjelasan ini semua.
Semua pemaparan di atas, sangatlah cukup sebagai bukti tentang hina dan rendahnya Abdurrohman dan orang-orang yang mengikuti jejaknya dengan hizby dan fitnahnya.
Berkata Al-Imam As-Syaathiby رحمه الله dalam Kitabnya “Al-Muwaffaqoot” (1/335) tentang kaidah “Memposisikan sebab seperti memposisikan akibat”: karena secara adat orang menjadikan suatu sebab terhitung seperti yang melakukan akibatnya secara langsung, seperti kenyang disebabkan oleh makanan, hilangnya dahaga disebabkan minum air, kebakaran disebabkan oleh api, mencret disebabkan oleh obat pencuci perut, dan semua akibat dikarenakan adanya sebab-sebabnya.
Begitu pula tindakan yang terjadi dengan sebab kita, layak untuk dinisbatkan kepada kita walaupun bukan kita yang melakukan perbuatan tersebut. Di atas kaidah tersebut berlaku konvensi hukum dalam sebab-sebab yang sesuai dengan hukum ataupun sebab-sebab yang terlarang, sebagaimana perkataan Allah  dalam Al-Qur’an :
﴿ مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا﴾[المائدة/32]
“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) kepada Bani Israil, bahwa barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya”.[QS Almaidah ;32]
Beliau menyebutkan beberapa dalil yang sebagiannya telah lewat, kemudian beliau berkata: Orang yang memunculkan suatu sebab, sesungguhnya dia telah termasuk di dalamnya, karena dengannya munculah akibatnya…. Dan jika dia telah melakukannya, maka dia telah terlibat di dalamnya apabila dia yang memicu munculnya suatu akibat dan perbuatan yang bermanfaat atau perbuatan yang merusak”. –selesai perkataan beliau-.
Tidak diragukan lagi, bahwa Abdurrohman Al-Adany adalah yang menjadi penyebab penyimpangan-penyimpangan hizbyyyah terhadap ushul yang telah disebutkan. Dengan cara pengelompokkan/penggolongan, menganjurkan perpecahan dan terlibat di dalamnya, menjerumuskan orang-orang tertipu kepada perpecahan, sebagaimana penjelasan tersebut. Maka dari itu, bagaimana mungkin dikatakan dia tidak dibebani dengan tanggung jawab orang lain?!!
Pembela ahlul batil hukumnya berkisar pada keyakinannya terhadap kebenaran perkataan dan perbuatan pelaku kebatilan tersebut, semua ini melazimkan dia dihukumi sama dengan pelaku kebatilan tersebut baik di dunia atau di akhirat, atau pembelaannya terhadap pelaku kebatilan dan melazimkan kecintaan terhadap orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya sebagaimana di sebutkan dalam “Mushoro’u At-Tashowuf” yang ditulis oleh Al-Baqo’i rahimahullah, (hal. 207).
Ibnu Abi Ya’la rahimahullah sebagaimana dalam kitab “Thobaqattu Al-Hanabilah” (1/22) berkata : Dan telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakar Al-Ajurri, dia berkata: Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Murrudzy, dia berkata: Saya mendengar Abu ‘Abdillah dan disebutkan Al-Hasan bin Hay, di sisinya maka dia (Imam Ahmad) berkata: “Kita tidak ridho dengan mazhabnya dan Sufyan lebih kami cintai. Dahulu Ibnu Hay meninggalkan Jum’at dan berpendapat bolehnya memberontak kepada pemerintah. Kemudian beliau berkata: “Dia telah membikin fitnah kepada masyarakat dengan diamnya dan waro’nya”.
Tidak tersembunyi bahwa orang yang diam tidak dinisbatkan kepadanya suatu perkataan, apabila diamnya tersebut bukan pada masalah peniadaan (pengingkaran), karena ahlul ilmi telah menetapkan batasan-batasan kaidah “Orang yang diam tidak dinisbatkan suatu perkataan kepadanya” dengan hal tersebut, sampai-sampai mereka berkata: “Diam dalam posisi yang seharusnya dia meniadakan adalah suatu bentuk penetapan (persetujuan)”.
Ays-Syaikh Bakr Abu Zaid berkata dalam kitabnya “Ar-Rad ‘ala Al-Mukhoollif min Ushul Al-Islam” (hal. 79): “Diam dari orang-orang yang menyimpang dan menelantarkan atau tidak menolong orang-orang yang shalih adalah perkara yang membahayakan agama dan dunia. Di antaranya: Rendahnya derajat ahlussunnah, naiknya ahlul ahwa’ di atas ahlussunnah, tersebarnya syubhat dan efek negatifnya terhadap keyakinan yang benar, menggoncangkan aqidah yang kokoh, melemahkan aqidah yang selamat dari kekotoran , memunculkan orang-orang yang menyimpang dalam masyarakat di atas mimbar-mimbar, memecahkan pemisah (yang bersifat kejiwaan) antara sunnah dan bid’ah, antara kebaikan dan kemungkaran. Maka masyarakat akan terus bergelimang dalam kebatilan, akan mati kecemburuan terhadap kehormatan agama, sekumpulan orang akan mendurhakai dan tidak patuh terhadap ulama-ulama, serta akan lari dari nasehat-nasehat ulama. –selesai perkataan beliau-.
Syaikhuna Yahya حفظه الله berkata sebagaimana dalam “At-Tanbihat Al-Mufidah” (hal. 1): Abdurrohman Al-Adany harus bertaubat dari kesepakatannya (dalam membuat makar) dan ridhonya terhadap perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan yang buruk ini. Hal ini, seandainya tidak timbul sesuatu darinya, lalu bagaimana kalau ternyata telah muncul darinya apa-apa yang telah kami sebutkan”. –selesai perkataan beliau-.
Penulisan risalah ini, pembetulannya, dan perbandingannya selesai pada hari Rabu tanggal 30 syawal 1429 hijriyah, kami memohon kepada Allah untuk menjadikan amalan kami semata-mata karenanya. Dan menjadikan risalah kami ini, sebagai penolong al-haq dan pengikutnya, sebagai bantahan terhadap kebatilan dan pengikutnya.
Segala puji bagi Allah Rabb alam semesta serta shalawat dan salam atas junjungan kita Nabi Muhammad, serta keluarganya dan para shahabatnya.

Dikumpulkan oleh sekolompok thulab –semoga Allah melindungi mereka di Darul hadits As-Salafiyyah, Dammaj Al-Khair. –semoga Allah menajaganya dari setiap kejelekan-.
Dan selesai penerjamahannya pada 27 Robiul Awwal 1430 H .
سبحانك اللهم ووبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 102 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: